You are on page 1of 122

ANALISIS PENDUGAAN EROSI, SEDIMENTASI, DAN

ALIRAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL AGNPS
BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI SUB DAS JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN

DEVIANTO TINTIAN LONDONGSALU

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN
DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

ANALISIS PENDUGAAN EROSI, SEDIMENTASI, DAN
ALIRAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN MODEL AGNPS
BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI SUB DAS JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEVIANTO TINTIAN LONDONGSALU
E14203005

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN
DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
Devianto Tintian Londongsalu (E14203005). Analisis Pendugaan Erosi,
Sedimentasi, dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis
Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi
Selatan. Dibimbing oleh Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan penggunaan lahan di wilayah
Sub DAS Jeneberang, memberi dampak negatif dan berpengaruh nyata terhadap
kondisi DTA Jeneberang Hulu, dimana tingkat kekritisan lahan telah mencapai
53.471 ha dan cenderung terus meningkat. Sejalan dengan semakin meluasnya
areal lahan kritis tersebut, pada beberapa tahun terakhir ini kondisi hidrologis
DTA Jeneberang Hulu menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun.
Banjir dan longsor terjadi pada setiap musim hujan dan kekeringan di musim
kemarau. AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution Model) merupakan
salah satu metode pendugaan yang dapat memprediksi aliran permukaan (banjir),
erosi dan dapat digunakan untuk melakukan simulasi penggunaan lahan yang
optimal dalam mengurangi laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak. Dalam
menganalisis menggunakan model AGNPS diperlukan parameter-parameter
masukan model meliputi masukan data curah hujan jangka pendek dan parameter
biofisik. Pengolahan data spasial dalam input data, manipulasi dan tampilan data
model AGNPS serta mengidentifikasi dan memetakan keluaran model AGNPS
dapat dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini
bertujuan mengetahui akurasi model AGNPS dalam menduga laju erosi,
sedimentasi, dan debit puncak menggunakan parameter input yang tersedia,
memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA Jeneberang Hulu terhadap
pengurangan laju erosi, sedimentasi, dan debit puncak.
Penelitian ini dilakukan pada DTA Jeneberang Hulu yang terletak di
Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Pengambilan data dan
pengolahan/analisis data dilakukan pada bulan Mei hingga November 2007.
Bahan yang digunakan adalah data curah hujan harian, debit harian, sedimen
harian selama 11 tahun, peta digital topografi/kontur, peta digital penutupan
lahan, peta digital jenis tanah, dan peta digital jaringan sungai. Sedangkan alat
yang digunakan adalah seperangkat komputer dengan beberapa software, yaitu
AGNPS versi 3.65.3, ArcView versi 3.2 + extension, Minitab 14, dan Microsoft
Office, alat tulis, alat hitung dan alat penunjang lainnya. Metode penelitian
meliputi pengumpulan data dasar berupa peta penutupan lahan, peta kontur, peta
jenis tanah, peta jaringan sungai, dan data curah hujan, pengolahan data curah
hujan, transformasi proyeksi peta, pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA),
pembuatan grid sel model AGNPS, penurunan atribut-atribut DTM, pembangkitan
data masukan model AGNPS dengan SIG, pemasukan data ke model AGNPS,
analisis keluaran data model AGNPS, pengujian validasi model AGNPS, analisis
simulasi dan rekomendasi.
Hasil keluaran model pada DTA Jeneberang Hulu dengan masukan curah
hujan harian rata-rata terbesar pada hari hujan tanggal 1 Januari sebesar 31,66 mm
dan nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25,89 m.ton.cm/ha/jam,
diperoleh besarnya volume aliran permukaan pada outlet sebesar 0,76 mm, debit

679. dan sedimen total yang tertinggi masing-masing sebesar 172. Dengan besarnya erosi harian dalam kurun waktu setahun yang terjadi sebesar 1011.382. dan debit puncak memberikan hasil lebih rendah dari data pengukuran lapangan (under estimation) sehingga memerlukan faktor koreksi.20 m3/detik dengan volume air hujan yang menjadi aliran permukaan 2.puncak aliran permukaan sebesar 3.80 ton/ha/tahun. . dan laju sedimentasi adalah dengan mempertahankan penggunan lahan yang ada sekarang kecuali tegalan dan semak belukar perlu dirubah kedalam bentuk penggunaan lahan yang menyerupai hutan alam produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih atau hutan alam tidak terganggu di bagian hulu. Faktor koreksi untuk kasus DTA Jeneberang Hulu dapat menggunakan persamaan QpLap = 1. 222523.15 ton/ha.02 ton/ha.85 ton/ha dan sedimen total sebesar 12577. Pemanfaatan lahan yang optimal dalam mengurangi debit puncak aliran permukaan. maka tingkat bahaya erosi yang terjadi di DTA Jeneberang Hulu dapat dikategorikan sangat berat.86 ton. sedangkan di bagian bawah yang relatif lebih datar menerapkan kebun campuran dengan sistem agroforestry.21 mm. Model AGNPS dengan parameter input menggunakan data yang relatif tersedia di Indonesia (hujan harian dan data sekunder fisik DAS) dalam menduga laju erosi. 12236. sedimentasi.734 QpMod0. QsLap = 1.29 %. laju erosi permukaan.36 m3/detik. debit puncak aliran permukaan. Penutupan lahan berupa tegalan/ladang memberikan kontribusi volume aliran permukaan. 40.698 QsMod0. laju sedimen sebesar 1. laju erosi permukaan. Besarnya laju erosi pada outlet sebesar 29.2 ton.

dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Pendugaan Erosi. Sedimentasi. Bogor. E14203005 . Maret 2008 Devianto Tintian Londongsalu NRP.

Sedimentasi. M. Ir. Dekan Fakultas Kehutanan (Dr. M.Judul : Analisis Pendugaan Erosi. dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan. Dosen Pembimbing (Dr. 131 578 788 Mengetahui. Agr) NIP. Hendrayanto. Nama : Devianto Tintian Londongsalu NIM : E 14203005 Menyetujui. 131 578 788 Tanggal Lulus : . Hendrayanto. Agr) NIP. Ir.

dan debit puncak. penelitian dan penyusunan skripsi dengan baik sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan. dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan. sedimentasi. sedimentasi. Bogor. Institut Pertanian Bogor.KATA PENGANTAR Puji-pujian dan ucapan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan di masa yang akan datang. Penyusun menyadari bahwa skripsi penelitian ini masih jauh dari sempurna. dengan judul Analisis Pendugaan Erosi. Sehingga diharapkan dapat memberikan informasi kepada Balai Pengelolaan DAS Jeneberang-Walanae dalam hal penggunaan lahan optimal dalam rangka pengelolaan DAS yang terpadu dengan upaya mengurangi laju erosi. Dengan tujuan untuk mengetahui akurasi model AGNPS dalam menduga laju erosi. dan debit puncak menggunakan parameter input yang tersedia dan memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA Jeneberang Hulu terhadap pengurangan laju erosi. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni hingga November 2007 adalah karateristik hidrologi. dan debit puncak. Maret 2008 Penulis . karena atas kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah. Semoga skripsi penelitian ini dapat memberikan manfaat yang baik. Sedimentasi. sedimentasi.

penulis melaksanakan Praktek Pengenalan Hutan di Baturaden (BKPH Gunung Slamet KPH Banyumas Timur) dan Cilacap (BKPH Rawa Timur KPH Banyumas Barat) dan Praktek Pengelolaan Hutan di Kampus Lapangan UGM Getas. Sebangun Bumi Andalas Wood Industries (PT. . Pada bulan Februari hingga April 2007.Agr. dan Hidrologi Hutan. Pengaruh Hutan. Dalam melaksanakan studi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Ir. Selain itu juga. KPH Ngawi. dan SMU Negeri 2 Makassar lulus tahun 2003. penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Budidaya Hutan. dan Aliran Permukaan Menggunakan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis di Sub DAS Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan” di bawah bimbingan Dr. SBAWI). dan panitia Temu Manager (TM) 2005. Jurusan Manajemen Hutan. Pada tahun 2006. SLTP Katolik Garuda Ujung Pandang lulus tahun 2000. SD Frater Teratai I Ujung Pandang lulus tahun 1997. Pada tahun 2003. penulis melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul ”Analisis Pendugaan Erosi. penulis aktif di berbagai organisasi/pelayanan dan kepanitiaan diantaranya Pengurus Ikatan Pemuda Toraja Bogor (IPTOR). Penulis menempuh pendidikan di TK Frater Teratai I Ujung Pandang lulus pada tahun 1991. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Propinsi Sumatera Selatan. Komisi Pelayanan Anak PMK-IPB. Hendrayanto. Inventarisasi Sumberdaya Hutan. penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di HTI PT. penulis menjadi asisten praktikum mata kuliah Ilmu Ukur Hutan. Sulawesi Selatan pada tanggal 28 Desember 1985 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Drs. Yusuf Londongsalu (ayah) dan Yuliana Paibang (ibu). Sedimentasi. M. Persekutuan Fakultas Kehutanan.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ujung Pandang. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Wulan. Agustina. dan Ibu Ester Battung sek. Staf. BPDAS Jeneberang-Walanae atas bantuan penyediaan data dan kerjasamanya. Oleh karena itu. DEA selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata atas saran. Gani. Teman-teman Komisi Pelayanan Anak PMK-IPB. Ibu Yosefina (BPDAS Saddang). Yusuf Londongsalu). 5. KSH 40. 4.. Ir. Robby. Ir . MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Dr. Rasa syukur dalam proses penyelesaian kuliah. serta staf administrasi Departemen Silvikultur dan Departemen Manajemen Hutan atas bantuan dan kerjasamanya. MM). mahasiswa bimbingan seperjuangan (Sahab dan Rimba). Aan. Yanto Santosa. penulis mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Daud Solo. Bpk. Fredy. Ir. terkhusus Kepala BPDAS (Ir.UCAPAN TERIMA KASIH Salam sejahtera bagi kita semuanya. Jamal. Bagus Ari. baik secara langsung maupun tidak langsung. pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Jefrianto). pengertian. masukan dan nasehatnya. Teman-teman “Wisma Sony” (Gerta. Mas Ibrahim. Bapak Yusuf G Rantelembang (Dinas Kehutanan Kab. Ibu Damaris. Nyoman. 6. Jerri) dan kedua kakekku yang senantiasa memberikan doa.) atas bantuan dan dukungannya yang diberikan kepada penulis selama melaksanakan kuliah dan penyelesaian skripsi. Helmi Basalamah. GETAS II. dosen dan teman-teman seperjuangan di Laboratorium Pengaruh Hutan (Veve. PKL (SBA crew) atas kebersamaannya selama ini.G Togu Manurung. Hudi. 12. masukan dan nasehat selama proses penyelesaian skripsi. Ibu Lena. Suleman Paibang sek. THH 40. Dr. Bpk.) dan Makassar (Bpk. Mas Arga. Asep. Tana Toraja). penelitian dan penyusunan skripsi ini. Bpk. Bpk. Veve. Bpk. BDH “silvikulturist40” atas semangat dan doanya selama penantian ujian sidang. Ayah (Drs. Ifa Sari). Rura. M. Ir. 10. MScF dan Ir. Robert “PGT”. teman-teman MNH 40. Segala pujian dan hormat bagi kemuliaan Allah Bapa di Sorga penulis panjatkan atas kasih dan pimpinan penyertaan-Nya. Arnianti. MS atas segala materi. Prijanto Pamoengkas. 3. dan dorongannya. 2. bantuan. dan Bapak Nata (Balai Diklat Kehutanan Makassar) atas bantuan dana dan kerjasamanya dalam pelaksanaan penelitian. Ibu (Yuliana Paibang). Kupli. sepupuku (Jeklin. Anggit. Sucahyo Sadiyo. Yoga. God Bless Us (GBU). 9. Subiyanto. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis. dan Embro “Dormitory”) atas bantuan dan semangat yang diberikan.Agr selaku dosen pembimbing atas semua bimbingan/arahan. Sriyono. Kunang-kunang kecilku (Wulan dan Novi Bu-er).. sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan skripsi ini dengan baik. dukungan. Nyoman Aries. 7. E. Keluarga di Jakarta (Ibu Meti Paibang sek. semangat. Pither Tangko. Syaiful. Dr. . 8. Hendrayanto. dan Bpk. kakak-adikku (Yusran. Persekutuan Fakultas Kehutanan (PMK-E) dan Ikatan Pemuda Toraja Bogor (IPTOR) atas semangat dan dukungan yang diberikan. Dr. 11. Cipta. Novia Tri (abank). dan Fauzan atas bantuan yang diberikan dalam proses pengolahan data dan penyusunan skripsi. saran dan nasehat yang diberikan selama penantian sidang.

.........................................7 Pemasukan Data ke Model AGNPS .........................................................................1 Latar Belakang .. 1......3.......................... 2..3..............9 Pengujian validasi model AGNPS ........................................................................................ BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.......6.................... 2......... viii DAFTAR LAMPIRAN .............5.......................4 Pembuatan Grid Sel Model AGNPS ....................................................................................... 1 3 3 4 5 5 6 7 8 9 10 11 12 13 13 14 16 17 18 18 19 20 20 21 22 27 34 36 36 37 ............................. 3.........................3 Persamaan dalam Model AGNPS .............6 Pembangkitan Data Masukan Model AGNPS dengan SIG ........................1 Pengolahan Data Curah Hujan ................................... i DAFTAR TABEL .....3....................................................................................................................5................ iv DAFTAR GAMBAR .............................................5......................3 Sedimentasi ...............10 Analisis Simulasi dan Rekomendasi .............................................. ix BAB I PENDAHULUAN 1........ 2................... 2..2 Transformasi Proyeksi Peta .5 Erosi ...............1 Masukan Data Model AGNPS ....................2 Tujuan Penelitian ..... 3.....3............3...............6 Model AGNPS ................... 2...............................................................3 Pendekatan Sistem DAS dengan Menggunakan Sistem Model ..................2 Keluaran Model AGNPS ................ 3..............................5.... 3.......................................... 2........... 2......................... 3..............................................................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..........................................1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..3.2 Tingkat Bahaya Erosi ............. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2......2 Penggunaan Lahan .....................................................................8 Analisis Keluaran Data Model AGNPS .......1 Daerah Aliran Sungai ....... 3............................ 2...........2 Bahan dan Alat ...........................................................................3..................... 3....... 2................................................................... 2......................................3 Manfaat Penelitian .................. 3. 3..........3 Pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA) .............7 Sistem Informasi Geografis .............5 Penurunan Atribut-atribut DTM .............................. 2.... 2..............4 Aliran Permukaan ....................3 Metode Penelitian .............6.............4 Prediksi Erosi dan Sedimentasi ................... 3........ 3..........6.................1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi ...............3............3........................................ 2......................................3........... 3................ 1.............................

..............................7........ 5......... 4......................................................7............ 5.BAB IV KARATERISTIK LOKASI PENELITIAN 4...................1 Hubungan Curah Hujan dengan Debit ................................................. .......................4 Jaringan sungai ........................................................................7.........................4 Skenario IV .................... 4....................................7....................6 Pengujian Validasi Model AGNPS ............................... 5...... 4..........................................................................8 Kependudukan .................................3 Tanah dan Geologi ............................................................................................................. 4................................................... 40 40 43 45 45 48 48 49 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5........... 74 .................................................... 70 6...................7 Debit Aliran .............3 Debit Puncak Aliran Permukaan ........... 4..................2 Saran .. 4.............................. 71 LAMPIRAN ………................ 4....................................................................8 Rekomendasi ........ 70 DAFTAR PUSTAKA .....................6 Iklim … ..................... 5.....................1 Letak dan Luas ........................... 5................................................... 5.1 Kesimpulan .. 5...............2 Topografi .................... 5............................................................................ 5.....................................5 Penggunaan Lahan ............................................................................................................................................................. 5................................5 Sedimen Total ........................................................... 5.............. 50 50 52 54 56 58 60 61 62 64 65 67 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6......................................4 Laju Erosi Permukaan dan Sedimentasi ...........................2 Skenario II ..7 Analisis Simulasi ..................................................................2 Volume Aliran Permukaan .......................1 Skenario I ...................3 Skenario III .........................

....... Luasan kemiringan lereng DTA Jeneberang Hulu .............. Nilai arah aliran antara hasil ArcView dengan masukan model AGNPS ..... Rekapitulasi sedimen total pada berbagai penutupan lahan . Rekapitulasi volume aliran permukaan pada berbagai penutupan lahan ..... Keluaran sedimen pada outlet DTA Jeneberang Hulu ..... konstanta kondisi permukaan (SCC).. 46 12.................................................... Nilai faktor erodibilitas tanah (K) dan tekstur tanah (T) di DTA Jeneberang Hulu .... 37 5.................... 38 6......... 57 23............. 52 20. 31 4.... bentuk wilayah DTA Jeneberang Hulu ..................................... 47 14. 49 17. Debit aliran rata-rata dalam setahun (2001-2005) ... Luasan jenis penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu ............................... Halaman 1. bahan induk....... Gowa tahun 2002 ....... 48 16... Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario IV ...................................... Rekapitulasi laju erosi permukaan pada berbagai penutupan lahan ............ Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario I ............. 9 2........ 44 10.....DAFTAR TABEL No.. Nilai masukan tekstur model AGNPS .... Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario III ....................................... Nilai koefisien kekasaran Manning (n)............................ ..... 63 .................. 48 15... Luasan jenis tanah.............. 39 8.. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario II ........................................................... 39 7.................................. dan bilangan kurva aliran permukaan (CN) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu ........... 51 19........ 54 21......................... Kelas Tingkat Bahaya Erosi ...................................... 25 3.............. Rekapitulasi debit puncak aliran permukaan pada berbagai penutupan lahan .................... Curah hujan rata-rata dalam setahun (2001-2005) ................. 49 18. Jumlah penduduk Sub DAS Jeneberang di Kab..... Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu ........................ 45 11........................ Hasil simulasi skenario I keluaran model AGNPS .................................................................................... 47 13................ 55 22................................... Hasil simulasi skenario II keluaran model AGNPS ............. 41 9......... 61 24..................................... Nilai faktor tindakan konservasi tanah (P) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu .................................................................................... .............................

................... Rekapitulasi persentase (%) pengurangan keluaran model dari nilai awal (base) setelah dilakukan simulasi .................................. 66 27........................ 67 ................ Hasil simulasi skenario IV keluaran model AGNPS .......................25..... 64 26................ Hasil simulasi skenario III keluaran model AGNPS .

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

1. Peta lokasi penelitian ................................................................................. 17
2. Alur tahapan penelitian .............................................................................. 19
3. Arah-arah aliran dari suatu sel khusus dinyatakan dengan angka 1-128 ...... 24
4. Bentuk representasi akumulasi aliran ......................................................... 26
5. Peta jaringan sungai DTA Jeneberang Hulu ............................................... 27
6. Analisis spasial dan pembangkitan data model AGNPS .............................. 28
7. Masukan data inisial model ........................................................................ 34
8. Masukan data setiap sel model ................................................................... 35
9. Peta kelas lereng DTA Jeneberang Hulu ..................................................... 41
10. Peta elevasi DTA Jeneberang Hulu ............................................................ 42
11. Peta grid arah aliran DTA Jeneberang Hulu setelah penghilangan sink ....... 43
12. Peta jenis tanah DTA Jeneberang Hulu ...................................................... 44
13. Peta penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu .............................................. 46
14. Dinamika curah hujan harian dengan debit DTA Jeneberang Hulu .............. 50
15. Peta penyebaran volume aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu ............. 51
16. Peta penyebaran debit puncak aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu ..... 53
17. Peta penyebaran laju erosi permukaan DTA Jeneberang Hulu .................... 55
18. Peta penyebaran sedimen total DTA Jeneberang Hulu ................................ 57
19. Hubungan QpMod. dengan QpLap. ............................................................ 59
20. Hubungan QsMod. dengan QsLap. ............................................................. 60
21. Peta penggunaan lahan skenario I ............................................................... 62
22. Peta penggunaan lahan skenario II ............................................................. 63
23. Peta penggunaan lahan skenario III ............................................................ 65
24. Peta penggunaan lahan skenario IV ............................................................ 66
25. Perbandingan penurunan keluaran model berbagai skenario ....................... 68

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Nilai erodibilitas tanah untuk 50 jenis tanah di Indonesia ........................... 75
2. Faktor tindakan konservasi tanah (P) .......................................................... 76
3. Faktor pengelolaan tanaman (C) ................................................................. 77
4. Koefisien kekasaran Manning (n) untuk berbagai jenis saluran.................... 78
5. Faktor konstanta kondisi permukaan (SCC) dan bilangan kurva aliran
permukaan (CN) ........................................................................................ 82
6. Peta-peta grid nilai C, P, SCC, CN, dan erodibilitas (K) ............................. 83
7. Parameter-parameter masukan model AGNPS ........................................... 86
8. Contoh hasil keluaran model AGNPS ...................................................... 102
9. Hasil analisis regresi keluaran Minitab versi 14 ........................................ 105

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan yang semakin
pesat mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia terhadap sumberdaya lahan.
Eksploitasi sumberdaya lahan yang berlangsung sangat intensif menyebabkan
bentuk-bentuk pemanfaatan lahan yang dilakukan di dalam suatu wilayah daerah
aliran sungai (DAS) sering tidak memperhatikan dampak negatif yang
ditimbulkannya. Bentuk-bentuk pemanfaatan lahan tersebut antara
penebangan liar, perladangan berpindah,

lain:

konversi hutan alam menjadi

penggunaan lahan yang lain, pembangunan perumahan dan industri di daerah
resapan air, dan penggunaan lahan yang tidak menerapkan prinsip konservasi
tanah dan air.
Tindakan-tindakan tersebut menimbulkan terjadinya tekanan yang berat
terhadap kelestarian sumberdaya lahan yang pada akhirnya mengakibatkan
terjadinya degradasi lahan. Peningkatan tingkat degradasi lahan mengakibatkan
fungsi hidrologis dari DAS tersebut tidak berjalan dengan baik yang dicirikan
dengan terjadinya fluktuasi debit aliran permukaan yang tinggi, peningkatan laju
erosi, dan sedimentasi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya banjir pada musim
hujan, kelangkaan air pada musim kemarau, dan mempercepat proses
pendangkalan sungai dan waduk, sehingga umur teknis bengunan tersebut
menjadi berkurang dan biaya pemeliharaan semakin meningkat.
Wilayah DTA Jeneberang Hulu merupakan bagian dari (Sub) DAS
Jeneberang yang termasuk prioritas penanganan konservasi tanah sesuai surat
keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, dan Menteri
Pekerjaan Umum No. 19 tahun 1984, No. 059/Kpts-II/1985 dan No.
124/Kpts/1984 yang dalam pengelolaannya perlu mendapat perhatian khusus.
DTA Jeneberang Hulu ini merupakan daerah tangkapan air untuk Dam Serbaguna
Bili-bili, yang dibangun untuk memenuhi kepentingan penyediaan air minum bagi
penduduk Kota Makassar, Sungguminasa dan sekitarnya, irigasi sawah di daerah
bagian hilir seluas ± 30.000 ha, pembangkit tenaga listrik dan sarana rekreasi

kemiringan lereng yang relatif curam. dan debit banjir (puncak) diperlukan upaya penanggulangan. tanah. Demikian pula luas areal yang mengalami erosi berat di Sub DAS Jeneberang bagian hulu mencapai 33.902. (BPDAS JeneberangWalanae 2003).269 ha. sedimentasi. Untuk mengurangi laju erosi. salah satunya melalui penggunaan lahan secara optimal dalam mereduksi laju erosi. dan debit puncak. dan areal ini hampir seluruhnya berada di bagian hulu DAS Jeneberang (BPDAS Jeneberang-Walanae 2003). erosi. Dalam menganalisis menggunakan model AGNPS . dimana tingkat kekritisan lahan telah mencapai 53.471 ha dan cenderung terus meningkat (BPDAS JeneberangWalanae 2003).(BPDAS Jeneberang-Walanae 2003). sedimentasi.36 ton/ha/tahun. serta bentuk penggunaan lahannya. pada beberapa tahun terakhir ini kondisi hidrologis DTA Jeneberang Hulu menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. dan debit puncak. Banjir terjadi pada setiap musim hujan dan kekeringan di musim kemarau (BPDAS Jeneberang-Walanae 2003). Sejalan dengan semakin meluasnya areal lahan kritis tersebut. berdampak negatif dan sangat berpengaruh nyata terhadap kondisi DAS Jeneberang. Semakin tingginya tingkat degradasi lahan di bagina hulu DAS Jeneberang mengakibatkan fungsi Bendungan Bili-bili menjadi tidak optimal. dan sedimentasi dengan hasil yang baik (Galuda 1996) dan dapat digunakan untuk melakukan simulasi penggunaan lahan yang optimal dalam mengurangi laju erosi. sedimentasi. pada saat ini diantaranya terjadi pendangkalan di bendungan akibat laju sedimentasi dan erosi yang semakin tinggi sebesar 37. dan banjir bagi daerah hilir DAS bersangkutan. Dengan berkembang pesatnya pemukiman dan penggunaan lahan di wilayah Sub DAS Jeneberang bagian hulu. AGNPS (Agricultural Non-Point Source Pollution Model) merupakan salah satu model terdistribusi yang dapat memprediksi aliran permukaan (banjir). DTA Jeneberang Hulu juga berperan sebagai pengendali sedimentasi. Erosi yang terjadi di Sub DAS Jeneberang bagian hulu sangat erat kaitannya dengan kondisi geologi. yaitu jenis batuannya yang mudah lapuk. topografi dan vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut. serta penutupan vegetasi yang kurang.

maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. sedimentasi. untuk itu perlu dicoba menggunakan parameter masukan model yang umum tersedia.diperlukan parameter-parameter masukan model meliputi masukan data curah hujan jangka pendek dan parameter biofisik. Parameter masukan AGNPS seringkali tidak tersedia. 1. yakni diketahuinya ketelitian pendugaan parameter output model sehingga diketahui faktor koreksinya dan memberikan informasi kepada Balai Pengelolaan DAS Jeneberang-Walanae dalam hal penggunaan lahan optimal dalam upaya mengurangi laju erosi. 2. .3 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian. Mengetahui akurasi model AGNPS dalam menduga laju erosi. sedimentasi. Memperoleh bentuk penggunaan lahan optimal di DTA Jeneberang Hulu terhadap pengurangan laju erosi. dan debit puncak. sedimentasi. 1. dan debit puncak. yaitu curah hujan harian. dan debit puncak menggunakan parameter input yang tersedia.2 Tujuan Penelitian Berdasarkan dari latar belakang serta masalah yang ada.

tanah. Pengetahuan karateristik DAS dan alur sungai dapat dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. bagian hulu dari suatu DAS merupakan daerah yang mengendalikan aliran sungai dan menjadi suatu kesatuan dengan bagian hilir yang menerima aliran tersebut. 2. dimana ketiganya saling berinteraksi dan saling ketergantungan membentuk sistem hidrologi (Haridjaja 2000). Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau catchment area) yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam (tanah.BAB II. Pengetahuan tersebut sangat membantu dalam melaksanakan pekerjaan hidrometri. . TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan Daerah Tangkapan Air (DTA) adalah suatu wilayah daratan yang menerima air hujan. Secara makro. dan tata guna lahan. merencanakan pos duga air. 3. Setiap DAS terbagi habis ke dalam sub DAS-sub DAS. melaksanakan survei lokasi pos duga air. dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam (Asdak 2004). abiotik (tanah. vegetasi. Menurut Soewarno (1991). menampung dan mengalirkannya melalui satu outlet atau tempat peruntukannya (Departemen Kehutanan 1998). Sedangkan menurut Seyhan (1990) berpendapat bahwa DAS dapat dipandang sebagai suatu sistem hidrologi yang dipengaruhi oleh presipitasi (hujan) sebagai masukan ke dalam sistem.1 Daerah Aliran Sungai Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung. DAS mempunyai karakteristik yang spesifik yang berkaitan erat dengan unsur-unsur utamanya seperti: jenis geomorfologi. antara lain : 1. DAS terdiri dari unsur: biotik (flora dan fauna). dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. geologi. Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. topografi. air. analisa debit. air. dan iklim) dan manusia.

2. Perubahan penggunaan lahan tidak akan membawa masalah yang serius sepanjang mengikuti kaidah konservasi tanah dan air serta kelas kemampuan lahan. perubahan lahan akan berpengaruh langsung terhadap karateristik penutupan lahan. Hidrologi deskriptif membahas uraian konsep-konsep dasar dan proses yang menyatu dan berinteraksi satu sama lain. penggunaan lahan merupakan bentuk kegiatan manusia terhadap sumberdaya alam lahan baik bersifat permanen atau sementara. erosi dan sedimentasi (Seyhan 1990). mengalami perubahan secara terus-menerus. skema atau prosedur riil dan abstrak yang saling berhubungan dengan waktu tertentu yang memberikan suatu masukan yang menimbulkan suatu dorongan berupa materi. 2. Teori hidrologi disajikan dalam dua bentuk. Penyajian secara kuantitatif dari konsep dan proses hidrologi menimbulkan persamaan-persamaan matematika disebut juga model matemetika. yaitu deskriptif dan kuantitatif. Fenomena ini ditujukan oleh respon hidrologi DAS yaitu yang dapat dikenali melalui produksi air. Konsep-konsep dan proses-proses diperoleh dari pengamatan. Hidrologi kuantitatif menyajikan gambaran dan teoriteori yang disajikan dalam serangkaian angka yang diperoleh dari pengukuran dan perhitungan. pemikiran dan pengambilan kesimpulan.2 Penggunaan Lahan Penggunaan lahan diartikan setiap bentuk interaksi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Arsyad 2000). yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan baik material maupun spiritual. alat. Dooge (1968) dalam Triandayani (2004) mendefinisikan sistem adalah sembarang struktur.3 Pendekatan Sistem DAS dengan Menggunakan Sistem Model. sehingga akan mempengaruhi sistem tata air DAS. dan informasi. energi. Sistem DAS merupakan sub-sistem hidrologi. Dari aspek hidrologi. Penggunaan lahan merupakan proses yang dinamis. sebagai hasil dari perubahan pola dan besarnya aktifitas manusia. kemudian . Menurut Candra (2003). Menurut Martin (1993) dalam Candra (2003) perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lain diikuti oleh berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain pada suatu waktu ke waktu berikutnya.

simpanan depresi. Infiltrasi akan berlangsung terus selama kapasitas lapang belum terpenuhi atau air tanah masih di bawah kapasitas lapang. . Apabila hujan terus berlangsung dan kapasitas lapang telah dipenuhi. Karena DAS merupakan suatu ekosistem. tanah. 1995 dalam Salwati 2004). (1981) dalam Sutiyono (2006) menyatakan bahwa aliran permukaan tidak akan terjadi sebelum evaporasi. danau. karena merupakan pengangkut bagian-bagian tanah (Arsyad 2000). maka kelebihan air hujan tersebut sebagian akan tetap berinfiltrasi yang selanjutnya akan menjadi air perkolasi dan sebagian digunakan untuk mengisi cekungan atau depresi permukaan tanah sebagai simpanan permukaan (depression storage). intersepsi. Di daerah beriklim basah. dan laut (Acherman et al.menghasilkan keluaran (output) sebagai akibat atau respon dari informasi. Input yang berupa curah hujan akan berinteraksi dengan komponen-komponen ekosistem DAS (manusia. tambatan permukaan dan tambatan saluran (channel detention) terjadi. energi dan materi tersebut. maka setiap ada masukan ke dalam ekosistem tersebut dapat di evaluasi proses yang telah dan sedang terjadi dengan cara melihat keluaran dari ekosistem tersebut. Curah hujan yang jatuh di atas permukaan tanah pada suatu wilayah pertama-tama akan masuk ke tanah sebagai aliran infiltrasi setelah ditahan oleh tajuk vegetasi sebagai intersepsi.4 Aliran Permukaan Aliran permukaan merupakan air yang mengalir di atas permukaan tanah dan merupakan bagian dari curah hujan yang mengalir ke sungai atau saluran. infiltrasi. sungai) dan pada gilirannya akan menghasilkan keluaran berupa debit. Model dan simulasi merupakan penyederhanaan dari sistem serta merupakan sintesis yang mencoba merinci mekanisme yang bekerja pada sistem. Schwab et al. sehingga perilaku berbagai penyusun sistem yang tergolong penting dan diketahui (Doodge 1973 dalam Salwati 2004). 2. vegetasi. muatan sedimen dan material lainnya yang terbawa oleh aliran sungai (Asdak 2004). bentuk aliran yang mengalir di kenal sebagai aliran permukaan inilah yang penting sebagai penyebab erosi.

dan kelembaban. dan es. erosi terutama disebabkan oleh air hujan (Rahim 2003). vegetasi yang tumbuh. Menurut Arsyad (2000). Menurut Asdak (2004). intensitas hujan. angin. temperatur. vegetasi dan manusia. elevasi dan topografi. erosi terjadi akibat interaksi kerja antara faktor iklim. 2. Serta kondisi atau sifat DAS yang meliputi: kadar air tanah awal. distribusi hujan. geologi dan tanah. luas lahan kritis atau daerah erosi dan luas tanah berkedalaman rendah. . Di daerah tropis seperti Indonesia. Kecuraman dan panjang lereng merupakan faktor topografi yang berpengaruh terhadap debit dan kadar lumpur. kelebihan air hujan diatas sebagian menguap atau terevaporasi walaupun jumlahnya sangat sedikit (Haridjaja 2000). lama hujan. tanah. pengangkutan (transportation). Erosi percikan adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos. Haridjaja (2000) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah dan laju aliran permukaan pada dasarnya dibagi menjadi dua hal yaitu iklim yang meliputi tipe hujan. ukuran dan bentuk DAS.Selanjutnya setelah simpanan depresi terpenuhi. kelebihan air tersebut akan menjadi genangan air setebal beberapa centi atau sebagai tambatan permukaan (detention storage). Faktor tanah yang mempengaruhi erosi dan sedimentasi yang terjadi adalah : luas jenis tanah yang peka terhadap erosi. Faktor iklim yang paling berpengaruh terhadap erosi adalah intensitas curah hujan. baik disebabkan oleh pergerakan air. dan pengendapan (sedimentation).5 Erosi Erosi tanah didefenisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain. angin. proses erosi terdiri atas tiga bagian yang berurutan: pengelupasan (detachment). Erosi permukaan (tanah) disebabkan oleh air hujan dan juga dapat terjadi karena tenaga angin dan salju. curah hujan. topografi. Beberapa tipe erosi permukaan yang umum dijumpai di daerah tropis adalah: 1. Sebelum menjadi aliran permukaan.

dan 4) penutupan lahan. keseragaman. Erosi selokan/parit adalah erosi yang membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan lebar serta merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur. yaitu: 1) iklim. s. dan arah lereng. 2) jenis tanah. jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi.5. Unsur lain yang berpengaruh adalah: konfigurasi. E : erosi s : tanah i : iklim m : manusia r : topografi v : vegetasi Pada daerah yang beriklim basah menurut Arsyad (1989). erosi merupakan akibat dari interaksi kerja antara faktor. 3. m) Dimana.faktor iklim. v. Sedangkan pengaruh vegetasi terhadap . 3) panjang lereng dan kemiringan lereng. Menurut Arsyad (1989). dan manusia yang dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut : E = f (i.2. 5. 2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Erosi Schwab et al. r. Jumlah intensitas dan distribusi (pembagian) hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah. Erosi alur adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan pertikel-pertikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air. topografi. faktor topografi yang berpengaruh terhadap erosi adalah kemiringan dan panjang lereng. vegetasi. Erosi kulit adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air aliran (runoff). Erosi tebing sungai adalah pengikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai. (1981) dalam Sutiyono (2006) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi erosi. faktor iklim yang paling mempengaruhi erosi dan aliran permukaan adalah hujan. Menurut Knisel (1982) dalam Asdak (1995). 4.

Faktor tindakan konservasi tanah (P) yang dilakukan oleh manusia merupakan nisbah besarnya erosi dari lahan dengan tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi dari suatu lahan yang tanpa dilakukan tindakan konservasi. Penentuan tingkat bahaya erosi menggunakan pendekatan tebal solum tanah yang telah ada dan besarnya erosi sebagai dasarnya. dan tingkat kesuburan tanah. bahan organik. sifat lapisan tanah. Peranan manusia merupakan faktor utama dalam proses erosi. Sedangkan menurut Arsyad (2000). struktur. kerapatan vegetasi. Pengaruh vegetasi terhadap erosi terutama ditentukan oleh derajat penutupan lahan dari vegetasi. peranan tersebut dapat bersifat positif maupun negatif.erosi yaitu: 1) intersepsi hujan oleh tajuk. kedalaman. kerapatan tanah. kandungan bahan organik. 2. Semakin dangkal solum tanahnya . Erodibilitas tanah (K) merupakan nilai yang menunjukkan kepekaan tanah terhadap pengelupasan dan transportasi partikelpartikel tanah oleh adanya energi kinetik air hujan. dan kandungan air (Schwab et al. 3) pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan biologis yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif dan pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah. Efektivitas pengendalian erosi oleh vegetasi ditentukan oleh tinggi dan luas penutupan tajuk.5. dan kerapatan perakaran (Morgan 1990). dan 4) transpirasi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkurang. 1981 dalam Sutiyono 2006). Sifat-sifat fisik tanah yang mempengaruhi erosi adalah: tekstur. sifat-sifat yang mempengaruhi erosi adalah: tekstur. Faktor pengelolaan tanaman (C) merupakan nisbah besarnya erosi dari tanah yang ditanami tanaman dengan pengelolaan (manajemen) tertentu terhadap erosi dari suatu lahan yang tidak ditanami. struktur. Manusia berperan positif apabila tindakan manusia yang dilakukan dapat mengurangi besarnya kehilangan tanah (Arsyad 1989). 2) mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air.2 Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Tingkat bahaya erosi adalah perkiraan kehilangan tanah maksimum dibandingkan dengan tebal solum tanahnya pada setiap unit lahan bila teknik pengelolaan tanaman dan konservasi tanah tidak mengalami perubahan.

. Sedimen umumnya mengendap di bagian bawah bukit. Sedangkan menurut Asdak (2004). Sedimen yang dihasilkan dari proses erosi dan terbawa oleh suatu aliran akan diendapkan pada suatu tempat yang kecepatan airnya melambat atau berhenti disebut dengan sedimentasi (Arsyad 2000). di daerah genangan banjir. Proses sedimentasi dapat memberikan dampak yang menguntungkan dan merugikan.berarti semakin sedikit tanah yang boleh tererosi. dan waduk. erosi parit atau jenis erosi tanah lainnya. Dikatakan menguntungkan karena pada tingkat tertentu adanya aliran sedimen ke daerah hilir dapat menambah kesuburan tanah serta terbentuknya tanah garapan baru di daerah hilir. Tetapi. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan.5. sehingga tingkat bahaya erosinya sudah cukup besar meskipun tanah yang hilang belum terlalu besar. sungai. sedimen adalah hasil proses erosi baik berupa erosi permukaan. 1998 Keterangan : 0 – SR I–R II – S III – B IV – SB 2.3 = sangat ringan = ringan = sedang = berat = sangat berat Sedimentasi Sedimen adalah tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut dari suatu tempat yang tererosi. di saluran air. Kelas tingkat bahaya erosi disajikan selengkapnya pada Tabel 1. Tabel 1. pada saat yang bersamaan aliran sedimen dapat menurunkan kualitas perairan dan pendangkalan badan perairan (Asdak 2004). Kelas Tingkat Bahaya Erosi <15 0 – SR I–R Kelas erosi II III IV Erosi (ton/ha/tahun) 15-60 60-180 180-480 I–R II – S III – B II – S III – B IV – SB >480 IV – SB IV – SB II – S III – B IV – SB IV – SB IV – SB III – B IV – SB IV – SB IV – SB IV – SB Kedalaman tanah (cm) Dalam (> 90) Sedang (60-90) Dangkal (30-60) Sangat dangkal (<30) I V Sumber : Departemen Kehutanan.

... dan waduk. komprehensif dalam hal faktor-faktor yang digunakan dapat mengikuti (peka) terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di DAS (Suripin 2002). topografi...... Model-model yang ada kebanyakan adalah empiris (parametrik)...... 2000)... SEDY adalah jumlah sedimen total yang melewati suatu titik tertentu di sungai....5... metode prediksi harus memenuhi persyaratan-persyaratan nampaknya bertentangan. Salah satu persamaan yang pertam kali dikembangkan untuk mempelajari erosi lahan adalah persamaan Musgrave yang selanjutnya berkembang terus menjadi persamaan yang sangat terkenal dan masih banyak digunakan sampai saat ...... Idealnya.... Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) merupakan salah satu prediksi hasil sedimen............. (1) EROSI Dimana NPS adalah nisbah pelepasan sedimen............ tata guna lahan... tingkat kekasaran sungai..... sudah dipergunakan dengan data yang minimum......... dan EROSI adalah jumlah tanah yang tererosi. yang dikembangkan berdasarkan proses hidrologi dan fisis yang terjadi selama peristiwa erosi dan pengangkutannya dari DAS ke titik yang ditinjau (Suripin 2002). 2.. NPS didefenisikan sebagai nisbah jumlah sedimen yang betul-betul terbawa oleh sungai dari suatu daerah terhadap jumlah tanah yang tererosi dari daerah tersebut yang persamaannya ditulis sebagai berikut (Arsyad 2000): NPS = SEDY .....Linsey et.. Sejumlah model yang telah dikembangkan di Amerika Serikat dan beberapa negara di dunia (Lanfear 1989 dalam Sun et al. dan kemiringan sungai.. Faktor lain yang mempengaruhi besarnya sedimen yang masuk ke sungai menurut Asdak (2004) adalah karateristik sungai yang meliputi: morfologi sungai.. dapat digunakan secara umum..4 Prediksi Erosi dan Sedimentasi Model matematis merupakan alat yang efektif dan logis dalam memprediksi erosi dan sedimentasi dalam suatu DAS.... al (1989) dalam Salwati (2004) juga menyatakan bahwa produksi sedimen tahunan rata-rata dari suatu daerah aliran sungai tergantung dari banyak faktor seperti: iklim........... jenis tanah. yakni model seharusnya dapat diandalkan..

Sedangkan model sequential.19 ha).ini.5 acre (1. Model ini merupakan sebuah program simulasi komputer untuk menganalisis limpasan. tebing sungai.6 Model AGNPS Model AGNPS (Agricultural Non Point Source Pollution Model). Hal ini dimungkinkan karena pola erosi tanah terjadi secara tidak kontinyu dan bervariasi mengikuti ruang lingkup keadaan sekitar lokasi (Sun et al. sedimen. erosi. Setiap sel mempunyai ukuran 2. perpindahan hara dari pemupukan (Nitrogen dan Phosfor) dan Chemical Oksigen Demand (COD) pada suatu areal. Setiap sel dibagi-bagi menjadi sel-sel yang lebih kecil untuk memperoleh resolusi yang lebih rinci. dikembangkan oleh Robert A.01 ha) hingga 40 acre (16. 2. Pada model AGNPS karateristik DAS digambarkan dalam tingkatan sel. Ukuran sel lebih kecil dari 10 acre direkomendasikan untuk DAS dengan luas kurang dari 2000 acre (810 ha). Young (1987) di North Central Soil Conservation Research Laboratory. Minnesota. sedangkan untuk DAS yang luasannya lebih dari 2000 acre maka ukuran sel dapat berukuran 40 acre (Young et al. model AGNPS merupakan gabungan antar model terdistribusi (distributed) dan model sequential. 2000). Model AGNPS merupakan model terdistribusi dengan kejadian hujan tunggal (Wulandary 2004 dalam Sutiyono 2006). dan dasar sungai (Suripin 2002). USLE adalah salah satu model parametrik yang telah banyak digunakan dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Sebagai model terdistribusi penyelesaian persamaan keseimbangan massa dilakukan secara serempak untuk semua sel. Menurut Pawitan (1998) dalam Salwati (2004). Morris. air dan cemaran . Salah satu kelemahannya adalah tidak memperhitungkan adanya pengendapan dan tidak memperhitungkan hasil sedimen dari erosi parit. 1990). Pengembangan model determilistik lebih ditekankan untuk menghadapi permasalahan yakni kurangnya pemahaman mengenai proses erosi dan perjalanannya. USDA-Agricultural Research Service. yang biasa disebut Universal Soil Loss Equation (USLE).

Keluaran hidrologi berupa : 1) volume . sehingga perbandingan antara hidrograf hasil prediksi dengan hidrograf hasil pengukuran tidak bisa diperlihatkan. 3) arah aliran. dan 3) total hasil sedimen. 5) curah hujan. 3) menganalisis parameter yang digunakan untuk memberikan simulasi yang akurat terhadap sifat-sifat DAS. erosi. 1990). Keluaran DAS berupa : 1) volume aliran permukaan. Masukan data berupa data inisial terdiri dari: 1) identitas DAS. 3) luas tiap sel. 9) koefisien kekasaran Manning. 17) point source indicator 18) sumber erosi tambahan 19) faktor kebutuhan oksigen kimia. 2) deskripsi DAS. 21) indikator saluran (Young et al. 16) ketersediaan pupuk pada permukaan tanah. 7) panjang lereng. sedimentasi dan unsur-unsur hara yang terbawa dalam aliran permukaan. 2. 2) laju puncak aliran permukaan. 6) faktor bentuk lereng. 5) kemiringan lereng. 2) nomor sel penerima. 2) waktu respon yang merupakan indikator untuk menentukan kondisi biofisik DAS tidak dinyatakan dalam keluaran model.6. 13) konstanta kondisi permukaan.6. 20) indikator impoundment. 15) indikator penggunaan pupuk.1 Masukan Data Model AGNPS Masukan data dalam model AGNPS terdiri dari data inisial dan data tiap sel. 8) kelerengan saluran rata-rata. dan 6) energi intensitas hujan maximum 30 menit. 2. Kelebihan dari model AGNPS ini adalah : 1) memberikan hasil berupa aliran permukaan. 10) faktor erodibilitas tanah.2 Keluaran Model AGNPS Keluaran dalam AGNPS dapat berupa keluaran DAS dan keluaran tiap sel. Adapun kelemahan dari model AGNPS ini adalah : 1) pendugaan aliran permukaan model tidak mengeluarkan output dalam bentuk hidrograf. Sedangkan keluaran tiap sel dapat berupa keluran hidrologi dan keluaran unsur hara. 12) faktor teknik konservasi tanah. 4) bilangan kurva aliran permukaan. 2) membuat skenario perubahan penggunaan lahan. 14) tekstur tanah. 11) faktor pengolahan tanaman.di telusuri dalam rangkaian aliran di permukaan lahan dan di saluran secara berurutan. Sedangkan masukan data tiap sel terdiri dari 21 parameter yakni: 1) nomor sel. 4) jumlah sel.

...... (1990)........ Keluaran unsur hara berupa: 1) kandungan N dalam sedimen... 6) jumlah P dalam aliran permukaan....2S 2 RL  0.......... 4) hasil sedimen.... 11) nisbah pelepasan....aliran permukaan... yaitu: RF = RL  0.......... 6) distribusi sedimen tiap partikel............feet. 5) konsentrasi sedimen........8 S Dimana : RF RL S ..(2) Dimana : E EI K L S C P SSF = erosi (ton/acre) = energi intensitas hujan (feet..... (4) ........(3) = run off (inci) = hujan (inci) = faktor penahan tanah = 1  10 (CN = Curve Number) CN c.acre/acre.....6.. 2... 2) debit puncak aliran permukaan........ 4) kandungan P dalam aliran permukaan....3 Persamaan dalam Model AGNPS Beberapa persamaan yang digunakan dalam membangun model adalah Young et al............... 9) jumlah deposisi........ Limpasan permukaan Limpasan permukaan dihitung dengan menggunakan persamaan USDA SCS (1972) dalam Young et al... 8) erosi saluran.... Kecepatan aliran untuk limpasan permukaan Vo = 10 0... yaitu : E = EI x K x L x S x C x P x SSF .. 5) konsentrasi P.... (1990): a.. 2) konsentrasi N.. (1990)......... cembung = 1. 7) erosi permukan..... 3) jumlah N dalam aliran permukaan.inci/acre) = erodibilitas tanah (ton...ton........ 1990)........ 3) aliran permukaan tiap sel.......................8) b...... dan 8) jumlah COD (Young et al............. dan cekung = 0...... 7) konsentrasi COD......inci) = faktor panjang lereng = faktor kemiringan lereng = faktor tanaman = faktor pengelolaan tanah = faktor bentuk permukaan tanah (seragam = 1.... 10) nisbah pengayaan..........3....5xlog 10 (S1x100)-SSC......... Erosi tanah Persamaan yang digunakan adalah persamaan Wischmeier dan Scmith (1978) dalam Young et al..ton...

Dimana : Vo = kecepatan aliran untuk limpasan permukaan (feet/detik)
S1 = kemiringan lereng
SSC = kondisi penutupan permukaan tanah
d. Kecepatan aliran dalam saluran

 1.49  0.5 0.667
Vc = 
 xS c xRh ................................................................................(5)
 n 
Dimana : Vc = kecepatan aliran dalam saluran (feet/detik)
Sc = kemiringan saluran
Rh = radius hidrolik
e. Debit aliran pada saluran
Q = Ac x Vc ..................................................................................................(6)
Dimana : Q = debit (cfs)
Ac = potongan melintang saluran (square feet)
Vc = kecepatan aliran dalam saluran (feet)
f. Puncak limpasan
0.7

QP = 8.484 xA xS

0.159
c

xRF

0.824 A0.0166



L2c


 Ax 43560 

0.187

....................................(7)

Dimana : QP = puncak limpasan (cfs)
A = luas areal (acre)
Sc = kemiringan saluran
RF = volume limpasan
Lc = panjang saluran (feet)
g. Sedimen
Penelusuran sedimen dilakukan melalui pendekatan persamaan pemindahan
dan pengendapan (Young et al.1990) :
x

Qs (X) = Qs(0) 
Dimana : Qs(X)
Qs(0)
X
Lr
D(X)
W

QsX
  D ( X )Wdx .......................................................... (8)
Lr
0
= debit sedimen di ujung hilir saluran (cfs)
= debit sedimen di ujung hulu saluran (cfs)
= jarak lereng bagian bawah (feet)
= panjang saluran (feet)
= laju pengendapan sedimen di titik X
= lebar saluran (feet)

2.7

Sistem Informasi Geografis
Pada dasarnya, istilah sistem informasi geografis merupakan hubungan dari

tiga unsur pokok yaitu: sistem, informasi, dan geografis. Istilah informasi
geografis mengandung pengertian informasi mengenai tempat-tempat yang
terletak di permukaan bumi, pengetahuan mengenai posisi dimana suatu objek
terletak di permukaan bumi, dan informasi mengenai keterangan-keterangan
(atribut) yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya diberikan atau
diketahui (Prahasta 2002).
Aronoff (1989) dalam Prahasta (2002), mendefinisikan SIG sebagai sistem yang
berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
informasi-informasi geografi. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan,
dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana lokasi geografi merupakan
karakteristik yang penting atau krisis untuk di analisis. Dengan demikian, SIG
merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam
menangani data yang bereferensi geografi yakni : a) masukan, b) memanajemen
data (penyimpanan dan pemanggilan data), c) analisis dan manipulasi data, d)
keluaran. SIG dapat mempresentasikan real world (dunia nyata) di atas monitor
komputer sebagaimana lembaran peta dapat mempresentasikan dunia nyata di
kertas. Akan tetapi, SIG memiliki kekuatan lebih dan fleksibilitas dari pada
lembaran kertas.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di DTA Jeneberang Hulu yang secara

administrasi termasuk wilayah Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa,
Propinsi Sulawesi Selatan (Gambar 1). Pengolahan data dilakukan di
Laboratorium Pengaruh Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Waktu pelaksanaannya
dimulai pada bulan Mei hingga November 2007.

Gambar 1 Peta lokasi penelitian.

Transformasi proyeksi peta. Peta digital penutupan lahan Sub DAS Jeneberang. ArcView versi 3. skala 1 : 25000 (BPDAS Jeneberang-Walanae). 4. skala 1 : 25000 (BPDAS Jeneberang-Walanae). Data debit hasi rekaman AWLR selama 5 tahun (2001-2005) diperoleh dari SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae. Penurunan atribut-atribut DTM. Data curah hujan hasil rekaman ARR selama 5 tahun (2001-2005) diperoleh dari SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae. peta jenis tanah. Peta digital jenis tanah Sub DAS Jeneberang. yaitu : 1.2 Bahan dan Alat 3. 5. Alat tulis.2.3.3. 5. Pengumpulan data dasar berupa peta penutupan lahan. 3. 2.3 Metode Penelitian Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam 11 tahap seperti yang disajikan pada Gambar 2. 3.1 Bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitian 1. dan data curah hujan. Pembuatan Daerah Tangkapan Air (DTA). Peta digital jaringan sungai Sub DAS Jeneberang. peta jaringan sungai. 6. peta kontur. 3. Seperangkat komputer dengan beberapa software. alat hitung dan alat penunjang lainnya. Pengolahan dan analisis data curah hujan. 4. Peta digital topografi Sub DAS Jeneberang. 2.2 + extension. Pembuatan grid sel model AGNPS. dan Microsoft Office. skala 1 : 25000 (PPLH-IPB hasil interpretasi SRTM). . Minitab14.2 Alat yang digunakan dalam penelitian 1. Data sedimen selama 5 tahun (2001-2005) diperoleh dari SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae. 2. 3. 7. skala 1 : 25000 (BPDAS Jeneberang-Walanae).2. yaitu AGNPS versi 3.65. 6.

Pembangkitan data masukan model AGNPS dengan SIG. Pemasukan data ke model AGNPS.1 Pengolahan dan Analisis Data Curah Hujan. Sedimen (5 Tahun) Peta Digital topografi Peta digital Penggunaan lahan Peta digital tanah Peta digital jaringan sungai Analisis spasial dengan model SIG Pembangkitan data masukan model AGNPS Energi Intensitas Hujan 30 menit Validasi Pengisian Model AGNPS Analisis data dengan model AGNPS Analisis simulasi Rekomendasi Gambar 2 Alur tahapan penelitian. Analisis simulasi dan rekomendasi. Debit air (5 tahun) 3. Curah hujan harian (5 tahun) 2. Curah hujan harian tersebut diperoleh dari data hasil pengukuran ARR (Automatic Rain Recorder) yang diperoleh dari Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS) Malino. 11. Dalam pendugaan volume. 10.3. 3. Hasil keluaran ARR tersebut selanjutnya di kelompokkan berdasarkan harian dalam bulanan (Januari hingga Desember) . 1990). 9. Analisis keluaran data model AGNPS. maka curah hujan yang digunakan merupakan curah hujan harian selama 5 tahun (2001-2005).7. erosi dan sedimentasi dengan model AGNPS digunakan curah hujan harian dengan periode ulang selama 25 tahun (Young et al. Karena keterbatasan data yang tersedia.debit puncak aliran permukaan. Pengujian validasi model AGNPS. 8. 1.

(10) 0....selama 5 tahun... yaitu: 2.... 3......2 = curah hujan harian (inches) Transformasi Proyeksi Peta Penyeragaman proyeksi semua peta harus dilakukan agar data spasial dari semua peta dapat di overlay dan di analisis.... Melakukan penggabungan peta kontur terhadap dua sub DAS yang berbeda...725 2 EI30 = Dimana : EI30 = energi hujan intensitas selama 30 menit R 3... ..0727R  0.2 dengan extension Projection Utility Wizard... Hal tersebut memungkinkan dalam pembentukan DTA yang berada di dua lokasi sub DAS yang berbeda.. debit puncak aliran permukaan.3........ Proyeksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah UTM (Universal Transverse Mercator) dengan datum WGS 84 dan zone 50... (9) = debit aliran (m3/detik) Dimana : Q CH = curah hujan (mm) a dan b = konstanta Nilai energi hujan intensitas 30 menit untuk pendugaan volume.................. Uji korelasi antara curah hujan dengan debit aliran dengan menggunakan analisis regresi : Q = a CHb …………………………………………………………....... Data curah hujan diuji korelasinya dengan debit aliran untuk mengetahui ada-tidaknya hubungan curah hujan dengan debit aliran..........3. sehingga diperoleh nilai curah hujan harian rata-rata dalam 12 bulan.3 Pembuatan Daerah Tangkapan Air Pembuatan daerah tangkapan air (DTA) dilakukan menggunakan software ArcView versi 3... Transformasi proyeksi peta dilakukan dengan menggunakan software ArcView versi 3.....2.467R  ... penggabungan tersebut menggunakan extention Geoprocessing Wizard. besarnya erosi dan sedimentasi diperoleh dengan menggunakan persamaan Bols (1978) dalam Usmadi (2006). Tahapan pembuatan DTA sebagai berikut : 1.

4 Pembuatan Grid Sel Model AGNPS Tahapan dalam pembuatan grid sel model AGNPS menggunakan software ArcView versi 3. DTA yang telah terbentuk. 5. Pembuatan TIN dilakukan dengan menggunakan extension Spatial Analyst. 4.91 ha). DEM yang telah terbentuk selanjutnya dibuat DTA dengan outlet berupa pertemuan antar sungai di Sub DAS Jeneberang. Penentuan ukuran grid didasarkan pada luas DTA dan luas maksimum model AGNPS.3.1 (pour points as point shape). Luas DTA yang terbentuk memiliki ukuran grid maksimum yang diperbolehkan dalam model AGNPS sebesar 40 acre (16. Membuat TIN (Triangulated Irregular Network) dari peta kontur seluas DTA. sehingga DTA menjadi grid-grid sel. Secara otomatis hasil model akan menunjukkan DTA dengan luasan tertentu beserta dengan sungai yang terbentuk dari hasil model. sehingga diperoleh model elevasi digital (DEM/Digital Elevation Model).2. . Selanjutnya TIN tersebut dilakukan gridding (convert to grid) dengan ukuran grid 400 x 400 meter. sehingga diperoleh model elevasi digital (DEM/Digital Elevation Model) dalam bentuk grid. di overlay dengan peta kontur untuk mendapatkan peta kontur seluas DTA. 3. 3.2. 2. yaitu : 1. Pembuatan TIN dilakukan dengan menggunakan extension Spatial Analyst. 4. Membuat TIN (Triangulated Irregular Network) dari peta kontur hasil proses penggabungan. Selanjutnya TIN tersebut dilakukan gridding (convert to grid). Pembuatan DTA dilakukan dengan menggunakan extension AV-SWAT 2000 (Sumardi 2007). Penentuan outlet hasil model dari AV-SWAT diusahakan berada di tepat posisi Stasiun Pengamat Aliran Sungai (SPAS) atau berada di sekitar/berdekatan dengan lokasi SPAS. Hasil dari proses tersebut disimpan dalam bentuk shapefile. DTA yang telah berbentuk grid selanjutnya diubah ke dalam bentuk point dengan menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1. 3.

Data ini bisa didapatkan dengan memetakan permukaan bumi. Penurunan atribut-atribut Digital Terrain Model (DTM) bertujuan untuk memberi gambaran tentang daerah kajian sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. dengan cara survei lapangan atau interpretasi dan pengolahan citra satelit (Remote Sensing). dan proses kontrol kualitas yang mengambil elevasi terain berdasarkan pengukuran tanah terbuka yang ada pada data radar original (Anonimus 2007). Pembentukan DTA dari hasil TIN akan membuat DTA semakin bertambah luas. dan fitur budaya serta menyisakan terain di bawahnya. perlu dilakukan kembali perubahan ke dalam bentuk point sehingga DTA menjadi grid-grid seluas dengan DTA yang sebenarnya.3.5. Analisis permukaan diperlukan karena informasi tambahan dapat diperoleh dengan pembuatan data baru melalui Digital Elevation Model (DEM). buatan JetPropulsion Laboratory NASA. DEM yang digunakan adalah DEM turunan dari Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM). Oleh karena itu. dilakukan proses penghapusan grid yang tidak termasuk ke dalam luasan DTA yang sebenarnya. DTM secara digital menghilangkan vegetasi. penyuntingan manual.5 Penurunan Atribut-atribut DTM Proses pemodelan SIG ini diawali dengan membuat sebuah analisis permukaan yang biasa disebut Digital Terrain Model (DTM). Hasil dari penghapusan tersebut mengakibatkan nomor grid menjadi tidak teratur. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan aplikasi perangkat lunak paten. Model Terain Digital (DTM) adalah model topografis tanah terbuka yang memungkinkan pengguna memahami karakteristik terain yang mungkin tersembunyi pada Model Permukaan Digital (DSM). dan SRTM Indonesia masuk di Zona Eurasia (Anonimus 2005). Data elevasi biasa juga disebut Digital Elevation Model (DEM). 3. . bangunan. Hasil akhir grid DTA dilakukan penomoran berurutan dari kiri ke kanan dan mulai dari atas ke bawah dengan ketentuan penomoran grid pada model AGNPS. 6. Digital Terrain Model (DTM) ataupun peta kontur. DEM ini dihasilkan pada tahun 2000 dengan menggunakan Shuttle Space. Oleh karena itu.

Model AGNPS memiliki keterbatasan dalam kapasitas jumlah sel yaitu maksimal sebanyak 1900 grid/sel untuk setiap daerah kajian.DTM (bersama dengan alat analisis permukaan) mendukung aplikasi seperti pengembangan peta topografis. yaitu metode Zevenbergen dan Thorne (untuk permukaan halus atau lebih datar) dan metode Horn (untuk permukaan kasar). yaitu : 1. DTM juga mendukung pemodelan banjir. Hal ini dilakukan karena sekaligus membentuk dan memberi grid/sel secara otomatis untuk masukan model AGNPS. aplikasi pertanian. Sebagai contoh adalah penggunaan hydrologic modelling dengan dukungan program ArcView Spatial Analyst yang memungkinkan untuk menurunkan dan menganalisis beberapa parameter permukaan dari DTM yang merupakan karateristik hidrologi dari daerah kajian. dan aplikasi Advanced Driver Assistance System (ADAS). Semakin kecil resolusi yang digunakan maka data semakin akurat. dan kemiringan. aplikasi PND. Resolusi spasial yang digunakan untuk penurunan atribut-atribut DTM sebesar 400 x 400 meter. Ini juga merupakan komponen berharga dalam analisis yang melibatkan berbagai karakteristik terain. Penggunaan SIG dapat mempermudah dalam kegiatan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). aspek. seperti profil. . pemetaan internet. Slope. Untuk penelitian ini digunakan metode Horn karena sebagian besar lahan di Sub DAS Jeneberang permukaannya kasar yang ditandai dengan bentuk lahan yang cembung (bukit) dan cekung (lembah). potongan melintang. adalah keadaan suatu bentang areal/lahan dengan tingkat perubahan kemiringan tertentu yang dinyatakan dalam persen atau derajat yang dapat dihitung dengan dua metode. namun harus juga memperhatikan tingkat kesulitannya yang akan semakin besar apabila terlalu banyak grid/sel yang terbentuk sehingga tidak efektif dalam pengoperasian model AGNPS. Atribut-atribut yang dapat diturunkan dari DTM yang berkaitan dengan input model AGNPS dengan menggunakan extension DEMAT. Analisis permukaan ini juga diperlukan untuk mendukung pembentukan parameter-parameter masukan model AGNPS secara komputasi sehingga data masukan model AGNPS akan lebih cepat didapatkan dengan keakuratan yang baik. garis pandang.

yaitu curvature suatu permukaan dalam arah kemiringan.2. keluaran dari arah aliran adalah grid yang mempunyai nilai antara 1 sampai 128 yang akan mengalir dari sebuah sel/grid khusus seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Dalam ArcView Spatial Analyst. Flow direction (arah aliran). yaitu bentuk permukaan untuk memahami proses aliran yang secara umum dibagi 2. Curvature. Gambar 3 Arah-arah aliran dari suatu sel khusus dinyatakan dengan angka 1-128. wilayah DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh bentuk cembung (214 grid) dan bentuk cekung (209 grid) dengan luas 1 grid sebesar 16 ha (400 x 400 meter). Profile curvature. Keberadaan sink ini dapat mengganggu . Kemudian dilakukan penurunan parameter permukaan yang merupakan komponen hidrologi dan geomorfologi yang meliputi : 1. Sink merupakan lembah yang sempit dimana lebar lembah tersebut lebih kecil dari ukuran piksel itu sendiri dan tidak menempati banyak sel. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pengikisan/erosi aliran cukup besar namun diimbangi oleh potensi pengendapan (deposit) yang cukup besar pada beberapa titik kawasan. Grid DTM setelah penghilangan sink akan digunakan untuk menghasilkan arah aliran selain arah aliran utama. yaitu arah dimana air mengalir keluar dari grid/sel tersebut. 3. yaitu convex (cembung) dan concave (cekung).

nilai dari setiap sel mempresentasikan total nilai dari sel yang mengalir ke dalam sel tersebut. Tabel 2 Nilai arah aliran antara hasil ArcView dengan masukan model AGNPS Arah aliran ArcView Model AGNPS Utara 64 1 Timur laut 128 2 Timur 1 3 Tenggara 2 4 Selatan 4 5 Barat daya 8 6 Barat 16 7 Barat laut 32 8 Sumber : Penurunan DTM dan Young et al. seperti yang ditampilkan pada Tabel 2. sink perlu dihilangkan. Sel yang mempunyai akumulasi yang tinggi adalah areal yang terkosentrasi aliran. Sehingga untuk mendapatkan grid arah aliran (flow direction) yang kontinyu. Arah aliran ini akan dijadikan parameter masukan model AGNPS sebagai parameter aspek.topologi aliran karena aliran yang menuju sink tersebut. (1990) 2. Untuk mengetahui akumulasi aliran pada permukaan. Akumulasi aliran diturunkan dari grid arah aliran guna menentukan mana dan berapa jumlah sel yang mengalir menuju grid/sel lain yang menerima aliran tersebut. yaitu grid yang menampung aliran dari sel-sel dibelakangnya. seperti pada Gambar 4. Grid-grid yang mempunyai akumulasi aliran yang tinggi dapat diidentifikasikan sebagai sungai atau saluran. Flow accumulation (akumulasi aliran). . Hal ini dilakukan karena parameter aspek pada model AGNPS memiliki karateristik yang serupa dengan karateristik arah aliran pada model SIG.

Flow length (panjang aliran). Dalam sistem ini juga dapat ditentukan ordo tiap segmen jaringan sungai dengan metode yang tersedia. yaitu panjang garis aliran yang terpanjang dalam saluran air yang dihitung untuk setiap sel/grid. 4. Stream network (jaringan sungai). yaitu teknik Schrave dan Strahler. Untuk penelitian ini jaringan sungai dapat ditentukan melalui pengoperasian model AV-SWAT hasil turunan dari data DEM yang secara otomatis akan membentuk jaringan sungai berdasarkan bentuk topografi/kontur. seperti yang terlihat pada Gambar 5. 3. yaitu sistem jaringan sungai yang dapat ditentukan dari hasil akumulasi aliran. .Gambar 4 Bentuk representasi akumulasi aliran.

.2. peta jenis tanah dan peta penutupan lahan di overlay dengan peta DTA yang telah terbentuk tadi dan dilakukan pemotongan menggunakan extension Geoprocessing Wizard untuk memperoleh peta seluas DTA. peta jaringan sungai. Selanjutnya dilakukan gridding (convert to grid) dengan resolusi 400 x 400 meter berdasarkan peta DEM (Digital Elevation Model) dan dilakukan penambahan data-data atribut berupa nilai parameter masukan model AGNPS yang sesuai dengan peta peta kontur.3. Parameter-parameter masukan model AGNPS yang dapat diturunkan dari peta-peta tadi. disajikan selengkapnya pada Gambar 6. 3.Gambar 5 Peta jaringan sungai DTA Jeneberang Hulu. Tahapan pembangkitan data setiap sel yaitu peta kontur. peta jenis tanah dan peta penutupan lahan. peta jaringan sungai.6 Pembangkitan Data Masukan Model AGNPS dengan SIG Pembangkitan data setiap sel sebagai masukan model AGNPS dilakukan menggunakan software ArcView versi 3.

Keterangan : DEM = Digital Elevation Model SL = Kemiringan lereng LS = Panjang lereng FD = Arah aliran T = Tekstur K = Faktor erodibilitas tanah CN = Bilangan kurva aliran permukaan C = Faktor pengelolaan tanaman P SCC n COD CI CS CL DTA = Faktor konservasi tanah = Konstanta kondisi permukaan = Koefisien kekasaran Manning = Kebutuhan oksigen kimiawi = Indikator saluran = Kemiringan saluran = Panjang saluran = Daerah tangkapan air .Peta Digital Jaringan Sungai Peta Digital Topografi Peta Digital Penutupan Lahan Peta Digital Tanah TIN DEM Overlay CI CL Konversi ke bentuk grid resolusi 400x400 m Curvature FD SL FA DTA Overlay Penentuan nilai parameter masukan model AGNPS CN SCC n P C K Tekstur Konversi ke bentuk point Penggabungan tabel atribut Data masukan model AGNPS Gambar 6 Analisis spasial dan pembangkitan data model AGNPS.

3. Untuk pengukuran panjang lereng digunakan persamaan : JL = Dimana. bentuk lereng dan arah aliran diturunkan dari data DEM. Pembuatan DEM dilakukan dengan cara mengubah peta kontur menjadi TIN. perhitungan panjang lereng (JL) menggunakan prinsip Phytagoras. 3. Dengan bantuan grid yang telah terbentuk sebelumnya.1 Kemiringan lereng. sedangkan parameter kemiringan lereng. Tahapan dalam pembangkitan data masukan parameter kemiringan lereng dan arah aliran sebagai berikut : 1. cekung bernilai negatif (-). DEM merupakan suatu model yang mempresentasikan ketinggian muka bumi dengan format raster (resolusi 400 x 400 meter). Dalam mengetahui besarnya kemiringan lereng setiap sel. Data kemiringan lereng diperoleh dengan menggunakan metode Horn untuk permukaan yang kasar yang diperoleh dari data DEM dengan menggunakan extension DEMAT dengan satuan kemiringan lereng berupa persen. maka data hasil perhitungan DEMAT diubah menjadi bentuk point dengan menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1. . 2. Bentuk lereng diperoleh dari peta turunan DEM dengan menggunakan extension DEMAT (profile curvature). Bentuk lereng yang dihasilkan berupa seragam/datar yang bernilai 0.1 (pour points as point shape). bentuk lereng dan arah aliran dapat diturunkan dari peta kontur. selanjutnya melakukan gridding (convert to grid) terhadap TIN dengan ukuran sel sesuai dengan luas grid model AGNPS yaitu sebesar 400 x 400 meter (16 ha).6. panjang lereng. bentuk lereng dan arah aliran Parameter masukan model AGNPS yang berupa kemiringan lereng. Parameter panjang lereng diukur dengan menggunakan peta kontur.3. JL JD JD …………………………………………………… (10) Cos = panjang lereng (feet) = panjang lereng datar (pengukuran di peta kontur) Cos α = cosinus kemiringan lereng (metode Horn) 4. Data panjang lereng (JL) diketahui melalui pengukuran secara manual berdasarkan peta kontur. panjang lereng. dan cembung bernilai positif (+).

Arah aliran merupakan parameter yang sangat penting dalam model AGNPS. Selanjutnya dilakukan pengkodean arah aliran sesuai dengan pengkodean arah aliran pada model AGNPS (angka 1 hingga 8).2 Tekstur dan faktor erodibilitas tanah Parameter masukan model AGNPS yang berupa tekstur tanah dan faktor erodibilitas tanah diturunkan dari peta jenis tanah. Bentuk lereng didasarkan pada bentuk lahan secara rata-rata di dalam sel. 3. .1.3. sebagian besar topografinya landai (8-15 %). kemiringan lereng menggunakan metode Horn menghasilkan rentang kelerengan yang cukup jauh antara 1.732-79. Dalam masukan model berupa parameter panjang lereng dilakukan penyesuaian dengan nilai maksimum model. 2 untuk bentuk cekung. Hasil dari penurunan atribut DTM yang telah dilakukan.5. maka masukan parameter panjang lereng sel-sel tersebut harus 999 feet.5 m maka semua sel memiliki panjang lereng sebesar 999 feet. Untuk wilayah DTA Jeneberang Hulu sebagian besar didominasi oleh bentuk cembung dan cekung. Masing-masing jenis tanah dilakukan penambahan data atribut berupa nilai erodibilitas tanah yang mengacu pada hasil penelitian Puslitbang Pengairan (1966) dalam Triandayani (2004). Untuk wilayah DTA Jeneberang Hulu yang memiliki panjang lereng lebih besar 304.5 m). Berdasarkan kondisi biofisik DTA Jeneberang Hulu. dan 3 untuk bentuk cembung. Nilai maksimum parameter panjang lereng dalam model AGNPS sebesar 999 feet (304.6. bentuk seragam/datar tidak ditemukan oleh hasil penurunan atribut DTM.006 %.73-695. Nilai masukan model yang digunakan adalah 1 untuk bentuk seragam.30 meter. untuk sel-sel yang mempunyai panjang lereng yang lebih dari 999 feet. Panjang lereng DTA Jeneberang Hulu bervariasi dari 565. Arah aliran setiap sel diperoleh dari data DEM dengan menggunakan extension Hydrologic Modelling v 1. Masukan nilai tekstur model AGNPS disajikan dalam Tabel 3. Panjang lereng adalah jarak bagian permukaan dari titik dimulainya aliran ke titik dimana aliran menjadi terkosentrasi atau aliran memasuki saluran. Oleh karena itu.

Kedua nilai parameter tersebut di input dan di edit ke dalam atribut peta jenis tanah melalui fasilitas query dan calculate pada ArcView. faktor tindakan konservasi tanah. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta jenis tanah seluas DTA yang telah berisi kedua nilai parameter tadi dengan cara di overlay dengan peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter. koefisien kekasaran Manning (n).3 Faktor pengelolaan tanaman. Tahapan dalam pembangkitan data masukan beberapa parameter dari peta penutupan lahan sebagai berikut : . dan bilangan kurva aliran permukaan Data spasial dari peta penutupan lahan dapat digunakan untuk memperoleh masukan parameter-parameter model AGNPS yaitu faktor pengelolaan tanaman (C).6. 3. dan konstanta kondisi permukaan (SCC). bilangan kurva aliran permukaan (CN). (1990) Tahapan dalam pembangkitan data masukan parameter tekstur tanah dan faktor erodibilitas tanah sebagai berikut : 1. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan peta jenis tanah untuk mendapatkan peta jenis tanah seluas DTA Jeneberang Hulu.Tabel 3 Nilai masukan tekstur model AGNPS Tekstur Air Pasir Lempung Liat Gambut Nilai Masukan Model 0 1 2 3 4 Sumber: Young et al. 2. agar masing-masing grid memiliki nilai dari parameter tadi. yaitu nilai erodibilitas tanah (Lampiran 1) dan tekstur tanah (Tabel 10) untuk setiap jenis tanah. Dari peta jenis tanah ini diturunkan dua nilai parameter masukan AGNPS.3. koefisien kekasaran Manning. Setelah itu diubah menjadi format point. faktor tindakan konservasi tanah (P).

bentuk saluran. Parameter kemiringan saluran diasumsikan sebesar 50 % dari kemiringan lereng lahan. bilangan kurva aliran permukaan (Lampiran 5). koefisien kekasaran Manning (Lampiran 4). Dari peta penutupan lahan ini diturunkan enam nilai parameter masukan AGNPS. Setelah itu diubah menjadi format point. dan konstanta kondisi permukaan (Lampiran 5) untuk setiap jenis pengggunaan lahan. kemiringan lereng saluran.. Panjang saluran diukur berdasarkan panjang sungai pada masing-masing sel dan diubah dalam satuan feet.1. yaitu faktor tindakan konservasi tanah (Lampiran 2). dan kemiringan sisi saluran. 3. 2. Nilai masukan faktor pengelolaan tanaman dan faktor tindakan konservasi tanah berdasarkan teknik konservasi yang dominan diterapkan ini diperoleh dari peta penutupan lahan wilayah DTA Jeneberang Hulu yang telah diubah dalam bentuk grid/sel dan secara spasial ditampilkan pada Lampiran 6. Tahapan dalam pembangkitan data masukan parameter dari peta jaringan sungai sebagai berikut : .3.6.4 Indikator saluran Parameter model AGNPS yang berupa indikator saluran diperoleh dari peta jaringan sungai yang di overlay dengan peta grid. Parameter yang menyertai parameter indikator saluran yaitu panjang saluran. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan peta penutupan lahan untuk mendapatkan peta penutupan lahan seluas DTA Jeneberang Hulu. agar masing-masing grid memiliki nilai dari parameter tadi. sedangkan kemiringan sisi saluran diasumsikan sebesar 10 % (Young et al. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta penutupan lahan seluas DTA yang telah berisi keenam nilai parameter tadi dengan cara di overlay dengan peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter. 1990). faktor pengelolaan tanaman (Lampiran 3). Nilai-nilai parameter tersebut di input dan di edit ke dalam atribut peta penutupan lahan melalui fasilitas query dan calculate pada ArcView.

Indikator saluran mengidentifikasikan ada tidaknya saluran serta jenis saluran dalam wilayah DTA Jeneberang Hulu. Sungai utama di DTA Jeneberang Hulu diasumsikan sebagai saluran perennial sedangkan anak-anak sungainya diasumsikan sebagai saluran intermitten. peta jaringan sungai. Setelah itu diubah menjadi format point. peta jenis tanah dan peta penutupan lahan yang telah diubah menjadi format point selanjutnya digabung melalui fasilitas ArcView menggunakan extension Geoprocessing Wizard (joined table). Sebagai data masukan model AGNPS. Nilai-nilai parameter tersebut di input dan di edit ke dalam atribut peta penutupan lahan melalui fasilitas query dan calculate pada ArcView.5 Penggabungan atribut data masukan model AGNPS Atribut dari masing-masing parameter turunan peta kontur. 2.6. Sedangkan saluran intermitten (saluran musiman) merupakan aliran air yang mengalir pada musim hujan saja dan permukaan air tanah berada di atas dasar sungai hanya selama musim hujan saja.3. DTA yang telah terbentuk dari hasil model AV-SWAT di overlay dengan peta jaringan sungai untuk mendapatkan peta jaringan sungai seluas DTA Jeneberang Hulu. Saluran perennial (saluran permanen) merupakan aliran yang mengalir sepanjang tahun dengan debit yang lebih tinggi pada musim hujan dan permukaan air tanah selalu berada di atas sungai. Pembentukan grid (convert to grid) untuk peta jaringan sungai seluas DTA yang telah berisi kedua nilai parameter tadi dengan cara di overlay dengan peta DEM sebagai dasar grid yang beresolusi 400 x 400 meter. Hasil gabungan tersebut berbentuk sebuah tabel atribut file point gabungan yang berisi semua parameterparameter masukan model AGNPS untuk setiap sel/grid. yaitu panjang saluran dan bentuk saluran. Dari peta jaringan sungai ini diturunkan dua nilai parameter masukan AGNPS.1. sedangkan pada musim kemarau permukaan tersebut berada di bawah dasar sungai (Seyhan 1990). agar masing-masing grid memiliki nilai dari parameter tadi. . dan yang tidak terdapat saluran bernilai 1. saluran perennial bernilai 7. saluran intermitten bernilai 6. 3.

Ukuran sel yang digunakan dalam model yaitu 400 x 400 meter dengan luas sel sebesar 16 ha.72 ha. 3) Point source indicator. 4) Sumber erosi tambahan.3. Sehingga DTA Jeneberang Hulu dengan luas 6804.3. 3. Gambar 7 Masukan data inisial model.7 Pemasukan Data ke Model AGNPS Dalam melakukan pemasukan data ke dalam model AGNPS. curah hujan. 2) Ketersediaan pupuk pada permukaan tanah.6.74 ha (0. luas dan jumlah sel/grid. dan 5) Indikator impoundment. dalam sel model menjadi 6768 ha dan terjadi pengurangan luasan sebesar 36. dan energi intensitas hujan 30 menit. Masukan data inisial model yang meliputi : nama DAS.3. Yang diperoleh dari hasil pembentukan grid DTM.6 Parameter masukan model yang diasumsikan konstan Selain parameter tersebut dalam penelitian beberapa parameter masukan model AGNPS diasmsikan konstan yaitu : 1) Indikator penggunaan pupuk. Dari luasan 16 ha per sel menghasilkan sel model sebanyak 423 sel seperti yang terlihat pada Gambar 7. Grid/sel ini juga dijadikan acuan dalam pembentukan parameter-parameter setiap sel masukan model AGNPS. ada dua tahap yang dapat dilakukan. yaitu : 1. dimana grid/sel DTM secara otomatis akan membentuk sesuai dengan keinginan resolusi yang dibutuhkan.54 %). .

faktor kebutuhan Oksigen kimiawi (COD). faktor pengelolaan tanaman (C). seperti yang ditampilkan pada Gambar 8. bilangan kurva aliran permukaan (CN). dan indikator saluran (panjang saluran dan kemiringan saluran). Gambar 8 Masukan data setiap sel model. koefisien kekasaran Manning (n).Curah hujan yang diamati adalah jumlah curah hujan harian rata-rata. . Contoh nilai curah hujan harian dan energi intensitas hujan 30 menit (EI 30) yang tertinggi inilah yang akan digunakan dalam memprediksi besarnya volume aliran permukaan. konstanta kondisi permukaan (SCC). 2. Masukan data setiap sel model yang meliputi : penomoran sel. yang merupakan curah hujan harian selama 12 bulan (hasil pengelompokan data CH selama 5 tahun). faktor erodibilitas (K) dan tekstur tanah. laju erosi dan sedimentasi.66 mm (1. sel penerima.25 inches) dengan nilai energi intensitas hujan 30 menit untuk kejadian hujan pada tanggal 1 Januari sebesar 25. kemiringan lereng. panjang dan bentuk lereng. Contoh curah hujan harian rata-rata yang tertinggi terjadi pada tanggal 1 Januari sebesar 31.894 m. debit puncak aliran permukaan. arah aliran.ton. faktor tindakan konservasi tanah (P).cm/ha/jam.

Keluaran hidrologi berupa volume aliran permukaan dan debit puncak aliran permukaan. Keluaran model tersebut berupa keluaran hidrologi dan keluaran sedimen dalam bentuk grafik/gambar dan tabel.3. nomor sel penerimanya adalah satu angka lebih besar dari jumlah keseluruhan sel. Outlet sebagai tempat terkosentrasinya aliran merupakan sel yang terakhir dalam model berada pada sel nomor 169 dengan penggunaan lahan berupa hutan. sedangkan arah aliran mengidentifikasikan arah aliran utama dalam sel. yaitu posisinya harus sesuai antara sel penerima dan arah aliran (aspek) karena hal ini sangat berpengaruh dalam pembentukan DAS dalam model AGNPS.8 Analisis Keluaran Model AGNPS Keluaran model AGNPS yang dianalisis yaitu keluaran model pada outlet DTA Jeneberang Hulu dan setiap sel dengan kejadian hujan terbesar pada tanggal 1 Januari. Pengujian validasi tersebut menggunakan persamaan model regresi linear sederhana . Untuk sel outlet.9 Pengujian Validasi Model AGNPS. laju sedimentasi dan sedimen total.Penomoran sel dilakukan sesuai dengan prosedur model AGNPS yaitu dimulai dari ujung sebelah kiri atas menuju ke sel sebelah kanan dan dilanjutkan ke sel berikutnya secara berurutan ke bawah. 3. Masukan data yang tidak cocok antara kedua parameter ini akan menghambat proses identifikasi dan pembentukan DAS secara grafis pada saat proses pengecekan. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan arah aliran dan sel penerima yang akan menerima aliran tersebut. Sel penerima merupakan sel yang menerima aliran permukaan dari sel yang terletak di atasnya. Pembandingan ini dilanjutkan dengan menghitung besarnya nilai korelasi (R2) di antara parameter yang di validasi. Keluaran tersebut merupakan keluaran kondisi awal sebelum dilakukan simulasi. Sedangkan keluaran sedimen berupa laju erosi. 3. Validasi model dilakukan dengan membandingkan debit puncak (Qp) keluaran model dengan debit puncak hasil pengukuran di lapangan dan membandingkan laju sedimentasi (Qs) keluaran model dengan laju sedimentasi hasil pengukuran di lapangan.3.

10 Analisis Simulasi dan Rekomendasi Dalam rangka untuk mengurangi bahaya erosi. Oleh karena itu. Kayu Afrika (Maesopsis eminii).3. dilakukan simulasi dengan beberapa skenario perubahan penggunaan lahan dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air. Akasia (Acacia mangium). sedimentasi.2 0. Eboni (Diospyros celebica) dan Mahoni (Sweitenia macrophylla). Skenario tersebut yaitu : 1.5 0. Skenario I : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar menjadi vegetasi serupa hutan alam produksi dengan sistem silvikultur tebang pilih di lahan DTA bagian atas (hulu) dan perkebunan karet pada lahan bagian bawah.1 0. Chow (1950) dalam Seyhan (1990). dimana peubah tidak bebasnya berupa data dari hasil pengukuran di lapangan dan peubah bebasnya berupa data keluaran model. Damar (Agathis dammara). (12) Dimana: Y X = Qp dan Qs pengukuran di lapangan = Qp dan Qs keluaran model a dan b = konstanta 3. Gmelina (Gmelina arborea). Tabel 4 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario I Penggunaan lahan Hutan produksi Perkebunan karet CN 60 75 Parameter masukan model n C P 0. sedimentasi dan aliran permukaan yang tinggi dan produktifitas yang rendah.5 SCC 0.29 Sumber : Young et al. (1990). dan aliran permukaan di DTA Jeneberang Hulu tersebut.7 0. Jenis tanaman yang digunakan untuk membangun vegetasi serupa hutan alam produksi TPTI adalah jenis yang cepat tumbuh dan bernilai tinggi seperti Sengon (Paraserianthes falcataria). maka diperlukan perubahan terhadap lahan-lahan yang mempunyai tingkat erosi.29 0.1 0. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario I disajikan pada Tabel 4. Hubungan antara data lapangan dengan data keluaran model dinyatakan dalam bentuk persamaan umum regresi sebagai berikut : Y = a + b X ………………………………………………………….(Tiryana 2003). dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) .

dan sedimen total juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dari hasil panen tanaman semusim dan tahunan.2 0. Pembuatan vegetasi serupa hutan alam produksi TPTI sama seperti skenario I.29 0.1 0. Skenario III : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar menjadi padang rumput semi permanen di lahan DTA . Damar (Agathis dammara) dan jenis lainnya. Kayu Afrika (Maesopsis eminii). Penerapan sistem agroforestry pada kebun campuran tersebut selain untuk mengurangi volume aliran permukaan. pisang (Musa sp. laju sedimentasi. nangka (Arthocarpus heterophyllus).2.7 0.4 SCC 0.2 0. Skenario II : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar menjadi vegetasi serupa dengan hutan alam produksi dengan sistem silvikultur tebang pilih di lahan DTA bagian atas (hulu) dan kebun campuran di lahan bagian bawahnya. jambu biji (Psidium guajava). Chow (1950) dalam Seyhan (1990). rambutan (Nephelium lappaceum).29 Sumber : Young et al. Akasia (Acacia mangium). dan jagung (Zea mays). debit puncak aliran permukaan. Gmelina (Gmelina arborea). dengan melakukan pembuatan teras tradisional.). kakao. Perbedaan dengan Skenario I terletak pada pengelolaan kebun campuran dilakukan yang dilakukan dengan sistem agroforestry. Tanaman buah-buahan yang dapat dibudidayakan seperti kopi. dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) 3. kedelai (Glyeine max). Tanaman semusim yang dipilih diantaranya kacang tanah (Arachis hypogaea). singkong (Manihot esculenta). dan alpukat (Persea americana). (1990). Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario II disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario II Penggunaan lahan Hutan produksi Kebun campuran CN 60 75 Parameter masukan model n C P 0. Jenis tanaman kehutanan yaitu Sengon (Paraserianthes falcataria). laju erosi permukaan.035 0. durian (Durio zibethinus). Tanaman tahunan yang dapat dibudidayakan berupa berupa tanaman kehutanan dan tanaman buah-buahan.

Tabel 6 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario III Penggunaan lahan Padang rumput Perkebunan karet CN 61 75 Parameter masukan model n C P 0.4 SCC 0.29 Sumber : Young et al.04 0. dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) Setiap skenario dilakukan analisis berupa persentase pengurangan terhadap keluaran model yang berupa volume aliran permukaan. laju erosi dan sedimentasi. dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) 4. (1990). Hutan alam yang disimulasikan berupa hutan lindung dan pengembangan kebun campuran sama seperti pada skenario II.1 0. (1990). .1 0.29 Sumber : Young et al.bagian atas (hulu) dan perkebunan karet di lahan bagian bawahnya. debit puncak. dengan melakukan pembuatan teras tradisional pada kebun campuran.5 SCC 0. Tabel 7 Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario IV Penggunaan lahan Hutan alam Kebun campuran CN 55 75 Parameter masukan model n C P 0.001 1 0.08 0. Padang rumput semi permanen yang disimulasikan digunakan untuk penggembalaan ternak penduduk dan pengembangan perkebunan karet sama seperti pada skenario I. Chow (1950) dalam Seyhan (1990).22 0. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario III disajikan pada Tabel 6.30 0. Skenario IV : mengubah penutupan lahan yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar menjadi hutan alam yang berserasah banyak di lahan DTA bagian atas (hulu) dan kebun campuran di lahan bagian bawahnya.2 0. Parameter masukan model penggunaan lahan pada skenario IV disajikan pada Tabel 7.035 0.59 0. Chow (1950) dalam Seyhan (1990).5 0.

wilayah DTA Jeneberang Hulu terletak pada ketinggian antara 600-2800 mdpl.1 Letak dan Luas Daerah aliran sungai (DAS) Jeneberang secara administrasi berada dalam Kabupaten Dati II Gowa.2 Topografi Berdasarkan hasil pengolahan peta digital kontur skala 1 : 25000. DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh wilayah yang bertopografi landai dengan luas 2314. Arah utama pengalirannya adalah ke barat pada bagian hulu dan ke barat daya pada bagian tengah dan pada bagian hilir terpecah menjadi dua arah ke barat laut dan ke barat daya. KARATERISTIK LOKASI PENELITIAN 3. luas areal berdasarkan kemiringan lereng disajikan pada Tabel 8 dan peta sebaran kemiringan lereng serta peta elevasi disajikan pada Gambar 9 dan Gambar 10. 3.238 ha) dan menurut Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sulawesi Selatan (1988) dalam Dassir (2000). Terletak antara garis 50 05’ 00” – 50 35’ 00” LS dan antara 1190 20’ 00” – 1200 00’ 00” BT.BAB IV. Secara lebih jelas. Sungai Jeneberang bersumber dari Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang.72 ha (19.87 % dari luas total Sub DAS Jeneberang sebesar 34. yang berjarak ± 65 km dari Kodya Makassar dan berada pada ketinggian antara 600 mdpl – 2.804. DTA Jeneberang Hulu sebagai lokasi penelitian terletak antara 5 0 10’ – 50 20’ LS dan antara 119 0 20’ – 1200 00’ BT. Sub DAS Jeneberang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa.833 mdpl.800 mdpl. Luas wilayah DTA Jeneberang Hulu sebesar 6. mempunyai ketinggian ± 2. DAS Jeneberang terbagi lagi menjadi Sub DAS diantaranya Sub DAS Jeneberang. . Propinsi Dati I Sulawesi Selatan. Mempunyai topografi bervariasi mulai dari datar hingga sangat curam.23 ha (34.03 %). Secara geografis.

07 16.72 34.71 2.23 1772.75 % 20.47 .47 167. Tabel 8 Luasan kemiringan lereng DTA Jeneberang Hulu Kemiringan (%) 0-8 8-15 15-25 25-45 45-100 Keterangan Datar Landai Agak curam Curam Sangat curam Sumber : Pengolahan atribut peta kelas lereng Luas (ha) 1408.76 2314.Gambar 9 Peta kelas lereng DTA Jeneberang Hulu.64 1136.03 26.

Arah aliran dari suatu sungai memperhatikan kondisi topografi sebagai tempat terakumulasinya aliran ke tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Peta elevasi hasil dari TIN akan menghasilkan peta arah aliran seperti Gambar 11 yang telah di konversi ke bentuk grid dengan bantuan data DEM yang terbentuk.Gambar 10 Peta elevasi DTA Jeneberang Hulu. .

3. bahan induk. dan bentuk wilayah disajikan pada Tabel 9 dan penyebaran jenis tanah secara spasial disajikan pada Gambar 12. dan Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol dari bahan induk tufa dan batuan vulkan intermedier.18 ha (79. Secara lebih jelas. luas areal berdasarkan jenis tanah.3 Tanah dan Geologi Berdasarkan peta digital jenis tanah Sub DAS Jeneberang. jenis tanah yang terdapat di DTA Jeneberang Hulu adalah Andosol Coklat yang terbentuk dari bahan induk tufa vulkan masam dan alkali. . DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh jenis tanah Andosol Coklat dengan luas sebesar 5423.70 %). Latosol Coklat Kekuningan dari bahan induk tufa vulkan masam sampai intermedier.Skala 1 : 80000 Gambar 11 Peta grid arah aliran DTA Jeneberang Hulu setelah penghilangan sink.

bahan induk.20 Sumber : Pengolahan atribut peta jenis tanah Dari peta jenis tanah diturunkan nilai erodibilitas tanah pada DTA Jeneberang Hulu.Gambar 12 Peta jenis tanah DTA Jeneberang Hulu.70 1367. Tabel 9 Luasan jenis tanah.18 79.10 13. Sedangkan nilai erodibilitas tanah yang terkecil yaitu pada jenis .62 0.92 20.278. dimana yang terbesar yaitu pada jenis tanah Andosol Coklat sebesar 0. bentuk wilayah DTA Jeneberang Hulu Jenis tanah Andosol Coklat Bahan induk Latosol Coklat Kekuningan Tufa vulkan masam dan alkali Tufa vulkan masam sampai intermedier Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol Tufa dan batuan vulkan intermedier Bentuk wilayah Bergunung Berbukit dan bergunung Berbukit dan bergunung Luas (ha) % 5423.

278 3 Latosol Coklat Kekuningan 0. 3.075 3 Sumber : Puslitbang Pengairan (1996) dalam Triandayani (2004) dan Young et al.082 3 Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol 0. sawah.tanah sebesar 0.5 Penggunaan Lahan Berdasarkan hasil analisis peta penutupan lahan Sub DAS Jeneberang.4 Jaringan Sungai Jaringan sungai (Gambar 5) memiliki pola drainase dendritik. Jaringan sungai yang telah dikonversi ke bentuk grid sel. Secara . dan hutan campuran. Tabel 10 Nilai faktor erodibilitas tanah (K) dan tekstur tanah (T) di DTA Jeneberang Hulu Jenis Tanah Nilai K Tekstur Andosol Coklat 0. Sebagian besar tekstur tanah di DTA Jeneberang Hulu berupa lempung berliat.48 %). tegalan/ladang. Sungai-sungai di DTA Jeneberang Hulu diasumsikan sebagai saluran perennial untuk sungai utama dan sebagai saluran intermitten untuk anakanak sungai. terletak di daerah datar dan pola tersebut telah lazim di permukaan bumi dengan modifikasimodifikasi lokal. pemukiman. Sebagian besar DTA Jeneberang Hulu didominasi oleh penutupan lahan berupa hutan dengan luas sebesar 2868 ha (42. Menurut Lee (1988). memiliki jumlah sel pada saluran perennial dan saluran intermitten masing-masing sebanyak 184 dan 175 sedangkan sel yang tidak terdapat saluran sebanyak 64. terlihat bahwa penutupan lahan pada DTA Jeneberang Hulu terdiri dari lima penggunaan lahan diantaranya semak belukar.075. Tekstur tanah pada DTA Jeneberang Hulu berupa lempung berliat dan liat. pola drainase tersebut memiliki batuan yang relatif homogen. (1990) 3. Nilai erodibilitas tanah tersebut menunjukkan bahwa jenis tanah Andosol Coklat paling mudah tererosi. Nilai erodibilitas dan tekstur tanah pada DTA Jeneberang Hulu disajikan pada Tabel 10 dan secara spasial dalam bentuk grid ditampilkan pada Lampiran 7. Masukan data tekstur tanah didasarkan pada tekstur tanah yang dominan pada sel tersebut. Hal tersebut menyebabkan aliran permukaan menjadi tinggi dan erosi yang besar.

69 1.lebih jelas.030.48 2.43 29.868. Tabel 11 Luasan jenis penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu tahun 2003 Penutupan lahan Semak belukar Sawah irigasi Pemukiman Tegalan/ladang Hutan campuran Luas (ha) 920. luas areal berdasarkan penutupan lahan disajikan pada Tabel 11 dan peta penyebaran penutupan lahan disajikan pada Gambar 13.903.44 28.26 0. Pada bagian ujung outlet.22 % 13.51 1.19 42. Di daerah tersebut memiliki topografi yang . jenis penggunaan lahan berupa hutan campuran dan sebagian persawahan irigasi.48 Sumber : Pengolahan atribut peta penggunaan lahan Gambar 13 Peta penutupan lahan DTA Jeneberang Hulu.63 15.

13. bencana longsor yang terjadi pada tahun 2004 merupakan bukti nyata dari dampak kerusakan lahan dan hutan di kawasan tersebut. dan 14.021 Sawah irigasi Teras gulud 0. ternyata membawa dampak yang sangat buruk. CN. Dari peta penutupan lahan diturunkan nilai C. (1990) .700 Hutan campuran 0.013 Pemukiman Tanpa tindakan konservasi 1.209 Hutan campuran Tanpa tindakan konservasi 1.300 Sawah irigasi 0.000 Sumber : Arsyad (1989) dan Young et al.010 Pemukiman 0. Semak belukar yang berada di DTA Jeneberang Hulu berupa vegetasi campuran antara semak (alang-alang) dan tumbuhan-tumbuhan lainnya dimana arealnya tidak dikelola dan dibiarkan begitu saja.010 Tegalan/ladang 0.000 Tegalan/ladang Penanaman padi-jagung 0. dan n dimana besarnya nilai-nilai tersebut disajikan pada Tabel 12. P.001 Sumber : Young et al. Inhutani dengan jenis pohon Pinus sp. Kaki Gunung Bawakaraeng yang sedianya sebagai kawasan penyangga dan kawasan lindung yang berlereng ≥ 45 % ternyata telah rusak dan telah dikonversi menjadi ladang pertanian kacang-kacangan (Leguminoseae) oleh masyarakat setempat. Hutan yang berada di DTA Jeneberang Hulu berupa hutan campuran dengan berbagai jenis flora dan fauna serta hutan tanaman yang ditangani langsung oleh PT. Tabel 12 Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu Penutupan Lahan Nilai C Semak belukar 0.landai sehingga air irigasi mudah disalurkan ke areal persawahan. SCC. (1990) dan Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) Tabel 13 Nilai faktor tindakan konservasi tanah (P) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu Penutupan Lahan Tindakan Konservasi Tanah Nilai P Semak belukar Semak belukar 0. Tegalan/ladang yang diusahakan dan dikelola langsung oleh masyarakat yang berada di daerah yang berlereng curam tepatnya di bawah kaki Gunung Bawakaraeng. Oleh karena itu.

15 69 Sawah irigasi 0.32 m3/detik seperti yang disajikan pada Tabel 16.02 52. 2003).74 41. dan bilangan kurva aliran permukaan (CN) pada berbagai penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu Penutupan Lahan Nilai n Nilai SCC Nilai CN Semak belukar 0. (1990) dan Chow (1950) dalam Seyhan (1990) 3.29 75 Pemukiman 0. konstanta kondisi permukaan (SCC).57 127.72 201.7 Debit Aliran Curah hujan yang jatuh ke wilayah DTA Jeneberang Hulu menghasilkan debit yang beragam. .02 Sumber: SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae 3. Tabel 15 Curah hujan rata-rata dalam setahun (2001-2005) Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah CH (mm) 376.19 24.Tabel 14 Nilai koefisien kekasaran Manning (n).02 mm/tahun (Tabel 15) dan suhu udara berkisar antara 180-210C (BPDAS Jeneberang-Walanae.00 375. Curah hujan rata-rata 2518. dimana debit rata-rata per tahun sebesar 154.59 60 Sumber : Young et al.71 2518.50 274.023 0. wilayah DTA Jeneberang Hulu menurut klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson termasuk tipe iklim A dengan jumlah bulan basah 8 bulan dan 4 bulan kering dalam setahun.96 38.070 0.6 Iklim Berdasarkan data curah hujan harian rata-rata 5 tahun.75 328.29 72 Hutan campuran 0.01 79 Tegalan/ladang 0.030 0.26 471.080 0.59 205.035 0.

125 12.444 32.916 35. jumlah penduduk Kabupaten Gowa berjumlah 401.820 401.847 9.586 69.009 12. Gowa tahun 2002 Kecamatan Tinggimoncong Parangloe Bungaya Bontomarannu Palangga Bajeng Somba Opu Bontonompo Jumlah penduduk (jiwa) Jumlah (jiwa) 30.670 33.Tabel 16 Debit aliran rata-rata dalam setahun (2001-2005) Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Debit (m3/detik) 20.8 Kependudukan Berdasarkan BPS Kabupaten Gowa dalam Angka tahun 2002 dalam BPDAS Jeneberang-Walanae.422 80.297 20.046 31.781 14.370 13.712 7.317 Sumber : Kabupaten Gowa dalam Angka.882 11.138 28.594 41.158 11. 2002 Laki-laki 15.611 23.600 9.828 39.845 41.628 12.790 15.184 59.541 154.548 21. Tabel 17 Jumlah penduduk Sub DAS Jeneberang di Kab.113 33.131 205.317 jiwa.151 27.752 25.558 Perempuan 15.759 . Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin pada masing-masing kecamatan dalam wilayah Sub DAS Jeneberang ditampilkan pada Tabel 17.686 195.718 12.557 66.32 Sumber: SPAS Malino dan BPDAS Jeneberang-Walanae 3.921 12.533 6.

5 15.0 20.159 CH0.0 10.0 Debit (m^3/s) Curah Hujan (mm) berhubungan erat dengan kejadian debit aliran.66 mm/hari disajikan dalam Gambar 15.5 35.0 1.0 1.68……………………………………………………….0 1 16 31 46 61 76 91 106 121 136 151 166 181 196 211 226 241 256 271 286 301 316 331 346 361 Januari-Desember CH (mm) Q (m^3/s) Gambar 14 Dinamika curah hujan harian dengan debit DTA Jeneberang Hulu. intersepsi. 0.66 mm/hari) dengan nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25.5 25. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.0 3. Sebaran ruang volume aliran permukaan akibat kejadian hujan 31. Hubungan Curah hujan dengan debit membentuk hubungan sebagai berikut : Q = 0.5 5.0 2. (12) dengan koefisien korelasi sebesar 0.cm/ha/jam. dan evapotranspirasi.901 dan koefisien determinasinya (R2) sebesar 81.0 2.0 0.1 Hubungan Curah Hujan dengan Debit Hubungan curah hujan dengan debit harian rata-rata selama 366 hari disajikan dalam Gambar 14.89 m. . Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kejadian curah hujan 0.BAB V.ton.0 3. diperoleh besarnya volume aliran permukaan di outlet sebesar 0. 5. Volume air hujan yang menjadi aliran permukaan sebesar 2.29 %.2 Volume Aliran Permukaan Perhitungan menggunakan masukan curah hujan harian rata-rata selama 5 tahun (31.2 %.0 30.20 m3/detik..76 mm dan debit puncak aliran permukaan sebesar 3. sedangkan sisanya mengalami infiltrasi..

Gambar 15 Peta penyebaran volume aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu.64 44. dapat dilihat penyebaran aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 – 4.32 mm dan berdasarkan sebaran aliran permukaan di berbagai penutupan lahan (Tabel 18) dapat dilihat bahwa sel-sel yang mempunyai aliran permukaan terkecil terdapat dalam sel dengan penutupan . Tabel 18 Rekapitulasi volume aliran permukaan di berbagai penutupan lahan Penutupan lahan Hutan Pemukiman Sawah irigasi Semak belukar Tegalan/ladang Luas (ha) 2896 32 1072 928 1840 Aliran permukaan (mm) 7.11 8.20 172.64 167.21 Sumber : Pengolahan atribut volume aliran permukaan Berdasarkan Gambar 15.

lahan berupa hutan (vegetasi sedang hingga lebat) sebesar 7. Akibatnya aliran permukaan di lahan sawah irigasi dan tegalan/ladang menjadi sangat besar.10 Pemukiman 32 1. Tabel 19 Rekapitulasi debit puncak aliran permukaan di berbagai penutupan lahan Debit puncak aliran Penutupan lahan Luas (ha) permukaan (m3/detik) Hutan 2896 34. air hujan sebagian besar menjadi aliran permukaan yang diakibatkan kurangnya penutupan tajuk dan kurangnya perakaran yang dalam sehingga rendahnya infiltrasi tanah.21 mm dan 167.64 mm. Hal tersebut disebabkan karena hutan mempunyai penutupan tajuk yang sedang hingga rapat. sehingga volume air hujan yang menjadi aliran permukaan menjadi jauh berkurang. Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa sawah irigasi dan tegalan/ladang mempunyai aliran permukaan yang besar masing-masing sebesar 172. Di lahan dengan penutupan/penggunaan lahan berupa sawah irigasi dan tegalan/ladang.11 mm.02 Sawah irigasi 1072 32. 5.81 Tegalan/ladang 1840 40.36 Sumber : Pengolahan atribut debit puncak aliran permukaan .3 Debit Puncak Aliran Permukaan Sebaran ruang debit puncak aliran permukaan akibat kejadian hujan 31. sehingga air hujan dapat terintersepsi dan terjadi evapotranspirasi oleh tajuk tumbuhan.66 mm/hari dalam bentuk spasial disajikan dalam Gambar 16.01 Semak belukar 928 19. Hutan mempunyai berbagai pohon yang mempunyai perakaran dalam yang dapat memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan kemampuan tanah menyerap atau mengabsorpsi air.

karena di daerah pemukiman tidak ditemukan saluran dan jumlahnya relatif sedikit. . Berdasarkan Gambar 16.02 m3/detik.36 m3/detik.Gambar 16 Peta penyebaran debit puncak aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu. Debit puncak aliran permukaan semakin besar di sel-sel yang terdapat saluran sungai.20 m3/detik dan Tabel 19 dalam rekapitulasi debit puncak aliran permukaan di berbagai penutupan lahan dapat dilihat bahwa sel-sel yang mempunyai debit puncak aliran permukaan terkecil terdapat dalam sel dengan penutupan lahan berupa pemukiman sebesar 1. Semakin ke hilir/menuju outlet. debit puncak aliran permukaan di sel yang mempunyai saluran sungai semakin meningkat. dapat terlihat penyebaran debit puncak aliran permukaan DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 – 3. Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa tegalan/ladang mempunyai debit puncak aliran permukaan yang besar sebesar 40.

55 0 0 0 7. Hal tersebut disebabkan partikel liat mudah terdispersi oleh butiranbutiran hujan dan memiliki berat jenis yang rendah.85 ton/ha dan sedimen total sebesar 12577. sehingga partikel liat mudah terangkut dan menjadi sedimen.75 0 0 0 16. Tabel 20 Keluaran sedimen model di outlet DTA Jeneberang Hulu Jenis partikel Liat Debu Agregat halus Agregat kasar Pasir Total Analisis Sedimen Erosi per satuan luas Sedimen per NPS satuan luas Daratan Saluran (%) (ton/ha) (ton/ha) (ton/ha) 2.0 4. dengan nilai masukan curah hujan harian rata-rata yang terbesar selama 5 tahun sebesar 31.89 m. .58 0 0 0 29.9 0. Sebaran ruang laju erosi permukaan akibat kejadian hujan 31. Sedangkan jenis partikel yang paling banyak tererosi berupa agregat halus sebesar 16.55 ton/ha.cm/ha/jam.03 ton/ha.66 mm/hari dalam bentuk spasial disajikan dalam Gambar 17.5.03 0 6 1.3 1.ton. laju sedimentasi sebesar 1.25 0 0 0 0.66 mm dengan nilai energi intensitas hujan 30 menit sebesar 25.6 12577. Jenis partikel yang mempunyai nilai NPS tertinggi berupa partikel liat sebesar 64 %.2 ton.85 Sedimen total (ton) 12568. diperoleh besarnya laju erosi di outlet sebesar 29.2 Sumber : Keluaran model AGNPS Nilai Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) di DTA Jeneberang Hulu sebesar 6 %. Sedangkan sisanya sebesar 94 % mengendap di tempat lain sebelum sampai ke saluran sungai.90 0 64 1.4 Laju Erosi Permukaan dan Sedimentasi Berdasarkan hasil keluaran model (Tabel 20).85 1. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hanya 6 % dari total erosi yang terjadi di DTA Jeneberang Hulu yang masuk ke saluran dan menjadi sedimen.3 2.

33 ton/ha dan Tabel 21 dalam rekapitulasi laju erosi permukaan di berbagai penutupan lahan dapat dilihat bahwa sel-sel yang mempunyai laju erosi permukaan terkecil terdapat di sel dengan .75 Tegalan/ladang 1840 12236.15 Sumber : Pengolahan atribut laju erosi permukaan Berdasarkan Gambar 17.Gambar 17 Peta penyebaran laju erosi permukaan DTA Jeneberang Hulu.30 Semak belukar 928 41. Tabel 21 Rekapitulasi laju erosi permukaan di berbagai penutupan lahan Jumlah laju erosi Penutupan lahan Luas (ha) permukaan (ton/ha) Hutan 2896 0.60 Pemukiman 32 0.95 Sawah irigasi 1072 1. dapat terlihat penyebaran laju erosi permukaan DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 – 520.

Akibatnya terjadi peningkatan laju aliran permukaan yang menyebabkan daya rusak dan daya angkut oleh aliran permukaan menjadi tinggi. maka daya rusak dari aliran permukaan menjadi berkurang. transpirasi dan rendahnya infiltrasi tanah karena kebanyakan perakaran dangkal di daerah yang berlereng yang curam. Penutupan lahan berupa hutan dapat juga meningkatkan laju infiltrasi tanah dan daya absorpsi tanah serta menahan laju aliran permukaan. maka air hujan yang jatuh di lahan yg berupa tegalan/ladang sebagian besar menjadi aliran permukaan. sehingga pada akhirnya laju erosi permukaan semakin meningkat di lahan tersebut. sehingga volume dan kecepatan aliran permukaan menjadi berkurang. Akibatnya energi yang dimiliki butir-butir hujan menjadi berkurang.80 ton/ha/tahun. maka tingkat bahaya erosi yang terjadi di DTA Jeneberang Hulu dikategorikan sangat berat. Sehingga dengan besarnya erosi harian dalam kurun waktu setahun yang terjadi sebesar 1011. 5.66 mm/hari dalam bentuk spasial disajikan dalam Gambar 18. Akibat berkurangnya kecepatan aliran permukaan.penutupan lahan berupa hutan 0. . Dibandingkan dengan penutupan tanah berupa tegalan/ladang yang berada di bagian hulu dekat dengan puncak bukit.5 Sedimen Total Sebaran ruang sedimen total akibat kejadian hujan 31. maka butir-butir air hujan tidak langsung jatuh ke tanah tetapi tertahan oleh tajuk-tajuk pohon (vegetasi). Akibat kurangnya proses intersepsi. Dengan adanya penutupan tanah berupa hutan (vegetasi sedang hingga lebat). sehingga daya rusak terhadap tanah menjadi rendah.60 ton/ha. maka penahan butir-butir hujan berkurang akibat kurangnya tajuk yang menahannya sehingga air hujan langsung memecahkan agregat-agregat tanah. sehingga tanah yang terangkut menjadi lebih sedikit dan laju erosi menjadi lebih rendah. Hal ini dikarenakan tingkat bahaya erosinya tergolong dalam kelas erosi lima (> 480 ton/ha/tahun) dan telah melebihi batas toleransi erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) terjadi di DTA Jeneberang Hulu sebesar 180 ton/ha/tahun (kelas erosi tiga). Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa tegalan/ladang mempunyai laju erosi permukaan yang sangat besar.

86 ton dan Tabel 22 dalam rekapitulasi sedimen total di berbagai penutupan lahan dapat dilihat bahwa sel-sel . dapat terlihat penyebaran sedimen total DTA Jeneberang Hulu setiap sel sebesar 0 – 16332.47 67772.58 9.44 21781. Tabel 22 Rekapitulasi sedimen total di berbagai penutupan lahan Penutupan lahan Hutan Pemukiman Sawah irigasi Semak belukar Tegalan/ladang Luas (ha) 2896 32 1072 928 1840 Jumlah sedimen total (ton) 132682.89 222523.Gambar 19 Peta penyebaran sedimen total DTA Jeneberang Hulu.86 Sumber : Pengolahan atribut sedimen total Berdasarkan Gambar 18.

Hal inilah yang terjadi sekarang di hulu Sungai Jeneberang. Dari hasil analisis korelasi dan regresi seperti yang terlihat dalam Gambar 19. sehingga volume aliran permukaan yang dapat ditampung oleh saluran sungai tersebut semakin berkurang. Dampak dari peristiwa tersebut mengakibatkan Bendungan Serbaguna Bili-bili yang merupakan DAM penampung aliran air dari hulu Sungai Jeneberang terjadi pendangkalan dan terancam tidak dapat berfungsi lagi sebagai pemasok cadangan air untuk wilayah Kabupaten Gowa dan Kodya Makassar dan PLTA serta ada indikasi bahwa umur bendungan yang terbesar di Indonesia Timur ini tinggal beberapa tahun lagi keberadaannya. karena tidak adanya saluran sungai dan jumlahnya relatif sedikit. dimana sedimen yang terangkut oleh aliran terbawa oleh air hingga terjadi pendangkalan sungai. Sedimen total semakin besar di sel-sel yang terdapat aliran sungai. Akibatnya pada musim hujan terjadi bencana banjir di daerah hilir yang diakibatkan oleh ketidakmampuan sungai untuk menampung air hujan yang terkosentrasi ke sungai. Uji validasi model dilakukan dengan membandingkan debit puncak (Qp) keluaran model dengan debit puncak hasil pengamatan dan membandingkan laju sedimentasi (Qs) keluaran model dengan laju sedimentasi pengamatan. Laju sedimentasi yang tinggi menyebabkan peningkatan jumlah sedimen yang mengendap di saluran sungai dan terjadi pendangkalan saluran sungai. Model divalidasi dengan curah hujan harian rata-rata selama 5 tahun (366 kejadian hujan). Sedangkan sel-sel dengan penutupan lahan berupa tegalan/ladang mempunyai sedimen yang besar. diperoleh nilai korelasi (r) dari debit puncak model (QpMod) terhadap debit . Bahkan tanggul penahan sedimen jebol/roboh akibat tidak mampu lagi menahan begitu banyak sedimen yang terangkut.6 Pengujian Validasi Model AGNPS Untuk mengetahui apakah hasil prediksi model sama dengan hasil pengamatan. maka dilakukan uji validasi. sedimen total di sel yang mempunyai saluran sungai semakin meningkat.yang mempunyai sedimen total terkecil terdapat di sel dengan penutupan lahan berupa pemukiman. Semakin ke hilir/menuju outlet. 5.

Hal ini menunjukkan bahwa debit puncak model (QpMod) dengan debit puncak pengukuran di lapangan (QpLap) memiliki hubungan keeratan 79. sehingga laju sedimentasi model (QsMod) dapat . 1.5 -1. dengan QpLap.. 1.0 -3 -2 -1 0 1 2 Log QpMod.698 QsMod0. = 0. (14) Persamaan ini memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 77. Sedangkan persamaan regresi dinyatakan sebagai berikut : QsLap = 1.239 + 0..4 % dengan faktor koreksi sebesar 9. Gambar 19 Hubungan QpMod. memiliki nilai korelasi sebesar 0..679 Log QpMod.8 % dengan faktor koreksi sebesar 1.5 Log QpLap.726.. 0. sehingga debit puncak model (QpMod) dapat mewakili dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya di lapangan serta dapat digunakan untuk menduga nilai debit puncak lapangan dalam simulasi penggunaan lahan.30.679…………………………………………. dengan QpLap.puncak pengukuran di lapangan (QpLap) sebesar 0. (13) Persamaan ini memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 79.8 %. Sama halnya dengan hasil analisis korelasi dan regresi laju sedimentasi model (QsMod) dengan laju sedimentasi pengukuran di lapangan (QsLap)seperti yang terlihat dalam Gambar 20.5 -2.894.4 %.382 ……………………………………………. Hubungan QpMod..75.0 Log QpLap.0 -1.734 QpMod0. Hal ini menunjukkan bahwa laju sedimentasi model (QsMod) dengan laju sedimentasi pengukuran di lapangan (QsLap) memiliki hubungan keeratan 77.0 -0.5 0. Sedangkan persamaan regresi dinyatakan sebagai berikut : QpLap = 1.

5 1. dan sedimentasi yang tinggi (tegalan/ladang) dan lahan yang mempunyai produktifitas yang rendah (semak belukar).5 Log QsMod 0. Total luas penutupan lahan di DTA Jeneberang Hulu yang berupa tegalan/ladang dan semak belukar adalah 2768 ha atau 40.0 -1. Log QsLap.0 -0. 0. dengan QsLap.0 Gambar 20 Hubungan QsMod.50 -0. maka pada penelitian ini dilakukan 4 skenario penggunaan lahan di tegalan dan semak belukar yang berbeda. Pada skenario-skenario tersebut dilakukan perubahan pada parameter penggunaan lahan dan melakukan tindakan konservasi pada lahanlahan tersebut.0 0.230 + 0.75 -2.5 -1. Berdasarkan kondisi tersebut dan kaitannya dengan upaya penerapan model dalam perencanaan pemanfaatan lahan di DTA Jeneberang Hulu. = 0.50 Log QsLap.25 0.25 -0. Salah satu alternatif tersebut yaitu dengan melakukan perubahan penggunaan lahan dan menerapkan tindakan konservasi tanah dan air (KTA) di lahan yang mempunyai aliran permukaan. laju erosi.9 % dari luas total DTA Jeneberang Hulu. dan sedimentasi di DTA Jeneberang Hulu. laju erosi. 5. Dasar pemikiran skenario-skenario tersebut didasarkan atas .00 -0.382 Log QsMod 0. Sedangkan parameter tanah diasumsikan tidak mengalami perubahan.7 Analisis Simulasi Simulasi dilakukan untuk memberikan alternatif dalam pemanfaatan lahan seoptimal mungkin dalam mereduksi/mengurangi besarnya aliran permukaan. dengan QsLap. Hubungan QsMod.mewakili dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya di lapangan serta dapat digunakan untuk menduga nilai laju sedimentasi lapangan dalam simulasi penggunaan lahan.

5. Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario I sebesar 5. skenario I kurang efektif untuk diterapkan karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat bahaya erosi masih tergolong kelas erosi empat dengan kategori berat hingga sangat berat (180-480 ton/ha/tahun).48 41. . Sehingga masih membahayakan kawasan yang berada di sekitarnya. Tabel 23 Hasil simulasi skenario I keluaran model Skenario Base Skenario I Keluaran hidrologi dan sedimen Debit puncak Laju erosi Laju sedimentasi 3 (m /detik/tahun) (ton/ha/tahun) (ton/ha/tahun) 219. dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 5.23 % dari total erosi yang terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya mengendap di tempat lain.24 ton/ha/tahun.43 %.24 Berdasarkan hasil tersebut di atas.23 %. diperoleh hasil simulasi model pendugaan lapangan dalam Tabel 23 dengan menggunakan curah hujan rata-rata tahunan.pertimbangan bahwa penutupan lahan yang akan disimulasikan dapat dipertahankan keberadaanya hingga puluhan tahun dan memperbaiki kondisi DTA Jeneberang Hulu dalam hal mengurangi aliran permukaan. diusahakan agar tidak melebihi batas nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) terjadi sebesar < 180 ton/ha/tahun.26 %. diperoleh besarnya debit puncak aliran permukaan di outlet sebesar 41.7. laju erosi permukaan di outlet berkurang 79.1 Skenario I Berdasarkan dengan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario I dalam Gambar 21.89 73. dan laju sedimentasi berkurang 75.04 m3/detik/tahun. laju erosi.6 18.01 1694. dan sedimentasi. laju erosi permukaan sebesar 348.6 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 18.18 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi.04 348. Untuk penerapan hasil simulasi. Hasil simulasi menunjukkan debit puncak aliran permukaan berkurang 81.

02 % dari total erosi yang terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya mengendap di tempat lain.02 %.76 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 16. Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario II sebesar 12. dan laju sedimentasi berkurang 77.Gambar 21 Peta penggunaan lahan skenario I.05 %. yaitu besarnya debit puncak aliran permukaan di outlet sebesar 41.26 %.2 Skenario II Berdasarkan dengan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario II (Gambar 22). besarnya laju erosi permukaan di outlet berkurang 92. laju erosi permukaan sebesar 134.95 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi. . 5.04 m3/detik/tahun. Debit puncak aliran permukaan berkurang 81. dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 12.20 ton/ha/tahun. diperoleh hasil simulasi model seperti disajikan dalam Tabel 24.7.

Gambar 22 Peta penggunaan lahan skenario II.76 16. Untuk penerapan hasil simulasi tersebut. simulasi untuk skenario II efektif untuk diterapkan karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat bahaya erosi tergolong kelas erosi tiga dengan kategori sedang (60-180 ton/ha/tahun).01 1694. Tabel 24 Hasil simulasi skenario II keluaran model Keluaran hidrologi dan sedimen Skenario Debit puncak Laju erosi Laju sedimentasi 3 (m /detik/tahun) (ton/ha/tahun) (ton/ha/tahun) Base 219.89 73.48 Skenario II 41.20 Berdasarkan data dalam Tabel 24.04 134. dapat dilakukan karena nilai laju erosi permukaannya tidak melebihi batas nilai erosi yang diperbolehkan .

Debit puncak aliran permukaan berkurang 81.3 Skenario III Berdasarkan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario III (Gambar 23). diperoleh hasil simulasi model (Tabel 25) yaitu besarnya debit puncak aliran permukaan di outlet sebesar 41. Begitupun dengan nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) terjadi melebihi dari batas nilai yang diperbolehkan terjadi sebesar 180 ton/ha/tahun.04 239. simulasi untuk skenario III tidak berbeda jauh dengan skenario I.48 41.(tolerable soil erosion) terjadi sebesar < 180 ton/ha/tahun.04 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 14. dimana hasilnya kurang efektif untuk diterapkan karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat bahaya erosi masih tergolong kelas erosi empat dengan kategori berat hingga sangat berat (180480 ton/ha/tahun). 5. .87 % dari total erosi yang terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya mengendap di tempat lain. besarnya laju erosi permukaan di outlet berkurang 85.04 m3/detik/tahun. dan laju sedimentasi berkurang 80. Tabel 25 Hasil simulasi skenario III keluaran model AGNPS Skenario Base Skenario III Keluaran hidrologi dan sedimen Debit puncak Laju erosi Laju sedimentasi (m3/detik/tahun) (ton/ha/tahun) (ton/ha/tahun) 219.89 73.87 %.7.04 14.89 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi. Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario III sebesar 5.04 ton/ha/tahun. Sehingga kawasan yang berada di sekitar terjadinya erosi tidak membahayakan.90 %. dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 5.26 %. Sehingga masih membahayakan kawasan yang berada di sekitarnya.04 Berdasarkan data di atas. laju erosi permukaan sebesar 239.01 1694.

yaitu besarnya debit puncak aliran permukaan di outlet sebesar 18. laju erosi permukaan sebesar 111.60 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi sebesar 8.7. dimana nilai tersebut menunjukkan sebanyak 7. laju erosi permukaan di outlet berkurang 93. dan laju sedimentasi berkurang 88.53 %. .4 Skenario IV Berdasarkan sebaran ruang penggunaan lahan hasil skenario IV (Gambar 24). Nisbah pelepasan sedimen (NPS) dalam skenario IV sebesar 7.. 5.42 %.53 % dari total erosi yang terjadi di DTA tersebut sampai ke saluran sungai dan menjadi sedimen sedangkan sisanya mengendap di tempat lain. Debit puncak aliran permukaan berkurang 91.40 ton/ha/tahun. Gambar 23 Peta penggunaan lahan skenario III. diperoleh hasil simulasi model (Tabel 26).47 m3/detik/tahun.57 % dari nilai awal sebelum dilakukan simulasi.57 %.

01 1694.47 111.60 8. simulasi untuk skenario IV memberikan hasil terbaik karena nilai laju erosi permukaan yang dihasilkan berdasarkan kelas tingkat bahaya erosi masih tergolong kelas erosi tiga dengan kategori sedang (60180 ton/ha/tahun).48 18.89 73. Tabel 26 Hasil simulasi skenario IV keluaran model Skenario Base Skenario IV Keluaran hidrologi dan sedimen Debit puncak Laju erosi Laju sedimentasi (m3/detik/tahun) (ton/ha/tahun) (ton/ha/tahun) 219. Begitupun dengan nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) terjadi tidak melebihi dari batas nilai yang diperbolehkan terjadi sebesar 180 ton/ha/tahun.Gambar 24 Peta penggunaan lahan skenario IV.40 Berdasarkan data di atas. Sehingga nilai persentase pengurangannya lebih tinggi .

95 % 80.26 % 81.dari skenario I. mencegah banjir.42 % 75. maka fungsinya akan lebih baik sebagai kawasan lindung khususnya untuk mengatur tata air.26 % 91. Sedangkan skenario II dan IV efektif dalam memperbaiki kondisi DTA. III. Sedangkan pengurangan volume aliran permukaan tidak terjadi perubahan sehingga masih memungkinkan terjadinya banjir di DTA Jeneberang Hulu.43 % 92. Namun.18 % 77. hal tersebut terlihat dari besarnya nilai laju erosi skenario II dan IV yang berada pada tingkat bahaya erosi kelas tiga dengan kategori sedang (60-180 ton/ha/tahun) dan batas nilai erosi yang diperbolehkan (tolerable soil erosion) tidak melebihi dari 180 ton/ha/tahun.57 % 79. mengendalikan erosi (longsor). dan III serta sangat efektif untuk diterapkan karena nilai debit puncak aliran permukaan. apabila dilihat dari segi waktu dan efisiensinya skenario IV membutuhkan waktu sangat lama untuk terbangunnya hutan alam hingga ratusan atau ribuan tahun. kurang efektif dalam memperbaiki kondisi DTA. laju erosi permukaan.57 % .05 % 85. dapat diketahui bahwa skenario I. Tabel 27 Rekapitulasi persentase (%) pengurangan keluaran model dari nilai awal (base) setelah dilakukan simulasi Skenario Skenario I Skenario II Skenario III Skenario IV Debit puncak Laju erosi Laju sedimentasi 81. Apabila hutan alam yang dahulunya sudah ada dan tidak ditebang oleh masyarakat untuk dijadikan ladang. dan sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan masyarakat.89 % 88. II.90 % 93. dan laju sedimentasi mengalami penurunan yang besar. 5. Hal tersebut dilihat dari besarnya nilai laju erosi dari beberapa skenario terhadap nilai awal sebelum dilakukan simulasi penggunaan lahan yang masih berada pada tingkat bahaya erosi kelas empat dengan kategori berat hingga sangat (180-480 ton /ha/tahun) walaupun persentase pengurangannya cukup besar.26 % 81.8 Rekomendasi Berdasarkan Tabel 27.

sehingga pada saat tertentu dapat menggantikan fungsi bangunan sipil teknis.Pengurangan Parameter Terhadap Base (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 S n ke ar io I Sk a en ri o II De b it p un c a k a lira n p ermu ka a n Sk a en ri o III e Sk L aju e ro s i na ri o IV L a ju s e d imen ta s i Gambar 25 Perbandingan penurunan keluaran model berbagai skenario. Penggunaan lahan ini diusahakan dengan meminimalkan gangguan sehingga dapat mengarah pada terbentuknya formasi vegetasi seperti formasi hutan sekunder dan hutan alam . dan laju sedimentasi dapat diketahui bahwa alternatif terbaik dalam mengubah pemanfaatan lahan berupa tegalan/ladang dan semak belukar adalah penerapan skenario II yang mengarah ke skenario IV. Pembangunan lahan tegalan dan semak belukar untuk tewujudnya penutupan lahan seperti pada skenario II dapat dilakukan dengan menerapkan kombinasi sipil teknis (terasering) dengan penanaman tumbuhan penutup lahan (cover crops) dan tahunan (pohon-pohon). Tumbuhan penutup lahan dan pohon tahunan ditanam sedemikian rupa. Pemanfaatan lahan tegalan dan semak belukar di daerah hulu DTA yang dapat membentuk penutupan lahan berupa vegetasi yang serupa dengan hutan alam produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih dan di daerah bawahnya (mendekati outlet) berupa kebun campuran dengan sistem agroforestry sangat efektif dalam memperbaiki kondisi DTA Jeneberang Hulu dari segi hidrologi maupun mengurangi laju erosi dan laju sedimentasi. laju erosi. Berdasarkan hasil simulasi dalam Gambar 25 yang berupa keluaran debit puncak aliran permukaan.

perlu adanya kerjasama antara pihak masyarakat dengan pihak pemerintah untuk lebih memperhatikan tekniknya yang sesuai dengan kondisi biofisik. .Untuk realisasi penerapan teknik konservasi tanah dan air menggunakan teras tradisional dalam penggunaan lahan kebun campuran (agroforestry). Sehingga bencana banjir dan longsor di DTA Jeneberang Hulu dapat teratasi dan diminimalisir serta mengurangi pendangkalan di saluran sungai dan di Bendungan Serbaguna Bili-bili oleh tumpukan sedimen yang berupa pasir.

QsLap = 1. pihak swasta.382.BAB VI. sedangkan di bagian bawah yang relatif lebih datar menerapkan kebun campuran dengan sistem agroforestry. perlu diuji coba menggunakan data curah hujan jangka pendek. masyarakat lainnya. dan pemerintah serta melakukan upaya peningkatan kesadaran kepada semua pihak untuk menerapkan tindakan konservasi tanah dan pengelolaan tanaman yang sesuai dengan kondisi biofisik. dan debit puncak memberikan hasil lebih rendah dari data pengukuran lapangan (under estimation) sehingga memerlukan faktor koreksi 2. 6. Faktor koreksi untuk kasus DTA Jeneberang Hulu dapat menggunakan persamaan QpLap = 1.734 QpMod0. 3. 2.679. dan laju sedimentasi adalah dengan mempertahankan penggunan lahan yang ada sekarang kecuali tegalan dan semak belukar perlu dirubah kedalam bentuk penggunaan lahan yang menyerupai hutan alam produksi yang dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih atau hutan alam tidak terganggu di bagian hulu. Model AGNPS dengan parameter input menggunakan data yang relatif tersedia di Indonesia (hujan harian dan data sekunder fisik DAS) dalam menduga laju erosi. Pemanfaatan lahan yang optimal dalam mengurangi debit puncak aliran permukaan. dan parameter input lainnya berdasarkan hasil pengukuran setempat. Sehubungan dengan tingginya aliran permukaan.2 Saran 1. KESIMPULAN DAN SARAN 6. sedimentasi.698 QsMod0. laju erosi permukaan. .1 Kesimpulan 1. erosi dan sedimentasi yang terjadi di DTA Jeneberang Hulu. perlu upaya pemanfaatan dan pengelolaan DAS yang lebih sesuai dengan kondisi biofisik dan melibatkan semua pihak yang terkait seperti petani. Untuk memperoleh tingkat validasi model yang lebih tinggi.

Model Terain Digital http://www.php?option=com_content&task=v iew&id=130&Itemid=106. Galuda D. 2000. http://projection. Dassir M. Arsyad S. [8 2007]. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Bogor: Program Pascasarjana. Andosol Coklat. Penggunaan AGNPS untuk Memprediksi Aliran Permukaan. 2000.id/index. Program Pascasarjana. 2004. [BPDAS Jeneberang-Walanae] Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jeneberang Walanae. Pencemaran Tanah dan Lingkungan. Bogor: Jurusan Tanah. 1998. Installasi Wireless LAN di Kota Samarinda. Haridjaja O. Pengalengan [tesis]. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapang Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. 1996. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.php/pid/75/sid/273/tid/208.litbang. USDA NRCS Washington DC. Bogor: Departemen Ilmu Tanah. Sisi GIS. 1998.net/2005/02/sisi_gis_installasi_wireless_l. November Arsyad S.intermap. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. dan COD di Daerah Tangkapan Air Cinere Sub DAS Citarik. [Tesis]. Digital Elevation. Key to Soil Taxonomy 8th edition. Makassar: BPDAS JeneberangWalanae. Bogor. Sedimen. Institut Pertanian Bogor.deptan. [Dephut] Departemen Kehutanan. Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang Propinsi Sulawesi Selatan. Pengawetan Tanah dan Air. Konservasi Tanah dan Air. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. [Anonim].wgs84.DAFTAR PUSTAKA [Anonim]. P. 2007. Tingkat Kesesuaian Penggunaan Lahan di Sub DAS Jeneberang Hulu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. dan hara N. http://balitklimat. Institut Pertanian Bogor.go. Bogor: IPB Press.com/right. html. Bogor: Fakultas Kehutanan. Jakarta: Dephut. [27 Agustus 2007]. Institut Pertanian Bogor. 2000. Candra A. 1989. 2003. Identifikasi dan Pemetaan Lahan Krisis di DAS Ciliwung Hulu Menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis [skripsi]. Soil Survey Staff . [8 November 2007]. 2005. (DTM). [Anonim]. Asdak C. 2003. .

Lee R. Institut Pertanian Bogor. Prahasta E. . John Wiley and Sons. Jawa Barat Menggunakan Model AGNPS [tesis]. 2007. Kajian Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Respon Hidrologi Sub DAS Cilalawi DAS Citarum. 2003. 2000. Bandung: Penerbit Nova. Regresi Linear Sederhana. Banten. 1990. penerjemah. 1990. Yogyakarta: Penerbit Andi. Southern Global Change Program. dan DKI Jakarta [skripsi]. Modelling Soil Erotion and Transport on Forest Landscape. Bogor: Fakultas Kehutanan. Bogor: Program Pascasarjana. editor. Seyhan E. Dasar-dasar Hidrologi. 2004. 1994. Salwati. Morgan RPC. Bandung: Informatika. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor: Program Pascasarjana. Tiryana T. Prawirohatmodjo. Sun G. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hidrologi Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai (Hidrometri). Pengendalian Erosi Tanah dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. 2006. Soil Erotion and Conservation. 1991. New York: Longman Scientific ang Technical. Terjemahan dari : Forest Hydrology. Jakarta: Bumi Aksara. Dinamika Aliran Permukaan. Bogor: Fakultas Kehutanan. 2002. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan. Sumardi I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. USDA Forest Service.Jaya A. 2002. Klasifikasi Respon Hidrologi DAS Berdasarkan Hidrograf Satuan Sintetik Gama-I dengan Metode Analisis Terain Secara Digital (Digital Terrain Method Analysis) Studi Kasus DAS di Propinsi Jawa Barat. Rahim SE. 2003. G. Inc. Pelestarian Sumber Daya Air dan Tanah. McNulty. Penggunaan Model AGNPS Berbasis Sistem Informasi Geografis dalam Analisis Karateristik Hidrologi Sub DAS Ciawitali Subang Jawa Barat [skripsi]. Pengalengan [tesis]. Sutiyono AP. Soewarno. Hidrologi Hutan. Suripin. Subagio S. Institut Pertanian Bogor. 1980. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Erosi serta Kehilangan Hara dalam Aliran Permukaan Tangkapan Cinere.

Erosi. Minnesota. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Model AGNPS dalam Pendugaan Aliran Permukaan. Institut Pertanian Bogor. . Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. dan Sedimentasi di Sub DAS Cianten Kabupaten Bogor [skripsi]. Usmadi D. U.51. 2006. AGNPS User’s Guide Version 3. 2004.Triandayani Y. Bogor: Fakultas Kehutanan. DD Bosch. PA Wyne. Agricultural Research Service. Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Untuk Memperbaiki Kondisi Sub DAS Cisadane Hulu Menggunakan Model AGNPS [skripsi]. AO Charles.S Departement of Agriculture. 1990. Morris. Young RA.

.

187 0.301 0.054 0.188 0.166 0.301 0.064 0.251 0.116 0.107 0.062 0.223 0.121 0.302 0.172 0.Lampiran 1 Nilai Erodibilitas Tanah untuk 50 Jenis Tanah di Indonesia Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Tipe Tanah Tanah eutrofik organik Tanah hydromorphic alluvial Tanah abu-abu hitam alluvial Tanah alluvial cokelat keabu-abuan Alluvial abu-abu dan alluvial cokelat keabu-abuan Gabungan tanah alluvial abu-abu dan tanah humic abu-abu Gabungan tanah alluvial abu-abu dan tanah humic rendah abu-abu Gabungan tanah hydromorphic abu-abu dan Planosol cokelat keabuabuan Planosol cokelat keabu-abuan Gabungan tanah litosol dan tanah mediteranian merah Regosol abu-abu Regosol abu-abu Kompleks regosol abu-abu dan litosol Regosol cokelat Regosol cokelat Regosol cokelat kekuning-kuningan Regosol abu-abu kekuning-kuningan Kompleks regosol dan litosol Andosol cokelat Andosol cokelat Andosol cokelat kekuning-kuningan Gabungan andosol coelat dan regosol cokelat Kopleks rensinas.272 0.315 0.061 0. latosol cokelat kemerahan dan litosol Kompleks latosol coklat kemerahan dan litosol Kompleks latosol merah kekuningan.259 0.175 0.156 0.271 0.271 0.157 0.075 0.296 0.331 0.215 0. litosol dan tanah hutan cokelat Grumosol abu-abu Grumosol abu-abu hitam Kompleks grumosol regosol dan tanah mediteranian Kompleks tanah mediteranian cokelat dan litosol Gabungan tanah mediteranian dan grumosol Gabungan tanah mediteranian cokelat kemerahan dan litosol Latosol cokelat Latosol cokelat merah Latosol cokelat hitam dan kemerahan Latosol cokelat kekuningan Latosol merah Latosol merah kekuningan Gabungan latosol cokelat dan regosol abu-abu Gabungan latosol cokelat kekuningan dan latosl cokelat Gabungan latosol cokelat kemerahan dan latosol cokelat Gabungan latosol merah.205 0.323 0.176 0.193 0.201 0.202 0.304 0.158 . latosol cokelat dan tanah podsolik merah kekuningan dan litosol Tanah podsolik merah kuning Tanah podsolik merah kekuning Tanah podsolik merah Nilai K 0.091 0.082 0.301 0.273 0.186 0. latosol cokelat kemerahan dan litosol Kompleks latosol merah dan latosol cokelat kemerahan Kompleks latosol merah kekuningan.067 0.278 0.058 0.075 0.346 0.

158 0.400 1. podsolik merah kekuningan dan 49 regosol 50 Kompleks lateritik merah kekuningan dan tanah podsolik merah kekuningan Sumber : Puslitbang Pengairan (1996) dalam Triandayani (2004) 0.175 Lampiran 2 Faktor Tindakan Konservasi Tanah (P) Tindakan Konservasi Tanah Teras tradisional Tegalan/ladang Sawah irigasi Sawah tadah hujan Hutan alam (penuh dengan serasah) Semak/alang-alang Tanah kosong tidak diolah Pemukiman Air/rawa Sumber : Young et al.249 0.000 0.000 0. (1990) Nilai P 0.000 .021 0.209 0.47 48 Gabungan podsolik kuning dan tanah hydromorphic abu-abu Gabungan tanah podsolik kuning dan regosol Kompleks tanah podsolik kuning.175 0.013 0.500 0.013 1.

357 0.kedelai Kacang tanah + gude Kacang tanah .850 0.571 0.800 0.001 0.500 0.100 0.096 0.005 0.000 0.010 0.128 0.387 0.049 0.287 0.001 Data Pusat Penelitian Tanah (1973-1981) dalam Arsyad ( 1989) * Pola tanam tumpang gilir: jagung + padi + ubikayu setelah panen padi ditanami kacang tanah ** Pola tanam berurutan: padi .600 0.kacang tunggak Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha Padi + mulsa jerami 4 ton/ha Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ha Kacang tanah + mulsa Clotalaria sp.002 0.700 0.377 0.200 0.259 0.200 0.050 0.Lampiran 3 Faktor Pengelolaan Tanaman (C) Macam Penggunaan Tanpa/terbuka tanpa tanaman Sawah irigasi Sawah tadah hujan Tegalan tidak dispesifikasi Ubikayu Jagung Kedelai Kentang Kacang tanah Tebu Pisang Akar Wangi (sereh wangi) Rumput bede (tahun pertama) Rumput bede (tahun kedua) Kopi dengan penutup tanah buruk Talas Kebun campuran: kerapatan tinggi kerapatan sedang kerapatan rendah Perladangan Hutan alam: serasah banyak serasah kurang Hutan produksi: tebang habis tebang pilih Semak belukar/padang rumput Ubikayu + kedelai Ubikayu + kacang tanah Padi .417 0.079 0.kacang tanah .399 0.700 0.345 0.jagung .400 0.400 0.050 0.495 0.200 0.181 0.300 0.200 0.sorghum Padi .400 0.135 0.195 0. 3 ton/ha Pola tanam tumpang gilir* + mulsa jerami 6 ton/ha/thn Pola tanam berurutan** + mulsa sisa tanaman Alang-alang murni subur Sumber: Nilai C 1. 3 ton/ha Kacang tanah + mulsa kacang tunggak Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/ha Padi + mulsa Clotalaria sp.200 0.

Saluran pembuang divitrifikasi 3. Subdrain divitrifikasi dengan sambungan terbuka g.013 0. Kayu 1. Gelas c. Kuningan. Plesteran d.021 0. Dilapis plester semen h. Gorong-gorong.009 0.013 0. Saluran pembuang. Baja 1.013 0.014 0.016 0. Dilapis 2.014 0. Permukaan halus 2.020 0.017 0. Tipe saluran dan pemeriaannya Aliran tertutup sebagian mengalir penuh A. Ubin drainase biasa 2.017 0. Liat 1.010 0.014 0.015 0.013 0.016 0.013 0. Hitam 2. Tak difinish. Gorong-gorong dengan lengkungan.011 0. Tak dilapis d.010 0.012 0.014 0.2. Tak difinish.014 0.010 0.019 0. dst. dengan lengkungan dan sambungan i.017 0.009 0. lurus.015 0.011 0.013 0. Logam dan bergelombang 1.015 0. Logam a. Lusit b. Diglasir 2. Subdrain 2.014 0.011 0.012 0.012 0.014 0. bentuk baja 6. Tak difinish. Besi tenpa 1.012 0.012 0.011 0. diawetkan f.020 0.011 0. bentuk kayu halus 7.016 0.010 0.020 0.014 0. halus b. Saluran pembuang divitrifikasi. Semen 1.013 0.014 0. Pekerjaan bata 1.013 0.015 0.030 0.010 0. Sormdrain A.025 0.012 0.016 0.016 0. dengan lobang pemeriksa.016 0. Batang 2.013 0.016 0. lurus bebas sampah 2.012 0.017 0.009 0.013 0.010 0.013 0. sambungan dan kotoran 3. lobang masuk.010 0.021 0. Saluran pembuang dilapis dengan hancuran tulang.018 0.017 0.015 0.019 0.030 .024 0.010 0.016 0. 4.011 0. Digalvani e.013 0. Batangan dan di las 2.011 0.013 0.013 0.011 0. Dikeling (dipaku) dan spiral c.012 0. lobang masuk.012 0.011 0.017 0. Difinish 4. Saluran pembuang dasar halus j.014 0.017 0.Lampiran 4 Koefisien Kekasaran Manning (n) untuk Berbagai Jenis Saluran A.008 0. Berlapis. Beton 1. disemen Minimum Normal Maksimum 0.017 0.018 0. 5.017 0.015 0. bentuk kayu kasar e.1. Bukan Logam a.014 0.017 0. Besi tuang 1. Tembok. dengan lobang pemeriksaan. dst.015 0.

Bata 1. Diketam. Permukaan baja halus 1.035 0.030 0.013 0. Dilapis dengan kertas asap c.018 0.015 0. Pada batuan yang digali tak baik d.017 0. Batu acak dalam plester 3.020 0.026 0. Gunit.2.030 0.012 0.017 0.012 0.023 0.050 .011 0. Batu halus dalam plester 2.013 0.015 0.012 0. Semen 1.032 0.022 0. plester 4. Batu acak dalam plester 3.015 0.016 - 0. Diketam. Tembok semen.011 0.020 0.025 0.017 0.015 0.020 0. Aspal 1.030 0. Tembok semen 2.020 0.011 0.022 0. Tembok semen 5. Dasar kerikil dengan sisi-sisi dari : 1. Tembok 1.019 0.017 0. dikerosot 3.015 0.011 0. tak diawetkan 2.011 0. Diglasir 2. Finish dengan kerikil di bawal 4. Lapisan tumbuhan Penggalian atau pengerukan a.025 0.013 0.013 0. Bukan Logam a. Gunit.014 0.020 0. Tembok kering f.016 0.015 0.013 0. Beton 1. Tidak difinish 5.017 0.018 0.016 0.033 0.020 0.018 0.017 0.013 0.030 0. Kayu 1. Kasar j.015 0.017 0.036 0.020 0. murni dan seragam Minimum Normal Maksimum 0. Pada batuan yang digali baik 8.017 0.020 0.011 0.010 0.021 0.015 0.013 0.023 0.015 0. Tak dicat 2.023 0. Finish yang mengambang 3.013 0. Dihaluskan dengan "cetok" 2.014 0. Dasar-dasar beton difinish mengambang dengan sisi-sisi : 1. Diplester b.010 0.027 0.011 0.012 0.013 0. C. Tipe saluran dan pemeriaannya Saluran dilapis atau dirakit B. Papan dengan jalur-jalur 5.025 0. Tembok kering e.Lampiran 1 (lanjutan) B.030 0.015 0.1.035 0. Logam a.012 0.014 0.024 0. Tanah.014 0.010 0. Ubin lapis i. Tak diketam 4.024 0. Dalam plester semen g. Tak kering h. Dicat b. Beton cetak 2.017 0. Permukaan halus 2.020 0.013 0.020 0.023 0.025 0. Halus 2.015 0.017 0. Bergelombang B.016 0.016 0.025 - 0.012 0. seksi bergelombang 7. seksi bagus 6.

040 0.080 0. semak disisi 3.050 0. Potongan batu 1.040 0.1.050 0. Tanpa tumbuhan 2.050 0.040 0.030 0. tetapi dengan beberapa gulma dan batu 5.045 0. Sama dengan tinggi maksimum aliran Sungai-sungai alami Sungai-sungai kecil (lebar bagian atas pada banjir D. tanggu basanya terjal.150 0.040 0. tetapi banyak batu dan gulma 3. leih banyak lereng tida efektif dan bagianbagian 6.033 0.025 0.pohon dan semak -semak sepanjang tanggul tenggelam pada air tinggi 1.022 0. gulma dan semak tak dipotong 1.020 0.120 0.025 0.025 0.025 0. Dengan rumput pendek.035 0.030 0. Dasar batu-batu bundar dengan batu.050 0.015 0. Bersh.028 0.030 0.030 0.025 0.045 0.033 0. Dataran banjir a. Sungai lembam.Lampiran 1 (sambungan) D.040 0.035 0.040 0. bagian yang seragam. pohon.030 0. setinggi jeluk aliran 2.033 0. Tipe saluran dan pemeriaannya 1. Kerikil. Dasar berbatu dan sisi bergulma 5.070 0.018 0.033 0.035 0. Dasar tanah dan sisi tembok 4.030 0.070 .040 0.080 0.050 0.027 Maksimum 0.050 0. tanpa tumbuhan dalam saluran. Gulma lebat. tanpa semak Minimum 0. Dasar batu bundar dan sisi bersih c.033 0.035 0. Sama dengan aas.060 0.025 0.045 0. Dasar kerikl. berkeluk. kolam dalam atau jalur banjir dengan hutan lebat dan tumbuhan bawah b.040 0. berkeluk-keluk dan lembam 1. Rumput.050 0. Bersih. sedikit gulma b.022 0.040 0. baru baja selesai 2.080 0. < 100 kaki) a.055 0.110 0. Sedikit semak pada tanggul d. Gulma lebat atau tumbuhan air dalam saluran dalam 3.060 0.016 0.050 0.030 0. tetapi lebih banyak batu 7.045 0.025 0.030 0. tingkat lebih rendah. Digali atau dikeruk 1. tak ada celah atau kolam 2. sedikt gulma 2. Saluran tak terpelihara.050 0. Bersih.040 0.070 0.022 Normal 0.100 0. Padang rumput. tingkat penuh. Tanah.035 0. Dasar bersih. Halus dan seragam 2. Sama degan 4. kolam-kolam dalam 8. Bergerigi dan tak teratur e.050 0. Sama dengan atas.075 0.batu besar D.018 0.035 0.040 0.048 0.028 0. batu bundardan batu besar 2. Sungai -sungai pegunungan. Bersih. lurus.035 0. bersih 4. beberapa kolam dan beting 4. Sama dengan atas.2. sesudah pelapukan 3. Sungai sangat bergulma. Sungai di daratan 1.

sediit pohon kecil.070 0. Semak dan pohon jarang pada musim panas 4.040 0.110 0. Semak 1. tetapi dengan tingkat banjir mencapai cabang D.100 0. gulma lebat 2.050 0. Rumput pendek 2.050 0.120 0.080 0.045 0.080 0.050 0.025 0. Sama dengan atas. Lahan yang dibuka dengan pertumbuhan terubusan yang hebat 3.060 0.025 0. Semak sedang sampai lebat di musim panas d. Sungai-sungai utama (lebar atas pada tingkat banjir > 100 kaki) Harga n kurang dari sungai-sungai kecil dan sifat-sifat yang sama. Sama dengan atas. musim panas.160 0.020 0.060 0.0150 0. Pohon-pohon 1.070 0. Tanah pertanian 1.035 0.070 0.030 0. Tak ditanami 2.050 0.100 0.050 0.040 0.110 0.030 Normal 0.100 .060 0. lurus 2.035 0. Rumput tinggi b. tetapi dengan pertumbuhan terbubusan yang hebat 4. Tanaman dewasa berbaris 3. tingkat banjir dibawah cabang 5. karena tanggul-tanggul memberikan ketahanan yang kurang efektif a. Willow lebat. Tanaman ladang dewasa c.035 0. Bagian yang biasa dengan tanpa batu-batu besar atau semak b.035 0.040 0. Semak sedang sampai lebat d musim dingin 5.045 0.3.100 0.160 0.060 0.120 0.025 0. Hutan lebat. Semak tersebar.050 0. Bagian yang teratur dan kasar Sumber : Chow (1950) dalam Seyhan (1990) Minimum 0.030 0. Semak dan pohon jarang pada musim dingin 3. sedikit tumbuhan bawah.030 0.035 Maksimum 0.200 0.Lampiran 1 (sambungan) Tipe saluran dan pemeriaannya 1.035 - 0.040 0.030 0.080 0.

22 0.22 0.05 0.59 0.00 0 0 0 0 Kelompok Hidrologi Tanah A B C D 77 86 91 94 67 78 85 89 65 75 82 86 63 74 82 85 58 68 49 39 30 36 25 59 72 49 72 79 69 61 58 60 55 74 79 69 81 86 79 74 71 73 70 82 85 79 100 85 91/94 100 85 89 84 80 78 79 77 86 88 84 .29 0.01 0.29 0.01 1.29 0.15 0.Lampiran 5 Faktor Konstanta Kondisi Permukaan (SCC) dan Bilangan Kurva Aliran Permukaan (CN) Penggunaan Lahan di Permukaan Lahan tandus Tanaman berbaris lurus Tanaman berbaris kontur Padi-padian kecil Kacang-kacangan atau rotasi padang rumput Padang rumput penggembalaan-tipis Padang rumput penggembalaan-sedang Padang rumput penggembalaan-tebal Padang rumput permanen Lahan berhutan Hutan dengan serasah banyak Tanah beserta rumah pertanian Perkotaan (kedap air 21-27 %) Saluran berumput Air Rawa Tanah peternakan dengan bidang tanah yang tidak rata Daerah beratap Sumber : Young et al.01 0.29 0. (1990) Nilai SCC (mg/ltr) 0.59 0.

P. CN. SCC. dan Erodibilitas (K) Skala 1 : 80000 Skala 1 : 80000 .Lampiran 6 Peta-peta Grid Nilai C.

Lampiran6 (sambungan) Skala1: 80000 Skala1: 80000 .

Lampiran6 (sambungan) Skala1: 80000 .

700 0.010 0.37 2453.14 5.035 0.Lampiran7 Parameter-parameterMasukanModel AGNPS C 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 RC 6 6 2 8 4 15 6 7 8 9 10 11 25 30 30 15 32 33 34 35 20 21 22 23 24 25 43 27 FD 5 6 7 6 7 6 7 7 7 7 7 7 6 5 6 7 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 6 7 SL 6.12 2.300 0.278 0.021 0.278 0.300 P 0.18 7.278 0.209 0.001 0.278 0.23 4.070 K 0.39 3862.62 7.96 575.87 3.71 2368.030 0.29 0.300 0.15 0.300 0.29 0.15 0.15 0.001 0.59 0.62 379.29 0.90 6.15 0.06 7.25 3.73 7.300 0.59 1497.96 3861.070 0.15 0.96 10.56 5.64 .80 12.021 0.070 0.000 0.300 0.070 0.15 0.209 1.19 8.070 0.070 0.36 14.15 0.00 3465.72 4.52 8295.070 0.72 7.209 0.15 0.000 0.082 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.67 6.51 8.021 0.47 5447.44 3584.35 12.300 0.021 0.021 0.29 0.700 0.300 0.300 0.47 3862.021 SCC 0.16 CL 0.070 0.278 0.64 3584.070 0.035 0.278 0.070 0.300 0.700 0.76 3818.41 7.300 0.90 8.53 3861.29 0.278 0.021 0.15 0.278 0.15 0.29 0.278 0.070 0.278 0.100 0.000 1.58 0.013 0.61 1803.51 8.030 0.021 0.278 0.14 4.278 0.15 0.85 5.59 4.278 0.209 0.29 0.45 8.72 3.86 3.29 0.001 0.33 SS 3 2 3 2 3 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 69 69 69 69 75 69 69 69 69 69 72 69 69 75 75 69 69 72 60 60 72 60 72 72 72 69 69 n 0.700 0.71 2453.300 0.100 0.021 0.82 15.209 1.76 747.30 5.013 0.030 0.44 7.03 3.44 1.34 6.021 0.95 4.85 0.030 0.070 0.34 5190.278 0.278 0.15 COD 20 20 20 20 20 80 20 20 20 20 20 60 20 20 80 80 20 20 60 65 65 60 65 60 60 60 20 20 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 1 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 6 1 7 7 7 7 7 7 7 7 7 6 7 6 7 6 CS 3.021 0.88 2.29 11.070 0.71 10.035 0.278 0.010 0.070 0.15 0.070 0.16 1.15 0.021 0.030 0.49 7.98 5.300 0.070 0.00 2649.03 1525.60 10.28 2.63 747.01 7.25 4.278 0.278 0.278 0.278 0.00 3.030 0.278 0.15 0.76 4.278 0.082 0.700 0.278 0.31 3.03 5190.28 9.021 0.278 0.021 0.700 0.300 0.278 0.100 0.56 29.300 0.34 2871.59 0.013 0.300 0.300 0.32 2244.021 0.209 0.021 0.15 0.65 4.278 0.59 0.69 12.29 0.30 9.

39 5447.53 7934.30 18.013 0.29 0.29 0.209 0.010 0.001 0.278 0.082 0.59 0.59 0.035 0.50 13.07 6.278 0.21 4.05 3957.100 0.030 0.001 0.53 5546.14 8.Lampiran7 (sambungan) C 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 RC 45 47 47 48 32 33 34 35 20 21 22 23 40 41 60 63 63 63 64 47 48 33 33 34 52 53 54 55 FD 6 5 6 6 7 7 7 7 8 8 8 8 7 7 6 4 5 6 6 7 7 1 8 8 7 7 7 7 SL 9.30 4.278 0.20 9.57 6.000 0.000 1.68 3314.010 0.38 2934.100 0.85 8.07 4.100 0.278 0.700 0.278 0.41 7934.070 0.278 0.700 0.29 0.030 0.278 0.98 7.29 4.59 0.33 7.72 6.001 0.95 8.59 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.000 1.035 0.030 0.43 12.59 0.000 1.010 0.29 0.67 3197.38 5190.035 0.278 0.86 6.035 0.700 0.001 0.02 14.29 0.29 0.700 0.29 0.30 CL 7934.278 0.001 0.082 0.10 7.100 0.12 6.00 0.021 0.700 0.030 0.29 0.021 0.035 0.000 1.65 9.41 3.278 0.030 0.278 0.59 0.278 0.001 0.29 COD 80 80 80 80 65 65 65 60 60 60 60 60 60 60 20 20 20 80 80 65 65 65 65 65 65 60 65 60 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 6 7 7 7 7 7 7 7 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 1 1 7 7 7 7 6 6 CS 4.84 8.59 0.700 0.021 0.98 4.013 0.15 0.05 8295.59 0.68 0.53 3314.300 0.082 0.19 15.209 SCC 0.209 0.013 1.030 0.000 1.10 4.001 0.29 0.91 6.39 8295.001 0.278 0.29 0.26 3197.013 1.010 0.64 2.001 0.67 16.278 0.100 0.000 1.08 3314.95 10923.44 1214.082 0.60 SS 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 75 75 75 75 60 60 60 72 72 72 72 72 72 72 69 69 69 75 75 60 60 60 60 60 60 72 60 72 n 0.67 15.000 1.54 2.15 0.700 P 0.000 0.25 2582.86 4.29 0.15 12.86 9019.035 0.59 0.95 2582.43 4.100 0.61 9.209 0.030 0.209 1.278 0.100 0.08 5.29 0.700 0.25 6.01 7.000 0.010 0.43 3.000 1.39 8295.070 0.100 0.300 0.56 3.300 0.030 0.05 3957.100 0.26 .278 0.12 7.030 K 0.49 3.070 0.209 0.23 15.082 0.29 0.15 0.209 0.278 0.700 0.082 0.00 4950.81 7.29 0.013 0.97 8.14 12.278 0.013 0.010 0.01 5.71 8.278 0.001 0.082 0.34 3957.209 0.99 4.278 0.100 0.43 9.50 2.59 0.82 7.08 5546.90 3.68 2934.82 12.

07 7.278 0.209 1.63 5346.700 0.29 0.29 0.100 0.51 5.39 0.278 0.39 8295.000 1.80 .082 0.209 0.001 0.04 18.035 0.278 0.000 0.035 0.29 0.100 0.32 19.000 0.278 0.001 0.39 5447.700 0.013 0.78 6.59 0.Lampiran7 (sambungan) C 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 RC 56 57 41 79 81 82 82 63 84 47 48 49 50 51 52 53 54 73 56 75 59 59 100 102 102 104 104 105 FD 7 7 8 6 5 5 6 7 6 8 8 8 8 8 8 8 8 7 8 7 1 8 6 5 6 5 6 6 SL 10.100 0.29 0.100 0.29 0.08 19.63 8295.100 0.39 5447.71 4.278 0.08 5546.57 12.59 0.67 5346.001 0.082 0.001 0.278 0.09 2.23 2.25 4950.68 13.84 4.300 0.59 0.010 0.000 1.001 0.300 0.29 0.035 0.29 0.278 0.91 5.56 11.59 0.021 0.013 0.013 0.34 6.278 0.69 7.13 15.16 5.41 5546.082 0.070 0.000 SCC 0.25 10923.30 7.100 0.66 16.082 0.54 9.209 1.035 0.41 1962.000 0.66 24.278 0.082 0.52 9.42 8.010 0.00 4950.082 0.29 16.100 0.100 0.44 9070.15 0.83 8.000 1.021 0.100 0.010 0.08 2761.15 0.59 0.98 7.44 0.001 0.030 0.100 0.59 0.082 0.58 2.000 1.34 6.082 0.39 2761.100 0.17 9.59 0.000 1.082 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.59 0.21 14.16 9.278 0.36 10.21 6.013 0.29 0.59 0.83 12.082 0.46 4.25 4950.010 0.001 0.61 7.83 11.001 0.001 0.000 1.000 1.02 CL 8295.81 6.010 0.001 0.100 0.278 0.000 1.082 0.010 0.34 3.29 0.082 0.278 0.43 13.02 11.100 0.100 K 0.14 8.278 0.68 9.010 0.49 9019.00 9070.013 0.39 8295.030 0.59 COD 65 2 60 65 80 80 80 80 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 20 60 60 65 80 80 80 80 65 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 6 7 7 7 7 6 7 7 7 6 1 1 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 1 7 6 7 6 6 CS 5.013 1.030 0.59 0.59 0.001 0.278 0.99 3.000 1.59 0.28 5.700 0.29 0.80 5077.67 12.59 0.59 4.013 1.18 5.000 0.18 5.29 0.65 3.90 5077.013 0.070 0.001 0.035 0.61 12.001 P 1.00 0.000 1.035 0.32 11.010 0.59 0.035 0.278 0.035 0.001 0.278 0.41 9019.49 9019.63 5346.03 SS 2 2 2 2 3 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3 3 2 2 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 60 69 72 60 75 75 75 75 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 69 72 72 60 75 75 75 75 60 n 0.17 4.001 0.100 0.

010 0.29 0.46 24.070 0.082 0.300 0.90 18.209 0.021 1.082 0.082 0.29 0.100 0.96 20.04 10.79 9.63 2256.49 10.100 0.39 23.15 0.20 5077.59 0.45 10.59 0.12 22.035 0.00 4950.000 0.030 0.010 0.100 K 0.21 0.72 9.84 6.45 9.54 2.278 0.59 0.000 1.000 0.013 0.021 0.02 7.00 0.030 0.59 0.07 15.070 0.278 0.278 0.29 0.29 0.000 1.66 0.001 0.278 0.98 21.013 1.070 0.001 0.010 0.000 1.80 2761.72 5.00 5346.04 7.278 0.90 8.39 SS 2 3 3 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 2 2 2 3 3 2 3 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 60 60 60 60 60 69 60 60 60 69 69 69 72 72 69 75 75 75 75 75 75 75 60 60 60 60 60 60 n 0.001 0.89 13.013 0.00 1143.035 0.52 5.035 0.29 0.001 0.100 0.48 10.010 0.00 0.100 0.90 20.278 0.59 0.00 .50 3.15 0.47 3422.000 1.47 7.021 0.49 3209.01 3.000 1.100 0.070 0.100 0.00 0.082 0.76 11.07 5.300 0.278 0.95 6.84 22.000 1.035 0.013 0.021 0.66 10923.80 17.010 0.001 0.92 10.15 0.035 0.29 0.32 10.29 0.59 COD 65 65 65 65 65 20 65 65 65 20 20 20 60 60 20 80 80 80 80 80 80 80 65 65 65 65 65 65 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 6 6 6 1 1 1 7 7 7 1 7 7 7 1 1 1 7 7 6 7 6 1 1 6 6 1 1 1 CS 9.070 0.000 SCC 0.59 0.278 0.001 0.55 6.00 0.56 11.082 0.278 0.59 0.19 5.000 1.59 0.278 0.25 10923.92 6.39 22761.278 0.100 0.278 0.001 0.49 9070.00 9070.070 0.278 0.001 0.59 0.001 0.33 24.16 5.001 0.100 0.83 21.278 0.09 13.300 0.42 11.19 CL 5077.16 12.010 0.000 1.300 0.010 0.23 12.00 0.44 19.021 0.15 0.29 0.278 0.59 2.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.100 0.59 0.082 0.Lampiran7 (sambungan) C 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 RC 106 107 108 109 68 69 70 72 73 73 75 75 77 78 78 122 122 123 125 125 104 105 106 107 130 131 132 133 FD 6 6 6 6 8 8 8 1 1 8 1 8 1 1 8 5 6 6 5 6 7 7 7 7 6 6 6 6 SL 18.100 0.59 0.00 0.01 7.700 0.013 0.95 10.19 11.59 0.95 1274.000 1.00 0.278 0.209 0.082 0.278 0.94 15.082 0.013 0.013 0.15 0.88 5.000 1.92 3.83 13.001 P 1.035 0.082 0.035 0.001 0.59 19.100 0.001 0.100 0.20 3209.100 0.39 0.59 0.000 1.80 0.29 0.24 0.001 0.300 0.278 0.

29 0.00 10923.29 0.013 0.33 5.070 K 0.59 0.04 9.100 0.37 5.001 0.070 0.278 0.29 0.51 7.15 0.001 0.48 6.66 5253.013 1.300 0.60 16.300 0.91 9.04 14.000 0.100 0.15 0.01 9.39 SS 3 2 2 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 60 69 69 69 69 69 69 69 75 75 75 75 75 60 60 75 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 69 n 0.010 0.15 16.15 0.05 14.035 0.67 10923.65 10.41 9019.013 0.021 0.070 0.278 0.02 19.29 20.70 CL 0.001 0.000 1.300 0.08 7.97 13.82 19.001 0.29 0.000 1.73 4.82 8.001 0.100 0.100 0.15 COD 20 65 20 20 20 20 20 20 20 80 80 80 80 80 65 65 80 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 20 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 1 1 7 1 1 6 7 6 7 7 7 6 7 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 1 7 7 7 7 CS 6.070 0.06 10.001 0.67 11.278 0.001 0.082 0.91 2824.20 10.91 5840.93 3703.278 0.000 1.100 0.000 1.00 10923.000 1.89 8.300 0.070 0.013 0.300 P 0.40 6.29 0.03 4.001 0.000 1.60 6117.021 0.29 2802.00 0.278 0.17 15.100 0.71 20.278 0.02 7.013 0.300 0.67 0.59 0.59 0.278 0.100 0.07 8.035 0.55 6.59 0.082 0.44 5840.27 8.07 19.80 12.Lampiran7 (sambungan) C 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 RC 135 135 92 93 94 95 97 97 98 146 146 147 149 150 150 151 152 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 FD 5 6 8 8 8 8 1 8 8 5 6 6 5 5 6 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 SL 13.278 0.021 0.001 0.15 0.59 0.278 0.59 0.41 295.278 0.59 0.59 0.62 5.070 0.59 0.000 0.001 0.082 0.17 5.082 0.082 0.021 SCC 0.47 3422.60 2802.010 0.41 20.100 0.100 0.15 0.100 0.62 6.15 0.15 0.021 1.278 0.278 0.06 9.035 0.52 7.035 0.30 8.010 0.001 0.278 0.010 0.278 0.24 11.59 0.44 4.021 0.021 0.278 0.49 9019.81 16.082 0.66 9070.35 11.010 0.035 0.86 10.010 0.24 12.100 0.300 0.000 1.000 1.082 0.000 1.47 9.33 307.00 2256.278 0.082 0.070 0.070 0.021 0.59 0.41 8.00 0.035 0.67 10923.12 20.67 .67 10923.013 1.278 0.63 4.40 0.91 5840.001 0.000 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.082 0.100 0.15 0.300 0.76 3.59 0.021 0.73 10.070 0.000 1.59 0.10 12.44 307.63 16.300 0.100 0.278 0.24 5253.001 0.29 0.

082 0.15 0.100 0.59 0.300 0.000 0.59 0.91 0.278 0.278 0.300 P 0.00 2824.000 0.035 0.100 0.66 5253.36 1643.24 5253.15 0.91 5.000 1.001 0.010 0.22 12.37 20.082 0.89 20.100 0.58 12.59 0.001 0.77 3603.100 0.100 0.209 0.00 9.021 1.278 0.021 0.96 4.64 23.070 0.28 7.00 10923.74 22.53 16.00 0.66 9070.15 0.00 1643.02 CL 3422.000 1.00 0.27 7.000 1.300 0.100 0.01 8.59 0.16 11.278 0.013 0.36 5840.93 3703.001 0.100 0.66 .56 15.000 0.278 0.30 19.65 8.070 0.278 0.01 13.00 5253.001 0.86 16.08 14.86 9.001 0.000 1.021 SCC 0.010 0.94 10.100 0.070 K 0.035 0.59 0.070 0.035 0.00 0.19 10.000 1.40 0.59 0.278 0.000 1.38 10.43 8.000 1.41 0.76 10.59 0.59 0.29 0.001 0.082 0.013 1.25 7.85 14.29 0.082 0.300 0.52 20.67 10923.001 0.082 0.000 1.100 0.100 0.67 0.278 0.93 9.013 0.100 0.49 9070.278 0.082 0.69 28.49 9019.93 2824.070 0.082 0.01 17.278 0.000 1.001 0.700 0.021 0.54 7.001 0.59 0.278 0.59 0.66 5253.77 0.021 0.100 0.100 0.59 0.30 17.02 27.01 18.082 0.035 0.010 0.300 0.26 9.59 0.29 0.278 0.Lampiran7 (sambungan) C 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 RC 119 119 142 121 169 170 171 172 172 173 174 175 152 153 130 131 156 133 158 159 160 161 138 139 164 142 142 143 FD 1 8 7 8 5 5 5 5 6 6 6 6 7 7 8 8 7 8 7 7 7 7 8 8 7 1 8 8 SL 13.010 0.100 0.32 22.29 0.90 7.41 3603.87 11.000 0.73 18.77 8.278 0.59 0.001 0.013 0.82 11.278 0.77 3603.001 0.300 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.00 2185.53 14.43 25.59 0.001 0.001 0.001 0.50 15.15 COD 20 20 20 20 65 65 80 80 65 65 80 80 80 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 60 20 65 20 20 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 6 7 7 7 6 1 7 7 7 7 1 6 6 7 1 6 7 7 1 1 1 7 6 1 1 7 CS 6.29 0.29 0.070 0.278 0.278 0.59 0.030 0.000 1.15 0.79 14.53 19.300 0.013 1.15 9.278 0.04 SS 2 2 2 3 2 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 2 3 3 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 69 69 69 60 60 75 75 60 60 75 75 75 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 72 69 60 69 69 n 0.021 1.29 6.021 0.77 20.035 0.49 8.100 0.81 10.010 0.082 0.070 0.15 0.000 1.001 0.98 17.082 0.15 0.

000 0.278 0.278 0.59 65 0 0.00 0.082 0.93 1259.001 0.46 5.59 65 0 0.100 0.001 0.59 65 0 1.60 4.082 0.68 11.070 K 0.209 0.81 8132.87 6496.000 0.81 1259.59 65 0 1.00 0.72 23.209 0.300 0.100 0.278 0.39 21.52 9.Lampiran7 (sambungan) C 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 RC 424 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 155 156 157 158 159 160 161 186 164 164 189 166 168 171 172 FD 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 8 8 7 1 8 7 8 1 1 1 SL 15.013 0.00 0.001 0.15 9.001 0.700 0.59 23.05 9.100 0.035 0.082 0.035 0.34 8.100 0.29 80 0 1.15 20 0 0.000 0.001 0.99 16.34 5.082 0.15 20 0 1.40 17.070 0.59 65 0 0.59 65 0 1.010 0.29 80 0 1.86 7.09 19.82 24.69 16.87 .91 12.100 0.278 0.082 0.001 0.100 0.99 8.278 0.29 60 0 1.075 0.89 0.082 0.63 67.29 80 0 0.59 65 0 1.00 16533.013 0.000 0.15 20 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 7 7 7 7 1 6 6 6 6 1 1 1 6 6 7 7 6 6 1 1 1 1 7 7 CS 7.100 0.000 0.59 65 0 1.29 80 0 0.278 0.013 0.278 0.32 13.52 18.278 0.89 8132.000 0.76 9.29 11.010 0.000 0.000 0.001 0.08 6.59 65 0 0.59 65 0 1.300 P SCC COD FL 0.15 12.001 0.035 0.87 16533.66 6.00 0.010 0.300 0.89 8132.86 11.59 65 0 1.81 1166.010 0.278 0.021 0.05 19.100 0.100 0.92 11.14 8.29 80 0 0.29 17.88 10.030 0.021 0.55 9.001 0.013 0.001 0.278 0.00 2014.69 10.59 65 0 1.035 0.00 0.34 SS 2 3 2 2 3 2 2 3 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 3 3 3 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 69 60 60 60 75 75 75 75 60 75 75 60 60 60 60 60 60 60 72 72 60 60 60 69 69 n 0.000 0.278 0.000 0.070 0.001 0.10 19.66 5.030 0.92 8.278 0.75 14.100 0.87 16533.87 16533.26 8.013 0.29 80 0 0.100 0.700 0.38 7.082 0.070 0.59 65 0 1.76 20.19 9.300 0.17 0.53 17.001 0.67 CL 16533.20 8.81 2014.39 18.000 0.035 0.082 0.000 0.021 0.32 10.082 0.001 0.000 0.31 18.93 0.85 16.93 1166.15 20 0 0.082 0.035 0.100 0.021 0.278 0.278 0.013 0.000 0.001 0.010 0.87 16533.010 0.100 0.29 60 0 0.100 0.71 14.59 65 0 1.20 9.00 2824.082 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.

06 8.39 198 7 19.89 6.100 0.50 0.278 0.00 7.021 0.59 0.082 0.06 9.33 0.278 0.010 0.63 6.001 0.63 5.29 0.010 0.76 6496.15 0.035 0.035 K 0.300 0.082 0.59 0.29 0.63 8.42 8132.06 10.15 0.00 8.035 0.001 0.100 0.010 0.000 1.278 0.06 7.100 0.000 1.082 0.013 1.58 2014.29 COD 20 80 80 80 80 80 80 80 80 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 20 20 20 65 65 80 80 80 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 7 7 6 6 1 1 1 6 6 6 6 1 7 7 7 7 1 1 1 1 1 1 7 7 7 7 7 CS CL 8.15 0.100 0.082 0.035 0.035 0.02 0.34 0.29 0.278 0.73 242 6 19.000 1.06 9.001 0.59 0.001 0.53 219 7 13.05 8132.67 224 6 20.070 0.000 1.035 0.29 0.000 1.000 0.75 184 8 15.100 0.000 1.035 0.000 1.59 0.22 10906.082 0.89 6.15 0.010 0.15 0.300 0.40 6496.000 1.001 0.09 6496.80 0.278 0.278 0.94 10906.010 0.082 0.278 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.85 183 8 17.000 1.96 9.16 222 6 21.001 0.80 219 6 18.001 0.29 0.082 0.81 192 1 15.013 0.88 5000.29 0.013 0.070 0.000 1.100 0.Lampiran7 (sambungan) C 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 RC FD SL 172 8 16.100 0.010 0.29 0.81 10.013 0.001 0.44 197 7 20.59 0.278 0.19 10906.278 0.013 0.29 0.59 0.082 0.100 0.59 0.59 0.035 0.010 0.013 0.021 0.60 207 7 18.300 0.070 0.83 211 7 16.29 0.100 0.59 0.010 0.00 9.91 0.001 0.48 203 7 27.93 5000.013 0.89 8.00 5.01 195 1 16.013 0.100 0.00 12.00 9.68 5000.04 225 6 24.11 210 7 16.87 10906.035 0.59 0.61 192 8 19.18 195 7 10.06 11.36 8132.63 9.035 0.300 0.59 0.100 0.013 0.013 0.100 0.001 0.59 0.00 6.278 0.18 197 8 17.000 1.25 8132.53 2014.082 0.81 10.00 10.082 0.001 0.278 0.082 0.00 13.35 204 7 23.001 0.035 0.000 0.100 0.29 0.010 P 0.278 0.00 7.278 0.65 195 8 11.30 186 8 14.278 0.000 1.06 223 6 20.082 0.51 187 8 12.88 0.021 0.80 3553.001 0.89 8.278 0.06 7.05 0.36 222 7 15.59 0.070 0.24 0.11 194 1 19.06 .87 SS 2 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 75 75 75 75 75 75 75 75 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 69 69 69 60 60 75 75 75 n 0.100 0.013 SCC 0.010 0.010 0.001 0.59 6496.278 0.71 190 8 13.021 1.59 0.68 10906.75 193 1 12.

58 9.001 0.100 0.89 249 6 15.44 242 7 21.16 264 6 18.29 0.010 0.070 0.278 0.59 0.00 14412.000 1.06 0.63 6496.070 0.000 1.100 0.59 0.001 0.15 0.100 0.71 227 7 26.278 0.100 0.66 219 2 10.300 0.001 0.00 0.92 231 7 13.00 10906.000 1.000 0.06 10906.59 0.63 14412.01 0.29 0.000 1.035 0.82 210 1 10.000 1.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.021 0.000 1.06 5000.16 265 6 19.278 0.000 SCC 0.070 0.63 0.25 8.100 0.59 0.08 9.50 236 7 17.00 0.59 0.278 0.61 5.59 0.000 1.87 247 7 33.021 1.89 8132.001 0.90 12.278 0.00 0.63 14412.89 0.12 13.59 0.278 0.000 1.100 0.100 0.000 1.278 0.59 0.278 0.19 263 6 13.24 225 7 27.83 5.15 0.22 229 8 11.63 14412.001 0.000 1.001 0.278 0.300 0.63 .082 0.78 6.278 0.100 0.100 0.73 9.100 0.59 0.47 224 7 18.001 0.46 210 8 13.26 271 6 11.36 13.000 1.000 1.001 0.278 0.59 0.278 0.100 0.80 225 8 24.28 6.278 0.278 0.001 0.010 0.87 8.010 0.013 1.86 18.100 0.000 1.278 0.81 9.56 241 7 13.Lampiran7 (sambungan) C 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 RC FD SL 223 7 17.59 0.278 0.41 3289.021 0.85 CL 10906.00 14412.59 0.023 0.57 229 7 13.300 0.278 0.001 P 1.082 0.59 0.59 COD 65 65 80 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 65 80 20 20 20 65 80 80 65 65 65 65 65 65 65 65 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 6 6 1 6 6 6 1 6 7 7 7 1 1 1 1 7 7 1 7 1 7 7 7 7 7 7 7 CS 8.59 0.100 K 0.001 0.082 0.26 8.023 0.010 0.63 14412.59 0.63 14412.001 0.06 3289.72 10.06 0.278 0.91 5.00 6496.278 0.70 SS 2 2 2 2 3 2 3 2 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 60 60 75 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 79 69 69 69 60 79 75 60 60 60 60 60 60 60 60 n 0.100 0.06 5000.80 6.25 6.59 0.082 0.000 0.61 207 8 13.000 1.01 0.63 8132.001 0.60 4.45 7.00 5000.59 0.035 0.52 212 8 16.001 0.082 0.100 0.001 0.278 0.001 0.73 226 7 36.000 1.41 0.278 0.44 16.60 6.19 216 8 9.001 0.100 0.000 1.082 0.000 1.59 0.001 0.59 0.013 1.15 0.23 6.000 0.100 0.000 1.59 0.001 0.63 14412.51 219 1 12.59 0.001 0.74 234 7 16.000 1.001 0.100 0.96 6.63 14412.001 0.100 0.100 0.89 219 8 6.000 1.100 0.278 0.89 14.77 248 7 29.61 249 7 19.100 0.45 3.63 5.

59 0.29 0.001 0.000 1.278 0.28 0.100 0.79 0.700 0.100 0.59 0.100 0.278 0.010 0.001 0.278 0.48 14412.013 1.15 20903.12 14412.100 0.00 12.000 0.013 SCC 0.001 0.00 15.278 0.010 0.12 262 7 16.00 18.24 0.51 287 6 34.30 263 7 18.63 8.021 1.97 0.42 0.50 296 6 36.100 0.00 20.22 259 8 23.96 274 6 16.035 K 0.100 0.000 1.082 0.57 241 1 13.100 0.00 6.278 0.010 0.57 295 6 41.31 0.000 1.278 0.29 0.46 290 6 11.59 0.278 0.00 14.100 0.000 1.59 0.19 284 6 27.63 5.001 0.00 9.000 1.001 0.63 6.11 0.278 0.000 1.000 1.100 0.29 0.100 0.209 0.00 11.030 0.000 0.100 0.278 0.08 291 6 19.06 20903.00 18.278 0.100 0.00 12.63 9.000 1.62 297 6 33.89 SS 2 2 3 2 3 2 2 3 3 2 2 3 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 60 60 60 60 60 60 60 60 69 60 75 75 75 60 60 60 60 60 60 60 60 72 72 72 60 60 60 60 75 n 0.19 8.001 0.29 COD 65 65 65 65 65 65 65 65 20 65 80 80 80 65 65 65 65 65 65 65 65 60 60 60 65 65 65 65 80 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 7 7 1 1 1 1 1 7 7 1 1 1 1 1 1 7 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 CS CL 6.030 0.001 0.100 0.29 0.001 0.89 0.000 1.001 0.082 0.63 6.35 0.000 0.278 0.001 0.001 0.59 0.100 0.80 289 6 13.001 0.61 0.00 17.54 0.00 4.59 0.000 1.59 0.100 0.51 14412.278 0.100 0.700 0.082 0.000 1.14 277 6 18.278 0.02 253 7 12.Lampiran7 (sambungan) C 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 RC FD SL 252 7 13.59 0.278 0.100 0.278 0.001 0.082 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.001 0.000 0.278 0.57 0.59 0.00 20.59 0.00 17.00 13.100 0.84 288 6 24.73 0.58 262 1 22.278 0.100 0.00 .63 10.59 0.100 0.001 0.001 0.44 0.28 0.57 259 7 16.100 0.278 0.59 0.278 0.000 1.95 285 6 28.49 0.75 0.278 0.035 0.209 0.59 0.000 1.59 0.013 0.52 286 6 34.79 0.70 294 6 41.29 0.50 275 6 20.00 9.29 0.700 0.278 0.25 0.278 0.47 258 7 24.209 1.030 0.00 11.25 14412.001 0.035 0.59 0.59 0.00 16.59 0.001 0.000 1.300 0.070 0.26 0.035 0.010 P 1.59 0.19 9.23 276 6 19.001 0.000 1.00 8.40 14412.59 0.001 0.00 12.59 0.73 14412.45 241 8 8.000 1.59 0.15 0.278 0.77 292 6 30.000 1.278 0.22 293 6 36.013 0.59 0.98 283 6 25.278 0.001 0.

278 0.13 20903.19 16.61 286 7 46.60 307 6 38.001 0.23 306 6 38.100 0.000 1.00 19.100 0.070 0.30 0.07 314 6 54.209 0.001 0.19 7.00 25.38 0.209 0.19 23.700 0.100 0.000 1.209 0.278 0.278 0.021 1.59 0.070 0.26 304 7 27.17 0.278 0.000 0.278 0.19 11.41 305 6 50.29 0.030 0.030 0.700 0.035 0.278 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.85 0.52 20903.700 0.209 0.001 0.43 10.100 0.29 0.001 0.700 0.83 0.68 283 7 13.29 0.278 0.000 1.278 0.209 SCC 0.00 15.19 0.59 0.47 0.29 0.00 17.030 0.45 0.001 0.278 0.00 27.92 326 6 26.39 308 6 39.29 0.100 0.29 0.278 0.15 0.15 0.29 0.00 .030 0.59 0.59 0.19 7.278 0.209 0.030 0.001 0.278 0.700 0.35 20903.001 0.700 0.59 0.278 0.00 19.33 0.41 309 6 32.34 20903.20 263 8 8.31 0.19 4.278 0.278 0.030 0.030 0.278 0.278 0.71 284 8 11.12 0.021 0.40 20903.300 0.59 0.00 19.96 0.100 0.00 19.013 0.035 0.100 0.76 324 6 46.210 1.209 1.59 0.010 0.59 0.001 0.209 0.66 294 7 35.300 0.72 20903.10 20903.00 23.99 284 7 22.278 0.29 0.010 0.030 0.63 283 8 20.93 315 6 38.000 1.300 0.17 283 1 31.278 0.700 0.278 0.278 0.300 0.278 0.19 24.66 286 8 14.71 0.00 16.013 0.03 0.700 0.278 0.209 0.29 0.100 0.29 0.21 0.90 SS 2 2 3 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 69 60 60 60 60 60 60 60 72 72 72 72 72 72 72 60 60 60 69 69 75 75 69 60 72 72 72 72 72 n 0.15 0.15 0.13 0.000 0.29 COD 20 65 65 65 65 65 65 65 60 60 60 60 60 60 60 65 65 65 20 20 0 80 20 65 60 60 60 60 60 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 7 7 7 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 6 7 1 7 7 1 1 1 1 1 CS CL 9.00 26.100 0.00 29.04 305 7 48.001 0.700 P 0.070 0.030 0.59 0.29 0.00 20903.100 0.278 0.19 5.700 0.209 0.Lampiran7 (sambungan) C 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 RC FD SL 262 8 18.278 0.00 7.79 285 7 33.13 20903.00 17.14 310 6 29.000 1.070 0.082 0.000 1.25 304 6 54.82 6095.26 323 6 52.700 0.000 0.030 0.07 0.19 13.278 0.59 0.030 0.70 312 6 46.00 14.278 0.000 1.09 0.29 0.100 0.209 0.29 0.030 K 0.63 325 6 35.001 0.00 13.34 313 6 58.021 0.19 27.001 0.000 1.59 0.00 23.80 20903.45 285 8 14.700 0.209 0.

56 328 6 20.030 0.29 0.51 8.030 0.74 0.00 12.59 0.66 304 8 29.030 0.000 0.10 0.00 33.209 0.278 0.001 0.51 13.013 1.48 341 6 17.00 17.21 343 6 24.59 0.030 0.00 15.02 332 6 67.700 0.000 1.100 0.000 1.000 0.278 0.278 0.29 0.62 38.23 0.700 0.61 333 7 38.209 0.700 0.00 19.700 0.29 0.29 0.030 0.29 0.24 23733.76 6095.29 0.030 0.209 0.52 304 1 35.278 0.001 0.700 0.278 0.278 0.29 0.83 6095.100 0.00 .29 COD 60 60 60 60 65 65 65 65 80 65 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 65 65 65 65 65 60 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 1 1 1 1 1 1 1 6 6 6 6 7 7 7 7 7 1 1 1 1 7 7 1 1 1 1 6 1 1 CS CL 8.278 0.700 0.030 0.Lampiran7 (sambungan) C 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 RC FD SL 327 6 17.700 0.030 0.12 23733.001 0.278 0.29 0.030 0.030 0.700 0.209 0.29 0.278 0.00 23.030 0.29 0.51 8.278 0.81 0.59 0.100 0.100 0.24 324 7 16.001 0.47 6095.43 23.35 344 6 16.83 302 8 31.000 1.001 0.000 1.59 0.21 330 6 56.700 0.43 14.00 21.010 0.59 0.000 1.278 0.278 0.278 0.41 0.100 0.209 0.03 326 7 26.20 331 7 65.78 0.700 0.25 0.11 301 1 30.28 322 1 47.278 0.64 6095.88 0.19 3.97 331 6 74.209 SCC 0.278 0.48 0.100 0.209 0.700 0.82 320 8 45.29 0.278 0.15 323 1 47.05 0.278 0.29 0.278 0.035 0.278 0.209 1.59 0.00 10.43 14.49 329 6 35.001 0.700 0.00 8.001 0.59 0.18 0.700 0.27 323 7 16.29 0.100 0.209 1.91 0.29 0.209 0.700 P 0.000 0.00 37.89 305 8 7.278 0.209 0.278 0.59 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.030 0.030 0.64 20903.00 18.209 0.01 0.19 8.29 0.278 0.29 0.00 19.77 SS 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 2 3 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 72 72 72 72 60 60 60 60 75 60 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 60 60 60 60 60 72 n 0.030 0.209 0.26 0.52 23733.61 0.29 0.030 0.10 3843.209 0.50 3843.209 0.00 10.209 0.43 15.62 32.278 0.51 329 7 21.030 0.58 0.700 0.59 0.05 320 1 42.278 0.278 0.100 0.01 332 7 77.100 0.29 0.700 0.030 0.209 0.00 17.209 0.278 0.001 0.95 20903.001 0.43 17.46 319 1 36.001 0.82 333 6 34.000 1.00 22.00 28.95 301 8 29.700 0.02 0.000 1.278 0.700 0.278 0.100 0.59 0.030 K 0.91 6095.48 330 7 38.

278 0.209 1.59 364 7 32.28 346 1 25.700 0.700 0.29 0.013 0.43 3843.94 23733.278 0.29 0.700 0.29 0.29 0.000 1.278 0.209 0.53 326 8 13.00 12.010 0.030 0.29 COD 60 60 60 60 60 60 60 80 60 60 60 65 65 60 60 60 60 60 60 60 60 80 80 60 60 65 65 65 60 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 7 7 7 7 1 1 1 1 7 CS CL 15.030 0.27 23733.97 341 8 45.030 0.700 0.29 0.88 343 7 21.278 0.59 0.278 0.51 362 7 75.85 0.030 0.29 0.030 0.035 0.39 339 2 30.700 0.278 0.030 0.68 37.209 0.00 24.001 0.700 0.06 0.700 0.030 0.030 0.85 349 7 55.209 SCC 0.14 0.278 0.16 0.76 22970.00 25.209 0.209 0.278 0.00 15.48 SS 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 60 60 72 72 72 72 72 72 72 72 75 75 72 72 60 60 60 72 n 0.013 0.278 0.278 0.87 346 7 19.010 0.700 0.65 329 8 18.91 23733.700 0.278 0.700 P 0.209 0.02 17.700 0.29 0.209 0.51 6.030 0.030 0.51 9.00 14.030 0.43 354 1 48.19 0.000 0.278 0.76 347 8 37.100 0.700 0.010 0.00 15.65 341 1 63.030 0.209 0.209 0.51 9.00 31.278 0.22 0.29 0.00 16.001 0.278 0.030 0.51 13.68 22.19 363 7 74.209 0.209 0.000 0.55 341 7 20.700 0.035 0.82 324 8 27.29 0.278 0.700 0.62 27.91 3574.29 0.035 0.02 343 1 28.700 0.29 0.030 0.68 18.59 0.86 348 7 74.278 0.50 344 1 34.68 344 7 18.209 0.278 0.278 0.29 0.68 37.278 0.030 0.278 0.00 27.61 356 1 54.51 347 7 44.60 340 1 66.013 0.278 0.278 0.20 344 8 28.43 3843.29 0.25 6133.29 0.Lampiran7 (sambungan) C 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 RC FD SL 323 8 31.100 0.29 0.62 37.10 0.278 0.209 0.51 10.59 0.02 .29 0.59 0.38 22970.29 0.29 0.51 10.209 1.00 14.30 0.59 0.000 1.209 0.700 0.43 22970.000 1.278 0.209 0.700 0.030 0.278 0.29 0.278 0.68 9.32 339 1 51.29 0.278 0.030 K 0.278 0.700 0.29 0.209 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.209 0.001 0.209 0.001 0.001 0.29 0.030 0.00 27.100 0.51 0.29 0.100 0.00 33.700 0.030 0.32 23733.71 337 1 30.700 0.24 6133.100 0.209 0.84 23733.00 22.030 0.75 22970.12 355 1 54.60 22970.700 0.78 23733.030 0.98 0.82 347 1 24.33 0.29 0.23 12.80 0.

700 0.05 369 1 36.030 0.59 379 1 34.030 0.000 0.030 0.209 0.209 0.278 0.91 36.278 0.02 0.030 0.29 0.32 18.00 0.700 0.278 0.02 6.030 0.030 K 0.00 0.29 0.030 0.278 T 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 C 0.06 8.30 17.278 0.278 0.278 0.100 0.04 372 1 13.36 369 2 43.00 0.00 0.209 0.209 0.29 0.700 0.71 389 1 23.39 14.700 P 0.010 0.29 0.00 0.278 0.013 0.29 0.70 28.00 0.23 0.278 0.278 0.700 0.278 0.209 0.29 362 1 35.030 0.18 21.77 7.278 0.29 COD 60 60 60 60 60 80 80 80 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 65 60 60 60 60 FL 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 FA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 GS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 IF 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 CI 7 1 1 7 1 1 1 1 1 7 7 1 1 7 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 CS 17.278 0.209 0.278 0.700 0.00 3574.278 0.030 0.00 6133.700 0.209 1.29 0.010 0.209 0.700 0.Lampiran7 (sambungan) C 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 RC FD SL 357 1 34.030 0.29 0.278 0.209 0.29 0.66 393 7 59.00 0.030 0.035 0.209 0.209 0.00 0.17 6.030 0.29 0.700 0.278 0.209 SCC 0.02 6133.030 0.78 9.700 0.31 388 3 30.59 39.700 0.29 0.278 0.00 0.700 0.030 0.19 375 7 79.29 0.02 36.00 0.001 0.02 0.278 0.75 CL 6133.00 0.700 0.02 0.209 0.29 0.700 0.29 0.00 0.209 0.04 385 7 73.96 8.030 0.035 0.00 0.00 0.53 18.030 0.030 0.00 6133.030 0.29 0.00 0.700 0.12 383 1 16.278 0.50 19.209 0.700 0.77 357 8 29.26 383 7 38.01 376 7 38.64 383 8 37.035 0.80 381 8 14.278 0.278 0.209 0.030 0.209 0.700 0.030 0.13 19.63 19.35 381 1 12.36 11.06 370 7 18.700 0.209 0.29 0.278 0.92 370 8 16.00 0.29 0.010 0.00 0.209 0.29 0.278 0.25 388 1 38.83 29.00 .209 0.030 0.030 0.29 0.29 0.82 362 8 73.209 0.700 0.700 0.40 7.64 17.49 SS 2 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 LS 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 999 CN 72 72 72 72 72 75 75 75 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 72 60 72 72 72 72 n 0.278 0.29 0.278 0.29 0.209 0.700 0.700 0.29 0.29 0.99 369 8 23.29 0.29 0.278 0.29 0.00 3574.209 0.030 0.53 9.700 0.700 0.50 11.66 15.59 0.278 0.030 0.030 0.209 0.56 372 8 18.013 0.700 0.27 7.11 33.53 360 8 15.29 0.54 379 8 14.013 0.22 384 7 66.00 0.278 0.23 6.40 394 7 57.23 0.209 0.46 359 8 13.

Lampiran7 (sambungan)
C
398
399
400
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
412
413
414
415
416
417
418
419
420
421
422
423

RC FD SL
389 8 13.04
390 8 11.47
391 8 13.46
392 8 39.29
401 7 49.31
396 2 12.07
396 1 31.52
397 1 39.58
398 1 28.21
398 8 19.69
399 8 25.23
401 1 49.01
409 7 37.17
405 2 22.16
405 1 47.14
406 1 60.59
40 1 44.50
407 8 42.49
409 1 43.80
413 2 29.87
413 1 55.29
414 1 54.92
415 1 54.67
415 8 34.09
419 1 31.89
420 1 51.02

SS
2
3
2
2
3
3
3
2
2
2
2
2
3
3
3
2
2
2
3
3
3
2
2
3
3
3

LS
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999
999

CN
72
72
72
60
60
60
72
72
72
72
60
60
60
60
72
72
60
60
60
60
72
72
60
60
72
60

n
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.100
0.100
0.100
0.100
0.030
0.030
0.100
0.100
0.030
0.100

K
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278
0.278

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

C
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.001
0.001
0.001
0.001
0.700
0.700
0.001
0.001
0.700
0.001

P
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
1.000
1.000
1.000
1.000
0.209
0.209
1.000
1.000
0.209
1.000

SCC
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.59
0.59
0.59
0.59
0.29
0.29
0.59
0.59
0.29
0.59

COD
60
60
60
65
65
65
60
60
60
60
65
65
65
65
60
60
65
65
65
65
60
60
65
65
60
65

FL
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

FA
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PI
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

PS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

GS
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

IF
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CI
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
6
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

CS
6.52
5.73
6.73
19.64
24.65
6.03
15.76
19.79
14.11
9.84
12.62
24.50
18.58
11.08
23.57
30.30
22.25
21.24
21.90
14.94
27.65
27.46
27.34
17.04
15.94
25.51

CL
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
8723.85
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00

Lampiran7 (sambungan)
Keterangan:
C =Nomorsel
RC =Sel penerima
FD =Arahaliran
CN =Bilangankurvaaliranpermukaan
SL =Kemiringanlereng
SS =Bentuklereng
LS =Panjanglereng
N =KoefisienkekasaranManning

K =Faktor erodibilitastanah
C =Faktor pengelolaantanah
P =Faktor teknikkonservasi tanah
SCC =Konstantakondisi permukaan
T =Tekstur
FL =Indikator penggunaanpupuk
FA =Ketersediaanpupukpadapermukaantanah
PI =Indikator penggunaanpestisida

PS =Point sourceindicator
GS =Sumbererosi tambahan
COD =KebutuhanOksigenkimiawi
IF =Indikatorimpoundment
CI =Indikatorsaluran
CS =Kemiringanlerengsaluran
CL =Panjangsaluran

Lampiran 8 Contoh Hasil Keluaran Model AGNPS
Episode 1 Januari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
1.30 inches
26

Values at the Watershed Outlet
Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
113
2.87
0.01
0.99
1.43
0.00
0.05
0.55
64

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

Sediment Analysis
Area Weighted
Area
Erosion
Delivery Enrichment
Mean
Weighted
Particle Upland Channel Ratio
Ratio
Concentration Yield
Yield
type
(t/a)
(t/a)
(%)
(ppm)
(t/a)
(tons)
_________________________________________________________________________
CLAY
1.16
0.00
64
10
172358.40
0.74
12568.0
SILT
0.70
0.00
0
0
59.18
0.00
4.3
SAGG
6.62
0.00
0
0
32.00
0.00
2.3
LAGG
2.90
0.00
0
0
26.67
0.00
1.9
SAND
0.23
0.00
0
0
8.30
0.00
0.6
TOTAL

11.61

0.00

6

1

172484.50

0.74

12577.2

Episode 2 Januari
Watershed Summary
Watershed Studied
The area of the watershed is
The area of each cell is
The characteristic storm precipitation is
The storm energy-intensity value is

DTA Jeneberang
16920 acres
40.00 acres
0.70 inches
10

Values at the Watershed Outlet
Cell number
Runoff volume
Peak runoff rate
Total Nitrogen in sediment
Total soluble Nitrogen in runoff
Soluble Nitrogen concentration in runoff
Total Phosphorus in sediment
Total soluble Phosphorus in runoff
Soluble Phosphorus concentration in runoff
Total soluble chemical oxygen demand
Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff

169
0.0
1
0.00
0.00
1.20
0.00
0.00
0.05
0.00
69

000
inches
cfs
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
lbs/acre
ppm
lbs/acre
ppm

03 0.00 0 1 105.0 TOTAL 1.08 0.81 0.3 SILT 0.65 0.00 0.39 0.00 1.13 0.73 0.1 SAND 0.00 0.00 0 0 246.34 0.00 0.19 0.00 0.1 SAND 0.05 0.00 60 000 inches cfs lbs/acre lbs/acre ppm lbs/acre lbs/acre ppm lbs/acre ppm Sediment Analysis Area Weighted Area Erosion Delivery Enrichment Mean Weighted Particle Upland Channel Ratio Ratio Concentration Yield Yield type (t/a) (t/a) (%) (ppm) (t/a) (tons) _________________________________________________________________________ CLAY 0.35 0.00 0.26 0.0 TOTAL 4.2 Episode 3 Januari Watershed Summary Watershed Studied The area of the watershed is The area of each cell is The characteristic storm precipitation is The storm energy-intensity value is DTA Jeneberang 16920 acres 40.00 0 3 141.00 0.00 0.5 .00 0 0 190.90 0.48 0.00 0.53 0.91 0.00 0 1 2488.00 0 1 133.77 0.00 0.00 0 9 5488.88 0.1 SAGG 2.0 LAGG 0.00 0 6 1572.00 2.60 0.9 SILT 0.00 acres 0.40 inches 3 Values at the Watershed Outlet Cell number Runoff volume Peak runoff rate Total Nitrogen in sediment Total soluble Nitrogen in runoff Soluble Nitrogen concentration in runoff Total Phosphorus in sediment Total soluble Phosphorus in runoff Soluble Phosphorus concentration in runoff Total soluble chemical oxygen demand Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff 169 0.00 1.43 0.Lampiran 8 (sambungan) Sediment Analysis Area Weighted Area Erosion Delivery Enrichment Mean Weighted Particle Upland Channel Ratio Ratio Concentration Yield Yield type (t/a) (t/a) (%) (ppm) (t/a) (tons) _________________________________________________________________________ CLAY 0.00 0.09 0.35 0.00 0.43 0.00 0 1 6322.00 0 0 337.53 0.00 0.1 LAGG 1.0 0 0.00 0 0 143.09 0.69 0.00 0 1 450.00 0.0 SAGG 0.

12 0.11 0.00 0 0 180.02 0.00 0 1 450.60 0.00 0 6 1330.00 0.65 0.1 SAND 0.00 0.00 1.0 LAGG 0.4 .19 0.05 0.00 0.00 0.00 0.0 SAGG 0.3 SILT 0.76 0.90 0.13 0.00 0.28 0.Lampiran 8 (sambungan) Episode 1 Februari Watershed Summary Watershed Studied The area of the watershed is The area of each cell is The characteristic storm precipitation is The storm energy-intensity value is DTA Jeneberang 16920 acres 40.00 0 1 2232.00 0.0 0 0.40 inches 3 Values at the Watershed Outlet Cell number Runoff volume Peak runoff rate Total Nitrogen in sediment Total soluble Nitrogen in runoff Soluble Nitrogen concentration in runoff Total Phosphorus in sediment Total soluble Phosphorus in runoff Soluble Phosphorus concentration in runoff Total soluble chemical oxygen demand Soluble chemical oxygen demand concentration in runoff 169 0.95 0.00 acres 0.0 TOTAL 1.00 0.07 0.00 0.00 60 000 inches cfs lbs/acre lbs/acre ppm lbs/acre lbs/acre ppm lbs/acre ppm Sediment Analysis Area Weighted Area Erosion Delivery Enrichment Mean Weighted Particle Upland Channel Ratio Ratio Concentration Yield Yield type (t/a) (t/a) (%) (ppm) (t/a) (tons) _________________________________________________________________________ CLAY 0.00 0 1 129.00 0 3 141.64 0.

71839 -1.68418 S = 0.86646 -0.16 -0.74 -0.44965 -0.00948 0.01401 0.49484 -0.42815 0.30318 -0.000 R-Sq(adj) = 81.23 -0.01211 0.159 CH0.24955 -0.717 62.63R 2.32R 0.00958 0.15RX 1.71 Log-Q -0. .00951 0.33R -2.22185 -1.71489 -0.35 -1.44 0.74 -0.00R -2.01472 0.02501 0.1% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 1 361 362 SS 50.38R 2.38355 0.00965 Residual 0.0.02660 0.797 + 0.86328 -0.30318 -1.000 0.05R -2.05 0.684 Log-CH Q = 0.41558 -0.319 MS 50.31335 SE Fit 0.37915 St Resid 2.37R 2.02706 0.66 0.35957 -0.000 Regression Analysis: Log-Q versus Log-CH The regression equation is Log-Q = .02991 0.84 -0.42606 -0.51 0.41678 0.02028 0.61705 0.44 -0.602 0.74 -0.23 X -2.42854 -0.01255 0.032 F 1559.09722 -0.Lampiran 9 Hasil Analisis Model Regresi Keluaran Minitab ————— 10/5/2007 12:39:52 PM —————————————————— Correlations: Q (m^3/s).89 39.19382 -1.43672 0.56 0.65 -0.85R 2.79694 0.68 363 cases used.07058 -0.80507 -1.2% T -56. CH (mm) Pearson correlation of Q (m^3/s) and CH (mm) = 0.36RX 1.12 0.04 -0.73RX 2.48667 0.05061 -1.42356 0.180159 SE Coef 0.41737 -0.85699 -0.38784 0.42 X -2.38976 -1.02501 0.68613 -0.30103 -1.16R 2.00951 0.05 P 0.09722 -1.02501 0.03782 -0.36806 -0.51310 0.69250 Fit -0.48 P 0.41736 0.01733 R-Sq = 81.26R -2. 3 cases contain missing values Predictor Constant Log-CH Coef -0.67985 -0.02376 0.25257 -0.37R -2.40733 -0.000 Unusual Observations Obs 7 55 56 165 167 178 181 183 185 201 202 203 205 242 253 259 260 262 266 269 275 Log-CH 0.90309 -1.11R R denotes an observation with a large standardized residual.04195 -0. X denotes an observation whose X value gives it large influence.00983 0.03497 0.83425 -0.36844 -0.44 0.54 0.45RX 3.67366 -0.925 P-Value = 0.05R -2.18709 -1.06048 -1.64243 -1.98716 -1.02028 0.18709 0.01143 0.20066 -0.35002 -1.30318 -1.46RX 2.84164 -0.20761 -1.87 -1.32206 -0.01416 0.47219 0.602 11.81 X -2.37072 -1.01 -0.50914 -0.68756 -1.

03518 0.47002 -0.01926 0. = 0.00982 0.39487 -0.01288 0.41795 -0.00R R denotes an observation with a large standardized residual.02 -0.18630 -1. .90341 -1.19772 -0.000 Regression Analysis: Log QpLap.82 Log QpLap.58558 0.19RX 3.03019 0.21 X -2.79R 2.37253 St Resid -5.18867 0.39282 0.15 -1.43441 0.84177 -0.35 -2.51827 0.63617 -1.40053 0.05 X -2.37580 -0.86786 -0.31964 SE Fit 0.325 MS 49. Pearson correlation of Log QpMod.28372 -0.02530 0.52 -2.01244 0.51413 -1. 363 cases used.91 P 0.99 X 1.44RX 1.01176 0.30476 -1.76 -1.42382 -0.01503 0. 1.01795 R-Sq = 79.679 Log QpMod. X denotes an observation whose X value gives it large influence.18R -2.32 -2.07384 -1.48288 0.52 -1.35490 -1.97 -0.27193 -1.39 -0.03792 -0. and Log QpLap.22 -2.70579 -0.40407 0.04916 0.35 -2.67897 -0.68634 -0.783 0.33570 -1.9% T 12.67941 S = 0.35414 -1.783 12.79264 -1. = 0.00960 -0.02057 0.92089 -0.56 -1.93 -1.02731 0.21023 -1.07058 -0.21982 -0.85676 -0.43502 -0.81 -2.27193 -0.894 P-Value = 0.45071 -0.36335 0.42 37.69217 Fit 1.07384 -0.12RX -2.60R 2.67945 -1.000 R-Sq(adj) = 79.000 Unusual Observations Obs 1 55 56 165 167 178 181 183 185 201 202 203 205 242 253 259 260 262 266 275 Log QpMod. Coef 0. The regression equation is Log QpLap.34R 1.000 0.67331 -0.19648 -1.45074 0.22449 -1.239 + 0.16R 2.40605 -0.89 X 1.82068 -0.02403 0.66811 -1.22 -1..11R 2.02530 0.93 -1.22313 -0.01447 0.00995 Residual -0. versus Log QpMod.186393 SE Coef 0.02057 0.17RX 2. 3 cases contain missing values Predictor Constant Log QpMod. Log QpLap.28R -2.04879 -1.542 62.27193 -1.34919 0.85 P 0.32R 0.02R -2.035 F 1432.00992 0.29 -2.54 X -2.13R -2.02686 0.23924 0.00981 0.98651 -1.43185 0.02530 0.87 -2.Lampiran 9 (sambungan) ————— 11/17/2007 12:27:59 AM ———————————————— Correlations: Log QpMod. 0.8% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 1 361 362 SS 49.22 -1.

013 R-Sq(adj) = 77.1427 0..09 P 0.905 P-Value = 0.382 Log QsMod 6 cases used.230 + 0.61 4.38162 S = 0.228457 SE Coef 0.Lampiran 9 (sambungan) ————— 11/17/2007 12:27:07 AM —————————————————— Correlations: Log QsLap. and Log QsMod = 0.05219 F 18.182 0.4% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 1 4 5 SS 0.94394 0.94394 0. versus Log QsMod The regression equation is Log QsLap.20877 1.013 Regression Analysis: Log QsLap.013 . Log QsMod Pearson correlation of Log QsLap.08974 R-Sq = 81.25 P 0.2300 0. = 0.9% T 1.15271 MS 0. 360 cases contain missing values Predictor Constant Log QsMod Coef 0.