PENGARUH ARANG KOMPOS BIOAKTIF TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN BULIAN (Eusyderoxylon zwageri) DAN GAHARU (Aquilaria malaccensis) The

influence of bioactive charcoal compost to growth of bulian (Eusyderoxylon zwageri) and gaharu (Aquilaria malaccensis) seedlings Oleh/By : Gusmailina1) 1) Pusat Litbang Hasil Hutan, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor Telp./Fax.8633378/8633 413 ABSTRAK Arang kompos bioaktif (Arkoba) adalah gabungan arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan dengan bantuan mikroba lignoselulotik yang tetap hidu p di dalam kompos yang mempunyai kemampuan sebagai biofungisida untuk melindun gi tanaman dari serangan penyakit akar sehingga disebut bioaktif. Keunggulan la in dari Arkoba adalah karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos, yang bi la diberikan pada tanah ikut andil dan berperan sebagai agent pembangun kesubura n tanah, sebab arang mampu meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki sirkula si air dan udara di dalam tanah. Tulisan ini menyajikan salah satu hasil pengembangan pembuatan arkoba di desa Se ngeti, Kabupaten Muaro Jambi, propinsi Jambi dalam rangka sosialisasi pemanfaata n limbah serbuk gergaji dari industri perkayuan. Arkoba yang dihasilkan selanjut nya diuji cobakan sebagai campuran media pertumbuhan anakan bulian (Eusyderoxy lon zwageri) dan anakan gaharu (Aquilaria malaccensis). Ke dua tanaman ini merup akan jenis andalan setempat yang sedang dikembangkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan arkoba serbuk gergaji (ASG) dan arkoba serb uk gergaji yang dalam proses pengomposannya dicampur dengan jerami padi (ASGJ). Penelitian dilakukan selama 4 bulan di kebun bibit Dinas Kehutanan Propinsi Jam bi, Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan pertumbuhan anakan bulian (E.zwageri) dan gaharu (A.malaccensis) lebih baik pada media ASG dan ASG J dari media kompos dan kontrol. Kata kunci : arkoba, media, anakan, bulian, gaharu, pengaruh ABSTRACT Bioactive charcoal compost (Arkoba) is aliance charcoal and compost through comp osting process constructively lignoselulotik microbes which linger in compost, h aving ability as biofungisides to protect root crop from disease attack so that is referred as bioactive. Another excellence differ from Arkoba is caused existe nce of charcoal which is one in compost, which when passed to the land area is a soil conditioner agent constructed fertility, because charcoal can improve the pH at the same time improve land to repair irrigate and air sirculation. This article present one of the result of arkoba development making in Sengeti c ountryside, Sub-Province Muaro Jambi, Jambi province in order to sawdust waste e xploiting socialization from wood industry. Arkoba is hereinafter tested as medi a mixture growth of bulian seedings (Eusyderoxylon zwageri) and gaharu/sandalwoo d seedlings (Aquilaria malaccensis). Seconds of this crop represent local pledge type which is developing. Target of the research is to know influence addition of sawdust arkoba (ASG) and ASGJ. The research conducted by during 4 months at s eeds garden On Duty Forestry Province Jambi, Jambi. The results indicate that as a whole growth of bulian and gaharu seedlin gs ASG and ASGJ media better than compost and control media.

Key words: arkoba, media, seedlings, bulian, gaharu, influence, LEMBAR ABSTRAK

Tulisan ini menyajikan salah satu hasil pengembangan pembuatan arkoba di desa Se ngeti, Kabupaten Muaro Jambi, propinsi Jambi dalam rangka sosialisasi pemanfaata n limbah serbuk gergaji dari industri perkayuan. Arkoba yang dihasilkan selanjut nya diuji cobakan sebagai campuran media pertumbuhan anakan bulian (Eusyderoxy lon zwageri) dan anakan gaharu (Aquilaria malaccensis). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan arkoba serbuk gergaji (ASG) dan arkoba ser buk gergaji yang dalam proses pengomposannya dicampur dengan jerami padi (ASGJ). Penelitian dilakukan selama 4 bulan di kebun bibit Dinas Kehutanan Propinsi Ja mbi, Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan pertumbuhan anakan bulian (E.zwageri) dan gaharu (A.malaccensis) lebih baik pada media ASG dan ASG J dari media kompos dan kontrol. ABSTRACT SHEET

This article present one of the result of arkoba development making in Sengeti c ountryside, Sub-Province Muaro Jambi, Jambi province in order to sawdust waste e xploiting socialization from wood industry. Arkoba is hereinafter tested as medi a mixture growth of bulian seedings (Eusyderoxylon zwageri) and gaharu/sandalwoo d seedlings (Aquilaria malaccensis). Seconds of this crop represent local pledge type which is developing. Target of the research is to know influence addition of sawdust arkoba (ASG) and ASGJ. The research conducted by during 4 months at s eeds garden On Duty Forestry Province Jambi, Jambi. The results indicate that as a whole growth of bulian and gaharu seedlin gs ASG and ASGJ media better than compost and control media.

I. PENDAHULUAN

Arang kompos bioaktif (Arkoba) adalah gabungan arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan dengan bantuan mikroba lignoselulotik yang tetap hidu p di dalam kompos, mempunyai kemampuan sebagai biofungisida untuk melindungi t anaman dari serangan penyakit akar sehingga disebut bioaktif. Keunggulan lain d ari Arkoba adalah karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos, yang bila d iberikan pada tanah ikut andil dan berperan sebagai agent pembangun kesuburan ta nah, sebab arang mampu meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki sirkulasi a ir dan udara di dalam tanah. Pada mulanya Arkoba dibuat dalam rangka optimalisasi dan pemanfaatan limbah di s ektor kehutanan yang menjadi sumber polutan terutama serbuk gergaji pada berbag ai industri perkayuan. Akan tetapi sesuai dengan kondisi, pengembangan arkoba j uga ditujukan untuk pemanfaatan limbah-limbah organik lainnya, baik yang berasal dari sampah rumah tangga, pertanian, perkebunan atau sampah kota. Tulisan ini menyajikan salah satu hasil pengembangan pembuatan arkoba di desa Se ngeti, Kabupaten Muaro Jambi, propinsi Jambi dalam rangka sosialisasi pemanfaata n limbah serbuk gergaji dari industri perkayuan. Arkoba yang dihasilkan selanjut nya diuji cobakan sebagai campuran media pertumbuhan anakan bulian (Eusyderoxy lon zwageri) dan anakan gaharu (Aquilaria malaccensis). Ke dua tanaman ini merup akan jenis andalan setempat yang sedang dikembangkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan arkoba serbuk gergaji (ASG) dan arkoba serb uk gergaji yang dalam proses pengomposannya dicampur dengan jerami padi (ASGJ). Penelitian dilakukan selama 4 bulan di kebun bibit Dinas Kehutanan Propinsi Jam bi, Jambi. Gambar 1. Sosialisasi pembuatan arang kompos bioaktif di Sengeti, Kabupaten Mua ro Jambi, propinsi Jambi. Figure 1. Sosialization of bioactive charcoal compost making at Muaro Jambi dis trct, Jambi province

II. BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan yaitu kompos (K) yang biasa digunakan di kebun bibit setemp at. Arkoba serbuk gergaji (ASG) dan arkoba serbuk gergaji yang yang dalam proses pembuatannya dicampur dengan jerami padi (ASGJ). Bibit bulian (E. zwageri) dan bibit gaharu (A. malaccensis) serta tanah top soil. Peralatan yang digunakan an tara lain : polybag (kantong plastik media tumbuh), alat pengukur tinggi dan dia meter batang selang plastik untuk menyiram dan lain-lain.

B.

Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan selama 4 bulan di kebun bibit Dinas Kehutanan Propins i Jambi, di Jambi. C. Prosedur Kerja 1. Rancangan percobaan Beberapa perlakuan penambahan kompos (K) dan arang kompos serbuk gergaji (ASG da n ASGJ) yang dicoba sebagai campuran media antara lain : Bo = 0% (kontrol / top soil 100 % ) B1 = K 15 % / polybag B2 = K 30% / polybag B3 = K 50% / polybag B4 = ASG 15% / polybag

B5 B6 B7 B8 B9

= = = = =

ASG 30% / polybag ASG 50% / polybag ASGJ 15% / polybag ASGJ 30% / polybag ASGJ 50% / polybag

Pola penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap dalam faktorial de ngan 2 faktor yaitu faktor A terdiri dari 2 macam yaitu jenis bibit A1 = bulian (E. zwageri) dan A2 = gaharu (A. malaccensis). Faktor B adalah perlakuan media y ang terdiri dari 9 macam yaitu Bo sampai B9. Tiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali dengan kondisi anakan seragam. 2. Pembuatan media Tanah (top soil) dicampur dengan kompos / arkoba sampai merata. Dosis kompos dan arkoba disesuaikan dengan perlakuan. Setelah tercampur rata, dimasukkan ke dala m kantong plastik (polybag), kemudian ditanami dengan anakan bulian dan gaharu, lalu disiram dengan air sampai terserap oleh media. Polybag yang telah berisi media dan ditanami, diletakkan di atas bedengan pesemaian. Setiap hari dilakukan penyiraman secukupnya selama 4 bulan penelitian. D. Analisis Data Respon pertumbuhan yang diamati yaitu persentase tumbuh, pertambahan tinggi, dan diameter batang. Hasil pengamatan berbagai peubah diolah dengan analisis ragam (Uji F). Jika terdapat perbedaan nyata dilakukan uji lanjutan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan pada taraf 5%. Selanjutnya untuk mengetahui adanya perbedaan pe ngaruh antar perlakuan, dilakukan uji beda nyata dengan cara Tukey (Steel dan Torrie, 1991). III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis kandungan unsur hara kompos (K), ASG dan ASGJ Media percobaan yang digunakan sebagai campuran media dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas hara dari masing-masing. Hasil analis is kandungan unsur hara kompos (K), ASG dan ASGJ yang digunakan sebagai campuran media tumbuh anakan bulian (Eusyderoxylon zwageri) dan anakan gaharu (Aquilaria malaccensis) dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan unsur hara kompos (K), Arkoba serbuk gergaji, dan arkoba serb uk gergaji + jerami padi sebagai campuran media tumbuh anakan bulian (E. Zwageri ) dan gaharu (A. Malaccensis) Table 1. Nutrient content of compost, sawdust bioactive charcoal compost, sawdu st+rice straw bioactive charcoal compost as growth media of bulian (E.zwageri) and gaharu (A. malaccensis) seedling No. Parameter (Parameter) Nilai (value)

Standar (Standard) Kompos (Compost) Arkoba serbuk gergaji (sawdust bioactive charcoal compost ) Arkoba serbuk gergaji + jerami padi (sawdust +rice straw bioactive charcoal compost) 1 pH (1 : 1,25) 7,10 7,30 7,20 7,30 2 Kadar air (Moisture content) 1050C, % 19,63 23,03 24,13 24,90* 3 4 5 6 C organik (C organic) , % Nitrogen total (Total N), % Nisbah C/N (C/N ratio) 19,1 P2O5 total, % 0,23 2,12 11,46 0,6 21,20 2,16 32,45 1,53 19,65 1,80* 34,98 19,60* 1,78 1,10* 10-20*

7 8 9 10 30,00* Sumber

CaO MgO K2O KTK

total, % 0,43 0,97 total, % 0,37 1,67 total, % 0,51 2,19 (Cation exchange capacity),

0,83 1,61 2,34 meq/100

2,70* 1,60* 1,40* gr

36,42

36,61

: *) Anonim, 2000

Pada Tabel 1 diketahui bahwa secara umum kualitas arkoba ASGJ sedikit lebih baik dari arkoba ASG dan kompos. Hal ini terlihat dari kandungan hara makro nitroge n, posfor, kalium, serta nilai kadar tukar kation (KTK). Bahkan nilai KTK ini lebih tinggi dari standar kompos menurut Anonim (2000). Hal ini mungkin diseba bkan karena dalam proses komposting bahan serbuk gergaji dicampur dengan jerami padi, sehingga kualitas yang diperoleh relatif lebih baik, proses kompostingnya juga lebih cepat. Hal ini dapat dilihat dari nisbah C/N yang diperoleh, dimana nilai C/N dari ASG sedikit lebih tinggi (21,20) dari ASGJ (19,65). Namun secar a keseluruhan kualitas ASGJ maupun ASG sudah memenuhi standar kriteria kompos ya ng baik (Anonim, 2000). B. Persentase tumbuh anakan Persentase tumbuh anakan dihitung selama 4 bulan pengamatan. Hasil peng amatan persentase tumbuh anakan tanpa perlakuan (Bo), adalah 87% untuk anakan bu lian, dan 81% untuk anakan gaharu. Sedangkan persentase tumbuh anakan pada perl akuan kompos (K) adalah 93% pada anakan bulian, dan 92% untuk anakan gaharu. Pe rentase tumbuh anakan pada perlakuan ASG dan ASGJ menunjukkan persentase tumbuh yang sama yaitu 100% hidup. Rata-rata persentase tumbuh anakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rataan persentase tumbuh anakan pengaruh arang kompos bioaktif sebagai campuran media tumbuh anakan bulian dan gaharu Table1. Means of growth percentage of bulian (E.zwageri) and gaharu (A. malacce nsis) of bioactive charcoal compost media influence

Jenis (Species) Persentase tumbuh (growth percentage) /Perlakuan (treatment), % B0 Kontrol (Control) K Kompos (Compost) ASG Arkoba serbuk gergaji (Sawdust bioactive charcoal compost) ASGJ Arkoba serbuk gergaji+jerami padi (Sawdust+rice straw bioactive charcoal compost ) Bulian (E. zwageri) 87 93 100 100 Gaharu (A. malaccensis) 81 89 100 100 Pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa persentase tumbuh anakan yang ditanam pada media yang dicampur dengan arkoba, baik arkoba serbuk gergaji (ASG) maupun arkoba serbuk gergaji yang dicampur dengan jerami padi (ASGJ) memberikan pertum buhan anakan yang baik, dengan persentase tumbuh mencapai 100%. Artinya selama pengamatan tidak ada anakan yang mati. Sedangkan anakan yang ditanam pada media kompos rata-rata persentase tumbuh anakan selama pengamatan hanya mencapai 91% . Sementara rata-rata persentase anakan yang tumbuh pada media tanah saja (tan pa perlakuan) hanya mencapai 84%. Dengan demikian selama 4 bulan pengamatan ark oba memberikan respon yang sangat baik terhadap pertumbuhan anakan bulian maupun gaharu. Hal ini disebabkan karena kualitas arkoba lebih baik dari kompos biasa yang dihasilkan secara konvensional. Juga disebabkan karena keberadaan arang y ang menyatu dengan kompos, sehingga dengan cepat dapat memperbaiki kondisi lingk

ungan perakaran sekaligus dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tana h yang membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (Gusmailina, 2007 dan 2009 ). Selain itu dengan keberadaan arang yang menyatu dalam arkoba, menjadikan med ia lebih porous sehingga sirkulasi air dan udara di dalam media lebih baik. Kon disi inilah yang memungkinkan sehingga persentase anakan yang tumbuh pada media arkoba 100%.

Gambar 1. Pengamatan pertumbuhan anakan bulian (E. Zwageri) dan gaharu (A. Mala ccensis) di kebun bibit Dinas Kehutanan Propinsi Jambi, Jambi Figure 1. Growth perception of bulian (E.zwageri) and gaharu (A.malaccensis) se edlings on garden seedlings at Jambi Forestry Province, Jambi. C. Pertambahan tinggi anakan Pertambahan tinggi anakan dihitung berdasarkan selisih antara tinggi anakan akhir pengamatan dengan tinggi anakan awal tanam. Penambahan arkoba baik ASG m aupun ASGJ pada media tanam anakan bulian dan gaharu ternyata dapat meningkatkan laju pertambahan tinggi tanaman. Hasil penelitian dapat diketahui pada Tabel 2. Tabel 2. Rataan pertambahan tinggi anakan bulian dan gaharu selama 4 bulan Table 2. Means of bulian (E.zwageri) and gaharu (A. malaccensis) growth height d uring 4 month Perlakuan (treatment) Pertambahan tinggi (heigth growth), cm Bulian (E.zwageri) Gaharu (A. malaccensis) B0 (Kontrol/Control) 11,13 h 10,26 g B1 Kompos (Compost) 15% 19,27 g 21,27 f B2 Kompos (Compost) 30% 19,85 g 20,61 f B3 Kompos (Compost) 50% 22,12 g 22,62 f B4 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)15% 30,22 e 23,87 f B5 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)30% 37,81 d 25,71 e B6 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)50% 37,96 d 26,79 d B7 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)15% 40,19 c 37,19 c B8 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)30% 44,61 b 39,45 b B9 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)50% 46,73 a 40,52 a Pada Tabel 2, dapat diketahui bahwa perlakuan Bo, tanpa perlakuan (top soil 100% ) sebagai kontrol menunjukkan pertambuhan tinggi anakan paling rendah diantara p erlakuan lain yaitu sebesar 11,13 cm untuk anakan bulian (E.zwageri) dan 10,26 c m untuk anakan gaharu (A.malaccensis). Pertambahan tinggi anakan yang paling t inggi dijumpai pada perlakuan B9 sebesar 46,73 cm pada anakan bulian dan 40,52 c m pada anakan gaharu. Pada media ASG 50%.

Gambar 2. Pengaruh pemberian arkoba terhadap pertambahan tinggi anakan bulian (E.zwageri) dan gaharu (A.malaccensis) selama 4 bulan. Figure 2. The influence of bioactive charcoal compost addition on height growth of bulian (E.zwageri) and gaharu (A.malaccensis) seedlings until 4 month Penambahan arkoba pada media tumbuh dapat merangsang pertumbuhan tanaman, karena

arkoba mengandung unsur hara makro yang lengkap dan berguna bagi tanaman (Koma rayati, et al. 2003). Pada Gambar 2 dapat dilihat dengan jelas bahwa pertambaha n tinggi ke dua jenis anakan yang tumbuh pada media arkoba (B4-B9) jauh lebih ba ik dibanding kontrol (Bo) dan kompos biasa (B1-B3). Perlakuan B9 merupakan perl akuan terbaik dari semua perlakuan bagi pertumbuhan tinggi anakan bulian dan gah aru. Namun untuk penerapan aplikasi selanjutnya, perlakuan B8 lebih optimal diba nding B9, karena nilai pertambahan hanya berbeda sedikit, sehingga lebih ekonomi s dalam pemakaian arkobanya. Perbedaan respon yang ditunjukkan oleh tanaman juga dapat disebabkan oleh adanya perbedaan kandungan hara dari masing-masing campuran media, sehingga akan berak ibat pada perbedaan intensitas perbaikan kesuburan tanah. Seperti pada perlakuan B4-B6 dengan perlakuan B7-B9, pada gambar terlihat perbedaan yang cukup signifi kan walaupun medianya sama-sama ditambah arkoba, tetapi B4-B6 hanya arkoba serbu k gergaji, sedangkan B7-B9 merupakan campuran arkoba serbuk gergaji dan jerami p adi, sehingga menimbulkan perbedaan kandungan unsur hara yang berakibat juga pad a perbedaan respon dari tanaman. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa media memberikan perbedaan ny ata terhadap pertambahan tinggi ke dua jenis anakan. Pada Gambar 2 juga terlihat bahwa pertambahan tinggi ke dua jenis anakan pada perlakuan B5 dan B6 mencapai 3 kali lipat dibanding kontrol dalam waktu 4 bulan. Hal yang sama juga dijumpai pada perlakuan B8 dan B9 pertambahan tinggi ke dua jenis anakan bahkan mencapai 4 kali lipat dibanding kontrol dalam waktu 4 bulan. Pada Tabel 3 dapat diketahu i bahwa kombinasi perlakuan media, berpengaruh nyata terhadap pertambahan tingg i anakan bulian (E zwageri) dan gaharu (A. malaccensis). C. Pertambahan diameter anakan Pertambahan diameter anakan dihitung berdasarkan hasil pengurangan diame ter akhir pengamatan dengan diameter awal tanam bibit. Penambahan arkoba baik A SG maupun ASGJ pada media tanam anakan bulian dan gaharu ternyata dapat meningka tkan laju pertambahan diameter tanaman. Hasil penelitian dapat diketahui pada Ta bel 4. Tabel 4. Rataan pertambahan diameter batang anakan bulian dan gaharu selama 4 bulan Table 4. Means of bulian (E.zwageri) and gaharu (A. malaccensis) growth diameter seedlings during 4 month Perlakuan (treatment) Pertambahan diameter (diameter growth), cm Bulian (E.zwageri) Gaharu (A. malaccensis) B0 (Kontrol/Control) 0,26 f 0,24 e B1 Kompos (Compost) 15% 0,30 ef 0,29 de B2 Kompos (Compost) 30% 0,32 e 0,30 d B3 Kompos (Compost) 50% 0,33 e 0,34 d B4 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)15% 0,58 d 0,61 c B5 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)30% 0,69 c 0,69 b B6 ASG (Sawdust bioactive charcoal compost)50% 0,70 c 0,71 b B7 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)15% 0,91 b B8 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)30% 0,98 a B9 ASGJ (Sawdust + rice straw bioactive charcoal compost)50% 1,01 a Keterangan (Remarks) : Angka yang diikuti huruf sama pada g sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 5% (Numbers followed by the ers in the same column are not significantly different by Duncan Test)

0,93 0,94 1,05 kolom

ab a a yan

same lett

Pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa perlakuan media yang diberi arkoba (ASG dan A SGJ) menunjukkan pertambahan diameter batang anakan yang lebih baik jika dibandi

ngkan dengan media yang dicampur dengan kompos (K) dan kontrol. Sama halnya den gan pertambahan tinggi anakan, penambahan arkoba baik ASG maupun ASGJ pada media tanam anakan bulian dan gaharu juga dapat meningkatkan laju pertambahan diamete r batang tanaman. Hal ini juga disebabkan bahwa media yang dicampur dengan arko ba diketahui mengandung unsur hara makro lebih tinggi, nisbah C/N yang sesuai se rta nilai KTK yang relatif tinggi, sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menj adi lebih baik dibandingkan dengan perlakuan media lainnya. Perlakuan ASGJ rel atif lebih baik dibanding dengan perlakuan ASG. Hal ini juga berdasarkan kandun gan unsur hara yang terkandung, dimana kandungan hara ASGJ sedikit lebih baik di banding ASG. Hal ini mungkin disebabkan karena dalam proses pembuatannya serbuk gergaji dicampur dengan jerami padi. Gambar 3. Pengaruh pemberian arkoba terhadap pertambahan diameter batang ana kan bulian (E.zwageri) dan gaharu (A.malaccensis) selama 4 bulan. Figure3. The influence of bioactive charcoal compost addition on diameter grow th of bulian (E.zwageri) and gaharu (A.malaccensis) seedlings until 4 month Pada Gambar 3 dapat dilihat dengan jelas bahwa pertambahan diameter batang ke du a jenis anakan yang tumbuh pada media arkoba (B4-B9) jauh lebih baik dibanding k ontrol (Bo) dan kompos biasa (B1-B3). Perlakuan B7-B9 merupakan perlakuan terba ik dari semua perlakuan bagi pertumbuhan tinggi anakan bulian dan gaharu. Sama h alnya dengan pertambahan tinggi, untuk penerapan aplikasi selanjutnya, perlakuan B8 lebih optimal dibanding B9, karena nilai pertambahan hanya berbeda sedikit, sehingga lebih ekonomis dalam pemakaian arkobanya. Perbedaan respon yang ditunj ukkan oleh tanaman juga disebabkan karena adanya perbedaan kandungan hara dari m asing-masing campuran media, sehingga akan berakibat pada perbedaan perbaikan ke suburan tanah. Berdasarkan analisis kandungan unsur hara, perlakuan B7-B9 adala h media yang dicampur dengan ASGJ, dimana kandungan unsur haranya relatif lebih tinggi dibanding dengan perlakuan B4-B6 yang menggunakan ASG sebagai campuran me dia. Hal inilah yang menyebabkan pertambahan diameter batang anakan pada media A SGJ lebih baik dari diameter batang anakan pada media ASG dan kompos. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor media (B) memberikan perbedaan nyata terhadap pertambahan diameter batang ke dua jenis anakan. Dari Tabel 5 da pat diketahui bahwa kombinasi perlakuan media, berpengaruh nyata terhadap perta mbahan diameter batang anakan bulian (E zwageri) dan gaharu (A. malaccensis). Diketahui bahwa keberadaan arang dalam arkoba memberikan pengaruh yang nyata ter hadap pertambahan tinggi maupun batang anakan. Hal ini disebabkan karena arang mempunyai beberapa kelebihan antara lain: mempunyai pori-pori yang dapat menyera p dan menyimpan air serta unsur hara. Keunggulan arkoba lainnya adalah karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos, yang bila diberikan pada tanah ikut andil dan berperan sebagai agent pembangun kesuburan tanah, sebab arang mampu m eningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tan ah (Gusmailina, 2006). Adanya campuran arkoba pada media tumbuh, dapat meningkatkan panjang akar dan bu lu-bulu akar karena media akan lebih gembur dan subur, sehingga pertumbuhan tana man akan lebih baik dan sempurna. Hal ini menyebabkan ketahanan hidup tanaman l ebih lama (Komarayati, 2004). Menurut Komarayati et al 2001, arang kompos bila dicampurkan pada tanah akan memperbaiki sistim perakaran, baik secara fisik, kim ia dan biologi karena dapat menambah ketersediaan unsur hara tanah, meningkatkan pH dan nilai KTK tanah. Arkoba mempunyai sifat yang lebih baik dari kompos bia sa karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos. Morfologi arang yang memp unyai pori sangat efektif untuk mengikat dan menyimpan hara. Hara tersebut dile paskan secara perlahan sesuai dengan konsumsi dan kebutuhan tanaman (efek slow r elease). Karena itu hara tersebut tidak mudah tercuci, sehingga lahan akan sela lu berada dalam kondisi siap pakai. Pernyataan ini didukung beberapa hasil pen elitian yang telah dilakukan oleh Gusmailina et al 2000 ; Gusmailina et al 2002 ; Gusmailina et al 2000 ; Komarayati et al 2003 ; Komarayati et al 2004 dan Koma rayati, 2004).

III. KESIMPULAN 1. Secara keseluruhan pertumbuhan anakan bulian dan gaharu pada media arkob a lebih baik dari pada kompos yang biasa digunakan di kebun bibit. 2. Persentase tumbuh anakan bulian (E. Zwageri) dan gaharu (A. malaccensis) 100% pada media arkoba serbuk gergaji (ASG) dan arkoba serbuk gergaji + jerami padi (ASGJ), sedangkan pada media kompos 89% jenis gaharu, dan 93% jenis bulian. Sementara kontrol hanya 81-87% anakan yang tumbuh. 3. Komposisi terbaik dan paling effisien adalah 50 % arang kompos serbuk ge rgaji. 4. Penelitian dan uji coba lanjutan aplikasi arang kompos serbuk gergaji pa da anakan jati di lapangan sangat dianjurkan, agar keunggulan arang kompos bena r-benar dapat dilihat oleh masyarakat luas, praktisi lapangan, pejabat yang berw enang serta dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lain. Anonim. 2000. Pedoman pengharkatan hara kompos. Laboratorium Natural Products, S EAMEO â BIOTROP. Bogor. Gusmailina ; G. Pari dan S. Komarayati. 2000. Teknik penggunaan arang sebagai â So il Conditioningâ pada tanaman. Laporan Proyek Pusat Penelitian Hasil Hutan. Badan Litbang Kehutanan. Bogor (Tidak diterbitkan). Gusmailina ; S. Komarayati ; G. Pari dan D. Hendra. 2000. Arang serbuk gergaji m emperbaiki kesuburan tanah. Prosiding Seminar Nasional dan Pameran Pertanian Org anik. Jakarta. Gusmailina, S. Komarayati, G. Pari dan M. Ali. 2005. Mengenal manfaat arang dan arang kompos. Diskusi Intern BP2HT IBB. 17 Pebruari 2005. Palembang. Gusmailina ; G. Pari dan S. Komarayati. 2002. Kajian Teknis dan Implementasi Pro duksi POSG (Pupuk Organik Serbuk Gergaji). Laporan Kerjasama antara P3THH Bogor, JIFPRO Jepang, Dinas Kehutanan Propinsi Tk I Jambi dan Koperasi Sawmill Siginja i, Sengeti â Muaro Jambi, Jambi. Gusmailina., Saepulloh. ; Mahpudin. ; S. Komarayati. 2006. Aplikasi dan disemi nasi arang kompos bio aktif; Teknologi inovatif untuk mendukung gerhan dan pemb angunan kehutanan yang berkesinambungan. Materi pada acara Gelar Teknologi 13 D esember 2006 di Cianjur. Cianjur Gusmailina. 2007. Mengeliminasi Kemungkinan Kegagalan GERHAN Melalui teknologi dan Aplikasi Arang Kompos Bioaktif. Buku panduan dalam ra ngka Pelatihan peningkatan Kualitas arang Kompos Bioaktif di Kabupaten Ga rut. Kerjasama Dinas kehutanan Kabupaten Garut dengan KopKar GEPAK Wira Satria Sejati. Desember 2007. Garut. Gusmailina. 2007. Pembuatan arang dan arang kompos dari limbah PLTB. Makalah pada Acara Gelar Teknologi PLTB (Penyiapan Lahan Tanpa Bakar). Kerjasa ma. Puslitbang Hutan Tanaman dan Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Nopem ber 2007 Gusmailina. 2009. Arang kompos bioaktif; inovasi teknologi pemanfaatan limbah dalam rangka menunjang pembangunan kehutanan yang berkesinambungan. Gelar Tekno logi. Pada tanggal 4 Mei 2009 di Muara Enim, Palembang. Komarayati, S. ; Gusmailina dan G. Pari. 2001. Pemanfaatan limbah kulit kayu dan

serasah tusam untuk kompos dan arang kompos. Laporan Hasil Penelitian. Proyek D IK-S. Sumber Dana Reboisasi. Tahun Anggaran 2001. Komarayati, S. ; Gusmailina dan G. Pari. 2002. Pembuatan kompos dan arang kom-po s dari serasah dan kulit kayu tusam. Buletin Penelitian Hasil Hutan. 20 (3) : 23 1 â 242. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Komarayati, S. ; Gusmailina dan G. Pari. 2003. Aplikasi arang kompos pada anakan tusam (Pinus merkusii). Buletin Penelitian Hasil Hutan. 21 (1) : 15 â 21. Pusat L itbang Teknologi Hasil Hutan. Bogor. Komarayati, S. 2004. Penggunaan arang kompos pada media tumbuh anakan mahoni. Ju rnal Penelitian Hasil Hutan. 22 (4) : 193 â 203. Pusat Litbang Teknologi Hasil Hut an. Bogor. Komarayati, S ; Gusmailina dan G.Pari. 2004. Application of compost charcoal on two species of forestry plants. Voluntary paper. Proceeding of The International Workshop on â Better Utilization of Forest Biomass for Local Community and Enviro nmentâ . 16 -17 Maret 2004 di Bogor. Steel, R.G.D. dan Torrie, J.H. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika (Terjemahan ) PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful