You are on page 1of 110

KELOMPOK 2B

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan tujuan dari perencanaan campuran beton yaitu untuk memberikan ukuran
standar yang wajib diberikan pada suatu bangunan untuk menghasilkan suatu bangunan yang
memiliki kualitas kuat dan tinggi, awet, ekonomis, tanpa mengurangi estetikanya, yang sesuai
dengan perkembangan struktur beton serta sejalan dengan pesatnya laju perkembangan ilmu
pengetahuaan dan teknologi khususnya yang berkaitan dengan beton ataupun struktur beton.
Universitas Bengkulu sebagai salah satu lembaga prasarana pendidikan yang dipercayai di
Provinsi Bengkulu harus mencapai tujuan ini.

1.2 Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya praktek laboratorium teknologi beton
adalah:
1. Untuk memenuhi persyaratan akademik pada Program Studi S-1 Teknik Sipil Universitas
Bengkulu khususnya mata kuliah Teknologi beton.
2. Memberi bekal pada mahasiswa untuk menerapkan ilmunya setelah selesai kuliah.
3. Untuk lebih memahami prosedur-prosedur di lapangan, baik secara teknis maupun nonteknis sehingga dapat bekerja dengan lebih teratur, terarah, terampil, dan profesional.

1.3 Lokasi Dan Waktu
Pelaksanaan Praktek Laboratorium Teknologi beton ini dilaksanakan di Worksop Universitas
Bengkulu dengan susunan jadwal dan pembimbing praktikum sebaga berikut :
Hari pertama :
Hari

: Sabtu , 4 april 2015

Waktu

: 08.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:

1.

Pengambilan sample agregat halus dan agregat kasar untuk uji fisis

2.

Pengujian Berat Isi agregat halus dan agregat kasar
TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

1

KELOMPOK 2B

3.

Pengambilan data uji fisis berat isi agregat halus dan agregat kasar
4.

Pengambilan sampel dan pengovenan agregat halus dan agregat kasar untuk analisa
saringan

5.

Pengujian kadar organik agregat halus
Hari kedua:
Hari

: Minggu , 5 april 2015

Waktu

: 08.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:

1.

Pengambilan data analisa saringan agregat halus dan agregat kasar

2.

Pengambilan data kadar organik agregat halus
3. Pengambilan sampel, pencucian dan pengovenan agregat halus dan agregat kasar
untuk kadar lumpur

4.

Pengujian berat jenis agregat halus dan agregat kasar
Hari ketiga:
Hari

: Senin , 6 april 2015

Waktu

: 11.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:

1.

Pengambilan data berat jenis agregat halus dan agregat kasar

2.

Pengambilan data kadar lumpur agregat kasar dan agregat halus

3.

Perhitungan dan perencanaan campuran kuat tekan beton

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

2

KELOMPOK 2B

Hari keempat:
Hari

: jum’at , 1 Mei 2015

Waktu

: 08.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:
1. Persiapan alat
2. Persiapan bahan

Hari kelima:
Hari

: Sabtu , 2 Mei 2015

Waktu

: 08.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:
1. Pencetakan beton

Hari keenam:
Hari

: minggu , 3 Mei 2015

Waktu

: 11.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:
1. Pelepasan bekisting
2. Perendaman beton selama 14 hari

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

3

KELOMPOK 2B

Hari ketujuh:
Hari

: sabtu , 16 Mei 2015

Waktu

: 08.00 - selesai

Pembimbing : Ade Sri wahyuni, S.T.,M.Eng.,Ph.D
Asisten Dosen : Mei Saputra
: Japri Komodesban
Kegiatan

:
1. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik belah
2. Pengambilan data dari pengujian

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

4

KELOMPOK 2B

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perencanaan campuran beton adalah perencanaan campuran antara semen, agregat
halus, dan agregat kasar, serta air sehingga beton yang memenuhi persyaratan.
Perencanaan campuran beton ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Agar memenuhi syarat kuat tekan karakteristik.
2. Agar memiliki sifat keawetan yang memuaskan terhadap situasi lingkungan dimana
struktur jalan ditempatkan.
3. Agar menunjukan penampilan yang baik.
4. Agar memiliki kemampuan untuk dicampur, diaduk, diangkut, dicor, dipadatkan dan
dipelihara secara efisien.
Adapun syarat-syarat dari campuran beton :
1. Kekuatan desak: kuat desak yang dicapai pada umur 28 hari (atau umur yang
ditentukan) harus memiliki persyaratan yang diberikan oleh perencana konstruksi.
2. Workabilitas atau kemampuan dalam pengerjaan: untuk memenuhi workabilitas
yang cukup, guna pengangkatan, pencetakan, dan pemadatan beton sepenuhnya
dengan peralatan yang tersedia.
3. Durabilitas atau sifat awet: semakin besar kekuatan desak maka semakin awet
betonnya.
4. Penyelesaian akhir dari permukaan beton: kohesi yang kurang baik dapat
menyebabkan penyelesaian akhir yang kurang baik, bila beton dicetak pada awal
tegak, seperti goresan pasir dan variasi warna dan dapat juga mendatangkan
kesukaran dalam menambal bidang horizontal menjadi penyetelan akhir yang halus
dan padat. Agar dapat memenuhi persyaratan ini dan membuat beton padat yang
perlu untuk perlindungan tulangnya mutlak diperlukan kandungan butir yang halus
mencukupi butiran yang terdiri atas pasir maupun pasta semen.

2.1 Agregat Halus (Pasir)
Menurut SNI-1971 adapun syarat yang harus dipenuhi oleh agregat halus untuk
campuran beton adalah sebagai berikut :
1. Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari
batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.
2.

Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras.

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

5

KELOMPOK 2B

3. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat
kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan
0.063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5%, maka agregat halus harus dicuci.
4. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organis terlalu banyak yang harus
dibuktikan dengan percobaan “Warna Abrams Harder” (dengan menggunakan larutan
NaOH) agregat halus yang tidak memenuhi percobaan warna ini juga dapat dipakai, asal
kekuatan tekan adukan agregat tersebut pada umur 7 dan 28 hari tidak kurang dari 95%
dari kebutuhan adukan yang sama tetapi dicuci dalam larutan 3% NaOH yang kemudian
dicuci hingga bersih dengan air, pada umur yang sama.
5. Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam ukurannya dan apabila
diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan dalam pasal 3.5 ayat 1, harus memenuhi
syarat sebagai berikut :
1)

Sisa di atas ayakan 4 mm, harus minimum 2% berat

2)

Sisa di atas ayakan 1 mm, harus minimum 10% berat

3)

Sisa di atas ayakan 0.25 mm, harus berkisar antara 80-95% berat

6. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton kecuali
dengan petunjuk-petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.
Dalam pencampuran bahan penyusun beton, sering kali terjadi kekurangan pasir (under
sanded) dan kelebihan pasir (over sanded). Kekurangan semen terjadi bila pasir yang tersedia
tidak mampu mengisi rongga-rongga diantara agregat halus, sedangkan kelebihan semen
terjadi jika agregat kasar tidak dapat terlihat sama sekali pada campuran.
Campuran yang mengandung banyak pasir akan memerlukan kadar air yang banyak bila
dibandingkan kebutuhan air untuk menghasilkan sifat kemudahan pada campuran dengan
propersi agregat halus dan kasar yang optimum. Dengan hasil kekuatan yang sama, camuran
dengan kandungan pasir berlebihan memerlukan kadar semen yang lebih banyak. Kebutuhan
semen yang banyak ini berakibat pada hasil akhir penyusutan, rangka yang tinggi setelah
beton mengeras dan daya tahan pemakaian yang rendah serta mudah terpengaruh oleh
retakan.

2.2 Agregat Kasar (Split)
Agregat kasar diartikan sebagai agregat yang tertinggal diatas saringan uji 200 mm BS
882: bagian 2:1973. menurut SNI-1971, syarat-syarat agregat kasar (kerikil dan batu pecah)
yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut:
TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

6

2. 1/3 dari tebal plat.40%.KELOMPOK 2B 1. 3. dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir-butir lebih dari 200 mm. Penyimpangan dari pembatasan ini diizinkan apabila menurut penelitian pengawas ahli. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). Agregat kasar yang mengandung butir pipih hanya dapat dipakai apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya. Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pecahan batu. zat reaktif alkali. dengan syarat tidak boleh terjadi kehilangan berat lebih dari minimal 27% .3 Ukuran Butir Dalam pengerjaan suatu campuran beton. Sisa diatas ayakan 4mm. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci. peralatan pengeboran yang akan digunakan“. harus 0% berat.5 ayat (1) harus memenuhi syaratsyarat berikut: a. seperti yang dinyatakan dalam pasal 3-4 ayat 7 sebagai berikut: besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan. Ukuran butiran agregat yang dipilih untuk digunakan dalam suatu pekerjaan beton harus dengan beberapa pertimbangan yaitu: “ukuran dari penampang beton yang akan digunakan. b. jumlah dari jarak antar tulangan pada suatu penampang. Pembatasan ukuran butiran ini dimaksudkan agar didalam proses pengecoran halus dapat kedalam bidang pengecoran tampa terhambat oleh agregat kasar yang tersangkut diantara tulangan dapat mengakibatkan tidak homogennya campuran beton serta dapat menimbulkan sarang kering (honey comb) pada permukaan bidang yang dicor.5mm. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton seperti zat5. 4. 6. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. ukuran butir suatu agregat dapat mempengaruhi suatu kualitas dari suatu pekerjaan beton. SNI 1971 memberikan persyaratan terhadap pemilihan agregat dalam suatu pekerjaan beton. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 7 . Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan mesin pengaus los angelos. Selisih antara sisa-sisa komulatif diatas 2 ayakan yang berurutan adalah maksimum 60% dan minimum 10% berat. Sisa diatas ayakan 31. Agregat kasar harus terdiri dari butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak dengan susunan ayakan ditentukan dalam pasal 3. Pada umumnya yang 2. harus berkisar antara 90% dan 98% berat. c. cara-cara pengecoran beton adalah sedemikian rupa sehingga tidak menjamin terjadinya sarang-sarang kerikil. atau 3/4 dari jarak bersih minimum diantara batang-batang dan berkas-berkas tulangan.

Faktor pengembangan yang tinggi dapat merupakan indikasi dari jumlah kandungan halus yang tinggi atau susunan gradasi yang kurang baik dan otomatis akan menghasilkan penyusutan yang tinggi pula. Akan tetapi bila terdapat kandungan halus termasuk butiran semen yang terlalu banyak akan berakibat terhadap kemungkinan timbulnya penyusutan. 3. 2. agregat kasar mempunyai pengembangan yang dapat diabaikan.5 Pengembangan volume pasir (bulking of sand) Volume yang diperlukan dalam pengerjaan beton adalah adalah volume seperti dalam keadaan asli sebelum terganggu. Partikel halus ini dapat berupa lumpur. Pengembangan yang terjadi akan berbeda antara satu jenis pasir dengan pasir lainnya. baik yang mempunyai bentuk alami atau pecah yang digunakan sebagai bahan agar beton selalu mengandung partikel halus bawaan. Pada pekerjaan pencampuran dapat menggunakan analisa berat. untuk mendapatkan volume yang tepat ketika menentukan campuran berdasarkan analisa volume. 2. maka volume pasir perlu ditambah sebesar faktor pengembangan volume yang terjadi. atau partikel akibat proses pemecahannya. Tiga faktor air dalam takaran beton: 1. SNI-1971 telah membatasi kandungan halus yang diperkenankan terkandung dalam agregat halus dan kasar yaitu tidak boleh melebihi 5% dan 1%.4 Kandungan butiran halus ( kadar lumpur pada agregat) Pada umumnya agregat alami. Air yang diserap dalam agregat (Wa) Air permukaan pada agregat (Ws) Air yang ditambahkan selama mencampur (Wm) Sehingga perbandingan air semen adalah: Ws +Wm W = Wc Wc TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 8 . maka akan berpengaruh pada kualitas beton setelah mengeras. Partikel halus perlu dalam pengerjaan beton untuk menjamin terciptanya campuran beton dengan sifat mudah dikerjakan (workability). Pasir yang memiliki gradasi yang halus dan seragam akan memiliki pengembangan yang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan butiran yang bergradasi baik. Pada umumnya data untuk pengembangan volume hanya diperlukan untuk agregat halus saja. kanau. faktor pengembangan volume ini perlu dipergunakan.KELOMPOK 2B 2.

Dalam persamaan ini dianggap bahwa agregat adalah basah. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 Wm=Wa+W 9 . Air yang ditambahkan pada campuran. lembab tetapi jernih didalamnya.KELOMPOK 2B Dimana: Wc menunjukan berat semen. Bila ini harus kering.

Timbangan dengan ketelitian 0. Nilai ini berguna agar air campuran beton dapat disesuaikan sehingga faktor air semen yang diambil konstan.1.1 KADAR AIR ( MOISTURE CONTENT ) 3.2 MAKSUD & TUJUAN Untuk mengetahui banyaknya air yang terdapat dalam pasir saat akan diaduk menjadi campuran beton. 3.3 PERALATAN 1. sehingga faktor air semen yang diambil konstan.KELOMPOK 2B BAB III UJI FISIS AGREGRAT 3. Oven pengering dengan suhu 110 ± 5⁰C 3.1.5 gram 2.1. Nilai ini berguna agar air pada campuran beton dapat disesuaikan. Cawan TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 10 . Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui banyaknya air yang terdapat dalam pasir pada saat akan diaduk menjadi campuran beton.1 DEFINISI Kadar air agregat adalah persentase perbandingan berat air dan berat–berat agregat yang terdapat dalam agregat tersebut. 3.

kemudian bagi agregat menjadi 4 bagian dengan sama rata.KELOMPOK 2B 3. 5. Setelah kering. sampel benda uji beserta talam ditimbang dan dicatat beratnya (W4 ). Ambil salah 1 bagian dari keempat bagian untuk sampel A. Setelah kering. 3. kemudian untuk sampel B ambil bagian yang berhadapan dengan sampel A tadi. b. Hitung berat benda uji (W 3 =W 2 -W 1 ). Letakkan agregat pada wadah/talam. 4. Sampel benda uji beserta talam dikeringkan di dalam oven dengan suhu (110±5) oC selama 24 jam. kemudian ditimbang dan catat beratnya (W2) masing-masing. Timbang dan catat berat talam (W1). 6. Sampel benda uji dimasukkan kedalam dua talam. sampel benda uji beserta talam ditimbang dan dicatat beratnya (W4 ). 5. Hitung berat benda uji kering (W 5=W4 -W 1). Hitung berat benda uji kering (W 5=W4 -W 1). kemudian ditimbang dan catat beratnya (W2) masing-masing. kemudian bagi agregat menjadi 4 bagian dengan sama rata. kemudian untuk sampel B ambil bagian yang berhadapan dengan sampel A tadi. 3.4 LANGKAH KERJA a. 2. 7.1. 2. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 11 . Sampel benda uji dimasukkan kedalam dua talam. Ambil salah 1 bagian dari keempat bagian untuk sampel A. Timbang dan catat berat talam (W1). Agregat Kasar (split) 1. 7. 4. 6. Letakkan agregat pada wadah/talam. Agregat Halus (Pasir) 1. Hitung berat benda uji (W 3 =W 2 -W 1 ). Sampel benda uji beserta talam dikeringkan di dalam oven dengan suhu (110±5) oC selama 24 jam.

W3 diperoleh dari pengurangan berat cawan dan agregat sebelum pengovenan (W2) dengan berat cawan (W1). W3 = W2 – W1 W5 adalah berat agregat kering setelah pengovenan.1. W5 = W4 – W1 Kadar air agregat dapat diketahui dari rumus : W 3−W 5 × 100 W5 Rata – rata persentase : KADAR AIR A ( ) + KADAR AIR B( ) 2 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 12 . W5 di peroleh dari pengurangan berat cawan dan agregat sebelum pengovenan (W4) dengan berat cawan (W1).5 RUMUS YANG DIGUNAKAN W3 adalah berat agregat sebelum pengovenan .KELOMPOK 2B 3.

1 2 3 4 5 BeratWadah (W 1 ) Berat Agregat Basah + Wadah (W 2 ) Berat Agregat Basah (W 3 ) Berat Agregat Kering + Wadah (W 4 ) (gr) 44 576 532 568 Berat Agregat Kering (W 5 ) 524 562 6 7 Kadar Air (%) = (W 3 -W 5 ) / W5 x 100% Rata-rata Kadar Air (%) 1.W5 ) /W 5 x 100% = (532 – 524 gr)/524 x 100% = 1.297 (gr) 46 614 568 608 .527 +1.068 % Kadar air rata-rata = 1.6 DATA & HASIL PRATIKUM Agregat :Split 2:3 TgI.1.Pengujian :Sabtu.068 Perhitungan : Sampel A Kadar air (%) = (W 3 .068 2 = 1. 4 April 2015 Asal agregat :Kerkap No Hasil Pemeriksaan Sampel A Sampel B Pemeriksaan .527 1.527 % Sampel B Kadar air (%) = (W 3 .2975 % TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 13 1.W5 ) /W 5 x 100% = (568 – 562 gr)/562 x 100% = 1.KELOMPOK 2B 2.

145 % Sampel B Kadar air (%) = (W 3 .KELOMPOK 2B Agregat : Pasir Gunung Curup TgI.022 2 = 4.348 gr)/348 x 100% = 4.022 % Kadar air rata-rata = 4.0835 % TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 14 44 446 402 430 386 (gr) 42 404 362 390 348 4.145 + 4.W5 )/W 5 x 100% = (402.023 4. 4 April 2015 Asal agregat : Curup No Hasil Pemeriksaan Sampel A (gr) Sampel B Pemeriksaan .W5 ) /W 5 x 100% Rata-rata Kadar Air (%) Berat Agregat Kering (W 5 ) Perhitungan : Sampel A Kadar air (%) = (W 3 .084 .145 4. 1 2 3 4 5 BeratWadah (W 1 ) Berat Agregat Basah + Wadah (W 2 ) Berat Agregat Basah (W 3 ) Berat Agregat Kering + Wadah (W 4 ) 6 7 Kadar Air (%) = (W 3 .Pengujian : Sabtu.386)/386 x 100% = 4.W5 ) /W 5 x 100% = (362 .

KELOMPOK 2B 3.7 KESIMPULAN Dari data yang didapat. Dan kadar air terendah terdapat pada agregat kasar atau split.2975 % 1.0835 % 2) Kadar Air Split : 1.1. kadar air yang paling tinggi terdapat pada agregat halus atau pasir gunung. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 15 . 1) Kadar Air Pasir : 4.

KELOMPOK 2B 3.1.8 DOKUMENTASI Agregrat kadar air Penimbangan awal agregrat Pengovenan agregrat selama 24 jam TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 16 .

KELOMPOK 2B Penimbangan akhir agregrat Cawan ditimbang TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 17 .

3. Cawan 3.5 gr 3. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 18 .2.200. Oven pengering agregat suhu 110 ± 5⁰C 2.2.2 MAKSUD & TUJUAN Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan kandungan lumpur agregat yang dapat mengganggu ikatan pasta semen dengan agregat.2 KADAR LUMPUR (CLAY LUMPS) 3.2. Timbangan dengan ketelitian 0. Agregat halus (pasir gunung). 3. Pasir dengan kandungan lumpur lebih besar dari 5% dan karikil dengan kandungan lumpur lebih besar dari 1% baru dapat digunakan sebagai campuran beton jika telah dicuci terlebih dahulu.3 PERALATAN 1.Keberadaan lumpur dalam campuran beton mengakibatkan tidak sempurnanya ikatan pasta seman dengan agregat.4 LANGKAH KERJA a.2.1 DEFINISI Lumpur yang dimaksud disini adalah bagian yang dapat melawati saringan no.3.

7. Ambil agregat kasar. Tentukan berat benda uji kering(w5=w4=w1) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 19 . 9. Tuang benda uji kedalam wadah yang lain dan masukan kedalam oven. 6. Timbang berat benda uji+wadah(w2). Timbang berat benda uji +wadah setelah dioven(w4) 12. 4. Keringkan agregat tadi dalam oven selama 24 jam 11. Buang seluruh air dalam wadah tadi dengan hati-hati. tunggu selama 24 jam. 8. 6. 9. 10. Buang seluruh air dalam wadah tadi dengan hati-hati. 4.1. 8. 10. Tentukan berat benda uji kering(w5=w4=w1) b. kemudian tambah air ±12 cm di atas pasir Cuci benda uji Buanglah setengah dari jumlah air dalam tadi dan lakukan sampai air terlihat jernih. kemudian tambah air ±12 cm di atas pasir Cuci benda uji Buanglah setengah dari jumlah air dalam tadi dan lakukan sampai air terlihat jernih. 5. Ambil agregat halus 2. 7. Timbang berat benda uji+wadah(w2) Setelah Dioven Tentukan berat benda uji (w3=w2-w1). 3. Keringkan agregat tadi dalam oven selama 24 jam 11. 5. 2. Timbang berat benda uji +wadah setelah dioven(w4) 12. Tentukan berat benda uji (w3=w2-w1). Timbanglah berat wadah (w1). 3. Agregat kasar (split) 1. tunggu selama 24 jam. Timbanglah berat wadah (w1). Tuang benda uji kedalam wadah yang lain dan masukan kedalam oven.

3.2.5 RUMUS YANG DIGUNAKAN Kadar Lumpur = W k−W b Wb Rata-rata Kadar Lumpur = × 100 % Kadar Lumpur A + Kadar Lumpur B 2 Keterangan : Wb = Berat benda uji kering oven sebelum dicuci Wk = Berat benda uji kering oven setelah dicuci TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 20 .

6 DATA & HASIL PRATIKUM AGREGAT KASAR Agregat : Split 2 : 3 Asal agregat : Kerkap.02 0.W1 W 3−W 5 6 x 100 Kandungan lumpur % = W5 7 Sampel A 42 604 Sampel B 44 590 562 594 552 546 580 536 0.3.02 0.44 = 552 = 536 Kadar Lumpur = = W k−W b Wb 562−552 552 × 100 % Kadar Lumpur = W k−W b Wb % × 100 % = = 0.W1 4 Berat agregat akhir + tempat (gr) W4 5 Berat agregat akhir W5 = W4 .02 Rata-rata kandungan lumpur (%) PERHITUNGAN : Untuk sampel A Untuk sampel B W3 = W2 – W1 W3 = W2 – W1 = 604 .02 2 21 .44 = 562 = 546 W5 = W4 – W1 W5 = W4 – W1 = 594 .2.42 = 580 . Pengujian : 4 April 2015 No Pemeriksaan 1 Berat Cawan W1 2 Berat agregat awal + tempat (gr) W2 3 Berat agregat awal (gr) W3 = W2 . Bengkulu Utara TgI.02 % 546−536 × 100 % 536 = 0.02 % Rata-rata persentase kadar lumpur = = TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 × 100 Kadar Lumpur A + Kadar Lumpur B 2 0.02 +0.42 = 590 .

58 = 310 = 298 Kadar Lumpur = = W k−W b Wb × 100 % Kadar Lumpur = W k−W b Wb % 338−310 × 100 % 310 = = 0.11 2 = 0.09 % 332−298 × 100 % 298 = 0.11 % Rata-rata persentase kadar lumpur = = Kadar Lumpur A + Kadar Lumpur B 2 0.W1 W 3−W 5 6 x 100 Kandungan lumpur % = W5 7 Sampel A 44 382 Sampel B 58 390 338 354 310 332 356 298 0.= 0.58 = 338 = 332 W5 = W4 – W1 W5 = W4 – W1 = 354 .11 0.09 0.09 +0.1 Rata-rata kandungan lumpur (%) PERHITUNGAN : Untuk sampel A Untuk sampel B W3 = W2 – W1 W3 = W2 – W1 = 382 .44 = 390 .145 % TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 × 100 22 .W1 4 Berat agregat akhir + tempat (gr) W4 5 Berat agregat akhir W5 = W4 .44 = 356 .Pengujian : 4 April 2015 No Pemeriksaan 1 Berat Cawan W1 2 Berat agregat awal + tempat (gr)W2 3 Berat agregat awal (gr) W3 = W2 .02 % AGREGAT HALUS Agregat : Pasir Gunung Kasar Asal agregat : Curup Tgl.

02 % 3. Split 2 : 3 memiliki persentase kadar lumpur sebesar 0. Menurut SNI 03-41411996 kandungan lumpur yang baik adalah tidak boleh lebih dari 5 % untuk agregat halus dan 1 % untuk agregat kasar. 200. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 23 . Kandungan kadar lumpur pada permukaan butiran agregat akan mempengaruhi kekuatan ikatan antara pasta semen dan agregat sehingga akan mengurangi kekuatan dan ketahanan beton.2.3.145 2.7 KESIMPULAN Lumpur adalah gumpalan atau lapisan yang menutupi permukaan butiran agregat dan lolos ayakan No. Pasir Gunung Curup memiliki persentase kadar lumpur sebesar 0. Dari pratikum yang kami lakukan di dapat persentase kadar lumpur untuk agregrat kasar dan agregrat halus : 1.

8 DOKUMENTASI Agregrat kadar lumpur Penimbangan agregrat Pencucian agregrat TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 24 .3.2.

Pengovenan agregrat Agregrat ditimbang kembali Cawan ditimbang TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 25 .

terutama yang berbentuk humus dan Lumpur organk. Sesuaikan warna larutan yang terlihat pada botol bayi dengan warna yang terdapat pada tabel warna standar: 1-2 : untuk kadar lumpur rendah 3 : untuk kadar lumpur normal 4-5 : untuk kadar lumpur tinggi (Semakin besar nomor warna semakin tua warnanya) Menurut metoda SNI untuk uji warna. sedangkan minyak dan lemak dapat mengurangi daya ikat semen.3 KADAR ORGANIK (ORGANIC IMPURITIES) 3. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 26 . apabila terletak pada no1 dapat digunakan untuk beton mutu tinggi.3.kotoran organik adalah bahan –bahan organik yang terdapat didalam pasir dan menimbulkan efek merugikan terhadap mutu mortar atau beton.2 MAKSUD & TUJUAN Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan adanya bahan organik dalam pasir alam yang akan digunakan sebagai bahan campuran mortar atau beton . Gula dapat menghambat pengikatan semen dan pengembangan kekuatan beton. apabila warna hasil uji terletak pada no3 adn no2 maka dapat digunakan untuk beton normal. Salah satu cara untuk menguji adanya zat organic dalam agregat halus adalah dengan cara kalori meter. Oleh sebab itu diperlukan pengujiana gregat untuk menentukan bisa tidaknya agregat digunakan dalam campuran pembuatan beton. minyak dan lemak.3.3. Pada pengukuran calorimeter.1 DEFINISI Zat organik yang terkandung dalam agregat halus umumnya berasal dari penghancuran zat-zat tumbuhan. Zat organik yang merugikan diantaranya gula. zat organic dinetralkan dengan larutan NaOH 3% dan warna yang terjadi dibandingkan dengan warna standar setelah didiamkan selama ±24 jam. 3.

Standar warna (organic plate) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 27 . gabus atau lainnya 3. Botol gelas mempunyai tutup dari karet .3 PERALATAN 1. Larutan NaOH(3%) 2.3.3.

3. 6. Agregat halus yang akan diuji dimasukkan kedalam gelas kaca bening ¼ gelas 4.3. Air suling dan NaOH dicampurkan dengan perbandingan 7 : 3 lalu kocok hingga tercampur rata. Standar Warna: 1. 2. Setelah 24 jam lalu warna cairan yang terlihat dibandingkan dengan warna pada standar warna (organic plate). 3. Bening-Kuning Muda Kuning Muda-Kuning Tua Kuning Tua-Coklat Muda Coklat Muda-Coklat Tua Coklat Tua-Hitam TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 28 . 3. Campuran air suling dan NaOH dimasukkan ke dalam gelas yang berisi agregat halus.3. 3. 4. 5. 5.5 PEMERIKSAAN KADAR ORGANIK a. Agregat dan campuran NaOH+air diaduk lalu ditutup rapat dengan menggunakan plastik dan di diamkan selama 24 jam untuk melihat warna cairan.4 LANGKAH KERJA 1. Alat dan bahan disiapkan sesuai kebutuhan. 2.

5 Bening Kuning Muda - No.11 Kuning Muda Kuning Tua - No.3.14 No.3.16 Coklat Muda Coklat Tua - - Coklat Tua Hitam – KuningTua Coklat Muda - TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 - - 29 .5 April 2015 Nomor Warna Hasil Pengamatan No.8 No.6 DATA & HASIL PRATIKUM Agregat : Pasir Gunung TgI.Pengujian : 4 .

Berarti kadar organik yang dimiliki tinggi.3.7 KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan. 16 berdasarkan standar warna. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 30 . maka didapatkan kadar organik dari agregat halus tersebut.3. Pasir Gunung yang berasal dari Curup berada di No. karena ada di antara coklat tua dan hitam.

8 DOKUMENTASI Agregrat kadar organik Pengadukan larutan NaOH Proses pembandingan warna TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 31 .3.3.

Neraca. 3. yaitu berat isi gembur dan berat isi padat. 3. Loyang untuk mengeringkan contoh agregat. Penyelidikan ini dilaksanakan berdasarkan metode British Standard (BS) 812.4.4.1 DEFINISI Berat isi agregat ditinjau dari dua keadaan.2 MAKSUD & TUJUAN Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi agregat halus. 2.4 BERAT ISI (BULK DENSITY) 3. kasar atau campuran. 3. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 32 . sedangkan berat isi padat adalah perbandingan berat agregat sebanyak isi literan dalam keadaan padat dengan volume literan.3.4. Volume agregat padat merupakan hasil pemadatan standar dalam keadaan kering absolut. Berat isi adalah perbandingan berat dan isi. Berat isi gembur merupakan perbandingan berat agregat sebanyak isi literan (continer) dengan volume literan.panjang 60 cm dengan ujung bulat sebaiknya terbuat dari baja tahan karat .3 PERALATAN 1. Tongkat pemadat diameter 15 mm.

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 33 . 5. Mistar perata (straight edge). Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang.4.

Mold ditimbang lalu catat beratnya (W1). Agregat dimasukkan kedalam mold dengan 3 lapisan yang sama tebalnya. 4. 2.3.salah satu sisinya diangkat kira-kira setinggi 5 cm kemudian dilepaskan. 4. Metode penusukkan 1. c. Setelah diratakan lalu timbang agregat beserta mold (W2). 2. Setiap lapisan agregat dipadatkan dengan cara sebagai berikut : a. Metode penggoyangan 1. mold beserta sample agregat ditimbang lalu dicatat beratnya (W2).dari ketinggian maksimum 5 cm diatas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh. 5. Ratakan permukaan yang menggunung dengan menggunakan mistar perata. Berat sample agregatdihitung (W3=W2-W1). d. Setelah mencapai 3 lapisan lalu ratkan bagian atas permukaan yang menggunung dengan menggunakanmistar perata. 3. 3. Berat agragat dihitung dengan menggunakan rumus (W3=W2-W1). 2. Berat agregat dihitung dengan menggunakan rumus (W3=W2-W1). Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali tusukan secara merata. Mold diletakkan diatas tempat yang kokoh dan datar. Mold ditimbang lalu dicatat beratnya (W1). Setelah itu agregat beserta mold timbang lalu catat beratnya (W2). Mold ditimbang lalu catat beratnya (W1). setiap lapisan dipadatkan dengan 25 kali tusukan. b.4. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 34 . Agragat dimasukkan ke dalam mold kedalam mold sebanyak 3 lapisan.Hal ini diulangi denganarah yang berlawanan . 3. permukaan agregat yang menggunung pada permkaan diratakan dengan menggunakan mistar perata. Pada pemadatan tongkat harus tepat masuk sampai lapisan bagian bawah tiap-tiap lapisan. 5. Sample agregat dimasukkan kedalam mold dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir.4 Langkah Kerja Metode Lepas 1.

5 RUMUS YANG DUGUNAKAN Penghitungan berat isi : Berat isi agregat = W3 3 V (Kg/dm ) Rata-rata = Berat is i sampel ( A ) +(B) 2 Dimana : V = isi mold (dm3) W3 = Berat material (Kg) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 35 .4.3.

123 = 1.077 Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 3.377 3.807 7.073 kg/dm3  Rata-rata berat isi = 1.4.377 3.077 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 36 .081 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 3.073 2 = 1.123 3.430 3.352 3.3.782 4.352 3.081 1.123 = 1.6 DATA & HASIL PRATIKUM BERAT ISI LEPAS Agregat Asal Agregat Tgl.430 4.123 1.073 1.081+1. Pengujian : Pasir Gunung : Curup : 4 April 2015 Pemeriksaan No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 7.

322 1.Agregat Asal Agregat Tgl.322 2 = 1.132 3. Bengkulu Utara : 4 April 2015 Pemeriksaan No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 8. Pengujian : Split : Kerkap.130 3.430 4.123 = 1.430 4.123 = 1.560 8.285 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 4.285+1.123 1.562 4.130 4.285 1.123 3.303 Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 4.322 kg/dm3  Rata – rata berat isi = 1.132 3.303 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 37 .

920 3.920 3.BERAT ISI PENUSUKAN Agregat : Pasir Gunung Asal Agregat : Curup Tgl.350 4. Pengujian : 4 April 2015 No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 8.430 3.254 2 = 1.254 1.233+1.853 3.123 = 1.254 kg/dm3  Rata – rata berat isi = 1.233 1.233 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 3.243 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 38 .853 3.123 1.123 = 1.430 4.243 Pemeriksaan Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 3.123 3.283 8.

060 8.513 3.430 4.444 1.943 4.Agregat Asal Agregat Tgl.513 3.123 = 1.430 4. Pengujian : Split : Kerkap.482 1.463 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 39 .630 4. Bengkulu Utara : 4 April 2015 No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 9.482+1.630 3.463 Pemeriksaan Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 4.123 3.123 = 1.444 kg/dm3  Rata – rata berat isi = 1.123 1.482 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 4.444 2 = 1.

306+ 1.306 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 4.130 3.430 4.123 = 1.322 1.130 3.560 4.BERAT ISI PENGGOYANGAN Agregat : Pasir Gunung Asal agregat : Curup Tgl.322 kg/dm3  Rata – rata berat isi = 1.082 3.123 3.314 Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 4.123 = 1.306 1.314 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 40 .430 4. Pengujian : 4 April 2015 Pemeriksaan No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 8.082 4.512 8.322 2 = 1.123 1.

906 8.123 1.123 3.Agregat Asal agregat Tgl. Pengujian : Split : Karang Tinggi : 4 April 2015 Pemeriksaan No 1 2 3 4 5 6 Sampel Sampel A B 8.913 4.4335 kg/dm3 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 41 .476 3.430 4.123 = 1.123 = 1.430 4.432+1.432 kg/dm3  Sampel B Berat isi agregat = 4.435 1.435 2 = 1.476 4.4335 Berat material + mold (kg) Berat mold (kg) Berat material (1-2) (kg) Volume mold (dm3) Beratisi material (3/4) (kg/dm3) Rata-rata (kg/dm3)  Sampel A Berat isi agregat = 4.435 kg/dm3  Rata – rata berat isi = 1.483 3.432 1.483 3.

baik berat isi perataan (lepas). berat isi secara penusukkan maupun berat isi penggoyangan.3. baik berat isi perataan (lepas).4. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 42 . Berat isi pada agregat kasar untuk tiap-tiap agregat terdapat perbedaan yang tidak terlalu jauh.7 KESIMPULAN Berat isi pada agregat halus untuk tiap-tiap agregat terdapat perbedaan yang tidak terlalu jauh. berat isi secara penusukkan maupun berat isi penggoyangan.

4.3.8 DOKUMENTASI Pengambilan agregrat Cara pelepasan Cara penusukan TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 43 .

Cara penggoyanagan Penimbangan agregrat TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 44 .

Berat jenis kering dan berat permukaan jenuh (SSD / Saturated Surface Dry) yaitu perbandigan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jeenuh pada suhu tertentu. Berat jenis (Bulk Specific Gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. Berat jenis semu (apparent specific gravity) ialah perbandingan berat agregat kering dan berat airsuling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu.2 MAKSUD & TUJUAN Pemeriksaan ini di maksudkan untuk menentukan berat jenis kering permukaan jenuh ( apparent ) dari agregat halus.5 gram TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 45 . Timbangan dengan kapasitas 1 kg atau lebih dan ketelitian 0. 3.5. a.5 BERAT JENIS (SPECIVIC GRAVITY) 3. c. d.5. b.1 DEFINISI Berat jenis agregat adalah perbandingan berat sejumlah volume agregat tanpa mengandung rongga udara terhadap berat air pada volume yang sama.3 PERALATAN 1.5. 3. Penyerapan ialah persentase berat air yang dapat diserapi pori terhadap berat agregat kering.3. British Standard 812 membedakan berat jenis agregat dalam dua keadaan yaitu keadaan jenuh permukaan (saturated surface dry) dan keadaan kering absolute atau kering oven (oven dry).

Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai 110 ± 5⁰C 5.2. Piknometer dengan kapasitas 500 ml. 3. Kerucut terpancung dan batang penumbuk 4. Cawan TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 46 .

diisi air sebanyak batas leher piknometer kemudian diputar-putar dan dikocok-kocok. Agregat yang telah ditimbang lalu dikeluarkan dari piknometer 8.masing-masing agregat halus dibagi menjadi 2sample yang masing-masingnya sebanyak 500 gr.jangan sampai agregat terbuang bersama air lalu letakkan agregat basah diatas koran dengan cara ditebarkan hingga pasir mencapai keadaan SSD. yang pertama kerucut terpancung diisi agregat sebanyak 1/3 bagian kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali.vacum 7. 9. Agregat diambil dan dicuci hingga bersih secara berulang. 3. Agregat kering ditimbang.5. Agregat direndam dengan air selama 24 jam dengan menggunakan ember.kerucut diangkat secara perlahan. agregat dibolak-balik untuk mencapai keadaan SSD. Setelah 24 jam buang air pada rendaman agregat dengan hatihati. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 47 . pump digunakan untuk mengeluarkan air dari piknometer lalu piknometer + agregat basah ditimbang.Terakhir ditumbuk sbanyak 25 kali. Agregat diambil lalu dicuci hingga bersih. 4.3. Setelah dikocok air dikeluarkan dari piknometer secara hati hati. kemudian kerucut terpancung diisi hingga penuh. Masing-masing sample agregat dimasukkan kedalam piknometer lalu 6. Agregat direndam selama 24 jam. lalu diratakan.4 Langkah Kerja Agregat Halus : 1. Sample yang telah ditimbang dimasukkan kedalam keranjang kawat lalu dimasukkan ke dalam air. goyang-goyang keranjang berisi agregat hingga tidak ada bunyi lagi. Air rendaman agregat dibuang perlahan jangan sampai ada yang terbuang saat pembuangan air dari ember. 2. 3. Periksa keadaan SSD dengan mengisikan agregat kedalam kerucut terpancung. keadaan SSD tercapai jika agregat runtuh sebagian.lalu diisi kembali sebanyak 2/3 bagian kemudian ditumbuk 25 kali. Setelah keadaan SSD tercapai. Agregat ditebarkan diatas koran. 2. 5. Agregat Kasar : 1. kemudian masukkam ke dalam oven selama 24 jam. 4.Piknometer kosong dan piknometer berisi air sebanyk 500 ml diukur dengan menggunakan timbangan.setelah mencapai keadaan SSD agregat sebanyak 3000 gr ditimbang.

5. Agregat yang berada didalam air ditimbang. 7.5. 3. kemudian timbang lagi massa agregat kering. Setelah proses pengovenan.5 RUMUS YANG DIGUNAKAN Agregat Halus : Hitung Berat Jenis dengan : Bk B+ Bj−Bt Hitung SSD agregat dengan : Bj B+ Bj−Bt Hitung Berat Jenis Semu dengan : Bk B+ Bk−Bt Hitung persentase penyerapan dengan : Bj−Bk ×100 Bk Keterangan : BK : Berat Jenis Semu (gram) BJ : Berat Jenis (gram) B : Berat Piknometer Berisi Air (gram) BT : Berat Piknometer Berisi Benda Uji Dan Air (gram) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 48 . agregat di angin-anginkan sampai suhunya turun. 6. Lalu agregat dimasukkan ke dalam oven dan dioven selama 24 jam.

Agregat Kasar : Hitung Berat Jenis dengan : Bj Bj−Ba Hitung SSD agregat dengan : Bk Bj−Ba Hitung Berat Jenis Semu dengan : Bk Bk−Ba Hitung persentase penyerapan dengan : Bj−Bk ×100 Bk Keterangan : BK : Berat Jenis Semu (gram) BJ : Berat Jenis (gram) B : Berat Piknometer Berisi Air (gram) BT : Berat Piknometer Berisi Benda Uji Dan Air (gram) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 49 .

5 2.293 gr Berat jenis semu = 478 672+ 478−954 = 2.72 2.19 Sampel B 500 672 972 474 2.04% PERHITUNGAN Sampel A Berat jenis kering oven = 478 672+500−954 = 2. Pengujian : 4 .39 2.602% Sampel B TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 50 .293 2.3.58 4.6 DATA & HASIL PRATIKUM Agregat : Pasir Gunung Asal Agregat : Curup Tgl.37 Rata-rata 500 672 963 476 2.28 2.6 April 2015 Tabel hasil perhitungan PasirGunung (gram) Berat benda uji kering permukaan jenuh (Bj) Berat piknometer berisi air (B) Berat piknometer berisi benda uji dan air (Bt) Berat benda uji kering oven (Bk) Berat jenis (bulk specific gravity) Bk/(B+Bj-Bt) Berat jenis kering permukaan jenuh (saturaded surface dry) Bj/(B+Bj-Bt) Berat jenis semu (apparent specific gravity) Bk/ (B+Bk-Bt) Penyerapan (Absorbtion) (Bj-Bk)/Bk x 100 % Sampel A 500 672 954 478 2.438 gr Penyerapan = 500−478 x 100% 478 = 4.43 2.48 % 5.192 gr SSD = 500 672+500−954 = 2.60% 5.5.

724gr Penyerapan = 500−474 x 100% 474 =5.5 gr Berat jenis semu = 474 672+ 474−972 = 2.37 gr SSD = 500 672+500−972 = 2.192+2.5 = 2 = 2.293+ 2.37 2 = 2.281 gr Rata-rata SSD = Sampel A+ Sampel B 2 2.Berat jenis kering oven = 474 672+500−972 = 2.485 % Nilai Rata-Rata Rata-rata BJ kering oven = = Sampel A+ Sampel B 2 2.3965 gr TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 51 .

581 gr Rata-rata penyerapan = Sampel A+ Sampel B 2 = 4.724 = 2 = 2.0435 % TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 52 .602 +5.Rata-rata berat jenis semu = Sampel A+ Sampel B 2 2.438+ 2.485 2 = 5.

768 2. Bengkulu Utara Tgl.768 gr TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 53 2.673 2.Agregat : Split2 : 3 Asal Agregat :Kerkap.6 April 2015 Tabel hasil perhitungan Split (gram) Berat benda uji kering permukaan jenuh (Bj) Berat dalam air (Ba) Berat benda uji kering oven (Bk) Berat jenis (bulk specific gravity) Bk/(Bj-Ba) Berat jenis kering permukaan jenuh (saturaded surface dry) Bj/(Bj-Ba) Berat jenis semu (apparent specific gravity) Bk/(BkBa) Penyerapan (Absorbtion) (Bj-Bk)/Bk x 100 % Sampel A 2000 1215 1902 2. Pengujian :4 .518 2.614 Rata-rata 2000 1233.15 1929 2.547 gr Berat jenis semu = 1902 1902−1215 = 2.422 Sampel B 2000 1252 1956 2.778 5.547 2.61 2.422 gr SSD = 2000 2000−1215 = 2.249% PERHITUNGAN Sampel A Berat jenis kering oven = 1902 2000−1215 = 2.773 3.152% 2.7005 % .

614 gr SSD = 2000 2000−1252 = 2.Penyerapan = 2000−1902 x 100% 1902 = 5.673 gr Berat jenis semu = 1956 1956−1252 =2.249% Nilai Rata-Rata Rata-rata BJ kering oven = = Sampel A+ Sampel B 2 2.152 % Sampel B Berat jenis kering oven = 1956 2000−1252 = 2.614 2 = 2.778 gr Penyerapan = 2000−1956 x 100% 1956 = 2.518gr Rata-rata SSD TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 = 54 Sam pel A +Sampel B 2 .422+2.

152 + 2.2.547 +2.778 2 = 2.773 gr Rata-rata penyerapan = Sampel A+ Sampel B 2 = 5.249 X100 2 = 3.7005 % TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 55 .768+ 2.673 = 2 = 2.61 gr Rata-rata berat jenis semu = = Sampel A+ Sampel B 2 2.

1.673 gr.7 KESIMPULAN Nilai SSD pada agregat yaitu. Untuk pasir gunung sampel A yaitu 2.547 gr dan sampel B yaitu 2.5.5 gr.3965 gr TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 56 . Untuk split sampel A yaitu 2. sehingga rataratanya adalah 2.61 gr 2.293 gr dan sampel B yaitu 2. sehingga rata-ratanya adalah 2.3.

5.8 DOKUMENTASI Pengeringan agregrat kasar Pengeringan agregrat halus Pencucian agregrat halus menggunakan pignometer Sampel agregrat halus TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 57 .3.

Pengovenan agregrat TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 58 .

No.Batasan ukuran Agregat halus dan Agregat kasar menurut British Standart adalah 4. 3.4. No. No. Satu set saringan No. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0.75 mm).50.8.6 ANALISA SARINGAN (SIEVE ANALYSIS) 3. 3. No.8 mm (4.6.6.¾.3/8.30. Oven dengan suhu 110 ± 5⁰C 59 .6. No. No. 2. No.1 DEFINISI Metode pengujian analisis saringan agregat halus dan agregat kasar menggunakan standard SNI 03-1968-1990 metode ini digunakan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan.1 ½.2 MAKSUD & TUJUAN Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan untuk perencanaan campuran beton.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 3. No.100 dan PAN 3.5 gram.3 PERALATAN 1.10.

Agregat Kasar & Halus 60 .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 4. Mesin pengguncang saringan. Kuas 7. 5. Loyang 6.

61 .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 3. Agregat yang tertahan pada setiap nomor saringan ditimbang dengan menggunakan saringan yang telah disiapkan. masing-masing sample agregat kasar dan halus di timbang dengan berat 2500 gram untuk agregat kasar dan 1000 gram untuk agregat halus. Saringa disiapkan lalu disusun sesuai dengan nomor saringan. Percobaan pada agregat halus dilakukan dengan mesin penggoyang selama 15 menit lamanya dan untuk agregat kasar diuji dengan menggoyang-goyangkan saringan secara manual. 3.4 LANGKAH KERJA 1. Setelah dioven selama 24 jam. Benda uji dimasukkan kedalam oven selama 24 jam dengan suhu 110 ± 5⁰C. Agregat disiapkan dan ditimbang masing-masing dibagi menjadi 2 sample agregat kasar daan halus masing-masing 3000 gram. 7. Data hasil pengamatan dicatat dalam tabel pengamatan. 2.6. 6.yang palig bawah ialah saringan yang paling kecil. Benda uji dimasukkan ke tempat saringan. 5. 4.

persentase jumlah tertinggal 4.5 RUMUS YANG DIGUNAKAN 1. Persentase jumlah melalui = 100 % .6. Jumlah berat agregat yang tertahan ∑W (tertinggal)= W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) 2. Persentase jumlah berat agregat yang tertahan Persentase (jumlah tertinggal) = persentase jumlah tertingl x 100 jumlah keseluruhan masing−masing tertinggal 3. Persentase jumlah berat agregat yang lolos saringan.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 3. Perhitungan MHB MHB= Jumlah kumuatif tertahan 100 62 .

10 1.8 3.6 169 16.6 46.2 21. Pengujian Asal agregat : 4-5 April 2014 : Curup Sampel A Ayakan No 1 1 2 Ukuran Tertahan Berat Persen (gr) (%) R r L ( Sampel B Kumulatif Tertahan Lolos (%) (%) Tertahan Berat Persen (gr) (%) Kumulatif Tertahan Lolos (%) (%) 38 0 0 0 100 0 0 0 100 1 3 4 19 0 0 0 100 0 0 0 100 1 3 8 9.6 9.4 18.3 43.100 0. 8 (tertinggal) 0.2 100 99.2 11 1.2 1.5 2.4 14 1.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 3.2 0 - 9 No.9 20.4 90. 3/8’ Ayakan No.8 No.697 Perhitungan agregat halus (Pasir Gunung) 1.8% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0.4% 63 .4 9.3 96.6 0 0 0 100 0 0 0 100 1 6 12 14 185 347 344 92 1000 0.6 1. Perhitungan agregat halus (Pasir Gunung) Sample A a.7 34.5 34.8% = 0. 4 Ayakan No.7 No.8 0.30 0.8 No. 3/4’ Ayakan No. 1 ½’ Ayakan No.2 No.2 96.1 3.4 98.4 100 0 Jumlah 1000 100 260.50 0.8 78.4 Pan 104 10.8 100 274.2 79.8 8 0.8 99.6.745 9 7 2 = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) =0 = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0 + 0% = 0% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0% + 0% = 0% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0% + 0.4 53.2 97.15 360 36 89.3 334 33.4 No.7 56.8% + 1.8 2.6 10.6 1.4 2.97 MHB 2.6 DATA & HASIL PRATIKUM Agregat : Pasir Gunung Curup Tgl. Jumlah berat agregat yang tertahan ∑W Ayakan No.4 4.

30 = 169 1000 x 100% =0% =0% = 0. 8 = 14 1000 x 100% Ayakan No.1% = 3. 1 ½’ = x 100% =0% Ayakan No. 4 = 8 1000 x 100% Ayakan No.3% + 16.2% + 33.9% = 20. 3/4’ 0 = 1000 x 100% Ayakan No. 3/8’ = 0 1000 x 100% Ayakan No.2% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 20. 10 Ayakan No. 30 Ayakan No.4% = 53. 10 = 11 1000 x 100% = 1.6%+ 10. 50 Ayakan No.8 % = 1.2% + 1.6%+ 36% =89.3% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 3.6% =W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 89.6% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 53.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Ayakan No.2% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 2. 100 PAN KELOMPOK 2B = 2.9 % 64 .1 % Ayakan No. persentase jumlah berat agregat yang tertahan Persentase(jumlah tertinggal ) = persentase jumlah tertingal x 100 jumlah keseluruhan masing−masing tertinggal 0 1000 Ayakan No.4 % = 16.4% = 100% b.

2 % Ayakan No. 3/4’ (tertinggal) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) =0 = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) 65 . 30 = 100 −20. 4 = 100 −0.4 % Ayakan No. 3/8 = 100 −0 Ayakan No. 8 = 100 −2.8 = 99. 10 = 100 −3. Persentase jumlah berat agregat yang lolos saringan Persentase jumlah melalui = 100 % . 1 ½’ = 100 −0 Ayakan No.persentase jumlah tertinggal Ayakan No. Jumlah berat agregat yang tertahan ∑W Ayakan No.8 % Ayakan No. 50 KELOMPOK 2B c.2 = 79.6 PAN = 100 −100 = 100 % = 100 % % = 10.6 = 46.2 = 97.4 % Ayakan No.3 = 96. 1 ½’ Ayakan No.8 % Ayakan No.4 % Ayakan N0. Perhitungan agregat halus (Pasir Gunung) Sample B a.7 % Ayakan No.50 = 100 −53. 100 = 100 −99.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON = 334 1000 x 100% = 33.4 % = 0% 2. 100 = 360 1000 x 100% = 36 % PAN = 104 1000 x 100% = 10. 3/4’ = 100 −0 % = 100 % Ayakan No.

2% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 3. persentase jumlah berat agregat yang tertahan Persentase(jumlah tertinggal ) = persentase jumlah tertingal x 100 jumlah keseluruhan masing−masing tertinggal 0 1000 Ayakan No. 8 = 12 1000 x 100% =0% =0% =0% = 0. 3/4’ 0 = 1000 x 100% Ayakan No.8% + 1.4% = 3.7% + 34.4% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 56.7% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 21.5% = 21.6% = 0.2% = 1.8%+ 9.2% = 100% b. 3/8’ = 0 1000 x 100% Ayakan No.6 % = 1.8% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 1. 50 Ayakan No. 30 Ayakan No.7% = 56. 10 Ayakan No. 3/8’ Ayakan No.4% = 90.8% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 90.2 % 66 .4%+ 34.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Ayakan No. 1 ½’ = x 100% Ayakan No.6% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0. 8 Ayakan No.2% + 18. 4 = 6 1000 x 100% Ayakan No. 100 PAN KELOMPOK 2B = 0 + 0% = 0% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0% + 0% = 0% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0% + 0. 4 Ayakan No.6% + 1.

2 = 96.8 = 98.7 = 78.8 = 9.6 % Ayakan N0.4 = 43. 3/4’ = 100 −0 % = 100% Ayakan No. 30 = 100 −21. 100 = 344 1000 x 100% = 34.2 % Ayakan No.5 % Ayakan No. Persentase jumlah berat agregat yang lolos saringan Persentase jumlah melalui = 100 % . 10 = 100 −3. 100 = 100 −90.4 % Ayakan No.4 % PAN = 92 1000 x 100% = 9.persentase jumlah tertinggal Ayakan No.7 % Ayakan No. 1 ½’ = 100 −0 % Ayakan No. 50 = 347 1000 x 100% = 34. 4 = 100 −0.2 % Ayakan No.4% Ayakan No.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON = 14 1000 x 100% = 1. 30 = 185 1000 x 100% = 18. 10 KELOMPOK 2B c. 8 = 100 −1. 3/8 = 100 −0 % Ayakan No.3 % Ayakan No.6 = 99.8 % Ayakan No.2 % PAN = 100 −100 = 0% = 100% = 100% 67 .50 = 100 −56.

7 100 =2. Perhitungan Modulus Halus Butir MHB= MHB sampel A Jumla h kumulatif ter tah an persentase jumla htertinggal = 269.5 = 100 = 2.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B d. 68 .745 e.697 MHB sampel B 274.

88 98.2 1.8 No.24% = 98.88 98.2 1.10 1.12 1.8 98. 4 Ayakan No.04 55.6 0.68 96.24 0 0 0 0 1.56 98. Pengujian Asal agregat : 4-5 April 2014 : Kerkap Sampel A Ayakan No 1 1 2 KELOMPOK 2B Ukuran Tertahan Berat Persen (gr) (%) Sampel B Kumulatif Tertahan Lolos (%) (%) Tertahan Berat Persen (gr) (%) Kumulatif Tertahan Lolos (%) (%) 38 0 0 0 100 0 0 0 100 3 4 19 1032 41.2 1.96 3.84 0.2 100 98.8 98.8 2.15 Pan Jumlah MHB 40 6 0 0 0 0 30 2500 1.8 100 8.2 1.04 44.308 1.3 No.56% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 98.4432 1.72 1376 55.88 100 8.12 1.100 0.88 98.8 98.28 58.72 3.4 4.6% = 98.04 1042 4.8% 69 .4 No.28% + 55.96% + 1.28 41.28 No.28% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 41.2 No. 3/8’ Ayakan No.68% = 96.12 100 98.44 1.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Agregat : Split 2:3 Tgl.56% + 0.96% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 96.28% = 41. 8 (tertinggal) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0 + 41.30 0.6 No.68 96.88 98. Jumlah berat agregat yang tertahan ∑W Ayakan No.2 0 - 46 8 0 0 0 0 28 2500 1.12 0 - 8 Perhitungan agregat kasar (Split) 1.96 3 8 9. 3/4’ Ayakan No.12 1.50 0.8 98.44 1.32 0 0 0 0 1.6 1392 55. Perhitungan agregat kasar (Split) Sample A a.56 98.12 1.

44 % Ayakan No.24 % = 1. 3/8’ = 1392 2500 x 100% Ayakan No.2 % c. 4 = 100 −98.72 % Ayakan No. 4 = 40 2500 x 100% Ayakan No. 3/4’ 1032 = 2500 x 100% Ayakan No. 8 = 100 −98. 3/8 = 100 −96. persentase jumlah berat agregat yang tertahan Persentase(jumlah tertinggal ) = persentase jumlah tertingal x 100 jumlah keseluruhan ma sing−masing tertinggal Ayakan No.persentase jumlah tertinggal Ayakan No.04 % Ayakan No.8%+ 1. 8 = 6 2500 x 100% PAN = 30 2500 x 100% = 41. Persentase jumlah berat agregat yang lolos saringan Persentase jumlah melalui = 100 % .6 % = 0.68 % = 1. 3/4’ = 100 −41.28 = 58.2% = 100% b.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON PAN KELOMPOK 2B =W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 98.96 = 3.2 % PAN = 100 −100 = 0% 70 .8 = 1.56 = 1.28 % = 55.

88%+ 1.04% + 4.04% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 55. 4 Ayakan No. 8 = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 98. 8 = 8 2500 x 100% PAN = 28 2500 x 100% x 100% = 1. KELOMPOK 2B 2.88% =W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 98. 3/8’= 1042 2500 = 55.72% + 1.12% = 100% PAN b.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON a.04% = 55. 3/8’ Ayakan No.56% Ayakan No. Persentase jumlah berat agregat yang lolos saringan Persentase jumlah melalui = 100 % .04 % x 100% = 4. 3/4’ = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 0 + 55.32 % = 1. Perhitungan agregat kasar (Split) Sample B Jumlah berat agregat yang tertahan ∑W (tertinggal) Ayakan No. persentase jumlah berat agregat yang tertahan Persentase(jumlah tertinggal ) = persentase jumlah tertingal x 100 jumlah keseluruhan masing−masing tertinggal 1376 Ayakan No. 3/4’= 2500 x 100% Ayakan No.72% = W(tertinggal) + W (tertinggal sebelumnya) = 96. 4 = 46 2500 Ayakan No.84 % = 0.persentase jumlah tertinggal 71 .68 % Ayakan No.32% = 98.84% = 98.12 % c.56% + 0.68% = 96.

12 % PAN = 100 −100 % = 0% KELOMPOK 2B d.3756%. Perhitungan Modulus Halus Butir MHB= MHB sampel A Jumla h kumulatif terta h an persentase juml a h tertinggal = 20770 2500 = 8. Nilai rata-rata MHB untuk agregat kasar split yaitu 8.96 % Ayakan No.88 % = 1.7 KESIMPULAN Dari hasil percobaan dapat disimpulkan: 1.308 MHB sampel B = 21108 2500 = 8. nilai MHB normal untuk agregat halus yaitu 1.72 % = 3.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Ayakan No. 3/8 = 100 −96.56 % = 1. 2. Nilai rata-rata MHB untuk agregat halus pasir gunung yaitu 2. 8 = 100 −98. Menurut SNI 0052-80 nilai MHB normal untuk agregat kasar yaitu 6%-7.721%.04 = 44.4432 3. 4 = 100 −98.6.5%-3.44 % Ayakan No.8%.1%. 72 .28 % Ayakan No. 3/4’ = 100 −55.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 3.8 DOKUMENTASI Agregrat di masukan ke Agregrat di letakkan d atas mesin penggoyang 73 .6.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Agregrat yang telah disaring AgregratBAB di ditimbang per IV saringan 74 .

625 Kg/m³ 1084.281 Kg/m³ 0.6 60-100 mm 40 mm 190 liter/m³ 422 Kg/m³ 275 Kg/m³ zona 4 25% 2.48 Mpa Portland Type I 2.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B PERHITUNGAN PERENCANAAN CAMPURAN BETON No.875 Kg/m³ Keterangan Ditetapkan Tabel niali deviasi standar M=kxs fc'r = f c + ( k x s) Ditetapkan Split 2:3(Batu pecah) Pasir gunung curup Grafik fas Tabel 1 tabel 2 Ditetapkan tabel 3 (12)/(8) grafik 5 (SK-SNI) grafik 15 (SK-SNI) (2.4 Berat jenis agregat kering permukaan Berat Jenis Beton Kadar agregat gabungan kadar agegat halus kadar agregat kasar Nilai 30 Mpa 7 Mpa 11.45 2262.45 0.48 Mpa 41.518*75%) Grafik 4 (20)-(12)-(13) (20)x(18) (21)-(22) 75 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Tahapan Perhitungan Mix Design kuat tekan yang disaratkan Deviasi standar Nilai tambah Kekuatan rata-rata yang ditanrgetkan Jenis semen Berat jenis agregat kasar Berat jenis agregat halus Faktor air semen bebas Faktor air semen maksimum Slump Ukuran agregat maksimum Kadar air bebas Kadar semen Kadar semen maksimum kadar semen minimum Faktor air yang disesuaikan Susunan butir agregat halus saringan Persen bahan yang lebih halus dari saringan no.5 Kg/m³ 565.281*25%)+(2.518 Kg/m³ 2.5 Kg/m³ 1650.

502 Kg/m3 76 .517 Jika kadar air yang diperoleh tidak sama dengan kadar air pada kondisi kering permukaan.625 100 D 100 . maka hal ini memerlukan penyelesaian kadar air.875 2.0435 3.875 absorbsi (%) 5.(Ck-Ca) x C 100 .0435) x x 565.625 1084.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B PERBANDINGAN CAMPURAN BAHAN tiap ( m ) perbandingan berat perbandingan volume SEMEN 422 1 AGR.(Dk-Da) x = 190 .(1.7005) 1084.7005 kadar air (%) - 4.297 Penyesuaian menjadi : 1) Semen tetap = 422 kg/m3 2) Air = B .625 1.34 1084. bahan Semen Air agregat halus agregat kasar kg/m3 422 190 565. KASAR - 565.297-3. HALUS - AGR.084-5.(4.875 100 = 221.084 1.

Kasar Tiap m Perbandingan berat Perbandingan Volume 422 1 560.625 100 = 560.0435) x 565.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON 3) Agregat Halus = C + (Ck-Ca) x KELOMPOK 2B C 100 = 565.198 1.327 1058.084-5.625 + (4.198 Kg/m3 4) Agregat Kasar = D + (Dk-Da) x D 100 = 1084. Halus Agr.8 2.875 100 = 1058.8 Kg/m3 Keterangan : B = Jumlah air (Kg/m3) C = Jumlah agregat halus (Kg/m3) D = Jumlah agregat kasar (Kg/m3) Ca = Absorbsi air pada agregat halus (%) Da = Absorbsi air pada agregat kasar (%) Ck = Kandungan air dalam agregat halus (%) Dk = Kandungan air dalam agregat kasar (%) PERBANDINGAN CAMPURAN Bahan Semen Agr.875 + (1.7005) x 1084.297-3.509 77 .

856 0.801 5.3 = 0.464 0.502 560.432 11.005 m³ Volume untuk 4 benda uji = 0.502 560.198 1058.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B PERHITUNGAN BENDA UJI UNTUK BENDA UJI SILINDER Volume benda uji = πr2 x t = 3.198 1058.165 2.464 4.352 3.616 1.668 25.204 21.296 5.836 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 71 .459 BANYAK CAMPURAN UNTUK 4 BENDA UJI SILINDER Bahan Jumlah per m3 Jumlah 4 benda uji silinder Penambahan 22% jumlah Jumlah kebutuhan Semen Air Agregat halus Agregat kasar (Kg) 422 221.005 X 4 = 0.176 (Kg) 1.44 4.8 2.8 (Kg) 8.574 1.660 (Kg) 10.02 m3 BANYAK CAMPURAN UNTUK 1 BENDA UJI SILINDER Bahan Semen Air Agregat halus Agregat kasar Jumlah per m3 Jumlah 1 benda uji Penambahan 22% jumlah Jumlah kebutuhan (Kg) (Kg) (Kg) (Kg) 422 221.294 0.11 1.408 13.14 x 0.108 2.244 0.976 2.417 6.0752 x 0.

502 560.02025 m3 BANYAK CAMPURAN UNTUK 1 BENDA UJI KUBUS Bahan Semen Air Agregat halus Agregat kasar Jumlah per m3 Jumlah 1 benda uji Penambahan 22% jumlah Jumlah kebutuhan (Kg) (Kg) (Kg) (Kg) 422 221.003375 x 3 Volume untuk 3 benda uji = 0.83 1.49 11.85 1.72 (Kg) 10.502 560.72 BANYAK CAMPURAN UNTUK 3 BENDA UJI KUBUS Bahan Jumlah per m3 Jumlah 3 benda uji silinder Penambahan 22% jumlah Jumlah kebutuhan Semen Air Agregat halus Agregat kasar (Kg) 422 221.35 21.61 8.16 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 71 .198 1058.84 26.47 13.82 4.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B PERHITUNGAN BENDA UJI UNTUK BENDA UJI KUBUS = r3 Volume benda uji = (0.477 1.15 0.15)³ = 0.33 0.8 2.44 (Kg) 1.55 4.198 1058.78 7.57 3.003375 m³ = 0.431 5.98 2.49 4.881 0.8 (Kg) 8.49 3.627 0.

8 10.005) + 0.0123525 x 422 = 10.0244 x 221.0244 x jumlah agr.0244 x 422 = kg 2.0123525 x jumlah agr.0123525 x jumlah agr. Agr. Kasar : 0. Semen : 0.003375) + 0.0123525 x221.198 = 5.431 TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 Air (kg) 5.0123525 x jumlah air per m3 5. halus per m3 = 0.0123525 x jumlah semen per m3 : 0.0123525 x 560.84kg 4. Halus = 0.835 26.0244 x jumlah agr.16 .0123525 m3 1. Air 3. Kasar per m3 = 0.669 kg 4. Kasar per m3 = 0.502 = 0.835 kg Adukan II ( 3 kubus ) (3 kubus + 22% dari 3 kubus) = (3 x 0.0244 x jumlah semen per m3 = 0.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B HASIL PROPORSI MIX DESIGN BETON : Adukan I ( 4 silinder) = (4 x 0.198= =0. Agr.0244 x jumlah air per m3 : 0.84 71 Agregat Kasar (kg) 25.0044 = 0. Halus : 0.297 = 25.16kg TABEL HASIL PROPORSI MIX DESIGN BETON Adukan I II Semen (kg) 10. Agr.405 5.0123525 x 1058.0244 x 560. halus per m3 13.47 Agregat Halus (kg) 13. Semen 2.669 13. Kasar : 0.8 = 26.47kg 3. Agr.431kg = 0.297 10.0244 x 1058.502 = : 0. Air : 0.405 kg = 13.0244 m3 4 silinder + 22% dari 4 silinder 1.0022275 = 0.

Bertujuan untuk menyederhanakan variasi komposisi campuran yang dilakukan dalam percobaan nanti dan menentukan penggunaan kebutuhan air pencampur sehingga mudah untuk dikerjakan. selanjutnya adalah pelaksanaan pencampuran unsur-unsur beton. 5. Cetakan kubus (15x15x15) cm3 dan silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm 2.1 Pelaksanaan Campuran Beton Pelaksanaan campuran beton (trial mix).LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B BAB V PENCETAKAN BETON DAN PERAWATAN 5. molen pengaduk beton kedap air (mixer) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 81 .Setelah ditetapkan komposisi canmpuran berdasarkan hasil mix design.2 Peralatan 1.

5 gr 4. Ember 5.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON 3. Timbangan dengan ketelitian 0. Sendok semen TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 82 KELOMPOK 2B .

bagian atas 10 cm dan tinggi 30 cm.Cetakan berupa kerucut terpancung dengan diameter bawah 20 cm. Bagian atas dan bawah cetakan terbuka. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 83 . oli 8. Satu set alat uji slump yaitu: .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 6. talam 7.

Adapun tahapan pengujian slump sebagai berikut: - Cone (kerucut terpancung )dan pelat dibasahi dengan kain basah. Semen dan agregat halus dimasukan kedalam bak pengaduk (mixer). diameter 16 mm dan panjang 60 cm degan ujung dibulatkan.sebagian adukan diambil lalu lakukan pengujian slump. 5. Air dimasukan sedikit demi sedikit kedalam campuran beton sambil diaduk. Agregat kasar dimasukan ke dalam adukan semen dan agregat halus.aduk sampai rata dan homogen. sebaiknya terbuat dari baja tahan karat.3 Tahapan Pelaksanaan 1. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 84 .kemudian aduk sampai rata dan homogen. - Pelat logam dengan permukaan yang kokoh. rata dan kedap air. 3. Sebelum sisa air dimasukan. Timbang semua bahan yang dibutuhkan ( di mix desain) 2.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON - KELOMPOK 2B Tongkat pemadat. 4. Sampai sesuai dengan yang dibutuhkan 5.jika dari hasil uji slump belum dicapai hasil yang direncanakan maka tambahkan sisa air dan lakukan pengadukan kembali.

Letakkkan cone disamping benda uji (beton segar) dengan posisi - terbalik. 12. 6. Setelah selesai pemadatan.pada lapisan pertama penusukan bagian tepi tongkat dimiringkan sesuai dengan kemiringan - cone.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON - KELOMPOK 2B Letakan cone diatas pelat.setiap lapis dipadatka dengan tongkat pemadat sebanyak 25 x tusukan secara merata.tongkat harus tepat masuk sampai lapisan bawah tiap lapisan. Pada pemadatan. 9. Takaran diisi dengan benda uji dalam 3 lapis. Setelah campuran beton memenuhi syarat uji slump yang telah ditetapkan.4.tongkat boleh masuk sampai kira-kira 2. Ukurlah penurunan benda uji yang terjadi dengan menentukan perbedaan tinggi rata-rata benda uji dengan penggaris. Isikan cone sampai penuh dengan beton muda dalam 3 lapis . Diamkan adukan yang telah dicetak selama 24 jam. Segera setelah selesai pemadatan. 7.5 cm dibawah lapisan sebelumnya.ratakan permukaan benda uji dengan tongkat atau sendok semen.tiap lapis berisi ± 1/3 isi cetakan.setelah itu. Perawatan Benda Uji Proses pelaksanaan perawatan benda uji dilakukan setelah benda uji dibongkar dari cetakannya 24 jam ± 8 jam. Perawatan pada benda uji perlu dilakukan agar hidrasi yang terjadi dapat berlangsung dengan baik. kemudian campuran beton tersebut dituangkan kedalam cetakan. Adapun proses perawatan TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 85 .semua benda uji yang jatuh - disekitar cetakan harus dibersihkan Kemudian cetakan diangkat perlahan-lahan tegak lurus keatas. Buka cetakan 5. 8. Tiap-tiap lapis dipadatkan dengan tongkat penumbuk sebanyak 25 kali tusukan secara merata pada pemadatan lapis pertama.tongkat tidak boleh mengenai dasar takaran pada pemadatan lapisan kedua dan ketiga. 13. Untuk perbandingan buat beberapa buah benda uji agar dapat diketahui perbandingan yang paling sesuai untuk pengujian kuat tekan beton pada umur 28 hari.sisi takaran diketuk perlahan-lahan dengan menggunakan palu karet sampai tidak tampak gelembung-gelembung udara pada permukaan serta rongga-rongga bekas tusukan tertutup. Permukaan benda uji diratakan dengan sendik semen 11. 10.

198:29) TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 86 . kecuali dilakukan dengan perawatan yang dipercepat. (PB. Air yang digunakan untuk perawatan benda uji harus bersih dari kandungan besi dan organik dan juga bebas dari bahan-bahan yang dapat merusak beton setelah mengeras. Perawatan ini dilakukan minnimal selam 7 hari dan beton berkekuatan awal tinggi minimal selama 3 hari serta harus dipertahankan kondisi lembab.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B benda uji dengan menggunakan metode perendaman dimana benda uji direndam didalam bak yang telah diisi dengan air.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B DOKUMENTASI Siapkan terlebih dahulu cetakan Menimbang bahan Memasukkan bahan ke molen Pengadukan agregat Uji slump TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 Pengukuran slump 87 .

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Memasukkan beton segar ke dalam cetakan Beton yang telah di cetak Pelepasan bekisting Beton di rendam TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 88 .

setelah perendaman BAB VI TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 89 .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Beton yang siap uji.

Tujuan pengujian ini adalah untuk menentukan kekentalan (konsistensi) adukan apakah adukan tersebut mempunyai kekentalan sesuai dengan yang diinginkan 6. dan kedap air. 6. 4. pada lapisan pertama penusukan lapisan pada bagian tepi tongkat dimiringkan sesuai dengan kemiringan cetakan. Cone diletakkan di atas plat dengan posisi yang rata. Cone diisi sampai penuh dengan beton segar dalam 3 lapis. kemudian diratakan permukaan benda uji dengan tongkat dan semua sisa benda uji yang jatuh disekitar cone harus disingkirkan. Selesai penusukan.2 mm. panjang 600 mm.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B PENGUJIAN SLUMP BETON 6.3 6. kemudian cone diangkat perlahan-lahan tegak lurus ke atas. Cone dan plat dibasahkan dengan air. Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan slump beton (concrete slump). tongkat harus masuk sampai lapisan bagian bawah tiap-tiap lapisan. Sendok semen Mistar Langkah Kerja 1. setiap lapis ditusuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25 tusukan secara merata.1 Definisi Slump beton adalah besaran kekentalan(viscocity)/plastisitas dan kohesif dari beton segar. 2.2 Maksud dan Tujuan 1. Tongkat pemadat dengan diameter 16 mm. Pelat logam dcngan permukaan yang kokoh. rata. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 90 . tiap lapis berisi kira-kira 1/3 isi cetakan. 3.4 Alat dan Bahan 1 Cetakan dari logam berupa kerucut terpancung (Cone) dengan tebal 2 3 4 5 minimal 1. 2.

5 3 = 7. yaitu slump yang ditetapkan 6 cm – 10 cm.5 + 7.5 Hasil dan Pembahasan a) Setelah dilakukan langkah-langkah tersebut diatas.33 cm hal ini memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Cetakan dibalikkan dan letakkan perlahan-lahan disamping benda uji. ukurlah slump yang terjadi dengan menentukan perbedaan tinggi cetakan dengan tinggi rata-rata benda uji.5+ 6.5 cm.5 cm.5 cm dan 6. pada pengujian slump untuk 4 benda uji silinder dan 3 benda uji kubus didapat nilai sebesar 8. Jadi campuran beton adukan pertama tersebut siap untuk dicetak. Jadi penurunan rata-rata yang terjadi pada slump tersebut adalah: = 8.33 cm Dari hasil perhitungan didapat bahwa : Slump yang didapat dari pengujian 7. 6. DOKUMENTASI TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 91 .. 7.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 5. dengan sisa air sebanyak 65 ml.

Penusukan benda uji didalam cone Pengukuran Slump TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 92 .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Memasukkan benda uji kedalam cone .

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Slump yang sudah didapatkan dan siap dicetak BAB VII UJI KUAT TEKAN BETON 7.1 Definisi TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 93 .

Benda uji yang berbentuk silinder. Tujuan pengujian ini untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan prosedur yang benar. Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan kuat tekan (compressive strength) beton dengan benda uji berbentuk silinder dan dimatangkan (curing) di laboratorium maupun di lapangan. 2. Alat pemanas belerang 7. Neraca ohaus. Benda uji beton dapat berbentuk kubus ukuran (15x15x15)cm3 dan silinder berukuran diameter 15 cm dengan tinggi 30 cm.4 Langkah Kerja 1. Mesin beban (penguji kuat tekan) 6. 4. 2. 5. Jangka sorong.3 Alat dan Bahan 1.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas yang menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu yang dihasilkan oleh mesin tekan atau compressive strength machine.2 Maksud dan Tujuan 1. Kekuatan karakteristik beton diperoleh dari hasil pengetesan sejumlah benda uji beton. 3. 7. 7. Benda uji yang akan ditentukan kekuatan tekannya diambil dari bak perendam kemudian bersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain yang lembab dan didiamkan beberapa saat sampai kering TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 94 . Timbangan. Belerang 7.

731kg Sampel 2 = 12.735 No Kode 1 A1 2 Mei 2015 2 A2 2 Mei 2015 2015 16 Mei 2015 1. Capping benda uji bagian atasnya dengan belerang yang sudah dipanaskan 5. Kemudian berat dan volume benda uji dihitung. 3. 6.1 Menghitung kuat tekan beton umur 14 hari Tabel Uji Tekan Beton umur 14 (empat belas) hari a. 7.759 17662. Catat berapa beban maksimumnya setelah jarum pada alat uji tekan beton tersebut tidak menunjukkan kenaikkan lagi. Masukkan belerang kedalam pemanas belerang sampai belerang mencair 4. 7.5 340000 21.875 14 12. Menimbang berat masing-masing sample Sampel 1 = 12.731 17662.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 2. Letakkan benda uji pada alat uji tekan secara sentris.759 kg 2.5. Menghitung berat isi TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 95 .5 Hasil Dan Pembahasan 7.5 400000 25. Jalankan alat uji tekan beton tersebut. Silinder Tanggal Tanggal Umur Berat A Beban Kuat tekan Pembuatan Pengujian 16 Mei (Hari) (Kg) (mm2) (N) (N/mm2) 14 12.

759 =24. menghitung kuat tekan hancur rata-rata TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 96 .5 MPa = 6.875 = 17662. Menghitung luas A = π .731 =24.08 x 10 5298750 -7 kg/mm3 3.5 mm2 4. Mencari beban maksimum Beban maksimum didapat dari hasil pengujian.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B Berat isi = Berat Isi Sampel 1 = 12.5 MPa Sampel 2 400000 =25.735 17662.14 x 7.5 x7. Menghitung kuat tekan kuat tekan= beban maksimum luas penampang Sampel 1 340000 =21.5 = 176. r2 = 3.625 cm2 = 17662.03 x 10 5298750 -7 kg/mm3 Sampel 2 = 12. yaitu: Sample 1 = 340 kN = 340000N Sample 2 = 400 kN = 400000 N 5.

394 14 8.042 22500 610000 30.Menimbang berat masing-masing sample Sampel 1 = 8.Menghitung berat isi Berat isi = Berat Isi Sampel 1 = 8.Mencari luas TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 97 .208 kg Sampel 3 = 8.208 22500 780000 39.735 2 ¿ 23.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON kuat tekan rata−rat a= KELOMPOK 2B jumla h kuat tekan 2 = 21.32 x 10 3375000 -7 Sampel 3 = 8.382 =24.805 MPa b.394 14 8.208 =2 4.84 x 10 3375000 -7 Sampel 2 = 8.382 kg Sampel 2 = 8.042 kg 2.808 No Kode 1 A 2 Mei 2015 2 B 2 Mei 2015 3 C 2 Mei 2015 2015 16 Mei 2015 16 Mei 2015 1. Kubus Tanggal Tanggal Umur Berat A Beban Kuat tekan Pembuatan Pengujian 16 Mei (Hari) (Kg) (mm2) (N) (N/mm2) 14 8.382 22500 780000 39.042 =2 3.83 x 10 3375000 -7 3.875+ 25.

88=39. beban maksimum luas penampang Menghitung kuat tekan rata-rata kuat tekan rata−rata= jumla h kuat tekan 3 = TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 39.88=30.394+30.Menghitung kuat tekan hancur kuat tekan= Sampel 1 780000 :0.394 = 22500 MPa Sampel 2 = 780000 :0. yaitu: Sample 1 = 780 kN =780000 N Sample 2 = 780 kN =780000 N Sample 2 = 610 kN =610000 N 5.88=39.Mencari beban maksimum Beban maksimum didapat dari hasil pengujian.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B A = S2 = 152 = 225 cm2 = 22500 mm2 4.808 3 98 .394 MPa 22500 = 610000 :0.808 MPa 22500 Sampel 3 a.394 +39.

805 MPa 2. hal ini karena beberapa faktor. TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 99 . Kuat tekan beton rata-rata umur benda uji pada umur 14 hari untuk sampel silinder sebesar 23.532 MPa Dari hasil pengujian didapatkan kuat tekan rata-rata pada benda uji silinder kurang dari kuat tekan yang ditetapkan. yaitu. yaitu 30 MPa kuat tekan yang ditetapkan. Kuat tekan rata-rata pada bvenda uji kubus mencapai kuat tekan yang ditetapkan. Kuat tekan beton rata-rata umur benda uji pada umur 14 hari untuk sampel kubus sebesar 36.6 Kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan didapat : 1.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B = 36.532 MPa 7.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B DOKUMENTASI 1. Uji tekan kubus Pengukuran sampel penimbangan sampel Pengujian sampel pembacaan nilai Sampel setelah diuji TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 100 .

Uji tekan silinder Pengukuran benda uji Pelapisan belerang Benda uji yang sudah dilapisi belerang TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 101 .LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B 2.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Pengujian sampel Sampel yang telah diuji BAB VIII TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 102 KELOMPOK 2B .

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON

KELOMPOK 2B

UJI KUAT TARIK-BELAH BETON
8.1

Definisi Kuat Tarik-Belah Uji Beton Berbentuk Silinder
Nilai kuat tarik tidak langsung dari benda uji beton berbentuk silinder
yang diperoleh dari hasil pembebanan benda uji tersebut yang diletakkan
mendatar sejajar dengan permukaan meja penekan mesin uji tekan.
Kuat tarik bahan beton ditentukan melalui pengujian split silinder
yang umumnya memberikan hasil yang baik dan lebih mencerminkan kuat
tarik yang sebenarnya. Benda uji belah, terbelah menjadi 2 bagian dari ujung
apabila kuat tarik terlampaui. Tegangan tarik yang timbul sewaktu benda uji
terbelah disebut sebagai split streght, diperhitungkan sebagai berikut
( Dipohusodo,I.,1999 ) :
Flt=

2P
π xLxD

Dimana : Flt : kuat tarik-belah ( Mpa )
P : beban ( N )
L : panjang benda uji (mm)
D : diameter benda uji (mm)
Kekuatan karakteristik beton diperoleh dari hasil pengetesan sejumlah
benda uji beton. Benda uji beton dapat berbentuk silinder yang menurut
American Concrete

Institute Standard 211-1-77 adalah silinder ukuran

diameter 15 cm dengan tinggi

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

30 cm.

103

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON

KELOMPOK 2B

8.2 Maksud dan Tujuan
1. Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk
menentukan kuat tarik-belah beton dengan benda uji berbentuk silinder
dan kubus dan dimatangkan (curing) di laboratorium maupun di
lapangan.
2. Tujuan pengujian ini untuk memperoleh nilai kuat tarik-belah beton
dengan prosedur yang benar.

8,3.

Alat dan Bahan
1. Mesin uji tekan
2. Pelat/ batang penekan tambahan
3. Bantalan bantu pembebanan
4. Benda uji berbentuk silinder

8. 4. Langkah Kerja
1. Benda uji yang akan ditentukan kekuatan tarik-belahnya diambil
dari bak perendam kemudian bersihkan dari kotoran yang menempel
dengan kain yang lembab dan didiamkan beberapa saat.
2. Kemudian berat dan volume benda uji dihitung.
3. Letakkan benda uji pada alat uji tekan secara sentris.
4. Jalankan alat uji tekan beton tersebut.
5. Catat berapa beban maksimumnya setelah jarum pada alat uji tekan beton
tersebut tidak menunjukkan kenaikkan lagi.

8.5

Hasil Dan Pembahasan

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

104

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON

KELOMPOK 2B

Kode

Berat Beton (Kg )

Silinder B1

12,777

Kuat tarik
(N/mm2)
8.267

Silinder B2

12,881

9.172

8.5.1 Menimbang berat masing-masing benda uji :
Uji belah
8.5.2Mencari Isi silinder
V = π . R2 . t
= π x 0,75 x0,75 x 3
= 5,29875 dm3
= 5298750 mm3
a.Menghitung berat isi
Berat isi =

berat
isi

Sampel B1 =

12,777
=2,411
5,29875

Sampel B2 =

12,881
=2,431
MPa
5,29875

MPa

b.Mencari luas silinder
L = π . R2
= 3,14 x 75 x 75
= 17662 mm2

TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016

105

3 KELOMPOK 2B Mencari beban maksimum Beban maksimum didapat dari hasil pengujian.067 +2.5.rata kuat tarik-belah untuk 14 hari dari 2 sampel silinder adalah TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 106 .14 x 300 x 150 Sampel C= 2 x 162000 =2.293 2 ¿ 2.293 MPa 3.14 x 300 x 150 Menghitung kuat tarik-belah rata-rata jumlah benda uji 2 Kuat belah rata-rata = = 2. yaitu: Jenis Benda Uji Sampel B1 Beban Yang Mampu Ditahan (P) 146000 Sampel B2 162000 Menghitung kuat tarik-belah : Kuat tarik-belah = 2P .18 MPa Rata .067 MPa 3. Π x LxD Sampel B= 2 x 146000 =2.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON 8.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON KELOMPOK 2B = 2. Pada silinder sampel B1 nilai kuat tariknya yaitu 2.18 Mpa 8.6 Kesimpulan Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan berkaitan dengan uji belah dapat kami simpulkan bahwasanya hasil dari uji belah yaitu : 1. Pada silinder sampel B2 nilai kuat tariknya yaitu 2.067 mpa 2.293 mpa TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 107 .

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON DOKUMENTASI Uji belah silinder Pengukuran sampel Pengujian sampel TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 108 KELOMPOK 2B .

2004.LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON Silinder setelah di lakukan uji belah DAFTAR PUSTAKA Mulyono.Andi TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 109 KELOMPOK 2B . Jogjakarta. Tri. Teknologi Beton.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BETON TEKNIK SIPIL UNIB 2015/2016 110 KELOMPOK 2B .