You are on page 1of 29

Trigger

:
Bunga, seorang wanita berusia 10 tahun, datang ke UGD melaporkan bahwa
sebelumnya dia dalam kesehatan yang baik, namun 3 minggu yang lalu dia mulai
mengalami banyak BAK dan merasa keahusan serta anaknya kurus. Riwayat
kesehatan terdahulu ibu mengatakan bahwa anakanya tidak pernah mengalami
ganggaun visual, mual, muntah, sakit perut, disuria, gejala yang sekarang
dikeluhkan, dan beberapa penyakit.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD 129/82 mmHg, N 88 bpm, dan RR 25 bpm.
Dia tampak sehat dan sadar. Mata, tenggorokan, dan tiroid yang normal, dan
lehernya negative untuk limfadenopati. Jantung dan irama normal. Paru-paru
normal. Abdomen, ekstrimitas dan neurologis normal. Pada pemeriksaan antibody
menunjukkan islet cell antibody (ICAs) positif.
Pada pemeriksaan glukosa darah dengan glukostick menunjukkan angak 571 mg/dl,
dan kemudian diukur glukosa serum menunjukkan angka 617 mg/dl. Tes HbAc1
menunjukkan 9,5%. Pemeriksaan urine menunjukkan glukoksa +, keton +1, dan pH
5,5 dengan hasil lain normal. Di UGD Bunga dirawat dengan intravena normal saline
dan insulin. Dia diberikan pengobatan oral metformin.

1. Definisi v
2. Epidemiologi v
3. Klasifikasi (DM secara umum) v
4. Etiologi v
5. Faktor resiko v
6. Patofisiologi
7. Manifestasi klinis v
8. Pemeriksaan diagnostik v
9. Penatalaksanaan medisv
10. Komplikasi v
11. Asuhan keperawatan
a. Kekurangan volume cairan
b. Resiko ketidakstabilan gula darah
c. Resiko injury

dan di Asia Timur kurang dari 2 per 100. Malang: Program Pasca Sarjana Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.. Surakarta: Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UNS. diabetes melitus disebabkan karena berbagai macam etiologi yang disertai adanya hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin atau gangguan kerja insulin. diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai dengan naiknya kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Keadaan yang terjadi pada diabetes melitus tipe 1 adalah adanya suatu proses autoimun yang merusak sel beta pankreas sehingga produksi insulin terganggu. dan Swedia yaitu sekitar 30 kasus baru setiap tahunnya dari 100. Diabetes Melitus Tipe 1. Kejadian diabetes melitus pada anak perempuan dan laki-laki adalah sama. (2002).DEFINISI Menurut Brunner dan Suddarth (2002). di amerika serikat adalah 12-15 per 100.000 penduduk per tahun. di USA angka keadian daibetes adalah sekitar 1 darisetiap 1500 anak dengan usia anak 5 tahun dan sekitar 1 dari 350 anak dengan usia anak 18 tahun. Di dunia. Heriyannis Homenta.000 penduduk.000 penduduk/tahun. Denmark. (2012). Proses rusaknya sel beta pankreas karena proses imunologik (autoimun) atau idopatik. Sementara itu. (2011). B.000 penduduk/tahun. EPIDEMIOLOGI Menurut Weinzimer dalam Moelyo (2011). M Kes. Sementara itu. Puncak kejadian diabetes melitus pada anak adalah usia 5-7 tahun dan saat naka mengalmi pubertas. SpA. Jakarta: EGC. umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Vol. di afrika 5 per 100. Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1 Pada Anak. 2). menurut Homenta (2012). Tipe 1 Daibetes melitus tipe1 disebabkan rusaknya sel beta pankreas. Annang Giri d. . Suddarth. D. keajdian diabetes melitus tipe 1 tertinggi terjadi di Finlandia. (Moelyo. 2011) Moelyo. KALSIFIKASI 1.

Diabetes Gestasional Adalah kadar gula darah tinggi saat masa kehamilan pada wanita yang tidak mempunyai daibetes melitus. Imunologi - Antibodi reseptor insulin . Tipe lainnya a. asam nikonat. Tipe 2 Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampia yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. HNF-alfa (MODY 1) - DNA mitokondria b. Endokrinopati - Akromegali - Sindroma cushing - Feokromasitoma - Hipertirioidisme e. hormon tiroid. 3. Obat/zat kimia - Vacor. tiazis.2. Defek genetik kerja insulin c. wanita yang mempunyai diabetes gestasional bisa menderita daibetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular 4. Infeksi - Rubella kongential dan CMW g. glukokinase (MODY 2) - Kromosom 20. Penyakit eksokrin pankreas - Pankreatitis - Trauma/pankreatomi - Neoplasma - Cystic fibrosis - Hemoshromatosis - Pankreatomi fibro kalkulus d. pentamidin. Defek genetik fungsi sel beta pankreas - Kromosom 12. dan interferon alfa f. glukortikoid. dilantin. HNF-alfa (MODY 3) - Kromosom 7.

hutington. Penatalaksanaan Daibetes Melitus Terpadu. Diagnosis dan Kalsifikasi Diabetes Melitus Terkini Dalam : Sidartawan Soegondo. Cetakan IV. Jakarta : FKUI. Soegondo S. 2004) Menurut Brunner dan Suddarth (2002). Penatalaksanaan Daibetes Melitus Terpadu. Soegondo S. dan Imam Subekti (ed). namun mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearahn terjadinya diabetes tipe 1. Faktor Imunologi Pada daibetes tipe 1 terbukti adanya suatu proses autoimun. Cetakan IV. Faktor Lingkungan Terdapat kemungkinan virus atau toxin yang dapat memicu destruksi sel beta pankeras.h. Respon ini merupak respon abnormal dimana antibodi bereaksi terhadap jaringan sendiri yang diaggap sebagai jaringan asing. 1727 ETIOLOGI Daibetes melitus tipe1 disebabkan rusaknya sel beta pankreas. 1727 FAKTOR RESIKO Beberapa faktor risiko yang diketahui untuk diabetes tipe 1 meliputi: 1. 3. umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut. Jakarta : FKUI. klinefelter. (Soegondo. Faktor Genetik Dimana penderita diabetes tidak mewarisi daibetes tipe 1 sendiri. 2004. Diagnosis dan Kalsifikasi Diabetes Melitus Terkini Dalam : Sidartawan Soegondo. Riwayat keluarga. . chorea. Pradana Soewondo. sindrom prader willi. Proses rusaknya sel beta pankreas karena proses imunologik (autoimun) atau idopatik. 2004. turner. Sindroma genetik lain - Sindrom down. dan Imam Subekti (ed). etiologi daibetes melitus tipe 1 adalah sebagai berikut: 1. Pradana Soewondo. 2.

Geografi. virus gondok dan sitomegalovirus - Paparan awal susu sapi Protein susu sapi hampir identik dengan protein pada permukaan sel beta pankreas yang berfungsi memproduksi insulin. 4. Genetika. yaitu sekitar dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada tingkat di Amerika Serikat dan 400 kali kejadian antara orang yang hidup di Venezuela. (Homenta. sehingga pada orangorang yang rentan dan peka terhadap susu sapi akan ada respon dari leukosit. Akibat respon tersebut akan menyerang sel sendiri yang menyebabkan kerusakan sel betapankreas sehingga terjadi daibetes tipe 1. Eksposur terhadap susu sapi dalam susu formula pada 6 bulan pertama pada bayi dapat menyebabkan kekacauan pada sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko untuk mengembangkan diabetes mellitus tipe 1 di kemudian hari. 2. Banyak faktor risiko lain yang mungkin untuk diabetes tipe 1 telah diselidiki. Masyarakat yang tinggal di Finlandia dan Sardinia memiliki insiden tertinggi dari diabetes tipe 1. seperti virus Epstein-Barr. 2012) - Tingkat vitamin D yang rendah . Insiden diabetes tipe 1 cenderung meningkat pada daerah yang berada di atas garis khatulistiwa. 3. tampak di dua puncak terlihat.Siapapun dengan orang tua atau saudara yang telah mendertia diabetes tipe 1 memiliki sedikit peningkatan risiko mengembangkan kondisi tersebut. Umur. Puncak pertama terjadi pada anak-anak berusia antara 4 dan 7 tahun. dan yang kedua adalah pada anak-anak berusia antara 10 dan 14 tahun. Beberapa faktor risiko lain mungkin termasuk: - Paparan virus tertentu. Kehadiran gen tertentu menunjukkan peningkatan risiko mengembangkan diabetes tipe 1. Meskipun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapa pun. virus Coxsackie. meskipun tidak ada telah terbukti.

dan jarang terpapar dengan sinar matahari. from http://www. Disease and Conditions Type 1 Diabetes. Mual hingga muntah 5. P. Mayo. A. Luka atau infeksi pada kulit dan saluran kemih 9. 2014. Sering merasa lapar. Retrieved 10 September. d. Mulut kering 4. Bila gejala klinis tersebut disertai hiperglikemia. Majalah Kedokteran Indonesia.mayoclinic. (2014). Penglihatan menjadi kabur 8. khususnya setelah makan 3. Sering merasa haus 2.? MANIFESTASI KLINIS Diabetes tipe 1 dapat menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut: 1. diagnosis DM tidak diragukan lagi. Berat badan menurun secara drastis meskipun anak banyak makan. Anak yang tadinya tidak mengompol kini mengompol lagi. Hilangnya berat badan tanpa alasan yang jelas 6. Herqutanto. dimana masing-masing telah dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes mellitus tipe 1. Bernapas dengan cepat. banyak minum dan banyak buang air kecil.Bukti menyebutkan bahwa vitamin D memainkan peran integral dalam sensitivitas dan sekresi insulin. (2009). Diabetes Melitus Tipe 1: “Penyakit Baru” yang akan Makin Akrab dengan Kita. Berkurangnya kadar vitamin D.org/diseases-conditions/type-1diabetes/basics/risk-factors/con-20019573 PATOFISIOLOGI. Kelelahan (fatigue) 7. - Minum air yang mengandung nitrat - Awal (sebelum 4 bulan) atau akhir (setelah 7 bulan) pengenalan sereal dan perekat ke dalam diet bayi - Memiliki ibu yang memiliki preeclampsia selama kehamilan - Dilahirkan dengan ikterus Clinic. dan 10. Sakit perut Menurut Pulungan dan Herquanto (2009). . gejala DM tipe 1 pada anak timbul secara tiba-tiba...

Beberapa keuntungan yang didapat dari pemeriksaan HbA1c : - Hanya dengan sekali pemeriksaan HbA1c. terutama ketika digabungkan dengan salah satu tanda-tanda dan gejala dari diabetes. Sampel darah akan diambil setelah puasa semalaman. kita dapat mengetahui rata – rata kadar glukosa darah selama 3 bulan sebelumnya - Dapat memperoleh gambaran mengenai kualitas pengendalian DM - Dapat memperkirakan risiko terjadinya komplikasi DM - Menilai keberhasilan terap Tes darah ini menunjukkan tingkat gula darah rata-rata selama dua sampai tiga bulan terakhir. 3. Nilai gula darah dinyatakan dalam miligram per desiliter (mg / dL) atau milimol per liter (mmol / L).PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Untuk mendiagnosa diabetes tipe 1. tingkat gula darah acak 200 mg / dL (11. Tes gula darah puasa. Tes HbA1C HbA1c adalah zat yang terbentuk dari ikatan antara glukosa dengan hemoglobin (bagia dari sel darah merah). seperti sering buang air kecil dan haus yang ekstrim. 2. Jumlah HbA1c yang terbentuk dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh rata-rata kadar glukosa darah. Tes gula darah acak. Berikut adalah keterangan nilai gula darah pusa: . pemeriksaan daignostik yang dilakukan adalah: 1. Sampel darah akan diambil pada waktu acak. Semakin tinggi kadar gula darah.9% dan jika nilainya 6. maka semakin memiliki hemoglobin yang berikatan dengan gula. Terlepas dari saat terakhir makan.1 mmol / L) atau lebih tinggi menunjukkan diabetes. protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Cara kerjanya adalah dengan mengukur persentase gula darah yang melekat pada hemoglobin. Tingkat A1C terkontrol yaitu 4-5. HbA1c yang dibentuk dalam tubuh akan terakumulasi dalam sel-sel darah merah dan akan terurai perlahan-lahan bersama-sama dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari).5% atau lebih tinggi pada dua tes terpisah menunjukkan diabetes.

mayoclinic. Oleh karena itu. b. yaitu: 1. Retrieved 10 September.co. olahraga.org/diseases-conditions/type-1diabetes/basics/test-and-diagnosis/con-20019573 Anonim. Retrieved 9 September.6-6. Tingkat gula darah 126 mg / dL (7 mmol / L) atau lebih tinggi pada dua tes yang terpisah. yang perlu diingat bahwa DM tipe 1 terjadi pada anak-anak. a. (2014). Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian insulin adalah jenis insulin. Kerjasama yang baik antara tim tersebut dengan pasien dan keluarganya akan lebih menjamin tercapainya kontrol metabolik yang baik. kerja pendek.id/kimia/ica-islet-cell-autoantibodiescomplement-fixing PENATALAKSANAAN MEDIS Komponen pengelolaan DM tipe 1 meliputi pemberian insulin. from http://prodia.6 mmol / L) adalah normal. Clinic. (Pulungan dan Herquanto. regimen yang digunakan. 2014. Jenis insulin Jenis insulin antara lain adalah insulin kerja cepat. Mayo. ataupun insulin campuran (Kerja cepat/pendek . kerja panjang. Disease and Conditions Type 1 Diabetes. dapat dikatakan bahwa DM tipe 1 memiliki karakterisktik khusus. ICA (Islet Cell Autoantibodies).a. 2009) Berikut ini adalah 5 pilar manajemen DM tipe 1. cara menyuntik insulin. Complement Fixing. Namun. pengaturan makan. Tingka gula darah 100-125 mg / dL (5. Insulin Insulin merupakan terapi mutlak yang harus deiberikan pada penderita DM tipe 1. from http://www. dosis insulin. kerja menengah. Tingkat gula darah < 100 mg / dL (5. yang didukung oleh pemantauan mandiri (monitoring kontrol glikemik) yang sering disebut 5 pilar manajemen DM tipe 1. c. dan edukator.9 mmol / L) dianggap pradiabetes. dan penyesuaian dosis yang diperlukan. 2014. diperlukan pengelolaan terpadu oleh tim yang terdiri atas ahli endokrinologi anak/dokter anak/ahli gizi/ahli psikiatri/psikologi anak. dapat dipastikan memiliki diabetes. dan edukasi. pekerja sosial. (2014).

2011) 2. Oleh karena itu. Diet Pada DM tipe 1 yang berusia muda. Cara menyuntik Tempat penyuntikannnya adalah di daerah yang baik dalam hal absorpsinya. dan lateral paha. yang mana akan dibedakn antara insulin yang memberikan dosis basal maupun dosis bolus. yaitu abdomen.dengan kerja menengah).5-1 unit/kg berat badan pada awal dosis. Daerah glutea tidak dianjurkan karena paling buruk absorpsinya. Dosis insulin Dosis total harian pada anak berkisar 0. yaitu: - Monitor gula darah - Diet - Olahraga - Usia pubertas (terkadang kebutuhan meningkat hingga 2 uint/kg berat badan/hari) - Kondisi stress maupun sakit. e. c. lengan atas. Pada awal DM tipe 1 pasien mungkin memiliki berat badan kurang akibat penurunan berat badan yang cepat. Dosis selanjutnya akan diatur disesuaikan dengan faktor-faktor yang ada. Hal ini agar proses tumbuh kembang normal dapat dipertahankan. tujuan yang akan dicapai pda mulanya dapat berupa pemberian diet tinggi kalori untuk memperoleh kembali berat badan yang hilang. Penggunaan jenis insulin tergantung dari regimen yang digunakan. baik pada penyakit maupun penderitanya. Penyesuaian dosis Kebutuhan insulin akan berubah tergantung dari beberapa hal. 2002) . (Moelyo. yaitu: - Regimen konvensional/mix split Berupa pemberian 2 kali suntik/hari atau 3 kali suntik/hari - Regimen intensif Berupa pemberian regimen basal bolus. d. b. pemberian diet dengan jumlah kalori yang cukup harus diprioritaskan. Regimen Ada 2 macam regimen. (Brunner dan Suddarth.

maka sebelum berolahraga perlu menambah diet karbohidrat untuk mencegah hipoglikemia. Olahraga Dengan berolahraga akan membantu mempertahankan berat badan ideal. 25% makan malam. Monitoring kontrol glikemik Monitoring menjadi evaluasi tatalaksana yang telah diberikan sudah baik atau belum. Dimana dengan berolahraga akan membantu menurunkan kadar glukosa darah serta meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Kebutuhan kalori perhari sebagaimana kebutuhan pada anak sehat/normal. insulin serta monitoring gula darah yang aman. (Moelyo. Sementara itu. dan diselingi 3 kali snack masing-masing 10% total kebutuhan kalori perhari. insulin (regimen. Sehingga ada target dula darah yang diperbolehkan untuk berolahraga. 2011) 4. 2011) 3. 25% makan siang. bila kadar glukosa darah < 90 mg/dl. Pada regimen basal bolus. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur gula darah setiap hari dan melakukan tes .bahwa olahraga juga dapat mningkatkan resiko hipoglikemia maupun hiperglikemia. Asupan kalori perhari harus dipantau ketat karena terkait dengan dosis insulin yang diberikan selain monitoring pertumbuhannya. (Moelyo.Pemberian diet pada DM tipe 1 terdiri dari 50-55% karbohidrat. dosis. 2011) 5. apa yang boleh dan tidak boleh pada pendertia DM. Pemberian diet ini juga harus memeperhatikan regimen yang digunakan. (Moelyo. Kontorl glikemik yang baik akan memperbaiki kualitas hidup. patofisiologi. Bila kadar glukosa darah sebelum olahraga > 250 mg/dl serta didapatkan ketonemia makan dilarang untuk berolahraga. penyesuaian diet. Edukasi Edukasi dilakukan untuk penderita dan keluarga. Namun yang perlu diketahui. Adapun anjuran pengaturan persentase diet yaitu 20% makan pagi. dan efek samping penyuntikan). Keluarga perlu diedukasi tentang penyakitnya. lokasi menyuntikkan. pasien harus mengetahui rasio insulin (karbohidrat untuk menentukan dosis pemberian insulin). selain mencegah komplikasi jangka panjang atau jangka pendek. 15-20% protein. monitor gula darah dan juga target gulad darah ataupun HbA1c yang diinginka. dan 30% lemak. cara menyuntikkan.

h 124-161 KOMPLIKASI 1. yaitu - Hipoglikemia ringan Ketika kadar glukosa darah menurun. konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas yang berat. dan rasa lapar. khususnya jika waktu makan tertunda atau ketika pasien lupa makan camilan. vertigo. penurunan daya ingat.7-9% 8-9% > 10% MC. perilaku yang tidak rasional. Sehingga terjadi gejala seperti tidak mamapu berkonsentrasi. Yati NP. Diabetes Melitus. kegelisahan. Kejadian hipoglikemia dapat dijumpai sebelum makan. perubahan emisonal. Selain itu.7-3. Ada tiga macam jenis hipoglikemia.HbA1c setiap 3 bulan sekali. Hipoglikemia (Reaksi Insulin) Adalah kadar glukosa darah yang rendah. efek pemberian insulin. (Moelyo. dan rasa ingin pingsan.3 mmol/L. takikardia. Komplikasi Akut a. 2010. Pelimpahan adrenalin kedalam darah mengakibatkan gejala seperti perspirasi. - Hipoglikemia berat . dimana terjadi jika kadar glukosa darah turun di bawah 50-60 mg/dl atau 2. konfusi. 2011) Target Baik sekali Metabolik Preprandial < 120 mg/dl Psotprandial < 140 mg/dl Urin reduksi HbA1c < 7% Rustama DS. palpitasi. sistem saraf simpatik akan terangsang. penglihatan ganda. sakit kepala. gerakan tidak terkordinasi. bicara pelo. tremor. Harjantien N. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan. SUbardja D. jakarta: Sagung Seto. Oentario Baik Sedang Kurang < 140 mg/dl < 180 mg/dl > 180 mg/dl < 200 mg/dl < 240 mg/dl > 240 mg/dl + >+ 7. - Hipoglikemia sedang Penurunan kadar glukosa darah menyebabkna sel-sel otak tidak memperoleh nutrisi yang cukup untuk bekerja dengan baik. dan proses tumbuh kembang juga harus dipantau. Satriono. komplikasi.

atau bahkan kehilangan kesadran. Komplikasi Kronis a. terbakar atau nyeri yang biasanya dimulai pada ujung jari-jari kaki atau jari dan secara bertahap menyebar ke atas. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan. Gula darah tidak terkontrol dapat menyebabkan kehilangan sensasi rasa atau mati rasa. Saluran pencernaan . Kelebihan gula dapat melukai dinding pembuluh darah kecil (kapiler) terutama di kaki. Diabetes Ketoasidosis Disebabkan oleh karena tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin. penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) dan tekanan darah tinggi. Diabetes secara dramatis meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular. termasuk penyakit arteri koroner dengan nyeri dada (angina). Gejala yang muncul dapat berupa disorientasi. mati rasa. protein. b. c. yaitu: - Dehidrasi - Kehilangan elektrolit - Asidosis (Brunner dan Suddarth. Ada gambaran klinis khusus yang terjadai pada diabetes ketoasidosis. dan lemak. stroke. Keadaan hiperglikemia yang presisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. serangan jantung. 2002) 2. 2002) b. Keadaan ini mengakibatkan gangguna pada metabolisme karbohidrat.Fungsi sistem saraf pusat mengalami kerusakan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan porang lain untuk mengatasi hipoglikemai yang dideritanya. (Brunner dan Suddarth. sulit dibangunkan. Kerusakan saraf (neuropati). Jantung dan pembuluh darah. 2002) c. Sindrom Hiperglikemik dan Hiperosmolar Nonketoik Keadaan ini didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemiadan disertai perubahan tingkat kesadaran. (Brunner dan Suddarth. serangan kejang.

Komplikasi kehamilan. Clinic. Diabetes dapat merusak sistem penyaringan halus. muntah. Kadar gula darah yang tinggi bisa berbahaya bagi ibu dan bayi. Disease and Conditions Type 1 Diabetes. yang sering menyembuhkan buruk dan pada akhirnya mungkin memerlukan kaki.mayoclinic. (2014). Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk ke kaki meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. tekanan darah tinggi akibat kehamilan dan hiperklamsia. Untuk pria. Mayo. Kerusakan kaki. Retrieved 10 September. kaki atau kaki amputasi. Diabetes dapat membuat Anda lebih rentan terhadap masalah kulit. from http://www. Risiko keguguran.Kerusakan pada saraf yang mempengaruhi saluran pencernaan dapat menyebabkan masalah dengan mual. yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal. h. seperti katarak dan glaukoma. Kerusakan ginjal (nefropati). d. disfungsi ereksi mungkin menjadi masalah. lahir mati dan cacat lahir meningkat ketika diabetes tidak terkendali dengan baik. f. Untuk ibu. Retinopati diabetik Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (retinopati diabetik). berpotensi menyebabkan kebutaan. g. diabetes meningkatkan risiko ketoasidosis diabetik. termasuk infeksi bakteri dan jamur. Kondisi kulit dan mulut. luka dan lecet dapat menjadi infeksi yang serius. masalah mata diabetes (retinopati). Jika tidak diobati.org/diseases-conditions/type-1diabetes/basics/compications/con-20019573 . Ginjal berisi jutaan cluster pembuluh darah kecil yang menyaring limbah dari darah Anda. Kerusakan parah dapat menyebabkan gagal ginjal atau penyakit ginjal stadium akhir ireversibel. Diabetes juga meningkatkan risiko kondisi penglihatan yang serius lainnya. 2014. diare atau sembelit. e.

.: Status pernikahan : Belum menikah Agama : Status: Suku : Alamat: Pendidikan : No.PENGKAJIAN KEPERAWATAN A Identitas klien Nama : Bunga No. Riwayat kesehatan terdahulu ibu klein mengatakan bahwa anaknya tidak pernah mengalami gangguan visual. dan beberapa penyakit. sakit perut. gejala yang sekarang dikeluhkan. muntah. disuria. dekat yg bisa dihub.telpon: Pekerjaan Lama bekerja : pendidikan: : pekerjaan: B Status kesehatan saat ini 1 Keluhan utama : 3 minggu yang lalu mengalami banyak BAK dan merasa kehausan serta kurus 2 Lama keluhan : 3 minggu yang lalu 3 Kualitas keluhan : 4 Faktor pencetus : 5 Faktor pemberat : 6 Upaya yang telah dilakukan 7 Diagnosa media : Pergi ke rumah sakit : Diabetes melitus C Riwayat Kesehatan Saat Ini Sejak 3 minggu yang lalu klien mengalami banyak BAK dan merasa kehausan serta kurus. mual. RM Usia : 10 tahun Tgl Masuk : Jenis kelamin : Perempuan Tgl Pengkajian : Alamat : Sumber informasi: No. Telepon : Nama klg.

Kosistensi . Keadaan Umum  Kesadaran : Komposmentis  Tanda-tanda vital: o Tekanan Darah : 120/82 mmHg o Nadi : 82 x/menit o Suhu :- o RR : 25 x/menit Rumah Sakit .Warna&bau .Kesulitan . plester.D Riwayat Kesehatan Terdahulu 1 Penyakit yag pernah dialami a Kecelakaan (jenis dan waktu) : b Operasi (jenis dan waktu) c : Penyakit :  Kronis :  Akut : d Terakhir masuk RS : 2 Alergi (obat. makanan.Upaya mengatasi Rumah Sering F Pemeriksaan Fisik 1.Frekuensi/pola . dll) : 3 Imunisasi : 4 Kebiasaan  Merokok :  Kopi :  Alkohol : 5 Obat-obatan yang digunakan : E Pola eliminasi  BAK BAB .

 TB/BB : - 2 Kepala & Leher a Kepala b Mata c : : Hidung : d Mulut & Tenggorokan : Tenggorokan normal e Telinga : f : Limfadenopati (-) Leher 3 Thorak dan Dada  Jantung : Normal o Inspeksi : o Palpasi : o Perkusi : o Auskultasi  Paru-Paru : Suara jantung normal : Normal o Inspeksi : o Palpasi : o Perkusi : o Auskultasi : 4 Payudara dan Ketiak 5 Punggung dan Tulang Belakang 6 Abdomen : Normal  Inspeksi :  Palpasi :  Perkusi :  Auskultasi : .

dan pH 5.5% - Pemeriksaan urine : Glukosa +.5 - Islet Cell Antibody (ICAs) positif H Terapi - Intarvena normal saline dan insulin - Pengobatan oral metformin . keton +1.7 Genitalia dan Anus  Inspeksi :  Palpasi : 8 Ekstermitas  Atas  Bawah : Normal : : 9 System Neurologi Normal 10 Kulit dan Kuku  Kulit  Kuku G Hasil Pemeriksaan Penunjang - Glukosa darah : 571 mg/dl - Glukosa serum : 617 mg/dl - Tes HbA1c : 9.

ANALISA DATA No Data Etiologi Masalah . n Kekurangan DS : - Ibu klien mengeluh anaknya volume mengalimi banyak BAK dan cairan merasa kehausan. Keperawata 1. DO : - Haus - TD 129/82 mmHg - Nadi 82 x/menit .

keton +1.5% - Pemeriksaan urine : Glukosa +. dan pH 5.5 - Islet Cell Antibody (ICAs) positif level glukosa darah . 2. DS : - Etiologi Masalah Keperawatan Resiko ketidakstabila m DO : - Glukosa darah : 571 mg/dl - Glukosa serum : 617 mg/dl - Tes HbA1c : 9.ANALISA DATA No Data .

Keperawata 3. n Resiko DS : DO : - cedera .ANALISA DATA No Data Etiologi Masalah .

15 2014 badan September Resiko cedera berhubungan dengan faktor internal (disfungsi sensori) . 2014 15 2014 DIAGNOSA TANDA kehilangan cairan aktif ditandai dengan kehausan September Resiko ketidakstabilam level glukosa darah berhubungan dengan defisiensi pengetahuan manajemen diabetes. status kesehatan fisik. ketidak adekuatan monitioring glukosa darah. kehilangan berat 3. REG : N TANGGAL O 1.DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN NAMA KLIEN : Bunga NO. MUNCUL KEPERAWATAN TANGAN 15 September Kekurangan volume cairan berhubungan dengan 2.

Nadi normal √ 3. Hydration N INDIKATOR 1 2 3 O 1. Kehausan berkurang √ 4. Tekanan darah normal √ 2. adekuasi nadi. TD orthostatic) 2 Hitung distribusi cairan intake selama 24 jam 3 Berikan terapi intravena 4 Kolaborasi pemberian cairan intravena 5 . 1 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ditandai dengan kehausan Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5x24 jam kekurangan volume cairan klien membaik Kriteria Hasil : Saat evalusi indikator NOC melapor pada skor seperti di bawah ini NOC : Fliud Balance. Kehilangan berat badan tidak terjadi √ 4 Keterangan Penilaian : 1 : Severely compromised 2 : Substantialy compromised 3 : Moderately compromised 4 : Mildly compromised 5 : Not compromised Intervensi NIC : Fluid Management 1 Monitor status hidrasi klien (kelembaban membran mukosa.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan No. Output urine berkurang (tidak sesering mungkin) √ 5.

termasuk intake dan output 2 Monitor TTV 3 Kalkulasi kebutuhan cairan bergantung pada body surface area 4 Monitor respon klien terhadap penambahan cairan 5 Berikan cairan isotonis (normal saline dan ringer laktat) 6 Kombinasi pemberian kristaloid (normal saline dan ringer laktat) dan koloid (hespan dan plasmanate) 7 Monitor kehilangan cairan yang tidak terlihat 8 Monitor berat badan klien 9 Instruksikan kepada klien atau keluarganya pada cara mengukur tingkat cairan untuk mengobati hypovolemia .5 Berikan cairan intravena pada suhu ruangan 6 Monitor status nutrisi 7 Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian 8 Promosikan pemberian cairan secara oral 9 Tawarkan snack (jus buah. buah segar) Hypovolemia Management 1 Monitor status cairan.

dan headache 3 Monitor urine keton 5 . malaise.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan No. polyphagia. polyuria. Diabetes SelfManagement N INDIKATOR 1 2 3 O 1. bluring. ketidak adekuatan monitioring glukosa darah. Knowledge : Diabetes Management. Glukosa pada urine normal/tidak ada √ 3. 2 Resiko ketidakstabilam level glukosa darah berhubungan dengan defisiensi pengetahuan manajemen diabetes. kehilangan berat badan Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5x24 jam resiko ketidakstabilan level glukosa klien berkurang Kriteria Hasil : Saat evalusi indikator NOC melapor pada skor seperti di bawah ini NOC : Blood Glucose Level. polydipsia. Glukosa darah normal √ 2. status kesehatan fisik. lethargy. Keton pada urine normal/tidak ada √ 4 Keterangan Penilaian : 1 : Severely deviatoin from normal range 2 : Substantialy deviatoin from normal range 3 : Moderately deviatoin from normal range 4 : Mildly deviatoin from normal range 5 : Not deviatoin from normal range Intervensi NIC : Hyperglicemia Management 1 Monitor level glukosa darah sebagai indikasi 2 Monitor tanda dan gejala hiperglikemia. weakness.

4 Identifikasi penyebab hiperglikemia 5 Bantu klien untuk memonitor glukosa darah secara mandiri 6 Kaji kembali hasil tes glukosa darah bersama klien dan/atau keluarga 7 Intruksikan untuk pemeriksaan urine keton 8 Instruksikan indikasi pemeriksaan urine keton 9 Instruksiakn kepada klien untuk melaporkan level urine keton sedang atau besa kepada petugas kesehatan 10 Lakukan tes level glukosa darah kepada keluarga klien Teaching : Disease Process Teaching : Prescribe Medication .

Menyatakan faktor resiko √ 2. Modifikasi gaya hidup untukmengurangi resiko Keterangan Penilaian : √ 1 : Never demonstrated 2 : Rarely demonstrated 3 : Sometimes demonstrated 4 : Often demonstrated 5 : Consistenly demonstrated Intervensi NIC : Risk Identification 1 Mulai lakukan pengkajian resiko secara rutin 2 Identifikasi klein dengan kebutuhan perawatannya 3 Tentukan adanya dan kualitas suport keluarga 4 Tentukan status edukasi klien 5 Identifikasi strategi koping individu dan kelompok 6 Rencanakan aktivitas yang bisa mereduksi resiko 1 2 3 4 5 . Monitor faktor resiko personal √ 4.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan No. Monitor faktor resiko lingkungan √ 3. Kembangkan strategi faktor resiko yang efektif √ 5. 3 Resiko cedera berhubungan dengan faktor internal (disfungsi sensori) Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24 jam resiko cedera klien berkurang Kriteria Hasil : Saat evalusi indikator NOC melapor pada skor seperti di bawah ini NOC : Risk Control N INDIKATOR O 1.

bergantung pada level fisik dan fungsi kognitif dan riwayat kebiasaan klien 2. Gunakan peralatan yang melindungi klien 5. Identifikasi kebutuhan keamanan klien. Sediakan peralatan yang membantu meningkatkan keamanan lingkungan 4. Monitor lingkungan terhadap perubahan status kemamanan klien 6. Temani klien merelokasi keamanan lingkungan 7.Enviromental Management: Safety 1. Kolaborasi dengan agensi lain untuk merubah kemanan lingkungan klien . Identifikasi keamanan bahaya di lingkungan 3.

(2012). Herqutanto. 2014.id/kimia/ica-islet-cell-autoantibodiescomplement-fixing Heriyannis Homenta.Annang Giri Moelyo. Malang: PROGRAM PASCA SARJANA ILMU BIOMEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA. Retrieved 10 September. 2014.. SpA. Disease and Conditions Type 1 Diabetes. (2009).co. Clinic. d. from http://www.mayoclinic. Retrieved 9 September. from http://prodia. (2014). d. M Kes. Complement Fixing. Diabetes Melitus Tipe 1: “Penyakit Baru” yang akan Makin Akrab dengan Kita. Majalah Kedokteran Indonesia. Anonim. (2014). Diabetes Melitus Tipe 1. (2011). d.org/diseases-conditions/type-1diabetes/basics/risk-factors/con-20019573 . Mayo. ICA (Islet Cell Autoantibodies). P. Surakarta: Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UNS. A. Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1 Pada Anak.