You are on page 1of 17

AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF LIBERAL.

A. Teks bahasa (al-qur’an) dan muatan sakralitas.
Sebelum beranjak pada bahasa Al-Qur’an,

ada

baiknya

disini

dikemukakan cerita-cerita tentang sakralisasi teks Al-Qur’an. Salah satu
‘ketentuan agama’ yang biasanya diajarkan waktu di pondok tradisional adalah
bahwa kita tidak boleh sekali-kali menyentuh mushaf Al-Qur’an dalam keadaan
tidak suci. Itu melanggar larangan Allah. Di daerah tertentu, bahkan bukan hanya
pada teks bahasa Al-Qur’an saja, teks-teks Arab pun juga diyakini memiliki nilai
magis, semisal rajah (jimat, madura) semacam tulisan bahasa Arab dengan
komposisi tertentu yang mempunyai kekuatan magis. Syahdan, beberapa jenis
tertentu dari ‘resep sakti berhuruf Arab gundul’ itu, yang tentunya juga bersumber
dari agama, tidak boleh dibawa saat kita sedang punya hajat di kamar kecil. Jika
ternyata kita sampai melakukannya, keampuhannya akan serta-merta menguap
dan memudar.salah-salah, kita sendirilah yang kena kualat dan harus
menanggung resikonya; entah mendadak sakit, entah kerasukan, atau sekedar
tertimpa sial tertentu.
Begitulah, realitas yang sedang bergulir di tengah masyarakat kita, meski
sudah mengalami berbagai perubahan, bahkan distorsi, keyakinan-keyakinan itu
masih terus berkanjut hingga sekarang. Pada saat bersamaan, mereka sama
sekali tak pernah hirau dan seolah tak punya persoalan sama sekali dalam hal
perlakuan terhadap barang-barang cetakan yang bertuliskan huruf-huruf selain
Arab, seperti majalah, buku sekolah, koran atau semacam nya.
Oleh karena itu, barangkali mereka akan terkejut jika diberi tahu bahwa
sekarang ini Al-Qur’an juga telah dijadikan unit-unit informasi digital yang
letaknya dicampur adukkan begitu saja dan bahkan disimpan di situs-situs
internet bersama gambar-gambar lelaki-perempuan telanjang. Juga dicampur
dengan aneka ragam adegan-adegan persenggamaan paling liar dalam segala
posisi, menurut gaya berbagai benua, yang bisa diakses kapan saja, lewat
sebuah layar monitor dan kita bisa berpindah-pindah kesana kemari hanya
mengklik sebuah tombol mouse saja.
Dalam istilah yang lebih keren, apa yang menjadi keyakinan mereka itu
sebenarnya adalah suatu bentuk sakralisasi terhadap teks (bahasa). Jika benar
1

baik kata wedus itu ada atau tidak. yakni wahyu Allah. didepan manusia. bahasa merupakan media yang dapat merepresentasikan kenyataan tadi secara obyektif. apa adanya. suatu daftar istilah yang mewakili sejumlah hal atau benda-benda. Dan bahwa. teks sebagai bahasa tertulis. untuk kasus Al-Qur’an. Sehingga. lalu dipahami sebagai alat konkretisasi bagi apa 2 . perbedaan sebutan: kambing. Semakin tinggi nilai kenyataan yang di representasikan oleh bahasa. sedang bahasa dipahami sebagai media representasi objektif dari kesunyatan. sakralisasi ini. Teks kitab kuning dan rajah memiliki kesakralanya sendiri-sendiri menurut tingkat yang berbeda. keberadaan kenyataan tidak ditentukan oleh bahasa. Dalam kaitan dengan pemahaman bahasa dan kenyataan demikian inilah. diluar bahasa. kenyataan-kebenaran. dan bahwa representasi kenyataan melalui bahasa pun tidak mempengaruhi obyektifitas dari keberadaan kenyataan tadi. memang betul-betul dipahami sebagai pengertian yang merujuk pada suatu entitas biologis diluar kata itu. wacana diartikan sebagai wilayah dimana pesan-pesan lisan beroperasi. teks lebih dimengerti sebagai bahasa tertulis. ghanam. qiyamuhu bi nafsihi. apa adanya. Dalam kerangka teks yang dimengerti sebagai bahasa tertulis ini. karena ia dianggap sebagai bentuk representasi obyektif dari kesunyatan mutlak. Dalam kalimat lain. goat. kata whedus (kambing-jawa).demikian. misalnya. Teks Al-qur’an harus dilakukan sedemikian rupa. tanpa imbasimbas subyektif. tidaklah mengubah sesuatu. Dalam konsep begini. Bahasa adalah tata nama. sehingga sebagai kenyataan ia tetap kita tangkap secara obyektif. Dan bahwa berkat kesamaan obyek rujukan diluar bahasa. menurut pandangan ini. Kata orang-orang linguistik. semakin sakral pula sebuah teks. kenyataan diyakini sebagai benarbenar maujud. Asumsinya. sekali lagi. atau apapun. karena apa yang dikandungnya. seperti yang terjadi pada deskrepsi masyarakat diatas. Wedus sebagai kenyataan akan tetap ada. Lebih jauh lagi. embi’ (madura). jika ditelusuri sebetulnya berkait dengan pemahaman tertentu atas bahasa dan manifestasinya. sakralisasi itu juga berlangsung melalui pelajaran ilmu tajwid dan makhraj yang kemudian telah menjadi hukum agama tersendiri dengan segala sangsinya. karena itu. ada dan berdiri sendiri secara penuh. memang telah ada gagasan sebelum ada kata.

Ia menyatakan: “Sayang sekali kritik-kritik filsafat tentang teks-teks suci – yang telah diaplikasikan kepada bible ibrani dan perjajian baru. dan keserjanaan muslim tidak berani menempuh penelitian seperti itu sekalipun penelitian tersebut akan menguatkan sejarah mushaf dan teologi wahyu. Sejalan dengan itu teks juga dipahami sebagai suatu yang utuh. Ia adalah penambat apa yang terus bergerak dan pengungkap apa yang tersembunyi gampangnya.yang abstrak. inilah yang menjadi pendorong munculnya sakralisasi teks kebahasaan. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku. sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi negatif untuk ide wahyu terus ditolak oleh pendapat keserjanaan musli. maka otomatis jalan menuju kebenaran sejati akan menjadi runyam jadinya. Karena itu pula teks kemudian diyakini memiliki kesatuan makna.” Menurut Mohammad Arkoun. otonom. B. ia adalah benda berkekuatan gaib. yang bisa membuat kenyataan yang semula tak terbatas menjadi terbatasi. Al-Qur’an Mohammad dan Analisis Teks Bahasa dan Metodologi Studi Arkoun Sastra Al-qur’an. bahkan fisikalisasi bagi apa yang bersifat metafisis. termasuk alqur’an menjadi suatu keniscayaan. Mohammad Arkoun sangat menyayangkan jika sarjana muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Selain itu. lebih dari upaya penemuan. Dan itulah kebenaran. termasuk juga bahasa Al-Qur’an sebagai bahasa tertulis. Karya-karya madzhab jerman terus ditolak. yakni demi merengkuh kebenaran yang sejati. Kiranya. aktifitas membaca pun lalu menjadi ikhtiar untuk menemukan kesatuan makna tadi. tersimpan makna tunggal yang abadi. Tidak heran. tulis mohammad arkoun. Di balik keanekaan penanda teks yang fana. Akibat menolak pandangan muktazilah. yang tidak berubah-ubah. Sebab begitu ia rusak. teks juga mesti dipelihara dari segala bentuk pencemaran. Psikologis karena pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan al-qur’an di dalam waktu gagal. kaum muslimin menganggap 3 . pembacaan lalu menjadi usaha untuk mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran sejati yang tak berubah-ubah itu. sarjana muslim menolak menggunakan metode ilmiah karena alasan politis dan psikilogis. Konsekuensinya.

Menurut Mohammad Arkoun. studi al-Qur’an sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bible (Qur’anic studies lag considerably behind biblical studies to which they must be compared). maka dalam pandangan Mohammad Arkoun. Mohammad Arkoun berkata: “Intervensi ilmiah wansbrough menemukan tempatnya di dalam framework yang saya usulkan. melalui pendekatan sistmatis lintas-budaya terhadap masalahmasalah fundamental. Ia berpendapat metodologi John Wansbrough memang sesuai dengan apa yang selama ini memang ingin ia kembangkan. Masalah-masalah tersebut dibuat pemikir muslim ortodoks. Framework tersebut memberikan prioritas kepada metode-metode analisa sastra. ditabukan. Untuk mengubah “tak terfikirkan” (unthinkable) menjadi “tefikirkan” (thinkable). pendekatan historisitas. Tegasnya. Kedua. Baginya. maka semua diskursus tadi akan menjadi diskursus terbuka. mushaf ‘utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan “tak terfikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi.bahwa semua halaman yang ada di dalam mushaf adalah kalam ilahi. dekonstruksi (membongkar) adalah sebuah ijtihad. Mohammad Arkoun mengusulkan supaya mebudayakan pemikiran liberal (free thinking). Akibat menolak biblical criticism. pemikiran liberal merupakan tanggapan kepada dua kebutuhan makro. Menurutnya. dekonstruksi akan memperkaya sejarah pemikiran dan akan mendinamisir pemikiran islam kontemporer. yang dianggap juga sebagai emanasi langsung dari Lawh al-mahfudz. jika dekonstruksi. Dalam pandangan Mohammad Arkoun. Seperti bacaan antropologis-historis. mengiring kepada disiplin-disiplin lain dan sebuah tingkat refleksi yang tidak terbayangkan di dalam konteks fundamentalis saat ini. Mohammad Arkoun mencapai pemikiran libeal dengan dekonstrusi. dn semua itu diklaim sebagai sebuah kebenaran. sekalipun berasal dari 4 . Pertama. dibatsi. Al-qur’an yang ditulis dijadikan identik dengan al-qur’an yang dibaca. kaum muslimin perlu memikirkan masalah-masalah yang selama ini tidak pernah terfikirkan. dilarang. Masalah-masalah yang selama ini telah ditekan. pemikiran kontemporer perlu membuka wawasan baru.

sekalipun muslim ortodoks menganggap pendekatan tersebut sebagai tak terpikirkan (impesible). serta mengandung kebenaran tertinggi. Mohammad Arkoun sangat menyadai jika pendekatan historisitas akan menantang segala bentuk pensaklaran dan penafsiran transenden yang dibuat teolog tradisional. Mengenai wahyu. menurut arkoun. dalam istilah Arkoun dinamakan “edisi dunia” (editions terrestres). Peringkat kedua adalah berbagai kitab termasuk bible dan al-qur’an berasal. pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam semua sejarah umat manusia. 5 . Peringkat kedua ini. pada peringkat ini wahyu telah mengalami modifikasi. pendekatan tersebut dapat memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang al-Qur’an. namun pendekatan tersebut bukan hanya sesuai untuk warisan budaya barat saja. kebenaran absolut ini di luar jangkauan manusia. Dalam pandangan Mohammad Arkoun. Pada peringkat pertama (Umm al-Kitab). periode kedua. Menurut Arkoun. dan substitusi. Arkoun membaginya dalam dua peringkat. Menurutnya. yang mengangkat statusnya menjadi kitab suci. Wahyu hanya dapat diketahui oleh manusia melalui bentuk pada peringkat kedua. Bagi Arkoun. Metodologi tersebut adalah ijtihad. namun ia justru percaya jika pendekatan tersebut akan memberikan akibat yang baik terhadap al-qur’an. periode pertama berlangsung ketika pewahyuan (610-632 H). Pendekatan tersebut adalah baik karena membongkar lapisan-lapisan konsep al-Qu’an yang sudah mengendap lama dalam pandangan geologis kaum muslim ortodoks yang membeku.barat. Padahal. Peringkat pertama adalah apa yang disebut al-qur’an sebagai Umm al-Kitab (induk kitab) (al-Qur’an). Menurutnya lagi. Namun. karena bentuk wahyu yang seperti itu diamankan dalam lawh mahfudz (preserved tablet) dan tetap berada bersama dengan tuhan sendiri. sekalipun dalam berbagai hal mengguncang cara berfikir konvensional. tidak terikat waktu. Arkoun membaginya menjadi tiga periode. revisi. wahyu bersifat abadi. konsep al-Qur’an merupakan hasil pembakuan dan pembekuan tokoh-tokoh histories. dalam pandangan Arkoun. tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks histories. Mengenai sejarah al-Qur’an.

dimana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke 4 H / 10 M. Tetapi muslim ortodoks meninggikan korpus ini ke dalam sebuah status sebagai firman Tuhan. yaitu kebenaran wahyu hanya ada pada level di luar jangkauan manusia. Arkoun berpendapat bahwa mushaf itu tidak layak untuk mendapatkan status kesucian. tetapi bentuk itu sudah hilang selama-lamanya dan tidak mungkin ditemukan kembali. pendekatan historitas yang diterapkan Arkoun justru menggiringnya kepada sesuatu yang ahistoris. Ia juga mengakui kebenaran dan kredibilitas bentuk lisan al-qur’an. tidak seperti dalam bentuk tulisan. Sebabnya. Arkoun berpendapat status al-qur’an dalam bentuk tulisan telah berkuarang dari kitab yang diwahyukan (alkitab al-muhi) menjadi sebuah buku biasa (kitab ‘adi). lebih autentik. Arkoun menamakan periode pertama sebagai prophetic discourse (diskursus kenabian) dan periode kedua sebagai Official Closed Corpus (Korpus Resmi Tertutup). Pendekatan historitas Mohammad Arkoun justru menggiringnya untuk menyimpulkan sesuatu yang ahistoris. alqur’an terbuka untuk semua arti ketika dalam bentuk suatu lisan. Berdasarkan pada kedua periode tersebut. sekarang dan akan datang meyakini kebenaran alQur’an mushaf utsmani. Muhammad Arkoun mengakui kebenaran Umm al-kitab. dan lebih dapat dipercaya dibanding ketika dalam bentuk tertulis. sepanjang zaman fakta historis menunjukkan.berlangsung ketika koleksi dan penetapan mushaf (12-324 H/632-936M) dan periode ketiga berlangsung ketika masa ortodoks (324 H/936 M). Padahal. kaum muslimin dari sejak dulu. Sesuatu yang tidak mungkin dicapai kebenarannya oleh kaum muslimin. 6 . Pemikiran Mohammad Arkoun yang liberal telah membuat paradigma baru tentang hakekat teks al-qur’an. Arkoun membedakan antara periode pertama dan periode kedua. dalam periode diskursus kenabian. arkoun mendevinisikan al-qur’an sebagai “sebuah korpus yang selesai dan terbuka yang diungkapkan dalam bahasa arab. al-qur’an lebih suci. Menurut Arkoun. hanya ada pada Tuhan sendiri. Jadi.

digunakan Karena oleh para intelektual barat dalam memahami Bibel. para Liberalisdalam hal ini telah mengadopsi pemikiranpemikiran Orientalis yang berupaya memahami al-Qur’an dengan pendekatan konflik dan menganggap al-Qur’an pendekatan hermeneutika merupakan itu metode bukan yang Wahyu. yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1970. Ironisnya. Agenda untuk meragukan keabsahan dan keotentikan al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Menurut JIL. Mereka juga menyalahkan metodologi ulama dahulu yang mengontrol kebenaran wahyu dengan menggunakan analisis grammar dan yang berhubungan dengan bahasa. Al-Qur’an Adalah Produk Budaya. Zwemmer yang berjudul Islam: A Challenge to Faith. Karena strategi ini akan membongkar dan menggerogoti sumber-sumber muslim tradisionil yang meyakini kesucian kitab al- Qur’an. Bukan Kitab Suci. Karena bersifat kritis. meskipun dengan cara yang lebih halus dari apa yang dilakukan oleh Zwemmer. 7 Artinya. Menurut para aktivis JIL al-Qur’an adalah teks. Bila diperhatikan sekilas memang tawaran JIL disini termasuk tawaran yang dapat menebar pesona dalam konteks ilmiah. mereka menawarkan dekontruksi sebagai sebuah strategi terbaik. memang telah lama digarap secara serius oleh kalangan orientalis dan missionaris Kristen. dimana saat memahaminya seseorang harus berangkat dari keragu-raguan. upaya untuk meragukan al-Qur’an juga muncul dikalangan aktivis JIL.C. Dengan pendekatan hermeneutika kita dapat mengetahui bukan makna literal saja dari al-Qur’an. Mushaf Usmani sebenarnya hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat. tetapi juga semua makna al-Qur’an dari berbagai aspek. Untuk tujuan itu. dan cara terbaik dalam menggali teks adalah pendekatan hermeneutika. Tetapi secara tanpa sadar. sejarah al-Qur’an hingga menjadi “kitab suci” dan “autentik” perlu dilacak kembali. dengan menerapkan . Hal itu misalnya dapat dilihat dalam buku karya Samuel M. Menurut mereka.

Ketika hermeneutika dipakai dalam menafsirkan al-qur’an. Awalnya.dan memalingkan arti teks Al-Quran dengan dalih hermeneutika. Yang dikhawatirkan dalam pendekatan hermeneutika terhadap alQur’an ialah sang penafsir akan menerapkan metode kajian Bibel untuk alQur’an. Hal ini terjadi karena adanya spirit yang inheren dalam hermeneutika itu sendiri. persoalannya menjadi lain. Tiga hal tersebut ialah: 8 . ulama tafsir klasik pun telah menggunakan kajian Asbabun Nuzul yang memberi konteks dari turunnya sesuatu ayat. Sebenarnya mengkaji Al-Quran sebagai teks dengan konteks bukanlah sesuatu cara yang terlalu baru. dan teks Bibel yang ditulis oleh orang-orang yang hidup beberapa lama setelah Nabi Isa. Sebab. Apalagi istilah hermeneutika pun mempunyai banyak makna. Sesungguhnya. dan ada makna pada tataran sosiologis dan historis. Ada makna pada tataranfilosofis. para Teolog Yahudi dan Kristen mempertanyakan apakah Bibel itu kalam Tuhan atau produk manusia? Ini karena banyaknya versi bibel dengan pengarang yang berbeda. dan saling bertentangan. Padahal terdapat perbedaan sangat kontras antara status teks Al-quran yang selamanya orisinal sebagai wahyu Allah. setidaknya ada tiga persoalan besar ketika hermeneutika diterapkan pada teks al-qur’an.pendekatan hermeneutika berarti seseorang tidak meyakini lagi kebenaran alQur’an.

sebenarnya bertentangan dengan anjuran penggunaan hermeneutika itu sendiri. kalau kitab-kitab klasik tidak diperlukan lagi. dan memahami konteks masyarakat mereka. menimbulkan berbagai pertanyaan. karenanya kebenaran tafsir sangat relatif. karena komunikasi dengan pemikiran para mufasir klasik itu sangat diperlukan justeru antara lain untuk memahami konteksnya.  hermeneutika sangat plural. Karena sudah jelas metode yang mereka tawar diadopsi dari Orientalis dan Missionaris. dan apa motif dibalik gerakan mereka? Jangan-jangan kampanye aktivis JIL yang semakin berani dan terbuka ini merupakan pesanan Orientalis dan Missionaris. hermeneutika menghendaki sikap yang kritis. Dalam memahami al-qur’an. Dan karenanya wajar saja ada fatwa tentang kemurtadan orang-orang JIL karena meragukan kebenaran al-Quran. pendekatan hermeneutika sangat tidak sejarah tepat lahir dibawa dan dalam memahami al-Qur’an. sebab Bibel wajar saja diragukan keabsahannya karena kandungan isinya saling kontradiksi akibat ulah pendetapendeta Nasrani yang merubah-rubah isinya yang dilatarbelakangi oleh sikap dengki terhadap kenabian Muhammad .  hermeneutika cenderung memandang teks sebagai produk manusia. Jadi. Bila diteliti. dan mengabaikan sifat transedentalnya. karena kebenaran al-Qur’an tidak boleh diragukan. kelompok JIL juga mengajak ummat Islam untuk meninggalkan kitab-kitab tafsir klasik. 9 . Dari berbagai kerancuan yang terdapat dalam gagasan JIL tentang metode memahami al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutika. ajakan tersebut adalah pertanda kerancuan berpikir yang sangat jelas. Dari uraian diatas. Dan pemahaman konteks itu adalah anjuran dari hermeneutika. bila dilihat dari metodenya. dan meninggalkan tafsir-tafsir lama. Sisi inilah yang membedakan al-Qur’an dan Bibel. siapa sebenarnya mereka.

yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah. Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler.  Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi. difilter. Yang terjadi justru sebaliknya. 10 . apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. banyak penantang dan penentang. bukan sebaliknya. dimana banyak yang menantang dan menentang. Inilah cara manusia menentang al-qur’an zaman sekarang. Oleh mereka. Mereka meragukan orisinalitas serta konsep-konsep al-Qur’an. Atas dasar ini. Kalau sesuai. dan juga faham-faham humanisme. bahasa. Tak heran terjadi benturan-benturan di sepanjang zaman. Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat. Kondisi tersebut juga terjadi pada masa sekarang ini.Selanjutnya bila dilihat dari ungkapan mereka yang saling bertentangan satu sama lainnya. dipakai. maka tidak salah kalau sebagian orang mengklaim bahwa sebenarnya orang-orang JIL itu tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Beritanya sebagai berikut. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia.  Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang alQur’an ini melahirkan hermeneutika. Tak heran pola pikirnya jadi salah dan kacau. dimana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu manusia. pluralisme. E. dan budaya yang terbatas.  Para penentang al-Qur’an ini memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Azasi Manusia (HAM). D. gender. sangatlah disayangkan sikap sebagian intelektual muslim sekarang ini yang membela dan memuji JIL sebagai kelompok pembaharu Islam. yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam. orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat. lebih tepatnya ilmu dari dunia Barat. Menghancurkan Islam dan al-qur’an dengan Hermeneutika Saat pertama kali al-qur’an muncul. Inilah yang melahirkan Islam Liberal.

juga menghadirkan Saifuddin Zuhri. dan juga faham-faham humanisme. DR. jika ingin maju. acara yang diadakan oleh Majelis Dai Paguyuban Ikhlas pimpinan Ustaz Drs. Fahmi Salim.” tegas Fahmi. maupun minuman keras. dan Mulyana. Jakarta Pusat. judi. dalam Kajian Islam bertema “Kontroversi studi al-Qur’an Timur dan Barat” di Gedung Ikhlas. “Tak heran pola pikirnya jadi salah dan kacau. hak waris. H. Lc. kata Wasekjen MIUMI. lebih tepatnya ilmu dari dunia Barat. bukan sebaliknya. Oleh mereka. poligami. dimana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu manusia. perkawinan beda agama. para penentang al-Qur’an ini memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Azasi Manusia (HAM). Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat. yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam. Mereka berpikir. Inilah yang melahirkan Islam Liberal. Fahmi mengatakan.“Mereka yang menantang dan menentang itu menolak diintervensi oleh Allah. 11 . Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang al-Qur’an ini melahirkan hermeneutika. seperti ayat tentang jilbab. pluralisme. “Praktik hermeneutika ini tebang pilih. maka harus berkiblat ke Barat”. dan budaya yang terbatas. Mereka yang berfaham Islam Liberal memandang al-Qur’an bukan sebagai kitab suci wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah. Selain Fahmi. yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah. perkawinan sejenis. gender. bahasa. Oleh karena dianggap sebagai teks sejarah belaka. Mereka memandang al-Qur’an sebagai sebuah teks sejarah. tak heran hukum-hukum Islam yang ada sudah dianggap tidak tepat lagi pada masa kini. Tanah Abang. Abdul Muid Nawawi. Inilah yang membuat Islam didekonstruksikan oleh mereka dan banyak orang yang menjadi bimbang. Ini jelas terbaca. Mereka hanya menafsir ayat-ayat untuk pranata sosial. dan kemudian sesat. Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler. Ahmad Yani.

Padahal umat Islam mengenal dengan otoritas. feminisme. ketika kita bicara agama. Kalau sesuai. maka kita berbicara otoritas. orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat. Yang terjadi justru sebaliknya. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia” katanya. dan liberal yang mendekonstruksi hukum Islam ini membuat umat Islam masa kini galau. Pegiat-pegiat HAM. lalu sepatu yang dicopot sebentar untuk menghapus lafal Allah itu dipakainya lagi. ilmu Allah diturunkan pada manusia. STAIN dan lainnya di seluruh Indonesia. humanisme. Lewat Rasulullah.bahwa mereka punya agenda untuk mendekontruksi hukum Islam dan ingin mengatakan. Jika kita menentang otoritas. mau tak mau umat jadi terbawa ke arah kesesatan. Al-qur’an menurut liberal dipasarkan melalui perguruan tinggi Islam di Indonesia Penentangan terhadap Al-Qur’an dengan cara seperti itulah yang dipasarkan di perguruan tinggi Islam di Indonesia yakni IAIN. F. UIN. apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. itu sama saja kita menentang Allah. Mereka menjadi krisis identitas. 12 . “Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi.” papar Fahmi. Seperti yang dilakukan oleh dosen Sulhawi Ruba di IAIN Sunanan Ampel Surabaya beberapa waktu yang lalu. dipakai. dia menulis lafal Allah di papan tulis. Sementara teori-teori dari hermeneutika yang dikembangkan ini dianggap masuk akal. Allah adalah otoritas kita. dan belakangan disusul pula oleh dosen di STAIN Jember Jawa Timur. Makanya jangan heran kalau ada dosen yang di hadapan para mahasiswanya mendemonstrasikan penentangannya terhadap Allah Ta’ala dengan menulis lafal Allah (tulisan Arab) lalu sengaja menginjaknya pakai sepatu. Berbeda sekali dengan Barat yang menentang otoritas. Intinya. lalu dia hapus pakai sepatunya. difilter. Islam jangan mengatur hidup manusia. Otoritas Allah diturunkan pada Rasulullah.

Itu saja. kembali ke Islam yang benar. Para ulama atau siapa saja yang mengerti Islam dan mampu untuk berupaya mengatasinya. Siapa yang rela terhadap penentangan Islam apalagi secara sistematis seperti itu. tentu akan mendatangkan murka Allah Ta’ala. Apalagi yang melakukan bahkan melariskannya atau bahkan mencari tenaga-tenaga untuk lebih merusak Islam lagi. para pengusung bid’ah dan pembela kesesatan walaupun berpenampilan seshalih apapun. maka daftar catatan amal telah tersedia. Jakarta 2005. Pustaka Al-Kautsar. Di Indonesia ini. namun diam saja. kelak di akherat tinggal menyesal belaka. kenapa gerombolan liberal itu semakin ngelunjak. Padahal sama-sama merusak Islam.Begitulah penentangan dan penghinaan terhadap Islam. di antara faktornya adalah karena mereka juga tahu. tapi kalau berkecimpungnya di lingkungan yang lain maka bisa disebut wali. Bukan menjadikan hawa nafsu sebagai panglima. sejatinya juga tidak jauh beda dengan mereka. walaupun sampai mencapai title professor doktor. Yang mengusung dan mempertahankan bid’ah. Yang memasarkan faham liberal yang merusak Islam. LDII. Bedanya. apalagi pura-pura tidak tahu. Ahmadiyah dan semacamnya. mereka tidak ada yang disebut wali. kembali ke Islam yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 13 . sebagaimana telah ditulis dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN. dan bahkan lebih asyik membela aliran sesat seperti syiah. dan itulah sejatinya pemurtadan lewat perguruan tinggi Islam di Indonesia. Betapa menyesalnya kelak bila mereka tercatat sebagai ulama su’ (jahat) namun berpenampilan shalih.karya Hartono Ahmad Jaiz. maka insya Allah benar-benar berdosa pula. Maka sebaiknya mereka bertaubat. sambil mengkampanyekan aneka bid’ah. Sehingga antara yang liberal yang merusak Islam secara sistematis tersebut dengan yang mengusung dan mempertahankan atau membela aneka bid’ah pakai aneka dalih.

penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang Al-Qur’an ini melahirkan hermeneutika. lanjut Fahmi. Oleh mereka. bahasa. ingin memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Asasi Manusia (HAM). DR Abdul Muid Nawawi dan Mulyana Lc. Meski dikemas sedemikian 14 . Sabtu (31/3/2012). Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat. Tanah Abang. Inilah yang melahirkan Islam Liberal. lebih tepatnya ilmu dari dunia Barat. “Mereka yang menantang dan menentang itu menolak diintervensi oleh Tuhan.G. lanjut Fahmi.” jelasnya di acara yang diselenggarakan oleh Majelis Dai Paguyuban Ikhlas itu. Hal itu diungkapkan Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Narasumber lain dalam acara yang berlangsung di Gedung Ikhlas. yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah. jalan Fachrudin no 6. Kondisi tersebut juga terjadi pada masa sekarang ini. di mana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu humaniora. gender. “Tak heran pola pikir mereka jadi salah dan kacau. Majelis ini dipimpin oleh dai kondang Ustadz Drs H Ahmad Yani. Jakarta Pusat itu adalah Saifuddin Zuhri (dosen Institut PTIQ Jakarta). Fahmi Salim MA dalam acara Kajian Islam bertema “Kontroversi Studi Al-Qur’an Timur dan Barat” di Jakarta. pertama kali Al-Qur’an muncul. jika ingin maju. masyarakat jahiliyah banyak menantang dan menentang. bukan sebaliknya. dan budaya yang terbatas. Para penentang Al-Qur’an ini. pluralisme. Mereka meragukan orisinalitas serta konsep-konsep Al-Qur’an. di mana banyak yang menantang dan menentang. Tak heran terjadi benturan-benturan di sepanjang zaman. dan juga faham-faham humanisme. maka harus berkiblat ke Barat. Mereka berpikir.” papar penulis buku Kritik terhadap Studi Al-Qur'an Kaum Liberal itu Saat ini. KAUM LIBERAL MERUSAK ISLAM DAN AL-QUR’AN DENGAN CARA BARAT.

mau tak mau umat jadi terbawa ke arah kesesatan. Islam jangan mengatur hidup manusia. judi. apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. “Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler dan tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam. Inilah yang membuat Islam didekonstruksikan oleh mereka dan banyak orang yang menjadi bimbang. feminisme. Mereka menjadi krisis identitas. teks budaya dan teks bahasa. humanisme. perkawinan beda agama. Sementara teori-teori dari hermeneutika yang dikembangkan ini dianggap masuk akal.menarik seolah-olah ilmiah. perkawinan sejenis. Oleh karena dianggap sebagai teks sejarah belaka. dan kemudian sesat.” terang Fahmi. bahwa mereka punya agenda untuk mendekonstruksi hukum Islam dan ingin mengatakan. Mereka hanya menafsir ayat-ayat untuk pranata sosial. Ini jelas terbaca. hermeneutika bertentangan dengan konsep Islam karena dikembangkan oleh kaum sekular barat. seperti ayat tentang jilbab. Mereka memandang Al-Qur’an sebagai sebuah teks sejarah. difilter. "Pandangan rusak seperti itu hanya mungkin terjadi jika kita umat Islam telah menganggap Islam itu sebagai agama budaya dan sejarah (cultural and historical religion) seperti halnya agama Kristen". Pegiat-pegiat HAM. Fahmi mengingatkan. maupun minuman keras. hak waris. tegas Fahmi Salim. maka tak heran hukum-hukum Islam yang ada sudah dianggap tidak tepat lagi pada masa kini. Yang terjadi 15 . poligami. pangkal kesesatan orang-orang berfaham Islam Liberal adalah memandang Al-Qur’an bukan sebagai kitab suci wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW. “Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi. dan liberal yang mendekonstruksi hukum Islam ini membuat umat Islam masa kini galau. “Praktik hermeneutika ini tebang pilih.” tegasnya.

Berbeda sekali dengan Barat yang menentang otoritas. maka kita berbicara otoritas. Al-baqarah {2}: 106). PROBLEMA NASKH AL-QUR’AN. c. 1. Jika kita menentang otoritas. Ma nansakh min ayatin tidak pasti menunjuk kepada nasakh ayat al-qur’an. Otoritas Allah diturunkan pada Rasulullah.AnNahl {16}: 101). Firman allah swt.justru sebaliknya orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat.S. Pendapat pendapat muhaqqiqin mengenai naskh al-qur’an. dipakai. Padahal umat Islam mengenal otoritas. 16 . Alasan alasan jumhur ulama menolak pendapat Abu Muslim telah dikupas oleh beberapa ahli untu mempertahankan pendiriabn Abu Muslim dan memperlihatkan kelemahan pendirian jumhur sebagai berikut: a. Firman allah swt: “dan apabila kami gantikan suatu ayat di tempat suatu ayat” (Q. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia”. b. Intinya. Allah adalah otoritas kita. Firman allah swt: “apa apa yang kami hapuskan dan sesuatu ayat atau kami jadikan ia di lupakan. Ada ayat ang lahirnya bertentangan. Asy-syafi’I dan ulama yang bersependapat dengan beliau berhujjah menetapkan dengan adanya ayat ayat yang mansukhah dalam al-qur’an dengan: a. karena mungkin juga di maksudkan dengan perkataan ayat ialah mu’jizat bukan ayat alqur’an. itu sama saja kita menentang Allah. Lewat Rasulullah. niscaya kami datangkan yang lebiih baik dari padanya atau yang seperti nya” (Q. tidak pula menunjuk kepada adanya naskh yang di dakwakan itu. b. karena kita dapat mentaufiq kan antara ayat ayat yang di dakwa mansukhah dengana ayat ayat yang di pandang nasikhah. ilmu Allah diturunkan pada manusia. Kalau sesuai.S. ketika kita bicara agama. Dengan terdapatnya perlawanan antara lahir beberapa ayat dengan lahir beberapa ayat yang lain.

17 .