You are on page 1of 12

PROSES PENGGILINGAN GABAH

karakteristik fisik padi sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi sebenarnya mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Penggilingan padi mempunyai peranan yang sangat vital dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan. 2005). Kegiatan pasca panen meliputi proses pemanenan padi.13% dan penggilingan 2.59 sampai 2. penyimpanan padi. pengeringan 2. BPS (1996) menyebutkan kehilangan hasil panen dan pasca panen akibat dari ketidaksempurnaan penanganan pasca panen mencapai 20. Dalam kaitan dengan proses penggilingan padi. Besarnya kehilangan pasca panen terjadi kemungkinan dikarenakan sebagian besar petani masih menggunakan cara-cara tradisional atau meskipun sudah menggunakan peralatan mekanis tetapi proses penanganan pasca panennya masih belum baik dan benar. pengeringan gabah. sehingga perlu dipisahkan.65 juta ton. Mutu giling ini juga ditentukan dengan banyaknya beras putih atau rendemen yang dihasilkan. Latar Belakang Masalah utama dalam penanganan pasca panen padi yang sering dialami oleh petani adalah tingginya kehilangan hasil selama pasca panen.5 sampai 1 persen untuk setiap kegiatan pasca panen dan secara bertahap dapat dikurangi sampai 3 sampai 5 persen berarti total produksi padi yang bisa diselamatkan mencapai 1. sampai usaha ini mendapat respon yang baik dari petani. bagian-bagian tersebut dilepaskan sampai akhirnya didapatkan beras yang enak dimakan yang disebut dengan beras sosoh (beras putih). Pemerintah perlu lebih mengkampanyekan penanganan pasca panen yang baik. Mutu giling ini sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomis dari beras.52%. dan penggilingan gabah hingga menjadi beras. Butiran padi yang memiliki bagian-bagian yang tidak dapat dimakan atau tidak enak dimakan. Selama proses penggilingan.BAB 1 PENDAHULUAN 1.51%. Salah satu kendala dalam . perontokan 4. Mutu beras giling dikatakan baik jika hasil proses penggilingan diperoleh beras kepala yang banyak dengan beras patah minimal.78 %. dimana kehilangan saat pemanenan 9.19%. Jika tingkat kehilangan panen bisa ditekan sampai minimal 0. Suatu jumlah yang sangat besar untuk mendukung mengamankan target produksi beras nasional setiap tahunnya (Purwanto.

penekanan terhadap butir beras sehingga terjadi butir patah.produksi beras adalah banyaknya beras pecah sewaktu digiling. Hal ini dapat menyebabkan mutu beras menurun (Allidawati dan Kustianto. yaitu teknik penggilingan dan alat penggilingan. nilai rendemen beras giling dipengaruhi oleh banyak faktor yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok ketiga menunjukkan kualitas beras terutama derajat sosoh yang diinginkan. 1989).05 2 V 95 14 60 35 5 3 5 5 0. Kelompok kedua merupakan faktor penentu rendemen yang terlibat dalam proses konversi gabah menjadi beras. Menir merupakan kelanjutan dari butir patah menjadi bentuk yang lebih kecil daripada butir patah (Damardjati. Kelompok pertama adalah faktor yang mempengaruhi rendemen melalui pengaruhnya terhadap mutu gabah sebagai bahan baku dalam proses penggilingan yang meliputi varietas. 1988). cekamaman lingkungan.02 1 III 95 14 78 20 2 2 2 2 0. Komponen Mutu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Derajat sosoh (min) Kadar air (max) Butir kepala (min) Butir patah total (max) Butir menir (max) Butir merah (max) Butirkuning/rusak (max) Butir mengapur (max) Benda asing (max) Butir gabah (max) Mutu I % 100 % 14 % 95 % 5 % 0 % 0 % 0 % 0 % 0 Butir/100g 0 Satuan II 100 14 89 10 1 1 1 1 0. kemudian gabah tersebut dimasukkan ke dalam alat penyosoh untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras. Saat ini telah dibuat RSNI mengenai mutu beras giling yang dapat dilihat pada tabel 1. dan iklim. teknik budidaya. karena semakin tinggi derajat sosoh maka rendemen akan semakin rendah. Mutu beras: RSNI 01-6128-2008 No. sebagian mapun seluruhnya agar menhasilkan beras yang putih serta beras pecah sekecil mungkin. Setelah gabah dikupas kulitnya dengan menggunakan alat pecah kulit. Selama penyosohan terjadi. .20 3 Penggilingan beras berfungsi untuk menghilangkan sekam dari bijinya dan lapisan aleuron. Tabel 1. Menurut Nugraha et al. agroekosistem.02 1 IV 95 14 73 25 2 3 3 3 0.(1998).

Membandingkan rendemen serta mutu hasil penggilingan dengan standar mutu beras menurut BULOG. BAB 2 METODOLOGI 1.2. b. .5 menit. Mengamati dan menghitung rendemen serta mutu hasil penggilingan gabah. 1. Membandingkan hasil penggilingan dengan 1 dan 2 lintasan pecah kulit. Mengetahui proses penggilingan gabah dengan unit penggilingan padi (Rice Milling Unit) skala laboratorium. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum ini dilaksanakan di ruang laboratorium yang berada di Leuwikopo pada hari Jum’at. Tujuan a. 7 Mei 2013 pada pukul 15:30 – 17:00. dan 2 menit) terhadap mutu hasil penggilingan c. serta mempelajari pengaruh lama penyosohan (1 menit.

dan stopwatch. Diambil 200 gram gabah pecah kulit dan dilakukan penyosohan dengan waktu penyosohan 1 menit (untuk kelompok 2). Setiap kelompok (ada 3 kelompok). 4. 1. baki penampungan. Dilakukan pemutuan dengan mengambil masing-masing sampel sebanyak 100 gram secara acak dan dimasukkan ke dalam cylinder separator. Sebelum digiling diukur terlebih dahulu kadar air awal. cylinder separator (pemutuan).5 menit (untuk kelompok 1). BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Alat dan Bahan -Peralatan : Moisture tester.2. Timbang beras menir. beras patah. mengambil sampel sebanyak kurang lebih 500 gram kemudian dibersihkan. 3. (Sudut penampung dibuat 30o dan dilakukan pemutuan selama 3 menit) 6. Sampel tersebut digiling dengan menggunakan paddy husker dengan lintasan giling 1 (untuk kelompok 1 dan 3). Prosedur 1. paddy huster (pemecah kulit). dan 2 menit (untuk kelompok 3). Hasil . -Bahan : Gabah Kering Giling (GKG) 3. dan beras kepala. Timbang gabah pecah kuit yang diperoleh. Timbang berat akhir berat yang dihasilkan dari penyosohan. dengan menggunakan moisture tester sebanyak 3 kali ulangan. dan 2 (untuk kelompok 2). 2. 5. timbangan/ neraca. Diambil sampel dari hasil gilingan yang tersisa secukupnya dan dilakukan pengukuran kadar air akhir. whitener/ polisher (penyosoh).

Beras pecah kulit 2 jalur Gambar 4.Gambar 1. Beras pecah kulit 1 jalur Gambar 3. Gabah Gambar 2. Beras sosoh .

Alat yang digunakan dalam proses penggilingan gabah ini adalah Paddy Husker.4 78.2 8 4.70 % 2 1 menit lintasan Tabel 3.2 Penyosohan 8 2 Rendemen 72.0 160.Tabel 2. Dalam praktikum ini.04 80. Jumlah lintasan ini menunjukkan jumlah ulangan penggilingan menggunakan Husker.11 Penyosohan Lama Penyosohan 1.30 Penggilingan Berat Awal 200 200 Penyosohan Berat Akhir 144.5 Beras Pecah Kulit 3 4 Rendemen 65.0 7 4.5 7 13.92 0 0 0 0 Butir Gabah 4 1 2 Campuran Varietas Lain 0 0 0 Beras Kepala Butir Patah Butir Menir Butir Kuning/ Rusak Butir Merah Butir Mengapur Benda Asing 7.5 1 Jumlah Lintasan 1 2 Padi 3 15. Setelah digiling kemudian disosoh dengan alat penyosoh padi dengan 3 . Gabah yang digunakan untuk penggilingan adalah gabah yang telah dikeringkan.9 81.6 500 331.30 % 200 Gram 141.4 89. yaitu 1 lintasan dan 2 lintasan.47 0 0 0 0 Butir Utuh 15. Pengamatan Pemutuan Padi Nilai Komponen Mutu 1 Derajat Sosoh Kadar Air 2.9 Berat Awal Gabah 500 500 328.1 0 11. Pembahasan Praktikum kali ini adalah tentang penggilingan gabah.5 3 2 Satuan % % % % % % % % % % Butir/ 100 gram % 2.96 0 0 0 0 14. dilakukan 2 perbedaan menggunakan Husker-nya. Pengamatan Penggilingan Nilai Parameter 1 2 Kadar Air Gabah 15.4 0 Gram 70.26 Keteran gan 3 14.60 65.2 14.5 3 Satuan Keterang an %bb Gram Gram 66.0 326.

jenis perlakuan waktu yang berbeda. . Jumlah ini merupakan jumlah gabah terkecil dari penggilingan 1 lintasan yang memiliki jumlah gabah 4 dan 2 butir/100gram beras yang dihasilkan dari tiap penggilingan.11%. sedangkan penggilingan dengan 2 lintasan memiliki 13.96% beras menir dan penyosohan selama 2 menit yang memiliki 4.07% beras patah. sedangkan penggilingan 1 lintasan dengan penyosohan selama 2 menit masuk mutu IV. Merujuk ke pemutuan beras menurut RSNI 01-6128-2008.30%. Namun beras dari pengilingan 2 lintasan memiliki banyak butir beras patah dibandingkan dengan hasil dari penggilingan 1 lintasan.5 menit. Hal ini terjadi karena lebih banyaknya sekam yang terkelupas dari padi dan terbuang. dapat terlihat bahwa mutu beras hasil penggilingan 2 lintasan masuk kategori mutu III.66. rendemen yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan rendemen 1 lintasan.26% dan 11. Selain itu rendemen dari tiap penyosohan yaitu bernilai 70. Hal ini juga yang menyebabkan semakin banyaknya beras menir. Pada penggilingan 2 lintasan. yaitu 1 menit. Dari hasil yang diperoleh. ini terlihat dari penyosohan 1. dan 2 menit. Semakin lama proses penyosohan maka rendemen dari proses penyosohannya akan semakin berkurang. Namun penggilingan 1 lintasan dengan penyosohan selama 1.5 menit yang hanya 2. Banyaknya jumlak lintasan saat penggilingan juga berpengaruh pada jumlah beras yang patah. 1.30% . Dari hasil yang diperoleh. mutu beras yang cukup baik adalah hasil penggilingan dengan 2 lintasan karena hanya memiliki 1 butir gabah/100gram beras yang dihasilkan.28% beras patah.5 menit belum masuk ke standar mutu karena memiliki jumlah butir gabah yang terlalu banyak. Ini dapat dilihat dari hasil penggilingan 1 lintasan yang hanya memiliki 7. rendemen dari penggilingan didapat nilai yang relatif sama yaitu sebesar 65.70% 80. Setelah disosoh kemudian beras sosoh dipisahkan butir utuhnya dari butir patah dan butir menir menggunakan cylinder separator.92% beras menir.

dan jumlah gabah yang tidak terolah saat penggilingan. jumlah beras butir patah. Hal lain yang mempengaruhi mutu beras yaitu jumlah beras menir dan rendemen dari lamanya penyosohan. Hasil yang dipengaruhi dari jumlah lintasan penggilingan adalah jumlah rendemen penggilingan. Mutu hasil penggilingan dan penyosohan beras dapat dilihat pada RSNI 01-6128-2008. jumlah lintasan penggilingan sangatt berpengaruh pada hasil yang didapat. .BAB 4 PENUTUP Kesimpulan Pada hasil penggilingan gabah yang diperoleh. Hasil ini merupakan hasil untuk standar pemutuan.

S. [terhubung berkala] http://onnyfahamsyah. Biro Pusat Statistik.Mardianto. 4/XVII/Agustus 2005.J.com/2010/02/kegunaan-mesin-penggiling. Badan Urusan Logistik. Onny Fahamsyah. Y. IPB. Balai Penelitian Tanaman Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Partohardjono. 1983. A. Tinjauan tentang rendemen beras giling dan susut pascapanen: 1. Bogor. 1988. M.scribd. Inovasi Online Vol. Penerbit Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat. susut dan pemecahannya.S. dan konsumsi beras. Jakarta.Kustianto. PT Gramedia Pustaka Utama. Fakultas Teknologi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Waries. 2005. SNI-6128-2008. U. 2010. 1989. S. Dalam: Suryana. Metode uji mutu beras dalam program pemuliaan padi. Setyono.A. 15 Hal. Dalam: Ismunadji.Widjono. Syam dan Yuswadi. Departemen Pertanian. Dan S. Bogor. Sukamandi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Damardjati. M. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pendapatan. Padi Buku 2.blogspot. 2006.html (13 Mei 2013) Purwanto. 1998. Badan Pusat Statistik Indonesia. Hal: 103. A. M. 2001. BPS.. A. Studi Konservasi dan Susut Gabah ke Beras Tingkat Nasional. Makalah. Hal: 363-375. Struktur kandungan gizi beras. Suismono dan A.159. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEMFEUI). Dalam: Ismunadji M. Anonim. Pusat Harianto. 1996.DAFTAR PUSTAKA Allidawati dan B. Bogor. Nugraha.Munarso. harga. . D.com/doc/66500379/19043-SNI-6128-2008 (13 Mei 2013) Anonim. Kegunaan Mesin Penggiling. Padi-Buku 1. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2011. Masalah sekitar rendemen beras giling. Bunga rampai ekonomi beras. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Kehilangan pasca panen padi kita masih tinggi. S.Syam.. [terhubung berkala] http://www. Teknologi Penggilingan Padi..

Grain Testing Mill Gambar 8. Hopper : untuk munampung gabah 2. Tangkai Pembuka Kasar : Membuka / merenggangkan / merapatkan Rubber Roll secara kasar . Rubber Roll (ada 2 buah) : untuk mengkupas / pengkupas kulit gabah (sekam) 5. Cylinder separator Gambar 6. Paddy husker Gambar 7. Pintu Pembuka dan Penutup : untuk membuka & menutup aliran gabah dari hopper ke ruang pengkupas (Rubber Roll) 3. Lead Roll : untuk mengebarkan gabah ke pengkupas (Rubber Roll) 4.LAMPIRAN Gambar 5. Timbangan digital Rice Huller berfungsi: sebagai alat mesin pengupas kulit gabah menjadi beras pecah kulit dan sekam Bagian-bagian Rice Huller: 1.

Motor Listrik : sumber tenaga penggerak 11. Pecah kulit 13. V-belt : untuk menghubungkan motor penggerak dengan mesin 10. Tangkai Pembuka Halus : untuk membuka / merenggangkan rubber roll secara halus 7. Pengatur Udara : untuk memperbesar / memperkecil saluran pengembus udara 16. Saluran Pengeluaran Belakang : untuk mengeluarkan sekam 14. . Saluran Pengeluaran Gabah ½ isi 15.6. Saluran Pengeluaran Depan : sebagai saluran penggeluaran beras 12. Pully Penggerak : tempat V. Gear Box : untuk transmisi yang mengatur kecepatan dan arah putaran 8.belt 9. Rongga Udara Prinsip kerja Pengupasan kulit gabah oleh gesekan antara 2 buah Rubber Roll yang berputar berlawanan arah dengan gabah.