You are on page 1of 14

LAPORAN KASUS

WANITA DENGAN APPENDICITIS
Disusun untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan klinik bagian Radiologi di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Semarang

Disusun oleh :
Giri Yurista
01.211.6401
Pembimbing :
dr. Lia Sasdesi M., Sp.Rad.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015

Sp.Lia Sasdesi M.6401) Fakultas : Kedokteran Umum Universitas : Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA ) Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian : Ilmu Radiologi Judul : Wanita dengan Appendiksitis Semarang. September 2015 Mengetahui dan Menyetujui Pembimbing Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Pembimbing dr.HALAMAN PENGESAHAN Nama : Giri Yurista (01. .211.Rad..

Apendiks didarahi oleh arteri appendicularis yang merupakan arteri tanpa kolateral dan vena appendicularis. Pangkalnya diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah yang menghubungkan spina iliaca anterior superior dan umbilicus yang di sebut titik McBurney. Bentuk tabung panjang 7-10 cm. 2. . Dasarnya melekat pada permukaan aspek posteromedial caecum. Aliran limfenya ke satu atau dua nodi dalam mesoapendiks dan di alirkan ke nodi mesenterici superiores.7 cm.BAB I PENDAHULUAN A. sedangkan persarafannya berasal dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari plexus mesentericus superior. Panjang apendiks vermiformis bervariasi dari 3-5 inci (8-13 cm). diameter 0. Appendiks terletak di ileocaecum.1 Anatomi apendiks vermiformis Apendiks vermiformis adalah organ berbentuk tabung dan sempit yang mempunyai otot dan banyak mengandung jaringan limfoid. LATAR BELAKANG 1.5 cm di bawah junctura iliocaecal dengan lainnya bebas. Apendiks vermiformis terletak pada kuadran kanan bawah abdomen di regio iliaca dextra. Apendiks adalah satu-satunya organ tubuh yang tidak mempunyai posisi anatomi yang konstan. Lumennya melebar di bagian distal dan menyempit di bagian proksimal.

tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. termasuk apendiks vermiformis menghasilkan IgA yaitu suatu imunoglobulin sekretoar.1.1 Definisi Appendicitis Appendicitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing.2 GULT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran pencernaan. Tetapi karena jumlah jaringan limfe pada apendiks vermiformis kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna menyebabkan pengangkatan apendiks vermiformis tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. B. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. MANFAAT Dapat dijadikan sebagai media belajar bagi mahasiswa klinik sehingga dapat mendiagnosis terutama secara radiologis. C. IgA sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.2 Fisiologi apendiks vermiformis Apendiks vermiformis menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari yang secara normal di curahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. pemeriksaan fisik pada pasien appendiksitis. . TUJUAN Untuk mengetahui cara mendiagnosa terutama secara radiologis berdasarkan data yang diperoleh dari anamnesa. dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. Adanya hambatan aliran pada lendir di muara apendiks vermiformis berperan dalam patogenesis apendisitis.

Fekalit adalah penyebab utama terjadinya obstruksi apendiks vermiformis.histolytica merupakan penyebab lain yang dapat menimbulkan apendisitis.3 Patogenesis apendisitis Patologi apendisitis berawal dari mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks vermiformis dalam waktu 24-48 jam pertama. dan nekrosis muskularis yang dinamakan apendisitis kataralis. atau adneksa sehingga terbentuk massa . Bakteri dalam lumen apendiks vermiformis berkembang dan menginvasi dinding apendiks vermiformis sejalan dengan terjadinya pembesaran vena dan kemudian terganggunya arteri akibat tekanan intraluminal yang tinggi. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. edema. Terjadinya obstruksi lumen menyebabkan sekresi mukus dan cairan. Ketika tekanan kapiler melampaui batas. Pada akhirnya.1-0. akibatnya terjadi peningkatan tekanan luminal sebesar 60 cmH2O. serta pengaruh konstipasi. yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks vermiformis dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal.2. 2.2 Pada tahun 1970.7 Disamping hiperplasia jaringan limfoid. proses ini dinamakan apendisitis flegmonosa. menyebabkan edema dan kongesti pembuluh darah yang semakin parah dan membentuk abses di dinding apendiks vermiformis serta cairan purulen. Jaringan mukosa pada apendiks vermiformis menghasilkan mukus (lendir) setiap harinya. Kemudian terjadi gangren atau kematian jaringan yang disebut apendisitis gangrenosa. Jika proses ini terus berlangsung. tandanya apendisitis berada dalam keadaan perforasi. Untuk membatasi proses radang ini tubuh juga melakukan upaya pertahanan dengan menutup apendiks vermiformis dengan omentum. berhubungan dengan timbulnya apendisitis. usus halus. pertumbuhan bakteri yang berlebihan di dalam lumen dan invasi bakteri ke dalam mukosa dan submukosa menyebabkan peradangan transmural. stasis pembuluh darah. tumor apendiks vermiformis. inflamasi dan ulserasi. Jika dinding apendiks vermiformis yang terjadi gangren pecah. yang seharusnya hanya berkapasitas 0. Erosi mukosa apendiks vermiformis akibat parasit E.2 Etiologi apendisitis Faktor predisposisi utama terjadinya apendisitis akut adalah obstruksi lumen apendiks vermiformis. Burkitt mengatakan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan kandungan lemak serta gula yang tinggi pada orang Barat. terjadi iskemi mukosa. dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan.2 mL.

biasanya penderita mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Tanda vital seperti peningkatan suhu jarang dan denyut nadi normal atau sedikit meningkat. 2. akibatnya pasien menemukan gerakan tidak nyaman dan ingin berbaring diam. dan sering dengan kaki tertekuk. Umumnya nafsu makan akan menurun. Rasa sakit menjadi terus menerus dan lebih tajam serta lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Apabila terjadi perubahan yang signifikan dari biasanya menunjukkan bahwa komplikasi atau perforasi telah terjadi atau diagnosis lain harus dipertimbangkan. dapat memudahkan terjadinya apendisitis perforasi.4 Manifestasi Klinis Nyeri perut adalah gejala utama dari apendisitis. dan dinding apendiks vermiformis yang lebih tipis. disertai pungtum . Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. apendisitis perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah. Tidak ada yang sederhana maupun begitu sulit untuk mendiagnosis apendistis. Bila terdapat rangsangan peritoneum. nyeri makin hebat berupa nyeri tekan dan defans muskuler yang meliputi seluruh perut. Perlu diingat bahwa nyeri perut bisa terjadi akibat penyakit – penyakit dari hampir semua organ tubuh. Apendiks vermiformis yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi membentuk jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitarnya. Sedangkan pada orang tua. serta organ yang telah mengalami ruptur ketika pasien pertama kali diperiksa. dan setelah beberapa jam. Gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium sekitar umbilikus. Pada anak-anak dengan omentum yang lebih pendek. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Nyeri perut ini sering disertai mual serta satu atau lebih episode muntah dengan rasa sakit. serta daya tahan tubuh yang masih kurang. organ ini dapat mengalami peradangan akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. Sehingga suatu saat.periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Hal ini sangat berbahaya karena dapat mempermudah terjadinya perforasi. Perforasi apendiks vermikularis akan menyebabkan peritonitis purulenta yang di tandai dengan demam tinggi. apendiks vermiformis yang lebih panjang. Kadang tidak ada nyeri epigastrium.5 Pemeriksaan fisik Temuan fisik ditentukan terutama oleh posisi anatomis apendiks vermiformis yang mengalami inflamasi. nyeri akan beralih ke perut kanan bawah pada titik McBurney. 2.

Cara melakukan uji psoas yaitu dengan rangsangan otot psoas melalui hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan.maksimum di regio iliaka kanan. kemudian paha kanan ditahan. Tindakan ini akan menimbulkan nyeri bila apendiks vermiformis yang meradang menempel di otot psoas mayor. Jika dilakukan palpasi akan didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. Tanda – tanda iritasi lokal otot pelvis juga dapat dirasakan penderita. Tanda rovsing adalah apabila melakukan penekanan pada perut kiri bawah maka akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Peristalsis usus dapat menurun sampai menghilang akibat adanya ileus paralitik. biasanya di sertai nyeri lepas. karena gerakan apa saja dapat meningkatkan rasa sakit. Peristalsis usus sering didapatkan normal tetapi dapat menghilang akibat adanya ileus paralitik yang disebabkan oleh apendisitis perforata. dan perut menjadi tegang dan kembung. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan parietal. Uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks vermiformis. Sehingga dibutuhkan pemeriksaan colok dubur. Pasien dengan apendisitis biasanya berbaring dengan terlentang. nyeri perut kemungkinan tidak ditemukan sama sekali. Jika diminta untuk menggerakkan paha terutama paha kanan pasien akan melakukan dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Dengan melakukan pemeriksaan colok dubur nyeri akan dirasakan pada daerah lokal suprapubik dan rektum. BAB III ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama : Ny NU Umur : 39 tahun Jenis Kelamin : Perempuan . yaitu misalnya pada apendisitis pelvika. Pada pemeriksaan uji obturator untuk melihat bilamana apendiks vermiformis yang meradang bersentuhan dengan otot obturator internus . Ketika peradangan apendiks vermiformis telah mencapai panggul.

Demam (+). dengan : Keluhan Utama : Nyeri pada perut kanan bawah sejak 5 hari yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang : . mual (+). Semarang : 336091 ANAMNESIS Seorang pasien perempuan berumur 39 tahun dirawat di Bangsal Nakula 2 RSUD Kota Semarang sejak tanggal 9 September 2015. CM : Sendangguwo RT/RW 9/9 Kel. Gemah.Nyeri bertambah saat berjalan .Nyeri pada perut kanan bawah .000 ml .4 ribu/ul Trombosit : 393.Alamat No. Pedurungan.Nyeri berkurang dengan tiduran miring ke kanan . Extremitas : akral hangat. muntah (+) . Kec. perfusi baik Pemeriksaan Laboratorium (9 September 2015) Hemoglobin : 19.Muntah sebanyak 6 kali Riwayat penyakit dahulu : ♦ Riwayat penyakit gula tidak ada ♦ Riwayat darah tinggi disangkal Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala dan penyakit yang sama Riwayat sosial ekonomi : Ibu rumah tangga PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Composmentis kooperatif Tekanan darah : 130/70 mmHg Frekuensi nadi : 80 x/menit Frekuensi nafas : 20 x/menit Suhu : 37derajat celcius Pemeriksaan Sistemik Kepala : tidak ada kelainan Mata : konjungtiva tidak anemis..Nyeri dirasakan sejak 5 hari yang lalu .2 gr/dl Hematokrit : 39.Nyeri dirasakan terus menerus . sklera tidak ikterik Thorax : paru dan jantung dalam batas normal Abdomen : Pada palpasi didapatkan nyeri tekan regio inguinal kanan (+).Pasien sudah minum obat dari Puskesmas tapi keadaan tidak membaik .70% Leukosit : 13.

Negatif Pemeriksaan Laboratorium (15 September 2015) Hemoglobin : 11.70% Leukosit : 8.9 ribu/ul Trombosit : 572.000 ml Diagnosis Kerja Suspect appendicitis Tatalaksana: - Simtomatik - Pembedahan Prognosis: Quo ad Sanam : Bonam Quo ad Vitam : Bonam .8 gr/dl Hematokrit : 35.GDS : 104 mg/dl HbsAg .

BAB IV HASIL PEMERIKSAAN a. Gambar .

dan kolon descendes. tak tampak filling defect maupun additional shadow KESAN : Filling appendiks dengan dinding ireguler  gambaran appendisitis . tak tampak dilatasi dan distensi usus. caecum. tak tampak free air Appendikorafi Pada jam 08.b.00 pagi pasien meminum oral kontras. kolon transversum. Interpretasi hasil Foto Polos Abdomen : Tak tampak appendikolith. Dinding appendiks tampak ireguler.00 dilakukan pemeriksaan appendikografi . Tampak pengisian kontras pada struktur appendiks. kolon asendens. tampak kontras mengisi ileum. Pada jm 15.

Nuri Utami datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah. UIV dan USG. Saat ini pasien tidak mengalami gangguan BAB.Namun dalam kasus ini pemeriksa tidak menyertakan pemeriksaan USG. .tak tampak kelainan lainya pada organ intraabdomen pada sonografi abdomen diatas. Dengan diagnosis tersebut pemeriksa dapat melakukan pemeriksaan penunjang radiologi seperti foto polos abdomen.c nefrolitiasis.Dari gambaran opaq yang didapat curiga batu ginjal yang mengganggu aliran traktus urinarius dan menyebabkan pembengkakan yang disebut hidronefrosis maupun hidroureter.BAB V PEMBAHASAN Seorang pasien perempuan berumur 39 tahun bernama Ny. batu multiple pada pelvis renis ukuran normal. Maka dari itu dari hasil USG didapatkan kesan: Moderate to severe hidronefrosis dekstra e. Nyeri dirasakan terus. Dari hasil anamnesis didapatkan gejala klinis nyeri kolik dengan kecurigaan utama nyeri kolik di ginjal yang disebabkan adanya batu. BAK lancar namun mengeluh saat BAK keluar pasir dengan ukuran terbesar sebiji gabah.

yang merupakan pengkristalan mineral yang mengelilingi zat organik. Pa: Saunders Elsevier. Boer.Dalam: Rasad. ed. DAFTAR PUSTAKA Bates JA. 453.Ultrasonografi. Mosby.BAB VI KESIMPULAN nefrolitiasis adalah batu ginjal yang ditemukan didalam ginjal. Fifth Edition. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Kenneth L. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. London: Churchill Livingstone. 10th ed. Company Fulgham PF. Urinary tract imaging: Basic principles. darah. Ed ke-2. Sjahriar. CampbellWalsh Urology. atau sel yang sudah mati. Bishoff JT. Philadelphia. A. 2001. yang terbanyak pada bagian pelvis ginjal yang menyebabkan gangguan pada saluran dan proses perkemihan.455 Bontrager. Biasanya batu kalkuli terdiri atas garam kalsium (oksalat dan fosfat) atau magnesium fosfat dan asam urat. 2005. USA : CV. 2011:chap 4 . Abdominal Ultrasound. nefrolitiasis adalah suatu penyakit yang terjadi pada saluran perkemihan karena terjadi pembentukan batu di dalam ginjal. In: Wein AJ. 2004. Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy. misalnya nanah.

Jilid 2. 2008:chap 16. ed. Buku ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Jakarta . 2003. Smith’s General Urology. Purnomo. 62-65 Rasad. 2008:chap 6. Sjamsuhidajat. Penerbit EGC. McAninch JW. Jakarta. Ca: McGraw Hill. 2005.. Ca: McGraw Hill. Jakarta. In: Tanagho EA. Hricak H. R. Price.I. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. California. Radiology of the urinary tract. 2004. 756-763 Stoller ML. California. Sjahriar. 453455. Urinary stone disease. ed. Perpustakaan nasional Republik Indonesia. Penerbit Buku Kedokteran. Edisi Kedua. Edisi Kedua. McAninch JW. Dasar dasar Urologi. Smith’s General Urology. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.B. 17th ed. Sylvia A. B. In: Tanagho EA.Gerst SR. 2006. EGC. 17th ed.