You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
Seiring dengan penggunaan ultrasound sebagai skrining awal untuk
developmental dysplasia of the hip (DDH), prosedur total hip arthroplasty (THA)
juga makin banyak digunakan. Hal ini menyebabkan teknik arthroplasti kapsuler
yang sebelumnya banyak digunakan, seperti teknik Colonna, ditinggalkan karena
dilaporkan dapat menyebabkan osteonekrosis. Namun, arthroplasti kapsuler masih
dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk kasus-kasus tertentu, seperti
pasien muda dengan subluksasi kronis atau disklokasi komplit. Dengan
pemendekan femur dan teknik operasi yang lebih baru, diharapakan osteonekrosis
caput femoris, kekakuan sendi, dan subluksasi sekunder dapat diatasi.1
Ada beberapa pilihan yang banyak dilaporkan untuk tata laksana
arthroplasti panggul yang infeksi, yaitu hanya dengan penggunaan antibiotik saja,
antibiotik dan debridemen, arthroplasti reseksi ( prosedur Girdlestone), satu-ataudua tahap prosedur revisi. Sebelum menentukan tata laksana mana yang paling
adekuat, perhatian besar harus diberikan untuk mengevaluasi pertimbangan
sebelumnya, seperti infeksi akut atau kronis, bakteriologi dan pembentukan
glokokaliks, resistensi antibiotik, komorbiditas pasien, stabilitas implan,
ketersediaan tulang, dan kemampuan teknologi.2
Akhir-akhir ini teknologi modern dalam arthroplasti perbaikan panggul
merevolusi teknik penggantian total sendi panggul yang sebelumnya ada. Dengan
bertambahnya angka harapan hidup, jumlah pasien dengan prosedur perbaikan
dan penggantian sendi panggul semakin meningjat. Prosedur Girdlestone
(arthroplasti reseksi) merupakan salah satu pilihan porsedur penyelamatan yang
dapat diterima untuk pasien dengan kondisi suboptimal, komorbid signifikan, dan
prognosis buruk. Hal ini mengingat bahwa pasien dengan kondisi fungsional yang
buruk dan memilik risiko tinggi anestesi dan operasi, tidak cocok dengan prosedur
intervensi mayor, seperti prosedur tahap reimplantasi 1-2.3

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PROSEDUR COLONNA
1. Definisi
Deteksi dini dan penatalaksanaan dislokasi panggul dan nyeri
subluksasi jarang terjadi pada anak berusia kurang dari 5 tahun. Sehingga,
bila hal ini terjadi pada anak maka penatalaksanaan menjadi lebih sulit.
Lebih lagi, bila tatalaksana dilakukan pada orang dewasa yang memiliki
dislokasi kongenital tetapi tak menjalani terapi, karena telah terjadi
pemendekan otot paha, kontraktur jaringan lunak, dan terjadi pengecilan
pada displastik proksimalfemur dan acetabulum.4
Artroplasti kapsular merupakan metode rekonstruksi sendi untuk
dislokasi panggul. Kapsul yang sembuh menjadi tulang kanselus dari
acetabulum baru dan berubah menjadi fibrokartilago.1
Pada 1936, Colonna mendeskripsikan artroplasti kapsular sebagai
eliminasi kartilago hialin pada acetabulum, sebagai tatalaksana utama pada
dislokasi panggul kongenital. 4
2. Sejarah
Pada tahun 1901, Codivilla pertama kali menjelaskan sebuah teknik
untuk menatalaksana anak yang lebih tua dengan dislokasi kongenital
komplit pada panggul dengan cara membungkus kapsul yang mengelilingi
caput femoris femur sebelum mereduksinya ke dalam acetabulum sejati
yang diperdalam. Pada tahun 1902, sebuah abstrak diterbitkan mengenai
kunjungan Codivilla ke Rumah Sakit untuk Orang Lumpuh (sekarang
dinamakan Rumah Sakit Khusus Bedah) di New York. Versi Italia dari
teknik ini diterbitkan 10 tahun kemudian. Pada tahun 1926, Hey Groves
mendeskripsikan operasi serupa. Pada tahun 1932 dan sesudahnya,
Colonna melaporkan teknik artroplasti kapsularnya, yang pada dasarnya
mirip dengan yang dijelaskan oleh Codivilla dan Hey Groves. Yang

2

Secara kebetulan. Kedua evolusi ini menurunkan permintaan teknik preservasi-sendi seperti artroplasti kapsular. namun.lainnya kemudian melaporkan angka fungsional yang tinggi setelah tindakan tersebut. Ketika dilakukan pada usia sesudahnya. Tahap kedua adalah relokasi dari panggul.1 Di sisi lain.1 Colonna menjelaskan tindakan dalam dua tahap.1 3. Teknik 3 . artroplasti kapsular harus dipertimbangkan kembali sebagai alternatif untuk kelompok yang tersisa yaitu pasien muda dengan kartilago caput femoris femur yang mengalami subluksasi kronis atau dislokasi komplit. Tahap pertama adalah traksi kulit kontinu selama 2 sampai 3 minggu diikuti oleh rilis tendon. Total Hip Arthroplasty (THA) menjadi lebih diandalkan dan saat ini dikenal sebagai operasi abad ini. Oleh karena itu. dilakukan reduksi terbuka caput femoris ke dalam acetabulum primer. kemudian dikombinasikan dengan reorientasi femoralis atau acetabular. dia tidak melakukan prosedur ini pada pasien dengan subluksasi panggul atau dengan anomali teratogenik seperti artrogriposis. pengurangan ROM atau bahkan kekakuan sendi menghasilkan keterbatasan yang lebih berat dibandingkan pada kasus unilateral. pengalaman peneliti sendiri menunjukkan peningkatan risiko resubluksasi.1 Dengan meningkatnya penggunaan USG sebagai metode skrining awal untuk developmental dysplasia of the hip (DDH) dan pengobatan yang tepat. Schulitz dan Griss dan Tönnis merekomendasikan untuk pasien hingga usia 8 sampai 9 tahun. terutama di negara-negara Barat. Colonna melakukan artroplasti pada beberapa pasien dengan dislokasi bilateral. dislokasi tinggi menjadi langka. Colonna merekomendasikan prosedur ini untuk kasus dislokasi komplit pada anakanak antara usia 3 dan 8 tahun. kurva kelangsungan hidup THA untuk pasien yang lebih muda dari 50 tahun meningkat tajam setelah 10 tahun.

Dua hal penting yang menjadi dasar prognosis dari prosedur ini ialah usia pasien dan kelemahan jarigan disekitar persendian. yang merupakan penyedia darah utama pada caput femoris femur. tindakan tersebut membutuhkan kehati-hatian untuk menghindari trauma dari cabang arteri sirkumfleksa femoralis media. pendekatan ini memungkinkan untuk pemanjangan leher femur relatif dan untuk mengurangi osteotomi caput femoris femur. memperbaiki stabilitas sendi panggul. sedangkan untuk kasus bilateral hasil terbaik didapatkan pada usia dibawah enam atau tujuh tahun.5 Tujuan dari artroplasti rekonstruksi acetabular ini ialah mengurangi dislokasi panggul. Kelemahan jaringan sekitar persendian memiliki kuantitas yang bervariasi dan dipengaruhi oleh usia. Derajat relaksasi jarinngan lunak dapat dinilai dengan mudah sebelum dilakukan tatalaksana dengan mengambil dua roentgenogram. serta perlu dilakukan evaluasi mengenai hasil fungsional dan perubahan pasca operasi.Berbagai prosedur operasi yang terbukti efetif dapat dilakukan untuk penanganan dislokasi panggul kongenital selama beberapa tahun belakangan. Batasan atas usia untuk prosedur operasi ini ialah usia 10 tahun untuk kasus unilateral.1. Namun demikian.5 Pembedahan dislokasi panggul memberikan tampakan kavitas acetabular yang baik dan memungkinkan diseksi hampir-sirkumferensial terhadap kapsul dari semua otot adheren. Usia terbaik untuk dapat dilakukan prosedur operasi artroplasti kapsular ialah dibawah usia delapan tahun.1. satu dengan traksi manual dan satu lagi tanpa manual traksi. berdasarkan manuver telescoping. dan perbaikan range of movement (ROM).5 4 . Jika perlu.

Tampak adanya dysplasia dan tidak ada subluksasi. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Metode terbaik ialah dengan dilakukan traksi sebesar lima belas hingga dua puluh lima pon untuk dapat merelaksasikan jaringan yang berkontraksi dan untuk membawa caput femoris berlawanan arah dengan acetabulum. Tahap pertama Sesuai dengan batasan usia yang telah disebutkan diatas. Pada pasien yang lebih muda. Dilakukan 24 jam sebelum tindakan untuk meregangkan dan tenotomi subkutan. Pada pasien yang lebih dewasa dilakukan insisi membelok sepanjang puncak ilium dan dilakukan pelepasan subperiosteal muskulus gluteal. dimana hal ini direkomendasikan pada pasien yang lebih tua dan pada kasus yang lebih berat. 1. tetapi hal ini sangat penting untuk menunda tahap kedua hingga relaksasi maksimal didapatkan dan posisi caput femoris femur dapat diterima berdasarkan roentgenogram Tahap kedua 1.5 Dilakukan pula immobilisasi pelvis dan untuk mendapatkan traksi tungkai kearah bawah yang cukup efektif. maka seringkali dilakukan penarikan femur kearah bawah. Tahap pertama ini membutuhkan dua atau tiga minggu. sehingga berlawanan dengan letak acetabulum yang sebenarnya. Pada kasus lain dapat digunakan traksi skeletal pada bagian akhir dari femur. atau lebih lama. Operasi yang dilakukan pada pasien usia lima tahun b) hasil yang didapatkan dua tahun pasca operasi. dapat diberikan bulu binatang pada panggul yang akan dioperasi.Gambar 1.5 5 .

kemudian kearah belakang kearah titik paha sekitar dua inchi dibawah titik tertinggi dari trochanter mayor.hati menggunakan gunting. Jika berkontraksi. maka dibagi. Bagian perpanjangan kapsul pada sendi panggul yang menutupi bagian caput femoris femur menjadi mudah diidentifikasi dan dipisahkan dari struktur disekitarnya dengan diseksi secara hati. dilanjutkan identifikasi pada titik dimana tronchanter mayor berlekatan dengan muskulus gluteus. dengan kartilago yang halus dan berkilau sebagaimana kartilago yang normal dan tidak ada bekas ligamentum teres. kearah bawah. tetapi dua 6 . Setelah tampak bagian caput femoris femur. dan dibelokkan kearah atas. Fasia pada bagian lateral paha kemudian dipotong secara transversal. dan struktur seperti pita. datar. pada beberapa kasus hanya tampak bagian yang pendek. membelok kedepan. Selanjutnya dilakukan pengecekan acetabulum dengan mengidentifikasi katrilago triradiate pada bagian dasar. Saat mencapai istmus kapsul. Pada pasien yang lebih muda tampak adanya ligamentum teres yang menajang dan tumbuh dengan baik. Plester ini dibiarkan selama empat minggu.Dilakukan insisi pada kulit. dan bagian ini menunjukkan tidak ada gangguan perkembangan pada caput femoris femur dikemudian hari. Pada kebanyakan kasus memiliki bentuk caput femoris seperti buah ek. maka kapsul yang terbuka ditutup dengan beberapa jahitan. dimana tampak acetabulum yang lebih luas. maka bagian caput femoris yang telah ditutup kapsul secara perlahan ditarik kebawah dan dilatakkan tanpa paksaan di bagian dalam acetabulum. dan ada atau tidak adanya ligamentum teres. maka dibagi melalui zigzag tenotomi. siap dipahat. Dilakukan identifikasi dan pemeriksaan pada tendon rektus femoralis pada tulang belakang bagian anteroinferior. bagian caput femoris kapsul diinspeksi serta perhatikan dan dicatat bentuk. Setelah hal ini dilakukan. muskulus abductor dengan kartilago yang melekat dari trochanter mayor dijahit kembali ditempatnya. Akan lebih nyaman dilakukan pemotongan yang lebih lebar. Luka kemudian diditutup dengan plester yang panjang. dimulai sekitar dua inchi dibelakang bagian anterosuperior tulang belakang.

dan mulai dilakukan pergerakan aktif dari lutut walaupun pasien masih berbaring dalam posisi tengkurap. Gambar 2. (A) Insisi pertama kapsul berjalan dari tepi anterosuperior dari osteotomi trokanterika ke titik paling superior dari rima anterior.hari. b) diseksi kapsul dan metode reaming-out acetabulum yang baru. Gambar 3. Diagram menggambarkan insisi kapsular. Empat minggu setelah operasi. c) kapsul yang dibatasi synovial dan bagian caput femoris femur diletakkan secara dlam pada soket panggul yang baru. plester yang tersisa dilepas . Pada saat ini. dan panggul digantung pada splint posterior. (B) Untuk 7 . a) kartilago yang ditandai menunjukkan posisi acetabulum yang tepat pada sendi panggul. dan ekstensor selama kegiatan sehari. fleksor. maka pergerakan aktif dan pasif dapat dimulai dan pasien didorong untuk menggunakan muskulus abduktor. level yang tepat dari kapsulotomi superior dapat ditentukan. Tidak dianjurkan adanya penambahan berat badan selama tiga bulan setelah operasi.minggu setelah operasi tahap kedua maka bagian posterior pembalut yang menutupi kaki dan tungkai dilepas. Dengan traksi pada kaki. Insisi diperpanjang sedekat mungkin dengan rima ossea anterior ke arah bawah ke ligamentum transversal.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada operasi ini secara umum didasarkan pada dua faktor. Prosedur ini memiliki tujuan utama untuk meringankan nyeri dan kontrol infeksi. Prosedur ini adalah salah satu pilihan tata laksana pada arthroplasti panggul yang terjadi infeksi atau bisa dikatakan sebagai teknik penanganan arthrtitis septik pada sendi panggul (selain dengan pemberian antibiotik. Pertama. Kedua. Caput femoris mengalami dislokasi dari kavitas kapsular dan disangga secara distal dengan menggunakan retraktor Hohmann yang dikaitkan di sekeliling incisura acetabular. tungkai diekstensikan dan leher diangkat secara anterior menggunakan bone hook. kegagalan untuk dapat mengenali batasan usia untuk operasi. juga dikenal sebagai prosedur ostektomi caput femoris. Teknik ini sinonim dengan prosedur yang biasanya digunakan untuk mengatasi kegagalan pada operasi sendi panggul. 4. Tampak pada anak yang lebih besar. maka caput femoris yang telah ditutupi kapsul tidak dapat masuk dengan mudah. Hal ini dapat memungkinkan perkiraan dari margo kapsular posterior B ke B’ dan sutura dari kaudal ke sefal. Hal ini diikuti dengan sutura anterior A ke A’. Kapsulotomi posterior dapat dilakukan dari luar atau dari dalam. debridemen. Definisi Prosedur Girdlestone termasuk ke dalam teknik arthroplasti reseksi sendi panggul.2. collum femoris. (C) Setelah semua koneksi kapsular dengan rima asetabuli dipotong. adanya dislokasi panggul tidak dapat mengakomodasi kebutuhan untuk menghasilkan ROM yang memuaskan. dam prosedur perbaikan satu dan dua tahap). dan trochanter.3.5 B. (D) Penutupan kapsul pada caput femoris harus dilakukan dengan ketat namun tanpa overlapping jaringan.memeriksa sendi. keberhasilan fungsi panggul berdasarkan pada derajat trauma yang ditimbulkan selama pengurangan bagian caput femoris hingga rekonstruksi acetabulum. ligamen elongated round dipotong.1. yang dapat berupa infeksi peri-prostetik atau dislokasi prothesa berulang.6 8 . Jika peregangan jaringan pada tahap pertama tidak memeberikan hasil yang efektif. PROSEDUR GIRDLESTONE 1.

Girdlestone sendiri tidak melaporkan adanya hasil fungsional jangka panjang. operasi bedah perbaikan merupakan pilihan pembedahan untuk pasien yang mengalami dampak kegagalan prothesa. menunjukkan bahwa prosedur Girdlestone dilakukan pada pasien yang lebih muda. Prosedur Girdlestone saat ini termasuk ke dalam jenis ini 3. Prosedur Girdlestone sekarang banyak digunakan pada pasien bedah yang sekiranya memiliki prognosis buruk pascaoperasi.3 Dalam beberapa dekade terakhir.2. seorang orthopedist dari Oxford. Prosedur Girdlestone modern terdiri dari proses pelepasan prothesis dan atau semen. diikuti dengan pengendoran septik/aseptik dari prothesis panggul total atau hemiporthesis. Gathorne Robert Girdlestone (1881-1950). Klasifikasi 3 a. Primer Prosedur Girdlesrone yang dilakukan untuk kelainan sendi panggul. Berdasaekan penelitian Basu et al (2011). Sekunder/modifikasi Prosedur ini digunakan untuk penggantian atau konstruksi sendi panggul yang gagal. Kemudian pada tahun 1928. seperti tuberkulosis sendi panggul. dan terkadang untuk osteoarthritis dan rheumatoid arthritis b. septik sendi panggul. memperkenalkan prosedur yang sama untuk tata laksana tuberkulosis sendi panggul. prosedur Girdlestone kebanyakan dilakukan pada pasien usia 78 tahun. Namun menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Petty dan Goldsmith tahun 1980 dan Grauer tahun 1989. Girdlestone mempopulerkan teknik tersebut untuk tata laksana septik arthritis tahap lanjut. Pada tahun 1943. hal ini sama dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Shamra et al (2005).6 9 . Sejarah Arthroplasti reseksi (reseksi caput dan collum femur) untuk tatalaksana septik arthritis sendi panggul pertama kali diperkenalkan oleh White pada tahun 1949. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi membatasi kandidat yang layak menerima prosedur tersebut.

dan prosedurnya terdiri dari eksisi caput dan collum femur tanpa osteotomi subtrochanter. Girdlestone sendiri tidak melaporkan hasil fungsional jangka panjang.3 Prosedur Girdlestone dapat digambarkan ke dalam dua kategori utama yakni primer dan sekunder. Untuk fraktur lampau atau baru dari leher femur. Kategori primer dilakukan untuk gangguan panggul primer seperti sepsis panggul. setinggi dengn trochanter minor. Lainnya telah menganjurkan penggunaan prosedur Girdlestone untuk osteoarthritis sendi panggul yang berat.4. Girdlestone mempopulerkannya sebagai tatalaksana pada artritis septik kronis. panggul tuberkulosis. Girdlestone awalnya merekomendasikan operasinya untuk kasus-kasus yang terinfeksi. Teknik Gathorne Robert Girdlestone (1881–1950). Pada tahun 1943. Pada tahun 1945. Gruca dan Milch menjelaskan modifikasi lebih lanjut dan merekomendasikan penggunaan operasi untuk tuberkulosis dan kelainan sendi panggul lain. Untuk kategori sekunder atau modifikasi digunakan untuk kegagalan penggantian panggul atau kegagalan konstruksi setelah trauma panggul.10 10 . Pada operasi Girdlestone telah dipermasalahkan adanya beberapa kontroversi berkaitan dengan indikasi untuk operasi dan hasil yang diharapkan. Batchelor merekomendasikan pemisahan collum femur distal. seorang bedah orthopaedi dari Oxford. tidak ada kebulatan suara mengenai penggunaan operasi Girdlestone. untuk mendapatkan permukaan yang rapi dan halus. juga mempopulerkan teknik operasi dengan cara mengeksisi caput femoris dan collum femoris untuk terapi pada pasien tuberkulosis dan penyakit lain yang menyerang panggul. dan jarang untuk osteoarthritis dan rheumatoid artritis. Batchelor memodifikasi prosedur dengan menambahkan osteotomi subtrochanter. mendeskripsikan sebuah prosedur yang mirip untuk sendi panggul tuberkulosa.

Pasien yang tidak mungkin dilakukan reimplantasi9 Girdlestone GR dalam jurnalnya tentang teknik operasi pada kasus infeksi akut pyogenik. indikasi Girdlestone adalah sebagai berikut: 1. 3. hemi-prosthesis atau pengerjaan osteosintesis yang gagal. prosedur Girdlestone ini saat ini sering digunakan untuk penggantian sendi panggul dengan komplikasi berat dan tidak dapat direkonstruksi atau dilakukan reimplantation Indikasi untuk dilakukannya teknik Girdlestone menurut Vaishya et al adalah: 1. 2. insisi dilakukan pada sudut kanan dari otot dan bidang facialis dan diharapkan mendapati otot-otot besar disana. Panggul yang nyeri dan kaku setelah menderita tuberkulosis panggul Infeksi peri-prosthetic Aseptic loosening of hip Dislokasi panggul yang berulang Kegagalan fiksasi internal pada collum femoris Namun menurut Cordero-Ampuero J. yaitu: pendekatan dari sebelah lateral. nervus sciatic di letakkan di belakang agar tidak mengganggu atau membahayakan. Keuntungan dari metode ini tidak hanya terletak pada paparan penuh pada acetabulum setelah eksisi caput. Penyalahgunaan obat-obatan intravena 5. Demensia 3. Metode baru dengan menggunakan drainase membedakan dengan metode yang lama.10 Teknik operasi dengan Girdlestone ialah dengan cara menghilangkan prostetik dan semen termasuk pada pengenduran septik atau aseptik saat melakukan total hip prosthesis. Pasien immunocompromised 4.Sebenarnya secara umum. Teknik Girdlestone pada 11 . Nervus utama dan arteri di depan. 5. 4. Pasien yang bukan rawat jalan 2. tetapi pada drainase yang memadai dari abses panggul hingga melalui intrailium atau dasar dari acetabulum.

Garis inter-trochanteric yang halus 7. Mengurangi tingkat harapan 10.5 cm) dari bagian collum femoralis. 3. Unilateral 4.9 Indikasi reseksi menurut Sharma H et al: 1. Luka yang sudah membaik 5. Pasien tua 2. Infeksi multiple organisme atau resisten terhadap terapi antibiotik Kualitas soft tissue yang jelek Kerumitan dari pengerjaan rekonstruksi yang tidak dapat diterima Pasien menolak dilakukannya operasi setelah pengambilan implan Pasien dengan penyakit sistemik atau keadaan umum yang buruk Cadangan tulang yang tidak adekuat Hasil yang mendukung pasien untuk dilakukan reseksi arthroplasty menurut Sharma H et al: 1. Pemendekan tungkai yang minimal 9.5 cm atau kurang) Tipe III: reseksi intertrokhanterika Tipe IV: reseksi sub-trokhanterika Teknik operasi dengan menggunakan Girdlestone menurut Sharma H et al menyebutkan bahwa untuk merencanakan operasi. Reseksi arthroplasty tanpa reimplantasi dari prostesis kedua berdasarkan berbagai macam faktor lebih dipilih. gambarab 12 . Non-diabetik 6. 2. biasanya digunakan untuk resurfacing yang gagal Tipe II: sebagian kecil dari bagian collum femoralis (1. Tidak ditemukannya sisa semen pada kanal femoral 8. Laki-laki 3. Kondisi pre-operatif yang kurang baik dengan rasa sakit berlebih serta infeksi persisten3 Sharma et al dalam jurnal Girdlestone resection arthroplasty of the hip: Current perspectives menguraikan empat tingkat kemungkinan reseksi femoralis proksimal: Tipe I: sebagian besar (41.pseudoarthrosis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai tahap pertama dari dua tahap perbaikan. 6. 5.3. 4.

kehilangan darah intra dan pasca operasi bervariasi mulai dari 1L sampai 5L. pengambilan semen dan menghaluskan permukaan dari transeksi femoral. Tenotomi iliopsoas atau tenotomi adduktor mungkin diperlukan. Persiapan acetabular terdiri dari pengambilan prostesa dan semen. Persiapan femoral terdiri dari pengambilan prostesa (dengan atau tanpa osteotomi trokanterika). Girdlestone awal untuk septic artroplasti total3 13 . Ketelitian diamati untuk mencegah fraktur shaft femoralis intraoperatif. Penutupan luka primer lebih disukai bahkan dalam kasus infeksi. Kemudian jaringan dikirim untuk pemeriksaan histologi.radiografi panggul anteroposterior dalam posisi berdiri harus diambil.3 Gambar 4. Pendekatan lateral yang langsung atau posterior melalui bekas luka sebelumnya harus termasuk eksisi setiap sinus atau bekas luka.

Girdlestone akhir dengan migrasi proksimal dari trokhanter mayor hampir berbatasan terhadap lower iliaca3 Gambar 6.3 14 . menunjukkan dislokasi berulang aseptik dari artroplasti total pada panggul.Gambar 5. Foto radiografi sebelum dilakukan prosedur Girdlestone.

Kemudian gluteus maximus ditarik ke arah posterior dan inferior. Sayatan tadi diukur sekitar 12 cm dan melintasi perbatasan anterior dari gluteus maximus dan batas posterior otot gluteus medius. dan bagian leher yang tersisa dirapikan kembali tetapi tidak 15 .Gambar 7. piriformis. Kemudian lanjutkan dengan diseksi sampai mengenai gluteus. Kemudian Nervus Sciatic secara hati-hati dikeluarkan dari tempatnya. sedangkan gluteus medius dan minimus ditarik ke arah anterior dan superior. obturator internus.7 Dilanjutkan dengan menginsersi gemelli. insisi dilakukan 8 cm di bawah posterior-superior spina iliaca dan 10 cm di belakang trochanter mayor. buat insisi melengkung dengan bagian anterior yang cembung. jika ada. dan bagian dari otot kuadratus yang dipotong dari trokanter mayor. semen dan kawat circlage dapat dibiarkan sendiri pada pasien dengan risiko anestesi yang relatif tinggi3 Menurut Zabihi T et al teknik melakukan prosedur Girdlestone pertama-tama posisikan pasien dalam keadaan lateral dekubitus. Foto radiografi setelah dilakukan Girdlestone pada pasien yang sama dengan Gambar 6. Perhatikan pada komponen yang tetap. Kapsul dibuka. dikeluarkan. kepala dan fragmen leher dipecah.

disukai oleh operator bedah Panggul disayat melalui sayatan anterolateral atau sayatan anterior 16 .7 Setelah selesai. tergantung dari posisi yang paling 2. Dalam anestesi regional ataupun general. meliputi latihan aktif dan pasif untuk menguatkan otot ektremitas bawah selagi pasien masih menggunakan traksi. subkutan reapproximation dan penjahitan subkutis. meliputi penjahitan kapsul.dipotong atau dipendekkan sehingga mencegah efek telescoping setelah ambulasi.7 Gambar 8. raksi skeletal dipasang melalui ujung atas tibia untuk penggunaan rata-rata tiga sampai enam minggu. Program rehabilitasi medik direncanakan sejak awal. reinsersi perlekatan otot. Operasi Girdlestone pada panggul telah lengkap Menurut Vaishya R et al dalam jurnalnya mengatakan. pasien diposisikan dalam keadaan supine atau lateral. kemudian ditutup. dilanjutkan dengan penggunaan kruk (crutches) jika traksi sudah dilepas. hal-hal yang perlu diperhatikaan saat operasi: 1. Setelah operasi.

collum femoris dipotong pada bagian dasar dan dihilangkan sedikit demi 5. kapsul diinsisi dan diposisikan atau dibuat dislokasi pada panggul anterior. Setiap proyeksi tulang yang tajam dipotong dan dibuat 8. Traksi dipertahankan selama 3 bulan. Hal ini memungkinkan jaringan fibrosa akan terbentuk lebih baik sehingga memberikan permukaan yang ideal bagi penderita pseudoarthrosis. Setelah panggul terbuka.3 17 . dalam beberapa kasus sulit untuk 4. Kemudian rencanakan untuk mengunjungi fisioterapi dengan maksud untuk mengembangkan kekuatan otot yang baik dan gerakan panggul yang maksimal. pasien diminta untuk mencoba membawa berat badan dengan tumpuan panggul seperti untuk jongkok dan duduk bersila.3. di minggu pertama setelah operasi pasien mulai latihan untuk menggerak-gerakkan panggul dan lutut. menerapkan hal ini karena adanya ankilosis Jika tidak memungkinkan dilakukan dislokasi panggul. jaringan yang terinfeksi juga ikut diambil.7 Penggunaan traksi selama masa latihan berjalan menjaga agar bagian upper end femur dan permukaan luar dari acetabulum tetap terpisah satu dengan yang lain. Setelah itu selama 6-9 bulan pasien dapat menggunakan kaliper dan kruk (crutches).3. proksimal ke garis intertrokhanterik Dalam beberapa kasus infeksi. disusul dengan latihan berjalan menggunakan tongkat. Setelah menggunakan traksi. reseksi bagian 6. tumpul Kemudian luka ditutup dan dilakukan drainase Hal-hal yang perlu diperhatikaan setelah operasi: Pasien diposisikan dengan menggunakan traksi skeletal 30 hingga 50 derajat dalam posisi abduksi. sedikit Jika dislokasi panggul anterior dapat dilakukan. dan pasien diberi motivasi untuk segera latihan duduk setelah dilakukan operasi. collum femoris setelah dilakukannya dislokasi Garis bagian tulang dipertahankan sejajar dan sedikit ke arah 7.

3 Shepherd (1960) menyebutkan bahwa banyak pasien mendapatkan hasil yang minimum bahkan ada beberapa yang buruk.5 4 4. Rata-rata hilangnya panjang tungkai sekitar 1.2 - 15 88 100 90 - 79 83 59. Penelitian tentang hasil akhir dari teknik Girdlestone tertera di Tabel 1. Hasil akhir dapat diperkirakan sehingga kualitas tidak memburuk seiring dengan berjalannya waktu.4 - 4-5 3.8 Pretty and Campbel Ahlgre Mallor Cleg Bourn Castellano Esenwei Sharma Goldsmit l et al n et al y g e et al s et al n et al et al Jumlah h 21 45 27 10 30 33 78 27 18 pasien Nyeri 0 baik 89 90 90 91 83 - 88.77 bantuan berjalan Panjang kaki yang tidak sama (dalam cm) Kepuasan pasien 18 .5 100 n infeksi Butuh 100 100 100 100 1-- 85 100 100 94.8 4-7.Hasil Pemendekan dari tungkai bawah bisa dihindari dengan teknik Girdlestone. Untuk hasil yang lebih memuaskan diperlukan perawatan pasca operasi yang baik.88 menghilang Pengendalia 76 73 100 100 80 97 86 81. Pada pasien arthroplasty girdlestone tidak dapat didiagnosis dengan parameter rutin yang biasa dilakukan pada evaluasi pangg ul.5 cm.3 77.1 5.4 5.

Kesimpulan dari hasil fungsional dengan menggunakan teknik Girdlestone artroplasti reseksi pada panggul dari berbagai penelitian 19 .Tabel 1.

Artroplasti kapsular merupakan metode rekonstruksi sendi untuk dislokasi panggul. dan jarang untuk osteoarthritis dan rheumatoid artritis. Slongo T. panggul tuberkulosis. juga dikenal sebagai prosedur ostektomi caput femoris. 4. dan trochanter. Ganz R. Leunig M (2012). ditinggalkan karena dilaporkan dapat menyebabkan osteonekrosis. 2. collum femoris.BAB III KESIMPULAN 1. Turchetto L. Prosedur Girdlestone termasuk ke dalam teknik arthroplasti reseksi sendi panggul. Prosedur Girdlestone dapat digambarkan ke dalam dua kategori: primer dan sekunder. 3. 5. Kapsul yang sembuh menjadi tulang kanselus dari acetabulum baru dan berubah menjadi fibrokartilago. Siebenrock KA. Primer: untuk gangguan panggul primer seperti sepsis panggul. seperti teknik Colonna. Teknik Girdlestone bisa digunakan sebagai terapi pilihan pada kasus septic arthritis dan pada pasien dengan status fungsional yang buruk DAFTAR PUSTAKA 1. Teknik arthroplasti kapsuler yang sebelumnya banyak digunakan. The capsular arthroplasty: a useful but abandoned procedure for young patient 20 . Sekunder/modifikasi untuk kegagalan penggantian panggul atau kegagalan konstruksi setelah trauma panggul.

466: 258263 21 . Girdlestone GR (2008). The journal of bone and joint surgery. 79(1): 84-96 5. 310-313 7. An arthroplastic procedure for congenital dislocation in children. nDreghorn CR. Ampuero JC (2012). Colonna arthroplastt with concomitant femoral shortening and rotational osteotomy. Amir-Jahed AK (1973). Basu I. Gardner ER (2005). Howes M. Haw CS. Girdlestone resection arthroplasty of the hip: Current perspectives. Coleman S (1997). Stants AA. Sharma H. 22(8): S36-S39 10. Current Orthopaedics. Cordero-Ampuero J (2012). 19: 385– 392 4. Hip Int. School of Medicine Pahlavi University. Zabihi T. Acute Pyogenic Arthritis of The Hip: An Operation Giving Free Access and Effective Drainage. A Modified Girdlestone Operation in the Treatment of Complications of Fractures of the Femoral Neck: Departement of Surgery. Levack B (2011). Clin Otrhop sRelat Res 470: 29572967 2. Girdlestone procedure: when and why: Hip Int. The journal of bone and joint surgery. Colonna PC (1938). Gray DH (1976). Jowett C. Kohanim M. Clin Orthop Relat Res. Exicion Arthroplasty of The Hip: The Journal of Bone and Joint Surgery. 58B(1): 44-47 9. 22 (Suppl 8 ): S36-S39 3. 20(3): 604-608 6. International Journal of Surgery 9. Girdlestone procedure: when and why. 55A(1): 129-136 8. Girdlestones excision arthroplasty: Current update.with developmental dysplasia of the hip.