You are on page 1of 1

TEPI MANUSIA

Darmaji, Kuli yang Kritis
JAKARTA — Dalam pekan kemarin, masyarakat disuguhi drama Senayan yang cukup menegangkan. Para anggota DPR beradu argumentasi, tentang kasus Bank Century. Jutaan rakyat, juga menyaksikan secara langsung polah tingkah wakilnya di Senayan. Dari yang unjuk cerutu, hingga pamer celometan. Cukup menghibur, sekaligus menggelikan. “Lumayan jadi hiburan, mau nonton PSSI juga nggak pernah punya prestasi”, celetuk, Darmaji, kuli bangunan dari Jawa Timur yang sedang menggarap rumah di bilangan Pamulang, Tangerang. Malam itu, saat grand final kasus Century, ia dan empat kuli bangunan lainnya, nonton siaran di televisi. Sesekali ia jadi komentator untuk temantemannya. Kualitas pendapatnya, tak kalah hebat dengan pengamat politik yang tampil di layar tv. “Kalau saya jadi mereka (yang disebut bertanggung jawab dalam kasus Century) akan mengundurkan diri. Tapi tidak karena tekanan politik. Saya akan bilang, saya mundur demi keutuhan bangsa agar rakyat tidak diadu domba. Saya siap diproses secara hukum dan menuntut pemulihan nama baik, jika ternyata saya terbukti tidak bersalah”, Darmaji berandai. Bapak tiga anak yang sudah dua bulan nguli bangunan itu, juga meradang, tatkala salah seorang anggota DPR, dari partai pemenang pemilu mengatakan, bahwa bukti rakyat sejahtera menjamurnya mall, supermarket, tempat hiburan, dan bandara yang dipadati masyarakat. “Itu cara berpikir keblinger”, timpal Darmaji sembari menunjuk layar tv. Teman-temannya jadi kaget, lihat Darmaji makin emosi. “Tumbuhnya mall dan supermarket itu, membunuh ekonomi masyarakat kecil. Dia tidak lihat apa, toko kelontong di desa-desa pada bangkrut karena masuknya mini market. Nyesel saya pilih mereka”, tandasnya mengepalkan tangan. Kegeraman Darmaji, potret tanggapan sebagian masyarakat yang gelisah dengan cara berpikir wakil rakyat dan pemimpin di negeri ini. Mereka mengukur kesejahteraan rakyat dari dapurnya sendiri. Kalau supermarket jadi patokan kemakmuran rakyat, menunjukkan mereka tak pernah bergelut dengan kesulitan hidup rakyat. Membenarkan ungkapan Darmaji, kehidupan Ibukota Jakarta, sesungguhnya dikepung dengan kemiskinan akut.

Sekitar Bandara Soekarno – Hatta misalnya, permukiman kumuh padat sesak. Tampak jelas dilihat, dari atas pesawat yang mau landing. Jika mendekat, aliran sungai yang mengarah ke Tanjung Pasir dari Tangerang, jadi sarana MCK, dengan kualitas air yang tak layak jadi sumber kehidupan. Itu persis di samping Bandara. “Kita rakyat kecil ini, dipaksa ikut gaya hidup pejabat dan orang yang banyak duit. Karena rakyat tak punya teladan, bagaimana cara hidup bersahaja dari pemimpin”, terang Darmaji. Kali ini, emosinya mengendur. Ia menasehati empat anak buahnya, untuk hidup sesuai kemampuan agar tak terpuruk jadi orang miskin. “Kita ini jauh lebih kaya dari mereka yang digaji uang rakyat. Saya dan sampeansampean ini, kalau tidak keluar keringat ya tidak makan.

Kalau tidak banting tulang, ya tidak bisa sekolahkan anak dan membiayai pengobatan kalau sakit”, kata Darmaji menyindir. “Tapi, meski hidup kita sulit jangan menjadi pelit. Tengok kanan kiri, siapa tahu kita kenyang, ada tetangga kelaparan”, nasehatnya dalam. Nasehat Darmaji, mengingatkan saya pada wasiat Nabi, “Pemurah hati dekat dengan Allah, dengan manusia, dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang bakhil jauh dari Allah, dari manusia, dari surga, dan dekat dengan neraka.” (HR Turmudzi). Malam itu, di kamar rumah yang belum jadi, saya lebih menikmati kekritisan Darmaji, daripada perang argumentasi di Parlemen. Karena suara Darmaji jujur, bangsa ini tak punya teladan dan pemimpin yang empati. Wallahu’alam.
sunaryo adhiatmoko | Al-Azhar Peduli Ummat

Rekening ZAKAT a.n. YPI Al-Azhar

CIMB Niaga Syariah: 5020 1000 63000 BCA. 070 303 1011 Mandiri 126 000 711 1130

021-7221504
www.alazharpeduli.com