You are on page 1of 5

ُ‫ق اْلَ ْذ ُم ْومَة‬

ُ‫ل‬َ ‫ْالِبْتِعَادُعَنِ اْ َل ْخ‬
AKHLAK TERCELA
Kode: 1.A5.7

Tujuan Instruksional
Setelah mendapatkan materi ini peserta diharapkan mampu:
1. Besikap tidak takabbur (sombong), tidak menghina, tidak meremehkan, dan tidak mencibir
dengan isyarat apa pun.
2. Mengetahui hakikat kesombongan dan keburukannya dengan memberikan definisi
kesombongan dan menyebutkan keburukannya.
3. Menjelaskan hal-hal yang menyebabkan kesombongan, setidaknya 5 hal.
4. Mengetahui dan menguraikan perilaku tercela akibat kesombongan, setidaknya 3 hal.
5. Menjaga dan memelihara diri dari kesombongan karena takut akan ancaman Allah swt.
dengan cara meninggalkan hal-hal yang menyebabkan kesombongan dan meninggalkan
perilaku yang menunjukkan kesombongan.

Titik Tekan Materi
Dengan materi menjahui akhlak tercela ini, maka seseorang akan memiliki sikap tidak
takabur, tidak menghina, tidak meremehkan, dan tidak mencibir dengan sikap apa pun. Dengan
materi ini akan terbentuk karakter matiinul khuluk pada diri seseorang.
Dengan demikian kita akan berusaha mencapai keridhaan Allah dengan menumbuhkan,
meningkatkan, dan menjaga ketawadhu’an dalam menjalankan segala aktivitas dalam
pergaulan. Materi menekankan bahwa kesombongan merupakan akhlak tercela dan merupakan
sifat iblis laknatullah alaih. Iblis menganggap dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam karena
dirinya diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Rasulullah saw. mendefinisikan kibir
(sombong) adalah menolak yang hak dan meremehkan orang lain. Rasulullah saw.
mengingatkan bahwa orang yang di hatinya ada kesombongan tidak pernah mencium bau surga
dan tidak akan mendapatkan hidayah.
Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kesombongan dan akibat-akibatnya. Disertai
dengan contoh-contoh dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sebagai penyeimbang, sertakan juga karaktristik ketawadhu’an sebagai lawan kesombongan.
Juga kiat-kiat menuju ketawadhu’an.

Pokok-pokok Materi
1. Ta’rif akhlak
2. Pembagian akhlak
3. Hakikat kesombongan dan keburukannya
4. Faktor-faktor penyebab kesombongan
5. Perilaku tercela yang muncul akibat kesombongan
6. Karakteristik ketawadhu’an sebagai lawan kesombongan
7. Kiat-kiat mengobati kesobongan.

Teknologi Pembelajaran
Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah menghindari akhlak tercela dan
sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pengetahuannya
tentang hakikan kesombongan dan bahayanya. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta
tentang hakikat kesombongan dan bahayanya disertai dalil-dalil dalam Al-Quran dan Sunah.
Uraikan penyebab-penyebab kesomboingan dan perilaku lainnya yang didasari kesombongan
dengan dalil-dalilnya. Kemukakan kisah-kisah shahabat, tabi’in dan salafu-saleh dan pancing
perserta untuk mengermukakan kiat-kita mengatasi kesombongan agar mencapai ketawadhuan.
Lengkapi dan sempurnakan tanggapan peserta sehingga mencapai target yang ditetapkan.
Ta’rif Akhlak
Akhlak adalah situasi hati yang mantap, yang muncul ke permukaan dari individu muslim
dengan reflek tanpa dipertimbangkan. Apabila situasi hati itu menimbulkan amal perbuatan
yang baik dan terpuji menurut akal dan agama, ia disebut akhlak yang baik. Dan jika yang
timbul darinya adalah amal perbuatan yang buruk, berarti situasi yang menjadi sumbernya
adalah situasi hati atau akhlak yang buruk.
Di antara akhlak yang buruk tersebut adalah kesombongan (al-kibr).
Apakah kibr itu? Ia adalah perasaan yang cenderung memandang diri lebih dari orang
lain dan meremehkannya. Kesombongan memerlukan adanya orang yang disombongi dan hal-
hal yang dipergunakan untuk menyombongkan diri.
Meskipun demikian, seseorang yang menganggap dirinya besar tidak serta merta disebut
sombong. Sebab ada kalanya seseorang meganggap dirinya besar akan tetapi ia memandang
orang lain sejajar dengannya, atau bahkan lebih besar daripada dirinya. Demikian juga,
seseorang yang menganggap orang lain rendah tidak serta merta pasti orang sombong, sebab
bisa jadi ia memandang dirinya sejajar dengannya atau bahkan lebih rendah.
Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mencela sikap sombong
* Kemudian Kami katakan kepada malaikat,”Bersujudlah kalian kepada Adam.”
Mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk yang bersujud, Allah
berfirman,”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam ketika Aku
menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari
api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman, “Turunlah kamu dari
surga, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.” Maka keluarlah,
sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (Al-A’raf/7: 11-13)
* Aku akan memalingkan orang-orang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, tidak
beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, maka
tidak mau menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat jalan keksesatan, mereka terus
menempuhnya.Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka
selalu melalaikannya. (Al-A’raf/7: 146)
* Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mukmin/40: 60)

Rasulullah saw. bersabda,
‫رواه مسلم‬ . ٍ‫لَ يَدْخًلً اْلَنّ َة مَنْ كَا َن ِفْ قَ ْلبِ ِه مِْثقَا َل َذ ّرةٍ مِنْ كِْبر‬
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi
kesombongan. (HR. Muslim)

Dari Abu Hurarirah ra., dari Nabi saw., Allah swt. berfirman, Kesombongan adalah kain
selendang-Ku, kebesaran-Ku. Pada salah satu dari keduanya niscaya Aku akan menyiksamu
di dalam neraka jahanam, dan Aku tidak mempedulikannya. (HR Muslim).

Nabi saw. bersabda, Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam
bentuk semut yang diinjak-injak ummat manusia karena penghinaan mereka kepada Allah.
(HR. Al-Bazzar).

Bahaya Takabbur
Dari ayat-ayat dan Hadits di atas dapatlah diketahui bahwa akibat dan bahaya takabbur
banyak sekali. Betapa tidak, sedangkan Nabi saw telah menjelaskan bahwa orang yang di
dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga. Hal ini karena sikap
sombong menjadi tabir antara seorang hamba dengan akhlak orang yang beriman seluruhnya.
Sedangkan akhlak tersebut merupakan pintu-pintu masuk surga. Dan kesombongan telah
menutup pinut-pintu itu seluruhnya. Sebab oirang yang sombong tidak dapat mencintai orang
beriman yang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak dapat berlaku tawadhu’,
padahal tawadhu’ merupakan pangkal akhlak orang beriman yang bertakwa. Ia tidak dapat
terus-menerus menjaga kejujuran, tidak dapat meninggalkan rasa dendam, marah, dan dengki;
tidak dapat memberi nasehat orang lain; selalu menghina orang dan menggunjingnya.
Sikap sombong inilah yang merupakan dosa pertama iblis yang dipergunakan untuk
durhaka kepada Allah. Akibatnya ia diusir dari jannah, kemudian timbul dendam kepada Adam
a.s.
Seburuk-buruk kesombongan adalah kesombongan yang dapat menghalangi pelakunya
untuk mendapatkan manfaat ilmu dan mengahalangi pelakunya untuk menerima kebenaran dari
orang lain dan tunduk kepada kebenaran Oleh karena itu Rasulullah saw menjelaskan
kesombongan dengan dua macam bahaya ini ketika beliau ditanya oleh Tsabit bin Qais. Ia
berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang suka keindahansebagaimana Engkau lihat.
Apakah itu trmasuk sombong?” Nabi amenjawab, “Tidak. Akan tetapi kesombongsan adalah
menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim).
Jadi setiap yang memandang dirinya lebih baik daripada orang lain dan menghinanya
serta memandangnya dengan sinis, atau menolak kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka ia
telah sombong dan merebut hak-hak Allah.

Faktor-Faktor Penyebab Kesombongan
Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan kesombongan, Ada yang bersifat
keagamaan seperti ilmu dan amal, dan ada yang bersifat keduniaan seperti nasab, ketampanan,
kekayaan, dan banyaknya pendukung.
1. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dapat dengan cepat menjangkiti orang menjadi sombong. Seseorang
merasa dalam dirinya terdapat kesempurnaan ilmu, lalu merasa dirinya hebat, menganggap
orang lain bodoh. Kesombongan karena ilmu disebabkan dua hal: pertama, karena menekuni
sesuatu yang disebut ilmu, padahal sebenarnya bukan. Sebab ilmu yang hakiki dapat untuk
mengenal Tuhannya, dan dapat mengenalkan berbagai hal ketika berurusan dengan Allah. Ilmu
yang benar dapat menimbulkan rasa takut dan tawadhu’, bukan sebaliknya. Seperti dalam
firman Allah,“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah
ulama’” (QS Fathir/35: 28)
Kedua, menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang rendah dan akhlak yang
buruk. Seseorang tidak lebih dahulu melakukan tazkiatun nafs, menekuni pensucian jiwa dan
pembersihan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, dan tidak menempa jiwanya dengan
ibadah. Akibatnya, ilmu yang ditekuninya tidak membawa bekas kebaikan.
Cara mengatasinya. Kesombongan karena ilmu dapat diilaj dengan mengetahui bahwa
keutamaan ilmu itu hanyalah dengan disertai niat yang baik dan mengamalkannya serta
menyebarluaskannya karena Allah tanpa menmgharapkan manfaat dari manusia. Jika tidak
demikian akan menyebabkan seorang yang berilmu lebih rendah martabatnya daripada orang
yang bodoh.
Dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan
ada orang yang dibawa pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka sehingga isi
perutnya keluar, lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar-putar dalam penggilingan.
Kemudia para ahli neraka mengelilinginya dan berkata, ‘Hai Fulan, mengapa kamu (demikian),
bukankah kamu (dahulu) memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar?’ Ia
menjawab, ‘Ya, saya dahulu saya memerintahkan yang ma’ruf, namun saya tidak
mengerjakannya, dan saya mencegah yang mungkar, namun saya mengerjakannya’” (HR
Muslim).

2. Amal dan Ibadah
Ahli ibadah kadang-kadang menyombongkan diri atas orang-orang lain, terhadap orang
yang tidak melakukan amal ibadah seperti yang dilakukannya. Sikap seperti ini adalah sebuah
kebodohan.
Cara mengatasinya adalah dengan memahami bahwa keutamaan ibadah itu jika diterima
oleh Allah. Dan diterimanya ibadah itu jika telah memenuhi syarat-syarat dan rukunnya, serta
menjauhi apa saja yang dapat merusaknya.Tentunya juga tetap disertai dengan niat ikhlas,
taqwa dan terjaga dari hal-hal yang dapat merusakkannya. Allah berfirman, “Maka janganlah
kamu menganggap suci dirimu sendiri. Dia lebih mengetahui orang yang bertaqwa” (QSAn-
Najm/ : 32). Ayat ini mengisyaratkan bahwa pensucian jiwa itu hanya dengan taqwa.
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal ibadah) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-
Maidah/5:27).
Ketiga, Keturunan dan Nasab. Tidak sedikit kasus orang-orang yang membanggakan
diri hanya karena keturuna atau nasab. Ungkapan mereka “siapa kamu” atau “siapa orang
tuamu”, “aku keturunan si anu” dan “lancang sekali kamu berani bicara denganku” adalah
contohnya.
Untuk mengatasi sikap demikian dapat memperhatikan wasiat Rasulullah sebagai berikut:
Telah diriwayatkan Abu Dzar r.a..Ia berkata, “Saya pernah mengejek seseorang di sisi
Nabi saw. Saya berkata kepadanya, ‘Hai, anak si wanita hitam!’ Kemudian Nabi saw. marah
dan bersabda, ‘Hai, Abu Dzar! Tidak ada kelebihan bagi anak perempuan berkulit putih atas
anak perempuan berkulit hitam’. ‘Lalu saya berbaring dan berkata kepada orang tersebut,
‘Berdirilah dan injaklah pipiku!’” (HR Ibnul Mubarak).
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Abu Dzar menyadari kekeliruannya, yakni
sombong, dan kesiapan menerima balasan (hukuman) langung dari orang yang bersangkutan.
Ia mengetahui bahwa kesombongan akan membawa kehinaan.
Nabi saw. bersabda, “Jika hari kiamat trelah tiba, Allah menyuruh seseorang untuk
berseru, ‘Ketahuilah bahwa Aku (Allah) telah menjadikan nasab (yang mulia) dan kamu
menjadikan nasab yang lain. Aku telah menjadikan yang paling mulia di antara kamu adalah
yang paling bertaqwa. Lalu kamu enggan (menerimanya), bahkan mengatakan, ‘Si Fulan anak
si Fulan lebih baik daripada si Fulan anak si Fulan’. Maka Saya mengangkat nasab (ketetapan)-
Ku dan Aku merendahkan nasab (ketetapanmu)’” (HR Baihaqi dan Thabrani).
Keempat, Kecantikan atau Ketampanan.
Ini banyak terjadi pada kaum wanita. Karena kecantikannya menadi sombong dan
mencela orang lain, dan menyebut-nyebut cacat (kekurangannya).
Untuk mengatasi hal ini dengan memperhatikan aspek batin dan jangan memandang
lahiriahnya. Sebab secara lahiriah, manusia pada umumnya sama saja. Misalnya perut ada
tahinya, hidung dan telinga ada kotorannya, keringatnya berbau, dll. Dengan cara demikian ini,
kita dapat mengetahui berbagai keburukan manusia yang diciptakan dari sesuatu yang
menjijikkan, kemudian mati dan menjadi bangkai. Kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal.
Ia dapat rusak dan hilang setiap saat karena sakit atau sebab lainnya.
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk (lahiriah)-mu, tetapi
melihat hatimu” (HR )
Kelima, Harta Kekayaan.
Ini biasanya mengenai orang-orang yang kaya (aghniya’). Kelebihan dalam kekayaan atau
materi, seperti rumah, kendaraan, pakaian, dan harta benda yang lain menyebabkan 0rang kaya
menghina yang miskin.
Cara mengatasi hal ini dengan merenungkan hakikat kekayaan. Nabi bersabda,
“Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa”
(HR ).
Keenam, Banyaknya Pengikut dan Kekuasaan.
Ini biasanya mengenai para pemimpin dan para tokoh. Kedudukan (kekuasaan) berkait
erat dengan banyak pengikut atau pendukung. Keduanya sering menjadikan seseorang trjatuh
dalam kesombongan.
Untuk mengatasi kedua sebab kesombongan itu adalah dengan memahami
keberadaannya. Takabbur karena dua hal tersebut merupakan kesombongan yang paling buruk,
karena sombong dengan sesuatu yang di luar dzat manusia. Seseorang memilikinya hanya
sebagai pinjaman yang dapat diambil kembali oleh pemiliknya dengan cepat. Andaikata
keduanya telah dicabut, maka bisa jadi orang trsebut akan menjadi yang paling rendah dan hina.
Layak kiranya bagi orang yang budiman untuk menghadap Yang Kekal, yang tidak akan
hilang, dan memikirkan firman Allah berikut.
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amalan-amalan yang
kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi
harapan (QS Al-Kahfi/18:46).
“Katakanlah, “Ya, Allah Penguasa segala penguasa, Engkau brikan kekuasaan kepada
yang Kau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa yang Kau kehendaki; Engkau muliakan
siapa yang Kau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Kau kehendaki dengan kaikan
kekuasaan-Mu. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu’” (QS Ali Imran/3:26)
Ketujuh, Kekuatan Fisik dan Keperkasaan.
Orang-orang yang badannya besar, kekar dan perkasa sering terlalu membanggakannya
sehinga terperosok pada kesombongan. Mereka merasa kuat dan tak terkalahkan.
Untuk menghilangkan (mengilaj) kesombongan ini dengan mengetahui dan menyadari
bahwa kekuatan fisik bukanlah hakikan kemuliaan yang sesungguhnya; ia tidak kekal dan dapat
hilang dengan mudahnya. Misalnya orang yang sangat kuat dan perkasa bisa menjadi lumpuh
karena struk. Atau akan menjadi lemah setelah terkena irus HIV. Jadi tidaklah layak
menyombongkan diri hanya karena kelebihan fisik dan keperkasaan.

Kesimpulan
1. Takabbur adalah rasa senang dan cenderung memandang dirinya melebihi orang lain dan
meremehkannya.
2. Hal-hal yang menyebabkan kesombongan adalah: ilmu, amal, ketmpanan/kecantikan, keturuna
dan nasab, harta kekayaan, kekuatan fisik dan keperkasaan, kekuasaan dan banyaknya
pengikut/pendukung.
3. Akibat kesombongan adalah timbulnya perilaku tercela. Misalnya tidak dpat mencintai saudara
seiman sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak dapat berlaku tawadhu’, tidak dapat
menjaga kejujuran, tidak dapat menjahui rasa dendam, marah dan dengki, tidak dpat bersikap
lemah lembut, tidak mau menerima nasihat orang lain, suka menghina orang lain, dan
sebaginya.
4. Bahaya kesombongan yang paling buruk adalah menghalangi pelakunya dari mengambil
manfaat ilmu, dan menolak kebenaran yang disampaikan orang lain. Dan akhirnya dapat
menghalangi pelakunya masuk surga.

Maraji’
1. An-Nawawy, Riyadhus-Shalihin.
2. Said Hawa. 1999. Mensucikan Jiwa. Jakarta: Robbani Press.
3. Qoyyim, Al-Jauziyah. 1998. Pendakian Menuju Allah SWT. Jakarta; Al-Kautsar.