You are on page 1of 6

Martabat Alam Tujuh

Khusus di Nusantara, ajaran Martabat Alam Tujuh, dikembangkan oleh beberapa
ulama antara lain Kyai Hajar Padang dalam bukunya yang berjudul Layang Muslimin
dan Muslimat. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa proses kejadian alam semesta
ini dan segala isinya diciptakan melalui tujuh martabat (tingkatan), yang dapat
diuraikan secara ringkas sebagai berikut :

1. MARTABAT AHADIYAT
Martabat Ahadiyat adalah Martabat Dzat Allah yang tidak dapat diumpamakan
dengan apapun atau Martabat Dzat Yang Laisa Kamislihi Syai’un, yaitu Dzat yang
tidak bernama, tidak berwarna, tidak bewujud, tidak merah, tidak hitam, tidak
gelap, tidak terang, tidak di barat, tidak di timur, tidak di atas, tidak bawah serta
tidak dapat diumpamakan dengan apapun.

2. MARTABAT WAHDAT
Martabat Wahdat adalah Alam Dzat Allah yang telah mempunyai sifat. Wujudnya
adalah terang yang disebut Jauhar Awal artinya Cahaya Pertama, Cahaya Pertama
ini juga disebut dengan Hakikat Nur Muhammad. Para Wali di Tanah Jawa menyebut
hakikat Nur Muhammad dengan istilah Segara Hidup atau Sejatining Syahadat
karena di alam tersebut terjadi persatuan atau bergulungnya antara Dzat dan sifat
Allah dengan Muhammad dalam hakikatnya.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu
tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al Ahzab 33 : 40)

“Aku Ahmad tanpa huruf Mim, dan aku ‘Arabi tanpa huruf ‘Ain. Barang siapa yang
melihat aku sungguhnya ia telah melihat Al Haq”. (Hadits)

“Yang petama kali diciptakan adalah Nur Nabimu, wahai Jabir”. (HR Ahmad)

3. MARTABAT WAHIDIYAT
Alam Wahidiyat adalah Martabat Asma Allah Yang Maha Suci yang merupakan
emanasi (pancaran) dari Jauhar Awal yang berupa Empat Cahaya :
a). Narun artinya Cahaya Merah
b). Hawaun artinya Cahaya Kuning

c). Dari keempat Cahaya tersebut juga keluar emanasi Cahaya yang menjadi cikal bakal Tujuh Langit dan Tujuh Bumi beserta isinya. Hawaun (Cahaya Kuning) diibaratkan selubung kaca kuning Maun (Cahaya Putih) diibaratkan selubung kaca putih Turobun (Cahaya hitam) diibaratkan selubung kaca hitam. MARTABAT ARWAH Alam Arwah adalah Martabat Af’alnya Allah SWT yang telah menjadikan Alam Dunia. 4. Secara syariah. . Proses kejadian Alam Semesta dalam Martabat Alam Arwah dapat diumpamakan sebagai berikut : Dari Jauhar Awal memancar Empat Cahaya yaitu : Narun (Cahaya Merah) diibaratkan selubung kaca merah. Selubung kaca yang empat warna tersebut di cahayai oleh Jauhar Awal (Cahaya Pertama) sehingga terjadi empat bayangan warna yang hakikatnya adalah proses terjadinya empat anasir dasar penciptaan Alam Semesta yaitu : a) Dari selubung Kaca Merah memancarkan Bayangan warna Merah yang berproses menjadi Anasir Api di Alam Semesta. ke empat pancaran cahaya tersebut termanifestasikan menjadi lafadz Allah. Maun artinya Cahaya Putih d). Turobun artinya Cahaya Hitam Keempat cahaya tersebut dinamakan juga dengan nama Nur Muhammad atau hakikatnya Adam yang termanifestasikan menjadi Asma Allah : a) Cahaya Merah menjadi hakekat huruf Alif b) Cahaya Kuning menjadi hakikat huruf Lam Awal c) Cahaya Putih menjadi hakikat huruf Lam Akhir d) Cahaya Hitam menjadi hakikat huruf Ha e) Cahaya Pertama (Jauhar Awal) menjadi hakikat tanda Tasjid.

c) Dari selubung Kaca Putih memancarkan Bayangan warna Putih yang berproses menjadi Anasir Air di Alam Semesta. Ketika Allah hendak mengutus Khalifah-Nya maka diproseslah terlebih dahulu unsur-unsur dasar pembuatan wadahnya sebagai tempat bersemayamnya Roh-Ku yaitu : Saripati Bumi diproses menjadi Kulit bulu Manusia Adam Saripati Api diproses menjadi Darah Daging Manusia Adam Saripati Air diproses menjadi Urat Balung Manusia Adam Saripati Angin diproses menjadi Otot Sumsum Adam Kemudian dengan kekuasaan Allah maka terjadilah Dalil Muhammad yaitu huruf Mim. 5. Proses tersebut menunjukan bahwa kejadian Alam Semesta ini berasal dari proses emanasi Nur Muhammad. d) Dari selubung Kaca Hitam memancarkan Bayangan warna Hitam yang berproses menjadi Anasir Tanah di Alam Semesta. . Ha. dan Dal yang merupakan perwujudan dari Cahaya Muhammad.b) Dari selubung Kaca Kuning memancarkan Bayangan warna Kuning yang berproses menjadi Anasir Angin (udara) di Alam Semesta. MARTABAT AJSAM Alam Ajsam adalah Martabat Manusia setelah terciptanya alam semesta. yaitu : Cahaya Hitam menjadi hakikat lafadz Mim awal Cahaya Putih menjadi hakikat lafadz Ha Cahaya Kuning menjadi hakikat lafadz Mim akhir Cahaya Merah menjadi hakikat lafadz Dal Cahaya Pertama (Jauhar Awal) menjadi hakikat tanda Tasjid. Dengan kekuasaan Allah maka terciptalah alam semesta yaitu Jagad Besar (Alam Kabir). Mim.

yang juga merupakan simbol struktur manusia yaitu : Mim awal dari lafadz Muhammad menjadi kepala manusia. Dal dari lafadz Muhammad menjadi kaki manusia. 6. Dzat Allah tersebut merupakan Dzat yang tidak dapat diumpamakan atau disetarakan dengan apapun.”. Dzat ini dalam dunia tasawuf di istilahkan dengan Khanzan Al Makhfy (Permata Yang Tersembunyi).Yang paling mengetahui Dzat Allah adalah Allah sendiri. Aku rindu untuk dikenal. (QS Asy Syura 42 : 11) “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Dzat) Dia “. MARTABAT INSAN KAMIL Alam Insan Kamil adalah martabat manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan baik lahir maupun batin sehingga apabila wafat nanti akan menyandang derajat Kamil Mukamil yang artinya kesempurnaan yang sempurna. MARTABAT MITSAl Alam Mitsal adalah Martabat Manusia yang sudah mencapai derajat ma’rifatullah.. artinya manusia tersebut sudah memiliki ilmu yang telah sampai ke tingkat mitsal yaitu yang sudah tahu asalnya dengan menyaksikan Cahaya Merah. telah ada Dzat Allah yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapapun. (Hadits Qudsi ) “…. Berdasarkan Ajaran Martabat Alam Tujuh tersebut dapat kita simpulkan bahwa sebelum alam semesta ini diciptakan. Mim akhir dari lafadz Muhammad menjadi pusar manusia. hilang rasa dan hilang jasmaninya menjadi Dzat Laisa Kamitslihi lagi seperti pada waktu dahulu sebelum ia turun ke alam dunia atau dengan kata lain jika kita wafat kelak akan kembali ke sisi Allah atau Inna lillahi wa innailaihi raji’uun. Hitam.tidak sesuatupun yang serupa dengan (Dzat) Dia…. (QS Al Ikhlash 112 : 4) Dikarenakan Dzat Allah tidak dapat diungkapkan dengan sesuatu apapun maka para ahli tasawuf memandang hakikat Dzat Allah ini dengan sesuatu yang tidak dapat disebut sesuai dengan firman Allah . dan Putih dengan mata batinnya. 7.. Kuning. Ha dari lafadz Muhammad menjadi dada manusia. sesuai firman Allah : “Aku dahulu adalah permata yang tersembunyi. maka Aku ciptakan makhluk agar ia mengenal-Ku “.Keempat Cahaya tersebut secara syariat menjadi lafadz Muhammad atau sebaliknya menjadi lafadz Allah.

yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula disebelah baratnya. Perumpamaan Cahaya Allah seperti sebuah lubang kaca yang tak tembus. . yang di dalamnya ada pelita besar. sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang belum dapat disebut ? ”. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara. Ke 99 Asmaul Husna inilah yang menjadi tolak ukur kecerdasan spiritual seseorang. Tingkatan Kecerdasan Spiritual tersebut dapat diukur dengan alat ukur berupa kuesioner yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki (dan menghendaki Cahaya-Nya) dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ”. (QS Al Hadid 57 : 3) Dikarenakan Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang maka para ahli tasawuf menamakan Sifat Dzat-Nya dengan nama Cahaya atau An Nur. yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang. dengan kadar yang terbatas. Setiap manusia ditempati fi’il Allah yang terangkum dalam Asma ul Husna. (QS An Nur 24 : 35) “Kaifa ro’aita robbaka ? Nurun ana ‘arohu “. Cahaya di atas Cahaya. dalam bukunya yang berjudul ESQ Kecerdasan Emosi dan Spiritual (2004). (Al Hadits) Cahaya dari Dzat Allah ini memancarkan Cahaya-Cahaya yang termanisfestasikan dalam Fi’il Allah yang dirangkum dalam Asma ul Husna yaitu 99 nama Allah yang terbaik. Keberadaan dari Nur Allah ini diinformasikan dalam Al Qur’an dan Hadits yaitu : “Allah adalah Cahaya langit dan bumi.“Bukankankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa. sesuai dengan firman Allah : “Dia-lah yang Awal dan yang Akhir. (QS Al Insan 76 : 1) Kemudian karena Dzat Allah ini ingin dikenal maka Dzat Allah ini menjadikan dirinya mempunyai Sifat agar dapat dikenali. “Apakah engkau melihat Tuhanmu ? Cahaya. Jadi 99 Nama Allah itu hakikatnya merupakan Fi’il Allah di atas alam semesta ini yang bersumber dari pancaran Cahaya Dzat Allah. Menurut para ahli tasawuf. (dan Dia pula) yang Terang dan yang Tersembunyi “. yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya. Sesungguhnya aku melihat-Nya “. Jadi Nur Allah atau Cahaya Allah tersebut hakikatnya merupakan pancaran dari Dzat Allah.

Pengalaman inilah yang disebut dengan pengalaman musyahadah atau menyaksikan kehadiran Nur Ilahi dalam dirinya sehingga ia lebur dalam Lautan Cahaya Ilahi yang tak terbatas.Berdasarkan uraian dan gambar tersebut di atas maka para ahli tasawuf mengambil satu kesimpulan bahwa hakikat dari Wujud Allah yang sesungguhnya adalah Nurun ‘Ala Nurin atau Cahaya di atas Cahaya. Para ahli tasawuf telah menyaksikan keberadaan Cahaya Allah tersebut dengan mata rohaninya ketika mereka beribadah kepada-Nya. .