You are on page 1of 20

Arboretum Taman Nasional Kelimutu, Belajar dan Mengenal Lingkungan

Pendahuluan
AristotelessebagaiseorangahlifilsafatkunodariYunanipernahmengatakanpentingnyabelajar
dari pengalaman. Ia memberi sebuah nasehat, Apa yang harus kita pelajari, kita pelajari sambil
melakukannya(Whatwehavetolearntodo,welearnbydoing).Sedangkan,HowardGardnerseorang
ahlipsikologipendidikandariHarvardUniversitytelahmengidentifikasiperbedaanantarapendidikan
sekolahdanpendidikandiluarruangan(outdooreducation).Yangpertamabiasanyadisebutscholastic
knowledge.Pendidikanmodelinisudahpastidibatasisecaraketatolehsettingsekolahan.Sedangkan,
belajar di luar ruang lebih mengedepankan metodeconnected knowing(menghubungkan antara
pengetahuan dengan dunia nyata). Di sini, pendidikan dianggap sebagai bagian integral dari sebuah
kehidupan.
BalaiTamanNasionalKelimutudengankondisigeologis,floradanfaunayangunik,membukadiri
untukmenarikminatbelajarmasyarakatbaikyangmasihberadadibangkusekolahmaupunmasyarakat
umumuntukmempelajarirahasiaalamyangadadikawasanTamanNasionalKelimutu.Prosesbelajar
yang diberikan, dikemas dan ditawarkan sebagai fasilitas pendidikan dan penelitian botani (plant
sciences) sekaligus rekreasi alam (Botanical Gardens & Natural Habitat) yang dikenal dengan
arboretum.
TinjauanPustaka
KawasanTamanNasionalKelimutuyangmempunyailuastotal5356,5Haterbagidalam4(empat)
zona, yaitu: zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba, dan zona rehabilitasi. Zona pemanfaatan TN
Kelimutumempunyailuas96,5hadenganarealmeliputisepanjangkanandankirijalanmulaidariPos
JagasampaidenganPuncakKelimutu. LokasiArboretumterletakpadaketinggian1534mdplpada
posisi08.46.361LSdan 121.49.079BT.Jarakkekawahdanausekitar 50100m. Warnatanahnya
hitamdengankemiringansekitar40%namunadalokasiyangagaklandai.Denganluaskawasanyang
relatifsempitapabiladibandingkandenganluasantamannasionallainyangadadiIndonesia,Taman
NasionalKelimutuberupayauntukselalumemunculkandanmenampilkaninovasidenganpotensiyang
dimiliki.Dari4,5Hayangberadadizonapemanfaatan(96,5Ha)difungsikansebagaiarboretumTaman
NasionalKelimutu.
RumusandanAnalisaMasalah
1.Arboretumsebagaitempatbelajardialam
SetiappengunjungyangdatangkeTamanNasionalKelimutuselainmenyaksikankeajaibanalam
berupadanaukawahdengantigawarnaberbedajugadirayuuntukmencobasedikitbelajarmencintai
lingkungan dengan mengenal jenisjenis tumbuhan yang mendiami daratan Flores. Pengunjung bisa
menikmati suasana iklim mikro yang diciptakan karena keberadaan pohonpohon cemara gunung
(Casuarinajunghuniana)yangrataratamendominasisebagianbesarwilayaharboretumpadastratatajuk
bagianatas.

Pengunjungtidaklagidirepotkandenganjalanyangberatsepertiketikamenyusurihutanhutan
belantarapadaumumnya,akantetapikarenatujuandibuatnyaarboretumsebagaitempatwisata,belajar,
mengenalalambebasdanlingkunganmakadidalamarboretumdibuatkanjalantrackingdengansusunan
batualamyangbisadilewatidengansangataman.Jalantrackingyangadadibuatdenganjaraktracking
sekitar 1,5km, serta rute jalan trackingdiarahkan sedemikian rupa, sehingga setiap pengunjung yang
masukakanmelihatpemandanganarsitekturpohonunikdenganhawayangsudahpastisangatsegardan
sejuk.
2.ArboretumsebagaikatalogtumbuhanTamanNasionalKelimutu
Didalamarboretumterdapatsekitar100jenistumbuhanyangsemuanyamerupakanjenisjenis
yangjugabisaditemuiditempatlaindidalamkawasan.Sampaisaatiniarboretumterusdikembangkan
dengancaramelengkapikoleksitumbuhan(enrichmentplanting)yangtidakditemukandiarboretumtapi
beradadikawasanTamanNasionalKelimutu,prosespenanamaniniterusmenerusdilakukanhingga
arboretummenjadisebuahminiaturminidarivegetasiyangmendiamiseluruhkawasanTamanNasional
Kelimutu.Sehinggapengembanganarboretumtersebutmemilikinilaitambahsebagaipusatrisetflora
sertaekosistemdisampingfungsilainyangterpendamsebagaipelestarianlingkungantermasuktanah,air
sertahabitatvegetasianekatumbuhan.
Sebagaibentukbelajarmengenaljenisjenistumbuhan,setiaptumbuhanyangadadiberiidentitas
berupanamajenis,namalokaldanfamili.Sehingga,setiappengunjungbisalangsungmempraktekkan
denganmelihattumbuhanbesertanamajenissertafamilinyadandisinilahprosesbelajarmengenalalam
terjadi. Selain itu, dengan adanya arboretum ini akan mempermudah bagi para peneliti, mahasiswa,
masyarakat umum ataupun pihakpihak lain yang ingin mengenal atau meneliti mengenai jenisjenis
pohon yang ada di seluruh Kawasan Taman Nasional Kelimutu bisa dilakukan cukup dari kawasan
Arboretum dan tanpa harus susah payah pergi ketempat tegakan aslinya. Selain itu, didalam hutan
arboretum terdapat juga tumbuhan endemik kelimutu berupaBegonia kelimutuensis. Tumbuhan jenis
begoniainimenambahkeberagamanvegetasibawahkarenatumbuhdilantailantaihutan.Tumbuhanini
tumbuhbaikpadaketinggian13001500mdpl.
Satulagiyangmenambahkeinginanpengunjunguntukmenahanlangkahkakiuntukmeninggalkan
arboretum, dari arboretum pengunjung dapat menikmati nyanyian burung khas daratan Flores
yaituPachycephala nudigula nudigula. Burung ini mempunyai keunikan yang sangat khas, dimana
burunginimampumenirukanlebihdari15jenissuaradandapatberkicaulebihdari1jamtanpahenti
disaatsinarmataharipagimulaimemecahkabutdisekitarGunungKelimutu.Olehmasyarakatsekitar
(komunitasadatSukuLio),burunginilebihdikenaldengannamaburungGarugiwa.Bahkanmasyarakat
sekitaryangmempercayaiDanauKelimutusebagaitempatyangsangatsakralmasihmempercayaibahwa
burung ini sebagai burung arwah karena ketika berkicau burung ini susah sekali untuk dicari
keberadaanya,meskipundayajelajahbertenggernyayangrelatifmeratayaitumulaidaristratatajukatas
hinggastratatajukbawah.
KesimpulandanSaran
1.Kesimpulan

ArboretumTamanNasionalKelimutumerupakanwahanapendidikanlingkunganyangberadadi
zona pemanfaatan TN Kelimutu. Arboretum dibuat sebagai bentuk apresiasi TN Kelimutu dalam
menyediakanlayananpendidikanlingkungansebagaiupayamengenalkanlingkunganmelaluipengenalan
jenisjenistanamanyangtumbuhdikawasanTNKelimutu
2.Saran
Kedepan,masyarakatsekitarkawasandiharapkandapatmemanfaatkanadanyaarboretuminibukan
hanyasekedartempatberwisataakantetapisebagaitempatmenambahpendapatanfinasialmasyarakat.
Masyarakat dituntut mampu menjadiguideyang profesional dengan mampu menjelaskan jenisjenis
tumbuhanyangadadidalamarboretumlengkapdengansejarahnyasertamanfaatyangdapatdiambildari
tumbuhan yang hidup disana. Sehingga, visi Taman Nasional Kelimutusebagai
ModelPengelolaanKawasan Pelestarian Alam Berbasis Ekosistem Daratan FloresNTT melalui
pengembangan Ilmu Pengetahuan Biogeologis dan Ekowisata Berbasis Budaya Setempat untuk
menunjangkesejahteraanmasyarakatyangtertuangdalamrencanapengelolaanjangkapanjang2009
2029dapattecapai.Semuaituakanterlaksanaapabilaadadukungandankerjasamayangkooperatifdari
masyarakatsekitarkawasanTamanNasionalKelimutusertastakesholderterkait.
DaftarPustaka
Anonim.2005.SuratEdaranKepalaBiroKepegawaianNo:SE.02/Peg4/2005tanggal28Nopember2005perihal
Pedoman Penyusunan dan Penilaian Karya Tulis/ Karya Ilmiah Pejabat Fungsional di Departemen
Kehutanan,SekretariatJenderalDepartemenKehutanan.Jakarta.
Anonim. 2007. Laporan Akhir Studi Komunitas flora dan Fauna Taman Nasional Kelimutu. Balai Taman
NasionalKelimutu,DitjenPHKA,DepartemenKehutananbekerjasamadenganPusatPeneletianBiologi
LIPIBogor.EndeNTT.

aporan analisis vegetasi


ANALISIS VEGETASI DENGAN METODE KUADRAN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan
Disusun Oleh
Kelompok 8 :
Natassa W

140410080007

Dita Hardiansyah

140410080015

Yunia Rahma

140410080023

Siti Nurmalia

140410080030

Fidyaningrum Anandita

140410080035

Aji Badrunsyah

140410080044

M Pratama

140410080051

Farida Safitri

140410080052

Ria Yuliyanti

140410080073

Aulia Nurmalasari P

140410080082

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR

2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang

Metode kuadran umunya dilakukan bila vegetasi tingkat pohon saja yagng jadi bahan penelitiaan.
Metode ini mudah dan lebih cepat digunan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir
volumenya.
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup
bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi
yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi
atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan
oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan,
dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur. Selain itu dalam
suatu ekologi hutan satuan yang akan diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi
konkrit.
Ada berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya dengan
menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter. Metode ini sering sekali disebut
juga dengan plot less method karena tidak membutrhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan
hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk
melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkanwaktu yang sangat
lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vcegetasi kompleks
lainnya
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang ingin diketahui pada praktikum ini adalah:
1.
2.
3.

Seperti apakah komposisi dan dominansi pohon di daerah yang diamati.


Berapakah frekuensi dan kerapatan relatif dari vegetasi tersebut.
Adakah keragaman / diversitas di daerah itu.

1.3 Maksud, Tujuan dan Kegunaan Praktikum


Maksud dari praktikum ini adalah ingin mengetahui komposisi dan dominansi suatu spesies serta
struktur komunitas di suatu daerah.
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami dan mempraktekan metode
kuarter ini dengan baik di lapangan.

Kegunaan praktikum ini adalah dapat melatih mahasiswa untuk menganalisa struktur komunitas dan
komposisi tumbuhan yang terdapat di suatu daerah.
1.4 Waktu dan Tempat
Praktikum analisis vegetasi dengan metode kuarter dilakukan pada hari Selasa tanggal 26 Oktober
2010 pada pukul 08.22 sampai 11.00 WIB di Arboretum Universitas Padjadjaran dekat menara burung.
1.5 Metode Pengamatan
Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengumpulan data dengan metode
kuadran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Lokasi
Arboretum berasal dari bahasa latin arboreta (pohon) dan rium (tempat), dengan demikian arboretum
merupakan tempat atau wilayah untuk menanam pohon. Arboretum Universitas Padjadjaran (UNPAD)
tidak hanya menanam pohon tetapi juga terna, semak yang tumbuh di darat (terrestrial) maupun di
lahan basah atau berair (aquatik) yang ditujukan sebagai koleksi dan konservasi tumbuhan,terutama
tumbuhan langka Jawa Barat.
Arboretum seluas 12,5 ha merupakan suatu model yang kompleks. Wilayah arboretum terbagi dalam
beberapa ekosistem yaitu ekosistem kolam, sawah, kebun, ladang dan hutan.
Arboretum terbagi ke dalam beberapa zona, diantaranya zona tanaman obat, tanaman langka,
tanaman jati diri, tanaman bahan bangunan daan zona budidaya.
2.2 Tinjauan Umum
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi
atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa
vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh
untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah
petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam
contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan,
dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada
komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat
mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik
Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum
suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar

hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur
( Marpaung andre, 2009).
Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat
sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas. Sifat sifat individu ini
dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat
kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan
(density), atau banyaknya (abudance).
Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan
diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat itu
adalah (Dedy 2010) :
1.
2.
3.
4.

Ukuran petak.
Bentuk petak.
Jumlah petak.
Cara meletakkan petak di lapangan.

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup
bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi
yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme
lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan
yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda
pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu
berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk
(struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan,
stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis,
diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut.
Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu
komunitas tumbuhan.
Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri
dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuhtumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari (Andre, 2009) :
Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi
menjadi banyak subtangkai.
Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma).
Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar
dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.

Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak
bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak
anak daun.
Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun
merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak
panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan
memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai
utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Sedikit berbeda dengan inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon.
Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis random-sampling hanya
mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan
tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai systimatic
sampling, bahkan purposive sampling pun boleh digunakan pada keadaan tertentu (Irwanto, 2010).
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan
menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam
releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi
dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa
mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling
berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan
untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan (Simanung,
2009).
Dalam analisa vegetasi ini terdapat banyak ragam metode analisa diantaranya yaitu:
1. Dengan cara petak tunggal
2. Dengan cara petak berganda
3. Dengan cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak
4. Dengan cara-cara tanpa petak

Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian,
yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam
praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadran
(Simanung, 2009).
Metode Kuadran
Pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian.
Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan
menaksir volumenya.
Ada dua macam metode yang umum digunakan (Simanung, 2009) :
a. Point-quarter
Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu
titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap
sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masingmasing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang
terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik
pusat kuadran.
b. Wandering-quarter
) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar.
Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat
dengan titik pusat kuadran. Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya
digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif .Yaitu suatu metode dengan cara
membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan
menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90
Adapun parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung adalah (Andre, 2009) :
1)

Nama jenis (lokal atau botanis)

2)

Jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan

3)

Penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan

4) Diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk menghitung volume
pohon.
5) Tinggi pohon, baik tinggi total (TT) maupun tinggi bebas cabang (TBC), penting untuk mengetahui
stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui ditaksir ukuran volume pohon.

Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur
secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa
vegetasi, yaitu (Gapala, 2010) ;
1.

kerapatan (Density)

Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang
besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat
,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan
dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau
biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha
2.

Dominasi

Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal
ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran:
a)

Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density)

b)

persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA)

c)

Volume

d)

Biomas

e)

Indek nilai penting(importance value-IV)

Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalh LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan
cepat,yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter
breas heigt-dbh)
3.

Frekuensi

Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi
memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan
atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan.
Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm lima kelas berdasarkan besarnya
persentase,yaitu:

4.

Kelas
Kelas
Kelas
Kelas
Kelas

A dalam frekuensi 01 20 %
B dalam frekuensi 21-40 %
C dalm frekuensi 41-60%
D dalam frekuensi 61-80 %
E dalam frekuensi 81-100%

Indek Nilai Penting(importance value Indeks)

Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas(Contis dan
Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977).Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai
kerapatan relatif, dominasi relaif dan frekuensi relatif,sehingga jumlah maksimalnya 300%.
Praktik analisis vegetasi sangat ditunjang oleh kemampuan mengenai jenis tumbuhan (nama).
Kelemahan ini dapat diperkecil dengan mengajak pengenal pohon atau dengan membuat herbarium
maupun foto yang nantinya dapat diruntut dengan buku pedoman atau dinyatakan keahlian pengenal
pohon setempat,ataupundapat langsung berhubungan dengan lembaga Biologi Nasional Bogor.
Analisis vegetasi dapat dilanjutkan untuk menentukan indeks keanekaragaman ,indeks kesamaan,
indeks asosiasi, kesalihan, dll, yang dapat banyak memberikan informasi dalam pengolahan suatu
kawasan, penilaian suatu kawasan. Data penunjang seperti tinggi tempat, pH tanah warna tanah,
tekstur tanah dll diperlukan untuk membantu dalam menginterpretasikan hasil analisis.
Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori
yaitu :
1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan
dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda.
2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.
3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa
faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang
sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa
petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas
dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel
plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan
tertentu.
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan
menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam
releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi
dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa
mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling
berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan
untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian,
yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam
praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadran.
Metode Kuadran

Pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian.
Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan
menaksir volumenya.
Ada dua macam metode yang umum digunakan :a. Point-quarter
Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu
titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap
sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masingmasing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang
terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik
pusat kuadran.
b. Wandering-quarter
Yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal
pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90) yang berpusat pada
titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan
pendaftaran dan pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran
(Soegianto, 1994). Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan
pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif.
Analisis vegetasi hutan Lindung Aek nauli dalam kegiatan P3H dilakukan dengan metoda kombinasi
antara metoda jalur dan metoda garis berpetak dengan panjang jalur minimum adalah 12.500 m yang
bisa terdiri dari beberapa jalur, tergantung kondisi di lapangan. Di dalam metoda ini risalah pohon
dilakukan dengan metoda jalur dan permudaan dengan metoda garis berpetak (Onrizal & Kusmana,
2005).
Ukuran permudaan yang digunakan dalam kegiatan analisis vegetasi hutan adalah sebagai berikut:
a. Semai : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan setinggi kurang dari 1,5 m.
b. Pancang : Permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Pohon : Pohon berdiameter 10 cm atau lebih.
d. Tumbuhan bawah : Tumbuhan selain permudaan pohon, misal rumput, herba dan
aaaaaaaaaaaaaaaaaaa semak belukar.
Selanjutnya ukuran sub-petak untuk setiap tingkat permudaan adalah sebagai berikut:
(a) Semai dan tumbuhan bawah : 2 x 2 m.
(b) Pancang : 5 x 5 m.

(c) Pohon : 10 x 10 m.
Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran
tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang
atau lingkaran.
Metode kuadrat juga ada beberapa jenis:
a. Liat quadrat: Spesies di luar petak sampel dicatat.
b. Count/list count quadrat: Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada
beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies
yang ada di daerah yang diselidiki.
c. Cover quadrat (basal area kuadrat): Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah yag
tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang
diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari
vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman. Cara umum untuk
mengetahui basal area pohon dapat dengan mengukur diameter pohon pada tinggi 1,375 meter
(setinggi dada).
d. Chart quadrat: Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini ter-utama
berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap- tiap spesies
yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan pantograf dan planimeter. Pantograf
diperlengkapi dengan lengan pantograf. Planimeter merupakan alat yang dipakai dalam pantograf
yaitu alat otomatis mencatat ukuran suatu luas bila batas-batasnya diikuti dengan jarumnya
(Wahyu,2009).
BAB III
METODOLOGI
3.1. Metode Umum
Metode yang digunakan yaitu metode titik pusat kuarter (point centre of quarter method): analisa
vegetasi tumbuhan dengan mengukur diameter batang pohon yang terdekat dengan titik pusat
pengamatan. Tumbuhan yang diukur tidak hanya pohon, tetapi juga tiang, pancang, dan semai.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan pada praktikum kali ini adalah teknik survey yaitu dengan mencari lokasi yang
mewakili komposisi tumbuhan yang ada di suatu daerah, sedangkan pengumpulan data digunakan
metode kuarter.
Seperti cara Bitterlich, dibuat dulu garis kompas. Pada tiap titik pengamatan (pengukuran) dibuat
garis-garis kuadran. Dari tiap kuadran didaftarkan dan diukur satu pohin yang terdekat dengan titik
pengukuran dan diukur jaraknya masing-masing ke titik pengukuran.

3.3. Alat dan Bahan

Patok berfungsi untuk menandai daerah pengamatan.


Tali rapia berfungsi untuk membatasi garis transek.
Kompas berfungsi untuk menentukan arah garis transek.
Meteran berfungsi untuk mengukur lebar plot, panjang garis transek dan mengukur keliling

batang pohon.
Alat tulis berfungsi untuk mencatat data yang diperoleh.

3.4 Prosedur Pengumpulan Data


1. Bidiklah arah tertentu dengan menggunakan kompas untuk mebuat transek.
2. Garis transek dibuat sepanjang 30 meter untuk setiap kelompok kemudian ditentukan titik pusat
pengamatan tiap 10 meter.
3. Tentukan pohon yang terdekat dari titik pusat sesuai dengan arah mata angin dari keempat penjuru.
4. Jarak pohon ke titik pusat diukur, dan diameter pohon tersebut dihitung berdasarkan data keliling
batang pohon yang telah diukur setinggi dada.
5. Kemudian tabulasi data dibuat, dan dianalisis.
3.4. Analisis Data
3.4.1. Analisis Data Lapangan
Dari hasil pengukuran, diperoleh besaran-besaran sebagai berikut:
Jarak pohon rata-rata (d) = d1 + d2 + d3 +.+ dn
n
d1, d2, .., dn = jarak masing-masing
n

= banyaknya pohon

Kerapatan seluruh jenis =

Luas

(jarak pohon rata-rata)


Kerapatan mutlak = Jumlah pohon suatu jenis x Kerapatan dalam luas area yang
Jumlah pohon semua jenis

ditentukan

Kerapatan relative (%) = Jumlah pohon suatu jenis x 100%

Jumlah pohon semua jenis


Dominansi mutlak = Rata-rata basal area tiap jenis x kerapatan mutlak tiap jenis
Dominanasi relative (%) = Dominansi mutlak suatu jenis x 100 %
Jumlah total dominansi mutlak
Basal area dihitung dari tiap diameter pohon, kemudian menggunakan rumus:
Basal area = pr atau pD
Keterangan : r

= jari-jari pohon

D = diameter batang pohon


p = 3,14
Frekuensi = Jumlah plot ditemukannya suatu jenis
Jumlah seluruh plot
Frekuensi relative = Frekuensi dari suatu jenis x 100%
Frekuensi seluruh jenis
Nilai penting = Kr + Dr + Fr
3.4.2. Analisis Perkiraan, Korelasi, Evaluasi Data
Dari data yng diperoleh, dapat dianalisis struktur komunitasnya dengan menggunakan indeks
kesamaan, indeks keragaman, dan Evenness.
Untuk mengetahui indeks kesamaan komunitas dipergunakan rumus dari Sorensen berikut ini :
ISs = 2c x 100%
a+b
Keteranagn : ISs = Indeks kesamaan
a = Jumlah jenis pada lokasi pertama
b = Jumlah jenis pada lokasi kedua
c = Jumlah jenis yang ada pada kedua lokasi

Jika nilai ISs > 50%, maka pada daerah tersebut memiliki kesamaan komunitas.
Jika nilai ISs < 50%, maka pada daerah tersebut ada perbedaan komunitas atau bahkan tidak memiliki
kesamaan komunitas.
Untuk mengetahui diversitas jenis di suatu daerah digunakan rumus:
ID = 100 % ISs
H = - pi log pi
Dimana,

pi = ni/ N

Pi = perbandingan antara jumlah individu spesies ke-I dengan jumlah total individu
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
Tanggal

: 26 Oktober 2010

Waktu

: 08.22 selesai

Lokasi

: Arboretum Unpad dekat menara burung

Koordinat

: Garis lintang

65541.83S

Garis bujur 1074618.43T


Tabel 4.1.1 Analisis Vegetasi dengan metode kuadran
No

Titik Kuarter

Titik Kuadran

Nama spesies

Jarak pengamat ke pohon

Tectona grandis

10,4

Tectona grandis

Citrus maxima

5,7

Syzigium cuminii

8,86

Tectona grandis

Tectona grandis

6,8

Arthocarpus integra

Delonix regia

1
2

Sp A

13,40

Tectona garndis

3,5

11

Tectona grandis

6,3

12

Tectona grandis

2,5

10

Tabel 4.1.2 Analisis Data

No

Nama spesies

Ratarata d

Tectona
grandis

0,2292

0,041

Citrus maxima

0,1146

Syzigium
cuminii

DM

FM

KR (%)

0,583

0,0239

58,41

0,01

0,083

8,310-4

0,33

8,31

0,452

0,16

0,083

0,01328

0,33

8,31

Arthocarpus
integra

0,1433

0,016

0,083

1,32810-3

0,33

8,31

Delonix regia

0,2707

0,58

0,083

0,048

0,33

8,31

Sp A

0,0637

0,003

0,083

2,4910-4

0,33

8,31

Total

1,274

0,81

0,998

0,0876

2,65

99,96

Indeks Kesamaan Sorensen


Iss =
= = 36,36%
Indeks Diversitas
ID = 100%- Iss
= 100%- 36,36%
= 63,64%
Indeks Shannon wiener
HI =

BA

KM

Ratarata
jarak

7,455

7,455

Kerapatan

13,41

13,41

HI = (-1,349)
= 1,349
4.2 PEMBAHASAN
Praktikum ini mengenai analisis vegetasi dengan metode kuadran dimana pada metode ini
menggunakan titik kuarter untuk menghitung jarak dari pengamat ke pohon. Metode ini biasa
digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya.
Praktikum ini dilaksanakan tanggal 26 oktober 2010 pada pukul 08.22 WIB dengan kondisi cuaca
cerah. Praktikum ini bertujuan supaya mahasiswa dapat memahami dan mempraktikan metode
kuartaer ini dengan baik di lapangan. Tiap kelompok mendapat tansek sepanjang 30 m. Transek
tersebut dibagi menjadi 3 buah kuarter dengan tiap plot berjarak 10 m. Di tiap titik pusat plot tersebut
dibuat garis khayal sehingga membagi plot menjadi 3 kuarter, pada masing-masing kurter terdapat 4
kuadran. Dalam satu kuadran hanya didaftarkan satu jenis dari vegetasi pohon (termasuk didalamnya
kategori semai, pancang, tiang dan pohon), yang jaraknya paling dekat dengan titik pusat kuadran.
I II

Kuarter 1

Kuarter 2

IV III

II

IV III

II

I II

Kuarter 3
IV III

IV III

Karena metode kuadran ini merupakan metode plot less method, yang berarti Metode ini merupakan
salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat
tertentu. Oleh karena itu, bila dalam suatu kuadran dalam jarak yang dekat tidak terlihat adanya suatu
vegetasi pohon, maka pencarian bisa diteruskan sejauh mungkin sampai ditemukan jenis pohon yang
dimaksud, tetapi pohon tersebut masih berada di dalam daerah kuadran tersebut.
Cara ini terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar
secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan
susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).
Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m. Dari ketiga plot
tersebut dapat diketahui ada spesies dominan seperti Tectona grandis karena jenis spesies tersebut
terdapat hampir di setiap plot.
Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa FR terbesar ada pada jenis jati (Tectona grandis) dengan
nilai 37,74 %. Nilai ini menunjukkan bahwa jati (Tectona grandis) memiliki kehadiran yang tinggi di tiap
plot dibandingkan dengan spesies yang lainnya di mana jati di temukan di titik kuarter 1, 2, dan 3. KR
terbesar ada pada jenis jati (Tectona grandis) dengan nilai 58,41 % . nilai ini menunjukkan bahwa jati
memiliki kerapatan yang tinggi bila dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Sedangkan nilai DR
terbesar ada pada flamboyan (Delonix regia) dengan nilai sebesar 54,79 %. Nilai ini menunjukkan
penutupan tajuknya besar. Sedangkan nilai INP nya adalah 299,93. Indeks Kesamaan Sorensen
memiliki nilai 36,36% (< 50%), maka lokasi tersebut memiliki komunitas berbeda atau vegetasi

penyusun pada masing-masing lokasi beragam. Sedangkan indeks diversitasnya adalah 63,64%, nilai
ini menunjukan keragaman yang tinggi.
Spesies Syzigium cuminii dan Tectona grandis kuarter 1 kuadran 2 termasuk kategori pohon dewasa
karena memiliki diameter lebih dari 35 cm, spesies Tectona grandis di kuarter dan kuadran
lainnya, Citrus maxima, Delonix regia, Arthocarpus integra termasuk kategori tiang, yaitu pohon
dengan diameter antara 10-35 cm, dan spesies A termasuk kategori pancang (sampling) .
Bentuk kehidupan dari spesies tumbuhan biasanya memiliki karakteristik yang tetap. Namun spesies
yang sama dapat menerima bentuk kehidupan yang berbeda ketika tumbuh dibawah kondisi
lingkungan yang berbeda. Vegetasi dapat diklasifikasikan kedalam struktur tanpa menunjuk pada
nama spesies. Ini telah dibuktikan terutama dalam floristik lokasi yang belum dijamah, dan dalam
lokasi dimana vegetasi tidak dapat diklasifikasikan dengan mudah dengan spesies yang dominan.
Ketinggian tumbuhan digunakan sebagai kriteria dalam klasifikasi bentuk kehidupan. Walaupun,
berbagai bentuk kehidupan dapat memberikan pemikiran khusus dari stratifikasi atau pelapisan dalam
komunitas.
Arboretum bukan merupakan ekosistem alami, melainkan ekosistem semi atau buatan sehingga ada
campur tangan manusia yang menyebabkan tumbuhan dalam arboretum tersebut beragam
(heterogen). Walaupun pada awalnya penanaman pohon di arboretum dilakukan secara merata
menurut komunitas yang akan diciptakan. Ternyata bila dianalisis secara vertical, strata atau
penyebaran kanopi tidak merata kerapatannya. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kompetisi
antar species tumbuhan di arboretum (selain oleh kerusakan manusia) dalam memperoleh sinar
matahari, air dan nutrisi-nutrisi yang ada dalam tanah.
KESIMPULAN
1. Komposisi vegetasi tumbuhan dari Analisis vegetasi dengan metode kuadran
adalah Tectona grandis. Citrus maxima,Sizygium cuminii,Delonix regia, Arthocarpus integra dan Sp A.
sedangkan dominansinya adalah Tectona grandis.
2. Frekuensi relatif total dari vegetasi tersebut adalah 99,99 % sedangkan kerapatan relativ total dari
vegetasi tersebut adalah 99,96%.
3. Terdapat keragamannya dilihat dari nilai Iss ( indeks kesamaan sorensen ) sebesar
36,36% yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki komunitas berbeda atau vegetasi
penyusun pada masing-masing lokasi beragam.
DAFTAR PUSTAKA
Ande marpaung. 2009. http://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan- bagaimanamempelajari-analisa-vegetasi/ diakses tanggal 9 november 2010
Andre.2009.Apa dan Bagaimana Mempelajari Analisa
Vegetasi.http://boymarpaung.wordpress.com/ 2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisavegetasi/. Diakses pada 8 November 2010.

Dedy 2010 http://dydear.multiply.com/journal/item/15/Analisa_Vegetasi diakses tanggal 9


aaaaaanovember 2010
Michael, M. 1992. Ekologi Umum. Jakarta: Universitas Indonesia.
Polunin, N. 1990. Ilmu Lingkungan dan Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Simanung. 2009.Analisis Vegetasi. http://bpkaeknauli.org/index.php?
option=comcontent&task=view&id =18&Itemid=5 Diakses pada 8 November 2010.
Swanarmo, H, dkk. 1996. Pengantar Ilmu Lingkungan. Malang: Universitas Muhammadyah.
Wahyu, Ikhsan. 2009. Analisis Vegetasi. http://biologi08share.blogspot.com/2009_04_01_ archive.html.
Diakses pada 22 Oktober 2010