You are on page 1of 1

TEPI MANUSIA

Sholat dan Zakat: Satu Z
akat, rukun Islam yang lima. Ia salah satu sendi agama. Bentuk zakat, memberikan sebagian harta secara reguler kepada orang lain yang berhak. Ada yang setahun sekali, setiap Idul Fitri (zakat fitrah), ada yang setiap panen (zakat pertanian) ada yang tiap tutup buku (perdagangan) dan ada yang tiap berjumpa obyeknya (zakat barang temuan/harta karun). Bagi pembayar, zakat sebagaimana arti bahasa dari kata zakat mengandung arti suci dan tumbuh. Orang yang patuh membayar zakat, hatinya dididik menjadi suci. Yakni, hatinya sedikit-sedikit dilatih untuk tidak terbelenggu oleh harta, karena memberi kepada orang lain merupakan latihan jiwa membuang sifat tamak, menanamkan kesadaran bahwa di dalam harta miliknya ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Harta pun menjadi suci, karena terbebas dari apa yang bukan miliknya. Al Quran, secara tegas juga memerintahkan pelaksanaan zakat. Menurut catatan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy (1999), terdapat 30 kali penyebutan secara ma’rifah di dalam Al Quran. Bahkan kewajiban zakat kerap bergandeng dengan perintah sholat. Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. (QS: al-Baqarah: 43). Penjelasan kewajiban zakat bergandeng dengan perintah sholat, terdapat pada 28 ayat Al Quran. Menurut sebagian ulama besar, jika sholat adalah tiang agama, maka zakat adalah mercusuar agama. Sholat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia, sedangkan zakat dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia. Beberapa pandangan ulama besar, menyatakan, bersamaannya kewajiban zakat dan perintah sholat dalam Al Quran, menyiratkan bahwa semestinya Allah tidak akan menerima salah satu, dari sholat atau zakat, tanpa kehadiran yang

lain. Pada dasarnya, kepentingan ibadah sholat tidak dimaksudkan untuk mengurangi arti penting zakat, karena sholat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia. Zakat, juga dapat dimaknai sebagai distribusi kesejahteraan. Menurut al Qur’an, di dalam harta si kaya terkandung hak-hak orang lain, yang meminta dan yang tidak berani meminta. Jadi, zakat memang milik mustahik yang harus dibayarkan. Jika tidak dibayarkan, berarti si kaya menahan hak-hak orang miskin yang berhak. Perbuatan itu, searti dengan korupsi. Zakat juga mengandung arti tumbuh. Bahwa harta yang dizakati akan tumbuh berkembang secara sehat seperti pohon rindang, indah dipandang mata, bisa untuk berteduh orang banyak dan buahnya bermanfaat. Prinsip dasar syariat Islam, memperkecil beban, oleh karena itu zakat bersifat

ringan, hanya 2,5 % (zakat niaga/kekayaan), 5 % (zakat produksi pertanian padat modal) , 10 % (zakat produksi pertanian tadah hujan, dan 20 % (zakat barang temuan atau rejeki nomplok). Zakat dipusatkan pada membayar, bukan pada menerima. Oleh karena itu, zakat lebih merupakan shok terapi bagi pemilik harta, agar tidak serakah memonopoli kekayaan. Bahkan, menurut Chapra (1985), zakat mempunyai dampak positif dalam meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi. Sebab, pembayaran zakat pada kekayaan dan harta yang tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan mereka, sehingga mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya. Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat yang nilai-nilai Islam-nya telah terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif, cenderung akan berkurang, sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan kemakmuran yang lebih besar. Zakat juga bukan bentuk kepemihakan kepada orang miskin. Karena, muzaki (pembayar zakat) bukanlah pemilik riil kekayaan itu.

Mereka hanya pembawa amanah sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah al-Hadiid ayat 7. Muzaki harus membelanjakan hartanya menurut persyaratan amanah dan yang paling penting salah satunya adalah memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Diharapkan setiap Muslim yang sadar akan kewajiban agamanya, selalu bersedia membayar zakat. Karena hal ini menjamin kepentingan jangka pendek dan jangka panjangnya, mencari keridhoan Allah SWT dalam kekayaannya di dunia dan akhirat. Rasulullah menegaskan bahwa pembayaran zakat tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Wasiat Nabi ini, mengingatkan pada nasehat Hasan al Banna. Ia, pernah memberi tiga nasehat yang sangat baik. Katanya: berpikirlah untuk memberi agar orang lain memperoleh faedahnya, berfikirlah untuk selalu menanam agar orang lain bisa memetiknya, dan bersusahpayahlah untuk memberi kesempatan orang lain beristirahat. Wallahu’alam.
sunaryo adhiatmoko | Al-Azhar Peduli Ummat

CIMB Niaga Syariah: 5020 1000 63000 Bank Mandiri: 126 000 711 1130

Tunaikan Zakat Anda Melalui Rekening a.n. YPI Al-Azhar

www.zisbersma.org

021-7221504 www.alazharpeduli.com