OSCE ANAK Oleh Dwi Notosusanto FKUI 2005 Menghitung kebutuhan nutrisi anak Kebutuhan kalori harian = RDA

x BB menurut usia tinggi badan 0.1th RDA 110-120kcal/kgBB 1-3 RDA 100 kcal/kgBB 4-6 RDA 90 kcal/kgBB 7-9 RDA 80 kcal/kgBB 10-12 RDA 70 kcal/kgBB 13-15 RDA laki 60-70 kcal/kgBB; RDA perempuan 50-60 kcal/kgBB 16-18 RDA laki 50-60 kcal/kgBB; RDA perempuan 40-50 kcal/kgBB Untuk usia di atas 1 tahun pola makan seperti orang dewasa yaitu 3 x makan besar diselingi snack/buah. REHIDRASI DIARE Diare akut tanpa dehidrasi: tiap muntah berikan pedialyte 5 cc/kgBB, tiap mencret berikan pedialyte 10 cc/kgBB Diare akut dehidrasi ringan-sedang: jika anak masih mau minum berikan pedialyte 75 cc/kgBB untuk 3 jam pertama; jika anak tidak bisa minum berikan cairan infus RL/RA/NaCl 9% 70 cc/kgBB (selama 5 jam jika usia 0-1 thn; selama 2,5 jam jika usia 1-5 thn). Alternatif bisa juga diberikan infus 175 cc/kgBB dalam 24 jam (hasil perhitungan turorial diare). Diare akut dengan dehidrasi berat: 30 cc/kgBB dalam 1 jam lalu 70 cc/kgBB dalam 5 jam (usia 0-1 thn); 30cc/kgBB dalam ½ jam lalu 70 cc/kg dalam 2 ½ jam (usia 1-5 thn). Tidak boleh menggunakan Dekstrose 5% untuk cairan resusitasi. Jika pasien syok ,loading 20 cc/kgBB secepatnya (dalam 20 menit) evaluasi ulang. Bisa diulang 2 x lagi. Untuk maintenance gunakan rumus Darrow dengan cairan KaEN: untuk 10 kg pertama x 100, untuk 10 kg kedua x 50, untuk kg berikutnya x 20, jumlahkan totalnyahasil dalam ...cc/24 jam. RESUSITASI NEONATUS Saat baru lahir nilai: Cukup bulan? Warna ketuban? Menangis? Tonus otot? Klo baik langsung keringkan wajah dan badan, rangsang taktil (menggosok punggung, menepuk telapak kaki). Klo terganggu maka lakukan pembersihan jalan nafas (mulut dahulu kemudian hidung), bawa ke tempat resusitasi yang datar dan hangat, nilai frekuensi nadi karotis, frekuensi nafas, sianosis sentral (di bibir dan lidah) dalam 30 detik. Lakukan masase jantung (tekan sedalam 1/3 dameter AP) jika HR<60 x/menit. Lakukan VTP dengan sungkup (ventilasi tekanan positif) jika frekuensi nafas<40 x/menit atau sianosis atau apneu (henti nafas >20 detik) atau HR< 100x/menit dengan posisi bayi sniffing dan sungkup 1

menutup hidung, mulut dan dagu. Yakinkan pergerakan dada simetris. Dalam 1 siklus selama 30 detik terdapat 15 VTP dan 45 masase jantung. Perbandingan masase jantung: VTP ialah 3:1 agar fisiologis. Lakukan penilaian ulang tiap 1 siklus. Berikan epinefrin (bila setelah 1 siklus tidak ada perbaikan) 1:10000 (dari epinefrin 1:1000 yg diambil o,1 cc diencerkan dengan 0,9 cc Nacl 0,9%) lalu bolus ke vena umbilicus dengan dosis 0,1-0,3 cc/KgBB. Jika bayi pucat/kehilangan darah/ tidak memberikan respon memuaskan terhadap resusitasi boleh berikan infus RL/NS IV umbilikus dosis 10ml/kgBB dalam 5-10 menit. Jika resusitasi berhasil, lanjutkan perawatan post resusitasi. Resusitasi bisa dihentikan setelah 10 menit tidak ada perbaikan. Berikan informed consent kepada orang tua bayi. TES TUBERKULIN Kontraindikasi lokal Infeksi kulit lokal pada kulit yang akan disuntik Alat yang dibutuhkan • Semprit tuberkulin dengan ujung berpengunci Luer • Jarum suntik no.26 atau 27 • PPD Dilakukan intrakutan, caranya dengan menggunakan spuit 1 cc ambil PPD intermediate strength (PPD RT23 2TU yg diproduksi PT Biofarma Bandung) dengan lubang jarum mengarah ke atas, jarum hampir sejajar kulit, regangkan kulit lalu insersikan mulut jarum menghadap ke atas hingga tidak tampak di 1/3 proksimal lengan bawah sisi volar lengan bawah sebanyak 0,1 cc hingga terbentuk gelembung kecil. Tandai dengan melingkari tempat suntikan. Lakukan penilaian setelah 2 sampai 3 hari penyuntikan. Gunakan pulpen dari lateral hingga menyentuh tepi indurasi kiri dan kanan. Lalu ukur secara tranversal diameter indurasi. Bila > 15 mm hasil positif, bila hasil 10 sd 15 mm hasil positif meragukan, bila hasil >5 mm pikirkan apakah terdapat keadaan depresi sistem imun (bisa dianggap positif). Hasil positif bisa terjadi setelah 2 minggu hingga 12 minggu (biasanya 6 sd 8 minggu) dilakukan vaksin BCG atau terinfeksi BCG. Hasil negatif bila diameter indurasi < 5 mm. Hasil negatif bisa terjadi pada kondisi belum pernah terpapar infeksi TB, fase inkubasi TB, atau anergi. Penyebab kegagalan suntikan • Kulit kurang teregang • Jarum tidak terkunci dengan baik pada sempritnya • Tidak seluruhnya mulut jarum masuk ke kulit • Jarum menembus jaringan subkutan • Jarum tumpul • Pasien tidak kooperatif/gelisah • Adanya gelembung udara dalam semprit SUNTIKAN INTRAVENA/PEMATANGAN CAIRAN INTRAVENA 2

Indikasi Pemberian obat-obatan dan cairan intravena/tranfusi darah Kontraindikasi lokal Infeksi lokal pada tempat yang akan disuntik Alat yang dibutuhkan • Semprit ukuran 2,5; 3 ml; 5 ml (sesuai kebutuhan) • Jarum suntik o Bayi : No. 23-25 o Anak : No. 19-22 atau jarum bersayap • Obat atau cairan infus yang diperlukan • Torniquet, manset tensimeter, atau karet gelang • NaCl 0,9% Tempat suntikan Suntikan dapat dilakukan di setiap vena superfisial, misalnya di punggung tangan, punggung kaki, bagian medial pergelangan tangan, fosa kubiti, kepala, bagian medial tungkai, atau leher. Cara • A dan anti sepsis daerah yang akan disuntik • Perawat diminta untuk memegang anak dengan baik agar anak tenang • Aliran vena proksimal dibendung dengan turniquet, manset dan karet gelang • Kulit ditusuk beberapa mm sebelah distal dari bagian vena yang disuntik; jarum suntik diarahkan 25-45 derajat dengan mulut jarum ke atas • Bila vena ditusuk, darah akan keluar perlahan; semprit diganti dengan semprit yang berisi obat • Obat dimasukkan sambil dilepaskan dengan bendungan vena • Untuk pemasangan cairan intravena dipakai jarum bersayap yang dihubungkan dengan selang infus; tetesan diatur sesuai dengan keperluan. SUNTIKAN INTRAMUSKULAR Gunakan semprit ukuran 2,5 atau 3 cc, jarum suntik No.19-22 Suntikan pada vastus lateralis • Kulit daerah suntikan dibersihkan dengan cairan antiseptik • Jarum ditusukkan tegak lurus pada otot paha di sisi lateral pada ½ sampai 1/3 proksimal sedalam 2 cm • Aspirasi semprit, apabila tidak keluar darah barulah obat atau vaksin dimasukkan perlahan-lahan sesuai dosis Menilai APGAR Tanda Warna (appearance) Laju jantung (pulse) 0 Seluruh tubuh pucat/biru Tidak ada 1 Tubuh kemerahan <100x/menit 2 Seluruh tubuh merah > 100 x/menit 3

Refleks (grimace) Tidak bereaksi Gerakan sedikit Reaksi melawan Tonus otot Lumpuh Ekstremitas fleksi Gerakan aktif (activity) sedikit Usaha bernafas Tidak ada Lambat Menangis kuat (respiratory) Penilaian terhadap adaptasi neonatus dilakukan dengan cara menghitung nilai Apgar. Penilaian ini dilakukan pada menit pertama setelah lahir yang memberikan petunjuk adaptasi neonatal. Neonatus yang beradaptasi dengan baik mempunyai nilai Apgar 7 sampai 10. Nilai 4 sampai 6 menunjukkan keadaan asfiksia ringan sampai sedang, sedangkan nilai 0-3 menunjukkan derajat asfiksia yang berat. Penilaian Apgar ini perlu diulangi setelah 5 menit untuk mengevaluasi apakah tindakan resusitasi kita sudah adekuat. Bila belum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang lain. Nilai Apgar 5 menit mempunyai nilai prognostik karena terkait morbiditas neonatal.

4

OSCE IPD Menghitung kebutuhan kalori pasien DM dengan rumus Brocca • Menentukan Berat badan ideal o Jika pria <170 cm atau wanita <150, BBI = (TB aktual-100cm)x 1kg o Jika pria>170 cm atau wanita>150 cm, BBI=90%x(TB aktual-100 cm)x 1kg • Menentukan status gizi (hitung BB aktual/BBI) o Gemuk bila >120% o Lebih bila 110-120% o Normal bila 90-110% o Kurang bila dibawah 90% Penentuan kebutuhan kalori per hari 1. Kebutuhan basal a. Pria : BBI x 30 kalori b. Wanita : BBI x 25 hari 2. Koreksi atau penyesuaian a. Umur di atas 40 : -5% b. Aktivitas ringan : +10% c. Aktivitas sedang : +20% d. Aktivitas berat :+30% e. Berat badan gemuk :-20% f. Berat badan lebih :-10% g. Berat badan kurus :+20% 3. Stress Metabolik :+10 s/d 30% 4. Kehamilan trimester I s/d II : +300 kalori 5. Kehamilan trimester III:+500 kalori Makanan tersebut dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), makan siang (30%), makan malam (25%), serta 2-3 porsi ringan (10-15%) di antara makan besar. Distribusi makanan: Karbohidrat (60%), protein (20%), lemak (20%). EKG Langkah menginterpretasi hasil EKG 1. Layak baca a. Kalibrasi : tinggi voltase 2 kotak sedang (atau 10 kotak kecil) b. Gelombang P terbalik pada sadapan aVR, gelombang P tidak terbalik pada sadapan II c. Garis Isoelektris 2. Irama a. Teratur bila: P selalu diikuti oleh QRS (sinus), menentukan HR dengan rumus: 300/jumlah kotak sedang antara 2 puncak R b. Tidak teratur: sinus (pada aritmia), tidak sinus (misal pada atrial fibrilasi, SVT bila QRS sempit), menentukan HR dengan rumus: banyaknya puncak R dalam 30 kotak sedang x 10. c. Takikardi jika > 100x/menit, bradikardi jika <60x/menit 5 •

3. Menentukan aksis a. Hitung R-S di sadapan I dan aVF b. Jika hasilnya (-) pada I kemungkinan terjadi RAD, jika hasilnya (-) pada aVF kemungkinan terjadi LAD c. Tentukan sudut dengan menilai arc tan (R-S) di I/(R-S) di aVF 4. Nilai gelombang P di sadapan II a. Durasi normal 3 kotak kecil (0,12 sekon) dengan amplitudo <2,5 mm b. Jika sisi kanan P lebih tinggi curiga P pulmonal, jika sisi kiri P lebih tinggi atau durasi P memanjang curiga P mitral 5. Nilai PR interval (awal P sampai awal R) a. Normal 0,2 sekon 6. Nilai gelombang QRS a. Normalnya 0,12 sekon b. R dari V1 ke V6 makin tinggi sedangkan S dari V1 ke V6 makin rendah 7. Nilai hipertrofi ventrikel a. Hipertrofi ventrikel kiri jika S di V1+R di V5 >35 mm atau aVL>13mm b. Hipertrofi ventrikel kanan jika di V1 R>S atau di V6 S>R 8. Nilai ST changes a. Patokan: selisih J point dengan garis isoelektris b. Terjadi pada 2 lead berdekatan c. Elevasi: 2mm pada sadapan prekordial atau 1 mm pada sadapan ekstremitas d. 0,5 mm ½ depresi 9. Nilai T changes a. Hiperakut T (tinggi dan cenderung lancip) terjadi pada keadaan iskemia miokard b. T -tall pada keadaal hiperkalemia 10.Nilai Infark a. Terdapat Qs (gel Q dalam tanda old miokard infark) b. Poor R pogresion c. ST elevasi, ST depresi 11.Nilai Blok AV a. Derajat I : PR interval >0,2 sekon b. Derajat II: tipe I jika PR makin lama makin panjang; tipe II jika muncul 2 atau lebih P diikuti QRS c. Derajat III jika kemunculan gelombang P dan QRS tidak berhubungan sama sekali 12.Nilai RBBB a. Ada RSR’ di V1 dan V2 13.Nilai LBBB a. Ada RSR’ di V5, V6, I, aVL

6

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful