You are on page 1of 24

BIMBINGAN DAN KONSELING PEMULA

Jumat, 16 September 2011
PTBK Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Konseling Kelompok

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai mahluk sosial, tidak bisa hidup tanpa
bantuan orang lain. Mereka saling membutuhkan antara satu sama lainnya dalam memenuhi
kebutuhan hidup. Dalam hidup bersama perlu adanya suatu interaksi yaitu proses timbal balik
yang bertujuan mendewasakan manusia agar nantinya dapat menemukan jati dirinya secara utuh.
Untuk dapat memahami interaksi itulah secara khusus dikenal istilah interaksi belajar-mengajar
yang titik penekanannya ada pada motivasi. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk
melakukan sebuah pekerjaan maupun kegiatan seperti halnya belajar. Hasil belajar akan menjadi
optimal jika ada motivasi belajar. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan
inisiatif kearah yang lebih baik. Jadi motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam kehidupan manusia, demikian pentingnya sampai ada pernyataan bahwa “motivasi adalah
energi yang dimiliki seseorang untuk belajar” (Sardiman, 2010 : 73).

Kemampuan memotivasi belajar mulai sangat diperlukan saat manusia memasuki masa remaja
karena masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak sehingga remaja sering dihadapkan
pada persoalan persoalan yang kompleks yang menjadi permasalahan yang dirasakan sulit oleh
para remaja termaksud dalam hal belajar. Siswa SMA yang tergolong dalam usia remaja,
mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan serta mempunyai kecenderungan kurang
stabil secara psikis banyak mengalami kesulitan dalam memotivasi cara belajar, akibatnya
aktivitas belajarnya menurun dan prestasi yang diperolehnya kurang memuaskan.
William burton dalam (Hamalik,2007;160) mengemukakan “ Tujuan adalah sesuatu yang hendak
dicapai dan akan memuaskan individu. Adanya tujuan akan mempengaruhi kebutuhan dan akan
membangkitkan motivasi didalam diri”. Sehingga seorang haruslah diberikan penguatan tentang
tujuan dari apa yang ia lakukan untuk dapat meningkatkan motivasi pada dirinya. Seorang
pelajar harus diberi sebuah pemahaman tentang tujuan belajar yang sedang ia tempuh untuk
dapat meningkakan motivasi belajarnya.
Pemberian pemahaman tentang pentingnya tujuan belajar masih sangat sulit untuk dipahami oleh
siswa pada umumnya. Sehingga dibutuhkan layanan-layanan yang bisa membantu siswa dalam
menyelesaikan konflik yang ada pada dirinya. Salah satunya ada pada layanan bimbingan dan
konseling. Bimbingan dan Konseling memiliki tujuh layanan yang merupakan kegiatan bantuan
dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa sekolah pada khususnya
dalam rangka meningkatkan mutunya.
Dari pengamatan yang ada penulis mengangap layanan konseling kelompok akan jauh lebih
efektif dibandingkan dengan layanan yang lainnya. Karena dari pengalaman yang terjadi
dilapangan siswa sudah mulai merasa bosan dan jenuh dengan penggunaan layanan-layanan

otonomi dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Konseling kelompok merupakan wahana untuk menambah penerimaan diri dan orang lain. menerima dan berempati dengan tulus. Layanan konseling kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Dengan demikian konseling kelompok memberikan kontribusi yang penting dalam memotivasi siswa. Untuk Mengetahui kondisi motivasi siswa. penulis akan mencoba melihat dari aspek prestasi belajar siswa khusus pada mata pelajaran metematika sebagaimana tabel berikut : Tabel 1 : Daftar Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran Matematika Kelas XI IPA1 Semester Ganjil SMA Yasida Ambarawa Tahun Pelajaran 2010/2011 No. Apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok akan saling menolong. Nilai Jumlah Siswa . menemukan alternatif cara penyelesaian masalah dan mengambil keputusan yang tepat dari konflik yang dialamimya dan untuk meningkatkan tujuan diri.klasikal sehingga diperlukan sebuah layanan yang melibatkan partisipasi keseluruhan. Sedangkan pengunaan layanan konseling individu kadangkala diangap negatif oleh siswa kerena siswa dipangil secara pibadi dan mendapatkan pandangan yang buruk dari siswa-siswa lainya. apalagi masalah motivasi diri merupakan masalah yang banyak dialami oleh siswa sehingga untuk mengefisiensikan waktu konseling kelompok dimungkinkan lebih efektif dibandingkan layanan konseling individual.

1-7.1. 14 2.0-2. Nilai Jumlah Siswa .5 8 3. Kemudian peneliti melakukan sebuah assessment dengan bekerjasama dengan guru mata pelajaran matematika untuk dapat menentukan siswa yang mengalami motivasi rendah dengan hasil sebagai berikut : Tabel 2 : Daftar hasil Asesment motivasi siswa pada mata pelajaran matematika semester genap SMA Yasmida Ambarawa No. 9 0. 5. 7. Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut diduga berkaitan dengan motivasi belajar siswa yang juga rendah.0 4.6-5. Berdasarkan tabel diatas diperoleh gambaran bahwa lebih dari 50% siswa kelas XI IPA1 memiliki pretasi belajar yang rendah.5 Jumlah Siswa 36 Sumber : Daftar nilai guru SMA Yasmida Ambarawa tahun Pelajaran 2010/2011.6-10 5 2.

Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas maka penulis merumuskan masalah “Apakah ada peningkatan Motivasi belajar Matematika siswa dengan memberikan bimbingan Layanan Konseling Kelompok?”. Subyek Penelitian . Obyek Penelitian Peningkatan motivasi belajar matematika melalui layanan konseling kelompok.. maka penulis membatasi lingkup penelitian sebagai berikut : 1. 12-20 14 Jumlah Siswa 36 Sumber : Daftar nilai assessment BK SMA Yasmida Ambarawa Sehingga dari data tersebut dapat penulis simpulkan bahwa yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika. penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Melalui Konseling Kelompok Siswa Kelas XI IPA1 Semester Ganjil SMA Yasmida Ambarawa tahun Pelajaran 2010/2011”.1. 29-36 5 2. B. Berdasarkan uraian di atas. 21-28 8 3. 2. Ruang Lingkup Penelitian Agar penelitian ini tidak menyimpang dari permasalahan yang ada. C.

Tujuan Penelitian a. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Waktu Penelitian Semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011. Bagi Guru 1) Untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi terhadap motivasi belajar Matematika sebelum dan sesudah pelaksanaan layanan konseling kelompok. 2. Membangkitkan semangat dan rasa kebersamaan diantara sesama teman. Bagi siswa Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan memotivasi belajar mata pelajaran matematika. D. 3. . Tempat Penelitian SMA Yasmida Ambarawa. Manfaat Penelitian a. Penulisan sekripsi ini bertujuan untuk meningkatkan Motivasi belajar matematika siswa kelas XI IPA 1 semester genap di SMA Yasmida Ambarawa tahun ajaran 2010/2011. b.Siswa kelas XI IPA1 SMA Yasmida Ambarawa. 1) 2) b. Untuk mengetahui berapa besar peningkatan motivasi belajar matematika sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok kelas XI IPA1 semester ganjil di SMA Yasmida Ambarawa tahun ajaran 2010/2011.

yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. Warner dan Smith (dalam Larrabea & Terres. .S. Pengertian Konseling Kelompok Menurut Shertzer dan Stone (dalam W. dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. 1984 : 32) menyatakan bahwa konseling kelompok merupakan cara yang amat baik untuk menangani konflik-konflik antara pribadi dan membantu individu-individu dalam pengembangan kemampuan pribadi mereka.M. Konseling Kelompok 1. 2007 : 590) konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis. Sri Hastuti. Winkel & M. Menurut Rochman Natawidjaja (dalam Mungin Eddy Wibowo. Menurut Hansen. 2005 : 32) yang mengemukakan bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan.

yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang lebih konstruktif. belajar dan karir.Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas. Winkel & M. b. Memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan siswa berkaitan dengan pribadi. 2007 : 592) tujuan secara umum dari konseling kelompok adalah sebagai berikut : a. mula-mula dalam kontak antar pribadi di dalam kelompok dan kemudian juga dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkunagn kelompoknya. sosial. 2. Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri. belajar dan karir. sosial. Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai. Membantu menghilangkan titik-titik lemah yang dapat mengganggu siswa berkaitan dengan pribadi. sosial. sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk fase perkembangan mereka. Tujuan Konseling Kelompok Menurut Gerald Corey (dalam W. e. Membantu mempercepat dan memperlancar penyelesaian masalah yang dihadapi siswa berkaitan dengan pribadi. c.S. . belajar dan karir. 2005 : 305) tujuan konseling kelompok adalah sebagai berikut : a. b. d. Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain. Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. c. Menurut Hansen dkk (dalam Mungin Eddy Wibowo.M Sri Hastuti. maka dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu dalam suasana kelompok agar mampu menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang sedang dihadapi dengan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki secara optimal. Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan lebih terbuka terhadap aspekaspek positif dalam kepribadiannya.

Tahap pertengahan atau tahap kerja c. 3. yaitu menggambarkan kemajuan dinamika proses kelompok yang dialami oleh kelompok konseling. Tahap transisi c. dalam interaksi . penjelasan mereka tentang tahap-tahap tersebut menunjukkan adanya kesamaan. keraguan. e. Tahap konsolidasi Menurut Jacobs. c. yaitu : Tahap pembentukan kelompok Tahap identifikasi Tahap produktivitas Tahap realisasi Tahap terminasi Meskipun para ahli berbeda dalam mengklasifikasikan tahapan proses konseling kelompok. Harvill & Masson mengelompokkan tahapan proses konseling kelompok menjadi 3 tahap yaitu : a. Tahap permulaan b. Tahap kerja d. Proses Konseling Kelompok Gerald Corey (dalam Mungin Eddy Wibowo. 2005 : 85) mendefinisikan proses konseling kelompok sebagai tahap-tahap perkembangan suatu kelompok dan karakteristik setiap tahap. kebekuan. sosial. Terdapat keragaman dalam mengklasifikasikan dan menamai tahapan-tahapan dalam proses konseling kelompok oleh beberapa para ahli yaitu antara lain: Menurut Gerald Corey ada 4 tahapan dalam proses konseling kelompok yaitu : a. belajar dan karir. Tahap orientasi b. yaitu mulai dari suasana yang umumnya penuh kekakuan.Berdasarkan dari beberapa pendapat tersebut. b. d. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling kelompok adalah memberikan bantuan kepada konseli agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya serta mengambil keputusan sendiri atas masalah-masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masalah pribadi. Tahap pengakhiran atau tahap penutupan Menurut Gibson & Mitchell mengklasifikasikan proses konseling kelompok kedalam 5 tahap a.

Tahap permulaan. yaitu tahap yang dilakukan sebagai upaya untuk menumbuhkan minat bagi terbentuknya kelompok yang meliputi pemberian penjelasan tentang adanya layanan konseling kelompok bagi para siswa. merupakan masa setelah proses pembentukan dan sebelum masa bekerja (kegiatan). dan tahap pertengahan yang merupakan inti kegiatan konseling kelompok. untuk mengkonsolidasi hasil yang mereka buat. tujuan dan kegunaan konseling kelompok. dan untuk membuat keputusan mengenai tingkah laku mereka yang ingin dilakukan di luar kelompok dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Etika bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. maka dapat disimpulkan bahwa ada 4 tahapan dalam proses konseling kelompok yaitu sebagai berikut : a. ajakan untuk memasuki dan mengikuti kegiatan. serta kemungkinan adanya kesempatan dan kemudahan bagi penyelenggaraan konseling kelompok. Tahap pengakhiran. tahap penampilan. tahap tindakan. b. sehingga memerlukan alokasi waktu yang terbesar dalam keseluruhan kegiatan konseling kelompok. penjelasan pengertian. Tahap transisi. Tahap ini yang merupakan proses dua bagian. yang ditandai dengan ekspresi sejumlah emosi dan interaksi anggota. d. c. Tahap kegiatan sering disebut juga sebagai tahap bekerja. yaitu memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk memperjelas arti dari pengalaman mereka. Etika dalam Konseling Kelompok Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 : 341) etika dalam konseling kelompok adalah etika yang disetujui yang konsisten dengan komitmen etika dalam arti yang lebih luas (politik. Berdasarkan pengklasifikasian proses konseling kelompok yang dikemukakan oleh berbagai ahli tersebut diatas.menuju ke kerjasama dan saling berbagi pengalaman sampai pada akhirnya sama-sama berupaya mengembangkan perilaku baru yang lebih tepat berkenaan dengan persoalan masing-masing. Etika tidak bersifat absolut. 4. moral dan agama) yang kita anggap masuk akal dan yang bisa diterapkan oleh klien maupun pihak pemberi bimbingan. Jika tidak demikian etika-etika bisa menjadi penghambat dan bukan .

Karena ada beberapa etika yang bersifat universal (tidak berubah) dalam bidang hubungan antar manusia. b. maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa etika dalam konseling kelompok merupakan komitmen atau kesepakatan yang disetujui antara konseli dengan konselor yang tidak bersifat absolut sebagai suatu penuntun untuk pengembangan kerja dan pengembangan diri dalam menyelenggarakan konseling kelompok. pendapat dan apa yang disebut cirri-ciri pribadi sebagai ciri unik individu yang berakar dari pola afiliasi kelompok yang menentukan konteks sosial seseorang hidup dan berfungsi dapat mewujudkan melalui intervensi konseling kelompok. individu-individu mencapai tujuannya dan berhubungan dengan individu-individu lain dengan cara yang produktif dan inovatif. Anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling memberi bantuan. Konseling kelompok member kesempatan para anggota untuk mempelajari keterampilan sosial. apabila unsur-unsur tersebut terpenuhi semua. maka perilaku. c. pengakuan. yaitu dalam waktu yang relative singkat konselor dapat berhadapan dengan sejumlah siswa di dalam kelompok dalam upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pencegahan. . dan berempati dengan tulus didalam konseling kelompok.lagi sebagai suatu penuntun untuk pengembangan kerja dan pengembangan diri. d. Kekuatan dan Keterbatasan Konseling Kelompok Menurut Mungin Eddy Wibowo (2005 :41) ada beberapa kekuatan konseling kelompok yaitu antara lain : a. dan pengentasan masalah yang dialami oleh setiap anggota. Melalui konseling kelompok. dan afiliasi. pengembangan pribadi dan pengentasan masalah. kode etik untuk bidang tersebut diterima sepanjang waktu. 5. Manusia membutuhkan penerimaan. Motivasi manusia muncul dari hubungan kelompok kecil. Kepraktisan. menerima bantuan f. sikap. Dalam konseling kelompok anggota akan belajar untuk berlatih tentang prilaku yang baru. pencegahan. Dalam konseling kelompok terdapat kesempatan luas untuk berkomunikasi dengan teman-teman mengenai segala kebutuhan yang terfokus pada pengembangan pribadi. e. Berdasarkan pendapat tersebut di atas. g.

Menurut Eysenck dkk (dalam Slameto. Donald (dalam Sardiman. beberapa diantaranya membutuhkan perhatian dan intervensi individual. B. sehingga tidak berusaha untuk berubah. Sering siswa mengharapkan terlalu banyak bantuan dari kelompok. c. Tidak semua siswa siap atau bersedia untuk bersikap terbuka dan jujur mengemukakan isi hatinya terhadap teman-temannya di dalam kelompok. merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep lain seperti minat. sebagai akibatnya siswa tidak akan merasa puas. Tidak semua siswa cocok berada dalam kelompok. konsistensi. intensitas. konseling kelompok juga memiliki keterbatasan yaitu sebagai berikut : a. 2010 : 73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Persoalan pribadi satu-dua anggota kelompok makin kurang mendapat perhatian dan tanggapan bagaimana mestinya. Sering kelompok bukan dijadikan sarana untuk berlatih melakukan perubahan. . d. maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam konseling kelompok terdapat kekuatan dan keterbatasan yang harus diperhatikan agar penyelenggaraan konseling kelompok dapat terarah dan berjalan secara lancar serta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. konsep diri. Pengertian Motivasi Belajar Menurut Mc. b. Motivasi Belajar 1. tapi justru dipakai sebagai tujuan. karena perhatian kelompok terfokus pada persoalan pribadi anggota yang lain. Berdasarkan dari pendapat tersebut. sikap dan sebagainya.Selain memiliki kekuatan. lebih-lebih yang akan dikatakan terasa memalukan bagi dirinya. serta arah umum dari tingkah laku manusia. 2003 : 170) motivasi dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan. e.

Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar. Sardiman A. etis atau budi pekerti dan sikap.M. Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar Menurut Kenneth H. dapat disimpulkan bahwasanya proses belajar akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal jika pemberian motivasi dapat diterima oleh siswa didik dengan baik. Hover (dalam Oemar Hamalik. Berdasarkan uraian diatas. keterampilan. belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. afektif maupun psikomotor. jasmani. jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi yang besar erat hubungannya dengan kreativitas murid. 2. Motivasi itu mudah menjalar atau tersebar terhadap orang lain. Berdasarkan uraian diatas. 3. Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan yang akan merangsang motivasi. f. e. d. (2010 : 85) ada tiga fungsi motivasi belajar yaitu sebagai berikut: a. konsep ataupun teori”. Mendorong manusia untuk berbuat.Menurut Oemar Hamalik (2007 : 28).M. c. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan. Pujian lebih efektif daripada hukuman. emosional. dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu motif atau dorongan untuk melakukan suatu kegiatan/pekerjaan guna mencapai tujuan dalam rangka merubah tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya baik dari aspek kognitif. Sedangkan. hubungan sosial. . b. Fungsi Motivasi Belajar Menurut Sardiman A. fakta. pengertian. kebiasaan. (2010 : 22) mengatakan bahwa “belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi. 2007 : 163) mengemukakan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut : a. apresiasi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Semua murid-murid mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan.

yaitu motif yang dibawa sejak lahir. yang artinya bahwa besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. Menurut Sardiman A. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar. seperti angka kredit. dorongan untuk bekerja. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan.M. Motivasi ekstrinsik. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu proses perbuatan. 4. b. dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. dorongan untuk minum. Menyeleksi perbuatan. Motif-motif bawaan. tingkatan hadiah.macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain : a. c. ijazah. yaitu motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan. Menentukan arah perbuatan. Macam-Macam Motivasi Belajar Menurut Oemar Hamalik (2007 : 162) motivasi belajar dapat dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut : a. Motivasi intrinsik. hukuman dan sebagainya. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. Dari beberapa pendapat yang ada dapat disimpulkan bahwa fungsi dari motivasi itu sendiri adalah sebagai motor pengerak kemana dan bagaimana perbuatan yang akan dilaksanakan. b. dorongan seksual . yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. c. yaitu motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. untuk beristirahat. Motivasi berfungsi sebagai penggerak.b. Menurut Oemar Hamalik (2007 : 161) fungsi motivasi belajar yaitu antara lain : a. (2010 : 86) macam. jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari.

M. b. Cognitive motives. c. Motif atau kebutuhan organis. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama. (2010 : 83) bahwa setiap tindakan manusia terjadi karena adanya unsur pribadi manusia. untuk memburu. untuk berusaha.b. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sardiman A. seksual. untuk menaruh minat. motif ini menunjuk pada gejala intrinsik. (2010 : 87) macam.macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain : a. makan. c. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan. Self-expression. . motivasi terjadi karena 2 faktor. dorongan untuk membalas. penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri ( intern ) dan faktor yang berasal dari luar diri seseorang ( ekstrinsik ) 5. Self-enhancement. tidak pernah berhenti sebelum selesai). Motif-motif objektif yang meliputi : kebutuhan untuk melakukan eksplorasi. b.\ Menurut Frandsen (dalam Sardiman A. tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwasanya. Sehingga terdapat ciri-ciri tersendiri dalam motivasi yaitu : a. dorongan untuk mengajr sesuatu di dalam masyarakat. melakukan manipulasi. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. yaitu motif-motif yang timbul karena dipelajari. (2010 : 88) macam.macam motivasi belajar dilihat yaitu antara lain : a. yakni menyangkut kepuasan individual.M. Motif-motif yang dipelajari. bernafas. Ciri-Ciri Motivasi Menurut Sardiman A. melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang.M. Motif-motif darurat yang meliputi : dorongan untuk menyelamatkan diri. meliputi misalnya : kebutuhan untuk minum.

Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal Berdasarkan hal tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik jika siswa mampu tekun mengerjakan tugas. keadilan. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat b. korupsi. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai) c. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah (Misalnya masalah pembangunan. mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. politik. dan sebagainya) d. (2010 : 91) ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah yaitu : a. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu) g. Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin (hal-hal yang berulang begitu saja sehingga kurang kreatif) f. ekonomi. ulet dalam memecahkan masalah serta hambatan secara mandiri.b. c. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak memiliki bakat menggambar. h. Ulet menghadapi kesulitan. yang utama justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Memberi angka Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. tetapi tidaklah selalu demikian. Banyak siswa yang belajar. agama. 6. Hadiah Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi. Bentuk-Bentuk Motivasi Belajar Menurut Sardiman A. Lebih senang bekerja sendiri e.M. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. Saingan/kompetisi .

bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. sehingga sudah barang tentu j. hasilnya akan lebih baik. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat. memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. berarti ada unsure kesengajaan. perlu diberikan pujian. Oleh karena itu. Pujian Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik.Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. e. supaya pujian ini merupakan motivasi. Memberi ulangan Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui aka nada ulangan. begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pook. Oleh karena itu. adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut : . f. i. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar. dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat. d. Ego-involvement Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri. apalagi kalau terjadi kemajuan. Minat Motivasi muncul karena ada kebutuhan. Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar. Hukuman Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar. Persaingan. Mengetahui hasil Dengan mengetahui hasil pekerjaan. g. pemberiannya harus tepat. ada maksud untuk belajar. baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini akan lebih baik. h.

Berdasarkan hal itu maka dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk-bentuk motivasi merupakan sarana untuk dapat mengarahkan dan mengerakan perilaku manusia dari perilaku tertentu diubah menjadi perilaku yang berbeda. akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai. 2. Setting Penelitian .1. k. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau. Tujuan yang diakui Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa. 3. Menggunakan berbagai macam untuk mengajar. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik. 4. C. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Dengan mengunakan metode layanan Konseling Kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar Matematika siswa kelas XI IPA 1 Semester ganjil SMA Yasmida Ambarawa tahun pelajaran 2010/2011” BAB III METODE PENELITIAN A. maka akan timbul gairah untuk terus belajar. karena diras asangat berguna dan menguntungkan.

Dari kelompok yang ada. Cara ini dilakukan untuk mempermudah adanya kerja sama setiap anggota. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap penelitian tindakan bimbingan konseling yang terdiri dari perencanaan. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti dan untuk kelancaran penelitian ini. semester ganjil tahun ajaran 2010 / 2011. dan diikuti dengan pengamatan yang sistematik terhadap hasil tindakan yang dilakukan (observasi) dan refleksi yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan dan kemudian diulangi lagi dari tahapan awal perencanaan tindakan berikutnya (Suharsimi Arikunto. Waktu penelitian selama 1 bulan kurang yaitu tiga minggu dengan jumlah siswa sebanyak 10 siswa terdiri dari 2 orang siswa laki-laki dan 8 orang siswa perempuan yang tergabung dalam 1 kelompok konseling. Dengan pemberian layanan konseling kelompok diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa. pelaksanaan tindakan.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan bimbingan konseling yang dilaksanakan di kelas XI IPA 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) Yasmida Ambarawa Kabupaten Pringsewu. memiliki latar belakang penyebab rendahnya motivasi belajar yang heterogen. peneliti dibantu oleh seorang guru sebagai mitra sejawat yang akan membantu penelitian dalam melakukan observasi tindakan bimbingan konseling pada saat penelitian dilakukan . 2009 : 16) Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus I Pengamatan (observasi) dan Evaluasi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus II Pengamatan (observasi) dan Evaluasi .

Adapun pelaksanaannya antara lain : Menyusun jadwal konseling. Bagan Siklus Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling B.Refleksi Perencanaan Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Pengamatan (observasi) dan Evaluasi Refleksi Siklus III Gambar 1. satuan layanan konseling kelompok pada setiap siklus dan metode konseling yang digunakan pada upaya peningkatan motivasi belajar yakni pendekatan eksistensial humanistik. perangkat pembelajaran berupa need asesment. Menyusun rencana tindakan perbaikan motivasi siswa berupa skala penilaian yang akan digunakan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi dan analisis terhadap hasil pembelajaran pada siklus sebelumnya. 2. Gambaran Umum Penelitian Penelitian tindakan bimbingan konseling ini dilaksanakan dalam tiga siklus selama kurang dari satu bulan yaitu tiga minggu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. dan terapi tingkah laku. Rincian Prosedur Penelitian . Prosedur Penelitian 1.

b) Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan adalah perlakuan yang dilaksanakan peneliti berdasarkan perencanaan yang telah disusun. Membuat need assesment. f. Dimana bukan hanya berisi tentang tujuan yang harus dicapai tetapi juga harus lebih ditonjolkan perlakuan khusus yang harus diberikan. Pada tahap ini langkah-langkahnya sebagai berikut : a. Membuat modul/rangkuman materi yang akan diberikan ke siswa yakni motivasi belajar. Tahap-tahap tersebut merupakan tahap perencanaan. Tindakan adalah perlakuan yang dilaksanakan oleh peneliti sesuai dengan fokus masalah. h. pengamatan (observasi) dan refleksi. g. Membuat satuan layanan konseling kelompok. a) Perencanaan Dalam tahapan ini disusun perencanaan pembelajaran untuk perbaikan pembelajaran. Tindakan ini adalah inti dari penelitian. d. c. sebagai upaya meningkatkan kinerja guru untuk menyelesaikan masalah. Menyiapkan permainan. Memilih video yang sesuai untuk dapat memotivasi siswa. b. . Menyusun alat evaluasi (skala penilaian). Menganalisis efektifitas waktu belajar. pelaksanaaan. Menyiapkan lembar observasi. e.Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus dengan masing-masing siklus dilaksanakan dalam empat tahap.

d. d. b. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal .Tahap pelaksanaan tindakan meliputi langkah-langkah sebagai berikut : a. Tahap pengakhiran. Melalui observasi peneliti dapat mencatat berbagai kelemahan dan kekuatan yang dilakukan guru dalam melaksanakan tindakan. Adapun hal-hal yang diamati meliputi : a. f. Tahap pemulaan. Pengamatan dilakukan oleh guru yang dibantu oleh rekan sejawat atau guru mitra selama proses kegiatan konseling berlangsung. h. sehingga hasilnya dapat dijadikan masukan ketika peneliti melakukan refleksi untuk penyusunan rencana ulang memasuki putaran atau siklus berikutnya. c. Tahap transisi. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu) g. Tahap kegiatan sharing yang merupakan inti proses konseling. Ketekunan menghadapi tugas Ulet menghadapi kesulitan. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. c). b. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah Lebih senang bekerja sendiri Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin. yaitu proses pembentukan interaksi. Hal-hal yang berulang begitu saja sehingga kurang kreatif. yaitu upaya penumbuhan minat bersama dalam Konseling. c. Pengamatan (observasi) Observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan peneliti sesuai dengan tindakan yang telah disusun. e. yaitu membuat suatu kesimpulan.

2). Dari hasil refleksi.d). judul baris. Refleksi dilakukan dengan melakukan diskusi dengan observer yang biasanya dilakukan oleh teman sejawat. masih ditemukan kekurangan dari segi peneliti maupun yang diteliti. sehingga dapat dijadikan dasar dalam penyusunan rencana ulang. maka data tersebut perlu disajikan dalam berbagai bentuk penyajian. dan sumber data. Mengelola waktu belum efektif c.2009:115) . Setelah melakukan proses pembelajaran. Guru belum mampu motivasi siswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang menggangu konsentrasi belajarnya. Analisa Data Agar setiap data dapat memberikan informasi yang jelas sehingga mudah dipahami. Kekurangan tersebut misalnya : a. Biasanya sebuah tabel terdiri atas judul kolom.Refleksi Refleksi adalah aktivitas melihat berbagai kekurangan yang dilaksanakan peneliti selama tindakan. Data dalam bentuk tabel Tabel adalah bentuk penyajian data untuk mengambarkan keadaan sesuatu. Proses konseling kelompok belum bisa merasakan empati antar konseli 3. guru dapat mencatat segala kekurangan yang perlu diperbaiki. Bentuk-bentuk penyajian data yang digunakan antara lain : 1). Data dalam bentuk Diagram atau Grafik Grafik dapat memvisualkan perkembangan sesuatu dalam kurun waktu atau setiap kegiatan. b. (Sanjaya wina.

Teknik analisis data dalam PTK dapat dilakukan dengan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. (Sanjaya wina.2009:107) . Analisis data kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses konseling khususnya berbagi tindakan yang dilakukan peneliti sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk peningkatan motivasi belajar matematika siswa sebagai pengaruh dari setiap tindakan yang dilakukan peneliti. Mendeskripsikan data sehingga data yang telah diorganisir menjadi bermakna. 2). Analisis data dapat dilakukan dalam tiga tahap : 1). 3). Reduksi Data yaitu kegiatan menyeleksi data disesuaikan dengan fokus masalah. Membuat kesimpulan berdasarkan deskripsi data.