You are on page 1of 23

REFERAT

HUBUNGAN PERSETUJUAN TINDAKAN
KEDOKTERAN DENGAN TINDAKAN BEDAH
JENAZAH

Oleh:
Kelompok II
Adelia Putri W

115070100111043

Erwin Kurniawan A

115070101111007

Dian Ayu Murti

125070100111049

Sayyida Kamila Z

125070100111011

Dini Fakhriza A

125070100111059
Pembimbing:

dr. Ngesti Lestari, SH, SpF(K)
LABORATORIUM ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2016

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah
Persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent adalah suatu
pernyataan persetujuan dari orang yang berhak (pasien yang kompeten,
wali, atau keluarga terdekat) kepada dokter untuk melakukan tindakan
kedokteran setelah diberi penjelasan atau informasi tentang tindakan
kedokteran yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti
(Kementerian Kesehatan RI, 2008).
Berdasarkan UU RI no 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran,
pada pasal 45, penjelasan pada persetujuan tindakan kedokteran sekurangkurangnya mencakup: diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan (Kementerian Kesehatan RI, 2004).
Tindakan bedah jenazah atau otopsi adalah pemeriksaan ilmiah
terhadap tubuh yang sudah meninggal, ketika seluruh tubuh dan ronggarongga badan diperiksa dan dicatat apa yang ditemukan, serta memikirkan
segala kemungkinan yang akan ditemukan berdasarkan kejadian untuk
membantu menentukan sebab kematian dan membantu penegakan hukum
(Afandi, 2009).
Terdapat 3 jenis otopsi, yakni otopsi anatomi, otopsi klinik, dan otopsi
forensik. Berdasarkan KUHAP pasal 133 ayat (2), pada otopsi forensik,
penyidik meminta visum et repertum tanpa diperlukan izin keluarga. Namun
pada realitanya, keluarga dapat menolak permintaan pemeriksaan luar
maupun dalam pada keluarganya. Hal inilah yang menyebabkan perlunya
pemberian informasi kepada keluarga pasien dan persetujuan oleh keluarga
pasien untuk tindakan bedah mayat atau otopsi (Rustyadi et al, 2016)
Tulisan ini disusun untuk meningkatkan pemahaman tentang
hubungan antara persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent
dengan tindakan bedah jenazah.

1.1 Rumusan Masalah

1

2.1.1 Apa yang dimaksud dengan persetujuan tindakan kedokteran atau 1.2 sekaligus sebagai dasar untuk pengembangan penulisan berikutnya Dapat dijadikan masukan bagi profesi kedokteran tentang pentingnya persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent pada tindakan bedah jenazah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 1.1 Mengetahui tentang persetujuan tindakan kedokteran atau informed 1.2 1.3 informed consent? Apa yang dimaksud dengan tindakan bedah jenazah? Bagaimana hubungan antara persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent dengan tindakan bedah jenazah? 1.2.3.3 consent Mengetahui tentang tindakan bedah jenazah Mengetahui hubungan antara persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent dengan tindakan bedah jenazah 1.2.1 Dapat dijadikan sebagai dasar teori untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan 1.3.1.2 Tujuan Penulisan 1.1 Persetujuan Tindakan Medis .2 1.1.3 Manfaat Penulisan 1.

Sehingga secara umum Informed consent dapat diartikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh seorang pasien kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan dilakukan.2006) Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan Pasal 45 UU RI No. (5) Setiap tindakan kedokteran atau . 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran yang berisi: Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. dan e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. Dengan demikian Informed consent dapat di definisikan sebagai pernyataan pasien atau yang sah mewakilinya yang isinya berupa persetujuan atas rencana tindakan kedokteran yang diajukan oleh dokter setelah menerima informasi yang cukup untuk dapat membuat persetujuan atau penolakan. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.2 Dasar Hukum Informed consent Persetujuan tindakan Kedokteran telah diatur dalam Pasal 45 Undang- undang no. persetujuan Tindakan Medik adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien. 2013). setelah mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut (Sampurna.3 2.1. 2. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan.29 Tahun 2004. alternatif tindakan lain dan risikonya. jadi pengertian Informed consent adalah suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. b. keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya (PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008). c. tujuan tindakan medis yang dilakukan.1. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. Persetujuan tindakan yang akan dilakukan oleh Dokter harus dilakukan tanpa adanya unsur pemaksaan (Ramadhan. diagnosis dan tata cara tindakan medis.1 Pengertian Informed consent atau persetujuan tindakan medis Informed consent teridiri dari dua kata yaitu “informed” yang berarti informasi atau keterangan dan “consent” yang berarti persetujuan atau memberi izin. d. Istilah Bahasa Indonesia Informed consent diterjemahkan sebagai persetujuan tindakan medik yang terdiri dari dua suku kata Bahasa Inggris yaitu Inform yang bermakna Informasi dan consent berarti persetujuan. (3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup : a.

2. ayat (4). diagnostik. 3. dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri Peraturan Menteri Kesehatan RI No. (6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu. tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuatkeputusan secara bebas. . 7. tidak terganggu kesadaran fisiknya. dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ayat (2). terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien. 5. dokter spesialis. 4. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien.290/Menkes/Per/III/ 2008 tentang persetujuan tindakan Kedokteran dinyatakan dalam pasal 1. 2. Keluarga terdekat adalah suami atau istri. dan 3 yaitu : Pasal 1 1. saudara-saudara kandung atau pengampunya. Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah.4 kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. anakanak kandung. ayah atau ibu kandung. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif. mampu berkomunikasi secara wajar. 6. Dokter dan dokter gigi adalah dokter. ayat (3).

Peraturan Informed consent apabila dijalankan dengan baik antara Dokter dan pasien akan sama-sama terlindungi secara Hukum. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan. Pasal 3 1. Dalam pelanggaran Informed consent telah diatur dalam pasal 19 Permenkes No. 5.5 Pasal 2 1. . Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. teguran tertulis sampai dengan pencabutan Surat Ijin Praktik. 3. Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu. 4. 3. maka dapat dimintakan persetujuan tertulis. dinyatakan terhadap dokter yang melakukan tindakan tanpa Informed consent dapat dikenakan sanksi berupa teguran lisan. Pezdrsetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan. 290 Tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Tetapi apabila terdapat perbuatan diluar peraturan yang sudah dibuat tentu dianggap melanggar Hukum. 2. 2. Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju. Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.

6 Jika seorang dokter tidak memperoleh persetujuan tindakan kedokteran yang sah. yang dapat berupa teguran hingga rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi. 3. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk mengadakan introspeksi terhadap diri sendiri 5. Pendisiplinan oleh MKDKI Bila MKDKI menerima pengaduan tentang seorang dokter atau dokter gigi yang melakukan hal tersebut. Hukum Perdata Untuk mengajukan tuntutan atau klaim ganti rugi terhadap dokter. 2006) 2. Keterlibatan masyarakat (dalam memajukan prinsip otonomi sebagai suatu nilai social dan mengadakan pengawasan dalam penyelidikan biomedik (Sampurna.1. Tujuan dari Informed consent adalah : . (Sampurna. maka dampaknya adalah bahwa dokter tersebut akan dapat mengalami masalah : 1. Mencegah terjadinya penipuan atau paksaan 4. 2. meskipun kasus semacam ini sangat jarang terjadi. Promosi dari hak otonomi perorangan 2.padahal apabila dia telah diperingatkan sebelumnya maka dia tentu tidak akan mau menjalaninya. Proteksi dari pasien dan subyek 3. maka pasien harus dapat menunjukkan bahwa dia tidak diperingatkan sebelumnya mengenai hasil akhir tertentu dari tindakan dimaksud . atau menunjukkan bahwa dokter telah melakukan tindakan tanpa persetujuan (perbuatan melanggar hukum). Hukum Pidana Menyentuh atau melakukan tindakan terhadap pasien tanpa persetujuan dapat dikategorikan sebagai “penyerangan” (assault).3 Tujuan Informed consent Fungsi dari Informed consent adalah: 1. maka MKDKI akan menyidangkannya dan dapat memberikan sanksi disiplin kedokteran. Hal tersebut dapat menjadi alasan pasien untuk mengadukan dokter ke penyidik polisi. 2003). Promosi dari keputusan-keputusan rasional 6.

Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008. battery. Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan ( Ayat 2 ) (Sampurna. Expressed Consent (dinyatakan) Dapat dinyatakan secara lisan maupun tertulis. bodily assault ). Persetujuan tertulis dalam suatu tindakan medis dibutuhkan saat: 1. atau yang secara umum dikenal di rumah sakit sebagai surat izin operasi. Bila tindakan terapeutik bersifat kompleks atau menyangkut resiko atau efek samping yang bermakna. karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko. yaitu : 1. dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko ( Permenkes No. sebelum dimulainya tindakan ( Ayat 1 ). Implied Consent (dianggap diberikan) Umumnya implied consent diberikan dalam keadaan normal. persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya. Tindakan medis yang dilakukan tanpa izin pasien. 2. dokter sebaiknya mendapatkan persetujuan secara tertulis. Demikian pula pada kasus emergency sedangkan dokter memerlukan tindakan segera sementara pasien dalam keadaan tidak bisa memberikan persetujuan dan keluarganya tidak ada ditempat. Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 ). Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif. 2003).1.4 Bentuk Persetujuan Informed consent Ada 2 bentuk Persetujuan Tindakan Medis. artinya dokter dapat menangkap persetujuan tindakan medis tersebut dari isyarat yang diberikan/dilakukan pasien.7 a. maka dokter dapat melakukan tindakan medik terbaik menurut dokter. . 2. Dalam tindakan medis yang bersifat invasive dan mengandung resiko. b. dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass. 2.

6 Pemberi Persetujuan Persetujuan diberikan oleh individu yang kompeten. 4. dan oleh karenanya dapat memberikan persetujuan.5 Pemberi Informasi dan Penerima Persetujuan Pemberi informasi dan penerima persetujuan merupakan tanggung jawab dokter pemberi perawatan atau pelaku pemeriksaan/ tindakan untuk memastikan bahwa persetujuan tersebut diperoleh secara benar dan layak. maka seseorang dianggap kompeten apabila telah berusia 18 tahun atau lebih atau telah pernah menikah.8 3. Sedangkan anak-anak yang berusia 16 tahun atau lebih tetapi belum berusia 18 tahun dapat membuat persetujuan tindakan kedokteran tertentu yang tidak berrisiko tinggi apabila mereka dapat menunjukkan kompetensinya dalam membuat keputusan. . Seseorang dokter apabila akan memberikan informasi dan menerima persetujuan pasien atas nama dokter lain. maka dokter tersebut harus yakin bahwa dirinya mampu menjawab secara penuh pertanyaan apapun yang diajukan pasien berkenaan dengan tindakan yang akan dilakukan terhadapnya– untuk memastikan bahwa persetujuan tersebut dibuat secara benar dan layak. 2) Berdasarkan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak maka setiap orang yang berusia 18 tahun atau lebih dianggap sebagai orang yang sudah bukan anak-anak. namun tanggung jawab tetap berada pada dokter pemberi delegasi untuk memastikan bahwa persetujuan diperoleh secara benar dan layak. Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian ( Dept of Health Circulars and Guidelines) 2. Dengan demikian mereka dapat diperlakukan sebagaimana orang dewasa yang kompeten.1. 2. Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak yang bermakna bagi kedudukan kepegawaian atau kehidupan pribadi dan sosial pasien.1. Alasan hukum yang mendasarinya adalah sebagai berikut: 1) Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata maka seseorang yang berumur 21 tahun atau lebih atau telah menikah dianggap sebagai orang dewasa dan oleh karenanya dapat memberikan persetujuan. Dokter memang dapat mendelegasikan proses pemberian informasi dan penerimaan persetujuan. Ditinjau dari segi usia.

Kalau hal seperti ini terjadi dan bila konsekuensi penolakan tersebut berakibat serius maka keputusan tersebut harus didiskusikan dengan pasien.9 3) Mereka yang telah berusia 16 tahun tetapi belum 18 tahun memang masih tergolong anak menurut hukum. suatu penolakan dapat mengakibatkan dokter meneliti kembali kapasitasnya. pengaruh obat tertentu atau keadaan kesehatan fisiknya. Selain itu. dapat menjadi tidak kompeten sementara sebagai akibat dari nyeri hebat. Sebagaimana uraian di atas. Sebaliknya. syok. Seseorang pasien dengan gangguan jiwa yang berusia 18 tahun atau lebih tidak boleh dianggap tidak kompeten sampai nanti terbukti tidak kompeten dengan pemeriksaan. setiap orang yang berusia 18 tahun atau lebih dianggap kompeten. Untuk itu perlu dicek kembali apakah pasien telah mengerti informasi tentang keadaan pasien. tidak dengan maksud untuk mengubah pendapatnya tetapi untuk mengklarifikasi situasinya.7 Penolakan Pemeriksaan/ Tindakan Pasien yang kompeten (dia memahami informasi. meskipun keputusan pasien tersebut terkesan tidak logis. kompetensi anak bervariasi bergantung kepada usia dan kompleksitas tindakan. khususnya yang tidak berrisiko tinggi.1. Untuk itu mereka harus dapat menunjukkan kompetensinya dalam menerima informasi dan membuat keputusan dengan bebas. Anak-anak berusia 16 tahun atau lebih tetapi di bawah 18 tahun harus menunjukkan kompetensinya dalam memahami sifat dan tujuan suatu tindakan kedokteran yang diajukan. menahannya dan mempercayainya dan mampu membuat keputusan) berhak untuk menolak suatu pemeriksaan atau tindakan kedokteran. 2. maka mereka dapat diperlakukan seperti orang dewasa dan dapat memberikan persetujuan tindakan kedokteran tertentu. persetujuan atau penolakan mereka dapat dibatalkan oleh orang tua atau wali atau penetapan pengadilan. Meskipun demikian. tindakan atau pengobatan. Jadi. namun dengan menghargai hak individu untuk berpendapat sebagaimana juga diatur dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Kenyataan adanya penolakan pasien terhadap rencana pengobatan yang terkesan tidak rasional bukan merupakan alasan untuk mempertanyakan kompetensi pasien. serta semua kemungkinan efek sampingnya. seseorang yang normalnya kompeten. Dalam setiap . apabila terdapat keganjilan keputusan tersebut dibandingkan dengan keputusan-keputusan sebelumnya.

1 Prosedur di RSUD Dr. Surat persetujuan keluarga yang terdekat yang menyerahkan mayat yang bersangkutan kepada Fakultas Kedokteran.1 Otopsi Anatomis Syarat untuk dapat melakukan otopsi anatomis menurut P. Namun pengertian yang sebenarnya dari otopsi adalah suatu pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan tertentu.2. maka mayat dapat diawetkan dengan penyuntikan formalin 10% dan disimpan paling sedikit 6 bulan sebelum dilakukan otopsi anatomis. 3.P 18 tahun 1981 adalah : 1.1. meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten.2.W) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 935. Apakah prosedur di atas dapat dipertanggung jawabkan? . Otopsi anatomis 2. 2.1 Macam-macam otopsi Ada 3 macam otopsi : 1. bila dalam waktu 2 x 24 jam (dua kali dua puluh empat jam) tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke Rumah Sakit untuk mengurus mayat. 2. 2. Nekropsi. Obduksi dan Pemeriksaan post mortem.1.10 masalah seperti ini rincian setiap diskusi harus secara jelas didokumentasikan dengan baik 2. Soetomo Setelah dalam waktu 2x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal untuk mengurus mayat.2. Adanya surat wasiat dari yang bersangkutan yang menghendaki supaya mayatnya diserahkan kepada suatu Fakultas Kedokteran untuk otopsi anatomis yang sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Burgelijk Wetboek (B. Tanpa persetujuan keluarga yang terdekat. Otopsi berasal dari kata oto yang berarti sendiri dan opsis yang berarti melihat. Otopsi klinis 3. maka otopsi memerlukan pembukaan tubuh jenazah dengan menggunakan irisan.1.2 Bedah Jenazah Selain kata otopsi yang juga biasa dipakai adalah Seksi. Karena meliputi pemeriksaan bagian dalam. Otopsi kehakiman/forensik 2.

W.W 935 mayat adalah benda yang dapat diwariskan.2. B.11 Menurut B. dalam hal demikian mayat dikembalikan ke bagian Ilmu Kedokteran Forensik untuk selanjutnya diperiksa dengan tidak mengurangi formalitas hukum yang harus dipenuhi. Syarat untuk melakukan otopsi klinik : 1. te rekenen van het openvallen der natalenschap. Dengan contoh tersebut di atas maka otopsi klinik sangat penting untuk perkembangan ilmu kedokteran. 935. Adanya surat wasiat dari yang bersangkutan yang menghendaki pada mayatnya dilakukan otopsi klinik yang sesuai dengan apa yang telah doatur dalam B. 2. 1129). 1129 : “ndien zich. 2. zal slotrekening moeten worden gedaan aan den lande.2 Otopsi Klinik Otopsi klinik adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara pembedahan terhadap mayat untuk mengetahui dengan pasti penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian dan untuk menilai hasil usaha pemulihan kesehatan.W. hetwelk bevoegd zal zijn om zich bij voorraad in het bezit der nagelaten goederen to doen stellen” Ada kalanya pada mayat waktu dilakukan otopsi anatomis ditemukan tanda-tanda kekerasan. dalam seminggu 2 orang anak meninggal karena suatu penyakit yang tidak diketahui oleh dokter. Surat persetujuan keluarga terdekat bahwa pada mayat dapat dilakukan otopsi klinik. Dalam hal seperti ini otopsi klinik kemungkinan besar dapat memberi jawaban apa sebab kematiannya sehingga dapat diambil tindakan untuk mencegah jalannya penyakit dan mengusahakan obat untuk menyembuhkan penderita lain. Otopsi klinik kemudian dilengkapi dengan pemeriksaan : - histopatologi bakteriologi/virologi toksikologi sero-imunologi Bahwa otopsi klinik sangat bermanfaat dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut : suami istri mempunyai 5 orang anak.W. geen erfgenaam opdoet. na verloop van drie jaren.1. maka setelah 3 tahun harta peninggalannya dikuasai oleh negara (B. Nila tidak ada ahli waris yang mengajukan diri. .

W. 4. suami. zonder verdereformaliteiten. apabila penderita diduga menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya. Kriteria khusus saat kematian untuk transplantasi : Menentukan saat meninggalnya seseorang di Rumah Sakit modern dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut enchepalograaf. Tanpa persetujuan keluarga terdekat. yaitu alat yang mencatat aktivitas otak.” P. van bepaalde lijfsieraden en van bijzondere meubelen. terbestelling van begrafenis. saudara bapak serta anak yang telah dewasa dari penderita. De herroeping van zoodaning stuk kan op dezelfde wijze onder de hand geschieden. otopsi klinik atau transplantasi harus dibuat di atas kertas bermaterai dengan dua orang saksi. tot het maken van legaten van klederen. Dengan keluarga terdekat diartikan : istri. doch alleenen bij uitsluiting. atau saudara seibu – sebapak (sekandung) dari penderita dan saudara ibu. pemeriksaan mayat untuk peradilan adalah otopsi yang dilakukan atas dasar perintah yang berwajib untuk . teraanstelling van axecuteuren. B. Khusus untuk transplantasi saat kematian ditentukan oleh 2 (dua) orang dokter yang tidak ada sangkut paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi. gedagteekend stuk. kunnen.P 18 Tahun 1981 menghendaki : Persetujuan oleh yang bersangkutan atau keluarga terdekat untuk otopsi anatomis.1.12 3. 2.P 18 Tahun 1981 Kriteria saat kematian yang konvensional : Seseorang telah meninggal dunia apabila keadaan insani yang diyakini oleh ahli Kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak. ibu. dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti. door den erflater geheel geschreven. Menentukan saat kematian menurut P. 935 : “Bij een enkel onderhansch. bapak.2. beschikkingen na doode worden gemaaki.3 Otopsi Kehakiman / Forensik Otopsi kehakiman (forensik) atau. Tanpa persetujuan keluarga terdekat. apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke Rumah Sakit untuk mengurus mayat. van lijftoebehooren. pernafasan.

Yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan mayat maupun korban luka menurut KUHAP 133 ialah : 1. karena peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana. Di daerah terpencil penyidik pembantu diberi wewenang sabagai penyidik dan pangkat paling rendah adalah Serda (Bripda) (KUHAP pasal 11). maka keterangan tersebut sangatlah berbeda. dan keduanya memberikan keterangan. keracunan atau mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana dilakukan oleh : 1. Dokter/Ahli Sedangkan menurut pasal 122 ayat (2) UU Nomor 36 tahun 2009. 134. Ahli kedokteran kehakiman 2. cara melakukannya tidak berbeda dari otopsi klinik. Dalam KUHAP tidak dijumpai pasal yang mewajibkan ahli kedokteran kehakiman atau dokter untuk memberi bantuan (melakukan otopsi kehakiman) pada penyidik. Ahli Kedokteran Kehakiman 2. bedah mayat forensik dilakukan oleh dokter ahli forensik. Penyidik (KUHAP 133. sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kehakiman disebut keterangan. 135) 2. atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perunjukan ke tempat yang ada dokter ahli forensiknya tidak dimungkinkan. Dokter 3. Hakim pidana (KUHAP 180) Yang dimaksud dengan penyidik (KUHAP pasal 1. Menurut KUHAP 133 pemeriksaan korban luka. Ahli lainnya .13 kepentingan peradilan. Penjelasan pasal 133 ayat (2) KUHAP : Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli. sesuai penjelasan pada pasal 133 ayat (2) KUHAP. seperti yang ditentukan dalam HIR 70. Yang berwenang minta Otopsi Kehakiman / Forensik : 1. namun jika ahli kedokteran kehakiman atau dokter melakukan otopsi kehakiman. KUHAP pasal 6) : Untuk kejahatan kriminil ialah pejabat polisi negara Republik Indonesia dengan pangkat paling rendah Pelda (Aipda). Otopsi Kehakiman / Forensik selain dilakukan di Rumah Sakit bila perlu dikerjakan di tempat kejadian perkara atau di tempat dimana mayat dikuburkan (misal di pemakaman umum) bila mayat tidak mungkin diangkut ke Rumah Sakit.

Korban yang mati ditangani oleh bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman/Forensik Biasanya yang melakukan pemeriksaan ialah dokter yang paling muda sedangkan KUHAP menginginkan oleh ahlinya. Lalu apakah permintaan Visum et Repertum atas dasar pemeriksaan luar saja dapat dilayani? Dulu RSUD Dr. . sehingga apa yang mereka lakukan haruslah menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya : “Untuk menentukan sebab kematian mayat mutlak harus diotopsi”. Pembatasan pemeriksaan luar saja ibarat penyidik ingin menentukan jumlah uang kas. Dengan diketahui sebab kematian. Soetomo tidak pernah melayani permintaan yang demikian (permintaan luar saja). tetapi dilarang membuka almari besi (brandkast). Untuk mengatasi penjelasan KUHAP 133 ayat 2 maka untuk sementara tidak digunakan kata surat keterangan ahli atau surat keterangan. Dokter ahli atau dokter pemerintah sipil 2. alasannya ialah : 1. Dengan pemeriksaan mayat dapat disimpulkan hanya pemeriksaan luar saja secara juridis tidak mempunyai nilai. Apa yang diartikan dengan pemeriksaan mayat untuk peradilan? KUHAP 133 ayat 2 menentukan pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Prosedur yang biasanya dilakukan adalah sebagai berikut : .Korban yang keracunan ditangani oleh bagian Penyakit Dalam . dapat diketahui pula apakah ada hubungan antara modus operandi dan sebab kematian. Dokter yang melakukan otopsi bertindak sebagai tenaga ahli. sebab memberi keterangan mengenai hubungan modus operandi dan sebab kematian. Dokter ahli atau dokter swasta 3. Dokter ahli atau dokter ABRI Mengingat dokter swasta berhak meminta honorarium dan dokter ABRI terikat dengan hirarki. Ini penting sekali untuk pembuktian di pengadilan. 3.Korban luka ditangani oleh bagian Bedah .14 Dalam prakteknya ahli kedokteran kehakiman hanya terdapat di kota-kota besar yang mempunyai Fakultas Kedokteran. Untuk menentukan sebab kematian mayat mutlak harus dibedah. tetapi tetap digunakan Visum et Repertum. Sebaiknya yang menangani permintaan Visum et Repertum menurut urutan prioritas ialah : 1. 2.Korban kejahatan kesusilaan ditangani oleh bagian Ginekologi .

4/1955 : 1. Biasanya pihak keluarga mengajukan berbagai keberatan dan alasan yang tersering ialah alasan agama.91 untuk pemeriksaan mayat untuk peradilan tidak diperlukan persetujuan keluarga dari yang meninggal dunia. Dalam instruksi Kapolri INS/E/20/IX/75 ditentukan siapa yang boleh mencabut permintaan Visum et Repertum : 6) Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan Visum et Repertum bedahmayat maka adalah kewajiban dari Petugas Polri c. maka pihak keluarga dipersilahkan menghadap polisi untuk mengutarakan keberatannya. 1871 No. 2. tetapi dokterlah yang menghadapi keluarga pertama kali untuk memberi penjelasan mengenai permintaan Visum et Repertum sehingga mayat harus diotopsi. atau kasus-kasus tertentu yang tidak ada tersangkanya. pendidikan dokter dan penegakan keadilan diantara manusia. misal pada kasus kecelakaan lalu lintas. maka hal tersebut diinformasikan kepada penyidik sehingga perlu dilakukan otopsi. maka hal tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandan-komandan Kesatuan paling rendah . sedangkan dari pemeriksaan dokter ada hal-hal yang mencurigakan misalnya ada luka yang tidak wajar. Dan hingga saat ini hasil pemeriksaan luar oleh dokter (disebut Visum et Repertum luar) diterima oleh pengadilan (walau instruksi kapolri yang melarang untuk itu.q pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan perlu dan pentingnya otopsi untuk kepentingan penyidikan. mati mendadak. Bdeah mayat itu mubah/boleh hukumnya untuk kepentingan Ilmu Pengetahuan. Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali. maka penyidik pada kasus-kasus tertentu hanya meminta pemeriksaan luar saja. 7) Pada dasarnya penarikan/pencabutan kembali Visum et Repertum tidak dapat dibenarkan. Apabila permintaan penyidik hanya visum luar. Prosedur otopsi di RSUD Dr.I Fatwa No. Sebenarnya tidak ada satu agamapun yang melarang otopsi termasuk agama Islam yang dinyatakan dalam Keputusan Majelis Pertimbangan Agama dan Syara’ Kementrian Kesehatan R. kalau perlu.15 Tetapi dengan adanya perkembangan pemahaman tentang KUHAP. Membatasi kemubahan ini sekedar darurat saja menurut kadar yang yang tidak boleh tidak harus dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Karena dokter hanya merupakan pelaksana permintaan polisi. bahwa ditegakkannya pasal 222 KUHP. Soetomo Surabaya Meskipun menurut Stbl. tetapi KUHAP menyatakan lain).

tidak dipidana”. yang diperlukan untuk pemakaman. Penyidik sendirilah yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kemudian timbul dari tindakan pencabutan permintaan Visum et Repertum itu. dokter hanya menyatakan korban meninggal dan pada keluarga diberikan surat. Bila pemeriksaan Visum et Repertum dicabut. Kadang-kadang polisi menyetujui permintaan keluarga supaya tidak dilakuakn otpsi. maka segala sesuatu ditanggung oleh keluarga dan keluarga tidak akan menuntut siapapun juga. kalau untuk Rumah Sakit besar di kota besar yang mempunyai kamar pendingin untuk menyimpan mayat bukan merupakan suatu soal. . para dokter terutama di daerah supaya menghimbau para penyidik supaya berusaha agar otopsi forensik dapat dilakukan secepat-cepatnya karena di daerah tropik dengan hawa panasnya.16 tingkat Komres (sekarang Kapolres) dan untuk kota besar hanya oleh Dan Tabes (sekarang Kapolres/tabes). penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. Polri adalah penyidik tnggak untuk perkara keiminil dan dalam pencabutan permintaan Visum et Repertum ia tidak boleh dipengaruhi oleh isapapun dari luar. sehingga surat pernyataan demikian menurut hukum (KUHP 48) tidak ada artinya. tetapi jelas merupakan suatu hambatan yang besar bagi dokter daerah bila menunggu dua hari sebelum dapat dilakukan otopsi. mayat menjadi cepat membusuk (oleh karena ketiadaan lemar pendingin) sehingga dapat mengaburkan pemeriksaan. meskipun KUHAP 134 (3) menyatakan apabila dalam dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan. Mayat untuk otopsi forensi yang tidak ada keluarganya yang mengurus. KUHP 48 : “Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa. konsekuensinya ialah dokter tidak melakukan pemeriksaan apapun. Lebih parah lagi bila mayat yang dikirim ke Rumah Sakit. Karena rasa kepepet (terjepit) keluarga akan melakuakn segala sesuatu asal saja tidak dilakukan oto[si pada mayat. tetapi minta pada keluarga dari yang meninggal dunia pernyataan tertulis bahwa jika dikemudian hari ada hal-hal yang tidak dapat diterimanya begitu saja kematian korban dan mayat harus digali. Waktu melakukan otopsi forensik.

2.1993/kdj/U/70 : Perawatan Penderita Penyakit Jiwa pasal 17 ditentukan: Dokter yang ditunjuk dapat menggunakan hak undur diri. jika ada hubungan keluarga dengan penderita terdakwa atau dengan orang yang menjadi korban. Kesukaran yang lain ialah bila dokter daerah mengirim korban akibat tindakan pidana ke Rumah Sakit yang lebih besar tetapi kemudian meninggal dunia. Pada keadaan luar biasa.2 Hak Undur Diri Dokter Dalam KUHAP pasal 120 ahli/dokter boleh mengundurkan diri untuk melakukan pemeriksaan jika peristiwanya berhubungan dengan rahasia kedokteran.17 Puskesmas. dengan syarat selama berlangsungnya otopsi sampai penyerahan mayat kepada keluarga atau pihak-pihak tertentu dimaksud. Untuk itu penyidik menandatangani surat pernyataan bahwa segala akibat dilakukannya otopsi menjadi tanggung jawab penyidik. Hal ini sudah sering dilakukan oleh Departemen/Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair – RSUD Dr. 2. Adalah kurang manusiawi jika keluarga sudah mendapat musibah harus melapor pada Polisi di tempat kejadian perkara yang kadang-kadang jaraknya sampai 200 km atau lebih dimana keluarga tersebut harus melaporkan mengenai kematian korban. Saat ini setelah terjadinya peristiwa penganiayaan dokter yang melakukan otopsi oleh sekelompok preman di Jakarta. otopsi dapat dilaksanakan tanpa persetujuan keluarga atau pihak-pihak yang perlu diberi tahu. Dalam Permenkes No. maka Menteri kesehatan menerbitkan surat edaran Nomor 1342/MENKES/SE/XII/2001tentang pelaksanaan otopsi forensik. Ketentuan ini berlaku juga bila ahli/dokter harus melakukan pemeriksaan seperti teracantum dalam KUHAP pasal 133. dengan surat pernyataan penyidik. dan apakah polisi mengajukan Visum et Repertum atau tidak. mayat eks penggalian. sudah dalam keadaan membusuk seperti mayat yang ditemukan dalam air. 135. penyidik dapat menjamin keamanan dan keselamatan para dokter ahli kedokteran kehakiman yang bersangkutan termasuk keamanan sarana dan prasarana dimana otopsi tersebut dilakukan dari gangguan/ancaman pihak-pihak yang bersangkutan dengan mayat tersebut. Soetomo Surabaya. Penhidik harus menyadari kesukaran ini dan seklai lagi seperti sudah dihimbau supaya berusaha agar otopsi forensik dapat dilakukan secepat-cepatnya. . kadang-kadang keluarga tersebut harus mengurus pencabutan permintaan Visum et Repertum dan sebagainya.

Bagaimana kecelakaan terjadi . b.Apa ada hal-hal yan dianggap tidak wajar. Kematian setalah berobat/perawatan . bunuh diri .Pengemudi . dokter yang ada hubngan dengan terdakwa atau korban diberi juga kesempatan untuk mengundurkan diri.Apa yang dilakukan korban sebelum meninggal .Korban mabuk .Mobil menabrak pejalan kaki dsb. yaitu dokter tersebut diperbolehkan memberikan keterangan tanpa sumpah. dsb.Pengobatan apa yang telah diberikan . c.Apakah pada korban diberikan pernapasan buatan yang dapat menyebabkan patah tulang iga .Mobil slip menabrak pohon . dsb. Informasi untuk dokter sebelum melakukan otopsi. sebaiknya dokter mengikuti KUHAP pasal 169 ayat (2). 5. korban mati lebih objektif.Apakah alat yang dipakai ujungnya patah .Hasil pemeriksaan mayat yang telah dikubur biasanya kurang memuaskan karena jaringan lunak sudah rusak bahkan . 6. dsb.Pejalan kaki.Racun apa yang diminum.Alat apa yang dipakai . Kecelakaan lain Dokter harus diberitahu benda yang menyebabkan kecelakaan : .Penumpang . Selain hal tersebut di atas pada setiap peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia diberitahukan pula : .Tanggal dan jam korban terakhir terlihat masih hidup Setelah otopsi selesai penyidik diharap minta keterangan sebab kematian. Informasi ini harus diperoleh dari polisi/penyidik atau sumber lain yang meliputi : 1.Apakah pada korban telah dilakukan otopsi . Pembunuhan.Memegang kawat listrik .Mobil bertabrakan dengan mobil .Jatuh dari atap tertusuk benda runcing.Bagaimana keadaan korban post operasi. Kecelakaan lalu lintas a. Kematian mendadak . dsb. Apakah ada dugaan .Korban dalah pengemudi dibawah pengaruh obat anti ngantuk (sejenis amphetamine).18 Supaya Visum et Repertum korban luka. 4. Bila dokter terpaksa harus membuat Visum et Repertum karena tidak ada dokter lain. 2. Bila sebab kematian kurang memuaskan masih ada kesempatan untuk memeriksa mayat kembali sebelum di kubur. dsb. 3.Tanggal dan jam korban ditemukan meninggal . dsb. Siapakah korban .

Jika dokter daerah yang memeriksa tadi mendapat kesukaran dalam mengambil kesimpulan. Setalah mantri selesai mengerjakan otopsi. 2. jika hakim setuju maka pendapat itu diambil alih dan dianggap sebagai pendapatnya sendiri (Overgenomen en tot de zijne gemaakt). menentukan bahwa laporan dari ahli yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mengutarakan pendapat dan pikirannya tentang keadaan dan perkara yang bersangkutan hanya dapat dipakai guna memberi penerangan pada hakim dan hakim sama sekali tidak wajib turut pada pendapatnya jika keyakinan hakim bertentangan dengan pendapatnya. Persetujuan tindakan Kedokteran/ informed consent telah diatur dalam Pasal 45 Undang – undang no. Pasien yang termasuk kedalam lingkup pelayanan forensik klinik antara lain pasien datang dengan surat permintaan visum. sebab di puskesmas ia sendirian. 29 tahun 2004 tentang praktek Kedokteran.19 musnah karena pembusukan. ia dapat meminta nasehat pada ahli forensik. Cara dokter daerah melakukan otopsi forensik : 1. Otopsi forensik yang dilakukan tepat pada waktunya menghemat waktu maupun biaya. pasal 306 H.R. Wirjono Prodjonikoro dalam bukunya Hukum Acara Pidana di Indonesia cetakan ke VII tahun 1970 halaman 89 menyatakan “Tentang keterangan ahli. Dokter daerah diharapkan dapat mendidik mantri untuk melakukan otopsi. dokter sendirilah yang memeriksa setiap alat tubuh yang dikeluarkan dan mencatat apa yang telah diamati dan ditemukan. maka kesimpulan ahli diambil alih menjadi kesimpulannya. pasien korban tindak pidana . Sebaliknya. Jika ia setuju dengan nasehatnya. seorang dokter harus tetap memperhatikan persetujuan tindakan kedokteran (informed consent) dalam menangani korban yang diduga mengalami peristiwa tindak pidana. BAB III KESIMPULAN Pelayanan Kedokteran forensik adalah pelayanan kesehatan yang meliputi korban hidup dan korban mati yang berhubungan dengan tindak pidana. Sedangkan anggaran untuk itu di Rumah Sakit tidak tersedia. Selain tidak memuaskan. biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar karena untuk penggalian. dan sebagainya. sedangkan mantri tidak boleh memeriksa alat tubuh dan mencatat apa yang telah diperiksa. pemeriksaan racun.I. Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan.

atau pasien datang dengan surat permintaan visum.20 penganiayaan. pasien korban kecarunan. pasien korban kekerasan seksual. 21 . seorang dokter hanya memerlukan surat persetujuan dari penyidik namun dokter tetap berkewajiban memberikan penjelasan yang mengenai pemeriksaan apa yang akan dilakukan dan bagaimana prosedur pemeriksaannya sehingga pasien dan dokter sama-sama terlindungi oleh hukum. pasien dengan luka yang tidak jelas penyebabnya. pasien korban kecelakaan lalu lintas. Meskipun dalam pembuatan visum et Repertum. Beban/kewajiban untuk membuat visum et repertum atas seorang korban tindak pidana tidak bisa terlepas dari praktek sehari – hari seorang dokter.

N. Putu.V.kemkes. Visum et Repertum dan Pelaksanaannya.21 DAFTAR PUSTAKA Afandi D.id/documents/uu_29_2004. 59: 327-332 Atmodirono. Percetakan Minerva.com. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MenKes/Per/III/2008. Penerbit Pradnya Paramita. cetakan ke VII. Visum et Repertum. Airlangga University Press. 2003. 2009.org/file/download/KMK%20No. Surabaya.. Sampurna B. Samsu Z. 27 Tahun 1983.A. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta: Pustaka Dwipar. Sampurna. Diakses tanggal 8 Mei 2016 Kementerian Kesehatan RI. .. 2004. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. Rustyadi D. Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia. et al. Otopsi Virtual. http://ropeg. Peraturan Pelaksanaan K. Ramadhan. http://pdk3mi.mhsblogspot. Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana. www..U. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. cetakan Pertama. Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran. Implementasi Otopsi Forensik di Instalasi Kedokteran FOrensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.. Budi. 2016. Soetomo Tjokronegoro: Beberapa hal tentang Ilmu Dokter kehakiman. 2013.P. H. cetakan pertama. 2008. 2006.pdf. Suartha IDM.%20290%20ttg %20Persetujuan%20Tindakan%20Kedokteran.H. Penerbit Kebangsaan. Njowito H.pdf. Jakarta. 1980. Diakses tanggal 8 Mei 2016 Moeljatno. Madiun 1971. Peranan ilmu forensik dalam penegakan hukum. Keneng IK. Diakses tanggal 1 September 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran.go. Pustaka Rakyat. 1952. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 1983.

22 .