MAKALAH KELOMPOK ISU-ISU AKTUAL DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

Peran HOPE Indonesia dalam Isu Kemiskinan
Studi Kasus terhadap Program “Sustained Life Through Change in Nias” yang Dijalankan HOPE Indonesia pada Periode 2005-2008

Disusun oleh: Bajora Rahman (0706291211) Erika (0706291243) Hani Sulastri (0706291294) Jurusan Hubungan Internasional

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2010

Page | 0

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan berbagai kemajuan pembangunan di dunia, angka kemiskinan dunia pun meningkat. Dewasa ini, dunia semakin dihadapkan dengan masalah-masalah yang terkait dengan ketidakmampuan manusia untuk mencukup kebutuhan sehari-harinya. Mengenai hal ini, Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan Ekonomi, Jomo Kwame Sundaram mengatakan bahwa angka kemakmuran global memang meningkat, tetapi potret kemiskinan dunia semakin buram. Jutaan warga semakin miskin dan distribusi kemakmuran dunia semakin tidak merata, demikian menurut Sundaram.1 PBB sendiri mencatat dari enam miliar penduduk dunia terdapat 1,2 miliar jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan atau hidup dengan biaya kurang dari 1 dolar AS (Rp 9.000 per hari).2 Jika indikator kemiskinan dinaikkan menjadi 2 dolar AS per hari, maka jumlah kaum papa pun mencapai 2 miliar orang.3 Di kawasan Asia Pasifik, misalnya, terdapat sekitar 700 juta orang atau hampir 57% masyarakat miskin dunia yang masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1 dolar AS per hari.4 Kondisi yang sangat menyedihkan ini tentunya membutuhkan penanganan segera, baik dari aktor negara maupun dari aktor non-negara. Berbagai kampanye pun dilakukan oleh aktivis-aktivis yang peduli pada nasib mereka. Usaha para aktivis ini tidak sia-sia. Para pemimpin dunia pun mulai terdorong untuk memprioritaskan masalah pengentasan kemiskinan dalam agenda pemerintahan mereka. Mulai dimasukkannya agenda serius untuk mengurangi kemiskinan terjadi sejak September 2000 lalu ketika para pemimpin dunia hadir dalam Millennium Summit, di mana pertemuan tersebut sukses mendeklarasikan Millennium Development Goals (MDGs). Dalam deklarasi tersebut, 191 negara anggota PBB sepakat untuk melakukan berbagai upaya serius mengurangi kemiskinan hingga setengahnya pada tahun 2015. Adapun tujuan dari MDGs ini adalah untuk memastikan komitmen dunia melalui pemerintahnya masing-masing dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan di dunia sebelum tahun 2015. Ada delapan tujuan atau target yang ditekankan dalam MDGs. Target-target tersebut antara lain: Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan, Mencapai Pendidikan Dasar Secara Universal, Mendorong Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan, Menurunkan Angka Kematian Anak, Meningkatkan Kesehatan Ibu, Memerangi

1 2

3 4

Lihat Simon Saragih, ―Musuh Kemiskinan Itu adalah Nurani‖, Kompas, edisi Minggu, 07 Agustus 2005. Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Pengurangan Kemiskinan dan Kelaparan sebagai Agenda Utama Pembaruan Desa. http://www.forumdesa.org/makalah/renstra/kelaparan.pdf, diakses pada 11 Maret 2010, pukul 23.47. Ibid Lihat ―SBY Membuka Pertemuan Regional MDGs 2015, Asia Pasifik Bebas dari Kemiskinan‖, Pikiran Rakyat, edisi Kamis, 04 Agustus 2005.
Page | 1

HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular Lainnya, serta Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup dan Menjalin Kemitraan Global untuk Pembangunan.5 Di Indonesia sendiri, realitas kemiskinan masih sangat besar jumlahnya. Penduduk miskin Indonesia tahun 1996 berjumlah 22,5 juta (11,3 persen). Krisis ekonomi tahun 1997 membuat jumlah penduduk miskin meningkat hingga 49,5 juta (24,2 persen). Saat deklarasi MDGs diluncurkan tahun 2000, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 37,3 juta (sekitar 19 persen). Tahun 2001, jumlah penduduk miskin sedikit turun menjadi 37,1 juta.6 Meskipun diklaim terus mengalami penurunan, kenyataannya kasus kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu mencapai sekitar 37 juta atau 16,6% dari total penduduk.7 Jika ditelusuri lebih lanjut, maka masalah kemiskinan ini sebenarnya sangat terkait dengan kebijakan ekonomi yang tidak mampu menggalang sektor riil bertumbuh lebih tinggi dan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini berarti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak atau jauh dari memadai jika tidak hendak dikatakan gagal.8 Akibatnya kesempatan kerja tidak terbuka luas dan kasus pengangguran masih sangat tinggi. Di Indonesia sendiri, tingkat pengangguran masih di atas 10 juta orang, yang berarti dua setengah kali dari kondisi normal. Itu artinya ekonomi masih sakit meskipun perekonomian bertumbuh lebih 6 persen.9 Masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia membuktikan ketidakmampuan pemerintah dalam melaksanakan target-target MDGs. Adapun upaya pengurangan kemiskinan memang membutuhkan inisiatif global, tetapi tidak akan efektif jika masalah kemiskinan itu sendiri tidak dipahami dengan benar oleh para pembuat kebijakan. 10 Di sinilah peran Civil Society Organization (CSO, atau lebih dikenal dengan Non Government Organization/NGO) mulai terlihat. Kampanye nasional untuk mewujudkan target-target MDGs memerlukan kerja sama dari pemerintah, media, dan NGO.11 Keberadaan aktor NGO lantas menjadi penting karena aktor inilah yang paling dekat dengan masyarakat. Cara kerja NGO yang dimulai dari grass roots menjadikan NGO lebih memahami kondisi dan realita yang terjadi di masyarakat sebab dibanding pemerintah, NGO tentunya dapat lebih memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.

5

Kiki Safitri, MDGs Fokus Reduksi Kemiskinan. Waspada Online, edisi 27 Januari 2010. http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85333:mdgs-fokus-reduksi-kemis kinan&catid=77:fokusutama&Itemid=131, diakses pada 11 Maret 2010, pukul 23.34. 6 Gunawan Sumodiningrat, ―MDGs dan Indonesia‖. Kompas, edisi 6 Agustus 2005. 7 Didik J. Rachbini, Kemiskinan dan MDGs. Rakyat Merdeka Online, edisi 14 Desember 2007, http://www.rakyatmerdeka.co.id/index.php?pilih=lihat5&id=141,, diakses pada 11 maret 2010, pukul 23.23. 8 Ibid 9 Didik J. Rachbini, op.cit. 10 Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, loc.cit. 11 Target MDGs Indonesia, Why Do We Need the Target MDGs Programme. http://www.targetmdgs.org/index. php?option=com_content&task=view&id=751&Itemid=36&lang=en, diakses pada 11 Maret 2010, pukul 23.30.
Page | 2

1.2. Pertanyaan Permasalahan Makalah ini akan berusaha menjawab pertanyaan: Bagaimana peran HOPE Indonesia dalam mengurangi isu kemiskinan di Indonesia dalam program “Sustained Life Through Change in Nias” yang dijalankan HOPE Worldwide Indonesia pada periode 2005-2008? 1.3. Kerangka Konsep 1.3.1. Konsep Kemiskinan Kemiskinan merupakan konsep yang sulit didefinisikan. Dalam mendefinisikan konsep kemiskinan, terdapat berbagai pendapat. Salah satunya adalah pendapat Andre Bayo Ala, yang mengatakan bahwa kemiskinan itu bersifat multi dimensional; kebutuhan manusia yang bermacam–macam menjadikan konsep kemiskinan sebagai konsep yang terdiri dari banyak aspek, antara lain12: 1. Aspek Primer, yaitu berupa:      Miskin aset. Organisasi sosial politik. Pengetahuan dan Keterampilan. Jaringan sosial Sumber Keuangan dan Informasi.

2. Aspek Sekunder, yaitu berupa:

Senada dengan Andre Bayo Ala, John Friedman lebih melihat kemiskinan sebagai adanya ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial yang meliputi modal yang produktif, sumber keuangan, organisasi sosial dan politik. Wolf Scott mendefinisikan kemiskinan dari segi pendapatan (dalam jumlah uang) ditambah dengan keuntungan non-material yang diterima seseorang; dari segi pendapatan, misalnya, dapat dilihat dari cukup tidaknya kepemilikan aset seperti tanah, rumah, uang, emas dan lain-lain; sementara dari segi non-material dapat dilihat dari hak dan kebebasan seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Sementara Bank Dunia lebih mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi pendapatan yang rendah, kekurangan gizi atau keadaan kesehatan yang buruk serta pendidikan yang rendah. Ada dua macam ukuran kemiskinan yang umum dan dikenal antara lain : 1. Kemiskinan Absolut Konsep kemiskinan yang dikaitkan dengan pendapatan dan kebutuhan, di mana kebutuhan tersebut hanya terbatas pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar (basic need). 2.
12

Kemiskinan Relatif
Andre Bayo Ala, Kemiskinan dan Strategi Memerangi Kemiskinan. (Yogyakarta: Liberty, 1981).
Page | 3

Pada konsep ini, ukuran kemiskinan dilihat dari besarnya ketimpangan hidup antara orang yang berpenghasilan tinggi dan orang yang berpenghasilan rendah. Menurut Kincaid, semakin besar ketimpangan antara tingkat hidup orang kaya dan miskin mengakibatkan jumlah penduduk yang selalu miskin menjadi semakin besar.13 Menurut Bappenas, penyebab kemiskinan yang terjadi di masyarakat Indonesia antara lain14: a. Budaya di masyarakat yang cenderung boros (contoh: hajatan, tradisi-tradisi yang memberatkan masyarakat); b. Sumber Daya Manusia yang masih rendah. Rata-rata penduduk miskin di Indonesia hanya berpendidikan SD ke bawah. c. Lapangan kerja yang monoton. Mayoritas penduduk miskin di Indonesia hanya bekerja pada sektor pertanian dan tidak punya ketrampilan tambahan. d. Mental manusia itu sendiri. 1.3.2. Konsep Civil Society Organization (CSO) Masyarakat sipil dapat didefinisikan sebagai suatu badan otonom yang bebas dari pengaruh negara dan juga pasar, yang melakukan interaksi dengan tujuan dan kepedulian yang sama terhadap isu-isu sosial dan berpihak pada pihak-pihak yang termarginalisasikan dengan bekerjasama untuk kepentingan umum. Hal ini tampak dari kerjasama mereka, hubungan yang dekat dan saling menghargai yang terbentuk dalam sebuah sistem. Bentuk dari masyarakat sipil sendiri ada yang berupa kelompok informal seperti perkumpulan ibu-ibu rumah tangga, kelompok remaja, dan dapat juga berbentuk struktur formal misalnya organisasi, asosiasi atau yayasan seperti CSO, dan NGO.15 Dalam tataran studi Hubungan Internasional, CSO atau NGO merupakan salah satu aktor transnasional. Sebagai aktor transnasional, CSO memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Pertama, CSO dapat menjalankan fungsi penting dan berkelanjutan, terutama memiliki pengaruh dalam hubungan antar negara. Kedua, CSO dipandang sebagai aktor yang berpengaruh, baik besar maupun kecil, oleh pengambil keputusan luar negeri dan turut mempengaruhi kebijakan luar negeri negara yang bersangkutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, CSO memiliki derajat kemandirian atau otonomi dalam merumuskan dan menentukan kebijakan dan keputusannya.16 NGO disebut juga sebagai non-profit organizations dimana NGO merupakan organisasi
13 14

15

16

J.C. Kincaid. Poverty and Equality in Britain. (Harmondsworth: Penguin, 1975). Loknas Pro Poor, Kondisi Capaian MDGs dan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan Pemkab. Banjarnegara. http://p3b.bappenas.go.id/Loknas_Wonosobo/content/docs/materi/16-MAKALAH%20 KAB.BANJARNEGARA.pdf, diakses pada 11 Maret 2010, pukul 23.17. Diakses dari situs http://www.worldbank.org.kh/pecsa/resources/16.understanding_civil_society_eng.pdf, pada tanggal 4 Mei 2009 pukul 15.31. Curul Ann Cusgrove dan Kenneth J. Twitchett, The New International Actors: The UN and the EEC, (London: Macmillan, 1970).
Page | 4

internasional yang tidak bertujuan untuk mendapatkan profit serta tidak ada campur tangan atau tidak merepresentasikan negara tertentu. Dalam usaha mencapai tujuannya, NGO harus dapat menjalin hubungan dengan pemerintah negara dimana ia beroperasi mengingat pemerintah merupakan aktor yang memiliki otoritas paling besar dalam negara untuk menentukan organisasi mana yang boleh beroperasi di wilayahnya. Selain itu NGO juga harus menjalin hubungan dengan masyarakat dimana ia beroperasi. NGO memiliki nilai-nilai yang diusung dalam pergerakannya, berbeda dengan negara yang memiliki goal ke arah political power atau pelaku bsinis yang berorientasi pada profit, NGO memiliki goal ke arah penyebaran nilai-nilai yang diusungnya serta bagaimana menyuarakan aspirasi masyarakat yang termarginalisasi dalam setiap isu dan kebijakan. Peranan lain dari NGO yaitu sebagai representasi masyarakat transnasional adalah NGO mampu untuk melakukan pendekatan bottom up untuk menyuarakan aspirasi masyarakat yang termarginalisasi sehingga NGO dapat mengetahui dengan persis kebutuhan masyarakat yang seringkali berbaur dengan kepentingan politik penguasa. NGO yang merupakan lembaga yang tidak merepresentasikan negara manapun memerlukan dana untuk melanjutkan aktivitasnya demi memperjuangkan isu yang diusungnya. Oleh karena itu NGO membutuhkan sokongan dana dari masyarakat. NGO juga memerlukan adanya hubungan yang baik dengan masyarakat internasional yang tergabung dalam organisasi internasional seperti PBB karena NGO bergerak diluar batas kenegaraan. NGO memerlukan konsultasi dengan badan PBB yang bergerak di bidang yang sesuai dengan yang dikerjakannya. Solidaritas dan jejaring merupakan hal yang sangat penting bagi NGO dan NGO dapat dikatakan sebagai aktor dalam hubungan internasional. Hal itu dikarenakan solidaritas dan jejaring merupakan hal yang harus dimiliki oleh NGO agar ia dapat berjalan dengan baik. Tanpa adanya solidaritas dan jejaring yang baik maka NGO tidak akan dapat melakukan segala aktivitasnya dengan baik. Aktivitas yang dilakukan oleh NGO adalah aktivitas yang memperjuangkan berbagai macam isu low politics yang lintas batas. NGO mengacu pada ruang publik dimana masyarakat dan kelompok dapat terlibat dalam aktivitas-aktivitas politik secara independen dari negara.17

17

Martin Griffiths dan Terry O’Callaghan, International Relations: The Key Concept, (London: Routledge, 2002), hal. 122.
Page | 5

1.4. Metodologi Penelitian Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan kualitatif 18 , yaitu peneliti sebagai instrumen utama untuk pengumpulan data dan pengolahan atau analisis data, serta sangat memfokuskan perhatian pada proses dan arti dari suatu peristiwa yang diteliti dalam hal ini peneliti tidak akan melakukan kuantifikasi. Dalam pendekatan kualitatif, penelitian dapat dilakukan dalam tiga tahapan utama, yaitu (1) Pengumpulan Data (Data Collective); (2) Pengolahan Data (Data Analysis); dan (3) Laporan Penelitian (Report Writing).19 Pada tahap pengumpulan data, yang harus dilakukan adalah menetapkan batasan parameter data yang dikoleksi. Ide dari penelitian kualitatif adalah dengan sengaja menyeleksi informasi atau dokumen yang dapat secara baik menjawab pertanyaan penelitian dengan mempertimbangkan empat parameter, yaitu: di mana penelitian akan dilakukan (setting); siapa yang akan observasi atau diwawancara (actors); apa yang akan diamati dari perbuatan aktor atau topik yang ditanyakan dalam wawancara (events); dan perkembangan sifat fari peristiwa yang dialami oleh aktor dalam setting tersebut (process).20 Pada tahap pengolah (analisa) data, informasi yang telah dikelompokkan menjadi kategori, memformat informasi menajadi sebuah cerita, dan kemudian menulis teks kualitatif.21 Jenis penelitian dapat dilihat berdasarkan: tujuan, manfaat, dimensi waktu, dan teknik pengumpulan data. Berdasarkan tujuannya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan dan situasi secara sistematis, faktual, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antar fenomena yang diteliti.22 Berdasarkan teknis pengumpulan data, penelitian ini menggunakan studi dokumen dan literatur. Studi dokumen yaitu dokumen-dokumen yang dikeluarkan secara resmi oleh HOPE Indonesia. Data literatur dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data-data kualitatif yang diperoleh dari sumber-sumber langsung seperti dokumen-dokumen penting maupun pernyataan yang dinyatakan oleh salah satu pihak yang mempunyai otoritas, seperti misalnya Laporan Tahunan HOPE Indonesia, yang penulis gunakan dalam makalah ini. Data sekunder yakni data-data yang dikumpulkan dari beberapa sumber bacaan yang berhubungan dengan tema penelitian dan menyediakan data-data yang mendukung penulisan penelitian ini. Data ini berasal dari buku-buku, artikel-artikel jurnal ilmiah, serta situs-situs internet yang relevan.

18

19 20 21 22

John W. Creswell, Research Design: Qualitative and Quantittative Approaches, (Colifornia: Sage Publications, 1994), h. 145. Ibid, hal 148-161. Ibid. hal. 148-149. Ibid, hal, 153 W. Laurence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 3nd ed., (Boston: Allyn and Bacon, 1991), hal. 18-35.
Page | 6

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Kemiskinan di Indonesia Kemiskinan global yang dialami negara-negara di dunia merupakan masalah multidimensional yang mendapat perhatian internasional. Salah satu bentuk perhatian masyarakat dunia terhadap isu kemiskinan sebagai ancaman kehidupan manusia ialah dengan memasukan isu kemiskinan pada butir pertama dalam Deklarasi Millenium Development Goals (MDGs) yang ditandatangani oleh 191 negara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan September 2000. Delapan Tujuan Pembangunan Milenium juga menjelaskan mengenai tujuan pembangunan manusia, yang secara langsung juga memberikan dampak bagi penanggulan kemiskinan ekstrim. Deklarasi ini menghimpun komitmen para pemimpin dunia untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi dan kebebasan fundamental yang kemudian mengadopsi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs). MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan, dengan memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur Pada dasarnya, kemiskinan memiliki wajah berbeda di masing-masing negara, tergantung pada faktor seperti tingkat pendapatan dan konsumsi, dan juga pada indikator sosial dan akses sosial-politik. Ada perbedaaan pemahaman yang sangat besar tentang kemiskinan antara negara maju dan berkembang, yang berpengaruh pada jenis pertanyaan seperti apa yang bisa diajukan kepada kaum miskin untuk memahami tingkat kemiskinan mereka. Namun, untuk Indonesia sendiri kemiskinan merupakan sebuah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.23 Hak-hak dasar tersebut antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Pada masa Orde Baru, penduduk miskin di Indonesia tetap tinggi walaupun pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar 7,5 persen selama tahun 1970-1996. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. 24 Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi
23

24

Gregorius Sahdan, Menanggulangi Kemiskinan Desa, diakses dari http://www.ekonomirakyat.org/edisi_22/artikel_6.htm, pada tanggal 13 Maret 2010, pk. 1.20 am Hamonangan Ritonga, Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?, diakses dari Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htm, pada tanggal 13 Maret 2010, pk. 2.03 am.
Page | 7

yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin, yang terjadi ialah penduduk miskin tetap tinggi walaupun terjadi pertumbuhan ekonomi. Terjadinya krisis ekonomi 1997, pemerintah lebih memberikan perhatian penuh terhadap pengetasan kemiskinan. Namun, persentase penduduk miskin hingga tahun 2003 masih terbilang cukup tinggi yaitu sebesar 17,4 persen walaupun terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Selain itu juga, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. 25 Angka-angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.

Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, pemerintah berkomitmen mencapai target pertama MDGs yaitu penurunan angka kemiskinan dan kelaparan yang pada tahun 1990 sebesar 15,1% menjadi 7,5% pada tahun 2015.26 Pemerintah telah menetapkan pengentasan kemiskinan sebagai prioritas dalam agenda pembangunannya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah periode 2004-2009 (RPJM) dan rencana kerja pemerintah tahunan, pengentasan kemiskinan sudah merupakan prioritas utama. Pada dasarnya RPJM menyiapkan arah strategis

25 26

Ibid. Ibid.
Page | 8

yang luas bagi pemerintah dalam lima tahun ke depan. Komponen pembangunan yang utama bagi agenda pembangunan 2004–2009 adalah: Menciptakan Indonesia yang makmur yaitu dengan menurunkan jumlah masyarakat yang hidup pada garis kemiskinan, mendukung penciptaan kesempatan kerja dan kebijakan yang pro-pertumbuhan bagi kaum miskin, meningkatkan akses terhadap kesehatan berkualitas dan jasa pendidikan, memperkecil jurang kesenjangan regional, serta memperbaiki managemen sumber daya alam dan lingkungan.27 Target MDGs Indonesia dalam isu kemiskinan28

Walaupun pada data statistik angka kemiskinan di Indonesia mengalami perubahan, namun data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN. Kedua data ini pada dasarnya ditunjukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang snetralistik, dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. Pada kenyataannya, data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda, baik dari segi ekologi, organisasi sosial, sifat budaya, maupun bentuk. Selama ini, program-program penanggulangan kemiskinan cenderung berfokus pada penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin, seperti pemberian bantuan langsung berupa beras untuk rakyat miskin, bantuan langsung tunai (BLT), dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin, yang pada akhirnya tidak menciptakan kesejahteraan berkelanjutan. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk
27 28

Ibid. Badan Perencanaan Pembangunan, Laporan Pencapaoan Millennium Development Goals Indonesia 2007, (Jakarta: Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007), hal. 3.
Page | 9

menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya. Akan lebih baik pemberian dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). 2.2. Pergerakan Civil Society Organization dalam Isu Kemiskinan di Indonesia Seiring dengan arus globalisasi yang melanda dunia internasional dewasa ini, muncul aktor-aktor baru yang dikategorikan sebagai masyarakat transnasional. Paradigma masyarakat transnasional, sebagai fenomena lintas batas, menjadi wacana internasional yang signifikan. Dengan demikian, konsiderasi aktor-aktor internasional terhadap aktivitas advokasi mengalami peningkatan yang krusial. Sebagai aktor independen, masyarakat transnasional berupaya memperjuangkan masyarakat yang termarjinalisasi salah satunya masyarakat miskin. Adapun bentuk organisasi konkrit dari golongan masyarakat transnasional tersebut adalah Non-Governmental Organization (NGO). Salah satu isu yang menjadi fokus suatu NGO ialah isu hak asasi manusia, terutama hak dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. Pengetasan kemiskinan tidak saja merupakan permasalahan yang penting dalam masyarakat global tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan manusia dan pemenuhan hak-hak dasar manusia. Oleh karena itu, dalam mengatasi masalah kemiskinan tidak hanya mengandalakan kebijakan pemerintah , namun civil society juga mempunyai peranan penting dalam menanggulangi isu tersebut. Target-target MDGs dalam pengetasan kemiskinan mengharuskan pemerintah dan masyarakat luas untuk menghasilkan kebijakan dan program pro-penduduk miskin, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam berbagai bidang lain. Untuk mencapai target MDGs yang telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia, perlu adanya keterlibatan publik termasuk CSO dalam pengembangan proses perencanaan dan anggaran sekaligus monitoring MDG. Selain itu, peran CSO sebagai partner dalam pencapaian MDG perlu dikembangkan lebih lanjut. Namun hingga saat ini, keterlibatan CSO sangat minimal, karena sebagian besar kurang memahami apa saja yang menjadi target MDG dan tindakan yang dibutuhkan ataupun sumber daya agar dapat mencapainya sebelum tahun 2015. Namun para CSO cukup aktif mengumpulkan dan menganalisis data kolektif dan menganalisis data kuantitatif, yang dapat digunakan untuk membantu data kuantitatif mengukur kemajuan menuju pencapaian MDG. Maka, diperlukan sebuah strategi kerjasama yang masuk akal untuk mengkapitalisasi pekerjaan yang sudah berlangsung dari CSO dan seluruh jaringan kerja mereka. Kerja sama ini termasuk memperkuat kapasitas CSO dalam mengumpulkan data dan juga mendukung monitoring dan advokasi MDS, melalui hubungan yang lebih langsung dengan pemerintahan dalam dialog yang mendukung kebijakan untuk pengentasan kemiskinan dan dalam merumuskan
Page | 10

proses rencana pengembangan lokal (PRS) serta rencana kegiatannya. Selain itu, terdapat juga beberapa NGO yang berkosentrasi pada isu-isu kemiskinan di Indonesia. NGO-NGO tersebut membuat suatu program atau proyek yang dapat mengurangi tingkat kemiskinan penduduk di suatu wilayah dengan melakukan pemberdayaan manusia atau menciptakan lapangan kerja kreatif yang dapat mengurangi pengangguran di wilayah tersebut. Hal tersebut menjadi signifikan karena program tersebut bersifat mikro dan langsung turun lapangan ke wilayah miskin, sehingga langsung pada grassroot. Perbedaan cara kerja NGO dan pemerintah dalam menanggulangi isu kemiskinan ialah pemerintah lebih banyak mengeluarkan kebijakan makro dengan asumsi pembangunan pabrik-pabrik besar atau bantuan langsung tunai akan menggerakan pertumbuhan perekonomian negara. Namun, NGO melihat bahwa cara tersebut kurang efektif karena tidak langsung menyentuh kaum miskin di Indonesia karena banyak kebijakan-kebijakan Indonesia yang salah sasaran. Usaha-usaha NGO dalam mengatasi kemiskinan lebih bersifat bottom up yang berbeda dengan cara kerja pemerintah yang lebih bersifat top down. 2.3. Deskripsi HOPE 2.3.1. HOPE Worldwide HOPE Worldwide adalah sebuah organisasi non pemerintah dan non agama yang tidak mengutamakan suatu aliran tertentu yang terdaftar dalam USAID. HOPE Worldwide berdiri di Philadelphia (Amerika Serikat) tahun 1991, yang mengabdikan dirinya dalam bidang kemiskinan dan pembangunan. Dalam pelaksanaannya, HOPE Worldwide dibantu oleh 100.000 tenaga sukarelawan yang tersebar di 100 negara, seperti: India, Kamboja, Rusia, Afghanistan, Afrika Selatan, Kenya, Nigeria, Filipina, Meksiko, Jamaika, Pakistan, Guatemala, Honduras, Bulgaria, Hungaria, serta negara-megara maju, seperti: Inggris, Singapura, Hongkong, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Slogan yang dimiliki NGO ini adalah "Bringing HOPE. Changing lives". Nilai-nilai utama yang dianut HOPE Worldwide adalah accountability, compassion, respect, hardwork, unity, learning attitude, pure motivation, flexibility dan sustainability. Sebagai salah satu NGO Internasional, HOPE Worldwide telah mendapat pengakuan sebagai NGO dengan gelar ―Four Star Charity‖, yang membuktikan eksistensi HOPE Worldwide dalam memerangi isu kemiskinan di dunia.

Kiri: “Four Star Charity”, Penghargaan yang Diterima HOPE Worldwide sejak 2002; Kanan: Logo HOPE Worldwide
Page | 11

2.3.2. HOPE Indonesia Dari hasil wawancara kami dengan Pak Charles Ham, country director HOPE Worldwide Indonesia,
―Yayasan HOPE Worldwide Indonesia sudah berdiri sejak 1994 untuk membantu pemerintah dan masyarakat di dalam mengatasi masalah kesehatan, pendidikan dan bencana alam. Lebih dari satu juta masyarakat yang telah terlayani dalam 16 tahun terakhir oleh 70 karyawan dan 7000 relawan melalui berbagai program yang dijalankan HOPE Worldwide Indonesia‖.

Di Indonesia, organisasi ini berdiri pada 1994 dan terdaftar di Departemen Sosial sebagai Yayasan HOPE Indonesia sejak tahun 1998, dan tersebar di Medan, Nias, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Bali, Manado dan Jakarta. Visi Yayasan HOPE Indonesia adalah menghadirkan dunia yang penuh dengan keceriaan di mana masyarakat di dalamnya hidup bebas dari kemiskinan sekaligus dengan kepedulian terhadap sesamanya, sementara misinya adalah untuk mengubah kehidupan masyarakat dengan membangkitkan kepedulian dan komitmen para sukarelawannya untuk mewujudkan pelayanan yang berkelanjutan dan memiliki dampak yang besar terhadap peningkatan kualitas hidup kaum papa. Tujuan dari HOPE Indonesia adalah memberikan pelayanan pada pihak yang membutuhkan di bidang kesehatan, pendidikan, anak-anak, kaum lanjut usia, dan kaum yang termarjinalkan. 2.3.3. Program-Program HOPE Indonesia Berbagai macam program telah dijalankan HOPE Indonesia. Proyek yang saat ini tengah berlangsung adalah: 1. Penanganan Tuberkulosis. Proyek ini dimulai dengan sebuah klinik gratis pada tahun 1994 di Muara Baru, Jakarta Utara. Kemudian klinik ini berkembang menjadi sebuah Pusat Pemberantasan Tuberkulosis di Plumpang, Jakarta Utara. Saat ini terdapat tiga klinik untuk merawat para pasien TB dari keluarga berpenghasilan rendah yang berasal dari perkampungan-perkampungan miskin. Mereka mendapatkan pengobatan gratis. Kedua klinik lainnya terletak di Cipinang (Jakarta Timur) dan Kedoya (Jakarta Barat). Program ini didanai oleh GF-ATM. 2. Pusat Pelatihan Komputer. Melalui program ini, para pemuda/pemudi dari keluarga miskin diberikan pelatihan komputer selama 6 bulan. Program ini dilaksanakan di Jakarta Utara (Sunter dan Plumpang), Jakarta Pusat (Harmoni) dan Jawa Timur (Surabaya). Kurikulumnya terdiri dari latihan keterampilan komputer dasar, kemampuan berbahasa Inggris dan perencanaan karir, yang akan memperlengkapi para pemuda/pemudi dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan bahkan dapat membawa keluarga mereka keluar dari kemiskinan. 3. Anak Asuh. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang tidak dapat memperoleh pendidikan dasar. Program ini memberikan 100
Page | 12

beasiswa setiap tahunnya sejak 1999. Suatu kursus persiapan diberikan untuk mengajarkan cara menulis dan membaca. Para sukarelawan juga memberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah dan makanan bergizi tambahan kepada mereka setiap dua minggu sekali. Program ini dilaksanakan di DKI Jakarta, Jawa Barat (Bogor), Jawa Timur (Surabaya), dan Kalimantan Barat (Pontianak). 4. Program ODAAT (One Day at a Time). Program ini bertujuan untuk mengatasi ketergantungan seseorang pada obat-obatan terlarang dan HIV/AIDS, yang didukung melalui pengajaran umum, seminar, pusat rehabilitasi, konseling, kelompok pendukung dan pelatihan kejuruan. Program ini merupakan replikasi dari program ODAAT yang sukses di Philadelphia, Amerika Serikat yang berhasil mengobati sekitar 40.000 orang setiap tahunnya dan telah berlangsung selama 21 tahun. Pelaksanaan program dilakukan di DKI Jakarta. Melalui program ini para generasi muda dan keluarga dibekali pengetahuan tentang bahaya, cara memulihkan diri dan membantu keluarga maupun teman-teman mereka. 5. Citi Success Fund Program ini merupakan program dukungan finansial bagi para guru SMA untuk cara mengajar yang kreatif dan menyenangkan. Para guru mengajukan proposal yang akan dievaluasi oleh para juri yang pakar dalam dunia pendidikan untuk mendapatkan dana Rp 5.000.000. 6. Community Based Disaster Risk Reduction adalah program pengurangan resiko bencana yang memusatkan perhatian bagi pelatihan guru selama 41 bulan dimulai dari Agustus 2008-Desember 2011. Program CBDRR ini mengusung tema ―Rencana Sebelum Bencana‖: pahami, kenali, tangani. 7. Panti Asuhan Pelangi Asih yang berada di Sentul, Bogor menjadi tempat yang aman bagi anak-anak yang terbuang dan tidak dikehendaki kehadirannya. Di tempat ini mereka mendapatkan perawatan, makanan, pendidikan, dan cinta kasih sampai mereka menemukan orangtua baru yang mengadopsinya. Dan masih banyak program-program lainnya yang dapat berbeda tergantung dari daerah dan kondisi yang ditemukan di lapangan.

Page | 13

BAB III ANALISIS KINERJA HOPE DALAM “LIFE SUSTAINED THROUGH CHANGE IN NIAS” Usaha HOPE Indonesia memerangi kemiskinan di Indonesia dilakukan melalui berbagai program. Adapun program-program yang dijalankan HOPE Indonesia ini sejalan dengan delapan target MDGs, yakni melalui program:
―Pengurangan angka kematian ibu dan anak; Tuberkulosis, Malaria, HIV/AIDS; pendidikan dasar; persamaan gender dan hak wanita serta anak-anak untuk akses kesehatan dan pendidikan; program daur ulang untuk keberlanjutan lingkungan; serta membangun partnership dengan berbagai organisasi‖

Selain program-program yang telah disebutkan sebelumnya, HOPE Indonesia juga berperan besar dalam membantu pemulihan kondisi paska bencana alam, salah satunya yang dilakukan di Nias paska musibah tsunami dan gempa bumi yang menimpanya 2005 silam. 3.1. Sekilas Mengenai Gempa Bumi yang Terjadi di Nias dan Peran Pemerintah Gempa bumi yang terjadi di Pulau Sumatera ini terjadi pada pukul 23.09 pada tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempa berada di sekitar setengah jarak antara Pulau Nias dan Simeulue. Gempa yang berkekuatan 8,7 skala Richter dan getarannya terasa hingga Bangkok, Thailand, sekitar 1.000 km jauhnya ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964. Berdasarkan laporan Departemen Kesehatan, korban meninggal akibat gempa tersebut berjumlah 300 orang, dengan jumlah pengungsi sebanyak 2.000 orang. Data yang berbeda datang dari Departemen Sosial yang memberi angka 361 korban.29 Adapun dari gempa ini, Nias merupakan wilayah dengan kerusakan terparah, dimana sekitar 290 orang diperkirakan telah meninggal. Pada kota terbesar di Nias, Gunungsitoli dilaporkan sekitar 60% gedung rusak berat.30 Menara bandara juga rubuh dan jalan-jalan tampak retak. Lebih lanjut lagi, Wakil Bupati Nias menyatakan bahwa Nias kesulitan mendapatkan air bersih akibat jalur pipa bawah tanah yang rusak. Menurut Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Kantor Nias, tak kurang dari 20 ribu rumah rusak berat akibat gempa. Sebanyak 723 dari total 879 gedung sekolah rusak, dan sebanyak 13 ribu jiwa terpaksa bermukim di pengungsian karena tak kurang dari 20 ribu rumah rusak berat akibat gempa. 31 Menanggapi gempa yang terjadi di Nias tersebut, pemerintah sebenarnya sudah melakukan respon yaitu melalui BRR Kantor Nias. Mengenai respon pemerintah ini, William Syahbandar salah satu staf BRR mengatakan bahwa respon
29

30

31

Lihat http://jkt1.detiknews.com/indexfr.php?url=http://jkt1.detiknews.com/index.php/ detik.read/tahun/2005/ bulan/03/tgl/30/time/111243/idnews/329878/idkanal/10, diakses pada 9 Maret 2010, pukul 23.45. Lihat http://jkt.detiknews.com/indexfr.php?url=http://jkt.detiknews.com/index.php/detik.read/ tahun/2005/ bulan/03/tgl/29/time/162627/idnews/329486/idkanal/10, diakses pada 9 Maret 2010, pukul 00.21. Lihat http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/sumatera/2006/03/28/brk,20060328-75603,id.html, diakses pada 9 Maret 2010, pukul 01.23.
Page | 14

pembangunan kembali Nias yang dilakukan BRR cenderung terlambat, yaitu baru dimulai sejak Desember 2005.32 Mengenai keterlambatan ini, Toni Rahardjo selaku Senior Operation IOM di Nias menilai adanya masalah dari segi transportasi dan administrasi. Kesulitan memasok material ke lokasi proyek merupakan kendala besar bagi terhambatnya masuknya bantuan ke Nias. Dalam merespon gempa di Nias ini, pemerintah melalui BRR dan IOM telah melakukan berbagai upaya perbaikan-perbaikan yang lebih mengarah pada perbaikan infrastruktur. Perbaikan-perbaikan yang telah berhasil dilakukan antara lain perbaikan rumah, perbaikan transportasi dan jalan-jalan yang rusak, pelabuhan, sekolah, serta pembuatan lapangan-lapangan terbang kecil di Nias dengan tujuan agar memudahkan mobilisasi penduduk bila bencana serupa terjadi di masa depan.33 Dari segala perbaikan yang dilakukan pemerintah tersebut, dapat dilihat upaya pemulihan kondisi yang dilakukan pemerintah melalui BRR dan IOM tersebut lebih merupakan perbaikan secara makro dari segi infrastruktur. Hal tersebut berbeda dengan program perbaikan yang dilakukan oleh HOPE Indonesia, yang lebih menekankan bukan hanya pada proses recovery infrastruktur, tapi juga pada proses recovery masyarakat Nias. 3.2. Peran HOPE Indonesia dalam Proyek “Sustained Life Through Change in Nias” Pada Periode 2005-2008 Pada tahun 2008 HOPE memfokuskan pada program-program berkelanjutan yang dapat menjadi bekal warga Nias untuk terhindar dari kemiskinan yaitu dengan melakukan pemberdayaan manusia, pemberian pelayanan kesehatan dan ekonomi kreatif berutama bantuan kredit mikro yang salah satunya pengembangbiakan babi sebagai usaha warga Nias; program HOPE yaitu kontrol Malaria juga berhasil ditingkatkan di mana HOPE Indonesia telah memberikan pelatihan kepada 583 tim di 276 desa-desa sebagai bentuk pencegahan penyakit malaria di Nias yang mematikan.34 Malaria merupakan salah satu wabah penyakit di Kepulauan Nias di mana beberapa anak-anak terjangkit Malaria yang menyebabkan kelumpuhan. Selain program kontrol malaria, HOPE juga memiliki kepedulian terhadap masalah kesehatan di mana memberikan pelayanan edukasi mengenai kesehatan dan juga pelayanan kesehatan di 156 desa-desa di Nias. Sebanyak 720 pekerja imunisasi yang diberikan pelatihan oleh HOPE telah memberikan dampak yang besar terhadap 13000 keluarga di desa-desa tersebut.35 Selain masalah kesehatan, HOPE Indonesia dalam program pembangunan Nias pasca gempa bumi juga memberikan pelayanan terhadap masalah pendidikan di Nias. Pada tahun 2008,

32 33

34

35

Ibid. Lihat http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/yahowu_nias/ nias_pasca_gempa 060327-redirected, diakses pada 9 Maret 2010, pukul 01.45. Annual Report 2008, Hope Indonesia, diakses dari http://hopeindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=71, pada tanggal 10 Maret 2010, pk. 01.34 am. Ibid.
Page | 15

HOPE Indonesia berhasil meluluskan 94 anak pada program Taman Kanak-Kanak dan beberapa dari mereka meneruskan pendidikannya ke sekolah dasar walaupun sebagian dari mereka tidak melanjutkan pendidikannya karena tidak diizinkan oleh orang tua anak-anak tersebut.36 Selain itu, HOPE juga memberikan perlatihan komputer kepada masyarakat Nias serta perpustakaan berjalan yang dapat dipinjam oleh masyarakat Nias. Perpustakaan ini diperlukan oleh masyarakat Nias karena fasilitas pendidikan yang minim sehingga sulit untuk mendapatkan sumber pengetahuan seperti buku-buku yang diperlukan pelajar di Nias. Dengan adanya perpustakaan berjalan, siswa-siswa di Nias dapat mengerjakan tugas dan ujian mereka dengan baik karena membaca buku-buku yang dipinjamkan oleh perpustakaan berjalan. HOPE juga memberikan pelayanan pelatihan bahasa inggris gratis kepada warga Nias agar warga Nias memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Hal ini juga menjadi penting dikarenakan untuk lulus ujian sekolah, siswa wajib mencapai batas nilai minimum yang ditentukan oleh pemerintah yang salah satu mata pelajaran yang diujikan ialah bahasa inggris.

Grafik 1. Pengeluaran HOPE Worldwide Indonesia pada tahun 2005 37 Grafik 2. Pengeluaran HOPE Worldwide Indonesia pada tahun 2008 38

Tentu saja, kesehatan dan pendidikan tidak hanya menjadi fokus utama HOPE dalam memberikan kepedulian terhadap Nias pasca gempa 2005. Untuk mengurangi kemeskinan di Nias pasca gempa, di mana banyak warga Nias yang sulit memenuhi kebutuhan sehari-harinya, HOPE membantu masyarakat Nias dengan program kredit mikro terhadap petani-petani miskin di Nias. Selain itu, HOPE juga memeberikan 5 ekor babi kepada masyarakat Nias untuk

36 37

Ibid. Annual Report 2005, Hope Indonesia, diakses dari http://hopeindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=71, pada tanggal 10 Maret 2010, pk. 2.30 am. HOPE Indonesia, Annual Report 2008, loc.cit.
Page | 16

38

dikembangbiakan sehingga memberikan penghasilan kepada warga Nias pasca gempa.39 Hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Nias karena dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi 2005 salah satunya ialah menghilangkan lapangan pekerjaan sehingga muncul pengangguran-pengangguran di Nias yang masih berusia produktif. Dengan memberikan modal berupa kredit mikro, diharapkan warga Nias dapat memanfaatkan modal tersebut dengan usaha mandiri yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Pada tahun 2005, HOPE mengeluarkan hampir setengah dari pembiayaan organisasi dikeluarkan untuk program bantuan Nias yaitu sebanyak 48,05 %,40 sedangkan pada tahun 2008 hanyalah sebesar 29% dari total seluruh biaya organisasi. Hal ini dikarenakan pada tahun 2005, bencana gempa bumi di Nias baru saja terjadi sehingga membutuhkan banyak biaya untuk membantu korban gempa di Nias. Karena banyaknya korban dan banyaknya kebutuhan yang mendesak untuk membantu masyarakat Nias, maka pada tahun 2005, HOPE memfokuskan diri pada program bantuan Nias dibandingkan program lainnya. Namun, pada tahun 2008, presentase biaya program Nias berkurang karena saat ini HOPE lebih melakukan program-program yang bersifat berkelanjutan agar masyarakat Nias dapat bertahan dari akibat yang dihasilkan oleh gempa seperti hilangnya sumber pendapatan atau kurangnya pelayanan pendidikan dan kesehatan. Namun, walaupun berkurang persentase pembiayaan dari HOPE, bukan berarti masalah Nias tidak lagi menjadi perhatian utama HOPE karena tetap saja dari tahun 2005 hingga tahun 2008, program bantuan Nias tetap mendapatkan persentase yang paling tinggi dan fokus utama dalam program HOPE Indonesia. Pendanaan program bantuan Nias ini didapatkan oleh para sponsor atau donatur HOPE Indonesia seperti Citi Group Foundation, Tupperware, Target, Kalbe Nutrion,41 dan beberapa sponsor lainnya baik bersifat individual maupun perusahan atau lembaga. Strategi HOPE Worldwide Indonesia dalam Proyek Nias ini sejalan dengan strategi HOPE Worldwide Indonesia dalam mencapai setiap tujuan dari program HOPE Worldwide Indonesia, yaitu seperti yang disampaikan Pak Charles Ham dari HOPE Indonesia:
―Kami membangun 'program' bukan 'proyek' agar sumberdaya yang ditanamkan akan berkelanjutan. Kami juga membangun "Center of HOPE Worldwide' di mana ada dua atau lebih pelayanan masyarakat yang diberikan. HOPE Indonesia juga melibatkan relawan dari berbagai organisasi (ada 700 relawan sekarang) dan mengajak org 'miskin' utk terlibat aktif dan keluar dari mental minta-minta. Lebih lanjut lagi, HOPE Indonesia mengisi kekurangan pemerintah dan masyarakat, bukan sekedar retorika kosong‖.

Strategi ini dilakukan sesuai dengan goal dari HOPE itu sendiri yaitu ―delivering services to the needy in the area of health, education, children, seniors, outreach and unemployment‖. Program yang dilakukan HOPE ini lebih bersifat berkelanjutan, sesuai dengan core value yang diyakini
39 40 41

Ibid. Annual Report 2005, Hope Indonesia, loc.cit. Ibid.
Page | 17

oleh HOPE Worldwide. Dalam menjalankan program ―Sustained Life Through Change in Nias‖, HOPE Indonesia lebih mengutamakan pada proses dari pelaksanaan program tersebut, bukan hanya melihat hasil seperti hanya sebuah proyek seperti yang dilakukan pemerintah. 3.3. Opportunity yang Dimiliki HOPE Indonesia dalam Proyek “Sustained Life Through Change in Nias” Dalam menjalankan proyek ―Life Sustained Through Change in Nias‖, HOPE Indonesia mendapatkan opportunity berupa jejaring/networking yang berhasil dijalin HOPE Indonesia dengan berbagai lembaga dan perusahaan, serta dengan berbagai sukarelawan yang membantu keberhasilan proyek ini. Jejaring yang berhasil dijalin ini menjadikan HOPE Indonesia banyak mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang concern terhadap program HOPE Indonesia itu sendiri. Lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan HOPE Indonesia dalam melaksanakan proyek ―Life Sustained Through Change in Nias‖ antara lain: Astra Motor, Bank Artha Graha, Bhineka Artha Total, Bristol Myers Squib, CCC, Coca Cola, Ely Lilly Pharmaceutical, FedEx, GKDI, Habitat for Humanity, Hotel Borobudur, HSBC, KNCV, Lions Clubs for Indonesia, Lollypop Preschool, PT. Forisa Nusa Persada, PT. Gracia New Eratex, PT. Mulia Inti Pelangi, PT. Wahana Putra Akipindo, Rotary Club, Sekolah Lentera Internasional, Tupperware, United Way, University of Chicago, dan berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah lainnya, baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Tidak hanya berhasil membangun jaringan dengan pihak swasta, HOPE Indonesia juga berhasil membangun jaringan dengan pemerintah dan NGO lokal.
―Melalui jaringan-jaringan yang dibentuk Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Departemen Pendidikan Nasional, serta United Nations. Bersama beberapa NGO, kami juga memulai Disaster Risk Reduction Forum Indonesia. Sebagai partner Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Departemen Pendidikan Nasional, kami terus mencoba mengisi kekurangan pemerintah, serta mengingatkan para pembuat kebijakan akan kebutuhan dan masalah di akar rumput‖

Gambar 1. Berbagai Networking yang Berhasil Dijalin HOPE Indonesia dalam Proyek “Life Sustained

Page | 18

Through Change in Nias”42

Selain memiliki networking yang luas, program yang dijalankan HOPE Indonesia ini juga mendapat apresiasi positif dari masyarakat sipil, terbukti dari banyaknya sukarelawan yang bekerja untuk membantu mewujudkan program-program HOPE Indonesia di Nias tersebut. Adanya sukarelawan yang membantu kinerja HOPE Indonesia ini tentu saja memuluskan kerja HOPE Indonesia di Nias. Respon masyarakat Nias terhadap kinerja HOPE Indonesia juga cenderung positif, ditunjukkan dengan antusiasme masyarakat Nias dalam mengikuti setiap program HOPE Indonesia. Keberadaan sukarelawan juga membantu HOPE Indonesia agar lebih diterima oleh masyarakat Nias. Kinerja HOPE Indonesia, seperti halnya NGO lain, yang dimulai dari grass roots dengan pendekatan bottom-up membuatnya mudah diterima oleh masyarakat sekitar. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh pemerintah melalui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Kantor Nias. Melihat kinerja BRR dan HOPE Indonesia, terdapat perbedaan terhadap cara kerja organisasi pemerintah dan CSO—dalam hal ini, HOPE Indonesia—yaitu bahwa organisasi pemerintah lebih memfokuskan pada pembangunan yang bersifat makro yaitu berupa pembangunan infrastruktur sebagai indikator keberhasilan program, sementara CSO lebih bersifat mikro dengan memfokuskan pada pemenuhan hak-hak dasar individu korban bencana, seperti usaha pemenuhan kesehatan korban, pendidikan, dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat korban bencana. Sebenarnya, baik pemerintah maupun CSO memiliki peran yang berbeda. Akan tetapi, perbedaan ini seharusnya bukan lantas menjadi jurang yang tidak dapat dipisahkan, melainkan seharusnya ada kerja sama antara organisasi pemerintah dan CSO dalam mengentasi masalah kemiskinan di Nias paska gempa bumi tahun 2005 silam.

42

HOPE Indonesia, Annual Report 2005, loc.cit.
Page | 19

BAB IV KESIMPULAN

Masalah kemiskinan merupakan masalah global yang membutuhkan penanganan bersama. Mencuatnya masalah kemiskinan sebagai agenda penting dalam setiap negara lantas menjadikan masalah ini sebagai salah satu target dari Millenium Development Goals (MDGs), yang melibatkan 191 negara dalam perwujudannya, di mana Indonesia menjadi salah satu negara yang menandatangani deklarasi tersebut. Untuk mencapai target tersebut, tidak hanya dibutuhkan peran negara, tetapi juga peran dari Civil Society Organizations (CSO) yang lebih memahami kondisi dan realita masyarakat sekitar. Salah satu bentuk partisipasi CSO dalam mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia ialah melalui proyek ―Life Sustained Through Change in Nias‖ yang dilakukan oleh HOPE Indonesia. Dalam proyek tersebut, HOPE antara lain berperan dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat Nias untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang sulit didapatkan paska gempa yang terjadi di Sumatra pada tahun 2005 silam. Adapun, kebutuhan-kebutuhan dasar yang disediakan HOPE Indonesia tersebut adalah pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pembukaan lapangan kerja yang kesemuanya merupakan rangkaian dari pemberdayaan masyarakat Nias secara berkelanjutan. Program-program yang dijalankan HOPE Indonesia tersebut bertujuan untuk menghadirkan sebuah kehidupan baru yang bebas dari kemiskinan paska bencana yang menimpa masyarakat Nias, di mana tujuan ini sejalan dengan visi dan misi HOPE Indonesia. Dalam menjalankan peran tersebut, HOPE Indonesia memiliki berbagai opportunity, yaitu berupa luasnya jejaring yang berhasil dibangunnya dengan berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Adapun berbagai lembaga tersebut bersedia berafiliasi dengan HOPE Indonesia karena baik HOPE Indonesia dan lembaga tersebut memiliki concern dan tujuan yang sama, yaitu untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Pada intinya, program HOPE Indonesia ini merupakan program yang bersifat bottom-up dengan menyentuh masyarakat Nias secara langsung melalui program-program yang bersifat mikro.

Page | 20

BAB V DAFTAR PUSTAKA BUKU Ala, Andre Bayo. 1981. Kemiskinan dan Strategi Memerangi Kemiskinan. Yogyakarta: Liberty. Kincaid, J.C. 1975. Poverty and Equality in Britain. Harmondsworth: Penguin. Cusgrove, Curul Ann and Kenneth J. Twitchett. 1970. The New International Actors: The UN and the EEC. London: Macmillan. Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantittative Approaches, California: Sage Publications. Neuman, W. Laurence. 1991. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches, 3rd ed. Boston: Allyn and Bacon.

JURNAL dan ARTIKEL Simon Saragih, ―Musuh Kemiskinan Itu adalah Nurani‖, Kompas, edisi Minggu, 07 Agustus 2005. Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Pengurangan Kemiskinan dan Kelaparan sebagai Agenda Utama Pembaruan Desa, diakses dari: http://www.forumdesa.org/makalah/renstra/kelaparan.pdf ―SBY Membuka Pertemuan Regional MDGs 2015, Asia Pasifik Bebas dari Kemiskinan‖, Pikiran Rakyat, edisi Kamis, 04 Agustus 2005. Kiki Safitri, ―MDGs Fokus Reduksi Kemiskinan”, Waspada Online, edisi 27 Januari 2010. Gunawan Sumodiningrat, ―MDGs dan Indonesia‖. Kompas, edisi 6 Agustus 2005. Didik J. Rachbini, ―Kemiskinan dan MDGs‖, Rakyat Merdeka Online, edisi 14 Desember 2007. Gregorius Sahdan, Menanggulangi Kemiskinan Desa, diakses dari: http://www.ekonomirakyat.org/edisi_22/artikel_6.htm Hamonangan Ritonga, Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?, diakses dari: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htm Badan Perencanaan Pembangunan, Laporan Pencapaian Millennium Development Goals Indonesia 2007, (Jakarta: Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007).
Page | 21

Annual Report 2005, HOPE Worldwide Indonesia. Annual Report 2008, HOPE Worldwide Indonesia

INTERNET http://www.worldbank.org http://www.kompas.com http://www.ekonomirakyat.org http://www.hopeindonesia.org http://www.detiknews.com http://www.tempointeractive.com

Page | 22

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful