You are on page 1of 5

BUDAYA PERNIKAHAN DI NIAS

Umumnya aktivitas adat yang paling penting dalam adat NIAS adalah
perkawinan,selain dari peristiwa kematian.Pada masa dahulu, perkawinan di NIAS telah
ditentukan dari sejak anak kecil (ditunangkan). Tidak diperlukan persetujuan dari anak
gadisnya, bahkan setelah ia dipertunangkan sampai hari perkawinannya, si gadis tidak boleh
sama sekali menampakkan diri kepada tunangannya dan kaum kerabatnya, tradisi ini masih
berlaku sampai sekarang di pedesaan NIAS.
Perkawinan di NIAS umumnya dilakukan dalam system mengambil isteri diluar
clan/fam (marga-nya = System exogam) Di Nias berlaku adat eksogami mado dalam batas
batas tertentu.Artinya; seseorang boleh kawin dengan orang se-madonya (semarganya)
asalkan ikatan kekerabatan leluhurnya sudah mencapai 10 angkatan keatas (10 generasi).
Proses perkawinan di NIAS berjalan menurut peradatan daerah wilayah hukum adat
(fondrako) masing masing negeri ( Banua ) yang dipimpin oleh seorang Salawa/Sanuhe.
Bagi masyarakat Suku NIAS, Perkawinan adalah kehidupan yang harus diteruskan
diatas bumi ini. Perempuan dianggap sebagai sumber kehidupan. Mengawini perempuan di
NIAS disebut juga : MANGAI TANOMO NIHA (mengambil benih manusia) yang terdapat pada
pihak perempuan : disebut dengan istilah UWU/Sibaya atau Ulu (artinya=paman/saudara ibu).
Perempuan dilambangkan sebagai hulu (kehidupan) dan laki laki disimbolkan sebagai hilir
(kematian).Untuk memiliki kehidupan,lelaki harus melawan arus sungai (manoso) disebut
Soroi Tou,menuju hulu (pihak perempuan) yang berada diatas (ngofi) tepian sungai
kehidupan itu.

Tuha . kayu hutan. Tuha Sangaewangaewa. rumput. yaitu : 1.Gambaran melawan arus inilah yang merupakan symbol tradisi jujuran yang harus dibayar oleh fihak lelaki. perempuan diciptakan dari bahan yang hampir sama dengan bahan penciptaan laki-laki: kelopak putik yang jatuh dari pohon Tora’a. Sihai memberikan Perempuan kepada Laki-laki Perempuan yang diciptakan tadi diberikan Sihai kepada ciptaan pertama (sia’a womböi) . Buruti So’ungoi Ngaoma. Hoho ini tidak menceritakan proses yang lebih rinci seperti pada penciptaan laki-laki (peran Baliu dan Laelu tidak disinggung sama sekali). burung-burung di angkasa.Besarnya jujuran (bowo) yang dilaksanakan oleh lelaki. Ia menyerahkan kepadanya seluruh muka bumi (Teteholi Ana’a) beserta segala isinya (lumut. senyum tersungging di bibirnya. Hal ini tergambar dalam riwayat sejarah mitos NIAS tentang manusia. Tuha Sangaewangaewa) di hulu Sungai Zea di langit pertama (Teteholi Ana’a). Sihai menyerahkan kepadanya “yang sembilan jenis. Perempuan menjadi teman dalam segala hal: teman untuk memikul beban (berbagai masalah). sulur. Sebagai bukti cintanya. si siwa göla). maka dalam Hoho “Fomböi Böröta Niha” ini. Sihai mengambil kelopak putik yang jatuh di pangkal banir pohon Tora’a tersebut dan menjadikannya perempuan. sangat senang. Tuha Sangehangehao bergembira. Prosesnya pun hampir sama: pohon Tora’a bermayang dan berputik (tetapi tidak disebutkan apakah di bagian pucuk seperti pada penciptaan laki-laki). Namanya: Buruti Sangazöngazökhi. yang menjadi tuan seluruh alam. Manusia Pertama Ditempatkan dihulu Sungai Zea Sihai menempatkan manusia pertama tadi (Tuha Sangehangehao.Tuha Sangehangehao. yang sembilan bidang” (si siwa motöi. dsb.Jujuran (bowo) berarti budi baik. teman berdiskusi (samatohu fangerangera). 3. Manusia inilah wakil diri Sihai. menjadi ukuran prestise/harga diri dan kedudukan kasta pihak lelaki tersebut dalam lingkungan masyarakat adat sukunya. Hawa (Eva) diambil dari tulang rusuk Adam (manusia pertama). 2. Melihat pasangannya. ikan di laut. Penciptaan Perempuan Kalau dalam Kitab Suci Kristen.).

anak kancil “mengambil hati”. selalu damai. 4. Ia menyambutnya dengan kedua tangannya. 5. Fanu'a Bawi (Melihat Babi Adat). udang putih menari-nari ikut ceria dan bahagia. Mereka makan dari “piring” yang sama. burung enggang iri hati. Famekola.memanggil Buruti sebagai “si jantung hati”. sirih yang satu mereka bagi dua. 3. 2. ciptaan lain pun memberikan “kesaksian” dengan cara masing-masing: burung punai cemburu. Sihai sangat senang. melipatgandakan harta kekayaan mereka: hasil ladang melimpah. Sihai Gembira dan memberkati mereka Melihat segala kebaikan dalam pasangan ciptaannya. Suasana Kebersamaan Tuha Sangehangehao dan Buruti Sangazöngazökhi Hoho ini melukiskan dengan sangat indah. Zamolaya : Jamuan makan (penghormatan) pada pihak saudara laki ibu mertua dan saudara laki bapak mertua. ternak tak muat di kandang saking banyaknya. anak celeng terkagum. Sihai juga menambah-nambah kearifan dan akal budi mereka sehingga mereka tak pernah bertengkar. Mereka beranak cucu. juga ditambah dengan : 1. suasana pertemuan dan kebersamaan (hubungan) Tuha Sangehangehao dengan Buruti Sangazöngazökhi. Fangoro. 6. Secara umum tata urutan perkawinan adat NIAS dapat disebut sebagai berikut : 1.beratnya bowo (jujuran). kemesraan atau ke-ideal-an hubungan kedua insan ini. “putera dan puteri”. 5. 4. Ketika berjalan. langkah mereka serentak. Ia memberkati mereka. . Famatua (Pertunangan). Sumange : yaitu penghormatan pengantin pria terhadap ayah/ibu mertua + anak lelaki pertama (saudara si gadis) 2. Fanema Bola (Penentuan Jujuran). Buruti menjadi isteri “belahan diri” Tuha. Dalam perkawinan adat NIAS. ketika bekerja mereka saling mengajak. Melihat keinitiman. Mamaigi Niha (Mencari Jodoh).

Mahar dalam adat Nias ini juga mengandung isu-isu ketidakadilan gender yaitu dengan adanya istilah “Böli Gana’a” yang bermakna bahwa perempuan itu adalah bagaikan barang belian. 11. dan ana’a (emas). Fanga'i Bowo. babi 30 ekor. menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat Nias untuk menghindari besarnya biaya mahar yang harus diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. 9. Besarnya jumlah mahar perkawinan yang berlaku dalam adat perkawinan suku Nias menjadi salah satu pertimbangan bagi masyarakat Nias untuk melangsungkan sebuah pernikahan oleh karena itu melangsungkan perkawinan di daerah lain (di luar daerah Nias). emas (cincin untuk mempelai perempuan dan ibu mempelai perempuan). 30 juta. Fame'e (Nasehat Kepada Calon Mempelai). dan untuk perempuan. Konsekuensi dari istilah ini mengakibatkan kaum perempuan selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki. Upacara Lanjutan Setelah Perkawinan. böra (beras). firö (uang perak). Hal ini jugalah yang mendorong baik perempuan maupun laki-laki akhirnya lebih memilih melaksanakan pernikahannya di luar daerah Nias karena biasanya mahar perkawinan tergantung kesepakatan dan kemampuan pihak laki-laki yang datang melamar. tidak jarang sang isteri manjadi penopang utama hidup keluarga ketika suami tidak mau tahu dengan keluarganya. khususnya di daerah perkotaan. 8. dan beras 20 karung. tidak terikat tanggung jawab untuk membayar mahar yang besar. Folau Bawi (Mengantar Babi). bawi (babi). . Falowa (Pesta perkawinan di dua Tempat). 10. Jumlah mahar yang berlaku di daerah Nias terdiri dari kefe (uang kertas). perempuan harus memiliki kesanggupan untuk bekerja keras karena setelah berkeluarga pembayaran biaya mahar ketika melaksanakan upacara perkawinan cenderung merupakan tanggung jawab perempuan.7. Bagi masyarakat Nias. Dalam kehidupan rumah tangga. Jumlah uang kurang lebih Rp.

12.3.0323 SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN (STPP) MEDAN TAHUN 2012 .1.TUGAS MATA KULIAH APRESIASI BUDAYA Oleh : AGUSNALDO LEY NIRM : 01.