You are on page 1of 44

KASUS PEDIATRI SOSIAL

SEORANG ANAK PEREMPUAN 18 BULAN DENGAN
SPEECH DELAYED DEVELOPMENT DAN MOTORIC DELAYED
DEVELOPMENT

Oleh :

Iriyanti Maya Sari B.

G99142015/ C-10

Martha Oktavia Dewi S.

G99142017 /C-12

Pembimbing :
Dra. Suci Murti Karini, M.Si

KEPANITERAAN KLINIK SMF / BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

1

BAB I
STATUS PENDERITA
I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: An. NB

Usia

: 18 bulan

Tanggal Lahir

: 18 Agustus 2014

Berat Badan

: 10 kg

Tinggi Badan

: 78 cm

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Karanganyar

Tanggal Pemeriksaan

: 23 Februari 2016

II. ANAMNESIS
Anamnesis diperoleh dengan cara alloanamnesis terhadap orang tua pasien saat
kontrol di Poli Anak RSDM
A. Keluhan Utama
Belum bisa berjalan sendiri dan belum lancar berbicara

B. Riwayat Penyakit Sekarang
Orang tua pasien datang ke poli tumbuh kembang RS. Dr. Moewardi karena
anaknya yang sudah berusia 18 bulan, belum bisa berjalan sendiri, masih
butuh

dituntun

dan

kemampuan

berbicaranya

dirasa

lebih

lambat

dibandingkan dengan anak seusianya, baru bisa mengucapkan “papa” “mama”
pada usia ini, sebelumnya hanya bisa mengoceh. Pasien baru bisa tengkurap
sendiri usia 6 bulan, pasien baru bisa duduk usia 12 bulan.

2

C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat mondok

:

disangkal

Riwayat alergi obat / makanan

:

disangkal

Riwayat kejang sebelumnya

:

disangkal

Riwayat perkembangan keterlambatan

:

(+), keterlambatan bicara dan
belum bisa berjalan

D. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa

:

disangkal

Riwayat alergi obat / makanan

:

disangkal

Riwayat kejang pada keluarga

:

disangkal

E. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita
Faringitis

(-)

Polio

(-)

Bronkitis

(-)

Thypus abdominalis (-)

Morbili

(-)

Cacingan

(-)

Pertusis

(-)

Gegar otak

(-)

Difteri

(-)

Fraktur

(-)

Varicella

(-)

Kolera

(-)

Malaria

(-)

TB paru

(-)

F. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal di rumah bersama kedua orangtuanya dan satu orang
kakaknya. Orang tua pasien memeriksakan pasien dengan BPJS.

G. Riwayat Makan Minum Anak
1. Usia 0-6 bulan : ASI, diberikan saat bayi menangis atau minta minum.
Dalam sehari sekitar 8-10 kali minum selama kurang lebih 10 menit.

3

2. Usia 6-16 bulan : nasi tim 2-3 kali sehari satu mangkok kecil dengan sayur
hijau/bayam, telur, tahu, tempe, dengan diselingi dengan susu formula
jika bayi masih lapar. Frekuensi minum susu formula 2 kali per hari
dengan takaran ½ cangkir kecil.
3. 16-18 bulan : nasi 2-3 kali sehari satu mangkok kecil dengan sayur
hijau/bayam, telur, tahu, tempe, dengan diselingi dengan susu formula 2
kali per hari dengan takaran ½ cangkir kecil.
H. Riwayat Pemeriksaan Kehamilan dan Prenatal
Ibu pasien hamil dalam usia 34 tahun dan merupakan kehamilan yang
kedua. Pasien memeriksakan kehamilannya secara teratur ke bidan, yaitu
pertama pada umur kehamilan 1 bulan. Pada trimester pertama dan kedua 1
kali sebulan. Pada trimester ketiga, periksa ke bidan setiap 2 minggu sekali.
Ibu mendapatkan asupan Fe dan nutrisi yang cukup selama kehamilan. Tidak
didapatkan adanya keluhan selama kehamilan. Riwayat sakit berat, konsumsi
obat-obatan, atau trauma saat kehamilan juga disangkal.
I. Riwayat Kelahiran
Penderita lahir di Bidan setempat, partus pervaginam, pada usia
kehamilan 40 minggu, bayi tidak langsung menangis segera setelah lahir.
Berat waktu lahir 3100 gram, panjang badan saat lahir 48 cm.
J. Riwayat Pemeriksaan Post Natal
Rutin ke posyandu tiap bulan untuk timbang dan mendapatkan
imunisasi.
K. Riwayat Imunisasi
1. HB0
2. BCG, Polio 1

: 0 bulan
: 1 bulan

4

lidah kotor (-). napas cuping hidung(-/-). prosesus mastoideus tidak nyeri tekan. membrana timpani sde. Polio 4 Campak : 2 bulan : 3 bulan : 4 bulan : 9 bulan Kesimpulan : pasien mendapatkan imunisasi lengkap sesuai pedoman Depkes 2013. Lingkar kepala 48 cm 5. sekret (-/-). 6. rambut hitam tidak mudah rontok dan sukar dicabut.PEMERIKSAAN FISIK 1. reguler. wajah orang tua (-) 6. kedalaman cukup. Tenggorokan : uvula di tengah. tipe abdominal. gusi berdarah (-). bulu mata hitam lurus tidak rontok. oedem palpebra (-/-) 7. BB : 19. Muka : sembab (-). Kepala : bentuk mesocephal. RR : 30 x/menit. Telinga : bentuk aurikula dextra et sinistra normal.5 kg TB : 78 cm 3. susunan gigi normal. xeroftalmia (-). sutura sudah menutup. isi dan tegangan cukup. Kulit : warna kecoklatan. darah (-/-). 5 . kelainan MAE (-). post nasal drip (-). conjunctiva anemis (-/-). bibir kering (-). tonsil T1 –T1.5 oC N : 100 x/menit. III. Polio 2 DPT/Hb2. Polio 3 DPT/Hb3. 4. mukosa basah (+). 5. faring hiperemis (-). 10. serumen (-/-). simetris. reguler. 4. sekret (-). Mata : cowong (-). pseudomembran (-). DPT/Hb1. Mulut : sianosis (-). deformitas(-). Hidung : bentuk normal. tragus pain (-). 9. turgor baik. Keadaan Umum: baik Derajat Kesadaran : compos mentis Status gizi : gizi kesan kurang Tanda vital S : 36. 8. bercak bitot's (-). 2.3. strabismus (-). kelembaban baik.

servikalis. RBK (-/-). iga gambang (-). RBH (-/-) Inspeksi : dinding dada sejajar dinding perut Auskultasi : peristaltik (+) normal Perkusi : tympani Palpasi : supel. Gluteus : Baggy pants (-) 17. Ekstremitas : akral dingin - - sianosis - - oedem - - 6 . aksilaris.11. suparaklavikularis. reguler. lien tidak teraba. trachea ditengah. Abdomen : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar Kiri atas : SIC II LPSS Kiri bawah : SIC IV LMCS Kanan atas : SIC II LPSD Kanan bawah : SIC IV LPSD Auskultasi : BJ I-II intensitas normal. Thorax : bentuk normochest. kelenjar thyroid tidak membesar. Urogenital : dalam batas normal 16. submandibuler. Limfonodi : kelenjar limfe auricular. bising (-) Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri Perkusi : Sonor / Sonor di semua lapang paru Batas paru-hepar : SIC V kanan Batas paru-lambung : SIC VI kiri Redup relatif di : SIC V kanan Redup absolut : SIC VI kanan (hepar) Auskultasi : SD vesikuler (+/+). gerakan simetris ka = ki Cor : Pulmo : 14. 15. dan inguinalis tidak membesar. nyeri tekan (-). retraksi (-) interkostal dan sub sternal. 12. hepar tidak teraba. 13. Leher : bentuk normal.

adaptif-motorik halus sesuai dengan usianya.2 % (-2 SD < Z Score < +2SD) BB/TB : 10 : 9. dan kemampuan bahasa mengalami keterlambatan setara dengan anak usia 13 bulan. II : dalam batas normal N. normoheight. Status Neurologis N. VI. V : dalam batas normal N. VI : dalam batas normal N.5 x 100 % =105. Kuku : keruh (-). IV. V. XI. STATUS GIZI BB/U : 10 : 11 x 100 % = 90. Ditemukan keterlambatan motorik atau motoric delayed development dan keterlambatan bahasa atau speech delay development. RESUME 7 . konkaf (-) 19. X. DENVER DEVELOPMENTAL SCREEENING TEST Hasil tes perkembangan Denver yaitu. VIII : dalam batas normal N.3 % (-2 SD < Z Score < +2 SD) Kesimpulan status gizi : gizi cukup. normoweight menurut antropometri WHO.CRT < 2 detik .0 % ( -2 SD < Z Score < + 2SD) TB/U : 78 : 81 x 100 % = 96. motorik kasar mengalami keterlambatan setara dengan usia 9 bulan. Namun. ADP teraba kuat 18. personal sosial sesuai dengan usianya. IX. XII : dalam batas normal Refleks Fisiologis : dalam batas normal Refleks Patologis : (-) Meningeal Sign : (-) IV. spoon nail (-). III. VII : sulit dievaluasi N.

Konsul THT-KL 3. Hasil tes perkembangan Denver ditemukan keterlambatan motorik atau motoric delayed development dan keterlambatan bahasa atau speech delay development. Keterlambatan motorik kasar atau motoric delayed development setara usia 9 bulan. 3. PLANNING 1. Pasien saat ini baru bisa berdiri dengan bantuan orang lain. X. VII.Orang tua pasien datang ke poli tumbuh kembang RS. Kontrol poli tumbuh kembang per 3 bulan PROGNOSIS Ad vitam : bonam Ad sanam : dubia ad malam 8 . belum bisa berjalan sendiri dan kemampuan berbicaranya dirasa lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. ASSESMENT 1. belum bisa mengucapkan kata-kata lain. Konsul Rehabilitasi Medik 2. Terapi wicara IX. 2. Dr. Pasien juga baru bisa mengucapkan “papa” “mama”. Gizi baik VIII. Moewardi karena anaknya yang sudah berusia 18 bulan. Fisioterapi 3. Edukasi orangtua pasien tentang penyakitnya 2. PENATALAKSANAAN 1. Keterlambatan perkembangan bahasa atau Speech Delayed Development setara usia 13 bulan.

Ad fungsionam : dubia ad malam 9 .

Oleh karena itu keterampilan motorik akan banyak bergantung kepada kemampuan dasar yang dikuasai. Kemampuan motorik dasar inilah yang kemudian berperan sebagai landasan bagi perkembangan keterampilan motorik. 2005). Perilaku motorik (gerak) merupakan istilah generik yang mengarah kepada pengertian tentang ”gejala perilaku nyata yang teramati dan ditampilkan melalui gerak otot atau anggota tubuh di bawah kontrol sistem persyarafan”. kekuatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. keseimbangan. Dengan demikian keterampilan motoriK dapat dikatakan sebagai faktor lingkungan (yang diciptakan) atau merupakan hasil belajar misalnya. Lingkup kemampuan dasar ini mencakup.Kemampuan motorik lebih tepat disebut sebagai kapasitas seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan unjuk kemampuan yang relatif melekat sejak kanak-kanak (Lutan. kecepatan. misalnya.Secara mendasar anak-anak yang mengalami gangguan motorik dapat digolongkan ke dalam tiga katagori yaitu. ketepatan dan locomosi. 2) Cerebal palcy 3) developmental coordination disorder (Lutan.Kemampuan dan keterampilan ini merupakan dua konsep yang berbeda.merupakan kemampuan dasar untuk pelaksanaan berbagai keterampilan motorik. Faktor biologis dianggap sebagai kekuatan utama yang berpengaruh terhadap kemampuan motorik dasar seseorang. dan fleksibilitas. KETERLAMBATAN MOTORIK Definisi Istilah motorik diambil dari kata motor yang memiliki arti ”gerak” dalam kaitannya dengan pengertian gerak dimaksud adalah suatu aktivitas yang mengandalikan peran gerak tubuh sebagai perilaku gerak. Epidemiologi Prevalensi gangguan koordinasi motorik tidak diketahui tetapi diperkirakan sekitar 6% dari anak usia sekolah. Ada dua sitilah yang sering digunakan dalam kaitannya dengan belajar motorik yaitu kemampuan motorik dan keterampilan motorik. bermain bola dll. terampil memukul bola stik. 2005). Rasio laki-laki terhadap perempuan juga tidak 10 . 1) Spina bifina.

motor halus. 2002). tetapi hipotesis adalah termasuk penyebab organik dan perkembangan. ranah perkembangan anak terdiri atas motor kasar. riwayat bayi risiko tinggi seperti bayi prematur atau kurang bulan. Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan di hanya satu ranah perkembangan saja. Data angka kejadian keterlambatan perkembangan umum belum diketahui dengan pasti. Keterlambatan perkembangan umum atau global developmental delay merupakan keadaan keterlambatan perkembangan yang bermakna pada dua atau lebih ranah perkembangan. bahasa / bicara.diketahui. tetapi lebih banyak anak laki-laki yang memiliki gangguan koordinasi motorik dibandingkan anak perempuan. Etiologi Penyebab gangguan koordinasi motorik tidak diketahui. sindrom Rubella. dan personal sosial / kemandirian. 2002). Faktor resikonya adalah prematuritas. atau dapat pula di lebih dari satu ranah perkembangan. Gangguan koordinasi motorik dan gangguan komunikasi memiliki hubungan yang kuat. malnutrisi perinatal. hipoksia.Sekitar 5 hingga 10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan. Laporan dalam literatur menyebutkan rasio laki-laki berbanding perempuan terentang dari 2:1 sampai sebesar 4:1 (Kaplan. bayi berat lahir rendah. 2002). gangguan atau infeksi susunan saraf seperti palsi serebral atau CP. Gangguan koordinasi motorik kemungkinan memiliki penyebab yang multifaktoral (Kaplan. Secara garis besar. Penyebab keterlambatan perkembangan umum antara lain gangguan genetik atau kromosom seperti sindrom Down. Kelainan neurokimiawi dan lesi lobus parietalis juga telah diajukan berperan dalam defisit koordinasi (Kaplan. bayi yang 11 . spina bifida. dan berat badan lahir rendah. 2002). walaupun agen penyebab spesifik tidak diketahui untuk keduanya. namun diperkirakan sekitar 1-3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan umum (IDAI.Masalah koordinasi juga lebih sering dibandingkan biasanya pada anakanak dengan perilaku impulsif dan berbagai gangguan belajar.

mengalami sakit berat pada awal kehidupan sehingga memerlukan perawatan intensif dan lainnya (Blackman. Sumbing tulang belakang kista ( spina bifida cysta) merupakan kelanjutan dari kondisi spinal bifida occulta. yang disebut meningokel (meningocele) yaitu suatu keadaan dimana penutupan tali spinal nampak menonjol.5 bulan : Tangan tetap terkepal 2. 2 tahun : Tidak mampu naik atau turun tangga Motorik halus 1. 1992). Pertama. Kondisi sumbing tulang belakang yang tidak mengakibatkan secara serius dinamakan sumbing tulang belakang samar (spinal bifidaocculta). Faktor resiko Faktor risiko keterlambatan perkembangan motorik yang dapat diketahui dengan penilaian perkembangan pada bayi meliputi : Motorik kasar 1. 4-5 bulan : Tidak mampu memegang mainan 3. 24 bulan : Tidak dapat menyusun 5 balok Macam-macam penyakit yang dapat menyebabkan Gangguan perkembangan Motorik a) Spina Bifina Spina bifina merupakan suatu pembentukan yang salah dari stuktur tulang belakang (spina) yang disebabkan oleh penutupan yang kurang baik dari satu atau lebihruas tulang belakang (vertebrata) yang dikenal dengan nama sumbing tulang belakang atau pembelahan tulang belakang. 5 bulan : Belum dapat tengkurap bolak-balik 3. 15 bulan : Tidak dapat memasukkan atau mengambil benda 6. 9-10 bulan : Tidak dapat berdiri berpegangan 5. 20 bulan : Tidak dapat membuka kaos kaki atau sarung tangan sendiri 7. 4. 15 bulan : Belum berjalan 6. Ada dua bentuk dari spina bifida cysta. Kedua. 7-8 bulan : Belum duduk tanpa bantuan 4. 3. yaitu suatu kondisi yang menggambarkan adanya penutupan dari saluran spina melalui celah ruas tulang yang tidak normal. 7 bulan : Tidak mampu memegang benda pada setiap tangan 4.5 bulan : Belum dapat mengontrol kepala 2. 10-11 bulan : Tidak mampu menyumput benda kecil 5. yang disebut 12 .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki hambatan miomeningkol cenderung menunjukan kondisi hidrosefali. koordinasi gerak (visual-motor) seperti dalam melakukan koordinasi gerak mata-tangan misalnya sering muncul pada anak yang mengalami gangguan mielomeningokel (Anderson dan Spain 2010) b) Cerebral Palcy Dilihat dari makna kata sesungguhnya kata Cerebral Palsy terdiri atas dua yaitu cerebral dan palsy. Suatu keadaan bilamana penutupan spinal terjadi pada tali spinal. Berkenaan dengan pengertian itu (Bax:1994) menjelaskan bahwa cerebal palsy digambarkan sebagai gangguan gerak dan postur yang disebabkan oleh kerusakan permanent tetapi 13 .000 anakanak usia sekolah yang memiliki salah satu bentuk dari kondisi tersebut (French and Jansma. Hasil penelitian kondisi kelainan tulang tersebut diperkirakan 1 dari 350 anak lahir dengan salah satu bentuk spina bifina dan kiri-kira ada 50. Nampaknya bahwa ada kombinasi faktor keturunan dan lingkungan yang mungkin meningkatkan resiko dari sumbing tulang belakang. Kata cerebral diambil dari kata cerebellum yang berarti otak dan kata palsy yang berarti kekakuan. menangkap dan melempar bola. Jadi menurut arti katanya Cerebral Palsy menunjuk kepada kekakuan yang disebabkan karena adanya gangguan yang terletak di dalam otak .meilomeningokel (myelo-meningocele). Di mana anak ini akan meperlihatkan ketidak seimbangan di dalam memproduksi cairan cerebrospinal dalam tengkorak dan pengaliran cairan ke dalam sistem peredaran darah melalui permukaan otak. Jika kondisi ini dibiarkan. 2010). 2010). tetapi tidak ada satu faktor secara langsung dapat diidentifikasi (Anderson dan Spain. dan akar syaraf menonjol (Appleton. maka akan menyebabkan terjadinya gangguan mental atau kematian yang cepat (Anderson dan Spain 2010). 2012). Penyebab khusus dari Spina bifida tidak diketahui. Banyak anak yang mengalami hambatan mielomeningokel mempunyai masalah dalam perhatian yang sekaligus akan mengganggu aktivitas gerak seperti.

sering menunjukkan aktivitas sepertimenggeliat secara berlebihan dan tanpa tujuan dan diluar kehendak dirinya. menunjukkan tonus otot yang rendah (hypotonus). sikut dan pergelangan tangang tertekuk. Cara berjalan yang menyilang (scissor gait) sehingga aktivitas berjalan dilakukan pada ujung jari. berbicara dan kemampuan kecerdasan. 14 . Namun demikian secara umum dapat diidentifikasi dan didefinisikan beberapa tipe hambatan yang ditimbulkan oleh gangguan motorik ini (cerebal palsy). Cerebral palsy dengan gangguan spastic menunjuk kepada suatu kondisi yang disebabkan oleh kegagalan otot dalam melakukan releksasi sehingga gerakan-gerakanmereka menjadi kaku. Cerebral palsy dengan gangguan athetosis. pendengaran. Berkenaan dengan hal ini (Bax:1994) menjelaskan bahwa Cerebal palsy biasanya disertai oleh kombinasi kesulitan lainnya misalnya. ataxia. Jika kerusakan pada otak itu cukup meluas sehinga menimbulkan kerusakan pada bagaian lain yaitu pusat dan fungsi pancaindra.¾ dari anak daricerebral palsy mengalami gerakan spastic (spastic movement). ia juga memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan air liur. lengan bawah terputar ke kekanan. athetosis. akan tetapi dapat juga terjadi hanya menyangkut gangguan gerak dan tidak menyerang fungsi yang lain ( Bax. 2010). Oleh karena itu sekalipun ada dua orang anak didiagnosisi sebagai anak yang memiliki cerebal palcy akan memiliki perbedaan yang besar diantara keduanya. punggung. kedua lutut tertekuk dan hamper beradu. rigidity dan tremor. Berlawanan dengan spastic.nonprogresif pada otak Kondisi cerebral palsy memiliki derajat tertentu dari yang ringan hingga yang berat tergantung pada hebat tidaknya kerusakan yang terjadi pada otak. 2010). Hal ini menyebakan timbulnya kesulitan untuk menemukan kesimpulan tentang dampak dari gangguan motorik (cerebral palsy) terhadap perkembangan anak (Bax. penglihatan. penglihatan. individu ini bergerak terlalu banyak . bicara bahkan masuk kepada wilayah kecerdasan. kaki mengarah ketengah. pungggung yang bengkung. pendengaran. maka gangguan itu akan menyertai pula pada gangguan yang menyebar luas pada fungsi sensoris seperti.

kesulitan menggunting dan memotong dengan menggunakan pisau. Cerebral Palsy sebetulnya dapat mempengaruhi satu atau lebih bagian tubuh sehingga seringkali dikelompokkan berdasarkan topografik atau anatomik. melakukan kegiatan olah raga dan menulis. dan monoplegia (kelumpuhan pada satu anggota badan) (Bax. Jadi berlawanan dengan mereka yang mengalami gangguan athetosis. 6. Cerebral palsy dengan gangguan rigidity. kelumpuhan yang diderita pada kedua tungkai. Kondisi seperti ini sulit dijelaskan dari sudut pandang neorologis atau kondisi medis dan biasanya kesulitan seperti ini berlangsung sampai usia remaja ( Kadesjo dan Gillbert. c) pada lengan. hemiplegia ( kelumpuhan padaa satu sisi tubuh . 2011). Kondisi anak seperti ini biasanya diperoleh setelah lahir. menangkan dan melempar bola. dipligia. menalikan tali sepatu. paraplegia.Namun demikian Individu ini biasanya tidak terlalu mengalami kesulitan berarti dibandingkan kondisi cerebral palsy lainnya (Bax. (kelumpuhan pada kedua kaki dan sedikit mengalami kelumpuhan 4. 5. Cerebral palsy dengan gangguan tremor. menunjuk kepada kekakuan tonus otot agonis dan antagonis yang cenderung membekukan gerak dan berlawanan dengan spastic. dan Henderson 15 . triplegia 9 kelumpuhan pada tiga anggota badan). mengancingkan kancing baju. lengan dan tungkai. ia memiliki elastis otot yang minim dan hampir tidak memiliki reflek. 2. mengendaria sepeda. quadriplegia ( kelumpuhan pada semua anggota badan). menunjukkan gangguan dalam keseimbnagan dan kenestesis yang kurang. memiliki gerak yang kuat dan takterkontrol. 2010). Tipe tersebut mencakup apa yang disebut dengan : 1. 3. Akan tetapi kesulitan dalam menjelaskankondisi ini dilihat dari aspek neorologisdipertanyakan oleh Jongmans. mengalami hambatan di dalam kesadaran akan ruang. 2010) Developmental coordination disorder Anak yang mengalami gangguan koordinasi gerak (developmental coordination disorder) adalah anak yang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang memerlukan keterampilan-keterampilan gerak tertentu dan koordinasi gerak seperti.Cerebral palsy dengan gangguan ataxia. Dubowizt. Mercuri.

Sebagai contoh. menulis. penelitian yang dilakukanoleh Kadesjo and Gilberg (1999) meneliti lebih dari 400 anak yang berusia 6 s/d 8 tahun yang bertempat tinggal didaerah tertentu di Swedia dan anak-anak ini bersekolah di sekolah biasa. (Dewey dan Kaplan 1994) menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok anak yangdikatagorikan sebagai DCD yaitu.9 %) 16 . Kesulitan koordinasi 3. developmental disfraxia. 20 anakl (4. 1. Hal ini deisebabkan karena belum ada kesepakatan dalam menentukan kriteria untuk mengetahui DCD sehingga belum ada tes yang dapat digunakan untuk dapat mengetahuinya pada anak di bawah usia 5 tahun. Kesulitan keseimbangan 2.000 anak diduga mengalami DCD.merencanakan gerak pada kegiatan yang berurutan dan kesulitan dalam hampir semua bidang (Dewey dan Kaplan. Clumcy Child syndrome. 2005). sensory integrative disfungtion. Anak-anak yang mempunyai hambatan seperti koordinasi gerak diberi label denganistilah yang beragam seperti misalnya. Namun demikian terdapat perkiraan incident DCD yaitu. Kesulitan koordinasi gerak pada anak yang mengalami DCD biasanya sulit diidentifikasi sebelum usia empat/lima tahun. Mengalami kesulitan dalam kegiatan sehari-hari seperti menyisir rambut. 500-1000 dari 10. Terdapat kesepakatan bahwa anak-anak dengan gangguan DCD bersifat heterogen. namun demikian pada tahun 1994 telah disepakati bahwa keragaman istilah sebagaimana diuraikan di atas dapat disederhanakan dalam satu istilah yang disebut dengan developmental coordination disorder (gangguan koordinasi gerak). Developmental apraxia dan agnosiam perceptual motor dusfungtion..lami gangguan koordinasi gerajk dengan istilah-istilah yang beragam sebagaimana yang di sebutkan di atas (Jongmans et al.(1998) yang menemukan secara signifikan bahwa anak-anak yang berusia 6 tahun ke atas yang memiliki kesulitan dalam koordinasi gerak memiliki abnormalitas pada fungsi otak. 2009). Meskipun sampai saat ini mesih terjadi perdebatan tentang apakah terdapat perbedaan antara anak yangmenga.

jika refleks primitif (misalnya. Moro.diindentifikais sebagai anak yang mengalami DCD berat yang didasrkan pada test motorik kasar da motorik halus. Mengevaluasi pengembangan keseluruhan anak. Data anekdotal menunjukkan bahwa bayi dalam beberapa kelompok ras. Hampir setengan dari kelompok anak inimenunjukkan gejala ADHD (Attention Deficit and Hyperaktive Disorder) dari tingkat yang berat sampai tingkat yang sedang. Manifestasi pada bayi 1. keprihatinan tentang perkembangan motoric dibenarkan. Ketika orang tua melaporkan bahwa bayi mereka kuat (yaitu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang mengalami Develompment Coordination Disorder yaitu 5:1 (Dewey dan Kaplan.6%) diidentifikasi sebagai anak yang mengalami DCD sedang dan 29 dari kelompok ini adalah anak laki-laki. atau refleks rooting) bertahan setelah 6 atau 7 bulan. 2002). ini adalah tanda hipertonus dan hiperreaktivitas. Jika bayi bereaksi keras pada setiap pendengaran ringan atau rangsangan visual dengan menjadi kaku atau dengan melengkungkan punggungnya. mempertimbangkan karakteristik dan gaya kekuatan dan kelemahan masing-masing anak ( Kaplan. namun ketekunan refleks primitif harus mendatangkan beberapa pemeriksaanpenuh fungsi motorik secara keseluruhan.. Kebanyakan anak dari kelompok ini (18 orang) adalah anak laki-laki Selanjutnya 35 oarang anak (8. Bayi dengan kesulitan pada fungsi motorik mungkin muncul hipertonik atau hipotonik. Gejala dan tanda Klinis Gambaran klinis dari masalah koordinasi motorik dinilai dari sudut pandang perkembangan. Bayi muda mempertahankan tonus fleksor dalam beberapa bulan pertama kehidupan dan hanya secara bertahap mengembangkan pola ekstensi. otot-otot keras dan tegang muncul). umumnya mencapai 17 . yaitu dengan mempertimbangkan kemampuan fisik normal pada usia yang berbeda. misalnya Afrika. Amerika. plantar. Evaluasi perkembangan meliputi pertimbangan variasi individu. Salah satu tanda tunggal mungkin tidak signifikan. 2009).

Makan makanan padat membutuhkan fungsi terkoordinasi sekitar 31 pasang otot dan koordinasi bernapas dengan menelan dari bolus tersebut. Bayi yang berdiri dan yang selalu menunjuk ke bawah dengan jari-jarikaki mereka juga mungkin menandakan hipertonus pada tungkai bawah (atau hipertonus umum) dan sensitivitas tinggi untuk menyentuh di permukaan plantar kaki. Bayi yang bergerak sebagai seluruh unit tanpa mengoreksi sudut kepala menuju garis vertikal saat dipegang samping mungkin memiliki masalah perkembangan motorik. Bayi ini kemudian dapatb erjalan berjinjit. bayi dapat mulai mengantisipasi pergerakan bendabenda. 6. Manifestasi pada tahun kedua dan ketiga dari kehidupan 1. ini adalah tanda untuk perhatian. mereka biasanya dapat menentang ibu jari dalam gerakan menggenggam. 2. Bayi dengan tantangan bermotor sering tertunda dalam mencapai perkembangannya seperti kemampuan untuk berguling. 3. bayi harus bisa mengoreksi diri postur saat miring ke 1 sisi atau sisi lainnya. bukan hanya menjadi terbalik. Jika bayi tidak dapat duduk dengan bantuan atau dirinya sendiri pada usia 9 bulan. sambil duduk dengan sendirinya. balita yang memiliki deficit keterampilan motorik halus tidak dapat menerima makanan yang membutuhkan kemampuan mengunyah yang lebih besar. Pada usia 9 bulan. Ketika bayi kecil muncul hampir siap untuk berjalan pada usia beberapa bulan. Kesulitan dalam fungsi motorik halus pada anak-anak di tahun-tahun awal mungkin sulit untuk diidentifikasi. menunjukkan perkembangan visuomotor awal. Misalnya. 4. 5. Pada sekitar usia 4 bulan.keterampilanmotorik kasar lebih cepat daripada anak-anak dari kelompok ras lainnya. Pada sekitar usia 6 bulan. kekurangan ini harus diperhatian oleh pemeriksaan dokter dengan rinci dan cepat. Balita yang tidak 18 . dan duduk tanpa bantuan. duduk dengan bantuan. Bayi dengan masalah motor mungkin tidak mampu mempertahankan berat badan mereka setelah 6 bulan bila didukung di bawah lengan mereka.

dan faktor motivasi. Faktor-faktorlain yang terlibat dalam onset berjalan termasuk gaya temperamen. mereka harus diamati untuk keterlambatan motorik halus. kesempatan. 4. keterampilan tangan 19 . Pada akhir tahun pertama kehidupan. kebanyakan anak yang tidak berjalan pada usia 18 bulan ternyata menjadi sehat. Anak-anak mungkin memiliki kesulitan dalam kemampuan untuk membuat pemahaman untuk mengambil benda kecil dengan jari telunjuk dan jempol. Dalam beberapa kasus. Dalam sebuah studi tahun 1990 oleh Bax et al. kekuatan otot yang buruk ataukoordinasi. 5. 3.makan makanan padat mungkin menampilkan penanda tantangan motor yang mungkin melampaui mengunyah.namun sebagian kecil mengalami kesulitan motorik. termasuk cerebral palsy dan keterlambatan perkembangan lainnya. danpostur. Berjalan membutuhkan lebih daripada kekuatan otot belaka untuk mendukung berat tubuh . keseimbangan. Bayi dapat terus berusaha untuk mengambil benda-benda dengan pemahaman palmar (yaitu. Hal ini dapat diuji dengan membiarkan anak-anak untuk mengambil sebuah benda kecil dari permukaan yang datar. banyak keterampilan yang diperoleh dan disempurnakan dengan paparan kegiatan dan permainan yang membutuhkan motorik berlatih. sebagian besar bayi mulai membuat upaya untuk berjalan sambil berpegangan pada furnitur dan mengambil langkah-langkah pertama mereka tak lama kemudian. Hal ini juga berlaku untuk balita yang berulang kali tersedak makanan saat mengunyah. Kemampuan untuk berjalan sangat tergantung pada kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan tidak jatuh. Anakanak jelas bervariasi dalam kecepatan perkembangan mereka. Pada usia 4-5 tahun. dan kesulitan dengan mengelola. seperti sepotong sereal sarapan. Bayiyang tidak dapat berjalan setelah umur 18 bulan mungkin memiliki hypotonicity atau hypertonicity. dengan permukaan anterior seluruh tangan). Jika demikian. kebanyakan anak telah mengembangkan preferensi tangan yang jelas atau dominasi. 2. Manifestasi di prasekolah dan anak usia sekolah pada usia 3-5 tahun.

merangkak. gaya berjalan mereka tidak mantap. kecanggungan tampak pada hampir semua aktivitas yang memerlukan koordinasi motorik. dan mengunci retsleting celana. Kekhawatiran muncul pada anak yang memiliki kesempatan praktek dan yang masih tidak bisa memegang pensil dengan pola matang. duduk. atau pensil. Anak yang terkena tidak dapat memegang benda. Namun demikian. saat anak yang terkena mulai berusaha melakukan tindakan yang memerlukan koordinasi motorik. ketika bahu lemah. Banyak pakar berpikir bahwa kesulitan dalam keterampilan motoric halus (yaitu. 7. seperti berputar. Anak-anak mungkin tidak dapat menangani pena. Tanda lain yang menjadi perhatian adalah kesulitan dalam memegang pensil. Kesulitan dalam motorik mungkin bervariasi menurut umur dan stadium perkembangan anak (Hawari. hanya pergelangan tangan bergerak bersama. Pada masa bayi dan masa anak-anak awal gangguan mungkin bermanifestasi sebagai keterlambatan kejadian perkembangan normal. anak-anak kompensasi ketika mereka harus menggunakan bagian distal ekstremitas atas (jari.yang benar kemampuan untuk benar-benar melakukan tugas dengan baik dengan kedua tangan. tangan). Gambaran klinis yang penting adalah gangguan kinerja anak yang jelas terganggu pada koordinasi motorik. 2002). krayon. dan mereka mudah menjatuhkannya. berjalan. Ini dianggap sebagai cara yang matang dan efisien untuk menangani tugas-tugas menulis. mengancingkan baju. 2003). berdiri. Antara umur 2 dan 4 tahun. mereka sering kali 20 . anak-anak harus memindahkan seluruh ekstremitas atas untuk menulis (IDAI. dalam mengelola jari dan pergelangan tangan) lebih merupakan refleksi dari rusak di daerah proksimal tungkai atas daripada di daerah lain. Tanda klinis yang mengarahkan adanya gangguan koordinasi motoric terlihat paling awal pada masa bayi. sementara sendi lain diekstremitas atas tetap. Selama kegiatan itu. Alih-alih menggunakan pergelangan tangan untuk menulis. 6.

Penegakkan diagnosa Diagnosa gangguan koordinasi motorik memerlukan riwayat tentang perilaku motorik awal anak. BOTMP terbagi dalam 8 sub bagian. Anak yang lebih tua mungkin juga memiliki masalah kesulitan sekolah sekunder. Pada anak yang lebih besar ganguan koordinasi mototrik mugkin terlihat dalam permainan di meja. Tes khusus koordinasi motorik dapat berguna. termasuk masalah perilaku dan emosional. Test ini terdiri dari sembilan tes yang harus diikuti. termasuk pengamatan langsung aktivitas motorik. 2003). Frostig Movement Skills Test Battery. meloncat. kejadian perkembangan sering kali terlambat. seperti mencocokkan kepingan gambar atau membangun balok. bagaimana seorang anak dapat mempertahankan 21 . koordinasi motorik halus (menjentikkan jari dan mengikat tali sepatu). Skrining informal untuk gangguan koordinasi motorik dapat dilakukan dengan meminta anak melakukan pekerjaan yang melibatkan koordinasi motorik kasar (melompat. 2003). dan pada tiap jenis permainan bola. The Bender Gestalt Visual Motor test digunakan untuk menilai penggabungan visual-motorik dan keterampilan pemahaman visual (apakah kedua mata dan salah satu bagian otak berhubungan dengan penyampaian daya lihat dengan tepat).tersandung pada kakinya sendiri. seperti Bender Gestalt Visual Motor Test. yang memerlukan intervensi terapeutik yang tepat (Hawari. 2003). dan mereka mungkin menabrak anak-anak lain saat berusaha mendekati mereka (Hawari. termasuk kemampuan untuk berlari dan ketangkasan umum. 2003). dan koordinasi mata dan tangan (menangkap bola dan meniru tulisan) (Hawari. Banyak anak dengan ganguan juga memiliki gangguan bicara. Diagnosa didukung oleh skor subtes kinerja yang lebih rendah darinormal dari tes kecerdasan baku da oleh skor subtes verbal yang normal atau di atas normal. dan Bruininks Oseretsky Test of Motor Proficiency (Hawari. dan berdiri pada satu tungkai).Walaupun tidak ada ciri spesifik yang patognomonik untuk gangguan koordinasi motorik. Bruininks-Oseretsky Test of Motor Proficiency (BOTMP) untuk menilai keterampilan motorik halus maupun kasar pada anak yang beusia4 sampai 14 tahun.

4. mencakup semuaaspek perkembangan dengan realiability cukup tinggi(interrates reability = 0. penglihatan dan pemahaman. Berbahasa (di dalamnya terdapat juga aspek pendengaran. Normal. 2002).13. melakukan push up). bayley Infan Neurodevelopmental Screening (BINS) . dari kemampuan tubuh hingga rintangan fisik yang berat (IDAI. 1990).90). tetapi di dalamnya sebenarnya terdapat aspek-aspek lain sebagai berikut (Frankenberg. Tes ini sering disukai oleh anak-anak karena serupa dengan aktivitas pada masa anak-anak (melempar atau menangkap bola. Personal sosial (di dalamnya terdapat juga aspek penglihatan. Gerak halus (di dalamnya terdapat aspek koordinasi mata dan tangan. manipulasi benda-benda kecil. Skrining Perkembangan Diagnosa juga dapat ditegakkan berdasarkan skrining perkembangan dengan memakai denver developmental screening test II (DDST II) . jika ia dapat melakukan semua kemampuan (atau berdasarkan laporan 22 . 2002. test-retest reability = 0. pemecahan masalah ). gerak halus dan kemandirian). berlari.2002). Kaplan. dan dapat digunakan dalam cakupan yang luas pada anak-anak. muenchener. Kesimpulan hasil skrining Denver II hanya menyatakan bahwa balita tersebut: normal atau dicurigai ada gangguan tumbuh kembang pada aspek tertentu. 3.20Sampai tahun 1990 metode ini telah digunakan lebih dari 54 negara dan telah dimodifikasi lebih dari 15 negara (Frankenburgh dkk.keseimbangan dan koordinasi dari pergerakan bilateral. komunikasi verbal). Uji Denver membutuhkan waktu cukup lama sekitar 30-45 menit.99. komunikasi. dan kartu menuju sehat (KMS) (IDAI. Gerak kasar 2. pendengaran. KPSP. Skrining perkembangan DENVER II Skrining perkembangan yang banyak digunakan oleh profesi kesehatan adalah Denver II. Tes ini paling banyak digunakan untuk menilai kemampuan motorik. 1990). Walaupun secara eksplisit metode ini untuk mendeteksi 4 aspek perkembangan. 1. antara lain karena mempunyai rentang usia yang cukup lebar (mulaibayi baru lahir sampai umur 6 tahun).

Dicurigai ada gangguan tumbuh kembang jika ada 1 atau lebih ketidakmampuan pada persentil > 90. Fungsi penerimaan atau reseptif 3. 2004). Bayley Infan Neurodevelopmental Screening (BINS) Untuk mengidentifikasi bayi berusia 3-24 bulan yang mengalami keterlembatan tumbuh kembang atau mengalami gangguan neurologis. misalnya faktor lingkungan. Fungsi neurologis dasar : Mengukur kelengkapan perkembangan sistim saraf pusat. resiko sedang. Tidak ada metoda skrining yang sempurna (Gunawan. : resiko rendah. Setiap usia memiliki titik potong yang terbagi dalam 3 klasifikasi yang mengindikasikan besarnya resiko untuk terjadinya keterlambatab dalam perkembangan atau gangguan neurologis. Selama itu orang tua diberi petunjuk untuk memberi stimulasi sebagai latihan 23 . Walaupun ada 1 ketidakmampuan atau menolak melakukan pada persentil 75-90 masih dianggap normal. Fungsi ekspresif 4. Tetapi Denver II tidak mampu mendeteksi gangguan emosional.atau gangguan-gangguan ringan. Resiko Sedang Direkomendasikan uji BINS sekitar 3 bulan yang akan datang. 2. atau 2 (atau lebih) ketidakmampuan/menolak pada persentil 75-90 yang masuk garis umurnya Selain itu di dalam Denver II ada bagian terpisah untuk menilai perilaku anak secara sekilas. dan resiko tinggi. Aspek perkembangan yang diuji oleh BINS meliputi : 1.orangtuanya) pada semua persentil yang masuk dalamgaris umurnya. Tindak lanjut dari hasil penilaian BINS adalah sebagi berikut :  Resiko rendah Dianggap memiliki resiko minimal atau tidak memiliki resiko terjadinya hambatan perkembangan. Walaupun demikian. Fungsi pengertian (kognitif) Dalam format pencatatan hasil skor total bayi disesuaikan dengan distribusi skor yang disesuaikan usia kronologis bayi. tetap harus diingat adanya variabel yang tidak dapat diukur oleh BINS namun dapat mempengaruhi  perkembangan.

Untuk memperluas jangkauan skrining perkembangan Frankenburg dkk. persepsi. karena mudah.  berbicara. psikiater anak. atau dilakukan skrining dengan Denver II.  Resiko tinggi Dibutuhkan uji diagnostik lebih lanjut (Patacy. 2010). THT. cepat. 1990). persepsi. pengertian bahasa. Digunakan untuk usia 0-3 tahun. berjalan. apakah grafik tadi menunjukkan penyimpangan yang negatif (usia perkembangan dalam bidang tertentu berada di bawah usia kronologis) (Patacy. Jika jawaban ya 9-10. 2010) Muenchener Tujuan utama untuk mendeteksi keterlambatan dalam perkembangan dengan cara mengukur tahap perkembangan bidang fungís tertentu. duduk. berjalan. (1990) menganjurkan agar lebih banyak menggunakan PDQ. neurolog. Aspek perkembangan yang dinilai antara lain :  Usia 0-12 bulan : merangkak. Setiap umur tertentu ada 10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan anak. sehingga hanya membutuhkan waktu 10-15 menit (lihat lampiran). Jika jawaban ya sebanyak 7-8. 24 . Penafsiran hasil pemeriksaan : Yang pertama diperhatikan. Kuesioner iniuntuk skrining pendahuluan bayi umur 3 bulan sampai anak umur 6 tahun yang dilakukan oleh orangtua. tetapi pada umur berikutnya sebaiknya dilakukan KPSP lagi (Frankenburg. Jika jawaban ya sebanyak 6 atau kurang maka anak dicurigai ada gangguan perkembangan dan perlu dirujuk.perkembangan anak. perlu diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening Developmental Questionnaire(PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapadokter spesialis anak. memegang. Bila dari pemeriksaan selanjutnya didapatkan adanya keterlambatan maka kita jarus melakukan pemeriksaan lain untuk mendiagnosis penyebab keterlambatan perkembangan. mata dan lain-lain pada tahun 1986. keterampilan tangan. berbicara. anak dianggap tidak ada gangguan. yang harus diisi (atau dijawab) oleh orangtua dengan ya atau tidak.. sosialisasi Usia 1-2 tahun : pengertian berbahasa.

4. Hasil penimbangan pertama diberi titik pada batas garis tegak (pada bulan dimana anak saat itu menimbang) dengan garis datar. 3. Dipakai sebagai alat untuk mengetahui keadaan gizi anak. Pada penimbangan pertama. Kegunaan 1. Cara pengisian 1. Kartu menuju sehat (KMS) Suatu kartu yang digunakan untuk mencatat berat badan bayi dan anak balita. Penimbangan selanjutnya seperti no.). imunisasi. 2004). tetapi tampaknya jarang dimanfaatkan. 3. lama dan harus dilakukan oleh tenaga terlatih.20 Jika dengan PDQ dicurigai ada gangguan perkembangan. Catat semua kejadian yang dialami atau diderita (sakit. Kuesioner ini sampai sekarang masih dianjurkan oleh Depkes untuk digunakan di tingkat pelayanan kesehatan primer (dokter keluarga. 3 dan titik-titik pada tiap bulan bila Cara membaca 1. pemberian vit A dosis tinggi). disebut titik berat badan. 25 . Garis yang menghubungkan titik satu ke yang lain apakah mengikuti satu warna atau pindah kewarna yang lebih tua. atau tidak tahu cara penggunaannya karena tidak pernah diajarkan (Frankenburg. 2. 2. pengisian kolom identitas dan kolom bulan pada kolom tersedia. Bahkan beberapa dokter Puskemas tidak tahu adanya buku tersebut.Berat badan dicantumkan dalam KMS dalam bentuk titik (.murah dan dapat dikerjakan sendiri oleh orangtua atau dibacakan oleh orang lain (misalnya paramedis atau kader kesehatan). Digunakan sebagai alat untuk mengetahui keadaan kesehatan anak. Mengngontrol pertumbuhan berat badan anak.Puskesmas) sering disebut sebagai ‘buku hijau' berjudul Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita Depkes RI 1994 yang telah diuji coba di beberapa propinsi. 1990). anak tersebut dirujuk untuk dilakukan skrining dengan Denver II yang lebih rumit. Titik-titik tersebut dirangkai sehingga membentuk grafik yang menunjukkan pertumbuhan anak tersebut (DEPKES. setiap kali ditimbang secara teratur pada tiap-tiap bulan.

Tabel 1 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Koordinasi Perkembangan A Kinerja dalam aktivitas sehari-hari yang memerlukan koordinasi motorik adalah secara bermakna di bawah yang diharapkan menurut usia kronologis pasien dan inteligensia yang terukur. Hal ini dapat bermanifestasi dengan keterlambatan yang nyata dalam pencapaian kejadian motorik (berjalan. 3. Washington. Bila garis yang dibuat menurun. “kecanggungan”. merangkak. atau tulisan tangan yang buruk B Gangguan dalam kriteria A secara bermakna mengganggu pencapaian akademik atau aktivitas hidup sehari-hari C Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Koordinasi Perkembangan Gangguan bukan karena kondisi medis umum (palsi serebral. prestasi buruk dalam olahraga. duduk). 1994) Terapi Secara khusus seorang dokter akan mencoba untuk memastikan masalah yang dialami seorang anak dalam kebiasaannya secara keseluruhan dan kemudian 26 . kesulitan motorik adalah13 melebihi dari apa yang biasa menyertainya Catatan penulisan: jika terdapat kondisi medis umum (neurologis) atau defisit sensorik.2. hemiplegia. Bila garis yang menghubungkan titik-titik tersebut pindah kewarna yang lebih tua berarti berat badan anak naik. tuliskan kondisi tersebut pada Aksis III. atau distrofi otot) dan tidak memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasif D Jika terdapat retardasi mental. menjatuhkan barangbarang. (Dikutip dari American Psychiatric Association. tetap atau bertambah tetapi pindah ke pita warna yang muda berarti berat badan anak tidak naik.

2002). 2003). Masalah tersebut dapat menyebabkan harga diri yang rendah. teknik latihan neurofisiologis untuk disfungsi motorik. 2003). menarik diri. masalah berulang dalam berusaha bergabung dengan kelompok teman sebaya.merencanakan intervensi untuk mengembangkan fungsi adaptif secara optimal atau kemahiran dari keterampilan yang terbelakang atau perbaikan dari kesulitan berkoordinasi (Kaplan. walaupun penelitian kecil telah menyatakan bahwa latihan dalam koordinasi ritmik. yang memberikan keyakinan bagi mereka untuk membantu anak (Hawari. karena menekankan perkembangan keterampilan motorik. dan ketidakmampuan bermain dan berolahraga. seperti kegagalan berulang pada pekerjaan akademik dan nonakademik di sekolah. dan belajar menggunakan mesin ketik semuanya adalah berguna (Hawari. anak-anak dengan gangguan koordinasi motoric cenderung memiliki gejala yang bertahan pada masa remaja hingga masa dewasa (Kaplan. Ciri penyerta yang 27 . 2003). 2002). Terapi gangguan koordinasi motorik termasuk latihan motorik perseptual. Tidak ada penelitian skala besar yang telah melaporkan efek terapi. pasien mungkin memiliki sejumlah komplikasi sekunder. dan pada beberapa kasus meningkatnya masalah perilaku yang parah sebagai reaksi terhadap frustasi yang ditimbulkan oleh gangguan. Konseling parental membantu menurunkan kecemasan dan ras bersalah pada orangtua terhadap gangguan anak dan meningkatkan kesadaran mereka. Prognosis Jika tidak ditangani. kesedihan. Tidak ada latihan atau metode latihan tunggal yang tampaknya lebih menguntungkan atau efektif dibandingkan yang lainnya. Teknik Montessori mungkin berguna bagi banyak anak prasekolah. mempraktekkan gerakan motorik. Semua tingkat fungsi adaptif dapat diharapkan pada anak-anak. Pada kasus berat yang tetap tidak terobati. Masalah perilaku atau emosional sekunder dan gangguan komunikasi yang terjadi bersamaan harus ditangani dengan metoda terapi yang sesuai (Hawari. dan pendidikan fisik yang termodifikasi.

2003).19 American Speech-Language Hearing Association Committee on Language mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang konvensional yang kompleks dan dinamis yang dipakai dalam berbagai cara berpikir dan berkomunikasi (Chaer. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. gangguan bahasa ekspresif. memberi tanda) maupun auditorik (Owens. namun selanjutnya digunakan sebagai bentuk sistem konvensional dari simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi. Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih (Owens. Bicara adalah pengucapan yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi. 2001). Kemampuan bicara anak tetap mengikuti pola atau urutan yang normal tetapi terjadi lebih lambat dibandingkan anak seusianya (Ansel et al. B. Terdapat perbedaan mendasar antara bicara dan bahasa. 2003). Awalnya pengertiannya hanya merujuk pada bicara. 1994). Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. seorang anak dianggap memiliki keterlambatan bicara jika perkembangan bicara anak secara signifikan dibawah normal untuk anak-anak pada usia yang sama. 28 . 2001). Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Seorang anak dengan keterlambatan bicara memiliki perkembangan bicara yang khas yaitu kemampun bicaranya berkembang sama dengan anak yang memiliki usia kronologis yang lebih muda.sering adalah keterlambatan kejadian nonmotorik. Secara umum. dan gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran (Hawari. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis. KETERLAMBATAN BICARA Kata bahasa berasal dari bahasa Latin “lingua” yang berarti lidah. Sebaliknya. ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata kata yang benar untuk menyatakan keinginannya.

dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (contohnya kejang) (Makmum. Kemampuan bicara dan bahasa melibatkan perkembangan kognitif. Virginia et al. Terdapat pengulangan suara.Bahasa merupakan salah satu parameter dalam perkembangan anak. biasanya akibat cedera otak). Keterlambatan dan gangguan bicara bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau. kelancaran bicara (gagap). dan laring. Anak-anak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal. sensorimotor. bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah. 1997). bibir. dan lingkungan sekitar anak. 1991). suara. Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai beberapa huruf dan sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf tersebut sehingga menimbulkan kesan cara bicaranya seperti anak kecil. Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya sehingga pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan kemampuan berbicara (Simkin et al. serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa. Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi. atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam fungsinya untuk bicara dan makan. Gagap adalah gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. psikologis. volume atau kualitas suara (Makum. 2006). Afasia merupakan kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata-kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik. Selain itu. atau suatu bloking yang spasmodik. emosi. serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. 1991. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung proses tersebut seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. suku kata. Kemampuan bahasa pada umumnya dapat dibedakan menjadi kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif (berbicara). kata. afasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata. Terdapat kecenderungan adanya riwayat gagap dalam keluarga. 29 . Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch.

Anak yang mengalami keterlambatan bicara dan bahasa berisiko mengalami kesulitan belajar. sebagaimana dikutip Leung. kesulitan membaca dan menulis. Hasil studi longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan perkembangan bahasa berkaitan dengan kecerdasan dan membaca di kemudian hari (Silva et al. dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10. Penelitian Wahjuni tahun 1998 di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat menemukan prevalensi keterlambatan bahasa sebesar 9. Beberapa ahli menyimpulkan perkembangan bicara dan bahasa dapat dipakai sebagai indikator perkembangan anak secara keseluruhan. Beberapa data menunjukkan angka kejadian anak yang mengalami keterlambatan bicara (speech delay) cukup tinggi. termasuk kemampuan kognisi dan kesuksesan dalam proses belajar di sekolah (Smith dan Hill.9 %) dengan keluhan gangguan bicara dan berbahasa dari 436 kunjungan baru (Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr Kariadi. orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlambatan bicara dan bahasa akan mengalami masalah perilaku dan penyesuaian psikososial (Owens. 1999). rasa tidak aman.3% dari 214 anak yang berusia bawah 3 tahun. Gangguan ini semakin hari tampaknya semakin meningkat pesat. gangguan lateralisasi. Kariadi selama tahun 2007 diperoleh 100 anak (22. Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum pernah diteliti secara luas.13% anak didiagnosis keterlambatan bicara dan bahasa. 2001). dan kepribadian anak (Makmum. Di Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr. Selanjutnya. Keterlambatan bicara (speech delay) adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak.gagap juga dapat disebabkan oleh tekanan dari orang tua agar anak bicara dengan jelas.4% anak umur 3 tahun mengalami keterlambatan bicara sedangkan Leung di Canada mendapatkan angka 3% sampai 10%. Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun 2006. menemukan bahwa 8. Silva di New Zealand. dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh. 1991). 1987). Hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. 2007). 30 .

Sementara itu. Faktor intrinsik ialah kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Anak mengalami perkembangan kemampuan berbicara sesuai dengan umurnya melalui tahapan pola berbicara normal akan melalui tahap berikut : Etiologi Keterlambatan Bicara Kemampuan dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (anak) dan faktor ekstrinsik (psikososial). dokter harus memiliki pengetahuan dasar parameter penilaian kemampuan berbicara. 2006). faktor ekstrinsik dapat berupa stimulus yang ada di sekeliling anak.Penilaian Kemampuan Bicara Anak Untuk menentukan apakah seorang anak mengalami keterlambatan bicara. misalnya perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak (Simkin et al. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan bicara adalah sebagai berikut: 1) Faktor Intrinsik 31 .

a) Retardasi mental Retardasi mental merupakan penyebab paling umum dari keterlambatan bicara. 1985). sindrom Pendred. 1985. semakin parah keterbelakangan mental. sindrom Waardenburg. sindrom trisomi). keterlambatan pemahaman pendengaran. hipoksia. b) Gangguan pendengaran Fungsi pendengaran dalam beberapa tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan bahasa dan bicara. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan pendengaran konduktif yang berhubungan dengan cairan pada telinga tengah selama beberapa tahun pertama kehidupan berisiko mengalami keterlambatan bicara (Schlieper. hipotiroidisme. trauma pada sistem saraf pusat. obat ototosik. Seorang anak retardasi mental menunjukkan keterlambatan bahasa menyeluruh. insufisiensi plasenta. kernikterus. penyebabnya tidak dapat ditentukan. meningitis atau ensefalitis. Tuli konduktif umumnya disebabkan oleh otitis media dengan efusi (Leung et al. Secara umum. sindrom tertentu (misalnya. Gangguan pendengaran tersebut adalah intermiten dan rata-rata dari 15dB sampai 20 dB (Schlieper et al. sindrom Usher) dan kelainan kromosom (misalnya. 1996). meningitis bakteri. Pada 30%-40% anak-anak dengan retardasi mental. 1985). dan gangguan metabolik (Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUP dr Karyadi. Gangguan konduktif juga dapat disebabkan oleh kelainan struktur telinga tengah dan atresia dari canalis auditoris eksterna. hipoksia. perdarahan intrakranial. Gangguan pendengaran pada tahap awal perkembangan dapat menyebabkan keterlambatan bicara yang berat. kernikterus. dan keterlambatan motorik. Kehilangan 32 . 1990). tercatat lebih dari 50% dari kasus (Coplan. infeksi intrauterin. Penyebab retardasi mental diantaranya cacat genetik. semakin lambat kemampuan komunikasi bicaranya. 2007). Shonkoff. Gangguan pendengaran dapat berupa gangguan konduktif atau gangguan sensorineural. Gangguan pendengaran sensorineural dapat disebabkan oleh infeksi intrauterin. obat saat ibu hamil. keracunan.

Namun. Anak-anak autis pada umumnya gagal untuk melakukan kontak mata.pendengaran sensorineural biasanya paling parah dalam frekuensi yang lebih tinggi (Leung et al. menanggapi jika dipeluk. pemalu. atau menggunakan gerakan untuk berkomunikasi. Berbagai kelainan bicara telah dijelaskan. Gangguan tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun (Leung et al. Anak dengan mutasi selektif biasanya memanifestasikan gejala lain dari penyesuaian yang buruk. mereka tidak berbicara di sekolah. seperti ekolalia dan pembalikan kata ganti. anak-anak dengan mutasi selektif akan berbicara ketika mereka sendiri. anak-anak ini negativistik. Shonkoff. dalam situasi umum. Biasanya. Selain itu juga dapat disertai atau dikombinasi oleh faktor-faktor penyebab lain. Autisme tiga sampai empat kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan (Leung et al. Autisme ditandai dengan keterlambatan perkembangan bahasa. Kondisi tersebut terjadi lebih sering pada anak perempuan daripada anak laki-laki. merespon senyum. c) Autisme Autisme adalah gangguan perkembangan neurologis yang terjadi sebelum anak mencapai usia 36 bulan. 1999). Secara signifikan anak-anak dengan mutasi selektif juga memiliki defisit artikulatoris atau bahasa. kelemahan 33 . dengan teman-teman mereka. d) Mutasi selektif Mutasi selektif adalah suatu kondisi dimana anak-anak tidak berbicara karena mereka tidak mau. dan menarik diri. 1999. atau dengan orang asing. Umumnya. dan kompulsif. dan kadang-kadang dengan orang tua mereka. serta aktivitas motorik stereotip yang berulang. e) Cerebral palsy Keterlambatan bicara umumnya dialami oleh anak dengan cerbral palsy. diantaranya: gangguan pendengaran. penyimpangan kemampuan untuk berinteraksi. penakut. perilaku ritualistik. 1996). seperti kurang memiliki teman sebaya atau terlalu bergantung pada orang tua mereka. Keterlambatan bicara terjadi paling sering pada orang-orang dengan tipe athetoid cerebral palsy. 1999).

Anak tidak mendapatkan cukup waktu dan kesempatan berbicara dengan orang tuanya. dan ”l”. ”s”. yaitu terjadi suara hidung pada huruf bertekanan tinggi seperti ”s”. adenoid atau kelainan laring. 2) Faktor Ekstrinsik (Psikososial) Dalam keadaaan ini anak tidak mendapatkan rangsangan yang cukup dari lingkungannya. Mereka satu sama lain saling memberikan lingkungan bicara yang buruk karena biasanya 34 . dan ”g” (Balipost . tetapi tidak berat. 2008). ”v”. kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate). maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau penelantaran anak (Bishop. dan ”th”.atau kekakuan otot-otot lidah. jadi ketrampilannya melalui meniru.Pada lidah pendek terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan huruf ”t”. deviasi septum nasi. Bila stimulasi bicara sejak awal kurang (tidak ada yang ditiru) maka akan menghambat kemampuan bicara dan bahasa pada anak (Widodo. ”z”. ”n”. Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse. Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi berupa rinolalia aperta. Kelainan bentuk gigi dan mandibula mengakibatkan suara desah seperti ”f”. Hasil penelitian menunjukkan stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan berbahasa yaitu keterlambatan bicara. 1999). b) Anak Kembar Pada anak kembar didapatkan perkembangan bahasa yang lebih buruk dan lama dibandingkan dengan anak tunggal. 1994. Davis. disertai keterbelakangan mental atau cacat pada korteks serebral (Leung et al. 1988). f) Kelainan organ bicara Kelainan ini meliputi lidah pendek. Berbagai macam deprivasi psikososial yang mengakibatkan keterlambatan bicara adalah a) Lingkungan yang Sepi Bicara adalah bagian tingkah laku. 2008). kelainan bentuk gigi dan mandibula (rahang bawah). ”k”.

dan 30 bulan atau pada anak-anak yang dicurigai memiliki 35 . c) Bilingualisme Pemakaian 2 bahasa dapat menyebabkan keterlambatan bicara. Pada saat nonton televisi. namun keadaan ini bersifat sementara. 2008). kecuali pada anak dengan kecerdasan yang tinggi (Leung et al. namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi. d) Teknik Pengajaran yang Salah Cara dan komunikasi yang salah pada anak sering menyebabkan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak sebab perkembangan mereka terjadi karena proses meniru dan pembelajaran dari lingkungan (Balipost.18. e) Pola menonton televisi Menonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. 1999). 2008). maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya (Balipost. Akibatnya. Smith meneliti pada kelompok anak dengan lingkungan bilingualisme tampak mempunyai perbendaharaan yang kurang dibandingkan anak dengan satu bahasa.mempunyai perilaku yang saling meniru. 2008). dalam jangka waktu tertentu. yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali. Hal ini menyebabkan mereka saling meniru pada keadaan kemampuan bicara yang sama–sama belum bagus (Widodo. Deteksi Dini Keterlambatan Bicara American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar melakukan surveilans perkembangan (developmental surveillance) pada setiap kontrol anak sehat dan melakukan skrining perkembangan (developmental screening) pada anak yang kontrol pada usia 9. anak akan lebih berperan sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk.

Dhamayanti dan Herlina. dan hubungan sinaptik . Vincer et al. 1996). Mundkur. dan kemampuan akademis yang buruk. 2004. 36 . perilaku. Prinsip “gunakanlah atau kehilangan” dan “gunakan serta kembangkanlah” didasarkan pada prinsip plastisitas otak (Johnston. 1996). kemampuan verbal. penyesuaian psikososial. 2005. maka harus dilakukan evaluasi medis dan perkembangan (developmental assessment) agar dapat segera dilakukan intervensi dini (early intervention) pada anak (Shonkoff. 2005). Capute scales adalah salah satu alat skrining yang dapat menilai secara akurat aspek-aspek perkembangan utama termasuk komponen bahasa dan visual-motor pada anak usia 1-36 bulan. 2009). Pengalaman sensorik. Capute scales telah digunakan secara luas untuk clinical assessment oleh neurodevelopmental pediatricians dan dengan latihan yang singkat alat ini dapat dikerjakan dengan baik ditingkat pelayanan primer. Tiga tahun pertama kehidupan merupakan periode kritis kehidupan anak.keterlambatan atau kelainan perkembangan (yang ditemui saat surveilans perkembangan) (Shonkoff. mielinisasi. Apabila didapatkan adanya gangguan perkembangan. 1999. Identifikasi dan intervensi secara dini diperlukan untuk mencegah terjadinya gangguan dan hambatan tersebut. dan disosiasi) pada masa bayi dan kanakkanak dini. deviasi. Oleh karena itu. 2005). Plastisitas otak maksimal pada beberapa tahun pertama kehidupan dan berlanjut dengan kecepatan yang lebih lambat. stimulasi dan pajanan bahasa selama periode ini dapat menentukan sinaptogenesis. Bila gangguan bicara dan bahasa tidak diterapi dengan tepat akan terjadi gangguan kemampuan membaca. Keberhasilannya dalam pengukuran secara cepat dan mudah dari aspek-aspek perkembangan akan membantu menegakkan diagnosis banding dari sebagian besar kategori utama gangguan perkembangan (delayed. sehingga dapat segera dilakukan intervensi dini untuk memberikan hasil yang terbaik (Accardo et al. periode yang tepat untuk melakukan deteksi dini ialah usia 1-3 tahun (Leung dan Kao.

8 Beberapa definisi dan istilah dalam Capute scales : 1) Usia ekuivalen/Age-Equivalent (AE) adalah usia (dalam bulan) seorang anak berfungsi sesuai dengan perkembangan yang diuji.Capute scales terdiri dari 2 jenis pemeriksaan yaitu Cognitive Adaptive Test (CAT) dan Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale (CLAMS). Secara aritmetika DQ dihitung dengan membagi usia ekuivalen anak dengan usia kronologis anak dan dinyatakan dalam persentase perkembangan yang diharapkan untuk usia kronologis 6) Expressive Language Quotient (ELQ) adalah usia ekuivalen pada expressive language milestone dibagi dengan usia kronologis dikalikan 100 sedangkan Receptive Language Quotient (RLQ) adalah usia ekuivalen pada receptive language milestone dibagi dengan usia kronologis dikalikan 100 7) Language Quotient (LQ) adalah total atau gabungan usia ekuivalen bahasa (language age-equivalent) dibagi dengan usia kronologis dikalikan 100. LQ merupakan sinonim dari CLAMS DQ 8) Problem-solving (cognitive/adaptive) quotient adalah total visual-motor (problem solving) age-equivalent dibagi dengan usia kronologis dikalikan 100. Dengan kata lain. yang merupakan sinonim dari CAT DQ 9) Full-Scale (composite) Developmental Quotient (FSDQ) merupakan nilai rerata CAT DQ dan CLAMS DQ yang menunjukkan kemampuan keseluruhan anak 37 . gugus tugas tertinggi apabila seorang anak dapat menyelesaikannya dengan benar 4) Usia kronologis/Chronological Age (CA) adalah usia anak sebenarnya (dalam bulan) pada saat dilakukan uji 5) Developmental Quotient (DQ) adalah skor yang menggambarkan proporsi perkembangan yang normal anak pada usia tersebut. Usia ekuivalen ditentukan dengan menambahkan usia basal dengan total bobot nilai desimal (point values) yang diperoleh dari tiap uji/gugus tugas di atas usia basal yang mampu dilakukan oleh anak 2) Usia basal/basal age adalah usia tertinggi di antara tingkatan usia seorang anak dapat menyelesaikan semua gugus tugas dengan benar 3) Usia ceiling/ceiling age adalah usia termuda di antara tingkatan usia anak tidak mampu melakukan semua gugus tugas.

2005). Pengukuran CAT juga terdiri dari 19 tingkat usia pengujian dengan 57 milestones visual-motor yang diukur. Jika terlihat keterlambatan pada aspek kognitif bahasa dan visualmotor. Setiap uji harus dimulai pada dua kelompok umur di bawah tingkatan/level fungsional anak dan diteruskan hingga kelompok umur tertinggi dimana anak dapat menyelesaikan tugas (Accardo et al. Pola deviasi menggambarkan adanya gangguan bahasa ekspresif. Jika keterlambatan hanya terlihat pada aspek perkembangan bahasa dengan laju perkembangan yang normal pada aspek visual-motor. 38 . Pemeriksaan DQ dan masalah-masalah perkembangan (delay. yaitu usia 1-12 bulan (interval 1 bulan). Interpretasi dari keterlambatan disosiasi dan bahasa. Tabel. usia 21 dan 24 bulan (interval 3 bulan).16. sedangkan jika kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif terlambat dan terdapat disosiasi dengan kemampuan visual-motor.18 bulan (interval 2 bulan). Anak harus melakukan semua semua milestones dari skala visual-motor (beberapa spontan dan beberapa setelah dicontohkan pemeriksa). Di dalam CLAMS terdapat 26 milestones bahasa ekspresif yang meliputi 19 tingkat usia pengujian. dan disosiasi) digunakan secara diagnostik dalam interpretasi Capute scales. usia 30 dan 36 bulan (interval 6 bulan). usia 14. dan tidak terdapat disosiasi di antara keterlambatan tersebut. Milestones bahasa reseptif diperoleh dari kombinasi laporan orang tua dan demonstrasi langsung berupa pengertian konsep spesifik oleh anak. maka terdapat gangguan komunikasi berupa gangguan bahasa reseptif dan ekspresif. 2005). menunjukkan kognisi keseluruhan normal namun terdapat suatu gangguan komunikasi (Accardo et al. 2005). maka retardasi mental dipertimbangkan sebagai diagnosis utama. maka akan ditemukan disosiasi. Sebelas dari 17 kemampuan bahasa reseptif membutuhkan demonstrasi langsung (Accardo et al. deviasi.Pemeriksaan CLAMS mengukur milestones bahasa reseptif dan ekspresif. Milestones bahasa ekspresif diperoleh dari laporan orang tua terhadap kemampuan verbal anak. Pola perkembangan seperti ini dan aspek bahasa terlambat sedangkan aspek visual-motor dalam batas normal. Deviasi ditemukan bila aspek bahasa reseptif pada seorang anak jauh melebihi kemampuan bahasa ekspresifnya.

Keberhasilan pengukuran secara cepat dari aspek-aspek perkembangan akan membantu menegakkan diagnosis banding dari sebagian besar kategori utama gangguan perkembangan pada masa bayi dan kanakkanak dini.Capute scales memungkinkan dokter anak menilai perkembangan secara akurat pada beberapa aspek perkembangan utama. dan gangguan pendengaran. 2005). Tabel. yaitu: 39 . Spectrum development disabilities Interpretasi nilai DQ. retardasi mental) dari ganggunan komunikasi dan autis (Accardo et al. Tabel. Komponen CAT dapat digunakan untuk membedakan global developmental delay (gangguan kognitif. defisiensi intelektual. identifikasi sebagian besar anak dengan autism spectrum disorders. gangguan bahasa. Interpretasi dari keterlambatan disosiasi dan bahasa menunjukkan identifikasi CLAMS terhadap retardasi mental.

Suspek. 2005. seorang anak berkembang secara normal jika DQ pada kemampuan bahasa dan visual-motornya >85. Aspek bahasa harus diteliti lebih lanjut untuk menilai adanya deviasi. 40 . Normal. Dhamayanti dan Herlina. 2009). Gangguan komunikasi (communication disorder). dengan demikian FSDQ  juga >85. maka kemampuan bahasa ekspresif relatif lebih sering terlambat dibandingkan dengan bahasa reseptif (Accardo et al. disosiasi di antara dua aspek kognitif dari perkembangan sangat khas pada berbagai gangguan komunikasi. Retardasi mental.  Anak-anak ini harus dipantau dengan ketat. tetapi aspek visual-motor dalam batas normal (DQ >85). Umumnya jika terdapat deviasi pada skala bahasa. jika DQ pada satu atau kedua aspek <85 tetapi >75 (DQ:75-85). jika kedua aspek (bahasa dan visual-motor) menghasilkan DQ yang <75. yang akan terlihat jika aspek bahasa reseptif dan ekspresif menunjukkan angka yang berbeda. jika aspek bahasa terlambat (delayed).

Jakarta: Rineka Abdi. identifying infants and young children with developmental disorders in the medical home: an algorithm for developmental surveillance and screening. Philadelphia: Lippincott. Toddlers. Psiokolinguistik kajian teoritik. pp. In: Rutter M. Taylor E. Child and adolescent psychiatry. Council on children with disabilities. Pedoman Pengunaan KMS2012. 36:198-215. Evaluation of the child with delayed speech or language. editors. Developmental Screening: Infants. Blackman JA. 6:295-7. 2003. 1994. Role of the Pediatrician in family-centered early intervention service. Pediatrics 2001. Minchom PE. Green L.go. Pediatr Ann. Spain B. The Child With Spina Bifida. Developmental disorders of speech and language. Stroud A. Landa RM. 41 . 2005. Principles and practice of pediatrics.DAFTAR PUSTAKA Accardo PJ. Chaer A. In: Oski FA. Appleton PL.id/wp-content/uploads/2012/05/Pedoman-PenggunaanKMS_SK-Menkes. The maternal language environment of children with language delay. Terminology And Classification Of Cerebral Palsy. Bax MCO. Ellis NC. [diakses pada 21 Agustus 2015]. 2010. American Academy of Pediatrics. Eliott.pdf. Hersov L. 2010. Davis H. pp:546–68. Available at http://gizi. eds. DeAngelis CD. Departemen Kesehatan RI. Self Concept Of Young People With Spina Bifida: A population-Based Study. Bishop DV. And Preschoolers. Anderson EM.depkes.23:253–66. 617-623. Baltimore: Paul. Br J Disord Commun. 1985. American Academy of Pediatrics. 2012. Journal of Developmental Medicine and Child Neurology. Oxford: Blackwell Science. Ansel BM. Tokyo: Saunders.14:203–8. 1988. Committe on children with disabilities. London: Methuen. Pediatrics 2006. 1994. Coplan J. 2010. H. Journal of Developmental Medicine and Child Neurology. Development and disorders of speech and language. Stark-Selz RE. The capute scales: Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic & Auditory Milestone Scale (CAT/CLAMS). Brookes Publishing Co. pp:686–700.107:11557. Capute AJ.118:405. 1992.

17:629-53. 1-120. Hawari D. Special Physical Education. Kaplan BJ.Dewey D. Jakarta: Depkes RI. Subtyping Of Development Motor Deficits.blogspot. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi 1. Available at: http://www. Jakarta: Sagung Seto. Am Fam Phys.keterlambatan-bicara. French R. Mercuri E.html [diakses tanggal 21 Agustus 2015]. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa [Skripsi]. Kaplan. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Columbus: Charles E.com. Gunawan N. Jonhston MV. Frankenburg WK. 20:32-9. 2007. Dhamayanti Meita.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/mengenalketerlambatan-perkembangan-umum-pada-anak. Journal of Human Movement Science. Kadesjo B. Jongmans MJ. Dubowitz LMS. 2009. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Herlina Murfariza. Klinik Tumbuh Kembang Anak RS. 1-20. Gillberg C. Judarwanto Widodo. 2012. Denver: Denver Developmental Materials. Ikatan Dokter Anak Indonesia. pp.26:73-80. Studi pendahuluan disfasia perkembangan. Journal of the American Academy of Child Adolescent Psychiatry. et al. Journal of Development Neuropsychology. Keterlambatan bicara-speech delay.or. Kariadi. 2003. Kao PC. Clinical disorder of brain plasticity. Perseptual Motor Difficulties And Their Concomitants In Six-Year-Old Children Born Prematurely. Merrill Publihing Company. Available athttp://idai. Sari Pediatri. Jakarta: Binarupa Aksara.11(3):189-98). 2002. et al. 1990. Developmental Coordination Disorder In Swedish 7 Year-Old Children. Semarang. Jansma P. 2008. Dr. 2002. 2004. Henderson SE. 2011. pp.Leung KA.10:265-84. Pedoman deteksi dini tumbuh kembangbalita. Keterlambatan Perkembangan Pada Anak. 2004. Skrining gangguan kognitif dan bahasa dengan menggunakan capute scales (Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale-Cat/Clams). Brain dev. 2005. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psikiatris Klinis Jilid 2. 1999. Evaluation and management of the child with speech delay. Denver II Technical Manual. 2009. 42 .59:32-45.

[diakses pada 21 Agustus 2015]. Fraboni T. Language delay: late talking to communication disorder.medscape. 1987. Shonkoff JP. Philadelphia: Hanley and Belfus. Mild conductive hearing loss and language development: a one year follow-up study. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Language development and disorders of communication and oral motor function. Language Development an Introduction.com/article/915251. Oka Lely. New York: Allyn and Bacon. 2005. A longitudinal study of children with developmental language delay at age three.com Owens RE. 1996.6:65– 8. Jakarta : EGC. 2008. Leung AK. 1985. Rudolph CD. Gangguan perkembangan berbahasa. Rudolph's pediatrics. later intelligence . Dodds L. 2010. Pediatrics. Teori Belajar Keterampilan Motorik: Konsep dan Penerapan [Tesis]. Drug Protocol. 397-410.Lutan R. editors. McGee R.22:315-31. tenggorok. Mundkur N. Simkin Z. Patacy. 1999. 43 . pp. Motor Skills Disorder. Available at : www.116:864-7. 2005. London: Prentice-Hall. pp. 1990. 2001. Robson WL. Kisilevsky H. Otitis media in infants and children.5:29– 35. Indian J Pediatr. Graven M.630-640. 5th edition. Makum. Hill J. McHugh S.balipost. 2001. reading and behavior problems.72:855-7. Vincer MJ. Virginia W. AH. Cake H. 2006. 2005 . Gangguan bicara dan bahasa. Jika anak terlambat bicara. Dev Med Child Neurol. hidung. 56-69. pp:124–8. C. pp . J Dev Behav Pediatr. Mattingly S. Buku ajar penyakit telinga. Meredith G. In: Rudolph AM. Hoffman JI. Bandung: Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.29. Evidence of reading difficulty in subgroups of children with specific language impairment. Silva PA. 57-79. A population-based study to determine the performance of the cognitive adaptive test/clinical linguistic and auditory milestone scale to predict the mental developmental index at 18 months on the bayley scales of infant development-II in very preterm infants. Child language teaching and therapy. Schlieper A. Neuroplasticity in children. Pediatric Rehabilitation. Yorke L. Smith C. Jakarta: Balai penerbit FKUI. Available at http://emedicine. 1997. Williams SM. Conti G.

118:1541-9. 44 . Pediatrics.Webster RI. cognitive and motor findings. The clinical spectrum of developmental language impairment in school aged children: language. 2006.