You are on page 1of 2

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tindakan operasi merupakan salah satu jalan untuk menolong persalinan sehingga
tercapai well born baby dan well health mother. Kini tindakan operasi sudah dapat
diterima oleh masyarakat bahkan sering dijumpai permintaan persalinan dengan operasi
sectio caesarea, dengan insisi dibagian bawah dan persalinan berikut dilakukan dengan
tindakan yang sama serta diikuti sterilisasi memakai teknik MA (Vasektomi Tuba)
(Manuaba, 2007 dalam Histriani, 2012)
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan sayatan
pada dinding perut dan dinding rahim (Manuaba, 2007 dalam Histriani, 2012). Ada
beberapa penyebab yang sering terjadi dan harus dilakukan caesar yaitu partus lama,
partus tak maju, panggul sempit dan janin terlalu besar, sehingga jalan satu-satunya
adalah dilakukan caesar. Jika tidak dilakukan caesar akan membahayakan nyawa ibu
dan nyawa janin (Wiknjosastro, 2007 dalam Histriani, 2012).
Rumah sakit daerah dr. Soebandi merupakan rumah sakit rujukan regional Jawa
Timur bagian timur yang tentunya menerima rujukan dari berbagai rumah sakit di daerah
Jawa Timur bagian timur dengan berbagai kondisi gawat dan mengancam keselamatan.
Tidak sedikit klien kondisi gawat yang ditangani khususnya di ruang bersalin.
Keselamatan ibu dan janin merupakan salah satu kondisi gawat yang harus ditangani
dengan tepat, cepat dan efisien. Tidak sedikit persalinan dilakukan dengan tindakan
operasi atau dilakukan dengan cara Sectio Caeserea karena berbagai macam indikasi.
Data awal kejadian Sectio di RSD dr. Soebandi dari tanggal 19 sampai 31 Oktober
2015sebanyak 19 klien dari total 23 klien belum bisa beradaptasi terhadap rasa nyeri
sampai hari pertama (H1) dan hanya 4 klien yang bisa beradaptasi terhadap rasa nyeri.
Pasca pembedahan pasien merasakan nyeri hebat dan 75% penderita mempunyai
pengalaman yang kurang menyenangkan akibat pengelolaan nyeri yang tidak adekuat
(Sutanto, 2004 dalam Purwandi, dkk 2013). Adanya luka yang menyebabkan nyeri
tersebut membuat pasien merasa cemas untuk melakukan mobilisasi dini sehingga pasien
cenderung untuk berbaring. Nyeri akut setelah pembedahan mayor setidak-tidaknya
mempunyai fungsi fisiologis positif, berperan sebagai peringatan bahwa perawatan
khusus harus dilakukan untuk mencegah trauma lebih lanjut pada daerah tersebut. Nyeri

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Khusus a. lebih singkat dari waktu yang diperlukan untuk perbaikan alamiah jaringan. Mengidentifikasi adaptasi nyeri pada ibu post SC di ruang Nifas RSD dr. Menganalisis pengaruh terapi nonfarmakologi adaptasi nyeri pada ibu post SC di ruang Nifas RSD dr. 2006). Tujuan Umum Mengetahui pengaruh terapi nonfarmakologi adaptasi nyeri pada ibu post SC di ruang nifas RSD dr. Soebandi Jember . Soebandi Jember 2. Manajemen nyeri merupakan salah satu cara yang digunakan di bidang kesehatan untuk mengatasi nyeri yang dialami oleh pasien. Seobandi Jember. Soebandi Jember b. Soebandi Jember c. Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Kenyamanan merupakan kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. emosi. Penatalaksanaan nyeri yang tidak adekuat dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pasien dan anggota keluarga. Mengidentifikasi terapi nonfarmokologi pada ibu post SC di ruang Nifas RSD dr. Pasien dan keluarga akan merasakan ketidaknyamanan yang meningkatkan 2 respon stress sehingga mempengaruhi kondisi psikologi.setelah pembedahan normalnya dapat diramalkan hanya terjadi dalam durasi yang terbatas. maka penting menerapkan terapi nonfarmokologi untuk adapatasi nyeri pada ibu post Sectio Ceasarea di ruang Nifas RSD dr. Menurut Black dan Hawks (2005). penatalaksanaan nyeri akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan terapi nonfarmakologi. dan kualitas hidup (Ignatavicus & Workman. Berdasarkan uraian diatas.