You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
Mual dan muntah,pening,perut kembung, dan badan terasa lemah terjadi hampir
pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-12 minggu.
Keluhan mual muntah sering terjadi pada waktu pagi sehingga dikenal juga
dengan “morning sickness”. Juga terdapat keluhan ptialisme,hipersalivasi yaitu
banyak meludah. Epulis gravidarum, infeksi gingivitis dapat menyebabkan
perdarahan gusi.
Mual dan muntah tampaknya disebabkan oleh kombinasi hormone estrogen dan
progesterone, walaupun hal ini tidak diketahui dengan pasti dan hormone human
chorionic gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan mual dan muntah.
Gastroesophageal reflux terjadi kurang lebih 80 % dalam kehamilan, dan dapat
disebabkan oleh kombinasi menurunnya tekanan sfingter esophageal bagian
bawah, meningkatnya tekanan intragastrik, menurunnya kompetensi sfingter pilori
dan kegagalan mengeluarkan asam lambung.
Keluhan mual muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan
umum

dan

mengganggu

pekerjaan

sehari-hari,

berat

badan

menurun,

dehidrasi,dan terdapat aseton dalam urin. Mual dan muntah mempengaruhi hingga
> 50 % kehamilan. Kebanyakan perempuan mampu mempertahankan kebutuhan
cairan dan nutrisi dengan diet, dan symptom akan teratasi hingga akhir trimester
pertama. Penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi
diperkirakan erat hubungannya dengan endokrin,biokimiawi,dan psikologis.
Infeksi saluran kemih sering terjadi pada wanita. Salah satu penyebabnya
adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah
melewati jalur ke kandung kemih. Faktor lain yang berperan adalah
kecenderungan untuk menahan urin serta iritasi kulit lubang uretra sewaktu
berhubungan kelamin. Uretra yang pendek meningkatkan kemungkinan

1

mikroorganisme yang menempel dilubang uretra sewaktu berhubungan kelamin
memiliki akses ke kandung kemih.
Kehamilan berpengaruh secara mekanis dan hormonal dengan fungsi
traktus urinarius yang secara embriologis berasal dari traktus genitalis. Wanita
hamil mengalami relaksasi semua otot polos yang dipengaruhi oleh progesterone,
termasuk kandung kemih dan ureter, sehingga mereka cenderung menahan urin
dibagian tersebut. Uterus pada kehamilan dapat pula menghambat aliran urin pada
keadaan-keadaan tertentu.
ISK telah diketahui berhubungan dengan kesudahan kehamilan yang
buruk, seperti persalinan preterm, pertumbuhan janin terhambat, bahkan janin
lahir mati (stillbirth). Komplikasi ini bukan hanya akibat ISK bergejala, tetapi
bakteriuria asimtomatik juga dapat menyebabkan komplikasi tersebut. Bakteri
patogen dari vesika dapat membentuk koloni pada saluran genitalia bagian bawah,
dan menyebabkan korioamnionitis.2 Oleh sebab itu, sangat penting bagi seorang
dokter dapat melakukan upaya skrining, diagnosis, serta pemberian terapi yang
sesuai pada ibu hamil dengan ISK.

2

Hormon HCG berfungsi untuk menjaga kecukupan produksi hormon estrogen dan progesteron yang berdampak pada kehamilan agar sehat dan lancar.2 Etiologi Beberapa perkiraan faktor-faktor penyebab meliputi : 1 Faktor Hormonal Human Chorionik Gonadotropin (HCG) yang diproduksi oleh plasenta pada wanita hamil terjadi peningkatan. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya sehingga segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari. Peningkatan hormon HCG berefek menimbulkan mual dan muntah.1 Definisi Hiperemesis Gravidarum. (Stright. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu.1-4 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. berat badan menurun. Tiran. 3 .R 2001 . B. dehidrasi dan terdapat aseton dalam urin. 2004).

dan Rachimhadhi. hal itu mengakibatkan penurunan motilitas sehingga pengosongan lambung melambat. Infeksi Helicobacter pylory terjadi karena penurunan keasaman lambung yang disebabkan akumulasi cairan disebabkan peningkatan produksi hormon steroid pada wanita hamil.. 2001). salah satu infeksi yang terjadi adalah infeksi pada Helicobacter pylory. (Wiknjosastro. Refluks esophagus. 2006). 2005). dapat menyebabkan konflik mental yang merangsang peningkatan 4 . 2 Faktor Infeksi Berdasarkan penelitian diketahui 95 % ibu hiperemesis gravidarum mengalami infeksi Helicobacter pylory (Bagis et al. 2002: Neil & Nelson.Kadar estrogen pada wanita hamil meningkat. 4 Faktor Psikologik Stres psikologik seperti kerekatan rumah tangga. yang mengakibatkan terjadinya penurunan tonus otot-otot traktus digestivus. penurunan motilitas lambung. 3 Faktor Organik Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi matermal dan perubahan metabolik akibat hamil serta risistensi yang menurun dari pihak ibu. Saifudin. takut terhadap kehamilan dan persalinan. et al. 2004. Hipo asiditas pada lambung menyebabkan mudah terjadinya infeksi pada lambung. Peningkatan hormon progesteron menyebabkan otot polos pada sistem gastrointestinal mengalami relaksasi. kehilangan pekerjaan. Selain itu HCG juga menstimulasi kelenjar tiroid yang dapat mengakibatkan mual dan muntah (Kuscu & Koyuncu. Progesteron bersama estrogen berperan dalam menyebabkan terjadinya nausea dan vomitus pada kehamilan. Tiran. dan penurunan sekresi dari asam hidroklorid juga berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah. Progesteron menurunkan kontraktilitas otot polos dan menyebabkan distritmia lambung yang merangsang terjadinya mual dan muntah. sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Verberg. dan hal ini menimbulkan rasa mual.. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. 2003. Makanan lebih lama berada di lambung dan apa yang telah dicerna lebih lama berada dalam usus.

et al. 2011). pada hiperemesis gravidarum terjadi mual. bahwa pembatasan intake nutrisi dapat menimbulkan efek samping terhadap volume cairan amnion sehingga perlu dipertimbangkan pelaksanaan puasa pada wanita hamil 2. et al. Sukowati. estrogen dan progesteron ini masih belum jelas. muntah dan penolakan semua makanan dan minuman yang masuk. (2000). Di tegaskan oleh Rabinerson. Secara umum berdasarkan berbagai teori. sehingga apabila terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya kadar elektrolit dalam darah. Tiran (2004) menyatakan bahwa faktor budaya yang merupakan hal penting adalah berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi. Hasil penelitiannya menemukan bahwa kejadian hiperemesis gravidarum dapat meningkat pada wanita yang mengalami pembatasan dalam intake nutrisi (contohnya pada wanita yang menjalankan puasa). faktor budaya juga dapat menjadi pemicu terjadinya hiperemesis gravidarum. estrogen dan progesteron karena keluhan ini mucul pada 6 minggu pertama kehamilan yang dimulai dari hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama 10 minggu. mungkin berasal dari sistem saraf pusat akibat berkurangnya sistem pengosongan lambung. 2006. Penelitian lain mengenai pengaruh budaya terhadap hiperemesis gravidarum dilakukan juga oleh Rabinerson.3 Patofisiologi Ada teori yang menyebutkan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar korionik gonadotropin. Pengaruh fisiologis hormon korionik gonadotropin. Selain itu hiperemesis gravidarum mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan 5 . 5 Faktor Budaya Selain faktor psikologis.produksi asam lambung yang memperberat mual muntah yang dialami ibu hamil (Wiknjosastro.

4 Klasifikasi Hiperemesis gravidarum dapat diklasifikasikan secara klinis menjadi hiperemesis gravidarum tingkat I. Kemudian. Pertama-tama isi muntahan adalah makanan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan mata cekung. yang menambah frekuensi muntah yang lebih banyak. hal tersebut menyebabkan pasokan zat makanan dan oksigen berkurang dan juga mengakibatkan penimbunan zat metabolik yang bersifat toksik didalam darah.10 2.energi karena energi yang didapat dari makanan tidak cukup.11 6 . lidah kering. Hiperemesis gravidarum tingkat I ditandai oleh muntah yang terusmenerus disertai dengan penurunan nafsu makan dan minum.9. dan dapat keluar darah jika keluhan muntah terus berlanjut. II dan III. dan membuat lingkaran setan yang sulit untuk dipatahkan. 1. dehidrasi yang telah terjadi menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang. lalu karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. Selanjutnya. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam asetonasetik. Terdapat penurunan berat badan dan nyeri epigastrium. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah sehingga menimbulkan asidosis. kemudian lendir beserta sedikit cairan empedu. Frekuensi nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah sistolik menurun. 5. hiperemesis gravidarum juga dapat menyebabkan kekurangan kalium akibat dari muntah dan ekskresi lewat ginjal. penurunan turgor kulit dan penurunan jumlah urin.

hiponatremia dan hipokalemia. turgor kulit. Lakukan pemeriksaan tanda vital. Pemeriksaan fisik pada pasien hiperemesis gravidarum biasanya tidak memberikan tanda-tanda yang khusus.11 2. Pasien terlihat apatis. Frekuensi nadi berada pada rentang 100-140 kali/menit dan tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg. tetapi kesadaran pasien menurun (delirium sampai koma). turgor kulit yang menurun. Hiperemesis gravidarum tingkat III sangat jarang terjadi. sianosis. dan ada rasa haus yang hebat. tes fungsi hati. keton urin.3. nistagmus. nutrisi dan berat badan. kadang ikterus. pemeriksaan darah lengkap. badan keton dalam darah dan proteinuria. Keadaan ini merupakan kelanjutan dari hiperemesis gravidarum tingkat II yang ditandai dengan muntah yang berkurang atau bahkan berhenti. sehingga mempengaruhi keadaan umum (sering muntah lebih dari 10 kali per 24 jam).5 Diagnosis Pada diagnosis harus ditentukan adanya kehamilan dan muntah yang terus menerus. berat badan cepat menurun. Bila 7 . lidah kotor. pucat. dan ditemukan aseton serta bilirubin dalam urin.11 3. keadaan membran mukosa. gangguan jantung dan dalam urin ditemukan bilirubin dan protein. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan antara lain. perubahan tekanan darah dan nadi. pemeriksaan kadar elektrolit. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan hiperemesis gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit. pasien memuntahkan semua yang dimakan dan diminum.2. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai dehidrasi. Pasien dapat mengalami ikterus. Pada hiperemesis gravidarum tingkat II. dan urinalisa untuk menyingkirkan penyebab lain.

yaitu mengkonsumsi makanan dan minuman dalam porsi yang kecil namun sering cukup efektif untuk mengatasi mual dan muntah derajat ringan. pyridoxine. multivitamin. seperti makanan pedas. makanan berlemak. kacang panjang. Perubahan pola diet yang sederhana. atau tiamin perlu dipertimbangkan.6 Penatalaksanaan Non Farmakologi Tata laksana awal dan utama untuk mual dan muntah tanpa komplikasi adalah istirahat dan menghindari makanan yang merangsang.hyperthyroidism dicurigai. dan biskuit kering.2 Farmakologi Tata laksana awal Pasien hiperemesis gravidarum harus dirawat inap dirumah sakit dan dilakukan rehidrasi dengan cairan natrium klorida atau ringer laktat. Minuman elektrolit dan suplemen nutrisi peroral disarankan sebagai tambahan untuk memastikan terjaganya keseimbangan elektrolit dan pemenuhan kebutuhan kalori. Penambahan glukosa.1 Jenis makanan yang direkomendasikan adalah makanan ringan. atau suplemen besi. Lakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan kehamilan mola. Menu makanan yang banyak mengandung protein juga memiliki efek positif karena bersifat eupeptic dan efektif meredakan mual. magnesium. kacang-kacangan. Cairan dekstrosa dapat menghentikan pemecahan 8 . serta pemberian antiemetik jika dibutuhkan. penghentian pemberian makanan per oral selama 24-48 jam.4 2. Manajemen stres juga dapat berperan dalam menurunkan gejala mual. produk susu. dilakukan pemeriksaan T3 dan T4.

prometazin. telah terbukti efektif dan aman bagi ibu. tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai dengan gejala okular. seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan ekstraokular. Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin). depresi sistem saraf pusat. penyakit kardiovaskuler berat. Komplikasi ini jarang terjadi. dan glaucoma sudut tertutup. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12. Suplementasi dengan tiamin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berat hiperemesis. klorpromazin menyembuhkan mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic mesolimbic dopamine receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating system. antihistamin dan agen-agen prokinetik. Penatalaksanaan dilanjutkan sampai pasien dapat mentoleransi cairan per oral dan didapatkan perbaikan hasil laboratorium.5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif. seperti fenotiazin dan benzamin. 9 .lemak. tiamin 100 mg diberikan sebelum pemberian cairan dekstrosa. Antiemetik konvensional. penurunan kesadaran berat. Untuk pasien dengan defisiensi vitamin. Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk. Antiemetik seperti proklorperazin. hanya didapatkan sedikit informasi mengenai efek terapi antiemetik terhadap janin. kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti menurunkan 70% mual dan muntah dalam kehamilan. kejang yang tidak terkendali. Obat-obatan tersebut dikontraindikasikan terhadap pasien dengan hipersensitivitas terhadap golongan fenotiazin. yaitu Wernicke’s encephalopathy. Dalam sebuah randomized trial. Namun.

Efek samping metilprednisolon sebagai sebuah 10 . tetapi sekarang jarang digunakan karena risiko pemanjangan interval QT dan torsades de pointes. berat badan lahir rendah. Studi kohort telah menunjukkan bahwa penggunaan metoklopramid tidak berhubungan dengan malformasi kongenital. Droperidol efektif untuk mual dan muntah dalam kehamilan. metoklopramid dan prometazin intravena memiliki efektivitas yang sama untuk mengatasi hiperemesis. metoklopramid memiliki efek samping tardive dyskinesia. Antagonis reseptor 5-hydroxytryptamine (5HT3) seperti ondansetron mulai sering digunakan. Pemeriksaan elektrokardiografi sebelum. Ondansetron tidak meningkatkan risiko malformasi mayor pada penggunaannya dalam trimester pertama kehamilan. Seperti metoklopramid. Namun. persalinan preterm.Fenotiazin atau metoklopramid diberikan jika pengobatan dengan antihistamin gagal. Dalam sebuah randomized trial. Prochlorperazine juga tersedia dalam sediaan tablet bukal dengan efek samping sedasi yang lebih kecil. penggunaan selama lebih dari 12 minggu harus dihindari. selama dan tiga jam setelah pemberian droperidol perlu dilakukan. tetapi metoklopramid memiliki efek samping mengantuk dan pusing yang lebih ringan. tetapi efek samping sedasi ondansetron lebih kecil. Oleh karena itu. tergantung durasi pengobatan dan total dosis kumulatifnya. Metilprednisolon lebih efektif daripada promethazine untuk penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan. ondansetron memiliki efektivitas yang sama dengan prometazin. atau kematian perinatal. Untuk kasus-kasus refrakter. tetapi informasi mengenai penggunaannya dalam kehamilan masih terbatas. metilprednisolon dapat menjadi obat pilihan.

dan ISK bagian atas (pielonefritis). Infeksi bakteri ini paling sering dijumpai selama kehamilan. penggunaan glukokortikoid sebelum usia gestasi 10 minggu berhubungan dengan risiko bibir sumbing dan tergantung dosis yang diberikan. prevalensi bakteriuria asim-tomatik pada kehamilan adalah 7. dengan prevalensi rerata sekitar 10%. Oleh karena itu. atau menyerang kaliks. penggunaan glukokortikoid direkomendasikan hanya pada usia gestasi lebih dari 10 minggu. Infeksi saluran kemih (ISK) sering ditemukan pada kehamilan.glukokortikoid juga patut diperhatikan. Walaupun bakteriuria asimptomatik merupakan hal biasa. dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. sistitis akut).3%. pelvis. ISK tidak bergejala (bakteriuria asimtomatik) dan ISK bergejala (sistitis akut dan pielonefritis) masing-masing ditemukan pada 2-13% dan 1-2% ibu hamil.5 11 . Infeksi saluran kemih dibagi menjadi ISK bagian bawah (bakteriuria asimtomatik.2 INFEKSI SALURAN KEMIH PADA KEHAMILAN Infeksi saluran kemih adalah keadaan klinis akibat berkembangbiaknya mikroorganisme yang menyebabkan inflamasi pada saluran kemih. Dalam sebuah metaanalisis dari empat studi. infeksi simptomatik dapat mengenai saluran bawah yang menyebabkan sistitis. Di Indonesia.

Kuman uropatogen yang umumnya diisolasi pada wanita hamil dengan ISK6 Bakteri tersebut normal terdapat pada vagina dan bagian distal uretra. bakteri lainnya Klebsiella pneumoniae.III. Patofisiologi ISK Bakteri masuk ke saluran kemih manusia dapat melalui beberapa cara yaitu:7 - Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat - Hematogen - Limfogen - Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi 1 Infeksi Hematogen (desending) Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah. karena menderita suatu penyakit kronik. Proteus mirabilis.2 Etiologi ISK pada Kehamilan Bakteri yang terdapat dalam urin (uropatogen) umumnya dapat diisolasi pada bakteriuria asimtomatik. serta kolonisasi pada saluran urethra secara ascenden. sistitis dan pielonefritis. Uropatogen Persentase Escherichia coli 86% Proteus mirabilis 4% Klebsiella species 4% Enterobacter species 3% Staphylococcus saprophyticus 2% Streptococcus grup B 1% Tabel 1. Enterobacter species. Dengan adanya mekanisme miksi dan protein permukaan epitel uretra dapat mencegah kolonisasi tersebut. Selain itu kehamilan dapat menyebabkan glukosuria dan aminoasiduria yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Escherichia coli merupakan bakteri patogen utama pada 65% sampai 80% kasus. namun mekanisme tersebut tidak selalu berhasil. Staphylocooccus saprophyticus dan Streptoccus grup B. atau pada pasien yang 12 .

Ginjal yang normal biasanya mempunyai daya tahan terhadap infeksi E.coli.fecalis. Kolonisasi E.coli di samping enterobacter dan S. Pada wanita. kuman penghuni terbanyak pada daerah tersebut adalah E. pada wanita.coli pada wanita didaerah tersebut diduga karena :  adanya perubahan flora normal di daerah perineum  Berkurangnya antibodi lokal  Bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita 13 . misalnya sulfonamide 2  Terdapat faktor vaskular misalnya kontriksi pembuluh darah  Pemakaian obat analgetik atau estrogen  Penyakit ginjal polikistik  Penderita diabetes melitus Infeksi Asending A Kolonisasi uretra dan daerah introitus vagina Saluran kemih yang normal umumnya tidak mengandung mikroorganisme kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya juga dihuni oleh bakteri normal kulit seperti basil difteroid. Di samping bakteri normal flora kulit.sementara mendapat pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen dapat juga terjadi akibat adanya fokus infeksi di salah satu tempat. daerah 1/3 bagian distal uretra ini disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis yang juga banyak dihuni oleh bakteri yang berasal dari usus karena letak usus tidak jauh dari tempat tersebut.coli karena itu jarang terjadi infeksi hematogen E. Ada beberapa tindakan yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal yang dapat meningkatkan kepekaan ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Hal ini dapat terjadi pada keadaan sebagai berikut :  Adanya bendungan total aliran urin  Adanya bendungan internal baik karena jaringan parut maupun terdapatnya presipitasi obat intratubular. streptpkokus.

sehingga tidak sempat berkembang biak dalam urin. mikroorganisme yang masuk ke dalam kandung kemih akan cepat menghilang. Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih adalah : i Faktor anatomi Kenyataan bahwa infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki disebabkan karena :  Uretra wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat anus  Uretra laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret prostat merupakan antibakteri yang kuat ii Faktor tekanan urin pada waktu miksi Mikroorganisme naik ke kandung kemih pada waktu miksi karena tekanan urin. Selain itu. Selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah pengeluarann urin. karena urin mengandung asam organik yang bersifat bakteriostatik. iii Faktor lain. Pertahanan yang normal dari kandung kemih ini tergantung tiga faktor yaitu : i Eradikasi organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan pemgenceran urin ii Efek antibakteri dari urin. misalnya:  Perubahan hormonal pada saat menstruasi  Kebersihan alat kelamin bagian luar  Adanya bahan antibakteri dalam urin  Pemakaian obat kontrasepsi oral C Multiplikasi bakteri dalam kandung kemih dan pertahanan kandung kemih Dalam keadaan normal.B Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih Proses masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih belum diketahui dengan jelas. urin juga mempunyai tekanan osmotik yang tinggi dan pH yang rendah 14 .

Selain itu. Terjadinya infeksi sangat tergantung pada keseimbangan antara kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa kandung kemih.iii Mekanisme pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik Mekanisme pertahanan mukosa ini diduga ada hubungannya dengan mukopolisakarida dan glikosaminoglikan yang terdapat pada permukaan mukosa. D Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Hal ini disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi dari pelvis ke korteks karena refluks internal. miksi yang tidak kuat. benda asing atau batu dalam kandung kemih. asam organik yang bersifat bakteriostatik yang dihasilkan bersifat lokal. Eradikasi bakteri dari kandung kemih menjadi terhambat jika terdapat hal sebagai berikut : adanya urin sisa. juga IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa. serta enzim dan lisozim. tekanan kandung kemih yang tinggi atau inflamasi sebelumya pada kandung kemih. adanya sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu sendiri. Refluks vesikoureter adalah keadaan patologis karena tidak berfungsinya valvula vesikoureter sehingga aliran urin naik dari kandung kemih ke ginjal. Tidak berfungsinya valvula vesikoureter ini disebabkan karena :  Memendeknya bagian intravesikel ureter yang biasa terjadi secara kongenital  Edema mukosa ureter akibat infeksi  Tumor pada kandung kemih  Penebalan dinding kandung kemih Diagnosis ISK pada Kehamilan Untuk mendeteksi bakteriuria diperlukan pemeriksaan bakteriologik yang secara konvensional maupun sederhana dilakukan dengan: 15 .

diagnosis ISK dapat ditegakkan dengan metode tidak langsung untuk deteksi bakteri atau hasil reaksi inflamasi.9 Bahan pemeriksaan adalah urine arus-tengah pagi hari. dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi potongan-potongan es dan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.8 Mengingat keterbatasan fasilitas di klinik. dengan ditemukannya kuman batang Gram . (ii)Pewarnaan secara Gram. Kepada subyek dijelaskan mengenai cara-cara menampung dan mengirim sampel urine yang dibutuhkan yaitu: sebelum berkemih genitalia eksterna dibersihkan dahulu dengan air sabun kemudian dibilas dengan air. Air kemih awal dibiarkan terbuang dan yang di tengahtengah ditampung sebanyak 20 ml di dalam tempat steril yang telah disediakan. untuk membantu diagnosis bakteriuria yang infektif. Namun cara ini membutuhkan keahlian khusus. urine diambil sebelum subyek minum sesuatu untuk menghindarkan efek pengenceran. dan tidak memegang bagian dalam dari tempat tampung.10 Tata Laksana dan Pencegahan ISK pada Kehamilan 16 . yang biayanya cukup tinggi dan membutuhkan waktu yang lama. Selain itu dapat dilakukan dengan (iii)Pemeriksaan lekosit dalam urin. esterase leukosit. protein.(i)Metode biakan . genitalia atau pakaian. positif jika ditemukannya jumlah kuman > l00. Sampel urine setelah diperoleh. Subyek juga diminta untuk menjaga agar tempat tampung urine tidak menyentuh paha. yang dapat digunakan untuk deteksi nitrit. Metode yang sering dipakai adalah: (iv)Tes celup urin.000 colony forming unit /ml urine.negatif. karena tidak semua laboratorium mempunyai kemampuan untuk pembiakan itu. Metode biakan ini tidak selalu dapat dilakukan laboratorium sederhana. dan darah di dalam urin.

Tabel 2. sangatlah penting untuk memilih antibiotik berdasarkan profil bakteri patogen dan sensitivitas antibiotik setempat. baik secara terus- 17 . baik bergejala maupun tidak. Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan Semua ISK pada kehamilan. harus diterapi. Pencegahan Sekitar 15% ibu hamil akan mengalami ISK berulang sehingga dibutuhkan pengobatan ulang dan upaya pencegahan.coli (ESBL) dan MRSA (methicillin resistant staphylococcus aureus). antara lain extended spectrum betalactamase E. dan aminoglikosida. skrining bakteriuria asimtomatik pada kehamilan dilakukan minimal satu kali pada setiap trimester. Oleh sebab itu.16 Beberapa penelitian menemukan adanya resistensi antibiotik yang cukup tinggi pada bakteri patogen yang menyebabkan ISK.14. Beberapa negara sudah mengeluarkan panduan untuk pencegahan ISK berulang dengan antimikroba. nitrofurantoin.17 Antibiotik yang masih jarang dilaporkan resistens adalah golongan glikopeptida.16. Nitrofurantoin harus dihindari pada trimester ketiga karena berisiko menyebabkan anemia hemolitik pada neonatus.15 Pilihan terapi pada ISK kehamilan serta lama terapi dapat dilihat pada Tabel 2. kuinolon. Golongan antibiotik yang sudah dilaporkan mengalami resistensi adalah golongan betalaktam. Oleh sebab itu. dan karbapenem.

sehingga efek samping obat yang ditimbulkan akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan antibiotik profilaksis yang digunakan secara terusmenerus. dan dengan terapi non-antimikroba seperti konsumsi jus cranberry. gangguan kandung kemih neuropatik. sedang menggunakan obat steroid. Jus cranberry diperkirakan dapat mencegah adhesi bakteri patogen. Pada kondisi ini. Jus cranberry dapat dikonsumsi dengan aman pada kehamilan. tetapi pada beberapa pasien mungkin dapat muncul efek samping gastrointestinal seperti mual dan muntah karena jus ini bersifat asam. S M S Agama : Kristen Umur : 36 Tahun Pendidikan : SLTA 18 .18 Antibiotik profilaksis pascasanggama diberikan pada ibu hamil dengan riwayat ISK terkait hubungan seksual.1 IDENTITAS PASIEN Suku Bangsa : Batak Nama : Ny.menerus maupun pascasanggama. penyakit ginjal polikistik. terutama E. coli. Antibiotik yang sama dapat digunakan sebagai profilaksis pascasanggama dengan dosis yang sama sebagai dosis tunggal.17. nefropati refluks. atau ibu hamil dengan satu episode ISK yang disertai dengan salah satu faktor risiko berikut ini: riwayat ISK sebelumnya. BAB III LAPORAN KASUS 3. atau adanya batu pada saluran kemih. dalam kondisi penurunan imunitas tubuh. kelainan saluran kemih kongenital.17. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat jus cranberry dalam menurunkan kejadian ISK. ibu hamil hanya minum antibiotik setelah melakukan berhubungan seksual. diabetes.18 Antibiotik profilaksis yang dapat digunakan secara terus menerus sepanjang kehamilan adalah sefaleksin per oral satu kali sehari 250 mg atau amoksisilin per oral satu kali sehari 250 mg.18 Pemberikan antibiotik profilaksis secara terus-menerus hanya dianjurkan pada wanita yang sebelum hamil memiliki riwayat ISK berulang. pada sel-sel epitel saluran kemih.

Kumpulan Pane Tebing Tinggi pukul 09. dan jantung terasa berdebar. didapatkan pembukaan 3-4 cm. 22 Desember 2015.2 ANAMNESIS Keluhan Utama : Mual dan muntah Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien mengeluh keluar cairan dari jalan lahir sejak pagi dini hari (22-122015). Adam Malik Medan. II Tanggal MRS : 22 Desember 2015. Kemudian dokter menyarankan pasien untuk melahirkan di RS H. Pasien mengaku hamil 8 bulan sesuai dengan hasil USG di RSUD Kumpulan Pane 3 minggu sebelumnya. Lalu pasien di antar keluarga ke RSUD DR. Maka lahirlah kepala bayi dan bagian tubuh lainnya. dengan bagian terbawah janin sudah masuk PAP.09 WIB Tanggal KRS : 23 Desember 2015 Jumat. Jenis kelamin ♂ BB: 1700 gr. H. HIS (+). dilakukan pemeriksaan dalam. HIS yang adekuat. Adam Malik Medan yang memiliki alat dan ahli profesional yang lebih kompeten. Os juga mengeluh sering merasa lemas. Plasenta lengket dilakukan 19 . kemudian terasa semakin banyak dan diikuti rasa mules. kemudian pasien di pimpin untuk mengedan. bayi segera menangis.09 WIB (20-08-2015). Rekam Medik : 00-83-16 Agama : Kristen Pendidikan : SLTP Pekerjaan :Wiraswasta Nama Suami : Tn. Baja Lk. M S Umur : 41 tahun Alamat rumah : Jl. Namun saat akan dirujuk pukul 15:30 WIB terjadi pembukaan lengkap. PB: 40 cm. Pada saat USG didapatkan DJJ 108 x/i sehingga pasien disarankan untuk rawat inap dengan diagnosa fetal distress.Pekerjaan : IRT Suku Bangsa : Batak No. (H0 MRS) 3. awalnya merembes. Saat pasien datang pada tanggal (22-Desember-2015) dengan tanda-tanda impartu pasien direncanakan untuk dirujuk dan ditangani lebih lanjut ke RS H. Pukul 09.

asma (-). RPK: DM (-). Perdarahan pervaginam normal. Hecting luar 1 jahitan. asma (-). RPT: DM (-). lahir kesan lengkap. HT (-). hipertiroid (-) RPO: (-) 20 . kontraksi uterus baik.manual plasenta. HT (-).

nyeri ketok (-) A : bising usus (+) normal . gigi geligi normal. 3 minggu SMRS – RS /USG (+) 3. P : Sonor di kedua lapangan paru. Thoraks: Cor: I : ictus cordis tidak tampak P : ictus cordis teraba normal di ICS V MCL Sinistra P : batas jantung ICS IV Parasternal dekstra sampai ICS V MCL sinistra A : irama sinus takikardi. dan lama menikah 15 tahun Riwayat Kehamilan G1P0A0 Riwayat Menstruasi  Menarche : 15 tahun  Siklus haid : 28 hari. A : Vesikuler +/+. hepar dan lien tidak teraba P : Redup. refleks pupil (+/+). pembesaran KGB (-). nyeri tekan epigastrium (-). bising tiroid (+). venektasi (-) P : Soepel. Pulmo: I : Simetris kiri dengan kanan. Hidung : tidak ada secret/bau/perdarahan Telinga: tidak ada secret/bau/perdarahan Mulut : lidah tidak kotor. isokor. konjungtiva tidak Kesadaran RR T : CM : 32 x/i : 39. tonsil tidak membesar Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (+).Riwayat perkawinan Perkawinan pertama. JVP tidak meningkat. umur menikah 21 tahun. Wheezing -/Abdomen: I : Datar.3 oC anemis.3 PEMERIKSAAN FISIK KU : Tampak Sakit Sedang VS : TD : 110/60 mmHg HR : 100 x/i Berat Badan : 45 kg Tinggi Badan : 155 cm Status generalisata: Kepala dan Leher Kepala : Normochepali Mata : Eksoftalmus (-). sklera tidak ikterik. teratur  Lama haid : 5-6 hari dengan 2-3 kali ganti pembalut. faring tidak hiperemis. tidak ada retraksi/ketertinggalan gerak. bunyi tambahan (-). Ronkhi -/-. teratur  Dismenorrhea : (+) Riwayat KB : (-) HPHT : 24-04-2015 TTP : 31-01-2016 Riwayat ANC : teratur puskesmas. P : Fremitus raba kanan sama dengan kiri.

4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil periksa hormon tiroid di Laboratorium Semangat (5 Desember 2015) . ketuban (-) . reflek patologis (-/-). INDEKS WAYNE Gejala subyektif Nilai Gejala objektif Nilai Sesak saat kerja +1 Tiroid teraba +3 Berdebar +2 Bising tiroid +2 Kelelahan +2 Exoptalmus 0 Suka udara dingin +5 Lid Lag 0 Keringat berlebihan +3 Gerak hiperkinetik -2 Gugup +2 Tremor jari +1 Nafsu makan naik +3 Tangan basah +1 Berat badan turun +3 Nadi > 90 x/menit Atrial Fibrilasi +3 0 Skor 29.Ekstremitas Atas : Kulit hangat. kepala H II 3. oedem (-). Status Obstetri : • Inspeksi: BSC (-) • Auskultasi: DJJ 128 x/i • Perkusi: Redup • Palpasi: L1 TFU 2 jari atas pusat (28 cm) L2 PUKA L3 presentasi kepala L4 sudah masuk PAP • HIS : 2 x 20’ x 15” • Genitalia: VT pembukaan 3-4 cm. berkeringat dan tremor. reflek fisiologis (+/+). Bawah : Akral hangat.

99 ug/dl 4.2 ºC 37 ºC 36.3 160 7 4 B Non-Reaktif Hasil pemeriksaan EKG (23 Desember 2015) Nilai rujukan 12-16 37-54 4-10 150-450 1-9 2-6 Satuan g/dL % 10^9/L 10^9/L menit menit Non-Reaktif - .2 ºC 37.2 ºC 37 ºC 37 ºC 37.5 ºC 37.2 ºC 160/60 mmHg 150/60 mmHg 150/60 mmHg 150/60 mmHg 140/70 mmHg 140/70 mmHg 130/70 mmHg 116 x/i 110 x/i 108 x/i 110 x/i 92 x/i 96 x/i 96 x/i 24 x/i 28 x/i 24 x/i 28 x/i 28 x/i 24 x/i 24 x/i 37.4 ºC 37.68 µIU/ml 0.70 – 9.0 Lembar Observasi Pasien (Follow Ketat / 1 jam) 22 Desember 2015 Jam 09:30 10:30 11:30 12:30 13:30 14:30 15:45 16:00 17:00 18:00 19:00 20:00 21:00 22:00 TD 150/90 mmHg 140/70 mmHg 150/70 mmHg 160/70 mmHg 160/70 mmHg 160/60 mmHg HR 100 x/i 114 x/i 111 x/i 116 x/i 118 x/i 110 x/i RR 32 x/i 32 x/i 32 x/i 32 x/i 32 x/i 24 x/i T 37.30 TSH 1.5 ºC 37.3 ºC 37.33 T4 10.11 ug/dl 0.2 9.92 – 2.25 – 5.7 25.9 ºC DJJ 128 x/i 136 x/i 136 x/i 124 x/i 132 x/i 138 x/i Pasien PSP Hasil Darah Rutin Tanggal (22 Desember 2015) Pukul 10:08 WIB Pemeriksaan Haemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Bleeding Time Clotting time Golongan Darah HIV kuantitatif Hasil 12.Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal T3 2.3 ºC 37.

T : 37.Significant ST-segment depression (anterior) . Pada pemeriksaan VT didapatkan pembukaan 3-4 cm.5 RESUME Seorang wanita 36 thn G6P5A0 yang mengaku hamil 8 bulan datang dengan keluhan keluar cairan dari jalan lahir. lahir kesan lengkap. Os juga mengeluhkan badan selalu lemas dan jantung berdebar. T4 10. PB: 40 cm. HIS yang adekuat. L4 sudah masuk PAP. kepala H II.Incomplete right bundle branch block atrial fibrilation . Riwayat hipertiroid sejak 5thn lalu dengan pengobatan.Prolonged QT 3. T3 2.11 ug/dl. VT pembukaan 3-4 cm. kemudian pasien di pimpin untuk mengedan. akral berkeringat dan tremor. Plasenta lengket dilakukan manual plasenta.99 ug/dl. TD : 170/90 mmHg. TSH 1. Hecting luar 1 jahitan. Maka lahirlah kepala bayi dan bagian tubuh lainnya.Interpretasi : . Dan bagian terbawah janin sudah masuk PAP. L2 PUKA. L1 TFU 2 jari atas pusat (28 cm). RR : 32 x/I.S waves up to V6 . DJJ 128 x/i. Mules (+).3 oC. Jenis kelamin ♂ BB: 1700 gr. Adam Malik Medan pukul 15:30 WIB terjadi pembukaan lengkap. bising tiroid (+). 3. Perdarahan pervaginam normal. kontraksi uterus baik. HIS (+). L3 presentasi kepala. HR : 100 x/I.68 µIU/ml. 6 DIAGNOSIS G6P5A0 Impartu + MG + KDR (34-35 minggu) + LK + AH + Tirotoksikosis . bayi segera menangis. Pembesaran kelenjar tiroid (+).Negative T-wave (anterior) . ketuban (-). Saat akan dirujuk ke RS H.

40C Pasien PBJ BAB IV Keluhan Post PSP Jantung Berdebar Lemas Mual (+) Muntah (+) freq 1x Therapy Diet MB O2 2-4 l/i IVFD RL 20 gtt/i Inj. Ceftriaxone 1 gr/12jam Inj.Follow Up Tanggal 22 Desember 2015 Sens : CM TD : 150/60 mmHg HR : 116 x/i RR : 28 x/i T : 37. Ceftriaxone 1 gr/12jam umbilicus Mual (-) (kosbar) Muntah (-) Inj.5 0C 23 Desember 2015 Sens : CM TD : 110/70 mmHg HR : 84 x/i RR : 20 x/i T : 36. Kalnex 1 amp/H P/o (+) Cefixime 2x1 PTU 3x1/2 Propanolol 1x1/2 Asam mefenamat 3x1 . Kalnex 1 amp/H P/o PTU 3x1 Propanolol 1x1/2 Asam Mefenamat 3x1 ASI (+) Diet MB Lochia Rubra O2 2-4 l/i TFU 2 jari dibawah IVFD RL 20 gtt/i Inj.

HIS (+). datang ke RSUD kumpulan pane dengan keluhan keluar cairan dari jalan lahir disertai rasa mules sejak pagi dini hari SMRS. . Saat masuk RS TD 170/90 mmHg. tidak jelas dikarenakan kenaikan berat badan karena kehamilan. Dari penilaian indeks wayne didapatkan skor 29 dimana menunjukkan interpretasi Hipertiroid. gemetaran. bising tiroid. Namun BB pun diakui pasien telah mengalami penurunan sebelum hamil. dan jantung terasa berdebar. Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda impartu. Dari hasil pemeriksaan T3. HR 100 x/I diagnosis tirotoksikosis semakin mungkin.DISKUSI KASUS Dari anamnesis didapatkan pasien seorang wanita berusia 36 tahun. Kemudian dilakukan pemeriksaan dalam. Dari pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran pada kelenjar tiroid. Os selama kehamilan juga mengeluh sering merasa lemas. Namun tanda hipertiroid seperti berat badan turun. Dari anamnesa dan pemeriksaan mengarahkan ke arah Hipertiroid tidak terkontrol. lunak. mudah berkeringat terutama telapak tangan. T4 dan TSH pada tgl 5 desember 2015 tidak didapatkan kenaikan yang begitu signifikan karena pada saat pemeriksaan pasien sedang mengkonsumsi OAT namun tidak teratur. dengan bagian terbawah janin sudah masuk PAP. Pasien 5 thn yang lalu di diagnosa dengan Hipertiroid dan sekarang sedang mengkonsumsi OAT namun terkadang pasien tidak teratur meminumnya. didapatkan pembukaan 3-4 cm. tidak nyeri.