You are on page 1of 33

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anatomi merupakan cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan
organisasi makhluk hidup. Pada kali ini pembahasan penjelasan secara luas Anatomi pada
bagian vertebrae, costae, sternum, cranium .Vertebra memiliki struktur anatomi paling
kompleks dan memiliki peranan yang sangat penting bagi fungsi dan gerak tubuh. Patologi
fungsional seperti masalah postur banyak dijumpai pada vertebra. Gaya hidup di zaman
modern ini membuat tiap individu melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat memperburuk
tingkat kesehatan. Kebiasaan buruk yang terabaikan dan dapat mempengaruhi kesehatan dan
optimalisasi aktivitas seseorang adalah postur tubuh pada posisi yang salah.
Kita sering menemui masalah postur seperti skoliosis, round back, flat back, kyphosis,
dan yperlordosis sedangkan normal kurva spinal adalah lordosis pada cervical, kifosis pada
thoracal, lordosis pada lumbal, dan kifosis pada sacrum (Macagno, 2006). Postur tubuh
berpengaruh pada lingkup dan pola gerak (Maige, 2006) sehingga postur tubuh yang buruk
dapat menimbulkan keluhan seperti Hipomobilitas rotasi vertebra, kontraktur ligamen
longitudinal anterior, ketidaknyamanan, nyeri dan gerakan pasif ekstensi vertebra (Muyori,
2011).
1.2 Identifikasi Masalah
1. Pengertian penjabaran mengenai Anatomi vertebra, costae, sternum, cranium .
2. penyakit yang di alami pada bagian anatomi vertebra,costae, sternum, cranium
3. prevalensi dari penyakit vertebra,costae, sternum, cranium
4. peran perawat pada penanganan penyakit bagian vertebra,costae, sternum, cranium
1.3 Tujuan Penulisan
Setelah mempelajari makalah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami Pengertian
Anatomi , penyakit, prevalensi dari penyakit, dan peran perawat pada penangan penyakit
bagian vertebra,costae, sternum, cranium
Penyakit vertebra :
a. Scoliosis
b. Kifosis
c. Lordosis

d.
e.
f.
g.

Osteoporosis
Spondylolisthesis
Spondylolysis
Spondylitis

1. Skoliosis

DEFINISI
Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang
dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). Sekitar
4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14 tahun mengalami skoliosis; 40-60%
diantaranya ditemukan pada anak perempuan.

PENYEBAB
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan
tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan
akibat penyakit berikut:

Cerebral palsy



Distrofi otot
Polio
Osteoporosis juvenile
1. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.





tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
nyeri punggung
kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60?) bisa

GEJALA
Gejalanya berupa:

menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada
punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi
dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri.
DIAGNOSA
Pada pemeriksaan fisik penderita biasanya diminta untuk membungkuk ke depan sehingga
pemeriksa dapat menentukan kelengkungan yang terjadi.
Pemeriksaan neurologis (saraf) dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau refleks.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
 Rontgen tulang belakang
 Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang)
 MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).
PENATALAKSANAAN
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan serta

Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Pada anak-anak yang masih tumbuh. dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang. Jika kelengkungan kurang dari 20?.stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan mencapai 40? atau lebih. Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis. biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan. tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan. Kadang diberikan perangsangan elektrospinal. biasanya dilakukan pembedahan. Kifosis . kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30?. 2. Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun).

gangguan perkembangan atau penyakit degeneratif.DEFINISI Penyakit Scheuermann adalah suatu keadaan yang ditandai dengan nyeri punggung dan adanya bonggol di punggung (kifosis). GEJALA Gejalanya berupa: – nyeri punggung yang menetap tetapi sifatnya ringan – kelelahan – nyeri bila ditekan dan kekakuan pada tulang belakang – punggung tampak melengkung . Penyakit ini muncul pada masa remaja dan lebih banyak menyerang anak laki-laki. Kifosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang yang bisa terjadi akibat trauma. PENYEBAB Penyebab dari penyakit Scheuermann tidak diketahui. Kifosis pada masa remaja juga disebut penyakit Scheuermann.

Juga dilakukan pemeriksaan neurologis (saraf) untuk mengetahui adanya kelemahan atau perubahan sensasi). 3. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (lengkungan punggung yang abnormal). kadang digunakan brace (penyangga) tulang belakang atau penderita tidur dengan alas tidur yang kaku/keras. Jika kasusnya lebih berat. Jika keadaan semakin memburuk. Rontgen tulang belakang dilakukan untuk mengetahui beratnya lengkungan tulang belakang. PENATALAKSANAAN Kasus yang ringan dan non-progresif bisa diatasi dengan menurunkan berat badan (sehingga ketegangan pada punggung berkurang) dan menghindari aktivitas berat. mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki kelainan pada tulang belakang.– lengkung tulang belakang bagian atas lebih besar dari normal. Lordosis .

Gejala yang timbul akibat lordosis berbeda-beda untuk tiap orang. Selain itu.  Magnetic resonance imaging (MRI)  Computed tomography scan (CT Scan)  Pemeriksaan darah . Jika terjadi gejala ini. Untuk membedakannya dilakukan beberapa pemeriksaan seperti :  Sinar X. serta sudutnya. gangguan perkembangan paha. gejala lordosis juga seringkali menyerupai gejala gangguan atau deformitas tulang belakang lainnya. Lain halnya pada tulang belakang penderita lordosis. akan tampak bengkok terutama di punggung bagian bawah . Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur dan menilai kebengkokan. dibutuhkan pemeriksaan lanjut oleh dokter. dan perubahan pola buang air besar dan buang air kecil dapat terjadi pada lordosis. nyeri yang menjalar ke tungkai. tetapi jarang.Tulang belakang yang normal jika dilihat dari belakang akan tampak lurus. Gejala lain bervariasi sesuai dengan gangguan lain yang menyertainya seperti distrofi muskuler. atau dapat diakibatkan oleh infeksi atau cedera tulang belakang. dan gangguan neuromuskuler. Nyeri pinggang. Gejala lordosis yang paling sering adalah penonjolan bokong.

Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal. Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal. 4. Faktor Resiko Yang Tidak Dapat Di Ubah a. b. massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.Tujuan pengobatan lordosis adalah menghentikan semakin membengkoknya tulang belakang dan mencegah deformitas (kelainan bentuk). Lordosis yang terjadi akibat gangguan paha harus diobati bersama dengan gangguan paha tersebut. dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis. disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang. Tulang secara progresif menjadi porus. kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang. mengakibatkan penurunan masa tulang total. rapuh dan mudah patah. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia. Faktor Mekanis Atau Usia Lanjut Faktor mekanis merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang sehubungan dengan lanjutnya usia. Osteoporosis Defenisi Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Penatalaksanaan lordosis tergantung pada penyebab lordosis. Jenis Kelamin . PENYEBAB OSTEOPOROSIS 1. Latihan untuk memperbaiki sikap tubuh dapat dilakukan jika lordosis disebabkan oleh kelainan sikap tubuh.

anak-anak yang dilahirkannya cenderung mempunyai penyakit yang sama. Keadaan ini terutama terjadi pada wanita antara usia 50-60 tahun dengan identitas tulang yang rendah dan di atas usia 70 tahun dengan keadaan tubuh yng tidak ideal.Osreoporosis tiga kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. wanita-wanita pada masa pascamenopause. orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat dan berat dari pada bangsa kulit putih. dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak baik. Bentuk Tubuh Kerangka tubuh dan skoliosis vertebra yang lemah juga dapat menyebabkan penyakit osteoporesis. pada keluarga yang mempunyai riwayat osteoporosis. Jadi seseorang yang mempunyai tulang kuat biasanya jarang terserang osteoporosis. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. b. c. Kalsium Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya uisia. d. perbedaan ini disebabkan oleh faktor hormonal dan rangka tulang yang lebih kecil. merupakan nutrisi yang sangat penting. Protein . Riwayat Keluarga Atau Keturunan Riwayat keluarga juga mempengaruhi penyakit osteoporosis. Faktor Genetik Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. e. terutama pada wanita post menopause. 2. Kalsium. Faktor Resiko Yang Dapat Di Ubah a. pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang dan ekskresi melalui urin yang bertambah dapat menyebabkan kekurangan atau kehilangan estrogen serta pergeseran keseimbangan kalsium sejumlah 25 mg per sehari pada masa menopause. akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi berkurang maka kemungkinan terjadinya osteoporosis ada. Sebagai contoh.

maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Rokok Dan Kopi Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang. Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri. . Individu dengan pengguna alkohol mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah. disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal. Aktifitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan penyangga berat badan merupakan stimulus penting bagi resorpsi tulang. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin. d. Estrogen Berkurangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. tetapi bersama makanan lain. Alkohol Alkoholi merupakan masalah yang sering ditemukan. Gaya hidup. c. Beban fisik yang terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa tulang. akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja. f.Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti tentang pengguna alkohol. e. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negatif.

b. Biasanya akibat stres fraktur yang terjadi akibat tekanan berlebihan pada arkus laminar vertebra. Tekanan yang berlebihan tersebut umumnya akibat posisi berdiri keatas atau aktivitas atletik yang menggunakan penyangga punggung (misalnya senam. Spondylolisthesis pada cervical sangat jarang terjadi. dan lain sebagainya). Pengobatan : .yang biasa terjadi pada lumbal vertebra ke 4 atau ke 5 akibat kelainan pada pars interartikularis Dorland edisi 25) Spondylolisthesis menunjukkan suatu pergeseran kedepan satu korpus vertebra bila dibandingkan dengan vertebra yang terletak dibawahnya. Kesulitan berjalan d. Defek pada tulang umumnya terjadi pada masa kanak-kanak lanjut. tekanan rotasional dan stress fraktur / tekanan kosentrasi tinggi pada sumbu tubuh c. Definisi Spondilolisthesis : pergeseran vertebra kedepan terhadap segment yang lebih rendah. sepakbola. Gejala :        Terbatasnya pergerakan tulang belakang Kekakuan otot hamstring ( otot betis ) Tidak dapat mengfleksikan panggul dengan lutut yang berekstensi penuh. Penyebab penyebabnya masih Bersifat multifactorial Faktor predisposisinya antara lain gravitasi. Spondylolisthesis a. Hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal Hiperkifosis lumbosacral junction Pemendekan badan jika terjadi pergeseran komplit (spondiloptosis). akan tetapi hal tersebut dapat terjadi pada tingkatan yang lebih tinggi.5. Umumnya terjadi pada pertemuan lumbosacral (lumbosacral joints) dimana L5 bergeser (slip) diatas S1.

Spondylolisthesis iatrogenik. Defenisi . Terapi pembedahan (surgical) Indikasi pembedahan :    Klaudikasio neurogenik. dengan bukti adanya instabilitas. Prognosis :  Secara umum pasien dengan isthmic spondylolisthesis grade I dan II à prognosa  cukup baik dengan terapi konservatif Isthmic spondylolisthesis grade III à lebih mempunyai prognosis bervariasi dan kadang-kadang disertai dengan nyeri yang persisten pada tulang belakang.Terapi nonsurgical  tirah baring.  analgesik untuk mengontrol nyeri. Spondylolisthesis traumatik. progresifitas     listesis. Pergeseran berat (high grade slip>50%) Pergeseran tipe I dan Tipe II. Penyakit costae : Fraktur pada iga a.  obat antiinflamasi untuk mengurangi edema.  therapy physical serta olahraga untuk melatih kekuatan dan flexibilitas. a. dan kurang berespon dengan terapi konservatif. Deformitas postural dan abnormalitas gaya berjalan (gait abnormality). Listesis tipe III (degeneratif) dengan instabilitas berat dan nyeri hebat. Terapi  pembedahan memberikan perbaikan pada gejala claudicatio dan radicular Terapi pembedahan dengan dekompresi memberikan hasil yang memuaskan untuk mengurangi gejala dari extremitas bagian bawah.

Trauma tajam lebih jarang mengakibatkan fraktur iga. Klasifikasi Fraktur Penampilkan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis . C. kecelakaan pada pejalan kaki. golf.Fraktur pada iga (costae) merupakan kelainan tersering yang diakibatkan trauma tumpul pada dinding dada. Trauma tumpul 2. atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat perkelahian. oleh karena luas permukaan trauma yang sempit. jatuh dari ketinggian. D. soft ball. b. sehingga gaya trauma dapat melalui sela iga.seperti pada gerakan olahraga : Lempar martil. Perlu diperiksa adanya kerusakan pada organ-organ intra-toraks dan intra abdomen. disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. oleh karena luas permukaan trauma yang sempit. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Faktur Tertutup (Closed). Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan). yaitu: 1. Yang dapat mengakibatkan fraktur costa . Trauma tajam lebih jarang mengakibatkan fraktur iga. dibagi menjadi beberapa kelompok. Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa antara lain: Kecelakaan lalulintas. sehingga gaya trauma dapat melalui sela iga (Y arah Azzilzah ) Fraktur pada iga (costae) adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang / tulang rawan yang disebabkan oleh ruda paksa pada spesifikasi lokasi pada tulang costa. . Fraktur Terbuka (Open/Compound). a. Disebabkan trauma a. bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. a. tennis. Disebabkan bukan trauma 4.terutama akibat gerakan yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur. Trauma Tembus Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa :Luka tusuk dan luka tembak 3. Etiologi Secara garis besar penyebab fraktur costa dapat dibagi dalam 2 kelompok : 1. Fraktur iga terutama pada iga IV-X (mayoritas terkena).

mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang. Fraktru Inkomplit. bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang b. c. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. c. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupaka akibat trauma angulasi atau langsung. a. e. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang. 4. overlapping). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. a. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. c.2. terbagi atas: a. Berdasarkan komplit atau tidak komplitnya fraktur. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma. Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan b. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen. Fraktur Komplit. b. yang sama. 3. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. berhubungan. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling b. a. Berdasarkan jumlah garis patah. a. bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: 1) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) 2) Buckle atau Torus Fraktur. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang 5. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh) . bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. 3) Green Stick Fraktur. d. 6. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan. Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).

paru. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma. Berdasarkan posisi frakur Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : a. Fraktur simple b. E. b.7. 9. c. . d. Menurut jumlah fraktur pada setiap costa dapat : a. Anterior Lateral Posterior. Superior (costa 1-3 ) b. 4. Fraktur comminutif 3. b. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement. 1/3 medial c. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. yaitu: a. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. 1/3 proksimal b. c. Mortalitas sampai 35%. Menurut letak fraktur dibedakan : a. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. Akibat dari tenaga yang besar b. pembuluh darah besar c. KLASIFIKASI FRAKTUR IGA 1. 5. Fraktur multiple 2. 1/3 distal 8. Fraktur costa atas (1-3) dan fraktur Skapula a. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. Fraktur segmental b. 10. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya. Inferior (costa 10-12 ). Menurut jumlah costa yang mengalami fraktur dapat dibedakan : a. Median (costa 4-9) c. Menurut posisi : a. Fraktur simple c. Meningkatnya resiko trauma kepala dan leher. spinal cord.

pneumotoraks ataupun laserasi jantung. Fraktur kosta simple tanpa komplikasi b.Pada trauma tidak langsung. dapat ditangani pada rawat jalan. e. Nyeri tajam pada daerah fraktur yang bertambah ketika bernafas dan batuk 7.pleura visceralis.6. Fraktur Costae tengah (4-9) : a. Fraktur Costae bawah (10-12) : Terkait dengan resiko injury pada hepar dan spleen F.maka akan terjadi fraktur pada sebelah depan dari angulus costa. . Peningkatan signifikansi jika multiple. f. fraktur costa dapat terjadi apabila energi yang diterimanya melebihi batas tolerasi dari kelenturan costa tersebut. Adanya gerakan paradoksal 3. Tanda–tanda insuffisiensi pernafasan : Cyanosis. hematotoraks. crepitus dan deformitas dinding dada 2. dangkal dan tersendat . Nyeri tekan.tetapi dengan adanya otot yang melindungi costa pada dinding dada. Korban bernafas dengan cepat .samping ataupun dari arah belakang. Patofisiologi Fraktur costa dapat terjadi akibat trauma yang datangnya dari arah depan.Fraktur pada costa ke 4-9 dapat mencederai intercostalis .paru maupun jantung . 4. Gejala-gejala perdarahan dalam dan syok.sehingga dapat mengakibatkan timbulnya H. c. 7. Tanda Dan Gejala 1. tachypnea. Mungkin terjadi luka terbuka diatas fraktur. 8.dimana pada tempat tersebut merupakan bagian yang paling lemah. Hal ini sebagaiusaha untuk membatasi gerakan dan mengurangi rasa nyeri. karena saat bernafas bertambah nyeri 5.maka tidak semua trauma dada akan terjadi fraktur costa. d. MRS jika pada observasi Penderita dispneu Mengeluh nyeri yang tidak dapat dihilangkan Penderita berusia tua Memiliki preexisting lung function yang buruk. Pada trauma langsung dengan energi yang hebat dapat terjadi fraktur costa pada tempat traumanya . Kadang akan tampak ketakutan dan cemas.Seperti pada kasus kecelakaan dimana dada terhimpit dari depan dan belakang. dan dari luka ini dapat terdengar suara udara yang “dihisap” masuk ke dalam rongga dada. Fraktur costa yang “displace” akan dapat mencederai jaringan sekitarnya atau bahkan organ dibawahnya. 6.Trauma yang mengenai dada biasanya akan menimbulkan trauma costa.

auskultasi. Primary survey a. b. Airway dengan kontrol servikal Penilaian: 1) Perhatikan patensi airway (inspeksi. Pemeriksaan Rontgen toraks harus dilakukan untuk menyingkirkan cedera toraks lain. dengan tetap memperhatikan kontrol servikal inline immobilisasi 2) Tentukan laju dan dalamnya pernapasan 3) Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan terdapat deviasi trakhea. Rontgen thorax anteroposterior dan lateral dapat membantu diagnosis hematothoraks dan pneumothoraks ataupun contusio pulmonum. namun tidak perlu untuk identifikasi fraktur iga. Pemeriksaan Penunjang 1. Breathing dan ventilasi Penilaian : 1) Buka leher dan dada penderita. Penatalaksanaan 1. 5. Hidrokodon atau kodein yang dikombinasi denganaspirin atau asetaminofen setiap 4 jam. b. 4. 3. Foto oblique membantu diagnosis fraktur multiple pada orang dewasa. Rontgen standar a. pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera lainnya. mengetahui jenis dan letak fraktur costae. EKG Monitor laju nafas. 4) Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor 5) Auskultasi thoraks bilateral Management: 1) Pemberian oksigen 2) Pemberian analgesia untuk mengurangi nyeri dan membantu pengembangan dada: Morphine Sulfate. ekspansi thoraks simetris atau tidak.I. 2. analisis gas darah Pulse oksimetri J. . palpasi) 2) Penilaian akan adanya obstruksi Management: 3) Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line immobilisasi 4) Bersihkan airway dari benda asing.

Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera. Exposure/environment 1) Buka pakaian penderita 2) Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan temapatkan pada ruangan yang cukup hangat. 3) Beri cairan kristaloid 1-2 liter yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat 4) Transfusi darah jika perdarahan masif dan tidak ada respon os terhadap pemberian cairan awal. pernapasan. pulsus paradoksus. interkostalis pada costa yang fraktur serta costa-costa di atas dan di bawah yang cedera b) Tempat penyuntikan di bawah tepi bawah costa. 5) Pemasangan kateter urin untuk monitoring indeks perfusi jaringan. kenali tanda-tanda sianosis. keteraturan. kimia darah. 5) Periksa tekanan darah Management: 1) Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal 2) Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah untuk pemeriksaan rutin. e. refleks cahaya dan awasi tanda-tanda lateralisasi. Jangan sampai mengenai pembuluh darah interkostalis dan parenkim paru 4) Pengikatan dada yang kuat tidak dianjurkan karena dapat membatasi c. diinfiltrasikan di sekitar. Circulation dengan kontrol perdarahan Penilaian 1) Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal 2) Mengetahui sumber perdarahan internal 3) Periksa nadi: kecepatan. kualitas. Disability 1) Menilai tingkat kesadaran memakai GCS 2) Nilai pupil : besarnya. . antara tempat fraktur dan prosesus spinosus.3) Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat akibat fraktur costae a) Bupivakain (Marcaine) 0. d.5% 2 sampai 5 ml. isokor atau tidak. 4) Periksa warna kulit. golongan darah dan cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).

Tentukan indikasi rujukan. Pasang monitor EKG b. Kateter urin dan lambung c. b. prosedur rujukan. dan kebutuhan penderita selama perjalanan 6. tanda syok. sekrup. Secondary survey a. traksi. dan produksi urin) serta awasi tanda4. Alat fiksasi interna yang digunakan berupa pin. Pada fraktur iga digunakan reduksi terbuka dengan fiksasi interna yang digunakan dengan menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah dengan operatif untuk menghindari cacat permanen. plat. Pulse oksimetri e. kesadaran. Indikasi Operasi (stabilisasi) pada flail chest bersamaan dengan Torakotomi karena sebab lain seperti hematotoraks. a. . imobilisasi. Pemeriksaan rontgen standar f. Metode yang dipilih untuk reduksi fraktur bergantung pada sifat frakturnya. Pemeriksaan fisik 1) Kepala dan maksilofasial 2) Vertebra servikal dan leher 3) Thorax 4) Abdomen 5) Perineum 6) Musculoskeletal 7) Neurologis 8) Reevaluasi penderita Rujuk a. Penilaian respon penderita terhadap pemberian cairan awal b. Lab darah 3. Nilai perfusi organ (nadi. Resusitasi fungsi vital dan re-evaluasi Re-evaluasi penderita a.2. Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu menangani pasien karena keterbatasan SDM maupun fasilitas serta keadaan pasien yang masih memungkinkan untuk dirujuk. Reduksi Reduksi adalah usaha dan tindakan memanipulasi atau mengembalikan fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya. serta komunikasikan dnegan dokter pada pusat rujukan yang dituju. Tambahan primary survey a. kawat. Monitor laju nafas. Metode untuk mencapai reduksi fraktur adalah dengan reduksi tertutup. Anamnesis  AMPLE dan mekanisme trauma b. warna kulit. dan pengembalian fungsi serta kekuatan normal dengan rehabilitasi. analisis gas darah d. Penatalaksanaan umum untuk fraktur Prinsip penanganan pada fraktur meliputi reduksi. 5. dan reduksi terbuka.

Perawat berpartisipasi membantu segala aktivitas perawatan mandiri pasien. Penyakit atau kelainan pada Sternum  Barrel chest ( dada barrel ) Bentuk dada yang menyerupai barel.Hiperinflasi paru ialah terjebaknya udara akibat saluran pernafasan yang sempit/menyempit. Bersama ahli fisioterapi secara bertahap dilakukan aktifitas fisik yang ringan hingga tahap pemulihan fungsi organ terjadi.hal ini terjadi karena hasil hiperinflasi paru. mengoptimalkan serta stabilisasi fungsi organ selama masa imobilisasi.sehingga tulang rusuk tetap sebagian diperluas sepanjang waktu.b.penyakit yang bermanifestasikan barrel chest ini misalnya asma berat dan PPOK (jenis empisema ) ini terjadi karena paru paru yang kronis overinflated pada udara.pada keadaaan ini terjadi peningkatan diameter anteroposterior.hal ini membuat pernafasan kurang efisien dan memburuk setiap sesak nafas. Rehabilitasi Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan. c. untuk itu pasien dengan fraktur iga dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas fisik untuk sementara waktu. Pada fraktur iga tidak dianjurkan dilakukan pembebatan karena dapat mengganggu mekanisme bernapas.umumnya ditemukan pada pria Dada barel dapat disebabkan oleh beberapa factor: . Imobilisasi Imobilisasi digunakan dengan mempertahankan dan mengembalikan fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

seperti kelainan dada. Ricketsia: hasil dari kekurangan vitamin D atau kalsium dan dari paparan sinar matahari yang tidak cukup yang dapat mengganggu pertumbuhan tulang yang normal.kelengkungan tulang belakang dan fitur wajah tertentu termasuk langit-langit yang sangat melengkung 3. Pada bentuk dada seperti ini rentan terjadi penekanan jaringan terhadap jantung dan pembuluh darah besar .Kelainan tersebut disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan dari jaringan ikat ( tulang rawan ) yang menghubungkan tulang rusuk ke dada ( juga dikenal sebagai wilayah costochondral ) yang menyebabkan cacat batin sternum. Osteoarthritis 2. Penuaan 3. Marfan’s syndrome: Sebuah gangguan jaringan ikat yang menyebabkan cacat tulang biasanya terjadi pada anggota tulang panjang dan jari spider.1. Beberapa gejala yang timbul pada seseorang yang memiliki bentuk dada funnel chest yaitu: . 2.sehingga terjadi bunyi murmur ( suara bising ) kondisi ini dapat timbul pada : 1. Funnel chest ini sering terjadi saat lahir ( kongelital ) yang bias ringan atau berat. Akibat dari kecelakaan kerja. Empisema Dada barel juga berhubungan dengan osteoartihritis yang mempengaruhi sendi dimana tulang rusuk melekat pada tulang belakang  Funnel chest / pectus excavatum ( dada corong ) Bentuk dada ini terjadi ketika adanya gangguan ( defek ) perkembangan tulang paru yang menyeabkan depresi pada ujung bawah sternum ( tulang tengah didada ).

respirasi tidak efisien dan kebutuhan individu untuk menggunakan diafragma dan otot aksesori untuk respirasi.hal ini mempengaruhi pertukaran gas dan menyebabkan penurunan stamina. Tampak pada pria 11-14 tahun pubertas berusia mengalami percepatan pertumbuhan Pada kasus sedang sampai parah pigeon chest dinding dada kaku diposisi luar. Kelelahan 2. Kifoskoliosis Penyebab dari pigeon chest: 1.pada keadaan ini juga terjadi peningkatan diameter anteroposterior. . Nyeri dada 4. Sindrom marfan 3.daripada otot dada yang normal. Sejak lahir : hal ini terjadi pada bayi baru lahir sebagai dada bulat dan saat mereka mencapai 2 atau 3 tahun sternum mulai tumbuh lahiriah ataupun lebih 3.Terlepas dari konsekuensi fisiologis yang mungkin. Denyut jantung cepat ( tachycardia )  Pigeon chest/pectus carinatum ( dada merpati ) Bentuk dada ini terjadi ketika ada pergeseran yang menyebabkan “lengkungan keluar” pada sternum dan tulang iga.1. Rikets 2. Pasca operasi setelah operasi terbuka kadang kadang sternum tidak sembuh sembuh datar dan ada tonjolan sternum 2. cacat pectus dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan. Pigeon chest dapat terjadi pada pasien dengan penyakit : 1. Sesak nafas 3.

Scheuerman kyphosis: Biasanya muncul pada masa remaja antar usia 10 sampai 15 thn. bar ini terikat bersama sam dengan mekanisme pengetatan yang bervariasi dari penjepit untuk brace.sehingga pembentukan abnormal dari tulang belakang biasanya disertai dengan kurva batin yang berlebihan atau hyperlordosis dalam aspek bawah tulang belakang. atau daerah yang lebih rendah pada tulang belakang. Kyhosis scheuermann menyebabkan deformitas lebih parah dari tulang belakang. Ada 3 jenis kyphosis: 1. .waktu pemakaian bervariasi denagn masing masing prosedur penjepitan yang dapat didasarkan pada tingkat keparahan dari deformitas carinatum( ringan sedang berat ) dan jika simetris atau asimetris. Pembedahan 2.Pengobatannya ada 2 cara: 1.  Khyposcoliosis Keadaan ini ditandai dengan elevasi scapula dan spinayang berbentuk huruf “S” sesuai namanya yang terdiri dari kifosis ( tulang belakang kea rah depan ) dan skoliosis ( ke arah samping ). Kifoskoliosis yang berat dapat mengurangi kapasitas paru dan meningkatkan kerja pernafasan.penjepit terdiri dari piring kompresi depan dan belakang yang berlabuh ke bar aluminium.bentuk dada ini dapat terjadi sebagai akibat sekunder dari polio atau manifestasi dari sindrom marfan. 1.saat tulang masih tumbuh. karena dapat terjadi dalam dada serta lumbal. Teknik bracing eksternal:penggunaan brace dada-dinding disesuaikan yang berlaku tekanan langsung pada daerah yang menonjol yang dapat menghasilkan hasil yang baik. sering dikaitkan dengan membungkuk penyebab ligament tulang belakang . Kyphosis postural: biasanya terjadi pada masa remaja.

Oksigen pada jangka panjang mungkin diperlukan pada pasien dengan hypoxemi signifikan kyphoscoliosis Pengobatan: kyphoscoliosis tergantung pada penyebab kondisi tersebut. Penyakit pada cranium Definisi Suatu fraktur basis cranii adalah suatu fraktur linear yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang tebal. .1.bayi yang baru lahir dengan kyphoscoliosis harus menjalani operasi segera setelah lahir untuk menghentikan kelengkungan dari tulang belakang. Milwaukee brace mengontrol cacat moderat 2. Kyphosis bawaan : Sebuah kelainan tulang belakang bias terjadi pada beberapa bayi selama perkembangan janin Gambaran klinis dari khyposcoliosis:  Etiologi idiopatik  Mobilitas dinding dada terganggu. dan fraktur fossa posterior. Fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada duramater. Pembedahan : untuk memperbaiki tulang belakang dan perkembangan penangkapan deformitas 3.dinding dada kaku dan volume paru paru terbatas  Hipoventilasi dapat terjadi karena volume tidal kecil dan ventilasi ruang peningkatan Terapi: 1. fraktur fossa media. Fraktur basis cranii dapat dibagi berdasarkan letak anatomis fossa-nya menjadi fraktur fossa anterior. Fraktur basis cranii paling sering terjadi pada dua lokasi anatomi tertentu yaitu regio temporal dan regio occipital condylar.

Angka kejadian fraktur linear mencapai 80% dari seluruh fraktur tulang tengkorak. diselubungi oleh penutup meningeal. dan umumnya tidak diperlukan intervensi. Suatu fraktur menunjukkan adanya sejumlah besar gaya yang terjadi pada kepala dan kemungkinan besar menyebabkan kerusakan pada bagian dalam dari isi cranium. dan terlindung di dalam tulang tengkorak. • Fraktur basis merupakan yang paling serius dan melibatkan tulang-tulang dasar tengkorak dengan komplikasi rhinorrhea dan otorrhea cairan serebrospinal (Cerebrospinal Fluid). Pada fraktur jenis ini. kebocoran cairan serebrospinal (CSF) dan meningitis. Hasil uji coba telah menunjukkan bahwa diperlukan kekuatan sepuluh kali lebih besar untuk menimbulkan fraktur pada tulang tengkorak kadaver dengan kulit kepala utuh dibanding yang tanpa kulit kepala. Sebagian besar sembuh . pembuluh-pembuluh darah. Suatu fraktur tulang tengkorak berarti patahnya tulang tengkorak dan biasanya terjadi akibat benturan langsung. dan otak mungkin terjadi tanpa fraktur. • Fraktur depresi terjadi bila fragmen tulang terdorong kedalam dengan atau tanpa kerusakan pada scalp. Fraktur tulang tengkorak dapat terjadi tanpa disertai kerusakan neurologis.Jenis fraktur lain pada tulang tengkorak yang mungkin terjadi yaitu : • Fraktur linear yang paling sering terjadi merupakan fraktur tanpa pergeseran. kejang dan cedera jaringan (parenkim) otak. Selain itu. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan hematom. Otak dikelilingi oleh cairan serebrospinal. Tulang tengkorak mengalami deformitas akibat benturan terlokalisir yang dapat merusak isi bagian dalam meski tanpa fraktur tulang tengkorak. dan sebaliknya. garis sutura normal jadi melebar. • Fraktur diastatik terjadi di sepanjang sutura dan biasanya terjadi pada neonatus dan bayi yang suturanya belum menyatu. fascia dan otot-otot tulang tengkorak manjadi bantalan tambahan untuk jaringan otak. Fraktur ini terjadi pada titik kontak dan dapat meluas jauh dari titik tersebut. Fraktur depresi mungkin memerlukan tindakan operasi untuk mengoreksi deformitas yang terjadi. cedera yang fatal pada membran. kerusakan nervus cranialis.

suatu fraktur basiler adalah suatu fraktur linear pada basis cranii. Fraktur campuran merupakan gabungan dari fraktur longitudinal dan fraktur transversal. Fraktur . Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan pars skuamosa os temporal. atap dari canalis auditorius eksterna. berakhir di fossa media dekat foramen spinosum atau pada tulang mastoid secara berurut. Ini dapat disebabkan oleh laserasi pada fraktur atau suatu fraktur basis cranii yang biasanya melalui sinus-sinus. Fraktur basis cranii merupakan fraktur yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang bisa melibatkan banyak struktur neurovaskuler pada basis cranii. dan tipe campuran (mixed). transversal. Biasanya disertai dengan robekan pada duramater dan terjadi pada pada daerah-daerah tertentu dari basis cranii. dan dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal melalui hidung dan telinga dan menjadi indikasi untuk evaluasi segera di bidang bedah saraf. Fraktur depresi melibatkan pergeseran tulang tengkorak atau fragmennya ke bagian lebih dalam dan memerlukan tindakan bedah saraf segera terutama bila bersifat terbuka dimana fraktur depresi yang terjadi melebihi ketebalan tulang tengkorak. Tiga subtipe dari fraktur temporal yaitu : tipe longitudinal. dan tegmen timpani. Pada dasarnya. Fraktur transversal mulai dari foramen magnum dan meluas ke cochlea dan labyrinth. tenaga benturan yang besar. Masih ada sistem pengelompokan lain untuk fraktur os temporal yang sedang diusulkan.tanpa komplikasi atau intervensi. berakhir di fossa media. Fraktur-fraktur ini dapat berjalan ke anterior dan ke posterior hingga cochlea dan labyrinthine capsule. PATOFISIOLOGI Trauma dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak yang diklasifikasikan menjadi : • fraktur sederhana (simple) suatu fraktur linear pada tulang tengkorak • fraktur depresi (depressed) apabila fragmen tulang tertekan ke bagian lebih dalam dari tulang tengkorak • fraktur campuran (compound) bila terdapat hubungan langsung dengan lingkungan luar. Fraktur Temporal terjadi pada 75% dari seluruh kasus fraktur basis cranii.

Fraktur tipe longitudinal memiliki prognosis paling buruk. Biasanya fraktur tipe ini disertai dengan defisit n. IV. Ini berpotensi menjadi suatu fraktur yang tidak stabil. dan kebocoran cairan serebrospinal (dapat diidentifikasi dari kandungan glukosanya) dari telinga dan hidung. Fraktur tipe II merupakan akibat dari benturan langsung. ekimosis retroauricular ( Battle’s sign). Pemeriksaan Laboratorium . PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Fraktur tipe III adalah suatu fraktur akibat cedera avulsi sebagai akibat rotasi yang dipaksakan dan lekukan lateral. dimana fraktur nonpetrous termasuk didalamnya fraktur yang melibatkan tulang mastoid. adalah fraktur sekunder akibat kompresi axial yang mengakibatkan fraktur kominutif condylus occipital.VI dan n. terutama bila mengenai sistem vertebrobasilar. Parese nervus cranialis (nervus I. 2. Fraktur tipe I. III. Sumber literatur mengelompokkannya menjadi tipe longitudinal. Fraktur clivus digambarkan sebagai akibat dari benturan bertenaga besar yang biasanya disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. transversal. fraktur tipe II dikelompokkan sebagai fraktur stabil karena masih utuhnya ligamentum alae dan membran tectorial. lengkungan ke lateral. Fraktur ini adalah suatu fraktur yang stabil. ekimosis periorbita (racoon eyes). Cara lain membagi fraktur ini menjadi fraktur bergeser dan fraktur stabil misalnya dengan atau tanpa cedera ligamentum yakni : 1. Meskipun akan meluas menjadi fraktur basioccipital. Fraktur jenis ini dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan mekanisme cedera yang terjadi. atau cedera rotasi pada ligamentum alar. 2 GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis dari fraktur basis cranii yaitu hemotimpanum.VII. VII dan VIII dalam berbagai kombinasi) juga dapat terjadi.temporal dibagi menjadi fraktur petrous dan nonpetrous. Fraktur-fraktur ini tidak dikaitkan dengan defisit dari nervus cranialis Fraktur condylus occipital adalah akibat dari trauma tumpul bertenaga besar dengan kompresi ke arah aksial. II. 3. dan oblique.

pemeriksaan yang paling menunjang untuk diagnosa satu fraktur adalah pemeriksaan radiologi.5 mm. Pemeriksaan Radiologi  Foto Rontgen: Sejak ditemukannya CT-scan. Suatu kebocoran CSF juga dapat diketahui dengan menganalisa kadar glukosa dan mengukur tau-transferrin. suatu polipeptida yang berperan dalam transport ion Fe. MRI memberikan pencitraan jaringan lunak yang lebih baik dibanding CT scan. dengan rekonstruksi sagital berguna dalam menilai cedera yang terjadi. pembengkakan jaringan lunak. Di daerah pedalaman dimana CT-scan tidak tersedia. b. maka penggunaan foto Rontgen cranium dianggap kurang optimal. pemeriksaan darah rutin. Towne’s view dan tangensial terhadap bagian yang mengalami benturan untuk menunjukkan suatu fraktur depresi. maka foto polos x-ray dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Dengan pengecualian untuk kasus-kasus tertentu seperti fraktur pada vertex yang mungkin lolos dari CT-can dan dapat dideteksi dengan foto polos maka CT-scan dianggap lebih menguntungkan daripada foto Rontgen kepala. tetapi biasanya rekonstruksi  tiga dimensi tidak diperlukan. Diperlukan foto posisi AP. Foto polos cranium dapat menunjukkan adanya fraktur.Sebagai tambahan pada suatu pemeriksaan neurologis lengkap. Cedera pada tulang jauh lebih baik diperiksa dengan menggunakan CT scan. lesi osteolitik atau osteoblastik. Pemeriksaan Penunjang Lain Perdarahan melalui telinga dan hidung pada kasus-kasus yang dicurigai adanya kebocoran CSF. dan proses-  proses osteolitik atau osteoblastik. CT scan : CT scan adalah kriteria modalitas standar untuk menunjang diagnosa fraktur pada cranium. lateral. b. Foto polos tulang belakang digunakan untuk menilai adanya fraktur. dan pemberian tetanus toxoid (yang sesuai seperti pada fraktur terbuka tulang tengkorak). deformitas tulang belakang. bila di dab dengan menggunakan kertas tissu akan menunjukkan adanya suatu cincin jernih pada tissu yang telah basah diluar dari noda darah yang kemudian disebut suatu “halo” atau “ring” sign. Potongan slice tipis pada bone windows hingga ketebalan 1-1. MRI (Magnetic Resonance Angiography) : bernilai sebagai pemeriksaan penunjang tambahan terutama untuk kecurigaan adanya cedera ligamentum dan vaskular. . atau pneumosefal. CT scan Helical sangat membantu untuk penilaian fraktur condylar occipital.

Cedera Kepala Berdasarkan Mekanismenya Cedera kepala berdasarkan mekanismenya dikelompokkan menjadi dua yaitu: Cedera kepala tumpul Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas.Klasifikasi cedera kepala penting untuk menentukan jenis tindakan yang akan diambil. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan decelerasi yang menyebabkan otak bergerak didalam rongga kranial dan melakukan kontak pada protuberas tulang tengkorak. morfologi. 2004). Pada fraktur tulang kepala. Diantara galea aponeurosis dan periosteum terdapat jaringan ikat longgar yang memungkinkan kulit bergerak terhadap tulang. dibedakan menjadi (Cedera kepala menurut Tandian. 2011): Laserasi kulit kepala Laserasi kulit kepala sering didapatkan pada pasien cedera kepala. dan beratnya cedera kepala. Cedera Kepala Berdasarkan Morfologinya Berdasarkan morfologi cedera kepala. (IKABI. jatuh/pukulan benda tumpul. connective tissue dan perikranii. sering terjadi robekan pada lapisan . Cedera tembus Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak atau tusukan (IKABI. Kulit kepala/scalp terdiri dari lima lapisan (dengan akronim SCALP) yaitu skin. 2004). Cedera kepala dapat diklasifikasikan dalam berbagai aspek yang secara deskripsi dapat dikelompokkan berdasar mekanisme.

Fraktur tulang kepala Fraktur tulang tengkorak berdasarkan pada garis fraktur dibagi menjadi: 1. Fraktur basis kranii berdasarkan letak anatomi di bagi menjadi fraktur fossa anterior. maka perlukaan yang terjadi dapat mengakibatkan perdarahan yang cukup banyak. Fraktur basis kranii — Fraktur basis kranii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada dasar tulang tengkorak. Fraktur kominutif — Fraktur kominutif adalah jenis fraktur tulang kepala yang meiliki lebih dari satu fragmen dalam satu area fraktur. Secara anatomi ada perbedaan struktur di daerah basis kranii dan tulang kalfaria. fraktur ini seringkali diertai dengan robekan pada durameter yang merekat erat pada dasar tengkorak. Fraktur diastasis pada usia dewasa sering terjadi pada sutura lambdoid dan dapat mengakibatkan terjadinya hematum epidural. Durameter . Fraktur lenier dapat terjadi jika gaya langsung yang bekerja pada tulang kepala cukup besar tetapi tidak menyebabkan tulang kepala bending dan tidak terdapat fragmen fraktur yang masuk kedalam rongga intrakranial. fraktur fossa media dan fraktur fossa posterior. Jenis fraktur ini sering terjadi pada bayi dan balita karena sutura-sutura belum menyatu dengan erat. Fraktur linier — Fraktur linier merupakan fraktur dengan bentuk garis tunggal atau stellata pada tulang tengkorak yang mengenai seluruh ketebalan tulang kepala. 4. Fraktur impresi pada tulang kepala dapat menyebabkan penekanan atau laserasi pada duremater dan jaringan otak. Fraktur diastasis — Fraktur diastasis adalah jenis fraktur yang terjadi pada sutura tulamg tengkorak yang mengababkan pelebaran sutura-sutura tulang kepala. Fraktur impresi — Fraktur impresi tulang kepala terjadi akibat benturan dengan tenaga besar yang langsung mengenai tulang kepala dan pada area yang kecal. 2. 3. 5. jika tabula eksterna segmen yang impresi masuk dibawah tabula interna segmen tulang yang sehat. Lapisan ini banyak mengandung pembuluh darah dan jaringan ikat longgar.ini. fraktur impresi dianggap bermakna terjadi.

Pada penderita dengan tanda-tanda bloody/otorrhea/otoliquorrhea penderita tidur dengan posisi terlentang dan kepala miring ke posisi yang sehat. Hal ini dapat menyebabkan kebocoran cairan cerebrospinal yang menimbulkan resiko terjadinya infeksi selaput otak (meningitis). 2011) yang diklasifikasikan menjadi cedera otak fokal dan cedera otak difus. . Gejala lain yang ditimbulkan antara lain sakit kepala. Kondisi ini juga dapat menyebabkan lesi saraf kranial yang paling sering terjadi adalah gangguan saraf penciuman (N. atau ottorhea dan batle’s sign (fraktur basis kranii fossa media). Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan telinga. Epidural hematom dapat menimbulkan penurunan kesadaran adanya interval lusid selama beberapa jam dan kemudian terjadi defisit neorologis berupa hemiparesis kontralateral dan gelatasi pupil itsilateral. Saraf wajah (N. Sehingga bila terjadi fraktur daerah basis dapat menyebabkan robekan durameter.daerah basis krani lebih tipis dibandingkan daerah kalfaria dan durameter daerah basis melekat lebih erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria. jika perlu dilakukan tampon steril (konsultasi ahli THT) pada tanda bloody/ otorrhea/otoliquorrhea.vestibulokokhlearis). Cedera kepala di area intrakranial Menurut (Tobing.facialis) dan saraf pendengaran (N. Penanganan dari fraktur basis kranii meliputi pencegahan peningkatan tekanan intrakranial yang mendadak misalnya dengan mencegah batuk. kejang dan hemiparesis. Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena kecil dipermukaan korteks cerebri. 2. Perdarahan epidural atau epidural hematoma (EDH) — Epidural hematom (EDH) adalah adanya darah di ruang epidural yitu ruang potensial antara tabula interna tulang tengkorak dan durameter. muntah. Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan rhinorrhea dan raccon eyes sign (fraktur basis kranii fossa anterior). mengejan. Perdarahan subdural akut atau subdural hematom (SDH) akut — Perdarahan subdural akut adalah terkumpulnya darah di ruang subdural yang terjadi akut (6-3 hari).olfactorius). Cedera otak fokal yang meliputi: 1. dan makanan yang tidak menyebabkan sembelit.

Gejala klinis yang dapat ditimbulkan oleh SDH kronis antara lain sakit kepala.disamping itu dapat terjadi defisit neorologi yang berfariasi seperti kelemahan otorik dan kejang. bingung. Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematom (ICH) — Intra cerebral hematom adalah area perdarahan yang homogen dan konfluen yang terdapat didalam parenkim otak. 5. yaitu di parenkim otak atau pembuluh darah kortikal dan subkortikal. juga . Perdarahan subarahnoit traumatika (SAH) — Perdarahan subarahnoit diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah tertentu akibat trauma dapat memasuki ruang subarahnoit dan disebut sebagai perdarahan subarahnoit (PSA). Darah di ruang subdural akan memicu terjadinya inflamasi sehingga akan terbentuk bekuan darah atau clot yang bersifat tamponade. Subdural hematom kronik diawali dari SDH akut dengan jumlah darah yang sedikit. Dalam beberapa hari akan terjadi infasi fibroblast ke dalam clot dan membentuk noumembran pada lapisan dalam (korteks) dan lapisan luar (durameter). Jika keadaan ini terjadi maka akan menarik likuor diluar membran masuk kedalam membran sehingga cairan subdural bertambah banyak. Intra cerebral hematom bukan disebabkan oleh benturan antara parenkim otak dengan tulang tengkorak.Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh hemisfir otak. Biasanya kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk dibanding pada perdarahan epidural. Derajat penurunan kesadarannya dipengaruhi oleh mekanisme dan energi dari trauma yang dialami. Perdarahan subdural kronik atau SDH kronik — Subdural hematom kronik adalah terkumpulnya darah diruang subdural lebih dari 3 minggu setelah trauma. tetapi disebabkan oleh gaya akselerasi dan deselerasi akibat trauma yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak lebih dalam. Luasnya PSA menggambarkan luasnya kerusakan pembuluh darah. 4. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh ICH antara lain adanya penurunan kesadaran. Pembentukan neomembran tersebut akan di ikuti dengan pembentukan kapiler baru dan terjadi fibrinolitik sehingga terjadi proses degradasi atau likoefaksi bekuan darah sehingga terakumulasinya cairan hipertonis yang dilapisi membran semi permeabel. kesulitan berbahasa dan gejala yang menyerupai TIA (transient ischemic attack). 3.

J. F. Histologi Umum Edisi I cetakan II. (2005). Nanda. Macagno. 2014. DAFTAR PUSTAKA Iain Dykes dan E. Karakterisasi Molekuler dan Ekspresi embrio dari Innexins di medicinalis Leech Hirudo. Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1. (2005-2006). Subowo. 179). Leher dan Neuroanatomi Jilid 3rd ed. . M. al) (penerjemah) Reference (Atlas histologi difiore BAB 8 hal. Jakarta : Media Aesculapius. Mansjoer. R. Potter & Perry. Jakarta: EGC. al). PSA yang luas akan memicu terjadinya vasospasme pembuluh darah dan menyebabkan iskemia akut luas dengan manifestasi edema cerebri. Sobotta Atlas Anatomi Manusia: Kepala. Jakarta: Bumiaksara Tortora. C.23. (2006). Chichester: Wiley. J. J. Jakarta.). Biokimia Darah. . Underwood. (2000). (Essential Clinical Anatomi 2002 BAB 8 hal 351) ( Atlas Anatomi sobbota mid 2003 e-book) Sadikin. Kapita Selekta Kedokteran.2002. (2001). Agung waluyo (et. Gen devel Evol 27: 1-13. EGC. Arif (et. (1999). 8/E. Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima medika. and Waschke. Jakarta: Widya Medika. Brunner & suddarth’s Textbook of Medical Surgical Nursing. G. (2006). Jakarta: EGC Smeltzer. Fundamental Keperawatan : Konsep. (2001). Patologi Umum dan Sistematik (2nd ed.menggambarkan burukna prognosa. (edisi 3). Susanne C. Principles of Anatomy and Physiology. Paulsen.