You are on page 1of 3

Kebangkitan Indonesia : Tanggung Jawab Siapa?

Nailiya Noor Azizah
Mahasiswa Pendidikan Sekolah Dasar Pascasarjana UNY
“The fate of the empires depends on the education of the youth”. Nasib suatu bangsa
sangat bergantung pada pendidikan generasi mudanya. Demikian ungkapan terkenal
Aristoteles. Hal ini menyiratkan kepada kita akan pentingnya menjaga sekaligus
meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan menentukan suatu bangsa. Pendidikan
adalah cermin dari kemajuan suatu bangsa. Pendidikan mampu membuat suatu
bangsa terpuruk atau bangkit.
Apabila kita cermati lebih dalam tentu bukan pendidikan yang semata dikaitkan
dengan peningkatan pengetahuan yang mampu menjamin baik tidaknya suatu
bangsa. Pendidikan dalam konteks ini memiliki pandangan yang lebih luas atau
menyeluruh. Pendidikan yang tidak sekadar memenuhi kehausan siswa akan aspek
knowing (pengetahuan), tetapi juga mengisi keberadaan mereka dengan willing
(keiniginan) dan loving (rasa cinta). Hal ini karena seperti itulah sesungguhnya
hakikat anak sebagai manusia. Mereka tidak hanya memiliki aspek body (tubuh) dan
mind (pikiran), namun juga soul (jiwa). Untuk itulah pendidikan karakter penting
untuk direalisasikan lebih maksimal. Hal ini karena pendidikan karakter
memperhatikan betul dimensi intelektual, fisik, sosial, moral, spiritual, dan
keindahanyang melekat pada setiap siswa.
Apabila kesadaran untuk membuat bangsa ini bangkit telah disepakati lewat peran
optimal pendidikan karakter, pertanyaannya kemudian adalah siapakah yang
bertanggung jawab? Selama ini, setiap berbicara pendidikan, seolah-olah pikiran kita
langsung tertuju pada guru. Sosok yang dinilai paling bertanggung jawab atas baik
tidaknya hasil pendidikan. Padahal, pendidikan tidak mungkin dilepaskan dari dua
pilarnya yang lain, yakni keluarga dan masyarakat. Demikian pula dalam pendidikan
karakter. Sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tiga pilar pendidikan mestinya
bahu membahu membangun karakter anak bangsa. Pendidikan karakter bukan
sekadar membuat anak tahu arti kejujuran. Namun, membuat anak dapat merasakan
dan mampu melakukan aksi pada momen yang menuntutnya untuk berperilaku jujur,
lalu ia memilih untuk jujur.

Orang tua juga harus belajar memahami bahasa non-verbal anak dengan baik. orang tua hendaknya memiliki mindset yang benar tentang sekolah bagus dan berkualitas bagi anak. Pertama. Ekspektasi itu dapat tercermin dari perkataan maupun perbuatan orang tua. Bagaimanapun. Kedua. Mindset bahwa sekolah yang baik adalah yang mencetak hasil ujian tertinggi atau yang memiliki gedung dan fasilitas lengkap haruslah dirubah oleh orang tua.Peran keluarga sebagai pengemban amanah langsung dari Tuhan atas anak-anak mereka tidak boleh dilepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Sekolah yang baik dan berkualitas adalah sekolah yang mampu menghargai seluruh potensi anak dan mampu membuat anak tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam memberikan pendidikan karakter pada anak di pilar keluarga. Anak cenderung dapat menerima nilai-nilai dari orang tua setelah terbangun komunikasi yang baik di antara mereka. sekolah adalah orang tua kedua anak-anak kita. Keempat. Sekolah dengan berbagai komponennya juga memiliki tugas penting dalam membangun karakter anak. Komunikasi di sini tentu bukan hanya yang bersifat verbal. orang tua harus berperan dalam mengontrol anak agar terbebas dari media yang dapat merusak karakter anak. orang tua mestinya memberikan ekspektasi positif yang tinggi terhadap semua anak. Sehingga memilihkan sekolah yang baik menjadi tugas penting bagi orang tua. Ketiga. orang tua harus siap menjadi model atau teladan yang baik bagi anak. Orang tua tidak membiarkan karakter anak rusak oleh media-media yang buruk dan bertujuan komersil semata. maka peringatan orang tua ini cenderung akan diabaikan oleh anak. guru harus mampu tampil sebagai sebuah . orang tua hendaknya membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Pertama. Konsistensi orang tua tentu sangat dibutuhkan dalam rangka menjadi model yang baik bagi anak. Ketika orang tua melarang anak membaca sambil tiduran namun ia sendiri tiduran. Anak-anak yang baik akan hadir dari ekspektasi-ekspektasi yang baik dari orang tua mereka. Kelima.

dan menghayati betul tentang pendidikan karakter sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik dan sikap anak. Mari kita lihat bagaimana televisi kita menyajikan tontonan-tontonan pergaulan bebas dan kekerasan yang merajalela. Orang tua akan tertatih tanpa dukungan dari masyarakat. di masyarakat mendirikan rumah baca-rumah baca. guru hendaknya mampu ‘memainkan’ hidden curriculum (kurikulum yang bertujuan untuk membangun karakter anak dengan cara mengintegrasikannya lewat kurikulum formal atau aspek lainnya). masyarakat juga ikut bertanggung jawab atas rendahnya karakter bangsa saat ini. Tidak hanya keluarga dan sekolah. Tidak ada salahnya. Tentu saja pemerintah beserta komponennya memiliki kewenangan untuk memberikan solusi atas persoalan ini. Guru tak ada arti tanpa dukungan orang tua. sekolah. Anak membunuh orang tuanya. Kedua. guru mestinya memperhatikan betul konsep keadilan baik pada tataran pembelajaran di kelas sampai pada bagaimana mereka membangun komunikasi dengan para siswa.model atau representasi dari sosok berkarakter bagi anak. atau aneka tempat dan aktivitas positif lainnya yang dapat membangun karakter anak. bermain bersama teman. dan masyarakat. Belum lagi menjamurnya Warnet-warnet yang dengan mudah dijangkau anak-anak yang membuat mereka jauh dari keakraban dengan orang tua. cleaning service membunuh mahasiswa di kampusnya adalah sedikit di antara sekian banyak potret kelam yang terjadi di negeri ini. Tidakkah ini cukup menjadi pelajaran berharga bagi kita? Kini saatnya kita bangkit menjadi bangsa yang berkarakter dengan mengoptimalkan peran tiga pilar dalam pendidikan. menyadari. lembaga pencetak guru turut andil dalam membentuk karakter guru yang kelak akan menjadi contoh bagi siswa-siswanya. Keempat. siswa membunuh temannya. dan bereksplorasi dengan alam. Demikianlah pendidikan itu berproses terus dan terus di rumah. menciptakan jam belajar masyarakat atau jam mengaji masyarakat. guru mengetahui. Mari kita tengok bagaimana arak-arakan konvoi suatu parpol yang memberikan contoh nyata akan pelanggaran lalu lintas dan pengganggu ketenangan umum. menyediakan lahan-lahan bermain. Dengan demikian. . Ketiga.