You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak isu kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan
siklus hidup wanita

diantaranya tentang Human Immunodeficiency Virus/

Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) pada ibu rumah tangga dan
Kekerasan dalam Pacaran (KDP). Isu-isu tersebut menjadi trend yang
berdampak buruk pada wanita baik dari segi fisik, seksual, psikologi, ekonomi,
sosial, dan lai-lain. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan ibu rumah
tangga menempati urutan terbesar Orang dengan HIV-AIDS (ODHA), menurut
kelompok mata pencahariannya yaitu, sebanyak 9.096. Sementara urutan kedua
yaitu karyawan 8.287, sementara yang tidak diketahui profesinya mencapai
21.434 orang. Angka itu terungkap dalam laporan data kumulatif HIV-AIDS
sepanjang tahun 1987 sampai dengan September 2015. Jumlah ibu rumah
tangga yang terinfeksi virus HIV/AIDS lebih banyak jika dibandingkan dengan
jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang terjangkit virus HIV/AIDS. Hal ini
menunjukan bahwa penularan AIDS di Indonesia mulai bergeser dari kelompok
rentan ke kelompok risiko rendah, seperti ibu rumah tangga. (Kemenkes, 2014)
Kekerasan dalam pacaran (KDP) atau istilah lainnya Dating Violence
didefinisikan

sebagai

segala

bentuk

tindakan

yang

mempunyai

unsur

pemaksaan, tekanan, perusakan, dan pelecehan fisik maupun psikologis yang
terjadi dalam hubungan pacaran. Dalam sebuah diskusi mengenai kekerasan
dalam pacaran, 70% remaja putri melaporkan mendapatkan pelecehan sewaktu
pacaran, sedangkan remaja putra mengalami pelecehan dari pacarnya sebesar
27%. Hasil penelitian dari National Crime Victimization Survey di Amerika Serikat
berkesimpulan bahwa perempuan 6 (enam) kali lebih rentan mengalami
kekerasan akibat ulah teman dekat mereka, baik pacar maupun mantan pacar.
Kekerasan dalam berpacaran tergolong dalam suatu bentuk perilaku
menyimpang remaja yang kasusnya biasa terjadi di lingkungan sekitar namun
terkadang tidak disadari baik itu oleh korban atau bahkan oleh pelakunya sendiri.

1

Sekitar 40-50% dari perempuan yang menjadi korban kekerasan,
terutama kekerasan fisik, terus melanjutkan hubungan pacaran mereka dengan
pasangan yang telah menyiksanya. Hal ini memberi kesan bahwa kekerasan
dalam pacaran cenderung dianggap sebagai hal yang wajar diterima sebagai
risiko berpacaran sekaligus juga menyebabkan korban umumnya tetap bertahan
dalam hubungan pacaran dengan kekerasan, padahal tanpa korban sadari
kekerasan tersebut dapat menjadi sebuah siklus yang berkelanjutan dan dapat
berdampak buruk bagi korban kekerasan sehingga dapat merusak masa
depannya. Apabila perilaku ini diteruskan hingga jenjang pernikahan, dapat
dipastikan perilaku kekerasan yang dialami ketika pacaran akan terus terulang
setelah menikah (kekerasan dalam rumah tangga) dan dapat mengakibatkan
trauma berkepanjangan.
Dalam

bidang

kebidanan

khususnya

bidang

kesehatan

reproduksi,

kekerasan dalam pacaran dan penyakit menular seperti HIV/AIDS merupakan
suatu hal yang harus diketahui oleh bidan. Oleh karena itu, fieldtrip ini ditujukan
untuk mengidentifikasi pelaksanaan program pelayanan yang ada di Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) Victory Plus dan Rifka Annisa, sehingga sebagai
tenaga kesehatan (bidan) dapat mengetahui program pelayanan yang ada.
B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan kesehatan
reproduksi
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif dari infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA
dengan latar belakang ibu rumah tangga.
b. Mengidentifikasi pelaksanaan program promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif pada kasus korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP).
C. Manfaat Praktikum
1. Bagi Mahasiswa
a. Memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan
kesehatan reproduksi

2

Profil a. dan rehabilitative pada kasus korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP). Memahami dan mengidentifikasi pelaksanaan program promotif. preventif. Victory Plus 1. preventif. Sejarah Pendirian 3 . Bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bagi LSM dapat menjadi bahan evaluasi untuk digunakan sebagai acuan dalam memperbaiki pelayanan yang diberikan LSM. c. Bagi Institusi Pendidikan Bagi institusi pendidikan.b. BAB II ISI A. kuratif. 2. 3. dapat menjalin kerjasama yang lebih baik dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terkait dalam pemberian pembelajaran dilapangan. kuratif. dan rehabilitative dari infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA dengan latar belakang ibu rumah tangga. Memahami dan mengidentifikasi pelaksanaan program promotif.

Wanita Tuna Susila (WTSL). Dalam upaya penanggulangan dan pencegahan HIV dan AIDS Victory Plus bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah di Yogyakarta khususnya dalam kegiatan-kegiatan promosi kegiatan. Victory Plus mengagas 10 kelompok dukungan sebaya (KDS) yang terbagi atas kabupaten wilayah kota Yogyakarta (Kota. berbagai kalangan sosial dan pendidikan profesi yang dengan sukarela secara berkesinambungan membantu kegiatan-kegiatan yang dijalankan. Victory Plus adalah yayasan penggagas dukungan sebaya dan pemberdayaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang berdiri sejak tahun 2004. Saat ini Victory Plus telah menjadi sekertariat kelompok penggagas untuk terbentuknya kelompok dukungan sebaya di DIY. Melalui komunitas ini diharapkan status ODHA tidak lagi mereka kehilangan harga diri dan kesejahteraan hidupnya. Victory Plus sampai saat ini menangani ODHA dengan jumlah 2. Visi 1) Kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) yang lebih baik. Sleman. Melibatkan beberapa pihak maupun individu yang berdampak langsung oleh HIV dan AIDS. dan lain-lain. b. pemberdayaan ODHA dan tes HIV sukarela (voluntary counselling and testing). Bantul.468 orang dengan semua latar belakang mulai dari pecandu narkoba.Pendiri Victory Plus adalah Samuel Rahmat Subekti dan Yan Michel. 4 . Gunung Kidul). Wanita Pekerja Seksual (WPS). tapi mereka dapat memberikan sumbangsih untuk penanggulangan HIV dan AIDS. Kulonprogo. Laki-laki seks Laki (LSL). Victory Plus terbentuk karena adanya kebutuhan dan kepedulian dari orang-orang yang membutuhkan sebuah komunitas yang memberikan dukungan untuk mereka yang hidup dengan HIV dan AIDS. Waria. Yayasan Victory Plus Yogyakarta adalah salah satu yayasan yang bergerak dalam pemberikan dukungan langsung kepada orang yang terdampak oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

2) Memiliki pengetahuan tentang HIV Memberikan pengetahuan mengenai HIV dan AIDS kepada ODHA sehingga ODHA mengetahui apa saja yang dimaksud HIV sehingga ODHA mampu mengetahui apa saja yang dimaksud HIV 3) Memiliki akses dan menggunakan layanan dukungan.2) Wadah pemberdayaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) yang bebas dari stigma dan diskriminasi. 2) Mendorong keterlibatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA) dalam penanggulangan HIV dan AIDS. merias. d. Misi 1) Pemberdayaan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Orang Hidup dengan Pengidap HIV/AIDS (OHIDHA). 5) Melakukan kegiatan-kegiatan positif Memberikan kegiatan-kegiatan baik yang bisa dilakukan kepada para ODHA melalui bantuan dana dari pemerintah yang bisa untuk mengadakan latihan ketrampilan seperti menjahit. 4) Tidak menularkan virus pada orang lain Membantu untuk meminimalkan penularan HIV dan AIDS. mengembalikan kepercayaan dirinya bahwa ODHA bisa bangkit dan melewati ujian. Tujuan 1) Percaya diri Membantu memupuk kepercayaan ODHA karena saat ODHA mengetahui bahwa dirinya terkena HIV mental ODHA akan drob. Contoh dengan cara memberikan kondom pada ODHA untuk menggunakan kondom pada saat berhubungan seks sehingga tidak menularkan virus pada orang lain dengan prinsip “HIV STOP DISINI”. pengobatan dan perawatan Memberikan dukungan kepada ODHA yang dapat didukung dengan adanya bantuan biaya untuk perawatan bagi para ODHA yang didukung. dan 5 . c.

PABM. dan PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Puskesmas Mantrijeron. RSUD Bantul. Kegiatan di Victory Plus: 1) Pertemuan KDS yang diadakan setiap satu bulan sekali. seperti di RS Bethesda. 2) Diadjeng untuk ODHA perempuan. sakit). 9) Pelatihan kerja (Dinsos DIY. 11) Beasiswa ADHA. 13) Outlet Kondom. 2) Pertemuan di Rumah Sakit yang memberikan pelayanan untuk ODHA. RS Sardjito. h. 7) Bantul Support untuk ODHA umum wilayah Bantul. Dinsosnakertrans). 6 . 2) Dukungan psikososial di rumah dan konseling sebaya (ketika sehat 3) 4) 5) 6) 7) 8) atau berobat jalan). g. Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang didukung: 1) Dimas Support untuk ODHA laki-laki. KDS. dll. dan Panti. Kemensos. 12) Memberikan rujukan-rujukan IMS. Dinsos Bantul). Dukungan sebaya di Lapas. Sasaran Victory plus melayani para ODHA (HIV +) dan OHIDA yang bersedia dibina pihak Victory Plus. Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). RSUD Wonosari. 4) Metacom untuk ODHA rujukan dari Rumah Sakit Bethesda. RSUD Wates. 5) Menoreh Plus untuk ODHA umum wilayah Kulon Progo. PMTCT. Sehingga para ODHA kedepannya mampu mengembangkan dengan baik. 10) Dukungan nutrisi tambahan. Puskesmas Gedongtengen. CST. Pendampingan Minum Obat (PMO). Program usaha ekonomi kreatif. Program Kerja Victory Plus: 1) Dukungan Psikosial dan konseling sebaya di Rumah Sakit (ketika f. tetapi di utamakan klien dengan ODHA. dan orang terlantar. 8) Jalinan Kasih untuk ODHA WARIA. Menolong akses Jaminan Kesehatan bila diperlukan. RS Panti Rapih. anak jalanan. Rutan. Pemberdayaan ekonomi produktif (Dinsos. 6) Kendari untuk ODHA umum wilayah Gunung Kidul. PTRM. 3) Violet untuk ODHA WARIA.memasak. e. 3) Audienci dengan GKR Hemas. Kegiatan berupa sharing ilmu dan pengalaman yang dialami oleh setiap anggota KDS kepada ODHA. TB.

10) Peringatan Hari AIDS yang diadakan setiap bulan Desember. dan Rehabilitatif pada Kasus Infeksi Menular Seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA a. Preventive. 11) Pertemuan ODHA Provinsi yang diikuti oleh ODHA baru. 6) Usaha ekonomi produktif. dan Radio Love Jogja FM. 8) Memberikan sembako pada 20 keluarga ODHA. Pelaksanaan Program Preventif 1) Outlet Kondom Victory Plus menyediakan outlet kondom untuk para ODHA wanita secara cuma-cuma agar penyebaran virus HIV atau AIDS dapat dicegah. 12) Melakukan Talk Show melalui stasiun TV Jogja TV. merias. 3) Peringatan Hari AIDS yang diadakan setiap bulan Desember. 2) Peringatan Hari Anak Nasional yang diadakan setiap Juli Victory Plus mengadakan kampanye peduli ODHA dengan mengadakan talkshow bersama ADHA dan pameran hasil karya ODHA. Seperti penyediaan kotak penuh kondom di daerah Pasar Kembang Yogyakarta untuk para pekerja seks komersial. tata boga. dan lain sebagainya. Kuratif.4) Pelatihan pendidik pengobatan. Pelaksanaan Program Promotif 1) Melakukan Talk Show melalui stasiun TV Jogja TV. 7 . 5) Bimbingan keterampilan seperti pelatihan sablon. 13) Mengadakan pasar murah. 14) Sebagai narasumber.00 per bulan bukan dalam bentuk uang. 2. Victory Plus rutin mengadakan Talk Show di Jogja TV dan Radio Love Jogja FM yang berisi ajakan kepada orang lain yang tidak terinfeksi HIV/AIDS untuk menghidari perilaku yang dapat menyebabkan HIV/AIDS. 9) Malam renungan AIDS yang diadakan setiap bulan Juli.000. Identifikasi Pelaksanaan Program Promotif. b. dan Radio Love Jogja FM. 7) Jaminan hidup ADHA dan ODHA non potensial yang diberikan tunjangan sebesar Rp 300. menjahit.

2) Pemberian pelayanan untuk ODHA Victory Plus menerima rujukan dari rumah sakit/puskesmas dan pasien yang dating langsung ke Victory Plus dengan HIV + untuk mendapatkan pendampingan. dan lai-lain. Pelaksanaan Program Rehabilitatif 1) Program Usaha Ekonomi Kreatif 8 . 5) Memberikan rujukan-rujukan IMS. 4) Pendampingan minum obat (PMO) Pendampingan dilakukan oleh pendukung sebaya biasanya klien diingatkan melalui SMS. KDS. dll. telefon.Victory Plus mengadakan pentas seni untuk memperingati Hari AIDS sedunia. lesbian. hal tersebut juga dilakukan untuk mengajak orang lain peduli dengan ODHA dan menghindari risiko penyakit HIV/AIDS. RSUD Wates. d. Rujukan diberikan kepada para ODHA wanita agar bisa mendapatkan fasilitas pengobatan untuk menangani penyakitnya di tingkat layanan yang lebih tinggi.Sardjito. c. perempuan. Jaminan yang diberikan berasal dari Badan Pelayanan Jaminan Kesejahteraan Sosial (Bapel Jamkesos) yang mana jaminan tersebut di wilayah DIY hanya dapat digunakan di 9 rumah sakit. 3) Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Victory Plus membentuk kelompok dukungan sebaya yang dibedakan antara wanita. RSUD Wonosari. RS PKU Yogyakarta. RSUD Bantul. waria. PMTCT. atau megingatkan melalui keluarga klien yang terkena HIV tersebut. TB. CST. meliputi : RSUP Dr. Pelaksanaan Program Kuratif 1) Menolong Akses Jaminan Kesehatan bila diperlukan Victory Plus membantu mengakses dan menggunakan jaminan disediakan khususnya untuk ODHA dari Wilayah DIY yang kurang mampu kehidupan sosial dan perekonomiannya. homo seksual. dan RSUD Yogyakarta. RSUD Sleman. Agar dapat memberikan kenyamanan dan kepercayaan pada klien pengidap HIV. PTRM. RS Pantirapih. RS Betesdha. PABM.

program-program yang ada dimaksudkan agar ODHA dapat hidup mandiri. pelatihan tata boga. Dinsos Nakertrans) Pemberdayaan yang diberikan oleh pihak Victory Plus yaitu dengan memberikan bantuan dalam bentuk selain uang yang kemudian dapat di kembangkan oleh ODHA agar lebih produktif. dan Panti Dukungan juga diberikan kepada ODHA wanita yang berada di lapas rutan atau panti dalam bentuk dukungan psikologi spiritual dan akses obat.Program usaha ekonomi kreatif yang ada di victory plus meliputi pelatihan menjahit. Hal tersebut dimaksudkan agar wanita tersebut dapat melanjutkan hidupnya lagi secara normal. 2) Dukungan Nutrisi Tambahan Pihak Victory Plus memberikan pendampingan kepada Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) untuk menjaga nutrisi yang dikonsumsinya. 6) Dukungan Psikososial di rumah dan konseling sebaya (ketika sehat atau berobat jalan) Dukungan secara psikologis dan sosial diberikan oleh Victory plus kepada orang dengan HIV positif yang sehat agar ia patuh untuk selalu minum obat. 8) Pemberdayaan Ekonomi Produktif (Dinsos. melalui SMS atau tatap muka langsung.00WIB. pelatihan merias. Ketika seorang wanita terdiagnosa HIV positif ia dirujuk dari rumah sakit ke victory plus. dan menyablon. untuk mendapatkan konseling serta pembinaan secara psikologi dan sosial. Dinsos Bantul) 9 . Hal tersebut dipantau setiap bulan. dan dapat hidup normal di lingkungan masyarakat. 7) Dukungan Sebaya di Lapas. dalam bentuk konseling gizi yang diberikan kepada orang tuanya agar nutrisi anak tetap tercukupi. Kemensos. Kegiatan dilakukan 1 tahun sekali selama 1 bulan pada pukul 08. tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain. 3) Dukungan Psikosial dan konseling sebaya di Rumah Sakit (ketika sakit).00-17. Rutan. 9) Pelatihan Kerja (Dinsos DIY.

000. ODHA cenderung bersifat manja dan meminta untuk selalu didampingi. Sehingga sumber dana Yayasan Victory Plus hanyak bergantung pada pendonor. misalnya Badan Pelaksana Jaminan Kesejahteraan Sosial (Bapel Jamkesos). Hal ini disebabkan oleh menurunnya tidak adanya dana untuk menggaji staff di Victory Plus. Masalah. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dari penampingan Victory Plus terhadap ODHA. b.. Victory Plus tidak dapat membantu dari sisi pembiayaan atau tidak bisa didaftarkan dalam jaminan. Victory Plus memberikan beasiswa sebsar Rp 300.per bulan dalam bentuk bukan uang kepada para ADHA. Masalah yang dihadapi oleh Victory Plus: 1) Untuk ODHA dari luar DIY. Namun saat ini hanya tersisa satu pendonor utama sehingga Yayasan Victory Plus kekurangan dana. 2) ODHA Ada sebagian ODHA yang didukung oleh Victory Plus menjadi ketergantungan pada pendampingan yang diberikan. 2) Karena keterbatasan dana yang hanya bersumber pada satu Donor dan bersifat kontrak. 10) Beasiswa ADHA.Pelatihan kerja berupa pelatihan menjait yang dibina langsung oleh narasumber dari Dinas Sosial. c. dan Pemecahan Masalah a. Namun saat ini jumlah staf berkurang menjadi 20 orang yang 14 diantaranya sebagai Pendukung Sebaya di lapangan. sehingga membuat Victory Plus mengerem pengeluaran. Identifikasi Hambatan. Pemecahan masalah yang dihadapi oleh Victory Plus: 10 . Hambatan yang dihadapi oleh Victory Plus: 1) SDM Pada awalnya jumlah staf yang bekerja di Victory Plus sebanyak 33 orang yang 80% adalah ODHA. 3. 3) Dana Dana yang digunakan untuk menjalankan program dan kegiatan di Victory Plus bersumber dari donor yayasan tanpa mendapatkan bantuan dari Pemerintah.

Ny. Ny. sehari berselang Ny. pada kunjungan pertama dan kedua Ny. A. Reaksi pertama Ny. A sudah selingkuh selama ini. A memberanikan diri untuk membuka status pada suaminya. A mantap melakukan tes HIV/AIDS. dia memberanikan diri datang kerumah sakit untuk melakukan tes HIV/AIDS. A tidak jadi melakukan tes karena belum cukup berani. Selama tiga bulan beliau mengurung diri. Pembahasan Kasus Ny. Dia merupakan salah satu pendiri perusahaan kerjasama di bidang farmasi. sekarang hanya ada pendukung sebaya yang harus merangkap menjadi konselor juga. Dua bulan setelah bercerai. A belum berani membuka statusnya kepada keluarganya. beliau secara spontan merobek kertas hasil laboraturium dan menyangkal hal tersebut. A merasa janggal mengenai penyakit yang diderita menganjurkan untuk melakukan tes HIV/AIDS. sehingga mengakibatkan pekerjaannya terbengkalai dan anaknya tidak terurus. A saat mengetahui bahawa dirinya dinyatakan positif HIV/AIDS. 2) Memangkas staf yang dulunya ada konselor dan pendukung sebaya. Ny. A datang ke rumah sakit untuk mengetahui hasil pemeriksaan kemarin dan dijelaskan oleh dokter bahwa hasilnya positif HIV/AIDS. 11 mantan suaminya dan . A menerima kabar bahwa mantan suaminya sakit dan opname di rumah sakit. Akhirnya pada kunjungan yang ketiga Ny. Sehingga. reaksi pertama suami Ny. A mengetahui statusnya bahwa ia menderita HIV pada tahun 2012. Beliau adalah ODHA yang bergabung di yayasan Victory Plus pada 2013.1) Setiap ODHA yang berasal dari luar DIY mau tidak mau harus memberitahu salah seorang kerabat/keluarganya dalam membantu pembiayaan pengobatan. A adalah menyalahkan dan menuduh bahwa Ny. 4. Namun. A memutuskan untuk menceraikan Ny. Awal mula mengetahui status tersebut ketika temannya memberi saran untuk mengikuti tes HIV/AIDS dan merasa janggal dengan kondisi suaminya yang sering sakit-sakitan dan berat badan suaminya yang turun drastis. A adalah seorang single parent dari dua orang anak yang berusia 8 dan 9 tahun. Tidak lama setelah itu suami Ny. lambat laun Ny. Ny.

Didirikan pada 26 Agustus 1993. Ny. A mengajak ibunya ke tempat konselor. Ibunya sedikit mendiskriminasi dengan mengucilkan Ny.A menolak melakukan tes HIV/AIDS. A dapat menyimpulkan bahwa dia menderita HIV/AIDS tertular oleh suaminya. Ny. Sedangkan kedua anaknya belum mengetahui status ibunya. yang mengetahui bahwa Ny. A positif HIV/AIDS adalah ibunya. namun reaksi pertama sedikit mengecewakan. Dimana latarbelakang mantan suaminya. organisasi ini diinisiasi oleh beberapa aktivis perempuan: 12 . Sebelumnya Ny. A seperti semula. Dari hasil tersebut. Setelah mengetahui tersebut mantan suaminya baru meminta maaf dan berterus terang bahwa ia dulu pernah selingkuh dengan wanita lain. dari penjelasan-penjelasan yang didapat ibu Ny. mantan suaminya dan teman sesama ODHA yang bergabung di yayasan Victory Plus. bekerja sebagai pengusaha rental mobil yang mengharuskan ia harus keluar kota. A meminta bantuan dari konselor yang berada di Rumah Sakit tersebut untuk memberikan penjelasan kepada mantan suami Ny. Sejarah Rifka Annisa yang berasal daari bahasa Arab berarti 'Teman Perempuan' adalah organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan. B. Profil a.Awalnya suami Ny. A baru melakukan terapi ARV selama satu tahun. setelah Ny. A. Hasil pemeriksaan mantan suami Ny. A positif HIV/AIDS dan hasil CD4 52. Untuk saat ini. A baru mempunyai niatan untuk melakukan terapi Antiretroviral (ARV) ketika temannya sesama ODHA memberitahu bahwa jika seorang ODHA hasil CD4nya masih diatas 600 maka ketika mengikuti terapi ARV maka hal tersebut dapat meminimalisir efek samping dari terapi ARV. Rifka Anisa 1. Ny. A akhirnya mulai mengerti dan memperlakukan Ny. A pernah membuka statusnya pada ibu kandungnya. hal tersebut berlangsung selama beberapa bulan sampai Ny. karena sebelumnya ia belum siap melakukan terapi dan hasil CD4nya masih diatas 600. A menyetujui melakukan tes HIV/AIDS.

Desti Murdijana. Adanya persoalan kekerasan berbasis gender yang muncul di masyarakat mendorong Rifka Annisa untuk melakukan kerja-kerja dalam rangka penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Lingkaran keempat adalah lingkungan ekonomi dan sosial. baik formal maupun informal. jaringan sosial dan kelompok kemitraan. Lingkaran yang paling dalam pada kerangka ekologis adalah riwayat biologis dan personal yang dibawa masing-masing individu ke dalam tingkah laku mereka dalam suatu hubungan. psikis. Rifka Annisa menggunakan kerangka kerja ekologis (ecological framework) untuk memahami penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. kerangka kerja ekologis ini digambarkan sebagai 5 lingkaran konsentris yang saling berhubungan satu dengan lainnya. di mana hubungan tertanam dalam bentuk pertetanggaan.Suwarni Angesti Rahayu. a. maupun seksual seperti pelecehan dan perkosaan. Visi Mewujudkan tatanan masyarakat yang adil gender yang tidak mentolerir kekerasan terhadap perempuan melalui prinsip keadilan 13 . Lingkaran kedua merupakan konteks yang paling dekat di mana kekerasan acapkali terjadi. Lingkaran ketiga adalah institusi dan struktur sosial. Rifka Annisa meyakini bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi karena adanya berbagai faktor yang saling mendukung. sosial. yaitu keluarga atau kenalan dan hubungan dekat lainnya. perempuan rentan mengalami kekerasan baik fisik. Sedangkan lingkaran paling luar adalah lingkungan ekonomi dan sosial global. Akibatnya. Sri Kusyuniati. Latifah Iskandar. Secara sederhana. institusi dan struktur sosial global. ekonomi. Sitoresmi Prabuningrat dan Musrini Daruslan. jaringan global dan kelompok kemitraan bilateral atau global. termasuk norma-norma budaya dan sistem hukum negara. di tempat kerja. Rifka Annisa hadir karena keprihatinan yang dalam pada kecenderungan budaya patriarki yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki tetapi di sisi lain memperlemah posisi perempuan.

lanjut usia. Misi Mengorganisir perempuan secara khusus dan masyarakat secara umum untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan menciptakan masyarakat yang adil gender melalui pemberdayaan perempuan korban kekerasan. Tujuan 1) Memberikan pendampingan psikologis dan hukum bagi klien sehingga klien mampu bangkit dari keterpurukannya 2) Memberikan dukungan untuk pemulihan psikis maupun luka dan memberdayakan klien untuk siap kembali hidup di masyarakat atau lingkungannya 3) Memberikan sosialisasi pada keluarganya sehingga mampu ikut serta dalam membantu memberikan dukungan d. kemandirian. meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui pendidikan kritis dan penguatan jaringan. Kuratif. 2. b. Media kampanye yang digunakan beragam. isi kampanya difokuskan dalam pemahaman dalam hak-hak korban sedangkan dari sisi laki-laki diutamakan tentang maskulinitas dan kesadaran untuk peduli dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Identifikasi Pelaksanaan Program Promotif.sosial. Media tersebut 14 digunakan dengan tujuan sebagai . Preventive. baik cetak maupun elektronik mulai dari leaflet. radio serta televisi. Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). c. kesadaran dan kepedulian. Disisi perempuan. dan Rehabilitatif pada kasus korban Kekerasan a. film. integritas yang baik dan memelihara kearifan lokal. Sasaran Rifka annisa menerima kasus-kasus kekerasan pada Kekerasan pada Rumah Tangga. dan difabel. termasuk di dalamnya anak-anak. Pelaksanaan Program Promotif 1) Kampanye Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Kampanye bertujuan untuk melakukan penyadaran baik bagi kelompok perempuan maupun laki-laki. booklet poster. dan Kekerasan Seksual.

b. pembuatan lagu. Tujuannya. Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. serta rutin mengisi diacara Rifka Goes to School. akun facebook dan twitter. Hari Kartini. 6) Rannisakustik Rannisakustik merupakan komunitas musik yang berkampanye dengan menyebarkan isu penghapusan kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Rifka Annisa kerap mengadakan berbagai acara. Informasi-informasi terkait kegiatan. Pelaksanaan Program Preventif 15 . Grup ini telah melakukan berbagai pementasan. sehingga merupakan salah satu media yang strategis untuk mengampanyekan isu-isu anti kekerasan terhadap perempuan.penyadaran kritis bagi masyarakat sehingga pada akhirnya mereka dapat ikut terlibat dalam upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan 2) Siaran Radio dan Televisi Televisi dan radio merupakan media yang akrab dan efektif menjangkau masyarakat. blog. workshop. meningkatkan perhatian masyarakat untuk terlibat dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan sekaligus memperkenalkan layanan Rifka Annisa secara lebih luas kepada masyarakat. seperti laman (website). Salah satu caranya adalah melalui sistem darng. Majalah yang sudah ada sejak 1998 itu terbit tiga bulan sekali. isu gender. 3) Rifka Media Rifka media merupakan majalah yang digunakan sebagai media pembelajaran dan sumber rujukan untuk isu-isu gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan. 5) Peringatan Acara yang berkaitan dengan Isu-isu Perempuan Pada Hari Perempuan Internasional. 4) Laman dan Media Sosial Adanya media yang setiap saat bisa diakses penting untuk memperluas jangkauan informasi. dan upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan senantiasa disebarluaskan dan perbarui lewat media tersebut.

serta telepon. Acara ini mengundang pembicara dari luar maupun dalam Rifka Annisa dan terbuka untuk umum. surat. Jika klien sudah berdaya. 2) Diskusi Rutin Media Diskusi yang dilakukan secara rutin berguna untuk menambah wacana tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan. peserta didik dapat mengenali. Pendampingan bagi perempuan korban kekerasan berbasis gender bertujuan mengantarkan perempuan sampai tahap berdaya. Pelaksanaan Program Kuratif 1) Konseling Psikologis Konseling Psikologis adalah pendampingan bagi perempuan dan annak korban kekerasan dengan fokus pemulihan kondisi psikologis. 2) Layanan Penjangkauan Layanan ini berupa konseling dengan cara menjangkau klien yang tidak bisa mengakses layanan secara langsung di kantor Rifka Anisa 3) Pendampingan bagi Perempuan dan Konseling Perubahan Perilaku Laki-laki Pendampingan dilakukan baik secara hokum maupun secara psikologis. Permintaan sosialisasi berasal dari sekolah atau inisiatif dari lembaga. Selain melakukan pendampingan pada klien perempuan.1) Rifka Goes to School and Campus Program sosialisasi yang rutin dilakukan tiap bulan ini bertujuan mengenalkan materi-materi dasar yang berkaitan dengan isu gender. juga dilakukan konseling perubahan perilaku pada laki-laki. serta mengerti langkah-langkah yang dilakukan apabila terdapat peristiwa kekerasan. Pendampingan bisa dilakukan melalui tatap muka. karena pemutusan rantai kekerasan akan lebih efektif 16 . Tujuannya. sms. Pendampingan ini dilakukan dengan memperkuat dan memberdayakan korban baik secara psikologis. serta membekali klien dengan pengetahuan dan keterampilan agar terhindar dari situasi kekerasan. mencegah. c. ia mempunyai andil dalam usaha pemutusan rantai kekerasan. maupun sosial. hukum.

Konseling bagi laki-laki dimaksudkan untuk meningkatkan tanggung jawab laki-laki terhadap tindakan yang dilakukannya. 4) Konsultasi dan Pendampingan Hukum Pendampingan ini diberikan kepada perempuan dan anak dalam penyelesaian masalah. serta mentransformasikan cara pandang. Rifka annisa hanya mampu mengandalkan dana mandiri yang ada. baik korban maupun pelaku. Masalah Dalam menjalankan program-program atau kegiatan yang ada di Rifka annisa . Pemecahan masalah Untuk mendapatkan dana. Hambatan Pemerintah tidak memberikan dukungan dana pada Rifka annisa namun Rifka annisa hanya menjembatani bantuan dana dari pemerintah untuk disalurkan pada lembaga-lembaga yang mendapatkan bantuan dana tersebut. menghargai perempuan. khususnya proses hukum. b. d. Pada kasuskasus pidana dilakukan pendampingan langsung. Pelaksanaan Program Rehabilitatif 1) Kelompok Dukungan atau Support Group Klien dikumpulkan untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain untuk mendorong perubahan perilaku. Rifka annisa mengajukan proposal untuk mencari donor dana dan menjalankan kegiatan Fun Rissing diantaranya : 17 . sedangkan dalam kasus perdata pendampingan yang dilakukan bersifat tidak langsung. Materi-materi untuk keperluan support group disesuaikan dengan karakteristik pelaku.apabila dilakukan oleh kedua pihak. dan Pemecahan Masalah yang dihadapi a. sikap. dan anti kekerasan. c. 3. Hambatan. 2) Rumah Aman Rumah aman ditujukan untuk perempuan yang rentan mengalami kekerasan atau perempuan korban kekerasan yang terancam keselamatannya terlebih bagi klien yang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas. Identifikasi Masalah. dan perilaku laki-laki agar lebih adil gender.

kekerasan ekonomi.1) Pelatihan Pelatihan dilakukan bagi klien yang berada di rumah aman rifka annisa dengan memberikan pelatihan ketrampilan dan hasilnya dapat dijual untuk memperoleh dana. Rifka Annisa memberikan pendampingan dalam bentuk konseling. 18 . Pembahasan Kasus Seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Swasta Yogyakarta mendapatkan kekerasan dalam pacaran (KDP). 2) Penjualan buku Memproduksi berbagai buku mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak dari hasil karangan klien maupun staf Rifka annisa dan dapat di jual di masyarakat untuk memperoleh dana. Konseling yang diberikan berupa pengetahuaan dampak buruk yang akan terjadi dalam bidang kesehatan apabila klien tetap melakukan hubungan seksual secara tidak sehat. tetapi keputusan sepenuhnya di kembalikan kepada klien. Dampak dari kekerasan tersebut yaitu klien menjadi seksual aktif dan tidak bisa lepas dari pasangannya untuk melakukan hubungan seksual. 4. Di dalam konseling Rifka Annisa juga memberikan pilihan-pilihan alternatif penyelesaian kasus klien. Dalam kasus ini. kekerasan psikis dan kekerasan sosial dari pacarnya. 3) Menyewakan ruang Rifka annisa memiliki ruang pertemuan yang bisa disewakan untuk berbagai acara sehingga hasil penyewaan dapat menjadi dana masuk untuk Rifka annisa. Pada awalnya hubungan pacaran mahasiswi tersebut baik-baik saja. 4) Penyewaan “Guest House” Rifka annisa memiliki wisma “Guest House” yang dapat di sewakan bagi masyarakat umum dan hasil penyewaan dapat masuk untuk dana di Rifka annisa. kekerasan seksual. Saat SMA kekerasan mulai dialami oleh korban (mahasiswi). hubungan pacaran mereka dimulai sejak kelas IX SMP hubungan mereka berlanjut hingga bangku SMA. Kekerasan yang didapatkan mahasiswi tersebut berupa kekerasan fisik.

memiliki pengetahuan tentang HIV.BAB III PENUTUP A. Victory plus terbentuk karena adanya kebutuhan dan kepedulian dari orang-orang yang membutuhkan sebuah komunitas yang memberikan dukungan untuk mereka yang hidup dengan HIV dan AIDS. yayasan ini bergerak dalam isu HIV dan AIDS. memiliki 19 . menumbuhkan rasa percaya diri. Kesimpulan Victory Plus berdiri sejak tahun 2004. Tujuan dari victory plus yaitu.

Sasaran Rifka Annisa yaitu ditujukkan untuk semua wanita yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga. tetapi di utamakan klien dengan ODHA. B. Untuk mencapai tujuan. preventif. pengobatan dan perawatan.akses dan menggunakan layanan dukungan. Peran bidan dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan adalah dengan menyediakan diri untuk memberi layanan pendampingan kepada pasien korban kekerasan. Rifka Annisa yang berarti 'Teman Perempuan' adalah organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan. kuratif. dan rehabilitative dari infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS pada ODHA dengan latar belakang ibu rumah 20 tangga. Bagi Mahasiswa Mahasiswa diharapkan mampu memahami penerapan teori dan materi-materi yang terkait dengan kesehatan reproduksi. memahami dan mengidentifikasi pelaksanaan program promotif. Rifka Annisa hadir karena keprihatinan yang dalam pada kecenderungan budaya patriarki yang pada satu sisi memperkuat posisi laki-laki serta adanya persoalan kekerasan berbasis gender yang muncul di masyarakat. Victory Plus menjalankan program-programnya dan mempunyai Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) sebagai penyelenggaranya Peran bidan dalam menangani ODHA di masyarakat yaitu bidan mengadakan sosialisasi di masyarakat mengenai HIV/AIDS dan merubah pikiran negatif masyarakat mengenai HIV/AIDS. Saran 1. dan melakukan kegiatan-kegiatan positif. dan memahami dan . dan Kekerasan Seksual. tidak menularkan virus pada orang lain. Selain itu bidan juga harus bisa memberikan pengertian kepada setiap wanita untuk mengikuti tes yang bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya HIV/AIDS sehingga bidan dapat memberikan pendampingan secara cepat. Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). serta mendampingi korban hingga korban dapat berdaya. Didirikan pada 26 Agustus 1993. Sasaran Victory Plus yaitu para ODHA (HIV +) dan OHIDA yang bersedia dibina pihak Victory plus . organisasi ini diinisiasi oleh beberapa aktivis perempuan. mengenali luka yang dialami korban.

pukul 14. preventif. pukul 14. 2.00 WIB) 21 dapat .org/ (Diakses tanggal: 19 Juli 2016.org/ (Diakses tangga: 18 Juli 2016. dan rehabilitative pada kasus korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP).05 WIB) Https://rifka-annisa. Institusi Pendidikan Institusi Pendidikan diharapkan dapat mempertahankan kerjasama dan memperluas jejaring dengan lembaga terkait untuk wadah pembelajaran mahasiswa. 3.mengidentifikasi pelaksanaan program promotif. DAFTAR PUSTAKA Https://victoryplusaids. kuratif. Lembaga Swadaya Masyarakat Diharapkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memperbaiki pelayanan yang lebih baik.

Selain 22 . Menyediakan diri untuk memberi layanan pendampingan kepada pasien korban kekerasan. Mendampingi korban hingga korban dapat berdaya. Victory Plus Peran bidan dalam menangani ODHA di masyarakat yaitu bidan mengadakan sosialisasi di masyarakat mengenai HIV/AIDS dan merubah pikiran negatif masyarakat mengenai HIV/AIDS. Rifka Annisa a. Peran Bidan 1. 2.LAIN-LAIN A. c. Mengenali luka yang dialami korban. b. Berdaya memiliki arti korban sudah dapat mengambil sikap atas peristiwa yang dialaminya dan tidak merasa terpuruk atau memiliki trauma. Selain itu bidan juga harus bisa memberikan pengertian kepada setiap wanita untuk mengikuti tes yang bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya HIV/AIDS sehingga bidan dapat memberikan pendampingan secara cepat. sehingga dapat mengidentifikasi penyebab luka yang dialami korban.

itu. pendampingan juga penting agar korban tidak memilih opsi yang buruk. 23 .