You are on page 1of 7

Antibiotik pada otitis media supuratif kronis : Sebuah studi

bakteriologis
Departemen Ilmu Laboratorium Klinik, Fakultas Ilmu Kedokteran, Salman
Bin Abdul Aziz Universitas Arab Saudi

Abstract : Objective : Penelitian ini bertujuan untuk menentukan mikroorganisme
penyebab otitis media supuratif kronis (OMSK) dan untuk memperkirakan
kerentanan mereka terhadap agen antibiotik.
Method : Seratus enam puluh empat (164) pasien dengan unilateral atau
bilateral otitis media supuratif kronis aktif dipelajari secara prospektif. Mereka
mengalami discharge telinga kronis dan belum menerima antibiotik selama 5 hari
sebelumnya. Swab diambil dari semua pasien, dan dikirim ke Departemen
Mikrobiologi untuk diproses. Spesimen yang dikultur dan diisolasi diidentifikasi
dengan menggunakan teknik mikrobiologi standar. Uji sensitivitas antibiotik terhadap
isolat ditentukan dengan cakram antibiotik standar menggunakan metode difusi
cakram Kirby-Bauer.
Result : Penelitian ini menganalisa organisme penyebab dan sensitivitas
mereka terhadap berbagai antibiotik. Organisme utama yang terisolasi adalah
Methicillin sensitif Staphylococcus aureus [MSSA] (45,1%) diikuti oleh
Pseudomonas aeruginosa (19,5%). Sensitivitas S. aureus (MSSA) adalah 79.7%
terhadap ciprofloxacin, 69% untuk kotrimoksazol, dan 82,5% untuk gentamisin
sedangkan sensitivitas P. aeruginosa adalah 100% untuk ceftazidime, 84,4% untuk
ciprofloxacin, 90,6% untuk gentamisin, dan 78,1% untuk Piperasilin. Mayoritas dari
isolat P. Aeruginosa resisten terhadap polymixin B (71,9%), sedangkan 50% dari S.
Aureus (MSSA) menunjukkan resistensi terhadap Ampisilin. Semua isolat Methicillin
resistantS. aureus (MRSA) menunjukkan resistensi 100% terhadap Ampisilin,
Augmentin dan sefalotin. Di antara preparat antibiotik topikal telinga yang tersedia,
kami menemukan gentamisin dan ciprofloxacin sebagai pilihan terbaik.
Conclusion : Studi tentang pola mikroba dan sensitivitasnya terhadap
antibiotik menentukan prevalensi organisme bakteri penyebab OMSK pada daerah
tertentu. Hal ini berguna untuk memulai terapi empiris otitis media dan mengurangi
komplikasi dengan menghasilkan outcome yang baik, dengan demikian munculnya
strain resisten dapat dicegah.

1

Kata kunci : otitis media supuratif kronis.14 Jadi kasus OMSK yang tidak terobati dapat mengakibatkan berbagai komplikasi. Umumnya. atau sebagai sekuel dari bentuk yang lebih ringan otitis media (misalnya OM serosa). meskipun dalam pengobatan medis. sekitar 28.000. 13 Di negaranegara berkembang. Pada tahun 1990. discharge telinga 1.8% di Afrika. 8. Hal ini mungkin terkait dengan penyebaran bakteri kestruktur yang 2 . antibiotik topikal. yang dikenal sebagai otitis media akut (OMA).9 Kematian dan cacat akibat otitis media terutama terkait dengan komplikasi OMSK.12 Otitis media supuratif kronis (OMSK) telah dijadikan sebagai masalah seluruh negara.11 Data populasi memperkirakan kejadiannya di negara berkembang berkisar dari 0.24% di Thailand sampai 1.3-5 Infeksi dapat terjadi selama 6 tahun pertama kehidupan anak. pemerintah Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 2 miliar dolar setiap tahun untuk mengobati infeksi telinga akut dan kronis. Misalnya. Penyakit ini umumnya dimulai pada masa anak-anak1. 10. Di Korea Selatan. sensitivitas antibiotik.2 dengan adanya perforasi membran timpani akibat infeksi akut pada telinga tengah. Introduction Otitis media supuratif kronis ( OMSK ) didefinisikan sebagai inflamasi kronik pada telinga tengah dan rongga mastoid. Otitis media supuratif kronis (OMSK) adalah infeksi yang biasa ditemui dari tengah telinga di seluruh dunia.000 kematian di seluruh dunia dan sebagian besar di antara negara-negara berkembang disebabkan karena otitis media.4% dari kejadian OMSK mengalami komplikasi. 10 terutama abses otak. masalah ini terus menjadi beban yang berat. dengan puncaknya sekitar usia 2 tahun. pasien dengan perforasi timpani yang terus mengeluarkan cairan berlendir dalam waktu 6 minggu7 sampai 3 bulan.6 Batas waktu suatu OMA menjadi OMSK masih kontroversial. dengan prevalensi infeksi telinga kronis mencapai 72 kasus per 1. yang menunjukkan adanya discharge telinga berulang atau otore melalui membran timpani yang perforasi. disebut sebagai kasus OMSK.

Komplikasi seperti otore persisten. Hidung dan Tenggorokan (THT) selama periode satu setengah (11/2) tahun = dari bulan September 2011 sampai Februari 2013. Single use Mini-tip swab kultur yang digunakan untuk mengambil mikroflora telinga tengah yang melewati perforasi membran timpani. OMSK adalah masalah umum di Arab Saudi dan sering terjadi terutama pada populasi yang tinggal di daerah yang terpencil. 15-17 Jadi pengetahuan tentang pola infeksi lokal sangat penting untuk melakukan terapi yang efikasi terhadap penyakit ini. Sebanyak 164 hasil swab yang diambil dari 164 pasien. Tujuan dari manajemen ini adalah untuk mencapai kesembuhan. Detail riwayat klinis pasien seperti usia. Dalam penelitian prospektif ini. memberantas penyakit dan meningkatkan pendengaran.berdekatan dengan telinga atau kerusakan lokal di tengah telinga itu sendiri. kelumpuhan saraf wajah sampai abses intrakranial yang lebih serius atau thromboses. Hanya pasien yang tidak menerima terapi antibiotik (topikal atau sistemik) dalam waktu 5 hari sebelumnya yang dilibatkan dalam penelitian tersebut. total seratus enam puluh empat (164) pasien yang terlibat. Methods Penelitian ini dilakukan pada pasien rawat jalan di Departemen dari Telinga. labyrinthitis. durasi keluarnya discharge dari telinga dan pengobatan antibiotik juga diambil. Dilakukan perawatan ekstra pada saat pengambilan spesimen untuk menghindari kontaminasi permukaan dan hasil swab dibawa ke departemen mikrobiologi rumah sakit untuk dikultur dan dilakukan uji sensitivitas. Semua organisme terisolasi diidentifikasi sesuai dengan metode mikrobiologi standar. diproses secara aerob dan anaerob untuk isolasi bakteri aerob dan anaerob menggunakan prosedur mikrobiologi standar. 2. telinga yang kering. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil mikroba (aerobik dan anaerobik) dan antibiograms pada pasien OMSK yang aktif di kalangan penduduk Saudi. jenis kelamin. Bauer Uji sensitivitas antibiotik dilakukan dengan menggunakan teknik Kirbydifusi cakram pada Muller-Hinton agar dan cakram antibiotik komersial 3 . mastoiditis. Semua pasien mengalami perforasi membran timpani dengan discharge purulen yang aktif.

Kloramfenikol (30 lg).8% kerentanan pada Bacitracin.25 / 23. Trimethoprim-Sulphamethoxazole (1. Neomycin. Amikacin (30 lg). Result Usia rata-rata pasien adalah 25 tahun.(Oxoid.5%). MRSA dan Koagulase negatif Staphylococcus menunjukkan 78.1%). Neomycin menunjukkan sensitivitas 74. Polymixin B (300 U).3% terhadap bakteri gram negatif sedangkan isolat MSSA. dengan kisaran antara 20-47 tahun (Tabel 1). Ceftazidime (30 lg). Ampisilin (10 lg). pengujian juga dilakukan khusus untuk Gentamisin. Proteus mirabilis dan Escherichia coli (Tabel 2). Dari empat antibiotik yang tersedia pada umumnya sebagai obat tetes telinga topikal. Kloramfenikol dan Bacitracin yang tersedia secara lokal sebagai obat antibiotik topikal tetes telinga. Dari 164 pasien yang terdaftar dalam penelitian ini. diikuti oleh Pseudomonas aeruginosa (19.3%) untuk semua isolat yang diuji.75 lg). Augmentin (30 lg). Antibiotik disc diinkubasi pada suhu 37 o C dalam waktu semalam.5%) memiliki organisme tunggal terisolasi dari hasil kultur sekret telinga tengah. Hanya ada enam belas pasien (9. Selain antibiotik standar. Sefalotin (30 lg). sedangkan 54 pasien yang tersisa memiliki dua atau lebih organisme yang terisolasi. Coagulase negatif Staphylococcus. Neomycin (30 lg) dan Bacitracin (10 U). aureus (MRSA). Inggris Raya) digunakan untuk uji antimikroba. Gentamisin (10 lg). Piperasilin (100 lg).4%). Sensitivitas antimikroba yang diuji menunjukkan hasil untuk enam organisme yang paling umum ditemukan (Tabel 3).8%) yang hasil kultur steril tanpa bakteri terisolasi (Tabel 2). Ciprofloxacin (5 lg).2%) isolat. Organisme kausal yang paling umum terisolasi adalah Methicillin sensitif Staphylococcus aureus [MSSA] (45. Diameter zona inhibisi diukur dan dicatat sebagai resisten atau sensitif menurut kriteria interpretasi dari National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS). Sembilan puluh empat (94) pasien (63. 4 . 18 antimikroba cakram Antibiotik yang digunakan adalah: Penisilin G (10U). Methicillin resistentS.19 3. diikuti oleh kloramfenikol (72. ada 148 (90. gentamisin memiliki tingkat kerentanan tertinggi (88.

labyrinthitis.22 Kasus-kasus yang resisten terhadap pengobatan mungkin perlu tindakan pembedahan. Otitis media supuratif kronis adalah peradangan persisten telinga tengah atau rongga mastoid. Otitis media supuratif kronis adalah suatu kondisi klinis yang umum dan berpotensi berbahaya dan sulit untuk diobati karena organisme yang menginfeksi umumnya sering resisten terhadap banyak antibiotik. Berbagai komplikasi seperti otorea persisten. kelumpuhan saraf wajah sampai abses intrakranial yang lebih serius atau trombosis. yang ditandai dengan keluarnya discharge telinga berulang atau persisten melalui perforasi membrane. Pengobatan utama untuk OMSK terdiri dari dua tahap: ear toilet (dengan suction/membersihkan telinga dari debris dan discharge) kemudian dengan agen antimikroba topikal dan sistemik.21 Kasus OMSK yang tidak diobati dapat menimbulkan berbagai komplikasi.4.16 Pengobatan perlu dilakukan secepat mungkin dan seefektif mungkinuntuk menghindari terjadinya komplikasi. bakteri dapat masuk ke telinga tengah melalui saluran telinga eksternal.20Melalui perforasi membran timpani. Penggunaan terapi antibiotik biasanya dimulai 5 . mastoiditis.15. Hal ini berhubungan dengan penyebaran bakteri ke struktur yang berdekatan dengan telinga atau kerusakan lokal di telinga tengah itu sendiri. Infeksi mukosa telinga tengah yang berulang akan menghasilkan discharge telinga. Discussion Otitis media supuratif kronis dan komplikasinya adalah kondisi yang paling umum ditemukan oleh otologists dan dokter umum. Pengobatan pada kondisi ini dapat dilakukan dengan terapi yang diarahkan untuk eradikasi organisme patogen aerobik dan anaerobik.

Pengetahuan tentang pola mikroorganisme lokal dan sensitivitas antibiotik penting untuk memperkirakan efektivitas dan penghematan biaya pengobatan. aeruginosa diikuti oleh P. Pemilihan antibiotik dipengaruhi oleh tingkat keberhasilannya. Pola kerentanan antibiotik MSSA menunjukkan bahwa 82% sensitif terhadap gentamisin. Dokter juga sebaiknya menghindari penggunaan kuinolon karena efek samping nya pada tulang rawan dalam pertumbuhan anak-anak dalam pemakaian lama. P. aureus. meskipun berbagai studi di berbagai negara telah menunjukkan P.24. keamanan. Namun penelitian sekarang ini jelas menunjukkan perubahan perilaku mikroorganisme. risiko toksisitas dan biaya. aureus dan P. populasi pasien dan antibiotik apa yang baru-baru ini telah atau belum digunakan. mirabilis.25 Jadi penggunaan ciprofloxacin telah dilaporkan baik untuk terapi empiris maupun topikal. ~80% adalah sensitif terhadap ciprofloxacin dan 79. Beberapa penelitian telah melaporkan organisme yang berbeda dalam proporsi yang berbeda. aeruginosa dari hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sensitivitas ceftazidime 100%.23 Temuan ini sesuai dengan pola infeksi OMSK di wilayah tropis. Melihat tingginya prevalensi S. Kultur mikrobiologi menghasilkan berbagai macam organisme yang bervariasi tergantung pada iklim. piperasilin atau ceftazidime dapat digunakan dengan aman pada semua kelompok umur. aureus 6 . Di lain sisi.secara empiris sebelum ada hasil kultur mikrobiologi. Temuan serupa telah dilaporkan oleh Gehanno. aureus diikuti oleh P.26 Masih ada kontroversi tentang pernyataan ototoksisitas penggunaan aminoglikosida (gentamisin) topikal sedangkan penggunaan sistemik aminoglikosida telah dikenal memiliki efek merusak telinga dalam. sefalosporin dan gentamisin. Namun penggunaan obat-obatan tersebut yang tidak rasional dapat menyebabkan munculnya resistensi terutama padaS. Gentamisin ~91%.21 S. sesuai dengan hasil penelitian lainnya. Sebelumnya amoksisilin/ampisilin sering digunakan dari pada kuinolon untuk infeksi telinga tengah akut dan kronis. aeruginosa lebih sering ditemukan. Sensitivitas antimikroba P. namun telah dilaporkan bahwa kuinolon dapat digunakan jika diperlukan pada anak-anak tanpa perlu dikhawatirkan. tetes telinga ciprofloxacin atau terapi sistemik ciprofloxacin.16 Hasil penelitian kami menunjukkan dominasi S. resistensi bakteri. aeruginosayang rentan terhadap kuinolon (ciprofloxacin) dan sefalosporin (ceftazidime). fakta bahwa proses perjalanan penyakit pada OMSK memang menyebabkan sensorineural hearing loss26 telah menunjukkan kesimpulan keuntungan dari pemberian topikal aminoglikosida pada pengobatan OMSK dan dalam pencegahan komplikasi lebih penting dari pada efek samping ototoksik yang mungkin terjadi. Di antara antibiotik topikal yang paling umum tersedia gentamisin telah menunjukkan hasil yang menjanjikan setelah ciprofloxacin.17 Studi kami menunjukkan bahwa infeksi OMSK aktif pada populasi Saudi terutama disebabkan S. Ditambah lagi keuntungan dari tetes telinga ciprofloxacin lebih tidak bersifat ototoksik dibanding gentamisin.21. yang lebih peka terhadap kuinolon. aureus (MSSA) adalah organisme yang paling umum terisolasi.7% untuk Bacitracin. Ciprofloxacin~85% dan Piperasilin 78%. aeruginosa.

dan dengan demikian munculnya strain yang resisten dapat dicegah.dan P. 7 . aeruginosa. Studi tentang pola mikroba dan sensitivitas antibiotik menentukan prevalensi organisme bakteri yang paling sering menyebabkan OMSK di daerah tertentu untuk memulai terapi empiris otitis media dan komplikasinya untuk mendapatkan outcome yang baik. karena itu penggunaan antibiotik harus digunakan secara rasional pada semua jenis otitis media.27 seperti pada hasil penelitian sebelumnya.