LAPORAN KASUS

Fraktur Supra Condiler Lateral Sinistra

Di Susun Oleh Rini Aryani 01.205.5068 Pembimbing Klinik Bagian Orthopedi : dr. Basuki Widodo, Sp.OT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2009

LAPORAN KASUS Fraktur Supra Condiler Lateral Sinistra

Case Report Pre-Op Orif Plate Anamnesa Identitas pasien Nama Usia : An. Rizky : 9 tahun

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang post jatuh waktu bermain bola di sekolah, posisi jatuh tangan ekstensi menahan beban tubuh. Waktu kejadian sadar, keluhan lengan kiri sakit saat digerakkan, bentuk lengan bengkok. Riwayat Alergi obat : Pemeriksaan Pemeriksaan Lokalisasi : Nyeri pada lengan kiri, deformitas Pemeriksaan penunjang : elbow AP dan lateral : frkatur suprakondiler sinistra. Diagnosis :Fraktur Supra Condiler sinistra Planning : Pembedahan; Orif Plate

Post Op Orif Plate Anamnesis : Pusing (-),Mual (-), Muntah (-), BAB (+), Flatus (+), nyeri jika lengan kiri digerakkan (+), baal

(-), Kesemutan (-) Pemeriksaan Fisik Inspeksi Palpasi Movement : bengkak pada tangan kiri (+), Pucat (-) : Akral distal hangat (+), Pulsasi (+), Rabaan (+) : Fleksi jari-jari (+), dorso fleksi pergengan tangan (+) tapi sedikit nyeri, palmar fleksi (+) sedikit nyeri,fleksi dan ekstensi siku (-) Karen sangat nyeri, tahanan otot (-) Kekuatan otot lengan kiri :2 Discusion Definisi dan klasifikasi Fraktur supra condiler merupakan dimana humerus patah tepat di atas condilus, fragmen distal terdesak ke belakang dan terpuntir ke dalam. Fraktur supra condiler dibagi 2, yaitu : 1. Tipe ekstensi/ posterior Tipe ini dikarenakan posisi jatuh, benturan pada siku dalm posisi ektensi dengan tangan yang terfiksasi. Fragmen distal humerus akan terdislokasi kearah posterior terhadap humerus. 2. Tipe fleksi/anterior Tipe ini dikarenakan posisi jatuh, telaak tangn dengan tang dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.

Pemeriksaan Klinis Gambaran Klinik. Setelah jatuh anak merasa nyeri dan siku bengkak; namun deformitas pada-S pada sku biasanya jelas dan kontur tulang abnormal.Nadi perlu di raba dan sirkulasi perlu diperiksa, dan tang harus diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya bukti cedera saraf. Pemeriksaan fisik. Periksa ada tidaknya gangguan peredaran darah den lesi pada saraf tepi. Jika penderita mengeluh tentang keempat gejala setempat dengan tanda P, yaitu Pain (nyeri), Parestesia, Pale(pucat),dan paralisis harus dicurigai adanya sindrom kompartemen yang dapat mengakibatkan kontraktur miogen iskemia Volkmann. Sindrom ini ditemukan diekstremitas atas setelah cedera sekitar siku atau lengan atas etelah cedera sekitar siku atau lengan bawah. Kontraktur Volkmann adalah kontraktur miogen akibat iskemik dan nekrosis otot lengan bawah karena obstruksi pendarahan, biasanya karena patah tulang humerus supracondiler. Tanda dini ialah nyeri bila jari tangan di ekstensikan secara pasif. Kontraktur ini pada umumnya berupa kontraktur fleksi seluruh jari yang sukar ditanggulangi sebab otot berubah menjadi fibrosa. Ciri-ciri sindrom kompartemen yaitu : Nyeri pada keadaan istirahat Parestesia Pucat (pale) Paresis/paralisis Denyut nadi hilang (pulse) Jari diposisi fleksi Gangguan diskriminasi dua titik (two points discrimination test) Tekanan tinggi di dalam kompartimen (pressure)

Sinar-X. Fraktur terlihat paling jelas pada foto lateral. Fraktur yang bergeser ke posterior sering

ditemukan, garis fraktur berjalan secara oblik ke bawah dan ke depan dan fragmen distal bergeser ke belakang. Fraktur yang bergeser ke anterior garis fraktur bersifat oblik dan lebih rendah di posterior, fragmen miring ke depan. Foto anteroposterior sering sulit diperoleh tanpa menyebabkan nyeri dan mungkin perlu ditunda hingga anak itu telah dianestesi. Ini dapat membuktikan bahwa fragmen distal bergeser atau miring ke samping dan berotasi (biasanya ke medial). Penanganan Penanggulangan fraktur humerus suprakondiler pada anak prinsipnya adalah reposisi dan imobilisasi. Reposisi dilakukan dalam anestesi umum, pasien tidur terlentang, asisten memegang langan atas pada ketiak pasien, operator menarik lengan bawah dengan siku dalam posisi ekstensi. Bila telah dicapai reposisi, perlahan-lahan sambil tetap menarik lengan bawah, siku difleksiskan sambil diraba arteri rdialis. Bila a. radialis masih teraba, fleksi siku dapat ditambah. Fleksi maksimal akan menyebabkan tegangnya otot trisep, dan ini akan memfiksasi reposisi lengan baik, tetapi ada bahaya gangguan peredaran darah. Kemudian dipasang bidai gips dengan lengan bawah dalam posisi pronasi bila fragmen distal dislokasi kearah medial, atau dalam posisi supinasi bila fragmen distal kea rah lateral. Evaluasi Foto rongen 1 minggu kemudian, karena 1 minggu bengkak dan hematom berkurang dan menyebabkan kendurnya gips. Gips yang baik dipertahankan selama 3 minggu, setelah 3 minggu gips dibuka dan diganti mitela agar pasien dapat latihan fleksi dan ekstensi dalam mitela. Jika reposisi gagal maka dilakukan reposisi operatif. Reposisi operatif ada 2 cara yaitu traksi kulit dan traksi tulang.

-

Kontraktur siku tidak pernah boleh dipaksakan gerak dengan atau tanpa anestesi. Pemulihan fungsi fleksi lebih penting pada kontraktur sendi daripada pemulihan fungsi ekstensi

-

Perhitungkan selalu sikap faali ekstremitas, yaitu sendi siku sekurang-kurangnya 90o, lengan bwah dalam posisi tengah antara pronasi dan supinasi, serta sendi pergelangan tangan dalam sikap dorsofleksi ringan.

Komplikasi 1. Dini a. Cedera pembuluh darah b. Cedera saraf 2. Belakang a. Miositis osifikans b. Kekakuan siku c. Mal-union

Daftar Pustaka Appley, A. Graham, 1995, Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Appley Ed.7, Jakarta : Widya Medika De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC