You are on page 1of 25

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DAN GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Semester Genap Tahun Akademik 2015/2016
Dosen Pembina : Khrisna Hadiwinata, SH., MH

Anggota Kelompok 5:
M. Faizin Hamzah

(1431120099)

Ridwan Ma’ruf

(1431120008)

Rifan Kusuma Hadi

(1431120001)

Samudra Pribadi

(1331120039)

Sheryn Pristiyana Putri

(1431120069)

POLITEKNIK NEGERI MALANG
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
2016
Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas berkah dan hidayah Allah SWT, kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul “OTONOMI DAERAH dan GOOD GOVERNANCE” ini tanpa
hambatan yang berarti. Makalah ini dibuat sebagai bahan pembelajaran tentang paham
demokrasi serta

bagaimana praktek demokrasi tersebut di Indonesia dan sebagai bentuk

pemenuhan tugas untuk mata kuliah kewarganegaraan yang dibimbing oleh Khrisna Hadiwinata,
S., MH
Harapan saya semoga makalah yang sederhana ini bisa memberikan pembelajaran dan
pengetahuan bagi pembaca khususnya mengenai Demokrasi di Indonesia, tidak lupa kami selaku
penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penulisan makalah ini demi perbaikan penulis
dalam menulis makalah selanjutnya.

Malang, 25 Juni 2016

Penulis

Daftar Isi
Halaman Judul...........................................................................................................1
2

..........................................................6 Bab II Dasar Teori / Landasan Teori 2...............................................................................7 2.2 Penyebab Kekecewaan Masyarakat Papua terhadap Pelaksanaan Otonomi Daerah.....................................................................2 Daftar Isi..............................................................................................................................................................3 Sejarah Otonomi Daerah...................................26 3 .4 Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah...............................................................................13 Bab III Pembahasan 2............................................................................................................................................................................24 Daftar Pustaka.....................................................2 Hakikat Otonomi Daerah...............................................................................................................1 Otonomi Daerah dan Good Governance...............................................9 2......15 2......................................6 1...............11 2.......1 Kesimpulan..........1 Latar Belakang Masalah.................3 Tujuan Penulisan.........4 1.....................................................................3 Bab I Pendahuluan 1....................................................2 Rumusan Masalah.......23 3...............2 Saran....................................3 Pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah.................1 Pengaruh System Otonomi Daerah terhadap Kewewanang Pengelolaan Hutan di Bali................................17 2..............19 Bab IV Penutup 3..................................................................................................Kata Pengantar.

Hal ini pula yang mendorong akan terwujudnya suatu sistem pemerintahan yang efisien dan mandiri untuk memudahkan koordinasi antara kedua belah pihak tersebut. prosedur. monitoring dan evaluasi. urusan pemerintah dibagi dua yakni absolut yang merupakan urusan mutlak pemerintah pusat (hankam. Pasal 18 UUD 1945 dan perubahannya menyatakan pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan daerah kecil. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang undangan. yustisi. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.BAB I PENDAHULUAN 1. tentunya berbagai daerah tersebut membutuhkan penerapan kebijakan daerah yang berbeda pula. wewenang. dimana sulitnya koordinasi pemerintah pusan dengan pemerintah daerah. Dalam hal ini bangsa Indonesia kini telah berhasil membentuk kebijakan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri yang sesuai dengan karakter Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia di daerahnya sendiri. moneter. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang. standar. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di posisi strategis dengan dua lautan yang mengelilinginya. Pemerintah pusat berwenang membuat norma-norma. serta Concurrent (urusan bersama pusat. politik luar negeri. Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelengarakan otonomi daerah. supervisi. Urusan pemerintah yang bersifat concurrent artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hal ini turut mempengaruhi mekanisme pemerintahan di Indonesia. provinsi dan kabupaten/kota). dan agama). ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. Otonomi daerah adalah hak.1 Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indosesia yang terhimpun dari bermacam – macam suku dan budaya dalam berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke yang memliki banyak perbedaan atas potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang timbul karena perbedaan letak geografis suatu daerah atau latar belakang sejarah daerah tertentu. Secara anatomis. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/kota. fasilitasi dan urusan-urusan pemerintahan dengan 4 .

Urusan pemerintahan wajib adalah suatu urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. Penyelenggaraan pemerintahan daerah disesuaikan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kesehatan. Oleh karena itu. Pemerintah provinsi berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan eksternal regional. dan peran serta masyarakat. pelayanan. yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. keadilan.2 Rumusan Masalah 5 . 1. Namun. Urusan yang menjadi kewenangan daerah. prasarana lingkungan dasar. dan kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas lokal. keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Republik Indonesia. pemberdayaan. yaitu pemerintahan daerah. sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait era dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. ditengah pelaksanaan Otonomi Daerah yang telah dilaksanakan tersebut terdapat pertanyaan apakah pelaksanaanya akan lancar hingga akan membawa dampak positif bagi daerah tersebut atau malah pelaksanaan Ontonomi Daerah tersebut akan berjalan dengan kacau sehingga malah akan membuat daerah tersebut semakin terpuruk. .eksternalitas nasional. pemerataan. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. perlu ditelaah dengan lebih lanjut bagaimana pelaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia. karena pelaksanaan Otonomi Daerah merupakan sesuatu yang vital bagi jalannya roda pemerintahan. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan.

Mengatur/mengendalikan sendiri.1 Definisi Otonomi Daerah dan Good Governance a) Secara Etimologi Otonomi berasal dari auto dan nomos. Mengetahui pengaruh sistem otonomi daerah terhadap kewenangan pengelolaan hutan di Bali 2. b) Pengertian Umum Otonomi adalah hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga Daera sendiridalam mencapai tujuannya. Mengetahui pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah BAB II DASAR TEORI atau LANDASAN TEORI 2. 32 Tahun 2004 Bab I Pasal 1 angka 5 : 6 . Apa penyebab kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah? 3. Mengetahui penyebab kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah yang tidak sesuai harapan 3.1. c) Undang-Undang No. Bagaimanakah pengaruh sistem Otonomi Daerah terhadap kewenangan pengelolaan hutan di Bali ? 2. Bagaimana pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah? 1.3 Tujuan 1.

dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Tegaknya Supremasi Hukum Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu. Prinsip-prinsip Good Governance 1. wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan. 3. Transparansi Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Peduli pada Stakeholder Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan. Partisipasi menyeluruh tersebut di bangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat. 2. serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif. 4. Partisipasi Masyarakat Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengembalian keputusan. maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka. baik secara langsung. 5. termasuk didalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia. Daerah Otonom (Daerah) : “adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batasbatas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.Otonomi Daerah : “ adalah Hak. Berorientasi pada Konsensus Tata pemerintahan yang baik menjembatani kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok7 . Good Governance pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik. Seluruh proses pemerintahan. Kata ‘baik’ disini dimaksudkan sebagai mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsipprinsip dasar Good Governance.

konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur. serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. 8. Akuntabilitas Para pengambil keputusan di pemerintah. Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan public Sektor Swasta a. Menciptakan kondisi politik. Visi Strategis Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia. dan bila mungkin. sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. Menjalankan industry b. 6. Kesetaraan Semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan kesejahteraan mereka. Efektifitas dan Efisiensi Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin. Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan c. Menegakkan HAM e. 7. budaya dan social yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut. ekonomi dan sosial yang stabil b. Menyediakan public service yang efektif dan accountable d. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan. Menciptakan lapangan kerja 8 . Pilar-pilar Good Governance 1. Melindungi lingkungan hidup f. Bentuk pertanggung jawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan.kelompok masyarakat. Negara 3 a. 9.

Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi Mempengaruhi kebijakan public Sebagai sarana cheks and balances pemerintah Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah Mengembangkan SDM Sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat 2.Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti oleh Undang .2 Hakikat Otonomi Daerah Terdapat dua undang – undang yang menjadi pedoman dasar pelaksanaan otonomi daerah yakni. Masyarakat Madani a. f. Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang – undangan. e. e. h. keberhasilan peningkatan otonomi daerah tidak terlepas dari kemampuan aparat pemerintah pusat dan sumber daya manusia (SDM) dalam tugasnya sebagai perumus kebijakan nasional. d. Menyediakan insentif bagi karyawan Meningkatkan standar hidup masyarakat Memelihara lingkungan hidup Menaati peraturan Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat Menyediakan kredit bagi pengembangan UKM 3. kewajiban kepala daerah dan hal – hal yang terkait dalam Undang – Undang yang telah ditetapkan. Sedangkan dalam arti luas diartikan sebagai berdaya. f.Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang Undang Nomor 33 tahun 2004. Otonomi daerah dalam arti sempit adalah mandiri. Otonomi daerah merupakan rangkaian upaya program pembangunan daerah dalam tercapainya tujuan pembangunan nasional. d. otonomi dae11rah berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan pembuatan pengambilan keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. c. b. Undang . g. wewenang. Untuk itu. sebagaimana dijelaskan mengenai kewenangan daerah. Hakikat otonomi daerah adalah hak. dan kewajiban suatu daerah untuk membentuk dan menjalakan suatu pemerintahannya sendiri sesuai dengan peraturan undang – undang yang berlaku.c.Undang Nomor 32 tahun 2004 dan Undang . Otonomi daerah dapat diartikan juga sebagai kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarkat 9 . Dengan demikian.

Di dalam otonomi daerah terdapat kebebasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerah. Pemerintah daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip kesatuan NKRI sebagaimana dimaksud dalam UUD Tahun 1945. otonomi daerah adalah kebebasan (kewenangan) untuk mengambil atau membuat suatu keputusan politik maupun administrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bupati. DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud oleh pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. 4. Pemerintah pusat.setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarkat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah memiliki hubungan yang erat dengan desentralisasi. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah. 3. Sedangkan menurut Vincent Lemius. Sedangkan otonomi daerah merupakan hak. selanjutnya disebut pemerintah adalah presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintah negara RI sebagaimana tercantum dalam UUD 45. 2. Berikut beberapa pengertian konsep otonomi daerah sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 32 Th. yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Ateng Syarifuddin. Pemerintah daerah adalah Gubernur. Namun apa yang menjadi kebutuhan daerah tersebut harus senantiasa disesuaikan dengan kepentingan nasional sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. atau Wali Kota. otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Hubungan erat antar pemerintah pusat dengan pemerintah daerah harus serasi sehingga akan dapat mewujudkan tujuan yang ingun dicapai. 10 . 2004 Bab I Pasal 1: 1. wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Prinsip – Prinsip Otonomi Daerah dalam UU No. dan kota.3 Sejarah Otonomi Daerah Perjalanan bangsa Indonesia melalui berbagai sistem pemerintahan dan dipimpin berbagai macam kepala pemerintahan serta munculnya masalah – masalah baru dalam lingkungan pemerintah ataupun lingkungan masyarakat tentu sangat membutuhkan tatanan hukum yang berbeda dari waktu ke waktu untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. membagi dua jenis daerah otonom yakni. dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi). 32 tahun 2004 adalah sebagai berikut 1. UU No. Otonomi luas. pemerataan. Demokrasi. nyata. e. potensi dan keanekaragaman daerah. 4. 11 .5 tahun 1974 mengatur pokok – pokok penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi tugas pemerintah pusat di daerah (prinsip yang dipakai : otonomi yang nyata dan bertanggungjawab. UU No. dan tiga tingkatan daerah otonom yakni. 18 tahun 1965 mengatur otonomi yang menganut sistem otonomi yang riil dan seluas luasnya. 2. Sesuai dengan konstitusi negara. 1 tahun 1945 mengatur Pemerintah Daerah yang membagi tiga jenis daerah otonom yakni. 22 tahun 1948 mengatur susunan Pemerintah Daerah yang demokratis. Kemandirian daerah otonom. merupakan pembaruan dari otoda yang seluas – luasnya dapat menimbulkan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.5. statis dan tetap tetapi membutuhkan pembaruan – pembaruan untuk mengatasi berbagai keadaan dan masalah baru yang muncul. 22 tahun 1999 a. c. UU No. b. provinsi. kab/ kota dan desa. UU No. kabupaten. wewenang. dan kewajiban daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. UU No. keadilan. Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. 2. dan bertanggungjawab. Sedangkan perubahan yang mendasar dari pedoman Otonomi Daerah dari UU No. 22 tahun 1999 digantikan oleh UU No. Keberadaan kebijakan mengenai Pemerintahan Daerah bukan merupakan hal yang final. 5. Berikut ini adalah sejarah perkembangan undang – undang yang menjadi pedoman mengenai otonomi daerah : 1. d. keresidenan. Otonomi daerah adalah hak. daerah otonom biasa dan otonomi istimewa. 3. 1 tahun 1957 mengatur tunggal yang berseragam untuk seluruh Indonesia.

nyata.4 Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah Otonomi daerah adalah sebuah agenda nasional yang diharapkan dapat mencegah terjadinya sentralisasi yang sebenarnya sudah menimpa bangsa Indonesia selama periode orde baru. d. 2. Sesuai dengan konstitusi negara. Otonomi nyata : penanganan urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas. serta potensi dan keanekaragaman daerah. pemerataan. dan pemberdayaan masyarakat - yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijaksanaan otonomi daerah melalui UU no. Meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. g. e. wewenang. h.Sejak diberlakukannya Undang-undag tentang pemerintahan daerah. keistimewaan dan kekhususan. Asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi sebagai wilayah administrasi. Otonomi luas. peningkata peran serta.Otonomi luas : daerah yang memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. yang pada dasarnya untuk c. h.22 tahun 1999 memberikan otonomi yang angat luas kepada daerah. peningkatan percepatan pembangunan Daerah. memberikan peluang politik dalam rangka peningkatan kualitas demokrasi di Daerahpeningkatan efisiensi pelayanan public di Daerah. Otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. 32 tahun 2004 a. dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. memberdayakan daerah. Hal itu ditempuh dalam rangka mengembalikan harkat dan martabat di daerah. Demokrasi.22 tahun 1999 dan UU no. Asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi sebagai wilayah administrasi. prakarsa. 12 . b. Kemandirian daerah otonom. dan pada akhirnya diharapkan pula penciptaan cara berpemerintahan yang baik. khususnya Kabupaten dan Kota. . 2. Meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah.f. termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. g. Asas tugas perbantuan. Asas tugas perbantuan. - hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. dan bertanggungjawab. Prinsip – Prinsip Otonomi Daerah dalam UU No. yaitu UU no. f.25 tahun 1999 diharapkan juga dapat membawa perubahan yang signifikan bagi daerah yang juga nantinya akan membawa kesejahteraan bagi bangsa ini sendiri. Otonomi yang bertanggungjawab : dalam penyelenggaraan otonomi harus sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonom. keadilan.

serta disertai kemampuan menghadapi laju inflasi dan keseimbangan neraca perdagangan internasional. dengan meningkatnya daya beli berarti penjualan atas barang dan jasa juga meningkat. pemerintah daerah sebagai pelaksana daerah sebaiknya memenuhi fasilitas kepada masyarakatnya terutama yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Fasilitas. Namun sebenarnya yang penting bagi daerah adalah terciptnya lapangan kerja. sehingga lambat laun kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan disitulah pembangunan daerah benar-benar dijalankan. Jadi. artinya pajak penjualan barang dan jasa juga meningkat sehingga Pendapatan Daerah dan Negara juga meningkat. Pemerintah daerah harus kreatif. 5. 13 . Pemerintah harus komunikatif dgn LSM/NGO.Otonomi daerah diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan daerah selain juga menciptakan keseimbangan antar daerah hingga terjadi perataan kesejahteraan dan tidak adanya daerah tertinggal ataupun sentralisasi. 4. Pemerintah daerah menjamin kesinambungan usaha. Selain itu dapat menciptakan keunggulan komparatif bagi daerahnya. 2. sehingga pemilik modal akan beramai-ramai menanamkam modal di daerah tersebut. sehingga banyak dana yang di sedot dari Jakarta ke Daerah. terutama dalam bidang perburuhan dan lingkungan hidup. Untuk menciptakan pembangunan daerah yang cepat dan meningkat maka perlu adanya prasyarat terutama bagi penyelenggara daerah tersebut. . Semuanya akan di kembalikan pada masyarakat dalam bentuk proyek atau bantuan atau sejumlah intensif yang lain.jika pemerintah memudahkan fasilitas maka pembangunan daerah bukanlah sesuatu yang susah pencapaiannya.karena memang pada dasarnya pembangunan daerah dapat terjadi karena bantuan ekonomi(keuangan). Yang diharapkan dari pemerintahan daerah tersebut adalah sejumlah berikut: 1. Kreatif yang dimaksud di sini adalah bagaiman cara mengalokasikan dana yang bersumber dari Dana Alokasi Umum atau yang berasal dari PAD. 3. Politik lokal yang stabil. Kreatifitas ini juga berkaitan dengan kepiawaian pemerintah membuat program-program menarik sehingga pemerintah pusat akan memberikan Dana Alokasi Khusus. Penciptaan lapangan kerja akan berpengaruh pada peningkatan daya beli dan kecenderungan untuk menabung.

Disini jelas amanat undang-undang bahwa kewenangan asli (atribusi) untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan. Pengertian mandat adalah suatu pelimpahan wewenang kepada bawahan. Dalam penyerahan kewenangan ini terjadi perpindahan tanggung jawab dari yang memberi delegasi kepada yang menerima delegasi. kawasan hutan dan hasil hutan diberikan kepada Pemerintah Pusat. ayat 14). Selanjutnya Pasal 66 ayat (1) UU No. pasal 4 ayat (2) huruf a disebutkan bahwa : Penguasaan hutan oleh Negara memberikan kewenangan kepada Pemerintah untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan. maka sesungguhnya urusan bidang Kehutanan pada awalnya bersifat sentralistik. cara memperoleh kewenangan dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu atribusi. Pemerintah di sini maksudnya adalah Pemerintah Pusat (Pasal 1. delegasi dan mandat. Dalam UU No. Pemerintah menyerahkan sebagian kewenangan kepada Pemerintah Daerah”. Atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan yang langsung bersumber kepada undang-undang. Kewenangan yang di dapat melalui atribusi oleh organisasi pemerintah adalah kewenangan asli. Delegasi diartikan sebagai penyerahan kewenangan untuk membuat suatu keputusan oleh pejabat pemerintahan kepada pihak lain.41 tahun 1999 tentang Kehutanan disimpulkan bahwa Urusan Pemerintahan di Bidang Kehutanan bersifat “Concurrent” 14 . tanggung jawab tetap berada di tangan pemberi mandat.41 tahun 1999 tentang Kehutanan. karena kewenangan itu diperoleh langsung dari peraturan perundang-undangan yang melibatkan peran serta rakyat sebagai pemegang asli kewenangan.1 Pengaruh Sistem Otonomi Daerah terhadap Kewenangan Pengelolaan Hutan di Bali Apabila dicermati secara teliti. Dari pasal 4 dan 66 UU No. Menurut Teori Kewenangan.BAB III PEMBAHASAN PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH 3. dalam hal ini Departemen Kehutanan. Dalam mandat.41 tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan: “Dalam rangka penyelenggaraan Kehutanan. kawasan hutan dan hasil hutan. Pada ayat (2) disebutkan “ Pelaksanaan penyerahan sebagian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengurusan hutan dalam rangka pengembangan otonomi daerah.

Menyelenggarakan pengelolaan hutan yang meliputi : a. d. Melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan diwilayahnya mulai dari perencanaan.artinya urusan pemerintah yang dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Untuk mengelola serta memanfaatkan hutan secara optimal dan lestari perlu dibentuk suatu lembaga atau organisasi pemerintahan yang memiliki tugas dan kewenangan mengelola kawasan hutan. Provinsi dan Kabupaten/Kota bidang Kehutanan untuk diimplementasikan. sehingga kebijakan pengelolaan kawasan hutan yang diperlukan mengacu pada kelestarian ekosistem. 15 . pengorganisasian. sosial budaya. 4. Provinsi Bali merupakan satu kesatuan ekosistem pulau yang merupakan satu kesatuan wilayah. pasal 9. Menjabarkan kebijakan Kehutanan Nasional. b.6 tahun 2007. Organisasi KPH mempunyai tugas dan fungsi: 1.6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan Hutan diatur bahwa : tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan serta pemanfaatan hutan merupakan bagian dari pengelolaan hutan (pasal 3) dan menjadi kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (pasal 4). Membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan. Menurut PP No. ekologi. yaitu satuan kerja yang bernama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). pelaksanaan dan pengawasan serta pengendalian. dan perlindungan hutan dan konservasi alam. 3. 5. tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan. Organisasi KPH ini bisa dibentuk oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Depatemen Kehutanan maupun Pemerintah Daerah yaitu Pemerintah Provinsi. Melaksanakan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan di wilayahnya. 2. c. rehabilitasi hutan dan reklamasi. pemanfaatan hutan penggunaan kawasan hutan. Kemudian dalam ketentuan pelaksanaannya yaitu dalam PP No. e.

yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No. sosial budaya dan ekonomi 3. Kasus Freeport adalah kasus mengenai suatu perusahaan tambang yang sudah sekian lama mengeruk kekayaan alam Papua.Pembentukan KPH di Provinsi Bali merupakan kebutuhan nyata dalam rangka pengelolaan hutan di Provinsi Bali agar hutan Bali dapat memberikan manfaat yang optimal dari segi ekologi. antara lain kasus Freeport dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pembentukan KPH di Provinsi Bali diharapkan agar hutan Bali dapat memberikan manfaat yang optimal dari segi ekologi. 800/Menhut-II/2009. tanggal 22 Juli 2008 tentang Rincian Tugas Pokok Dinas Kehutanan Provinsi Bali. tanggal 8 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali. 16 .48 tahun 2008. UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Tengah UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur UPT Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai. Beberapa kasus muncul di Papua sebagai akibat kesalahan dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. justru kehadiran PT. namun tidak berimbas baik bagi penduduk pribumi Papau. dan kemudian dikukuhkan/ ditetapkan dengan SK Menteri Kehutanan No. yang khusus mengelola kawasan hutan bakau (mangrove) di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. tanggal 7 desember 2009tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Provinsi Bali.2 Kekecewaan masyarakat Papua terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah yang tidak sesuai harapan.2 Tahun 2008. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dibentuk adalah : - UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Barat. sosial budaya dan ekonomi. Sedangkan kasus Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah kasus yang menginginkan penduduk pribumi Papua untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk negara sendiri. Freeport merugikan penduduk pribumi. Pemerintah Provinsi kemudian membentuk 4 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Kehutanan Provinsi Bali dengan Peraturan Daerah (Perda) No.

persiapan sosial yang dapat membantu menyiapkan dan memfasilitasi penduduk asli agar mengakses program-program atau proyek-proyek yang berhubungan dengan pengelolaan SDA 17 . berdasar fakta-fakta masyarakat Papua. padahal semua konsekuensi negatif pasti dipikul oleh mereka bukan oleh pengambil keputusan.Pada kasus freeport. Menurut dia. masih adanya perbedaan persepsi masalah integrasi Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab terjadinya berbagai konflik di Papua menurut Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin ada 4 faktor. masih adanya pelanggaran HAM yang terus terjadi kendati memasuki era reformasi. Sebagai akibat dari rasa ketidakpuasan atau kekecewaan mendapatkan perilaku yang tidak adil. beberapa penduduk Papua menghendaki adanya negara baru. Sementara. Aksi yang sering mereka lakukan dalam menyampaikan aspirasinya adalah melalui mengibarkan bendera bintang kejora di berbagai wilayah Papua. Pemberian ijin dalam melakukan kegiatan pertambangan ini merupakan suatu bentuk kewenangan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kedua. dan penghargaan yang jelas dan tegas di antara para pemegang hak adat. Keempat. Eksploitasi SDA telah menampilkan suatu ketidakadilan. berlangsung secara cepat. adanya marjinalisasi terhadap penduduk asli Papua. masalah otonomi khusus (Otsus) yang dianggap masyarakat Papua tak jalan. Namun pemerintah Indonesia tidak tinggal diam menanggapi permasalahan ini. pemerintah memberikan ijin kepada PT Freeport untuk melakukan kegiatan pertambangan di daerah Papua. Dalam pemberian ijin ini pemerintah pusat pun terlibat. Eksploitasi SDA oleh para investor di bawah fasilitasi pemerintah. pengakuan. Sebaliknya. entah itu industri yang dijalankan bangsa Indonesia itu sendiri maupun bangsa luar.Ketiga. guna membangun daerahnya. Adanya suatu industri di suatu daerah harusnya memberikan kemajuan bagi masyarakat sekitar. pemegang hak adat atas SDA tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. pemerintah menganggap masalah Papua telah final sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga kesatuan negara Indonesia ini dan menindak tegas segala oknum yang ikut campur dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM). SDA merupakan sumber penghidupan utama bagi mereka dengan batas-batas pemilikan. yakni Pertama. agen-agen pembangunan yang mengeksploitasi SDA justru tidak memberikan pengakuan yang memadai terhadap hak-hak masyarakat asli Papua dan tidak memikirkan alternatif. Beberapa aksi gencar diluncurkan demi mewujudkan keinginan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perseroan itu pun mengikat perjanjian dengan pemerintah daerah setempat. ini mengandung makana perintah pusat tisak lagi mengurus kepentingan rumah tangga daerah-daerah serta menggantikan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan. KH. Bupati Bangkalan saat itu. pengiriman gas tidak dilakukan langsung oleh Pertamina EP sebagai distributor. sudah sepakat siap membangun PLTG itu. Dalam klausul kontrak dinyatakan. Media Energi 18 . Tetapi. Akibatnya. dilatih. Di Gresik.3 Pengaruh Otonomi Daerah terhadap maraknya Kasus Korupsi Didaerah Otonomi daerah dimaksudkan agar daerah otonom dapat mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 23 Tahun 2014. dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah sehingga perlu diganti. Sayangnya. Dengan diberlakukannya UU RI No. Media Energi. dengan perusahaan makelar (trader) PT Media Karya Sentosa alias Media Energi pada 2006. Sementara di Gili Timur sama sekali tidak dibangun. PLN ingin supaya beban pembangunan pipa gas ke fasilitas itu ditanggung oleh pemerintah setempat. kewenangan pemerintah didesentralisasikan ke daerah. dan Perusahaan Daerah Sumber Daya ihwal kontrak pasokan gas dan pembangunan jaringan pipa ke PLTG. dan diberi kesempatan. karena memang tidak dipersiapkan. 3.Sebabnya diduga ada kejanggalan kontrak jual beli gas antara Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore. sumber pembangkit listrik itu sudah berdiri. Madura. masyarakat menjadi penonton dan terasing di tanahnya sendiri.tidak terjadi. Fuad menyetujui hal itu. melainkan mesti lewat Media Energi. Masyarakat Papua sebagai komunitas lokal tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Fuad lantas membikin perjanjian antara dia. terkait dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan Kepala Daerah Bangkalan yakni Fuad Amin Imron adalah sebuah contoh daeri penyelewengan kewenangan yang diberikan kepada perintah daerah terkait kasus suap jual beli gas di Bangkalan. Fuad Amin Imron. Dalam pembahasan makalah ini. ketatanegaraan.Kasus ini berawal dari niat Perusahaan Listrik Negara ingin membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Gresik dan Gili Timur. Pasokan gas dipilih dari kilang lepas pantai Madura Barat dikelola PHE-WMO. Pertamina EP. dari jumlah pembelian gas sebanyak 40 BBTU.

Dengan operasi tertangkapnya Fuad Amin Imron.menyisihkan gas sebesar 8 BBTU buat memasok PLTG Gili Timur. Mereka menyangkal dituding menjadi sumber kegagalan pembangunan PLTG Gili Timur. Pada dasarnya kewenangan besar yang diberikan kepada pemerintah daerah itu dimaksudkan agar daerah bisa lebih cepat membuat kehidupan masyarakat yang lebih baik. Mereka merasa sudah menunaikan kewajiban dengan mengantar gas dari kilang ke tepat di titik serah pembeli. Kontrak gas itu pun sudah disetujui oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (sekarang SKK Migas) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pertamina EP sebagai penyalur menolak disalahkan dalam perkara itu. Sementara Media Energi meraup keuntungan berlipat dengan membeli gas dengan harga rendah. Sementara gas buat pembangkit listrik itu pun tak jelas ke mana larinya. Tetapi. bukan untuk dijadikan peluang untuk melakukan korupsi oleh pejabat pemerintah daerah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kewenangan yang sangat besar yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah ternyata dimanfaatkan oleh oknum pejabat daerah untuk melakukan tindak pidana korupsi dan memperkaya diri. Media Energi dan PD Sumber Daya tidak pernah membangun jaringan pipa gas itu. serta sudah menjalankan perjanjian sesuai kontrak dan menjual gas dengan harga cukup baik. Sehingga 19 . Media Energi wajib menyetor uang kepada Fuad melalui PD Sumber Daya. PLTG Gili Timur pun tinggal mimpi lantaran PLN membatalkan rencana dan mengalihkannya ke Riau. daerah diharapkan mampu melakukan pembangunan yang berkembang sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing. ada kesepakatan terselubung antara Media Energi dan Fuad. yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati bangkalan jawa timur pada Senin 1 Desember 2014 lalu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) itu semakin memperkuat fakta bahwa korupsi didaerah semakin masif dan melibatkan keluarga. Pemerintah daerah dianggap lebih mengetahui terhadap jenis kebutuhan-kebutuhan daerahnya yang tentu tidak akan sama dengan kebutuhan daerah lain diseluruh nusantara.Namun dalam kenyataannya. Mereka juga menampik tudingan merugikan keuangan negara. Dengan menggunakan asas desentralisasi. Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan konidi adat dan wilayahnya. Ketua DPRD Bangkalan. Masalah pembangunan jalur pipa dari Gresik menurut mereka adalah urusan antara Media Energi dan PD Sumber Daya. Sebagai imbalan kontrak jual beli gas fiktif.

Program otonomi daerah telah memotong struktur hierarki pemerintahan. Dr. jadi ladang korupsi di daerah. Sehingga saat mereka terpilih berusaha mencari peluang bagaimana memanfaatkan kewenangan besar yang mereka peroleh untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan untuk biaya Pilkada tersebut. ditambah civil society di daerah yang belum kuat. bagaimana bisa balik modal bahkan jadi untung. Dengan kata lain. program otonomi daerah yang digulirkan oleh pemerintah hanya terfokus pada pelimpahan wewenang dalam pembuatan kebijakan. Menurut Wakil Ketua Komite III DPD RI ini. Saldi Isra (2009). tidak ada institusi negara yang mampu mengontrol secara efektif penyimpangan wewenang di daerah. yang rawan terhadap korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Hal itu akibat pengawasan pemerintah pusat yang minim. Akan tetapi kewenangan pemerinah daerah itu justru dipergunakan oleh pejabat daerah untuk memanipulasi kewenangan itu untuk mengisi pundi-pundinya.pertumbuhan di daerah semakin cepat berkembang dan terciptanya masyarat yang makmur dan sejahtera. menjamurnya korupsi di daerah dapat dilihat melalui tiga persoalan penting. Karenanya. sehingga tidak efektif lagi control pemerintah pusat ke daerah karena tidak ada lagi hubungan struktural secara langsung yang memaksakan kepatuhan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. kebanyakan para kepala daerah ini memanipulasi jabatannya untuk ‘mengobral’ berbagai perizinan terutama yang terkait dengan pertambangan dan kehutanan. Maraknya praktik korupsi di daerah juga tak lepas dari besarnya biaya kampanye yang dikeluarkan para calon kepala daerah saat Pilkada. Bukan memikirkan bagaimana caranya membuat otak rakyat jadi pintar dan perut rakyat jadi kenyang. Kedua. Pertama. bupati. Menurut Prof . tidak lagi ditentukan oleh pemerintah pusat. sadar atau tidak. maupun walikota. program otonomi daerah tidak diikuti dengan program demokratisasi yang membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam pemerintahan di daerah. Jadi yang ada dalam pikirannya. keuangan dan administrasi dari pemerintah pusat ke daerah. Kepala daerah. melainkan oleh mekanisme pemilihan kepala daerah oleh DPRD dan 20 . Dua jenis perizinan ini. tanpa disertai pembagian kekuasaan kepada masyarakat. membuat tidak ada yang mengawasi tindak-tanduk para pejabat di daerah. program desentralisasi ini hanya memberi peluang kepada elite lokal untuk mengakses sumber-sumber ekonomi dan politik daerah. baik gubernur.

otonomi daerah disamping memberikan dampak positif terhadap jalannya roda pemerintahan juga mempunyai dampak negatif yang salah satunya yaitu korupsi yang terus merajarela dari tingkatan paling atas sampai pada tingkatan paling bawah. adanya lembaga kontrol seperti DPRD yang secara konstitusi harus mengawasi kebijakan pihak eksekutif (pemerintah daerah) tidak berarti peluang adanya penyelewengan dan korupsi menjadi hilang. kurupsi hanya dilakukan dibawah meja. pada masa Soekarno. Oleh karena itu. pada masa Soeharto mulai dilakukan di atas meja. yaitu hanya kekuasaan untuk memberi policy guidance kepada pemerintah daerah tanpa diikuti oleh pengawasan yang memadai. Tidak perlu heran karena setiap kebijakan dan ide-ide pasti mempunya kelebihan dan kekurangan. maka pada era reformasi sekarang bukan hanya dilakukan di bawah di atas meja melainkan dibawa dengan meja-mejanya. BAB IV PENUTUP 21 . Justru ketika kolusi terjadi antara pihak eksekutif dan legislatif. Hal ini menunjukkan betapa maraknya kasus korupsi di era dilaksanakannya otonomi daerah ini.bertanggunjawab ke DPRD. Hubungan pemerintahan pusat dan daerah hanya fungsional. Ketiga. Akan tetapi setidaknya usaha untuk menjadi leih baik itu penting. Jika diistilahkan. Justru sebaliknya terjadi kolusi yang erat antara pemerintah daerah dan DPRD sehingga kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah tidak terjadi. Yang perlu digarisbawahi. Kesempurnaan sulit untuk dicapai. sangat sulit bagi masyarakat untuk melakukan kontrol. legislatif daerah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga kontrol. sementara kontrol dari kalangan civil society masih lemah.

agar hutan di Bali dapat memberikan manfaat yang optimal dari segi ekologi. termasuk Pemerintah Provinsi Bali. Seiring dengan perkembangan reformasi di Indonesia.2 Saran 1. peran 22 . Setiap kebijakan pemerintah daerah harus mendapat dukungan dari rakyat. Dan dalam melaksanakan hal tersebut telah diatur beberapa batasan yang jelas dalam Keputusan Bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembangunan Nasional di Indonesia lebih seharusnya lebih menekankan pada prinsip-prinsip Demokrasi. 2.4.1 Kesimpulan 1. Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam penyelesaian konflik sangatlah besar peranannya sehingga perlu adanya pembatasan yang jelas dalam penyelesaian konflik tersebut. apabila tidak ada partisipasi dari masyarakat berarti semua kegiatan otonomi daerah tidak ada artinya. Yang perlu dicermati adalah kewenangan Pemerintah Daerah yang sangat besar sehingga perlu adanya bentuk pengawasan yang baik yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat sehingga jangan sampai terjadi berbagai kebijakan yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik yang terjadi di setiap kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. Secara garis besar menunjukan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan disetiap daerah ada dua unsur yang berperan yaitu pimpinan daerah dan masyrakat. bukan untuk dijadikan peluang untuk melakukan korupsi oleh pejabat pemerintah daerah. Untuk meningkatkan efektivitas pengurusan hutan. 4. Pemerintah Pusat harus aktif dalam melakukan pengawasan sehingga konflik yang terjadi di papua dapat diselesaikan sacara baik tanpa menggunakan kekerasan dengan baik oleh Pemerintah Indonesia baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah 3. agar tercipta kegiatan otonomi daerah yang sejahtera. sosial budaya dan ekonomi. Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian kewenangan pengelolaan hutan kepada Pemerintah Daerah. Pada dasarnya kewenangan besar yang diberikan kepada pemerintah daerah itu dimaksudkan agar daerah bisa lebih cepat membuat kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Kedua. terdapat 4 cara atau pendekatan 23 . Diawali dengan lahirnya Undang-undang Otonomi Daerah yaitu UU No.serta masyarakat. Mediasi mengajak atau mendorong kepada para pihak yang terlibat untuk kesepakatan melalui nasihat dari pihak ketiga yang disetujui. umumnya dilakukan melalui lembaga legislatif atau parlemen yang bermaksud memberikan kesempatan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk berdiskusi atau memperdebatkan secara terbuka masalah yang terjadi dalam konteks mencapai kesepakatan atau kompromi bersama. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. Pada era reformasi saat ini. UU No. pasal 10 mengatur bahwa : Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Secara teoritis.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Konsiliasi. dan dari sistem sentralistik ke sistem desentralisasi/ otonomi. dikenal 3 sarana upaya penyelesaian konflik.22 Tahun 1999 yang kemudian diubah dengan UU No. kecuali yang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. moneter dan fiskal nasional. yaitu yang menitikberatkan kepada produk-produk hukum yang lebih banyak kepada kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat. Perubahan paradigma ini sudah tentu berdampak kepada sistem hukum yang dianut selama ini. dan juga produk-produk hukum yang lebih mengedepankan dominasi kepentingan pemerintah pusat daripada kepentingan pemerintah daerah. para pihak yang terlibat bersepakat untuk mendapatkan menunjuk wasit penilai untuk memberikan keputusan yang bersifat legal sebagai jalan keluar dari konflik. pertahanan. 2. Jika dilihat dari aspek substansi.32 tahun 2004. yustisi. serta agama. UU Otonomi Daerah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus semua urusan pemerintahan. Konflik yang terjadi di papua hanya sebagian kecil saja yang terjadi di negeri ini maka dari pada itu di harapkan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus fleksibel dalam mengeluarkan kebijakan jangan hanya berpihak ke salasatu daerah saja karna akan menimbulkan kecemburuan sosial tiap daerah sehingga mengakibatkan konflik yang berkepanjangan. yaitu: Pertama. pemerataan dan keadilan. Arbitran. telah terjadi perubahan paradigma dalam kehidupan politik dan sistem ketatanegaraan di Indonesia yaitu dari sistem otoritarian kepada sistem demokrasi. keamanan. serta Ketiga. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah (yang dimaksud Pemerintah Pusat) meliputi: politik luar negeri.

Hukum. kesepakatan. Sebagai pemerintah yang mendapat amanat untuk mengurus negeri ini seyogyanya tidak menyelewengkan kewenangan dan kekuasaan yang diberikan. 24 . Dalam menjalankan pemerintahan harus dipisahkan mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan umum dan negara. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. yaitu penyelesaian konflik melalui proses arbritase. Abdul Gaffar. UU. Adapun solusi menurut kelompok kami yang dianggap dapat mengurangi maraknya kasus korupsi di daerah yaitu sebagai berikut: 1.23 Tahun 2014 Tentang pemerintah Daerah 2. dan konsiliasi. Melihat kasus korupsi didaerah itu maka pemerintah indonesia membuat beberapa kebijakan baru yang dianggap dapat mengurangi kasuskasus korupsi di daerah. Rencana pendirian kantor cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di daerah. 2009. 3. Pemilu yang bersih akan noney politic DAFTAR PUSTAKA Karim. Kekuasaan. mediasi. karena semua itu harus dipertanggung jawabkan baik di dunia ataupun kelak dihari kiamat dihadapan sang pencipta. 1. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Kompleksitas Otonomi Daerah di Indonesia. 2003. serta Keempat. No. pencarian fakta yang mengikat. yaitu penyelesaian melalui cara paksa atau dengan penggunaan kekuatan bersenjata oleh institusi militer.yang sering ditempuh oleh para pihak dalam proses penyelesaian konflik. Disamping itu pengawasan dan penegakan hukum terhadap yang melanggar hukum harus ditingkatkan baik di pemerintah daerah maupun dipemerintah pusat. yaitu penyelesaian yang diharapkan timbul dengan sendirinya. proses legislasi. yaitu: Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan pembuatan kebijakan pejabat publik. Memilih pemimpin yang amanah 3. Syaukani. Pangawasan yang ketat 2. Diantara beberapa kebijakan itu antara lain sebagai berikut. Ketiga. dkk. Penghindaran. Kedua. yaitu penyelesaian oleh para pihak melalui proses negosiasi.

dkk. 1994. Jakarta : PT Grafindo Persada. Aspek-Aspek Pengubah Hukum. Abdul Manan. 2004. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Philipus M. UGM Press.Widjaja. Cet III. 2005. HAW. Kencana Prenada Media. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. Hadjon. PPT OTODA Bahan ceramah Direktorat Jendral Otonomi Daerah pada KRA XXXVII Lemhannas 2004. Jakarta. 25 .