PAPER LKTI 2010 “SINKRONISASI PROGRAM PEMERINTAH, SWASTA, DAN

MASYARAKAT DALAM UPAYA MENANGGULANGI BENCANA KEKERINGAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR”

Disusun Oleh: TIM TI_UNDIP 1. Sudarmanto 2. M. Mujiya Ulkhaq 3. Stevani Agvia 4. Melinda Widiani L2H 006 070 L2H 007 043 L2H 007 057 L2H 007 041

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

SINKRONISASI PROGRAM PEMERINTAH, SWASTA, DAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENANGGULANGI BENCANA KEKERINGAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Sudarmanto, M. Mujiya Ulkhaq, Stevani Agvia, Melinda Widiani Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

ABSTRAK Masalah kekeringan mengakibatkan bencana yang cukup berat bagi kehidupan manusia. Cadangan air yang makin menyusut merupakan penyebab utama timbulnya masalah kekeringan ini. Kekeringan berakibat pada kurangnya persediaan pangan bagi penduduk, yang pada gilirannya akan mempengaruhi mutu kehidupan. Propinsi NTT merupakan daerah yang memiliki intensitas tinggi mengalami bencana kekeringan dikarenakan kondisi iklim dan tanahnya. Sinkronisasi antara program yang dijalankan pemerintah, dengan bantuan yang digulirkan dari pihak swasta, sekaligus peran dari masyarakat itu sendiri, adalah suatu jawaban yang logis untuk menjawab permasalahan rendahnya ketahanan pangan yang terjadi di NTT karena bencana kekeringan yang selama ini melanda wilayah tersebut. Keywords: Bencana, kekeringan, propinsi NTT

PENDAHULUAN Masalah kekeringan mengakibatkan bencana yang cukup berat bagi kehidupan manusia. Cadangan air yang makin menyusut merupakan penyebab utama timbulnya masalah kekeringan ini. Kekeringan akan berakibat pada kurangnya produksi pangan bagi penduduk, yang pada gilirannya akan mempengaruhi mutu kehidupan. Seringkali bencana kekeringan terkait dengan peristiwa fenomena penyimpangan pola cuaca dan iklim. Menurut Bey et al., (1995), iklim dan cuaca merupakan komponen agroekonomi yang terbuka (terhadap biosfer), sangat dinamis, sulit dimodifikasi, dan adanya interaksi antarunsur. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekeringan adalah curah hujan sebagai sumber air tersedia, karakteristik tanah sebagai media penyimpanan air, dan jenis tanaman sebagai subjek yang menggunakan air. Propinsi NTT, yang terletak pada posisi 80–120 Lintang Selatan dan 1180–1250 Bujur Timur, merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 566 pulau dengan luas daratan mencapai 47.349,90 km2. Wilayah NTT pada umumnya beriklim kering, dengan

1

periode musim kemarau lebih lama dari musim hujan, yakni berlangsung selama 7 bulan (Mei sampai Nopember). Suhu udara rata-rata 27,60 C dengan suhu maksimum rata-rata 290 C dan suhu minimum rata-rata 26,10 C.1 Dengan kondisi iklim tersebut, maka tidaklah mengherankan jika NTT sangat rentan terhadap masalah kekeringan dan rawan pangan.

TINJAUAN LITERATUR Berdasarkan penelitian yang dilakukan Handoko dan I. Las (1994), terdapat tiga pendekatan yang harus dilakukan dalam upaya penanggulangan masalah kekeringan, yakni: (1) Pendekatan strategis, yaitu pendekatan yang dimaksudkan untuk analisis data iklim yang bersifat rata-rata dengan menggunakan data historis untuk keperluan perencanaan yang bersifat umum (skala luas) dan jangka panjang. (2) Pendekatan taktis, yang didasarkan pada pengembangan metode dan teknik ramalan musim yang lebih handal, dan (3) Pendekatan operasional, yang dilakukan untuk mengantisipasi dan menanggulangi bencana yang memang tidak terhindarkan, berupa upaya penanggulangan dan penyelamatan tanaman ketika ramalan musim meleset, termasuk dalam hal ini pengalihan irigasi, penyesuaian pola tanam, dan ketersediaan air.

DASAR TEORI Dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Menurut Soenarno dan Syarif (1995), kekeringan merupakan keadaan tanpa hujan yang berkepanjangan atau masa kering yang di bawah normal yang terjadi cukup lama sehingga menyebabkan terganggunya kesetimbangan hidrologi yang serius. Kekeringan ada dua kategori, yaitu kategori terkena kekeringan seperti kondisi ketika musim kering menyebabkan sawah, retak-retak diikuti tanaman kering dan mati dan kategori terancam kekeringan yaitu kondisi ketika sawah masih basah karena adanya suplai air akan tetapi jumlahnya jauh dari yang dibutuhkan. Batasan keadaan kering sukar ditentukan karena tergantung dari banyak faktor. Orang akan segera dapat memahami keadaan kering bila air yang berasal dari hujan berkurang, atau dengan kata lain keadaan ini dicirikan dengan adanya kekurangan presipitasi (Palmer, 1965; Barry dan Chorley, 1976).
1

Lihat http://www.nttprov.go.id/ntt_09/index.php?hal=geo [dikunjungi 3 Februari 2010]

2

ISI DAN HASIL 1. Identifikasi Masalah Bencana kekeringan yang terjadi di NTT, ternyata menimbulkan dampak yang tidak kecil. Hal ini dikarenakan pengaruhnya tidak sekadar menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil bumi, namun juga dapat mematikan tanaman dan juga menyebabkan kekurangan air bersih. Lebih lanjut, bahaya kelaparan akan mengancam apabila bencana kekeringan ini tidak segera ditanggulangi. Dan parahnya lagi, apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka yang terjadi selanjutnya adalah ketidaktahanan pangan, hal yang saat ini sudah terjadi di NTT (Lassa, 2009). Setelah melakukan penelusuran dan analisis mendalam terhadap kondisi lingkungan di NTT, diketahui bahwa bencana kekeringan yang berdampak pada ketidaktahanan pangan yang melanda wilayah NTT terjadi karena banyak faktor. Untuk menganalisis faktor-faktor penyebab tersebut, digunakan Fishbone Diagram, yang merupakan suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara faktor-faktor penyebab masalah dan akibat yang ditimbulkan. Secara umum, Fishbone Diagram menelusuri akibat yang ditimbulkan oleh lima kategori penyebab terbesar, yaitu: materials, methods, man, machine, dan environment (4M+1E). Manfaat dari dipakainya Fishbone Diagram antara lain untuk mengidentifikasikan akar penyebab dari suatu masalah serta membangkitkan ide untuk mengatasi permasalahan tersebut. Di bawah ini adalah Fishbone Diagram untuk kasus bencana kekeringan yang berujung pada ketidaktahanan pangan yang terjadi di wilayah NTT.

Gambar 1. Fishbone Diagram Ketidaktahanan Pangan di NTT

3

2. Usulan Program Berikut adalah tabel rekomendasi program menurut kriteria penyebab yang ada pada Fishbone Diagram.
Tabel 1. Rekomendasi Program Menurut Kriteria Penyebab

No.

Kategori

Kriteria Penyebab Bibit tanaman tidak cocok dengan iklim

1

MATERIALS

Kurangnya diversifikasi tanaman

2

METHODS

Penyuluhan yang kurang efektif

Program konservasi lingkungan tidak terintegrasi

Pendidikan masyarakat rendah

3

MEN

Pola pikir masyarakat masih sangat tradisional

Kurangnya pengetahuan dan informasi dunia luar

Rekomendasi Menyediakan bibit tanaman jangka pendek bernilai tinggi yang tidak bergantung pada ketersediaan air, misalnya kacang, jagung, dan kesambi.  Memperbanyak jenis tanaman yang ditanam dalam satu kurun waktu  Menerapkan pola tanam padi-padi-bera dan padipalawija-palawija.  Mengupayakan penyuluhan tepat sasaran dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat  Memonitor hasil penyuluhan sehingga dapat direalisasikan secara berkelanjutan.  Mempertimbangkan program-program dari institusi lain sehingga tidak saling bertentangan.  Mengadakan klusterisasi masalah yang terdiri dari kluster wilayah dan kluster jenis bencana. Mengadakan sekolah informal seperti kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk masyarakat NTT Tetap menghargai prinsipprinsip yang mereka anut, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri sebagai antisipasi bila ramalan mereka meleset. Mengajak masyarakat untuk lebih aktif mencari informasi terkait dengan kemungkinan terjadinya bencana kekeringan.

4

Lanjutan Tabel 1.

Sikap hidup masyarakat pasif dan kurang peduli pada lingkungannya

Pemerintah terkesan kurang memaksimalkan upaya konservasi alam NTT Kerusakan alat-alat pertanian

4

MACHINES

Kerusakan alat pendeteksi indeks kekeringan

Kurangnya perangkat penyedia informasi

Intensitas curah hujan rendah

Suhu tinggi

5

ENVIRONMENT

Tanah NTT memiliki tingkat kesuburan rendah

Perubahan iklim (Climate Change)

 Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya lingkungan hidup  Melarang masyarakat menebang hutan sembarangan terutama pada musim kemarau. Pemerintah harus mendukung dan memonitor realisasi program konservasi secara kontinu. Memberikan informasi secara teori maupun praktik tentang bagaimana merawat alat-alat pertanian yang mereka miliki. Menjelaskan bagaimana menjalankan alat sesuai SOP, memberikan informasi secara teori dan praktik bagaimana merawat alat tersebut. Pemerintah dan swasta hendaknya menyediakan perangkat sumber informasi seperti pengadaan televisi gratis. Membangun embung untuk menampung air hujan atau memaksimalkan penggunaan air tanah.  Reboisasi dengan tanaman jangka panjang yang tidak membutuhkan banyak air, misalnya jambu monyet.  Mengajak masyarakat untuk tidak menebang pepohonan dan membakar hutan pada musim kemarau.  Melakukan usaha pompanisasi untuk peningkatan produkstivitas dan intensitas tanam  Lebih selektif memilih bibit tanaman yang cocok dengan kondisi tanah NTT. Mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian alamnya secara proaktif.

5

Banyak riset telah dilakukan terkait persoalan pangan, kepalaran, malnutrisi, serta demografi di NTT—misalnya yang dilakukan oleh pihak swasta, seperti The Istitute for Ecosoc Rights (2006), Barbiche and Geraets (2007), serta NTT Food Summit (2008), hingga Danone (2007)—namun kesemuanya sering tidak terintegrasi antara satu dengan lainnya. Maka, sinkronisasi antara program yang dijalankan pemerintah dengan bantuan yang digulirkan dari pihak swasta, sekaligus peran dari masyarakat itu sendiri haruslah dijalankan. Untuk menyinkronkan rekomendasi program di atas, maka dibuat klusterisasi sesuai dengan pihak-pihak yang berkepentingan. a. Kluster tanggap bencana Kluster ini mencakup pihak pemerintah yang diharapkan mengadakan penyuluhan tentang metode pertanian yang tepat sasaran. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang tidak mengerti tentang metode pertanian yang cocok diterapkan pada daerah kering. Selain itu, sebagai tidak lanjutnya adalah menyediakan bibit tanaman jangka pendek yang bernilai tinggi namun tidak bergantung pada ketersediaan air, seperti: kacang, jagung, dan kesambi. Pemerintah juga seharusnya memberikan perlindungan kepada para petani dengan mengasuransikan lahan yang sudah ditanam dengan pemerintah sebagai penjaminnya. Dengan demikian, bila terjadi gagal tanam atau gagal panen, maka pemerintah akan membayar klaim kerugian petani ini Untuk meningkatkan SDM, maka pemerintah juga sebaiknya menganggarkan dana untuk membangun infrastruktur di bidang pendidikan, karena jumlah sekolah yang ada sangat minim jumlahnya. b. Kluster monitoring Dalam kluster ini, LSM yang berfungsi sebagai pihak pengontrol sudah seharusnya memonitor segala kebijakan dan program yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, apabila LSM mempunyai program sendiri untuk menanggulangi bencana kekeringan yang ada di NTT tersebut, maka haruslah disinkronkan dengan pihak pemerintah agar tidak saling tumpang tindih. c. Kluster partisipasi proaktif Masyarakat yang telah mengetahui karakteristik iklim di NTT sebaiknya menerapkan pola tanam padi-padi-bera atau padi-palawija-palawija karena hal ini akan menyebabkan tanaman padi tidak akan mengalami kekurangan air bila ternyata musim hujan berhenti lebih awal sekitar 20-30 hari. Selain itu, masyarakat

6

juga harus aktif mencari informasi terkait dengan kemungkinan terjadinya bencana kekeringan.

KESIMPULAN Ketidaktahanan pangan yang terjadi di NTT akibat bencana kekeringan disebabkan oleh berbagai faktor. Bila dianalisis menggunakan Fishbone Diagram, hal tersebut disebabkan oleh lima faktor penyebab besar, yakni: Materials, Methods, Men, Machines, dan Environment. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibuatlah suatu rekomendasi program yang disesuaikan dengan pihak-pihak terkait—agar terjadi sinkronisasi—dengan melakukan klusterisasi, yakni: kluster tanggap bencana

(pemerintah), kluster monitoring (nonpemerintah), dan kluster partisipasi proaktif (masyarakat).

REFERENSI Amelia, Vela. 2004. Pendekatan Penanggulangan Kekeringan Untuk Usaha Tani. Jurnal Pengantar Falsafah Sains Institut Pertanian Bogor Barbiche and Geraets. 2007. Water and Sanitation and Food Security Assesment NTT. Acf (Action contre la Faim) Assesment Report Desember 2006-January 2007 Barry, R. G. and R. J. Chorley. 1976. Atmosphere, Weather and Climate. The English Language Book Society and Methuen and Co. Ltd. Third Edition. Bey, A., dkk. 1995. Pengembangan Analisis Data Iklim dan Perwilayahan Agroklimat dalam Menunjang Usia Tani yang Prospektif. Prosiding Simposium Meteorologi Pertanian. Yogyakarta Handoko dan I. Las. 1994. Metodologi Pendekatan Strategis dan Taktis untuk Pendugaan serta Penanggulangan Kekeringan Tanaman. Di dalam Diskusi Panel Antisipasi Kekeringan dan Penanggulangan Jangka Panjang, 26-27 Agustus 1994, Sukamandi Lassa, Jonathan A., 2009. Memahami Kebijakan Pangan dan Nutrisi Indonesia: Studi Kasus Nusa Tenggara Timur 1958-2008. Journal of NTT Studies Vol 1 No 1: 29 Maxwell, S. 1996. Food Security: A post-modern perspective. Food policy, Vol 21. No. 2 Palmer, Wayne C., 1965. Meteorological Drought. Research Paper No. 45, U.S. Department of Commerce. Weather Bureau, Washington D.C

7

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful