You are on page 1of 16

DISKUSI KASUS

FARINGITIS

OLEH:

KEPANITERAAN KLINIK
UPF/ LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
S U RAK AR TA
2013

Group A streptococcus merupakan penyebab faringitis yang utama pada anak-anak berusia 5-15 tahun. cytomegalovirus dan Epstein-Barr virus (EBV). Insidens Di USA. 2 . turunnya daya tahan tubuh. Respiratory viruses merupakan penyebab faringitis yang paling banyak teridentifikasi dengan Rhinovirus (±20%) dan coronaviruses (±5%). konsumsi makanan yang kurang gizi. Faringitis yang disebabkan oleh bakteri biasanya oleh grup S. Faktor resiko penyebab faringitis yaitu udara yang dingin. Yersinia eneterolitica dan Treponema pallidum. Corynebacterium ulcerans. virus (40-60%) bakteri (5-40%). Herpes simplex virus type 1&2. Bakteri penyebab tersering yaitu Streptococcus pyogenes. faringitis terjadi lebih sering terjadi pada anak-anak daripada pada dewasa. terutama usia 4 – 7 tahun. Etiologi Banyak microorganism yang dapat menyebabkan faringitis. adenovirus.BAB I TINJAUAN PUSTAKA FARINGITIS Definisi Faringitis adalah peradangan dinding faring yang dapat disebabkan akibat infeksi maupun non infeksi. Sedangkan. Faringitis dapat menular melalui droplet infection dari orang yang menderita faringitis. dan sekitar 10%nya diderita oleh dewasa. karena itu sering disebut faringitis GAS (Group A Streptococci). Selain itu infeksi HIV juga dapat menyebabkan terjadinya faringitis. ini jarang ditemukan pada anak berusia <3tahun.pyogenes dengan 5-15% penyebab faringitis pada orang dewasa. Masa infeksi GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur hingga awal musim semi. Corynebacterium diptheriae. Selain itu juga ada Influenza virus. Parainfluenza virus. penyebab virus tersering yaitu rhinovirus dan adenovirus. Faringitis ini jarang terjadi pada anak usia <3 tahun. Mycobacterium tuberculosis. Bakteri penyebab faringitis yang lainnya (<1%) antara lain Neisseria gonorrhoeae. konsumsi alkohol yang berlebihan. Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu streptokokus grup A. Coxsackie virus A. Sekitar 15 – 30 % faringitis terjadi pada anak usia sekolah.

Toksin ini menyebabkan kerusakan pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil. Periode inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu sekitar 24 – 72 jam. Droplet ini dikeluarkan melalui batuk dan bersin. Coxsachievirus. Virus influenza.Patogenesis Bakteri S. bakteri ini akan bermultiplikasi dan mensekresikan toksin. dada. Faktor risiko dari faringitis yaitu:  Cuaca dingin dan musim flu  Kontak dengan pasien penderita faringitis karena penyakit ini dapat menular melalui udara  Merokok. nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Demam disertai rinorea. mual. atau terpajan oleh asap rokok  Infeksi sinus yang berulang  Alergi Klasifikasi Faringitis Faringitis Akut a. Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada faring. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh darah yang rusak akibat pengaruh toksin. Jika bakteri ini hinggap pada sel sehat. Beberapa strain dari S. dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Pyogenes memiliki sifat penularan yang tinggi dengan droplet udara yang berasal dari pasien faringitis. Pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada leher. dan lengan. 3 . Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Faringitis Viral Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis.

Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. mual dan demam. Kelenjar limfa leher anterior membesar. Faringitis yang disebabkan HIV menimbulkan keluhan nyeri tenggorok. Faringitis Bakterial Nyeri kepala yang hebat. limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah. nyeri menelan. Epstein-Barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak.4. b. kenyal dan nyeri pada penekanan. faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak. terdapat eksudat. kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi dan jarang disertai dengan batuk. muntah.Gambar 2. 4 . Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar. Viral Pharyngitis Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.

sinusitis. bila skor 1-3 maka pasien memiliki kemungkian 40% terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien memiliki kemungkinan 50% terinfeksi streptococcus group A. Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah pasien yang bernafas melalui mulut karena hidungnya tersumbat. iritasi kronik oleh rokok.4. inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu. Pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis.Gambar 2. a. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring adalah rhinitis kronik. minum alcohol. c. Streptococcal Pharyngitis Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan menggunakan Centor criteria. Faringitis Kronik Hiperplastik 5 .Anterior Cervical lymphadenopathy .absence of cough Tiap kriteria ini bila dijumpai diberi skor 1. bila skor 0-1 maka pasien tidak mengalami faringitis akibat infeksi streptococcus group A. Faringitis Fungal Keluhan nyeri tenggorokan dan nyeri menelan.Tonsillar exudates . yaitu : . Faringitis Kronik Terdapat dua bentuk faringitis kronik yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik atrofi.demam .

Secara garis besar faringitis menunjukkan tanda dan gejala-gejala seperti demam. kelenjar limfe pada rahang bawah teraba dan nyeri bila ditekan dan bila dilakukan pemeriksaan darah mungkin dijumpai peningkatan laju endap darah dan leukosit. udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring.11. Gejala klinis Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis tergantung pada mikroorganisme yang menginfeksi. faring yang hiperemis. Penatalaksanaan 6 . Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata dan berglanular. Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring.Throat culture Namun pada umumnya peran diagnostic pada laboratorium dan radiologi terbatas. eksudat. tonsil membesar. hidung dan leher. suara serak. 2.10.8.GABHS rapid antigen detection test bila dicurigai faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A . sinus. b.9. 2. pinggir palatum molle yang hiperemis. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis faringitis dapat dimulai dari anamnesa yang cermat dan dilakukan pemeriksaan temperature tubuh dan evaluasi tenggorokan. Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lender yang kental dan bila diangkat tampak mukosa kering. Pada rhinitis atrofi. tonsil yang membesar dan hiperemis. anorexia. Pemeriksaan Penunjang Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu dalam penegakkan diagnose antara lain yaitu : . 2. 2.pemeriksaan darah lengkap . pembesaran kelenjar getah bening di leher. telinga. kaku dan sakit pada otot leher. Pasien umumnya mengeluhkan tenggorokan kering dan tebal seerta mulut berbau. Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Faringitis Kronik Atrofi Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi.Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang bereak. Pada faringitis dapat dijumpai faring yang hiperemis.

Steroid yang dapat diberikan berupa deksametason 8-16mg/IM sekali dan pada anak-anak 0. • Demam rheumatic akut(3-5 minggu setelah infeksi). peritonsiler abses 7 poststreptococcal . glomerulonephritis. Komplikasi Komplikasi infeksi GABHS dapat berupa demam reumatik. Prognosis Umumnya prognosis pasien dengan faringitis adalah baik.080. Pasien dengan faringitis biasanya sembuh dalam waktu 1-2 minggu. atau adanya paparan baru. Selain antibiotik juga diberikan kortikosteroid karena steroid telah menunjukan perbaikan klinis karena dapat menekan reaksi inflamasi.Pada viral faringitis pasien dianjurkan untuk istirahat. minum yang cukup dan berkumur dengan air yang hangat. jika diperlukan dapat diberikann obat batuk antitusif atau ekspetoran. • Komplikasi umum faringitis terutama tampak pada faringitis karena bakteri yaitu : sinusitis. Pada faringitis kronik hiperplastik dilakukan terapi lokal dengan melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter). dan pada pasien dengan faringitis akibat bakteri dapat diberikan analgetik. dan toxic shock syndrome. Pada faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group A diberikan antibiotik yaitu Penicillin G Benzatin 50. Analgetika diberikan jika perlu. Antivirus metisoprinol (isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes simpleks dengan dosis 60100mg/kgBB dibagi dalam 4-6kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak <5tahun diberikan 50mg/kgBb dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari. Pengobatan simptomatis diberikan obat kumur. dan pneumonia.000 U/kgBB/IM dosis tunggal atau amoksisilin 50mg/kgBB dosis dibagi 3kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500mg selama 6-10 hari atau eritromisin 4x500mg/hari. Pada faringitis kronik atrofi pengobatannya ditujukan pada rhinitis atrofi dan untuk faringitis kronik atrofi hanya ditambahkan dengan obat kumur dan pasien disuruh menjaga kebersihan mulut. antipiretik dan dianjurkan pasien untuk berkumur-kumur dengan menggunakan air hangat atau antiseptik. mastoiditis. otitis media. dan abses peritonsiler. epiglotitis. Penyakit pada hidung dan sinus paranasal harus diobati.3 mg/kgBB/IM sekali. Kekambuhan biasanya terjadi pada pasaien dengan pengobatan yang tidak tuntas pada pengobatan dengan antibiotik.

• Komplikasi infeks mononukleus meliputi: ruptur lien. B-cell lymphoma. dan karsinoma nasofaring. anemia hemolitik. hepatitis. Guillain Barré syndrome. encephalitis. myocarditis. 8 .

ANAMNESA 1. Influenza (+) 9 .STATUS PASIEN A. namun semenjak panasnya meningkat maka ingus hidung pasien juga meningkat dan semakin mengental. Keluhan Utama Demam 3. Dr. I 24 tahun Perempuan Islam Ngoresan. Suara penderita terdengar sangat serak ketika berbicara. Surakarta 01 87 89 66 4 April 2008 4 April 2008 2. Sesak Nafas (-)  R. Tenggorokan pasien terasa nyeri sehingga pasien susah menelan makanannya. Riwayat Penyakit Sekarang Penderita datang dengan orang tua dengan keluhan demam. 4. Moewardi. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat No. Karena kondisi pasien yang semakin melemah maka orang tua pasien membawa pasien ke RSUD. Awalnya tidak disertai pilek. RM Masuk RS Pemeriksaan : : : : : : : : : Sdri. Asma (-)  R. semakin memberat dalam 2 hari terakhir. Riwayat Penyakit Dahulu  R.

bibir biru (-). Riwayat Status Gizi Penderita biasa makan tiga kali sehari dengan nasi. serak (+). pandangan Hidung Telinga dobel (-). mata kuning (-). bibir pecah- Tenggorokan pecah (-) : sakit telan (+). gigi berlubang (-). hidung tersumbat (+) : pendengaran berkurang (-). Hipertensi (-) 6. lebih sering makan daging ayam. Alergi (-)  R. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah karyawan di toserba. 8. tempe. gusi berdarah (-). Mondok (-) 5. Asma (-)  R. Riwayat Penyakit keluarga  R. tahu. lauk pauk . mimisan (-). Mulut berdenging ( + ) : mulut terasa kering (+). Penyakit Paru (-)  R. DM. Sakit jantung (-)  R. Penderita minum air putih kurang lebih 6-7 gelas perhari. sariawan (-). keluar cairan (-). R. gatal (+) 10 . Anamnesa Sistemik Keluhan utama Kepala Mata : Demam tinggi : pusing (+) : pandangan kabur (-). berkunang-kunang (-) : pilek (+). 7.

nyeri sendi (-). rambut warna hitam dan tidak mudah dicabut 11 . sebah (-). pingsan (-). mbeseseg (-). kebiruan (-/-). ikterik (-). Respirasi : 38 x / menit e. Gastrointestinal berdebar-debar (-). gatal (-). mengi (+). muntah darah (-). reguler. BAB sulit (-). kembung (-). keringat dingin (+). Tekanan darah : 120/80 mmHg b. Suhu : 38. bengkak (-/-). kebiruan (-/-). gizi kesan cukup Tanda vital: a. Heart rate : 60 x / menit. lemas (-) saat serangan : mual (+) saat serangan. bawah : luka (-/-). bengkak (-/-).3 0 C (per axiller) f. elastisitas cukup. BAK warna merah (-). sakit sedang. Tinggi badan : 130 cm Kulit : warna sawo matang. kuning (-). reguler d. terasa dingin (-/-) : kering (-). PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum :apatis . kencing Muskuloskeletal sedikit (+) : nyeri otot (-). luka (-). Berat badan : 53 kg g. batuk darah (-). venectasi Kepala (-). pucat (-). pucat (-). luka (-). muntah (+). nafsu makan menurun (+). c. nyeri saat BAK (-). sering kencing (-). petechie (-). batuk (+). BAB warna hitam (-). Extremitas kesemutan (-) : atas : pucat (-/-). Cardiovaskuler stridor (+) : nyeri dada (-). perut membesar (-). dahak (+) berwarna putih. Kulit kebiruan (-) B. ambeien (-) : BAK warna seperti teh (-). Nadi : 70 x / menit. isi cukup. turgor baik (+) : bentuk mesocephal. terasa dingin (-/-) pucat (-/-). spider nevi (-). bengkak sendi (-). luka (-/-). perut terasa panas (-).Respirasi : sesak (+) waktu serangan. BAB Genitourinaria darah lendir (-).

simetris. oedem palpebra Telinga: Hidung Mulut (-/-) sekret (-/-). lidah hiperemis (-). sekret (-/-). darah (-/-). gallop (-) Ekstrasistole (-) : Depan : Inspeksi : simetris statis dan dinamis Palpasi : fremitus raba kanan = kiri Perkusi : sonor / sonor Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+). JVP tidak meningkat (R+2). nyeri tekan mastoid (-/-) : napas cuping hidung (-/-). lidah kotor (-). nyeri tekan (-) : normochest. ST (-/-) 12 . BJ II tunggal. KGB Thorax Jantung servikal membesar (-). retraksi supraternal (+). faring hiperemis (+) Leher : simetris. gusi berdarah (-). papil lidah atrofi (-) Tenggorokan : tonsil hipertrofi (+). spider nevi (-). pernapasan tipe thoraco-abdominal : Inspeksi : Ictus cordis tak tampak Palpasi : Ictus cordis tak kuat angkat. intensitas normal. reflek cahaya (+/+). reguler. Paru bising (-). sklera ikterik (-/-). conjungtica pucat (-/-). epistaksis (-/-) : bibir kering (-). Ictus cordis teraba di SIC V linea midclavicula sinistra. Wheezing (-/-) : simetris statis dan dinamis : fremitus raba kanan = kiri : sonor / sonor Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+).Mata : cekung (-/-). ST (-/-) Belakang:Inspeksi Palpasi Perkusi RBK(-/-). Perkusi : Batas jantung Batas jantung kanan atas : SIC II linea parasternalis Batas jantung kanan bawah dextra : SIC IV linea parasternalis Batas jantung kiri atas dextra : SIC II linea parasternalis sinistra Batas jantung kiri bawah : SIC VI linea axillaris anterior Kesan : Batas jantung kesan melebar Auskultasi : HR : 112 kali/menit. reguler BJ I tunggal. mukosa pucat (-). stomatitis (-). tiroid membesar (-). trachea di tengah . pupil isokor (3mm/3mm). lidah tremor (-). sianosis (-).

Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : : : : Extremitas : Atas tidak teraba. spoon nail (-/-) C. akral dingin (-/-). Awalnya tidak disertai pilek. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Dengan biakan secret hidung diketemukan Streptococcus + D. acites (-). Pada pemeriksaan tenggorok ditemukan warna kemerahan pada tonsil. Suara penderita terdengar sangat serak ketika berbicara. hepar tidak teraba. limfadenitis. luka (-/-). Tenggorokan pasien terasa nyeri sehingga pasien susah menelan makanannya. Karena kondisi pasien yang semakin melemah maka orang tua pasien membawa pasien ke RSUD. Non Medikamentosa 13 . : pitting edem (-/-). RESUME Penderita datang dengan keluhan demam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tensi 120/80 mmHg. Moewardi. nyeri tekan (-). spoon nail (-/-) : pitting oedem (-/-). Bawah dinding perut lebih tinggi dari dinding dada peristaltik usus (+) normal timpani. semakin memberat dalam 2 hari terakhir. luka (-/-). DIAGNOSIS Faringitis Akut F. lien clubbing finger (-/-). clubbing finger (-/-). E. Dr. namun semenjak panasnya meningkat maka ingus hidung pasien juga meningkat dan semakin mengental. TERAPI 1. akral dingin (-/-). pekak alih (-) supel.

PROGNOSA Ad vitam : dubia Ad sanam : dubia Ad fungsionam : dubia 14 . Medikamentosa Kortikosteroid Antibiotika Antipiretik H.Berkumur dengan larutan salin 2.

frekuensi atau perjalanan dan komplikasi penyakit. Pada tonsil ditemukan kemerahan difus dan bintik-bintik petakie palatum lunak dan limfadenitis atau eksudasi anterior. penisilin akan menghasilkan efek bakterisid pada mikroba yang aktif membelah. Ingus hidung yang ditemukan mukoseros. eksudasi. Patogenesis: Faringitis akut melibatkan toksin Streptoccus hemoliticus grup A. dengan keluhan nyeri telan. Gejala-gejala ini juga disertai dengan demam setinggi 40ºC. sehingga penderita susah menelan. dalam bentuk tablet 250 mg dan 625 mg. sehingga efek penisilin hanya bakteriostatik. Faringitis oleh streptoccus paling baik diobati oleh Penisilin V secara peroral. Sehingga harus dilakukan usap faring untuk memperoleh biakan. Terhadap mikroba yang sensitif. dan sirup 125 mg/5 ml. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran tonsil. Penatalaksanaan: 1. Nampak pula membrane mukosa tertutup oleh eksudat. Dan menyebabkan pembengkakan limfonodi cervical.Faringitis Akut Definisi: Faringitis akut menunjuk pada semua infeksi akut faring termasuk tonsillitis dan faringotonsilitis. Dengan dosis 125-250 mg. Mekanisme kerja penisilin adalah menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan dalam sintesa dinding sel mikroba. Gambaran Klinis: Terjadi pada anak pada usia di atas 2 tahun. Anti-biotik Faringitis akut harus spesifik apakah disebabkan oleh Streptoccus atau oleh virus. Penisilin V (fenoksimetil penisilin) tersedia dalam garam kalium. mual dan muntah. 15 . sebanyak 3 kali sehari dalam 10 hari. Ada atau tidak adanya tonsil tidak mempengaruhi kerentanan. Penyakit ini tidak lazim pada anak dibawah umur 1 tahun. Mikroba yang tidak dalam keadaan membelah praktis tidak terpengaruh oleh penisilin. yang menyebabkan reaksi antibody sehingga menyebabkan pembengkakan tonsil. dan eritema faring. Nyeri faring dapat terjadi ringan sampai berat.

Juga memberikan efek anti-inflamasi.2. 16 . dengan maksimal pemberian 6 kali sehari. Asetaminofen Adalah derivate para amino fenol dengan efek anti-piretik. Tirah baring Anak pada fase akut penyakit disarankan untuk berbaring. Diberikan dengan dosis 60-120 mg sebanyak 3 kali sehari. cukup dalam mengurangi inflamasi akibat reaksi antigen-antibodi antara toksin Streptoccus dan antibodi. meskipun rendah. Selain itu pemberian asetaminofen berguna karena efeknya serupa salisilat yang akan mengurangi nyeri tengorok. 3. Untuk mengurangi rasa nyeri pada tenggorok dan agar tidak menulari anak yang lain.