You are on page 1of 21

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN MOBILITAS FISIK
A. Definisi
1. Mobilisasi

Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi
seseorang (Ansari, 2011).

Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan
bebas (Kosier, 1989 cit Ida 2009)

2. Imobilisasi

Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang
darimobilitas optimal (Ansari, 2011).

Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak saja kehilangan
kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari
kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008).

B. Tujuan Mobilisasi
1. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
2. Mencegah terjadinya trauma
3. Mempertahankan tingkat kesehatan
4. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari – hari
5. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh

C. Batasan karakteristik
1. Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan, termasuk
mobilitas di tempat tidur, berpindah dan ambulasi.
2. Keengganan untuk melakukan pergerakan.
3. Keterbatasan rentang gerak.
4. Penurunan kekuatan, pengendalian, atau masa otot.
5. Mengalami pembatasan pergerakan, termasuk protocol-protokol mekanis dan medis
6. Gangguan koordinasi

D. Jenis Mobilitas dan Imobilitas
1. Jenis Mobilitas :

Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh
dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran seharihari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik
untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.

Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai
pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pada pasien
paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena
kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua
jenis, yaitu:
-

Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak
dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
trauma reversibel pada system musculoskeletal, contohnya adalah adanya
dislokasi sendi dan tulang.

-

Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system
saraf yang reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi
karena cedera tulang belakang, poliomilitis karena terganggunya system saraf
motorik dan sensorik.

2. Rentang Gerak dalam mobilisasi
Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :

Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.

 Rentang gerak fungsional Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan 3. dan masalah psikologis. 2007) . Etiologi 1.  Imobilitas sosial. sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial. kekakuan otot. lemah. E. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga menyebabkan imobilisasi.  Imobilitas emosional merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. Jenis Imobilitas :  Imobilisasi fisik Merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan. ketidakseimbangan. Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya.  Imobilisasi intelektual merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya pikir. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit (Setiati dan Roosheroe. Penyebab Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri. Rentang gerak aktif Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya.

seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. seorang yang patah tulang akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk. CVA yang berakibat kelumpuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi  Gaya hidup 3. Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya.Penyebab secara umum:  Kelainan postur  Gangguan perkembangan otot  Kerusakan system saraf pusat  Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular  Kekakuan otot  Kondisi-kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara lain: (Restrick. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban.  Proses penyakit dan injuri 4. Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya. . Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. typoid dan penyakit kardiovaskuler. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya. 2005)  Fall  Instability  Fracture  Hipnotic medicine  Stroke  Impairment of vision  Postoperative bed rest  Polipharmacy  Dementia and Depression  Fear of fall 2.  Kebudayaan 5.

Lain-lain (disfungsi serebelar. kalus) 15. Lain-lain (misalnya penyakit paget) 16. Penyakit vaskular perifer (kardkasio yang sering) 24. 8. Osteoporosis 13. Gangguan penglihatan 28. Faktoe sensorik 27. psikologis. Penyakit paru 25. Stroke 18. neuropati) 20. Imobilisasi yang dipaksakan (di rumah sakit atau panti werdha) 31. Penyebab lingkungan 32. Gangguan neurologis 17. Problem kaki (bunion. Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny dibandingkan dengan seorang remaja. Penyakit paru obstruksi kronis (berat) 26. Tingkat energi 6. Fraktur (terutama panggul dan femur) 14. seperti pada tabel berikut: 10. . Penyakit jantung koroner (nyeri dada yang sering) 23. Gagal jantung kongensif (berat) 22. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit. Penyakit kardiovaskular 21. Alat bantu mobilitas yang tidak adekuat 33. Gangguan muskuloskeletal 11. Faktor resiko 9. dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi. Nyeri akut atau kronik 30. Artritis 12. Berbagai faktor fisik. parkinson Penyakit 19. orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari. Takut (instabilitas dan takut akan jatuh) 29.  Usia dan status perkembangan 7.

F. dan ireguler (tidak beraturan). namun pemakaian energi meningkat. ligament. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek. sendi. Malnutrisi 37. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Patofisiologi 41. peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. dan otot yang melawan gravitasi. meliputi sistem otot. Penyakit sistemik berat (misalnya metastasis luas pada keganasan) 38. tendon. Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular. menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep.34. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan. skeletal. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. tekanan darah) karena latihan isometrik. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. . Efek samping obat (misalnya kekuatan yang disebabkan obat antipsikotik) 40. dan saraf. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. pendek. fluktuasi irama jantung. Lain-lain 35. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Depresi 39. pipih. kartilago. sinergis. Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Dekondisi (setelah tirah baring lama metastasis luas pada keganasan) 36. 43. Pada kontraksi isotonik. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan. 42. misalnya. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot.

ventrikel kiri  Penurunan volume 51. ORGAN / 65. Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ 63. penurunan area potong lintang otot. kontraktor. Kardiopulmon 69.  Intoleransi ortostatik 56.  Penurunan evakuasi kandung kemih 60. Integumen 71.44. 64. Osteoporosis. EFEK 48. Dampak fisiologis dari imobilitas.  Gangguan tidur 61. peningkatan agresi trombosit. pembuluh deconditioning jantung. melindungi organ vital. penurunan perfusi miokard. Peningkatan risiko ulkus dekubitus dan laserasi kulit . HASIL  Penurunan konsumsi 49. 45. hilangnya kekuatan otot. penurunan ambilan oksigen maksimal (VO2 max). intoleran al dan terhadap ortostatik. ankilosis. sekuncup 52.  Penurunan kapasitas kebugaran 58. 2. oksigen maksimum  Penurunan fungsi 50. sinkop 57. 47. antara lain: 46. membantu mengatur keseimbangan kalsium.  Peningkatan denyut jantung. penurunan massa tulang. pneumonia. 62. penurunan volume plasma. Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan. dan hiperkoagulasi 70.  Perlambatan fungsi usus 53. halusinasi 54. Peningkatan denyut nadi istirahat.  Pengurangan miksi 55. berkurangnya volume sendi 68.  Bermimpi pada siang hari. PERUBAHAN YANG TERJADI AKIBAT IMOBILISASI SISTEM 66. peningkatan tekanan intraartikular. Tanda Dan Gejala 1.  Konstipasi 59. perubahan uji fungsi paru darah atelektasis paru. Muskuloskelet al 67. peningkatan stasis vena. G. berperan dalam pembentukan sel darah merah. degenerasi rawan sendi.

dan gangguan pencernaan. natriuresis dan deplesi natrium endokrin resistensi insulin (intoleransi glukosa). Komplikasi 1. Hal initerjadi karena immobilisasi menyebabkan kerja ginjal yang menyebabkanhiperkalsemia.  Gannguan gastrointestinal terjadi akibta penurunan motilitas usus. Perubahan Metabolik 76. 77. ketidakseimbangan kalsium. gannguan cairan dan elektrolit. saluran pencernaan. Immobilisasi menyebabkan asam aminotidak digunakan dan akan diekskresikan. lemak. dan protein. Immobilisasi menggangu fungsi metabolic normal antara lain laju metabolic: metabolisme karbohidarat. hiperlipidemia. Keberdaaan infeksius padaklien immobilisasi meningkatkan BMR karena adanya demam dan penyembuhanluka yang membutuhkan peningkatan kebutuhan oksgen selular. 75. . serta penurunan absorp dan metabolisme vitamin/mineral 74.  Ekskresi kalssium dalam urin ditngkatkan melalui resorpsi tulang. keseimbangan cairan dan elektrolit. dan imunitas.jantung.72. Konstipasi sebagai gejala umum . Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan meningkatkan ekskresinitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia. Keseimbangan nitrogen negatif.paru-paru. terhentinya basorbsi. Salah satu yang terjadi adalah perubahan metabolisme protein.  Gangguan metabolic yang mungkin terjadi : Defisensi kalori dan proterin merupakan karakteristik klien yangmengalamianoreksia sekunder akibat mobilisasi.  Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan mempengaruhi system metabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. hiperkalsiuria. mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh. Metabolik dan 73. H. diare karena feces yang cair melewati bagian tejpit dan menyebabkan masalah serius berupa obstruksi usus mekanik bila tidak ditangani karena adanya distensi dan peningkatan intraluminal yang akan semakin parah bila terjadi dehidrasi. Kehilangan masa otottertutama pada hati.

karena imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna dan dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi. Perubahan Sistem Pernapasan 82. 4. Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. 9. meningkatnya kerja jantung. 7. misalnya akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis. . 3. kadar hemoglobin menurun. 79. Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun. Gangguan Fungsi Gastrointestinal 81. dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung. Akibat imobilitas. Perubahan Sistem Integumen 84. sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernapasan. Gangguan Pengubahan Zat Gizi 80. Perubahan Sistem Muskuloskeletal  Gangguan Muskular: menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit 78. Berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskular ke interstitial dapat menyebabkan edema. dan terjadinya lemah otot. Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsenstrasi protein serum berkurang sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. 8. Perubahan dalam eliminasi misalnya dalam penurunan jumlah urine. Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas.  Gangguan Skeletal: adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skeletal. dan tidak bisa melaksanakan aktivitas metabolisme. Perubahan Eliminasi 85. Perubahan Kardiovaskular 83. Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas. dan terjadinya pembentukan trombus. 6.2. ekspansi paru menurun. 5. yaitu berupa hipotensi ortostatik.

dan sebagainya. dan ukuran masing-masing otot. stabilitas. Pemeriksaan Penunjang 1. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.10. cemas. Perubahan Perilaku 86. amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis.  Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer . cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. deformitas.   Mengkaji tulang belakang - Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang) - Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada) - Lordosis (membebek. 88. Pemendekan ekstremitas. adanya kekakuan sendi  Mengkaji system otot 91. cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson). Pemeriksaan Fisik  Mengkaji skelet tubuh 89. dan adanya benjolan.cara berjalan spastic hemiparesis stroke. kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan) Mengkaji system persendian 90.  Mengkaji cara berjalan 92. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis. I. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi. antara lain timbulnya rasa bermusuhan. Kemampuan mengubah posisi. bingung. Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif. nyeri otot. kekuatan otot dan koordinasi. Adanya deformitas dan kesejajaran. Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. 87.

DERAJAT RENTANG NORMAL 115. KATEGORI AKTIVITAS/ MOBI LITAS 100. 94. suhu dan waktu pengisian kapiler. 96.3 107. TINGKAT 99.Perg elang 122.Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan 110. pengawasan orang lain.4 109.  Mengkaji fungsional klien - Kategori tingkat kemampuan aktivitas 97.Memerlukan penggunaan alat 104.Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain 106. 112. 98.Mampu merawat sendiri secara penuh 102.Fleksi: tekuk jari-jari tangan ke arah bagian dalam lengan bawah. 95.0 101.2 105. GERAK SENDI 114. Adduksi: gerakan lengan ke lateral dari posisi 117. Fleksi: angkat lengan bawah ke arah depan dan ke 120.1 103. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer.80-90 . 180 samping ke atas kepala.Memerlukan bantuan. 121.150 arah atas menuju bahu.93. telapak tangan menghadap ke posisi yang paling jauh. warna. Bah u 116. dan peralatan 108. - Rentang gerak (range of motion-ROM) 113. 123. 111. 118. Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Siku 119.

90 gan 140.Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke arah 129.30-50 kelingking telapak tangan menghadap ke atas.20 abduksi 151.Adduksi: tekuk pergelangan tangan ke arah 135.Tan 137.an tanga n 125. 134.70-90 belakang sejauh mungkin 131.80-90 fleksi 128.Ekstensi: luruskan jari 141.0-20 ketika telapak tangan menghadap ke atas.20 149.Ekstensi: luruskan pergelangan tangan dari posisi 126.Abduksi: tekuk pergelangan tangan ke sisi ibu jari 132.90 dan 143. 136.Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke belakang 144.Abduksi: kembangkan jari tangan 147.Adduksi: rapatkan jari-jari tangan dari posisi 150.30 jari sejauh mungkin 146.Fleksi: buat kepalan tangan 138. - Derajat kekuatan otot .

atau dipakaikan baju sepatu secara keseluruhan 170. Membutuhkan bantuan dalam AIAN membutuhkan bantuan unutk memakai berpakaian. perintah 161. (0 poin) PAK 173. (1 poin) 160. 25 12. (1 poin) 174. Dimandikan atau ekstermitas lumpuh) dengan bantuan total 169. ataupun didampingi 155. MA NDI pendampingan personal atau perawatan total 165. kontraksi otot dapat di palpasi atau dilihat 10. 75 18. 50 15. Tidak ada gerakan. 5 20. S 2. Kekuatan normal. 0 5. 162. 168. bagian tubuh tertentu (punggung. (0 poin) 166. (0 poin) 158. Berpakaian lengkap mandiri. genital. KARAKTERISTIK L A 4. atau hanya memerlukan bantuan pada satu bagian tuguh. . 0 6. 1 8. masuk dan 164. keluar kamar mandi. PERSENTASE K KEKUATAN A NORMAL (%) 3. KETERGANTUNGAN 157. - KATZ INDEX 153. (1 poin) 167. TIDAK ADA pemantauan. 3 14. Mandi dengan bantuan lebih dari 163. Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal 19. Gerakan otot penuh melawan gravitasi dengan topangan 13. 4 17. Paralisis sempurna 7. KEMANDIRIAN 159. Bisa jadi 175. Sanggup mandi sendiri tanpa bantuan. BER 172. Dengan pemantauan. perintah. 2 11. 100 21. 156. Gerakan yang normal melawan gravitasi 16. gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan tahanan penuh 152.1. 10 9. AKT IVIT AS 154.

192. 197.Tak terkendali/ tak teratur (perlu . 216. tanpa bantuan. (1 poin) 202. (1 poin) 188. atau posisi bisa diterima dibantu total 184. 6 = Tinggi (Mandiri). KO 193. atau 199. Alat bantu berpindah dari tempat tidur ke kursi. Sebagian atau total inkontinensia ENSI perkemihan dan buang air besar bowel dan bladder A 191. 176. (1 poin) 195. dilakukan oleh orang lain. Mampu memasukkan makanan ke mulut 203. 183. PIN DAH POSI SI 186. 179. memerlukan makanan parenteral 204. (0 poin) 201. Masuk dan bangun dari tempat tidur / 189. Butuh bantuan menuju dan keluar mengganti pakaian. N 210. Mampu mengontrol secara baik 196.KETERANGAN SK O R 211. Persiapan makan bisa jadi atau total dalam makan. Membutuhkan bantuan sebagian 198. TOI LETI NG 177. 212.Mengendalikan 213. <2 = Ganggaun fungsi berat. 4 = Sedang. membersihkan sendiri atau tanpa bantuan menggunakan telepon 178. 190. MA KAN 200. membersihkan genital toilet. 205. 185. (0 poin) NTIN 194. (0 poin) 180.171. Mampu ke kamar kecil (toilet). 0 = Rendah (Sangat tergantung) 207. (0 poin) 187.FUNGSI 209. (1 poin) 181. Total Poin : 206. Indeks ADL BARTHEL (BAI) 208. 182. Butuh bantuan dalam berpindah kursi tanpa bantuan.

239. 1 membersihkan. 0 222. 2 242. 0 231. 241. 2 227.Mandiri 223.Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam) 226. 243. jamban. memakai celana. 236.Perlu ditolong memotong makanan 249.Membersihkan diri 3 (seka muka. 1 246. 2 219. pencahar). 218.Tidak mampu 248.Mandiri .Mengendalikan 2 rangsang berkemih 221.Makan 5 244.Kadang-kadang tak terkendali (1x seminggu). 1 215. 237.1 rangsang pembuangan tinja 0 214.Tak terkendali atau pakai kateter 225. sisir rambut. sikat gigi) 229. 228. 1 233.Perlu pertolongan pada beberapa kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan yang lain. 234. 220.Mandiri menyiram) 238. 0 245. 1 224.Butuh pertolongan orang lain 232. 217.Tergantung pertolongan orang lain 240.Mandiri 230. 2 247.Penggunaan 4 235.Terkendali teratur. masuk dan 0 keluar (melepaskan.

Berpindah/ 7 berjalan 262.Perlu banyak bantuan untuk bias duduk 258.Mandiri. 263. 261.Tergantung orang lain 276.Tidak mampu 0 267. 1 256.Memakai baju 8 272. 0 281.Bantuan minimal 1 orang. 251. 1 269. 266. 0 253. 275.Butuh pertolongan 285. 2 255. 279. 1 274.Sebagian dibantu (mis: memakai baju) 277.250. 1 282.Tidak mampu 257. 271.Mandiri 254.Mandiri . 2 265. 2 278. 2 283.Naik turun tangga 9 280.Mandiri 264. 259.Bisa (pindah) dengan kursi roda. 268. 3 270. 0 273.Berjalan dengan bantuan 1 orang.Tidak mampu 284.Berubah sikap dari 6 berbaring ke duduk 252. 3 260.

Total Skor-----Skor BAI : 298.286.Tergantung orang lain 291. 292. 1 0 290. 20 : Mandiri 12 . 300.Mandi 288. 5-8 : Ketergantungan berat 0-4 : Ketergantungan total 299. 293.19 : Ketergantungan ringan 9 . 297. . 287. 1 294.Mandiri 289.11 : Ketergantungan sedang 295. 296.

perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. yang menggunakan medan magnet. dan perubahan hubungan tulang. Pemeriksaan Penunjang  Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang. Pencegahan 1. Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Ca↓ pada imobilisasi lama. J.  CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Hambatan lingkungan termasuk . gelombang radio. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. Dll.  Pemeriksaan Laboratorium: 301. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.  MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus. - Hambatan terhadap latihan 304. tekstur. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. kardiovaskuler. noninvasive. Pencegahan primer 303. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot. pulmonal. 302. Hb ↓pada trauma. dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang.2. 305. Alkali Fospat ↑. Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur.

instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. diseimbangkan. Pencegahan Sekunder 309. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. Program latihan yang sukses sangat individual. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. dan mengalami peningkatan. Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. selama dan setelah aktivitas diberikan)  Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus)  Kesulitan yang dirasakan  Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan  Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) - Keamanan 308. 310.  Aktivitas saat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. 307. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik . - Pengembangan program latihan 306. 2. Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman.kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.

311.Asmadi. . Selain itu. 330. 318. 313. 2008. Jakarta : Salemba Medika. 320. Upaya mencegahkan terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain:  Perbaikan status gisi  Memperbaiki kemampuan monilisasi  Melaksanakan latihan pasif dan aktif  Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan bady aligmen (Struktur tubuh). 328. 314.DAFTAR PUSTAKA 332. 321. 322.  Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh. 331. 326. 333. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. 327. 312. 315. 325. 316. 323. 317. 334. 329. 319. 324.

2010.J. 2006. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. 342. 341. 346. 2007. Jakarta : EGC. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep. 340. Jakarta: Prima Medika 343. Budi.335. Edisi 4. Judith M. Jakarta: Salemba Medika 337. 1996.Kushariyadi.Tarwoto & Wartonah.Wilkinson. proses dan praktik.. New Jersey: Upper Saddle River 339. Askep pada Klien Lanjut Usia. . Jakarta : Salemba Medika. C. 347. 344.Santosa. 345. Jakarta : EGC. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC. et all. 2003. 2007. 338. 348.Mc Closkey.Perry & Potter. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. 336.