You are on page 1of 4

Judul: The Lord of The Rings- The Two Towers (Dua Menara)

Penulis: J. R. R. Tolkien
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Desain Sampul: Warner Bros. Entertainment Inc.
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-8833-9
Cetakan kelima, November 2012
Tebal Halaman: 432 halaman (23 cm)
Pinjam di Perpustakaan Daerah Sidoarjo.
Blurb Akibat serangan Orc-Orc, rombongan pembawa cincin tercerai-berai. Aragorn,
Legolas, dan Gimli meneruskan perjalanan ke negeri orang-orang Rohan bersama Raja
Thoden dan pasukannya. Mereka menuju Isengard untuk menghadapi Saruman.
Pippin dan Merry tersesat ke hutan Fangorn dan bertemu dengan Treebeard, penjaga pohon
tertua yang masih hidup sejak awal terciptanya dunia tengah. Sementara itu Frodo dan Sam
melanjutkan perjalanan ke Mordor untuk memusnahkan cincin Sauron. Tapi ada sosok
misterius yang senantiasa mengikuti mereka secara diam-diam mengintai dengan sabar untuk
mendapatkan cincin itu.
Sinopsis Buku kedua dari seri The Lord of The Rings ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu
Buku Tiga dan Buku Empat. The Two Towers ini bermula ketika rombongan pembawa
cincin (the fellowship of the rings) berpisah karena mereka (berdelapan) diserang oleh
serombongan Orc di perbatasan antara Amon Lhaw dan Amon Hen. Frodo bersama tukang
kebunnya, Sam, melarikan diri untuk pergi ke Gunung Doom. Boromir tewas karena
menyelamatkan Pippin dan Merry yang ditawan oleh rombongan Orc tersebut. Akhirnya
Aragorn, Legolas, dan Gimli, yang merupakan sisa dari rombongan memutuskan untuk
mengejar para Orc untuk menyelamatkan Pippin dan Merry setelah ketiganya mengurus
jenazah Boromir.
Aragorn, Legolas, dan Gimli (yang menyebut diri mereka Tiga Pengembara) berlari siang
malam dengan sedikit istirahat. League (satuan jarak dalam buku ini) demi league mereka
lalui hingga akhirnya mereka bertemu rombongan penunggang kuda dari Rohan. Rombongan
tersebut mengaku telah membantai serombongan Orc dan membakar mayat-mayatnya di
perbatasan Hutan Fangorn, namun mereka tidak menemukan seorang Hobbit. Akhirnya
rombongan tersebut memberikan dua kuda untuk Tiga Pengembara yang selanjutnya pergi ke
Perbatasan Fangorn untuk mencari Pippin dan Merry.
Ternyata Pippin dan Merry masuk ke dalam Hutan Fangorn yang konon katanya hutan
tersebut menyimpang kekuatan rahasia. Hingga akhirnya Tiga Pengembara bertemu dengan
Gandalf, sedangkan Pippin dan Merry bertemu Treebeard (makhluk Middle-earth tertua
setelah peri) yang memimpin pasukan Ent untuk menyerang Saruman yang bermarkas di
Isengard.
Gandalf mengajak Tiga Pengembara ke Meduseld, tempat tinggal Thoden, Raja Rohan,
yang dikabarkan tengah sakit karena dihasut oleh Wormtongue, pesuruh Saruman.
Thoden yang akhirnya disebuhkan oleh Gandalf, mengusung pasukan ke Helms Deep,
benteng yang sangat kuat milik Rohan, untuk menghadapi perang melawan pasukan gelap
Saruman.
Menang dari perang yang memakan banyak korban dari kauh Rohirim, Raja Thoden
ditemani Gandalf, Tiga Pengembara, dan beberapa pasukan terkuat, pergi ke Isengard untuk
menemui Saruman. Sesampainya rombongan tersebut di Isengard, mereka disambut oleh
Pippin dan Merry yang duduh di atas reruntuhan Isengard. Isengard berhasil ditakhlukkan

oleh para Ent. Di Isengard para rombongan menemukan Pelantir, sebuah alat komunikasi
jaman dulu yang digunakan Saruman untuk berhubungan dengan Sauron. Karena
kecerobohan Pippin, Palantir tersebut mengundang satu Nazgul ke Isengard untuk menemui
Saruman.
Di belahan Middle-Earth yang lain, Frodo dan Sam terkatung-katung karena tidak
mengetahui jalan menuju Mordor. Jubah peri yang mereka gunakan sangat berguna karena
mampu menyembunyikan keberadaan mereka. Sam berharap mereka mampu mengecoh
Gollum, makhluk aneh yang berjalan seperti laba-laba dan sangat menginginkan cincin yang
dibawa Frodo. Namun tak lama setelah perjalanan yang mereka lalui, Gollum ternyata masih
mengikuti. Hingga akhirnya Gollum menjadi penunjuk jalan bagi kedua Hobbit tersesat itu
menuju Mordor. Sam selalu curiga kepada Gollum karena makhluk itu terlalu aneh dengan
dua kepribadian. Tapi demi tuannya, Sam selalu menjaga dirinya agar tidak kelewat batas
dalam memperlakukan Gollum. Ketiganya berjalan di bawah bayang-bayang musuh yang
semakin hari semakin dekat menuju Mordor. Hingga Sam dan Frodo ditangkap oleh kapten
Gondor, Faramir. Frodo dan Sam sangat disegani, kecuali Gollum, yang sangat ingin dibunuh
oleh pasukan Gondor karena berhasil masuk ke tempat rahasia Gondor. Atas permintaan
Frodo, Faramir tidak akan membunuh Gollum dan membiarkan Gollum memimpin Frodo
dan Sam ke Mordor.
Prajurit Gondor memberi Sam, Frodo, (dan tentu saja) Gollum bekal untuk melanjutkan
perjalanan. Gollum masih sama seperti sebelumnya, memiliki dua kepribadian dan selalu
berbicara dengan diri sendiri. Hingga mereka sampai ke Cirith Ungol, sebuah gua gelap dan
bau yang merupakan sarang Shelob (laba-laba raksasa). Karena ketidaktahuan dua hobbit
tersebut tentang tempat itu, Frodo dan Sam merjalan masuk ke gua. Cahaya bintang yang
diberikan Lady Galadriel kepada Frodo menerangi bagian dalam gua. Keduanya hampir
pingsan karena bau busuk di gua tersebut. Sarang laba-laba tersebar di mana-mana dan
menghalangi mereka untuk keluar. Jaringnya sangat tebal dan hanya Sting milik Frodo yang
bisa menghancurkannya. Hingga mereka sadar Gollum telah menghianati mereka, kedua
Hobbit itu diserang oleh Shelob yang menjijikkan. Keduanya berlari secepat mungkin, namun
Frodo tersengat oleh makhluk sekutuan Gollum tersebut. Hingga akhirnya Sam yang tinggal
seorang diri harus memutuskan untuk pergi ke Mordor sendiri atau kembali karena sang
penyandang cincin dalam keadaan tak memungkinkan. Karena terlalu lama berfikir, mereka
terkepung oleh Orc yang berjaga di menara hitam.
Review Sudah bukan hal yang harus digembor-gemborkan kalau serial The Lord Of The
Rings adalah serial paling gila dan paling fenomenal dalam dunia sastra. Bahkan filmnya
pun menyita banyak perhatian saat seri kedua ini diluncurkan pada tahun 2003 di bioskopbioskop seluruh dunia. Gaya J. R. R. Tolkien dalam bercerita benar-benar mengundang
seluruh pembaca mengaktifkan kelima panca indra. Dalam satu set, penulis bisa
mendeskripsikan hingga tiga sampai lima halaman (mungkin ini bisa bikin ngantuk, tapi tetep
keren). Penuh dengan deskripsi yang menghidupkan cerita karena pembaca dipaksa untuk
mendengar, mencium, melihat, dan merasakan peristiwa-peristiwa yang ditata rapi dalam alur
maju.
Setting yang berlaku dalam cerita adalah di Middle-earth, yang merupakan dunia
dalam cerita The Lord of The Rings. Dalam Middle-Earth terdiri dari beberapa wilayah yang
dipimpin oleh raja dari berbagai bangsa. Ada bangsa kurcaci (serakah, berani, pandai besi,
dan pada umumnya benci peri), peri (makhluk paling indah yang dapat hidup sangat lama dan
paling berani dari makhluk-makhluk Middle-Earth yang lain), manusia (makhluk fana seperti
kita-kita), hobbit (kecil seperti kurcaci tapi bersih seperti manusia. Umumnya senang
terhadap hidup yang biasa-biasa saja), Ent (Seperti troll, sebenarnya mereka pohon. Makhluk

tertua dan terkuat di Middle-Earth, tidak suka terburu-buru, dan butuh seharian suntuk untuk
mengucapkan Selamat Pagi dalam bahasa Ent), dan monster-monster semacam Orc.
Kecintaan sang penulis terhadap bahasa tercermin jelas saat penulis menggunakan
bahasa non-bumi dalam beberapa penggal kalimat seperti Taurelilomea-tumbalemorna
Tumbaletaurea Lomeanor yang diucapkan oleh Treebeard dari Fangorn. Dari keseluruhan
cerita, konfliknya bikin gemes. Mulai dari diserang Orc, Frodo memisahkan diri, perang di
Helms Deep, Peruntuhan Isengard, dan tentu saja bertemu Gollum yang menyebalkan (yang
bikin aku pengen nyekik makhluk ini). Jadi pengen baca terus sampai habis padalah ada 400
halaman lebih. Ada satu quote paling favorit yang saya sukai dari Sam, tukang kebun Frodo.
Setelah kedua hobbit tersebut meninggalkan penjagaan Gondor, mereka istirahat sambil
makan siang dan Gollum sedang tidur. Di tengah istirahat itu Sam berkata,
Dan seharusnya kita tidak berada di sini, seandainya kita tahu lebih banyak tentang ini,
sebelum kita berangkat. Tapi kupikir memang sering terjadi hal seperti ini. Peristiwaperistiwa gagah berani dalam dongeng-dongen dan lagu-lagu lama, Mr. Frodo. Petualangan
aku menyebutnya. Dulu aku mengira untuk hal-hal seperti itulah orang-orang mengagumkan
dalam kisah-kisah itu pergi dan mencarinya, karena mereka menginginkannya, karena
petualangan itu menggairahkan dan karena kehiduan agak menjemukan, jadi seperti
semacam olahraga, bisa dikatakan begitu. Tapi ternyata bukan begitu kenyataannya dengan
kisah yang benar-benar penting, atau kisah-kisah yang diingat sepanjang masa. Tampaknya
orang-orang begitu saja terdampar di dalamnya, biasanya jalan mereka memang diarahkan
lewat sana, seperti kau katakan. Sebenarnya mereka punya banyak kesempatan untuk
kembali, seperti kita, tetapi mereka tidak melakukannya. Dan kalau mereka kembali, kita
tidak akan tahu, sebab mereka jadi terlupakan. Kita mendengar tentang mereka yang tetap
maju terus dan tidak semuanya menemukan akhir yang baik, ingat itu. Setidaknya bukan
akhir yang dianggap baik oleh orang-orang dalam kisah itu sendiri, bukan oleh orang-orang
di luar cerita itu. Maksudku, mereka pulang dan menemukan segalanya baik-baik saja, meski
tidak sepenuhnya sama seperti Mr. Bilbo tua. Tapi kisah-kisah semacam itu belum tentu
kisah yang paling bagus untuk didengar, meski mungkin bagus untuk terdampar di
dalamnya! Aku ingin tahu, cerita macam apa tempat kita terdampar ini?
Apa yang dikatakan Sam benar-benar seperti ringkasan dari cerita itu sekaligus
ungkapan hatinya. Betapa tabah Sam menemani Frodo yang telah masuk ke dalam cerita
yang akan dijadikan dongeng dan lagu-lagu pada masa yang akan datang. Dengan pilihan,
sebenarnya mereka bisa bilang tidak dari awal dan kembali ke Shire tanpa ada petualangan
yang mengerikan seperti itu. Tapi mereka terus melangkah hingga mereka pantas dijadikan
tokoh dalam dongeng-dongeng yang patut dikenang. Mengajarkan betapa pentingnya setia,
persahabatan, dan perjuangan. Beneran deh, cerita ini bener-bener lebih dari out of the box.
Out of earth malah. Semua genre ada di sini (kecuali horror). Recommended banget. Kalau
aku punya lima bintang kejora sebagai rating, aku kasih lima-limanya untuk J. R. R Tolkien
karena telah membuat cerita yang begitu GILAAAAA.