You are on page 1of 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki awal dasawarsa kedua di abad kedua puluh satu, telah
terjadi sejumlah merger dan akuisisi antar kelompok media di Indonesia.
Fenomena ini membuat sebagian besar kanal media di Indonesia terpusat
hanya pada 12 grup media besar, 10 group memiliki televisi. Bahkan ada
sebuah grup perusahaan yang memiliki 20 channel televisi, seperti grup MNC
dan Jawa Pos. Sebanyak 6 grup perusahaan media memiliki radio dan 9 grup
memiliki koran atau majalah cetak.
Di antara pemilik media besar ini juga memiliki bisnis di luar media
massa yang berada pada sektor vital dan menguasai hajat hidup orang banyak.
Terlebih lagi, dengan adanya beberapa pemilik media yang juga berprofesi
sebagai politisi. Mereka akan diuntungkan karena dapat menggunakan media
yang mereka miliki untuk menciptakan opini publik sesuai kehendak mereka.
Pebisnis menempatkan publik sebagai konsumen dan politisi memposisikan
publik sebagai pemberi suara.
Bila merunut pada situasi semestinya, publiklah yang harus
menempati pemegang kendali atas media karena secara etimologis kata
‘media’ memiliki makna locus publicus — sebuah ranah publik. Kendali
publik atas media juga merupakan salah satu unsur bagi negara dan
pemerintahan yang demokratis. Oleh karena itu, menurut Miriam Budiardjo
(2007: 120) nilai-nilai demokrasi dapat terwujud apabila terdapat pers dan
media massa yang yang bebas untuk menyatakan pendapat. Jika opini publik
dipermainkan oleh beberapa group media besar, maka tidak menutup
kemungkinan tertutupnya akses bagi publik untuk menyatakan pendapat
sesuai dengan ciri negara demokratis tersebut.
Timbul paradigma baru ketika jurnalisme internet mulai berkembang.
Melalui media online, jurnalisme internet diharapkan mampu melawan
dominasi pembentukan opini publik dari media arus utama (mainstream).
Sifat media online yang personal menjadikan tiap orang mempunyai

dan kebergaman pendapat (diversity of voice) dari media online sehingga masyarakat Indonesia mandiri atas ruang publiknya sendiri. . 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran bahkan telah mengatur dalam bab tersendiri mengenai media komunitas. keragaman isi (diversity of contents).2 kebebasan untuk memilih informasi yang mereka butuhkan dan memberikan umpan balik (feedback) secara langsung atas pesan-pesan yang disampaikan. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran pasal 18 menetapkan ayat 1 dan pasal 20 telah membatasi kepemilikan silang media televisi dan radio. Undang-Undang No. Melalui regulasi akan dijamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership). Oleh karena itu. Belum ada regulasi yang secara tegas mengatur media online. Dalam hal partisipasi publik. Sebagai contoh dalam hal pencegahan konglomerasi media. bahkan beberapa grup media yang sama sekali tidak memiliki media online. UndangUndang No. tercatat hanya Kompas Gramedia Group yang memiliki media online terbayak yaitu 2 media. Dari 12 grup media besar di atas. sehingga doktrinasi satu sudut pandang dari media mainstream dapat dicegah. yaitu media online. Permasalahan muncul ketika pengaturan media online menjadi wilayah abu-abu. sementara yang lain masingmasing hanya memiliki 1 media online. tetapi belum ada pencegahan konglomerasi terhadap media online. tetapi belum ada pengaturan terhadap media online berbasis komunitas. oleh karena itu publik harus iktut berpartisipasi di dalam dapur pemberitaan. yaitu adanya keharusan siaran televisi berjejaring dan radio kumunitas. Oleh karena itu.Publik harus memanfaatkan kesempatan ini. Daya dukung media online untuk melawan media mainstream datang ketika konglomerasi media belum menyasar pada sektor media online. Sehingga dapat dipastikan bahwa konglomerasi media menyisahkan 1 tempat yang layak bagi publik untuk menempati pemegang kendali atas media. melalui karya ini kami akan menguraikan pentingnya kepemilikan bagi publik untuk mempeloreh hak sepenuhnya atas media online yang didukung dengan regulasi.

2. Sebagai penyalur informasi yang paling efektif dan efisien kepada publik. 2006) mengungkapkan bahwa media adalah penciptaan “ruang publik”. kita harus memahami makna media secara mendalam. sebab hal tersebut sering diutarakan sebagai pilar keempat kemajuan demokrasi negeri ini. Selain itu. Kata media berasal dari bahasa Latin. Definisi Media Kalimat yang menyatakan bahwa media yang bebas dan adil penting keberadaannya guna mendukung perkembangan masyarakat dan bangsa yang demokratis sering kita dengar di era reformasi saat ini. Menurut Nurudin (2007: 4). Media Massa Sebagai Alat Propaganda Media massa merupakan hal yang tak asing bagi Negara Indonesia. medius. Nunuk Suryani (2012: 135) mengartikan media sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. media masa sering digunakan untuk mengarahkan atau mengendalikan perilaku . Berdasar makna etimologis tersebut. Guna memahami kalimat tersebut. Nugroho. 1989. tetapi juga mementingkan keterlibatan publik dengan mewadahi kebebasan berpendapat sebagai wujud demokrasi seperti sekarang ini.3 BAB II TELAAH PUSTAKA A. dan Laksmi (2012: 11) menganggap bahwa media sebagai locus publicus atau ruang publik berarti media tidak hanya mementingkan media saja. Berdasarkan uraian di atas. dapat disimpulkan bahwa media merupakan sebuah ruang publik tempat terjadinya komunikasi berupa penyaluran informasi yang mengakomodasi kebebasan berpendapat masyarakat sesuai nilai demokrasi. Putri. atau “pengantar”. “perantara”. Habermas (Habermas. cepat kepada audience yang luas dan heterogen. berarti “tengah”. media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak. Media 1.

Kegiatan propaganda oleh media sangat dimungkinkan sebab Hypodermic Needle Theory atau teori peluru mengatakan bahwa secara umum apa yang disajikan media secara langsung atau kuat memberi rangsangan kepada audience sehingga berdampak kuat pada diri penikmat berita. Hal tersebut dapat terjadi karena media massa mempunyai pemikiran bahwa publik bisa ditundukan sedemikian rupa atau bahkan bias dibentuk melalui cara apapun yang dikehendaki media (Nurudin. Denis Mc Quail (1987: 28) menguraikan ciri-ciri media online yakni: perangkatnya mencakup beberapa sistem teknologi: sistem transmisi (kabel atau satelit). sistem penyajian gambar (penyajian gambar menggunakan kombinasi teks dan grafik secara lentur). 3. sebagai media generasi baru. 1987: 26). Kecenderungan media massa digunakan sebagai alat propaganda sesuai dengan definisi propaganda yang dikatakan Barnays bahwa propaganda modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan publik terhadap suatu usaha atau kelompok. Lebih jauh. sistem pengendalian oleh komputer. B. Oleh karena itu. Media Online Perkembangan teknologi mewujudkan sebuah media generasi baru yang bernama media telematika atau media online. berkumpul dan . Pers Pilar Demokrasi Kebebasan mengeluarkan pendapat di Indonesia diatur dalam Pasal 28 UUD NRI 1945 yang berbunyi “kemerdekaan berserikat. sistem penyimpanan dan pecarian informasi. sistem miniaturisasi.4 konsumen dan perilaku politik sejumlah besar pemilih (Denis Mc Quail. Denis (1987: 29) menambahkan bahwa ciri utama yang media baru yang paling mencolok adalah desentralisasi pengadaan dan pemilihan berita tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemasok komunikasi namun dapat dilakukan oleh audience melalui kanal yang ada. 2007: 166). media online dirasa memiliki berbagai keunggulan melebihi media lama.

Hal ini penting mengingat muatan pemberitaan menjadi konsumsi publik yang akan mempengaruhi opini publik dan dapat saja menjadi sebuah propaganda. C. keragaman isi (diversity of content). pers disebut sebagai pilar keempat negara demokrasi. Salah satu syarat dasar terselenggaranya pemerintah yang demokratis dalam bingkaian negara hukum adalah adanya jaminan kebebasan warga negara untuk mengemukakan pendapat” (Budiardjo. dan kebergaman pendapat (diversity of voice) harus dijmin keberadaannya (Iwan Awaludin Yusuf. Pers memiliki peranan penting yaitu sebagai alat komunikasi politik yang memiliki posisi strategis sebagai sarana informasi massa dan sebagai alat kontrol terhadap kebijakan pemerintah. http://bincangmedia. Oleh karena itu. kebergaman pendapat (diversity of voice) maksudnya adalah adanya heterogenitas pemikiran yang ditampilkan dalam pemberitaan guna menjaga objektivitas informasi yang akan dikonsumsi publik-publik. Regulasi Regulasi memiliki banyak persamaan kata.wordpress. akses 21 Oktober 2013). Terakhir. tetapi juga harus tersedia jaminan atas kualitas konten pemberitaan. Kebebasan pers tidak hanya dimaknai sebagai jaminan tersedianya pers yang bebas. yaitu keragaman kepemilikan (diversity of ownership).com/tag/monopoli-media-di-indonesia/. 2011. Keberagaman kepemilikan berarti media massa tak boleh dikuasai hanya oleh seorang individu maupun satu kelompok saja namun harus dikuasai oleh paling tidak lebih dari dua pemilik guna menjaga netralitas dalam proses penyelenggaraan tugas media massa sebagai penyaji informasi publik. Menurut Iwan Awaludin Yusuf bahwa kualitas pemberitaan berupa informasi yang dikeluarkan oleh media massa sangat dipengaruhi oleh tiga hal. Keragaman isi (diversity of content) dapat diartikan sebagai heterogenitas muatan materi pemberitaan yang diinformasikan oleh media massa.5 mengeluarkan pendapat”. 2007: 116). Budi winarno dan Solichin Abdul Wahab dalam Suharno (2010: 1) sepakat bahwa penggunaan istilah “kebijakan” ini sering dipertukarkan dengan istilah-istilah lain seperti . 40 Tahun 1999. Di Indonesia kebebasan pers diatur lebih rinci dalam UU No.

.6 keputusan. Oleh karena itu. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memberikan definisi kebijakan sebagai pedoman untuk bertindak (Suharno. termasuk didalamnya pembuatan Undang Undang. 2010: 11). Menurut Sholicin Abdul wahab bahwa kebijakan publik harus disertai oleh keputusan kebijakan (policy decicion). pembentukan kebijakan sangat penting artinya bagi media massa yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi dan tujuan media massa sebagai sarana aspirasi masyarakat di ruang publik. Berkaitan dengan hal tersebut. khususnya bagi media massa sebab hal tersebut menjadi dasar dalam setiap tindakan yang terjadi di media massa. Keberadaan kebijakan sangat penting artinya. ialah keputusan yang dibuat oleh pejabat pemerintah guna memberi arah pelaksanaan kebijakan publik. undang-undang. ketentuan-ketentuan dan regulasi.

Media .1 Data 12 grup media besar di Indonesia serta bisnis yang dijalankan oleh pemiliknya. Grup tersebut adalah MNC Media Group. maka akan menyisahkan 12 grup media besar. Mahaka Media Group. Alih-alih menciptakan media yang berpihak pada publik. CT Corp. Sumber: Laporan hasil riset yang dilaksanakan Centre for Innovation Policy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia Tenggara Jika memetakan kepemilikan media di Indonesia. Elang Mahkota Teknologi. Kompas Gramedia Group. Visi Media Asia. media kembali jatuh di bawah kendali pebisnis.7 BAB III ANALISIS DAN SINTESIS A. Jawa Pos Group. Analisis Permasalahan 1. Tabel 3. Perubahan ini dianggap sebagai momentum untuk mengembalikan media sebagai penyambung lidah publik setelah sekian lama berada di bawah kendali negara yang sangat kuat. Konglomerasi Media Dibukanya kran kekangan terhadap media pasca reformasi 1998 menandai dimulainya pertumbuhan industri media di Indonesia. Kebijakan-kebijakan pers dan kebijakan media secara umum ditinjau ulang dan kemudian direvisi.

Bahkan ada sebuah grop perusahaan yang memiliki 20 channel televisi. Menurut Jason dan Anne Hills (1997) opini publik dapat dibentuk melalalui Hypodermic Needle Theory yang mengasumsikan media massa mempunyai pemikiran bahwa publik bisa ditundukkan sedemikian rupa atau dibentuk dengan cara apapun dengan apa yang dikehendaki media (Hidayat. Gaya pemberitaanya cenderung subjektif. Putri. 10 group memiliki televisi.8 Group. Dari 12 grup media ini. 2009: 166) . Femina Group. sementara informasi atau berita yang berasal dari sektor lain dapat dilaporkan secara lebih objektif di kanal-kanal media mereka (Nugroho. Iklan politik Aburizal Bakrie hanya ditayangkan oleh Visi Media Asia yang merupakan media miliknya sendiri. Sebagai contoh. MRA Media. Tempo Inti Media dan Beritasatu Media Holding. Fenomena ini oleh Firdaus Cahyadi (Koran Tempo. Terlebih lagi dengan adanya beberapa pemilik media yang juga berprofesi sebagai politisi. para pemegang saham media ini juga memiliki bisnis di sejumlah sektor publik seperti jasa kesehatan dan properti sehingga berita yang dimuat hanya informasi atau berita yang bersinggungan dengan kepentingan bisnis kelompoknya. Sebanyak 6 grup perusahaan media memiliki radio dan 9 grup memiliki koran atau majalah cetak. Di antara pemilik media besar ini juga memiliki bisnis di luar media massa yang berada pada sektor vital dan menguasai hajat hidup orang banyak. Iklan politik Hary Tanoesoedibjo hanya disiarkan di bawah bendera MNC Media Group. dan Laksmi. dan iklan politik Surya Paloh hanya ditayangkan di Media Group. 21 Maret 2012) dalam opininya mengatakan bahwa hal tersebut sebagai konglomerasi media. seperti grup MNC dan Jawa Pos. Sebagai contoh mengenai Beritasatu Media Holding. ini merupakan gambaran bagaimana pebisnis hanya menempatkan publik sebagai konsumen dan politisi memposisikan publik sebagai pemberi suara Mereka akan diuntungkan karena dapat menggunakan media yang mereka miliki untuk menciptakan opini publik sesuai dengan kehendak mereka. 2012: 52).

angka itu diprediksi naik sekitar 30 persen menjadi 82 juta pengguna dan terus tumbuh menjadi 107 juta pada 2014 dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015 (Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pekalongan. tercatat hanya Kompas Gramedia Group yang memiliki media online terbayak yaitu 2 media. tempat yang menyediakan ruang-ruang yang dibutuhkan oleh warga negara untuk terlibat satu sama lain. sementara yang lain masing-masing hanya memiliki 1 media online. publiklah yang harus menempati pemegang kendali atas media karena secara etimologis kata ‘media’ memiliki makna locus publicus — sebuah ranah publik di mana terjadi interaksi antar warga. Tahun depan.9 Bila merunut pada situasi semestinya. Di sisi lain. Dari 12 grup media besar di atas. media telah merampas hak publik dengan menyembunyikan informasi yang mungkin penting bagi publik. akses 22 Oktober 2013). bahkan beberapa grup media yang sama sekali tidak memiliki media online.pekalongankota.23 persen dari total populasi negara ini. . kesiapan publik di tanah air dalam memanfaatkan media online dapat dianalisis dari pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat. Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia adalah potensi pembaca bagi media online. media tidak dalam posisi untuk menyediakan ruang yang dibutuhkan warga untuk terlibat satu sama lain. Survei yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2012 mencapai 63 juta orang atau 24. 2. Dari riset kerjasama yang dilaksanakan oleh Centre for Innovation Policy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia Tenggara melaporkan bahwa konglomerasi media belum menyasar pada sektor media online. yaitu media online.id/index. Media Online: Kanal Terakhir Yang Harus Diselamatkan Di tengah konglomerasi media arus utama (mainstream) ternyata masih menyisakan 1 ruang yang layak bagi publik untuk menjadi pemegang kendali atas media. http://kominfo. Akan tetapi yang terjadi sekarang.go.

Permasalahan kemudian muncul ketika kualitas berita media online mulai dipertayakan. Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Jurnalis warga yang berbeda mungkin menggunakan satu . Nugroho. sehingga doktrinasi satu sudut pandang dari media mainstream dapat dicegah. jurnalisme internet diharapkan mampu melawan dominasi pembentukan opini publik dari media arus utama (mainstream).2 Data 12 grup media besar di Indonesia yang memiliki media online Sumber: Laporan hasil riset yang dilaksanakan Centre for Innovation Policy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia Tenggara Dukungan untuk media online juga datang ketika paradigma baru jurnalisme internet mulai berkembang. Sifat media online yang personal menjadikan tiap orang mempunyai kebebasan untuk dapat memiliki akses lebih terhadap informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan memberikan umpan balik (feedback) secara langsung.10 Tabel 3. Putri. Melalui media online. dan Laksmi (2012: 97) mengatakan Penurunan kualitas jurnalisme disebabkan oleh duplikasi konten atau sumber berita. sifat media online yang menuntut jurnalis warga untuk bergerak cepat seringkali mengabaikan etika jurnalistik termasuk di dalamnya verifikasi pada setiap informasi dan data. Di media arus utama (mainstream) selalu ada proses redaksional. sementara di media online tidak selalu jelas apakah proses yang sama juga diikuti.

. Publik dapat dengan mudah mengkritik hasil kerja dari seorang jurnalis online. dan kebergaman pendapat (diversity of voice) dari media online sehingga tujuan media sebagai pilar demokrasi dapat terwujud. Permasalahan muncul ketika pengaturan media online menjadi wilayah abu-abu. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur ranah publik online (tetapi sebaliknya digunakan untuk mengancam kebebasan warga di dunia maya). Belum ada regulasi yang secara tegas mengatur perlindungan media online yang menjamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership). dan Laksmi (2012: 47) menambahkan ada beberapa regulasi yang bersinggungan dengan media. maka tidak menutup kemungkinan para pelaku jurnalisme warga akan kalah bersaing dengan jurnalis yang sudah mapan dari media arus utama (mainstream) sehingga yang terjadi adalah opini publik kembali dipermainkan oleh media arus utama (mainstream). 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Keprihatinan dengan kualitas berita media online dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap media online. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah wadah bagi para pegiat jurnalisme warga untuk mempelajari bagaimana mereka dapat menggunakan media online secara efektif dan strategis. palsu. Dua kebijakan utama ini merupakan sebuah langkah menuju pemenuhan hak warga terhadap media. Regulasi Media Hingga saat ini tercatat beberapa regulasi yang menjadi payung hukum pengaturan media di Indonesia. 3. keragaman isi (diversity of contents). jika mereka memberikan informasi yang berkualitas rendah. Undang Undang No. wadah yang dapat mengajari bagaimana pengimplementasian etika jurnalistik. seperti UndangUndang No.11 sumber berita yang sama secara berulang-ulang. Putri. Bila hal ini terjadi. terutama untuk menjamin keberagaman dalam media guna mengembalikan media sebagai hak publik. sehingga menghasilkan keseragaman konten di media online. seperti Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tantang Pers. Nugroho. tidak relevan atau tidak akurat.

b) Kebergaman Pendapat Dalam hal partisipasi publik guna menciptakan kebergaman pendapat. (Nugroho. Peraturan Pemerintah tersebut telah melanggar Undang-undang dengan mengijinkan sebuah lembaga penyiaran untuk menjangkau hingga maksimal 75% dari jumlah total provinsi yang ada di Indonesia. Putri. 2012: 46) Tetapi terlepas dari itu. Bahkan pada kenyataannya.12 a) Keberagaman Kepemilikan Untuk menjamin adanya keragaman kepemilikan. Selain itu belum ada perlindungan yang mengatur tentang pegiat jurnalisme warga. 50 Tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta dan Undang Undang Penyiaran No. wartawan profesional yang bekerja pada media media arus utama (mainstream) perlindungan hukum dari Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers untuk menuliskan berita. Undang Undang No. pemerintah telah melakukan pencegahan konglomerasi media. 32 Tahun 2002 bahkan telah mengatur dalam bab tersendiri mengenai media komunitas. Oleh karena dibutuhkan sebuah regulasi yang dapat melindungi media online konglomerasi media. dan Laksmi. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran pasal 18 menetapkan ayat 1 dan pasal 20 telah membatasi kepemilikan silang media televisi dan radio meskipun dalam pengimplementasiannya mengalami kesulitan karena adanya kontradiksi antara Peraturan Pemerintah No. Sedangkan posisi jurnalis warga yang tidak berkedudukan sebagai jurnalis profesional tidak mendapatkan . Undang Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran hanya mengatur tentang perlindungan terhadap kanal televisi dan radio. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran adalah salah satu contohnya: isi dari PP 50/2005 bertentangan dengan poin-poin yang sudah diatur oleh UU Penyiaran. tetapi belum ada pengaturan terhadap media online berbasis komunitas. belum ada pencegahan konglomerasi terhadap media online. Undang Undang Penyiaran No. Pertentangan yang paling terlihat adalah mengenai proses mendapatkan ijin dan kewajiban untuk melaksanakan sistem siaran berjaringan. Sebagai contoh. yaitu adanya keharusan siaran televisi berjejaring dan radio kumunitas.

ternyata masih tersisa satu tempat yang layak bagi publik melalui media online. Konglomerasi kepemilikan media yang terpusat hanya pada 12 grup media besar menyebabkan tidak terwujudnya keragaman kepemilikan (diversity of ownership). Sintesis Dari analisis yang dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah regualsi yang dapat mengikat pelaku media online agar terikat dengan etika jurnalistik. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah regulasi yang dapat menjamin partisipasi publik guna terwujudnya keragaman pendapat sehingga tujuan media sebagai pilar demokrasi dapat terwujud.13 perlindungan hukum untuk penyebarluasan berita sehingga pegiat jurnalisme warga rawan terjerat Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. hal ini dapat mengancam keragaman isi (diversity of content) dari media pemberitaan. Di tengah konglomerasi kepemilikan media. c) Keberagaman Isi Publik sering mempertanyakan kualitas isi berita media online. sebuah konsep pemberitaan berbasis komunitas dengan memanfaatkan kanal televisi dan radio pernah . Hal ini tentunya wajar mengingat jurnalis warga yang tidak berkedudukan sebagai jurnalis profesional sehingga tidak terikat dengan Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tantang Pers Pasal 1 angka 4 yang menekankan keterikatan terhadap pedoman pembuatan berita. tetapi kualitas berita media online mulai banyak dipertayakan karena pegiat jurnalisme warga kadang tidak memperhatikan etika jurnalistik dalam penyebarluasan berita. B. Permasalahan lain adalah kebergaman pendapat (diversity of voice). tidak relevan atau tidak akurat. palsu. Kadang pelaku media online memberikan informasi yang berkualitas rendah. ditemukan berbagai permasalahan yang mengarah pada ketidakadilan pemberitaan media di Indonesia saat ini. Dengan adanya regulasi ini kualitas berita dan keberagaman isi di dalam media online.

Oleh karena itu. maka peraturan pelaksanya harus sesuai dengan regulasi yang dibuat. 2. Permasalahan yang muncul ketika belum ada regulasi yang mengatur tentang media online. Hal ini sangat mungkin terjadi karena media online berbasis komunitas merupakan organisasi publik. Regulasi ini juga harus melindungi media online berbasis komunitas dari segi finansial. keragaman isi (diversity of contents). dan kebergaman pendapat (diversity of voice) dari media online. Menjamin Keragaman Kepemilikan (Diversity of Ownership). Oleh karena itu di butuhkan regulasi yang dapat menjamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership). Pemberian dana hibah oleh pemerintah kepada organisasi publik bukan barang baru. Media online sebagai suatu tempat yang masih layak serta konsep media komunitas yang dianggap dapat meningkatkan partisipasi publik menjadi hal yang relevan untuk dikombinasikan guna mengembalikan kendali publik atas media massa sesuai ciri negara demokratis. tetapi kembali gagal karena keterbatasan frekuensi dan sumber daya manusia. Regulasinya dapat meniru konsep pencegahan konglomerasi yang telah di atur di dalam Undang Undang No. misalnya pemerintah mempunyai alokasi dana khusus untuk organisasi massa (Ormas). Regulasi ini nantinya mengatur hal-hal sebagai berikut: 1. Regulasi yang dibentuk harus melindungi kanal media online dari praktik-praktik konglomerasi sehingga terjadi keragaman kepemilikan. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dari undang-undang penyiaran. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran beserta sanksi yang dikenakan bagi pelanggarnya. Mengingat jatuhnya madia komunitas pada kanal televisi dan radio ketangan pebisnis lebih banyak dipengaruhi oleh ketidak mampuan media komunitas dalam hal pembiayaan. . melalui regulasi ini pemerintah harus menjadi salah satu sumber dana dalam bentuk hibah kepada media online berbasis komunitas.14 dicoba untuk mengatasi permasalahan ini. Menjamin Keragaman Pendapat (diversity of voice).

Jaminan atas kualitas isi pada media online berbasis komunitas dapat diwujudkan dengan menerapkan etika jurnalistik pada proses pembuatan dan penyebarluasan informasi. Regulasi nantinya harus mengatur validitas informasi dan data. 32 Tahun 2002 Tentang Lembaga Penyiaran Komunitas. pencegahan duplikasi konten atau sumber berita secara berulang-ulang sehingga menghasilkan keseragaman konten di media online. Dengan pengaturan seperti ini. 3. misalnya komunitas radio yang jangkauannya yang hanya dalam radius 2. Pengaplikasian media online berbasis kumonitas mempunyai prospek dengan tingkat keberhasilan tinggi. komunitas berdasarkan geografis dan lain-lain. media online berbasis komunitas diposisikan sebagai badan hukum. seperti komunitas berdasarkan minat. Segmentasi-segmentasi media online berbasis komunitas juga dapat dibuat beragam. Menjamin Keragaman Isi (Diversity of Contents). setiap orang bebas membuat saluran sebanyak-banyaknya. Dengan adanya regulasi ini. Berbeda dengan konsep media komunitas pada kanal televisi dan radio yang terbatas terkendala pada segmentasi geografis. hal ini disebabkan media online tidak mengenal istilah pembatasan frekuensi. Kelemahan-kelemahan media komunitas pada kanal televisi dan radio karena keterbatasan frekuensi tidak akan terjadi pada media online. Hal ini tentunya berimplikasi pada terjaminnya aksessibilatas pegiat media online. mulai dari kemudahan pengumpulan informasi samapai penyebarluasan informasi. Regulasinya dapat meniru konsep media komunitas yang telah diterapkan pada kanal televisi dan radio sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Undang Undang Penyiaran No. maka secara langsung pegiat jurnalime . Etika jurnalistik hanya dapat mengikat wartawan yang bekerja secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik pada media bersatatus badan hukum.15 Regulasi yang dibentuk harus menjadi payung hukum bagi pembentukan media online berbasis komunitas. kelompok-kelompok yang tergabung dalam komunitas media online telah diposisikan sebagai badan hukum.5 km. lewat internet.

Bagi pegiat jurnalime online yang bekerja tidak teratur (tidak bekerja secara penuh) dalam media online berbasis komunitas. maka bagi mereka diminta untuk mendatangani secara elektronik persetujuannya untuk tunduk terhadap penyebarluasan informasi.16 online yang tergabung dan bekerja secara teratur dalam media online berbasis komunitas sudah dapat dikatakan sebagai wartawan profesional. etika jurnalistik sebelum melakukan . hal tentunya membuat pegiat jurnalime online tersebut terikat oleh etika jurnalistik.

(4) Kekosongan regulasi yang mengatur tentang media online. 3. (2) Kualitas juranalisme warga banyak dipertanyakan. Sejumlah permasalahan yang terjadi di media pemberitaan Indonesia telah menggiring media untuk keluar dari fungsi dan tujuannya semula. Simpulan 1. Permasalahan tersebut antara lain: (1) Konglomerasi media dapat mempermaikan opini publik. keragaman isi (diversity of contents). Konsep media komunitas dengan memanfaatkan kanal media online dapat mengembalikan kendali publik atas media massa sesuai ciri negara demokratis. 2. Mendesak pemerintah untuk segera membentuk regulasi tentang media online mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat. . 2. (3) Media komunitas pada kanal televisi dan radio tidak mampu bertahan menghadapi maraknya konglomerasi media. Perlu dilakukan analisis lebih mendalam guna menggali konsep-konsep regulasi yang dapat menguatkan media online berbasis komunitas. Saran 1. yaitu pilar demokrasi. Pembentukan regulasi yang mengatur tentang media online dapat menjamin adanya keragaman kepemilikan (diversity of ownership). B.17 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. dan kebergaman pendapat (diversity of voice) dari media online sehingga tujuan media sebagai pilar demokrasi dapat terwujud.

Iwan Awaludin. Putri. Laksmi. 1989. The Structural Transformation of the Public Sphere. Memberdayakan Masyarakat: Memahami kebijakan dan tatakelola media di Indonesia melalui kacamata hak warga negara. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Jakarta: Rajawali Pers. Religion in the public sphere. MA. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Denis. S. Yogyakarta: UNY Press. 1–25. Suryani. “Kenaikan Pengguna Internet di Indonesia. Jakarta: CIPG dan HIVOS. Nurudin. 1987. . Gaines (trans. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. J. Komunikasi Propaganda. Cambridge. 2011. Nugroho. Habermas. 21 Maret 2012.. 2009.).pekalongankota. MIT Press. http://bincangmedia. Y. akses 21 Oktober 2013. [German. European Journal of Philosophy 14. Nurudin. Jakarta: Erlangga. 2008. Sistem Komunikasi Indonesia.go. Laporan. 1962]. Pengantar Komunikasi Massa. Eni. Memetakan Lansekap Industri Media Kontemporer di Indonesia (Edisi Bahasa Indonesia). Yusuf. Mc Quiel. Miriam. Maryani. akses 22 Oktober 2013). J. DA. 2004. Pengantar Komunikasi Massa... 2011. didanai oleh Ford Foundation. Dedy Nur. Firdaus. Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pekalongan.” http://kominfo. J. Bermedia.18 DAFTAR PUSTAKA Budiardjo.. Riset kerjasama antara Centre for Innovation Policy and Governance dan HIVOS Kantor Regional Asia Tenggara. Suharno. Media dan Perubahan Sosial. Bandung: Rosda.wordpress. Habermas. Yogyakarta: Ombak. 2012.id/index. 2010.com/tag/monopolimedia-di-indonesia/. Bandung: Rosda. 2007. 2006. Hidayat. Strategi Belajar Mengajar. 2012. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Cahyadi. Nurudin. “Konglomerasi Media dan Politik Oligarki. 2007. Nunuk dan Leo Agung. Dasar-Dasar Ilmu Politik.” Koran Tempo.

19 .