You are on page 1of 2

SEREMONI PENDIDIKAN

Bagi siswa kelas akhir baik tingkat dasar, menengah ataupun atas, sudah sangat
mafhum bahwa 4 bulan kedepan setelah dihibur dalam liburan panjang semester ganjil
tahun pelajaran 2011/2012 akan menghadapi rutinitas pendidikan yang bagi sebagian
siswa menakutkan, mengharukan dan merisaukan. Tetapi bagi sebagian yang lain rutinitas
pendidikan yang satu ini dipandang sebagai rutinitas yang biasa-biasa saja bahkan
cenderung apriori. Menakutkan, mengharukan dan merisaukan karena siswa model seperti
ini tahu dan sangat faham apa artinya pendidikan, atau minimal mereka ngeh dengan yang
namanya pendidikan tingkat lanjut. Sebaliknya, bagi yang apriori dan biasa-biasa saja,
mereka sangat yakin bahwa akan ada pertolongan yang menjamin mereka akan lulus.
Bagi siswa yang model begini jangan tanya bagaimana keseharian belajar mereka,
jangankan dirumah disekolah saja yang sudah sangat jelas tuntutannya, mereka sangat,
sangat dan sangat santai penyikapannya. Sungguh sebuah fenomena pendidikan yang luar
biasa. Fenomena yang sangat jauh menyimpang dari definisi dan tujuan mulia pendidikan.
Pendidikan pada dasarnya secara konseptual keilmuan didefinisikan sebagai suatu
rangkaian proses kegiatan yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis,
berkesinambungan, terpola dan terstruktur terhadap anak-anak didik dalam rangka untuk
membentuk peserta didik tadi menjadi sosok manusia yang berkualitas secara nalarintelektual dan berkualitas secara moral-spiritual.
Lembaga pendidikan adalah tempat mendidik supaya anak menjadi `orang dewasa`
yang dapat memainkan perannya di masyarakat. Terlalu ideal barangkali, tetapi jika
kembali kepada makna pendidikan, maka jelaslah bahwa tidak hanya otak yang harus
dididik, tetapi organ lain dari anak pun harus dikembangkan.
Penelitian ini bertujuan untuk menyuguhkan deskripsi ilmiah yang berdasarkan fakta
tentang bagaimana aplikasi tujuan mulia pendidikan Indonesia lewat Ujian Nasional
kemudian hanya menjadi sebuah seremoni tahunan yang dilakukan secara berjenjang dan
berjamaah. Disamping itu penelitian ini juga bertujuan untuk menyuguhkan deskripsi
ilmiah tentang ragam tindak responsif masyarakat atas kebijakan standarisasi mutu
pendidikan melalui barang yang bernama ujian nasional.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dan
interaksi simbolik dengan model paradigma naturalistik. Untuk memperoleh data tentang
bagaimana aplikasi tujuan mulia pendidikan Indonesia lewat Ujian Nasional kemudian
hanya menjadi sebuah seremoni tahunan, metode
yang digunakan adalah
pengamatan/observasi dan interview. Fakta dilapangan disajikan untuk kemudian dianalisa
dan dibandingkan dengan teori yang ada untuk memperoleh data teoritis sesuai yang
diharapkan.
Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dampak domino ujian nasional sangat
besar ditinjau dari berbagai aspek, ujian nasional dinilai bermasalah. Selain bertolak
belakang dengan semangat otonomi sekolah, secara yuridis dianggap bertentangan
dengan undang-undang sistem pendidikan nasional (UU Sisdiknas). Yang paling parah jika
dilihat dari sisi pedagogis telah mengambil alih hak guru, sisi psikologis menimbulkan
tekanan bagi murid, serta dari sudut ekonomi merupakan pemborosan anggaran. Itulah
sebabnya mengapa ujian nasional pada akhirnya hanya menjadi sebuah seremoni tahunan.
Acara 17-an adalah sebuah metafor yang tepat barangkali untuk menggambarkan
seremoni yang dilakukan secara sistemik, berjenjang dan berjamaah. Sekaligus, ujian
nasional memunculkan kebijakan dalam kebijakan yang berundang-undang sebagai
bentuk tindak responsif dari sebuah aturan yang kurang melihat fakta lapang.
Kata kunci: Seremonial Pendidikan, Pinggiran

EDUCATION CEREMONY
For the last grade students of elementary, secondary and senior high school, having
hugh understanding that for next 4 months after amused in long vacation of first semester
school year 2011 / 2012 when they are going to face the educational routine which is for
some students is scaring, touching and apprehending is a compulsion. But for some of
others, this educational routine viewed as trivial event moreover some of them viewed it
apriorily. Fearful, touching and apprehending because this kind of students know and very
aware the meaning of education, or at least they have consciousness or Javanese said
ngeh with what we called it advanced education. On the contrary, for which apriori and
non-extraordinary one, they have one hundred percent exact prediction that there will be a
" help" that guaranting them to pass the examination. For this type of student, don't ask
how their learning habitual is, dont ask how they learn at their home, even at school
where they are ruled to learn and study, they are very, very and very easy going on its
learning behaviour. Really a remarkable education phenomenon. This is lattest, recent and
up to date phenomenon and seriously it is far, far away from magnificence aim of
education and definition of education.
Education defined basically by scientific conceptual is a series of activity process
which done consciously, planned, systematically, continuously, patterned, and structurized
toward pupils concerning to transform its pupil into a truly human being that qualified as
intellectual-logical reasoning and qualified as an excellent spiritual moral.
Educational institution is a educate place where pupil have to become grown up
person which have to role their character among society. Perhaps it is too ideal, but if we
look back to the educational sense, its clear that not only brain that must be educated, but
also any other organs of child must be explored.
This research has an aim to perform scientific description based on fact that how the
application of grateful purposes of education in Indonesia through national examination at
last become an annual ceremony which done gradually and all together. Beside that, this
research also has an aim to perform scientific description about the manner of people
responsive act deal with educational grade standardization policy through a thing which
named national examination.
The research represents qualitative research with phenomenological approach and
symbolic interaction with naturalistic paradigm models. In order getting the data about
how the application of grateful purposes of education in Indonesia through national
examination at last become an annual ceremony, the method that being used is
observation and interview method. Fact shows in square presented and then analyzed and
compared with various existing theory utilize to obtain get theoretical data as expected.
From this research, is that obtained by conclusion that dominoes impact of national
examination is momentous observed from any aspects, national examination judged
complicated. Except contrary with school autonomy spirit, it juridical believed contradict
with national education law (UU Sisdiknas). The worst if it looked from pedagogic sense, it
shifts teacher right, from psychologies sense it causes a pressure to the students and also
economically it wasting the calculations. That is why national examination at the end just
becomes an annual ceremony. 17th August ceremony is probably an exact metaphor to
describe this ceremony done systematically, gradually and all together. All at once,
national examination brings a policy within a legally policy as a manner of responsive act
derive from a regulation that does not look at the fact on square at all.
Key Word : Educational Ceremony, The Edges