KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan Hidayah-Nya telah memberi kesempatan dan kemampuan kepada kami selaku EAGLE.ORG media relation untuk menyelesaikan proposal yang akan diajukan kepada pihak sponsor dengan mengambil judul kampanye “Kenali Kegemukan Anak Sejak Dini” dengan tagline “Lucu Tak Berarti Harus Gemuk” Beberapa masalah terkait dengan kegemukan pada anak akan kami bahas dalam kampanye ini. Kami mengambil kampanye mengenai obesitas anak karena saat ini tingkat obesitas pada anak sudah semakin meningkat dan kurangnya kesadaran masyarakat terutama orang tua terhadap masalah ini. Bila hal tersebut terus menerus dibiarkan terjadi maka dapat mengancam masa depan anak karena kegemukan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Semoga dengan program kampanye yang kami ajukan ini, pihak instasi terkait dapat bekerja sama dan kooperatif dalam meningkatkan kesadaran anakanak dengan orang tua selaku walinya untuk menyadarkan bahaya akan obesitas pada anak dan menjaga pola makan dan jenis makanan yang sebaiknya di konsumsi anak-anak. Kami sangat menyadari masih banyaknya kekurangan pada proposal kami ini. Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan terima kasih, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesain proposal kampanye ini. Kami berharap pihak sponsor dapat menyetujui pengajuan proposal ini demi kelangsungan masa depan generasi penerus bangsa yang sehat dan terhindar dari obesitas. Sekian dan terima kasih. Jakarta, Januari 2010 EAGLE.ORG Media Relation Team

DAFTAR ISI

Halaman Cover Kata Pengantar Daftar Isi Profil Perusahaan Problem Statement Riset Data Planning Budgeting Evaluasi Hasil Lampiran             Press Release Daftar wartawan Hard News Soft News Feature Background Information Poster Brosur T-Shirt Pin Blog Facebook

I. PROFIL PERUSAHAAN

1.

Nama Perusahaan Media Planner

EAGLE.ORG Salah satu perusahaan media relation yang selalu tajam dan peka dalam membahas dan mengangkat tema berkaitan permasalahan-permasalah kritis yang masih terjadi di negara ini secara meluas. Hal tersebut tercermin pada nama perusahaan, yaitu EAGLE yang berarti burung elang dalam bahasa Indonesia. Burung elang yang peka dan memiliki pandangan tajam terhadap mangsanya dianalogikan dengan cara kerja perusahaan ini dalam melihat suatu permasalahan. Elang yang dapat terbang menjelajahi angkasa luas dianggap mencerminkan bahwa perusahaan ini juga dapat menjangkau dan melihat suatu permasalahan yang terjadi dimana-mana dalam wilayah Indonesia yang luas.

2.

Visi ”Menjadi perusahaan media relation yang kredibel se-indonesia”.

3.

Misi - Mengangkat isu-isu kritis yang terjadi di Indonesia

- Mempersiapkan materi kampanye - Memberikan pelayanan (service) dengan mengutamakan kepuasan client

II. Problem Statement
Kali ini, EAGLE.ORG sebagai salah satu perusahaan media relation yang peduli terhadap isu-isu kritis di Indonesia, akan melakukan sebuah kampanye yang berkaitan dengan kesehatan, terutama kesehatan pada anak-anak. Obesitas pada anak telah menjadi masalah yang serius di dunia dan negara Indonesia akhir-akhir ini. Lebih dari sembilan juta anak di dunia berusia 6 tahun ke atas mengalami obesitas, hingga kini angkanya terus melonjak dua kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga kali lipat pada anak usia 6-12 tahun. Obesitas yang terjadi pada anak-anak saat ini telah menjadi momok bagi masyarakat. Diperkirakan pada tahun 2020, anak yang menderita obesitas pada usia 7 tahun sampai 15 tahun mencapai 65 persen. Obesitas kian menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Bahkan, anak yang mengalami obesitas sejak kecil berisiko terkena beragam penyakit di masa tua bahkan saat remaja. Anak dikatakan obesitas jika berat badannya 40 persen lebih tinggi dari berat badan ideal dan overweight jika berat badannya lebih tinggi 20 persen dari berat badan idealnya. Sayangnya, di Indonesia anak yang gemuk malah dianggap lucu. Penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini. Sekitar 95 persen obesitas anak disebabkan aspek nutrisional, sedangkan 5 persen adalah penyebab lain, seperti genetika, penyakit atau kelainan hormon. Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa ditemukan pada sekitar 20-30% anak

yang kegemukan. Oleh karena itu segera ukur berat badan pada anak secara berkala. Semakin maraknya restoran makanan junkfood (cepat saji) yang beredar di kota-kota besar disertai minimnya aktivitas anak dalam keseharian, mempengaruhi gaya hidup anak-anak, terutama di perkotaan. Gaya hidup yang cenderung tidak sehat itu mengakibatkan anak-anak berpontesi mengalami obesitas. Anggapan orang tua yang masih keliru bahwa anak yang lucu harus ditandai dengan bobot tubuh yang gemuk juga mengakibatkan obesitas pada anak rentan terjadi. Orangtua cenderung kurang teliti dan waspada dalam megawasi asupan makanan dan gizi pada anaknya. Padahal, pada kenyataannya banyak dampak negatif baik dari segi fisik maupun psikologis yang ditimbulkan apabila seorang anak mengalami bobot tubuh berlebih Oleh karena itu Jangan biarkan anak kelebihan bobot segera cari solusinya. Perlu diperhatikan mengenai kesehatan dan gizi seimbang pada anak-anak agar perannya sebagai generasi penerus bangsa ini, tidak terhambat oleh masalah obesitas yang cenderung dapat berdampak fatal. Problem statement yang menjadi dasar kegiatan media planner adalah : “ Obesitas Ancam Masa Depan Anak Indonesia”

III. Riset Data

Berikut ini adalah beberapa data hasil dari riset yang telah dilakukan EAGLE.ORG mengenai fakta-fakta obesitas pada anak : Jangan lagi menganggap anak gemuk itu lucu. Sejumlah studi menyimpulkan,anak-anak yang kelebihan berat badan sejak usia kurang dari 10 tahun akan menghadapi ancaman stroke pada usia 40 bahkan bisa dimulai sejak usia 30. Dari penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di empat belas kota besar di Indonesia, diperkirakan angka kejadian kegemukan pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dari total populasi anak-anak Indonesia yang berumur 6-12 tahun dengan nilai yang terus bertambah hingga sekarang. Jakarta adalah salah satu kota yang memiliki tingkat kegemukan/ obesitas pada anak yang relatif tinggi, yaitu 9,6%-20%. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam “American Journal of Clinical Nutrition” juga kian menguatkan konsekuensi kesehatan yang bakal dialami terkait obesitas anak. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 172 anak tersebut menyimpulkan, anak usia delapan tahun yang kegemukan atau obesitas, menunjukkan sejumlah tanda atau gejala terkait faktor risiko penyakit jantung saat mereka mencapai usia remaja (15 tahun). Risiko tersebut antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang buruk, peningkatan kadar gula darah dan insulin (hormon pengatur kadar gula darah). Nutrisi berkaitan dengan pola makan. Penyebab kegemukan adalah ketidakseimbangan antara jumlah makanan yang masuk (input) dengan yang dikeluarkan (output) dalam bentuk tenaga untuk beraktivitas. Agar diperoleh nutrisi seimbang, para orangtua perlu mengetahui kebutuhan kalori anaknya.

Jangan sampai berlebihan karena tubuh manusia punya kemampuan mengubah kelebihan kalori menjadi lemak yang bisa menjadi biang kegemukan.

IV. Planning
Pada tahapan ini perusahaan EAGLE.ORG telah menetapkan langkahlangkah yang akan dilakukan terkait kampanye mengenai obesitas anak ini. Berikut ini adalah penjabarannya sebagai berikut : a. Tema Kampanye Setelah mengetahui problem statement yang telah dijabarkan sebelumnya, yaitu Obesitas Ancam Masa Depan Anak Indonesia, maka tema kampanye yang diangkat adalah “Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini” Dengan mengangkat tema kampanye tersebut dilakukan,diharapkan dapat mengatasi problem statement yang ada. Selain itu untuk mendukung tema kampanye tersebut, tagline yang dipilih oleh EAGLE.ORG adalah “Lucu Tak Berarti Harus Gemuk” b. Target Audience - Jenis kelamin - Umur - Status - Pekerjaan - Geographic - Status sosial c. Tujuan Kampanye : perempuan dan laki-laki : 25-45 tahun : menikah (orangtua) : ibu rumah tangga, business man/woman, tenaga pendidik (guru) : perkotaan (Jakarta) : A-B

a. Meluruskan padangan masyarakat (target audience) bahwa anak yang lucu tidak selalu mutlak ditandai dengan bobot tubuh yang gemuk, bahkan berlebihan. b. Menyadarkan masyarakat (target audience) mengenai bahaya dan dampak negatif yang ditimbulkan pada anak yang memiliki bobot tubuh berlebih. c. Memberikan informasi yang akurat dan tepat kepada masyarakat (target audience) mengenai pemberian makanan dengan gizi seimbang pada anak. d. Mengajak masyarakat (target audience) untuk memberikan arahan kepada anak mengenai kebiasaan hidup sehat sejak dini. Alasan kami memilih target audience dengan kriteria di atas karena orang tua dianggap memiliki peran penting terhadap anak-anak yang usianya masih berkisar 6-12 tahun. Setelah orang tua menyadari mengenai pentingnya kampanye ini diharapkan para orang tua tersebut dapat membimbing anakanaknya menjalani hidup yang sehat. Selain itu para pendidik seperti guru juga dilibatkan dalam kampanye ini karena mereka dianggap berperan serta juga dalam mendidik anak-anak di sekolah dalam memberikan pengarahan mengenai hidup sehat. Jangkauan wilayah yang menjadi target sasaran kampanye ini adalah daerah perkotaan terutama Jakarta. Hal tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh bahwa kota Jakarta memiliki tingkat obesitas pada anak yang cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir yaitu sebesar 9,6% sampai 20%. Langkah pertama yang kami tempuh agar kampanye ini dapat berlangsung dengan lancar dan mendapat dukungan, maka kami akan melibatkan peran media massa baik media cetak, elektronik maupun online. Media awareness penting untuk dilakukan dalam menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan kampanye ini. Pemilihan nama-nama media dibawah ini telah disesuaikan dengan target audience yang ingin kami capai dalam kampanye ini.

Berikut ini adalah nama-nama media yang kami undang untuk mendukung kampanye obesitas pada anak :  Media cetak (koran) 1. Kompas PT. Kompas Cyber Media Gedung Kompas Gramedia Unit II lt. 5 Jl. Palmerah Selatan no. 22-28 Jakarta 10270 2. Suara Pembaruan Jl. Dewi sartika no.136 D Jakarta 13630 3. Seputar Indonesia Menara Kebon Sirih Lt. 22 ,Jl. Kebon Sirih Raya No. 17-19 Jakarta 10340. Telp. (021) 3929758. Fax. (021) 3929758, 3927721 4. Media Indonesia Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D Kedoya Selatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat

 Media Cetak (Tabloid) 5. Nova Gedung Gramedia Pustaka Utama Lt. 6 Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270

6. Mom&Kiddy Gedung High End 4th Floor Jl. Kebon Sirih 17-19 Jakarta 10340 7. Nakita Gedung Gramedia Majalah Lt.3 Jl. Panjang No. 8A, Kebon Jeruk Jakarta 11530 Fax. (021) 532 1059 Telp. (021) 533 0170 atau 533 0150 Ext. 33141 – 33144 8. Genie Gedung Bimantara Lt.3 Jln. Kebon Sirih 17-19 Jakarta Pusat 9. Wanita Indonesia Jl. Tebet Barat Raya no. 52 Jakarta Selatan 12810

 Media cetak (majalah) 10. Ayahbunda Kompleks Mutiara Taman Palem Blok B8 No.30, Jl. Kamal Raya Cengkareng Raya Jakarta barat 11. Femina Jl. HR Rasuna Said Blok B Kav. 32-33 Jakarta Selatan 12910 12. Kartini Jl. Garuda no. 80A Jakarta Pusat 12-mother&baby

Wisma Kosgoro Lt 6 Jl. MH Thamrin No. 53 Jakarta Pusat 13. Parenting JL HR Rasuna Said Blok B Kav. 32-33 Jakarta 12910 Telp. (021) 5253816, 5209370, 526 6666 Fax. (021) 5209366, 526 2131

 Media elektronik (radio) 14. Sonora Gedung Perintis Lt. 5, Jl. Kebahagiaan No. 4-14 Jakarta Barat 11140 Telp : (021) 6340544, 6337783 Fax : (021) 6340646 15. Women Radio Menara Imperium Lt. 31 C Jl. HR. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Telp : (021) 8317718, (021) 8317719 Fax : (021) 8317717 16. Female Radio Perkantoran Ratu Plaza Jl. Jend. Sudirman Kav. 9 Jakarta Pusat Web http://www.femaleradio.com 17. Elshinta Jl. Raya Joglo No. 70 Jakarta Barat 11640

Telp : (021) 5869005 Fax : (021) 5861180

18. Trijaya FM MNC Tower Lt.2 Jl.Kebon Sirih No.17 Jakarta 10430 Telp: (021) 3923555 Fax: (021) 3937001

 Media elektronik (televisi) 19. RCTI Jalan Raya Perjuangan Kebon Jeruk Jakarta 11530 Tel : 530 3540-50 Fax : 532 0846 Web : www.rcti-ok.com 20. SCTV Senaya city, 6th Floor Jl. Asia Afrika Lot 19 Jakarta 10270 Tel : 021 522 5555 Fax : 021 522 4777-0220 Web : www.sctv.com 21. Indosiar Jalan Damai no 11 Daan Mogot Jakarta 11511 Tel : 567 2222, 568 8888 Fax : 565 5675-60 Web : www.indosiar.com

22. Metro TV Jalan Pilar Mas Raya Kav. A-D Kedoya, Kebon Jeruk Jakarta 11520 Tel : 5380 0077 Fax : 5830 2139 Web : www.metrotvnews.com 23. Trans TV Jalan Kapten Tendean Kav. 12-14A Jakarta 12790 Tel : 794 4240 – 799 0572 Fax : 799 2600 24. Trans 7 Menara Bank Mega Lt. 20 Jalan Kapten Tendean Kav. 12-14A Jakarta 12790 25. TvOne Jl. Raya Terata II No.2 Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta 13260 26. Global TV Jalan Jend. Ahmad Yani No.31 Jakarta 13230 Tel : 480 1223 – 4786 7408 Fax : 475 3559

 Media on line 27. Detik.com

28. Kapan lagi.com

29. Kompas.com

30. Okezone.com

Beberapa nama media yang telah hadir dan berpartisipasi dalam acara press conference yang telah kami lakukan pada tanggal 14 Januari 2010 di Ballroom Hotel Sultan Jakarta, telah kami lampirkan dalam proposal ini.

e.

Bentuk Kampanye Kampanye yang bertemakan mengenai ”Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini” akan dilakukan dengan berbagai cara, antara lain adalah sebagai berikut : e.1. Blog Untuk mendukung kegiatan kampanye ini, maka dilakukan pembuatan blog yang berjudul “Peduli Kesehatan Anak”. Dalam blog tersebut akan diuraikan informasi-informasi yang berkatitan dengan kesehatan anak seperti mengenali tanda-tanda kegemukan pada anak, informasi mengenai asupan makanan yang tepat bagi anak, info tentang dampak kegemukan pada anak, informasi mengenai berbagai acara yang dilakukan oleh tim media relation untuk menyampaikan tema kampanye.

Alamat

blog

dapat

diakses

melalui

:

http//www.pedulikesehatananak.blogspot.com

e.2 Mobil Anak Sehat Mobil anak sehat merupakan sarana yang direncanakan untuk membantu memberikan penyuluhan dan mengontrol kesehatan anakanak yang bersekolah di wilayah kota Jakarta. Mobil anak sehat ini merupakan wujud dukungan dari Departemen Kesehatan RI dalam mensosialisasikan kampanye ”Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini”. Mobil Anak Sehat akan berkeliling secara bergilir mengunjungi sekolah-sekolah SD di wilayah Jakarta untuk memberikan penyuluhan dan memberikan konsultasi gratis bagi anakanak . Setiap mobil yang berkeliling dilengkapi dengan dokter anak serta psikolog yang akan memberikan penyuluhan di sekolah. Diharapkan dengan adanya penyuluhan tersebut para tenaga pendidik di sekolah memiliki pengetahuan sehingga dapat turut serta membantu kampanye ini. Dalam 6 bulan pertama kami akan mengunjungi beberapa sekolah di jakarta, antara lain : • SDK Bethel • SD Regina Pacis • SD Santo Yakobus • SD Don Bosco 1 • SD Don Bosco 2 • SD Tarsisius 1 • SD Tarsisius 2 • SD Damai • SD Vianney • SD Santa Maria Jakarta • SD Dian Harapan • SD Charitas

• SD Citra Alam • SDK Marsudirini • SD Pangudi Luhur • SD Al Azhar Kelapa Gading • SD Tarakanita 1 • SD Tarakanita 3 • SD Tarakanita 5 • SD Harapan Bunda e.3 Festival Anak Sehat Dilakukannya sebuah acara yang bertemakan Festival Anak Sehat merupakan salah satu upaya untuk mendukung kampanye ini. Dalam festival tersebut akan melibatkan para orang tua beserta anak-anak. Rangkaian festival ini meliputi adanya kegiatan lomba olahraga seperti jalan sehat bersama orang tua, lomba outbound anak bersama orang tua, demo masak makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak, seminar mengenai ”Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini” e.4 Konferensi pers Kami telah melakukan konferensi pers mengenai perencanaan kampanye bertemakan ”Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini”. Kegiatan konferensi pers telah dilakukan pada tanggal 14 Januari 2010, pukul 11.00-12.00 WIB, bertempat di Ballroom Hotel Sultan Jakarta. Di dalam acara konferensi pers tersebut mengundang beberapa rekan media yang dianggap dapat mendukung proses kampanye ini. (Daftar rekan media yang hadir telah terlampir pada halaman belakang proposal ini). Acara konferensi pers meliputi membahasan mengenai materi kampanye dengan mendatangkan beberapa narasumber serta pembagian press release kepada sejumlah rekan media yang hadir. (Press release telah terlampir pada lampiran proposal).

e.5 Seminar

Kami mengadakan seminar (penyuluhan) kepada target audience yakni orang tua dan tenaga pendidik. Melalui seminar ini kita memberikan penyuluhan dan informasi mengenai kesehatan anak. Topik yang akan disampaikan dalam seminar ini adalah mengenai pentingnya kebiasaan hidup sehat yang diterapkan orang tua pada anak. Selanjutnya akan disinggung juga mengenai isu kritis mengenai obesitas pada anak di Indonesia yang mempunyai dampak negatif bagi tumbuh kembang anak di masa depan. Beberapa pembicara dalam seminar ini antara lain dokter anak, dokter ahli gizi dan psikolog. Seminar akan dilaksanakan di mall dan sekolah yang berlokasi di Jakarta. e.6 Facebook Di masa sekarang, banyak orang yang menggunakan situs jejaring sosial seperti facebook. Oleh karena itu kami menggunakan media facebook untuk menyampaikan informasi mengenai obesitas anak dan mengundang sebanyak mungkin orang untuk bergabung dalam facebook kami.Karena jaringan pertemanan facebook begitu luas sehingga melalui facebook kami juga dapat menyampaikan informasi secara luas pula, terutama kepada target audience, yaitu para orangtua dan tenaga pendidik.

e.7

Pembagian Brosur Kami akan membagi-bagikan brosur dan flyer kepada semua

masyarakat

untuk

menginformasikan

mengenai

kampanye

peduli

obesitas. Lokasi- lokasi yang akan dituju antara lain sekolah-sekolah dan Mall-mall. Tujuan pembagian brosur agar masyarakat mengetahui kampanye mengenai obesitas pada anak ini sehingga informasi penting dapat tersampaikan dengan baik kepada target audience yang telah ditetapkan. Di dalam brosur terdapat informasi penting fakta-fakta mengenai obesitas pada anak

V GANTT CHART
(Kegiatan selama 6 bulan pertama di tahun 2010)

No
1

Media Relation Activity
Kunjunga n Mobil Anak Sehat Kunjunga n Mobil Anak Sehat Pembagian Brosure Seminar Kunjunga n Mobil Anak Sehat

Juli 1 2 3 4 1

Agustus 2 3 4 1

September 2 3 4 1

Oktober 2 3 4 1

November 2 3 4 1

Desember 2 3 4

Notes
SD Bethel

2

SD Regina Pacis

3 4 5

Mall Ciputra Mall Senayan City SD Santo Yakobus

Kunjunga n Mobil Anak Sehat 7. Pembagian Brosure 8. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 9. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 10. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 11. Seminar 12. Pembagian Brosure 13. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 14. Kunjunga n Mobil Anak Sehat

6

SD Don Bosco 1

Senayan City SD Don Bosco 2

SD Tarsisius 1

SD Tarsisius 2

Mall Pondok Indah Pasific Place SD Damai

SD Vianney

15. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 16. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 17. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 18. Pembagian Brosure 19. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 21. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 22. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 23. Kunjunga n Mobil AnakSehat

SD Santa Maria Jakarta SD Dian Harapan SD Charitas

Mall MKG 2 SD Citra Alam

SDK Marsudirini

SD Pengudi Luhur SD Al Azhar Kelapa Gading

24. Pembagian Brosure 25. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 26. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 27. Seminar 28. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 29. Kunjunga n Mobil Anak Sehat 30. Evaluasi

Mall Of Indonesia SD Tarakanita 1

SD tarakanita 3

Mall Taman Anggrek SD Tarakanita 5

SD Harapan Bunda

VI. BUDGETING
Budgeting ini disusun berdasarkan perencanaan kampanye dalam

jangka waktu 6 bulan . Hal ini dimaksudkan untuk memfokuskan program kampanye yang akan dijalankan bersama dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Seluruh perencanaan selama 6 bulan ke depan tertera dalam daftar budget di bawah ini. Poster 200 lembar x Rp 15.000,Brochure 500 lembar x Rp 10.000 Spanduk 20 lembar x Rp 200.000,Banner 20 lembar x Rp 100.000,Pin 500 buah x Rp 2.000,Kaos 200 buahx Rp 50.000,Tim dokter + psikolog 20 pertemuan x Rp 20.000.000,Mobil sehat 1 x Rp 150.000.000,Alat-alat kesehatan Bahan bakar Driver 20 pertemuan x Rp 200.000,Rp 4.000.000,Rp 150.000.000,Rp Rp 5.000.000,6.000.000,Rp 400.000.000,Rp 10.000.000,Rp 1.000.000,Rp 2.000.000,Rp 4.000.000,Rp 5.000.000,Rp 3.000.000,

Sewa tempat +Stand Mall MC Total Unexpexted cost 10% x Rp 782.000.000,Total Cost NB : - 1 Tim dokter terdiri atas 4 dokter dan 1 psikolog

Rp 200.000.000,Rp 2.000.000,- +

Rp 792.000.000,Rp 79.200.000,- + Rp 871.200.000,-

- Alat-alat kesehatan terdiri atas Timbangan, pengukur tinggi badan, tensimeter, stetoskop. - Stand- stand untuk di beberapa mall wilayah Jakarta

VII. Evaluasi Hasil
Pencapaian hasil kampanye ini dilakukan melalui : • Prencanaan kampanye dilakukan selama 2 tahun di wilayah Jakarta. • • keberhasilan kampanye ditandai dengan menurunnya angka Dilakukan penelitian (survey) di sekolah-sekolah SD melalui tingkat kegemukan pada anak menjadi 5%-10% (perkotaan:Jakarta) pengukuran massa bobot tubuh anak-anak dengan berat badan ideal.

Tolak ukur dari kampanye peduli obesitas anak sejak dini adalah terciptanya anak-anak Indonesia yang memiliki berat badan ideal serta tubuh yang sehat, baik secara jasmani maupun secara mental. Sehat jasmani maksudnya, anak Indonesia memiliki tubuh yang tidak mudah terserang penyakit sehingga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aktif. Secara mental maksudnya anak Indonesia memiliki pengetahuan yang luas serta memiliki kepercayaan diri dan pikiran yang positif dalam meraih prestasi. Masa depan bangsa Indonesia ditentukan pada generasi anak Indonesia yang memiliki badan yang sehat, aktif dan terhindar dari penyakit sehingga dapat berprestasi baik secara akademik dan non akademik. Jangka waktu yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari kampanye ”Kenali Obesitas Anak Sejak Dini ” adalah selama 2 tahun untuk melihat sejauh mana maksimalisasi program-program yang kami rencanakan dapat memiki dampak pada sasaran, yaitu anak-anak. Selama 2 tahun ke depan program-program akan dijalankan secara berkesinambungan dengan evaluasi pada 6 bulan pertama masa kampanyeuntuk mengetahui efektivitas akan hasil kampanye yang telah dilakukan tersebut. Setelah 2 tahun kami akan melanjutkan program-program yang telah direncakan serta dilakukan juga pembaharuan serta perubahan-perubahan terhadap program yang telah dijalankan sebelumnya untuk menyesuaikan dengan apresiasi masyarakat yang telah menerima pada program sebelumnya.

LAMPIRAN

PRESS RELEASE

“KENALI KEGEMUKAN PADA ANAK SEJAK DINI”
(Didukung oleh Departemen Kesehatan RI)
Jakarta, 14 Januari 2010. Di dalam keluarga Indonesia, masih banyak orang tua yang mengharapkan anaknya bertumbuh gemuk sehingga tampak lucu dan menggemaskan. Selain itu, anak yang memiliki tubuh gemuk dianggap memberikan bukti bahwa orangtua telah mencukupi kebutuhan makanan anaknya. Padahal, di balik tubuh anak yang mengalami kegemukan, menyimpan potensi yang berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Di Indonesia sendiri, perihal kegemukan pada anak mulai menjadi masalah yang serius. Dari penelitian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di empat belas kota besar di Indonesia, diperkirakan angka kejadian kegemukan pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dari total populasi anak-anak Indonesia yang berumur 6-12 tahun dengan nilai yang terus bertambah hingga sekarang. Jakarta adalah salah satu kota yang memiliki tingkat kegemukan/ obesitas pada anak yang relatif tinggi. Atas keadaan tersebut, EAGLE.ORG sebagai organisasi medrel yang peduli akan masalah-masalah kritis di Indonesia, akan melakukan kampanye bertemakan “Kenali Kegemukan Pada Anak Sejak Dini” dengan tagline “Lucu Tak Berarti Harus Gemuk“. Kegiatan ini pun didukung penuh oleh Departemen Kesehatan RI. Di dalam jumpa pers yang diadakan di Ballroom Hotel Sultan Jakarta, menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya seperti dr. Frieska Oktaviani selaku dokter spesialis anak Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta, Dra. Odrine selaku Psikolog, Dra. Olivia selaku humas dari kegemukan. Humas DepKes selaku perwakilan Menteri Kesehatan RI menyatakan dukungan penuh terhadap kampanye ini. Selain karena fakor kesehatan, kegemukan pada anak perlu mendapatkan perhatian karena anak-anak merupakan penerus bangsa yang perlu diawasi tumbuh kembangnya.Kampanye ini akan berjalan selama 2 tahun (2011-2012) dan dilakukan di daerah Jakarta dengan target para orang tua dan tenaga pendidik. Berbagai macam kegiatan dilakukan untuk mendukung kampanye ini, antaranya adalah pembuatan blog yang memberikan informasi seputar kesehatan anak, festival anak Departemen Kesehatan RI, serta kesaksian dari Riska Anestia, seorang ibu yang penah memiliki pengalaman menangani anaknya yang mengalami

yang di dalamnya terdapat berbagai macam lomba dan seminar kesehatan yang akan dihadiri oleh para pakar, peluncuran Mobil Sehat yang akan berkeliling ke sekolahsekolah tingkat dasar di Jakarta untuk memberikan konsultasi dan penyuluhan bagi anak-anak dan guru untuk mengontrol kesehatan anak-anak. Diharapkan kampanye ini bermanfaat dalam memberikan informasi kepada masyarakat agar lebih mengenali kegemukan yang terjadi pada anak-anak. Selain itu, diharapkan juga setelah diadakannya kampanye ini, dapat menekan angka obesitas anak di wilayah Jakarta menurun 5-10%. Dengan begitu, kampanye ini pun turut mendukung anak indonesia memiliki tubuh dan mental yang sehat sehingga mempersiapkan generasi penerus bangsa di masa depan yang lebih cerah.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi : Angelina Media Relations Coordinator EAGLE.ORG Angeline.EAGLE.ORG@yahoo.com 0818181818 EAGLE.ORG Gedung Wisma Tamara Lantai 3A, Jakarta Pusat Tel : (021)500100 Fax : (021)500200

HARD NEWS

OBESITAS ANCAM MASA DEPAN KESEHATAN ANAK INDONESIA JKT, 10/12- Dari hasil penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini, tutur Dr. Damayanti R. Syarif, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam acara seminar mengenai kesehatan anak di Universitas Indonesia. Obesitas saat ini merupakan permasalahan yang sudah lama muncul di dunia, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikannya sebagai epidemik global. Prevalensinya meningkat tidak saja di negara-negara maju, tetapi juga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Minimnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak-anak jaman sekarang merupakan salah satu faktor pemicu mengapa obesitas ini kian meningkat di Indonesia. Selain aktivitas fisik, faktor makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak juga sangat berpengaruh. Saat ini, masyarakat cenderung ingin segala sesuatu yang bersifat praktis, sehingga sering kali mengonsumsi makanan cepat saji dan yang bersifat instant. Makanan tersebut biasanya mengandung lemak trans (trans fat) yang tinggi dan itu bisa menyebabkan seseorang mengalami obesitas. ”Anak-anak yang kurang aktivitas fisiknya dan sering mengonsumsi makanan yang bergizi rendah mengakibatkan dirinya memiliki bobot yang berlebih. Hal ini perlu diwaspadai karena kegemukan yang berlebih cenderung rentan mengidap berbagai penyakit mulai dari yang paling sederhana seperti gangguan pernafasan hingga penyakit yang kronis seperti diabetes, hipertensi, jantung koroner dan sebagainya”, ujar dr. Purwanti yang merupakan dokter ahli gizi. Melihat resiko tersebut maka keadaan obesitas pada anak ini tidak dapat dianggap hal sepele. Apabila penyakit-penyakit itu tidak dicegah dari sekarang, maka dapat berakibat fatal bagi kesehatan anak-anak di masa depan. Melihat adanya dampak yang sangat buruk bagi kesehatan anak-anak yang memiliki berat badan yang berlebih, maka sudah menjadi tanggung jawab setiap orang tua untuk lebih waspada dalam memperhatikan kondisi anak-anaknya dengan memenuhi gizinya secara seimbang serta membiasakan anak-anak untuk beraktivitas fisik. Anak-anak merupakan calon penerus bangsa ini, oleh karena itu jangan sampai obesitas menghambat masa depan mereka dalam berkarya. (Marsela Giovani Suhardja).

HARD NEWS

LEBIH DARI SEMBILAN JUTA ANAK DI DUNIA MENGALAMI OBESITAS
Jakarta, 31/01 - Lebih dari sembilan juta anak di dunia berusia enam tahun ke atas mengalami obesitas, lapor Dennis Bier dari Pediatric Academic Society (PAS). Faktor sosial Mafhum bagi kalangan medis bahwa obesitas pada anak telah menjadi masalah yang serius di indonesia. Sejak tahun 1970, obesitas kerap meningkat di kalangan anak, hingga kini angkanya terus melonjak dua kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga kali lipat pada anak usia 6-11 tahun. Dr. Damayanti R. Syarif, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta bertutur senada, dari penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini. Center for Disease Control CDC berargumen bahwa seorang anak dikategorikan obesitas jika mengalami kelebihan berat badan di atas persentil ke-95 dengan proporsi lemak tubuh yang lebih besar dibanding komponen tubuh lainnya. Secara teoretis manajemen obesitas pada anak ialah dengan mengatur berat badan dan mengurangi indeks massa tubuh (IMT) dengan aman dan efektif beserta komplikasi jangka panjang dan pendek yang minimal. Sebaiknya terdapat tim dokter anak dengan psikiater untuk mengatur pola dan kebiasaan makan serta kemungkinan depresi. Para orang tua harus disiplin dan ‘tega’ mendidik anak untuk pergi sekolah jalan kaki atau naik sepeda daripada harus diantar jemput. Tidak baik untuk menuruti anak untuk sering makan di restoran cepat saji, budaya makan buah dan sayur harus sejak dini dibiasakan, dongeng-dongeng sebelum tidur ada baiknya kembali dibudayakan dengan cerita Popeye dan bayam atau cerita bagaimana proses sebuah telur bisa menjadi ayam goreng superbesar dengan lemak tebal dan kulit renyah khas restoran cepat saji. Tak kalah pentingnya ialah peran sekolah untuk menambah jadwal olah raga dan menyediakan media yang lebih baik bagi anak-anak untuk ‘bermain’ dan berolahraga. Sekolah juga sebenarnya menjadi kunci untuk menertibkan puluhan pedagang yang menyuguhkan makanan-makanan sangat tidak sehat. (Olivia)

HARD NEWS
OBESITAS ANCAM GENERASI PENERUS BANGSA Jakarta, 30/01- Obesitas kian menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Bahkan, anak yang mengalami obesitas sejak kecil berisiko terkena beragam penyakit di masa tua bahkan saat remaja. Di Indonesia, dari hasil penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini, tutur Dr. Damayanti R. Syarif, Sp.A(K). Obesitas saat ini merupakan permasalahan yang sudah lama muncul di dunia, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikannya sebagai epidemik global. Prevalensinya meningkat tidak saja di negara-negara maju, tetapi juga di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut spesialis anak RSAB Harapan Kita dr. Tinuk Agung Meilany SpA, sekitar 95 persen obesitas anak disebabkan aspek nutrisional, sedangkan 5 persen adalah penyebab lain, seperti penyakit atau kelainan hormon. Nutrisi berkaitan dengan pola makan mulai dari jenis makanan sampai perilaku makan yang berlebihan -- baik porsi maupun frekuensinya. Tentunya, aktivitas fisik yang kurang, akibat obat (steroid), atau faktor gaya hidup juga amat berpengaruh . Pada dasarnya, penyebab kegemukan atau obesitas adalah ketidakseimbangan antara jumlah makanan yang masuk (input) dengan yang dikeluarkan (output) dalam bentuk tenaga untuk beraktivitas,” ungkap dr.Tinuk.kegemukan (obesitas). Akibatnya, terjadilah kelebihan energi, yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Jika kegemukan terus berlanjut sampai mereka besar, berbagai risiko yang mengancam makin dekat dengan kenyataan. Risiko tersebut antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang buruk, peningkatan kadar gula darah dan insulin (hormon pengatur kadar gula darah). Melihat adanya risiko dan dampak yang buruk akibat obesitas pada anak maka sebaiknya orang tua dapat lebih waspada serta memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh anak dan menjaga pola makannya yakni antara lain memberikan anak makanan yang memiliki gizi seimbang seperti 4 sehat 5 sempurna. Anak-anak merupakan calon generasi penerus bangsa ini, oleh karena itu jangan sampai obesitas menghambat masa depan mereka dalam memajukan bangsa. (Riska Anestia).

HARDNEWS

ANGKA OBESITAS PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA KIAN BERTAMBAH
JKT,30/1Berdasarkan penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia,angka kejadian obesitas pada anak-anak di Indonesia tergolong tinggi.Antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga sekarang. Indonesia masih memiliki fenomena paradox pedriatik yang unik.jutaan anak mengalami kekurangan gizi atau yang biasa disebut dengan mal nutrisi.Sementara disisi lain ada jutaan anak pula yang mengalami obesitas. Sampai dengan saat ini,penyebab begitu tingginya angka obesitas pada anakanakpun masih simpang siur. Faktor makanan ringan diluar makanan yang disediakan dirumah sering dijadikan penyebab dari timbulnya obesitas pada anak-anak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr.Damayanti R.syarif sp.A(k) dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo juga menunjukkan bahwa obesitas kerap terjadi pada golongan anak yang lebih senang jajan. Menurut Centre for disease control Amerika Serikat seorang anak dapat dikategorikan obesitas jika mengalami kelebihan berat badan diatas persentil ke 95 dengan proporsi lemak tubuh yang lebih besar daripada komponen tubuh lainnya.Sementara menurut ikatan dokter anak Indonesia obesitas merupakan keadaan indeks massa tubuh (IMT) anak yang berada diatas persentil ke 9s pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya. Mengingat obesitas pada anak-anak dapat memicu penyakit yang berbahaya seperti jantung dan diabetes mellitus,maka peran dari lingkungan sekitar anak-anak untuk menjaga agar mereka dapat tumbuh kembang dengan seimbang dan sehat sangat diperlukan. Obesitas pada anak dapat dicegah dengan menjaga keseimbangan energi yang masuk dengan energi yang keluar dengan menyeimbangkan pola makan dengan kebiasaan bermain atau berolahraga. Selain peran dari orang tua yang sangat besar,peran dari pihak sekolahpun tak kalah pentingnya dalam menambah jadwal olahraga dan menyediakan sarana yang lebih baik bagi anak-anak untuk bermain dan berolahraga. (Melanie Putria)

SOFT NEWS
BIASAKAN ANAK UNTUK MENGONSUMSI BUAH DAN SAYURAN Buah-buahan dan sayuran adalah asupan makanan yang memiliki peran penting bagi manusia terutama untuk anak-anak. Pemenuhan kebutuhan serat yang cukup setiap harinya dapat membantu perkembangan tubuh anak menjadi sehat sehingga dapat membantu juga dalam perkembangan mentalnya. Namun sayangnya, hal tersebut seolah-olah menjadi terpinggirkan. Anak-anak jaman sekarang cenderung tidak suka mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Beredar luasnya makanan cepat saji yang ditawarkan cenderung lebih disukai oleh anak-anak masa kini. Makanan-makanan yang disukai anak-anak tersebut justru patut diwaspadai. Makanan yang siap saji, instan, junkfood atau semacamnya adalah kelompok makanan yang memiliki kadar gizi yang rendah. Kurangnya asupan serat yang berasal dari buah-buahan dan sayuran dapat berakibat buruk bagi anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Dengan seringnya mengonsumsi makanan-manakanan cepat saji, maka dapat menimbulkan efek kelebihan berat badan di kalangan anak-anak. Ditambah lagi apabila kurangnya aktivitas yang dilakukan anak-anak tersebut maka semakin menambah resiko buruk bagi kesehatan. Sebagai contohnya adalah Jemy yang merupakan siswa kelas 4 SD yang tidak suka mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. ”Anak saya lebih suka makan-makanan seperti nugget, mi instant, pokoknya yang gampang disajikan gitu. Kalau diberikan sayuran dan buah-buahan selalu menolak bahkan malahan cenderung jadinya tidak mau makan’’, ujar Ibu Wawah yang merupakan ibu dari Jemy. Ketidaksukaan Jemy pada sayuran dan buah-buahan berakibat pada berat tubuhnya. Kurangnya serat yang dikonsumsi serta minimnya aktivitas fisik yang dilakukannya maka tak heran apabila berat tubuh jemy terbilang cukup besar, yaitu 48 kg bila dibandingkan dengan anakanak seumuran dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan bahwa anak yang bertubuh gemuk adalah cermin sukses bagi orang tuanya. Ditambah lagi jika dikatakan bahwa anak gemuk adalah anak yang lucu dan menggemaskan sehingga anak gemuk merupakan kebanggaan bagi orang tuanya. Tampaknya pemikiran dan anggapan di dalam masyarakat tersebut perlu dikaji ulang karena faktanya apabila gemuk tersebut berlebih maka si anak dapat mengalami kesulitan dalam bergerak bahkan dapat terancam berbagai penyakit. (Marsela Giovani Suhardja).

SOFT NEWS

ANAK RENTAN TERHADAP OBESITAS
Obesitas atau kegemukan bukan saja melanda orang dewasa. Menurut

penelitian statistik menunjukkan bahwa di banyak negeri, obesitas juga melanda anakanak sampai taraf yang memprihatinkan. Kurangnya pengetahuan orang-tua atau pandangan yang mengatakan anak bertubuh gemuk atau gendut adalah anak yang sehat dan menggemaskan dapat memperparah kondisi ini. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya sehat, gemuk, lucu dan menggemaskan. Tapi jangan salah, kegemukkan pada anak itu juga berbahaya. Hal yang menggemaskan tersebut ternyata semakin mencemaskan. Angka kejadian obesitas pada masa kanak-kanak meningkat secara cepat di seluruh dunia baik di negara maju maupun di negara berkembang seperi di Indonesia. Penyakit yang dapat ditimbulkan akibat obesitas adalah diabetes, darah tinggi, atau penyakit jantung. Penyakit-penyakit yang dulu dianggap sebagai penyakit usia lanjut dan dewasa, kini dapat dialami pada anak akibat timbunan lemak, kolesterol dan gula yang terdapat dalam tubuh. Gangguan pernapasan atau asma berisiko lebih besar dialami anak yang mengalami obesitas. Selain itu, anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Belum lagi efek psikologis yang dialami anak, misalnya ejekan dari teman-teman sekelas pada anak-anak yang telah bersekolah. Anak yang gemuk memang lucu dan menggemaskan. Namun jagalah putra dan putri anda agar mereka bertumbuh dengan sehat dan juga memiliki pola hidup dan pola makan yang sehat. Orang-tua bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Ingatlah bahwa obesitas atau kegemukan bukanlah hal yang bagus bagi seorang anak. (Riska Anestia).

SOFT NEWS DAMPAK BURUK OBESITAS PADA ANAK
Obesitas merupakan penimbunan lemak berlebihan daripada yang normal. Tetapi tidak semua anak yang mempunyai berat badan berlebih tergolong obesitas. Melainkan anak dengan gejala klinis antropometri(fisik)yang jauh diatas normal. Pemeriksaan fisik tersebut antara lain pengukuran berat badan berbanding tinggi badan,berat badan terhadap umur, dan ketebalan lipatan kulit dan paling sedikit perbandingan 10 % diatas nilai normal.gejala- gejala obesitas pun dapat kita lihat dengan jelas dari bentuk fisik yang berbanding tinggi tidak normal, artinya berat badan lebih dengan tinggi badan yang tidak sebanding. Gejala obesitas antara lain pada anak dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi cenderung lebih sering dialami anak berusia 5-6 tahun. Dr .Purwanti salah satu seorang ahli gizi Mengatakan: “Obesitas pada anak merupakan sebuah hal penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua saat ini. Terkadang, kita sebagai orang tua harus bisa tega pada anak yang memiliki kecenderungan kegemukan. Bila dari awal, anak sudah dimanjakan dengan makanan2 junk food yang mengandung lemak tinggi, pastinya anak tersebut akan merasa addicted dgn makanan2 trsbt. Penyakit yang disebabkan oleh obesitas pd anak sangat beragam.mulai dari yg paling sederhana seperti gangguan pernafasan,sampai dengan penyakit serius seperti kencing manis, kolesterol hingga penyakit jantung. Biasakan memberi lebih banyak porsi sayuran pada makanan anak2, buah2an segar yang penuh dengan nutrisi dan vitamin juga dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk mencegah obesitas.” Selain dari pada penjelasan yang dipaparkan oleh dr.Purwanti, Dampak buruk dari obesitas adalah pada saluran pernafasan pada bayi, obesitas meningkatkan risiko infeksi saluran pernafasan bagian bawah karena terbatasnya kapasitas paru-paru, obesitas menyebabkan pula penyumbatan saluran pernafasan, gejala-gejala penyakit jantung dan kadar oksigen dalam darah yang tidak normal. Keluhan lain nafas menjadi pendek, obesitas juga menghambat gerakan anak, disamping itu dapat juga mengakibatkan kelainan tulang dan sendi seperti kaki pengkor kearah dalam. Masa depan dan kesehatan anak bergantung pada pola makan yang kita bina sejak dini. Jangan terlalu memanjakan anak dengan makanan siap saji, untuk itu marilah mulai dari sekarang memperhatikan gizi serta makanan yang dikonsumsi oleh anak kita dan diseimbangkan pula dengan berolahraga. (Olivia)

SOFT NEWS

OBESITAS PADA ANAK VERSUS PERCAYA DIRI
Obesitas pada anak-anak di Indonesia belum menjadi sebuah isyu yang menyita perhatian masyarakat di Indonesia, Padahal,banyak sekali penyakit yang berbahaya yang dapat menyerang anak-anak yang mengalami obesitas.Dimulai dari asma,diabetes mellitus hingga penyakit jantung yang mematikan. Obesitas pada anak-anak,terjadi karena adanya ketidak seimbangan antara energi yang masuk dalam bentuk makanan dengan energi yang keluar dalam bentuk aktivitas.Kurangnya sarana berolahraga dan bermain menjadikan salah satu penyebab dari terjadinya obesitas pada anak-anak. Ditambah lagi adanya kebiasaan jajan diluar makanan rumah,yang sering dijadikan kambing hitam dari penyebab terjadinya obesitas pada anak. Obesitas pada anak tentunya dapat mengganggu kesehatan fisik dan kesehatan mental anak-anak.Karena kelebihan berat badan,seorang anak bisa kehilangan rasa percaya diri,anak tersebut menjadi pemalu dan tertutuplah ruang kreatifitasnya untuk berkarya Adanya olok-olokkan dari teman-teman seusianyapun sering menjadikan anakanak yang mengalami obesitas menjadi minder dan rendah diri dalam pergaulan sosialnya sehari-hari, sehingga dikhawatirkan masa depan dari anak tersebut juga dapat terganggu. Dibutuhkan peran serta dari berbagai komponen masyarakat dimulai dari pemerintah,media massa,rakyat,penyedia jasa kesehatan industri nutrisi dan makanan dan yang paling penting adalah dukungan total dari kalangan keluarga,rumah dan orang tua agar dapat mencegah bertambahnya angka obesitas pada anak-anak di Indonesia. Mulailah dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih sehat sejak dini,tanamkan sifat disiplin dan ajaklah anak-anak untuk lebih menyukai olahraga atau beraktivitas fisik sehingga kebugaran dan kesehatan fisik serta mental mereka dapat selalu terjaga. Orangtua dituntut untuk lebih tegas bahkan tega kepada anak-anaknya unntuk memilah-milah makanan apa yang akan disajikan untuk anak-anaknya.Biasakan agar anak-anak lebih memilih makan dirumah sendiri disbanding mencari jajanan yang kurang sehat diluar rumah. (Melanie Putria).

FEATURE SIAPA BILANG GEMUK ITU SEHAT DAN LUCU ?
Jika anda seorang orang tua yang memiliki seorang anak yang mempunyai kelebihan berat badan atau kegemukan, apakah yang ada di benak anda? Beberapa orang tua saat ini, terutama di Indonesia beranggapan bahwa jika anaknya mempunyai berat badan cukup bahkan berlebih, itu dianggap sehat dan lucu. Mereka menganggap telah berhasil menghidupi anaknya sehingga dapat mencapai kondisi sesehat itu. Tak jarang saat anak tersebut dibawa ke mall atau tempat-tempat ramai, orangorang sekitar akan mengatakan bahwa anak itu lucu dan menggemaskan, dan si orang tua pun akan bangga dan senang atas pujian tersebut. Tapi sadarkah anda, dibalik semua persepsi dan anggapan itu, anak anda tengah berada dalam ancaman, karena tubuh yang gemuk itu rentan terkena berbagai penyakit serius. Seperti seorang ibu berusia 36 tahun, Ibu Riska Anestia, beliau mempunyai seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama David, yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. David sejak kecil mempunyai berat badan yang berlebih, istilah medis yang sering digunakan adalah obesitas. Saat usianya 4 tahun, beratnya sudah mencapai 38 kg, itu sungguh tidak relevan dengan tinggi badannya yang hanya berkisar 120 cm. Awalnya Ibu Riska tidak terlalu kahwatir, karena ia berpikir bahwa jika anaknya memang suka makan dan tidak rewel itu tentu hal yang bagus. Selama ia masih mampu untuk memenuhi kebutuhan anaknya ia akan memberikan yang terbaik yang dibutuhkan anaknya, beitu pikirnya. David sangat gemar makan makanan yang digoreng dan juga fast food. Ia tidak terlalu menyukai buah atau sayur-sayuran. Ibu Riska mulai gelisah saat David berusia 6 tahun, beratnya terus bertambah, menjadi 50 kg. Selain itu di malam hari David sering mengalami sesak napas saat mau tidur. Saat di sekolah pun ia mengalami terlambat berfikir,cepat lelah, dan malas bergerak. Dampaknya prestasinya di sekolah pun menurun. Selain dampak fisik, ternyata ada dampak-dampak moril juga dialami oleh David. Karena ia malas bergerak dan lamban, ia terkadang sering tertinggal saat bermain dengan teman-temannya, “saat pulang sekolah ia sering menceritakan pada saya bahwa teman-temannya sering meninggalkannya saat bermain dan mengatainya gendut, saya sungguh kasihan mendengar cerita David.” ujar Ibu Riska.

Kekhawatiran Ibu Riska semakin menjadi saat dokter mengatakan jika berat badan David terus bertambah ia dapat terancam berbagai penyakit seperti kolesterol dan penyakit jantung. Itu tentu mengejutkan karena anak sekecil itu terancam berbagai penyakit berbahaya sepperti itu. Akhirnya Ibu Riska pun sadar, ia berusaha memperbaiki kekeliruannya dengan mengubah pola makan dan hidup anaknya. Ia mulai menyajikan makanan-makanan yang sehat, mengatur pola makan David dengan sewajarnya, menghindari fast food, danmembiasakan David untuk beraktivitas fisik seperti olah raga ringan dan bersepeda. Awalnya sulit, karena David sudah terlanjur terbiasa dengan hidupnya yang tidak sehat, namun Ibu Riska terus membiasakan pola hisup sehat yang baru ini pada anaknya, agar ia dapat sehat dan tidak mempunyai berat badan yang berlebihan lagi. Setelah hampir dua tahun, perubahan terlihat jelas, David menjadi lebih segar dan bugar, prestasinya pun meningkat dan ia tidak pernah lagi sesak napas. Sekarang diusianya yang ke 10 tahun, berat badannya sudah normal dan ia pun menjadi lebih percaya diri, dan tidak menganggap dirinya berbeda lagi dari teman-teman sebayanya. ”Jadi, siapa bilang gemuk itu lucu? Karena faktanya lucu itu tak berarti harus gemuk. Jika ingin anak anda lucu bukan di lihat dari badannya yang gemuk tapi juga dari pertumbuahn serta tingkahnya yang aktif.” begitu ujar Ibu Riska yang mempunyai pengalaman yang berharga tentang anaknya David. Semoga setelah membaca pengalaman dari Ibu Riska, kita semua dapat termotivasi untuk mengubah pandangan kita yang salah mengenai tubuh gemuk si kecil yang berdampak negatif itu. (Odrine)

FEATURE

KETIKA OBESITAS MENGAMBIL KECERIAANNYA
Buah hati yang ceria menjadi dambaan setiap orang tua. Betapa bangganya orang tua melihat anak mereka tumbuh sehat, lincah, dan pintar melakukan apa saja. Bahkan setiap orang tua ingin selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya baik dari pendidikan hingga asupan makanan. Lucunya bila melihat anak yang tumbuh gemuk dengan pipi yang besar memerah. Namun tanpa disadari asupan makanan yang berlebihan menjadi hal yang menakutkan. Obesitas menjadi hal yang terlupakan bagi orang tua. Alvino Mahardika (5),terlihat sebagai anak yang lucu dalam masa pertumbuhannya. Ia gemar makan jadi badannya gemuk untuk anak seusiannya. Selama tinggal bersama omannya, ia selalu diberikan makanan apapun kesukaannya. Baso, ayam, chicken nugget,mi instan, dan makanan sejenisnya menjadi kesukaannya. Namun sayur-sayuran ataupun buah-buahan menjadi makanan yang tak mau disentuhnya. Semua makanan kesukaannya akan habis dilahap. Tapi ia tidak akan mau dimakan tanpa makanan-makanan favoritnya. Kecintaannya terhadap the dalam kemasan atupun the manis membuatnya kurang mendapat asupan air putih. Jadi kalau dilihat secara dekat tubuhnya yang gemuk bukanlah tubuh yang sehat. Ia biasa beraktivitas bersama teman-teman sebayanya. Bermain, belajar bersama membuatnya terlihat begitu bersemangat.Usianya yang menginjak bangku taman kanak-kanak membuatnya mempunyai banyak aktivitas yang dapat dilakukannya.” Ia suka sekali bermain sepak bola bersama teman-temannya.” Tutur oma nya. Namun hal tersebut tak berlangsung lama ketika ia terlihat ketinggalan dari teman-teman sebayanya. Ia menjadi sulit berlari ketika bermain, nafasnya menjadi begitu pendek. Ia menjadi mudah lelah dan jadi malas melanjutkannya. Ia juga sering mengeluh dadanya menjadi sakit. Tapi tidak ada yang menyadari bahwa hal ini merupakan awal yang membahayakan kesehatannya. Sampai suatu hari Ia mengeluh benar-benar sakit dadanya. “Oma, ini sakit banget!” keluhnya. Setelah itu dibawanya ke dokter. Terkejutnya, Vino divonis dokter mempunyai penyakit jantung dengan kadar kolesterol tinggi dalam tubuhnya. Menurut dokter berat tubuhnya tak seimbang untuk anak seusiannya. Hampir 30 kilogram untuk anak usia taman kanak-kanak. Lemak yang ada di dalam tubuhnya menyelimuti jantung sehingga

terjadi penyumbatan pembuluh darah di jantungnya. Lemak juga menyelimuti paru-paru dan membuat nafasnya pendek dan tersengal-sengal. Dokter menyarankan untuk diet ketat terhadap makanan siap saji dan hal-hal yang manis, memperbanyak konsumsi buah, sayur dan air putih. Tapi apakah ini mungkin karena sebenarnya ini adalah makanan yang vino tidak suka. Namun hal ini haruslah dicoba demi kesehatan Vino. Harus ada kegiatan olah raga, namun tidak boleh membuatnya menjadi kelelahan. Hal ini membuat Vino menjadi sulit mempunyai banyak waktu untuk bermain dengan teman-temannya. Vino menjadi aga murung melihat teman-temannya bermain lebih lama darinya dan malu melihat dirinya yang tertinggal jauh dari yang lain. Kesulitannya adalah beradaptasi dengan makanan yang tidak disukainya namun menjadi anjuran dokter.Mungkin ini menjadi hal yang berat bagi Vino, apalgo oma yang selalu memberikan apa yang disuka. Obesitas telah mengambil keceriaan Vino, namun seiring dengan berjalannya waktu dan proses diet yang dijalani membuahkan harapan keceriaan Vino dapat kembali seperti semula. (Frieska Oktaviani)

BACKGROUND INFORMATION

BAHAYA OBESITAS MENGANCAM ANAK ANDA
Obesitas kian menjadi masalah di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, perlu diketahui bahwa obesitas bukan hanya mengancam orang dewasa namun juga anak-anak. Obesitas yang terjadi pada anak-anak saat ini telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, karena diperkirakan pada tahun 2020, anak yang menderita obesitas pada usia 7 sampai 15 tahun akan mencapai 65 persen. Penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini. Survei oleh Ikatan Dokter Indonesia di beberapa sekolah dasar di Jakarta, ternyata jumlah obesitas anak di Indonesia tidak lah sedikit. Angkanya berkisar antara 10-30%. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat kebanyakan orang tua di Indonesia mempunyai persepsi bahwa anak yang gemuk itu lucu dan sehat, mereka tak menyadari dibalik tubuh anak mereka itu tersimpan bahaya yang besar bagi kesehatan dan tumbuh kembangnya, tak heran jika angka tersebut terus naik dan bertambah setiap tahunnya. Sebenarnya, apa yang dikatakan obesitas itu? Menurut Dr. Angela C Ardhianie, anak dikatakan obesitas jika berat badannya 40 persen lebih tinggi dari berat badan ideal dan overweight jika berat badannya lebih tinggi 20 persen dari berat badan idealnya. Pada dasarnya, kegemukan (obesitas) terjadi karena ketidakseimbangan antara masuk dan keluarnya energi. “Akibatnya, terjadilah kelebihan energi, yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak,” demikian penjelasan dari Dr. dr. Damayanti Sjarif, Sp.A(K) dari Divisi Gizi dan Penyakit Metabolik, RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Kegemukan pun dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegemukan primer dan kegemukan sekunder. Yang dimaksud dengan kegemukan primer adalah kegemukan akibat makan secara berlebihan, jumlahnya mencapai Sembilan puluh persen, dan sepuluh persen sisanya kegemukan karena penyakit atau gangguan hormonal atau gangguan yang diturunkan, disebut kegemukan sekunder. Sebenarnya, kegemukan primer dapat dikendalikan, caranya dengan waspada sedari dini, terlebih kegemukan jenis ini biasanya terjadi akibat interaksi berbagai faktor yang dikelompokan menjadi faktor genetik dan lingkungan.

Faktor genetik berarti kegemukan yang sudah bawaan si anak dari orang tuanya. “Dari penelitian terbukti, bahwa jika kedua orang tua menderita kegemukan, sekitar 80%anaknya akan menderita kegemukan juga. Bila hanya salah satu orang tuanya saja yang menderita kegemukan, resikonya menjadi 40%. Sedangkan jika keduanya tidak kegemukan, resikonya turun lagi tinggal 14%.” Jelas Dr. Damayanti yang juga seorang pakar gangguan metabolisme pada anak. Sementara faktor lingkungan yang ikut berperan besar adalah faktor nutrisi, mulai dari jenis makanan sampai dengan perilaku makan yang berlebih-lebihan, baik porsi maupun frekuensinya. Tentunya aktivitas fisik yang kurang, ataupun faktor gaya hidup juga amat berpengaruh sebagai faktor kegemukan atau obesitas. Banyak hal negative yang didapat dari obesitas, sejumlah studi menyimpulkan bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan sejak usia kurang dari 10 tahun akan menghadapi ancaman stroke pada usia 40, bahkan bisa dimulai sejak usia 30. Kelebihan berat badan yang dimaksud adalah anak kelebihan indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI) sebesar 20% atau lebih dari IMT normal. Berikut merupakan beberapa resiko penyakit yang mungkin di derita anak obesitas, diantaranya: - Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti pembesaran jantung atau peningkatan tekanan darah - Gangguan metabolism glukosa, misalnya intoleransi glukosa - Gangguan kedudukan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki) - Gangguan kulit, khususnya di daerah lipatan, akibat sering bergesekan - Gangguan mata, seperti penglihatan ganda, terlalu sensitive terhadap cahaya, dan batas pandangannya jadi lebih sempit.

Inilah anatomi dari anak yang mengalami obesitas: - Wajah membulat - Pipi tembem - Dagu rangkap - Leher relative pendek

- Dada

membusung,

dengan

payudara

yang

relative

membesar

karena

mengandung jaringan lemak - Perit membuncit disertai dinding perit yang berlipat-lipat - Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam yang saling menempel dan bergesekan. Akibatnya timbullah lecet. - Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak. Makanya sering kali orang tua menjadi khawatir. Dari penelitian Angulo A & Lindor KD (2001), 40% anak kegemukan yang diperiksa melalui skrining USG hati ternyata mengalami gangguan penyakit hati (NASH atau Non Alcoholic Steatohepatitis) yang dapat berlanjut jadi pengerutan jaringan hati, bahkan kanker hati. Penurunan berat badan diduga akan menormalkan kadar enzim hati dan juga ukuran hati. Untuk itu, sedari sekarang, sadarilah kelebihan berat badan pada anak bukanlah hal yang baik, biasakan mereka untuk makan makanan yang bergizi dan jauhi junk food. Karena junk food merupakan salah satu menyebab terjadinya obesitas. Biasakan juga anak-anak untuk bergerak dan beraktifitas dengan baik dan seimbang, dan kenali mereka dengan olah raga yang baik bagi kesehatan dan tumbuh kembangnya. Karena obesitas dapat mengancam masa depan anak anda, cepat atau lambat. (Odrine)

BACKGROUND INFORMATION

OBESITAS ANCAM MASA DEPAN ANAK-ANAK
Jika anak anda terlihat lucu dan gemuk dan sering dipuji kerena kegemukkannya anda perlu lah bangga tapi juga perlu waspada. Mungkin saja anak anda dapat dikategorikan sebagai anak obesitas. Buanglah paradigm anda bahwa lucu haruslah gemuk. Kegemukan akan berkaitan pada kesehatan anak anda.Mungkin tidak sekarang, tapi pasti tidak lama lagi gangguan kesehatan dapat menimpa anak anda yang dianggap “lucu” itu.Singkatnya, bobot anak yang gemuk akan mempengaruhi kesehatannya di masa yang akan datang. Obesitas sendiri merupakan keadaan yang tidak seimbang antara berat tubuh dengan tinggi tubuh dan usia. Dapat juga dikatakan sebagai keadaan kelebihan energy yang kemudian disimpan sebagai lemak di dalam jaringan tubuh. Diketahui, lebih dari 9 juta anak di dunia berusia enam tahun ke atas menderita obesitas. Hal tersebut atas riset Pediatric Academic Society (PAS). Obesitas terus mengalami peningkatan di kalangan anak-anak hingga angkanya terus melonjak tiga kali lipat pada usia 6-11 tahun. Di Indonesia sendiri hal ini telah menjadi masalah yang serius. Dari penelitian di empatbelas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relative tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang teru bertambah hingga sekarang. Obesitas primer atau obesitas yang disebabkan karena makanan yang berlebihan mencapai 90%. Sepuluh persennya adalah akibat penyakit atau gangguan hormonal atau gangguan yang diturunkan. Faktor genetik, menjadi salah satu penyebab obesitas. “Dari penelitian terbukti, jika kedua orang tua menderita kegemukan, sekitar 80% anaknya akan kegemukan. Bila hanya salah satu orang tua yang kegemukan, risikonya jadi 40%. Kalau keduanya tidak kegemukan, risikonya turun lagi tinggal 14%,” jelas Dr. Damayanti, yang juga seorang pakar gangguan metabolisme pada anak. Beberapa bahaya yang mengikuti si gemuk antara penyumbatan atau gangguan saluran pernapasan ketika tidur aka sering dialami si bongsor. Gejalanya mulai dari

mengompol sampai mengorok. Ia juga bisa mengalami gangguan saluran pernapasan, akibat adanya penebalan jaringan lemak di tenggorokan, yang seringkali diperberat oleh pembesaran jaringan amandel. Penyumbatan saluran napas di malam hari yang terus-menerus ini

menyebabkan si kecil tidur gelisah serta menurunkan asupan oksigen ke tubuhnya. Akibatnya, ia akan mengantuk dan tampak lelah besoknya. Kalau sudah begini, ia akan merasa tidak nyaman. Fakta lain mengenai obesitas dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak menyimpulkan, anak usia delapan tahun yang kegemukan atau obesitas, menunjukkan sejumlah tanda atau gejala terkait faktor risiko penyakit jantung saat mereka mencapai usia remaja (15 tahun). Risiko tersebut antara lain tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang buruk, peningkatan kadar gula darah dan insulin (hormon pengatur kadar gula darah). Jika kegemukan terus berlanjut sampai mereka besar, berbagai risiko yang mengancam makin dekat dengan kenyataan. Ahli obesitas dari Yale University, Kelly D. Brownell, Ph.D, berkomentar, “Anak Amerika zaman sekarang bisa diperkirakan akan jadi generasi pertama yang punya usia lebih pendek daripada generasi orang tuanya. Kemungkinan ini terlihat dari berbagai risiko penyakit yang lebih mudah hinggap pada anak-anak yang kegemukan.” Lalu bagaimana cara mengukur apakah anak anda dapat dikategorikan sebagai anak yang obesitas? Cara yang biasa dilakukan adalah dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) yakni dengan membuat suatu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan yang hasilnya berupa indeks. Kisaran normal IMT Asia-Pasifik 18,5-22,9 kg/m².Lebih dari itu masuk kelompok berisiko, dan bila IMT di atas 25 kg/m² disebut sebagai obesitas. Sayang IMT tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP) saja karena lebih praktis. Cara ini mudah, dengan menggunakan pita meteran (seperti yang digunakan oleh penjahit) diukur bagian-bagian tubuh untuk mengetahui banyaknya lemak tubuh. Sebagai patokan, pinggang berukuran ≥ 90 cm merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan untuk wanita risiko tersebut meningkat bila lingkar pinggang berukuran ≥ 80 cm. Lalu bagaimana cara menjaga agar tidak menjadi obesitas? Aturlah pola makan si kecil., Orangtua terutama para ibu perlu mengetahui kebutuhan kalori anaknya. Jangan sampai berlebihan karena tubuh manusia punya kemampuan mengubah kelebihan kalori menjadi lemak yang bisa menjadi biang kegemukan. Pilihan menu

makanan si kecil harus sehat dengan zat-zat gizi yang seimbang. Juga, jumlah makanannya harus pas. Tidak terlalu banyak, namun tidak juga terlalu sedikit porsinya. Aturan ini tidak hanya berlaku untuk si balita Anda, tetapi juga seluruh keluarga. Cara lain adalah meluangkan waktu untuk mengajak si kecil lebih banyak beraktivitas fisik. Dengan beraktivitas fisik, energi yang keluar diharapkan bisa seimbang dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi Anak yang sehat akan menjadi dambaan dan kebanggaan bagi setiap orang tua. Menjaga kesehatan anak menjadi tanggung jawab orang tua untuk tumbuh kembang anak yang lebih baik dan masa depan yang cerah bagi buah hati anda. (Frieska Oktaviani)

POSTER

BROSUR

Bagian luar

Bagian dalam

MOBIL SEHAT

Tampak Samping

Tampak Depan

Tampak Belakang

T-SHIRT

PIN

BLOG (http://www.pedulikesehatananak.blogspot.com)

FACEBOOK (healthcareforchildren@yahoo.com)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times