2016

Stikes Katolik
St. Vincentius a Paulo
Surabaya
Kemahasiswaan

[CERITA TERSISA]
Service LearningMahasiswa Fu Jen University – Taiwan
di Stikes Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya 1 - 15 Agustus 2016

Tanggal 1 Agustus 2016 pk. 10.30
pesawat yang membawa rombongan
mahasiswa Fu Jen University dari Taiwan
datang bersama dua orang dosen pendamping,
Dr. Pei-Yuh Huang dan Sr. Valentine SSpS,
mendarat di Bandar Udara Juanda Terminal
2. Malam itu dengan kelelahan sesudah
perjalanan 8 jam dari Taipe, mereka masih
memberikan senyumannya yang tulus ketika
disapa. Diwajahnya nampak keingintahuan
yang sangat besar akan segala sesuatu yang
akan ditemuinya. Kesan sangat sopan dan
menghargai orang lain sangat terasa dari
mereka, bahkan tak seorang pun merasa perlu
dibantu dibawakan tasnya.
Segera setelah itu, mobil membawa
mereka ke tempat penginapan. Keteraturan
hidup mereka nampak malam itu ketika
mereka memeriksa kamar dan merasa perlu
membeli beberapa alat yang mereka butuhkan,
seperti shampoo, pasta gigi dan sikat gigi.
Sesudah semuanya siap, mereka masuk
kekamar masing-masing, sesuai dengan
pembagian. Tidak ada sedikitpun protes
dengan teman sekamarnya.
Benar-benar
teratur.
Keterbatasan bahasa tidak menjadikan
tembok diantara mahasiswa Taiwan dan yang
dari Indonesia. Hanya ada satu peristiwa
malam itu yang membuat tersenyum. Ketika
itu sang ketua kelompok mahasiswa Fu Jen
menanyakan keberadaan Sr. Valentine,
pendamping mereka:“Where is my Sister?”,
mahasiswa Stikvinc yang menjemput tidak
menyadari yang dimaksud „Sister‟ adalah
suster. Maka mereka bertanya-tanya,”Do
your sister come with you?”. Namun ketika
hati bicara, akhirnya dimengerti kalau yang
dimaksud adalah Sr.Valentin.

Kedatangan mahasiswa dari Fu Jen University ke
Indonesia, khususnya ke Stikes Katolik St. Vincentius a
Paulo Surabaya, adalah untuk melakukan pelayanan
(service). Program tersebut diprakarsai oleh pihak universitas untuk mengisi libur musin panas mereka.
Dikatakan pelayanan karena mengajar dengan sukarela.
Sasarannya adalah luar negri, untuk memberi kesempatan
mahasiswa mempunyai pengalaman di luar negri. Selain itu
sasaran tempatnya adalah Negara yang sedang berkembang
atau belum berkembang. Sisi lain dari program ini adalah
untuk menimbulkan rasa empati, karena rata-rata
mahasiswa datang dari keluarga berkecukupan.
Keesokan harinya, tanggal 2 Agustus 2016, para
mahasiswa Fu Jen menjadi tamu para Suster SSpS yang
merayakan kaul beberapa suster. Mereka menuturkan
sangat suka dengan hidangan makanan pada siang hari itu,
karena tidak jauh berbeda dengan makanan keseharian
mereka yakni tidak terlalu berbumbu.
Hari pertama di Stikes pada tanggal 3 Agustus 2016,
diisi dengan acara pembukaan resmi oleh Ketua Yayasan
Pendidikan
Kesehatan Arnoldus, Sr. Augusta SSpS,
kemudian dilanjutkan

Hasil Karya belajar selama sehari. Tidak mengecewakan!

dengan saling memperkenalkan diri. Mula-mula
mahasiswa Fu Jen memperkenalkan diri dalam bahasa
Inggris. Menyadari bahwa kemampuan berbahasa
Inggris-nya tidak jauh berbeda, para mahasiswa
Stikvinc menjadi lebih percaya diri dalam
memperkenalkan diri.
Meski saat itu hari minggu, ada 15 orang
mahasiswa Stikvinc yang datang. Hari tersebut
peserta belajar membuat kaligrafi dan gelang dari tali
yang disimpul. Topik ringan yang banyak diminati.
Hari itu ada beberapa tamu yang khusus datang
untuk belajar kaligrafi dan menyimpul tali. Tampak
ada Sr. Maria yang sangat tertarik belajar Kaligrafi
Cina, juga Sr. Antonia dan Sr. Ignata yang tertarik
juga untuk belajar simpul menyimpul tali.
Ada sedikit keterbatasan dalam komunikasi dari
kedua belah pihak, namun pembelajaran berjalan
dengan baik. Dalam sehari itu, tidak ada lagi rasa
canggung di antara para mahasiswa. Keterbukaan
hati para mahasiswa membawa keakraban yang
tercermin dalam canda gurau serta tawa yang terus
mengalir dalam setiap kegiatan.

Selain belajar kaligrafi dan
menyimpulkan tali menjadi gelang,
peserta juga diajarkan beberapa
ketrampilan yang berasal dari
budaya Tiongkok. Salah satunya
adalah „Cutting Paper‟ alias
menggunting. Berbeda dengan
pelajaran yang diberikan pada
kelas taman kanak-kanak, kertas
yang digunting membentuk
hiasan. Hiasan bisa berupa
tulisan karakter Tiongkok, seperti
kaligrafi, dan membentuk
lingkaran. Masih berhubungan
dengan kertas, peserta juga
diajarkan Origami alias melipat.
Kertas yang dilipat bisa menjadi
burung dan yang lain. Sehari itu
para peserta menghasilkan banyak
hasil karya tangan mereka

Sesudah mampu mengembangkan
ketrampilan tangannya dalam
menggunting dan melipat, peserta
kemudian juga diajak mempelajari
olah raga khas Tiongkok, yakni
Taichi. Bukan hanya belajar
gerakan, tetapi juga diajarkan
falsafah dan manfaatnya. Dalam
satu jam para peserta sudah bisa
mengolah raganya menjadi lebih
sehat, terlihat dari keringatnya
yang mengucur dari sekujur tubuh
mereka

Suasana menyenangkan yang terjadi, membuat apapun mudah dipahami

Selain memperkenalkan ketrampilan
tangan dan olah raga, para mahasiswa juga
memperkenalkan bahasa Mandarin. Belajar
bahasa asing yang berasal dari budaya yang
sama seklai berbeda, membuat sedikit
kesulitan. Banyak konsonan yang berbeda
yang bagi mahasiswa Indonesia sama,
ternyata harus diucapkan secara berbeda.
Bila ditanya kesan yang paling pertama
muncul adalah “capek mulutnya‟, karena
harus membentuk bibir dan mulutnya agar
mengeluarkan bunyi dan ucapan yang „pas‟.
Dibalik kesulitan tersebut, entah
karena keuletan yang belajar atau cara
mengajarnya yang menarik, entah karena
usia yang sebaya, pembelajaran tersebut
dengan cepat dapat diserap. Hasilnya
mahasiswa Indonesia bisa bermain game dan
simulasi percakapan di rumah sakit, antara
pasien, keluarganya dan petugas kesehatan
dalam bahasa mandarin!

Selain bahasa, budaya juga bisa
dienjawantahkan dalam bentuk
kuliner.
Sebagaimana mahasiswa
merasakan makanan Indonesia sebagai
bagian dari budaya Indonesia,
mahasiswa Fu Jen juga membawa
beberapa makanan Taiwan yang ingin
diperkenalkan. Mulai dari minuman
„milk tea‟ dengan „bubble‟-nya, hingga
kue-kue diperkenalkan.
Sebagian
makanan tersebut mirip dengan yang
ada di Indonesia. Mungkin dahulu
nenek moyang dari Tiongkok
membawanya dan mengembangkan
dengan rasa Inodensia.
Sayang
masakan
Taiwan
tidak
bisa
diperkenalkan……


Berkomunikasi lewat kuliner

Bila mahasiswa Fu Jen memperkenalkan budayanya lewat ketrampilan tangan, olah raga dan kulinernya, maka
mahasiswa Stikvinc memperkenalkan budaya Indonesia yang sangat Indah, yakni toleransi. Kedatangan mereka yang
bersamaan dengan pesta para Suster Abdi ROh Kudus, membuat mereka mengalami budaya Katolik di Indonesia. Tiga
hari berselang, juga kebetulan ada perayaan Idul Fitri, maka mahasiswa dan staf Stikvinc yang merayakan Idul Fitri
mengundang mereka untuk datang merayakan bersama mereka. Ada beberapa kebiasaan yang mereka kenal, kebiasaan
mencium tangan dari yang yunior kepada yang senior belum pernah mereka lihat sebelumnya, atau dibawakan makanan
sepulang dari berkunjung cukup membuat mereka bingung.
Selain mengalami perayaan Idul Fitri mereka juga sempat berkunjung ke masjid Cheng-Ho Surabaya. Diluar
ekspektasi mereka, masjid Cheng-Ho yang ditemui berwarna merah da berarsitektur Tiongkok. Jauh dari bayangan
mereka mesjid yang putih dan tipikal timur tengah arsitekturnya. Yang ini hanya ada di Indonesia Guys!

Selain memperkenalkan budaya muslim di Indonesia, mahasiswa Fu Jen juga diperkenalkan dengan budaya
Hindu Bali. Mereka diajak ke Pura Jagad Ageng Karana di Perak. Memasuki Pura yang tenang, seolah setiap orang
tersihir ikut tenang. Sang Pemangku Adat menjelaskan setiap detail pojok Pura yang penuh nilai filosofis. Sedang
berjalan sekeliling Pura, tiba-tiba hujan datang menitik, membasahi peserta yang turut. “Itu pertanda baik, doanya
akan dikabulkan”, kata sang Pemangku Adat. Puas berjalan disekeliling Pura, akhirnya semua peserta diberi
kesempatan untuk menerima air suci dan diperkenankan berdoa dengan caranya masing-masing. Jadilah setiap orang
berdoa sesuai caranya sendiri sendiri…….

Tiba-tiba saja suasana Bali terasa begitu kental, setiap orang mendapat bunga di belakang telinganya


Bila rasa nyaman itu ada
Waktu berjalan tanpa terasa
Semua berjalan dengan lancar
Semua diterima dengan lapang hati
Yang menjadi sulit adalah
Mengatakan selamat jalan….
Maka katakan
Sampai jumpa Lagi
NEVER SAY GOOD BYE

