You are on page 1of 27

BAGIAN ILMU ANESTESI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

REFERAT
APRIL 2016

TERAPI NYERI

Disusun Oleh:
Devi Ratna Pratiwi
10542018410
Pembimbing:
dr. Hisbullah, SpAn, KIC
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU ANESTESI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas karunia, rahmat,kesehatan, dan
keselamatan kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan referat ini dengan judul “TERAPI
NYERI”
1

Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Kepanitraan Klinik di
Bagian Ilmu Anestesi. Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan tugas referat ini. Namun
berkat bantuan, saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-teman sehingga tugas
ini dapat terselesaikan.
Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada
dr.Hisbullah, SpAn, KIC. selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dengan
tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi selama proses penyusunan
tugas ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menyempurnakan referat ini. Akhir kata, penulis berharap agar referat ini dapat memberi manfaat
kepada semua orang.

Makassar, April 2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:
Nama

: Devi Ratna Pratiwi, S. Ked.

Stambuk

: 10542 0155 10
2

KIC) DAFTAR ISI SAMPUL ………………………………………………………………………………… i LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………………………… ii KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………. iii DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………. SpAn. Makassar. Hisbullah.. April 2016 Pembimbing (dr. iv 3 .Judul Lapsus : Terapi Nyeri Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Anestesi kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

....….. 1 BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………....... PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS NYERI…………………… 10 E. 2 7 C.. mengganggu dan menimbulkan pengalaman emosi 4 . EVALUASI PASIEN DENGAN KELUHAN NYERI KRONIS………... PENATALAKSANAAN NON-FARMAKOLOGI NYERI KRONIS…… 19 BAB III PENUTUP …………………………………………………………………… 21 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 22 BAB I PENDAHULUAN Nyeri adalah mekanisme penting proteksi tubuh yang muncul apabila jaringan sedang rusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri tersebut untuk menghindari kerusakan lebih jauh......... PENILAIAN NYERI .....1 Berdasarkan International Association for the study of Pain (IASP) nyeri didefinisikan sebagai sensasi yang tidak menyenangkan.................BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………........... 9 D............. 2 A.. FISIOLOGI NYERI ……………………………………………………… B...................

Empat fase timbulnya nyeri a. penanganan nyeri semacam ini melibatkan intervensi multidisiplin. Nyeri kronis tidak hanya mengganggu penderitanya dari sisi medis. FISIOLOGI NYERI 1. sehingga dapat diinterpretasikan oleh otak untuk menghasilkan sensasi nyeri. Oleh karena itu.1 Nyeri dapat terjadi dalam waktu yang lama. namun juga psikososial. Badan selnya berada di ganglia 5 .akibat adanya kerusakan jaringan atau yang berpotensi terjadinya kerusakan jaringan atau sesuatu yang berarti kerusakan.1 BAB II PEMBAHASAN A. Keadaan demikian dinamakan nyeri kronis. Transduksi Nosiseptor adalah ujung-ujung saraf bebas tak bermielin yang mengonversi (men-transduksi) bebagai stimulus menjadi impuls yang dapat dihantarkan sel saraf.

berdiameter kecil. Transmisi Setelah impuls nyeri dicetuskan oleh nosiseptor.2.2 km/jam) dan (2) serabut Aδ. sedikit bermielin. atau untuk nervus trigeminus intinya berada di ganglia trigeminus. sehingga memengaruhi intensitas nyeri yang timbul.radiks dorsalis. Inti sel tersebut menyalurkan salah satu ujungnya ke perifer dan ujung lainnya ke medula spinalis. berdiameter lebih besar. Nosiseptor dengan serabut Aδ menghasilkan sensasi nyeri yang cepat dan tajam sehingga mudah dilokalisir (epikritik). Substansi yang sering merangsang nosiseptor dalam proses inflamasi 2 Senyawa Kalium Serotonin Bradikinin Histamin Prostaglandin Leukotrien Substansi P Sumber Sel yang rusak Trombosit Plasma Sel Mast Sel yang rusak Sel yang rusak Ujung sel saraf aferen b. sedangkan nosiseptor dengan serabut C menghasilkan nyeri yang lambat timbul. 3 Aktivasi nosiseptor di perifer (transduksi) terjadi oleh beberapa macam substansi yang dilepaskan saat terjadi kerusakan sel.2 Nosiseptor dikelompokkan berdasarkan serabut sarafnya. tumpul sehingga lebih sulit dilokalisir serta berlangsung lebih lama (protopatik). menghantarkan impuls lebih cepat (20 m/detik = 72 km/jam). ia disalurkan ke ganglion radiks posterior medula spinalis yang juga terkenal sebagai ganglion spinale. Kedua jenis serabut saraf di atas menghasilkan nyeri dengan kualitas yang berbeda pula akibat perbedaan kecepatan penghantaran impuls. impuls tersebut sebagian tiba di nukleus 6 . Ada dua macam serabut saraf : (1) serabut C. Senyawa-senyawa mediator tersebut memengaruhi derajat aktivasi ujung saraf. Melalui serabut-serabut radiks posterior yang menyusun bagian lateralnya. menghantarkan impuls dengan kecepatan rendah (2 m/detik = 7. tidak bermielin.2 Tabel 1.

dekat bagian kolikulus superior. Pada tingkat servikal. Di pons ia berada di daerah antara lemniskus medialis dan brakium konjungtivum dan di mesensefalon di atas ujung dorsalis lemniskus medialis. Neuron kedua yang membawakan impuls tersebut menyusun jaras trigemino-talamikus yang menggabung pada traktus mesensefalon. mereka terkumpul di dekat bagian tepi funikulus anterolateralis. Serabut-serabut nukleus propius itu dinamakan traktus spinotalamikus. Nukleus propius merupakan sekelompok neuron yang menghubungkan medula spinalis dengan nukleus ventro-postero-lateralis dan ventro-postero-medialis talami sisi kontralateral.4 Pada tingkat medula oblongata jaras spinotalamikus terletak di sebelah dorsolateral dari oliva inferior. karena secara bertahap mereka mengakhiri perjalanannya di sepanjang nukleus ventro-postero- lateralis dan ventro-postero-medialis di diensefalon. Yang berasal dari tingkat torakal berkumpul di bagian tengah dan yang terkumpul di bagian medial adalah serabut spinotalamikus yang bersal dari bagian brakio-servikal.propius setingkat dengan radiks posterior dan sebagian pada tingkat satu atau dua segmen lebih tinggi atau di bawah. Daerah inilah yang disebut sebagai jaras spinotalamikus. jaras spinotalamikus yang berasal dari tungkai menduduki bagian lateral. Lebih ke rostral serabut-serabut spinotalamikus tidak terkumpul lagi sebagai suatu berkas.4 Impuls nyeri yang berasal dari kulit wajah dan mukosa mulut dan hidung disalurkan oleh nervus trigeminus. Selanjutnya serabut-serabut tersebut berjalan di funikulus anterolateralis kontralateral dan secara berangsur-angsur menuju ke rostral sehingga pada tingkat 3 atau 4 segemen di atas mereka menyilang garis tengah.4 7 spinotalamikus pada tingkat . Serabut-serabut nukleus propius kedua sisi yang melewati daerah itu dinamakan komisura alba. Dari kornu posterior mereka menyilang garis tengah melalui daerah di bawah substansia grisea sentralis.

Konsep dari sistem ini yaitu berdasarkan suatu sifat . motivasi. serotonergik dan noradrenergik.4 c. Sehingga. 5 2.Oleh inti-inti talamus tersebut di atas impuls nyeri dipancarkan ke girus post-centralis (daerah somatosensorik primer) dan juga ke daerah yang terletak di bawah girus pre. Proses modulasi ini dipengaruhi kepribadian.2. maka akan terjadi suatu reaksi 8 . Impuls nyeri yang berasal dari suatu titik tertentu pada kulit disampaikan kepada suatu sel tertentu pada daerah somatosensorik.6.dan post-sentralis (daerah somatosensorik sekunder) untuk penyedaran dan pengenalan sepenuhnya akan nyeri. fisiologik dan morfologik dari sirkuit yang termasuk koneksi antara periaqueductal grey matter dan nucleus raphemagnus dan formasi retikuler sekitar dan menuju ke medulla spinalis.6. Analgesik endogen meliputi opiat endogen . Apabila serabut tersebut dirangsang. pendidikan. maka impulsnya akan mengaktifkan neuron inhibitor bagi serabut saraf Aδ dan C sebelum sinapsnya di kornu dorsalis. Dan penataannya sedemikian rupa sehingga impuls dari kulit tungkai disampaikan sel di bagian superior daerah somatosensorik primer dan impuls nyeri yang datang dari lengan diterima oleh sel di bagian tengah. status emosional dan kultur seseorang.8 3. Persepsi Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri.4 Proyeksi pada daerah somatosensorik primer diatur secara somatotropik. dan yang berasal dari kulit kepala tiba di bagian inferior daerah somatosensorik primer. Modulasi 1. Inhibisi segmental (Gate control theory) Serabut saraf besar yang bermielin (Aβ) bertanggung jawab menghantarkan impul non-noxious seperti sentuhan. 7 Sistem analgesik endogen ini memiliki kemampuan menekan input nyeri di kornu posterior dan proses desendern yang dikontrol oleh otak. Analgetik endogen Pada fase modulasi terdapat suatu interaksi dengan sistem inhibisi dari transmisi berupa analgetik endogen. impuls serabut Aβ akan memblok impuls noxious sebelum mencapai susunan saraf pusat (SSP). pada saat individu menjadi sadar akan adanya suatu nyeri.

lesi pada ganglion dorsalis c. proses penyakit atau fungsi abnormal dari otot atau organ visera. biasa disebabkan oleh cedera.1. lokalisasi terpusat tidak menjalar. kebiasaan dan lain-lainnya. Bentuk paling umum dari nyeri kronik termasuk di dalamnya berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal. . lesi pada saraf perifer. pergeseran. Menurut Penyebabnya : nyeri nosiseptik.8 Fase ini dimulai saat sinyal dari formatio reticularis dan thalamus dilanjutkan ke area limbik. 1 Berdasarkan penyebabnya nyeri akut dapat dibagi menjadi : . laserasi dan suhu panas atau dingin. biasa disebabkan oleh distensi. tidak menyebar. b. Klasifikasi nyeri Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kategori yaitu9 a. Nyeri akut dapat didefinisikan sebagai nyeri yang disebabkan oleh rangsangan noksius karena kerusakan jaringan. Nyeri kronik Merupakan nyeri yang dialami lebih dari 3 bulan. Area ini mengandung sel-sel yang bisa mengatur emosi ini. iskemia.Nyeri somatik dalam Nyeri tumpul di otot. (termasuk neuropati diabetikum . . 2. biasa disebabkan oleh cedera. Persepsi ini menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudia individu ini dapat bereaksi.7. Nyeri akut Merupakan nyeri yang dialami dibawah 3 bulan. sedang dan berat.Nyeri alih (reffered pain) Nyeri khusus yang timbul akibat nyeri viseral yang menjalar ke organ lain. menjalar. Klasifikasi nyeri akut dan kronik. tulang. spasme. phantom limbs dan neuralgia post herpetica). sendi. 1. . Lokalisasi menyebar.6. Sangat subjektif dan dipengaruhi oleh kelakuan . sehingga nyeri dirasakan pada beberapa lokasi. iskemia. lesi pada radiks saraf. tidak menjalar. Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga suatu stimulus nyeri dapat dihindari. subkutis mukosa yang berdurasi pendek. Tabel 1. Menurut Timbulnya nyeri : nyeri akut dan nyeri kronis. 1 Nyeri Akut Nyeri Somatik 9 Somatik Superfisial . Area ini akan memproses reaksi emosi terhadap suatu nyeri.9 2.Nyeri somatik luar Nyeri tajam di kutis. jaringan ikat yang lokalisasi terpusat.yang kompleks. nyeri non nosiseptik.10 Menurut Derajat nyerinya : nyeri ringan.Nyeri viseral Nyeri karena penyakit atau disfungsi organ dalam. gangguan viseral krinik.

Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan.Somatik Dalam Nyeri Kronik Nyeri Viseral Nyeri Alih Nyeri Neuropatik Nyeri Psikogenik Tabel 2. radiks kerusakan jaringan atau ganglion dorsalis Psikologis Durasi Respon terhadap Pengobatan Kualitas Hidup < 3 Bulan > 3 Bulan Nyeri berkurang setelah luka Nyeri bertambah meskipun luka membaik Berespon baik dengan membaik Respon minimal hingga tidak pengobatan Tidak berpengaruh terhadap ada respon dengan pengobatan Berpengaruh terhadap kualitas kualitas hidup secara jangka hidup secara jangka panjang panjang B. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. 11 Penyebab Nyeri Akut Reaksi inflamasi terhadap Nyeri Kronik Lesi pada saraf perifer . Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda.11 Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini: 1. Perbedaan nyeri akut dan nyeri kronik. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan 10 . PENILAIAN NYERI Penilaian nyeri merupakan elemen yang penting untuk menentukan terapi nyeri paska pembedahan yang efektif.

orang tua.komunikasi. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat.12 11 .12 Gambar 1.12 Gambar 2. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkanangka 0 – 5 atau 0 – 10. Verbal Rating Scale12 3. seperti anak-anak. sedang. ringan. pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. Wong Baker Faces Pain Rating Scale12 2. berat dan sangat berat. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978. Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin: tidak nyeri.

EVALUASI PASIEN DENGAN KELUHAN NYERI KRONIS Pemeriksaan pasien dengan keluhan nyeri kronis harus tetap didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.Gambar 3. karakter.12 Gambar 4. dimana juga penggunaannya realtif mudah. Penggunaan skala VAS lebih gampang. dimana awal garis (0) penanda tidak ada nyeri dan akhir garis (10) menandakan nyeri hebat. Numerical Rating Scale12 4. seperti lokasi. efisien dan lebih mudah dipahami oleh penderita dibandingkan dengan skala lainnya. faktor yang memperberat dan meringankan. Anamnesis harus berfokus pada riwayat keluhan nyeri. durasi. VAS juga secara metodologis kualitasnya lebih baik. Willianson dkk juga melakukan kajian pustaka atas tiga skala ukur nyeri dan menarik kesimpulan bahwa VAS secara statistik paling kuat rasionya karena dapat menyajikan data dalam bentuk rasio. Penggunaan VAS telah direkomendasikan oleh Coll dkk karena selain telah digunakan secara luas. serta gangguan sensoris yang timbul 12 . Visual Analogue Scale12 C. hanya dengan menggunakan beberapa kata sehingga kosa kata tidak menjadi permasalahan. Nilai VAS antara 0 – 4 cm dianggap sebagai tingkat nyeri yang rendah dan digunakan sebagai target untuk tatalaksana analgesia. Pasien diminta untuk membuat tanda digaris tersebut untuk mengekspresikan nyeri yang dirasakan. Visual Analogue Scale (VAS) Skala yang pertama sekali dikemukakan oleh Keele pada tahun 1948 yang merupakan skala dengan garis lurus 10 cm. onset. kualitas. Nilai VAS > 4 dianggap nyeri sedang menuju berat sehingga pasien merasa tidak nyaman sehingga perlu diberikan obat analgesic penyelamat (rescue analgetic).

foto X-ray. CT dan pemeriksaan pencitraan lainnya serta konsultasi dengan bidang keahlian lain akan sangat penting dilakukan. Terapi sebelumnya. PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGIS NYERI 13 . Identifikasi pula faktor komorbid medis maupun psikososial (misalnya depresi. baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil harus tetap dievaluasi. penyalahgunaan zat.13 Pemeriksaan fisik penting dilakukan untuk mencari adanya proses patologis yang dapat ditangani. alkoholisme) yang mungkin akan memengaruhi nyeri atau terapinya di kemudian hari. seperti halnya temuan normal tidak selalu mematahkan keluhan nyeri pasien. Harus tetap diingat bahwa nyeri merupakan keluhan yang sangat subjektif. dan tidak ada cara untuk memeriksa nyeri secara benar-benar akurat. laboratorium dan lain-lain harus dipilih berdasarkan keadaan kasus per kasus.3 Meskipun demikian. neurofisiologi. Penting pula untuk mengevaluasi potensi timbulnya penyalahgunaan zat pada pasien dengan nyeri kronis non-malignan dengan memantau apakah ada tanda-tanda perilaku drug-seeking. Perlu dicatat bahwa temuan abnormal tidak selalu berkolerasi dengan nyeri yang dikeluhkan pasien. 3 Pemeriksaan fisik harus difokuskan pada area yang dikeluhkan nyeri dan daerah-daerah yang berhubungan dengannya. harus tetap dicari tahu sejauh mana nyeri tersebut mengganggu aktivitas seharihari pasien atau apakah nyeri tersebut sampai mengganggu keadaan psikologis pasien. Pemeriksaan khusus seperti pencitraan.bersama nyeri tersebut. Pemeriksaan rutin selama proses terapi akan mampu mengungkapkan apakah regimen terapi yang diberikan berhasil atau tidak. Pemeriksaan laboratorium.14 D.

Dosis Obat Analgesik15 1. Jenis-jenis obat anti nyeri 14 .Gambar 5.

15 Penggunaan opioid jangka panjang bisa diterima untuk pasien nyeri kronik yang disebabkan penyakit keganasan. sayangnya masih banyak pemahaman yang salah mengenai opioid sehingga menyebabkan banyaknya tulisan resep dokter yang tidak tepat. saraf perifer. Stimulasi pada reseptor ini mengaktifkan serabut desenden yang akan memodulasi neurotransmitter analgesik endogen (nor epinephrine dan serotonin). Opioid merupakan analgesik paling poten dengan spektrum terluas dibanding analgesik lainnya. Pasien rawat jalan 15 . toleransi dan ketergantungan bisa timbul bila digunakan dalam waktu yang panjang. Golongan Opioid Opiat berasal dari biji-bijian opium. Sebagian besar reseptor opioid di otak berada pada PAG (periaqueductal grey). ganglion.Gambar 6 : target obat analgetik 15 a. Opioid merupakan obat penghilang nyeri terkuat. medulla spinalis. Reseptor yang berbeda akan memberikan efek farmakologis yang berbeda. opioid yang berarti mirip opiat (opiatelike) adalah derivat opium termasuk opium natural dan sintetis.15 Ada 5 grup reseptor opiat yang tersebar di dalam tubuh (otak. medulla adrenal dan usus). Meskipun ketergantungan jarang ditemui pada pasien yang beru pertama kali menggunakannya untuk pereda nyeri.

alkoholik dan usia lanhjut.15 . dan mengurangi risiko rebound pain akibat menurunnya konsentrasi opioid di plasma secara mendadak. Opioid kerja panjang memang memberikan efek pereda nyeri yang lebih baik pada pasien dengan nyeri kontinyu.15 OAINS akan menyebabkan iritasi lokal pada mukosa lambung secara langsung dan tidak langsung. Profilaksis dapat dilakukan dengan pemberian H2 antagonis dan analog prostaglandin. tidak lebih dari sekali dalam sehari. mekanis dan kimia. Dosis awal dapat diberikan 0. Fentanil transdermal juga dapat dijadikan pilihan lain. histamin akan memberi efek yang lebih besar terhadap reseptor nyeri. Dosis tinggi akan menurunkan sintesis PGE1 dan PGI2 yang berguna menghambat sekresi asam lambung dan merangsang pembentukan sitoprotektif mukosa intestinal. Konstipasi merupakan efek samping universal dari penggunaan analgesik opioid.15 16 . Karena sensitisasi ini maka mediator kimia seperti bradikinin. Profil farmakokinetik preparat di atas mampu memberikan efek pereda nyeri yang lebih lama. dan depresi napas. sedasi. 16 b. Karena itu dapat menyebabkan erosi gaster dan perdarahan gaster sekunder terutama ulkus peptikum. golongan acetaminophen dan golongan tramadol. metadon. muntah.16 Efek samping umum meliputi mual.15 mg/kg berat badan secara subkutan. Golongan Non-Opioid Yang termasuk golongan non-opioid adalah golongan anti inflamasi non steroid . riwayat perdarahan lambung. Prostaglandin akan memicu reaksi inflamasi dan secara langsung akan mensensitisasi terminal saraf serabut C di perifer terhadap stimulus termal. meminimalkan efek samping seperti sedasi. Dapat diberikan methylnaltrexone. lebih baik diberikan opioid kerja singkat secara periodik. konstipasi.Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) OAINS kerja melalui penghambatan enzim COX yang mencegah pemecahan asam arakhidonat membentuk prostaglandin (PG).yang menggunakan opioid peroral sebaiknya menggunakan preparat yang memiliki masa kerja pnjang seperti levorphanol. Namun pada pasien dengan nyeri episodik yang berat. suatu antagonis opioid di reseptor mu yang menghambat konstipasi tanpa mengganggu efek analgesia. atau morfin lepas lambat.

Obat ini baik untuk menghilangkan nyeri sedang yang tidak memerlukan anti inflamasi. Tramadol lebih banyak diserap melalui gastrointestinal dan parenteral.15 Cara kerjanya masih belum jelas. muntah dan sakit kepala. Dengan adanya NO pada celah sinaptik akan terjadi aktivasi neuron traktus spinotalamikus. Analgesia disebabkan oleh inhibisi NO dalam medulla spinalis. yang akan menyebabkan efek anti piretik.Gambar 7 : jenis obat anti inflamasi non steroid 10 - Acetaminophen Acetaminophen adalah derivat parasetamol dan berbeda dengan OAINS karena tidak mempunyai efek anti inflamasi.15 - Obat Anti Depresan Obat anti depresan sering digunakan untuk sindroma nyeri yang bersifat kronis. sehingga efek samping yang paling sering terjadi adalah mual . Obat anti depresan akan menginhibisi reuptake amine biogenik kembali ke 17 . NO adalah neurotransmitter yang dirilis pada kornu dorsalis medula spinalis bila ada aktivasi dari serabut C. Selain itu asetaminophen akan menginhibisi COX di otak. Obat ini sering dikombinasi dengan narkotik (codein).15 - Tramadol Tramadol menyebabkan analgesik melalui dua mekanisme yaitu melalui ikatan lemah pada receptor MU karena merupakan agonis opioid yang lemah dan memudahkan rilis dan reuptake serotonin atau norepinephrin.

Neuron serotonergik dan noradrenergik dalam batang otak akan mengihibisi input serabut C ke medula spinalis.terminal saraf sehingga meningkatkan konsentrasi dan durasi kerja neurotransmitter pada sinaps. meskipun mekanismenya belum diketahui. cardiac conduction delay. pusing. Bagi pasien yang tidak kuat menahan efek samping TCA. Efek analgesiknya juga lebih baik dibanding TCA dengan efek samping mirip SSRI. Efek samping TCA seperti hipotensi ortostatik. Anti depresan akan berpotensiasi dengan serotonin dan norepinephrin yang dirilis oleh opioid. Telah dibuktikan juga bahwa TCA mempotensiasi efek analgesik opioid sehingga dapat dipakai sebagai terapi adjuvan dalam kasus nyeri kronis yang berat seperti keganasan. Cara kerja obat ini umumnya dengan memblok kanal natrium yang akan menekan fokus ektopik dalam otak. Obat anti depresan akan mengaktifkan neuron inhibisi desenden yang juga daktifkan oleh opioid. konstipasi dan retensi urin adalah efek yang biasanya paling menggangu pada pasien lanjut usia 16 Obat anti depresan lain yaitu SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) seperti fluoxetine memiliki efek samping yang tidak seberat TCA. Efek analgesik TCA memiliki onset yang lebih cepat dalam dosis yang lebih rendah dari yang biasanya diperlukan untuk mengobati depresi. Meskipun awalnya dikembangkan untuk menangani depresi. karenanya dapat mencegah kejang dan mengurangi pelepasan fokus ektopik dari 18 . Kedua obat tersebut merupakan antidepresan non-trisiklik yang menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin. dapat digunakan venlafaxine dan duloxetine. neuropatik dan kontinu. TCA terutama sekali berguna dalam mengobati nyeri neuropatik seperti pada neuropati diabetik dan neuralgia post herpetik. gangguan memori. Namun kurang efektif dalam meredakan nyeri.15 Antidepresan trisiklik (TCA : tricyclic antidepressant) terutama norteyptiline dan desipramine baik untuk menangani nyeri kronik. Obat yang sering digunakan adalah golongan carbamazepine . TCA memiliki efek analgesik pada beberapa kasus kronik.16 - Anti Konvulsan Obat anti konvulsan efektif digunakan untuk penganggulangan sindroma nyeri yang bersifat intermiten-tajam. gabapentin dan phenytoin.

Ditambah lagi dengan efek sampingnya yang lebih bisa diterima. yang masuk kedalam golongan derivate heterocyclic acetic acid dimana secara struktur kimia berhubungan dengan indometasin.15 Antikonvulsan terutama digunakan untung nyeri neuropatik.16 - Obat Anti Aritmia Obat anti aritmia berguna dalam penggunalangan sindroma nyeri yang bersifat intermiten-tajam. tetapi juga untuk nyeri yang bersifat allodinia dan dysesthetik. Guanetidin dan Lidokain. Antikonvulsan yang baru seperti gabapentin dan pregabalin efektif untuk nyeri neuropatik yang lebih luas. Fenitoin dan carbamazepine merupakan contoh antikonvulsan yang digunakan untuk menangani neuralgia trigeminal.cidera saraf perifer yang diperkirakan merupakan sebab dari nyeri intermiten yang tajam. 19 . antikonvulsan generasi baru tersebut sering digunakan sebagai obat lini pertama. Obat yang paling sering digunakan adalah golongan Bretylium. dimana ketorolak mempotensiasi aksi nosiseptif dari opioid. Ketorolak dapat dipakai sebagai analgesia paska pembedahan sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan opioid. Ketorolak menunjukkan efek analgesia yang poten tetapi hanya memiliki aktifitas anti inflamasi yang sedang bila diberikan secara intramuskular atau intravena.15 Ketorolak Ketorolak atau ketorolak trometamin merupakan obat golongan anti inflamasi non steroid. Cara kerja obat ini sama seperti anti konvulsan.

onset analgesia tercapai dalam waktu 10 menit dengan efek puncak 30 – 60 menit dan durasi analgesia 6 – 8 jam dengan waktu pemberian intravena > 15 detik. dimana efek anti inflamasinya hampir sama dengan indometasin 11.amino – 2 (hydroxymethyl) . Bioavailibilitas dari ketorolak 100% dengan semua jalur pemberian baik intravena maupun intramuskular. ketorolak merupakan penghambat COX non selektif. Seperti AINS pada umumnya. Setelah injeksi intramuskular dan intravena. yaitu: 1. anafilaksis. asma dan sensitif terhadap aspirin. Efek samping dari ketorolak bisa bermacam-macam. edema lidah. Obat dan hasil metabolitnya akan diekskresikan melalui ginjal 90% dan bilier sekitar 10%66.Gambar 2.8-2.2. Sedangkan efek anti inflamasinya kurang dibandingkan efek analgesianya. Secara umum Bronkospasme yang mengancam jiwa pada pasien dengan penyakit nasal poliposis. indometasin.68. Dapat juga terjadi edema laring.1. Metabolisme berkonjugasi dengan asam glukoronik dan para hidroksilasi di hati.3 – dihydro .1H – pyrrolizine – 1 – carboxylic acid. 20 . Efek analgesianya 200 – 800 kali lebih poten dibandingkan dengan pemberian aspirin. Rumus Bangun Ketorolak (±) – 5 – benzoyl . 2 . demam dan flushing.66. naproksen dan fenil butazon pada beberapa percobaan di hewan.3 – propanediol Mekanisme kerja utama dari ketorolak adalah menghambat sistesa prostaglandin dengan berperan sebagai penghambat kompetitif dari enzim siklooksigenase (COX) dan menghasilkan efek analgesia.

euforia. anoreksia dan pankreatitis. Dermatologi Ruam. insomnia dan gelisah. tremor.2. epistaksis. Dapat juga terjadi purpura. kejang. pusing. halusinasi. konstipasi. somnolen. Pernafasan Dispnu. 3. 4. berkeringat. urtikaria. muntah. palpitasi. sindroma Stevens-Jhonson. rhinitis dan batuk 8. 7. trombositopeni. perforasi. sindroma Lyell 6. vertigo. mual. Gastrointestinal Dapat menimbulkan erosi mukosa gastrointestinal. melena. anemia dan leukopeni. dispepsia. pallor dan syncope 5. Kardiovaskuler Hipertensi. edema paru. Fungsi platelet dan hemostatik Ketorolak menghambat asam arakhidonat dan kolagen sehingga mencetuskan agregasi platelet sehingga waktu perdarahan dapat meningkat pada pasien yang mendapatkan anestesi spinal. asma. Urogenital Gagal ginjal akut dan poliuri. Perbedaan ini dimungkinkan karena reflek status hiperkoagulasi yang dihasilkan respon neuroendokrin karena stress pembedahan berbeda pada anestesi umum dan anestesi spinal. pruritus. Neurologi Nyeri kepala. Algoritma obat anti nyeri 21 . diare. akan tetapi tidak pada pasien yang mendapat anestesi umum. 2.

misalnya agar pasien bisa tidur nyenyak di malam hari. terapi farmakologis saja cukup membantu meredakan nyeri. Berikut algoritma penggunaan obat anti nyeri :16 Gambar 8 : algoritma obat anti nyeri 15 3. maka langkah berikutnya adalah menyusun program terapi. dan bahkan pembedahan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.16 22 . namun prosedur tersebut dicadangkan untuk pasien yang tidak berespon terhadap terapi konvensional. atau kembali bekerja. blok saraf. Bagian penting dalam proses ini adalah menentukan target yang spesifik dan realistik untuk dicapai selama program terapi. bisa melakukan aktivitas sehari-hari.Dalam menentukan jenis obat yang akan digunakan perlu dilakukan evaluasi mengenai penyebab nyeri dan juga evaluasi derajat nyeri. Bagi sebagian pasien. Pendekatan yang multidisiplin yang mencakup obat-obatan. konseling. Ada juga beberapa prosedur invasif yang mungkin dpat membantu pasien dengan nyeri yang tidak tertahankan. Penatalaksanaan nyeri kronis Setelah faktor penyebab dan pencetus nyeri berhasil diidentifikasi. fisioterapi.

Terapi manual : juga dapat membantu meningkatkan ekstensibilitas jaringan dan lingkup gerak.Gambar 9 : Perbedaan penggunaan obat anti nyeri pada pasien nyeri akut dan nyeri kronik 16 E. dan traksi (untuk meningkatkan ekstensibilitas jaringan dan lingkup gerak).11 2.11 b. ultrasound. sehingga mengurangi nyeri. Sebagai contoh. Terapi 23 . Edukasi Persepsi individual terhadap nyeri dapat berkurang bila yang bersangkutan mengerti penyebab nyeri yang dialaminya. Modalitas suhu (panas atau dingin). maka rasa nyeri yang dialami bisa sedikit berkurang. peripheral nerve stimulation/transdermal electronic nerve stimulation (TENS). a. rasa takut bahwa nyeri yang dialami adalah akibat proses keganasan akan menyebabkan nyeri tersebut terasa berat. Fisioterapi Fisioterapi mencakup beberapa modalitas yang dapat membantu dalam upaya terapi nyeri kronis terutama pada kasus muskuloskeletal. Apalbila diberi penjelasan bahwa sebenarnya penyebab nyeri itu adalah gangguan muskuloskeletal. PENATALAKSANAAN NON-FARMAKOLOGI NYERI KRONIS 1.

17 24 .11 c.manual dapat juga membantu memperbaiki masalah mekanisme sendi.17 Edukasi untuk latihan-latihan yang dapat dilakukan sendiri di rumah. bergerak sehingga mengurangi nyeri. Latihan terapeutik : seperti hidroterapi dapat mengembalikan gerakan dan fleksibilitas sendi serta memperkuat otot-otot dalam d.

Rasa nyeri merupakan masalah yang unik. meningkatkan kualitas hidup dan terapi paliatif pada pasien dengan nyeri kronis. Tujuan utama dari manajemen ini untuk mengurangi kesakitan. Secara klinis penting untuk membagi nyeri menjadi dua kategori : nyeri akut dan kronik.BAB III PENUTUP Nyeri bukan hanya suatu modalitas sensorik akan tetapi merupakan pengalaman. Terdapat empat proses fisiologi nyeri yang terjadi yaitu transduksi. transmisi. 25 . intervensi diluar farmakologis seperti fisioterapi dan intervensi psikologis. khususnya nyeri kronik melibatkan semua proses pengobatan yang ada. disatu pihak bersifat melindungi dan di pihak lain merupakan suatu siksaan. farmakologis . Manajemen nyeri. Beberapa serabut aferen yang terlibat adalah serabut Aδ dan C. modulasi dan persepsi.

Jensen MP. Interpretation of visual analog scale ratings and change scores: a reanalysis of two clinical trial of postoperative pain. Dalam: Kopf A.h. Kasper DL. Dahlan R. Neurologi Rakyat. 4. 4(7) : 401-7. Clarke A. Diunduh dari : www. London: Cambridge University.71-4.uth. Jakarta: Dian Rakyat. 13.2010. Jameson JL. Edisi Ke-18.h. Semarang: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UNDIP/RSUP Kariadi.h.2012.DAFTAR PUSTAKA 1.edu/ .2012. Physiology of pain. Sidharta P. Soenarjo dkk. 26 . 11 januari 2016. 15. Seattle : International Association for the Study of Pain. 11 januari 2016.com. 2. 2010: 295-305. Mardjono M. New York: McGraw-Hill. Sunatrio S. 2005. Neurologi klinis dalam praktek umum. Loscalzo J. Fields HL. 14. Patel NB. 2005. Pain management. 5. 10. Budiman G. Morgan G. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 6. WHO Analgesic Ladder.. Russo CM.h.h.13-7. In : Clinical Anesthesiology.au/ .com. Annu Rev Medicine.h.99-101. 7.223. 11. The Journal of Pain. Erna M. Chen C. Anestesiologi. 9.2006. Thaib R. Fauci AS. mechanism.2009. Pain modulation and klinis dasar. Basic neuroanatomical pathway. Diunduh dari: http://whatworksforpain. 16. 3. 49:12332. 12. Brose WG. Muhiman M. Dafny N. Patel NB. 27-33. Dalam: Longo DL. 2004. Chronic pain.tmc. Guide to pain management in low-resource setting. Brugger AM. Clark MR.h. Core topics in pain. Mikhail M.25-60. Penatalaksanaan nyeri kronik. 11 januari 2016. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.practicalpainmanagement. penyunting. New York: McGraw-Hill Companies. 4th ed. 1998. 8. 2003 . What is pain?.12-15. Guide to chronic pain assessment tools. Sidharta P. Anestesiologi. Harrison’s Principles of Internal Medicine.h.359-411.2003. Pain: pathophysiology and management. 11 januari 2016. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.h. Rathmell JP. Jaggar S. Jakarta: Dian Diunduh dari http://neuroscience. Hauser SL.com/2010/02/understanding-chronic-pain. Diunduh dari : http://physioworks. Galati SA. Holdcroft A.5-11.

medicine. 27 .ox.17.bandolier/booth/painpag/wisdom/493HJM. Three step analgesic ladder for pain. 11 januari 2016.html.ac. Diunduh dari : http://www.uk.