You are on page 1of 26

SKENARIO 6

Seorang Ibu berumur 35 tahun ingin merawatkan gigi depan atas kiri yang
berlubang besar sehingga merasa malu bila tertawa. Gigi tersebut awalnya terasa ngilu
saat minum dingin dan makan manis, tetapi sekarang tidak terasa sakit sama sekali. Hasil
pemeriksaan klinis menunjukkan karies profunda pada gigi 21. Tes termal tidak terasa, tes
perkusi dan tekan tidak sakit, tes jarum masuk 18 mm terasa sakit. Hasil foto ronsen
menunjukkan gambaran seperti di bawah. Setelah ditentukan diagnosanya, dokter
melakukan perawatan saluran akar terlebih dahulu sebelum membuatkan restorasi pada
gigi tersebut.

Step 1
Tidak ditemukan kata sulit

Step 2
1. Pada skenario, pasien awalnya merasakan giginya ngilu saat minum dingin dan
makan manis, namun sekarang tidak terasa sakit. Mengapa hal itu bisa terjadi?
2. Pemeriksaan apakah yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
1

3. Apakah diagnosis dari kasus pada skenario?
4. Bagaimana prognosa dan rencana perawatan yang sesuai dengan kasus pada
skenario?
5. Mengapa dilakukan Perawatan Saluran Akar sebelum restorasi gigi? Apakah ada
rencana perawatan lain yang dilakukan selain PSA dan restorasi gigi?

Step 3
1. Pada skenario, pasien awalnya merasakan giginya ngilu saat minum dingin dan
makan manis, namun sekarang tidak terasa sakit. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Pada karies yang masih dini, gigi masih berada dalam kondisi vital, sehingga
pasien masih merasakan ngilu bila terkena rangsangan. Namun apabila karies itu
semakin dalam, lama-kelamaan dapat menyebabkan gigi menjadi non vital,
sehingga rasa nyeri pun menghilang.
Selain itu pada kasus karies preforasi yang mengenai lebih dari setengah dentin,
pasien dapat merasakan ngilu karena adanya rangsangan yang mengenai tubulitubuli dentin dimana disana terdapat saraf-saraf yang menyebabkan pasien dapat
merasakan ngilu. Bila karies telah mencapai pulpa, inflamasi yang terjadi karena
adanya infeksi oleh karies, dapat juga menyebabkan rasa sakit.
Pada gigi yang karies, kondisi pada giginya adalah asam dimana dapat mengiritasi
jaringan pulpa sehingga menyebabkan ngilu. Endotoksin dari bakteri juga dapat
menyebabkan infeksi yang merangsang ngilu.
2. Pemeriksaan apakah yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
Pemeriksaan yang dilakukan:
 Pemeriksaan subjektif, terdiri dari: keluhan utama, riwayat dari keluhan
utama, perawatan gigi yang pernah dilakukan, penyakit sistemik yang

diderita pasien.
Pemeriksaan objektif
-Pemeriksaan ekstraoral: bentuk wajah (asimetris atau tidak), kelenjar
limfe (submental, submandibula), kelenjar saliva.
-Pemeriksaan intraoral:
 Secara visual, pada jaringan lunak, dilihat apakah ada perubahan
warna maupun kontur. Dilihat juga bila ada kelainan pada jaringan

2

Lalu dilakukan tes jarum miller dan jarum masuk ke dalam kavitas. Biasanya yang dilihat pertama adalah gigi yang   mengalami keluhan. Dilakukan foto rontgen untuk mendapatkan gambaran seberapa jauh jarum miller masuk. Dilakukan tes termal (hasilnya negatif). Kebersihan rongga mulut (pemeriksaan OHI-S) Pemeriksaan gigi geligi Kedalaman karies.kerasnya. dilanjutkan tes kavitas hasilnya juga negatif. dan secara visual terlihat bila kariesnya profunda. Pemeriksaan penunjang. perkusi. jaringan periodontal. Dilakukan untuk mendukung dari tes jarum miller. kegoyahan. Bagaimana prognosa dan rencana perawatan yang sesuai dengan kasus pada skenario? Rencana perawatan yang dilakukan:  Pulpektomi 3 . menggunakan radiografi. tekstur. 4. BOP. Gigi yang menjadi keluhan dilihat pertama kali. fraktur mahkota Tes vitalitas: o Tes panas menggunakan guttap percha yang dipanaskan. resorpsi internal. tahapan pemeriksaan yang dilakukan.   Pemeriksaan jaringan periodontal Warna. sakit/tidak. 3. konsistensi. didapatkan hasil. resesi gingival. pembesaran. o Tes dingin menggunakan chlor ethil o Vitalitester o Tes kavitas o Tes jarum miller Pada skenario. Dibersihkan dengan rub. maupun dari hasil tes vitalitas yang dilakukan. periapikal. Dilihat dari interpretasi pada gambaran radiologi. mengetahui keadaan ruang pulpa. fraktur akar). supurasi. Apakah diagnosis dari kasus pada skenario? Diagnosis sementara dari skenario yaitu nekrosis pulpa parsialis. probing depth. tekan. saluran akar (dilihat ada tidaknya kebuntuan pada saluran akar.

jaringan yang terinfeksi maupun mikroorganisme yang tersisa karena adanya karies. Apabila tidak dilakukan PSA terlebih dahulu. Mengapa dilakukan Perawatan Saluran Akar sebelum restorasi gigi? Apakah ada rencana perawatan lain yang dilakukan selain PSA dan restorasi gigi? Perawatan yang dilakukan terlebih dahulu adalah perawatan saluran akar.Tidak ada resorpsi tulang alveolar. Perawatan saluran akar ditujukan untuk menggantikan jaringan pulpa yang nekrotik dengan bahan yang steril. Usia pasien yang masih tergolong dewasa muda. Sedangkan apabila jaringan periodontalnya rusak dan gigi tidak bisa dipertahankan. 5. 4 . tidak ada kerusakan jaringan periodontal. membuat perawatan yang dilakukan menjadi lebih mudah. Sehingga masih bisa dirawat PSA (Perawatan Saluran Akar). Dari gambaran radiografi tidak terlihat adanya resorpsi tulang alveolar maupun kerusakan jaringan periodontal. Prognosa baik. Restorasi tetap yang bisa dilakukan yaitu mahkota pasak maupun mahkota jaket. sebelum dilakukan perawatan restorasi gigi. Menyebar ke periapikal dan jaringan periodontal. Perawatan lain yang bisa dilakukan dilihat dari kondisi giginya. baik horizontal maupun oblique (dimana resorpsi tulang oblique prognosisnya menjadi lebih buruk dibandingkan resorpsi tulang horizontal). akan masuk ke saluran akar. Untuk gigi yang non vital dapat dilakukan endointrakanal. maka bisa dilakukan ekstraksi.

Ujung jarum belum sampai apeks. Tiga teori rasa sakit pada gigi Learning Objective 5 .Awalnya ngilu.Tes termal (-) .Perkusi dan palpasi (-) .Saluran akar normal .Tes jarum miller 18 mm terasa sakit .Tes kavitas (-) . . .Gigi depan kiri berlubang besar.Tidak ada kelainan periodontal . Derajat kegoyangan gigi menurut Carranza 2. sekarang tidak .Kehilangan setengah korona gigi Nekrosis pulpa parsialis Diagnosa Rencana Perawatan Pulpektomi Mahkota Pasak Prognosis Baik Step 5 PR 1.Step 4 Mapping Pasien datang Pemeriksaan Subjektif Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan Penunjang .

tidak ada rasa tidak nyaman yang berlangsung lama sekali jika stimulus dihilangkan. atau osmotik dan tidak disebabkan oleh defek pada gigi atau suatu keadaan patologis lainnya. 2. Kegoyangan gigi dibedakan menjadi :    Derajat 1 – kegoyangan gigi yang sedikit lebih besar dari normal Derajat 2 – kegoyangan gigi sekitar 1 mm Derajat 3 – kegoyangan gigi lebih dari 1 mm pada segala arah atau gigi dapat ditekan ke arah apikal. taktil. prognosis dari kasus di skenario. Derajat Kegoyangan Gigi Kegoyangan gigi dapat diperiksa secara klinis dengan 2 cara. dan sudah parah dan menyebabkan rasa yang tajam pada penerapan stimulus pada dentin terekspos. rencana perawatan. Mahasiswa mampu menentukan prosedur pemeriksaan yang tepat untuk menegakkan diagnosis. Rasa nyeri ini konsisten dengan respon berlebihan dari kompleks pulpodentinal yang normal. rangsang kimia. Namun. Teori rasa sakit pada gigi Istilah hipersensitivitas dentin telah digunakan untuk menggambarkan kondisi spesifik yang didefinisikan sebagai nyeri yang timbul dari dentin yang terekspos. 2. Step 6 Mandiri Step 7 PR 1. Mahasiswa mampu menentukan diagnosis. Biasanya rasa nyeri timbul setelah mendapatkan rangsang termal. yang pertama gigi dipegang dengan kuat diantara dua instrumen dan yang kedua dengan satu instrumen dan satu jari dan diberikan sebuah usaha untuk menggerakkannya ke segala arah.1. Ada beberapa teori yang telah diajukan dan setiap teori memiliki kekurangan sehingga mendukung anggapan bahwa keadaan itu ditimbulkan oleh 6 .

Namun. Mekanismenya: Lesi di email dentin serat tomes lapisan odontoblas pulpa (menerima kesan nyeri spesifik) serabut bermielin tipe A dan serabut tidak bermielin tipe C) cornu medula spinalis sel saraf pada neuron motorik neuron sensorik sensasi nyeri. Ketiga mekanisme yang telah diajukan tersebut adalah: (1) persarafan langsung dari dentin. dan (3) teori hidrodinamik. Lebih jauh lagi. zat penimbul nyeri atau zat pereda nyeri yang diaplikasikan ke dentin tidak menimbulkan potensial aksi (respons saraf). Odontoblas sebagai Reseptor Teori ini awalnya timbul ketika diketahui bahwa secara embriologi odontoblas berasal dari batang saraf dan bahwa pewarnaan odontoblas untuk asetilkolin adalah positif. stimulasi langsung dari saraf-saraf ini tidak merupakan mekanisme utama dalam menimbulkan sensitivitas dentin. di PED atau PSD. Oleh karena itu. tidak seperti pada jaringan yang mengandung saraf lainnya. 7 . Mekanismenya: Lesi di email dentin perpanjangan cornu medula spinalis anterior neuron motorik saraf di gerak odontoblas refleks & sensasi nyeri. 1. 2. konsensusnya adalah bahwa walaupun saraf yang berasal dari trigeminus memang terdapat di dentin. Persarafan Langsung Saraf memang ada di dentin. teori ini memperoleh kredibilitasnya kembali ketika ditemukan bahwa pada beberapa gigi prosesus odontoblas benar-benar berada sepanjang ketebalan dentin dan bahwa gap junction benar-benar ada di antara odontoblas dan mungkin antara odontoblas dengan saraf. (2) odontoblas sebagai restptor.lebih dari satu mekanisme. Saraf tidak dijumpai di sepertiga-luar. penelitian yang kemudian dilakukan menunjukkan bahwa prosesus odontoblas tidak mengisi seluruh dentin dan bahwa potensial membran odontoblas masih terlalu rendah bagi berlangsungnya transduksi. yang merupakan daerah yang sangat sensitif. saraf-saraf ini hanya terdapat di predentin dan sepertiga-dalam dari dentin termineralisasi. Walaupun demikian. Akan tetapi.

8 . Dan respon rasa nyeri tersebut akan menghebat jika dentinnya terbuka. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon terhadap perubahan temperatur.3. Teori Hidrodinamik Teori hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan dentin ke tubulus dentin. sedang dingin mengerutkan cairan dentin. Panas mengembangkan cairan dentin. dingin. memotong tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar. Menurut teori hidrodinamik. tekanan. pemotongan dentin. Mekanismenya: Lesi di email dentin pada odontoblas bermielin tipe C) motorik cairan tubulus dentin begerak naik turun pulpa sel saraf serabut bermielin tipe A dan serabut tidak neuron sensorik cornu medula spinalis neuron sensasi nyeri. dan probing dentin. rangsangan dingin menyebabkan gerakan cairan tubuli dentin yaitu mengerutkan cairan tubuli dentinalis yang kemudian gerakan tersebut mengakibatkan distorsi ujung saraf di daerah pleksus saraf subodontoblas (pleksus Raschkow) yang kemudian akan menimbulkan impuls saraf dan menghasilkan rasa nyeri. Beberapa penyebab timbulnya rasa nyeri pada pulpa adalah panas. yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu ke arah luar (permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau pulpa. dan melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. atau mekanik yang menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di dekatnya. Teori hidrodinamik mempostulasikan bahwa pergerakan cairan yang cepat di dalam tubulus dentin (ke luar dan ke dalam) yang akan mengakibatkan distrosi ujung saraf di daerah pleksus saraf subodontoblas (pleksus Raschkow) yang akan menimbulkan impuls saraf dan sensasi nyeri.

 Perawatan yang Pernah Dilakukan Jenis perawatan sebelumnya dalam bidang kedokteran gigi yang pernah dilakukan pasien. kapan pertama kali rasa sakit timbul. Jika pasien tidak mengetahui jenis perawatannnya.Gambar 1-Teori rasa sakit pada gigi Mahasiswa mampu menentukan prosedur pemeriksaan yang tepat untuk menegakkan diagnosis Pemeriksaan Subjektif  Keluhan utama Merupakan keluhan utama tentang penyakit atau kelainan yang dirasakan saat penderita datang. Mengungkap riwayat medis berupa rasa sakit sesuai dengan bahasa penderita. berapa lama rasa sakitnya dan apa penyebab rasa sakitnya. bagaimana rasa sakitnya. tanyakan tindakan apa yang pernah dilakukan oleh operator terdahulu 9 .  Riwayat penyakit Menggambarkan proses perjalanan penyakit. meliputi lokasi gigi yang dikeluhkan.

Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan pada arteri radialis (pergelangan tangan). R: Laju pernapasan merupakan frekuensi pernapasan. Respirasi normal atau pernafasan normal untuk orang dewasa adalah 12 – 20 kali per menit. anoreksia. dll. Hal ini untuk menilai/mengetahui kemampuan tubuh pasien dalam menerima prosedur perawatan yang akan diberikan. atau kondisi medis lainnya. arteri brakialis (siku). letih. demam atau karena penyakit paru. Pemeriksaan Objektif 1. N: Denyut nadi merupakan frekuensi pemompaan jantung pada arteri. Pada bayi dan anak – anak laju perapasan normal lebih tinggi daripada orang dewasa. Pengukuran ini juga bermanfaat untuk 10 . dan pengukuran ini juga dapat menilai sulit tidaknya seseorang bernapas. lemah. arteri karotis (leher). Pengukuran denyut nadi dilakukan dengan menggunakan stetoskop atau menggunakan jari yang ditekankan pada nadi penderita selama 60 detik. Riwayat Kesehatan Umum (Penyakit Sistemik/Alergi) Menanyakan penyakit-penyakit sistemik yang mungkin diderita. Jika pasien tidak mengetahui penyakinya maka bisa ditanyakan dengan cara menggali informasi berupa gejala yang pernah di alami pasien. arteri poplitea (belakang lutut) atau arteri dorsalis pedis (kaki). Keadaan Umum a) Kondisi fisik: Pada pemeriksaan kondisi fisik diamati keadaan fisik pasien secara umum: apakah pasien tampak pucat. Alergi yang dituliskan dalam status penerita adalah alergi bahan keokteran gigi dan obat yang terkait dengan penggunahan bahan dan obat dalam perawatan. Pengukuran laju pernapasan dilakukan dengan menghitung jumlah pengembangan dada seseorang untuk menarik napas dalam waktu satu menit. Laju pernapasan dapat mengalami peningkatan dengan olahraga. b) Tanda-tanda vital: TD: Tekanan darah yang diperiksa pada pasien untuk mengetahui tekanan darah sistol dan diastol. Pengukuran dilakukan pada saat istirahat.

disebut juga dengan Detak Jantung Normal. Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal. Pengukuran suhu tubuh dilakukan dengan menggunakan alat ukur shu yang disebut dengan Termometer. dubur. emosi. Denyut nadi ini dapat mengalami peningkatan dengan olahraga. ketiak. jika suhu tubuhnya < 36 C Seseorang dikatakan bersuhu tubuh tinggi/panas jika: – Dema : Jika bersuhu 37.menentukan irama dan kekuatan nadi. Pemeriksaan tinggi badan pada pasien. Frekuensi denyut kurang dari 60 x per menit disebut bradikardia (pulsus rasus). 2. 2. pada saat sakit. Denyut nadi normal untuk orang dewasa adalah 60 – 100 kali per menit. Kelenjar Limfe: Pada pemeriksaan kelenjar limfe dipalpasi apakah kelenjar 11 . atau mengalami cedera. Wajah yang tidak simetris dapat mengindikasikan adanya suatu pembengkakan karena infeksi atau adanya keganasan. telinga. Tergantung jenis termometer yang digunakan pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan melalui mulut. T: Suhu tubuh merupakan ukuran panas badan seseorang.5 C – 38 C – Febris : Jika bersuhu 38 C – 39 C – Hypertermia : Jika bersuhu > 40 C BB: TB: Pemeriksaan berat badan pada pasien. Ukuran yang abnormal dapat mengindikasikan kelainan seperti hidrosefalus. dan kulit dahi. jika suhu tubuhnya berada pada 36 C – 37.5 C Seseorang dikatakan bersuhu tubuh rendah (hypopirexia/hypopermia). Klinis a) Ekstra Oral 1. Kepala dan Leher: Pada pemeriksaan kepala diamati ukuran dari kepala pasien. Wajah: Pada pemeriksaan wajah diamati bagaimana kesimetrisan wajah pasien dengan membandingkan sisi muka pasien sebelah kiri dengan sebelah kanan. hipersefalus. dll. Pada pemeriksaan leher dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pembengkakan patologis yang diakibatkan penyebaran infeksi maupun keadaan keganasan. frekuensi denyut lebih dari 100 x per menit disebut takikardia (pulsus frequent).

deviasi atau displacement pada sendi tempora mandibular. 3. mobilitas. Pembesaran dapat dikarenakan penyebaran (metastase) infeksi atau tumor ganas di kelenjar limfe tersebut. Sondasi Sondasi merupakan pemeriksaan menggunakan sonde dengan cara menggerakkan sonde pada area oklusal atau insisal untuk mengecek apakah ada suatu kavitas atau tidak. Terkadang pemeriksaan ini mendapatkan hasil yang bias dan membingungkan diagnosis. Kelenjar saliva: Pemeriksaan saliva dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada kelenjar saliva dengan palpasi kelenjar saliva. Sendi tempora mandibular: Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan seperti clicking. b) Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dilakukan dalam mulut pasien untuk mengetahui kondisi rongga mulut pasien. 3. Beberapa pemeriksaan yang dilakukan di dalam rongga mulut pasien diantaranya: 1.tersebut teraba atau tidak. Perkusi Perkusi dilakukan dengan cara memberi pukulan cepat tetapi tidak keras dengan menggunakan ujung jari. 4. peningkatan suhu. Gigi yang dipukul bukan hanya satu tetapi gigi dengan jenis yang sama pada regio sebelahnya. 2. popping. Probing Probing bertujuan untuk mengukur kedalaman jaringan periodontal dengan menggunakan alat berupa probe. Cara lain untuk memastikan ada tidaknya kelainan yaitu dengan mengubah arah pukulannya yaitu mula-mula dari permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau lingual mahkota. Cara yang dilakukan dengan 12 . Ketika melakukan tes perkusi dokter juga harus memperhatikan gerakan pasien saat merasa sakit. Bila kelenjar teraba diperiksa juga adakah nyeri tekan. Selain menggunakan ujung jari pemeriksaan ini juga sering dilakukan dengan menggunakan ujung instrumen. atau adanya penyakit di kelenjar limfe itu sendiri. kemudian intensitas pukulan ditingkatkan. perubahan warna kulit.

mengetahui apakah gigi terikat kuat atau longgar pada menggerakkan alveolusnya. Mengisolasi daerah gigi yang akan diperiksadengan 2. Aplikasi tes dingin dilakukan dengan cara sebagai berikut. makin jelek status periodontalnya. yaitu etil klorida. gigi ke arah Tes mobilitas lateral dalam dilakukan dengan soketnya dengan menggunakan jari atau tangkai dua instrumen. dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan. Apabila menggunakan etil klorida maupun refrigerant 13 . 3. 4. menggunakan cotton roll maupun rubber dam. derajat kedua apabila gerakan gigi dalam jarak 1 mm bahkan bisa bergerak dengan sentuhan lidah dan mobilitas derajat ketiga apabilagerakan lebih besar daripada 1 mm atau bergerak ke segala arah. Tes vitalitas terdiri dari empat pemeriksaan. Hasil tes mobilitas dapat berupa tiga klasifikasi derajat kegoyangan.  Tes termal. Sedangkan tes depresibilitas dilakukan dengan menggerakkan gigi ke arah vertikal dalam soketnya menggunakan jari atau instrumen. tes jarum miller dan tes elektris. yaitu tes termal. salju karbon dioksida (es kering) dan refrigerant (-50oC). Derajat pertama sebagai gerakan gigi yang nyata dalam soketnya. Tes mobilitas – depresibilitas Tes mobilitas dilakukan untuk mengetahui integritas apparatus-aparatus pengikat di sekeliling gigi.memasukan probe ke dalam attached gingiva. Jumlah gerakan menunjukkan kondisi periodonsium. kemudian mengukur kedalaman poket periodontal dari gigi pasien yang sakit. 1. Tes vitalitas Tes vitalitas merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah suatu gigi masih bisa dipertahankan atau tidak. merupakan tes kevitalan gigi yang meliputi aplikasi panas dan dingin pada gigi untuk menentukan sensitivitas terhadap perubahan termal. 5. Tes dingin. makin besar gerakannya. tes kavitas. a. Mengeringkan gigi yang akan dites.

Mengoleskan cotton pellet pada sepertiga servikal gigi. pemeriksaan ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah apabila stimulus yang diberikan terlalu berlebih. Tes elektris ini 14 . Tes panas dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan yaitu gutta perca panas. pulpitis reversible). Pemeriksaan dilakukan dengan mengisolasi gigi yang akan di periksa.dapat dilakukan dengan menyemprotkan etil klorida pada cotton pellet. Apabila pasien merespon ketika diberi stimulus dingin dengan keluhan nyeri tajam yang singkat maka menandakan bahwa gigi tersebut vital. Mencatat respon pasien. Alatnya menggunakan Electronic pulp tester (EPT). 4.apa menandakan gigi sudah non vital (nekrosis pulpa). untuk stimulasi saraf ke tubuh. alat touch and heat dan instrumen yang dapat menghantarkan panas dengan baik. b. Rasa nyeri yang tajam dan singkat ketika diberi stimulus gutta perca menandakan gigi vital (pulpa normal. Respon negatif palsu dapat terjadi karena tes dingin diaplikasikan pada gigi yang mengalami penyempitan (metamorfosis kalsium). merupakan tes yang dilakukan untuk mengetes vitalitas gigi dengan listrik. Kemudian gutta perca dipanaskan di atas bunsen. Selanjutnya gutta perca diaplikasikan pada bagian okluso bukal gigi. Apabila tidak ada respon maka oleskan pada sepertiga servikal bagian bukal. Gutta perca merupakan bahan yang paling sering digunakan dokter gigi pada tes panas. compound panas. Respon dapat berupa respon positif palsu apabila aplikasi tes dingin terkena gigi sebelahnya tau mengenai gingiva. Apabila tidak ada respon atau pasien tidak merasakan apa-apa maka gigi tersebut nonvital atau nekrosis pulpa.  Tes elektris. nyeri berkepanjangan menandakan peradangan irreversible sebaliknya respon negatif atau tidak merasakan apa. Tes panas. 5.

Akar gigi yang belum immature. kontak dengan jaringan lunak atau restorasi. Tes elektris tidak dapat dilakukan pada gigi restorasi. Gigi dikatakan vital apabila terasa kesemutan.  Tes jarum miller. pengeburan diteruskan sampai perforasi pulpa dan ditemukan semua orifis gigi yang dites. Untuk gigi posterior bengkokan jarum miller yang sudah ditandai stopper. geli. orifis. teruskan ke saluran akar sampai timbul rasa sakit. bertujuan untuk mengetahui vitalitas gigi dengan cara melubangi gigi. keramik. tetapi tidak boleh mengenai jaringan lunak. ganti stopper dengan gutta percha.dilakukan dengan cara gigi yang sudah dibersihkan dan dikeringkan disentuh dengan menggunakan alat EPT pada bagian bukal atau labial. Bila tidak terasa sakit. Tes ini dilakukan sebanyak tiga kali supaya memperoleh hasil yang valid. lanjutkan sampa panjang rata-rata gigi.  Tes kavitas. atau logam. kesalahan isolasi. Tes ini tidak boleh dilakukan pada orang yang menderita gagal jantung dan orang yang menggunakan alat pemacu jantung. beri tanda negatif (-) bila ujung jarum belum mencapai apikal gigi beri tanda positif (+). atau hangat dan gigi dikatakan non vital jika sebaliknya. Bila ujung jarum sudah mencapai apikal gigi. Tes elektris ini terkadang juga tidak akurat karena beberapa faktor antara lain. Bila tidak terasa sakit. Jika tidak merasakan rasa sakit dilanjutkan dengan tes jarum miller. Sebelum alat ditempelkan. 15 . gigi yang sudah dibersihkan diberi konduktor berupa pasta gigi. Cara melakukan tes jarum miller yaitu dengan memasukkan jarum miller paling kecil yang diberi stopper karet ke kavitas. Hasil vital jika terasa sakit dan tidak vital jika tidak ada sakit. gigi yang trauma dan baterai habis. karena stimulasi listrik tidak dapat melewati akrilik. diindikasikan pada gigi yang terdapat perforasi akibat karies atau tes kavitas. Cara melakukan tes kavitas adalah dengan melakukan pengeburan pada dasar kavitas menggunakan bur bulat atau silindris sampai timbul rasa sakit.

2. didapatkan: 16 . apakah ada riwayat penyakit sistemik. Dilakukan tes vitalitas. pasien merasakan sakit. Ditanyakan pula. dikarenakan pada usia 35 tahun. Intraoral: Secara klinis. Ada karies dengan kedalaman lebih dari 4 mm pada gigi anterior. dan dilanjutkan tes kavitas. Dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi untuk melihat seberapa dalam karies. Tes penunjang radiologi. Sebelumnya juga dilakukan pemeriksaan pada kondisi jaringan periodontalnya. dengan melakukan tes perkusi. kemungkinan adalah karies profunda. Dilakukan tes jarum miller. lalu dilanjutkan pemeriksaan kedalaman karies menggunakan probe.Pemeriksaan yang sesuai dengan skenario: 1. kegoyangan gigi. tetapi sekarang tidak terasa sakit sama sekali. Pemeriksaan Objektif. rencana perawatan. Hasilnya juga negatif (-). karena berdasarkan anamnesis. Hasil pemeriksaan akan menentukan rencana perawatan. Dilakukan anamnesa pada pasien. biasanya rentan akan diabetes mellitus maupun hipertensi. Pemeriksaan Subjektif. prognosis dari kasus di skenario. juga dimaksudkan untuk mendiagnosa ada tidaknya kelainan pada periapikal. didapatkan hasil tes termal negatif (-). Diperiksa indeks OHI-S. Gigi tersebut awalnya ngilu saat minum dingin dan makan manis. Dari pasien didapatkan informasi mengenai gigi depan atas kiri yang berlubang besar sehingga malu bila tertawa. Ekstraoral: Pemeriksaan ekstraoral tidak perlu dilakukan pemeriksaan. Tes kavitas dilakukan hingga gigi preforasi. Didapatkan hasil tes jarum miller masuk 18 mm terasa sakit. dilihat langsung pada gigi yang menjadi keluhan. tidak didapatkan keluhan sakit spontan maupun riwayat bengkak. tes tekan. Diagnosa Berdasarkan kasus yang ada pada skenario. selain digunakan untuk menunjang tes jarum miller. Dilakukan pembersihan karies. Mahasiswa mampu menentukan diagnosis.

maka inflamasi pada pulpa akan bertambah parah dan dapat terjadi perubahan sirkulasi darah di dalam pulpa yang pada akhirnya menyebabkan nekrosis pulpa. atrisi dan abrasi. Dari tubulus dentin inilah infeksi bakteri dapat mencapai jaringan pulpa dan menyebabkan peradangan. mula-mula terhadap jaringan pulpa kemudian terhadap jaringan sekitar akar. Nekrosis pulpa pada dasarnya terjadi diawali karena iritasi mikroba pada jaringan pulpa. hal ini memudahkan infeksi bakteri ke jaringan pulpa yang menyebabkan radang pada jaringan pulpa. dapat sebagian atau seluruhnya. fraktur dentin. Diagnosa nekrosis pulpa harus dibedakan dengan diagnosis pulpa yang lain yaitu pulpa normal adalah pulpa yang bebas dari tanda atau gejala dan secara normal merespon terhadap EPT.Tes termis. Hal ini bisa terjadi akibat adanya kontak antara jaringan pulpa dengan lingkungan oral. tes kavitas tidak terasa sakit (negatif) dan tes jarum miller tidak terasa sakit. ketika dievaluasi dengan thermal test. Gambaran ronsen menunjukan ujung miller belum mencapai ujung apikal gigi. namun sakit saat kedalaman 18 mm. keluhan sakit terjadi bila terdapat keradangan periapikal. Tipe parsial dapat memperlihatkan gejala pulpitis yang irreversibel. Pemeriksaan perkusi tidak didapatkan rasa nyeri dan pemeriksaan palpasi juga tidak terdapat pembengkakan serta mobilitas gigi normal.  Diagnosa sebagai nekrosis pulpa parsialis Nekrosis pulpa adalah kematian pulpa. proses erosi. pulpa yang normal akan menghasilkan respon positif dan respon yang tidak sensitif dengan tes perkusi dan palpasi. Karies dentis dan mikroorganisme di dalam saluran akar merupakan sumber utama iritan mikroba. Apabila tidak dilakukan penanganan. yaitu terbukanya tubulus dentin dan terbukanya pulpa. Nekrosis pulpa dapat terjadi parsial atau total. Tubulus dentin dapat terbuka sebagai hasil dari prosedur operatif atau prosedur restoratif yang kurang baik atau akibat material yang bersifat iritatif. Keluhan subjektif pada nekrosis pulpa yaitu tidak ada gejala rasa sakit. sedangkan nekrosis pulpa yang total biasanya tidak menunjukkan gejala (asimptomatis) kecuali inflamasi atau peradangan telah berlanjut ke jaringan periradikuler. Dibedakan dengan pulpitis irreversibel yaitu merupakan suatu akibat dari proses inflamasi pulpa yang berlangsung terus menerus yang dengan thermal test pasien 17 . Pemeriksaan rontgen gigi terlihat normal kecuali bila terdapat kelainan periapikal maka dapat terjadi perubahan berupa gambaran radiolusen pada lesi. Bisa juga diakibatkan karena fraktur pada enamel.

Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa. Perawatan Endodontik Perawatan endodontik merupakan perawatan atau tindakan pencegahan untuk mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologik oleh jaringan sekitarnya. terdapat 787 (56. Karies yang luas. Ngangi dkk (2012) dalam penelitiannya menunjukkan nekrosis pulpa merupakan penyakit terbanyak dalam kasus kedokteran gigi. Pulpitis Ireversibel merupakan indikasi paling kuat untuk dilakukan perawatan endodontik. Indikasi Perawatan Endodontik: a. Saluran akar yang dapat dimasukkan instrumen. DHE Dental Health Education atau pendidikan kesehatan gigi adalah suatu proses belajar yang ditujukan kepada individu dan kelompok masyarakat untuk mencapi derajat kesehatan gigi yang setinggi-tingginya. Sehingga diharapkan pasien dapat meningkatkan kesehatan rongga mulutnya dan menghilangkan atau megurangi penyakit gigi dan mulut dan gangguan lainnya pada gigi dan mulut. Tercatat 1389 kasus. nekrosis sebagian maupun gigi sudah nonvital.73%). baik pada gigi vital. lalu 141 (10. d. e.65%) kasus pencabutan dengan diagnosis nekrosis pulpa. disengaja atau alasan prostodontik dan kegagalan perawatan saluran akar. 2.biasanya akan mengeluh oleh karena ketidaknyamanan pada saat pemeriksaan yang bahkan tetap terasa setelah pemeriksaan dengan kata lain ketidaknyamanan yang dirasakan menetap . c. 18 . Rencana Perawatan 1. diikuti oleh periodontitis marginalis kronis 163 kasus (11.51%) kasus pulpitis ireversibel. Kelainan jaringan periapeks pada gambaran radiografi kurang dari sepertiga apeks. diikuti oleh nekrosis pulpa. gigi retak.responsif dengan EPT. Email yang tidak di dukung oleh dentin. sensitif atau mungkin tidak sensitif dengan tes perkusi dan palpasi dan pasien mungkin memiliki riwayat sakit yang spontan pada gigi yang bersangkutan. b.

Irigasi dilakukan setiap :  Pergantian file pada saat preparasi saluran akar  Pada saat akan melakukan perbenihan  Sterilisasi saluran akar Bahan irigasi yang digunakan :  H2O2 3%  Aquadest steril  NaOCl Alat irigasi yang digunakan : 19 . karena dalam pengamatan dikatakan bahwa makin besar jumlah kerusakan tulang yang rusak. Bila apeks akar mengalami fraktur. Kondisi pasien baik j. dentin sekunder. atau suatu instrumen yang patah. i. k. g. serbuk dentin. Bila saluran akar gigi tanpa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang oleh akar berkurva/bengkok. Keadaan ekonomi pasien memungkinkan. Mahkota gigi masih bisa direstorasi dan berguna untuk keperluan prostetik (untuk pilar restorasi jembatan). gigi malposisi. Bila dijumpai kerusakan luas jaringan periapikal yang melibatkan lebih dari sepertiga panjang akar. Kontraindikasi Perawatan Endodontik : a. makin kecil kemungkinan untuk diperbaiki. Pasien ingin giginya di pertahankan dan bersedia untuk memelihara kesehatan gigi dan mulutnya.f. akar berliku-liku. Foto rontgen menunjukan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apikal. Prosedur Teknik Konvensional pada Gigi Permanen : Irigasi Saluran Akar Irigasi saluran akar bertujuan untuk mengeluarkan sisa jaringan nekrotik. h. Gigi tidak goyang dan periodonsium normal. tidak ada granuloma pada gigi sulung. Kasus seperti ini merupakan luar biasa. dan kotoran-kotoran lain yang terdapat di saluran. c. kanal yang mengapur atau sebagian mengapur. b.

Bahan irigasi yang terakhir disemprotkan ke dalam saluran akar harus aquadest steril. Tidak boleh pakai hembusan udara A. saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point. Jarum irigasi yang masuk kedalam saluran akar tidak boleh terlalu besar sehingga membuntu saluran akar yang akan mengakibatan cairan irigasi yang disemprotkan tidak mengalir keluar. digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang dikombinasikan pada saat dilakukan devitalisasi.) Bahan devitalisasi 20 . Tidak boleh terkontaminasi dengan saliva.)  Antibiotik ( membunuh bakteri ex : septomixine dan ledermix .) Preparat poliantibiotik : Grossman :  Penisilin ( efektif terhadap gram (+)  Streptomysin ( efektif terhadap gram (–)  Sodium kapsilat ( efektif terhadap jamur ) Kombinasi antibiotik kortikosteroid :  Kortikosteroid ( mengurangi keradangan periapikal .  Setelah irigasi.5 cc dengan jarum yg dibengkokan dan ujungnya ditumpulkan  Alat irigasi yang dipakai harus diberi tanda untuk membedakan isi cairan irigasi yang dipakai  Alat irigasi disimpan dalam botol tertutup berisi alkohol 70% agar tetap terjaga sterilisasinya Cara irigasi :  Jarum irigasi dimasukkan kedalam saluran akar.  Bahan irigasi disemprotkan secara perlahan-lahan ke dalam saluran akar  Bahan irigasi digunakan secara bergantian. Bahan dan Obat-obatan Sterilisasi Sebagai desinfektan antibakteri dengan spektrum luas :       ChKM ( Chlorophenol Kamfer Menthol ) Cresophene Cresatin Formokresol TKF ( Tri Kresol Formalin ) Eugenol (sebagai sedative.  Menghisap cairan irigasi yang keluar dengan cotton roll atau saliva ejector atau section. Spuit 2.

Perbenihan Prosedur perbenihan : 21 .)  Caustinerf Pedodontique / forte ( digunakan pada gigi sulung.)  TKF ( Tri Kresol Formalin ) Medikamen Intrakanal yang biasa digunakan : Golongan Fenol :         Eugenol CMCP ( Camphorated Monoparachlorophenol ) Parachlorophenol ( PCP ) Camphorated parachlorophenol ( CPC ) Metakresilasetat ( cresatin ) Kresol Creosote ( beechwood ) Timol Aldehid :  Formokresol  Glutaraldehid Halida :  Natrium hipoklorit  Iodine kalium iodide Steroid Hidroksida kalsium      Bukan antiseptik konvensional Dapat menghambat pertumbuhan bakteri Bekerja lambat Harus berkontak langsung Dapat digunakan sebagai antiseptik antar kunjungan (terutama pada gigi nekrotik) Antibiotik Kombinasi B. Arsen ( As2O3 ) ( digunakan pada gigi permanen.

berarti bisa dilakukan pengisian). Hasil Perbenihan negatif. Pemilihan restorasi dipengaruhi oleh fungsi dari gigi. Posisi atau lokasi gigi Gigi anterior membutuhkan pertimbangan estetik yang lebih dibandingkan dengan gigi posterior. Ford menyatakan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan restorasi adalah: 1. nyalakan. biarkan sampai lampu pada glassbead sterilisator menjadi hijau (Ready). maka dilakukan sterilisasi ulang sampai hasil pembenihan negatif. papper point diulaskan di glass lab. Buka alat glassbead sterilisator. Pemilihan Restorasi Perencanaan pemilihan restorasi harus dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Pasien dikontrol lebih dulu  Siapkan papper point dan cotton pellet. 2. Restorasi pada gigi anterior harus memiliki niali estetik yang baik. Morfologi atau anatomi saluran akar Morfologi saluran akar berpengaruh dalam pemilihan restorasi. Pemilihan restorasi untuk menggantikan struktur gigi yang telah hilang sangat dipengaruhi oleh banyaknya struktur gigi tersisa. Bila tidak berbekas. Masukkan papper point dan cotton pellet ke dalam Glassbead sterilisator dan ditutup. Fungsi gigi Fungsi gigi dalam lengkung rahang akan mempengaruhi beban kunyah yang diterima gigi. Morfologi akar yang bengkok dapat menjadi pertimbangan jika ingin direstorasi dengan 22 . saluran akar dapat diisi dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut :  Tidak ada keluhan pasien  Tidak ada gejala klinik  Tidak ada eksudat dalam saluran akar (cek dari papper point yang terdapat dalam saluran akar caranya ulaskan papper point pada glass lab. Papper point dan cotton pellet siap digunakan. 3.  Tumpatan sementara masih baik Hasil pembenihan positif. Banyaknya jaringan gigi tersisa Banyaknya struktur jaringan gigi tersisa mempengaruhi retensi dan resistensi dari gigi. 4.

Semakin sedikit sisa dari struktur gigi dan semakin besar fungsi gigi dalam lengkung rahang. 3. resorbsi eksternal masih terbatas Kegoyangan gigi minimal Kontraindikasi pulpektomi :      Pada gigi dengan kerusakan yang luas dan tidak dapat direstorasi Panjang akar kurang dari 2/4 disertai resorbsi internal atau eksternal Kelainan pada pulpa yang menyebabkan dasar pulpa terbuka ke arah furkasi Infeksi periapikal yang melibatkan benih gigi pengganti Pasien dengan penyakit kronis. semen glass ionomer. dan koefisien ekspansi termal yang sama dengan dentin. diantaranya modulus elastisitas.mahkota pasak. Gigi yang telah dirawat endodontik. yaitu inti dan pasak. 1. Retensi pada gigi yang akan diberi mahkota masih baik atau masih mampu menerima beban mahkota 5. Sifat lain yang harus dimiliki adalah ketahanan terhadap korosi dan kemampuan untuk berikatan yang baik. dimana gigi tersebut menerima beban yang besar. 2. 2. Restorasi gigi : Mahkota pasak inti Mahkota pasak merupakan suatu restorasi indirek. Pembuangan kamar pulpa pada perawatan endodontik menyebabkan gig membutuhkan dukungan yang baik 4. Pasak dan inti yang ideal harus memenuhi beberapa sifat. komposit resin. Gigi dengan sisa struktur gigi yang sedikit dan beban kunyah yang besar memiliki risiko fraktur yang lebih tinggi. Sudah tidak bisa ditambal lagi 23 .  Indikasi Pasak 1. compresive strength. sehingga perencanaan harus dilakukan dengan lebih baik. Gigi yang telah dirawat endodontik. Inti dapat dibuat dengan bahan dental amalgam. atau logam cor. Pulpektomi Indikasi pulpektomi :   Tidak ada resorpsi internal. pemilihan restorasi harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Restorasi ini terdiri dari dua komponen. dengan struktur mahkota gigi yang tersisa kurang dari setengah.

Tidak ada fraktur akar 9. Usia dewasa muda (35 tahun). Jika terdapat lateral stress akibat bruxism atau heavy incisal stress  Intruksi setelah pemakaian mahkota pasak : 1. Tidak ada kerusakan jaringan periodontal 6. 2. 3. Gigi anterior yang telah dirawat endodontik. dengan marginal ridge yang masih utuh. Gigi dapat dimasukkan instrument. mudah perawatan 10. Menjaga OH Prognosis Prognosis baik. dengan ruang pulpa yang besar dan jaringan keras yang tersisa masih banyak sehingga masih dapat memberi resistensi yang cukup untuk bahan restorasi. Jangan makan dan mengunyah dengan crown baru selama 24 jam karena perekatan permanen yang dipakai membutuhkan waktu untuk mengeras 2. 2. Pasien kooperatif 8. Tidak ada riwayat penyakit sistemik 7. Tidak ada kelainan periapikal Tidak ada resorpsi tulang alveolar Kondisi saluran akar masih baik (tidak ada fraktur maupun penyumbatan pada saluran akar) 5. 4. Prognosis dinyatakan baik karena beberapa hal dibawah ini: 1. Posisi gigi dalam lengkung 24 . Kontraindikasi Pasak 1. 3. Gigi posterior yang telah dirawat endodontik.

or.. Suwandi. edisi kesebelas. D.id diakses 26 April 2016 25 . Carlos. Ilmu Endodontik dalam Praktek.Jurnal PDGI vol 59 pada journal.2010.pbpdgi. Seymour. 1995. I.. Jakarta: EGC.“Perawatan Awal Penutupan Diastema Gigi Goyang pada Penderita Periodontitis Kronis Dewasa”. R. L. O.. Trijani.Daftar Pustaka Grosman.. E.

2002. 2008. Diakses di repository. Rasinta. Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia. M. 26 .2014. R. Dwi Priyaseto.unhas.id pada 26 April 2016 Tarigan. Makalah “Macam-macam Restorasi pada Gigi Anterior”. Perawatan Pulpa Gigi (endodontic).E. Jakarta: EGC. Walton.. Jakarta: EGC. Torabinejad.ac.Septiman.