Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MENTAWAI, BANGUNLAH JIWANYA BANGUNLAH BADANNYA
Rasanya tidak satupun rakyat Indonesia yang tidak kenal bait Indonesia Raya yang dinukilkan WR Supratman tersebut. Membangun dalam keseimbangan. Membangun jiwa dan raga. Tidaklah mungkin bait ini dilupakan, termasuk dalam membangun Mentawai. Pulau-pulau indah di barat Sumatera, yang sekarang kembali jadi perhatian kita, bahkan dunia. Reporter FAJAR, Rasmi Soeki, Ir. Eki Hari Purnama, Akmal Thulas, Maifil Eka Putra, Yeyen Kiram, mengangkatnya untuk pembaca. Seminar Nasional Pulau-pulau Kecil, Terpencil dan Strategis yang digelar UNAND di Novotel Bukittinggi, diliput oleh Eki. Eka mengungkap refleksi sosio-historis interaksi Mentawai dan Tanah Tepi. Pendekatan sosio-kultural puncak-puncak kebudayaan Mentawai digali Akmal. Sementara Yeyen memotret kiprah nyata LSM memberdayakan potensi SDM/SDA Mentawai. Rasmi Soeki menyajikan keindahan Mentawai dari view-finder kameranya. Liputan ini diperkaya dengan kajian pustaka dan disunting untuk disajikan pada ANDA oleh Effendi Koesnar, Irsyad dan Ipul.

Wawancara H Mas'oed Abidin

Ada Allah dalam Ikere
Mentawai belakangan ini cukup menarik bagi orang-orang dalam dan luar negeri. Banyak pelancong ke pulau-pulau tepi barat Sumatera tersebut. Untuk mengenal Mentawai lebih jauh berikut petikan wawancara reporter FAJAR, Akmal Thulas bersama H Mas'oed Abidin yang lebih 25 tahun berkonsentrasi dalam pengembangan dakwah Islam di sana. Bagaimana Ustadz melihat Arat Sabulungan ?

Nuansa Kehidupan Islami

1

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Arat Sabulungan itu adalah adat istiadat daerah Mentawai. Itu bukan agama. Apa kepercayaan di sana sebelumnya ? Masyarakat di sana sudah mengenal Kekuatan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam. Di dalam doa mereka, yang dikenal dengan ikere, ada di sebut nama Allah. Alasan Ustadz ? Di dalam buku Stefanose Coronese, Kebudayaan Suku Mentawai, pada halaman 31 disebutkan bahwa orang Mentawai telah melakukan hubungan dengan orang Tiku tahun 1621. Masa itu Tiku berada di bawah kerajaan Aceh yang telah memeluk agama Islam. Bagaimanakah inti sari kebudayaan mereka ? Orang Mentawai mempunyai puncak kebudayaan, berisi 10 ajaran yang sangat dekat dengan Islam. Pertama adalah orang Mentawai percaya kepada Kekuasaan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini dikenal dengan Teikamanua. Mereka telah mengenal Maha Esa. Kedua, Adil. Orang Mentawai kalau membagi sesuatu harus sama banyak. Tidak berat sebelah. Ketiga, Kebersamaan. Orang Mentawai lebih mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Keempat, Tidak boleh berzina. Perkawinan bagi mereka merupakan hal yang sakral. Kalau ada yang melanggar dihukum oleh adat. Dahulu hukumannya ada yang dibunuh. Kelima, tidak boleh masuk rumah kalau di dalamnya hanya ada perempuan saja. Keenam, Kalau berjalan bersama-sama maka laki-laki harus di depan. Ketujuh, orang Mentawai jujur dan lugu. Kalau kita menjanjikan

Nuansa Kehidupan Islami

2

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

akan memberikan rokok Gudang Garam kepada penduduk, ternyata kita memberikan mereka hanya rokok Dji-sam-soe. Rokok Dji-sam-soe tetap mereka terima tetapi rokok Gudang Garam tetap mereka tanyakan dan minta. Kedelapan, berat sepikul ringan sejinjing. Semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong. Kesembilan, tidak mau mengambil hak orang lain. dan kesepuluh menghormati tamu. Bagaimana dengan kenyataan sekarang ? Sosial budaya Mentawai akhir-akhir ini sudah banyak berubah sejak masuknya pendatang dalam dan luar negeri. Sejak kapan program DDII di sana ? Program Mentawai merupakan salah satu program yang dicanangkan Mohammad Natsir ketika pulang ke Sumatera Barat 1968, atas undangan gubernur untuk menghimbau orang Sumatera Barat membangun kampung halaman. 1970, DDII telah mengirimkan para da'i ke Mentawai. Mereka yang telah lama mengabdi di sana seperti Abdul Hadi, Aruni, Usmar Marlen, dan Najib Adnan. Apa saja yang dilakukan DDII di sana ? DDII di sana mengajak orang Mentawai yang tak beragama menjadi beragama Islam. Di samping itu kami membuat paket-paket program peningkatan sumber daya manusia. Seperti pembangunan lembaga-lembaga pendidikan; mengadakan penyuluhan-penyuluhan keagamaan, masalah-masalah kehidupan; peternakan dan pertanian. Kami bergerak atas swadana masyarakat Sumbar. Tidak ada dana luarnegeri yang menggaji da'i di Sana. Alhamdulillah orang Mentawai banyak memeluk agama Islam dengan kesadaran sendiri.

Nuansa Kehidupan Islami

3

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

DARI SEMINAR NASIONAL PULAU KECIL

Kita Berdosa Membiarkan Tertinggal
"Kita sangat berdosa jika membiarkan mereka hidup tertinggal sangat jauh dari saudara-saudaranya yang ada di Sumatera Barat sendiri maupun di daerah lain di Indonesia," kata Siswono Yudohusodo, Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (PPH), ketika memberi pengarahan pada seminar nasional 'Pulau-Pulau Kecil, Terpencil, dan Strategis di Bukittinggi, Maret 1997. Seminar yang berlangsung di Kota Wisata itu, selain menekankan pembahasan terhadap Pulau Siberut, Mentawai, juga memperbincangkan nasib gugus pulau-pulau kecil lainnya di Nusantara. Selain Siswono, turut memberikan pengarahan dalam forum ini Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman. Pembukaan acara ini juga dihadiri Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin, Rektor Universitas Andalas Prof.Fachri Ahmad dan Ketua Panpel Prof.Marlis Rahman, Sekilas tentu muncul pertanyaan kenapa Mentrans dan PPH mengutip kata dosa, ketika berbicara tentang nasib Kepulauan Mentawai. Kata yang berdimensi religius setidaknya menyiratkan betapa gugus kepulauan di pesisir Barat Pulau Sumatera perlu perhatian. Jelas perhatian yang dimaksud bukan sekadar di sana terdapat spesies binatang langka. Seperti Siamang Kerdil (Hylobtaes telossi), Lutung Mentawai (Presbytis potenziani) ataupun Beruk Mentawai (Macaca pagensis). Atau karena kayu-kayu di hutannya bisa disulap menjadi fulus yang jumlahnya jutaan dollar. Bukan pula karena Mentawai terdapat plasma nutfah yang patut dilestarikan. Lebih daripada itu, kata Mentrans dan PPH, pelaksanaan program pembangunan seperti transmigrasi di Mentawai bertujuan meningkatkan harkat dan martabat hidup masyarakat yang harus diletakkan di atas segala-galanya. Artinya, secara normatif meletakkan Kepulauan Mentawai pada tataran pinggiran berarti akan menuai dosa Dan, isu pembangunan yang dikaitkan dengan upaya pemberdayaan pulau-pulau kecil, terpencil, dan strategis, agaknya bukanlah sesuatu yang baru. Kenapa topik itu kembali dihangatkan, apalagi dalam

Nuansa Kehidupan Islami

4

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

forum nasional di Convention Hall, Hotel Novotel Bukittinggi, yang dihadiri pakar dan peneliti dari LIPI dan perguruan tinggi, Bappenas, dan serta kalangan LSM. Sebab, dalam mimbar ilmiah yang digagas Universitas Andalas, Padang, ditegaskan bahwa pulau-pulau kecil, terpencil, dan strategis, bukan hanya perkara menyejahterakan penghuninya. Ia terkait pula dengan kepentingan bangsa, baik dari sudut pandang ekonomi seperti pemberlakuan zona ekonomi ekslusif (ZEE), maupun pertahanan dan keamanan, karena terletak pada lokasi-lokasi yang berpotensi konflik. Bahkan, kata Menko Polkam , " Membangun pulau-pulau kecil itu tak bisa dipisahkan dengan aspek pertahanan dan keamanan," ungkapnya. Lebih lanjut Menko Polkam mengatakan, pada dasarnya percepatan pembangunan pulau-pulau kecil itu tak bisa dipisahkan dari potensi kekayaan baharinya. Karena itu, pemerintah membentuk Dewan Kelautan Nasional (DKN) yang diketuai Presiden Soeharto pada 16 Januari 1997 lalu. Dari hasil jajak pendapat, katanya, ada bidang awal dalam mengangkat potensi sumber daya kelautan. "Yaitu bidang perikanan, wisata bahari, transportasi laut, bidang lingkungan hidup dan wilayah pesisir," ucap Soesilo yang juga Wakil Ketua DKN. Kalau Siberut atau Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat yang jadi topik utama, katanya, sebab lokasi ini sudah dikenal masyarakat dunia karena kekayaan sosial budayanya serta lingkungan hidupnya. Dia mengatakan bahwa sebagai kepulauan yang terpencil namun terkenal di dunia, pembangunannya harus dilaksanakan dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa dalam membangun kepulauan Mentawai yang terpisah sangat jauh dari induknya, yakni daratan Sumbar, selain dilaksanakan dengan hati-hati juga bertahap dalam batas-batas kondisi dan kemampuan yang ada. "Tidak perlu disamaratakan sebagaimana pembangunan yang dilaksanakan di wilayah lain karena kondisi geografisnya memang memiliki karakteristik tersendiri," kata Menko Polkam dan menambahkan Kepulauan Mentawai mewakili gugusan ribuan pulau kecil dan strategis lain yang perlu dibangun. Menurut Menko Polkam, dalam pembangunan Pulau-pulau kecil, terpencil dan strategis di Indonesia perlu memperhatikan aneka ragam Sumber Daya Hayatinya demi terpeliharanya lingkungan

Nuansa Kehidupan Islami

5

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

hidup dan sosial budaya. Selain itu, menurut Soesilo Soedarman, tidak perlu terjadi tumpang tindih alokasi pembangunan, pengelolaan tanah atau tata ruang/wilayah yang serasi termasuk adanya hak ulayat. Pembangunan pulau-pulau kecil (Mentawai) diarahkan untuk meningkatkan potensi kelautan dan wilayah yang dikenal dengan "Agromarine" dan "Aquamarine" yaitu memanfaatkan pulau-pulau kecil dengan usaha yang berkaitan dengan laut dan wilayah pulaunya dikelola melalui instensifikasi lahan pertanian dan perkebunan. Sementara itu dilain pihak, katanya, perlu diusahakan pemberdayaan masyarakat setempat yang umumnya nelayan tradisional guna mengenali teknologi laut yang lebih canggih dan berusaha belajar dari pendatang mengenai berbagai aspek kehidupan seperti menjadi nelayan lepas pantai mengingat kita memiliki ZEE luas. Dalam menyukseskan pembangunan di pulau-pulau kecil, menurut Menko Polkam, diperlukan perhatian semua pihak, yaitu Pemda dengan memperhatikan permasalahan mendasar di bidang transportasi dengan pulau-pulau besar lain. Menurut dia, Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau yang khas baik ekosistem maupun kependudukannya dan terkenal memiliki sosial budaya dan lingkungan hidup berupa biosfir dunia di Pulau Siberut serta potensi pariwisata. Selain itu, katanya, pembangunan pulau kecil terpencil dan strategis bukanlah pembangunan pulau demi pulau, akan tetapi pembangunan atas dasar kawasan pulau secara terpadu dan saling menunjang dan bukan dalam bentuk persaingan. Di sudut lain, Gubernur Sumbar menilai, pada dasarnya pembangunan pulau Mentawai selalu menempati agenda utama dalam pembangunan daerah. Tak dipungkiri, kata Hasan, gerak pembangunan di Mentawai selalu menjadi perhatian, bukan hanya kelompok masyarakat di dalam negeri ataupun di luar negeri. Atas dasar ini dia mengajak semua pihak untuk menempatkan kepentingan masyarakat Mentawai pada tempat teratas, terutama hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. "Yang pasti sebuah masyarakat yang terasing akan semakin terasing kalau ia semakin jauh dari sentuhan pembangunan," tandasnya. Dalam bahasa Mentrans dan PPH, dikatakan adalah adalah tidak

Nuansa Kehidupan Islami

6

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

bijaksana jika kita tetap membiarkan kelompok-kelompok masyarakat tertentu yang kalau mau makan harus berburu terlebih dahulu dan mengambil ubi di hutan, padahal kebiasaan itu di manapun sudah lama tidak ada. Sehubungan itu dia menyergah pendapat yang menyatakan tidak setuju terhadap pembangunan di Mentawai, Siswono menjelaskan, dirinya sama sekali tidak setuju. Menurut dia, pemerintah tetap ingin untuk membuat mereka lebih maju dan sejahtera melalui sistem pertanian modern yang berorientasi agrobisnis dan agroindustri. Masih menurut Siswono, program transmigrasi merupakan langkah yang logis dalam memberdayakan potensi Kepulauan Mentawai. Program ini selain mendongkrak jumlah penduduk yang berhubungan dengan produktifitas sekaligus menjembatani penularan peradaban yang lebih moderen. "Pembangunan pada dasarnya juga membangun peradaban. Demikian untuk membangun pulau-pulau kecil. Tak perlu khawatir dengan perubahan, sebab peradaban itu besifat dinamis dan berubah. Dan, kita semua tahu yang merubah itu adalah manusia itu sendiri," terangnya. Meski Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Ir. Siswono Yudohusodo mengatakan pelaksanaan program transmigrasi di Pulau Siberut wilayah Kepulauan Mentawai, Sumbar, tergolong rumit. Dalam penjelasannya di Bukittinggi, dia mengatakan penduduk di Pulau Siberut masih sangat tradisional, bahkan banyak yang masih animis dan menggantungkan hidupnya dari hasil berburu dan meramu hasil hutan. Dalam program transmigrasi, menurut Siswono, Pemerintah ingin mengajak mereka untuk masuk pada dunia yang lebih modern dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah terisolir itu. Karena itu, kata dia, pembangunan transmigrasi di wilayah Mentawai yang sampai saat ini baru terlaksana di Pulau Siberut harus benar-benar dipahami sebagai proses belajar yang efektif bagi penduduk setempat. Hanya dengan meniru dari saudara-saudara dari daerah lain, menurut Siswono, masyarakat Mentawai dapat lebih cepat maju dibandingkan melalui proses pendidikan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun. Ia menjelaskan bahwa kepulauan Mentawai hanya dipimpin camat,

Nuansa Kehidupan Islami

7

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

padahal Pulau Simeulue di Aceh dan Pulau Nias di Sumut sudah dipimpin seorang Bupati. MEREKA YANG PEDULI MENTAWAI

"BURGER" DURIAN DARI SIPORA
Salah satu pertanyaan mendasar dalam pembicaraan seputar Mentawai adalah sumber daya potensial yang dimiliki, baik sumber daya alam nabati dan botani, maupun sumber daya manusia sebagai modal dasar pembangunan secara keseluruhan. Mentawai, dengan empat kecamatan dan luas wilayah lebih kurang 60. 000 km2, yaitu Siberut Selatan, Siberut Utara, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan -- adakah segenap potensi Mentawai selama ini telah digarap secara maksimal, baik terhadap peningkatan kualitas maupun kesejahteraan masyarakat di sektor pendidikan, ekonomi maupun kebudayaan? Apalagi kondisi geografis yang berbentuk kepulauan, merupakan halangan untuk menjalin komunikasi dan transportasi bagi pelaksanaan pembangunan, maupun bagi upaya pengembangan dan peningakatan kesejahteraan masyarakat Mentawai. Kendala ini tidak saja muncul sewaktu Seminar Nasional tentang Pulau-Pulau Terpencil dan Strategis baru-baru ini di Bukittinggi, namun juga diakui oleh aktifis dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat di Padang yang peduli terhadap pengembangan dan pembangunan kepulauan Mentawai, serta oleh putra daerah Mentawai sendiri. Berikut ini pengakuan para aktifis LSM yang mengkhususkan diri dalam upaya pengembangan kesejahteraan masyarakat Mentawai. Ir. YUHIRMAN, direktur Sekretariat Pengembangan Kawasan Mentawai (SPKM) yang beberapa kali menjalin kerjasama dengan lembaga donor dari dalam dan luar negeri, menandaskan bagaimana alam dan manusia di Mentawai saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini terimplementasi dalam pola kehidupan sehari-hari mereka.

Nuansa Kehidupan Islami

8

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Dapat dilihat, misalnya, dari pola mata pencaharian utama penduduk setempat, yang mayoritas nelayan atau petani. Sulit dijumpai penduduk asli yang mencari nafkah melalui dagang atau wiraswasta. Hal yang sama juga diakui oleh ADE WALDEMAR. SH, putera daerah dari Ikatan Pemuda Pelajar Pelajar Mentawai (IPPMEN) yang berdiri sejak tahun 1982. "Mentawai sesungguhnya amatlah potensial. Alam dan hutannya kaya, jumlah penduduknya juga cukup banyak. Lebih kurang 60. 000 jiwa pada saat ini, terutama pemuda yang berada di usia produktif". "Akan tetapi karena teknologi dan tingkat pendidikan masyarakat setempat masih rendah, tanpa disadari, banyak masyarakat di luar cenderung menganggap rendah atau melecehkan Mentawai. Dapat dilihat dari istilah 'orang pagai', 'lego pagai', dan sebagainya. Semua itu berkonotasi rendah di tengah-tengah masyarakat kita," tambah Yuhirman kepada FAJAR. Masih menurut Yuhirman, pada dasarnya arah terpenting pengembangan sumber daya Mentawai saat ini adalah, kemampuan mengelola sumber daya alam, serta kemampuan mengembangkan lokomotif ekonomi Mentawai. Permasalahan sekitar sumber daya manusia, dalam pengakuan Ade Waldemar, bukan terletak pada pemuda Mentawai yang menolak untuk diberdayakan, sebagaimana kecendrungan dari suku terasing lain. Dimana mereka menolak diasimilasikan dengan masyarakat di luar suku mereka. Masalah lebih terpaku pada rancangan sistem pendidikan yang kurang memberi peluang terhadap pengembangan kemampuan serta intelektualitas murid didik semenjak di Sekolah Dasar. Pendidikan dilaksanakan hanya sebagai pemenuhan program kurikulum dari pusat. Bukan pada pemenuhan kebutuhan anak-anak di Mentawai. Secara psikologis, sosial dan budaya, mereka berbeda dengan anak-anak di tempat lain di luar Mentawai. Tanpa disadari, secara mental keadaan ini memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi anak-anak.

Nuansa Kehidupan Islami

9

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Semua ini berawal dari kurikulum pendidikan yang menyamaratakan untuk seluruh daerah. Secara topografis dan geografis alam Mentawai sangat berbeda dengan daerah lainnya, khususnya di daratan Sumatera. Harusnya, hal ini dipertimbangkan oleh lembaga pendidikan terkait, ujar Ade menjelaskan. Sumber Daya Alam yang Potensial. -------------------------------SPKM didirikan 10 tahun silam oleh para aktifis yang peduli terhadap kelangsungan sumber daya alam dan populasi kehidupan di kepulauan Mentawai, diantaranya Ir. Nurdin. Dalam program kerjanya, lembaga ini lebih berorientasi terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat setempat, selaras dengan sumber daya alam yang ada. Tahun 1996, bekerjasama dengan Departemen Kesehatan dan Dirjen POM, bagian Budi Daya Tanaman Obat, SPKM mengadakan penelitian terhadap bahan obat-obatan tradisionil yang terkandung dalam hutan dan alam Mentawai. Ditemui sekitar 40 macam tanaman yang memiliki kandungan obat-obatan yang bermanfaat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan lembaga KEHATI (Keanekaragaman Hayati), pimpinan Bapak Emil Salim dan masyarakat terkait lainnya. Dalam penelitian lainnya, SPKM menemukan bahwa durian lokal Mentawai, ternyata memiliki kualitas yang sangat baik diantara durian Indonesia. Duriannya memiliki duri yang lunak kehijauan, biji berukuran kecil dan daging yang tebal. Untuk pengembangan durian ini, Yuhirman dan kawan-kawan mengadakan program penangkaran bibit. Telah ada sebanyak 8. 100 bibit durian yang diprogram mendatangkan hasil lebih cepat dibanding pertumbuhan alami rata-rata, yakni lima tahun. Dengan lokasi di SP II Transmigrasi Toupejat, Kecamatan Sipora. Program lainnya adalah, upaya peningkatan ekonomi rakyat melalui usaha industri rumah tangga, dengan pemanfaatan teknologi tepatguna melalui pengolahan pisang sale. Buah pisang dibeli dari kebun masyarakat setempat, selanjutnya diolah menjadi makanan

Nuansa Kehidupan Islami

10

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

ringan. Kualitas pisang Mentawai yang baik diharapkan menghasilkan sale yang dapat diekspor ke luar negeri. Dalam percobaan, durian dan pisang ini diolah menjadi makanan "burger" durian, semacam hamburger atau cheeseburger. Terdiri dari lapisan roti, pisang sale, selai durian, pisang, dan roti. Atau khusus selai durian dalam kemasan botol. Bila program tersebut berhasil, upaya ini akan membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. Di samping dapat menambah devisa bagi negara dan daerah daerah setempat. Selain durian dan pisang, jagung Mentawai termasuk berkualitas baik. Hanya saja, perhatian terhadap pengembangan budidaya tanaman jagung belum terlihat. Sebagai tanaman percontohan, SPKM bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi mengajak masyarakat setempat, terutama masyarakat di wilayah transmigrasi, untuk berpartisipasi menanam beberapa pohon jagung di halaman rumah masing-masing. Alhamadulillah, ajakan ini dipenuhi. Sumber Daya Manusia Mentawai ---------------------------Secara kuantitas, jumlah pemuda berusia produktif di kepulauan Mentawai merupakan potensi tersendiri bagi pemberdayaan masyarakat Mentawai secara umum. Namun karena pola pendidikan dasar yang diberikan belum sesuai dengan kondisi sosial budaya anak-anak Mentawai, potensi itu akhirnya belum termanfaatkan secara maksimal. "Terkecuali anak-anak yang memiliki orang tua campuran. Maksudnya, salah satu orangtuanya merupakan kaum pendatang, atau orang dari daerah seberang (Minangkabau) yang menikah dengan penduduk asli, atau sebaliknya. Anak-anak ini dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih baik kualitas maupun fasilitasnya, seperti yang ada di Padang," ujar Ade Waldemar yang menempuh pendidikan dasar (SD) dan SMP di kecamatan Sikakap, Mentawai. Pendidikan atas ditempuhnya di SMA 2 Padang, kemudian meneruskan di Fak. Hukum, Universitas Andalas, Padang. Tak heran jika mantan ketua umum IPPMEN ini merasa prihatin atas kondisi tersebut. Itulah sebabnya, IPPMEN sebagai organisasi

Nuansa Kehidupan Islami

11

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

yang didirikan oleh para putera daerah Mentawai di Padang, merasa ikut bertanggungjawab dalam hal ini. Mereka mengadakan latihan-latihan dasar untuk calon tenaga kerja yang berasal dari pemuda asli Mentawai di Padang. Di samping latihan menambah wawasan dan intelektualitas, IPPMEN juga memberi pengarahan dalam memilih sekolah dan tempat tinggal bagi yang hendak meneruskan pendidikan di Padang. "Kebanyakan generasi muda Mentawai, selain meneruskan sekolah, juga untuk mencari kerja di Padang ini. Mereka umumnya bergerak di sektor informal. Misalnya, menjadi pembantu rumah tangga, atau cukup bekerja sebagai buruh kecil pabrik di kota Padang dan sekitarnya. " Beranjak dari kenyataan tersebut, terlalu dangkal kiranya jika Mentawai masih dipandang sebagai kawasan terisolir yang tertinggal dan penuh kekurangan. Tidak saja terhadap potensi ekonomi, potensi dari sektor pariwisatapun agaknya Mentawai belum tergarap secara maksimal dan profesional. Sehingga beberapa kegiatan budaya masyarakat lokal setempat yang cukup menarik sebagai asset pariwisata, berlalu begitu saja. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya informasi tentang Mentawai. Sehingga tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dalam memandang wilayah kepulauan di kawasan pantai barat Sumatera tersebut, baik oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri, apalagi masyarakat luar. Dengan demikian, kepedulian dan perhatian terhadap Mentawai tidak lagi merupakan 'pekerjaan' sepihak. Atau hanya melibatkan sebahagian kecil dari masyarakat, sebagaimana yang ada selama ini. Yeyen Kiram. -----------------------------------------------------------------------------Saat ini, tidak banyak lembaga maupun masyarakat yang peduli tentang apa dan bagaimana Mentawai. Terkecuali bila tiba-tiba muncul berita mengejutkan yang bersifat sensasional, barulah kita ramai-ramai berpaling ke daerah kepulauan yang spesifik ini. Di Padang sendiri, terdapat sembilan lembaga swasta non-profit yang mengkhususkan diri bergerak di seputar Mentawai serta upaya

Nuansa Kehidupan Islami

12

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

pemberdayaan dari persoalan-persoalan ke-Mentawai-an. Inilah beberapa dari lembaga maupun yayasan tersebut. 1. Lembaga Sibujailaggai. 2. Lembaga Laggai Simoeru. 3. Yayasan Citra Mandiri. 4. Yayasan Pembinaan Masyarakat Mentawai. 5. Yayasan Suku Mentawai. 6. Sekretariat Pengembangan Kawasan Mentawai (SPKM). 7. Ikatan Pemuda Pelajar Mentawai. (IPPMEN). 8. Yayasan Bhineka Tunggal Ika. 9. Yayasan Bina Sejahtera. Sembilan lembaga tersebut tergabung dalam suatu wadah, bernama Forum Pemersatu Peduli Mentawai (FPPM) yang diketuai oleh Miko Kamal. Di antara lembaga tersebut, SPKM tercatat yang paling banyak melakukan kerjasama dengan lembaga swadaya lain baik dari dalam maupun luar negeri. Kendati bermula dari modal swadaya para pendiri, Ir. Nurdin dan Ir. Yuhirman, namun lembaga inipun diketahui paling awal berdiri, tahun 1989. SKPM pernah melakukan kerjasama dengan UNDP (lembaga PBB) tahun 1992, Conservation International tahun 1991, Danamitra Lingkungan tahun 1990, Canada Foundation tahun 1992, Departemen Kesehatan Dirjen POM tahun 1996-1997 dan sedang berlangsung sekarang adalah, kerjasama dengan Departemen Transmigrasi, sejak tahun 1996.

Mentawai dan Tanah Tepi
Banyak yang berbicara tentang Mentawai, tapi sedikit yang berusaha memahaminya. Tidak terkecuali mereka di dunia akademis yang menghabiskan berlembar-lembar makalah. Mentawai dan tanah tepi bukan sesuatu yang baru. Hanya sebagian besar 'orang tanah tepi' baru terbuka matanya.

Nuansa Kehidupan Islami

13

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Mentawai tidak tertinggal sebenarnya, kita yang tertinggal memahaminya. Sebenarnya Mentawai mempunyai kebudayaan yang tinggi, tidak hanya sebatas kabit- kabit dan busur panah. Sepanjang mau meneliti puncak-puncak kebudayaan masyarakat Mentawai, banyak hal yang bisa diungkap. Hasilnya, tentu akan sangat mendukung jalan pembangunan Mentawai sendiri. Pernyataan itu disampaikan H Mas'oed Abidin kepada FAJAR ketika mengomentari pembangunan pulau terpencil, baru-baru ini. Menurut Mas'oed, puncak kebudayaan masyarakat Mentawai diantara- nya kepercayaan pada penguasa tunggal, yang dalam istilah mereka disebut penguasa langit dan bumi (Tekamanua). Sedangkan roh-roh nenek moyang hanyalah perantara untuk meminta kepada penguasa tunggal tersebut (Baca: Ada Allah dalam Ikere). Puncak kebudayaan itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi dasar beberapa aturan bermasyarakat. 'Larangan berzina,' satu diantaranya. Jika tertangkap, si pezina dihukuman berat, mungkin dibunuh. Dalam kehidupan sosial, membangun rumah dan membuat perahu selalu dilakukan bersama-sama. Bahkan bila terjadi kemalangan (kematian) atau keuntungan (mendapat binatang buruan) berita disebar ke seluruh kampung. Tudukkat (sejenis kentongan) ditabuh mengeluarkan bunyi isyarat khusus yang hanya bisa diterjemahkan orang Mentawai. Cara itu masih ditemui sampai sekarang di Siberut Selatan (Matotonan) dan Siberut Utara (Simalegi, Simatalu), ungkap Mas'oed. Dalam hal membagi jatah, seperti hasil buruan atau suatu barang, orang Mentawai terkenal adil. Sehingga ada ungkapan 'Bagi Mentawai' (membagi cara Mentawai). Semuanya akan memperoleh bagian dalam jumlah sama besar. Orang yang membagi memperoleh pada giliran terakhir. Tingginya penghormatan terhadap nilai-nilai rumah tangga dan penghargaan pada kaum wanita merupakan norma sosial yang amat mengesankan. Buktinya, seseorang tidak leluasa menaiki rumah orang lain bila di dalam rumah hanya ada para wanita. Bila laki-laki berjalan dengan wanita, yang dahulu adalah laki-laki, sedangkan

Nuansa Kehidupan Islami

14

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

wanita mengiring di belakang, sebagaimana dilakukan umat Nabi Musa As. Selain itu, kata Mas'oed, jangan coba-coba berjanji dengan orang Mentawai bila tidak mampu menepati. Akibatnya kepercayaan mereka akan hilang selamanya. Orang Mentawai tidak mau mengambil hak orang lain. Dalam pembagian, mereka akan mengambil bagian mereka dan tidak mengambil hak orang lain, kecuali bila direlakan. Menurut Mas'oed, secara analitis, sebenarnya Mentawai mempunyai potensi amat besar untuk pembangunan. Tinggal bagaimana petugas yang membangun Mentawai bisa mengerti dengan puncak kebudayaan mereka. Pendekatan kebudayaan seharusnya lebih diutamakan dari pada pendekatan kehendak. Penduduk Mentawai bukanlah orang yang terbelakang, melainkan masyarakat yang beradab. Sejak 1621 (375 tahun lalu), mereka telah berhubungan dengan orang tanah tepi (pantai barat Sumatera), khususnya orang Tiku. Penduduk pulau Mentawai ketika itu belum paham dengan bahasa orang Tiku, begitu juga sebaliknya, seperti dilansir Stefano Corenese dalam bukunya 'Kebudayaan Mentawai'. (1988:31) Selintas, hubungan ini adalah hubungan kekerabatan dan saling memenuhi kebutuhan, seperti hubungan ekonomi atau transaksi di pasar. Bila dilihat daerah-daerah pantai Mentawai sebelah timur, yang berhadapan langsung dengan tanah tepi, banyak ditemui desa atau dusun dengan nama Pasa atau Pasar. Diantaranya ada yang bernama Pasakiat atau Pasar, juga Pasapuat atau Pasar Besar. Di tempat ini dilakukan jual beli dengan bahasa isyarat. Secara teoritis dapat dipahami bahwa hubungan kekerabatan atau persaudaraan antara orang Mentawai dan penduduk pulau Sumatera terjalin sangat akrab. Di kampung-kampung pedalaman sekalipun, di depan rumah (Uma) selalu tergantung kuali besar. Dari penelitian, tidak ditemukan satu kebudayaan yang menghasilkan kerajinan logam. Tidak ada pandai besi. Padahal tidak seorangpun orang Mentawai yang tidak memiliki parang panjang. Darimana mereka peroleh kalau bukan melalui hubungan jual beli? Catatan sejarah tidak pernah membuktikan terjadinya perang atau perkelahian besar antara penduduk Mentawai dengan pendatang dari tanah tepi. Ini membuktikan bahwa hubungan Mentawai dengan

Nuansa Kehidupan Islami

15

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

pantai barat Sumatera adalah hubungan kekerabatan, bukan hubungan penguasaan. Misionaris pertama masuk ke Mentawai tahun 1901. Dipimpin August Lett, seorang pendeta dari Jerman (Zending Protestan). Akan tetapi nasib jualah yang menyebabkan August Lett, harus mati dibunuh penduduk Mentawai, setelah delapan tahun ia di sana (1908). Kematian August Lett bukan karena mengembangkan agama Protestan, tetapi karena menjadi penghubung tentara kompeni Hindia Belanda (lihat juga tulisan Stefano Coronese). Orang Mentawai bukanlah orang yang benci terhadap pendatang atau penyebar agama, walaupun mereka sudah menganut sebuah kebiasaan nenek moyang yang dikenal dengan arat sabulungan (belum berupa agama, karena tidak ada aturan-aturan peribadatan). Tahun 1954, terjadi perubahan besar di Mentawai, dengan adanya musyawarah tiga agama, Islam, Kristen Protestan dan Arat Sabulungan. (Katholik baru masuk 1954 dipandu oleh Pastor Aurelius Cannizaro dari Itali). Salah satu keputusan musyawarah adalah bahwa Arat Sabulungan harus ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai dan mereka dipersilahkan memilih agama resmi di dalam Negara RI. Tahun 1955, seluruh masyarakat Mentawai sudah menjadi masyarakat beragama. Arat Sabulungan ditinggalkan. Hal ini membuktikan bahwa musyawarah bukan hanya sebuah produk pemaksaan. Kalau ada yang lari ke hutan, jumlahnya tidak banyak, sekitar satu keluarga saja. Mereka dikenal dengan suku Sekudai yang hidup di hutan sampai hari ini. Minggatnya suku Sekudai ke pedalaman Sagalubek bukan hanya disebabkan rapat tiga agama, tetapi lebih banyak karena pergeseran paham antar suku di Rokdok. Orang Mentawai bangun pukul 03.00 dini hari, melaksanakan rencana kerja untuk hari itu. Meski mereka pergi ke hutan dan ladang hanya untuk mengembala babi atau ayam. Problema utama adalah mencerdaskan orang Mentawai, dan mendidik orang Mentawai yang akan membangun negeri mereka. Kemudian bagaimana membuka kesempatan untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka sendiri dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Konsekwensinya, setiap pendatang memiliki tugas

Nuansa Kehidupan Islami

16

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

rangkap sebagai transformator kemajuan dan alih ilmu pengetahuan. Selain mengandalkan pendidikan,pendatang perlu mawas diri supaya jangan menjadi anasir penghasut di Mentawai. Dengan sedikit sedih, Mas'oed menyatakan bahwa banyak yang berbicara tentang Mentawai, tapi sangat sedikit yang berusaha memahaminya. Banyak yang berusaha mengetahui mentawai hanya dari cerita orang tanpa pernah melihat seperti apa adanya. Tidak terkecuali mereka di dunia akademis yang menghabiskan berlembar-lembar makalah. Mentawai dan tanah tepi bukan sesuatu yang baru. Hanya sebagian besar 'orang tanah tepi' baru terbuka matanya. Mentawai sebenarnya tidak 'tertinggal', kita yang tertinggal memahaminya, demikian Mas'oed. Sementara dari versi kebijaksanaan pemerintah membangun pulau terpencil, yang diseminarkan baru-baru ini, oleh UNAND di Hotel Novotel Bukittinggi menekankan, membangun Mentawai tidak bisa disamakan dengan membangun kawasan lain, seperti tanah tepi. Bahkan Menko Polkam Soesilo Soedarman menilai Mentawai mempunyai sosio budaya yang khas. Sehingga pendekatan pembangunan di sana haruslah mengacu pada sosio budaya itu. Aspek yang ditinjau para pengamat, selain potensi sosial budaya juga kekayaan alam kelautannya. Kayu dan lutungnya yang tidak ada di kawasan hutan lain di Indonesia, masih mengundang penelitian para ahli. Akan tetapi bisakah semuanya diteliti, bila belum paham dengan ekosistem secara komplek. Untuk itu selayaknya bangunlah jiwanya jangan hanya membangun raganya. KIPRAH DAKWAH DI MENTAWAI

Ketika Imanuel Menjadi Imanullah
TIDAK ada paksaan untuk orang memeluk Islam, demikian diungkapkan Ustaz Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, ketika tabligh akbar, sebelum pensyahadatan 45 mualaf di Mesjid Nurul

Nuansa Kehidupan Islami

17

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Iman Sioban, Kecamatan Sipora, pada Pekan Muhktadin IV tahun lalu. Namun, kata Ristawardi, kalau sudah masuk Islam tidak boleh murtad atau keluar dari Islam, karena sudah terang mana yang benar dan salah. Kalau keluar, berarti meneguk ludah yang telah dibuang. Sama dengan menumpang mobil, lanjutnya, apabila sudah naik, sekalipun tidak dapat tempat duduk, membayar tetap sesuai dengan tarif. Maka penumpang yang ingin selamat jangan coba-coba membayar tidak sesuai dengan tarif. "Maka begitu juga memeluk Islam, kalau ingin selamat laksanakan perintah Islam dengan baik, jangan separoh-separoh, meskipun seorang yang baru masuk Islam. Karena dengan sungguh-sungguh itulah yang akan membawa keselamatan," ujar Ristawardi, konselor agama Islam, PT Semen Padang itu. Apa yang disampaikan Ustaz Ristawardi itu, tersemat mati dan kokoh dalam hati Imanullah yang dulu bernama Imanuel, seorang mualaf paling tua dan juga mantan kepala Suku di Mentawai diantara mualaf yang disyahadatkan malam itu. "Saya berjanji akan bersungguh-sungguh melaksanakan agama Islam, meski umur saya sudah 70 tahun," ujar Imanullah saat itu, ketika ditanya tentang motivasinya masuk Islam. Imanullah, 70, mengaku masuk Islam tanpa ada pengaruh dan rayuan siapapun. Dia sudah mempelajari Islam sejak zaman Belanda. Ketika itu ia masih remaja. Dan di Mentawai saat itu sudah ada yang Islam. Selama itu, baru sekarang niat hatinya terujud untuk masuk Islam. Imanullah --sebelum disyahadatkan namanya Imanuel--, Islam adalah 'syurga' yang telah lama diimpikan. Di dalam Islam dia melihat banyak kemajuan dan ajaran yang memotivasi manusia untuk maju, yakni dengan ajaran jihad di jalan Allah Swt. Dia yakin dengan ajaran jihad, setiap yang dilakukan dalam kehidupan dinilai ibadah oleh Allah Swt. Dengan itu pula dia optimis Mentawai bisa maju seperti tanah tepi, karena ada motivasi untuk membangun yang diimbali dengan pahala. Selain itu,nan lebih dipujikannya adalah rasa persaudaraan (Ukhuwwah-Red) yang tinggi. Dalam Islam, kata Imanullah, susah senang dirasakan secara bersama-sama. Kalau ada

Nuansa Kehidupan Islami

18

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

saudara seakidah yang miskin atau kekurangan harta, maka akan dibantu lewat zakat atau sedekah. Bahkan yang menarik, meski ada hak orang miskin dalam harta orang kaya, maka Islam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk meminta-minta. Malahan, kata Imanullah seraya mengutip hadist nabi, tangan yang diatas lebih baik dari tangan dibawah. "Artinya orang yang memberi lebih baik di mata Allah dari yang menerima," kata Imanullah mantan Kepala Suku di Matobek, Kecamatan Sipora. Sebenarnya pada Pekan Muhtadin III, 1995, Imunullah sudah berniat mengingkrarkan diri masuk Islam. Namun karena malu dikhitan, dia masih ragu. Akhirnya, pada Pekan Muhtadin IV, perasaan malu itu telah dia buang. Setelah dikhitan oleh Tim Kesehatan BAZIS PT Semen Padang, di Puskesmas Kecamatan Sipora di Sioban, dia merasa lega, cita-citanya untuk bergabung dengan Islam tercapai sudah. "Rupanya khitan yang sebelumnya saya anggap sakit, ternyata tidak demikian," katanya gembira. Dalam keluarganya, Imanullah yang memiliki tato, sebagai seorang ayah yang juga Kepala Suku, tidak bersikap keras terhadap anak-anaknya. Dia mempunyai lima orang anak, dua orang perempuan dan empat orang laki-laki. Satu orang diantaranya --anak ketiga-- sudah masuk Islam bulan Juli 1995. Dengan, masuk Islam anak yang ketiga itu, dia bisa mempelajari perubahan yang terdapat dalam diri anaknya setelah masuk Islam. Karena itu pulalah semakin padat hatinya untuk mengucapkan kalimah syahadat. "Terus terang, setahun saya melihat anak saya dalam 'pelukan' Islam, setahun itu saya merasa tersanjung sebagai ayah. Ada rasa kebanggaan bagi diri saya terhadap dirinya. Akhlaknya kepada saya sangat baik, " katanya. Selain itu, anak Imanullah yang keempat merupakan sarjana beraagama lain. Namun ketika dia menyampaikan akan memeluk Islam, dia mengucapkan selamat. Ketika ditanya, apakah dia berniat mengislamkan seluruh anggota keluarganya? Imanullah menjawab tergantung hidayah Allah Swt kepadanya. Melihat keikhlasan hati Imanullah masuk Islam, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Perwakilan Sumatera Barat Kantor Padang H. Masoed Abidin dan Ketua BAZIS PT Semen

Nuansa Kehidupan Islami

19

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Padang Ir. Khairul Nasri meneteskan air mata haru. "Orang tua renta masih ingin masuk Islam, kita sudah dari kecil memeluk Islam kadang-kadang suka mengabaikannya," kata Masoed.

MENJEJAK TANAH SIBERUT
Oleh : H. Mas’oed Abidin Setelah turun dari boat, yang pertama kelihatan adalah masjid Al Wahidin (selesai dibangun tahun 1988), merupakan hasil swadaya masyarakat Muara Siberut. Terletak di dekat pasar, dari namanya tergambar bahwa masjid ini merupakan masjid yang pertama di daerah ini. Masjid ini dibangun dengan dana yang berasal dari sumbangan berbagai masyarakat di sini, yang hampir seluruhnya adalah para perantau dari Tanah Tepi. Ada yang dikumpulkan dari kegiatan tabligh akbar, lelang kue pada hari besar Islam, infak dan wakaf dari para pengusaha, dan juga dari sumbangan Pemerintah Daerah yang berkunjung ke daerah ini.

Nuansa Kehidupan Islami

20

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pondasi pertamanya oleh Dewan Dakwah untuk pusat kegiatan Islam. Masjid Al Wahidin ini cukup luas untuk ukuran Kecamatan Siberut Selatan1). Kegiatan rutin di masjid Al Wahidin adalah: shalat jama'ah setiap waktu secara teratur dan tersusun dengan rapi, pengajian kaum bapak, pengajian kaum ibu, pengajian remaja, peringatan hari besar Islam, kegiatan penyantunan muallaf, kegiatan penyantunan anak yatim dan yang paling terkesan adalah santunan/bantuan dana bagi para da'i yang bertugas di daerah pedalaman (walaupun belum secara rutin). Kegiatan ini tumbuh secara spontan, karena ummat menyadari akan gerakan Salibiyah yang amat gencar di daerah ini. Di Muara Siberut terdapat kompleks Pastoran Katolik Mentawai dan gereja Protestan. Kompleks ini termasuk yang terlengkap dan besar, di antaranya terdapat : 1 Kompleks Sekolah Keluarga Kudus, berlantai dua dan permanen. Lantai bawah untuk Sekolah Dasar dengan muridnya lebih dari 200 orang. Dan lantai atas untuk asrama putra, bagi anak-anak Mentawai dari pedalaman yang bersekolah di sini. Seluruh muridnya beragama Katolik.

2 Setiap anak yang tinggal di sini hanya membayar uang Rp 2.000,per bulan. Seluruh biaya pendidikan dan biaya hidup ditanggung oleh Paroki, kecuali buku-buku dan pakaian ditanggung masing-masing. Untuk membiayai semua itu, Paroki mempunyai sebuah pabrik pengolahan sagu. 3 Sebuah kompleks balai poliklinik permanen. 4 Rumah suster yang ditata dengan baik dan rapi, yang dipersiapkan untuk missi jangka panjang. Kompleks ini dipimpin oleh Pater, berkebangsaan Italia. 5 Gereja yang bagus (selesai tahun 1987).

6 Perumahan Pastor, yang dipimpin oleh Pastor Monacci yang
sebelumnya bertugas di Pasaman Barat (1966-1978). Dialah yang membuat karya besar dengan memurtadkan para transmigran di
1
)

Siberut Selatan, luas wilayahnya 1.993,68 km2 dengan penduduk 11.308 jiwa (1990), dengan kepadatan antara 5 - 6 jiwa/km2.

Nuansa Kehidupan Islami

21

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pasaman Barat. Ia dibantu oleh dua orang pastor yang juga dari Italia yaitu Leibist dan Ottorino. 7 Perumahan guru Sekolah Dasar Kudus. 8 Asrama putri yang terletak di samping gereja.

9 Usaha yang dikelola oleh Yayasan Bina Sejahtera, yang
merupakan bagian dari Delegasi Sosial Yayasan Prayoga Padang, yang mencakup koperasi guru, menyediakan kebutuhan sehari-hari, mesin huller dan mesin pengolahan sagu. 10 Membuat jamban keluarga, PAM, dan sumur pompa, yang diberikan secara cuma- cuma kepada penduduk di daerah pedalaman Siberut. Semua sarana tersebut, dikelola oleh Yayasan Prayoga di bawah Keuskupan Padang, yang telah aktif sejak tahun 1976 di bawah pimpinan Pastor Stefano Coronese. Ia sering mengunjungi Kepulauan Mentawai untuk membimbing orang asli Mentawai agar tetap dengan kebudayaan asli mereka. Ia merupakan pendeta spesialis menangani kegiatan di Mentawai, dan telah mempublikasikan beberapa tulisan tentang Mentawai, dan

telah menjadi buku referensi para mahasiswa di beberapa universitas yang ingin mengetahui tentang Kepulauan Mentawai. Di antara tulisannya yang menarik adalah "Missi tetap mempunyai niat baik agar kebudayaan asli Mentawai seperti bahasa Mentawai, tetap lestari" 2). Oleh karena itu, Mentawai telah dikenal sejak lama di luar negeri. Walaupun pihak Katolik baru menjamah daerah ini pada tahun 1954 yang dipandu oleh Pastor Aurelio Connizarro dari Italia3), namun telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini karena kegiatan pastoran ini didukung oleh dana yang lumayan besarnya. Itulah sebabnya kenapa gerakan missi di sini sangat pesat sekali perkembangannya.
2 3
) )

Lihat Coronese, hal.34 Lihat Coronense, hal. 2

Nuansa Kehidupan Islami

22

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Kegiatan Salibiyah di daerah ini tidak hanya dimonopoli oleh Katolik semata. Tahun 1901, Pendeta Lett asal Jerman datang ke Siberut dalam rangka missi Kristen, namun pada 1909 dibunuh oleh penduduk asli Mentawai. Kemudian dilanjutkan oleh Pendeta F. Forger sampai perang dunia ke II. Setelah Indonesia merdeka, pihak Protestan mulai mendidik putra-putra Mentawai, di antaranya Pendeta Immanuel Sikarebau asal Sikakap yang dididik di Siantar Sumatera Utara. Pada 1986, pendeta ini digantikan oleh Pendeta Mika asal Sipora yang sampai tahun 1990 memimpin jemaat Protestan di Mentawai. Berbeda dengan Katolik yang kebanyakan dipimpin oleh pendeta asal Italia, maka zending Protestan banyak dipimpin oleh putra asli Mentawai. Walaupun perkembangan Protestan tidak sepesat Katolik, namun mereka juga memiliki fasilitas pendukung, antara lain gereja, rumah pendeta, poliklinik (walaupun tidak berfungsi lagi), rumah bidan permanen, rumah suster, kapal boat untuk antar pulau dan untuk ke pedalaman Mentawai lewat sungai. Di daerah ini kelihatan kegiatan Kristen Protestan agak lemah, karena memang yang menjadi pusat gerakan Protestan adalah Sikakap di pulau Pagai Utara Selatan dan Sipora. Gambaran tentang kegiatan missi dan zending ini telah membuat ummat Islam di Muara Siberut termotivasi untuk berbuat dan berkarya demi agamanya, Islam. Selain masjid Al Wahidin, ummat Islam di Muara Siberut juga memiliki Madrasah Ibtidaiyah. Namun masih kekurangan tenaga guru. Hanya ada dua orang guru yaitu M. Idris Batubara dan Elma (tamatan Aliyah Bukittinggi). Madrasah ini didirikan sejak tahun 1973, atas prakarsa ummat Islam di Muara Siberut, tanpa ada bantuan dari pihak luar. Terdiri dari 4 ruang belajar. Bantuan Pemerintah Daerah

Nuansa Kehidupan Islami

23

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

hanya Rp 1.000.000,- selebihnya adalah dana dari ummat Islam di Muara Siberut. Da'i yang pernah mengajar di sini antara lain Abdul Hadi A. Roni, sekarang (1990) Kepala KUA Siberut Selatan. Walaupun Madrasah ini bernama Madrasah Al Washliyah (tingkat Ibtidaiyah), akan tetapi tidak berafiliasi dengan Al Washliyah yang ada di Medan, secara organisatoris tidak mendapat bantuan dana dari Al Washliyah Medan. Kebetulan saja seorang gurunya yang menjadi pendiri pertama (H. Idris Batu Bara) berasal dari Al Washliyah Medan. Belakangan ada usul agar madrasah ini diserahkan kepada Al Washliyah Medan, tetapi para pengurusnya tidak setuju, dengan alasan selama ini biaya sekolah ditanggung oleh Seksi Pendidikan Masjid Al Wahidin Muara Siberut, murni dari masyarakat. Kesulitan dana sangat terasa sekali terutama untuk perbaikan gedung dan gaji guru. Sekolah ini terletak sekitar 200 m dari gereja Katolik.

Program Khitanan
Setiap tahun di Mentawai menjadi wajib dilaksanakan program khusus khitanan massal.4 Dalam melaksanakan program ini sering terjadi hal-hal yang aneh, seperti adanya peserta yang lari, bukan karena takut, tetapi karena hubungan sosial, antara lain: 1. Hubungan kekeluargaan menimbulkan rasa malu. (semenda-semenda) yang

4

Pada tanggal 23 - 25 Pebruari 1990, di desa Saliguma dilakukan khitanan massal oleh tenaga dokter muda dari Unand bekerja sama dengan rumah sakit Islam Ibnu Sina Padang. Khitanan yang tadinya akan diikuti oleh 50 orang, ternyata hanya diikuti oleh 24 orang saja

Nuansa Kehidupan Islami

24

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

2.

Hasutan pihak luar (missionaris) karena memang sejak tahun 1954, khitanan ini digunakan sebagai senjata yang ampuh bagi zending/missi untuk melemahkan da'wah Islam kepada para penduduk asli Mentawai.5)

Namun ada yang menggembirakan dari peristiwa ini, karena di antara yang melakukan khitanan massal di Saliguma terdapat 6 orang muallaf lanjut usia berumur 30 - 40 tahun, di antaranya adalah Saudara Yohanes Mahmud (40 th) Kepala Desa Saliguma. Program khitanan perlu didukung pelaksanaannya setiap tahun, karena pelaksanaannya adalah salah satu cabang dari Sunnah Rasul. Yang diharapkan dari kita adalah hanya bantuan langsung berupa kain sarung, peci, sandal jepit, penyediaan obat-obatan dan pengiriman tenaga medis. Sedangkan masyarakat Islam di dusun Muara Siberut sendiri berpartisipasi memberi makan selama perawatan menjemput/mengantar kembali saudara sesama Muslim dari padalaman, menyediakan tempat bermalam, melakukan piket jaga dan merawat saudara-saudara sesama Muslim.

Penyediaan peralatan ibadah
Beberapa masjid dan mushalla yang sudah ada khususnya di daerah pedalaman, perlu mendapat perhatian utama mengenai penyiapan peralatan ibadah mereka. Ada delapan masjid/mushalla di pedalaman yang perlu diprioritaskan mencakup desa-desa : Saibi, Saliguma, Sallappa, Matotonan, Sarausau, Puro, Munthei, Mailepet dan Sagalubbek di Monga Barat. Yang diperlukan antara lain adalah: a. Tikar shalat : 280 - 400 meter b. Lampu strongking : 8 buah c. Amplifier : 1 buah di Sagalubbek
5
)

Adanya hasutan bahwa kalau seseorang masuk Islam, zakar dan kemaluannya akan dipotong, tidak bisa lagi melakukan hubungan suami istri secara wajar. Ternyata dalam kenyataannya hasutan ini banyak tidak berhasil karena setiap tahun selalu ada program khitanan sebagai pelaksanaan “Sunnatul Khitaan”

Nuansa Kehidupan Islami

25

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

d. Kain pemisah dalam masjid : 80 meter e. Persiapan kain kafan untuk 8 desa binaan. Secara rutin perlu kita pikirkan bantuan untuk pengajian anak-anak muallaf berupa : minyak tanah, kapur tulis, buku tulis dan lain-lain.

Bantuan jangka panjang
Penyiapan sebuah asrama di Muara Siberut khusus bagi anak-anak yang beragama Islam sangat penting. Yang beragama Katolik sudah ada asrama besar disiapkan oleh pihak gereja Katolik Muara Siberut, besar, megah dan bertingkat. Untuk pelajar Protestan, rumah-rumah di seputar gereja yang dulu dibangun oleh Pendeta Imanuel Sikarebau, ketua zending Protestan Mentawai, masih siap menampung anak-anak mereka terutama dari Saibi Samokop atau Pasakiat Taileleu. Ummat Islam masih tercecer di belakang, kita belum punya asrama pelajar untuk menampung anak-anak muallaf dari pedalaman. 

Nuansa Kehidupan Islami

26

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

SIBERUT-MENTAWAI DALAM PERSPEKTIF DA'WAH ILA’LLAH
(Sebuah Perjalanan Peta Da'wah 1983-1993)

Siberut merupakan salah satu dari empat pulau terbesar di
jajaran Kepulauan Mentawai. Membujur dari utara ke selatan, di pantai barat pulau Sumatera. Secara alami, Kepulauan Mentawai seakan-akan ditempatkan sebagai gugusan pulau penyangga dari hempasan gelombang laut Samudera Hindia (Samudera Indonesia) terhadap pantai barat pulau Sumatera. Secara geografis letaknya menguntungkan sekali. Hempasan ombak deras tidak langsung menerjang ke pantai pulau Perca (Sumatera). Dengan demikian pantai barat Sumatera Barat sedikitnya terselamatkan dari kikisan gelombang Samudera Indonesia yang ganas. Dengan kata lain, Kepulauan Mentawai menjadi pagar laut di sebelah barat pantai Sumatera Barat. Mulai dari Pasaman hingga ke ujung selatan Pesisir Selatan, mendekati propinsi Bengkulu. Kepulauan ini juga diakui sangat strategis karena langsung berhadapan dengan kawasan Afrika Timur, Madagaskar, dan negara-negara Asia Selatan, seperti Yaman, Srilangka, India dan Myanmar. Begitu pula dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar. Berbatasan dengan hamparan laut lepas, Samudera Indonesia, sambung-menyambung dengan Kepulauan Nias hingga ke selatan ke Kepulauan Enggano. Semuanya merupakan jajaran pulau pendamping pulau Perca di sebelah barat. Empat pulau-pulau besar dalam deretan Kepulauan Mentawai terdiri dari pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Kemudian dikelilingi oleh puluhan pulau kecil di sekitarnya. Dan jumlahnya lebih dari lima puluh buah, yang paling besar adalah pulau Siberut.

Nuansa Kehidupan Islami

27

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pulau Siberut teriris menjadi dua pemerintahan tingkat kecamatan, yaitu Kecamatan Siberut Utara dengan Muara Sikabaluan sebagai ibu kecamatan dan Kecamatan Siberut Selatan dengan Muara Siberut sebagai ibu kecamatannya. Tiga gugusan pulau lainnya di selatan membentuk dua pemerintahan kecamatan. Pulau Sipora menjadi Kecamatan Sipora, dengan Sioban menjadi ibu kecamatannya. Kemudian Pagai Utara dan Pagai Selatan, menjadi Kecamatan Pagai Utara-Selatan (disingkat PUS) dengan Sikakap sebagai ibu kecamatannya. Keempat kecamatan ini masuk dalam administrasi Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Padang Pariaman. Koordinasi pemerintahan dipegang oleh Pembantu Bupati Wilayah Mentawai, berkedudukan di Padang. Untuk mencapai Kepulauan Mentawai dapat melalui jalur laut, yaitu dari Muara Padang dengan kapal ferry. Dewasa ini (1997) terdapat empat kapal ferry: KM. Sumber Rezeki, KM. Gaya Baru, KM. Semangat Baru yang menjalani rute Muara Siberut, Muara Sikabaluan dan Muara Padang pulang pergi. Rute berikutnya Tuapejat, Sioban dan Sikakap, Muara Padang pulang pergi. Satu ferry lainnya, KM. Kuda Laut sekarang hanya melayani trip Muara Padang - Sikakap, kadang-kadang melalui Sioban. Di samping itu satu buah kapal perintis, KM. Bratasena6), melayani pelayaran dari Teluk Bayur, Pasakiat Taileleo, Saibi Simokop, Sirilogui (Cimpungan), Malancan (Pokai) dan Sigapokna di Siberut Utara, kemudian melanjutkan pelayan ke Teluk Dalam (Nias) dan kembali ke Teluk Bayur. Biasanya melalui rute yang sama. Hubungan lain ke Kepulauan ini dapat melalui transportasi udara secara terbatas. Hanya penerbangan perintis menggunakan pesawat Cessna, menjangku pulau Sipora. Bandar Udara Perintis terletak di dusun Rokot, desa Matobe’, Kecamatan Sipora. Dan satu lagi pesawat perusahaan Minas Lumber ke Sikakap, Kecamatan Pagai Utara-Selatan. Melihat jalur transportasi (laut dan udara) yang ada sekarang, jelaslah bahwa Kepulauan Mentawai lebih mudah dicapai dari kota Padang (ibu kota propinsi Sumatera Barat). Tidak ada hubungan transportasi langsung dari ibu kota Kabupaten
6) Sekarang dilayari KM. Berau

Nuansa Kehidupan Islami

28

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Padang Pariaman (Pariaman). Kesulitan transportasi ini merupakan salah satu penyebab desa-desa di Mentawai menjadi kian tertinggal. Perspektif Da'wah Ila’llah Siberut yang mempunyai luas lebih dari 4.000 km2 itu, terbagi menjadi Siberut Utara, luasnya 2.103,44 km2 dan Siberut Selatan seluas 1.993,68 km2. Penduduk di kedua kecamatan ini jumlahnya tidak jauh berbeda. Siberut Utara (10.981 jiwa) yang terbagi ke dalam 10 desa dan 33 dusun. Sedangkan Siberut Selatan berpenduduk lebih banyak (13.276 jiwa) dan tersebar di 10 desa dan 30 dusun (tahun 1993). Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa penduduk di Kecamatan Siberut Selatan lebih rapat daripada Siberut Utara. Bila dibandingkan dengan luas wilayahnya, Siberut Selatan dengan luas 5,22% lebih kecil daripada Siberut Utara, dengan penduduk 20,89% lebih banyak. Bila kita mencoba menatap ke arah perkembangan penyebaran da'wah Ila’llah di kedua kecamatan ini dalam masa satu dasa warsa (1983-1993), terlihat pergeseran jumlah penganut agama Islam, tendensinya meningkat cukup pesat. Hal ini disebabkan bertambahnya da'i Islam yang melakukan tugas da'wah Ila’llah di daerah ini, serta meningkatnya pembangunan sarana ibadah ummat Islam. Juga mulai berkembangnya pendidikan anak-anak jama'ah Muhtadin (muallaf) Mentawai, khususnya di kedua Kecamatan Siberut Utara dan Siberut Selatan. Sebelum tahun 1983 jumlah ummat Islam di Siberut Selatan menempati urutan ketiga, setelah ummat Katolik dan Protestan. Dalam tahun 1982/1983, banyak penduduk Mentawai yang menerima Islam secara massal. Seperti penduduk Matotonan 321 jiwa, Sallappa 132 jiwa dan Saliguma 84 jiwa. Kemudian disusul dengan pengislaman secara perorangan. Dan pada penghujung tahun 1992 jumlah jama'ah Muhtadin meningkat lagi dengan masuk Islamnya masyarakat Pasakiat Taileleo, gelombang pertama 91 jiwa. Siberut Utara dengan luas 2.103,44 km2, berpenduduk 10.981 jiwa, memiliki kepadatan 5-6 penduduk/km2. Maka tidaklah mengherankan jika rimba atau hutan lindung (suaka alam) lebih

Nuansa Kehidupan Islami

29

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

luas dari pemukiman/ perladangan penduduk. Kecamatan ini terbagi dalam 10 desa dengan 33 dusun tersebar dan terpencil. Pada umumnya dusun-dusun dimaksud terletak di tepi laut atau di pinggiran sungai yang mangalir mengitari atau membelah desa-desa yang ada.

Nuansa Kehidupan Islami

30

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Daerah Pantai Barat Beberapa dusun terletak di pedalaman pada hulu-hulu sungai. Terutama sekali di desa yang terdapat di pantai barat Siberut Utara yaitu desa Simalegi dan Simatalu. Seperti dusun-dusun Peipejat Hulu dan Peipejat Hilir yang sudah berdekatan dengan kawasan Siberut Selatan (daerah Matotonan dan Sagullubbek). Begitu juga dusun-dusun Kulumen, Alitak, Masaba, Sapokok, Tubila dan Lubaga. Semuanya terdapat di desa Simatalu. Di samping hubungan laut ke daerah ini sangat sulit, karena keadaan cuaca yang sulit diramal, sebagaimana lazimnya daerah pantai barat, sehingga untuk mencapai daerah ini, termasuk kunjungan-kunjungan menjadi jarang sekali. Bahkan terasa lebih aman dengan berjalan kaki. Menembus hutan belantara selama lima hari perjalanan dari pedalaman desa Bojakan. Keadaan yang sama sulitnya, bila mendatangi desa Simalegi. Walaupun beberapa dusunnya terletak agak dekat ke pantai, Seperti Bataet dan Simalegi Muara (Hilir). Dua dusun lagi terdapat di hulu sungai Simalegi, yaitu dusun Simalegi Tengah dan Kailaba. Simalegi merupakan desa dengan ulayat terluas, mencapai 628,46 km2 yang didiami hanya oleh 986 jiwa (tahun 1993). Berarti setiap kilometer persegi hanya didiami oleh 5 atau 6 penduduk saja. Pada kedua desa di pantai barat Siberut Utara ini, masih terdapat kehidupan masyarakat Mentawai yang tradisional dengan Arat Sabulungannya (kebiasaan lama). Aturan-aturan pergaulan masih berjalan di tengah kelembagaan penduduk asli. Seperti masih terjaga hubungan laki-laki dengan perempuan. Bila terjadi pelanggaran, hukumannya masih sangat keras sekali. Pada kedua desa ini peranan kepala adat (kepala suku) masih dominan, maka tidak salah kalau kedua desa ini menjadi daerah tujuan bagi penelitian-penelitian dari luar daerah. Transportasi yang sulit sebagai penyebab arus wisatawan ke daerah ini menjadi tidak padat. Wisatawan yang mempunyai jiwa Avonturir (petualang/penjelajah), menaruh minat yang besar untuk mengunjungi daerah ini. Terutama sekali para ilmuwan maupun peneliti. Sungguhpun amat disayangkan sekali tidak satu pun dari

Nuansa Kehidupan Islami

31

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

hasil penelitian yang mereka lakukan itu, yang kembali disumbangkan menjadi asset daerah Sumatera Barat sendiri. Pada kedua desa di pantai barat (Simatalu dan Simalegi), yang berpenduduk 2.765 jiwa (tahun 1993) di antaranya terdapat 533 jiwa beragama Islam atau hampir 17,76 %. Di sini terdapat sebuah masjid sederhana, yaitu masjid Baiturrahman dibangun oleh pedagang Islam yang mengunjungi daerah ini. Seorang da'i Islam ditunjuk untuk bertugas di daerah ini, yaitu Saudara Kamaruddin (LDK Muhammadiyah), berasal dari Jawa Timur. Namun keberadaannya di daerah ini tidaklah tetap, lebih banyak berada di luar daerah. Akibatnya, pembinaan terhadap jama'ah Muhtadin (muallaf) menjadi selalu terputus. Satu lagi tenaga da'i adalah Saudari Maili tamatan Diniyah Putri Padang Panjang yang merupakan putri daerah setempat. Pada 1997, daerah ini dibina oleh da’i Yulius Bakri (putra daerah Mentawai). Bertahannya ummat Islam di kedua tempat ini, lebih banyak disebabkan pembinaan yang dilakukan oleh pedagang- pedagang Tanah Tepi yang berpangkalan di Muara Sikabaluan. Pesatnya pedagang di daerah ini di tahun 1986 sampai 1990, menyebabkan jama'ah Muhtadin meningkat. Masa-masa empat tahun tersebut (1986-1990) merupakan musim meningkatnya pencarian kayu gaharu (kayu hitam). Daerah utara seperti Policoman dan Sigapokna tempat kedudukan Camat Perwakilan Siberut Utara, hingga sekarang tetap ramai. Daerah ini merupakan tempat persinggahan tetap kapal perintis Km. Bratasena (1990) dalam pelayaran rutin ke Nias-Teluk Bayur pulang pergi. Yang sekarang ini (1997) digantikan oleh KM. Berau dari Pelabuhan Bungus. Sedangkan daerah pantai timur Siberut Utara seperti Boshe, Malancan, Sirilogui dan Cimpungan, merupakan daerahdaerah yang mudah menjangkaunya, dari Muara Sikabaluan. Pedalaman Hulu Sungai Tidaklah mengherankan jika desa-desa yang ada si sebelah timur Siberut Utara, berpenduduk relatif padat. Daerah itu meliputi desa Sigapokna, Malancan, Muara Sikabaluan, Sirilogui dan Cimpungan. Jumlah penduduknya pada tahun 1993 adalah 4.755 jiwa, hampir setengah dari penduduk kecamatan ini. Pada

Nuansa Kehidupan Islami

32

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

desa-desa dimaksud, umumnya sudah ada masjid atau mushalla walaupun sederhana dan da'i (guru agama) yang membina jama'ah Muhtadin (muallaf) secara teratur. Hal ini disebabkan jumlah ummat Islam di sekitar pantai timur termasuk besar jumlahnya, mencapai 2.468 jiwa atau sekitar 51,9 % dari perhitungan penduduk yang ada di daerah itu. Di daerah pedalaman Muara Sikabaluan terdapat tiga desa yang terletak di hilir sungai, yaitu desa Mongonpoula, Sotboyak dan Bojakan dengan areal seluas 265,98 km2 mencakup 8 dusun, dengan penduduk berjumlah 1.984 jiwa. Di ketiga daerah dimaksud, terdapat tiga tenaga da'i Islam putra asli daerah ini, yaitu Asrol Tsani (Mongonpoula), Tatgetsir (Sotboyak) dan Zukril (Bojakan). Pembinaan jama'ah Muhtadin yang terus-menerus menunjukkan hasil pada perimbangan jumlah penduduk penganut agama yang ada. Di antaranya sekitar 490 jiwa beragama Islam atau mencapai 24,69 % dari jumlah penduduk desa tersebut. Mengenai rumah ibadah Muslim yang baik baru ada satu buah, yaitu masjid Al Abrar di desa Mongonpoula yang dibangun tahun 1993. Di desa Sotboyak terdapat sebuah rumah ibadah berbentuk mushalla yang sangat sederhana bernama Al Hidayah yang dipimpin oleh Paulus Hidayat, dan Abdul Hamid Tatgesir. Sungguhpun demikian patut disyukuri, dalam satu dasawarsa (1983-1993), kepesatan da'wah Ila’llah di Kecamatan Siberut Utara telah menjadi kenyataan. Selama masa itu terdapat peningkatan jumlah penganut agama Islam. Dari sebelumnya (1983) berjumlah 1.500 jiwa meningkat menjadi 3,491 jiwa (1993). Terdapat kenaikan 132,73 % atau rata-rata 13 % per tahun. Namun perlu disadari peningkatan jumlah penganut Islam ini harus diiringi dengan peningkatan penyediaan sarana ibadah ummat dan tenaga da'i pembina. Sebagai perbandingan tentang sarana ibadah yang ada di setiap desa dapat digambarkan sebagai berikut. Ketujuh masjid ini berada dalam kondisi yang berbeda. 1 buah masjid dalam keadaan terbengkalai (masjid Taqwa Muhammadiyah di desa Pokai). 2 buah masjid sudah selesai dan permanen (masjid Al Abrar di desa Mongonpoula, 1993 dan masjid Al Falah di Muara Sikabaluan).

Nuansa Kehidupan Islami

33

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

2 buah masjid telah dibangun semi permanen, masih memerlukan penyempurnaan (masjid Al Mukhlisin di desa Malancan dan masjid Darul Jadid di desa Boshe). 2 buah masjid lagi merupakan bangunan amat sederhana, terletak di desa Sigapokna (masjid Al Mujahiddin) dan di desa Simalegi Muara (masjid Al Mujahiddin)7). Pembinaan jama'ah Muhtadin di ketujuh desa dimaksud terus berjalan. Dimana masih terdapat da'i Islam yang selalu bertugas di daerahnya. Seperti Djamaan Thaib (Sikabaluan) dibantu oleh Drs. Syarbaini dan Dra. Rosnawati. Begitu juga di daerah lain, Mijo (Pokai), Drs. Rosikhin (Boshe), Yusran (Sigapokna), Asrol Tsani (Mongonpoula) dan Yusuf (Malancan). Hanya ada satu orang yang absen dari tugasnya dan sedang berada di Jawa, yaitu Drs. Kamaruddin tenaga LDK Muhammadiyah yang ditugaskan di desa Simalegi, sebagai penggantinya adalah Yulius Bakri. Selain sarana ibadah berbentuk masjid, masih ada bangunan- bangunan rumah penduduk atau bangunan darurat yang berfungsi sebagai mushalla. Juga dijadikan tempat pendidikan agama bagi anak-anak jama'ah Muhtadin Siberut Utara. Dusun Labuhan Bajau yang termasuk wilayah desa Sigapokna dengan da'i Islam Syahrial dibantu oleh Thomas Moh. Ihsan (1997), melakukan gerak da'wah Ila’llah dari sebuah tempat sederhana (masih darurat), yaitu mushalla Al Fatah. Sedangkan di Policoman juga pada tempat yang masih digolongkan darurat. Desa Cimpungan yang mencakup dua dusun (Cimpungan dan Betian) memiliki satu mushalla terbuat dari kayu dan berukuran 6 x 6 meter dengan nama mushalla An Nur. Di sinilah da'i Islam melaksanakan tugasnya berda'wah Ila’llah. Dua desa lain juga memerlukan pembinaan yang intensif termasuk penyiapan sarana ibadah yang memadai, yaitu desa Sirilogui dengan da'i Mohammad Abetnego serta desa Sotboyak dengan da'inya Paulus Hidayat dan Zukril. Daerah Kosong Da'wah
7) Sekarang sedang dibangun Masjid Al Anshari di Sigapakna (1997)

Nuansa Kehidupan Islami

34

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Masih ada daerah-daerah di pedalaman Kepulauan Mentawai yang masih kosong da'wah, karena tidak adanya tenaga da'i yang menetap. Juga belum adanya sarana ibadah yang memadai. Padahal di daerah dimaksud banyak ummat Islamnya. Da'wah Ila’llah ke daerah ini hanya disebabkan kunjungan para pedagang semata atau dikarenakan adanya keluarga- keluarga Muslim yang mulai menetap di daerah tersebut. Di antara daerah-daerah kosong da'wah ini, adalah desa Bojokan (mencakup tiga dusun, Bojokan, Lubaga dan Tubilak) dengan jumlah ummat Islam 83 jiwa di samping 896 jiwa non-Islam. Di desa ini belum ada da'i Islam. Daerah lainnya di pantai barat, seperti desa Simatalu, juga belum ada da'i yang menetap di desa ini. Jauhnya hubungan dan pelayaran laut yang penuh resiko dengan ombak besar dan tebing-tebing karang yang terjal, menyebabkan daerah ini jarabng seklai dikunjungi baik oleh da’i maupun masyarakat lainnya. Begitu pula halnya dengan dusun Bataet di desa Simalegi dengan 75 jiwa ummat Islam di samping 235 non-Islam. Sementara itu pembinaan dari pihak Kristen sangat pesat sekali di dua desa pantai barat (Simalegi dan Simatalu) ini. Di dua desa debngan 9 dusun ini terdapat 15 gereja, hampir di setiap dusun terdapat dua gereja. Kelima belas gereja dimaksud, membina sebanyak 2.232 ummat Kristen yang terpilah kepa Katolik dan Protestan. Keadaan Da'i di Mentawai Tahun 1414 H/1993 Pada tahun 1993 di Mentawai terdapat 25 tenaga da’i sukarela, di antaranya ada yang bertugas mulai tahun 1980 (13 tahun). Sementara yang paling muda bertugas mulai tahun 1991 (2 tahun). Tenaga para da'i sukarela ini sangat diharapkan dalam membina Muhtadin di daerah tempat tinggal mereka. Sudah seharusnyalah untuk mereka diusahakan bantuan nafkah bulanan (santunan) secara tetap sebagai perangsang dalam melakukan tugas da'wah Ila’llah yang mulia. Selama ini yang bisa diberikan hanyalah bantuan-bantuan seketika, seperti :

Nuansa Kehidupan Islami

35

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

a. Zakat fitrah hanya setahun sekali b. Bantuan kain sarung dan pakaian c. Kiriman dari Muhsinin yang tidak tetap d. Ongkos transportasi, bila mereka kebetulan berkunjung ke Padang. Untuk menunjang kegiatan da'wah para da'i sukarela ini, amat diperlukan peralatan da'wah. Terutama alat transportasi air yang belum dimiliki secara menyeluruh. Kegiatan da'wah mereka lebih banyak mengandalkan bantuan para pedagang yang datang ke desa, sehingga kalau kebetulan ada angkutan pedagang dimaksud, mereka baru dapat mendatangi desa-desa lainnya yang jaraknya sangat jauh. Namun Alhamdulillah selama 7 tahun terakhir (1986-1993), kita sudah dapat memobilisir sebanyak 59 tenaga da'i yang bertugas di seluruh Kepulauan Mentawai. Berikut akan diuraikan keadaan da'i Islam di Mentawai yang bertugas pada setiap kecamatan sampai tahun 1414 H/1993 M.

Nuansa Kehidupan Islami

36

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Tabel 1. Daftar nama-nama da’i di Kepulauan Mentawai dan sumber pendapatan (1993)
Yang memiliki nafkah bulanan tetap No Kecamatan Depag DDII LDK Al Washliya h 0 4 0 1 Sukarela nomatif. DDII Pdg Haiyah Ighatsah 2 1 3 0 Muhsinin Padang 2 3 1 5 Belum digaji 9 6 6 4

1 2 3 4

Sib. Utara Sib. Selatan Sipora Pagai Utara Selatan (Sikakap)

2 3 1 0

0 1 1 0

3 1 0 0

Jumlah

6

2

4

5

6

11

25

Tabel 2. Daftar jumlah da’i yang bertugas di Kepulauan Mentawai sampai tahun 1993 No. Kecamatan 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Siberut Utara Kecamatan Siberut Selatan Kecamatan Sipora Kecamatan Pagai Utara Kecamatan Pagai Selatan Jumlah da'i Tenaga da’i di atas berasal dari Depag (6), DDII Pusat (2), LDK Muhammadiyah Pusat (4), Al Washliyah dan Baitul Makmur Medan (5), bantuan Haiyah Ighatsah/DDII Pusat (6), bantuan Muhsinin Padang/ Indarung (11) dan yang masih memerlukan Jumlah 18 tenaga 9 tenaga 12 tenaga 10 tenaga 10 tenaga 59 tenaga

Nuansa Kehidupan Islami

37

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

uluran tangan setiap Muslimin (25)8). Mudah-mudahan data ini dapat dijadikan bahan bagi penyusunan kekuatan da'wah Islamiyah ke Mentawai di masa-masa mendatang. Semoga Allah SWT selalu memberikan keridhaan-Nya dalam mengangkat amanat da'wah Ila’llah ini. Program Kepedulian Pihak Salibiyah sangat intensif dalam mengembangkan missinya. Di desa-desa terpencil gerakan mereka disertai dengan kepedulian yang tinggi. Kegiatan mereka terutama bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat desa. Bidang pendidikan umpamanya dengan membangun sekolah-sekolah setingkat Sekolah Dasar, di desa-desa yang tadinya belum memiliki Sekolah Dasar Negeri. Beberapa desa/dusun dapat disebutkan sebagai contoh Ugai, Sallappa (Siberut Selatan) dan Simalegi dan Simatalu (Siberut Utara). Masih dalam bidang pendidikan, pada setiap ibu kecamatan diusahakan membangun sebuah asrama pelajar Mentawai yang menyatu dengan kompleks Paroki (pastoran Katolik). Di Muara Sikabaluan dan Muara Siberut (di kedua lokasi ini merupakan yang terbesar di Mentawai). Kemudian menyusul di Sikakap (termasuk paling lengkap dengan sarana sekolah mulai tingkat terendah hingga tingkat menengah atas). Asrama pelajar ini dimaksudkan untuk menampung para pelajar Mentawai dari desa-desa terpencil, yang melanjutkan sekolah mereka di ibu kecamatan. Untuk keperluan missi, selain program mendirikan sarana kebaktian dan sarana pendidikan seperti sekolah, asrama, penyediaan guru, santunan beasiswa, sarana transportasi (boat, perahu, kapal dan hanggar dan pelabuhan mini), juga di bidang ekonomi ummat pedesaan. Bidang terakhir ini (ekonomi masyarakat pedesaan) menjadi garapan satu badan resmi. Badan itu diberi nama PSE (Proyek Sosial Ekonomi Desa Terisolir). Beberapa badan lainnya ikut mendampingi, seperti Yayasan Bina Sejahtera (YBS) dan Delsos (Delegasi Sosial). Garapan

8

)

Mulai tahun 1995 Baziz PT. Semen Padang menyantuni 25 da’i Mentawai dan Baziz Korpri PT. Bank BNI membiayai 9 orang da’i Mentawai dan 4 orang dari Atase Agama Kedubes Saudi Arabia.

Nuansa Kehidupan Islami

38

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

badan-badan ini terutama memberikan kredit kepada gembalaan9) di desa-desa, berbentuk usaha-usaha produktif. Jaringan kerjanya cukup rapi dan tersebar luas. Sudah mencakup keempat kecamatan yang ada. Tenaga-tenaga motivator sering dengan memanfaatkan produk tenaga binaan dari daerah transmigrasi Pasaman, Lunang dan Sawahlunto. Bidang peternakan mulai digerakkan secara intensif. Seperti peternakan lele dumbo (Siberut Utara dan Muara Sikabaluan) dan Sikakap. Usaha ini baru terbatas pada lingkungan Paroki semata. Peternakan sangat diminati oleh penduduk pedesaan di Mentawai, terutama ternak babi, karena penghasilannya berlipat ganda serta pemeliharaannya mudah. Setiap rumah tangga atau keluarga Mentawai mesti memiliki ternak babi. Selain untuk dikonsumsi, babi bagi kehidupan orang Mentawai punya peranan dalam adat yang sudah ada, yaitu untuk mahar perkawinan, untuk pembayaran denda atas suatu kesalahan (tullo), juga untuk perhelatan (perkawinan, kematian, kelahiran, natalan, permandian, pembaptisan dan sebagainya). Bagi masyarakat Muslim beternak babi wajib ditinggalkan, karena agama Islam mengharamkannya. Dan untuk itu perlu diganti dengan ternak lain. Dalam bidang da'wah Ila’llah, mengganti ternak babi bagi keluarga Muslim menjadi suatu hal yang sangat penting sekali. Penggantian ternak babi ini dapat dilaksanakan secara bertahap, baik dengan ternak sapi atau kambing. Bisa dilakukan secara kolektif maupun secara perorangan, sehingga secara berangsur-angsur keluarga Muslim di Mentawai bebas dari perternakan babi. Selain itu ternak kecil seperti ayam buras dan itik bisa pula dikembangkan. Bisa dalam bentuk hibah atau bantuan permodalan dengan diiringi bimbingan praktis di lapangan. Lembaga-lembaga da'wah Islam bisa mengangkat program kepedulian terhadap ekonomi masyarakat Muslim Mentawai secara terpadu dan berkesinambungan. Di bidang pertanian, beberapa desa sudah mulai menanam nilam yang dibimbing oleh PT. Igasar Indarung Padang. Dan di Sipora telah menampakkan hasil yang lumayan. Keadaan ini mendorong masyarakat di desa lainnya di Kepulauan Mentawai (Siberut, Sikakap) juga sudah mulai menanam tanaman yang sama.
9
)

Gembalaan adalah istilah yang diberikan kepada ummat Kristen yang mendapat pembinaan dari gereja.

Nuansa Kehidupan Islami

39

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sebenarnya sejak tahun 1950, pemerintah telah menggerakkan penduduk untuk menanam kelapa. Beberapa Asisten Wedana yang pernah bertugas di Mentawai banyak berperan menggerakkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Mentawai, khususnya dalam budidaya tanaman kelapa. Sebagai contoh, peranan Asisten Wedana Abdur Rauf di Sipora, sehingga pulau di depan Tuapejat hingga hari ini diberi nama pulau Awera (Awera = Asisten Wedana Abdur Rauf). Pulau Awera itu kini penuh dengan tanaman kelapa dan tanaman tua seperti mangga, kuini dan rambutan. Asisten Wedana Sayuti di Siberut Utara malah meluncurkan sebuah lagu wajib untuk tingkat Sekolah Dasar. Hingga hari ini lagu itu masih didendangkan di desa-desa Siberut Utara. Di antara bait-bait lagi rakyat itu, berisi anjuran dan motivasi. Lagu ini ditulis dalam bahasa daerah Mentawai, yang isinya antara lain, urem-urem toitet, kabulagan di butena, artinya tanam-tanamlah kelapa, ada uang di pucuknya. Motivasi seperti itu timbul karena minat yang tinggi terhadap kepedulian kehidupan masyarakat pedesaan di Mentawai. Hingga saat ini, tidak sebuah desa pun yang tidak mempunyai tanaman kelapa. Sekeliling pantai Siberut dari utara ke selatan penuh dengan pohon kelapa. Camat Siberut Selatan Bapak Abdullah punya kiat lain dalam mengangkat harkat masyarakat pedesaan Mentawai. Dimulainya dengan memperkenalkan cara berpakaian yang sopan dan baik. Dihidupkannya kembali nilai-nilai budaya luhur yang dimiliki orang Mentawai sebagai warisan leluhur mereka. Sebagai Muslim, sudah barang tentu kita mengenal adanya budaya malu, tahu harga diri dan pandai memanfaatkan waktu. Sebagai usaha ke arah itu, Camat Siberut Selatan juga mengajarkan dan mengajak masyarakat pedalaman Mentawai untuk mermakai baju. Program ini berjalan merata hingga pada tahun-tahun itu tidak satu desa pun yang tidak melaksanakan anjuran ini. Hanya ada satu kelompok masyarakat, yaitu suku Sekudai yang berasal dari Rokdog/Madobak yang tidak mau mengikuti anjuran ini. Mereka melarikan diri ke pedalaman Sagullubbek dan merupakan kelompok terisolir hingga sekarang. Pembudayaan masyarakat Mentawai menimbulkan rasa percaya diri terhadap mereka. Generasi muda Mentawai tidak lazim lagi memakai tato (rajah badan). Hanya yang tua-tua yang masih

Nuansa Kehidupan Islami

40

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

memakainya sebagai warisan. Masyarakat Mentawai bukanlah satu-satunya suku yang menggunakan tato. Banyak suku terasing yang memiliki budaya tato, antara lain suku Dayak dan suku-suku di Irian). Selain itu, masyarakat Eropa dan Amerika (di London dan New York) juga terbiasa memakai tato. Bahkan bertato merupakan kebanggaan penghuni penjara di negara maju (Barat). Pembudayaan masyarakat Mentawai harusnya lebih manusiawi. Masyarakat Mentawai bukan masyarakat “tontonan,” penghibur beberapa pasang mata yang datang ke sana, dengan dalih melihat keaslian. Sementara di tempat asal mereka keaslian sudah mereka perangi dengan alasan usaha modernisasi. Pemeliharaan keaslian Mentawai tidak hanya ditekankan kepada perlindungan primata, seperti kera mentawai. Sementara orang Mentawai dibiarkan tinggal di gubuk-gubuk di tengah hutan tanpa perlindungan kemanusiaan. Mereka berpakaian asli, hanya kabit (cawat), dengan arloji buatan Jepang melingkari pergelangan tangan kanan dan kiri mereka. Suatu hal yang lucu, sebab pemilik arloji tidak bisa menunjukkan waktu. Orang Mentawai di pedalaman sekarang sedang meniti proses pembodohan dengan kedok pembudayaan dalam bungkusan pelestarian budaya asli. Di sinilah pentingnya peran lembaga-lembaga da'wah mengajarkan kepada penduduk binaan, bagaimana seharusnya hidup sebagai manusia yang bermartabat di tengah-tengah peradaban dunia. Pertanian Juga Suatu yang Diminati di Mentawai Beberapa daerah di pedesaan sudah sejak lama mulai membuka lahan pertanian tanaman pangan. Desa Sirilogui di Siberut Utara mempunyai tiga areal lahan persawahan (tanaman padi). Ketiga areal ini jika digabungkan mencapai jumlah hampir 80 ha. Suatu lahan subur dan produktif mulai digarap sejak tahun 1970. Begitu juga lahan baru di desa Mongonpoula (Siberut Utara) Rimba Soiji, sekitar 3 km dari tepi sungai Mangonpoula telah dibuka sejak tahun 1989. Luasnya lebih 100 ha diolah oleh lebih 100 KK. Mereka tanami dengan tanaman pangan (padi sawah), namun secara intensif baru mereka kerjakan pada tahun 1992/1993. Kegiatan seperti ini menyebabkan penduduk Mentawai tidak lagi menjadi penduduk berpindah- pindah, tetapi menetap

Nuansa Kehidupan Islami

41

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

dengan sumber penghasilan yang menetap pula dengan memanfaatkan sumber daya alam. Begitu pula di tempat-tempat lain seperti desa Cimpungan dan sebagainya. Usaha menggerakkan penduduk asli membuka lahan pertanian terutama tanaman pangan (padi, palawija dan sejenisnya) pada satu areal amat penting, karena dengan usaha ini selain meningkatan produksi pangan, juga memelihara kelestarian hutan lindung yang ada di sekitar desa. Dengan program kepedulian ini masyarakat Mentawai tidak akan membabat hutan di sembarang tempat untuk lahan pertanian mereka. Masyarakat pedalaman Mentawai umumnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap alam lingkungan mereka. Mereka sudah terbiasa tidak membabat hutan kecuali untuk hal-hal yang perlu saja. Hal ini terbukti bahwa penduduk Mentawai tidak membuat rumah dengan kayu-kayu besar. Lantainya bukan pula dari papan, tetapi kayu-kayu kecil yang dijalin rotan, teratur rapi. Atap rumah mereka dari rumbia (daun sagu, yang selesai mereka tebang). Semuanya diikat memakai rotan atau akar kayu. Kayu besar hanya untuk membuat perahu. Bahan-bahan itu tersedia di tengah hutan belantara sebagai anugerah Allah bagi mereka. Mereka hidup dengan memelihara ekosistem. Tingkat pencemaran di tengah alam Mentawai sangat kecil (hampir tiada). Pembakaran hutan sangat minimum, karena mereka hidup di tepi-tepi sungai. Pada sekitar rumah, di hutan-hutan yang tidak jauh, terdapat pohon durian, pohon mangga, pohon cempedak atau pohon melinjo. Sebagian besar disediakan oleh alam dan sebagian lagi mereka tanam untuk keperluan jangka panjang. Makanan mereka terutama sagu dan keladi. Pohon sagu ada di sekitar desa mereka. Ada juga di pinggir- pinggir sungai. Keladi di keliling rumah dan di ladang-ladang yang tentu tidak akan memakan areal yang luas. Pembabatan hutan hanya dilakukan oleh perusahaanperusahaan kayu balak. Perusahaan-perusahaan perkayuan yang hampir membagi daerah konsesi sebagai kue talam. Memelihara kelestarian alam perlu lebih ditekankan kepada masyarakat modern di kota-kota. Untuk Mentawai diperlukan antisipasi, karena mereka terbuka peluang menjadi masyarakat yang berkembang ke arah masyarakat maju yang selaras di tengah alamnya yang kaya.

Nuansa Kehidupan Islami

42

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Salah sekali kalau pilihan ditimpakan kepada kehidupan mereka di pedalaman Mentawai, dengan membiarkan mereka hidup tetap berada di bawah garis kemiskinan dan kemelaratan, serta payung kebodohan. Masyarakat pedalaman Mentawai harus menjadi masyarakat yang pintar hidup dan maju. Lugas dalam bergerak dan kaya dalam budi dan budaya. Karena itu, sepantasnya mereka bukan untuk ditonton oleh setiap pendatang, tetapi seharusnya setiap pendatang, baik domestik atau pun manca negara mempertontonkan kepada mereka, bagaimana sebetulnya nikmat kehidupan masyarakat maju (modern). Inilah program kepedulian yang mestinya dikembangkan di pedalaman atau kepada masyarakat suku-suku di Mentawai. 

Nuansa Kehidupan Islami

43

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

PEMBANGUNAN EKONOMI MASYARAKAT MENTAWAI

Sejak Indonesia merdeka sudah ada gerakan pembangunan masyarakat Muslim Mentawai. Pada tahun 1954, Dr. Muhammad Hatta selaku Wakil Presiden Republik Indonesia, berkunjung ke Kepulauan Mentawai dan meresmikan sebuah desa yang penduduknya telah menjadi Muslim. Desa itu diberi nama desa Berkat oleh Bung Hatta. Namun sepuluh tahun kemudian desa yang masih tetap bernama Berkat itu ternyata telah "lenyap dan berubah menjadi desa kafir." Tak seorang pun masih Muslim di sana dan masjid lama sudah dirobohkan, karena telah berubah fungsi menjadi kandang babi. Demikianlah sampai saat ini secara jujur diakui, pihak Katolik lebih gesit bergerak mengembangkan missi zending.
Dari pihak Islam sendiri usaha pembinaan masyarakat Muslim Mentawai secara lebih terpadu memang masih sangat kurang, walaupun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia telah menjadikan Kepulauan Mentawai sebagai daerah garapan khusus. Yang perlu diperhatikan sebagaimana digariskan oleh almarhum Dr. Mohammad Natsir, sewaktu mengunjungi Sumatera Barat atas undangan Pemerintah Daerah (Prof. Harun Zain & Kolonel Khairul Yahya), 15 Juni 1968 (25 tahun lampau), beliau menggariskan, ada

Nuansa Kehidupan Islami

44

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

5 hal yang perlu dikerjakan di Sumatera Barat sehubungan dengan pembangunan Kepulauan Mentawai, yaitu :

1) Menyuburkan kembali cita-cita yang mulai dirintis oleh Yayasan
Kesejahteraan sejak 1963 (a.l. kerajinan tangan, industri rumah tangga, pemeliharaan ulat sutera, penganyaman tikar mendong, pemanfaatan halaman sekitar rumah dengan tanaman ekonomis, dll).

2) Menghidupkan usaha-usaha pengumpulan dana masyarakat
yang bersumber dari infaq, sadaqah, wakaf dan zakat untuk dikelola dan dikembangkan bagi peningkatan taraf hidup masyarakat dari bawah, seperti yang telah dilakukan oleh Yayasan Puro.

3) Mengembangkan dana-dana tersebut untuk berbagai usaha
ekonomi yang berdampak positif ke pasar-pasar di tingkat nagari sampai ke kota. 4) Memberikan perhatian khusus kepada berbagai masalah dan program pembangunan di Kepulauan Mentawai.

5) Memperhatikan kesehatan masyarakat dengan pembangunan
Rumah Sakit Islam (yang kelak menjadi RSI Ibnu Sina). Kelima hal tersebut merupakan da'wah bil hal dan secara utuh merupakan bagian tak terpisahkan dari da'wah Islam itu sendiri. Peta Permasalahan Secara intensif DDII mulai bergerak melaksanakan da'wah di Mentawai sejak 1973, dengan memperhatikan potensi daerah dan masyarakat setempat. Dimulai dengan mendidik kader-kader yang berasal dari putra Mentawai yang berpotensi. Antara lain mengirim putra Mentawai ke Pesantren Darul Fallah, di Bogor. Hasil yang dicapai cukup memuaskan, karena itulah, sejak tahun 1978 sebagian dari para da'i yang dikirim ke Mentawai terdiri dari putra daerah itu sendiri. Malahan sekarang sebagian dari kader tersebut berhasil menjadi kepala desa. Namun secara keseluruhan, Mentawai masih mengundang berbagai masalah yang menantang untuk ditangani. Dari

Nuansa Kehidupan Islami

45

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

pengamatan dan kenyataan di lapangan, dapat dikemukakan sebagai berikut :

1) Agresivitas gerakan Salibiyah terus meningkat, baik dalam
pembangunan dan pengembangan gereja maupun sarana dan prasarana pendidikan.

2) Agresivitas itu malah juga dalam bentuk bantuan dan kegiatan
ekonomi masyarakat pedesaan di Mentawai yang dikelola oleh Yayasan Bina Sejahtera dari Keuskupan Padang. 3) Kelemahan anggota masyarakat Mentawai sendiri, yang pada umumnya kurang memiliki keterampilan khusus. 4) Kurang tanggapnya berbagai Lembaga Dakwah Islam, khususnya dalam menanggapi masalah sosio-ekonomi masyarakat setempat, sehingga masalah ini menjadi peluang bagi berhasilnya gerakan Salibiyah.

5) Walaupun masyarakat Mentawai umumnya dianggap kurang
dalam berbagai hal, namun sesungguhnya ada beberapa daerah yang mempunyai nilai-nilai yang produktif, antara lain dalam kegiatan kerajinan tangan (penganyaman tikar rotan di Saliguma, pembuatan keranjang rotan di Sallappa, Siberut Selatan) dan lain-lain, yang ternyata kurang dilihat sebagai punya peluang untuk dikembangkan.

6) Tanah Mentawai yang subur dan hutannya yang masih
perawan belum dapat diolah secara maksimal oleh orang Mentawai sendiri. Dalam pada itu, ia bahkan menjadi incaran para konglomerat untuk digarap sebagai lahan tanaman keras. Sedangkan pertanian tanaman muda seperti kacang tanah di desa Rokdog, Siberut Selatan maupun di desa Mongonpola/ Simalegi, Siberut Utara, pemasarannya sangat lemah. Ada beberapa komoditi lain seperti cengkeh dan pala di desa Policoman, Sigapokna dan Cimpungan, semuanya terletak di Siberut Utara, dan juga beberapa desa di Sipora, namun usaha-usaha perkebunan rakyat ini hampir seluruhnya dikuasai oleh pihak gereja maupun oleh pengusaha non-Muslim. Malahan sejak pertengahan 1989, pihak Keuskupan Padang mulai mengembangkan penanaman nilam di beberapa daerah Mentawai, lewat kredit yang disalurkan Yayasan Bina Sejahtera.

Nuansa Kehidupan Islami

46

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Berdasarkan latar belakang sejarah dan peta permasalahan seperti tersebut di atas, sudah sepatutnya kita meningkatkan pembinaan masyarakat Muslim Mentawai, khususnya di bidang sosio-ekonomi, melalui berbagai pilot proyek. Di samping pembinaan aqidah dan pembangunan sarana dan prasarana ibadah yang sudah dan sedang kita laksanakan, kini tiba pula masanya kita untuk terjun dalam bidang sosio-ekonomi masyarakat, dengan berpijak dan berangkat dari potensi alam dan manusianya. Sebab sesungguhnya pembangunan sarana-sarana itu adalah sasaran antara untuk menuju ke sasaran utama, pembangunan masyarakat Muslim yang utuh, yang diridhai oleh Allah. Melihat keberhasilan pihak Salibiyah melakukan program di mana-mana termasuk di Mentawai lewat "operasi perut" dan efeknya ke "tingkat pemurtadan" secara massal, maka pembangunan ekonomi masyarakat Muslim Mentawai menjadi hal utama untuk prioritas. Pola Pelaksanaan Dalam menentukan pola pelaksanaan program untuk pilot proyek di Mentawai ada baiknya kita merujuk kepada pengalaman di Pasaman Barat. Ada beberapa hal cukup penting dapat dicatat dari pengalaman kita di sana. 1) Keterlambatan kita menggarap lahan-lahan yang tersedia sehingga peluang yang ada menjadi menipis. 2) Sukses penanaman kelapa oleh masyarakat kampung Empat dan kampung Lima di desa Mahakarya, Kotobaru yang dimulai tahun 1975 dengan menganjurkan masyarakat agar setiap keluarga mananam 4 batang pohon kelapa di batas-batas halaman rumah, dengan pola pemanfaatan hasilnya secara terarah. Hasil 3 batang untuk pemilik yang mengikuti anjuran dan hasil 1 batang diwakafkan untuk kegiatan da'wah di desanya. 3) Keterlambatan seperti disebut nomor (1) di atas itulah antara lain penyebab cukup lancarnya proses Kristenisasi di sebagian besar daerah Pasaman Barat, khususnya di Kinali.

Nuansa Kehidupan Islami

47

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

4) Kesuksesan nomor (2) di atas, antara lain faktor pendukung
terpeliharanya da'wah Islam di kampung Empat dan kampung Lima di desa Mahakarya. Perlu dicatat sampai sekarang ada kelapa wakaf yang merupakan sumber dana yang secara berkesinambungan membiayai pendidikan Islam dan pemeliharaan masjid di kedua kampung tersebut. Pembinaan Ekonomi Masyarakat Mentawai 1. Bidang Pertanian: a. Tanaman tua : kelapa hibrida, melinjo b. Tanaman muda : kacang tanah, ubi kayu 2. Bidang Peternakan: a. Kerbau, sapi b. Itik c. Lele dumbo 3. Bidang Kerajian/Industri Rumah Tangga: a. Tikar rotan b. Keranjang rotan c. Barang-barang souvenir khas Mentawai 4. Bidang Pemasaran: a. Koperasi Muslim Mentawai b. Jaringan distribusi hasil-hasil desa (1 s.d. 3) 5. Bidang Perhubungan: a. Angkutan sungai antar desa b. Angkutan antar pulau Pengorganisasian

1) Prinsip dasar dari pengorganisasian untuk pelaksanaan
program pembangunan ekonomi Masyarakat Mentawai

Nuansa Kehidupan Islami

48

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

mengutamakan tumbuhnya semangat dan kegiatan usaha-usaha masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain kita hanya menyiapkan pola, sistem, memberikan rangsangan, menyuntik dana dengan prinsip memberikan pancing dan bukan ikan, dan tetap dalam kaidah ekonomi Islam. 2) Mengikutsertakan para pemuka masyarakat Muslim Mentawai.

3) Mengutamakan
program.

Muslim

muallaf

sebagai

peserta/aktivis

4) Memberi prioritas kedua terhadap non-Muslim yang potensial untuk menjadi Muslim, sebagai pengikut/penikmat program ini. Pendanaan 1) Untuk menggerakkan program ini, diperlukan dana yang diharapkan dapat disalurkan. 2) Perkiraan dana yang diperlukan disesuaikan dengan rincian program. Nama dari program ini pun masih dapat dicarikan yang lain yang mungkin lebih tepat dilihat dari berbagai aspek. 

Nuansa Kehidupan Islami

49

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

RINCIAN PROGRAM PERCEPATAN DA'WAH ILA’LLAH DI MENTAWAI

Bila kita ikuti dengan seksama sebuah perjalanan Peta Da'wah (1983-1993) di Mentawai, sebagai digambarkan di atas dan kita melihat Siberut-Mentawai dalam perspektif da'wah Ila’llah, maka ada beberapa program jangka pendek, yang bisa segera digulirkan. (Prioritas berdasarkan urutan angka, yang terdahulu dianggap lebih penting).
(1). Binaan, dalam bentuk Program Fisik 1.1. Pembangunan Rumah Ibadah Baru : a. Masjid di Siberut Utara 1. Desa Sirilogui 2. Desa Sotboyak 3. Desa Simalegi Tengah b. Masjid di Siberut Selatan 1. Desa Munthei, Sallappa 2. Desa Rokdog, Madobak c. Masjid di Sipora 1. Desa Rokot, Matobe’ 2. Desa Transmigrasi Tuapejat 1.2. Pembangunan Asrama Pelajar Muallaf Mentawai :

Nuansa Kehidupan Islami

50

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

a. Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara b. Desa Muara Siberut, Siberut Selatan 1.3. Pembangunan Madrasah Islam Mentawai : Madrasah Islam Muara Sikabaluan, Siberut Utara, ukuran 7 x 8 m, sebanyak 3 lokal (2). Non-Fisik dalam bentuk difa'an (pembentengan) jama'ah Muhtadin di Mentawai 2.1. Penambahan Da'i Islam yang Produktif : a. Siberut Utara a.1. Desa Simalegi Muara, 150 jama'ah a.2. Desa Simalegi Tengah, 97 jama'ah a.3. Desa Bataet, Siberut Utara, 75 jama'ah a.4. Desa Labuhan Bajau, 130 jama'ah a.5. Desa Pokai, 150 jama'ah b. Siberut Selatan b.1. Desa Madobak, Rokdog, 320 jama'ah b.2. Desa Munthei, Sallappa, 375 jama'ah b.3. Desa Sagullubbek, 372 jama'ah c. Sipora c.1. Desa Rokot, 180 jama'ah c.2. Daerah Transmigrasi UPT Tuapejat, jama'ah

569

2.2. Penyiapan Alat Transportasi Da'i (motor boat, 25 PK, lengkap dengan perahu). 1. Siberut Utara Tiga buah, boat 25 PK, 2. Siberut Selatan Tiga buah, boat 25 PK, 3. Sipora a. Dua buah, boat 25 PK, b. Empat buah sepeda, untuk daerah UPT Tuapejat, Sipora (3). Pembangunan Ekonomi Masyarakat Muslim Mentawai

Nuansa Kehidupan Islami

51

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

1.

Jangka Pendek a. Pembelian 2,5 ha kebun kelapa, di desa Pasakiat Taileleo, berikut isinya 250 batang kelapa yang telah berbuah, untuk keperluan Muhtadin10) b. Penyuntikan dana untuk penyebaran sapi bagi jama'ah Muhtadin Mentawai 1. Siberut Utara, 40 pasang sapi 2. Siberut Selatan, 28 pasang sapi 3. Sipora, 35 pasang sapi

Akhirnya semua acuan di atas ditampilkan untuk dilakukan pengkajian, serta penyatuan gerak langkah yang terpadu dan terencana bagi percepatan gerak da'wah Ila’llah ke Mentawai. Jika seluruh program yang dimaksud belum semuanya bisa ditampilkan, hendaknya kita melakukan mana yang mungkin untuk dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. 

10

)

Diharapkan dengan perkebunan ini, jama'ah Muhtadin setempat mempunyai sumber dana bagi kegiatan da'wah, realisasi dari anjuran kedua “puro” Bapak M. Natsir.

Nuansa Kehidupan Islami

52

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

ROKDOG DAN MADOBAK, TUJUAN TURIS ASING

Dua orang cewek bule memperhatikan dengan nanap rombongan penduduk asli yang pulang dari ladang. Dengan serba keasliannya memakai kabit, menyandang tabung panah dan kelewang panjang di tangan. “Aloi-Ita“, kata mereka setiap kali bertemu dengan turis asing dan mendapat jawaban yang sama dari "wisman", di kala berpapasan. Sepotong kata ini, merupakan perbendaharaan kata yang paling dihapal oleh setiap pelancong di Siberut, yang artinya memang "selamat datang". Pemandangan seperti ini hampir setiap minggu terjadi di daerah Madobak.
Setiap kapal yang merapat di Muara Siberut, dari perut kapal pasti ada saja beberapa wisman yang turun ke darat. Tujuan mereka adalah daerah Madobak ini. Daerah ini memang merupakan daerah tujuan wisata yang menyediakan keaslian Siberut (Mentawai). Selain melihat budaya Mentawai, daerah ini juga dikelilingi bukit-bukit yang menarik untuk dijelajahi. Antara Rokdog-Madobak dan Madobak-Ugai, yang berbukit-bukit itu, terdapat sekelompok penduduk asli yang masih setia dengan serba keasliannya. Berdiam di uma-uma sambil beternak babi dan menyediakan tempat tinggal mereka sebagai “hotel" untuk menampung wisatawan yang datang. Di pondok-pondok terpencil, yang jumlahnya hampir empat puluh buah ini, para wisman betah

Nuansa Kehidupan Islami

53

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

tinggal sampai seminggu, dengan bayaran sepuluh ribu rupiah per harinya. Di samping menambah penghasilan penduduk asli, ada pula pendapatan ekstra, dengan lima ribu rupiah untuk sekali "potret". Satu keadaan yang menambah kesenangan penduduk asli dalam mempertahankan budaya asli mereka. Memang daerah ini kaya dengan hutan tropis yang masih perawan, yang memiliki banyak primata Siberut, di antaranya kera jenis Simakabou yang dilindungi. Diselingi oleh bunyi "siamang" yang pekikannya tidak pernah berobah dari dulu hingga kini. Selain itu, menjelang ke daerah ini terdapat pula air terjun yang bisa ditempuh dua jam berjalan kaki, diberi nama Kulukubuk. Desa Madobak Desa Madobak terdiri dari tiga dusun, yaitu dusun Rokdog di hilir, dusun Madobak di pertengahan dan dusun Ugai agak ke hulu. Ketiga dusun ini berada di sehiliran sungai Sararekat Hulu, yang airnya deras kalau musim hujan dan kering di musim kemarau. Bila musim hujan di hulu, daerah ini bisa ditempuh satu hari memakai sampan boat 15 PK dari Muara Siberut. Dan jika musim kemarau, daerah ini hanya bisa dijangkau berjalan kaki dari Rogot (Siberut Hulu), melintasi bukit dan hutan selama 5 atau 6 jam. Desa Madobak berpenduduk 1.504 jiwa (tahun 1992), di antaranya sebanyak 1.138 jiwa beragama Katolik, terutama di dusun Ugai yang hampir dikatakan seluruhnya terdaftar beragama Kristen. Penduduk Islam di desa ini, hanya terdapat di dua dusun saja, yaitu dusun Rokdog 18 KK serta dusun Madobak sendiri sebanyak 23 KK, selebihnya penduduk pendatang dari Muara yang berdagang di sini. Jumlah keseluruhan ummat Islam di sini 366 jiwa. Pembinaan Jama’ah Muhtadin Pembinaan terhadap Jama’ah Muhtadin di dua dusun ini (Rokdog dan Madobak), di masa hadapan harus lebih intensif. Jumlah mereka setiap saat bisa bertambah, karena adanya perbedaan kehidupan yang menyolok. Ada perubahan kontras

Nuansa Kehidupan Islami

54

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

dalam cara kehidupan sehari-hari, bagi yang telah menerima Islam sebagai agamanya, teristimewa sekali dalam cara-cara berpakaian dan memilih apa yang dimakan. Di dua dusun ini perlu ada rumah ibadah. Pembuatan sebuah rumah ibadah sederhana di setiap dusun mutlak sekali. Tanah untuk itu telah ada, letaknya stategis sekali. Pada tahun 1992, pemerintah melalui Departemen Sosial, melakukan proyek peremajaan tempat pemukiman penduduk asli. Memang masih ada kesenjangan dalam pelaksanaannya, umpamanya di dusun Madobak, dari 62 unit rumah penduduk yang dibangun, hanya lima KK ummat Islam yang mendapatkan bagian. Pembinaan terhadap Jama’ah Muhtadin di daerah ini, tidak akan berhenti hingga di situ. Peningkatan mutu dan taraf hidup mereka menjadi titik tumpuan. Tugas da'i Islam di daerah ini sangat berat memang. Ia harus langsung menjadi motivator terhadap penduduk asli, bisa dalam bidang pertanian, bisa juga dalam bidang peternakan. Menumbuhkan tenaga penda'wah dari kalangan Jama’ah Muhtadin dari daerah Madobak/Rokdog ini, menjadi hal yang lebih penting. Untuk jangka panjang, perlu dipikirkan bagaimana mengusahakan agar Jama’ah Muhtadin di dusun Madobak dan Rokdog ini, terpusat pada satu lokasi pemukiman. Idealnya satu perkampungan Islam. Penyiapan sebuah chain saw atau mesin pemotong kayu bagi penduduk Jama’ah Muhtadin, perlu diusahakan. Dengan peralatan sederhana ini, mereka bisa mengumpulkan perkayuan untuk membuat rumah sebagai tempat tinggal. Juga sebuah mesin boat berukuran 8 PK untuk keperluan Jama’ah Muhtadin. Kain sarung, mukenah, kitab suci Al-Qur'an, buku-buku tuntunan shalat, tikar untuk keperluan shalat, lampu strongking dan minyak tanah, merupakan bahan-bahan yang masih sangat perlu diusahakan. Setidak- tidaknya sampai Jama’ah Muhtadin dikedua dusun ini bisa mandiri. Semoga Allah SWT selalu membuka jalan bagi berkembangnya agama Islam di daerah ini. Suatu Nidaa'ul Islam yang perlu dijawab segera. Insya Allah. 

Nuansa Kehidupan Islami

55

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MASYARAKAT ISLAM MATOTONAN PEDALAMAN HULU SARAREKAT MENTAWAI, PERLU BANTUAN

Memudiki sungai Sararekat Hulu, sehari menggalah sampan dan Madobak akan terhentak di desa paling pedalaman, Matotonan. Desa ini sudah berbatasan dengan wilayah Siberut Utara, daerah Peipejat Hulu, desa Bataet di Mentawai.

Wilayah desa Matotonan diapit oleh dua hutan yang lebat dan belum dijamah oleh pengolahan. Di antaranya wilayah Sallappa, Saliguma dan wilayah Sagalubbek di pantai barat. Penduduk asli sudah terbiasa mendatangi daerah Sagalubbek dari Matotonan dengan berjalan kaki selama tiga hari. Hanya dalam waktu sehari perjalanan merintis hutan mereka bisa sampai di Sallappa dan kemudian sehari lagi sampai di Saliguma atau Saibi Hulu di daerah utara.
Di tengah hutan antara daerah Sagalubbek dan Matotonan inilah ditemui kelompok penduduk asli yang masih kokoh dengan kebudayaan asli Siberut dengan Arat Sabulungan (kepercayaan animisme), terkenal dengan nama suku Sekudai.

Nuansa Kehidupan Islami

56

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Penduduk desa Matotonan berjumlah 836 jiwa (tahun 1992), mengelompok pada satu perkampungan yang tertata rapi. Di antara jumlah itu, 537 jiwa beragama Islam, tersebar di seluruh Kecamatan Siberut Selatan. Uniknya dari sejumlah penduduk yang beragama Islam di desa Matototan, semuanya penduduk asli Mentawai. Mereka semuanya merupakan Jama'ah Muhtadin. Daerah Asal Pada awal didiami, penduduk asli Matotonan hanya terdiri dari delapan suku. Suku-suku Sagailok, Satoutou, Sakobou, Sarubei, Sabulat, Satoinong, Saige dan Satutoitet. Mereka berasal dari daerah utara Siberut dari daerah Simatalu. Suku-suku tersebut sekarang sudah memecah diri menjadi lebih dari 36 suku kecil. Di samping itu, para pendatang mulai berdatangan ke desa ini. Sebelum 1950, daerah ini sebagaimana lazimnya seluruh daerah di Mentawai, merupakan penganut Arat Sabulungan. Setelah Arat Sabulungan dihapuskan, mulailah penduduk memilih agama yang resmi untuk dianut. Di antara penduduk ada seorang yang menerima Islam sebagai pilihan, bernama Toboi Kere Sabulat (72 tahun). Sejak tahun 1950 beliau telah menganut Islam dan sampai sekarang (1992) masih tetap teguh dengan keyakinan Islamnya. Pada tahun 1951, faham Bahaiisme masuk ke daerah ini. Faham ini dikembangkan dari Padang. Pengembangan Bahaiisme dimungkinkan karena bertugasnya seorang dokter bernama Rahmatullah Muhahir (dari Iran). Sejak tahun 1955 hingga saat ini, kegiatan ini dilarang untuk Siberut/Mentawai. Perkembangan Ummat Islam Jika tahun 1950 di desa terpencil ini hanya ada satu orang Islam saja (Toboi Kere Sabulat), maka pada tahun 1957 semasa pemerintahan Camat Abdullah, mulai masuk ummat Islam di desa Matotonan sebanyak 105 orang. Melihat cara hidup dan contoh yang diperlihatkan oleh ummat Islam yang baru ini, lambat laun menumbuhkan minat bagi penduduk asli untuk mengikuti jejak saudara-saudara mereka.

Nuansa Kehidupan Islami

57

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di tahun 1983, sebanyak 321 jiwa penduduk asli masuk Islam secara massal. Demikian dari tahun ke tahun jumlah itu kian bertambah, sehingga pada akhirnya tahun 1992 ummat Islam berjumlah 537 jiwa. Suatu Pertambahan yang Menarik untuk Disimak Pengembangan Jama'ah Muhtadin di desa Matotonan ditunjang oleh adanya sebuah sarana ibadah (masjid Matotonan) yang selesai dibangun tahun 1990. Di samping itu yang paling menonjol, Jama'ah Muhtadin yang terbanyak dari kalangan generasi muda. Sementara dari generasi tua masih melekat kebudayaan lama. Generasi tua banyak ditarik oleh pihak Katolik, karena kaum Salibiyah tidak menghiraukan perubahan sikap berbudaya penduduk asli. Bahkan bertendensi tetap menghidupkan kebudayaan lama Siberut Mentawai. Pendekatan yang dilakukan oleh Jama'ah Muhtadin di desa ini berbentuk da'wah ketauladanan. Karena itu banyak dari generasi muda yang sudah melanjutkan pendidikan di luar daerah (Padang dan sekitarnya). Keberadaan agama Islam di daerah ini jelas membawa taraf kemajuan dan mutu kehidupan penduduk asli.

Nuansa Kehidupan Islami

58

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pendidikan Di desa Matotonan terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri. Sekolah Dasar Negeri No. 02 Matotonan ini mempunyai murid sebanyak 130 orang, 80 % merupakan anak-anak keluarga Islam. SD Negeri ini dibina oleh tiga orang guru. Dua di antara guru tersebut adalah beragama Katolik dan yang lain beragama Islam. Di sekolah ini belum ditempatkan guru agama Islam yang khusus mengajarkan pelajaran agama Islam kepada murid- muridnya. Pelajaran agama Islam hanya diberikan oleh Kepala Sekolah yang kebetulan beragama Islam. Kadang-kadang tugas mengajar agama Islam di sini dibantu oleh da'i Islam yang ada di desa ini, yaitu Saudara Nasdi Simalea, pengurus Jama'ah Muhtadin yang diangkat oleh penduduk Matotonan sendiri. Beliau telah bertugas di daerah ini sejak 1986. Karena itu mengajarkan agama Islam kepada murid-murid yang mayoritas beragama Islam ini dilakukan oleh tenaga sukarela semata. Taman Kanak-kanak Islam Pada tahun 1991, di desa ini mulai diaktifkan sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Islam. Dipimpin oleh dua orang da'iah putri Mentawai, Umberiati dan Ersi dengan bantuan mukafaah dari Yayasan Amalan Jakarta. Keduanya tamatan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam, Al-Azhar Jakarta. Gedung yang dipakai bekas mushalla yang diperbaiki. Bangku-bangku untuk belajar anak-anak memang sudah ada, tetapi peralatan sama sekali belum dimiliki. Sekolah ini sama sekali tidak mempunyai peralatan mainan anak-anak juga alat-alat peraga, sebagaimana lazimnya sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak. Sehingga kegiatan belajar dan mengajar di Sekolah Taman Kanak-kanak Islam Amalan Matotonan ini, menjadi kurang lancar. Bahan papan tulis yang dipakai merupakan pinjaman dari masjid Matotonan. Ada satu hal yang menunjang, kesepakatan keluarga Muslim Matotonan untuk menyerahkan anak-anak mereka belajar di sekolah ini, patut dipuji. Da'wah Islam melalui pendidikan

Nuansa Kehidupan Islami

59

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

anak-anak merupakan satu upaya membentengi Islam di desa Matotonan. Untuk jangka panjang usaha ini perlu dipelihara. Kafilah Da'wah Kafilah da'wah tidak hanya terdiri dari para mubaligh Islam, tetapi juga para pengajar dan pelatih bidang pertanian, pertukangan, kerajinan tangan bahkan peternakan. Sehingga, desa ini kelak bisa secara nyata terjadi perubahan tingkat kehidupan masyarakatnya. Satu perubahan ke arah kemajuan dan perbaikan taraf kehidupan karena dibawa oleh Islam. Dan para da'i Islam di sini perlu dibekali dengan modal dasar untuk pengembangan taraf kehidupan masyarakat. Sarana Ibadah Taraf kehidupan masyarakat Mentawai umumnya dan khususnya Matotonan masih rendah, pembinaan dan pemeliharaan rumah ibadah masih merupakan beban ummat Islam Muara Siberut. Fasilitas masjid masih dirasa kurang, tempat wudhuk yang belum ada hingga hari ini. Tikar shalat masih jauh dari memadai. Bahkan alat-alat untuk shalat, seperti sarung, dan mukenah masih mengharapkan uluran tangan dari luar. Sebetulnya, masyarakat Mantawai bukan tipe masyarakat yang senang dibantu. Tetapi mereka amat memerlukan bantuan- bantuan itu, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk menghidupi diri sendiri. Penilaian ini setidak-tidaknya berlaku untuk masyarakat Islam desa Matotonan. Makanan sehari-hari mereka adalah sagu atau pun getek (sejenis keladi) yang tumbuh di sekeliling kampung mereka. Di samping itu mereka hanya berpakaian seadanya saja. Lain halnya, kalau mereka telah menganut Islam, kehidupan yang meningkat mendorong mereka untuk berusaha lebih giat lagi. Mereka akan didorong untuk menyediakan kebutuhan harian yang lebih pantas dan memadai. Ke hutan mencari manau, rotan dan gaharu, merupakan lapangan usaha penduduk asli dewasa ini. Hasil yang diperoleh menjadi penutup biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak mereka. Hasil yang diperoleh sifatnya musiman, tidak tetap.

Nuansa Kehidupan Islami

60

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Mereka Butuh Bantuan Bantuan yang mereka perlukan amat sederhana sekali seperti tikar shalat, minyak tanah, keperluan shalat, kain kafan, minyak tanah untuk pengajian anak-anak malam hari. Kebutuhan ini tidak dapat diperoleh di tengah perkampungan mereka, sementara mereka dilupakan oleh keadaan kehidupan yang bertaraf rendah. Kalau hanya sekedar tenaga, terlihat bahwa gotong-royong untuk kebersihan masjid, selalu mereka jalankan setiap minggunya. Dan kalau ada acara-acara bernafaskan Islam, walaupun itu dilakukan di Muara Siberut, dan harus mereka korbankan waktu dua hari mendayung sampan ke hilir, bukanlah halangan bagi mereka untuk memenuhinya. Dalam pelaksanaan khitanan massal dan peringatan hari besar Islam, terutama hari Raya Korban, mereka akan datang ke Muara Siberut, hanya sekedar mendapatkan pembagian daging korban, sebagai rangkaian ibadah. Mentawai perlu diawasi. Mereka tidak membutuhkan janji-janji. Tetapi mereka membutuhkan bukti. Dengan itu mereka siap membina diri. Itulah Matotonan, daerah mayoritas Islam di pedalaman Siberut. Memang berat untuk direbut dan hanya mudah untuk disebut-sebut. 

PEMBINAAN DA'WAH DI SAIBI SAMOKOP

Nuansa Kehidupan Islami

61

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Saibi Samokop merupakan sebuah desa yang terletak
paling utara dari Kecamatan Siberut Selatan. Terletak di pantai timur Kepulauan Siberut. Desa ini berbatasan dengan desa Cimpungan di Kecamatan Siberut Utara. Sejak lama Saibi Samokop merupakan pusat kegiatan missi Protestan dan sasaran missionaris Katolik dari Pastoran Katolik Muara Siberut. Saibi Samokop terdiri dari tiga dusun, yaitu Saibi Hulu, Saibi Samoro dan Saibi, berpenduduk 1.757 jiwa (tahun 1992). Daerah ini merupakan salah satu daerah pantai yang tertua, bahkan sudah didiami sejak lama dan tercatat dalam buku catatan pelaut-pelaut zaman bahari. Ombak di Teluk Saibi termasuk kencang dan keras, bahkan setiap waktu mengikis pantai tanpa dapat dihalangi. Perkampungan tua Muara Saibi sudah lama ditelan laut. Pohon-pohon kelapa penduduk di tepi pantai ini, tinggal tunggul-tunggul semata, semua sudah ditelan ombak. Rumah-rumah penduduk di tepi pantai pun sudah pindah jauh ke darat, ke dataran yang lebih tinggi ke tepi bukit. Bahkan di antaranya ada yang pindah ke ladang-ladang, di sebelah utara mendekati daerah Cimpungan yang disebut Sitakligai dan juga ke daerah selatan yang dikenal Labuhan Korong. Mulai tahun 80-an Saibi Samokop ramai kembali, setelah penduduk asli Saibi yang berladang di Sitakligai ini kembali ke dusun Saibi. Saibi Hulu dan Saibi Samoro, merupakan dua dusun yang terbanyak penganut Protestan. Hanya sekelompok kecil yang sudah menganut agama Islam. Perimbangan Jumlah penduduk yang menganut agama Islam pada tiga dusun ini, memang sedikit sekali. Dari jumlah penduduk yang ada 1.757 jiwa (KUA Kec. Siberut Selatan, 1991), jumlah ummat Islam hanya 146 jiwa. Selebihnya 930 jiwa Kristen Protestan dan 681 jiwa Katolik. Pada ketiga dusun ini terdapati dua buah gereja Protestan dan Katolik. Pada tahun 1990 masuk zending Pantekosta ke desa ini. Jumlah ummat Islam yang terbanyak berada di dusun Saibi (Saibi Samokop). Makanya pada tahun 1990, DDII berusaha

Nuansa Kehidupan Islami

62

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

mendirikan sebuah masjid baru dengan nama Istiqamah yang terletak di tengah-tengah lalu lintas penduduk asli. Setiap penduduk asli Saibi yang berkeinginan untuk ke Muara pastilah melalui masjid Istiqamah ini. Pembinaan Sejak tahun 1975, beberapa tenaga da'i telah diusahakan dikirim ke daerah Saibi Samokop, terutama oleh DDII, yaitu Amir Syarifuddin (1975-1977), Usman Boyon (1976-1977) sekarang (1992) menjadi Kepala Desa Tuapejat Sipora dan Najib Adnan (1978-1980) pindahan dari Sipora. Pada periode 1980-1982, pengiriman da'i ke daerah ini terputus, karena da'i Najib Adnan melanjutkan sekolah ke Saudi Arabia. Barulah pada 1984-1987, didatangkan Jama'an Thaib (da'i pembangunan) dari Rabithah Alam Islamy dan akhirnya juga meninggalkan daerah ini karena dingkat sebagai pegawai Departemen Agama di Siberut Utara. Tahun 1988 dikirim da'i dari Medan bernama Ismail, yang malangnya hanya dapat bertahan tiga malam saja karena kurang terbiasa dengan daerah sulit. Masih di tahun 1988, didatangkan pengganti Ismail, bernama Firdaus juga dari Medan, tetapi hanya mampu bertahan hanya 3 bulan. Akhirnya dengan selesainya pembangunan masjid (1990) tetaplah sudah da'i di Saibi Samokop yaitu Ja'far Nasution juga berasal dari Medan. Sekarang digantikan oleh Moh. Rafit, juga dari Medan (1996) Kondisi sosial ekonomi masyarakat Saibi Samokop yang umumnya petani atau nelayan sebetulnya banyak membantu kehadiran para da'i di daerahnya. Sewajarnyalah para da'i yang ditempatkan di daerah ini pandai mencari hidup. Bisa berbentuk kegiatan-kegiatan harian, mengolah pertanian atau pun peternakan, di samping membina ummat Islam desa setempat. Pembinaan kehidupan para da'i untuk daerah ini menjadi program yang mutlak didahulukan, sehingga ketergantungan da’i kepada jama'ah, secara berangsur-angsur berubah menjadi ketergantungan jama’ah kepada da’i. Contoh kehidupan

Nuansa Kehidupan Islami

63

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Da'i yang dikirim diharapkan bisa memberikan keteladanan, baik dalam hal budi pekerti maupun dalam hal mencari hidup. Dalam hal ini para da’i harus mempunyai keterampilan yang bisa diandalkan di tengah-tengah ummatnya. Da'i Islam yang bertugas di daerah ini harus memiliki keterampilan di bidang pertanian atau peternakan. Di samping cakap dalam bidang da'wah bil lisan. Membekali da'i Islam dengan pancing lebih baik daripada menyediakan ikan setiap waktu. Pancing itu bisa saja berbentuk bibit ternak (mulai dari yang kecil-kecil seperti ayam, itik hingga yang besar seperti kambing, sapi atau kerbau). Alam Saibi Samokop cocok untuk peternakan ini. Saudara Ja'far Nasution yang bertugas di daerah Saibi Samokop, telah memperlihatkan keterampilan awal yang memadai, tinggal meningkatkannya saja. Beberapa bidang usaha yang segera diwujudkan antara lain : (a) meminjamkan modal untuk membeli ternak untuk dipelihara, di samping memelihara aqidah anak-anak di malam hari.

(b) memberikan modal untuk pengolahan lahan pertanian yang
mudah didapatkan di samping masjid, dengan membagi kepada penduduk asli sebagai pemilik tanah. (c) mengusahakan mukafaah yang bisa menunjang kehidupan keluarga. Ketiga usaha ini diperlukan setidak-tidaknya untuk sementara dapat menumbuhkan ruhul jihad dan ruhul infaq dari Jama’ah Muhtadin sendiri. Belajar dari apa yang dilakukan oleh pihak missionaris Salibiyah, para bajak gereja (pendeta kampungan yang ditunjuk), diberikan modal kerja. Banyak di antaranya, ikut dalam kegiatan dagang dan perkreditan kepada jemaat binaannya. Jama’ah Muhtadin Walaupun berada dalam keadaan serba terbatas, para da'i Islam di daerah ini tidak melupakan pembinaan Jama’ah Muhtadin. Jumlah anak-anak yang belajar mengaji Al-Quran setiap malam, berkisar 40 orang. Kegiatan pengajian, wirid-wirid untuk kaum Bapak dan kaum Ibu, tetap berjalan setiap malam Jum'at. Shalat

Nuansa Kehidupan Islami

64

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Jum'at masih terlihat ramai dikunjungi oleh Jama’ah Muhtadin di dusun ini. Semua kegiatan ini berlangsung di masjid Istiqamah yang dibangun oleh DDII. Dalam kerangka ini yang diperlukan adalah: Al-Quran sebanyak 20 buah, juz amma sebanyak 40 buah, tikar untuk masjid Istiqamah. Jika memungkinkan dapatlah berupa karpet sepanjang 44 meter yang dirasa sudah menutupi seluruh lantai masjid ini. Bantuan minyak tanah digunakan untuk pengajian di malam hari. Sederhana sekali apa yang diharapkan oleh Jama’ah Muhtadin di desa Saibi Samokop ini. Mudah-mudahan yang sederhana ini bisa lebih memperkuat dan memperlancar pembinaan da'wah Islam di Saibi Samokop. 

Nuansa Kehidupan Islami

65

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MENGISLAMKAN PENDUDUK SALIGUMA

Saliguma merupakan kependekan dari empat nama desa asal penduduk yang bermukim di desa ini. Terdiri dari Sarabua, Limuk, Guluguk dan Malaibabak. Terhimpunlah pangkal nama daerah itu dalam satu nama yang indah yaitu Saliguma. Untuk mencapai daerah Saliguma, melalui teluk yang indah yaitu Teluk Saliguma. Teluk ini dikawal oleh sederetan pulau-pulau bakau atau berkarang pasir putih. Di antaranya pulau Bugai. Pulau yang menjadi tujuan wisata, bagi pecinta karang-karang bahari.

Sebuah taman laut dari atas perahu jelas membayang,
dapat dinikmati saat lewat, sebelum memasuki Teluk Saliguma. Teluk Saliguma cukup lebar dan tenang. Rasanya tidak kurang dari 1.500 meter dari pinggir ke pinggir lainnya. Bisa dimasuki kapal-kapal besar, terutama kapal-kapal asing penjemput kayu-kayu balok yang dikeluarkan dari hutan Saliguma, entah sudah berapa buah kapal yang sudah melabuhkan jangkarnya di teluk ini, sejak kayu-kayu di hutan Saliguma ditebang oleh

Nuansa Kehidupan Islami

66

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

perusahaan pemegang HPH PT. CPPS hingga sekarang11). Dari ujung teluk mulai terdengar deru mesin traktor mengangkat dan mendorong kayu ke tepi pantai. Ditumpuk untuk menunggu diangkut ke luar teluk dan terakhir ke pabrik pengolahan dan hasilnya pun akan diekspor untuk menambah devisa negara. Di salah satu bibir tebing, sedang sandar sebuah kapal kecil bermerek dinding KM. Saliguma. Kapal perusahaan yang menghubungkan lokasi ini dengan daerah lainnya. Di belakangnya tertulis pelabuhan asal kapal didaftar, Sibolga. Di bibir lainnya setumpuk kayu balak menggunung tinggi, siap untuk diangkut kalau kapal sudah masuk. Di antara itulah perahu kami berlabuh. Dua boat berkekuatan masing-masing 25 PK. Di dalamnya menumpang seluruh unsur Muspika Kecamatan Siberut Selatan. Masing-masing dengan ibu, yang selalu setia mengikuti program suami ke desa-desa terpencil. Mengharukan Dalam sebuah perahu, Drs. Ali Arifin A.M. (Camat Siberut Selatan) yang didampingi istri setia, yang juga Ketua Dharma Wanita Kecamatan Siberut Selatan. Di perahu lain, Mastaeruddin, Kapolsek Siberut Selatan didampingi oleh Ibu Ketua Bhayangkari dan seorang anak tersayang mengiringi tugas ke desa Saliguma. Hanya Dulrahman, Danramil Siberut Selatan yang pergi sendirian tanpa dikawal ibu. Karena kebetulan ibu Ketua Dharma Pertiwi ini tidak sedang berada di Muara Siberut. Lain halnya dengan Abdul Hadi A. Roni, Kepala KUA Kecamatan Siberut Selatan, kemana-mana tanpa ibu pendamping. Karena sudah sering jalan sendirian menyusuri desa-desa terpencil di Siberut Selatan ini. Lagi pula sang ibu setiap malam harus mengajar anak-anak mengaji Al Quran di kediamannya di Muara Siberut, 127 anak setiap malamnya. Memang sangat beralasan untuk menyebutkan sulit meninggalkan tugas suci ini. Semenjak siang tiga buah perahu telah lebih dahulu bertolak menuju Saliguma membawa anak-anak WIRA (Wirid Remaja Al Wahidin) Muara Siberut, lengkap dengan perlengkapan
11
)

Pada saat ini (1997) PT CPPS telah meninggalkan lahan Saliguma. Di sana hanya ada sebuah papan merek supaya menjaga kelestarian hutan sebagi warisan untuk anak cucu.

Nuansa Kehidupan Islami

67

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Band Wiranya, Tim Qasidah dan Rebananya. Jumlah keseluruhan rombongan tidak kurang dari 75 orang. “Belum pernah selengkap ini,” begitu komentar H. Mohammad Idris Batubara, guru Madrasah Ibtidayah Al Washliyah Muara Siberut, juga Sekretaris Dewan Dakwah Sub-Pembantu Perwakilan Siberut (Mentawai), yang juga ikut dalam kafilah da'wah ke Saliguma. Kalifah Da'wah Tepatlah rombongan ini disebut kalifah da'wah dari Siberut Selatan. Memenuhi undangan wajib hukumnya, begitulah tuntunan Rasulullah. Pengamalan tuntunan agama inilah yang menyebabkan semuanya merasa perlu hadir di Saliguma. Malah hari Sabtu (15 Pebruari 1992) di masjid Al Hidayah, desa Saliguma, berlangsung satu acara besar dan jarang terjadi.

(a) Pensyahadatan, 21 warga Saliguma yang dengan kesadaran
serta keikhlasan sendiri, menerima Islam sebagai agama anutan. Mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

(b) Nikah massal, dari 9 pasang penduduk asli Saliguma
(Mentawai) yang tadinya belum beragama Islam dan menerima syahadatain (mengucapkan dua kalimat syahadat) malam itu. Kemudian ditambah 4 pasang penduduk yang mempelainya malam itu baru dinyatakan sebagai seorang Muslimah atau Muslim. Kedua acara ini merupakan rahmat Allah yang amat besar bagi penduduk Saliguma. Khususnya bagi ummat Islam, Jama’ah Muhtadin Saliguma. Sebagai tanda syukur atas nikmat Allah, malam itu juga dikaitkan dengan peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW dengan mengundang Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dari Padang. Peristiwa besar ini, terutama pensyahadatan dilakukan oleh seluruh rombongan yang hadir. Masing-masing pejabat (anggota Muspika Kecamatan Siberut Selatan), mensyahadatkan seorang kepala keluarga, sementara ibu-ibu dari anggota Muspika dan rombongan wanita Muslimah, ikut pula mensyahadatkan keluarga baru (Muslimah penduduk Saliguma). Berbaur antara yang lama dan yang baru menganut Islam. Tiada batas yang memisahkan antara penduduk asli dengan

Nuansa Kehidupan Islami

68

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

penduduk pendatang dari Muara Siberut. Semuanya melaksanakan bimbingan syahadat yang dilakukan oleh Kepala KUA Siberut Selatan (Ketua DDII Siberut/Mentawai). Tidak kurang air mata pun berlelehan mengharukan, karena panggilan iman di dada. Dengan peristiwa besar ini, jama’ah Muhtadin Saliguma bertambah menjadi 79 KK atau 395 jiwa. Sebetulnya pada Maret 1991 menurut catatan Kepala KAU Kecamatan Siberut Selatan, ummat Islam di seluruh desa Saliguma berjumlah 472 jiwa. Jumlah ini kecil, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Saliguma, 1107 jiwa. Di antaranya, 214 jiwa beragama Kristen Protestan dan 421 jiwa beragama Katolik. Maka pada malam ini, jumlah ummat Islam bertambah 21 KK. Suatu rahmat yang patut disyukuri. Perlu Pembinaan Dalam pembinaan Jama’ah Muhtadin di desa Saliguma, telah diutus seorang da’i bernama Salim P. yang berasal dari Tanah Karo yang dikirim oleh Jama’ah al Washliyah Medan. Salim P., telah bertugas di daerah ini sejak 1986, dia juga menetap di desa ini di gubuk sederhana di sebelah masjid al Hidayah Saliguma. Selain membina para muallaf (Jama’ah Muhtadin) dalam bidang ibadah dan aqidah, juga membina anak-anak para muallaf termasuk pekerjaan pokok yang tak bisa diabaikan. Anak-anak yang mengaji Al Quran di desa Saliguma ini mencapai 70 orang setiap malamnya. Untuk menghadapi tugastugas ini, Salim dibantu oleh M. Yusuf salah seorang anggota Jama’ah Muhtadin Saliguma yang sudah menamatkan MAN di Padang. Pertambahan jumlah ummat Islam di desa Saliguma, perlu dibarengai oleh peningkatan mutu dalam pembinaannnya. Hal inilah yang amat ditekankan oleh Muspika Kecamatan Siberut Selatan, seperti yang disampaikan oleh Drs. Ali Arifin A.M, Camat Siberut Selatan. Harapan ini kiranya perlu ditelaah ulang. Beberapa tindakan positif di masa mendatang perlu diprogramkan adalah :

a) kunjungan rutin ke daerah-daerah terisolir,
b) penataran terhadap kelompok Jama’ah Muhtadin,

Nuansa Kehidupan Islami

69

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

c) seleksi dari anak-anak yang berbakat untuk dididik menjadi calon-calon da'i di daerahnya, d) mengkaji program peningkatan taraf kehidupan (ekonomi) Jama’ah Muhtadin,

e) penyiapan sarana da'wah Islamiyah yang lebih memadai di
masa datang, termasuk penyediaan alat-alat transportasi, buku-buku pegangan (perpustakaan) dan juga penyatuan potensi lembaga-lembaga da'wah Islam agar sama-sama menatap ke daerah binaan ini. Sementara itu, patut disadari mukafaah para penyandang tugas da'wah Ila’llah dan para da'i di daerah terpencil (Mentawai) ini, kurang dari cukup. Untuk mengatasi masalah ini, sebetulnya sistem bapak angkat (sebagai penyandang dana da'wah) terhadap anak angkat (para da'i penyandang tugas) bisa diterapkan. Program Jama’ah Muhtadin Orang yang baru masuk Islam khususnya di Metawai, selalu disebut muallaf. Konotasinya melekat kepada perlu dibantu dan disantuni sepanjang waktu. Kondisi ini memang tidak dapat dipungkiri, mengingat para muallaf itu lemah iman, fisik dan ekonomi. Akan tetapi dengan terbentuknya Jama’ah Muhtadin di Siberut Selatan dan Utara (6 Pebruari 1992), merupakan tantangan, bahwa bantuan santunan itu sewajarnya bersifat perioritas program. Nurkata, Ketua Jama’ah Muhtadin di Saliguma juga merasakan sekali pentingnya pembinaan berbentuk program. Kondisi kesatuan ummat Islam di Saliguma banyak ditunjang oleh keberadaan karyawan-karyawan Muslim di perusahaan kayu (PT CPPS). Walaupun dorongan-dorongan itu hanya bersifat moril saja. Yang lebih penting keikutsertaan seluruh lapisan ummat Islam di Muara Siberut telah memberikan andil cukup besar bagi perkembangan Islam dan pembinaan Jama’ah Muhtadin di Saliguma. Program yang diperlukan sekarang adalah :

Nuansa Kehidupan Islami

70

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

a) Mengusahakan penyebaran bibit kulit manis, dan karet, untuk mengisi lahan yang sudah dibuka untuk tanaman tua yang bisa menghasilkan beberapa tahun mendatang. b) Bantuan fisik rumah ibadah, berbentuk :

perluasan emperan masjid Al Hidayah Saliguma, mengingat jumlah ummat yang sudah banyak dan kekurangan tempat shalat (khusus hari Jum'at) pelaksanaan khitanan 1 kali setahun, bisa dipusatkan di Muara Siberut. penyediaan alat-alat da'wah, seperti kaset-kaset shalat, tuntunan ibadah harian, bacaan belajar Al Qur'an, buku-buku perpustakaan ringan. sebuah generator listrik untuk masjid, sebahagian dananya sudah terkumpul. sebuah amplifier masjid. penyempurnaan kamar wudhuk untuk jama’ah, dan menyempurnakan perlengkapan masjid (tikar shalat, dan lain- lainnya).


• • •

Penyerahan Paket Dua paket diserahkan sebagai tanda mata terhadap Jama’ah Muslim (Jama’ah Muhtadin) yang baru disyahadatkan. Untuk masing-masing orang yang mengucapkan syahadat, diberikan 1 lembar kain sarung bagi lelaki, dan sepasang mukenah bagi perempuan. Di samping untuk mereka yang melangsungkan pernikahan, diberikan Hadiah Perkawinan yang langsung dijadikan mahar bagi mempelai pria untuk pengantin wanitanya. Paket ini berasal dari seorang Muhsinin dari Indarung, yang enggan disebutkan namanya12). Hadiah perkawinan itu, dititipkan pada saat keberangkatan Dewan Dakwah Padang ke Siberut Mentawai. Hadiah perkawinan, yang menjadi mahar dari mempelai lelaki Saliguma, berupa seperangkat alat shalat (terdiri dari satu lembar kain sarung, sepasang mukenah lengkap sarungnya dan
12
)

Setelah 5 tahun, rasanya perlu diucapkan terima kasih kepada Ir. Hasan Baraja, yang berpartisipasi pada acara di Saliguma (Pebruari 1992). Semoga Allah merahmati

Nuansa Kehidupan Islami

71

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

selembar tikar sajadah). Paket kedua, hiburan qasidah dan rebana, untuk mempelai dan pengantin, yang akan menempuh hidup baru di Saliguma, dari Grup WIRA Muara Siberut (Wirid Remaja Al Wahidin). Untuk paket kedua ini, semua pihak merasa gembira. Suasana jadi tambah meriah, karena justeru diadakan di tengah perkampungan penduduk asli (pedalaman Mentawai). Satu upacara walimah bagi pernikahan Muhtadin, mulai dirintis. 

Nuansa Kehidupan Islami

72

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

SIBERUT, PANTAI UTARA YANG MENCEMASKAN

Kepulauan Siberut terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Siberut Utara dengan pusat Kecamatan di Muara Sikabaluan yang berbatasan dengan pulau Nias dan Kecamatan Siberut Selatan dengan pusat kecamatan di Muara Siberut. Di antara dua kecamatan itu, Kecamatan Siberut Selatan kelihatannya lebih mendapat prioritas pembinaan kaum oleh Salibiyyah.
Kecamatan Siberut Utara Siberut Utara merupakan salah satu kecamatan di Kepulauan Mentawai. Jumlah penduduknya pada tahun 1989 adalah 11.212 jiwa dengan jumlah ummat Islam sebesar 3.031 jiwa atau mencapai 27 %. Empat puluh persen penduduknya berada di sekitar pantai utara dan barat, pada tiga desa utama Sigapokna, Simalegi dan Simatalu. Sedangkan 60 % lagi mendiami daerah pedalaman, yang terbagi dalam tujuh desa, yaitu : Muara Sikabaluan, Malancan, Cimpungan, Mongonpoula, Sotboyak, Bojakan dan Srilugui. Daerah Siberut Utara atau Muara Sikabaluan perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan da'wah Islamiyah. Beberapa desa yang perlu diprioritaskan antara lain: Desa Mongonpaula Hampir seluruh penduduk desa ini merupakan penduduk asli Mentawai. Mereka telah menerima Islam sebagai agama mereka sejak tahun 1979 yang lalu. Pada tahun 1989, jumlah penduduk Islam desa ini adalah 104 jiwa (22 KK) terdiri dari 57 laki-laki dan 47 perempuan. Walaupun di desa ini tidak ada da'i yang menetap, namun mereka tetap melaksanakan syari'ah Islam dengan baik.

Nuansa Kehidupan Islami

73

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pada tahun 1986, Saudara Mansuri (alumni Darul Fallah Bogor) dengan bantuan seluruh ummat Islam, memulai mendirikan sebuah mushalla. Akan tetapi pada tahun 1988, mushalla ini hanyut ke hilir akibat banjir. Pada tahun 1989, kembali dimulai untuk membangun sebuah masjid atau mushalla yang hilang itu. Dana awal pembangunan sebanyak Rp 200.000 yang dikumpulkan dari ummat Islam. Dana sebanyak itu lalu ditukarkan dengan bahan bangunan, seperti batu, kerikil dan lain-lain. Namun kelanjutan pembangunan itu sampai tahun 1990 belum terealisasi. Lagi-lagi masalah dana yang menjadi penghambat. Sebenarnya rasa kegotongroyongan ummat Islam di sini cukup dapat diandalkan. Apalagi hampir separuh dari penduduk Islam di sini merupakan satu suku, yaitu suku Siripeibu. Dan Kepala Sukunya yaitu Saudara Baiting Sarangkirang juga telah memeluk Islam. Namun karena ketiadaan dana, sehingga pembangunan masjid tidak dapat terlaksana. Alasan lain kenapa daerah ini perlu mendapat prioritas, karena Mongonpoula merupakan daerah yang bisa menghubungkan ke daerah lain, seperti Pokai ke Boshe dan ke Malankan. Demikian pula bila kita dari Muara Sikabaluan ingin menuju Mongonpoula cukup dengan jalan darat. Selain itu, para remaja di sini juga berpotensi untuk dibina di masa datang. Namun demikian, perlu juga menyediakan sarana transportasi air, berupa mesin boat berkekuatan 8 - 15 PK untuk meningkatkan mobilitas. Seiring dengan pembangunan fisik seperti tersebut di atas, perlu dipertimbangkan untuk membentuk Sub-Pembantu Perwakilan Pembantu DDII Siberut Utara. Untuk koordinatornya bisa dipercayakan kepada Saudara Drs. Syarbaini (mantan da'i Rabitah Alam Islamy) yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Siberut Utara di Sikabaluan. Sementara itu, kegiatan di pihak Salibiyah di desa ini cukup pesat. Di sini terdapat sebuah gereja Katolik (dibangun tahun 1978) dan sebuah gereja Protestan (dibangun tahun 1980) yang cukup bagus untuk ukuran daerah pedalaman. Desa ini juga sering mendapat kunjungan Pastor. Sejak tahun 1987, desa ini telah menjadi sasaran kegiatan Delegasi Sosial (Delsos) dari keuskupan Padang. Kegiatan ini

Nuansa Kehidupan Islami

74

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

meliputi pemberian kredit untuk penanaman nilam yang disalurkan melalui Yayasan Bina Sosial. Ada enam Kelompok Tani yang mendapat bantuan dan Yayasan Bina Sosial ini, yaitu :

1. Kelompok Tani Sirapela, ketua kelompok Sopian (Islam),
mendapat kredit tahun 1988.

2. Kelompok Tani Bendungan, ketua kelompok Ponginteban (Islam). 3. Kelompok Tani Lam Pui Jung, ketua kelompok Abias 4. Kelompok Tani Mangailuk, ketua kelompok Mandui 5. Kelompok Tani Masemsem, ketua kelompok Kaira 6. Kelompok Tani Sikalabu Eru, ketua kelompok Munanto, Jawa.
Sampai tahun 1989, di seluruh Siberut Utara sudah 44 Kelompok Tani yang mendapat bantuan ini. Dan dana yang telah dikeluarkan untuk itu adalah sebesar Rp 32.318.500,-. Di desa ini juga terdapat sebuah SD Inpres, yang pada tahun 1989 Kepala Sekolahnya adalah Saudara Masri. Di samping sebagai seorang pendidik, beliau juga aktif membina ummat Islam di desa ini. Selain beliau, masih ada dua orang guru lagi, yaitu Saudara Situmorang dan istrinya yang beragama Katolik. Desa Simalegi Desa Simalegi terletak di pantai barat Kecamatan Siberut Utara. Desa ini terdiri dari tiga dusun. Jumlah penduduk pada tahun 1990 sebanyak 1.070 jiwa. Di antaranya 135 jiwa beragama Islam (12,61 %) dan selebihnya 935 jiwa (87,39 %) beragama Katolik dan Protestan. Yang terbanyak adalah Katolik. Pada awal 1989, jumlah ummat Islam di sini hanya 102 jiwa. Terdiri dari 53 laki-laki dan 49 jiwa perempuan. Akan tetapi pada bulan Juli 1989, jumlah ummat Islam bertambah 6 KK (33 jiwa, 17 laki-laki dan 16 perempuan). Sehingga jumlah total ummat Islam menjadi 135 jiwa.

Nuansa Kehidupan Islami

75

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Bertambahnya ummat Islam di sini, tidak lepas dari peranan Saudari Maili, seorang tamatan Perguruan Diniyah Putri Padangpanjang dan pernah dididik oleh almarhumah Encik Rahmah El Yunusyah. Beliaulah yang telah banyak berjasa dalam mengembangkan Islam di desa ini. Saudari Maili merupakan putri asli Simalegi. Kegiatan da'wah di desa ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1978, dengan mengirimkan seorang da'i yaitu Saudara Abdur Rahman. Tetapi pada tahun 1981, daerah ini kita tinggalkan. Simalegi adalah daerah sulit. Daerah pantai barat yang kalau boleh dikatakan adalah yang tersulit di Siberut Utara. Kondisi alamnya, pantai yang bertebing curam, ombak samudranya tinggi dan keras. Untuk kesana sangat diperlukan perhitungan, kehatihatian, kecakapan dan keterampilan. Terutama dalam mengemudikan perahu/boat. Bahkan sampai hari ini (Agustus 1997) jalan daratpun tidak ada. Masyarakat pedalaman jikapun terpaksa harus menempuh jalan 5 hari merintis hutan lebat ke arah dusun Peipejat Lubaga, baru sampai ke daerah pantai barat Simalegi Simatalu. Hanya satu-satu pedagang yang bisa dengan setia mendatangi daerah ini. Pedagang inilah yang menjadi bapak angkat da’i kita di daerah tersebut, yang pada tahun 1981 perdagangan ke daerah ini mulai menurun karena hasil hutan mulai menurun pula. Pada tahun 1990 ummat Islam di desa ini sedang giat melakukan pembangunan sebuah masjid yang berukuran 10 x 10 m. Berbentuk semi permanen, yang dilakukan secara gotong royong seminggu sekali. Hingga laporan ini diturunkan (tahun 1990), masjid itu belum juga selesai. Mereka sangat memerlukan uluran tangan ummat Islam dimanapun berada. Bantuan ummat Islam berupa material untuk pembangunan masjid sangat mereka harapkan, namun yang lebih penting adalah bantuan penyediaan tenaga da'i yang bisa menetap di desa ini. Adanya seorang da'i dan tersedianya sarana transportasi laut di desa ini akan memberikan pengaruh terhadap daerah-daerah lain di seluruh pantai barat. Daerah-daerah itu akan dapat dijangkau oleh da'wah Islamiyah. Daerah-daerah itu antara lain : Simatalu, Sapokok, Masaba, Kulumen, Alitak, Paipejat Hilir dan Paipejat Hulu. Hambatan utama untuk mencapai daerah ini adalah, masalah transportasi. Jalan satu-satunya untuk menuju desa ini adalah

Nuansa Kehidupan Islami

76

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

melalui jalan laut. Dan cuaca di sekitar laut menuju desa Simalegi sering kali kurang bersahabat. Ombak besar dan badai sering mengancam setiap pelayaran. Kecamatan Siberut Selatan Kecamatan ini terbagi dalam 10 pemerintahan desa. Jumlah penduduknya pada tahun 1989 adalah 11.367 jiwa dengan penyebaran menurut agama : Islam 2.557 jiwa, Katolik 6.681 jiwa dan Protestan 2.093 jiwa. Penganut Kristen yang berjumlah total 8.779 jiwa memiliki beberapa sarana sebagai berikut : 1. Gereja 2. Poliklinik 26 buah 2 buah

3. Asrama anak-anak 2 buah 4. Guru agama Kristen 30 orang 5. Pastor Katolik dari Italia 6. Pastor Protestan dari Jerman 7. Sarana angkutan, boat kecil dan kapal ikan untuk disewakan kepada penduduk. Semua sarana di atas sangat menunjang dalam kegiatan Salibiyyah. Kerja sama yang tersusun rapi antara dua kecamatan, Siberut Utara dan Selatan. Sementara itu, sarana yang dimiliki ummat Islam di Siberut Selatan ini adalah : 1. Masjid 2. Langgar (surau) 3. Mushalla 4. TPA 5. TPSA 6. Wirid Remaja 7. Majelis Ta'lim 8. Grup Kesenian Rebana 3 buah 2 buah 7 buah 11 buah 1 buah 1 kelompok 10 kelompok 5 kelompok

Nuansa Kehidupan Islami

77

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

9. Guru MIS

2 orang

Kegiatan amaliah bidang pendidikan dan pengajian ini tumbuh secara spontan di tengah lingkungan ummat Islam. Walaupun demikian, masih banyak daerah-daerah di pedalaman Kepulauan Mentawai yang masih belum memiliki sarana ibadah yang memadai, apalagi sarana pendidikan Islam. Rumah-rumah ibadah di daerah pedalaman masih menggunakan rumah kediaman penduduk. Daerah-daerah pedalaman dimaksud adalah : desa Madobak, Rokdog, Ugai dan Taileleu13). Daerah-daerah itu merupakan desa binaan baru ummat Islam di kecamatan ini. Karena di desa-desa ini terdapat banyak muallaf baru. Selain belum ada rumah ibadah, di sini juga tidak ada da'i yang menetap yang akan membina mereka. Hal ini disebabkan daerahnya sangat terpencil dan sulitnya hubungan transportasi. Persoalan yang dihadapi da'wah Islam di daerah ini adalah bukan terletak pada bagaimana mengislamkan penduduk asli, tetapi bagaimana memelihara dan menindaklanjuti agar mereka yang telah Islam tetap menjadi Islam. Sampai awal tahun 1990, Tim DDII Perwakilan Sumatera Barat telah melakukan empat kali kunjungan ke Kecamatan Siberut Selatan dalam rangka observasi dan penelitian untuk kepentingan da'wah Islamiyah. Beberapa usaha yang telah dilakukan antara lain adalah :

1. Pengumpulan dan pengolahan data dan pembuatan peta da'wah
di Siberut Selatan.

2. Khitanan massal di dua tempat, yaitu Saliguma sebanyak 20
orang dan di Muara Siberut 128 orang. 3. Menghimpun dan menyalurkan bantuan dari jama'ah, berupa tikar shalat, amplifier, minyak tanah, pakaian layak pakai, lampu strongking (8 buah) dan kain sarung (259 buah) serta bantuan untuk para da'i.
13
)

Mulai tahun 1993, Taileleu sudah memiliki Masjid Maznah Al Muthairy, dan 1995 Rokdog memiliki Masjid Raudhatul Jannah dan 1996 Madobak dibangun masjid oleh Depsos, begitu juga Ugai pada 1997 mulai dibangun pula sebuah mushalla dari kayu.

Nuansa Kehidupan Islami

78

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

4. Inventarisasi

tenaga penggerak da'wah Islamiyah yang mencakup pimpinan/ketua muallaf serta perangkat desa yang beragama Islam. berkekuatan 8 HP, sebagai inventaris DDII Perwakilan Muara Siberut.

5. Penyiapan sarana transportasi laut, satu buah mesin tempel

6. Pembentukan Kelompok Tenaga Sub-Pembantu Perwakilan DDII
di Muara Siberut.

7. Membangun sebuah masjid baru di Saibi Samokop.
8. Inventarisasi sarana da'wah yang telah dibangun sejak tahun 1978, seperti mess da'i, masjid dan lain-lain. 9. Menyebarluaskan informasi tentang keadaan ummat Islam di daerah pedalaman, kegiatan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan, dengan harapan dapat menyentuh ummat Islam di daerah lain. Keberhasilan yang telah dicapai merupakan hasil kerja sama antara Tim DDII Perwakilan Sumatera Barat dengan ummat Islam di daerah ini. Masalah dana selalu menjadi hambatan bagi lajunya gerak da'wah Islamiyah. Namun demikian itu bukanlah satu-satunya yang menjadi masalah utama dalam da'wah Ila’llah. Sebab dalam membangun ummat Islam bukan hanya membangun dari segi fisik saja, namun yang lebih penting adalah membangun segi rohaniah. Untuk masa datang, pembangunan segi rohaniah tampaknya merupakan hal yang lebih utama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu menyiapkan suatu jama'ah ini. Ibarat berkebun, maka kita perlu menyiapkan benih yang benar-benar unggul. Dan diharapkan jama'ah inti ini dapat memberikan warna di tengah-tengah masyarakat sekitarnya. Vital few, trivial many. Usaha-usaha ke arah itu dapat dilaksanakan dengan : membina calon imam dan khatib dari kalangan muallaf, sehingga mereka tidak sepenuhnya bergantung pada da'i yang ada. Selain itu juga dengan membina seluruh ummat Islam, sebagai kekuatan da'wah Islamiyah. Metode ini terbukti telah menampakkan hasil, setidak- tidaknya bila kita lihat di Muara Siberut.

Nuansa Kehidupan Islami

79

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di Siberut Selatan, untuk membangun sebuah sarana fisik bukanlah hal yang terlalu berat. Namun usaha untuk pengisiannyalah yang berat. Dan ini memerlukan pembinaan yang cukup panjang dan terus-menerus. Di samping itu perlu juga kita pikirkan bagaimana meningkatkan taraf ekonomi ummat Islam. Dapat dilaksanakan dengan membuka perkebunan kelapa hibrida secara kolektif, atau membina pengrajin rumah tangga yang disesuaikan dengan sumber daya alam yang ada di daerah setempat. 

Nuansa Kehidupan Islami

80

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MEMPERHATIKAN MUJAHID DAKWAH
Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pada tahun 1978, DDII Perwakilan Sumatera Barat pernah membangun sebuah mess da'i. Saat ini lokasinya bersebelahan dengan kompleks Paroki Katolik dan hanya dipisahkan oleh sebuah bandar. Pada saat itu, da'i yang bertugas di sini adalah Saudara Amir Sarifudin, lalu diganti oleh Saudara Usman Boyon dan kemudian diganti oleh Saudara Abdul Rabb Najib Adnan (1981). Mess da'i itu sampai sekarang (1990) masih terawat dengan baik dan tetap berfungsi sebagai pemondokan para da'i dan muallaf dari pedalaman. Hal ini berkat kerja sama ummat Islam di sini. Bangunan ini perlu untuk direnovasi dan ditingkatkan fungsinya. Tidak hanya sebagai tempat pemondokan da'i, tetapi bisa dikembangkan sebagai tempat tamu majelis. Mengenai pembangunan gedung penampungan ini, nampaknya perlu untuk segera diwujudkan. Mengingat banyak para muallaf dari pedalaman yang datang ke sini untuk berbagai keperluan, antara lain berobat, belajar, dan acara-acara punen (peringatan hari besar Islam). Jarak antara rumah mereka di pedalaman dengan Muara Siberut begitu jauhnya, sehingga tidak memungkinkan pulang pergi dalam satu hari. Untuk jangka panjang, perlu dipikirkan suatu bangunan sederhana sebagai asrama pelajar, putra atau putri bagi anak-anak muallaf yang melanjutkan sekolah di Muara Siberut. Untuk pengelolaannya bisa dipersiapkan anak-anak kita yang sekarang bersekolah di Diniyah Putri Padangpanjang. Di antaranya anak Kepala Dusun Puro, yang orang tuanya masih beragama Katolik.

Nuansa Kehidupan Islami

81

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Memelihara Mobilitas Dakwah
Tidak bisa dipungkiri, bahwa untuk meningkatkan mobilitas da'wah di daerah Muara Siberut, sangat diperlukan sebuah perahu bermesin tempel yang berkekuatan 12-15 PK dengan bahan bakar minyak tanah. Saat ini ada mesin boat merek Yamaha, Evenrud atau Marinir yang berbahan bakar minyak tanah. Mengenai sampan, bisa diminta partisipasi masyarakat di sini, bahkan tanpa biaya. Pada tahun 1979, DDII pernah memiliki sebuah mesin boat tempel bermerek Jonson berkekuatan 6 PK. Saat itu da'i yang bertugas di sini adalah Saudara Amir Sarifudin dan Saudara Abdul Rabb Najib Adnan. Dan pada tahun 1990 boat ini usianya sudah 11 tahun, dan sudah rusak berat, sulit untuk diperbaiki. Kerangka mesin masih dipelihara oleh masyarakat di sini. Penghargaan masyarakat di sini terhadap barang wakaf perlu mendapat acungan jempol. Da'wah ke Muara Saibi Samokop di utara pulau Siberut sangat penting sekali, mengingat daerah ini sangat vital bagi ummat Islam dan merupakan wilayah perebutan Salibiyah (Protestan dan Katolik). Untuk mencapai daerah ini, jalan satu-satunya adalah melalui jalan laut dengan ombak cukup besar. Perjalanan dari Muara Siberut ke Muara Saibi Samokop ini sekitar 4,5 jam perjalanan air. Demikian juga untuk menjangkau desa-desa di antara dua tempat ini, antara lain Saliguma, (daerah binaan Depsos yang banyak ummat Islamnya), Toitet atau Simasiro di pedalaman Muara Saibi Samokop. Apalagi kalau ke arah selatan, ke Katurai dan Taileleu, atau ke desa Mailepet (di sini ada mushalla dan jumlah ummat Islamnya sekitar 30 KK, namun tidak ada da'i untuk membimbingnya, tahun 1990). Juga ke desa Saimanuk dan Malilimuk yang pada tahun 1990 telah dibangun rumah

Nuansa Kehidupan Islami

82

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

sebanyak 200 unit oleh Depsos untuk permukiman penduduk asli. Proyek ini terletak di Teluk Katurai sebelah selatan. Desa Sagalubbek di pantai barat, yang hanya bisa ditempuh dengan boat dengan lama perjalanan sekitar 8 jam dari Muara Siberut. Di sini sudah ada masjid yang dibangun oleh ummat Islam setempat, namun belum ada da'i yang membina. Ummat Islam di sini bersedia membantu kebutuhan hidup sehari-hari untuk da'i yang ditempatkan di desa ini. Transportasi rutin ke desa ini belum ada. Itulah sebabnya mengapa DDII perlu mempunyai sebuah boat untuk daerah ini. Sementara itu, untuk menjangkau daerah pedalaman Kepulauan Mentawai yang lain, seperti Matotonan, Madobak, Ugai dan Rokdog, hanya bisa ditempuh melalui jalan sungai. Istimewa sekali bagi Matotonan dan Madobak, dewasa ini menjadi tujuan utama wisatawan yang ingin menyaksikan budaya asli Mentawai. Hanya di daerah ini yang masih ditemui keaslian budaya Mentawai (memakai cawat). Daerah ini seolah-olah disiapkan agar selalu dan tetap dalam keadaan ketertinggalan/ terbelakang. Pihak Salibiyah berusaha mempertahankan Arat Sabulungan. Daerah ini telah menjadi objek penelitian bagi mereka yang ingin meneliti sosial budaya masyarakat asli Mentawai. Di samping itu, daerah ini juga memiliki keindahan alam yang cukup menawan. Di sini terdapat kulukubu yaitu air terjun yang indah. Suku-suku asli Mentawai sangat mengharapkan uluran tangan dalam membina keyakinan mereka. Mereka membutuhkan pendidikan dan pembinaan agama. Mereka tidak ingin menjadi murtad karena hanya ketidakadaan tenaga pembina atau karena kemiskinan, sehingga bisa diiming-iming oleh pihak Salibiyah untuk masuk ke agama mereka. Pembinaan ummat Islam di daerah ini sangat tergantung sekali dengan alat transportasi air ini. Juga untuk pembangunan serta perawatan sarana ibadah, di samping

Nuansa Kehidupan Islami

83

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

berfungsi sebagai alat untuk memperlihatkan suatu izzah bagi ummat Islam di sini.

Peran Ganda Juru Dakwah
Para da'i sebagai mujahid da'wah merupakan ujung tombak da'wah Ilallah di desa. Mereka melakukan peran ganda, yaitu sebagai penyampai risalah dan pembawa pembaharuan, baik cara berpikir maupun cara hidup penduduk asli Mentawai, sehingga mereka menjadi masyarakat yang lebih maju dan berarti dari segi da'wah Islamiyah maupun kemanusiaan. Usaha ke arah perbaikan masyarakat asli Mentawai melalui da'wah Islamiyah sebenarnya telah dimulai sejak 1970. Namun belum menampakkan hasil. Barulah sejak tahun 1976 kegiatan para mujahid da'wah telah menampakkan hasil yang nyata. Antara tahun 1976-1981, DDII telah mengirimkan tenaga mujahid ke daerah ini. Kemudian pada 1986 datang lagi da'i dari Baitul Makmur Medan atas bimbingan Rabithah Alam Islamy. Para da'i yang masih bertugas di daerah ini sampai tahun 1990 adalah Ismail di desa Matotonan, Muhsinin di desa Salapak, Abdul Hakim di desa Rokdog, Ja'far Nasution di desa Sarasau dan Salim di desa Saliguma. Selain Abdul Hakim (da'i PP Muhammadiyah), mereka adalah pada da'i dari Baitul Makmur Medan yang sebelumnya telah bertugas di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Selain itu ada da'i yang telah menyatu dengan masyarakat Mentawai (telah menikah dengan putri Muara Siberut) yaitu Saudara M. Idris Batubara. Jumlah tenaga da'i yang ada sekarang, masih dirasa kurang memadai, dibanding dengan jumlah ummat Islam yang ada di daerah ini. Di samping daerah yang terpisah-pisah, juga

Nuansa Kehidupan Islami

84

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

medan yang cukup sulit. Selain itu juga perlu kiranya dibuatkan bagi mereka tempat tinggal dan biaya hidup sehari-hari yang memadai.

DAKWAH ILALLAH DI PEMUKIMAN

Sejak tahun 1975, Departemen Sosial telah membuat suatu program pembuatan rumah bagi penduduk asli Mentawai yaitu PKMT (Proyek Khusus Masyarakat Suku Terasing). Proyek ini antara lain membuat perumahan dan lahan usaha, berupa lahan kering dan sawah yang masing-masing seluas 1 ha. Penyebaran proyek ini dapat digambarkan sebagai berikut: di desa Mailepet 100 KK, Saliguma I dan II 200 KK, Katurai 100 KK,

Nuansa Kehidupan Islami

85

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sarasau 100 KK Munthei 200 KK, Puro I dan II 200 KK, Malimanuk 100 KK dan Madobak 100 KK. Penduduk desa Saliguma I berasal dari Sarabua, Limuk, Guluguk dan Malibabak yang menyebabkan masing-masing desa ini menjadi kosong. Desa Saliguma II dihuni oleh penduduk yang berasal dari Silaoinan Hulu dan Silaoinan Tengah. Desa Munthei dihuni oleh penduduk yang berasal dari Siberut Hulu, Tateburu, Somemek dan Kulukubu. Desa Sarasau dihuni penduduk dari Sumangket dan Puro I dan II penduduknya berasal dari Sakelo dan penduduk yang tidak tertampung di tempat penampungan yang lain. Desa Malilimuk dihuni penduduk dari Malilimuk dan Mabukuk. Sebelumnya, selama proyek Otorita telah pula dibangun resettlement di dusun Pasakiat, yang diperuntukkan bagi penduduk Pasakiat. Untuk desa Madobak ditempati oleh penduduk yang berasal dari Madobak dan Ugai. Desa atau dusun yang penduduknya telah pindah, menjadi kosong dan tidak berpenghuni. Maka terjadilah perubahan peta yang amat mencolok. Desa/dusun Sarabua, Limuk, Guluguk, Malibabak, Silaoinan Hulu dan Tengah, yang sebelumnya terdapat di peta Saliguma, sekarang tidak ada lagi. Siberut Hulu (desa lama), Tateburu, Samemek dan Kulukubuk (dulu tanah ulayat Siberut Hulu), sekarang hilang dari peta dan menjadi desa Munthei. Sumangkat (kampung lama Sumangkat) tidak ada lagi dalam peta, hanya hutan belantara. Penduduknya telah pindah ke Sarasau. Begitu pula dengan desa Sakelo, sudah tidak ada lagi, pindah ke Puro I dan II, dekat dengan Muara Siberut. Dan Mabubuk pindah ke Malilimuk (selatan Katurai). Sebelum Indonesia merdeka, di Siberut Selatan terdapat 30 kampung, kemudian dijadikan 10 desa dan dibagi dalam beberapa dusun. Maka tidak jarang sebuah dusun hanya dihuni oleh 20 KK atau paling banyak dihuni oleh 100 sampai 200 KK. Yang terbanyak hanya di desa Pasakiat Taileleu (paling selatan), yang didiami oleh 2.000 penduduk (tahun 1990), karena penduduknya tidak pernah pindah. Masalah yang timbul dari program resettlement adalah, ada penduduk yang di tempat asalnya beragama Islam, namun setelah pindah menjadi non-Islam. Kemungkinan hal ini telah terjadi pemurtadan di desa awalnya menjelang perpindahan. Sebagai

Nuansa Kehidupan Islami

86

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

contoh di Sakelo, Tateburu dan Samemek. Di sinilah peranan penting para juru da'wah, agar selalu berada di tengah-tengah ummatnya untuk membina dan memberikan da'wah Islam. Di desa-desa yang baru tumbuh, ada desa yang sama sekali tidak ada penganut Islamnya. Antara lain desa Saurmanuk, Puro I, Puro II dan Malilimuk. Walaupun di desa Pasakiat Taileleu jumlah ummat Islam sedikit, namun ada sebagian penduduk yang beragama Protestan ingin masuk Islam. Yang menjadi kendala adalah tidak adanya tenaga da'wah. Inilah masalah utama yang sangat membutuhkan uluran tangan dari segenap ummat Islam di manapun.

Saibi Samokop
Saibi Samokop terletak paling atas Kecamatan Siberut Selatan, berbatasan dengan Siberut Utara. Boat dengan penumpang 5 orang kembali menembus ombak. Singgah sejenak di pulau Bugei, pulau yang tidak berpenghuni, hanya sebagai persinggahan para nelayan. Pulau berpasir putih dengan kerang yang berserakan, dikelilingi pohon bakau yang subur. Dan anak ikan bermain, mengelompok, sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan. Subhanallah. Pulau Bugei hanya berjarak 1,5 jam perjalanan dan Muara Siberut. Kami singgah ke sini karena boat yang kami pakai harus ditambah olinya. Sekedar berjaga-jaga agar tidak mengalami kesulitan dalam pelayaran. Dan kesempatan ini kami gunakan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Bekal nasi memang sudah dipersiapkan sebelum meninggalkan Muara Siberut. Perjalanan diteruskan kembali dengan melintasi Teluk Malibabak. Ombaknya yang demikian besar menerpa karang. Dengan menyusuri pantai pulau Panjang, akhirnya tibalah kami di Muara Saibi. Sebelum tahun 1981, penduduk Muara Saibi tinggal di tepi pantai. Namun sekarang mereka pindah ke arah daratan sejauh 1,5

Nuansa Kehidupan Islami

87

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

km, karena ombak yang kurang bersahabat telah mengikis pantai mereka. Pantai yang banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa, sekarang tinggal tunggulnya saja. Hanya ada satu-dua rumah yang tersisa di tepi pantai. kecuali rumah nelayan. Permukiman penduduk sekarang cukup aman. Tempatnya agak tinggi di kaki bukit yang banyak ditumbuhi oleh pohon cengkeh. Fungsi pantai sebagai tempat penimbunan manau dan rotan yang merupakan hasil hutan. Hasil hutan menjadi mata pencaharian utama masyarakat di sini. Satu-satunya mushalla dari kayu yang dulu dibangun dengan susah payah atas swadaya masyarakat, sekarang dipindahkan agak ke dalam. Di sinilah anak-anak belajar mengaji dengan bimbingan seorang perantau dari Padang Sidempuan yang telah berusia lanjut, Bapak M. Yusuf Hasibuan. Shalat Jum'at tetap dilakukan secara teratur setiap minggu. Wirid mingguan juga dilakukan setiap malam Jum'at. Jumlah ummat Islam di sini hanya 60 KK (tahun 1990). Di desa ini terdapat sebuah gereja Protestan yang megah dan bagus, dipimpin oleh seorang pendeta asli Mentawai, yang menetap di sebuah rumah pendeta yang cukup bagus untuk ukuran di Mentawai. Terletak di samping gereja. Di sini juga terdapat gereja Katolik yang besar, namun belum sempurna pembangunannya (tahun 1990). Di desa ini juga terdapat sebuah SD Negeri dengan sarana Posyandu dan Puskesmas Pembantu. Seorang guru SD bernama Syakir asal Pariaman dan anaknya seorang guru agama Islam merupakan pionir-pionir pembina ummat Islam di sini. Ada seorang pedagang muda yang sangat terpaut hatinya untuk membangun Islam di sini, yaitu Saudara Buyung asal Tiku. Beliau selalu mendorong untuk membangun Islam. Pada 1986, masyarakat di sini menghibahkan tanah untuk pembangunan masjid yang baik. Hal ini untuk mengimbangi gereja yang megah. Telah diusahakan untuk mencetak batu bata dari pasir dan semen, namun karena terlalu lama masa berlalu, sehingga bahan-bahan itu tidak dapat digunakan lagi. Masyarakat sangat mendambakan sebuah masjid yang memadai, berukuran 10x10 m, namun masalah dana selalu menjadi kendala14).
14
)

Pada 1992 telah dibangunkan di sini oleh DDII sebuah masjid ukuran 10 x 10 m 2 bernama Masjid Istiqamah.

Nuansa Kehidupan Islami

88

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Untuk membangun masjid, partisipasi masyarakat di sini tidak disangsikan lagi. Rasa kegotongroyongan mereka sangat tinggi sekali. Yang mereka butuhkan hanya semen, besi, paku dan atap dari seng (bahan-bahan ini tidak diperoleh di daerah mereka). Batu dapat mereka kumpulkan dari daerah sekitarnya. Sedangkan kayu bisa dibeli di sini. Karena mereka umumnya adalah para nelayan, bukan perimba yang dapat mengolah kayu untuk membuat rumah. Sebuah masjid dengan ciri khas Islam, berqubah lengkap sangat mereka idam-idamkan. Masyarakat di sini sangat membutuhkan seorang tenaga pembina (da'i). Mereka tidak keberatan untuk menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari untuk da'i, yang tentu saja sesuai dengan tingkat kemampuan mereka secara umum. Beberapa tahun yang lalu sebelum tahun 1990, di sini ada serorang da'i berasal dari Medan (Baitul Makmur), bernama Saudara Firdaus. Tetapi tidak bertahan lama, hanya dua bulan. Dia tidak mampu bertahan, karena kondisi alam dan hubungan yang demikian sulit. Pengakuan dan harapan ummat Islam di Saibi Samokop sangat sederhana dan cukup menyentuh perasaan. "Kami tidak mengharapkan bantuan apa pun, kami tidak mengharapkan bantuan sarung atau lainnya, yang kami butuhkan hanya dua, guru dan masjid tempat kami beribadah," demikian ungkapan mereka. Dengan kalimat terakhir ini, kami (rombongan DDII), meningggalkan desa ini setelah menitipkan beberapa Juzz Amma yang kami bawa dari Tanah Tepi, untuk selanjutnya menuju desa Saliguma.

Saliguma
Saliguma merupakan nama desa baru, terletak di pantai timur Kecamatan Siberut Selatan. Daerah ini dibangun oleh Departemen Sosial melalui Pemukiman Khusus Masyarakat Suku Terasing (PKMT). Saliguma berasal dari gabungan empat nama desa, yaitu Sarabua (Sa), Limuk (Li), Guluk-guluk (Gu) dan Malibabak (Ma), yang kemudian digabung menjadi Saliguma. PKMT terdiri dari

Nuansa Kehidupan Islami

89

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Saliguma I dan Saliguma II, dengan jumlah bangunan sebanyak 200 buah rumah. Saliguma cepat berkembang karena di sini terdapat sebuah perusahaan kayu yaitu PT. CPPS. Di sini terdapat sebuah masjid yaitu masjid Al Hidayah. Masjid ini dibangun atas swadaya masyarakat, terutama ummat Islam di Muara Siberut, juga mendapat bantuan kayu dari ummat Islam yang bekerja di perusahaan perkayuan tersebut. Ummat Islam di sini dibina oleh da'i Salim dari Medan, dan telah bertugas sejak tahun 1986. Pembinaan ummat Islam di sini sudah dimulai sejak tahun 1978, semasa para muallaf masih mendiami desa lama mereka. Ummat Islam (muallaf) di sini berjumlah 200 orang atau 52 KK. Kegiatan keagamaan mereka cukup pesat. Ibadah Jum'at terpelihara dengan baik. Wirid dan pengajian setiap Kamis malam, dan setiap malam pengajian untuk anak-anak. Kegiatan-kegiatan ini praktis terhenti bila da'i sedang tidak ada di tempat. Masyarakat di sini tergolong miskin, kadang-kadang dengan terpaksa para da'i bersama-sama penduduk pergi ke hutan untuk mencari bekal hidup. Kalau mendapat sedikit hasil hutan, maka dengan hasil itu mereka membeli minyak tanah untuk menerangi masjid di malam hari. Sungguh amat menyedihkan. Dedikasi para da'i sangat berperan sekali di daerah ini untuk membina para muallaf. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari hasil infaq atau sadaqah mereka, sebab mereka sangat kesulitan sekali dalam hal ekonomi. Untuk itu, mereka sangat membutuhkan sekali uluran tangan dari kita. Masjid berukuran 10x10 m telah selesai dibangun tahun 1988, setelah terbengkalai selama 6 tahun. Sudah ada amplifier, namun tikar untuk shalat masih kurang sekali. Hanya terdapat dua lembar tikar, dan di atas tikar itulah mereka melakukan segala aktivitas. Sumber air di sini sangat melimpah yang berasal dari mata air perbukitan di sekitar desa. Untuk masa yang akan datang perlu kiranya dibangun sebuah tempat untuk berwudhuk. Demikian pula rumah untuk da'i. Di desa ini terdapat penduduk yang beragama Katolik sebanyak 500 orang (tahun 1990). Dibina oleh pastor dari Muara Siberut dua kali dalam satu bulan. Gerejanya masih sederhana.

Nuansa Kehidupan Islami

90

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pemimpin Katolik di sini bemarga Pasaribu dari Tapanuli yang juga seorang guru SD Negeri di Saliguma. Setelah terlebih dahulu memberikan tanda mata kepada para muallaf, maka kami pun berangkat meninggalkan Teluk Saliguma. Hembusan angin mulai terasa dingin. Deru mesin boat terasa berdendang di tengah hempasan ombak yang menerpa dinding perahu yang kami tumpangi. Bulan sabit seolah turut menemani perjalanan kami kembali ke Muara Siberut. Pelayaran dari Saliguma ke Muara Siberut memakan waktu 3 jam perjalanan laut. Waktu perjalanan yang cukup panjang untuk menerawang, merenungkan betapa ummat Islam di dua desa ini cukup menderita dan mereka benar-benar sangat memerlukan bantuan kita semua. Jika kita melihat dengan kaca mata da'wah, pengorbanan dan pengabdian para mujahid da'wah di tempat terpencil ini dengan segala keterbatasannya, patutlah kita memberikan acungan jempol dan salut. Kalau orang bertanya, "Bermanfaatkah bantuan untuk Mentawai?" Sebagian mulai terjawab, niscaya akan bermanfaat, tergantung pada apa dan di mana bantuan itu kita berikan. Pemilihan lokasi dan jenis bantuan yang akan diberikan, akan memberikan arti yang sangat besar bagi ummat Islam di desa ini. Tidak selamanya beras dan makanan lebih baik dari pada tikar atau peralatan lain. Bahkan mungkin minyak tanah lebih besar artinya dari pada pakaian. Setelah sekian lama kami berlayar, dari kejauhan mulai kelihatan lampu berkelap-kelip di mulut Muara Siberut menyambut kepulangan kami. Sungguh indah, Subhanallah.

Nuansa Kehidupan Islami

91

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

SEMENANJUNG KATURAI
Oleh : H. Mas’oed Abidin
Pagi itu hari amat cerahnya. Matahari mulai menampakkan wajahnya dari balik cakrawala. Kabut yang tadinya menyelimuti hutan di sekitar Muara Siberut, mulai menipis dihalau oleh panasnya matahari pagi. Secepat langkah penduduk Mentawai meninggalkan uma mereka menuju ladang, di rimba belantara untuk menebang pisang atau sagu untuk makanan mereka. Sikalabai (= ibu-ibu, bahasa Mentawai) mulai merangkuh dayung, menyusuri anak sungai, mencari ikan atau kerang untuk bekal hidup hari ini. Perahu kami pun menderu membelah sungai Siberut meninggalkan muara menuju utara. Kemudian menerobos terusan buatan ke arah barat menuju Sarasau. Sarasau terletak di semenanjung Katurai, daerah selatan pulau Siberut. Daerah ketiga yang akan dikunjungi oleh Tim DDII pada hari kedua. Jalan yang kami lalui untuk sampai ke Sarasau, merupakan jalan perintis masa lalu. Jalan ini memutar ke arah selatan menyusuri pantai yang mengitari semenanjung Katurai. Dari mulut teluk Katurai, terus ke utara dan barulah sampai di Katurai. Perjalanan ini memakan waktu hampir 10 jam perjalanan perahu. Sekarang jarak yang ditempuh bisa lebih pendek karena adanya terusan buatan. Terusan ini diberi nama Terusan Pastor yang dibuka pada tahun 1988. Ide pembuatan terusan ini memang berasal dari pastor Katolik Muara Siberut. Dan pembuatan terusan ini dikerjakan oleh jemaat Katolik dari Katurai. Suatu karya yang cukup berarti bagi masyarakat yang hanya mengandalkan dayung dan sampan. Kelihatan di sini, bagaimana pentingnya daerah Katurai di mata missionaris. Mereka melihat daerah ini cukup potensial, sehingga perlu dibina secara kontiniu. Pada saat mulai memasuki mulut sungai Siberut saja, pandangan kita telah tertumbuk pada kompleks gereja Katolik Siberut, dengan segala fasilitas yang cukup

Nuansa Kehidupan Islami

92

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

memadai. Berdekatan dengan kompleks ini, terdapat sebuah gereja Protestan dan sebuah gereja Katolik baru yang cukup megah serta Sekolah Dasar Santa Maria yang dilengkapi dengan asrama putri. Khusus untuk menampung anak-anak dari pedalaman. Kompleks ini juga dilengkapi dengan sebuah dermaga khusus, dan beberapa boat siap pakai dalam sebuah hanggar terkunci. Dan yang paling menarik, di sini terdapat sebuah pabrik pengolahan sagu mini, sebagai bahan makanan anak-anak yang tinggal di asrama. Dari sini kita lihat adanya suatu perencanaan jangka panjang, mengkristenkan Mentawai. Selain menjangkau semua liku-liku pedalaman, ada beberapa daerah yang mendapat perhatian khusus oleh pihak Katolik. Di antaranya adalah Katurai, dusun yang bersebelahan dengan Sarasau. Di Katurai terdapat sebuah gereja Katolik yang cukup bagus. Dari desa ini, dipilih putra-putra terbaik untuk dididik di SPG Xaverius di Padang dan kemudian diangkat menjadi guru di daerah pedalaman Mentawai. Di antaranya adalah Robertus yang pada tahun 1990 menjabat sebagai kepala sekolah di Rokdog (wilayah Madobak). Di samping sebagai kepala sekolah, ia juga berfungsi sebagai pembina masyarakat Katolik di Rokdog. Katurai terletak di persimpangan sungai Lepegat dan sungai Tiop yang bermuara di Teluk Katurai yang indah dan tenang. Sungai Lepegat dahulu ramai dilalui sampan penduduk untuk mencapai dusun Sumangkat. Kini dusun itu telah kosong, karena penduduknya dipindahkan ke Sarasau. Pada tahun 1990, Sarasau dihuni oleh 80 KK penduduk asli Mentawai. Di antaranya terdapat 20 KK yang beragama Islam. Di sini didirikan sebuah masjid berukuran 10x10 m, yang dibangun atas swadaya masyarakat dan bantuan proyek pembangunan rumah Depsos pada tahun 1980. Dan baru selesai pada tahun 1986. Masjid ini bernama masjid Nurul Iman Sarasau. Pada saat itu, di masjid hanya terdapat sebuah amplifier. Belum mempunyai loteng, tikar hanya selembar dan hanya memiliki sebuah lampu dinding sebagai penerang untuk pengajian anak-anak di malam hari15).

15

)

Tahun 1997, Masjid ini mulai direnovasi dengan bangunan permanen oleh DDII berukuran 12 x 14 m2

Nuansa Kehidupan Islami

93

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sejak tahun 1987, di Sarasau tinggal seorang mujahid da'wah dari Baitul Makmur, Yayasan Ishlah Medan, yaitu Saudara Ja'far Nasution. Dialah yang membina masyarakat Islam di sini. Hampir sama dengan di Saliguma, da'i di daerah ini harus berjuang keras mencari tambahan penghasilan untuk menyambung hidup. Hampir satu tahun ia tidak mendapatkan bantuan apa-apa16). Ummat Islam dan para pemuka masyarakat Islam di Muara Siberut banyak memberikan bantuan kepada Saudara Ja'far Nasution. Bantuan itu berupa beras atau lauk-pauk, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ummat Islam di sini termasuk yang taat dalam menjalankan perintah agama. Keterpaduan antara da'i dengan masyarakat Sasareu (pendatang dari Tanah Tepi) di Muara Siberut, telah terjalin dengan baik. Tantangan yang demikian berat membuat mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Terutama dengan melihat gelagat pihak Katolik yang sangat intensif membina ummatnya yang baru. Yang diharapkan oleh mujahid da'wah di sini sebenarnya tidak banyak. Minyak tanah sebanyak 30 l setiap bulannya untuk penerangan di masjid, lampu strongking dan tikar untuk shalat. Rasanya berat bagi masyarakat Islam Muara Siberut yang masih tergolong dhuafa untuk terus-menerus mensuplai kebutuhan tersebut secara rutin. Uluran tangan dari para muhsinin di seberang pulaulah yang ditunggu-tunggu. Di akhir kunjungan kami ke desa Sarasau ini, kami hanya bisa memberikan Juz Amma sebagai penyambung hati untuk anak-anak muallaf yang rajin mengaji. Matahari sudah mulai condong ke barat. Mengingat sulitnya jalan yang akan kami tempuh, karena banyak bergantung pada pasang naik dan turun air laut, maka kami pun meninggalkan desa Sarasau dengan hati yang cukup risau.

16

)

Mulai 1415 H, Ja’far Nasution mendapatkan bantuan dari IIRO

Nuansa Kehidupan Islami

94

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MENEMBUS PEDALAMAN SIBERUT
Oleh: H. Mas’oed Abidin
Jalur sungai Siberut dari muara sampai hulu, akhir-akhir ini ramai dilalui boat dan perahu mesin tempel. Terutama untuk membawa rombongan turis dari Eropa menuju pedalaman Mentawai. Setiap kapal yang laga jangkar di Muara Siberut, pasti akan ada turis asing yang turun. Tujuan tiada lain adalah daerah pedalaman Mentawai. Mereka ingin melihat kehidupan Sikalalegat (orang asli Mentawai), berbaur dengan mereka dalam beberapa hari. Di Siberut Hulu ini, bermuara dua buah anak sungai, yaitu sungai Silaoinan di sebelah kanan, yang hulunya bukit-bukit di Masaba dan Alitok di Siberut Utara. Satu lagi di sebelah kiri, yaitu sungai Sararekat yang menembus perbukitan sampai ke tirioinan (mata air), dekat Peipejat dan Simatalu di Siberut Utara. Pada jalur sungai Silaoinan inilah terletak desa Salappa. Dan di hulunya terdapat dusun Silaoinan, yang penduduknya telah dipindahkan ke desa Munthei (di Siberut Hulu) bersama-sama penduduk desa Tateburu dan Samemek. Sedangkan dari anak sungai Sararekat ke arah hulu, masih didiami oleh Sikalalegat pada dusun-dusun yang cukup ramai. Sungai Sararekat menembus tiga wilayah, yaitu 1) Madobak yang

Nuansa Kehidupan Islami

95

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

terdiri dari dusun Rokdog, Madobak dan Ugai, 2) Matotonan dan 3) Sagalubbek, yang terlebih dahulu melalui pedalaman Monga Buttui. Di Sagalubbek masih terdapat satu uma dari suku Sekudai, diperkirakan jumlahnya tinggal 30 orang (tahun 1990). Suku yang masih berpegang pada Arat Sabulungan (adat lama Mentawai). Pada masa pemerintahan Gubernur Harun Zein, kepala suku Sekudai ini pernah dibawa ke Padang untuk digunting rambutnya, dan sebelumnya diberi hadiah seekor kerbau. Sekarang kerbau itu telah berkembang biak, namun rambut kepala suku itu panjang kembali dan tidak pernah dipotong. Dewasa ini perkampungan suku Sekudai jarang didatangi, kecuali oleh orang-orang tertentu saja, oleh sesama suku Sekudai sendiri yang masih memakai Arat Sabulungan, hanya memakai cawat, rambut panjang dan menggunakan ikat kepala. Menurut catatan yang ada, suku Sekudai berasal dari Monga Buttui, pecahan dari Ugai Madobak.

SALAPPA
Salappa merupakan desa tua di hulu sungai Siberut. Terletak di pinggir sungai Silaoinan. Desa ini berpotensi untuk berkembang di masa datang. Dusun Silaoinan Hulu dan Silaoinan Tengah yang terletak di hulu sungai dan sebuah dusun lagi yang terletak di hilirnya yaitu dusun Tateburu, pada zaman dulu ramai dihuni oleh penduduk. Sekarang dusun ini telah kosong, karena penduduknya telah dipindahkan, di antaranya ada yang pindah ke Salappa. Sebagai desa tua, Salappa telah dihuni oleh SIKALALEGAT (orang asli Mentawai) sejak nenek moyang mereka. Di sini terdapat sepuluh suku. Rumah-rumah mereka tersusun teratur dan rapi. Masyarakatnya ramah dan bersahabat, sebagian besar penduduknya belum dijamah oleh kebudayaan dari luar, terutama yang generasi tua. Di sini, keaslian Mentawai masih terlihat dengan jelas. Tata cara dan seluruh aktivitas sehari-hari, masih menggambarkan masyarakat yang sangat tradisional. Sebagian generasi mudanya ada yang telah beragama Islam atau beragam Kristen. Generasi muda inilah yang telah membudayakan berpakaian dengan baik. Sebagian besar dari

Nuansa Kehidupan Islami

96

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

generasi tua terdaftar sebagai penganut Kristen, walaupun mereka tidak pernah pergi ke gereja. Di desa ini terdapat sebuah gereja Katolik yang cukup besar, yang terletak di atas puncak bukit di ujung desa. Gereja ini juga berfungsi sebagai Sekolah Dasar Santa Maria, cabang dari Muara Siberut. Gurunya berjumlah tiga orang, seorang perempuan berasal dari Tapanuli, sedangkan yang dua orang lagi dari Jawa dan Nias. Murid-murid di sini dididik sampai kelas V, sedangkan kelas VI dipindahkan ke Muara Siberut. Di desa ini SD Santa Maria merupakan satu-satunya sekolah. Pelajaran agama yang diberikan hanyalah agama Kristen. Itulah sebabnya, anak-anak Islam tidak mau belajar di sekolah ini. Banyak dijumpai anak-anak Islam pada waktu jam belajar hanya tinggal di rumah atau bermain dengan sesama mereka. Pada akhir 1988, telah diusahakan untuk membangun sebuah mushalla. Pembangunannya secara gotong royong. Bahan-bahan bangunan utama dibeli dengan sumbangan ummat Islam di Muara Siberut. Dan sebagian lagi bantuan dari Yayasan Ibu Sumatera Barat sebesar Rp 650.000,-. Mushalla ini beratap seng berukuran 10 x 10 m2. Sebagian tiangnya berasal dari sumbangan ummat Islam di Salappa. Lantainya terbuat dari papan sedangkan dindingnya juga terbuat dari papan yang dipasang susun sirih. Walaupun bahan-bahan yang digunakan kurang memadai, namun dorongan untuk terus membangun merupakan motivasi yang perlu mendapat dukungan. Hal ini disebabkan pihak Kristen di sini telah mempunyai gereja yang cukup baik, sementara ummat Islam belum memiliki fasilitas ibadah yang memadai. Di samping itu, untuk mendapatkan tanah sebagai tempat bangunan mushalla, juga amat sulit dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Kejadian ini berawal dari perselisihan dua saudara yang berlainan agama. Saudara Sunaryo Sabelakki (ketua muallaf Islam Salappa, anak kepala suku yang memiliki tanah ulayat) berselisih dengan kakaknya yang beragama Katolik. Orang tuanya yang masih beradat Arat Sabulungan sering mendapat bantuan dari pastor. Kakak Saudara Sunaryo, yang bernama Thomas Sabalekki ini yang menyerahkan tanah untuk dibangun gereja, yang sebelumnya mendapat izin dari orang tuanya. Thomas Sabalekki sebagai anak laki-laki tertua berhak mewakili Uma Siburu (orang

Nuansa Kehidupan Islami

97

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

tua-tua) sangat disayang oleh Pastor Monacci Ottorino. Thomas Sabalekki pernah dibelikan babi oleh pastor untuk diternakkan. Sunaryo berkeinginan pula mendapatkan tanah untuk membangun sebuah mushalla. Kakaknya tidak mau menyerahkan, tentu saja sebelumnya telah mendapat bisikan dari pihak gereja. Waktu itu terjadi pertengkaran dan hampir saja terjadi perkelahian. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1987. Akhirnya diambil jalan tengah. Tanah untuk pembangunan mushalla bisa diserahkan, asal seluruh tanaman yang ada di atasnya berupa pisang, kelapa dan lain-lain harus diganti rugi. Biaya penggantiannya juga tidak tanggung-tanggung. Serumpun pisang, walaupun belum berbuah harus dibayar Rp 5.000,-. Total biaya penggantian mencapai Rp 150.000, pada tahun 1990 belum bisa dilunasi. Sehingga di sekitar mushalla masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan yang tidak bisa diganggu gugat sebelum ganti rugi dilunasi. Lokasi mushalla juga tidak begitu strategis seperti halnya lokasi gereja. Letaknya di belakang perumahan penduduk, namun masih di sekitar lingkungan perumahan ummat Islam. Besar dan berat tantangan jihad di desa Salappa ini. Setelah mushalla selesai dibangun tahun 1989, langsung dapat berfungsi dengan baik. Shalat Jum'at dan wirid pada malam Jum'at berjalan dengan baik. Di desa ini terdapat seorang da'i yang bernama Muhsinin Batubara, berasal dari Sibolga, yang merupakan utusan dari Baitul Makmur Medan. Telah bermukim di sini sejak tahun 1986. Saudara Muhsinin inilah yang membina ummat Islam di sini dengan penuh ketabahan. Sebelum ada mushalla, Muhsinin Batubara tinggal di rumah Sunaryo Sabelakki. Dari sinilah dia mendatangi setiap rumah penduduk pada malam hari secara berkelompok. Lima hari dalam seminggu ia mengajarkan agama Islam, masing-masing kelompok mendapat giliran satu malam dalam seminggu. Dia memilih cara ini karena pada siang hari masyarakat pada umumnya mencari nafkah di hutan yaitu mencari rotan, manau, gaharu, sagu, atau berburu dan kadang-kadang sampai berhari-hari. Dengan pembinaan secara kelompok ini memungkinkan jadwal mencari nafkah tidak terganggu. Sementara itu anak-anak juga dididik mempelajari agama Islam. Salah satu da'wah bil hikmah yang nampaknya cukup memberikan hasil.

Nuansa Kehidupan Islami

98

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pada saat ini, anak-anak belajar mengaji di dalam mushalla, jumlahnya hanya 15-20 orang. Waktu belajar di sore hari. Pagi hari kebanyakan mereka membantu orang tua. Untuk belajar malam hari tidak memungkinkan, karena tidak ada penerangannya. Dana untuk membeli minyak tanah tidak ada. Bantuan minyak tanah sebanyak 30-40 liter per bulan sangat berarti bagi mereka. Pelajaran yang diberikan tidak hanya belajar Juz Amma atau Al Quran dan tuntunan agama Islam, tetapi juga pengetahuan Sekolah Dasar. Belajar menulis, membaca dan berhitung bagi anak-anak muallaf yang tidak mau sekolah di SD Katolik. Dalam kegiatan-kegiatan agama, sangat sulit mengumpulkan jama'ah muallaf yang sedang berada di ladang. Bukan mereka tidak mau mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi sarana untuk mengumpulkan yang tidak ada. Mushalla ini sangat membutuhkan sebuah pengeras suara sebagai sarana untuk memberitahukan kepada jama'ah bila ada kegiatan. Kalau di gereja, mereka mempunyai lonceng sebagai alat untuk mengumpulkan jemaat mereka. Selain itu, mushalla ini juga membutuhkan tikar untuk shalat. Selama ini hanya ada dua buah tikar, itu pun yang satu sangat pendek. Tidak cukup untuk dua shaf. Sebenarnya mushalla ini belum bisa dikatakan selesai, karena belum ada loteng, belum ada pintu dan jendela, dan belum ada tempat untuk berwudhuk. Namun begitu telah berfungsi sebagimana mestinya. Di samping pembangunan mushalla, pembangunan rumah untuk da'i atau guru juga perlu mendapat perhatian di daerah pedalaman ini. Mengingat banyak anak-anak yang tidak sekolah di Santa Maria, yang belajar kepada da'i. Untuk membangun sebuah rumah, sudah tersedia bahan-bahan seperti seng (29 lembar) dan tiang, sedangkan untuk tenaga, bisa dilakukan secara gotong royong. Mereka hanya membutuhkan bantuan berupa paku, semen dan dinding. Untuk memulainya tentulah dibutuhkan dana, sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kesulitan. Apalagi da'i Muhsinin Batubara telah didampingi seorang istri yang bernama Boru Ginting dari Tanah Karo. Ia bekas pelajar putri Kauman Padangpanjang. Di samping sebagai ibu rumah tangga, ia juga membantu tugas sang suami, dengan memberi pelajaran kepada anak-anak sambil

Nuansa Kehidupan Islami

99

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

mengasuh anak di rumah. Saat ini (1990) mereka telah dikaruniai dua orang anak. Bila kita amati lebih seksama, ummat Islam bisa bertahan karena kegigihan para pemuda Islam di sini. Jumlah ummat Islam di sini hanya 25 KK, sedangkan 50 KK adalah Katolik. Namun karena para pemuda Islamnya cukup disegani, di samping mereka kebanyakan adalah putra kepala suku, mereka juga sangat komitment dengan Islam. Seperti Saudara Darmadi, Timotius dan teman-teman seangkatannya, mereka adalah fityatun amanuu birabbihim. Untuk jangka panjang, pembangunan ekonomi ummat Islam di sini perlu diperhatikan. Di Salappa dapat dikembangkan perkebunan kelapa hibrida. Ummat Islam di sini mau menanam kelapa masing-masing dua batang, satu untuk pribadi dan satu lagi untuk kegiatan da'wah. Mencari tanah untuk perkebunan, tidak sesulit mencari tanah untuk pembangunan mushalla. Hal ini karena tanah untuk perkebunan letaknya di luar kampung atau di seberang sungai. Tanah di sini masih sangat luas. Usaha ini diharapkan dapat menjadi kenyataan di masa datang. Sementara itu di pihak Kristen, dengan Delegasi Sosialnya menyediakan kredit pembelian manau. Kegiatan ini dilaksanakan oleh orang-orang Tapanuli dan Nias. Usaha ini cukup pesat perkembangannya, karena dananya didukung oleh gereja. Silaturrahmi Dengan Ummat Islam di Salappa Pada malam hari sesudah shalat Isya', diadakan pertemuan dengan muallaf. Pertemuan dari hati ke hati antar saudara seiman dan seaqidah. Walaupun yang hadir tidak banyak, namun terasa lengkap. Dari anak-anak sampai yang tua, laki-laki dan perempuan, sa sara ina (se saudara = bahasa Mentawai). Apa yang diperbuat hari ini adalah untuk hari esok, untuk anak-anak masa datang. Pelihara dan jagalah persaudaraan ini dengan baik, sebagai saudara seiman. Lengkaplah kunjungan kami ke Salappa. Suatu desa yang untuk mencapainya diperlukan perjalanan sehari, penuh dengan tantangan alam yang ganas. Kayu-kayu yang melintang di sungai

Nuansa Kehidupan Islami

100

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

dan siap untuk membalikkan perahu tanpa ampun. Namun semua tantangan itu belumlah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan penderitaan ummat Islam di Salappa. Belum berarti apa-apa bila dibandingkan dengan perjuangan para mujahid da'wah di sini, dan daerah-daerah pedalaman lainnya. “Kunjungan Bajak-bajak (= Bapak-bapak, bahasa Mentawai), ke desa kami ini, memberi harapan kepada kami, karena kami tidak ditinggalkan sendiri,” demikian ungkapan ikhlas mereka. Pada pagi hari berikutnya, hari keempat kami di Siberut, di saat pagi masih dibalut kabut, kami berangkat meninggalkan Salappa, kembali menghiliri sungai Silaoinan. Dari atas tebing sungai, Saudara Muhsinin dan jama'ah binaannya melambaikan tangan, melepas kepergian kami dengan penuh harapan yang terpendam. “Alo ita Bajak (= sampai jumpa lagi Bapak),” kata mereka, sambil tetap melambaikan tangan sampai hilang ditelan tikungan sungai.

Memudiki Sungai Sarekat Hulu
Madobak
Dalam perjalanan menuju Madobak, kami kembali mengarungi sungai Silaoinan ke arah hilir. Sungai kecil yang airnya jernih, sehingga menampakkan dasar sungai yang dangkal. Kayu-kayu banyak melintang seolah-olah menghalangi perjalanan kami. Perjalanan kami menuju ke Kuala Siberut Hulu tempat dimana Sungai Sararekat bermuara. Kami melewati dusun Tateburu yang telah ditinggalkan penduduknya. Di tengah jalan, sesekali kami berpapasan dengan perahu penduduk. Akhirnya kami sampai di hulu sungai Siberut saat matahari telah condong ke barat. Perjalanan yang lebih berat menantang di depan kami, perjalanan mencapai desa Matotonan di pedalaman Sararekat Hulu.

Nuansa Kehidupan Islami

101

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Desa Madobak merupakan sebuah desa yang terletak di dalam ulayat (=lagai) Madobak Ugai. Daerah yang terletak di tengah-tengah pulau Siberut. Termasuk dalam wilayah Kecamatan Siberut Selatan. Dikelilingi Lagai Sararekat Hulu (Matotonan), Lagai Limuk dan Guluk-guluk (Saliguma), Lagai Saumangket (Katurai), Lagai Taileleu dan Lagai Sagalubbek (Monga Buttui). Dusun ini merupakan kumpulan uma suku-suku yang terdapat di Siberut Selatan, di pedalaman Mentawai. Arat Sabulungan (= adat asli Mentawai) masih kelihatan dominan. Hampir seluruh penduduk asli masih menggunakan cawat (kabit). Rumah penduduk masih di tata menurut bentuk uma-uma. Hal ini telah menjadi daya tarik tersendiri. Di Madobak terdapat sekitar 80 orang muallaf (tahun 1990), namun kehidupan mereka telah banyak dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat asli. Tidak ada pemuka Islam yang cukup disegani di kalangan muallaf sendiri. Hal ini disebabkan, tidak adanya pembina ummat yang mampu bertahan lama di sini. Ditambah lagi arus turis yang datang 2 kali seminggu, membuat mereka lebih suka memakai pakaian asli mereka (Sikalalegat). Hanya satu-dua kelihatan anak-anak yang memakai pakaian sebagaimana layaknya, atau (Sasareu) penduduk dari Tanah Tepi. Beberapa tahun sebelum tahun 1990, Madobak merupakan tempat kepala pemerintahan beberapa desa, yaitu Rokdog, Madobak dan Ugai. Namun tahun 1990 pemerintahan desa dipindahkan ke hilir, ke dusun Rokdog. Di sini terdapat sebuah gereja yang dibangun seperti bangunan asli Mentawai (uma). Pintu-pintu tidak dikunci dan tidak dirawat dengan baik. Walaupun demikian tetap dipakai untuk kegiatan gereja setiap minggu. Banyak didatangi oleh anak-anak dan generasi muda, sementara generasi tua bergaul akrab dengan para turis dengan memakai pakaian asli mereka. Madobak merupakan tujuan utama para turis, karena di sini masih terdapat penduduk asli yang masih menggunakan cawat (kabit). Dan pemandangan inilah yang diabadikan (difoto) oleh para turis untuk dikomersilkan. Untuk sekali foto dengan berpakaian asli, mereka diberi imbalan Rp 5.000,-. Hal inilah yang menjadikan penduduk asli Mentawai menjadi pemalas dan lebih senang berpakaian asli Mentawai, daripada memakai baju, celana atau

Nuansa Kehidupan Islami

102

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

menggunting rambut. Uma (= rumah) mereka disewakan dengan bayaran Rp 3.000,- per orang setiap malamnya. Ini merupakan sumber pandapatan baru bagi penduduk asli. Dari tahun ke tahun arus wisatawan yang datang ke daerah ini terus meningkat. Pada waktu Siberut Selatan masih diperintah oleh Camat Hasan Basri (pada tahun 1981 telah diganti), hampir seluruh penduduk asli Mentawai telah dibudayakan dangan berpakaian dan bertempat tinggal sebagaimana layaknya penduduk pada umumnya (melalui program resettlement). Namun kini (tahun 1990) keadaannya sudah berubah. Setiap mendengar ada boat yang datang, mereka cepat-cepat membuka baju dan menggunakan pakaian asli mereka, untuk menjual budaya asli mereka kepada para turis melalui foto-foto mereka. Jika ada Sasareu (pendatang dari Tanah Tepi) yang akan mengambil foto mereka untuk keperluan dokumentasi, atau kenang-kenangan, tanpa malu mereka mengatakan, "Pigha biaya nia?" (= berapa dibayar?). Itulah kebudayaan baru yang ada di Mentawai. Khususnya di desa Madobak dan Ugai. Pihak pastoran nampaknya membiarkan keadaan ini, karena bagi mereka hal semacam ini tidak berarti apa-apa. Sebagaimana ditulis oleh Coronese, "Misionaris Protestan dan Katolik tidak mempunyai pengaruh untuk melenyapkan kebudayaan Mentawai" (Coronese, 1986 : hal. 34). Suatu hal yang menarik untuk dikaji, apalagi terhadap suku yang masih terasing, seperti suku-suku di Mentawai ini. Arus wisatawan terbukti berpengaruh negatif terhadap penduduk asli Mentawai. Tidak membuat mereka menjadi maju. Malahan tetap dalam keadaan terbelakang. Mereka beranggapan begitu mudahnya mencari penghasilan, dengan berpose sejenak di depan kamera. Bila ini dibiarkan terus-menerus, maka kebodohanlah yang akan menghimpit mereka. Sikalalegat Madobak tampaknya semakin tidak terkendali. Ingin tetap bertahan seperti aslinya dan dilestarikan. Hampir-hampir seperti saudara mereka, suku Sekudai di Sagalubbek. Belum banyak da'wah yang bisa dilakukan di sini, yang diperlukan adalah menyediakan tenaga pembina (da'i) yang bersedia mendatangi ke rumah-rumah penduduk. Untuk merubah cara hidup dan berpikir mereka, mungkin membutuhkan waktu yang panjang. Dan perlu kesabaran dan keuletan yang prima, sehingga mereka mau merubah sikap.

Nuansa Kehidupan Islami

103

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Suasana malam hari di desa Madobak sangat sunyi, tidak ada penduduk yang keluar uma mereka. Sesekali dari kejauhan terdengar bunyi tudukkat (= kentongan) di malam hari. Suatu alat komunikasi masyrakat Mentawai yang telah digunakan sejak dulu. Inilah keaslian Mentawai yang masih tersisa.

MATOTONAN
Matototan merupakan desa yang dikelilingi oleh sungai Matototan yang bermuaran di Sararekat Hulu. Di sini tinggal sekelompok penduduk asli Mentawai. Penduduknya ramah dan bersahaja. Kami sampai di desa ini sudah hampir Maghrib, setelah meninggalkan desa Madobak pagi hari. Orang-orang tua di Matotonan berkeyakinan, bahwa nenek moyang mereka berasal dari Simatalu (daerah pantai barat paling selatan dari Kecamatan Siberut Utara). Pada mulanya hanya didiami oleh delapan suku saja, yaitu suku Sagoilok, Satoutou, Sakabau, Sarubei, Sabulat, Satoinong, Saige Oni, dan Satutoitet. Sekarang suku-suku itu telah terpecah menjadi 36 suku-suku kecil. Nama-nama suku itu umumnya diambil dari nama orang tua atau nama kampung. Demikian penuturan seorang tua yang masih hidup di Matotonan, Bajak Toboi Kere Sabulat. Bajak Toboi Kere Sabulat (70 th) adalah orang yang pertama masuk Islam di daerah ini, yaitu sejak tahun 1950. Di saat orang Mentawai disuruh memilih salah satu agama resmi dan meninggalkan Arat Sabulungan, dan Bajak Toboi Kere Sabulat memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Ia adalah orang yang teguh memegang Islam sebagai penuntun hidupnya. Jumlah ummat Islam di desa ini pada tahun 1989 sebanyak 575 jiwa dari 816 jiwa jumlah penduduk desa ini. Selebihnya sebanyak 241 jiwa beragama Katolik. Kepala Desa Matotonan, bernama Hariadi (masih sangat muda) telah bersama-sama kami semenjak dari Muara Siberut. Demikian juga Saudara Ismail (da'i) dan istrinya yang baru kembali dari Medan, setelah meninggalkan daerah ini selama sebulan. Dengan adanya mereka telah mempermudah perjalanan perahu kami, yang sebentar-sebentar ditarik di dalam sungai yang memang

Nuansa Kehidupan Islami

104

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

airnya dangkal. Saudara Ismail yang berasal dari Asahan Sumatera Utara, telah bertugas di sini sejak tahun 1986. Telah banyak perubahan sebagai hasil karya nyatanya. Kedatangan Saudara Ismail dengan istrinya itu, segera diketahui oleh ummat Islam di sini. Tadukkut segera dibunyikan bersahut-sahutan. Di wajah mereka kelihatan kesungguhan bagaimana seorang guru yang mereka tunggu-tunggu, sekarang telah di hadapan mereka. Sejak tahun 1988, telah dibangun sebuah masjid di Matotonan, bernama masjid Abu Ubaidah Al Jarrah dan sampai laporan ini diturunkan (tahun 1990), belum selesai. Masjid ini berukuran 14x14 m. Dibangun atas bantuan dari Yayasan Al Ishlah Medan (melalui Ustadz Faruq Sanusi) sebesar Rp 5.000.000,- dan juga masih berhutang pada ummat Islam di Muara Siberut sebesar Rp 950.000,-. Bangunan ini belum berlantai dan berdinding serta belum mempunyai peralatan sama sekali. Sewaktu Tim DDII Sumbar berbincang-bincang dengan Bajak Toboi Kere, diperoleh informasi bahwa, sudah tiga kali rencana pembangunan masjid ini, namun ketiga rencana itu tidak ada yang berhasil. Pertama, pada saat 105 orang masuk Islam, direncanakan untuk membangun sebuah masjid namun gagal. Kedua tahun 1957, ketika Kecamatan Siberut Selatan masih diperintah oleh Camat Abdullah, rencana ini juga gagal (mungkin karena terjadi peristiwa daerah tahun 1958). Ketiga, pada tahun 1983, ketika 321 orang masuk Islam, direncanakan untuk membangun masjid, namun gagal dan hanya sebuah mushalla. Suatu pertanyaan spontan dan lugu, “Apakah masjid kita ini akan dijual?. Kalau tidak selesai-selesai juga, malu kita,” kata Bajak Toboi Kere, yang datang menemui kami dari jarak lebih 2 km di seberang sungai dengan langkah gontai. Demikan ungkapan yang disampaikan dengan terputus-putus kepada kami. Mushalla yang lama memang ada, namun belum punya dinding dan pintu. Dan rasanya belum pantas untuk disebut sebagai sebuah mushalla. Namun telah dimanfaatkan oleh ummat Islam di sini sebagai sarana ibadah. Di mushalla ini pula Saudara Ismail Batubara, mengajarkan Al Quran dan ilmu yang lain kepada anak-anak muallaf dengan tanpa mengenal putus asa.

Nuansa Kehidupan Islami

105

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pada saat itu muncul suatu pendapat umum, bahwa ummat Islam tidak bisa membangun. Kalimat ini menjadi buah bibir di kalangan Katolik. Untuk itulah menyelesaikan pembangunan masjid ini merupakan prioritas utama, daripada membangun masjid atau mushalla baru. Hal ini karena, 1) Terdapat seorang da'i tetap dan ia telah menyatu di hati ummat Islam di sini. Bahkan Saudara Ismail Batubara ini telah mendapat julukan Bajak Guru Saraina (Bapak guru yang sesaudara) yang merupakan panggilan untuk Saudara Ismail, 2) Jumlah ummat Islam di sini cukup banyak (575 orang) dan amat potensial untuk dikembangkan, 3) Islam telah lama masuk ke daerah ini (th 1957), 4) Masih ada tokoh yang cukup disegani yaitu Bajak Toboi Kere Sabulat dan 5) Kepala Desa seorang Islam yang taat (Saudara Hariadi). Untuk membawa bahan-bahan bangunan dari Muara Siberut ke daerah ini memang sangat sulit. Namun ini bukan berarti tidak bisa, sebab kerja sama antara penduduk asli dengan ummat Islam Muara Siberut, kesulitan ini dapat diatasi. Yang diperlukan adalah pengawasan pengiriman bahan dan pengerjaan bangunan. Di desa ini juga terdapat sebuah sekolah dasar yang dipimpin oleh Bapak Ibrahim. Di samping sebagai pendidik, beliau juga memiliki dedikasi untuk mengembangkan Islam di daerah ini. Beliau telah mengabdi di sini sejak tahun 1972. Perkembangan anak-anak dalam belajar agama Islam cukup menyentuh hati. Mereka sudah mulai lancar membaca Al Quran dan bacaan-bacaan shalat, walaupun dengan lidah yang terpatah-patah sesuai dengan lahjah Mentawai. Kalimat Assalamu'alaikum selalu bergema, sesuatu yang jarang ditemui di tempat lain yang kami kunjungi, kecuali Salappa. Kelihatan di sini telah menyatunya antara da'i dengan ummat Islam. Untuk masa yang datang, Matotonan dan Salappa merupakan dua desa yang dapat dikembangkan sebagai suatu desa percontohan yang Islami. Dan tentu saja dengan terlebih dahulu membenahi ekonomi ummat Islam. Sebagaimana hal di Salappa, ummat Islam di Matotonan juga berkeinginan untuk membuka perkebunan kelapa hibrida. Masing-masing keluarga menanam dua batang kelapa, yang satu untuk kepentingan pribadi, sedangkan yang lainnya untuk kepentingan da'wah Islam.

Nuansa Kehidupan Islami

106

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Silaturrahmi
Pada malam harinya kami mengadakan silaturrahmi di mushalla yang belum selesai dengan ummat Islam di Matotonan. Para pemuda seperti Hariadi, Ammannacop, Kere Saguru dan Gunawan, mereka telah mampu menjadi imam, memimpin adik-adik mereka. Dan mereka berkumpul membulatkan tekad untuk melanjutkan pembinaan Islam di daerah ini. Kami hanya satu malam bergaul dengan mereka. Bajak Toboi Kere Sabulat tidak pulang ke rumahnya, tetapi ikut tidur bersama kami, mengobrol sampai larut malam. Dan keesokan harinya, di pagi yang masih dingin, para muallaf mulai berdatangan untuk mengantar kepulangan kami. Sebab malamnya kami katakan, bahwa kami akan pulang pagi-pagi sekali. Terasa sekali ikatan bathin kami, tatkala mereka mendoakan kami dengan ucapan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kami saling berpelukan. Wajah Bajak Toboi Kere Sabulat yang kelihatan telah keriput, dibasahi oleh air mata. Dan tanpa terasa dada ini terasa sesak, kerongkongan menyempit, seakan-akan badan ini tidak ingin berpisah. Namun apa boleh buat, tugas di depan masih terlalu berat untuk dihadapi. Di tepi sungai, Saudara Ismail Batubara dan Ammannacop melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal. Dan perahu pun melaju meninggalkan desa mereka menuju ke Muara Siberut yang sebelumnya singgah ke Ugai, Rokdog dan Munthei.

Ugai dan Rogdog
Dusun ini terletak antara Madobak dan Matotonan, termasuk wilayah Madobak-Ugai. Di sini tidak seorang pun yang beragama Islam. Bajak Gereja (bapak gereja) di sini berasal dari Nias, bernama Petrus. Sewaktu kami sampai di sana, ia baru berangkat menuju gereja. Hari itu kebetulan hari Minggu, sehingga kami bisa melihat sejauh mana kegiatan gereja mereka di hari Minggu.

Nuansa Kehidupan Islami

107

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Gerejanya sangat sederhana, namun menurut Saudara Santosa (Kepala SD Santa Maria Ugai) dan istrinya, di sini akan dibangun sebuah gereja besar. Dananya telah tersedia sebanyak Rp 10.000.000,- untuk menambah dana bantuan dari Depag. Ugai merupakan daerah yang dibina secara intensif oleh pihak Katolik. Di sini terdapat sebuah SD Swasta Santa Maria yang berafiliasi dengan SD Santa Maria di Muara Siberut. Muridnya sebanyak 39 orang dan hanya sampai di kelas IV. Untuk kelas V dan VI, murid-muridnya dipindahkan ke SD Santa Maria di Muara Siberut. Untuk selanjutnya meneruskan pendidikan di SMP Negeri Muara SIberut atau ke Padang. Selama menempuh pendidikan di Muara Siberut, para pelajar ditampung di sebuah Asrama Putra/Putri yang dikelola oleh pastoran. Murid yang berprestasi lima besar di kelas, diberikan beasiswa sebesar Rp 2.500,- per bulan dan segala keperluannya, seperti buku-buku dan pakaian di tanggung oleh pastoran. Selama di asrama, masing-masing mereka dikenakan biaya sebanyak Rp 2.000,- per bulan. Demikian juga dengan kegiatan Delsos (Delegasi Sosial), dengan memberikan kredit listrik diesel. Kelihatannya Ugai akan terus dibina sebagai penyangga antara Madobak dan Matotonan. Rogdog ini terletak antara Siberut Hulu dengan Madobak dan termasuk ke daerah ulayat Madobak-Ugai. Kantor Kepala Desa Madobak terletak di dusun ini, karena kebetulan yang menjadi kepala desa adalah orang Rokdog. Di dusun ini terdapat sebuah Sekolah Dasar yang pada tahun 1990 dikepalai oleh Robertus, putra asli Mentawai berasal dari Katurai. Sebelum bertugas di sini, ia bertugas di Matotonan. Selain sebagai seorang pendidik, ia juga bertugas membina masyarakat Katolik di daerahnya. Satu kali dalam sebulan, daerah ini secara teratur dikunjungi oleh Pastor Monacci. Menurut keterangan Saudara Robertus, anak-anak yang telah tamat SD, dikirim ke Muara Siberut untuk melanjutkan pendidikan SMP. Selama masa pendidikan, para siswa ditempatkan di asrama milik Pastoran. Penduduk desa ini pada tahun 1990 adalah berjumlah 80 KK. Satu per tiga di antaranya adalah beragama Islam. Ummat Islam di sini dibina oleh da'i Abdul Hakim asal Jawa Timur yang merupakan utusan dari PP Muhammadiyah Jakarta.

Nuansa Kehidupan Islami

108

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di dusun ini belum ada sarana ibadah bagi ummat Islam. Membangun sebuah masjid atau mushalla tentu sangat diperlukan, namun yang lebih penting lagi harus seiring dengan pembinaan masyarakatnya. Setelah meninjau dusun ini, selanjutnya kami berdayung ke hilir sungai dan menuju desa Munthei.

MUNTHEI
Dalam perjalanan menuju Muara Siberut, sengaja kami singgah di Munthei. Munthei merupakan sebuah perkampungan yang dibangun oleh Departemen Sosial. Penduduk Munthei berjumlah 552 jiwa (tahun 1990). Dan jumlah ummat Islam hanya 32 orang. Di sini terdapat sebuah gereja Katolik yang cukup bagus. Setiap hari, pastoran dari Muara Siberut datang ke sini, karena Munthei merupakan salah satu pemasok sagu untuk pabrik mini pengolahan sagu di Muara Siberut. Hasil pengolahan sagu ini, terutama untuk konsumsi para pelajar, penghuni asrama Pastoran Siberut17). Masyarakat sudah mulai mengirim olahan sagu ini ke luar Siberut..

17

)

Pada Mei 1996, Rombongan Pakja Da’i Tk. I Sumbar, menerima pensyahadatan 61 orang muhtadin baru di Munthei ini dengan disaksikan juga oleh Kpt. Tauhid ka Bintal Ram 22 Sumbar. Bimbingan pensyahadatan dilakukan oleh Ketua DDII Sumbar (H. Mas’oed Abidin). Pembinaan selanjutnya dilaksanakan oleh da’i Idris Batu Bara bersama istrinya.

Nuansa Kehidupan Islami

109

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

POTENSI UMMAT ISLAM DI KECAMATAN SIBERUT SELATAN
Muara Siberut Kegiatan-kegiatan seperti penyantunan muallaf, pendidikan, pembinaan aqidah dan ibadah, dilaksanakan di masjid Al Wahidin Muara Siberut. Masjid ini memiliki beberapa bidang kegiatan, yaitu : bidang Da'wah (majelis taklim), bidang TPSA (ta'liimul Quran), bidang Sosial (kematian, penyantunan anak yatim), dan bidang Muallaf (pembinaan ummat Islam di pedalaman Mentawai). Masjid yang berdinding marmer alam dan berlantaikan teraso ini memiliki madrasah yang bernama Madrasah Al Jami'atul Washliyah tingkat Ibtidayah. Muridnya telah mencapai jumlah 100 orang. Dan pada tahun 1990 hanya dibina oleh dua orang guru. Madrasah ini didirikan pada tahun 1973. Dan telah memiliki 5 buah ruang belajar dan kantor. Di belakangnya masih ada lahan kosong seluas satu setengah hektar yang masih bisa dihibahkan kepada DDII. Gedung ini hanya berjarak 200 m dari kompleks Paroki Muara Siberut. Sarana yang memungkinkan untuk dibangun di atas tanah yang seluas 1,5 ha itu adalah :

1. Asrama

penampungan anak-anak muallaf melanjutkan pendidikan di Muara Siberut.

yang

ingin

2. Taman Kanak-kanak Islam 3. Gedung panti asuhan bagi anak yatim piatu. 4. Balai pengobatan. Lokasinya amat strategis, berdekatan dengan tanah lapang. Hanya berjarak 50 m dari masjid Al Wahidin, serta dekat dengan sumber air bersih. Untuk mewujudkan semua ini, perlu kerja sama semua pihak. Di sini terdapat 10 suku, 9 suku di antaranya adalah suku yang berasal dari Tanah Tepi, sedangkan satu suku lagi merupakan gabungan dari berbagai daerah. Kesatuan ummat Islam

Nuansa Kehidupan Islami

110

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

di sini sangat menentukan sekali bagi perkembangan Islam di masa datang. Dan ini pula yang merupakan kekuatan utama dan berperan cukup besar, dalam mengusahakan agar penduduk asli Mentawai tetap berpegang teguh pada Islam. Puro I dan II Proyek pemukiman masyarakat asli Mentawai yang berdekatan dengan Muara Siberut adalah Puro I, termasuk dalam wilayah desa Siberut dan Puro II yang masuk ke desa Munthei dengan jumlah penduduk masing-masing 100 KK, (tahun 1990). Proyek ini dilaksanakan pada tahun 1984. Masing-masing kompleks perumahan terdapat sebuah mushalla. Jumlah ummat Islam yang ada di Puro I waktu itu hanya 4 KK dan di Puro II 3 KK. Penduduk asli yang bermukim di sini adalah dari suku Tateburu, Samenek dan Sakelo. Pada tahun 1989, mushalla di Puro I pernah diambil oleh pihak Katolik untuk dijadikan gereja. Keadaan ini telah mengundang ketegangan antara ummat Islam Muara Siberut dengan pastor. Dan akhirnya pihak Katolik meminta maaf, setelah terlebih dahulu mengosongkan mushalla tersebut. Persoalan yang paling mendasar adalah, perlunya mendatangkan seorang tenaga da'i untuk membina ummat Islam di daerah ini. Seorang da'i yang memiliki ruhul jihad yang tinggi, tabah dalam menghadapi tantangan dan penuh pengertian. Di Kepulauan Mentawai, untuk meng-Islamkan penduduk asli, bukanlah hal yang cukup sulit. Yang paling sulit justru pembinaan selanjutnya, secara rutin dan berkesinambungan, sampai ummat Islam itu mampu mandiri. Di sinilah peran da'wah Islamiyah yang paling menentukan. Daerah Pantai Barat Desa Pasakiat Taileleu dan Sagalubbek, dua desa yang terletak di pantai barat dan selatan Kepulauan Mentawai, selama ini belum tersentuh da'wah Islamiyah. Hal ini karena sulitnya hubungan dan jarak yang sangat jauh. Pembinaan hanya dilakukan oleh para nelayan dari Tanah Tepi dan pedagang-pedagang dari Muara

Nuansa Kehidupan Islami

111

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Siberut. Seperti halnya Islam pertama kali masuk ke Kepulauan Mentawai18). Desa Sagalubbek berpenduduk 674 jiwa, dengan sebaran agama, 541 jiwa Katolik, 41 jiwa Protestan dan 30 jiwa masih menganut Arat Sabulungan. Dan selebihnya, 62 jiwa beragama Islam. Pada tahun 1989, ummat Islam di sini telah berhasil membangun sebuah masjid sederhana berukuran 10x10 m2, murni swadaya. Walaupun kepala desanya beragama Katolik, namun ia memberi banyak peluang bagi kegiatan ummat Islam di sini. Banyak anak-anak yang memilih Islam sebagai agama piihannya. Desa lain yang terletak di pantai barat adalah Pasakiat Taileleu. Wilayahnya sangat luas. Dari dahulu, desa ini merupakan daerah rebutan antara Katolik dan Protestan. Jumlah penganut agama terbanyak adalah Protestan (971 jiwa), Katolik 848 jiwa dan ummat Islam hanya 13 orang, itu pun pendatang dari Tanah Tepi di antaranya guru sekolah dasar dan Babinsa. Di sini terdapat sebuah gereja Protestan yang terbesar di Kecamatan Siberut Selatan dan telah dibangun sejak tahun 1978. Menurut penuturan penduduk pendatang, Islam lebih dahulu masuk ke daerah ini, namun kalah bersaing dengan pihak lain. Di sini sama sekali belum ada rumah ibadah. Jumlah ummat Islam yang sedikit itu, menjadikan persaudaraan di antara mereka menjadi demikian erat. Merekalah yang menjadi tenaga penggerak da'wah Islamiyah. Mereka melakukan kegiatan semacam arisan dari rumah ke rumah seminggu sekali. Demikianlah cara mereka melakukan da'wah Islamiyah di sini. Perlu rasanya kita pikirkan pembinaan ummat Islam di sini untuk masa yang akan datang. Daerah ini di samping jumlah penduduknya yang relatif banyak, juga mempunyai potensi yang dapat dikembangkan. Seorang petugas Babinsa, Saudara Zamzani yang bertugas untuk desa Sagalubbek, Pasakiat Taileleu dan Katurai telah mampu menggerakkan pembangunan sebuah mushalla. Dan pada saat kunjungan ini, kami memberinya nama Mushalla Riyadhul Jannah di Sagalubbek.
18
)

Masyarakat bersama kepala desa Pasakita Taileleo disyahadatkan th 1994 dalam satu acara yang meriah dan menyentuh perasaan. Bimbingan pensyahadatan dilakukan oleh DDII (Syuhada Bakri) dengan disaksikan oleh Muspika Kec. Siberut Selatan.

Nuansa Kehidupan Islami

112

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Pada saat kunjungan kami, daerah ini sedang disurvey untuk penanaman kelapa sawit oleh perusahaan dari Jakarta. Luas perkebunan ini akan mencapai hampir 2/3 luas Kecamatan Siberut Selatan. Pusat perkebunannya adalah di desa Pasakiat Taileleu. Jika perkebunan ini jadi terlaksana, maka diperkirakan akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 80.000 orang, hampir dua kali lipat jumlah penduduk Kepulauan Mentawai saat itu, yang hanya berjumlah 45.000 jiwa. Untuk mengantisipasi semua itu, perlu dipersiapkan tenaga da'i dan sarana ibadah dari sekarang19). Pengalaman di Pasaman agar tidak terulang lagi di daerah ini. Keterlambatan untuk memasuki daerah ini, bisa menyebabkan kita tidak bisa masuk untuk selama-lamanya.

PENGGERAK DAKWAH ILALLAH DI SIBERUT SELATAN
Tenaga-tenaga penggerak da'wah Islamiyah, merupakan orang-orang yang sangat menentukan keberhasilan penyampaian risalah di daerah-daerah terpencil. Untuk daerah Siberut, tenaga- tenaga itu telah mulai dibina sejak tahun 1970 melalui seleksi yang ketat. Tenaga-tenaga da'wah itu diambil dari para pendatang atau muallaf masyarakat asli yang cukup disegani. Koordinator da'wah adalah Saudara Abdul Hadi A. Roni (Ka. KUA Kecamatan Siberut Selatan), yang juga merangkap sebagai pengurus Dewan Dakwah Siberut. 1. Muara Siberut, yang meliputi dusun Muara, Pagu dan Puro I, dibina oleh: Aliuddin, Ismail, Adnan, Bustaman, Alidin,
19
)

Mulai 1994 di desa Pasakiat Tailelo ditempatkan seorang da’i Lukman Hakim dari Bayuwangi Jawa Timur.

Nuansa Kehidupan Islami

113

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

H. Lokoi Amin, Muzakir, Zainuddin, Pohak, Syaiful, Syahruddin dan M. Idris Batubara. 2. Salappa yang mencakup dusun Puro II dibina oleh: Sunaryo dan Darmadi. 3. Mailepet meliputi dusun Pasakiat dan Tatesuibak oleh Syahruddin. 4. Saliguma I dan II oleh: Lenge dan Mulyadi. 5. Saibi Samokop yang meliputi dusun Muara Saibi, Saibi Siri Surek dibina oleh: Buyung, Muzakir dan Saklagai. 6. Katurai, yang meliputi dusun Katurai, Sarasau, Mabukuk, Malilimuk, Saumanuk dan Tolo Lagok dibina oleh: Dalat dan Sabau. 7. Madobak yang meliputi Rokdog, Madobak dan Ugai dibina oleh: Tak Saripok dan Nilus20). 8. Matotonan (Sararekat Hulu) oleh: Bajak Toboi Kere, Mande Kere, Amannacob dan Hariadi. 9. Taileleu : belum ada da'i. 10. Sagalubbek oleh: Husein dan Amin.

20

)

Nilus telah diundang oleh Rabithah Alam Islamy menunaikan ibadah haji tahun

1995.

Nuansa Kehidupan Islami

114

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Perimbangan Jumlah Penduduk Pemeluk Agama Di Kecamatan Siberut Selatan Tahun 1988/1989 Berdasarkan data statistik tahun 1988/1989, perimbangan jumlah penduduk berdasarakan agama yang dianut, adalah sebagai berikut : Tabel 1.Perimbangan jumlah penduduk berdasarkan penganut agama di Siberut Selatan tahun 1988/1989 No Desa . 1. Muara Siberut 2. Mailepet 3. Munthei/ Salappa 4. Saliguma 5. Saibi Samokop 6. Katurai 7. Madobak/ Rokdog 8. Matotonan 9. P.Taileleu 10 Sagalubbek . Jumlah Jumlah Penduduk 1578 667 852 1107 1757 1436 1467 816 1832 674 12180 Islam 1106 63 135 472 106 198 210 575 13 62 2940 971 41 2843 Protestan 247 208 97 214 930 124 11 Katolik 225 396 520 421 721 1108 1246 241 848 541 6397 Lain 2 30 30

Kebenaran data di atas tidaklah mutlak, karena belum adanya sistem pendataan yang memenuhi syarat. Namun demikian, data di atas dapat memberi gambaran, bahwa jumlah penduduk yang beragama Katolik sangat dominan sekali (6.397 jiwa), walaupun mereka baru memasuki daerah ini pada tahun 1954. Sedangkan jumlah penduduk yang beragama Protestan hanya 2.843 jiwa, walaupun mereka telah memasuki daerah ini 45 tahun lebih dulu (1909).

Nuansa Kehidupan Islami

115

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sementara itu jumlah ummat Islam hanya 2.940 jiwa, kebanyakan mereka berasal dari Tanah Tepi, terutama berasal dari Pariaman, Tiku dan Pesisir Selatan. Pada awalnya, maksud mereka datang ke sini hanyalah untuk berdagang. Tidak ada missi tertentu. Kesempatan mengembangkan agama Islam dilakukan melalui pendekatan-pendekatan pribadi secara timbal balik. Hubungan tersebut telah terjalin sejak tahun 1600. Kala itu penduduk Tanah Tepi telah menganut Islam sebagai agamanya dengan baik. Para pedagang yang sekaligus sebagai da'i ini juga ada yang berasal dari Aceh. Lambat laun mereka menetap di sepanjang teluk dan pantai, bergaul dan berasimilasi dengan masyarakat setempat. Dan mereka tidak memaksakan agamanya atau memberikan iming-iming seperti yang dilakukan oleh missi Kristen abad 20 ini. Para pendatang dari Tanah Tepi memberikan contoh cara hidup yang baik, berbudaya, mengasah parang dan alat-alat pertanian. Demikian seterusnya, dan akhirnya mereka menyatu dengan penduduk asli Kepulauan Mentawai.

Menuju Tanah Tepi Menyinggahi Muara Sikabaluan
Oleh: H. Mas’oed Abidin Dalam perjalanan menuju tanah tepi (Padang) dari Muara Siberut biasanya lebih dahulu menyinggahi Muara Sikabaluan di Siberut Utara. Rute perjalanan kapal kayu ini memudahkan masyarakat Muara Siberut (Siberut Selatan), mendatangi Siberut Utara. Ini juga berarti bahwa hasil tanaman penduduk dan hasil hutan (rotan, pisang dan sagu) dari dua kecamatan dapat dibawa ke tanah tepi.

Nuansa Kehidupan Islami

116

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Para pemuka masyarakat Islam Muara Siberut yang sejak dari malam berkumpul dengan kami di rumah Saudara A. Hadi, sekedar berbincang-bincang mengenai usaha dan gerak ummat Islam, turut mengantarkan kami sampai ke dermaga boat transit.21 Pada saat-saat akan berangkat, mereka masih sempat membisikkan pesan-pesan kecil, tentang harapan para muallaf di pedalaman, antara lain : menyelenggarakan khitanan massal sebelum Ramadhan datang dan mengirimkan da'i untuk membina mereka. Diharapkan pula membantu dan menyempurnakan sarana ibadah di pedalaman, mengusahakan kapur tulis dan minyak tanah untuk belajar bagi anak-anak di madrasah pada malam hari dan agar menceritakan kepada ikhwan di Tanah Tepi. Persoalan yang sedang dihadapi di pedalaman, mudah-mudahan ada yang ingin menyambung tangan kami kata mereka. Terasa sekali akrabnya suasana, semua tangan disalami, serasa enggan untuk melepaskannya. Dan akhirnya kami saling berpelukan untuk berpisah sementara. Selanjutnya para penumpang dibawa ke kapal yang sedang berlabuh di tengah Teluk Siberut. Sebagaimana halnya di Muara Siberut, di sini juga terdapat sebuah kompleks pastoran yang berpagar rapi. Walaupun tidak selengkap dan sebagus di Muara Siberut. Di kompleks ini terdapat beberapa fasilitas, antara lain : gereja Katolik Bunda Maria, bangunan SD Fransiskus berlantai dua (lantai atas berfungsi sebagai asrama putra), rumah pastor, rumah suster, sebuah gedung pertemuan dan gedung asrama putri. Dari sinilah segala aktivitas kepastoran dilaksanakan. Kompleks ini terletak di perbatasan Nang Nang dengan Pakei. Dari Muara Siberut dapat ditempuh dalam beberapa
21 Selasa, 6 Pebruari 1990 bertepatan dengan tanggal 10 Rajab 1410 H pukul 12.00 WIB kami
berangkat meninggalkan Muara Siberut untuk selanjutnya menuju Muara Sikabaluan (Siberut Utara)

Nuansa Kehidupan Islami

117

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

menit dengan jalan kaki. Jalan-jalan menuju kompleks ini terawat dengan baik. Terbuat dari semen coran, dengan lebar hampir 1½ m. Di kompleks ini juga terdapat sebuah antena SSB yang tinggi untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Menurut petugas Postel, melalui antena ini mampu berkomunikasi langsung dengan Vatikan di Eropa. Sungguh suatu yang mencengangkan. Sekitar 50 m dari kompleks ini terdapat sebuah gereja Protestan yang besar, namun kelihatan kurang terawat. Dari sini kita peroleh gambaran, bahwa Katolik lebih mendominasi. Suatu hal yang berlawanan dengan di Saibi Samokop atau Taileleu di Siberut Selatan. Sekitar 200 m dari kompleks paroki, terdapat sebuah bangunan sarana ibadah ummat Islam, masjid Al Falah. Masjid ini telah dibangun sejak tahun 1978, merupakan murni swadaya ummat Islam di Muara Sikabaluan. Waktu itu di sini ada seorang da'i yang bernama Saudara Zainuddin Anasti. Pembinaan ummat Islam di sini kurang terpadu, tidak seperti di Muara Siberut. Hal ini disebabkan, tidak adanya pemimpin di kalangan ummat Islam yang bisa diandalkan. Pada saat kunjungan ini, di daerah ini tidak ada da'i yang membina mereka.

MENUJU TANAH TEPI
Pukul 20.00 WIB, dengan menumpang kapal boat, kami kembali ke tengah laut untuk menuju kapal yang akan memberangkatkan kami ke Padang. Ombak di muara yang kebetulan di ujung tanjung ini terasa sangat dahsyat, lebih-lebih di malam hari.

Nuansa Kehidupan Islami

118

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Perjalanan kali ini terasa cukup melelahkan, dibandingkan dengan perjalan yang sudah-sudah. Perjalanan dari muara ke muara, dari Muara Siberut ke Muara Sikabaluan dan ke Muara Padang. Demikian juga dengan perjalanan da'wah bil hal. Berawal dari muara hati pendukung da'wah dan selanjutnya ke muara hati ummat Islam di sini. Tepat pukul 21.00 WIB, sauh pun mulai diangkat. Perlahan tapi pasti, kapal yang kami tumpangi mulai bergerak. Makin lama makin cepat, membelah ombak menuju Tanah Tepi. 

MENTAWAI MENGGAPAI CAHAYA IMAN

Dakwah sejak dulu memang dihadapkan dengan berbagai tantangan. Ketika lahirnya agama Islam, sudah menjadi wataknya sebagai agama rahmatan lil'alamin selalu diuji. Namun dengan ketekunan dan percaya diri, secara damai Islam menyerbak ke seluruh Nusantara. Kini masyarakat terpencil sangat merindukan kehadiran Islam, Mentawai di antaranya. Menurut Prof. Mr. Herman Sihombing, kata "Mentawai" berasal dari nama seorang Nias Amantawe (Bapak si Tawe) yang terdampar di Simatalu. Kemudian anak keturunannya menyebar ke Sipora dan Pagai Utara-Selatan. Sehingga orang Mentawai percaya dan mengemukakan bahwa mereka anak keturunan Nias. Lama sebelum tanah kepulauan ini dijejaki oleh pendatang dari Eropa, pulau-pulaunya telah dijejaki oleh pelaut-pelaut Tanah Tepi (pantai Sumatera) yang terbentang dari Aceh sampai ke

Nuansa Kehidupan Islami

119

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Bengkulu. Peralatan-peralatan seperti parang panjang, periuk, dan kuali yang sampai sekarang dianggap sebagai ukuran prestise suatu keluarga terutama di daerah Siberut, hanya diperoleh melalui pertukaran atau perdagangan. Untuk sementara dapat disimpulkan bahwa perdagangan telah lebih dahulu dikenal oleh suku-suku di Mentawai. Jadi telah ada hubungan komunikasi dengan dunia luar. Menarik untuk disimak, bahwa dalam hubungan perdagangan dengan pendatang Tanah Tepi (sasareu) itu, hampir tidak pernah terjadi perlawanan dari penduduk asli, sebagaimana yang terjadi dengan pendatang Kompeni. Hampir dua ratus tahun yang lalu pasar yang besar (Pasa Puat) telah didiami oleh pelaut-pelaut Tiku dan Pariaman. Di daerah ini dikenal seorang bernama Tuanku Paman (Tuanku Pariaman). Di sini juga terdapat satu kompleks pekuburan orang-orang Muslim yang tertua. Walaupun diyakini seluruhnya adalah pendatang. Agama Islam telah menjejakkan kakinya jauh sebelum agama lainnya memasuki Mentawai. Namun perbedaannya terletak pada cara pengembangan agama Islam itu sendiri yang kurang intensif, sama sekali tidak dengan bujukan atau kekuatan. Sedangkan keyakinan lama orang Mentawai pada umumnya sesuai dengan anutan warisan nenek moyang mereka, yaitu pada kekuatan magis (tenaga gaib) dan menghormati roh nenek moyang. Kepercayaan semacam itu disebut animisme, yang menjurus kepada penghormatan pada kekuatan yang maha tinggi, diistilahkan sebagai Tai Ka Manua yang dapat diartikan sebagai penguasa alam semesta. Kepercayaan lama masyarakat Mentawai disebut Arat Sabulungan, yang disimbolkan dengan daun-daunan dan bunga-bungaan. Hiasan daun-daunan dan bunga-bungaan ini masih mengakar sampai kini.

Nuansa Kehidupan Islami

120

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Kepercayaan Arat Sabulungan ini telah dihapuskan oleh Pemerintah pada tahun 1954, yang terkenal dengan Keputusan Rapat Tiga Agama. Dilaksanakan di setiap daerah di Mentawai secara menyeluruh. Inti keputusan itu adalah bahwa kepercayaan Arat Sabulungan dengan seluruh perangkatnya harus dimusnahkan, termasuk Rimata (pemimpin agama adat) dan Sikerei (para dukun yang juga pemuka upacara agama) harus dihapuskan dari kehidupan masyarakat Mentawai22). Maksud penghapusan itu adalah menciptakan Mentawai yang maju. Mereka diajak mengenal kehidupan berbudaya, seperti memakai baju, meninggalkan pakaian lama yaitu berkabit. Kabit adalah sejenis cawat yang dililitkan dengan baik dan kencang di pinggang bagi laki-laki. Sedangkan perempuannya mengganti penutup badan dengan pakaian sopan. Pada awalnya program ini bisa mencapai sasaran, karena adanya ketegasan dari yang berwajib dalam menerapkannya. Tapi kini, beberapa suku kembali lagi pada kebiasaan lama, seperti suku Sekudai. Bagi penduduk yang telah menganut agama Islam, seperti di daerah Matotonan, keadaan ini sungguh telah berubah. Da'wah Islamiyah telah berperan mengubah wajah masyarakatnya. Penduduk asli yang telah menganut Islam enggan meniru-niru kebiasaan penduduk asli, khususnya untuk memakai kabit. Sungguh tidak kecil tantangan bagi ummat Islam yang jumlahnya sedikit itu. Tidak hanya dibatasi oleh kurangnya tenaga pembinaan atau da'i Islam. Juga oleh terbatasnya sarana pembinaan, berupa kurangnya alat transportasi dan sarana ibadah lainnya.
22
)

Nyatanya sampai hari ini (1997) perangkat Sabulungan itu tidak pernah lenyap. Terutama keberadaan Sikerei di desa-desa pedalaman masih tetap lestari, disebabkan karena masyarakat Mentawai masih berobat ke dukun-dukun dan tenaga kesehatan pemerintah hanya ada di pusat-pusat kecamatan

Nuansa Kehidupan Islami

121

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Syukurlah pada tahun 1990 telah selesai dibangun sebuah masjid yang memadai di tengah-tengah pemukiman penduduk di desa Matotonan ini. Para da'i da'wah Islamiyah yang berdiam di sini, seperti Saudara Nasdi Simalea, putra asli Matotonan, da'i DDII tamatan PGA di Padang dan Saudara Ismail Batubara beserta istri yang didatangkan dari Sumatera Utara. Mulai awal tahun 1991, sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Islam telah diusahakan pula di Matotonan. Pembangunannya mendapat bantuan dermawan dari luar daerah (melalui Yayasan Amalan) ataupun dari Dewan Dakwah di Tanah Tepi (Padang). Para pendidik pada Sekolah Taman Kanak-kanak itu adalah putra-putri asli Mentawai yang telah mendapat pendidikan di Yayasan Al Azhar Jakarta. Dengan demikian suatu perjalanan da'wah Islamiyah telah memulai langkah baru, melalui pendidikan pra sekolah bagi anak-anak penduduk asli. Desa Rokdog yang terletak agak ke selatan dari Matotonan, secara berangsur-angsur mulai bernafas. Da'wah Islamiyah mulai dibina oleh Saudara Abdul Hakim, da'i yang ditempatkan di sana. Masyarakat Islam Rokdog aktif bergotong- royong dengan suatu keinginan mendirikan sebuah masjid di desanya23). Pada era 1990/1991 dapat dilihat secara keseluruhan di tiga Kepulauan Mentawai itu nafas da'wah Islamiyah mulai terasa. Seperti di Siberut Utara (Muara Sikabaluan). Di setiap desa yang ada ummat Islamnya selalu saja ada kegiatan mendirikan masjid. Usaha ini sebelumnya tidak tampak menggejala. Beberapa desa dapat kita sebutkan seperti Boshe, Simalegi dan Cimpungan. Terakhir kali, dimulai pula pembangunan masjid di desa Mongonpoula dengan dorongan Departeman Agama.
23
)

Masjid itu bantuan Lajnah Muslimy Asia, diberi nama Raudhatul Jannah (1995)

Nuansa Kehidupan Islami

122

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Begitu juga yang terjadi di Siberut Selatan dan di Sipora. Di samping itu masih ada beberapa mushalla sederhana yang dijadikan pusat pembinaan ummat Islam. Di antara bangunan sarana ibadah yang telah lama itu telah memerlukan perbaikan dan perawatan. Namun yang paling dirasakan adalah pembinaan jama’ah yang rutin. Inilah tantangan utama para penda'wah Islam di desa-desa terpencil itu. Suatu hal yang mulai menampakkan harapan ialah pembinaan pesantren pertanian di daerah transmigrasi Tuapejat24). Dimulai dengan penyebaran bibit tanaman keras dan peternakan dalam rangka meningkatkan mutu ummat. Daerah transmigrasi UPT Sipora di Tuapejat yang telah didiami sejak tahun 1987/1988, suatu ketika akan menampakkan suasana kehidupan beragama yang cerah. Tergantung pada kesiapan pembinaan dan tenaga da'i da'wah Islamiyah yang diterjunkan di lapangan sulit25). Di pusat Kecamatan Sipora (Sioban), rasa keberagamaan umumnya terbina baik, karena adanya pendatang yang sudah mantap dalam mengamalkan beragamanya. Masjid Al Iman di Sioban selalu dijadikan pusat kegiatan ummat Islam di kepulauan ini26). Namun ada juga hal-hal yang merisaukan, kadangkala ada tingkah laku pendatang yang tidak mencerminkan ruhul Islam. Penyebab lain juga karena berkurangnya tenaga penda'wah Islam yang mau menetap di daerah terisolir ini. Frekuensi lamanya menetap seorang da'i da'wah Islamiyah akan mempengaruhi kualitas dari ummat yang dibinanya. Karena itu jalur
24
Dewasa ini pesantren tersebut dilanjutkan dari YPMM pimpinan Bakri Tasirebbeb ke Yayasan Hidayatullah mulai 1996 25 ) Problem daerah transmigrasi Tuapejat adalah banyaknya transmigran Sipora yang meninggalkan lahan transmigrasi dan pindah ke daerah lainnya, bahkan pulang kembali ke Jawa 26 ) Masjid Al Iman dibangun 1986 oleh DDII Padang kemudian diperbaiki oleh masyarakat, yang menjadi masjid kecamatan hingga hari ini.
)

Nuansa Kehidupan Islami

123

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

pendidikan perlu dijadikan perhatian Badan-badan Da'wah Islamiyah.

khusus

bagi

Pendidikan Islam tingkat menengah amat membantu menumbuhkan kader penda'wah Islam di masa datang. Hampir belum ada satu pun sekolah tingkat Aliyah, ataupun pesantren terpadu di kawasan ini. Baik itu yang dikelola oleh Departemen Agama maupun oleh swasta. Suatu pengalaman membuktikan, bahwa pengadaan tenaga da'i yang hanya mengandalkan pendatang, kurang menjamin kontinuitas da'wah Islamiyah di kepulauan ini. Tenaga da'i yang ada dan sanggup bertahan biasanya tenaga yang direkrut dari putra-putra asli, tentu saja secara selektif yang mempunyai keinginan membangun Islam di daerahnya27). Merupakan kebutuhan pokok di masa depan, dalam rangka mempertahankan Islam di Mentawai adalah melalui beberapa usaha nyata. Antara lain Lembaga Pendidikan Islam. Perluasan gerak da'wah Islamiyah yang menyentuh kepentingan penduduk asli. Peningkatan taraf ekonomi dan kesadaran mandiri para muallaf Islam. Efisiensi pemanfaatan dana, baik dalam program zakat ataupun wakaf. Penataran da'i Islamiyah yang terpadu. Program penyantunan sebagai tali pengikat ukhuwah Islamiyah. Melanjutkan penyiapan sarana ibadah yang sedang dibangun penduduk. Pembinaan jama’ah sebelum sarana tadi disiapkan. Di samping pembinaan aqidah itu, kini tiba saatnya da'wah Islamiyah itu terjun di bidang sosial masyarakat itu sendiri. Membangun masyarakat Muslim Mentawai bukanlah
27
)

Sebagaimana yang terjadi di Sikakap pada tahun 1955, Bung Hatta (Wakil Presiden RI pertama) berkenan merestui berdirinya sebuah kampung bernama Berkat di selatan Sikakap. Pada waktu itu keadaan penduduk desa Berkat 100% menyatakan beragama Islam. Namun karena tidak adanya pembinaan yang kontiniu, maka pada beberapa tahun kemudian desa itu berbalik menjadi Kristen

Nuansa Kehidupan Islami

124

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

untuk sehari dua hari, tetapi untuk waktu yang lama. Sebagaimana telah dilakukan oleh pihak zending yang pada tahun 1920 saja telah tiga puluh orang tenaga keluaran seminari Protestan yang bertugas di kepulauan itu. Da'wah Islamiyah seperti juga berlaku di daerah terpencil lainya, adalah untuk memanusiawikan manusia menuju manusia yang berkualitas sebagai warga bangsa. Ummat Islam di Kepulauan Mentawai selalu dihadapkan pada berbagai kendala seperti keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Panggilan suci itu mengetuk para mujahidin bidang da'wah. Akhirnya dalam setiap masa dan kurun waktu, da'wah Islamiyah di Kepulauan Mentawai selalu menunggu uluran tangan. Tidak ada istilah berhenti dalam pelayaran karena kaki telah tercecah ke pantai. 

Nuansa Kehidupan Islami

125

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

TUAPEJAT TEMPAT PERSINGGAHAN

D

esa Tuapejat terletak di sebelah utara pulau Sipora, cukup ramai dan punya harapan cerah di masa datang. Salah satu daerah hunian yang terlama usianya. Luas wilayah 11 ribu hektar dengan jumlah penduduk hampir seperempat penghuni pulau Sipora. Tuapejat dalam bahasa Sipora Mentawai berarti tempat persinggahan. Desa ini terdiri dari tiga dusun yaitu dusun Tuapejat sebagai tempat kedudukan kepala desa, dusun Mapadegat sebelah utaranya dan dusun Berimanua yang terletak di pantai barat. Ketiga dusun tersebut terletak pada teluk-teluk yang indah, juga dilingkari semenanjung-semenanjung alam yang seolah-olah sengaja dijadikan untuk membentengi dusun dari amukan badai. Desa Tuapejat berpenduduk sebanyak 1.889 jiwa. Jumlah penduduk ini belum termasuk jumlah warga transmigrasi yang ditempatkan di daerah UPT Sipora, yang juga termasuk wilayah desa Tuapejat. Warga transmigrasi yang masuk dalam periode tahun 1986/1987 berjumlah 1.395 jiwa yang berasal dari pulau Jawa. Keyakinan agama yang dianut penduduk beraneka ragam, dari 1.889 jiwa (di luar warga transmigrasi), yang beragama Islam 1.120 jiwa, Protestan 689 jiwa, Katolik 48 jiwa dan Pantekosta 32 jiwa. Sedangkan hampir seluruh warga transmigrasi adalah beragama Islam (kecuali 3 keluarga yang telah beragama Kristen sejak dari awalnya). Dari jumlah ini terlihat bahwa penganut agama Islam di desa Tuapejat adalah dominan.

Nuansa Kehidupan Islami

126

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Dari keseluruhan penduduk desa Tuapejat (jika dimasukkan warga transmigrasi), maka akan diperoleh jumlah penduduk asli Mentawai ± 46 %. Selebihnya adalah pendatang baik dari pantai Sumatera Barat, Nias, Sumatera Utara dan Jawa. Pada masa ini perkembangan jumlah penganut agama Islam tampak meningkat tajam. Hal ini karena pertambahan warga transmigrasi yang beragama Islam. Pada masa ini, jumlah ummat Islam di desa ini berjumlah hampir 2.000 jiwa atau sekitar 71 %. Sedangkan yang beragama Protestan hanya 25 % yang beragama Katolik 1,8 % serta agama lain 1,2 %. Namun kenaikan jumlah ummat Islam tidaklah berarti bahwa da'wah Islamiyah makin mantap. Juga tidak dapat dianggap bahwa usaha-usaha penginjilan telah lemah. Sekarang (1992), desa Tuapejat yang potensial ini dipimpin oleh kepala desa putra daerah Tuapejat sendiri. Seorang anak muda yang berpandangan jauh ke depan dalam mengembangkan serta meningkatkan pembangunan desanya. Kepala desa itu adalah Usman Boyon yang dipilih langsung oleh seluruh warga Tuapejat. Sumber penghasilan penduduk di desa ini umumnya pertanian dan perikanan. Sementara pendidikan hanya setingkat SD. Pada setiap dusun umumnya terdapat Sekolah Dasar, tetapi kekurangan guru. Dalam kaitan ini, kita melihat peranan da'wah Islamiyah di masa datang yaitu mengusahakan adanya sebuah lembaga pendidikan tingkat menengah. Apakah itu Aliyah ataupun yang sederajat. Desa Tuapejat ini berkembang pesat sejak tahun 1972. Dengan masuknya perusahaan pengolahan kayu (PT Bhara Union). Dalam waktu singkat Tuapejat berkembang dengan 182 buah rumah penduduk.

Nuansa Kehidupan Islami

127

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Peranan kepala suku di Sipora, hampir tidak kelihatan. Di sinilah kita lihat perbedaan yang nyata dengan peranan kepala-kepala suku di Siberut (Sikalagan). Dalam alam pembangunan sekarang ini, peranan kepala-kepala suku khususnya di Tuapejat, telah digantikan oleh Kerapatan Adat Nagari yang terdiri dari orang-orang yang dituakan yang dianggap sebagai Ninik-Mamak. Adat asli Mentawai (Sipora) juga tidak terlihat nyata, kecuali pada acara-acara khusus seperti di kala memandikan anak (turun mandi), upacara kematian dan perhelatan perkawinan. Itupun sudah bersifat campuran. Pada setiap acara, umumnya karib kerabat dari desa-desa akan diundang dan mewajibkan dirinya untuk datang. Hubungan antar desa di sekeliling Sipora dengan memakai perahu dayung (penduduk). Hubungan perdagangan memakai boat atau mesin tempel. Namun antara dusun dengan dusun bisa ditempuh jalan darat atau jalan setapak yang tidak tetap dan selalu berubah sesuai dengan rintisan kebutuhan penduduk asli. Di masa sekarang sedang direncanakan pembangunan jalan raya antara Sioban dengan Rokot. Dan kabarnya akan dilanjutkan sampai ke daerah transmigrasi Tuapejat. Pada suatu masa kelak insya Allah di belahan pulau Sipora akan ada jalan darat yang memadai sebagai hasil dari pembangunan daerah dan negara28). Bangunan rumah ibadah terutama masjid atau mushalla bagi ummat Islam belum memadai. Di dusun Tuapejat terdapat sebuah masjid yang dapat dibanggakan yaitu masjid Al Amin di bawah asuhan Dahlan Kidar (pengurus masjid) dan Ustadz Amiruddin (imam masjid). Sedangkan dusun Mapadegat hanya ditemui sebuah mushalla kayu yang amat sederhana dipimpin oleh Saparuddin (putra asli Mentawai yang telah mengenyam pendidikan di Pesantren Darul Fallah Bogor).
28
)

1996, pekerjaan jalan Sioban - Rokot sudah dikerjakan

Nuansa Kehidupan Islami

128

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Perkembangan rumah-rumah ibadah ini umumnya ditunjang para pendatang dari Tanah Tepi, seperti dari Padang, Pariaman, Tiku maupun Pesisir Selatan. Tidak kalah peran serta dari guru-guru yang beragama Islam yang bertugas di daerah ini. Dari tengah kehidupan beragama ini tumbuh perasaan bahwa tidak ada perbedaan antara pendatang dengan penduduk asli. Kondisi ini amat menunjang bagi program pembangunan daerah umumnya29). Sedangkan di dusun Barimanua boleh dikatakan tidak ada lagi mushalla. Mushalla yang pernah diusahakan bantuannya oleh perusahaan kayu sekarang sudah runtuh. Keadaan ini banyak ditentukan karena banyak berkurangnya ummat Islam yang menetap di sini. Kebanyakan mereka hanya nelayan-nelayan yang menghabiskan waktunya di laut. Perkembangan ummat Islam yang diharapkan hanyalah di dusun Mapadegat. Ini pun harus diiringi dengan pembinaan oleh para da'i yang tangguh. Di daerah transmigrasi (UPT Sipora) bangunan rumah ibadah Islam cukup kokoh. Kokoh dalam arti pembinaan karena masih adanya Dewan Dakwah serta adanya pemuka-pemuka masyarakat Islam yang teguh dengan agamanya. Di daerah transmigrasi ini masih terdapat masjid Miftaful Jannah yang selalu ramai didatangi terutama waktu shalat Jum'at. Masih ada pemimpin ummat di antaranya Ustadz Fadholi atau Bapak Ahmad pada mushalla Baitut Taqwa dan Ustadz Yatubi di mushalla Al Ikhlas30). Ummat Islam yang jumlahnya banyak di daerah transmigrasi (UPT Sipora) dihadapkan dengan problema kehidupan yang menyangkut ekonomi. Ummat Islam yang
29
Memang ada beberapa kelemahan yang ditemui, antara lain karena ada di antara pendatang yang beragama Islam, namun tidak memperlihatkan pengamalan agama secara konsisten. Akibatnya tidak terlihat transformasi ketauladanan terhadap penduduk. 30 ) Tahun 1996 masjid ini direnovasi dengan swadaya masyarakay atas bantuan Bazis PT Semen Padang
)

Nuansa Kehidupan Islami

129

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

tersebar di desa-desa atau penduduk asli Mentawai (Sipora) dihadapkan pada problema kebodohan, keterbelakangan serta kekurangan tenaga pembinaan. Da'i-da'i Dewan Dakwah Islamiyah yang diterjunkan di lapangan dihadapkan pada problema kekurangan peralatan terutama transportasi air (boat) maupun darat. Bahkan kekurangan biaya untuk menjangkau daerah binaan. Problematika da'wah yang dihadapi oleh da'i-da'i Dewan Dakwah Islamiyah jadi amat kompleks. Sementara itu lembaga-lembaga Islam lainnya kurang mengambil perhatian akan pentingnya program da'wah terpadu ke pulau-pulau ini31). Kalaupun ada sifatnya hanya sementara belaka. Sungguhpun keadaan penghidupan para warga yang rada-rada susah, namun pembinaan pengajian Al-Quran bagi anak-anak tetap berjalan sebagaimana adanya. Tenaga-tenaga yang trampil di desa-desa terpencil itu umumnya tenaga sukarela yang terpanggil karena masih berakarnya rasa keagamaan yang kuat. Kadang-kadang menyumbangkan tenaga tanpa arahan, bahkan tidak mengharapkan bantuan, syukurlah masih ada kelompokkelompok seperti itu. Soal-soal kecil yang kadang-kadang kegagalan pembinaan keagamaaan ini. membawa

Sering ditemui kurangnya kain mukenah (alat-alat shalat), tidak tersedianya kain kafan di kala kematian datang. Selain itu tidak adanya minyak tanah pengisi lampu untuk penerangan di kala anak-anak mengaji di mushalla dan surau. Tidak adanya tenaga memandikan jenazah sebelum diantar ke kuburan. Bahkan karena terlambatnya khatib atau imam pada acara jum'atan, karena tidak adanya angkutan ke sana sementara untuk berjalan kaki pun tidak memungkinkan.
31
)

Tahun 1997 Pembantu Gubernur Wilayah II yang membawahi Mentawai, menyumbang 10 buah sepeda untuk da’i Mentawai (Sipora)

Nuansa Kehidupan Islami

130

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di samping semua problema lapangan itu, pihak Kristen pun siap berbenah diri. Di Mapadegat umpamanya sudah lama ada gereja tua Protestan dan siap pula untuk dikembangkan. Di Berimanua sudah ada pula gereja Protestan sementara di dusun Tuapejat sendiri sejak Januari 1991 telah pula didirikan gereja permanen. Hanya daerah transmigrasi UPT Sipora, barangkali yang belum terlihat usaha pendirian gereja. Hal ini merupakan suatu tantangan setiap penda'wah Islam untuk ikut bersama mengembangkan da'wah Islamiyah sesuai dengan kemampuan yang ada. Suatu hal yang perlu dijawab dengan perbuatan bagi setiap dermawan Islam, bahwa masih ada daerah-daerah sulit yang memerlukan uluran tangan kita semua dalam menyalurkan rahmat Allah SWT yang menopang lewat dan singgah di tangan kita. Suatu masa kelak insya Allah Tuapejat akan menjadi daerah persinggahan bagi majunya dan berkembangnya da'wah Islamiyah, menjangkau daerah-daerah yang lebih dalam di jantung Sipora (Mentawai). Da'wah kita ialah da'wah Ilallah yang tidak hanya membentuk banyak pengikut, tetapi membentuk ummat berkualitas yang mampu membangun dunianya untuk mencapai akhirat, dengan mengharapkan ridha Allah. 

Nuansa Kehidupan Islami

131

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

TUNANG KINAPAT PERLAMBANG PELAUT YANG ANIAYA

s

eluk Sao diyakini penduduk Sipora sebagai tempat berlabuhnya pertama kali pelaut-pelaut dari Tanah Tepi (merupakan sebutan untuk pantai daratan Sumatera). Teluk Sao berasal dari kata sauh atau tempat pencalang membongkar sauh di kala para pelaut dari Ranah Pesisir di Sumatera Barat dan Enggano di Bengkulu, ke pulau ini. Teluk Sao terletak di dusun Sao, bertetangga dengan dusun Katiet, dusun paling selatan pulau Sipora. Dari dusun ini jika hari cerah dapat dilihat dengan jelas pulau Pagai Utara dalam wilayah Kecamatan Pagai Utara-Selatan (Sikakap). Dusun Sao dan dusun Katiet termasuk ke dalam wilayah Desa Boshua Kecamatan Sipora, Kepulauan Mentawai, Kabupaten Padang Pariaman. Pagai berasal dari kata-kata Mentawai pagaisita yang artinya berkenalan kita (paghaai-taa). Di kala musim anggau (musim berhembusnya angin badai atau musim bertiupnya angin selatan), Teluk Sao dan Katiet serta merta akan disinggahi perahu. Karena semenanjung selatan ini akan sulit dilewati. Kecuali oleh kapal perintis yang berlayar agak ke tengah. Musim anggau biasanya terjadi pada bulan Agustus sampai Desember. Jika ingin mendatangi desa Boshua atau desa-desa lainnya di sebelah barat Sipora di musim seperti itu mau tidak mau kita akan singgah di Teluk Sao atau Katiet ini, akan ada jalan rintisan atau jalan setapak yang menghubungkan kedua dusun ini dengan desa Boshua.

Nuansa Kehidupan Islami

132

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Jalan setapak itu melintasi dua buah bukit yang cukup tinggi dan terjal. Namun dewasa ini kedua bukit itu sudah dibuka penduduk sebagai lahan perkebunan kelapa dan cengkeh. Dari puncak bukit yang tinggi itu menghadap ke timur akan jelas terlihat Teluk Sao yang tampak memutih karena pecahan ombaknya. Dan kalau mata dilayangkan ke arah barat, maka pantai Boshua juga akan terlihat memutih dihempas ombak setiap saat. Suatu pesona alam yang amat menarik dan masih sangat alami serta belum ternoda polusi asap cerobong pabrik. Di mulut Teluk Sao ini terlihat jelas sebuah tanjung yang menyimpan sebuah cerita yang beredar dari mulut ke mulut penduduk asli Sipora hingga kini. Tunang Kinapat namanya, yang berarti, Tunang adalah tanjung dan Kinapat adalah biduk pencalang. Tunang Kinapat persis sebagai halnya pencalang yang berlabuh di tengah-tengah mulut teluk. Dalam cerita penduduk Sipora, dahulu jauh sebelum kedatangan Raja Si Patokah (Portugis) dan Raja Si Anggarai (Inggeris), di sini pernah berlabuh jangkar sebuah pencalang kayu milik pedagang Tanah Tepi. Dari mana asal muasalnya tidak dijelaskan. Begitu pula tahun kejadiannya, sampai sekarang cerita ini berkembang sebagai legenda32). 32 )
Sementara pedagang pemilik pencalang turun ke darat untuk menemui penduduk untuk berdagang hasil hutan, anak perahu yang ditinggal di tengah laut ikut pula turun mencari makanan laut segar. Anak perahu pun mendapatkan makanan yang dicari yaitu seekor penyu laut bersisik yang cukup besar. Penyu tadi mereka kuliti dan mereka keluarkan isinya, tetapi bukan untuk dimakan. Penyu yang masih hidup itu mereka lepaskan ke tengah laut dengan diiringi gelak tawa dan kulitnya mereka jadikan gendang permainan. Tindakan ini jelas merupakan tindakan yang aniaya dan mereka perlakukan pada binatang yang tidak mengganggu sama sekali. Serta merta terjadilah suatu peristiwa yang mengenaskan, hujan rurun dengan lebatnya diiringi petir yang menyambar-nyambar. Satu di antaranya menyambar pencalang yang

Nuansa Kehidupan Islami

133

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sebagai salah satu dusun di tepi pantai, Sao hanya dapat dijangkau dari desa-desa lainnya dengan jalan laut. Bagi penduduk asli hubungan laut ini merupakan hubungan sejak lama. Mereka memakai sampan kadang-kadang tanpa cadik dan mendayung sendiri. Jarang sekali penduduk yang memiliki perahu bermesin tempel atau boat. Kalaupun ada hanya bagi penduduk yang lebih maju dan kebetulan hidup sebagai pedagang hasil bumi keliling pulau Sipora. Dusun Sao sejak masa lalu banyak dihuni pendatang terutama dari Ranah Pesisir, Pariaman atau pulau Enggano. Namun karena penghidupan makin sulit dusun nelayan ini relatif tertinggal. Penduduk banyak pindah ke daerah utara yang lebih ramai seperti Mara dan Sagitci. Sejak sepuluh tahun terakhir (1980-1990), Sao kembali ramai didiami. Seiring dengan kebun-kebun yang ditanami kelapa serta cengkeh mulai menghasilkan. Kemudian dari teluk ini mulai banyak dikirim rotan dan gaharu selain kopra dan ikan. Pendatang yang bermukim di sini terutama dari Tapanuli Utara. Pada umumnya mereka datang sendiri-sendiri untuk menyambung hidup. Kadang-kadang juga dengan dukungan zending atau missi. Kemudian diikuti sanak dan keluarga mereka. Akhirnya dusun ini ramai diiisi pendatang Tapanuli. Kejadian ini hampir ditemui pada setiap dusun di tepi pantai, boleh dikata di seluruh Mentawai. Bukan sekedar kebetulan barangkali kalau sekarang berkembang sebuah ungkapan di dusun ini ada lima daerah pengembangan Batak (Tapanuli), yaitu Batak Karo di Tanah
tengah bergembira-ria setelah melakukan perbuatan yang aniaya dan sia-sia itu. Akhirnya pencalang berubah menjadi batu. Suatu peringatan bagi pelaut yang suka berbuat aniaya. Walau hanya terhadap seekor binatang sekalipun, pasti akan mendapat siksaan juga. Hal itu merupakan peringatan dan pelajaran hingga kini. Sejak peristiwa itu pencalang batu ini setia mengawal mulut Teluk Sao, dan sekarang sebagai tempat ombak dan gelombang menghempaskan diri. Begitulah ceritanya Wallahu a'lammu bish shawaab.

Nuansa Kehidupan Islami

134

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Karo, Batak Toba di sekitar Danau Toba, Batak Mandahiling ke Tanah Angkola, Batak Nias di pulau Nias dan Batak Mentawai ke Kepulauan Mentawai. Ungkapan ini tampaknya akan menjadi kenyataan, sebab banyak faktor yang mendukungnya. Antara lain kebiasaan garis kekeluargaan orang Mentawai secara patrilineal yang sama dengan anutan orang-orang Tapanuli. Kemudian pandangan agama kebanyakan Protestan. Sejak tahun 1960 sudah banyak anak-anak Mentawai yang diambil untuk dididik di seminari-seminari zending Nommensen di Siantar atau Tarutung. Dan untuk pulau Sipora, pusat zending ini terdapat di dusun Nem-nem (desa Mara)33). Di sinilah kita melihat suatu tantangan bagi penda'wah-penda'wah Islam untuk ikut berperan di daerah ini. Da'wah Islam itu harus bertumpu pada peningkatan mutu dan kecerdasan penduduk asli Mentawai. Perlulah diyakini bahwa dari sudut kepercayaan, agama Islam akan lebih cepat dipahami dan dirasakan manfaatnya bagi penduduk asli Mentawai dari pada keyakinan-keyakinan lainnya. Sebab orang Mentawai dari dulu percaya pada yang gaib dan kekuasaan Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Penduduik Sipora sejak dahulunya dari nenek moyang mereka telah mengenal dengan sungguh-sungguh akan akibat dari sesuatu perbuatan aniaya. 

33

)

Mara, baru dijamah da'wah Islam pada tahun 1994 dengan da’i Moh. Fadhly Saogo tamatan Pondok Pesantren Ngruki Jateng.

Nuansa Kehidupan Islami

135

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

DENYUT ISLAM DI MENTAWAI

k

epulauan Mentawai merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ada empat pulau yang besar di kepulauan ini yaitu Sipora, Siberut, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Untuk menempuh daerah-daerah tersebut memerlukan bekal yang cukup, karena salain memakan waktu yang cukup lama, 3 - 4 jam dengan kapal ekspres atau 8 - 9 jam dengan kapal biasa juga biaya sekitar Rp 50.000 - 60.000. Desa Muara Siberut bisa dibilang desa yang cukup maju. Sekolah, kantor pos, puskesmas, pasar dan kantor telephon sudah ada di sini. Listrik pun telah masuk meski hanya pada malam hari. Di desa ini pula terletak ibukota Kecamatan Siberut Selatan. Selain itu daerahnya bersih dan jalannya lebar-lebar, tetapi meski lebar tidak ada kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun masih bisa dihitung dengan jari. Di ibukota kecamatan ini kehidupan masyarakat telah berbaur dengan para pendatang. Seperti dari Batak, Jawa, Minang dan asli Mentawai. Desa yang penduduknya berjumlah 1.690 orang dengan 302 kepala keluarga ini mayoritas beragama Islam (± 1.400 jiwa) sisanya beragama Katolik dan Protestan. Mereka yang minoritas ini kebanyakan bermukim di dusun Pegu dan Sakelo. Karenanya, di kedua dusun itu terdapat sebuah gereja Katolik dan satu gereja Protestan. Sedangkan ummat Islam kebanyakan di dusun Muara dengan memiliki sebuah masjid Raya Al Wahiddin yang baru 80% pembangunannya (th 1412 H). Meski demikian, masjid

Nuansa Kehidupan Islami

136

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

ini sudah bisa dipakai untuk kegiatan seperti lomba cerdas cermat. MTQ tingkat muallaf, memperingati hari besar Islam dan tempat kegiatan Remaja Masjid (Wira Al Wahiddin). Remaja Masjid ini telah mengadakan khitanan massal untuk anak- anak muallaf. Acara khitanan massal ini diprakarsai oleh pemerintah setempat dan KUA Siberut Selatan. Disamping itu Wirid Remaja (Wira) Al Wahidin dan masyarakat setempat, mengadakan musabaqah jama’ah Muhtadin. Perlombaan yang dilombakan antara lain: shalat fardu, shalat mayat, adzan, Cerdas Cermat dan penataran. Semua kegiatan ini diikuti para muallaf. Sedangkan penataran yang bertempat di Madrasah Al Jamiyatul Washliyah. Diikuti 42 peserta, 12 dari Siberut Utara dan 30 dari Siberut Selatan. Pemberi materi pada penataran ini dari rombongan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan dari utusan Departemen Agama Sumatera Barat dan utusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat. Acara yang berlangsung selama dua hari ditutup di masjid Raya Al Wahidin desa Muara Siberut Selatan dengan acara tabligh akbar oleh Ustadz Syuhada dari DDII Jakarta. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengumpulan dana untuk pembangunan masjid dan pelantikan pengurus Badan Koordinasi Da'wah (Bakor) MUI dan DDII Perwakilan Mentawai, serta pelantikan pengurus jama’ah Muhtadin. Sudah seharusnya bagi ummat Islam untuk menunjukkan identitasnya sebagai Muslim setidaknya mengucapkan assalamu'alaikum bila berjumpa dengan Muslim lain. Hal ini sudah banyak diterapkan di daerah ini. Keadaan di Kepulauan Mentawai khususnya di desa Muara Siberut cukup tenang dan damai. Mereka saling pengertian, toleransi dan rukun. Para pemudanya cukup

Nuansa Kehidupan Islami

137

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

bersatu. Untuk menggalang dan menyatukan para pemudanya diadakan berbagai kegiatan olah raga seperti karate, bola voli dan sepak bola. Selain itu mereka (yang beragama Islam) diberi siraman rohani oleh para da'i agar mereka memiliki hati yang tenteram dan iman yang kuat, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti perkelahian, mabuk-mabukan atau hal yang lain yang merusak iman. 

Nuansa Kehidupan Islami

138

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

MUALLAF MENTAWAI DAN HIMBAUAN DDII

D

i awal tahun 1990 DDII Perwakilan Sumatera Barat bekerja sama dengan DDII Pembantu Perwakilan Padang meninjau perkembangan da'wah Islamiyah di Kepulauan Mentawai, khususnya di pulau Siberut dan lebih khusus lagi Siberut Selatan. Dalam peninjauan yang berlangsung dua kali itu (akhir Januari sampai awal Pebruari dan akhir Pebruari sampai awal Maret 1990), DDII menyatakan sangat prihatin dengan perkembangan Islam di sana. Keprihatinan DDII sangat beralasan, karena dalam perjalanan tersebut mereka menemukan sangat sedikit ummat Islam, bahkan umumnya dalam status muallaf. Kecuali itu jumlah tenaga da'i (juru da'wah) juga sangat terbatas. Peralatan da'wah belum ada, fasilitas ibadah jauh dari cukup, apalagi sarana pendidikan agama sungguh merisaukan kita. Seperti ditemukan di desa Matotonan (sebuah desa yang terkenal cukup benyak pemeluk Islamnya di Siberut), dimana terdapat 575 jiwa pemeluk Islam, tetapi hanya ada seorang tenaga da'wah yaitu Ismail Batubara dari Medan. "Dialah yang dalam melaksanakan missi da'wahnya selalu bergelut dengan serba kekurangan," tulis DDII dalam serial da'wahnya nomor 11 tahun III Maret 1990. Di sana ada sebuah mushalla sederhana yang sekaligus sebagai tempat da'wah oleh Ismail Batubara. Tetapi mushalla itu belum berdinding, tidak berpintu dan tidak punya

Nuansa Kehidupan Islami

139

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

tempat berwuduk34). Hanya ada satu tikar shalat usang sepanjang masing-masing 6 meter. Anak-anak muallaf beribadah hanya di atas lantai. Memang ada papan tulis untuk belajar alif-ba-ta, tetapi tidak ada kapur tulis untuk melanjutkan pelajaran atau tidak ada minyak tanah untuk pengisi lampu di malam hari, meski istri Ismail Batubara telah bersedia pula untuk mengajar. Pemandangan yang sama juga dapat dilihat di desa Sallappa (di tepi sungai Silaoinan). Walaupun ada sebuah mushalla berukuran 10 x 12 m berdinding papan. Susun sirih yang dibangun secara gotong royong oleh para muallaf atas bantuan Yayasan Bunda di Padang tahun 1988/1989. Tikar shalat tetap saja tidak punya. Seperti dikemukakan DDII dalam serial da'wahnya itu, di desa ini memang tak banyak penganut Islam: hanya sekitar 135 jiwa atau 25 kepala keluarga. Bagaimana halnya dengan muallaf tadi? Inilah sesungguhnya keprihatinan yang dimaksud oleh DDII tadi. Keprihatinan tidak saja terbatas pada anak-anak yang belajar mengaji tetapi kepada para muallaf seluruhnya. Kita sangat menghargai prakarsa yang dilakukan oleh DDII tersebut. Mereka telah melakukan pendataan terhadap berbagai permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi para muallaf, khususnya di Siberut Selatan. Muallaf Mentawai memang pantas dibantu, karena bukan mustahil dengan kelemahan imannya mereka mudah terperangkap oleh pengaruh-pengaruh sekitarnya, baik pengaruh yang sengaja diciptakan atau pun oleh karena kondisi sosial ekonomi yang tercipta dengan sendirinya. Sebagai gambaran, sekitar bulan Pebruari 1988 saya pernah berkunjung ke sana untuk suatu tugas. Dari
34
)

Baru tahun 1994 di daerah ini dibangun masjid dengan nama Masjid Ubaidah Al Jarrah atas bantuan Atase Kedubes Saudi Arabia

Nuansa Kehidupan Islami

140

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

wawancara yang saya lakukan dengan masyarakat setempat, diperoleh keterangan bahwa dengan kemuallafan itu mereka sangat mudah terombang-ambing oleh berbagai situasi. Mereka masih beribadah dengan ikut-ikutan. Jika ada hari besar agama lain secara bersama-sama mereka juga merayakannya dalam bentuk ibadah. Sehingga apa sesungguhnya agama yang mereka anut susah diketahui. Namun mereka memang senang mengaku sebagai pemeluk agama Islam. Atas kondisi ini sebenarnya kita sangat prihatin dengan masa depan para muallaf ini. Mereka juga bagian dari ummat Islam, karena itu sebaiknya himbauan-himbauan dari DDII ini dikonkritkan. Selain dari program-pprogram kerja, tentu seruan kepada ummat untuk sama-sama mengulurkan bantuannya guna memenuhi keperluan pelaksanaan da’wah di sana. Adapun kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud DDII, khusus sebagai paket Ramadhan adalah tikar shalat 280-400 meter yang akan digunakan oleh 8 buah mushalla, sebuah amplifier untuk desa Sagalubbek, kain pemisah antara jama'ah pria dan wanita dalam masjid sepanjang 80 meter dan 8 buah lampu strongking. Sedangkan untuk keperluan rutin perlu juga kita pikirkan. Bantuan yang diharapkan berupa kapur tulis, minyak tanah, buku tulis dan lain-lain. 

Nuansa Kehidupan Islami

141

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

IEDUL FITHRI
DI TENGAH MUHTADIN MUALLAF MENTAWAI

B

erlebaran di tengah muallaf Mentawai memang jauh berbeda dengan di kota, atau pun dusun-dusun di Sumatera Barat. Di desa-desa pedalaman Mentawai, tidak akan ada kunjung-mengunjungi ke rumah-rumah jama'ah Muhtadin (muallaf). Tiada penganan khusus disediakan sebagai penyambut tamu di hari lebaran. Persiapan berlebaran hanya terlihat di pusat-pusat kecamatan, tempat lazimnya para pemukim sasareu (pendatang dari Tanah Tepi) berdiam. Di Muara Siberut umpamanya, ummat Islam di sini membuat kue-kue hari raya ekstra banyak. Bukan untuk dimakan sendiri, tetapi untuk dikirim ke daerah pedalaman. Hidangan berhari raya bagi jama'ah Muhtadin dan muallaf di desa-desa selesai shalat I'dul Fitri. Di Muara Sikabaluan (Siberut Utara), kegiatan menyambut lebaran dimulai dengan mengumpulkan zakat fitrah, berupa beras dan kemudian dibagikan ke daerah hulu (pedalaman), seperti Mongonpoula, Labuhan Bajau, Boshe, Cimpungan dan lain-lain. Hari Raya bagi jama'ah Muhtadin (muallaf) adalah hari istimewa, dimana mereka merasakan langsung ikatan persaudaraan sesama Muslim, yang terlihat dari kebersamaan dan kegotong royongan itu. Begitu pula di Sikakap, sebagai diungkapkan oleh H. Djohor seorang pemuka Islam dan penggerak da'wah di masjid Al-Furqon Sikakap. Tahun (1412 H) dapat dikumpulkan sekitar 1.000 fitrah berupa beras dan dikirim ke

Nuansa Kehidupan Islami

142

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Buriay dan Tubeked, (daerah selatan Sikakap), dimana banyak jama'ah Muhtadin. “Pembagian zakat fitrah ini selalu didambakan oleh mereka yang tinggal di dusun-dusun terpencil.”, ungkap Lukman Hakim da'i DDII yang bertugas di Sikakap sejak tahun 1985. Lain halnya dengan Zulkifli TS da'i di Sipora. Hari-hari menjelang lebaran digunakan untuk mendatangi dusun dan desa-desa sekitar Sipora. Membagi-bagikan paket lebaran, langsung ke tangan jama'ah Muhtadin di Sipora. “Kegiatan ini hampir setiap tahun kami kerjakan,” kata Zulkifli, putra Matobe’ yang memilih menjadi da'i Islam di kampung halamannya sejak 1982. “Pada tahun ini, kami merasa bangga karena dapat memberikan yang terbaik bagi mereka yaitu kain sarung dan mukenah (telekung) baru. Sehingga mereka bisa shalat hari raya tahun ini,” demikian ungkapnya. 35 “Kendala selama ini,” kata Zulkifli TS (bekas anak seorang Rimata di daerah Matobe’, “adalah kekurangan sarung dan mukenah. Namun untuk Ramadhan tahun ini, kekurangan ini dapat diatasi dengan kiriman dari jama'ah masjid Al Munawwarah, Kampung Bali Tanah Abang Jakarta.” Kiriman melalui Dewan Dakwah Padang itu berjumlah 111 lembar kain sarung, 132 paket mukenah di samping 80 pakaian muslimah baru sumbangan dari pedagang Urang Awak di Tanah Abang Jakarta. Juga sebuah ampli dari jama'ah masjid Al Azhar Kebayoran Jakarta. Paket lebaran ini dibagikan langsung pada akhir Ramadhan, mencakup daerah Mongonpoula, Muara Sikabaluan di Siberut Utara, Bettumonga, Mapadegat, Tuapejat, Matobe’ dan Sioban di Sipora dan di Muara Siberut.

35 Peristiwa Ramadhan 1412 H

Nuansa Kehidupan Islami

143

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Sedangkan untuk Sikakap, diserahkan melalui Lukman Harun, da'i Islam di masjid Al Furqan (Sikakap). Kegiatan pengumpulan pakaian bekas (layak pakai) selama Ramadhan itu melalui da'i-da'i secara spontan, kepada jama'ah masjid di kota Padang. Dikoordinir oleh Drs. Kasman Amin dari Depag Sumbar. Seminggu menjelang lebaran, masing-masing kecamatan juga mendapatkan jatah, masing-masing 4 karung beras. Sehari menjelang lebaran telah dibagikan sampai ke pelosok desa terpencil melalui Kantor KUA Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai. Seorang da'i PT. Semen Padang ikut pula peduli dengan mengirimkan 100 lembar kain sarung baru. Alhamdulillah.

ALAT TRANSPORTASI DAKWAH ILALLAH
Selain paket lebaran Dewan Dakwah juga menyerahkan mesin boat, untuk transportasi pekerjaan da'wah di Kepulauan Mentawai. Drs. Syarbaini, Kepala KUA Kecamatan Siberut Utara menerima satu unit mesin boat Yamaha 15 PK. Mesin Boat itu dimanfaatkan nantinya sebagai transportasi da'wah di Siberut Utara. Dan melalui H. Mas'oed Abidin. Zulkifli TS dan Usman Boyon diterima juga satu unit mesin boat, untuk keperluan da'wah di Sipora. Sebelumnya Lukman Harun dan Hasan Basri Pasaribu, da'i Islam di Sikakap juga menerima satu unit mesin boat Yamaha 8 PK melalui Lukman Harun dan Drs. H. Arwan Kasim..

Nuansa Kehidupan Islami

144

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Dengan itu diharapkan pembinaan jama'ah Muhtadin di Kepulauan Mentawai bisa terjangkau secara kontinu. Sedangkan untuk secara operasionalnya jama'ah Muslimin di Tanah Tepi (Sumatera Barat), perlu memikirkan sumbangan lainnya berupa minyak tanah, maupun oli, sehingga mobilitas da'wah bisa berjalan lancar. Pada tahun 1411 H, shalat Ied hanya dapat dilaksanakan di pusat-pusat kecamatan. Jama'ah Muhtadin (muallaf) berbondong- bondong menuju pusat kecamatan beberapa hari sebelum hari raya hanya sekedar untuk shalat Ied. Gambaran seperti itu di tahun 1412 H telah berubah total. Beberapa desa di pedalaman melaksanakan shalat Ied dengan jama'ah mereka sendiri. Kecamatan Siberut Utara umpamanya, hanya tiga daerah yang tidak melaksanakan shalat Ied 1412 H, yaitu Bataet, Cimpungan dan Labuhan Bajau karena ketiadaan da'i (khatib hari raya). Di desa Mongonpoula, shalat Ied diikuti hampir 200 orang jama'ah dengan Imam/Khatib Drs. Rasikhin (da'i Muhammadyah). Padahal di desa ini jumlah jama'ah Muhtadin hanya berjumlah 26 KK. Selesai shalat Ied diramaikan dengan jamuan makan bersama semua jama'ah Muhtadin di halaman masjid Mongonpoula itu. Di Muara Sikabaluan, shalat Ied dilaksanakan dengan Imam/Khatib Drs. Syarbaini (KUA Siberut Utara), diramaikan dengan jama'ah pedagang yang menumpang Km. Perintis Baruna Bhakti yang sandar di Teluk Sikabaluan pagi Hari Raya 1412 H, infaq pun terkumpul sebanyak Rp 519.000 untuk pembangunan Masjid Al Falah Muara Sikabaluan. Di desa Boshe dengan Imam Bahauddin Sakarebau (Ketua jama’ah Muhtadin Siberut Utara) dan Khatib Timotius S., memimpin shalat Iedul Fithri di tengah 49 KK muallaf

Nuansa Kehidupan Islami

145

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

(muhtadin). Jumlah yang kecil ini mampu juga mengumpulkan infaq sebesar Rp 59.000. Di desa Pokai, yang hanya 199 KK jama’ah Muhtadin, melaksanakan shalat Ied dengan Imam Shaleh dan Khatib Misno. Sementara dusun Malancan, yang juga berpenduduk muslim 19 KK, melaksanakan shalat Hari Raya Idul Fithri di masjid Mukhlisin dengan Khatib Syamsiar Zahra. Desa Sigapokna (sebelah utara) melaksanakan shalat Ied dengan Imam Kamisli dan Khatibnya Jushan. Simalegi Muara (daerah pantai barat) dengan jumlah Muhtadin hanya 25 KK, melaksanakan pula shalat Ied dengan Imam/Khatib Ustad Syafrizal. Di Kecamatan Siberut Selatan shalat Hari Raya 1412 H dipusatkan di masjid Al Wahidin Muara Siberut dengan Imam/Khatib H. Moh. Idris, yang telah menetap di Siberut hampir 20 tahun. Di desa-desa pedalaman seperti Saibi Samokop dengan Imam/Khatib Ustadz Ja'far Nasution, Saliguma dengan Imam/Khatib Salim Perangin-angin, Matotonan dengan Imam/Khatib Ismail Batubara/Nasdi Simalea. Di Kecamatan Sipora, shalat Ied dipusatkan di masjid Nurul Iman Sioban, dengan Imam/Khatib Ustadz Zulkifli TS, di desa Matobe’ shalat Ied diimami oleh Ustadz Anwar yang langsung sebagai khatib. Di desa Sagitci’ dengan Imam/Khatib Sidi Said. Di Sikakap (Kecamatan Pagai-Selatan), tahun 1412 H kedatangan mubaligh kawanan dari Tanah Tepi (Padang). Di antaranya Ustadz Drs. Syamsir Roust, Ketua Jurusan Adab Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol bertindak menjadi Khatib/Imam di PT. MPLC Sikakap. Sementara Drs. Syamsul Hudaya dari kota gelamai Payakumbuh bertndak sebagai khatib di masjid Al Furqan Sikakap.

Nuansa Kehidupan Islami

146

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di desa-desa terpencil seperti Rimba Jaya, shalat Ied dipimpin oleh Lukman Hakim. Desa Buriay Baru dengan Imam/Khatib Ustadz Hasan Bishri, putra Mentawai dan di desa Tubbekked melaksanakan shalat Ied dengan Imam/Khatib Ustadz Hasan Basri Pasaribu yang berumah tangga dengan putri Tubbekked sendiri. Dari gambaran di atas terlihat bahwa gerak da'wah Islamiyah terasa denyutnya. Tidak hanya sebatas pusat kecamatan, tetapi sudah sampai ke jantung pedalaman Mentawai. Sebuah tantangan perlu dijawab, bagaimana pembinaan selanjutnya. Para da'i dan penda'wah di Tanah Tepi, seharusnya sudah siap untuk berperan aktif membina sesama jama’ah Muhtadin tanpa membedakan letak wilayah. Ummat Islam di Kepulauan Mentawai adalah ummat kita juga, yang mendambakan perlakuan dan pembinaan yang serupa seperti yang kita lakukan di Tanah Tepi. 

Pendekatan Partisipatif Pengembangan Dakwah di Mentawai
Oleh : H. Mas’oed Abidin

Nuansa Kehidupan Islami

147

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Di tengah gencarnya pembicaraan pengembangan kepulauan Mentawai, permasalahan pertama yang mencuat ke permukaan adalah modal pendekatan macam apakah yang paling cocok untuk upaya pengembangan dakwah di kepulauan ini. Disadari, upaya menggelindingkan pembangunan, ibarat 'perjalanan sebuah kereta kencana'. Akselerasi roda besar sangat ditentukan oleh percepatan roda-roda kecil yang ada dibelakangnya. Analogisnya, bagaimanapun majunya daerah-daerah sentra yang ada, tetapi kalau daerah-daerah kecil yang mengelilingi, di kawasan sentra itu masih tetap seperti sediakala, maka keberhasilan secara umum belumnya berarti apa-apa. Secara khusus untuk Sumatera Barat, realitas akan dirasakan, maju atau berhasilnya Sumatera Barat akan dilihat orang secara keseluruhan, termasuk pengembangan dan pembangunan kepulauan Mentawai. Lebih khusus lagi, dalam pengembangan Dakwah Islamiyah di kepulauan Mentawai. Kita merasakan permasalahan yang mendasar dan masih dicarikan jalan pemecahannya. Adalah pola pendekatan yang efektif untuk masyarakat Isalam di kepulauan penyangga Samudera ini. Selama kita melihat, begitu tercurahnya perhatian sesama ummat Islam terhadap perbaikan taraf 'Iman' dari saudara-saudara kita disana. Dilihat dari aspek aqidah. Begitu pula semestinya terhadap aspek sosial ekonominya. Perhatian itu betul-betul mengambarkan bagaimana rasa Ukhuwah Islamiyah dikalangan ummat cukup berkembang. Pertanyaan yang masih tetap pada posisinya, apakah pendekatan yang dilakukan sudah mengarah kepada sasaran yang kita inginkan. Kalau dalam pengembangan dakwah di kepulauan Mentawai, orientasi kita kepada hasil.

Nuansa Kehidupan Islami

148

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Jujur kita akui, sasaran yang ingin kita tuju masih jauh, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dari segi kuantitas, masyarakat Islam Mentawai masih merupakan jumlah yang minoritas di daerahnya. Sementara di daerah lainnya di Sumatera Barat, agama Islam merupakam mayoritas. Sehingga antara adat dan agama di Sumatera Barat diakui berjalan berkelindan. Adatnya sendiri syara', dan syara' bersendi Kitabullah (Islam). Dari segi kualitas jangan dikata. Ukuran kualitas suatu ummat memang tidak jelas. Tetapi berbagai indikasi kentara terlihat nyata. Antara lain tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, need of achievment-nya, serta indikasi- indikasi sosial budaya lainnya. Yang menonjol dalam menatap kualitas suatu ummat, diantaranya, bagaimana posisi tawarmenawarnya (bergaining posisition). Tidak mungkin posisi tawar-menawar akan kuat kalau kondisi sosial ekonominya lemah. Melihat sumber daya alam (natural resources) Mentawai termasuk daerah yang termasuk subur. Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh di kepulauan ini. Yang belum ada mungkin pemanfaatan sumber daya alam itu secara optimal. Demikian lagi dengan sumber daya menusia (human resources) Mentawai. Masyarakat Mentawai tergolong memiliki jumlah yang relatif banyak di daerah kepulauan itu. Memiliki kekuatan fisik yang prima. Lagi pula sangat beradapsi dengan lingkungannya. Potensi ini kalau diberi bekal ketrampilan tentu merupakan asset yang besar. Karena didukung Inteligence qoutiente yang tinggi. Permasalahannya sekarang, bagaimana mempergunakan sumber daya tersebut. Model pendekatan yang efektif untuk pengembangan potensi masyarakat Mentawai adalah dengan pola pendekatan 'partisipatif'. Sehingga, tiada sebarang pihak yang berpangku tangan.

Nuansa Kehidupan Islami

149

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Perlu dicatat, sikap meniru masyarakat Mentawai masih tergolong tinggi. Sebagaimana lazimnya pada kehidupan masyarakat yang belum tercemar polusi. Kondisi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan kepada hal-hal yang positif. Proses pengembangan dan pembangunan. Bila dikaitkan dengan da'wah Islam di daerah sana, terlihatlah kekurangan kita. Secara kuantitas 'para mujahid da'wah' yang betul-betul intens (bersitungkin) untuk pembangunan jamaah Muthadin masih sedikit jumlahnya. Selain itu para Mujahid da'wah itu masih ada yang belum utuh istiqomah-nya dalam berda'wah. Pendekatan yang dilakukan masih bersifat monotoin (lisan maqaal) saja. Sehingga hasilnya belum optimal. Pembekalan kepada dakwah bil hal, ternyata masih perlu ditingkatkan lagi. Untuk itu, tentu dibutuhkan tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya. Seperti spesialisasi pertanian, pertukangan, perikanan, industri rumah tangga, industri kecil dan bentuk lainnya. Sesuai kebutuhan ummat yang sedang dikembangkan. Motivasinya tidak bergeser dari membangun ummat, dengan kewajiban dakwah Ilallah. Jika kita bandingkan dengan lembaga lembaga keagamaan lain, selain dari memiliki intensitas tinggi juga mereka melakukan pendekatan pastisipasi aktif itu, sesuai dengan kebutuhan yang dihajatkannya. Sistem pembinaan mereka berkesinambungan, menggunakan pola rotasi. Sehingga tidak ada kejenuhan dari para penyeru mereka. Walaupun dari beberapa aspek didapatkan kecenderungan kurang mendidik. Sebetulnya kita bukan tidak mempunyai potensi untuk itu. Permasalahannya bukan tidak ada waktu atau tidak bisa. Ketrampilan, ilmu, motivasi sebagai pembekalan bisa ditambah. Yang esensial barangkali, kita baru bekerja selama ini 'masih setengah hati'. Setidak-tidaknya menghadapi saudara-saudara kita didaerah yang masih perlu dibuka,

Nuansa Kehidupan Islami

150

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

seperti Mentawai. Kalau bekerja setengah hati, dalam dakwah hasilnya tentu menjadi 'setengah Islam'. Agaknya ini perlu renungan kita bersama. Siapa yang mau dan mampu untuk itu. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Setiap muslim berkewajiban menjadi Agen of Change, bisa untuk Mentawai dan dapat pula untuk daerah-daerah lain yang serupa. Masa menunggu tanggapan kita, mereka pun menunggu uluran tangan kita. Kini hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Jangan hanya janji tinggal janji, berbuat untuk Mentawai hanya mimpi.  KARPET RAMADHAN UNTUK MENTAWAI

S

eruan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar untuk membantu ummat Islam di Mentawai terus dilakukan. Kelihatannya seruan itu bersambut. Buktinya, Kamis (25/1/95), DDII mendapat kiriman sembilan gulung karpet dari masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta, atas nama H. Muslim Aboud Ma'ani. Ketua DDII H. Mas'oed Abidin, melalui ekspedisi “enam” di antaranya langsung diminta untuk diantarkan ke dermaga Muaro. "Karpet tersebut kita kirimkan ke Siberut Utara dan Selatan, masing-masing tiga gulung melalui kapal Semangat Baru,” kata Mas'oed kepada Singgalang. “Sedangkan tiga gulung karpet lagi, akan dikirim ke Sipora. Soalnya, seluruh karpet itu diharapkan dapat digunakan untuk bulan Ramadhan 1412 H, sesuai seruan DDII, Alhamdulillah, seruan kita mendapat sambutan yang baik dari kaum Muslimin,” lanjut Mas'oed. 

Nuansa Kehidupan Islami

151

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

BERKORBAN UNTUK MENTAWAI

B

erkorban di Hari Raya Iedul Adha merupakan salah bentuk ibadah dalam Islam. Yaitu melakukan penyembelihan hewan korban yang baik, terpilih dan cukup umur dan dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan, kemudian menyerahkan atau membagi-bagikan kepada orang yang kurang mampu, baik itu di lingkungan tempat tinggalnya maupun ke daerah-daerah terisolir yang selalu mengharapkan uluran tangan orang lain. Ibadah ini mengikuti millah Ibrahim yang hanif, yang rela mengorbankan anak kandungnya (Ismail a.s) demi menyahuti perintah Allah. Dan Ismail pun rela menyerahkan satu-satunya yang dimilikinya yang paling berharga, nyawanya. Semuanya bisa terlaksana karena adanya kepatuhan, kesabaran yang tinggi, keimanan yang kokoh, keikhlasan serta pengabdian yang dalam terhadap Allah Yang Maha Kuasa. Semuanya itu dilakukan hanya dalam kerangka mengharapkan ridha Allah. Dan Allah pula yang menyambut korban itu dengan segala keridhaan-Nya. Sikap mulia yang dicontohkan Ibrahim dan Ismail (keduanya dirahmati Allah), terlihat nyata ketika Ismail diganti oleh Allah dengan seekor kambing. Ismail diselamatkan nyawanya, Ibrahim diterima pengabdiannya.. Sunnah ini berkelanjutan terhadap ummat Muhammad SAW. Karena itu, ibadah korban mendapatkan penilaian yang tinggi di sisi Allah. Hanya dilakukan dalam kaitan taqarrub ilallah atau pendekatan kepada Allah semata.

Nuansa Kehidupan Islami

152

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

"Allah tidak memerlukan daging (ternak yang sembelihnya), juga tidak terhadap darah (ternak-nya). Namun Allah menilai taqwa kamu (yang melaksanakan qurban itu)," (Al- Qur'an). Ketaqwaan terlihat dari sikap dan perilaku pemiliknya. Mereka memiliki hubungan yang akrab dengan Khalik (hablum minallahi), dan kepedulian yang tinggi dengan sesama manusia (hablum minan-naas). Sama sekali tidak terlihat pada pribadi bertaqwa sikap yang tidak terpuji. Sepertinya demi kebanggaan pribadi atau kedangkalan berpikir. Bahkan juga tidak dimiliki keserakahan tanpa peduli terhadap kaum yang lemah. Sikap taqwa demikianlah yang diharapkan tumbuh dalam setiap ibadah kurban. Alhamdulillah di negeri kita, rasa akrab (taqarrub) dengan Allah dan sikap peduli dengan sesama manusia sudah lama ada dan kian hari kian subur tumbuhnya. Setiap tahun jumlah ternak yang dikorbankan pada setiap masjid dan jama'ah Muslimin kian bertambah jumlahnya. Setiap kantor dan instansi mulai menghimpun dana untuk berkurban. Arisan ibu-ibu Dharma Wanita, Korpri di kantor-kantor ikut juga berperan. Suatu susana kepedulian yang mulai menyibak merata. Namun harus diakui, penyebarannya baru hanya sebatas lingkungan kecil di perkotaan. Sedangkan untuk daerah- daerah pedesaan, khususnya yang jauh, nyaris tidak mendapatkan bagian. Tentu banyak faktor yang menjadi penyebabnya

Beramal Untuk Mentawai
Mentawai adalah pulau harapan demikian sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh:Ir. Nasrul Syahrun (Bupati Padang Pariaman).

Nuansa Kehidupan Islami

153

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Dan kepulauan gugusan barat pantai Sumbar ini ternyata tergolong daerah miskin dan terisolir. Tiga perempat desanya tergolong desa-desa tertinggal (31 desa IDT dari 40 desa di Mentawai). Ini berarti di sana setidaknya terdapat hampir 12.990 KK miskin (77,5%), atau bisa mencakup lebih 43.000 jiwa berada dalam tingkat di bawah garis kemiskinan. Bila fokusnya dipertajam, di dalamnya terdapat 15.738 jiwa Muslim muallaf tersebar pada kawasan yang luas. Gugusan pulau-pulau yang membentang dari batas Pasaman hingga Bengkulu. Kita berkewajiban untuk ikut memperhatikan mereka secara lebih intensif. Menjadikan mereka kaya, baik secara kultural, moril dan spiritual. Dan kelak secara pasti mengarah kepada kaya dalam struktural, secara material dan individual. Mentawai sesungguhnya memiliki potensi untuk dikembangkan. Secara kultural mereka memiliki kebudayaan yang luhur. Penduduk aslinya sejak lama memiliki kepedulian kepada sesama. Mereka memiliki sikap kebersamaan yang tinggi, menghargai hak orang lain serta saling memelihara hubungan bermasyarakat. Mereka hidup dalam suasana berpagar yang keras. Di sana banyak hal-hal yang tabu. Penduduk asli Mentawai sejak dulu tidak mengenal pelecehan seksual. Mereka menghormati martabat kaum wanita. Tidak seorang pun berani menaiki rumah orang lain jika di dalamnya hanya ada wanita. Perzinaan suatu yang sangat bau (terlarang). Orang Mentawai sejak dulu tidak meminum minuman keras. Mereka tidak mengenal bahan-bahan beralkohol. Juga tidak ditemui sebuah permainan pun yang mengarah kepada pertaruhan (judi). Jelaslah kalau mereka memiliki budaya yang luhur.

Nuansa Kehidupan Islami

154

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

Kalau hari ini semua itu hampir berubah, hal ini dikarenakan adanya pergeseran atau pergesekan dengan budaya pendatang. Semuanya itu bisa tumbuh subur, karena orang Mentawai (sebagaimana lazimnya pada daerah-daerah terisolir lainnya) memiliki kecenderungan yang tinggi untuk meniru. Ini sebuah tantangan bagaimana kita memberikan sesuatu yang baik untuk ditiru. Realisasinya pada aktivitas yang nyata. Dalam kaitan ibadah korban sudah semestinya kita menumbuhkan sikap rela berkorban untuk Mentawai. Tahun 1414 H, alhamdulillah beberapa jama'ah masjid di antaranya masjid Al Falah Kuala Nyiur, masjid Al Azhar Jakarta, Yayasan Ibu Sumbar serta Keluarga Besar PT. Semen Padang, ini membuktikan kerelaan mereka untuk berkorban ke gugusan pulau di semudera barat ini. Di samping pribadi yang mengirimkan melalui Dewan Dakwah Padang. Jumlah itu tidak kurang dari tujuh ekor sapi yang dikirim ke Sipora, Muara Siberut dan Muara Sikabaluan. Belum termasuk kepedulian karyawan PT. MPLC untuk daerah Sikakap. Insya Allah jumlah ini akan terus bertambah dengan keikutsertaan Lembaga-lembaga Da'wah di Sumbar, seperti Muhammadiyah Wilayah, 'Aisyiyah DKI Jaya dan pribadipribadi Muslim di rantau maupun di Tanah Tepi. Bahkan ummat Islam di pusat-pusat kecamatan di Mentawai, secara tetap ikut pula berkorban untuk menyantuni para muallaf di desa-desa terpencil. Peran KUA/Depag, pemuka-pemuka masyarakat di pusat kecamatan itu, dengan kerja sama yang penuh antara pejabat dan Muspika di kecamatan Mentawai. Amat banyak menentukan keberhasilan pelaksanaan ibadah di desa-desa terpencil itu. Patutlah kita syukuri kalau Lembaga Ighotsah (IIRO) Jakarta yang merupakan bagian dari Rabithah Alam Islamiy

Nuansa Kehidupan Islami

155

Pernik-Pernik Dakwah Mentawai

juga mengirimkan 24 ekor kambing korban, yang dipotong di Taileleo, Malilimuk, Sarausau, Sallappa, Saibi Somokop, Saliguma dan sebagian lagi di tujuh desa di Siberut Utara.

Nuansa Kehidupan Islami

156

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful