You are on page 1of 21
MAKALAH PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA “ABORTUS” Pembimbing : Hj. Andri Trikusuma, S.St, M. kes Disusun oleh : kelompok 7 1. 2. 3. 4. 5. Intan Fitria Ningrum Komatul Ukhrowiyah Maya Tsaqfatul A Retno Ningsih Susanti Ratnawati (16) (19) (23) (39) (49) SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN PRODI D-III KEBIDANAN T.A 2013-2014 KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur marilah kita ucapkan pada kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, nikmat-Nya sehingga segala aktifitas kehidupan dunia dan akhirat kita dalam mencapai mardhotillah dapat terlaksana sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dengan ridho Allah SWT, akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan tentunya juga penyelesaian ada beberapa penulisan pihak makalah ini yang sangat sehingga membantu perlu kiranya dalam penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Hj. Andri Trikusuma, S.St, M. kes selaku pembimbing makalah ini dari awal hingga akhir sehingga penulisan makalah ini selesai dengan baik dan benar. 2. Kedua orang tua kami yang senantiasa mendoakan dengan ikhlas, demi buah hati tercinta. 3. Seluruh teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan suport kepada kami dengan canda tawa dan kebersamaan. Tentunya tiada gading yang tak retak, tiada mawar yag tak berduri, begitu pula kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan. Lamongan, Maret 2014 Penulis DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan ialah terjadinya perdarahan. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus, misscarriage, early pregnancy loss. Perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan yang lebih tua terutama setelah melewati trimester III disebut perdarahan antepartum. Perdarahan pada kehamilan muda dikenal beberapa istilah sesuai dengan pertimbangan masing-masing, tetapi setiap kali kita melihat terjadinya perdarahan pada kehamilan kita harus selalu berfikir tentang akibat dari perdarahan ini yang menyebabkan kegagalan kelangsungan kehamilan itu sendiri. Dikenal beberapa batasan tentang peristiwa yang ditandai dengan perdarahan pada kehamilan muda, salah satunya adalah abortus. Abortus merupakan ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Sementara itu, dari kejadian yang diketahui 15-20% merupakan abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari pasangan yang mencoba hamil akan mengalami keguguran 2 kali yang berurutan, dan sekitar 1% dari pasangan mengalami 3 atau lebih keguguran berurutan. Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian abortus spontan antara 1520% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50%. Abortus disebabkan oleh beberapa faktor baik dari ibu maupun dari janin, oleh sebab itu kita sebagai tenaga kesehatan harus memberikan wawasan dan HE pada ibu hamil untuk selalu memeriksakan kehamilannya dan waspada terhadap komplikasi yang terjadi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian abortus? 2. Apa saja penyebab abortus? 3. Bagaimana patofisiologi abortus? 4. Apa saja macam-macam abortus? 5. Apa saja diagnosa banding perdarahan kehamilan muda? 6. Bagaimana komplikasi akibat abortus? 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Agar mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang abortus dan penatalaksanaan 1.3.2 1. 2. 3. 4. 5. 6. dari abortus. Tujuan khusus Menjelaskan pengertian abortus Menjelaskan penyebab abortus Menjelaskan patofisiologi abortus Menyebutkan macam-macam abortus Menjelaskan diagnosa banding perdarahan kehamilan muda Menjelaskan komplikasi akibat abortus 1.4 Manfaat 1.4.1 Bagi masyarakat Agar masyarakat mengetahui tentang penyebab dan dampak dari abortus. 1.4.2 Bagi peneliti Mengetahui dan menambah wawasan serta pengetahuan agar dapat melakukan 1.4.2 penatalaksanaan abortus. Bagi institusi Memberikan penambahan informasi tentang abortus khususnya bagi institusi kesehatan agar dapat mengetahui tentang abortus dan penatalaksanaannya. BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Abortus Abortus merupakan ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, (prawirohardjo, 2009). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, (Mansjoer,dkk, 2000). Abortus adalah terminasi kehamilan yang tidak diinginkan melalui metode obatobatan atau bedah, (Morgan, 2009). Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut abortus.Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu.Ada juga yang mengambil sebagai batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500 gram. Jika anak yang lahir beratnya antara 500 – 999 gram disebut juga dengan immature. Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau belum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diuar kandungan, (prawirohardjo, 2010). 2.2 Penyebab Abortus 1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Kelainan hasil konsepsi yang berat dapat menyebabkan kematian mudigah pada kehamilan muda. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah : 1) Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X Abnormalitas embrio atau janin merupakan penyebab paling sering untuk abortus dini dan kejadian ini kerap kali disebabkan oleh cacat kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi,poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks. 2) Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehinga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu. Endometrium belum siap untuk menerima implasi hasil konsepsi. Bisa juga karena gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan. 3) Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan tembakau dan alcohol. Radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. Zat teratogen yang lain misalnya tembakau, alkohol, kafein, dan lainnya. 2. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis (radang lapisan dalam) vili korialis karena hipertensi menahun. Endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat berfungsi. Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan keguguran. 3. Faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis. Penyakit-penyakit maternal dan penggunaan obat : penyakit menyangkut infeksi virus akut, panas tinggi dan inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar . nefritis kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin. Kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin. Obat-obat tertentu, khususnya preparat sitotoksik akan mengganggu proses normal pembelahan sel yang cepat. Prostaglandin akan menyebabkan abortus dengan merangsang kontraksi uterus. Penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lainnya. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus. Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata. 4. Kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan kalinan kavum uteri atau halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio uteri. Kerusakan pada servik akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan (dilatasi, amputasi). Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus, retrofleksi uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi, amputasi serviks), robekan serviks postpartum. 5. Trauma. Tapi biasanya jika terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi orgasme, dapat menyebabkan abortus pada wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali. 6. Faktor-faktor hormonal. Misalnya penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih funngsi korpus luteum dalam produksi hormon. 7. Sebab-sebab psikosomatik. Stress dan emosi yang diketahui dapat mempengarhi fungsi uterus lewat hipotalamus-hipofise. 8. Penyebab dari segi Maternal 1) Penyebab secara umum: (1) Infeksi a. Virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis. b. Infeksi bakteri, misalnya streptokokus. c. Parasit, misalnya malaria. (2) Infeksi kronis a. Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. b. Tuberkulosis paru aktif. c. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll. d. Penyakit kronis, misalnya : Hipertensi, nephritis, diabetes, anemia berat, penyakit jantung, toxemia gravidarum e. Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll. f. Trauma fisik. 2) Penyebab yang bersifat lokal: (1) Fibroid, inkompetensia serviks. (2) Radang pelvis kronis, endometrtis. (3) Retroversi kronis. (4) Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus. 9. Penyebab dari segi Janin 1) Kematian janin akibat kelainan bawaan. 2) Mola hidatidosa. 3) Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi. 4) Pemeriksaan USG janin dan histopatologis selanjutnya menunjukkan bahwa pada 70% kasus, ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang atau terjadi malformasi pada tubuh janin. 5) Pada 40% kasus, diketahui bahwa latar belakang kejadian abortus adalah kelainan chromosomal. 6) Pada 20% kasus, terbukti adanya kegagalan trofoblast untuk melakukan implantasi dengan adekuat. 2.3 Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. 2.4 Macam-macam Abortus 1. Abortus imminens - threatened abortion (kegugurang mengancam). Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi (pelebaran) serviks. Pada tipe ini terlihat perdarahan pervaginam. Pada 50% kasus, perdarahan tersebut hanya sedikit serta berangsur-angsur akan berhenti setelah berlangsung beberapa hari dan kehamilan berlangsung secara normal. Meskipun demikian, wanita yang mengalaminya mungkin tetap merasa khawatir akan akibat perdarahan pada bayi. Biasanya kekhawatirannya akan dapat diatasi dengan menjelaskan kalu janin mengalamin gangguan, maka kehamilannya tidak akan berlanjut. Abortus imminens merupakan abortus yang paling banyak terjadi. Pada abortus ini, perdarahan berupa bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan kehamilan. Namun, pada prinsipnya kehamilan masih bisa berlanjut atau dipertahankan. Setengah dari abortus ini akan menjadi abortus inkomplit atau komplit, sedangkan sisanya kehamilan akan berlangsung. Beberapa kepustakaan menyatakan bahwa abortus ini terdapatadanya risiko untuk terjadinya prematuritas atau gangguan pertumbuhan dalam rahim. 1) Diagnosa pada abortus imminent adalah : (1) Perdarahan flek-flek (bisa sampai beberapa hari). (2) Rasa sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak . (3) Serviks dan OUE masih tertutup. (4) PP test (+). 2) Penanganan abortus imminens meliputi : (1) Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik. (2) Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti. (3) Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih hidup. 2. Abortus insipiens - inevitable abortion (Keguguran Berlangsung) Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Abortus insipiens diatandai oleh kehilangan darah sedang hingga berat, kontraksi uterus yang menyebabkan nyeri kram pada abdomen bagian bawah dan dilatasi serviks. Abortus insipiens merupakan keadaan dimana perdarahan intrauteri berlangsung dan hasil konsepsi masih berada di dalam cavum uteri. Abortus ini sedang berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi, OUE terbuka, teraba ketuban, dan berlangsung hanya beberapa jam saja. 1) Diagnosa abortus insipiens : (1) Perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah. (2) Nyeri hebat disertai kontraksi rahim. (3) Serviks atau OUE terbuka dan/atau ketuban telah pecah. (4) Ketuban dapat teraba karena adanya dilatasi serviks. (5) PPtest dapat positif atau negatif . 2) Penanganan Abortus Insipiens meliputi : (1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan : a. Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu). b. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus. (2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu : a. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi. b. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi. (3) untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. 3. Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap). Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Abortus inkompletus berkaitan dengan retensi sebagian produk pembuahan (hampir selalu plasenta) yang tidak begitu mudah terlepas pada kehamilan dini seperti halnya pada kehamilan aterm. Dalam keadaan ini perdarahan tidak segera berkurang sementar serviks tetap terbuka. Abortus inkompletus merupakan suatu abortus di mana hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina (belum keluar semua) dan masih ada sisa-sisa jaringan yang tertinggal (biasanya jaringan plasenta). 1) Diagnosa abortus inkomplit adalah: (1) Umur kehamilan biasanya diatas 12 minggu, atau bisa kurang.š (2) Perdarahan sedikit kemudian banyak, disertai keluarnya hasil konsepsi, tidak jarang pasiendatang dalam keadaan syok.š (3) Serviks terbuka (1-2 jari, sering teraba sisa jaringan). (4) PP test positif atau negatif, anemia. 2) Penanganan abortus inkomplit : (1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum iso prostol4 00 mcg per oral. (2) Jika perdarahan banyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan : a. Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. b. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). (3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: a. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi b. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg) c. Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. (4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. 4. Abortus kompletus (Keguguran Lengkap) Pada abortus jenis ini, hasil konsepsi telah keluar semua dari cavum uteri. Perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam massa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Abortus kompletus terjadi kalau semua produk pembuahan – janin, selaput ketuban dan plasenta sudah keluar. Perdarahan dan rasa nyeri kemudian akan berhenti, serviks menutup dan uterus mengalami involusi. 1) Diagnosa abortus komplets adalah : (1) Perdarahan yang sedikit (2) Ostium uteri telah menutup (3) Uterus telah mengecil 2) Penanganan abortus komplit : (1) Tidak perlu evaluasi lagi. (2) Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak. (3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. (4) Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg per hari selama 2 minggu. Jika anemia berat berikan transfusi darah. (5) Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut. 5. Abortus habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturutturut. Etiologi abortus habitualis pada dasarnya sama dengan penyebab abortus spontan. Selain itu telah ditemukan sebab imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte trophoblast cross reactive (TLX). Pasien dengan reaksi lemah atau tidak ada akan mengalami abortus. 1) Diagnosa abortus habitualis adalah : (1) Kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas. (2) Ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah. (3) Timbul mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu. (4) Penderita sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari vagina (5) Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalfingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm. 2) Penanganannya terdiri atas : (1) Memperbaiki keadaan umum. (2) Pemberian makanan yang sempurna. (3) Anjuran istirahat cukup banyak. (4) Larangan koitus dan olah raga. (5) Terapi dengan hormon progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnyamungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis. 6. Missed abortion Kalau janin muda yang telah mati tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih, maka keadaan itu disebut missed abortion. Sekitar kematian janin kadang-kadang ada perdarahan per vaginam sedikit hingga menimbulkan gambaran abortus imminens. Kalau tidak terjadi abortus dengan pitocin infus ini,sekurang kurangnya terjadi pembukaan yang memudahkan curettage. Dilatasi dapat juga dihasilkan dengan pemasangan laminaria stift. 1) Gejala-gejala selanjutnya ialah : (1) Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorbsi air ketuban dan macerasi janin. (2) Buah dada mengecil kembali. (3) Gejala-gejala lain yang penting tidak ada, hanya ammenorhoe berlangsung terus. Biasanya keaddan ini berakhir dengan abortus yang spontan selambat-lambatnya 6 minggu setelah janin mati. Kalau janin mati pada kehamilan yang masih muda sekali, maka janin lebih cepat dikeluarkan. Sebalikya kalau kehamilan lebih lanjut retensi janin lebih lama. Sebagai batas maksimal retensi janin diambil 2 bulan, kalau dalam 2 bulan belum lahir disebut missed abortion (abortus tertunda). 2) Diagnosa missed abortion adalah : (1) Gejala subyektif kehamilan menghilang (2) Mammae agak mengendor lagi (3) Uterus tidak membesar lagi bahkan mengecil (4) Tes kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang. (5) Dengan ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. (6) Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah ini perlu dilakukan. 3) Penatalaksanaan : Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudatr mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan 7. Abortus infeksiosa, abortus septik Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedangkan abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Penyulit serius pada abortus umumnya terjadi akibat abortus kriminalis. Perdarahan hebat, sepsis, syok bakterial, dan gagal ginjal akut pernah terjadi pada abortus legal tetapi dengan frekuensi yang jauh lebih kecil. Hasil biasanya adalah metritis, tetapi dapat juga terjadi parametritis, peritonitis, endokarditis, dan septikemia. Dari 300 abortus septik di Parkland Hospital, bahkan darah posotif pada seperempatnya. Hampir dua pertiga adalah bakteria anaerob sedangkan koliform juga sering dijumpai. Organisme lain yang dilaporkan menjadi penyebab abortus septik antara lain adalah haemophilus influenzae, campylobacter jejuni, dan streptokokus grup A. Terapi infeksi antara lain adalah evakuasi segera produk konsepsi disertai anti mikroba spektrum luas secara intravena. Apabila timbul sepsis dan syok, perlu diberikan terapi suportif. Abortus septik juga pernah dilaporkan menyebabkan koagulopati intravaskular diseminata. 1) Diagnosa abortus infeksiosa adalah : (1) Abortus yang disertai dengan gejala dan tanda infeksi alat genitalia, seperti panas, takikardi, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar, lembek serta nyeri tekan, dan adanya leukositosis. (2) Apabila terdapat sepsis, penderita tampak sakit berat, kadang-kadang menggigil. (3) Demam tinggi, dan tekanan darah menurun. (4) Untuk mengetahui kuman penyebab perlu dilakukan pembiakan darah dan getah pada serviks uteri. 8. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) : 80 % dari semua abortus, Yaitu: Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat suatu tindakan. Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.  Macam-macam abortus provokatus : 1) Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus. Abortus provocatus artificialis adalah Pengguguran kehamilan, biasanya dengan alat-alat, dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat. Abortus provocatus pada hamil muda (di bawah 12minggu) dapat dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau curettage dengan penyedotan (vakum) atau dengan sendok curet. Pada hamil yang tua (di atas 12 minggu) dilakukan hysterotomi juga dapat disuntikkan garam hypertonis (20%) atau prostaglandin intra-amnial. Indikasi untuk abortus therapeuticus misalnya : penyakit jantung (rheuma), hypertensi essensial, carcinoma daro cervik. Merupakan terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum janin mampu hidup (viabel). Beberapa indikasi untuk abortus terapeutik diantaranya adalah penyakit jantung persisten dengan riwayat dekompensasi kordis dan penyakit vaskuler hipertensi tahap lanjut. Yang lain adalah karsinoma serviks invasif. American College Obstetricians and Gynecologists (1987) menetapkan petunjuk untuk abortus terapeutik : (1) Apabila berlanjutnya kehamilan dapat mengancam nyawa ibu atau mengganggu kesehatan secara serius. Dalam menentukan apakah memang terdapat resiko kesehatan perlu dipertimbangkan faktor lingkungan pasien. (2) Apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan atau incest. Dalam hal ini pada evaluasi wanita yang bersangkutan perluditerapkan kriteria medis yang sama. (3) Apabila berlanjutnya kehamilan kemungkinan besar menyebabkan lahirnya bayi dengan retardasi mental atau deformitas fisik yang berat. 2) Abortus provocatus criminalis. Abortus provocatus criminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum. Abortus provokatus kriminalis adalah interupsi kehamilan sebelum janin mampu hidup atas permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan karena alasan penyakit janin atau gangguan kesehatan ibu. Sebagian besar abortus yang dilakukan saat ini termasuk dalam katagori ini. 2.5 Tabel diagnosa banding perdarahan kehamilan muda Perdaraha Serviks Uterus Gejala/ tanda Diagnosis Tindakan n Bercak tertutup hingga Sesuai Kram perut Abortus dengan usia bawah Uterus lunak gestasi sedang imminens perdarahan Istirahat Hindarkan koitus Laparotomi Sedikit Limbung membesar atau pingsan n ektopik Neri perut yang bawah terganggu Nyeri goyang dan parsial Salpingekto porsio Masa mi dari normal Kehamila Obserasi mi Salpingosto adneksa Cairan bebas intraabdome n Tertutup/terbuka Lebih kecil Sedikit/tanpa dari usia nyeri gestasi Abortus perut komplit bawah Riwayat Tidak perlu terapi spesifik kecuali ekspulsi hasil perdarahan konsepsi berlanjut atau terjadi Sedang hingga masif/ banyak Terbuka Sesuai usia Kram kehamilan atau Abortus nyeriperut bawah Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi insipiens infeksi Evakuasi Kram atau Abortus nyeri perut inkomplit Evakuasi bawah Ekspulsi sebagian hasil konsepsi Terbuka Lunak dan Mual/ lebih Abortus besar muntah mola Kram perut dari usia bawah gestasi Sindroma Evakuasi Tatalaksana mola mirip preeklamsi Tak ada janin keluar jaringan seperti anggur 2.6 Komplikasi Akibat Abortus Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok. 9. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu diberikan transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. 10. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. 11. Infeksi Sejumlah penyakit kronik diperkirakan dapat menyebabkan abortus. Brucella abortus dan Campylobacter fetus merupakan kausa abortus pada sapi yang telah lama dikenal,tetapi keduanya bukan kausa signifikan pada manusia. Bukti bahwa toxoplasma gondii menyebabkan abortus pada manusia kurang meyakinkan.tidak terdapat bukti bahwa Listeria monocytogenes atau Chlamydia trachomatis menyebabkan abortus pada manusia. Herpes simpleks dilaporkan berkaitan dengan peningkatan insidensi abortus setelah terjadi infeksi genital pada awal kehamilan. Abortus spontan secara independen berkaitan dengan antibodi virus imunodefisiensi manusia (HIV-1) dalam darah ibu, seroreaktivitas sifilis pada ibu, dan kolonisasi vagina pada ibu oleh streptokokus grup B. 12. Syok Syok pada abortus dapat terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dank karena infeksi berat (syok endoseptik). BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Abortus merupakan ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. 2. Terdapat beberapa macam abortus diantaranya, 3. Adapun berbagai macam penenyebab abortus yaitu, kelainan hasil konsepsi, kelainan plasenta, faktor maternal, kelainan traktus genitalia, trauma, faktor-faktor hormonal, sebabsebab psikosomatik, sebab dari janin, dan lain-lain 3.2 Saran Berhati-hatilah dalam menjaga kandungan dan harus waspada terhadap setiap komplikasi yang terjadi DAFTAR PUSTAKA Mansjoer,Arif,dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga, jilid I, FKUI. Jakarta: Media Aesculapius. Morgan, geri & Carole hamilton. 2009. Obstetri & Ginekologi. Jakarta : EGC. Prawirohardjo, sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka. Prawirohardjo, sarwono. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : PT. Bina Pustaka.