You are on page 1of 24

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPSUS
JANUARI 2016

FURUNKEL & FURUNKULOSIS

OLEH
AAN SUCITRA
10542 0256 11

DIBAWAKAN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS KEPANITRAAN
KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:
Nama

: Aan Sucitra

NIM

: 10542 0256 11

Judul Laporan Kasus : Furunkel dan Furunkulosis

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 02 Februari 2016

Pembimbing,

(dr. H. A. Amal Alamsyah Makmur, Sp.KK)

baik dari isi maupun penulisannya. Pada kesempatan ini. Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini. Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat Wassalamu Alaikum WR. Makassar. Sp.KK yang telah memberikan petunjuk. sang pembelajar sejati yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya. A. hidayah. pengarahan dan nasehat yang sangat berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya laporan kasus ini. kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga laporan kasus dengan judul “FURUNKEL dan FURUNKULOSIS” ini dapat diselesaikan. secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr.KATA PENGANTAR Assalamu Alaikum WR. Demikian.WB Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat. Amal Alamsyah Makmur. Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara umum dan penulis secara khususnya. H. Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi penyempurnaan laporan kasus ini. Januari 2016 Penulis .WB.

.............. 12 BAB IV PENUTUP .................................... iii DAFTAR ISI .................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN BAB II LAPORAN KASUS .........................................................................DAFTAR ISI Lembar Judul ..................... i Lembar Pengesahan ........ 1 ............................................................................................................................................................................... 5 BAB III PEMBAHASAN ................ ii KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... 17 DAFTAR PUSTAKA Lampiran .................................................

Pada tahun 2002 terdapat 328 kasus (16.7 .BAB I PENDAHULUAN Penyakit infeksi kulit bakterial merupakan masalah kesehatan masyarakat. Karbunkel adalah gabungan dari beberapa furunkel. leher dan wajah. Angka kesakitan pioderma masih cukup tinggi jumlahnya. Efloresensinya mula-mula berupa makula eritematosa lentikular-numular setempat. Furunkel yang lebih dari satu disebut furunkulosis. Furunkel sering pada bagian tubuh yang berambut dan mudah terkena iritasi.8 Furunkel dapat mengenai semua umur. Data menunjukkan jumlah kunjungan pasien ke poliklinik Divisi Dermatologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RS Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) selama tahun 2001 menunjukkan pasien pioderma anak sebesar 362 kasus (18. atau pada daerah yang lembab seperti ketiak.53%) dari 2190 kunjungan baru.5. kemudian menjadi nodula lentikular-numular berbentuk kerucut. gesekan atau tekanan. dan penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosialekonomi. bokong. Penyakit ini menempati urutan ke-2 setelah dermatitis atopik.1 Furunkel merupakan salah satu bentuk dari pioderma yang sering dijumpai.72%) dari 1962 kunjungan baru. Furunkel ialah suatu infeksi nekrotik akut folikel rambut yang dalam dan jaringan sekitarnya yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus.2. dimana infeksi bakterial pada kulit yang paling sering ditemui adalah pioderma. frekuensi wanita sama dengan pria.4.6. punggung.3.

Bakteri tersebut masuk melalui luka. goresan.aureus adalah pengerahan sel PMN ke tempat masuk kuman tersebut untuk melawan infeksi yang terjadi. lesi menjadi nyeri bila ditekan atau diusap. Sel PMN ini ditarik ke tempat infeksi oleh komponen bakteri seperti formylated peptides atau peptidoglikan dan sitokin TNF (tumor necrosis factor) dan interleukin (IL) 1 dan 6 yang dikeluarkan oleh sel endotel dan makrofag yang teraktivasi.6. Hal tersebut menimbulkan inflamasi dan pada akhirnya membentuk pus yang terdiri dari sel darah putih. bakteri tersebut berkolonisasi di jaringan kulit. robekan dan iritasi pada kulit.2.aureus yang merupakan flora residen pada permukaan kulit dan kadangkadang pada tenggorokan dan saluran hidung.Gejala pada permulaan penderita merasa gatal.7 Patogenesis terjadinya furunkel: Kulit memiliki flora normal.7 Tanda-tandanya timbul peradangan folikuler kecil dan merah yang cepat bertambah besar dan membentuk suatu benjolan berbentuk kerucut dan teraba keras dan dikelilingi oleh halo merah (nodul eritematosa). Kemudian pada tempat rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata bisul.8 . bakteri dan sel kulit yang mati. Nodus tadi akan melunak (supurasi) menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris resistensie yaitu muara folikel. Respon primer host terhadap infeksi S. salah satunya S. Gejala sistemik biasanya jarang dan kalau ada ringan. lesi terasa sakit sekali. Selama proses supurasi. Selanjutnya. Lesi yang terdapat di saluran telinga luar dan hidung terasa sakit sekali. Jaringan nekrotik keluar sebagai pus dan terbentuk fistel. rambut menjadi rontok/terlepas.

Pada folikulitis. gejala klinis yang tampak adalah terdapat krusta tebal berwarna kuning. krusta diangkat ternyata lekat dan tampak ulkus yang dangkal.9 Hidraadenitis supurativa folikulitis Ektima . eritematosa dan berbentuk kubah. di tengah terdapat pustul. sering ditembus oleh rambut halus. Kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik. Hidraadenitis supurativa. kelainan berupa papul atau pustul folikuler kecil.Diagnosis bandingnya adalah pada furunkel dan furunkulosis kelainan berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut. Sedangkan pada Ektima. kemudian dapat melunak menjadi abses dan memecah membentuk fistel dan mengenai kelnjar apokrin. ruam berupa nodul dengan kelima tanda radang akut seperti benjolan merah menyerupai jerawat. lalu memecah membentuk fistel.2. Krusta tipis dapat menutupi muara folikel yang menyembul.

cari faktor predisposisi.7 Jika sedikit cukup dengan antibiotik topikal. Erotromisin dapt dipakai pada pendderita yang alergik terhadap antibiotik yang disukai. misalnya diabetes melitus. Antibiotik yang tepat adalah penisilin yang resisten terhadap penisilinase seperti kloksasilin. tapi bukan merupakan obat pilihan karena terjadinya resistensi bakteri yang lebih banyak ditemukan pada galur mikroorganisme yang menyebabkan furunkel.Penatalaksanaan: pengobatan furunkel tergantung kepada lokasi dan kematangan lesi.2 . dalam dosis terbagi tiga sampai empat. Jika banyak digabung dengan antibiotik sistemik. Kalau berulang-ulang mendapat furunkulosis atau karbunkel. dikloksasilin atau floksasilin dan sefalosporin generasi pertama. Kompres panas akan memperkecil ukuran lesi dan mempercepat peyerapan. Lesi permulaan yang belum berfluaktuasi dan belum bermata dikompres panas dan diberi antibiotik oral.

Keluhan Utama Benjolan berisi nanah di kaki kanan 2.LAPORAN KASUS KASUS 1 A. 1. Riwayat panas badan (demam) disangkal. Sul-Sel. RT Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 46 tahun Pekerjaan :- Tanggal Periksa : 14 Januari 2016 Alamat : Makassar B. Identitas Pasien Nama : Tn. Selama munculnya keluhan. pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet benjolan. Menurut pasien benjolan tersebut tidak gatal tapi terasa nyut-nyut dan nyeri. . Riwayat Penyakit Sekarang Seorang laki-laki 46 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Awalnya benjolan tersebut hanya berupa bercak berwarna kemerahan kemudian menonjol dan dalam beberapa hari berubah warna agak putih berisi nanah. Identitas Pasien Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada pasien pada tanggal 14 Januari 2016 di Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Sul-Sel dengan keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien dikatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini. Riwayat penyakit asthma. dengan ukuran Ø 0. 4. Riwayat Pengobatan Pasien belum pernah menggunakan obat apapun untuk mengatasi keluhannya ini. gizi buruk. . Di bagian puncaknya terdapat pustul berwarna keputihan. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging disangkal. Riwayat penyakit Skizofrenia Paranoid.3. 5. dengan isi purulen. berbatas tegas. soliter. Riwayat Sosio-Ekonomi Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik C. yaitu istri. Pemeriksaan Fisik Status Dermatologis: Lokasi : extremitas inferior dextra Effloresensi : Nodul eritematous. berbentuk kerucut. Kulit disekitar lesi tampak eritema. 6.5 cm dan tersusun secara unilateral. kencing manis atau penyakit kronis lain disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa.

Hidraadenitis F. I S u. Sul-Sel D. Folikulitis 2.e . Diagnosis Furunkel E. Diagnosis banding 1. X S 2 dd I Fuson cr 5 g tube No.Gambar yang diambil saat pasien pertama kali datang periksa ke poli kulit dan kelamin RSKD Prov. Penatalaksanaan R/ Cefadroxil kaps 500 mg No.

Riwayat demam disangkal. Riwayat penyakit Skizofrenia Paranoid. kencing manis atau penyakit kronis lain disangkal. Prognosis Dubius ad Bonam KASUS 2: A. Identitas Pasien Nama : Ny. Selama munculnya keluhan. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging disangkal. Awalnya benjolan tersebut berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna agak putih berisi nanah. H. pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet benjolan. Sul-Sel dengan keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang lalu. Menurut pasien benjolan tersebut tidak gatal tapi terasa nyut-nyut dan nyeri. gizi buruk. Resume Seorang laki-laki 46 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov.G. VH Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 45 tahun Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Tanggal Periksa : 14 Januari 2016 Alamat : Makassar . Riwayat penyakit asthma.

Pasien mengaku luka tersebut tidak gatal namun terasa nyut-nyut dan akan terasa nyeri bila diraba. Riwayat penyakit kencing manis (+) 5. Pertama muncul di daerah tangan. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien dikatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini.B. Menurut pasien awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna menjadi agak keputihan berisi nanah lalu pecah. Pasien tidak mengeluhkan adanya demam. Anamnesis Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada pasien pada tanggal 14 Januari 2016 di Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Riwayat Pengobatan Pasien belum pernah menggunakan obat apapun untuk mengatasi keluhannya ini 4. 1. 3. Sul-Sel dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan Utama Luka-luka di kedua kaki 2. kemudian muncul di beberapa tempat di kaki kiri dan juga kaki kanan. Riwayat Penyakit Sekarang Seorang perempuan 45 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Jika pecah yang keluar seperti nanah dan darah. Riwayat Penyakit Keluarga . Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging disangkal. Sul-Sel.

Riwayat Sosio Ekonomi Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik C.Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa. Diagnosis Furunkulosis . dengan ukuran bervariasi 14/1/2016 11:15 Gambar yang diambil saat pasien pertama kali datang periksa ke poli kulit dan kelamin RSKD Prov. extremitas inferior dextra dan sistra Effloresensi : krusta. Sul-Sel D. regional. yaitu suami. Pemeriksaan Fisik Status Dermatologis: Lokasi : extremitas superior dextra. 6.

e G. dan ada keluarga yang menderita hal yang sama yaitu suami. Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik.E. Jika pecah yang keluar seperti nanah dan darah. kemudian muncul di beberapa tempat di kaki. Ektima F. Awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna menjadi agak keputihan berisi nanah lalu pecah. Resume Seorang perempuan 45 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Hidraadenitis 3. X S 2 dd I Fuson cr 5 g tube No. Prognosis Dubius ad Malam . Pertama muncul di daerah tangan. Pasien mengatakan luka tersebut tidak gatal namun terasa nyut-nyut dan akan terasa nyeri bila diraba. Sul-Sel dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu yang lalu. Folikulitis 2. H. Pasien menderita penyakit kencing manis (Diabetes Melitus). Penatalaksanaan R/ Cefadroxil kaps 500 mg No. Pasien mengatakan belum melakukan pengobatan sebelumnya. Diagnosis banding 1. I S u.

Pasien pada umumnya datang dengan keluhan munculnya nodul pada kulit yang keras dan terasa nyeri bila disentuh. Nodus tadi akan melunak (supurasi) menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris resistensie yaitu muara folikel.2. status nutrisi. Sejumlah faktor yang mempengaruhi timbulnya panyakit tersebut yaitu 1. hiperhidrosis. rambut menjadi rontok/terlepas. riwayat penyakit kronis. Awalnya timbul peradangan folikuler kecil dan merah yang cepat bertambah besar dan membentuk suatu benjolan berbentuk kerucut dan teraba keras dan dikelilingi oleh halo merah (nodul eritematosa). karena banyak berkeringat 2. Lingkungan : lingkungan yang kurang baik/bersih 4.BAB III PEMBAHASAN Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan temuan klinis dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kebersihan/higine: kebersihan dan higine yang kurang 3. Jaringan nekrotik keluar sebagai pus dan terbentuk fistel.7 Pada beberapa kasus sering dijumpai adanya kondisi-kondisi yang memudahkan terjadinya penyakit ini atau memperberat manifestasi klinisnya. Pertanyaan seputar faktor predisiposisi ini semakin penting untuk ditanyakan pada kasus-kasus yang kronis dan berulang. Musim/iklim : lebih sering pada musim panas. emosional Pada anamnesis juga perlu digali tentang higienitas pasien. obesitas.6. Lain-lain : Diabetes. Kemudian pada tempat rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata bisul. Meskipun .

Kemunculan lesi ini tidak disertai dengan adanya panas badan. pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet benjolan. harus diingat bahwa sebagian besar kasus furunkel timbul secara spontan tanpa adanya faktor predisposisi lokal sebelumnya. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging disangkal. Pada KASUS 1: Pada pasien laki-laki. didiagnosis dengan furunkel. . Pada anamnesis diketahui bahwa pasien laki-laki 46 tahun datang dengan keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang lalu. Pasien mengeluhkan munculnya lesi kulit yang sesuai diskripsi furunkel.demikian. Tapi pasien lebih dulu terkena kemudian istrinya. kencing manis atau penyakit kronis lain disangkal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didapat dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. yaitu istri. Selama munculnya keluhan. gizi buruk. Menurut pasien benjolan tersebut tidak gatal tapi terasa nyut-nyut dan nyeri. terdapat kesesuaian antara gejala klinis yang dikeluhkan pasien dengan manifestasi klinis suatu furunkel. setelah mengeluh timbulnya nodul berisi pus yang terasa nyeri di kaki kanan. Riwayat penyakit asthma.Pasien mengatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini. Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa. Berdasarkan anamnesis tersebut. yang muncul pada daerah kaki. berusia 46 tahun. Awalnya benjolan tersebut berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna agak putih berisi nanah. Riwayat panas badan (-).

Pemeriksaan penunjang tidak rutin dikerjakan. soliter. Effloresensi lesi pada kulit pasien sesuai dengan effloresensi suatu furunkel. darah lengkap. ditemukan pada daerah kaki adanya lesi kulit berupa nodul eritematous. Pada sebagian besar kasus baru. tidak dikerjakan pemeriksaan penunjang. berbatas tegas. dengan ukuran Ø 0. Pada anamnesis juga tidak didapatkan faktor predisposisi pada pasien ini. Pada bagian puncaknya terdapat pustul berwarna keputihan dengan isi purulen. Biasanya dilakukan pada kasus-kasus dengan manifestasi klinis yang berat atau kasus-kasus rekuren. gambarannya sesuai dengan furunkulosis. . Pada pasien. berbentuk kerucut. dimana pada bagian tengahnya akan dijumpai adanya puncak (core) yang biasanya berupa pustul (central necrotic). Jika lebih dari satu maka. lesi dapat timbul secara spontan tanpa adanya faktor predisposisi lokal.5 cm. Pada pemeriksaan fisik dilakukan evaluasi terhadap lesi kulit. Pada status dermatologi. yang berupa nodul eritematous berbentuk kerucut. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dikerjakan. Karena jumlah lesi satu maka sesuai dengan furunkel. kemudian ditentukan lokasi dan effloresensi lesi. Kulit disekitar lesi tampak eritema.Hal ini sesuai dengan perjalanan klinis furunkel/furunkulosis yang pada umumnya tidak disertai gejala konstitusi. meliputi: pemeriksaan gram. pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas. Pada pasien ini diberikan kombinasi antibiotik topikal dan sistemik berupa Cefadroxil kaps 2 x 500 mg serta Fuson cr 5 g (asam fusidat 2%) dioleskan 2x sehari pada lesi.

Riwayat panas badan (-). Pertama muncul di daerah tangan. yaitu suaminya. . didiagnosis dengan furunkulosis. Terapi diberikan untuk jangka waktu 5 hari. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging disangkal. Menurut pasien awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna menjadi agak keputihan berisi nanah lalu pecah. Riwayat Kencing manis (+). Pada KASUS 2: Pada pasien perempuan. Jika pecah yang keluar seperti nanah dan darah. Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didapat dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. disamping antibiotik topikal. Pasien mengaku luka tersebut tidak gatal namun terasa nyut-nyut dan akan terasa nyeri bila diraba. Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa.Pemberian terapi ini sudah sesuai dengan teori. kemudian muncul di beberapa tempat di kaki kiri dan juga kaki kanan. berusia 45 tahun. Pada anamnesis diketahui bahwa pasien perempuan 45 tahun datang dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu yang lalu. Sehingga pasien merasa ditulari oleh suaminya. dimana jika lesi kulit sudah terbentuk pus perlu diberikan juga antibiotik sistemik. sesudah itu pasien dianjurkan untuk kontrol kembali agar dapat dievaluasi respon pengobatannya. Pasien mengatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini. setelah mengeluh timbulnya luka-luka yang terasa nyeri di kaki dan tangan.

dimana jika lesi kulit sudah terbentuk pus perlu diberikan juga antibiotik sistemik. Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada pasien DM. disamping antibiotik topikal. . infeksi kulit sering terjadi dengan keadaan yang lebih berat dan risiko komplikasi yang lebih besar daripada orang tanpa DM. terdapat kesesuaian antara gejala klinis yang dikeluhkan pasien dengan manifestasi klinis suatu furunkulosis. terutama ketika dalam keadaan hiperglikemia dan diabetik asidosis.Berdasarkan anamnesis tersebut. fagositosis dan perlekatan dari leukosit terganggu. kemotaksis. yang muncul pada daerah kaki dan tangan. Terapi diberikan untuk jangka waktu 5 hari. furunkel dapat muncul lebih dari satu atau disebut dengan furunkulosis. Hal ini sesuai dengan perjalanan klinis furunkel/furunkulosis yang pada umumnya tidak disertai gejala konstitusi. Pada pasien-pasien DM. Inilah yang menyebabkan pada penderita DM. Pemberian terapi ini sudah sesuai dengan teori. Penelitian lain menunjukkan bahwa fungsi dari sel T kulit dan respon terhadap antigen menurun. Pada anamnesis juga didapatkan faktor predisposisi yaitu pasien menderita kencing manis (DM). Kemunculan lesi ini tidak disertai dengan adanya panas badan.10 Pada pasien ini diberikan kombinasi antibiotik topikal dan sistemik berupa Cefadroxil kaps 2 x 500 mg serta Fuson cr 5 g (asam fusidat 2%) dioleskan 2x sehari pada lesi. sesudah itu pasien dianjurkan untuk kontrol kembali agar dapat dievaluasi respon pengobatannya. Pasien mengeluhkan munculnya beberapa lesi kulit yang sesuai diskripsi furunkulosis.

Prognosis penyakit pasien baik. berusia 46 tahun. Effloresensi yang dijumpai sesuai dengan gambaran klinis furunkulosis. kasus 2: furunkulosis pada pasien perempuan. Terapi yang diberikan sudah adekuat sehingga risiko berkembangnya infeksi bisa dikurangi. Pasien juga tidak memiliki faktor predisposisi yang meningkatkan risiko rekurensi. Keluhan utama pasien berupa munculnya nodul berisi nanah yang terasa nyeri pada daerah kaki kanan. berusia 45 tahun. 2. Diagnosis furunkulosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang digali dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Effloresensi yang dijumpai sesuai dengan gambaran klinis furunkel. Pasien diterapi dengan kombinasi antibiotik topikal (krim fuson) serta antibiotik sistemik (cefadroxil kaps 2 x 500 mg) selama 5 hari. Pemeriksaan penunjang tidak dikerjakan. Terapi yang diberikan sudah adekuat sehingga risiko berkembangnya infeksi bisa dikurangi. Pasien memiliki faktor predisposisi (penyakit kencing manis) yang dapat meningkatkan risiko rekurensi. Pasien diterapi dengan kombinasi antibiotik topikal (krim fuson) serta antibiotik sistemik (cefadroxil kaps 2 x 500 mg) selama 5 hari. Keluhan utama pasien berupa adanya luka-luka di kaki yang awalnya berupa nodul berisi nanah yang terasa nyeri lalu pecah dan keluar nanah bercampur darah. Telah dilaporkan kasus 1: furunkel pada pasien laki-laki. . Diagnosis furunkel ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang digali dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.BAB IV PENUTUP Kesimpulan: 1.

3. Yang membedakan antara Kasus 1 dan Kasus 2 adalah pada kasus 2 ditemukan adanya faktor predisposisi meningkatkan rekurensi penyakit. (Riwayat DM) yang dapat .

Jakarta: EGC.2000. edisi ketujuh. Hal. Hubungan antara Hygiene Perorangan dan Lingkungan dengan Kejadian Pioderma. 2005. Hidradenitis Suppurativa: Update on Diagnosis and Treatment. Robin. Zulaikhah S. Micheletti R. p 1 http://escholarship. California. Lecture Notes Dermatologi. Diakses 21 Januari 2016 5. Diakses 21 Januari 2016 6. Dalam: Menaldi S.org/uc/item/9ng6m0bn. 7th Edition. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Ed. 2. A. Jakarta: Hipokrates. 20 4. 71-6 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Kerdel F. 2011. Harahap. Hal. Copenhagen University. United States of America: The McGraw-Hill Companies. Risk Factors of Reccurent Furunculosis. R.dovepress. Roskilde Hospital.php?article=81416&val=4928. p17 .portalgaruda. Semarang. 2005. p 59. Djuanda. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 2014. Sutisna I. 2009. H. Jakarta: FK UI. Menter A. Recurrent Furunculosis – Challenges and Management: a review. Jakarta: Erlangga. editors. http://www.com. p24 http://download. Bramono K. Hal. 52-4 7. Marwali. 2015. Hal. Pioderma. Kromann C. El-Gilany A. p 1695-99 9. Bacterial Infection. Ilmu Penyakit Kulit. Denmark: Department of Dermatology. Graham-Brown. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fathy. Siregar.org/article. Timothy G. Indriatma W. Diakses 20 Januari 2016 2. 2008. Harlisa P. 2014. edisi kedelapan. 52-3 8. Ibler K.

Manifestasi Dermatologis pada Pasien Diabetes Melitus. p 175 http://ojs. FK Unika Atma Jaya. Soebroto C.ac.10. 2011. Diakses 23 Januari 2016 . Jakrta: Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.php/damianus/article/view/274/226.atmajaya.id/index.