You are on page 1of 29

6

6.1.

PERENCANAAN SALURAN PEMBUANG
Data Topografi

Data – data topografi yang diperlukan untuk perencanaan saluran
pembuangan adalah:
(a)

Peta topografi dengan jaringan irigasi dan pembuang dengan
skala 1 : 25.000 dan 1 : 5.000

(b)

Peta trase saluran dengan skala 1 : 2.000; dilengkapi dengan
garis – garis ketinggian setiap interval 0,5 m untuk daerah
datar atau 1,0 m untuk daerah berbukit – bukit

(c)

Profil mamanjang dengan skala horisontal 1 : 2.000; dan skala
vertikal 1 : 200 ( atau 1 : 100 untuk saluran yang lebih kecil,
jika diperlukan)

(d)

Potongan melintang dengan skala 1 : 200 (atau 1 : 100 untuk
saluran yang lebih kecil jika diperlukan) dengan interval garis
kontur 50 m untuk potongan lurus dan 25 m untuk potongan
melengkung

Penggunaan peta foto udara dan ortofoto yang dilengkapi dengan
garis – garis ketinggian sangat penting artinya, khususnya untuk
perencanaan tata letak.
Perkembangan teknologi photo citra satelit kedepan dapat dipakai
dan dimanfaatkan untuk melengkapi dan mempercepat proses
perencanaan

jaringan

irigasi.

Kombinasi

antara

informasi

pengukuran teristris dan photo citra satelit akan dapat bersinergi
dan saling melengkapi.
Kelebihan foto citra satelit

dapat diperoleh secara luas

dan

beberapa jenis foto landsat mempunyai karakteristik khusus yang

berbeda, sehingga banyak informasi lain yang dapat diperoleh
antara lain dengan program/software yang dapat memproses garis
kontur secara digital.

Foto-foto satelit ini dipakai untuk studi awal, studi identifikasi dan
studi

pengenalan,

sedangkan

pengukuran

teristris

untuk

perencanaan pendahuluan dan perencanaan detail.

Kelemahan foto citra satelit tidak stereometris sehingga aspek beda
tinggi kurang dapat diperoleh informasi detailnya tidak seperti
pengukuran teristris, sedangkan dalam perencanaan irigasi presisi
dalam pengukuran beda tinggi sangat penting. Meskipun demikian
banyak informasi lain yang dapat dipakai sebagai pelengkap
perencanaan jaringan irigasi antara lain sebagai cross check untuk
perencanaan jaringan irigasi.

6.2.

Data Rencana

6.2.1. Jaringan Pembuang
Pada umumnya jaringan pembuang direncanakan untuk mengalirkan
kelebihan air secara gravitasi. Pembuangan kelebihan air dengan
pompa biasanya tidak layak dari segi ekonomi.
Daerah-daerah

irigasi

dilengkapi

dengan

bangunan-bangunan

pengendali banjir disepanjang sungai untuk mencegah masuknya air
banjir kedalam sawah-sawah irigasi.

Kriteria perencanaan ini membahas jaringan pembuang yang cocok
untuk pembuang air

sawah-sawah irigasi yang tanamannya padi.

Pembuangan air didaerah datar (misalnya dekat laut) dan daerah pasang surut yang dipengaruhi oleh muka air laut.muka air ini memegang peranan penting dalam perencanaan kapasitas saluran pembuang maupun dalam perencanaan bangunanbangunan khusus dilokasi ujung (muara) saluran pembuang bangunan yang dimaksud misalnya pintu otomatis yang tertutup selama muka air sungaii naik mencegah agar air sungai tidak masuk lagi ke saluran pembuang. kelebihan air ditampung di dalam saluran pembuang kuarter dan tersier yang akan mengalirkannya ke dalam jaringan pembuang utama dari saluran pembuang sekunder dan . Dalam hal pembuang intern. maka metode–metode penyiapan lahan pada punggung medan dapat diterapkan. Misalnya. Pembuang ekstern untuk mengalirkan air dari daerah luar irigasi yang mengalir melalui daerah irigasi. jika tanaman-tanaman ladang dipertimbangkan. jaringan pembuang mempunyai dua fungsi: a. maka sebaiknya dipikirkan untuk membuat jaringan pembuang seperti yang dipakai tanaman padi. Jika tanaman-tanaman selain padi akan ditanam secara besar-besaran. Di daerah-daerah yang diairi secara irigasi teknis. sangat bergantung kepada muka air sungai saluran yang menampung air buangan ini. b. Sebagai pembuang intern untuk mengalirkan kelebihan air dari sawah untuk mencegah terjadinya genangan dan kerusakan tanaman atau untuk mengatur banyaknya air tanah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman.Pembuangan untuk tanaman-tanaman lain dilakukan dengan saranasarana khusus didalam petak tersier.

tinggi air 10 cm dianggap cukup dengan tinggi muka air antara 5 sampai 15 cm dapat diizinkan. 3) Rembesan atau limpahan kelebihan air irigasi di dalam petak tersier. 2) Melimpahnya air irigasi atau buangan yang berlebihan dari jaringan primer atau sekunder ke daerah itu. Untuk varietas unggul. dapat saja bertahan dengan sedikit kelebihan air. Apabila kapasitas jaringan pembuang di suatu daerah kurang memadai untuk mengalirkan semua kelebihan air.2. Kedalaman air yang lebih dari 15 cm harus dihindari. 6.primer. Muka air di dalam cekungan/daerah depresi akan melonjak untuk sementara waktu. merusak tanaman. Aliran buangan dari luar daerah irigasi biasanya memasuki daerah proyek irigasi melalui saluran – saluran pembuang alamiah yang akan merupakan bagian dari jaringan pembuang utama di dalam proyek tersebut. Kebutuhan pembuang untuk tanaman padi Kelebihan air di dalam petak tersier bisa disebabkan oleh: 1) Hujan lebat . maka air akan terkumpul di sawah-sawah yang lebih rendah. karena air yang lebih dalam untuk jangka waktu yang lama akan mengurangi hasil panen varietas lokal . Kapasitas jaringan pembuang yang dapat dibenarkan secara ekonomi di dalam petak tersier tergantung kepada perbandingan berkurangnya hasil panenan yang diharapkan akibat terdapatnya air yang berlebihan. serta biaya pelaksanaan dan pemeliharaan saluran pembuang tersebut dengan bangunan-bangunannya.2. Biasanya tanaman padi tumbuh dalam keadaan "tergenang" dan dengan demikian. saluran serta bangunan.

tinggi air yang melebihi 20 cm tetap harus di hindari. dalam rangka memberi tanpa mengakibatkan stress tanaman. Dalam budidaya padi metode SRI. genangan air pada saat-saat tertentu disarankan kesempatan untuk aerasi dibuang akar secepatnya tanaman. dan 4) Varietas padi. Tahap – tahap pertumbuhan padi yang paling peka terhadap banyaknya yang berlebihan adalah selama transplantasi (pemindahan bibit ke sawah persemaian dan permulaan masa berbunga (periocle) merosotnya panenan secara tajam akan terjadi apabila dalamnya lapisan air di sawah melebihi separoh dari tinggi tanaman padi selama tiga hari atau lebih jika tanaman padi tergenang air sedalam lebih dari 20 cm selama jangka waktu leblh dan 3 hari maka hampir dapat dipastikan bahwa tidak akan ada panenan. Jumlah kelebihan air yang harus dikeringkan per petak disebut modulus pembuang atau koefisien pembuang dan ini bergantung pada : 1) Curah hujan selama periode tertentu 2) Pemberian air irigasi pada waktu itu 3) Kebutuhan air tanaman 4) Perkolasi tanah 5) Tampungan di sawah-sawah selama atau pada akhir periode yang .unggul dan khususnya varietas biasa (tradisional) kurang sensitif demikian. Besar kecilnya penurunan hasil panen yang diakibatkan oleh air berlebihan bergantung kepada: 1) Dalamnya lapisan air yang berlebihan 2) Berapa lama genangan yang berlebihan itu berlangsung 3) Tahapan pertumbuhan tanaman.

tetapi air dari jaringan irigasi utama dialirkan kedalam jaringan pembuang − Tampungan tambahan disawah pada 150 mm lapisan air .1) dimana : n = jumlah hari berturut – turut D(n) = limpasan pembuang permukaan selama n hari. mm I = pemberian air irigasi. mm.bersangkutan 6) Luasnya daerah 7) Sumber – sumber kelebihan air yang lain.. mm/hari P = perkolasi. komponennya dapat diambil sebagai berikut : a. Untuk penghitungan modulus pembuangan. mm R(n)T = curah bujan dalam n hari berturut-turut dengan periode ulang T tahun... Dataran Rendah − Pemberian air irigasi I sama dengan nol jika irigasi di hentikan atau. (6.∆S . mm/hari ET = evapotranspirasi. mm/hari ∆S = tampungan tambahan. Pembuang permukaan untuk petak dinyatakan sebagai: D(n) = R(n)T + n (I – ET – P) . − Pemberian air irigasi I sama dengan evapotranspirasi ET jika irigasi diteruskan Kadang-kadang pemberian air irigasi dihentikan di dalam petak tersier..

Daerah terjal Seperti untuk kondisi dataran rendah tetapi dengan perkolasi P sama dengan 3 mm/ hari. Kemudian modulus pembuang tersebut adalah: D(3) Dm = _______ 3 x 8.2) dimana : Dm = modulus pembuang. ET. tampungan tambahan ∆S pada akhir hari – hari berturutan n diambil maksimum 50 mm − Perkolasi P sama dengan nol b. mm 1 mm/ hari = 1/8. l/dt.. Untuk modulus pembuang rencana dipilih curah hujan 3 hari dengan periode ulang 5 tahun.1.maksimum. (6.. Dengan menganggap harga – harga untuk R. modulus pembuang dapat dihitung.64 l/dt. Ha D(3) = limpasan pembuang permukaan selama 3 hari..64 . Persamaan diatas disajikan dalam bentuk grafik sebagai contoh. ..ha Dalam Gambar 6. I dan ∆S.

2 yang digunakan untuk daerah tanaman padi di Jawa dan juga dapat digunakan di seluruh Indonesia .62 Dm A0. Debit pembuang rencana dari sawah dihitung sebagai berikut : Qd = 1.. (6. ha Faktor pengurangan luas yang dibuang airnya 1.64 pembuangan 0 1 waktu dalam hari neraca air disawah 2 3 Gambar 6.62 A0. lihat gambar 6.ha A = luar daerah yang dibuang airnya. Jika daerah – daerah yang akan dibuang airnya yang lebih besar akibat menurunnya curah hujan (pusat curah hujan sampai daerah curah hujan) dan dengan demikian tampungan sementara yang relatif lebih besar. l/dt Dm = modulus pembuang. Contoh perhitungan modulus pembuang Untuk daerah – daerah sampai seluas 400 ha pembuang air per petak di ambil konstan. l/dt..139 curah hujan dlm mm hari 120 80 33 40 26 0 P = IR = 0 waktu dalam hari curah hujan R(3)5 Dm = 240 curah hujan komulatif dlm mm hari 200 curah hujan 160 172 120 198 s 148 130 139 s maks 80 = 50 mm nET = 18 mm nDm = 130 mm 40 0 130 = 5 l/dt ha 3 x 8. maka dipakai harga pembuang yang lebih kecil per petak.92 .92 diambil dari Gambar 6..1.3) Dimana : Qd = debit pembuang rencana.2)..

Hal ini menyebabkan petani akan membuka galengan selama musim hujan. Faktor pengurangan luar areal yang dibuang airnya c. Kebutuhan pembuang untuk sawah non padi Untuk pembuang sawah yang ditanami selain padi. 6.3. Oleh sebab itu akan menyebabkan drainage modul mempunyai nilai lebih besar sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.90 0. Dimensi saluran pembuang pada cara ini diduga lebih besar dari pada dimensi saluran pembuang cara konvensional/biasa.000 2 dalam ha Gambar 6.2. ada beberapa daerah yang perlu diperhatikan yakni : - Daerah – daerah aliran sungai yang berhutan - Daerah – daerah dengan tanaman – tanaman ladang (daerah – daerah terjal) - Daerah – daerah permukiman .80 0.00 0. dimana tidak dilakukan penggenangan air pada kisaran 5 sampai 15 cm.70 120 200 3 4 5 6 luas pembuangan 1000 2 3 4 5 6 10.2. Daerah kering Pada daerah kering dengan ketersediaan air terbatas maka dapat diterapkan budaya tanam padi dengan pola intensif atau pola kering yaitu sistem SRI.faktor pengurangan 1.

... (6. I adalah kemiringan rata – rata saluran pembuang. Debit puncak Debit puncak untuk daerah – daerah yang dibuang airnya sampai seluas 100 km2 dihitung dengan rumus Der Weduwen”. km2 Gambar A.4. . m3/dt. ada dua macam debit yang perlu dipertimbangkan.Dalam merencanakan saluran – saluran pembuang untuk daerah – daerah di mana padi tidak ditanam.4) dimana : Qd = debit puncak. yang didasarkan pada pengalaman mengenai sungai – sungai di Jawa . rumus – rumus lain bisa digunakan juga Rumus tersebut adalah : Qd = α β q A . km2 A = luas aeral yang dibuang airnya. m3/ dt α = koefisien limpasan air hujan (run off) β = koefisien pengurangan luas daerah hujan q = curah hujan..3 dari Lampiran 3 menyajikan cara pemecahan secara grafis untuk rumus Der Weduwen bagi daerah yang besar curah hujan seharinya R(1) 240 mm/hari. yaitu : - debit puncak maksimum dalam jangka waktu pendek dan - debit rencana yang dipakai untuk perencanaan saluran a.

b. Lampiran 1. diandaikan mengalir dalamwaktu satu hari. m dengan kemungkinan terpenuhi 20% A = luas daerah yang dibuang airnya.. Untuk penjelasan lebih lanjut. karena tampungan dan laju perkolasi yang terbatas.92 . Air buangan dari daerah – daerah kampung ke jaringan pembuang bisa sangat tinggi.1) R (1)5 = curah hujan sehari.Untuk harga – harga R(1) yang bukan 240 mm/ hari rumus Der Weduwen tersebut sebaiknya dipecahkan secara terpisah. 1/dt α = koefisien limpasan air hujan (lihat Tabel 6. diandaikan mengalir dalam waktu satu hari itu juga. (6. Ini menghasilkan debit rencana yang konstan Debit rencana dihitung sebagai berikut (USBR. Debit Rencana Debit rencana didefinisikan sebagai volume limpasan air hujan dalam waktu sehari dari suatu daerah yang akan dibuang airnya yang disebabkan oleh curah hujan sehari di daerah tersebut air hujan yang tidak tertahan atau merembes dalam waktu satu hari.5) dimana : Qd = debit rencana. ha . 1973) Qd = 0.116 α R (1)5 A0.. lihat Bagian KP – 01 Perencanaan Jaringan Irigasi... Rumus – rumus lain juga bisa digunakan mengacu pada SNI tentang Perhitungan Debit Banjir dan penjelasannya dapat dilihat pada KP-01 Lampiran 1.

Untuk menentukan harga koefisien limpasan air hujan. Untuk uraian lebih lanjut. Harga-harga koefisien limpasan air hujan untuk penghitungan Qd Penutup tanah Kelompok hidrologis tanah C D Hutan lebat 0. atau tanah dengan tekstur agak halus sampai halus. Kelompok D : (potensi limpasan tinggi) Tanah yang mempunyai laju infiltrasi amat rendah (0 – 1 mm/jam) apabila dalam keadaan jenuh sama sekali dan terutama terdiri dari tanah lempung dengan potensi mengembang yang tinggi. akan dipakai hasil-hasil "metode kurve bilangan" dari US Soil Conservation Service.75 0.65 0.1.60 0.75 Tanaman Ladang (Daerah terjal) 0. Tanah-tanah ini memiliki laju penyebaran (transmisi) air yang rendah. Tabel 6.70 Hutan Tidak lebat 0.80 Penjelasan mengenai kelompok hidrologis tanah adalah sebagai berikut: Kelompok C : Tanah yang mempunyai laju infiltrasi rendah (1 – 4 mm/jam) apabila dalam keadaan jenuh samasekali dan terutama terdiri dari tanah dengan lapisan yang menahan gerak turun air. baca USBR Design of Small Dams. tanah dengan muka air tanah tinggi yang permanent. tanah dengan lapisan .

2. Debit puncak akan dipakai untuk menghitung muka air tertinggi jaringan pembuang. Tanah-tanah ini memiliki laju penyebaran air yang lamban. dan tanah dangkal pada bahan yang hamper kedap air. .3 Jaringan pembuang akan direncanakan untuk mengalirkan debit pembuang rencana dari daerah-daerah sawah dan non sawah di dalam maupun di luar (pembuang silang). Selama terjadi debit puncak terhalangnya pembuangan air dari sawah dapat diterima. seperti dalam 6. dalam hal ini sarana-sarana pengendali banjir akan dibuat di sepanjang saluran pembuang. seperti dalam 6. Muka air yang dihasilkan tidak boleh menghalangi pembuangan air dari sawah-sawah di daerah irigasi. Debit pembuang terdiri dari air buangan dari : - sawah. periode ulang dipilih sebagai berikut : - 5 tahun untuk saluran pembuang kecil di daerah irigasi atau - 25 tahun atau lebih.4. Periode ulang untuk debit puncak dan debit rencana berbeda untuk debit puncak. bergantung pada apa yang akan dilindungi. 6.2.2. Debit Pembuang Debit rencana akan dipakai untuk merencanakan kapasitas saluran pembuang dan tinggi muka air.liat di atau di dekat permukaan. Tinggi muka air puncak sering melebihi tinggi muka tanah. Muka air tertinggi ini akan digunakan untuk merencanakan sarana pengendalian banjir dan bangunan.2 atau dari - tempat-tempat !ain di luar sawah. dimana tidak boleh terjadi penggenangan.

Akan tetapi. Untuk menghitung debit rencana pada pertemuan dua saluran pembuang. Debit puncak juga akan dikurangi dengan cara membiarkan penggenangan terbatas (untuk jangka waktu yang pendek) didalam daerah irigasi. maka gabungan kedua debit puncak dihitung sebagai daerah total. Apabila dua daerah yang akan dibuang airnya kurang lebih sama luasnya (40 sampai 50% dari luas total).untuk sungai periode ulangnya diambil sama" dengan" saluran pembuang yang besar. Periode ulang debit rencana diambil 5 tahun. Perlu dicatat bahwa debit puncak yang sudah dihitung bisa dikurangi dengan cara menampung debit puncak tersebut. debit puncak yang tergabung dihitung sebagai berikut : 2. Tampungan dapat dibuat didalam atau di luar daerah irigasi. Misalnya ditempat dimana pembuang silang memasuki daerah irigasi melalui gorong – gorong yang disebelah hulunya boleh terdapat sedikit genangan. bila persentase itu berkisar antara 20 dan 40% maka gabungan kedua debit puncak dihitung dengan interpolasi antara harga – harga dari no. 4. Didalam jaringan irigasi tampungan dalam jaringan saluran dan daerah cekungan akan dapat meratakan debit puncak di bagian hilir. debit rencana yang tergabung dihitung sebagai jumlah . Pada pertemuan dua saluran pembuang di mana dua debit puncak bertemu.8 kali jumlah kedua debit puncak. 3.1 dan 2 diatas. penggenangan terbatas mungkin tidak dapat diterima. debit puncak dihitung sebagai 0. jika daerah yang satu jauh lebih kecil dari daerah yang satunya lagi (kurang 20% dari luas keseluruhan).

Besarnya koefisien yang dipakai pada pertemuan aliran internal dan aliran external.20 – 0. puncak limpasan terjadi pada saat seluruh . umumnya kurang dari 500ha. metode/ cara ini merupakan metode lama yang masih digunakan untuk memperkirakan debit aliran daerah dengan luasan kecil.0. Dihitung lebih dahulu besarnya debit aliran dari daerah irigasi 2.20 dari jumlah debit maka debit di hilir adalah jumlah dari kedua debit - Jika perbandingan besar debit antara 0.40 dari jumlah debit maka dihitung dengan cara interpolasi. tergantung perbandingan besar debit aliran yaitu : - Jika selisih perbandingan besar debit antara 0.8 - Jika perbandingan besar debit kurang dari 0.40 . lengkung intensitas hujan 3. kemiringan. Pada pertemuan saluran pembuang dari daerah irigasi dengan saluran pembuang dari luar daerah irigasi dapat didekati dengan memakai koefisien seperti pada kriteria perencanaan pertemuan dua saluran pembuang intern dengan jalan : 1. Salah satu cara yang sering dipakai adalah dengan cara Rasional. Dihitung debit aliran pembuang luar dengan mempertimbangkan jarak atau panjang saluran.50 dari jumlah debit maka dipakai koefisien 0. luas daerah pengaliran.debit rencana dari kedua saluran pembuang hulu. Besaran koefisien yang dipakai sebagai perbandingan adalah besar debit sebagai pengganti perbandingan luas dari daerah pembuangan. Perhitungan debit pembuang / drainase dapat dihitung dengan tata cara perhitungan debit dalam SNI. Asumsi dasar metode ini antara lain.

Data – data yang diperlukan untuk tujuan ini mirip dengan data – data yang dibutuhkan untuk perencanaan saluran irigasi. Apabila dalam pengujian tersebut sifat – sifat tanah menunjukkan banyak variasi. 6.4). yang merupakan fungsi dari intensitas hujan yang durasinya sama dengan waktu konsentrasi.5 km akan memberikan cukup informasi mengenai klasifikasi seperti dalam Unified Soil Classification System (lihat Tabel 2. Data Mekanika Tanah Masalah utama dalam perencanaan saluran pembuang adalah ketahanan bahan saluran terhadap erosi dan stabilitas talud. . uji lapisan dan batas cair (liquid limit) pada interval 0. Pada umumnya data yang diperoleh dari penelitian tanah pertanian akan memberikan petunjuk/ indikasi yang baik mengenai sifat – sifat mekanika tanah yang akan dipakai untuk trase saluran pembuang. Karena trase tersebut biasanya terletak di cekungan (daerah depresi) tanah cenderung untuk menunjukkan sedikit variasi. Intensitas hujan diasumsikan tetap dan seragam di seluruh daerah. maka interval tersebut harus dikurangi.daerah ikut melimpas. Dalam banyak hal.3.

karena debit rencana atau debit puncak tidak sering terjadi. Kecepatan rencana sebaiknya diambil sama atau mendekati kecepatan maksimum yang diizinkan. air dari persawahan menjadi lebih bersih dari sedimen. maka harus dibuat bangunan pengatur (terjun). 7. Erosi di saluran pembuang akan merupakan kriteria yang menentukan. Dengan adanya saluran pembuang. RENCANA SALURAN PEMBUANG Perencanaan Saluran Pembuang yang Stabil Perencanaan saluran pembuang harus memberikan pertimbangan biaya pelaksanaan dan pemeliharaan yang terendah. aliran akan . Kecepatan maksimum yang diizinkan bergantung kepada bahan tanah serta kondisinya. Kemiringan alamiah tanah dalam trase ini menentukan kemiringan memanjang saluran pembuang tersebut. debit dan kecepatan aliran pembuang akan lebih rendah di bawah kondisi eksploitasi rata-rata. Saluran pembuang direncana di tempat-tempat terendah dan melalui daerah-daerah depresi. Kecepatan rencana hendaknya tidak melebihi kecepatan maksimum yang diizinkan. Apabila kemiringan dasar terlalu curam dan kecepatan maksimum yang diizinkan akan terlampaui. Ruas-ruas harus stabil terhadap erosi dan sedimentasi minimal pada setiap potongan melintang dan seimbang.7.1. Khususnya dengan debit pembuang yang rendah.

Sejauh berkenaan dengan air buangan yang relatif bersih dari sawah. hai ini tidak akan merupakan masalah yang berarti. . Keadaan ini harus dihindari apabila air buangan yang bersedimen harus dialirkan. Kemiringan dasar saluran pembuang biasanya mengecil di sebelah hilir sedangkan debit rencana bertambah besar. Bila saluran air alamiah digunakan sebagai saluran pembuang. Air dari saluran pembuang mempunyai pengaruh negatif pada muka air tanah atau pada air yang masuk dari laut dan sebagainya. Pemantapan saluran air dan sungai alamiah untuk menambah kapasitas pembuang sering terbatas pada konstruksi tanggul banjir dan sodetan dari lengkung meander. Oleh karena itu. Oleh sebab itu perencana harus mempertimbangkan faktor tersebut dengan hatihati guna memperkecil dampak yang mungkin timbul.cenderung berkelok – kelok (meander) bila dasar saluran dibuat lebar. biasanya saluran pembuang direncana relatif sempit dan dalam. Variasi tinggi air dengan debit yang berubah – ubah biasanya tidak mempunyai arti penting. Dasar dan talutnya mempunyai daya tahan yang lebih tinggi terhadap kikisan jika dibandingkan dengan saluran pembuang yang baru dibangun dengan kemiringan talut yang sama. maka umumnya akan lebih baik untuk tidak mengubah trasenya karena saluran alamiah ini sudah menyesuaikan potongan melintang dan kemiringannya dengan alirannya sendiri. Parameter angkutan sedimen relatif I√R dalam prakteknya akan menurun di sebelah hilir akibat akar R kuadrat. Potongan – potongan yang dalam akan memberikan pemecahan yang lebih ekonomis.

1) dimana : v = kecepatan aliran..1. mengandaikan bahwa vegetasi dipotong secara teratur. aliran dianggap sebagai aliran tetap dan untuk itu diterapkan rumus Strickler (Manning) lihat juga pasal 3. m I = kemiringan energi 7. vegetasi akan mudah sekali tumbuh disitu dan banyak mengurangi harga k. . Penyiangan yang teratur akan memperkecil harga pengurangan ini.2.2. dan - Jari – jari hidrolis dan dalamnya saluran..2. yakni : - Kekasaran dasar dan talut saluran - Lebatnya vegetasi - Panjang batang vegetasi - Ketidak teratruan dan trase. (7. Rumus Aliran Untuk perencanaan potongan saluran pembuang. m/dt k = koefisien kekasaran strickler.2.1.. Karena saluran pembuang tidak selalu terisi air.. Rumus dan Kriteria Hidrolis 7. v = k R2/3 I1/2 . yang dipakai untuk merencanakan saluran pembuang.2. Koefisien Kekasaran Strickler Koefisien Strickler k bergantung kepada sejumlah faktor. Harga – harga k pada Tabel 7.1.7. m1/3/dt R = jari – jari hidrolis.

Dianggap bahwa kelangkaan terjadinya banjir dengan priode ulang diatas 10 tahun menyebabkan terjadinya sedikit kerusakan akibat erosi. D sama dengan 1 untuk priode ulang dibawah 10 tahun. Ini dinyatakan dengan menerima v maks yang lebih tinggi untuk keadaan semacam ini.2.1985). m. Lihat bagian 3.4.2.2) Faktor D ditambahkan apabila dipakai banjir rencana dengan priode ulang yang tinggi.(7. lihat Gambar 7.. 7.Tabel 7. v maks = v b x A x B x C x D ..1 untuk hargaharga D. lihat Ven Te Chow ..5 m 25 Untuk saluran – saluran alamiah tidak ada harga umum k yang dapat diberikan.1. Kecepatan maksimum yang di izinkan Penentuan kecepatan maksimum yang di izinkan untuk saluran pembuang dengan bahan kohesif mirip dengan yang diambil untuk saluran irigasi.. Cara terbaik untuk memperkirakan harga itu ialah membandingkan saluran – saluran alamiah tersebut dengan harga – harga K dijelaskan didalam keputusan yang relevan (sebagai contoh.3. . ∗) h = kedalaman air di saluran pembuang...5 m 30 h ≤ 1. Koefisien kekasaran Strickler untuk saluran pembuang Jaringan pembuang utama k m1/3/dt h∗) > 1.

Untuk aliran pembuang silang.4 1.1 Koefesien koreksi untuk berbagai priode ulang D Untuk jaringan pembuangan intern. Untuk konstruksi pada tanah-tanah nonkohesif.0 10 15 20 periode ulang 25 30 40 50 60 70 80 90 100 dalam tahun Gambar 7. Apabila dikehendaki saluran pembuang juga direncanakan mempunyai fungsi untuk menunjang pemeliharaan lingkungan dan cadangan air tanah maka kecepatan saluran pembuang pada daerah yang memerlukan konservasi lingkungan tersebut dapat dikurangi.1 1. .7 1. kecepatan dasar yang di izinkan adalah 0. apabila air pembuang silang berasal dari daerah persawahan.6 m/dt.1.000 ppm. Jika air itu berasal dari daerah-daerah yang berpembuang alamiah.6 faktor koreksi D 1. air akan dihitung sebagai bebas sedimen. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar waktu dan tekanan infiltrasi dan sehingga akan menambah kapasitas peresapan air kedalam tanah. maka konsentrasi sedimen dapat diambil 3.2 1. Air dihitung sebagai bebas sedimen.3 1. asal air harus diperiksa. namun perlu dipertimbangkan adanya perubahan demensi saluran yang lebih besar akibat pengurangan kecepatan ini.5 1.

- Untuk pengaliran debit puncak. Tinggi muka air rencana di jaringan utama ditentukan dengan muka air yang diperlukan di ujung saluran pembuang tersier.2. harga-harga tinggi muka air yang diambil ditunjukan pada gambar 7.7. Di jaringan tersier. tinggi muka air mungkin naik sampai sama dengan tinggi permukaan tanah. Sejalan dengan menguatnya aspek lingkungan maka saluran pembuang dapat direncanakan dengan kecepatan yang tidak terlalu . Konsep dasar perencanaan saluran pembawa tidak menghendaki adanya pengendapan di saluran sedangkan pada perencanaan saluran pembuang diusahakan agar air cepat dapat dibuang sehingga tidak menyebabkan penggenangan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman /padi. Tinggi muka air di jaringan pembuang primer yang berfungsi untuk pembuang air dari sawah dan mungkin daerah-daerah bukan sawah dihitung sebagai berikut : - untuk pengaliran debit rencana. pembuang air dari sawah dianggap nol.4 Tinggi muka air Tinggi muka air saluran pembuang di jaringan intern bergantung kepada fungsi saluran. saluran tanah membuang airnya langsung kesaluran pembuangan (kuarter dan tersier) dan tinggi muka air pembuang rencana mungkin sama dengan tinggi permukaan air tanah.2. Jaringan pembuang primer menerima air buangan dari petak – petak tersier dilokasi yang tepat.

non kolloidal 0.tinggi dengan tujuan agar terjadi infiltrasi yang besar sebelum mengalir kembali ke sungai.829 .143 1.020 0.829 1. untuk saluran lurus dengan kemiringan kecil serta kedalaman aliran lebih kecil dari 0.025 1.067 Lempung kaku sangat kolloidal 0.610 1.067 Ordinary ferm loam 0.610 0. Hal ini dimaksudkan untuk membantu kwalitas lingkungan yang lebih hijau.90 m menurut U.914 Lumpur Alluvial.025 1. Batas atas kecepatan yang diizinkan atau yang tidak menyebabkan erosi. Batas atas kecepatan atas yang diizinkan adalah kecepatan yang tidak menyebabkan erosi untuk jenis tanah tertentu pada saluran dan dapat dihitung berdasar gaya seret. memperbesar cadangan air tanah dan mengurangi debit air di saluran pembuang.524 Lempung keras 0.143 1.457 0. non kolloidal 0.762 1.020 0. kolloidal 0.020 0. non kolloidal 0.S Bereau of Reclamation (Fortier dan Scobey 1925) sebagai berikut : Tabel 7.762 Silt loam.067 Abu vulkanis 0. non kolloidal 0.524 Lumpur alluvial.2 Kecepatan Maksimum yang diizinkan (oleh Portier dan Scobey) Material N V m/det (air bersih) V m/det (air yg mengangkut lanau koloid) Pasir halus.025 1.762 Lempung kepasiran.020 0.020 0.762 1.533 0.020 0.

524 1. 1986. Batas bawah kecepatan air dalam saluran pembuang disesuaikan dengan data kandungan sedimen. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan Dep.524 Graded loam to cobbles.678 Sumber : Pedoman Perencanaan Saluran Terbuka.219 1.Kerikil halus 0.3 m/det dapat menghindari pengendapan. non colloidal 0.829 Cobbles and shingles 0. tetapi dapat mengurangi perubahan kedalaman air - Makin lambat kecepatan air dalam saluran tanpa terjadi pengendapan akan memperbesar kapasitas peresapan / infiltrasi - Hubungan antara data sedimen dan kecepatan rencana dapat didekati dengan cara perencanaan saluran kantong lumpur / sand trap .030 1. Batas kecepatan bawah 0. non colloidal 0. sedemikian sehingga tidak terjadi akumulasi pengendapan yang dapat menyebabkan pendangkalan dan menghalangi aliran yang memungkinkan terjadinya efek pembendungan. PU.030 1.762 1.025 1.524 Graded silt to cobbles when colloidal 0.020 0.035 1.676 Kerikil kasar.143 1. Beberapa faktor yang dapat dipertimbangan adalah : - Keliling basah yang lebih besar akan memperbesar infiltrasi - Makin besar lebar penampang saluran akan memperbesar pembebasan tanah.219 1.

T = Batas Pembebasan Tanah w 1 : 20 1.5 5 m /dt < Q = 20 m /dt = 350 300 3 3 m = 100 B.T 1 : 20 ? Q rencana D 1 untuk Q = 1 m3/dt tanggul sisa galian disatu sisi saja Q = 20 m3 /dt Q puncak fna = 100 sisa galian m m b (var) 1 untuk 1 < Q = 20 m3/dt tanggul sisa galian boleh untuk kedua sisi = 350 = 100 1.P.P.T B.P.5m = 300 Q rencana Q puncak fna D 1 1 sisa galian B.T 1 : 20 ? Q puncak fa 1 tanggul sisa galian = 100 B.P.T = 200 300 < var < 800 = 100 Q > 20 m3/dt 1 m fa Fna = muka air genangan diperbolehkan = muka air genangan tak diperbolehkan saluran pembuang dengan lindungan terhadap banjir 100 150 = 100 100 = 100 w Q puncak D D 1 : 20 Jalan Inspeksi 1 Q puncak 1.T 300 Q rencana Q rencana 1 1 D m kedalaman galian cm kemiringan talut minimum hor.saluran pembuang tanpa lindungan terhadap banjir b (var) Q puncak fa B.P. / vert.T w 1 : 20 Q = 5 m3/dt B.5 1 20 m3/dt < Q = 50 m3/dt ukuran dalam cm B. D = 100 1 100 < D = 200 11.5 1.P.P.5 D > 200 2 Gambar 7.2 tipe-tipe potongan melintang saluran pembuang .

3. - Muka air rencana untuk saluran pembuangan intern yang tingkatnya lebih tinggi lagi. Perbandingan kedalam lebar dasar air (n = b/h) untuk saluran pembuang sekunder diambil antara 1 dan 3. Muka air rencana pada titik pertemuan antara dua saluran pembuang sebaiknya diambil sebagai berikut: - Evaluasi muka air yang sesuai dengan banjir dengan priode ulang 5 kali per tahun untuk sungai. 7. sedangkan saluran pembuang yang lebih besar akan menunjukkan aliran yang berbelok-belok. nilai banding ini harus paling tidak 3. perubahan-perubahan pada debit pembuangan dapat diterima untuk jaringan pembuang permukaan - Saluran pembuang yang dalam akan memiliki aliran yang lebih stabil pada debit-debit rendah. - Mean muka air laut (MSL) untuk laut. Tipe-tipe . Bila diperkirakan akan terjadi debit lebih besar.Metode penghitungan ini hanya boleh diterapkan untuk debit-debit sampai 30 m 3 /dt saja.1 Geometri Potongan melintang saluran pembuang direncana relatif lebih dalam daripada saluran irigasi dengan alasan sebagai berikut : - Untuk mengurangi biaya pelaksanaan dan pembebasan tanah - Variasi tingggi muka air lebih besar. Untuk saluran pembuang yang lebih besar. maka debit puncak dari daerah-daerah nonsawah dan debit pembuang sawah yang terjadi secara bersamaan harus dipelajari secara bersamasama dengan kemungkinan pengurangan debit puncak dan pengaruh banjir sementara yang mungkin juga terjadi.3 Potongan Melintang Saluran Pembuang 7.

5 2.2 Untuk saluran pembuang skunder dan primer.3.) D ≤ 1.3 dan Gambar 7.0 1.0 1. Tabel 7.0 1.0 ≤ D < 2.2.2 Kemiringan Talut Saluran Pembuang Pertimbangan-pertimbangan untuk kemiringan talut sebuah saluran pembuang buatan mirip dengan pertimbangan untuk saluran irigasi.D (m) kemiringan minimum talut (1 hor : m vert.3. Harga-harga kemiringan minimum talut untuk saluran pembuang pada berbagai bahan tanah diambildari Tabel 7. lebar dasar minimum diambil 0.60 m.3 Lengkung saluran pembuang Jari-jari minimum lengkung sebagai yang diukur dalam as untuk saluran pembuang buatan adalah sebagai berikut: . 7.3 Kemiringan talut minimum untuk saluran pembuang Kedalaman galian. 7.0 D > 2.0 Mungkin diperlukan kemiringan talut yang lebih landai jika diperkirakan akan terjadi aliran rembesan yang besar kedalam saluran.potongan melintang disajikan pada gambar 7.

5 7. Galian tambahan tidak lagi diperlukan.1 m (lihat gambar 7.0. maka tinggi muka air rencana maksimum diambil sama dengan tinggi muka tanah. Apabila jaringan pembuang utama juga mengalirkan air hujan buangan dari daerah-daerah bukan sawah dan harus memberikan perlindungan penuh terhadap banjir.3).4 jari-jari lengkung untuk saluran pembuang tanah Q rencana m 3 /dt Q≤ 5 5 < Q ≤ 7. maka tinggi jagaan akan diambil 0.jari tersebut boleh dikurangi sampai 3 x lebar dasar dengan cara memberi pasangan bagian luar lengkungan saluran.3.2 dan 7. jari. *) jari-jari minimum yang akan dipakai adalah 5 m .4 . 7.5 < Q ≤ 10 <Q ≤ 15 Q >15 Jari-jari minimum m 3 x lebar dasar*) 4 x lebar dasar 5 x lebar dasar 6 x lebar dasar 7 x lebar dasar Jika diperlukan jari-jari yang lebih kecil.Tabel 7.4 Tinggi jagaan Karena debit pembuang rencana akan terjadi dengan periode ulang rata-rata 5 tahun.

2 0.3 Tinggi jagaan untuk saluran pembuang (dari USBR) Untuk keperluan drainase. Jika ternyata resiko jika terjadi banjir di hilir juga tinggi maka dapat dipertimbangkan debit banjir yang sama dengan debit banjir rencana untuk bendungnya.0 meter di atas permukaan air Gambar 7.2 .0 2.0 n ga un l d lin ggu tan kapasitas debit dalam m3/dt 20.0 10.6 0.6 0.4 0. 1.8 1.1 0 0.0 ul gg n a t 6.40.2 0.4 0.0 0.0 1.0 4. tinggi tanggul dihilir bendung didesain menggunakan Q 20 atau Q25 th.