You are on page 1of 17

KESADARAN AKAN PENGGUNAAN GUIDELINE (PANDUAN

)
HIPERTENSI PADA DOKTER-DOKTER KELUARGA DI LAYANAN
PRIMER.

Kholod A. Ali-ali a, Fatma A. Al-Ghanim b, Asma M. Al-Furaih c, Nasmeyah Al-Otaibi d,
Gamal makboul e,f, Medhat K. El-Shazly f,g
a

Dahya Abdulla Al-Salem Family Medicine Centre, PHC, MOH, Kuwait

b

Al-Faiha Family Medicine Centre, PHC, MOH, Kuwait

c

Sheka Al-Ibrahim Clinic, PHC, MOH, Kuwait

d

Fintas Clinic, PHC, MOH, Kuwait

e

Department of Community Medicine, Faculty of Medicine, Alexandria University,

Egypt
f

Department of Health Information and Medical Records, Ministry of Health, Kuwait

g

Department of Medical Statistics, Medical Research Institute, Alexandria University,

Egypt
Kata kunci: Dokter keluarga, kesadaran, hipertensi, guideline
Latar Belakang

: Hanya 14% pasien yang diterapi mencapai target tekanan darah

yang direkomendasikan. Tujuan guideline adalah untuk membantu klinisi dalam
penatalaksanaan pasien-pasien dengan hipertensi.
Objektif

: Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meninjau dokter-

dokter keluarga di Kuwait tentang kesadaran mereka, dan untuk mengerti alasan mereka
tidak menerapkan panduan spesifik sebagaimana yang tertulis dalam guideline
WHO/ISH.
Metode

: Penelitian ini merupakan survei silang melintang (cross-

sectional) yang melibatkan lima daerah kesehatan di Kuwait. Data dikumpulkan
menggunakan kuesioner yang terstruktur yang diambil dari rumus-rumus pertanyaan
berorientasikan klinis yang dibuat oleh WHO/ISH pada tahun 1999, sebagai referensi
standar.
Hasil

: Penelitian menemukan bahwa 49,1% dan 42,1% dokter

keluarga sangat mengetahui atau sedikit mengetahui, secara berturut-turut, tentang

84% koresponden mengatakan situasi di klinik yang sangat ramai merupakan faktor penghalang penting dalam pengendalian tekanan darah.4% dokter.4% mengatakan kurangnya pengetahuan pasien sebagai kendala dalam hal tersebut.panduan tersebut. Kesimpulan : Dibutuhkan penetapan edukasi secara nasional dan program pemantauan kualitas untuk memfasilitasi tercapainya implementasi guideline hipertensi dalam praktek klinik layanan primer di Kuwait. hanya 8. Lalu 92.8% mengatakan bahwa mereka selalu atau biasanya mengikuti guideline-guideline ini ketika mengobati pasien. dan buruknya kepatuhan akan penggunaan obat oleh pasien disampaikan oleh 90.2% yang memilih > 15 pernyataan dengan benar. dan hanya 27.1% setuju. 64% memilih dengan benar 10-15 pernyataan. . Perihal mengenai benar tidaknya dalam memilih pernyataan-pernyataan yang ada di guideline tersebut.8% dokter keluarga memilih dengan benar kurang dari sepuluh dari 20 pernyataan.1% koresponden. dan 79. sementara itu 87. Ketika ditanya mengenai apa halangan yang dirasakan sehingga gagal dalam mengendalikan tekanan darah pasien. Tidak adanya obat di klinik juga disampaikan oleh 88.

proporsi pasien hipertensi dengan tekanan darah yang terkontrol umumnya kurang dari 30% . di antaranya pengurangan tekanan darah memiliki efek dapat menyelamatkan jiwa cukup besar . 6 mengontrol penyakit yang tidak bergejala ini mungkin merupakan salah satu langkah preventif yang paling penting yang dapat dilakukan oleh dokter keluarga.10.1 Lokasi Sistem pelayanan kesehatan di Kuwait dibagi menjadi lima daerah kesehatan regional.8 hipertensi arteri diketahui sulit didiagnosis dan diobati dalam praktek umum. Pendahuluan Hipertensi adalah faktor resiko nomor satu mortalitas di dunia dan merupakan faktor resiko yang penting untuk penyakit jantung dan stroke.1. Tujuan utama penelitian ini adalah meninjau dokter-dokter keluarga di Kuwait untuk mengetahui kesadaran mereka. 9 Di negara-negara maju. dan memahami secara lebih baik alasan mereka tidak menerapkan guideline seperti dalam guideline WHO/ISH. terdapat bukti yang kuat bahwa mereka telah membuat langkah besar dalam skrining untuk dan diagnosis dan pengobatan hipertensi. Pelayanan Kesehatan Primer tersedia di 80 pusat oleh 157 dokter keluarga dan 489 dokter . tingginya beban penyakit ini tidak dapat ragukan lagi.6 Meskipun bukti ilmiah tak terbantahkan bahwa menurunkan tekanan darah adalah sangat efektif dalam mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular. 7. 1-3 Hipertensi sering didiagnosis dan diterapi dengan cara rawat jalan dan merupakan salah satu alasan utama pasien datang ke dokter keluarga.11 Pengobatan antihipertensi yang tepat jarang dilaksanakan bahkan pada pasien yang berisiko tinggi. 4.4 Dengan hampir seperempat dari populasi orang dewasa dan hampir setengah dari orang yang berusia 50 tahun dan lebih tua memiliki hipertensi. kepatuhan dokter keluarga terhadap ilmu kedokteran yang berbasis bukti dan terhadap rekomendasi pedoman dalam mengontrol tekanan darah belum pernah diteliti sepenuhnya.4 Namun. 12 Kontrol tekanan darah yang tidak memuaskan diantara pasien yang diterpi obat antihipertensi ini memiliki beberapa penyebab. di antaranya perilaku dokter dan kepatuhan pasien telah mendapat perhatian khusus. 13 Meskipun dokter keluarga sering dikritik karena tidak mengikuti pedoman praktek klinis dan karena gagal memenuhi target pengobatan karena berbagai kondisi. Subjek dan metode 2. 2. 5 Karena pengobatan hipertensi dikaitkan dengan pengurangan 20% sampai 25% kejadian kardiovaskular. seperti yang ditunjukkan dalam semua pedoman utama pada manajemen hipertensi.

umum. pertanyaan terkait dengan keakraban. jenis kelamin. spesialisasi. Pada bagian kedua. Penelitian ini dirumuskan untuk menguji kejelasan. Sebuah format tertulis yang menjelaskan tujuan penelitian ini dibuat dan ditandatangani oleh dokter sebelum mengisi kuesioner.6%.10 Kuesioner terdiri dari tiga bagian. Semua 157 dokter keluarga yang tersedia selama periode kerja lapangan dari penelitian ini adalah populasi target penelitian ini. Modifikasi yang diperlukan menurut hasil yang diperoleh telah dilakukan. durasi kerja di layanan primer (Puskesmas). Komite Etika Kementerian Kesehatan Kuwait menyetujui penelitian ini. strategi terapi (dua pertanyaan) dan sasaran tekanan darah (satu pertanyaan). kebangsaan. sebagai referensi standar.2 Desain penelitian Desain studi cross-sectional observasional diadopsi untuk penelitian ini. mengakomodasi tujuan dari pekerjaan untuk kelayakan yang sebenarnya. Dari antara mereka semuanya. 2. penerapan alat penelitian. Bagian pertama termasuk karakteristik pribadi (umur. 10 pertanyaan pilihan berganda lainnya termasuk satu jawaban yang spesifik agar menawarkan dokter kesempatan untuk memilih yang benar. farmakologi pengobatan (tiga pertanyaan). mengidentifikasi kesulitan yang mungkin dihadapi selama penerapan. Juga. waktu yang diperlukan untuk mengisi kuesioner oleh staf diperkirakan selama penelitian percontohan ini. 9. Selain itu. Bagian terakhir termasuk 6 pertanyaan yang berkaitan dengan hambatan untuk meningkatkan manajemen pasien hipertensi mereka. ratarata jumlah pasien hipertensi dijumpai per minggu). Dokter diminta untuk memilih hanya satu jawaban untuk setiap pertanyaan dalam 5 menit tanpa menebak atau mendiskusikan jawabannya dengan rekan lainnya. terhadap guideline WHO / ISH. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pertanyaan terstruktur berorientasi klinis yang dirumuskan berdasarkan WHO / ISH tahun 1999. persetujuan. Sepuluh pernyataan pertama dikembangkan berfokus pada isu-isu diagnostik (empat pertanyaan). tujuan dan pentingnya penelitian ini . hanya 114 setuju untuk dalam penelitian ini dengan keseluruhan tingkat respon 72. Semua persetujuan yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian telah didapatkan. Penelitian ini dilaksanakan di pusat layanan kesehatan primer yang terletak di seluruh daerah kesehatan Kuwait dari bulan Oktober sampai Desember 2008. Terdiri dari 20 pernyataan dan skenario yang mengeksplorasi tingkat pengetahuan dan kesepakatan dengan (WHO / ISH) pedoman serta pelaksanaan pedoman ini. Sebuah studi percontohan dilakukan pada 20 dokter keluarga.

8%) dari dokter keluarga menunjukkan bahwa mereka selalu atau biasanya mengikuti panduan ini ketika merawat pasien.8%) dari mereka memiliki 10 tahun atau lebih pengalaman sebagai dokter layanan primer.3% dari mereka yang di atas 35 tahun. 4. kuesioner dibuat anonim.9% mengindikasikan penggunaan panduan ini kadang-kadang. Dalam rangka untuk menjaga kerahasiaan. Sekitar seperlima (22. Analisis statistic The Statistical Package for Social Sciences (SPSS-17) digunakan dalam memproses data dalam penelitian ini.1%) adalah berkebangsaan Kuwait dan lebih dari setengah (51. dan hanya 8.6%).8%) dari dokter keluarga memeriksa kurang dari 20 pasien per minggu. seperlima lainnya (21. 49. dan frekuensi dengan persentase distribusi untuk dikategorikan variabel). dan 5.1% menyebutkan bahwa mereka setuju dengan pedoman WHO / ISH.9 ± 6.dibahas dengan direktur pusat kesehatan.9% memeriksa 20-39 pasien.4% memeriksa 60 atau lebih pasien.1% dari peserta menyatakan bahwa mereka sangat akrab atau agak akrab dengan pedoman tersebbut. Perempuan mendominasi laki-laki (68.4% berbanding 31. 43.8% yang tidak akrab dengan pedoman ini.8 tahun berkisar 25-52 tahun. 92. Lebih dari tiga perempat (79. sekitar 62.9%) memeriksa 40-59 pasien dan 11. Perihal mengenai guideline WHO/ISH yang baru. . Sebagian besar dokter keluarga (85.1% dan 42. Usia rata-rata mereka adalah 36. Namun. secara berturut-turut. Statistik deskriptif sederhana digunakan (Mean standar deviasi + untuk variabel kuantitatif. 14. 3. Hasil Tabel 1 menggambarkan karakteristik dokter keluarga yang berpartisipasi.3% jarang atau tidak pernah menggunakan mereka ketika merawat pasien.

71. 13. Hanya 15. dan tekanan darah normal yang .1% menyebutkan dengan benar > 140/90 mmHg. Namun. pengukuran tekanan darah normal ambulatoris.1% dari dokter benar mendefinisikan '' white coat '' atau hipertensi klinis tersendiri sebagai tekanan darah tinggi di kantor. Ketika mereka ditanya tentang nilai-nilai tekanan darah yang mendefinisikan lanjut usia (> 65 tahun) sebagai hipertensi pemeriksaan berulang. 92.Tabel 2 menggambarkan proporsi dokter keluarga yang menjawab dengan benar setiap 20 laporan terkait dengan pedoman WHO/ISH.2% memilih 125/80 mmHg sebagai pilihan yang tepat ketika ditanya tentang nilai normal atas untuk tekanan darah yang diukur sendiri pada pasien hipertensi yang sedang dalam pengobatan antihipertensi.8% memilih dengan benar pemeriksaan yang tepat yang harus diresepkan untuk diagnostik kerja penderita hipertensi.

diukur sendiri. .0% dari dokter sebagai kelas antihipertensi yang paling tepat untuk berusia 50 tahun. Proporsi dokter keluarga 94.8% dari dokter diidentifikasi dengan benar diuretik.0%) sebagai kelas antihipertensi yang paling tepat untuk pasien hipertensi dengan diabetes nefropati.7% memilih 6 bulan sebagai jawaban yang benar. masing-masing. '' yang merupakan obat pilihan ketiga untuk pasien hipertensi esensial yang tekanan darahnya sebagian dikontrol oleh inhibitor ACE ditambah kalsium antagonis? '' 79. Setengah dari dokter keluarga selesai dengan benar pernyataan yang menyatakan '' Aspirin dosis rendah untuk pencegahan primer hipertensi harus diresepkan untuk: '' pasien sebagai hipertensi dengan tekanan darah terkontrol oleh pengobatan dan pada resiko tinggi kardiovaskular.7% dokter sebagai target tekanan darah yang harus dicapai pada pasien diabetes hipertensi dan Angiotensin Receptor Blocker dengan benar dipilih oleh hanya 43. dan tidak ada faktor risiko lain hanya 37. Menanggapi pertanyaan.7% dan 72. Jawaban yang benar mengenai tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik (<130 / <80 mm Hg) di mana terapi farmakologi harus mulai pasien dengan comorbiditas dilaporkan dengan benar oleh 57% dan 40.4%. pasien hipertensi kelas 1 dengan hipertrofi ventrikel kiri pada ekokardiogram.8% dalam kasus sistolik terendah dan tekanan darah diastolik di mana mereka akan merekomendasikan pengobatan farmakologis untuk mereka yang tidak mempunyai co-morbiditas (<140 mm Hg untuk sistolik dan <90 mm Hg untuk diastolik). Pengukuran tekanan darah (<130/80 mm Hg) benar dipilih oleh 66. Ketika dokter ditanya tentang lamanya pengobatan secara farmakologis untuk pasien asimtomatik dengan yang baru didiagnosis hipertensi kelas 1. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor benar dipilih oleh mayoritas dokter (93.

Mayoritas dokter (86. 64% memilih 10 sampai . dengan BP 150/95 tanpa kontraindikasi.7 pernyataan dengan kisaran nol hingga 19 pilihan. Gambar 1. 41. Hanya 8. Mengenai penggunaan obat antihipertensi ketika dokter secara khusus ditanya tentang obat pertama yang paling tepat untuk pasien yang berusia 40 tahun. dan tanpa co-morbiditas. 84.6% masing-masing menganggap sasaran tekanan darah sistolik harus <140 mm Hg dan sasarah tekanan diastolik harus <90 mmHg untuk pasien tanpa co-morbiditas.8% dari dokter keluarga memilih dengan benar kurang dari sepuluh dari 20 pernyataan.8 ± 2.8% dari dokter menunjukkan bahwa penambahan obat antihipertensi kedua diperlukan jika monoterapi telah gagal untuk mengontrol tekanan darah di bawah target untuk 6 bulan terakhir. merangkum proporsi dokter keluarga yang menjawab dengan benar setiap pernyataan 20 pedoman. Nilai rata-rata dari skor keseluruhan adalah 12.8%) menganggap target tekanan darah sistolik harus <130 mm Hg dan 83.8 % dan 95.3% menganggap target diastolik BP harus < 80 mm Hg selama terapi farmakologis untuk pasien dengan co-morbiditas seperti yang direkomendasikan oleh WHO/ISH sementara 72.8% lebih menyukai thiazide diuretik-sebagai pengobatan lini pertama.

1%).1% dari peserta sangat familiar dengan pedoman WHO / ISH dan hanya 23. banyak kardiovaskular terkait hipertensi. Hanya 49. klinik penuh sesak dan kurangnya waktu (84%). tidak ada yang memilih dengan benar semua 20 pernyataan.1% dari mereka setuju untuk menerapkan. Jika kenaikan BP dengan usia bisa dicegah atau berkurang. Hal ini diikuti oleh ketidakpatuhan terhadap obat antihipertensi (90.4% dari dokter. Pembahasan Pencegahan dan pengelolaan hipertensi yang utama tantangan kesehatan masyarakat. Sekitar dua sepertiga dari dokter keluarga mendefinisikan dengan benar nilai tekanan darah sebagai hipertensi untuk lansia setelah pengukuran berulang.5%). dimana 95. Tabel 3 menunjukkan hambatan hang dirasakan dokter untuk mengontrol tekanan darah. Buruknya kepatuhan pasien untuk modifikasi gaya hidup berada di daftar teratas.7% selalu mengikuti mereka. hanya 52% melaporkan bahwa mereka menggunakan pedoman disetidaknya sebulan sekali. 5.2% memilih > 15 pernyataan. dan hanya 27. Hal ini sama dengan data dari penelitian lain menggunakan definisi BP tinggi menurut laporan .13 Gambar 1. dan rasa takut bahwa dokter mungkin kehilangan rasa otonomi professional jika mereka mengikuti guidelines. dan akhirnya tindak lanjut oleh dokter yang berbeda (79. kurangnya pengetahuan pasien (78%). 14.4% dari dokter keluarga menganggap hal tersebut cukup penting atau yang paling penting.kurang dari 15. dan lebih dari 25% menyatakan keprihatinan tentang sumber pedoman. kekakuan mereka. penyakit ginjal dan stroke mungkin prevented. Dalam kesepakatan dengan itu.15 Penelitian ini menunjukkan bahwa dokter keluarga tidak sepenuhnya mematuhi semua panduan hipertensi meskipun bahwa 92. Ketidaktersedian obat di klinik dianggap sebagai penghalang penting atau paling penting untuk mengontrol tekanan darah dipilih oleh 88. dalam survei 1878 dokter Kanada.

alpha-blocker. penelitian ini mengungkapkan bahwa dua pertiga dari dokter keluarga menjawab dengan benar bahwa pasien dengan diabetes harus diobati dengan tekanan darah sistolik <130 mmHg dan tekanan darah diastolik <80 .8. Rendahnya atau terbatasnya tingkat yang jawaban yang benar mengenai pertanyaan seperti definisi dari nilai normalitas tekanan darah yang diukur sendiri berhubungan dengan yang perbedaan ambang batas normal yang dilaporkan dalam berbagai guideline hipertensi. diuretik yang benar dipilih oleh 79. dalam perjanjian dengan penelitian lain dan seperti yang direkomendasikan di tahun 1999 pedoman WHO/ISH. obat ini bukan merupakan lini pertama dari dokter yang berpartisipasi dalam survey untuk pengobatan pasien berusia 40 tahun tanpa hipertensi. mereka tetap kurang dipergunakan.16-18 Informasi yang diperoleh tampaknya sangat relevan. Ernest melaporkan bahwa terlepas dari kenyataan bahwa diuretik unggul dalam pencegahan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular erkait dengan hipertensi.8% dari studi dokter keluarga sebagai obat ketiga pilihan bagi pasien hipertensi esensial sebagian dikendalikan oleh inhibitor ACE ditambah kalsium antagonis. yang menunjukkan bahwa diuretik masih tetap kurang dimanfaatkan dalam pengobatan hipertensi. Percobaan ALLHAT menunjukkan bahwa diuretik tipe thiazide lebih unggul doxazosin. 22 Selain itu. 20 Psaty et al. hampir 40% dari dokter lebih suka meresepkan obat hipertensi anti lainnya. studi tentang pola peresepan pelayanan kesehatan dokter mengungkapkan bahwa kebanyakan dokter tidak memiliki pengetahuan rinci tentang guideline hipertensi dan cenderung meresepkan obat yang lebih mahal tanpa bukti khasiat obat. seperti yang telah didokumentasikan bahwa sebagian besar dokter keluarga kurang mengetahui masalah penting yang terdapat dalam guideline WHO/ISH tahun 1999. alasan yang biasanya tanpa dasar farmakologis. Dokter mungkin merasionalisasi bahwa tujuan berada dalam jangkauan dan bahwa lebih banyak waktu mungkin diperlukan untuk melihat efek dari terapi.pedoman WHO/ISH. Berkenaan dengan manajemen pasien hipertensi dengan diabetes. terutama di kalangan penderita diabetes. 23 Berdasarkan penelitian di Arab Saudi banyak dokter layanan primer di wilayah Aseer tidak memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk mendefinisikan dan benar mendiagnosa hipertensi. karena hanya 41. menekankan21 bahwa meskipun berbagai manfaat diuretik. 24 kebanyakan dokter layanan primer tidak mematuhi pedoman manajemen hipertensi.14 Mengenai pengobatan farmakologis dan terapi strategi.19 Terlepas dari biaya rendah dan keampuhan diuretik. dalam mencegah satu atau lebih bentuk utama penyakit kardiovaskular.8% dari mereka akan memulai terapi obat dengan diuretik.

dengan BP 150/95 tanpa kontraindikasi. Kombinasi dari dua atau lebih obat biasanya diperlukan untuk mencapai tujuan target <130/80 mm Hg.atau Angiotensin receptor blocker (ARB) .8% dari dokter keluarga menunjukkan bahwa penambahan kedua antihipertensi adalah diperlukan jika mono-terapi telah gagal untuk mengontrol tekanan darah di bawah tingkat target untuk yang terakhir 6 bulan.31 Mengenai penggunaan antihipertensi obat dan ketika FP khusus bertanya tentang yang paling pertama-langkah obat yang tepat untuk pasien yang berusia 40 tahun. 41. ACE inhibitor dengan benar dipilih oleh mayoritas peserta (93. 24 ACE inhibitor.1% dari dokter benar mendefinisikan '' white mantel '' atau terisolasi klinik hipertensi kantor setinggi tekanan darah. normal tekanan darah pengukuran rawat jalan. Ini menyoroti pentingnya pengukuran tekanan darah diri untuk kontrol tekanan darah selain modifikasi gaya hidup.28 Dalam kesepakatan dengan itu.0%) sebagai yang paling tepat kelas antihipertensi untuk pasien hipertensi dengan diabetes nefropati. 92. tidak ada comorbiditas.baik mempengaruhi perkembangan diabetes nefropati dan mengurangi albuminuria dan ARB telah terbukti mengurangi perkembangan makro-albuminuria.8% lebih disukai thiazide diuretik-sebagai pengobatan lini pertama dan 84.mmHg.29. dan perilaku improvement.30 Thiazidediuretics yang bermanfaat dalam mengurangi CVD dan stroke kejadian pada pasien dengan diabetes. Hal ini sesuai dengan beberapa uji klinis acak yang menunjukkan dampak dari darah tekanan sebagai faktor risiko untuk penyakit mikro-vaskular dan makrovaskular pada diabetes. latihan fisik. natrium pembatasan.25-27 Tabel 3 Berkenaan dengan langkah-langkah khusus untuk meningkatkan hipertensi kontrol. dan tekanan darah diri diukur normal. Penelitian lain melaporkan bahwa kebanyakan dokter . penurunan berat badan.

Lain tidak mengikuti pedoman karena mereka pikir mereka usang.layanan primer tidak sepatutnya mempertimbangkan pentingnya thiazide diuretik-sebagai dasar terapi antihipertensi awal. 76. Yang lain mengklaim bahwa waktu dan tekanan keuangan mereka merasa membuat pengobatan hipertensi dan penggunaan pedoman prioritas rendah.8% dari dokter keluarga dilaporkan pasien miskin kepatuhan terhadap perubahan gaya hidup untuk bertindak sebagai penghalang untuk kontrol BP.5% dari mereka peringkat kurangnya pengetahuan pasien sebagai penghalang yang paling penting atau penting. Ironisnya.25 Banyak survei menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat dari semua pasien dengan hipertensi tidak memiliki tekanan darah yang optimal control. olahraga teratur dan berat pengurangan.9% disebabkan kontrol miskin untuk menindaklanjuti dengan dokter yang berbeda. seperti rendah garam dan diet tinggi kalium.6 peringkat ketersediaan non obat di klinik. 73. modifikasi gaya hidup.9.34 Dalam penelitian ini. Selain itu. dan harus dianjurkan untuk semua pasien setiap kali Modifikasi gaya hidup appropriate. Survei dari sekelompok dokter di Inggris menemukan beberapa hambatan untuk penggunaan pengobatan hipertensi guidelines.10. dan 87.5% melaporkan kurangnya waktu karena klinik penuh sesak. mereka tidak merasa rasa kepemilikan menuju pedoman. ini tampaknya menjadi sangat praktisi yang seharusnya menggunakan pedoman. 84. memfasilitasi kontrol farmakologis tekanan darah.32 Meninjau artikel yang menyelidiki hambatan penggunaan dokter pedoman praktis klinis mengungkapkan bahwa Beberapa studi meneliti berbagai penuh hambatan yang dapat mempengaruhi penggunaan pedoman praktek. 10.2% dari dokter keluarga memilih dengan benar lebih dari 10 laporan dari 20 terkait dengan pedoman.14 tidak terkontrol . 97. sementara. baik sendiri atau dalam kombinasi dengan salah satu kelas lain drugs.33 telah menjadi salah satu yang paling sering dikutip hambatan untuk tekanan darah control. atau mereka hanya tidak tahu tentang mereka. 24 Penelitian ini menemukan bahwa kebanyakan dokter keluarga menyadari rekomendasi pedoman hipertensi. karena sekitar 91. Pasien kepatuhan terhadap farmakoterapi telah diidentifikasi sebagai salah satu alasan utama untuk hypertension. Phillips dan rekan telah diusulkan bahwa alasan untuk ini mungkin karena terlalu tinggi dari kepatuhan untuk guidelines. 35 Beberapa dokter tidak berpikir data yang digunakan untuk pedoman diterapkan pasien mereka.

. pengelolaan dan pengendalian hipertensi. atau keengganan untuk membuat terapi perubahan. terlalu tinggi sesuai dengan pedoman. Kesimpulan Beberapa faktor dapat menjelaskan kurangnya kepatuhan dokter keluarga untuk menerapkan guideline (pedoman) untuk hipertensi. sebagian besar responden kami (97. termasuk kurangnya pengetahuan.Konsisten dengan temuan sebelumnya.8%) melaporkan ketidakpatuhan terhadap obat antihipertensi seperti penghalang terkait pasien yang mengarah ke kontrol BP. Hasil survei ini menunjukkan bahwa perlunya membangun pendidikan secara nasional dan kualitas program pemantauan untuk memfasilitasi pelaksanaan yang benar pedoman hipertensi dalam praktek klinis layanan primer di Kuwait. evaluasi. 6. Hal ini tidak terjadi di Kuwait dimana pengobatan di layanan primer semuanya gratis. Kami sangat mendesak setiap dokter keluarga untuk memeriksa kembali semua pasien hipertensi dan memeriksa kembali perannya dalam hal deteksi. Biaya pengobatan dan rumah sakit kunjungan telah diidentifikasi dalam sebuah penelitian sebagai faktor kontribusi utama untuk kepatuhan pasien yang buruk terhadap pengobatan. ketidaksetujuan dengan pedoman.

5th ed. Canadian Hypertension Education Program Outcomes Research Taskforce. Lawes CM. editors. 7. Rodgers A. J Hypertens 1999. A meta-analysis of individual patient data from randomized. Detection. Blood pressure and stroke: an overview of published reviews. Sloane PD. Anonymous. 2007. treatment and control in the community: is the rule of halves still valid? J Hum Hypertens 1997. Chen Z.11:213–20. 3. Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Selected major risk factors and global and regional burden of disease. In: Sloane PD. 17: 151–183. Lawes CM. International Society of Hypertension Guidelines for the management of hypertension. Ebell MH. Blood pressure and coronary heart disease: a review of the evidence. The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention. SeminVasc Med 2002. Ezzati M. 9. Joint National Committee on Prevention. Rodgers A. Ann Intern Med 1997. 8. p. Murray CJ. 157: 2413– 2446.DAFTAR PUSTAKA 1. CMAJ 2008. Ebell MH. Jacques LB. Introduction to common problems. Marques-Vidal P. WHO. Lewington S. controlled trials.178(11):1429–35. . Gueyffier F. 2. Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Feigin VL.360(9343):1347–60. Smith MA. Boissel JP. 4. Comparative Risk Assessment Collaborating Group. et al. Hypertension awareness. MD: LippincottWilliams & Wilkins. 6. Bennett DA. 119–30. Hagerstown. Guidelines Subcommittee. Tuomilelto J. Slatt LM. Stroke 2004.35(3):776–85. Lopex AD. Vander Hoorn S. Essentials of family medicine.126(10):761–7. Boutitie F. 5.2(4):355–68. Rodgers A. Tu K. Lancet 2002. Arch Intern Med 1997. Detection. Prevalence and incidence of hypertension from 1995 to 2005: a population-based study. Effect of antihypertensive drug treatment on cardiovascular outcomes in women and men. Bennett DA.

et al. He J. Whelton P. International Society of Hypertension Writing Group: 2003 World Health Organization (WHO/ International Society of Hypertension (ISH) statement on management of hypertension. J Hypertens 2002. Colhoun HM. Leeman M. Smith NL. Fagard RH. Survey on treatment of hypertension and implementation of WHO/ISH risk stratification in primary care in Belgium. Data from a survey on high blood pressure in general practice. 11. Brookers M.22:1221–9.11:759–62.19:843–50. Poulter NR. 20. Appel LJ. Poulter NR. et al. J Hypertens 2003. 17. Results from the health survey for England 1998. Major cardiovascular events in hypertensive patients randomised to doxazosin vs. et al.16:747–52. World Health Organization. Poggi L. Roccella EJ. 16. Hess L. Impact of the Gubbio population study on community control of blood pressure and hypertension. Burnier M. 1988–1991. Lang T. ALLHAT Collaborative Research Group. management and control in England: results from the health survey for England 1994. Whelton PK.25:305–15. Burnier M. Pechere-Bertschi A. Primatesta P. JAMA 2000. et al. chlorthalidone: The antihypertensive and lipid-lowering treatment to prevent heart attack trial (ALLHAT). JAMA 2002. J Hypertens 2004. Anonymous. Time trends in high blood pressure control and the use of antihypertensive medications in older . Hypertension 2001. 13. Improved hypertension management and control.10.38:827–32.20:1251–3. et al. 19.288:1882–8. Zanchetti A. Primary prevention of hypertension: clinical and public health advisory from The National High Blood Pressure Education Program. Burt VL. Whitworth JA. J Hypertens 2001. Ferrari P. Chamontin B. Prevalence of hypertension in the US adult population. Reasons for not intensifying anti hypertensive treatment (RIAT): a primary care antihypertensive intervention study. Manolio TA. Van der Enden. Prevalence.21:1983–92. Blood pressure screening. 12. 15. Am J Hypertens 1998. 21. Menotti A. Psaty BM.20:1297–302. J Hypertens 1998. Lanti M. Results from the third National Health and Nutrition xamination Survey. Warling X. treatment and control of hypertension in the French population. On behalf of the Gubbio Study Research Group. Hypertension 1995. Blood pressure control and the implementation of guidelines in clinical practice. can we fill the gap? J Hypertens 2002. Dong W. Muggli F. 18. 14.283:1967–75.

Primary prevention of cardiovascular diseases in people with diabetes mellitus: a scientific statement from the American Heart Association and the American Diabetes Association. Alpert JS. Anonymous. Cooper ME. 25. Arch Intern Med 997. Buse JB. Circulation 2007. and treatment of high blood pressure.115:114–26. Achieving blood pressure goals globally: five core actions for health-care professionals.39(suppl 2):S1–S246. Hypertension guideline adherence of private practitioners and primary health care physicians in Pretoria. 27. 26. Khan MY.157:2413-46. Branch WT. Adherence of primary health care physicians to hypertension management guidelines in the Aseer region of Saudi Arabia. Brenner BM. 24.288:2981–97. Ginsberg HN. JAMA 2002. Hartz SC. J Hum Hypertens 2007. Ann Intern Med 2001. Major outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angiotensin-converting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic: The Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial (ALLHAT). 31. 30. 28. attitudes and practice of pharmacologic treatment of hypertension. and stratification. Cook CB. et al. Clinical inertia.162:2325–32. Ann Pharmacother 2001. Physicians’ knowledge. evaluation. et al. Roht LH. . 23.22(5):941–8. National Kidney Foundation. et al. Effects of losartan on renal and cardiovascular outcomes in patients with type 2diabetes and nephropathy. Saudi J Kidney Dis Transpl 2011 Sep. Phillips LS.22:63–70.135:825–34. 29. Ernest S.47(3):51–4. Mancia G. et al. Arch Intern Med 22. N Engl J Med 2001.345:861–9. A worldwide call to action. Hill M. classification. The sixth report of the Joint National Committee on detection. Bakris GL. The ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research Group. SA Fam Pract 2005. K/DOQI clinical practice guidelines for chronic kidney disease: Evaluation. Am J Kidney Dis 2002. Bakris G. Health Study.35:1173–9. Al-Gelban KS.adults: The cardiovascular 2002. de Zeeuw D. Al-Khaldi YM. Huse DM. Kidney Disease Outcome Quality Initiative.

Cuspidi C. Bethesda: National Heart. US Dept of Health and Human Services.18:359–63. Barton S. Awareness of hypertension guidelines in general practice. and Reported Behavior. Ital Heart J 2002. National Institutes of Health: Diagnosis and Management of Hypertension –1987: A Nationwide Survey of Physicians’ Knowledge. Why do GPs not implement evidencebased guidelines? A descriptive study.3:60–3. 1989. 34. Severgnini B. a pilot study in Lombardy. Kanani R. Attitudes. 35. Haynes RB.348:383–6. McKibbon KA. Fam Pract 2001.32. Warren E. Lancet 1996. Cranney M. 33. and Blood Institute. . NIH publication 89-2968. Michev I. et al. Systematic review of randomised trials of interventions to assist patients to follow prescriptions for medications. Lung.