You are on page 1of 52

Pendidikan

“Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari,kamu harus terbang”

Pendidikan

Belajar IPS

Bagi saya kesuksesan dalam mengajar murid yang paling utama adalah menjadikan murid senang belajar. Entah itu belajar pelajaran apa pun. Dari sekian murid les privatku, kebanyakan mereka tidak suka pelajaran IPS. Mereka lebih suka pelajaran eksakta seperti matematika dan IPA. Giliran belajar IPS mereka ogah-ogahan. Apalagi kalau lihat bukunya tebal dan tulisannya kecil-kecil bertambahlah keengganan mereka. Saat belajar biasanya saya suka meminta mereka membaca sendiri buku mereka dengan memberi warna stabilo di atas kalimat-kalimat penting. Lalu setelah mereka selesai membaca saya tanya bagian yang mereka anggap penting. Nah, kalo lagi pelajaran IPS dan PKN nih para murid pengennnya dengerin saya yang cuap-cuap. Ya, akhirnya saya cuap-cuap sih, tapi cuap-cuap berusaha menyemangati mereka. Kemarin sore, salah satu muridku emoh lagi lihat buku IPSnya. Padahal saya hanya memintanya melihat peta Australia saja. Lalu mulailah saya berkicau menceritakan betapa pentingnya pelajaran IPS. Saya menceritakan pengalaman saya yang pernah dijaili senior (kakak kelas saya waktu kuliah di Depok) kepada murid saya. Dalam rangka memperlihatkan padanya betapa pentingya pelajaran IPS. Sesama alumni sebuah kampus, saya dan teman-teman juga kakak-kakak kelas pernah aktif chatting bersama lewat conference sekitar tahun 2004. Saat itu saya sering sekali ngerjain mereka dengan memakai banyak nickname dalam satu id Yahoo Messenger (YM). Kebetulan cara begini belum jadi modus operandi, maka banyaklah teman yang

Page 2

Pendidikan

berhasil terkena tipu saya hehe. Nah, Kang YS adalah salah satu korban kejailan saya. Karena punya bakat jail juga, maka beliau meminta saya mengajarkannya cara punya banyak nickname dalam satu id YM. Maka saya mengajarinya hingga beliau mahir. Tapi saying, setelah itu saya lupa kalau si Kang YS pernah jadi murid saya. Suatu hari ada yang menyapa saya di YM, namanya Ronald Abdullah. Setiap saya online pasti dia selalu ada dan menyapa saya duluan. Karena bahasa Inggrisnya lumayan bagus jadi saya benar-benar percaya kalau dia adalah bule muslim yang tinggal di Sydney. Nah, pernah saat ke Jakarta, saya telepon Kang YS. Saya bercerita padanya tentang laki-laki dari Sydney yang suka menyapa saya di YM. Maklumlah, Kang YS ini kan penasehat saya dalam hal perjodohan. Si Kang YS dengan seriusnya hanya bilang “Udah rempet aja rempeeet.” Akhirnya tiba juga saat saya curiga sama Mr. Ronald Abdullah. Tapi rasanya ga enak kalau saya secara langsung memperlihatkan kecurigaan saya. Maka jalan yang saya tempuh adalah dengan bertanya Sydney itu ibukota negara bagian mana. Saya kasih dua pilihan; Australia Selatan atau Queensland (padahal Sydney itu ibu kota negara bagian Newsouth Wales hihi). Mr. Ronald Abdullah saat itu ketakutan kalau dua pilihan itu ga ada yang benar. Maka dia hanya bisa menjawab, “You don’t believe in me? “You don’t believe in me?” Akhirnya setelah didesak mengakulah dia ternyata dia adalah Kang YS! Hahaha saya jadi ingat katakata dia yang serius ditelepon. Pasti dalam hatinya mah dia cekikikan, tuh. Hebat ya ga ketawa! Nah, itulah fungsinya belajar IPS anak-anak. Jadi kita tidak akan bisa dijailin sama para ahli jail seperti kang YS cs. Mengerti? Hehehe. August 6, 2009 at 12:26pm

Page 3

Pendidikan

Kualitas SDM Kita Rendah, Tanya Kenapa

Dalam suatu kelas praktikum, tiba-tiba kelas yang hening dikagetkan dengan suara teriakan seorang dosen yang menghardik seorang mahasiswanya. Dengan mata melotot sang dosen berjalan menuju dan menunjukkan telunjuknya ke arah sang mahasiswa yang dianggapnya sangat tidak tahu adab. “HEEEH!!! SIAPA SURUH ANDA SEPERTI ITU?????” Otomatis si mahasiswa yang kaget diperlakukan yang menurutnya tidak pantas oleh dosen itu dengan nada yang tinggi pula berusaha membela diri, karena merasa tidak bersalah. Akhirnya terjadilah adu mulut yang panas antara dosen muda itu dengan sang mahasiswa. Buntut dari kejadian itu lalu menjadi panjang. Si mahasiswa disidang dan harus membuat surat pernyataan bersalah serta diharuskan menghadap sang dosen untuk meminta maaf. Karena merasa bersalah pada teman-temannya akibat ujian mata kuliah bersangkutan ditiadakan sampai batas waktu yang tidak ditentukan, maka sang mahasiswa datang menghadap dosen itu. Di tempat kerjanya, di sebuah universitas negeri di sebuah kota, sang dosen menasehati sang mahasiswa dengan nasihat yang terkesan menggurui. Sang mahasiswa hanya bisa diam mendengarkan tanpa ada perlawanan karena menyadari posisi tawarnya yang rendah. Yang dia ingat hanya nasib teman-temannya yang terlantar akibat kesalahannya. Tentu saja jiwa dan raga sang mahasiswa paska peristiwa itu menjadi tidak sehat lagi. Setiap melihat dosen itu sakit maagnya kambuh secara otomatis. Semangat belajarnya

Page 4

Pendidikan

yang awalnya menggebu-gebu dalam sekejap menjadi sirna. Teman-teman si mahasiswa pun kontan saja menjadi ketakutan begitu melihat sang dosen, walaupun bukan mereka yang dimarahi. Dulu sebelum terkena musibah seperti ini, sang mahasiswa sangat sedih dan ngenes bila melihat ada seorang dewasa yang hanya bisa diam dimarahi orang. Dia pikir betapa tidak merdekanya jiwa orang yang dimarahi itu. Orang bersangkutan hanya bisa mangut-mangut ketakutan tidak bisa bebas membela dirinya. Betapa tidak mendidik dan tidak bijaksananya orang yang men-supresi dan membuat orang lain tidak berdaya. Negara ini adalah negara yang merdeka, tapi kenapa jiwa manusianya masih tidak merdeka? Jawaban atas pertanyaan saya di atas mungkin salah satunya adalah karena kualitas para pendidik kita yang masih harus banyak belajar dalam mendidik para siswanya. Negara ini membutuhkan pendidik yang tidak hanya pintar dalam membangun intelegensi peserta didiknya, tapi juga pintar dalam membangun kekayaan hati murid-muridnya. Seperti contoh kasus di atas, pendidikan telah membuat peserta didik menjadi tidak memiliki kemerdekaan jiwa. Perasaan takut dan jiwa tertekan adalah suatu model kegagalan dalam suatu pendidikan. Selama ini kita hanya bangga bila murid kita bisa mendapatkan nilai atau NEM bagus dalam ujian nasional, sehingga banyak yang bisa masuk ke sekolah negeri karena indikator kemajuan kualitas peserta didik kita hanya berdasarkan angka-angka saja. Tidak ada kepedulian bagaimana angka-angka yang indah itu didapat para murid, apakah karena uang sogokan atau contekkan, atau karena memang usaha keras sang siswa yang rajin menghapal sesuatu yang mungkin beberapa hari kemudian akan hilang dari otaknya. Yang penting nilainya gede, pasti pintar!

Page 5

Pendidikan

Di sini kualitas kejiwaan dan mental sering kali diabaikan dalam mendidik siswa. Siswa tidak dididik dewasa dalam berpikir dan bertindak karena sudah disituasikan kalau guru adalah superior sedangkan murid adalah pihak yang inferior. Guru minta dihormati tapi tidak merasa berkewajiban menghormati siswanya. Maka tidak aneh bila siswa kita menjadi manusia Indonesia yang tidak merdeka jiwanya, penuh dengan rasa ketakutan. Jangan heran jika kita melihat begitu banyak penjilat di negara ini, karena ketakutan jabatannya akan dicopot kalau tidak sesuai keinginan bos. Jangan heran jika di negara kita banyak koruptor, karena mereka ketakutan tidak bisa menumpuk harta untuk 7 turunan. Dan jangan heran bila negara kita begini gini saja, tidak ada kemajuan. Bisanya hanya minta bantuan sana sini setelah itu mau diatur orang lain. Negara kita tidak punya kemerdekaan memiliki kekayaan sumber daya alamnya sendiri pula. Bisanya obral harta sendiri ke orang lain. Indonesia membutuhkan banyak guru yang hebat. Yaitu guru yang mampu memotivasi anak didiknya agar bisa mengoptimalkan dirinya dengan kedewasaan jiwa dan pikiran. Bukan guru yang membuat muridnya ketakutan, ga berminat belajar atau bahkan membuat sakit maag si murid jadi kambuhan. Seperti contoh kasus di atas. “A mediocre teacher tells. A good teacher explains. A superior teacher demonstrates. A great teacher inspires”. Malang, Jun 13, '07 5:40 PM

Page 6

Pendidikan

Nasib si Mahasiswa Senior

Waktu masih semester ke-1 kuliah di Malang, saya pernah punya pengalaman mendebarkan dengan seorang dosen kimia. Saat itu sang dosen, setelah menerangkan materi, mempersilahkan mahasiswa bertanya. Karena tidak ada satu pun dari teman-teman saya yang bertanya, maka saya bermaksud tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah pertanyaan saya selesai diutarakan, tiba-tiba saja ucapan keras keluar dari mulutnya. ”PERTANYAAN APA ITU???” Mungkin setelah mendengar pertanyaan saya, sang dosen menjadi shocked karena seumur-umur jadi dosen baru kali itu ada mahasiswa yang bertanya pertanyaan yang sama sekali tidak berkualitas. Beliau langsung naik pitam seraya memaksa kelopak matanya untuk memperlihatkan diameter matanya yang terbesar. Melihat reaksi dosen yang tidak saya sangka sama sekali akhirnya saya menjadi tidak kalah shocked. Karena seumurumur menjadi murid dan jadi guru SD, baru kali ini ada guru yang tidak menghargai trivial questions muridnya. Saya juga jadi langsung naik pitam melihatnya naik pitam. ”BAPAK TADI MINTA KAMI BERTANYA, TAPI SETELAH SAYA BERTANYA KENAPA BAPAK MALAH bla bla bla....” Maka terjadilah adu mulut yang membuat teman-teman saya sekelas ga kalah shocked-nya. Mereka deg-degan menerka-nerka peristiwa apa yang bakal terjadi. Setelah kejadian itu saya bersumpah untuk tidak bertanya lagi pada dosen itu. Tapi dasar saya yang suka amnesia, minggu besoknya ketika berjumpa lagi dengan pak kimia di kelas dan ketika beliau mengajukan pertanyaan kepada

Page 7

Pendidikan

kami siapa yang tahu terjadinya suatu reaksi kimia, kejadian itu terulang lagi. Setelah melihat tidak ada satu pun teman yang menjawab pertanyaannya, akhirnya saya lupa dengan sumpah saya. Saat itu saya menjawab dengan air muka riang gembira karena yakin jawaban saya bakal benar. Sekali lagi, sang dosen memberi saya kejutan yang tidak disangka-sangka. ”MEMANG PERTANYAAN SAYA APA???” sang dosen dengan ekspresi seperti minggu lalu. Mata bundar bola pingpong itu! ”WAJAR AJA DONG PAK KALO ORANG SALAH DENGER!” jawab saya. Maka kembali terjadilah adu mulut antara dosen senior dan mahasiswa senior itu (maksudnya mahasiswa yang sudah ketuaan jadi mahasiswa) yang membuat teman-teman saya sekelas jadi bertambah shocked. Mereka deg-degan menerka-nerka peristiwa apa yang bakal terjadi. Setelah itu saya dan dosen kimia itu resmi seperti dua orang musuh. Dan ternyata suatu hari kami dipertemukan kembali di suatu acara dalam rangka menyidang saya karena saya terkena kasus anatomi yang tidak kalah shocking-nya. Di acara itu hampir kembali terjadi perang mulut antara saya dengani beliau. Saya merasa sangat disudutkan dan dipatahkan semangat oleh ucapannya. Pokoknya saya merasa terintimidasi, deh! Mungkin itu karena ada sentimen pribadi atas kasus di atas hehehe. Selang satu semester, kembali saya shocked karena ketemu dia lagi di kelas. “Oh, ternyata pengajar Metodologi Penelitian adalah my enemy!” begitu batinku saat itu. Benarbenar tidak bergairah deh mendengar dan melihatnya bicara. Bagi saya dosen yang satu ini adalah benar-benar musuh saya. Tapi setelah diperhatikan sepertinya beliau

Page 8

Pendidikan

merasa kehilangan sesuatu di kelas, karena biasanya suka ada yang bertanya pertanyaan tidak bermutu, kan? Saat itu ketika dia memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya, tak seorang pun yang mau buka suara untuk bertanya, termasuk saya. Sumpah untuk tidak bertanya lagi padanya benar-benar sudah terpatri dalam hati saya. Di depan kelas saat itu kembali beliau memberi kejutan buat saya. ”Saya mohon maaf.... bla bla. Bila tidak mengenal tidak akan memahami. Bila tidak memahami tidak akan memaafkan, kan?” katanya dengan merendahkan suara. Saya yakin sebenarnya permintaan maaf itu ditujukan kepada saya, tapi mungkin beliau gengsi jadi tidak langsung ditujukan pada saya hahaha. Mendengar kata-kata itu hilanglah semua kebencian saya terhadap beliau. Lalu dengan riang, kembali saya mengajukan pertanyaan yang tidak bermutu. Tapi kali ini beliau sangat bijaksana menghadapi muridnya yang minta ampyuun ini hahaha. Ada dua tebakan saya mengenai perubahan sikap sang dosen. 1. Bisa jadi karena beliau kehilangan dan merasa kasihan pada saya karena sering kena semprot dosen hehe. 2. Kaget karena baru tahu kalau saya ini dulu pernah kuliah. Beliau tahu dari transkrip nilai kuliah saya yang saya ajukan karena saya ogah ikut mata kuliah MKDU. Itu pun saya ajukan karena kepalang tanggung sudah banyak orang tahu kalau saya ini pernah kuliah. Waktu awal masuk D3 Akupunktur saya mengaku sebagai lulusan SMA. Benar kan saya lulusan SMA? Bukan lulusan SMK atau Madrasah Aliyah? :D

Page 9

Pendidikan

Kalau tebakan kedua yang benar, maka benarlah pendapat seorang teman yang bilang kalau orang itu cenderung menghormati orang karena statusnya. ”Makanya Mia harus menyelesaikan kuliah, supaya jangan selalu dikecilkan orang.” begitu kata seorang teman suatu hari. Jun 4, '08 6:45 AM

Page 10

Pendidikan

Surat di Majalah Gatra

Gatra edisi lawas 25 juni 2005 memuat sebuah surat, kalau tidak salah surat itu berjudul “Supriono bukan Pahlawan.” Isinya bisa dikatakan sebagai kritik terhadap Supriono dan orang-orang yang menaruh empati padanya. Menurutnya, Suryono hanyalah seorang yang memiliki mental tempe yang dengan mudahnya menyerah pada nasib dalam menyelamatkan anaknya yang meninggal karena diare. Saya merasa sedih membaca surat yang ditulis oleh seseorang yang menyertakan gelar S.Pd dibelakang namanya itu. Dalam benak saya saat membaca surat tersebut, apakah seorang Supriono yang bisa jadi pendidikannya tidak sampai tamat SD bisa diharapkan memiliki mental baja seperti yang diinginkan sang penulis yang adalah seorang sarjana? Apakah seorang Supriono yang pemulung itu memiliki keberanian untuk lirik kanan-kiri, pontang panting meminjam uang kepada para tetangga dan saudaranya yang jelas-jelas bernasib sama, yaitu samasama miskin? Saya sangat yakin, sang penulis surat pastilah mengerti bahwa jenjang pendidikan dan keadaan sosial ekonomi sangatlah mempengaruhi pola pikir seseorang. Untuk itulah sudah seharusnya kita sebagai orang yang ditakdirkan kuat karena keilmuan kita memberikan pencerahan kepada saudara-saudara kita yang tidak beruntung seperti Supriono, bukan malah (kasarnya) menghujatnya. Supriono secara implisit telah mengingatkan kita akan arti sebuah solidaritas. Pencerahan yang bisa kita berikan misalnya dengan memberi penyuluhan tentang memelihara kesehatan diri dan lingkungan, mengajarkan mereka (para keluarga yang tidak mampu) bagaimana cara memanfaatkan tumbuhan obat liar

Page 11

Pendidikan

yang ada di sekitar mereka, sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit bisa cepat diobati dan terlebih lagi mereka tidak perlu mengeluarkan dana. Sebagai seorang sarjana pendidikan, sebenarnya penulis surat tersebut bisa berperan lebih dalam usaha pencerahan ini. Karena beliau memiliki kesempatan untuk bisa mengajarkan para muridnya pencerahan di atas. Lalu diharapkan pengetahuan yang dimiliki oleh muridnya tersebut bisa ditularkan kepada anggota keluarganya lainnya, sehingga generasi penerus negeri kita ini bisa lebih baik dari generasi sekarang. Jangan sampai kemiskinan selalu mewariskan kemiskinan, seperti yang dialami Pak Supriono dkk. Dec 17, '05 3:49 PM

Page 12

Pendidikan

KNIL? Pagi itu tidak seperti biasanya, saya menonton berita pagi RCTI “Nuansa Pagi” pas ketika RCTI menyajikan liputan istimewa mengenai tentara KNIL yang ditayangkan dalam rangka menyambut perayaan kemerdekaan RI yang ke-61. Liputan dimulai dengan penemuan nama-nama orang Indonesia di pekuburan tentara Belanda di Aceh, sehingga disimpulkan pada saat peperangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak melawan tentara bule, tapi melawan orang Indonesia yang menjadi KNIL. Dalam data yang ditampilkan, terlihat komposisi KNIL mencapai lebih dari 80 persen dari keseluruhan tentara Belanda. Seorang penulis buku sejarah (kalau tidak salah judulnya Peperangan Kerajaan-kerajaan di Nusanntara) yang mengoleksi buku-buku berbahasa Belanda menyebutkan beberapa tokoh Indonesia yang pernah menjadi KNIL, diantaranya adalah HM Soeharto dan AH Nasution. Di akhir liputan, RCTI mempertanyakan apakah keberadaan KNIL ini diajarkan di sekolah. RCTI lalu melakukan survei ke sebuah SMU negeri di Bekasi. Seorang siswa terpandai dalam pelajaran sejarah di sekolah tersebut ditanya tentang KNIL. Ternyata dia sama sekali merasa tidak pernah mendengar nama KNIL sejak dari SD hingga saat ditanya. Sebenarnya di buku PKPS (Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial atau yang dulu bernama pelajaran IPS) SD kelas 6 bisa ditemukan sedikit tentang KNIL di bab “Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan”. Di situ dijelaskan tentang kedatangan tentara sekutu untuk melucuti tentara Jepang tapi memboncengi NICA (Netherlands Indisch Civil Administration atau pemerintahan sipil Hindia Belanda). Kedatangan tentara NICA memicu amarah rakyat Indonesia karena NICA mempersenjatai Page 13

Pendidikan

tentara KNIL (Koninklijk Netherlands Indisch Leger) yang menandakan Belanda ingin menjajah kembali Indonesia. Di buku IPS penerbit Airlangga ini KNIL disebut sebagai tentara sewaan kerajaan Belanda. Mereka adalah tahanan yang dibebaskan dari tahanan Jepang yang berada di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Memang dalam buku tersebut tidak dijelaskan secara eksplisit gambaran tentang ”KNIL adalah orang Indonesia yang berjuang demi kepentingan negara penjajah Belanda, yaitu negara yang luasnya kira-kira seluas propinsi Lampung itu, dan ‘berjuang’ untuk menghabisi orang Indonesia,” sehingga wajar saja bila selama ini para siswa membayangkan tentara Indonesia saat itu berperang melawan penjajah berambut pirang. Dan para siswa pun berasumsi bahwa semua orang Indonesia yang berjuang pada saat perjuangan adalah para pahlawan. Mungkin tidak akan terpikir dalam benak mereka jika nenek moyangnya bisa saja adalah tentara KNIL. Tidak ada pertanyaan mengenai KNIL, bahkan kata KNIL saja tidak mereka kenal. Saya tidak bermaksud membicarakan sejarah KNIL dalam tulisan ini, tapi masalah siswa yang tidak familiar dengan KNIL-lah yang menarik bagi saya. Karena ini bisa menjadi masukan bagi para stockholder sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung mengandalkan hapalan dan berpatokan pada angka dalam hal menilai kemajuan siswa. Perlu ditemukan cara agar setiap pelajaran, terutama pelajaran yang mengandalkan ingatan, bisa long lasting dalam otak para siswa. Misalnya untuk pelajaran IPS bisa diputarkan film dokumenter untuk menunjang pelajaran yang diselingi penjelasan dari guru dengan menggunakan perangkat audio visual seperti proyektor LCD. Bisa juga seperti ketika masa saya sekolah dengan cara acting-out (simulasi/drama). Atau bisa juga dengan sering mengunjugi

Page 14

Pendidikan

tempat-tempat bersejarah. Intinya, keterliban siswa secara aktif sungguh akan membantu siswa mengingat pelajaran. Seperti yang diungkapkan Dr. Vernon A Magnesen, ternyata belajar dengan membaca akan menyisakan 10 persen di otak kita, 20 persen kalau kita belajar dari apa yang kita dengar, 30 persen dari yang kita lihat, 50 persen dari yang kita lihat dan dengar, 70 persen dari yang kita katakan, dan 90 persen dari yang kita katakan dan lakukan. Atau para guru bisa juga memberikan tips mudah mengingat. Misalnya dengan menggunakan teknik ingatan imajinasi dan asosiasi. Imajinasi bisa juga disebut dengan teknik mind mapping atau peta pikiran. Agar berhasil dalam mengingat, kita harus mengembangkan imajinasi hidup yang jelas dan kuat dalam pikiran. Teknik ini dituangkan dalam catatan dalam bentuk gambar atau simbol. Adapun asosiasi adalah kemampuan untuk mengambil suatu objek yang kita kenal dan menghubungkannya dengan sesuatu yang sedang kita upayakan untuk mengingatnya. Cara mengingat yang lain adalah dengan memakai jalan keledai, misalnya memakai teknik akronimologi atau teknik kata kunci. Iseng-iseng saya pun melakukan survei dengan menelepon murid saya yang pernah saya ajar ketika mereka kelas 6 SD. Sebagai seorang guru SD saya ingin menguji apakah murid saya masih ingat KNIL. Seorang murid yang sekarang sudah di bangku kelas 1 SMU ternyata masih ingat. Dia tahu KNIL adalah tentara Belanda, hanya lupa pada saat peristiwa apa KNIL itu ada. Dulunya ga diajarkan cara mudah menghafal sih ya sama bu guru yang satu ini hehe. Tot strakt! Aug 23, '06 6:29 AM

Page 15

Pendidikan

Sopir pun Punya Kecerdasan

Selama ini, kita selalu menganggap bahwa cerdas adalah tatkala seorang anak cemerlang dalam mata pelajaran matematika dan science. Betulkah seperti itu? Kalau sedang iseng, saya suka memerhatikan lirik lagulagu, misalnya lagu-lagunya ADA band. Menurut saya, betapa cerdasnya sang musisi dalam merangkai kata-kata dalam lagu-lagunya. Apalagi ketika memerhatikan intro musik dan keserasian perpaduan antar alat musik. Ini merupakan sebuah kecerdasan! Adalah tidak mudah merangkai kata yang indah, begitu pun dalam menemukan sebuah nada. Seorang dokter yang ahli dalam science belum tentu bisa menciptakan melodi yang indah seperti itu. Kecerdasan lain pun saya dapati dari seorang sopir. Dalam perjalanan menuju Malang, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri duduk di bangku baris paling depan, tepat beberapa jengkal di belakang sopir. Saat melaju di Gresik, bis menyalip beberapa truk di depannya dengan menggunakan jalur kanan. Saat masih berada di lajur kanan, saya melihat di depan ada truk dari arah yang berlawanan dalam jalur yang sama. Saya lihat ke sebelah kiri, sebenarnya sudah tersedia tempat bagi bis untuk segera menempati ruang itu, tapi kok sopir masih tetap di jalur kanan. Ketika jarak truk-bis kira-kira sejengkal, baru sang sopir bis memutar stir menuju ke jalur kiri. Saat kejadian itu berlangsung jantung saya rasanya hampir copot! Saat berhenti mengisi bensin, saya yang penasaran terhadap ulah sang sopir memberanikan diri bertanya. Sang supir mendengar pertanyaan saya itu hanya tersenyum, sambil berkata, “Saat saya nyalip di jalur kanan, ternyata di

Page 16

Pendidikan

belakang saya ada bis juga yang ikut nyalip. Saya liat ke spion tengah dan belakang melihat bis itu apakah sudah dekat dengan bis ini, saya juga tetep lihat ke truk di depan. Nah, ketika bis di belakang sudah dekat, saya baru putar stir masuk ke kiri. Kalo ga begitu Mbak, kasian bis di belakang bisa tabrakan dengan truk. Yang kayak gitu sih udah biasa di kalangan sopir, Mbak hehehe.” Saya takjub mendengarkan penjelasan Pak Sopir. Saya pikir ini adalah kecerdasan motorik! Sistem koordinasi sopir ternyata hebat! Mungkin Pak Sopir sama sekali tidak tahu rumus SePaTu (S=VxT, jarak= kecepatan x waktu), tapi dalam prakteknya dia sebenarnya menerapkan rumus itu, namun hanya mengandalkan insting! Masih saya ingat, di negara kita murid hanya dicekoki untuk melatih fungsi otak kiri mereka. Sehingga murid-murid pandai dalam ilmu yang mengandalkan logika. Tapi kecerdasaan otak kanan cenderung dikesampingkan. Anakanak yang tidak berkembang otak kirinya cenderung disisihkan. Padahal survey telah membuktikan banyak anak yang berhasil walaupun mereka hanya memiliki kecerdasaan otak kanan. Sebaiknya memang kedua belah otak bisa dikembangkan secara optimal. Ini memerlukan kreatifitas para guru dan tentu saja orang tua, juga perubahan paradigma bahwa yang namanya cerdas itu bukan hanya pintar matematika! Setiap orang memiliki potensi untuk mengembangkan kecerdasannya. Sangat disayangkan bila setiap tahun banyak sarjana yang bingung tentang ilmu yang mereka pelajari di kampus. Setelah tamat belajar di kampus, mereka baru sadar bahwa mereka tidak memiliki keahlian apa-apa. Karena itu perlu penemuan potensi anak sejak dini, agar mereka punya kecerdasan yang mumpuni. Dec 19, '06 2:49 PM

Page 17

Pendidikan

Film Pendek dan Otak Kanan

Hari sabtu kemarin, secara tidak sengaja, saya menonton film-film Kurz und Gut Zweitens (pendek dan bagus II) Kurzfilme aus Deutschland (film pendek dari Jerman) di perpustakaan umum Malang. Kebetulan saya memang tertarik dengan pembuatan film durasi pendek, walaupun tidak punya camcorder. Khayalan ini pernah saya ejawantahkan dalam tulisan saya yang berjudul “Hayalan Tingkat Tinggiku”. Film yang diputar di berbagai negara lewat Goethe Institut ini ada dalam 4 sesi. Sayang saya hanya menonton sesi pertama saja, karena persediaan glukosa dalam darah saya sudah menipis karena belum makan. Di Jerman film-film pendek memang sedang nge-trend. Durasi film paling lama hanya 17 menit dan paling sebentar hanya 5 menit. Setting film juga ternyata sederhana, hanya di satu tempat saja. Pada sesi pertama diputar horror und dorama filme yang menyentuh hati. Di sesi kedua sebenarnya ada film bersetting di Jepang berjudul Pada Hari Rabu Malam di Tokyo berdurasi 5 menit, tapi sayang saya tidak menonton. Dari nonton film ini saya jadi berkhayal, seandainya sekolahsekolah bisa mengoptimalkan kegiatan ekstra kulikuler (eskul) dengan memanfaatkan dana BOS (biaya operasional sekolah) yang diberikan pemerintah, pasti murid-murid kita bisa terbantu untuk memunculkan ide kreatifnya. Yang saya tahu selama ini kegiatan eskul hanya ditangani oleh siswa sendiri dengan bantuan kakak-kakak kelasnya yang sudah menjadi alumni. Seandainya kegiatan yang bisa membantu perkembangan hemisfer (belahan) otak kanan ini digarap secara serius oleh sekolah, pasti kita akan temui banyak sutradara handal seperti Riri Reza, penyair sekaliber

Page 18

Pendidikan

Taufiq Ismail, musisi setingkat Erwin Gutawa, grup musik sebagus ADA band, fotografer sekelas Arbain Rambey. Selama ini yang saya rasakan, sekolah kita lebih atau masih memperhatikan perkembangan hemisfer otak sebelah kiri, sedangkan otak sebelah kanan cenderung dikesampingkan. Menurut para ahli, hemisfer kiri otak kita bertanggung jawab pada kemampuan berbahasa, numerik (berhubungan dengan angka-angka), sains dan kemampuan menggunakan akal. Sedangkan otak sebelah kanan pada bakat musik dan apresiasi seni, mempunyai wawasan, dapat berimajinasi, mempunyai intuisi (perasaan dan cetusan hati), dan biasanya orang yang bagus otak kanannya akan menjadi kreatif. Mungkin karena lebih mementingkan otak kiri inilah sehingga di negara kita tidak banyak memiliki orang yang kreatif, karena otak kanan kurang dikembangkan secara optimal. Dulu saya punya murid les privat kelas 4 SD sekolah internasional di Bogor. Ibunya orang Amerika, bapaknya orang Jepang. Jadilah dia ini namanya Jepang tapi mukanya bule. Saya kagum dengan kemampuannya merangkai katakata, kekritisannya dalam bertanya juga wawasannya, karena ternyata bacaan anak SD ini sudah ensiklopedia yang tebal, dalam bahasa Inggris tentunya. Tentu saja gurunya ini tidak berdaya menghadapinya. Tapi ternyata murid saya ini memiliki kelemahan di matematika. Ketika kutanya berapa hasil dari perkalian 7 X 2, dia menghitung lama dengan menggunakan jari-jari tangannya. Hal ini berbeda sekali dengan murid lain yang orang Indonesia dan masih kelas 2 SD. Dengan lancar sekali dia menjawab tes perkalian 9 yang saya tanyakan. Tapi murid saya ini pemalu sekali. Kalau diminta bertanya, dia tidak mau, malu. Maka dia hanya bisa diam saja. Coba sekarang mari kita bandingkan antara murid saya yang orang asing dengan yang orang Indonesia. Kalau mau

Page 19

Pendidikan

dinilai siapa yang pintar, pastilah orang-orang akan bilang yang orang asing itu yang pintar, walaupun kemampuan matematikanya menyedihkan. Karena yang dilihat orang adalah kemampuan berbahasanya dan tentu saja wawasannya. Sangat disayangkan ada guru yang marah bahkan bicara kasar pada muridnya hanya karena muridnya itu tidak pintar di pelajaran numerik. Guru bersangkutan mungkin belum tahu bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasannya masing-masing. Bila orangtua dan guru bisa bijaksana dan kreatif, maka pastilah bisa mengarahkan para generasi muda kita dengan memberikan minat dan hobi pada mereka. Dengan begitu kita juga bisa menekan angka pengangguran di negara ini. Banyak orang sukses dalam kehidupan ekonominya hanya karena bisa hidup dengan mengandalkan hobi yang ditekuninya. Jadi berikanlah inspirasi pada anak-anak supaya mereka bisa hidup "di hutan belantara" dan jadi orang yang kreatif, seperti orang-orang muda Jerman yang kreatif membuat film pendek dan bagus. Malang, May 7, '08 10:22 AM

Page 20

Pendidikan

Guru Les bukan Wonder Women

Dalam buku Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif yang merupakan kumpulan artikel psikologi anak yang pernah dimuat di harian Kompas, ada bab berjudul “Les dan Bimbingan Belajar Merusak Kreativitas Anak.” Dalam bab tersebut disebutkan definisi mendidik, yaitu membantu memberikan semangat, mendorong, menciptakan suasana belajar di rumah. Selanjutnya disebutkan pula bahwa banyak orangtua merasa wajib untuk menyelesaikan PR dari sekolah. Bagi orangtua yang mampu cenderung mempercayakan anaknya kepada guru privat. Kemungkinan besar guru privat hanya mengerjakan PR muridnya (ada yang tersinggung, nih hehehe). Jadi pengen cerita sebab musabab saya jadi guru privat. Dulu, karena merasa memiliki banyak waktu setelah mengajar di SMA pada pagi hari, maka saya juga mengajar di sebuah bimbingan belajar di Bogor. Lama kelamaan karena merasa berat mengajar di bimbel, maka saya mengajar privat tanpa lewat lembaga apa pun dengan murid awal adalah keponakannya teman. Akhirnya semua kakaknya dan seorang kakak sepupu temanku itu memintaku mengajar anak-anaknya. Awal jadi tajir mengajar privat adalah setelah saya “berhasil” membantu Nabila yang saat itu kelas 6 SD. Nabila merupakan anak saudara sepupu temanku yang sudah 2 bulan tidak sekolah karena sakit parah. Alhamdulillah muridku ini dengan kondisi fisik yang lemah karena sakit bisa menjadi peraih NEM tertinggi di sekolahnya. Hal ini sangat mencengangkan banyak guru dan orangtua murid lainnya di sekolahnya. Lalu ada orangtua temannya Nabila yang meneleponku untuk mengajar anaknya. Nah, murid yang ini pun akhirya bisa dapat NEM besar. Mulailah banyak Page 21

Pendidikan

permintaan mengajar setelah itu. Akhirnya ketika itu saya sudah tidak memiliki waktu lain selain mengajar dan mengajar. Hari libur malah hari full untuk mengajar! Hahaha. Sebenarnya saya sendiri tidak setuju bila keberhasilan para murid itu adalah karena saya. Seperti Nabila. Gadis shalihah ini memang memiliki kecerdasan dan semangat yang luar biasa. Jadi ketika frekuensi belajarnya bertambah, tidak heran bila almarhumah bisa mengejar cita-citanya untuk bisa masuk SMP 1 (tak lama setelah masuk SMP 1 Nabila meninggal dunia). Balik lagi ke masalah guru les hanya mengerjakan PR muridnya. Saya akui terkadang saya berbuat seperti itu. Karena frekuensi belajar yang kurang, hanya seminggu 2 kali 2 jam, dan dengan beban harus mengajar semua pelajaran (termasuk PR), maka guru les kekurangan waktu. Untuk pelajaran berhitung atau menghafal biasanya saya meminta murid saya dulu yang mengerjakan soal, lalu saya memeriksa pekerjaan mereka. Tapi untuk bahasa Sunda (wuih, hampir semua anak-anak di Bogor pada ga bisa bahasa Sunda, termasuk guru lesnya! hahaha) dengan tingkat kesulitan kosa kata dan jenis tugas yang sulit, maka susah sekali saya bisa idealis untuk tidak mengerjakan PR murid. Bayangkan saja, anak kelas 4 SD sudah diminta membuat tulisan tentang bayam dalam bahasa Sunda. Kosa kata Sunda saja mereka masih terbatas, lah ini diminta menulis tentang bayam. Muridku yang kelas 2 SMP yang kritis pernah bilang kalau dia sekolah hanya mencari ijasah saja, karena selama ini dia merasa hanya belajar di rumah saja dengan ditemani guru les. Kalau tidak dimarahi orangtuanya pasti dia lebih memilih main pingpong di rumahnya ketimbang ke sekolah. Setelah kira-kira dua minggu setelah liburan tahun ajaran

Page 22

Pendidikan

baru, saya sering melihat buku-buku murid masih bersih tidak ada tanda-tanda pernah dibaca atau dipelajari. Sayang sekali buku sekolah yang mahal itu hanya dibawa ke sekolah selanjutnya disimpan di lemari saja. Alangkah indahnya bila para murid mau membaca sendiri buku-buku itu. Bila dibandingkan dengan para pelajar masa kebangkitan nasional, tentu saja generasi saat ini jauh tertinggal. Jaman dulu para murid malah langsung membaca buku referensi yang tebal-tebal. Hari ini sudah ada buku teks yang merupakan rangkuman dari buku-buku referensi, tapi tetap saja membaca buku setebal itu saja pelajar kita keberatan. Tentu saja untuk bisa mengajarkan mereka untuk belajar mandiri diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua murid, agar anak tidak melulu disuapi dalam belajar. Nah, termasuk guru les juga kali, ya? Tapi berhubung guru les bukan wonder women, jadi memang tidak bisa bersandar sepenuhnya pada guru les dalam hal belajar anak. Sep 3, '08 8:24 AM

Page 23

Pendidikan

Belajar dari Para Orangtua Murid

Bertahun-tahun mengajar les privat ternyata melahirkan banyak cerita yang memberi wawasan tersendiri bagiku yang bisa menjadi inspirasi jika aku menjadi orang tua nanti. Suatu sabtu pagi, aku memarahi muridku entah karena apa. Tiba-tiba saja dari lantai bawah ibunya murid teriak memarahi muridku juga. Aku benar-benar lupa kalau hari itu adalah hari sabtu, di mana orangtua murid sedang ada di rumah. Aku merasa bersalah karena telah memarahi anak orang lain dan orangtuanya tahu hihihi. Aku tahu maksud teriakan ibu muridku adalah untuk membantuku dalam menangani putranya. Namun apa yang terjadi kemudian? Ibunya murid naik ke lantai atas di mana aku dan putranya belajar. Lalu beliau melanjutkan kemurkaannya pada putranya. Yang membuatku kaget adalah reaksi muridku terhadap teriakan ibunya. Muridku berteriak yang membuat wajah ibunya memerah karena malu ada orang lain, yaitu aku, tatkala kejadian itu berlangsung. "DIEM LUH!!" teriak muridku pada ibunya dengan dada membusung dan sikap siap berperang. Di keluarga muridku yang lain, ibu muridku sudah kehabisan energi untuk memarahi anaknya yang sudah mulai ngeyel. Lalu bapaknya mendekati muridku sambil memegang pundak putra semata wayangnya. Lalu mereka berdua masuk kamar. Sang ibu menunggu dengan harap-harap cemas terhadap perubahan yang bakal terjadi. Beberapa menit kemudian muridku keluar dengan hidung merah dan mata bengkak, pertanda sudah terjadi tangisan tersedusedu yang nyaris tak terdengar suaranya.

Page 24

Pendidikan

Dari kejadian-kejadian di atas, saya belajar bahwa anak walaupun masih kecil bila didekati dengan pendekatan secara represif maka dampak yang timbul adalah kekerasan hati. Kita sering memarahi anak karena mereka tidak berlaku seperti yang orang dewasa pikirkan. Kita memaksa mereka supaya seperti kita yang tahu mana yang baik dan tidak untuk diri kita, tapi pendekatan yang dilakukan selalu dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh mereka. Kesan terhadap penanganan anak yang dilakukan oleh bapak muridku pada cerita kedua adalah memperlakukan anak seperti orang dewasa yaitu dengan cara pendekatan partisipatif. Ternyata di kamar, muridku diajak berdialog tentang baik tidaknya tindakannya, lalu dia menyesali kesalahanya dengan kesadaran penuh dari dalam dirinya. Dalam sistem pendidikan keluarga dikenal ada dua pendekatan, yaitu pendekatan represif dan partisipatif. Ciri-ciri pendekatan represif adalah: menghukum perilaku yang keliru, hukuman dan imbalan material, kepatuhan anak, komunikasi sebagai perintah, komunikasi nonverbal, sosialisasi berpusat pada orangtua, anak memerhatikan keinginan orangtua dan keluarga merupakan dominasi orangtua. Ciri-ciri pendekatan partisipatif adalah antara lain: memberikan imbalan bagi perilaku yang baik, hukuman dan imbalan simbolis, otonomi anak, komunikasi sebagai interaksi, komunikasi verbal, sosialisasi berpusat pada anak, orangtua memerhatikan keinginan anak dan keluarga merupakan kerja sama ke arah tujuan. Baik pendekatan represif maupun partisipatif akan menghasilkan dampak kepribadian anak yang berbeda. Pendekatan represif menghasilkan kepribadian anak yang menunggu perintah dan kurang memiliki inisiatif. Sedangkan pendekatan partisipatif akan menghasilkan tipe kepribadian

Page 25

Pendidikan

anak yang memiliki kreativitas dan menghargai orang lain. Saya jadi teringat kata-kata "If children are involved in making family decisions, they will get an early start on developing their own leadership skills". Mungkin berdialog tentang masalah diri mereka dan sekitar akan membantu mematangkan kecerdasan emosi mereka, dibandingkan dengan menonjolkan vena jugularis yang akan berakibat kekerasan hati dan sikap yang tidak dikehendaki semakin menjadi-jadi. * vena jugularis: pembuluh vena yang ada di leher, kalau kita teriak atau bicara keras biasanya suka menonjol. “Anakmu bukan milikmu Mereka putra putri kehidupan Yang rindu akan dirinya Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu Sebab mereka punya alam pikiran sendiri Berikan tempat bagi raganya Tetapi tidak untuk jiwanya Sebab jiwa mereka penghuni masa depan Yang tiada dapat kau kunjungi Juga tidak dalam mimpi” (Kahlil Gibran) …………… May 22, '09 8:02 AM

Page 26

Pendidikan

PR-ku pada Muridku

Beberapa hari yang lalu mama muridku cerita, ternyata muridku yang kelas 1 SMA ingin berhenti kursus kumon yang sudah dia ikuti sejak masih SMP. Tentu saja mamanya kaget, karena kursus kumonnya sebentar lagi akan segera berakhir dan muridku ini beberapa kali diundang ke hotel Mulia Jakarta untuk mendapat bintang dari kumon karena termasuk siswa yang berprestasi. Adapun alasan sang murid ingin berhenti kumon adalah karena sudah beberapa kali ulangan di sekolah jawabannya selalu disalahkan gurunya. Itu terjadi karena muridku menggunakan rumus yang berbeda dengan yang guru ajarkan, rumus hasil olah pikirnya yang dia pikir sederhana. Jadi muridku berpikiran selama ini belajar kumon sia-sia karena ga nyambung dengan pelajaran di sekolah. Muridku ini juga pernah mengeluh padaku ketika dia kena remedial ekonomi. Kesalahannya adalah sama, karena dia menyederhakan rumus hitungan di ulangan. Padahal jawabannya dengan jawaban gurunya adalah sama. Ternyata muridku ini banyak terkena remedial. Dan ketika kutanyakan kenapa bisa terkena ulangan remedial, apa saja yang salah dari pelajaran itu, muridku hanya bilang tidak tahu karena dia tidak diberitahu gurunya apa kesalahannya dan berapa nilainya. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Banyak. Salah satunya adalah cerita di atas. Entah kenapa masih ada guru yang tidak bisa menerima muridnya melakukan cara yang berbeda dengannya. Bukankah banyak cara menuju Roma? Padahal dengan seperti ini sang guru pun bisa belajar juga dari muridnya. Bukankah kita harus selalu belajar, dan pembelajaran itu bisa kita dapatkan dari siapa

Page 27

Pendidikan

saja? Terus terang, sebagai guru les privat yang menangani banyak pelajaran, aku banyak tidak tahu secara detail dari pelajaran yang kuajarkan ke murid. Makanya aku selalu mengharapkan muridku belajar kritis. Minimal mereka mau memanfaatkan segala yang mereka punya, misalnya punya guru ekonomi di sekolah maka manfaatkanlah dengan sebesar-besarnya dengan selalu bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Aku sudah menanamkan pengertian pada mereka bahwa pengetahuanku tentang pelajaran itu terbatas karena keterbatasan buku dan konsentrasi belajarku yang tidak fokus. Namun hampir semua muridku tidak percaya diri untuk berani bertanya pada gurunya di sekolah, walaupun sudah kuyakinkan bahwa gurunya pasti akan senang bila ada muridnya yang bertanya. Tapi keyakinan mereka akan gurunya yang negative thinking tidak bisa mendorong mereka untuk jadi berani bertanya. Jadi dua masalah di atas: tertutup dengan inovasi yang dilakukan murid, tidak memotivasi murid untuk berpikir krtitis dan senang bertanya. Yah, ini masih jadi PR-ku untuk memotivasi murid-muridku untuk berani bertanya dan berrpikir kritis. Tentunya dengan cara yang santunlah. Jun 18, '09 7:28 AM

Page 28

Pendidikan

Ki Hajar dan "Ki Hajar"

Istilah “Tut Wuri Handayani” tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena istilah tersebut tertera di dalam logo departemen yang mengurusi masalah pendidikan di Indonesia. Istilah tersebut lengkapnya berbunyi Ing Ngarso Sung Tulodo ( di depan memberi contoh teladan yang baik), Ing Madyo Mangun Karso ( di tengah memberi semangat), Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi dorongan). Istilah di atas pertama kali diperkenalkan oleh Suwardi Suryaningrat yang pada akhirnya, agar lebih merakyat, mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Setelah dewasa, ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan di STOVIA Jakarta (sekolah calon dokter bangsa Indonesia) karena kecerdasan dan garis keturunannya yang berasal dari keluarga bangsawan. Meskipun jalur pendidikannnya bukanlah di bidang pendidikan, dan berasal dari golongan ningrat namun Ki Hajar sangatlah peduli terhadap nasib bangsa dan negaranya. Pada masa itu bangsa penjajah selalu merendahkan harkat dan martabat kaum pribumi. Hal itu mengusik hati Ki Hajar. Lalu ia beserta teman-temannya bertekad mengangkat nasib bangsanya melalui jalur pendidikan yaitu dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Atas segala jasanya terhadap pendidikan Indonesia, pemerintah RI menetapkan tanggal kelahirannya menjadi hari pendidikan nasional. Walaupun Ki Hajar sudah meninggalkan bumi pertiwi, namun perjuangannya tidaklah berakhir, karena kini telah lahir Ki Hajar lain yang berjuang di bidang pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, seperti Mbah

Page 29

Pendidikan

Dauzan Farook dan Ibu Daryati. Di usianya yang sudah lanjut, Mbah Dauzan masih tetap bersemangat berjuang menebarkan ilmu kepada para calon pewaris negara ini dengan membangun dan mengelola perpustakaan keliling partikelir gratis miliknya di Yogyakarta yang bernama Mabulir (Majalah dan Buku Keliling Bergilir). Setiap hari ia berkeliling kota untuk mengedarkan berbagai macam buku dan majalah. Ia juga telah mendirikan 100 kelompok pembaca setia perpustakaan kelilingnya. Ia tidak mendapatkan bantuan dari siapapun dalam mengelola perpustakaannya. Semua biaya ia tanggung sendiri dengan memakai uang pensiun yang ia terima setiap bulan sebagai mantan pejuang dalam perang kemerdekaan. Kini di alam kemerdekaan, perjuangannya tidaklah surut. Perjuangan membangun manusia Indonesia menjadi pilihannya, setelah terlebih dahulu berjuang mempertahankan bangunan negara tercintanya. Sorang ibu setengah baya (sebut saja Ibu Daryati) yang tinggal di daerah pesisir pantai Kalimantan, di tengah aksi pendulangan sumber daya alam yang dahsyat, selama belasan tahun mengajar anak-anak para nelayan yang putus sekolah dengan kondisi ruangan kelas yang tidak layak di sebut sebuah ruangan. Selama belasan tahun itu pula ia berjuang sendirian tanpa ada pihak yang memperhatikan nasib ”sekolahnya” apalagi menggajinya. Walaupun tidak mempunyai bekal ilmu yang banyak, namun ia berkeyakinan murid-muridnya yang merupakan korban arogansi para penjarah negara ini, termasuk dirinya, haruslah tetap mendapatkan pendidikan walaupun dengan caranya yang semampu ia bisa berikan.

Page 30

Pendidikan

Ki Hajar dan “Ki Hajar” di atas adalah contoh anak bangsa yang berjuang membangun tanah air melalui penebaran ilmu walaupun latar belakang mereka bukanlah dari jalur pendidikan. Keyakinan bahwa bangsa ini akan bangkit melalui pendidikanlah yang melatarbelakangi tekad mereka dalam turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun hal itu harus mengorbankan waktu, pikiran dan harta mereka. Pendidikan memang tanggungjawab semua pihak. Dengan tidak adanya perhatian dari pemerintah dalam hal pendidikan sangatlah sulit menjadi “Ki Hajar.” Namun segala ketulusan membangun bangsa inilah bermulanya semangat para “Ki Hajar” di atas. Bangsa ini terpuruk karena selama puluhan tahun para pemangku jabatannya lebih mengejar angka-angka pertumbuhan ekonomi dengan melupakan sisi pembangunan manusianya. Lihatlah contoh bangsa lain yang ambruk atau kehilangan kekuatannya karena melupakan bidang pendidikan, seperti Spanyol yang pernah mencapai masa kejayaan karena kualitas manusianya. Dan lihatlah contoh bangsa lain yang dulunya lemah menjadi kuat karena memprioritaskan pendidikan warganya, seperti negara-negara yang sekarang di sebut negara maju. Masalah pendidikan kita yang paling mendasar adalah merosotnya kualitas manusia Indonesia baik dari segi prestasi akademis, keahlian dan moral. Sudah saatnya pemerintah sebagai pihak yang sangat berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa membuat program pendidikan yang tepat guna dan berkesinambungan, serta menjalankanya dengan segala kesungguhan. Karena maju mundurnya suatu bangsa tergantung dari sumber daya manusianya.

Page 31

Pendidikan

Juga sangat baik bagi para “Ki Hajar” lainnya untuk selalu mengamalkan semboyan pendidikan bangsa Indonesia yang telah didengungkan oleh Ki Hajar 83 tahun yang lalu kepada para anak didiknya, yaitu hendaknya seorang pendidik menjadi suri tauladan, pemberi semangat dan pendorong bagi murid-muridnya. “Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari,kamu harus terbang”. ( Prinsip yang ditanamkan sejak kecil kepada orang-orang Korea Selatan, agar selalu berada selangkah di depan) May 6, '05 8:27 AM

Page 32

Pendidikan

Guru Indonesia

Saya punya teman namanya Bu Mai dan Bu Alwi. Keduanya adalah guru di sebuah sekolah walaupun bukan lulusan sekolah ilmu keguruan. Entah apa yang membuat mereka terpanggil menjadi guru di sekolah yang tidak menjanjikan kehidupan yang layak bagi mereka. Yang pasti mereka dijanjikan akan mendapatkan kesukaran karena harus mengajar murid yang notabennya "anak-anak buangan" karena tidak ada sekolah negeri yang mau menerima mereka. Terlebih lagi tingkat ekonomi keluarga murid-murid di sekolah di mana keduanya mengajar sangatlah memprihatinkan. Ternyata setelah diselidiki ibu-ibu ini memang mengajar hanya untuk pengabdian. Untuk hidup mereka memang ladangnya bukan di sekolah. Mereka punya usaha sampingan selepas mengajar di sekolah. Dengan sabar Bu Mai dan Bu Alwi yang bertugas merangkap sebagai guru BP sekaligus administrasi, wali kelas dan kadang-kadang mengajar bahasa Inggris dan manajemen ini selalu mendengarkan segala keluhan dan tangisan para murid dan orang tua murid yang datang ke sekolah karena tidak mampu membayar SPP. Kadang Ibu guru kita ini juga menjadi perawat para muridnya yang pingsan di kelas karena kekurangan makan atau belum sarapan. Murid-murid di sekolah ini sayang kepada kedua ibu guru teman saya ini, karena ibu guru kita ini tidak pernah membebani murid dengan harus membeli buku paket yang harganya mahal. Ibu guru yang baik ini selalu membuat ringkasan dari buku-buku paket sehingga murid-muridnya tidak perlu mengeluarkan dana untuk beli buku.

Page 33

Pendidikan

Ada lagi cerita tetangga. Dia menangis karena tidak bisa membayar uang buku dan uang bulanan anaknya. Yang sangat memprihatinkan, ternyata masyarakat kita tidak hanya orang kayanya saja yang terjangkit penyakit mementingkan diri sendiri, tapi juga ternyata masyarakat setengah miskin pun sekarang terjangkiti penyakit ini. Anak tetangga ini tidak berani meminjam buku paket kepada tetangga atau temannya yang lain bila ada PR. Karena harga buku mahal, teman-temannnya cenderung tidak mau meminjamkan bukunya barang sebentar. Pelajaran untuk selalu berbagi dengan yang lain seperti sudah mereka lupakan. Kalau saya perhatikan memang harga buku anak sekolahan sekarang mahal. Untuk SD kelas I saja bisa sampai 200 ribu perpaket. Sewaktu jaman saya, buku-buku kakak masih bisa saya pakai. Tapi sekarang tiap tahun buku berganti, walaupun materi di dalamnya tidak mencerminkan seharga buku tersebut. Kadang ada guru yang mewajibkan murid membeli buku untuk satu pelajaran 2 buku. Yang satu buku paket dan yang satunya lagi buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Biasanya buku yang dipakai hanya buku LKS yang tipis dan harganya murah. Sayang sekali buku paketnya tidak dipakai, padahal harga rata-rata buku paket sekitar 25 ribu. Saya kadang marah melihat guru-guru seperti ini. Tapi saya sadar mereka seperti itu dalam rangka mencari tambahan keuangan uang gaji mereka yang kecil, karena biasanya para guru mendapatkan bonus 20-30 persen dari penjualan buku. Ya beginilah dunia pendidikan kita. Guru di sini penghargaannya sangat rendah, mentang-mentang ada istilah Heroes without rewards. Banyak guru yang mencoba menutupi kebutuhan ekonomi mereka dengan mengajar full time dari pagi hingga malam atau mencari sumber-sumber

Page 34

Pendidikan

lain seperti dari penjualan buku. Rasanya memang tidak banyak orang-orang yang seperti dua sahabat saya di atas yang rela memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya walau dengan kompensasi yang rendah. Sahabat saya seperti itu karena gantungan ekonomi utama bukan dari mengajar. Jadi tidak semua guru di Indonesia jelek, kan? Saya yakin masih banyak guru yang idealis seperti Bu Mai dan Bu Alwi. Menjadi guru di Indonesia rata-rata bukan karena pilihan pertama. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan guru-guru di Jepang dan negara-negara lain. Seorang teman yang pernah mengikuti pelatihan guru biaya JICA menuturkan bagaimana penghargaan pemerintah Jepang kepada guru di sana sehingga banyak orang yang mengejar cita-cita ingin menjadi guru. Perlakuan ini juga dia rasakan ketika berada di sana. Para guru dikhususkan mendapatkan akomodasi dan sarana transportasi yang istimewa yaitu naik pesawat JAL (Japan Airline) dan bullet train Jepang Shinkansen. Sementara para profesional yang lain naik bis. Tahun lalu saya baca di koran banyak dosen-dosen kita yang lari mengajar di luar negeri. Bayangkan gaji seoarng professor di Indonesia hanya 2.5 juta sedangkan di Brunai bersihnya 75 juta kotornya 150 juta. Tahun 1930-an banyak orang Malaysia dan Singapura yang belajar ke Indonesia, tapi sekarang keadaan berbalik. Sekali lagi tentang masalah pendidikan di Indonesia. 2004-08-01 11:58:00

Page 35

Pendidikan

Pendidikan di Indonesia

Di antara 10 negara ASEAN, Index Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia menempati urutan ke-6. Posisi kita berada di bawah Vietnam, padahal negara ini baru berbenah pada tahun 1980-an setelah dilanda peperangan. Menurut UNDP, IPM atau HDI Vietnam berada pada urutan ke-109 dari 175 negara, sedangkan Indonesia urutan ke111. Pantas saja Vietnam berada di atas kita, karena di negeri paman Ho ini kita tidak akan mendengar sekolah ambruk, mahalnya buku pelajaran dan repotnya menyelenggarakan ujian akhir nasional. Setelah 59 tahun merdeka rasanya tidak ada kemajuan dalam pembangunan manusia Indonesia, malah yang kita rasakan setiap tahunnya adalah kemerosotan. Pada tahun 1970-an pendidikan Indonesia masih menjadi acuan negaranegara ASEAN. Sekarang lihatlah peringkat perguruan tinggi Indonesia. Untuk kategori universitas multidisiplin: UI berada pada urutan ke-61, UGM ke-68, Unair ke-75, Undip ke-77. Untuk kategori universitas sains dan teknologi perguruan tinggi terkemuka Indonesia hanya ada pada peringkat ke-21. Pendidikan Indonesia memang penuh dengan anomali, ini bisa kita lihat dari kurikulum yang sering dimodifikasi tapi tidak membuat murid pintar, biaya sekolah yang semakin menjulang, kesejahteraan dan wewenang guru yang terabaikan, persebaran sekolah dan guru yang tidak merata, bangunan-bangunan sekolah yang rusak,dll. Ada istilah ganti menteri ganti kebijakan, memang begitulah yang terjadi. Dimulai dengan sering berganti nama: SMA menjadi SMU, lalu balik lagi menjadi SMA, nama penjurusan

Page 36

Pendidikan

IPA- IPS lalu berubah lagi menjadi kelas biologi-fisik-sosial, juga berganti istilah: CBSA, link and match dan sekarang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), tetapi tetap saja pendidikan Indonesia tidak mengalami kemajuan. Kurikulum kita tidak membuat murid pintar. Contohnya, murid kita yang telah belajar bahasa Inggris paling sedikit 6 tahun di bangku sekolah menengah dengan alokasi jam yang banyak ternyata menjadi pintar berbahasa Inggris bukan karena sekolah, tapi karena mereka belajar bahasa Inggris di lembaga kursus informal. Belum lagi penerapan kurikulum yang seragam untuk semua sekolah, tanpa mengindahkan perbedaan kemampuan murid di setiap sekolah atau daerah. Juga seringnya terjadi perubahan kebijakan yang selalu mendadak, seperti perubahan jenis format ujian akhir nasional. Kualitas lulusan perguruan tinggi kita juga masih sangat rendah dilihat dari konteks persaingan global. HDI India memang berada di bawah kita (urutan ke-127) tapi ternyata kurang lebih 30 persen pekerja perusahaan raksasa software dunia Microsoft berasal dari India. Rendahnya kualitas SDM kita dikarenakan pendidikan kita lebih menekankan pada logika otak seperti menghafal rumus-rumus, tahun-tahun riwayat sejarah, kosakata,dll tidak menekankan pada kualitas dalam praktek yang akan menjadi keterampilan hidup di masa depan. Tingginya biaya pendidikan membuat banyak orang tua menjerit karena semakin tidak mampu menyekolahkan anaknya. Pendidikan telah menjadi suatu barang mewah. Jika dulu siapapun bisa masuk sekolah negeri papan atas hanya dengan satu syarat: mampu meraih nilai yang tinggi, sekarang selain kemampuan otak kita juga dibebani dengan kemampuan kantong tebal. Pungutan yang ada tidak hanya iuran masuk murid baru yang besarnya berkisar 2- 5 juta,

Page 37

Pendidikan

tapi juga terdapat pungutan-pungutan lainnya seperti: uang OSIS, uang daftar ulang, uang seragam serta uang buku dengan jumlah nominal yang tidak sedikit. Yang lebih memperparah, pihak sekolah pun tidak transparan dalam hal penerimaaan pungutan-pungutan tersebut. Rupanya istilah ”Pendidikan adalah investasi yang nyata” hanya berlaku bagi kalangan ekonomi menengah ke atas saja. Ternyata wajib belajar 9 tahun yang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah tidak disertai dengan adanya dana yang cukup untuk merealisasikannya, sehingga semua dana pendidikan dibebankan kepada masyarakat. Ini sangat berbeda dengan Vietnam, walaupun masih dikategorikan sebagai negara miskin namun pemerintah Vietnam telah menetapkan pendidikan gratis bagi murid sekolah dasar dan menengah pertamanya. Kita hanya mengalokasikan 4.4 persen dari APBN untuk pendidikan, sedangkan Vietnam 15,6 persen. Masalah pendidikan Indonesia yang lain adalah terabaikannya kesejahteraan, wewenang dan penyebaran guru. Karena kecilnya kompensasi yang diterima di sekolah, banyak guru honorer kita harus mengajar di beberapa sekolah dari pagi hingga sore hari hanya demi mencukupi kebutuhan dasar hidupnya. Bisa dibayangkan bagaimana kualitas mengajar guru-guru kita dalam keadaan kurang tenaga akibat keletihan mengajar di sana sini. Guru pun dalam melaksanakan tugasnya hanyalah sebatas menjadi operator. Guru Indonesia tidak memiliki otoritas untuk menyusun kurikulum dan membuat soal ujian, semuanya sudah diatur secara kaku oleh kalangan birokrat, sehingga yang ada para guru selalu merasa dikejar-kejar menyelesaikan materi pelajaran yang terasa berat diterima oleh murid.

Page 38

Pendidikan

Secara kuantitas sebenarnya jumlah guru di Indonesia cukup banyak, namun ternyata persebarannya tidak merata. Ada banyak daerah, terutama di pedalaman, yang mengalami kekurangan guru. Untuk setiap daerah bisa membutuhkan ratusan guru. Mungkin ini disebabkan karena kompensasi yang rendah sehingga banyak guru yang tidak berminat mengabdi di daerah. Akhir-akhir ini banyak sekali sekolah yang meliburkan muridnya dikarenakan bangunan sekolah yang ambruk. Hal ini memang harus segera mendapat perhatian kita semua. Juga jangan dilupakan anak-anak transmigran yang harus menempuh jarak belasan kilometer untuk bersekolah tanpa adannya sarana transportasi dan belajar serta tenaga pengajar yang memadai. Sudah waktunya pemerintah memperhatikan pembangunan manusia, karena walau bagaimana pun SDM lebih penting daripada SDA, mengingat sifat SDA yang akan habis. Dan yang tidak kalah pentingnya pendidikan moral hendaklah mendapatkan perhatian. Banyak aksi tawuran yang dilakukan baik oleh pelajar tingkat menengah maupun tingkat mahasiswa dan semakin maraknya dekadensi moral lainnya juga merupakan cerminan betapa merosotnya kualitas pendidikan kita. Mari kita bangun negara kita ini dengan membangun pendidikan yang dapat melahirkan banyak insan berkualitas unggul dan berspiritual tinggi. 2004-10-12 16:51:00

Page 39

Pendidikan

Mengantisipasi Penetrasi Budaya Negatif Suatu hari saya mengunjungi sebuah desa yang sudah masuk listrik. Jalan menuju desa itu dalam kondisi rusak karena selalu dilalui truk-truk besar yang mengangkut batu dan pasir. Entah apakah exploitasi sumber daya alam ini legal ataukah illegal, yang jelas saya melihat pengerukan itu lambat laun nantinya akan merusak ekosistem daerah sekitar desa tersebut. Selintas terlihat desa ini memang terisolasi tempatnya. Di sebuah warung nasi, sambil menyantap nasi bertemankan sambal ulek khas Sunda, mata saya sibuk memelototi TV yang sedang menyuguhkan sebuah acara infotainment. Beberapa saat saya baru sadar ternyata si empunya warung pun turut serta menonton, walaupun dia harus menonton dalam posisi tidak normal: memiringkan badan sambil mencuci beras. Lantas saya melihat adanya suatu keadaan yang sangat kontras antara kondisi warung itu, yang semi permanent bangunannya, beserta para penghuninya dengan tayangan yang ada di TV. Saat itu di TV yang ditayangkan adalah sebuah kemewahan, sedangkan si penonton adalah mereka yang hanya bisa menjadi penonton dan nantinya bisa saja meniru segala budaya hedonisme yang disodorkan oleh kotak ajaib itu. Kondisi kontras ini sudah beberapa kali saya temui. Pernah, saya dibuat kaget oleh keadaan masyarakat dari kelompok ekonomi bawah yang memasang antena parabola secara kolektif, karena daerah tersebut belum bisa menangkap siaran TV melalui antena biasa. Sewaktu melintas pada malam hari, saya melihat di setiap rumah yang kebanyakan dibangun berempet itu banyak ditemui keluarga berkumpul di depan TV. Mereka terlihat sangat asik, duduk di lantai sambil menengadahkan kepala memandangi kotak ajaib

Page 40

Pendidikan

yang ditaruh di atas sebuah meja. Tontonan mereka hampir sama, yaitu sinetron. Terlihat secara sepintas pemandangan sangat kontras antara penonton dengan yang mereka tonton. Bila dulu barangkali kita pernah berkunjung ke desa atau pernah mendengar bagaimana polosnya dandanan dan perilaku para pemudi desa, sekarang cobalah kita tengok daerah yang dulu bisa disebut desa seperti Bantul, Kulon Progo, Jember, Tasikmalaya dan lain lain. Ternyata di sana telah terjadi transformasi sosial. Di Jember, pada bulan Agustus lalu diselenggarakan Jember Fashion Carnaval untuk yang ketiga kalinya. Acara ini mirip seperti Festival Rio, di mana agendanya berupa fashion show dengan catwalk sepanjang 3.600 meter juga penjualan produk fashion seharga 450 ribu yang ludes terjual dalam waktu 2 minggu! Suatu ajang penyaluran kreatifitas sekaligus penyaluran budaya konsumerisme. Transformasi sosial seperti di atas memang menjadi keprihatin kita bersama. Hal ini tidak hanya terjadi di pedesaan tapi juga di perkotaan. Kita terperanjat ketika membaca berita tentang ditayangkannya film Virgin yang ditonton dengan antusias dan membludak oleh para ABG di beberapa kota besar maupun kecil. Yang saya baca, film ini setali tiga uang dengan para pendahulunya, malah lebih parah! Hidup di zaman sekarang memang harus mengikuti filosofi ikan di laut. Badan ikan tidak terpenetrasi air asin yang berada di sekelillingnya. Begitu pula dengan kita. Kita tidak mungkin memencilkan diri dari dunia luar seperti halnya kelompok Amish yang lebih memilih gaya hidup seperti abad ke-17. Di abad serba digital ini, mereka hidup tanpa listrik,

Page 41

Pendidikan

TV, radio, mobil dan lain sebagainya, walaupun mereka hidup di beberapa negara bagian Amerika Serikat. Kita harus menggunakan segala sarana buah dari optimalisasi kekuatan akal manusia buatan Allah ini untuk mempermudah hidup kita bila kita tidak ingin dilindas zaman yang semakin borderless ini. Tapi memang dari segala kemajuan ini ada konsekuensi yang harus kita hadapi yaitu penetrasi budaya negatif yang sekarang sedang mewabah di hampir seluruh negara-negara berbudaya timur, terutama di seluruh wilayah negeri tercinta ini. Untuk itulah kita harus membentengi diri kita dan keluarga dengan pertahanan yang kokoh, yaitu agama. Menghidupkan kembali kebersamaan dalam kehidupan keluarga. Karena keluarga adalah pertahanan awal pembentukan jati diri anak. Jangan kita lupakan, serbuan yang ditayangkan media massa selalu diserap dengan cepat oleh anak-anak, terutama anak usia ABG. Untuk itu menjadi mendesak bagi para orang tua yang selama ini mendidik anaknya dengan pola otoriterisme untuk merubah kebentuk sikap companionship dengan anak-anaknya. Janganlah kita memperlakukan anak-anak kita yang masih kecil seperti orang dewasa. Dunianya saat ini adalah berada pada tahap dunia bermain. Pemaksaan kehendak orang dewasa terhadap mereka hanya akan mengakibatkan kontraproduktif yang pada akhirnya anak akan lebih merasa nyaman bersama orang lain atau dunia lain sebagai tempat berbaginya. Intinya, tontonan yang menjadi tuntunan sebenarnya bisa kita antisipasi dan atasi melalui benteng agama dan keluarga. Dengan adanya pertahanan yang kokoh, kita tidak akan mudah dipengaruhi sisi negatif kemajuan iptek. Malah diharapkan dengan kekokohan itu, kita bisa mengajak orang

Page 42

Pendidikan

lain untuk bisa menjadi seperti halnya ikan di laut. Kita memang tidak bisa mengharapkan pemerintah akan melindungi keluarga kita dari serbuan ini, terbukti dengan semakin banyaknya tontonan tidak mendidik dan merusak masih meraja rela di sekitar kita. Kalau bukan diri kita sendiri yang memulainya, siapa lagi? 2004-12-20 14:53:00

Page 43

Pendidikan

Sekolah dan Kedisiplinan Membuang Sampah

Suatu siang di dalam mobil angkutan kota (angkot) yang padat penumpang, saya terusik melihat dua orang anak lakilaki yang membuang sampah kulit buah sembarangan ke jalan. Pekerjaan itu mereka lakukan berulang kali hingga akhirnya saya memberanikan diri menegur mereka untuk tidak membuang sampah di jalan, dan meminta mereka untuk menyimpan sampah mereka di bawah jok mobil. Alhamdulillah teguran saya mereka dengar, bahkan mereka kelihatannya tidak berminat lagi menghabiskan makanan mereka setelah itu. Bila dilihat dari penampilan mereka, sepertinya mereka dari kalangan menengah ke atas. Saya perkirakan mereka adalah murid sekolah dasar kelas enam. Yang saya pikirkan saat itu, murid sekolah dasar dari kalangan menengah ke atas saja tidak mempunyai disiplin dan rasa tanggung jawab menjaga lingkungan, apalagi anak-anak dari lingkungan yang tidak terpelajar atau anakanak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan di sekolah, bisa jadi mereka akan lebih tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Apakah ini suatu tuduhan? Tentu saja saya tidak bermaksud menuduh, karena sebagai pengguna sarana angkutan umum yang setia, baik angkutan massal maupun angkutan kecil seperti halnya angkot, saya sering menemukan pemandangan yang tidak indah di dalamnya, seperti (maaf) banyaknya air ludah. Malah beberapa kali saya melihat beberapa orang dengan seenaknya membuang ludah di dalam kendaraan. Yang lebih mengenaskan, di trotoar samping jalan sering kali tercium bau cairan sampah (bau pesing).

Page 44

Pendidikan

Banyak sekali masalah lingkungan kita terjadi karena banyaknya sampah bertaburan di sekitar kita, seperti masalah banjir yang sudah menjadi langganan masyarakat Jakarta, terutama di sekitar bantaran kali Ciliwung, terjadinya polusi air dan udara karena limbah atau sampah industri, mewabahnya penyakit berbahaya seperti penyakit demam berdarah, dan sebagainya. Itu semua terjadi karena lingkungan kita tidak pernah bersih dari sampah. Kita semua sepakat ketidakdisiplinan adalah masalah yang sudah melekat menjadi budaya kita. Itulah masalah yang harus kita pecahkan. Karena bila tidak rasanya sulit sekali kita berbenah untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di masa datang. Dalam menjaga kebersihan, ternyata negara maju menerapkan kedisiplinan kepada warga negaranya, baik secara halus maupun tegas. Seperti Korea Selatan yang menempatkan dua tempat sampah; organik dan non-organik di mana-mana. Singapura menerapkan denda sebesar 5000 dolar Singapura bagi warga yang membuang sampah sembarangan. Bahkan untuk memutus mata rantai perkembangan nyamuk, pemerintah Singapura memberi sangsi tegas bila menemukan rumah yang berjentik nyamuk. Jepang setali tiga uang dengan negara-negara di atas. Bahkan para perokok di sana pun selalu membawa asbak tertutup kemana pun mereka pergi untuk membuang abu dan puntung rokok mereka. Di Indonesia ketidakdisiplinan dan tidak mempunyai rasa tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya menghinggapi masyarakat umum tapi juga para petugas pengolah sampahnya sendiri. Berbagai macam teknologi seperti teknologi Insinerator (pembakaran sampah) hingga sistem Sanitary Landfill

Page 45

Pendidikan

(Penimbunan) telah dicoba tapi selalu tidak membuahkan hasil, malah menimbulkan masalah lingkungan yang lain seperti polusi udara dan air. Inilah yang dikeluhkan masyarakat sekitar tempat pembuangan akhir Bantar Gebang dan Bojong. Pencemaran itu terjadi karena teknologi dan sistem di atas tidak pernah diterapkan sesuai dengan spesifikasi dan persyaratannya. Kembali kepada yang saya pikirkan mengenai masalah kedisiplinan anak sekolah dan non-sekolah di atas. Adakah korelasi antara sekolah dan masalah kedisiplinan membuang sampah? Tentu saja ada. Karena sekolah adalah tempat dilatihnya values (nilai-nilai), seperti kedisiplinan, kejujuran, ketekunan, etika dan sebagainya, mengingat tidak semua orang tua mampu menanamkan sikap disiplin kepada anak-anaknya. Banyak orang tua mengeluh anak-anaknya tidak patuh kepada nasehat mereka. Berbeda sekali bila mereka mendengar nasehat dari guru mereka. Sudah saatnya sekolah, terutama dari tingkat taman kanakkanak hingga sekolah menengah atas, menjadi tempat pelatihan rasa disiplin dan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan, misalnya dengan menempatkan banyak tempat sampah di setiap tempat dengan menyertakan peringatan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan aturan denda jika terjadi pelanggaran dan yang lebih penting lagi bimbingan dan contoh setiap guru kepada murid-muridnya mengenai pentingnya hidup bersih dan dampak kotornya lingkungan, dan juga terus memotivasi mereka untuk berperilaku disiplin hingga akhirnya diharapkan para murid terbiasa untuk selalu hidup bersih di luar lingkungan sekolah mereka. Diharapkan nilai disiplin yang ditanam di sekolah ini akan membekas dalam hidup mereka, dan bisa menularkannya kepada keluarga atau bahkan kepada lingkungan mereka tinggal.

Page 46

Pendidikan

Alangkah indahnya bila sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya berhasil meluluskan lulusan dengan nilai akademik yang gemilang tapi juga lulusan yang berdisiplin dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya. Semoga hal yang terlihat sepele ini bisa direnungkan dan menjadi bagian dari kehidupan murid sekolah, mengingat pentingnya masalah menjaga kebersihan lingkungan, sehingga perkataan “Kebersihan sebagian dari iman” bisa diterapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. 2005-01-222 14:34:00

Page 47

Pendidikan

Cantik itu Memang Relatif

Kesimpulan yang menjadi judul di atas saya buat ketika dua hari berturut-turut membantu rekan guru bahasa Inggris mengulang-ulang kosakata bahasa Inggris. Murid saya yang namanya Vincent selalu lupa bahasa Inggrisnya cantik. Nah, sewaktu saya tunjukkan gambar kartun wanita cantik dia terlihat berusaha mengingat. Dia lama diam. Melihat dia lama berdiam diri lantas saya berkata, "Vincent, supaya selalu ingat cantik itu bahasa Inggrisnya apa, ingat Miss. Iis aja ya, pasti ingat, deh. Haha." kataku becanda. Lalu Vincent menjawab sambil tersenyum, "Memang iya kok, Ms. Iis memang cantik." Tiba-tiba saja Farhan, temannya Vincent, demi menyelamatkan gurunya dari kege-eran, nyeletuk sambil melihat saya, "Kalo menurutku sih Ms.Iis biasa ajah. Ga cantik!" Saya tertawa mendengar ucapan polos bin jujur kacang ijo murid saya yang masih kelas satu SD ini. Besoknya Vincent masih saja lupa kata beautiful. Lalu saya menunjukkan jari telunjuk saya ke arah wajah saya. Eh, benar, dia langsung ingat! "Beautiful!" jawabnya yakin, penuh semangat. Sekali lagi Farhan murid saya yang jujur kacang ijo protes. "Kalo kataku sih biasa-biasa aja, ah! Ga cantik!" Vincent diluar dugaan membalas. "Kalo kataku, sih, Miss. Iis yang paling cantik di antara semua guru." Mendengar kata-kata Vincent saya langsung tertawa lepas tak tertahankan. Saya ga habis pikir, dia itu berkata jujur

Page 48

Pendidikan

kacang ijo atau lagi ingin membuat gurunya senang atau apa karena matanya harus diperiksa ke dokter, ya? Lalu cerita mengenai kedua murid saya ini saya ceritakan pada rekan guru yang lain. Mendengar cerita saya, rekan guru tertawa menahan geli. Tapi sebenarnya mereka tidak heran mendengar tingkah kedua murid ini. Di mata kami, dua murid ini memang sangat berbeda sifatnya. Vincent pembawaannya tenang, ramah, selalu senyum, penuh santun, terlihat dia selalu memandang segala sesuatu itu indah. Sedangkan Farhan dikenal murid yang kritis, suka protes dan gelisah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap kritisnya, namun bila dengan kekritisannya itu dia menjadi selalu gelisah, kasihan, kan? Melihat kedua murid saya ini, saya jadi teringat istilah “Setengah Isi Setengah Kosong, Half Full-Half Empty”. Setengah Isi Setengah Kosong sendiri merupakan satu ilustrasi dalam pelatihan motivasi. Yang lazim sering dilakukan adalah dengan mengambil sebuah gelas yang setengahnya berisi air. Pastilah sebagian orang akan mengatakan gelas tersebut setengah kosong dan sebagian lain mengatakan setengah isi. Tentu saja keduanya benar, namun berbeda dalam cara pandangnya. Orang yang mengatakan gelas tersebut setengah kosong selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Biasanya orang selalu menyebut orang ini selalu ber-negative thinking. Sedangkan yang mengatakan setengah isi adalah orang yang melihat segala sesuatu dari segi positifnya. Bagi orang tipe ini segala sesuatu yang dilihatnya selalu indah. Sesuai judul tulisan ini maka bisa disimpulkan kembali bahwa anak kecil pun punya penilaian yang relatif mengenai cantik.

Page 49

Pendidikan

Seumur-umur nih baru kali ini ada murid yang bilang saya cantik. Murid les saya saja yang sudah lama saya ajar bilang begini, nih, "Ga tega ah bilangnya. Hihihi,” ketika saya tanya, "Memang Mbak Iis cantik, ya?" Sep 13, '08 10:52 AM

Page 50

Pendidikan

Musik Dapat Meningkatkan Kecerdasan

Pernah suatu saat saya meninggalkan murid privat saya yang saat itu masih kelas 5 SD ke kamar kecil. Begitu kembali ke ruangan, saya mendapatinya sedang memainkan keyboard-nya. Tembang yang dia lantunkan saat itu lagunya George Benson, Nothing's Gonna Change. Sesi belajar jadi berubah jadi sesi nyanyi karena I couldn't stand for not singing! Hahaha. Saat dia memainkan keyboard-nya saya terpana, karena dia terlihat sangat menikmati alat musiknya. Dia terlihat berusaha menghilangkan rasa stresnya, terutama stres saat mendengar gurunya ini menyanyi hehe. Ternyata tidaklah gampang memainkan 10 jemari pada tempat yang berlainan sedangkan mata melihat pada kertas berisikan not-not balok. Selain keyboard, murid saya ini juga pandai memainkan gitar. Jemarinya fasih sekali memainkan intro lagu More than Word-nya Extreme. Nah, biasanya gurunya yang kecentilan ini suka latah nyanyi. Untung saja muridnya sabar mendengarkan suara yang tidak karuan bunyinya hahaha. Ada lagi murid yang lain. Awalnya dia belajar piano, tapi saya melihat dia terlihat tidak menikmati memainkan piano. Tapi akhirnya orangtuanya menemukan pilihan musik yang tepat baginya, yaitu drum. Setiap main drum dia terlihat antusias. Keringat bercucuran. Tapi, duuh, telingaku sampai terasa budek mendengarnya haha. Cerita kedua murid saya di atas menandakan banyak orangtua yang mendambakan anaknya memiliki banyak pengetahuan dan kemampuan. Juga untuk menyeimbangkan perkembangan otak kiri dan kanannnya. Musik adalah pilihan yang bagus untuk mewujudkan

Page 51

Pendidikan

keseimbangan itu. Namun bila orangtua hendak memberikan pelajaran musik kepada anaknya perlu kiranya dipertimbangkan musik yang diminati anak, jangan sampai belajar musik malah menambah beban si anak yang sudah memiliki banyak tugas di sekolah, juga perlu dipertimbangkan usia yang tepat untuk memulai belajar musik, yaitu: 3- 10 tahun. Berkenaan musik dapat meningkatkan kecerdasan, ini diungkapkan oleh seorang psikolog Martin Gardiner, setelah dia meneliti ratusan mahasiswa yang dapat meningkat iQnya setelah mendengarkan Wolgang Amadeus Mozart's. Ternyata setelah mendengarkan Sonata Mozart sebelum ujian, rata-rata kenaikan IQ para mahasiswa yang ditelitinya bertambah menjadi 8 hingga 9. Kesimpulannya, musik dapat menajamkan nalar pendengarnya. Masih menurut sang psikolog, seni dan musik dapat membuat anak menjadi lebih pintar. Selain sebagai selingan yang menyenangkan, musik juga dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Selain itu musik juga dapat membangun kemahiran emosional karena dapat menyentuh psikis. Bila dikaitkan dengan struktur anatomi, ternyata selaput otak bagian matematika dan musik berdekatan, sehingga ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut skala yang naik turun yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika. Jadi tidak ada salahnya bila anak-anak belajar musik. Bagaimana bila anak itu sudah beranjak sepuh seperti saya? Apalah masih bisa belajar musik? Ooh tentu bisa doong, Cuma belajarnya harus jungkir balik dulu kalau ingin bisa. Maklum, kan sudah mengalami PDI (penurunan daya ingat) hehe. Nov 18, '08 7:38 AM

Page 52