1 BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Indonesia adalah negera kepulauan, dengan letak geografis 60 LU – 110 LS dan 96 0 BT - 1410 BT, berada diantara benua Asia dan benua Australia, serta diantara samudera Pasifik dan samudera Hindia, terdiri dari beribu – ribu pulau yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara, dengan letak yang sangat strategis, Indonesia berupaya melakukan pemerataan pembangunan secara menyeluruh sampai ke pelosok daerah, sehingga sangat diperlukan suatu sarana perhubungan yang baik dan lancar baik darat, laut, maupun udara. Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, Jalan raya adalah proritas utama sebagai sarana penghubung antara satu daerah dengan daerah lainya. Perkembangan seluruh aspek kehidupan akan mengalami kemajuan yang pesat apabila di dukung oleh sarana yang memadai, hal ini akan memudahkan pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosia budaya, pengawasan pertahanan keamanaan, dll. Pembangunan dan peningkatan jalan yang dilaksanakan selain untuk mengarahkan adanya keseimbangan antar wilayah dalam pertumbuhannya, juga untuk memebuka kesempatan yang lebih besar bagi masing-masing daerah untuk berkembang. Keadaan jalan yang baik akan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pengendara dan pemakai jalan. Sejalan dengan langkah pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah pusat, kota Prabumulih yang telah mengalami peningkatan status dari kota administratif menjadi kotamadya terhitung sejak tahun 2001, karena itulah pemerintah kota Prabumulih mulai melakukan pembenahan mulai dari perubahan sistem, melengkapi struktural pemerintahan, sampai pembangunan berbagai sarana dan prasarana pendukung pelaksanan pembangunan, yang salah satunya dengan melalui Dinas Pekerjaan Umum kota Prabumulih, dilaksanakan rehab/pelebaran dan peningkatan jalan Jenderal Sudirman yang merupakan jalur utama dalam kota perabumulih. Yang seharusnya jalan ini merupakan tanggung

2 jawab pemerintah pusat karena merupakan jalan negara, tetapi dengan alasan pembuktian kemampuan dan eksistensi kota Prabumulih dalam peningkatan status, serta guna menambah keindahan kota Prabumulih itu sendiri, agar lebih terlihat rapi dan teratur. Sebab apabila menunggu pemerintah pusat akan dapat memakan waktu yang cukup lama, sedangkan daya dukung jalan jenderal sudirman ini haruslah ditingkatkan seiring dengan peningkatan status kota prabumulih. Dengan dipilihnya topik ini diharapkan dapat menambah lebih banyak pengetahuan mengenai metode pelaksanaan konstruksi di lapangan. Selain itu juga merupakan aplikasi ilmu / teori yang didapat dalam perkuliahan. 1.2. Maksud dan Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk menggambarkan langkah-langkah Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih dalam. Dengan disiplin ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan sebagai pembanding. Dengan harapan mahasiswa mengerti secara teoritis dan mampu mengapliksikanya dengan melaksanakan suatu praktek langsung. Sehingga diperoleh suatu pemahaman dan kesinergisan terhadap topik yang menjadi tinjauan baik secara teori dan praktek pelaksanaan

1.3.

Ruang Lingkup Penulisan Ruang lingkup yang akan dibahas dalam laporan ini meliputi pekerjaan umum, pekerjaan tanah, perkerasan, drainase, pekerjaan struktur, dan pekerjaan pengembalian kondisi.

3

BAB II GAMBARAN UMUM PROYEK

2.1.

Data Proyek Proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih merupakan upaya pemerintah kota Prabumulih dalam meningkatkan kapasitas daya dukung ruas jalan utama kota Prabunulih, sebagai jalur transit yang menghubungkan antara kota Palembang dengan Muara Enim, dan juga dari arah Baturaja ( OKU ) menuju palembang, seperti terlihat pada gambar. 2.1.

Gambar 2.1

Peta Proyek

Sehingga peningkatan ini sangat di perlukan baik guna kelancaran lalu lintas dalam kota ataupun lalu lintas antar daerah yang melalui kota Prabumulih.

4

2.1.1. Data Umum Nama Proyek Lokasi Proyek Tujuan Kegiatan Sumber dana Nomor Kontrak Tanggal Kontrak Biaya Pelaksanaan Penyedia Jasa Masa Pelaksanaan Masa Pemeliharaan Masa Kontrak : Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih : Kota Prabumulih : Meningkatkan daya dukung jalan : APBD Kota Prabumulih : 620/402.A/DPU/IX/2004 : 01 September 2004 : Rp. 6.268.889.000,00 : PT.BINTANG SELATAN AGUNG. : 330 (tiga ratus tiga puluh) hari kalender : 90 (sembilan puluh) hari kalender : 420 (empat ratus dua puluh) hari kalender

Gambar 2.2 2.1.2. Data Teknis Fungsional Jalan Efektif Pekerjaan Sub Grade Sub Base Tebal Sub Base Base

Papan nama proyek

: 5,7 Km : 5,7 Km : Tanah Dasar / Tanah Pilihan : Agregat Kelas B : 25 cm : Agregat Kelas A

5 Tebal Base Sub Surface Tebal Sub Surface Surface Tebal Surface 2.2. Struktur Organisasi Proyek Stuktur Organisasi Proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah sebagai berikut. STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN DINAS PEKERJAAN UMUM PROYEK REHAB PELEBARAN DAN PENGASPALAN LASTON JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA PRABUMULIH : 20 cm : AC-BC : 4 cm : AC-WC : 3 cm

Pengguna Barang/Jasa Ir. H. Akhmad Fauzi, MCE

Pelaksana Kegiatan Ir. Dullah Riyanto

Pemegang Keuangan Pardiah, ST Pemb. Pemegang Keuangan Monalia, ST

Pengawas Aslimi, ST

Pengawas M. Supi, ST

Gambar 2.3 Struktur organisasi proyek DPU kota Prabumulih Organisasi proyek adalah sebuah sistem kerjasama antara kelompok manusia untuk mencapai suatu sasaran yang dikehendaki serta dapat menjadi wadah bagi

6 bergeraknya administrasi. Tujuan organisasi akan tercapai apabila para pemimpin dari organisasi tersebut dapat menciptakan serangkaian hubungan kerjasama diantara masing-masing barang di dalam organisasi itu maupun dengan pihak luar yang ada hubungannya dengan tujuan organisasi. STRUKTUR ORGANISASI KEGIATAN PT. BINTANG SELATAN AGUNG PROYEK PERBAIKAN/REHAB PELEBARAN DAN PENGASPALAN LASTON JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA PRABUMULIH

Penanggung Jawab Teknik Ir. Aria Kurniawan

Pelaksana Kegiatan Wahyudi, ST Ir. Aria Kurniawan Pengawas I MH Dedi Lesmana Ir. Aria Kurniawan

Pelaksana Mahfudin

Pengawas II Aguscik Ir. Aria Kurniawan

Surveyor Kariyadi Ir. Aria Kurniawan

Quality Laboratorium Kariyadi Ir. Aria Kurniawan Nursyamsul

Gambar 2.4 Struktur organisasi pelaksana proyek Struktur organisasi proyek mutlak diperlukan untuk menjamin kelancaran dan kesuksesan suatu proyek. Struktur ini merupakan suatu kelengkapan yang sangat penting karena menyangkut tentang pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan suatu proyek.

7 Secara garis besar pihak-pihak pelaksana proyek dibagi menjadi empat bagian besar. Berikut ini merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan suatu proyek : 1. Pemilik Proyek (owner) Pemilik Proyek ialah pihak yang menghendaki suatu pekerjaan dilaksanakan oleh pihak lain sehubungan dengan kepentingannya atas hasil pekerjaan tersebut. Pemberi tugas harus mempunyai cukup dana untuk merealisasikan proyek yang diinginkannya. Dalam proyek ini yang bertindak sebagai pemilik proyek adalah DPU Kota Prabumulih. 2. Kontraktor Kontraktor adalah pihak yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan pemborongan sesuai dengan gambar-gambar kerja, peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pihak bersama. Yang bertindak sebagai kontraktor utama di proyek ini adalah PT Bintang Selatan Agung 3. Perencana Konsultan perencana adalah pihak yang ditunjuk oleh owner untuk bertindak selaku perencana, baik merencanakan gambar arsitektur, perhitungan konstruksi, gambar kerja maupun syarat-syarat pekerjaan dan uraian pelaksanaannya. Dalam proyek ini yang bertindak sebagai perencana adalah DPU Kota Prabumulih 4. Pengawas Konsultan pengawas adalah pihak yang diangkat oleh pemberi tugas (owner) untuk mewakili pemberi tugas dalam memimpin, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan di lapangan pada batas-batas yang telah ditentukan baik teknis maupun administratif. Yang bertindak sebagai pengawas adalah DPU Kota Prabumulih

8 Adapun tugas dan wewenang pihak-pihak tersebut antara lain : 1. a. kontrak b. c. Mengangkat kontraktor yang lulus dari tender / pelelangan tersebut. Menetapkan pekerjaan tambah / kurang, perpanjangan waktu pelaksanaan, denda serta memberi instruksi kepada kontraktor baik secara langsung maupun melalui konsultan pengawas d. e. f. 2. a. b. c. d. pelaksanaan e. f. g. h. Mengajukan gambar dan metode kerja pada konsultan pengawas sebelum pekerjaan dimulai untuk diperiksa atau diperbarui Melaporkan rencana kerja yang dilaksanakan dan hasil pelaksanaan setiap pekerjaan pada waktu yang telah ditentukan Membuat perubahan yang diperlukan pada bagian yang dikehendaki konsultan pengawas maupun pemimpin proyek Membuat laporan mengenai banyaknya biaya yang telah dikeluarkan kepada pihak pemberi tugas Meninjuk konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontraktor Menghentikan sebagian atau seluruh pekerjaan bila terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan Berhak menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan dokumen standar. Kontraktor Tugas dan wewenang kontraktor antara lain : Melaksanakan seluruh pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kontrak Mematuhi dan menjalankan semua perintah konsultan pengawas dan pemilik proyek dengan penuh tanggung jawab Melaksanakan setiap program kerja (time schedule) Mengkoordinir subkontraktor agar bekerja sesuai dengan jadwal Pemilik Proyek (owner) Tugas dan wewenang pemilik proyek antara lain : Menyediakan dan membayar semua biaya proyek sesuai dengan

9

3. a. b. dibuat c.

Perencana Tugas dan wewenang konsultan perencana adalah : Merencanakan proyek secara lengkap sesuai kehendak pemilik proyek dengan memperhatikan faktor estetika, ekonomi, teknis, sosial dan peraturan pemerintah Bertanggung jawab secara penuh atas segala hasil perencanaan bila dalam pelaksanaan terjadi kegagalan atau hal lainnya yang merugikan perencanaan yang Memberikan penjelasan mengenai hal-hal arsitektur, struktural, mekanikal dan elektrikal jika terdapat keraguan mengenai ketentuan dalam dokumen konstruksi

d. lapangan 4. a. telah ditentukan b. spesifikasinya c. d. e. f. g.

Dapat menyelesaikan persoalan apabila terdapat masalah teknis di

Pengawas Tugas dan wewenang konsultan pengawas adalah : Mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi yang Mempersiapkan revisi rencana kerja, gambar rencana dan

Mencatat kemajuan pekerjaan sebagai masukan bagi laporan bulanan dan pembayaran termin Mengkoordinir, mengarahkan serta mengontrol pelaksanaan proyek yang menyangkut mutu, waktu dan biaya selaku direksi dan penasehat pemilik Memerintahkan pemeriksaan kepada bagian pekerjaan yang tidak sesuai dengan dokumen kontrak dan memerintahkan perbaikan atas biaya kontraktor Menolak gambar detail pelaksanaan (shop drawing) yang tidak memenuhi syarat Menyelenggarakan administrasi umum mengenai kontrak

10

dalam sebuah pelaksanan pembangunan konstruksi dibutuhkan pelaksana proyek agar dapat selesai dengan baik, tugas peleksana proyek adalah:

11
• • • • • • • • • • • • • •

Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dilapangan. Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode pelaksanaan konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan. Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah ditetapkan. Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan. Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan. Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan memproses berita acara kemajuan pekerjaan dilapangan. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja mingguan, metode kerja, gambar kerja dan spesifikasi teknik. Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan jadwal tenaga kerja dan mengatur pelaksanaan tenaga dan peralatan proyek. Mengupayakan efisiensi dan efektifitas pemakaian bahan, tenaga dan alat di lapangan. Membuat laporan harian tentang pelaksanaan dan pengukuran hasil pekerjaan dilapangan. Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan dilapangan. Membuat laporan harian tentang pelaksanaan pekerjaan, agar selalu sesuai dengan metode konstruksi dan instruksi kerja yang telah ditetapkan. Menerapkan program keselamatan kerja dan kebersihan di lapangan.

. 1. SEKILAS TENTANG BAHAN KONSTRUKSI SIPIL Beberapa konstruksi sipil dapat menggunakan tanah dan agregat, yaitu : a. bendungan tanah b. tanggul sungai c. kolam limbah d. waduk air e. bahan jalan raya f. bahan jalan kereta api g. timbunan tanah Masalah yang dapat dijumapai bila menggunakan tanah sebagai bahan konstruksi , al : a. penimbunan tanah b. stabilitas tanah c. pemadatan tanah Konstruksi sipil yang menggunakan bahan-bahan bertulang yaitu : a. pondasi, sloof, kolom dan balok gedung biasa (non bertingkat) b. pondasi, sloof, kolom dan balok serta lantai gedung bertingkat c. jembatan jalan raya d. tembok penahan tanah e. bangunan lainnya

12 Konstruksi sipil yang menggunakan Bahan Beton Pracetak yaitu : a. Pondasi tiang pancang b. Sheet piles c. Rioling d. Jembatan prestress 2. PEMERIKSAAN SIFAT-SIFAT BAHAN UNTUK PEKERJAAN SIPIL Sifat-sifat tanah (Soil Properties) yang perlu diperiksa di laboratorium dan dilapangan untuk kepentingan perencanaan pondasi gedung, jembatan, tanki dan pekerjaan pondasi lainnya : a. sifat-sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah b. sifat-sifat teknis : kohesi, sudut geser tanah, kekuatan geser, index kompresi, koefisien konsolidasi, koefisien permeability, letak muka air tanah Sifat-sifat tanah yang perlu diperiksa untuk perencanaan kestabilan lereng yaitu : a. sifat-sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah b. sifat-sifat teknis : kohesi, sudut geser tanah Sifat –sifat tanah untuik perencanaan timbunan : a. untuk landasan/tanah dasar : sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah sifat teknis : kohesi, sudut geser tanah, kekuatan geser, index kompresi, koefisien konsolidasi, koefisien permeability, letak muka air tanah b. untuk bahan timbunan : sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah sifat teknis : kohesi, sudut geser, kadar air optimum, berat isi kering maksumum. Sifat-sifat phisis bahan pondasi jalan raya perkerasan lentur : a. sifat fisis : berat jenis tanah, berat jenis dan penyerapan agregat halus, berat jenis dan penyerapan agregat kasar, gradasi butiran, batas cair, batas plastis, ekivalensi pasir. b. Sifat teknis : kehil;angan berat karena keausan agregat kasar, standar proctor, CBR terendam. 3. BEBERAPA METODE PENGUJIAN UMUM DALAM PEKERJAAN SIPIL Pengujian untuk perencanaan pondasi : percobaan kadar air, percobaan berat isi, percobaan berat jenis, analisa saringan, analisa hidrometer, percobaan batas atterberg, percobaan tekan bebas, percobaan geser langsung, percobaan geser tiga sumbu, percobaan konsolidasi. Pengujian tanah untuk timbunan : percobaan berat jenis, percobaan analisa saringan, percobaan hidrometer, percobaan batas atterberg, percobaan kepadatan standar, percobaan geser langsung. Pengujian bahan beton :

13 - pengujian semen : percobaan berat isi, percobaan berat jenis, kehalusan semen, waktu pengikatan. - Pengujian agregat halus : percobaan berat isi, percobaan berat jenis dan penyerapan agregat halus, analisa saringan, kotoran organik, ekivalensi pasir. - Pengujian agregat kasar : percobaan berat isi, percobaan berat jenis dan penyerapan agregat kasar, analisa saringan, keausan agregat kasar. - Pengujian campuran beton : pembuatan dan perawatan sampel, berat isi campuran beton, test kekantalan, test kekuatan hancur beton. Pengujian bahan tanah dasar perkerasan : Pemeriksaan berat jenis, pemeriksaan analisa saringan, pemeriksaan analisa hidrometer, pemeriksaan batas cair, pemeriksaan plastis, pemeriksaan kepadatan standar, CBR laboratorium. Pengujian bahan pondasi perkerasan lentur : Percobaan berat jenis (tanah, agregat halus + penyerapan, agregat kasar + penyerapan), analisa saringan bahan gabungan, batas cair, batas plstis, test keausan, test kepadatan, CBR laboratorium. Pengujian aspal dan agregat sebagai lapis penutup type Lapen : - Berat jenis aspal, penetrasi aspal, destilasi aspal, pengaruh panas dan udara pada bahan aspal, titik letak aspal. - Analisa saringan, ketahanan terhadap keausan. Lapisan penutup hotmix : Berdasarkan rancangan campuran bahan aspal yang lebih dikenal dengan istilah Job Mix Design atau Job Mix Formula. Job Mix Formula : Fraksi agregat kasar (>2.36 mm), fraksi agregat halus (2.36-0.075 mm), fraksi filler (bukan pengisi), kandungan aspal efektif, kandungan aspal diserap, total kandunmgan aspal sebenarnya + tebal film aspal, kandungan rongga udara campuran padat, stabilisasi marshall + kuosien marshall, stabilitas marshall terendam. BAB III LANDASAN TEORI

3.1.

Definisi Manajemen Proyek Proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah digariskan dengan jelas. Perilaku kegiatan proyek menuntut adanya pengelolaan yang baik untuk mencapai sasaran yang diharapkan, yaitu pengelolaan proyek yang dinamis.

14 Dalam perkembangannya dikenal pengertian manajemen secara umum. Menurut Harold Koontz, yaitu suatu proses yang merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya lain untuk mencapai sasaran organisasi yang telah ditentukan. Definisi dari Harold Koontz ini kemudian dikenal dengan istilah manajemen klasik. Dengan perkembangan pembangunan, penggunaan manajemen klasik pada proyek yang penuh dengan dinamika dan perubahan cepat, dinilai kurang mampu dan efektif untuk mencapai hasil optimal. Untuk itu diperlukan berbagai penyesuaian seperti melembagakan arus kegiatan horizontal. Perbedaannya terutama pada perilaku kegiatan proyek dengan operasi rutin. Menurut H. Kezner, manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh, manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hirarki. Hal-hal pokok yang terdapat pada pengertian Manajemen Proyek : 1. Menggunakan pengertian berdasarkan fungsinya yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan berupa manusia dan material

2. Kegiatan yang dikerjakan berjangka waktu pendek, dengan sasaran yang telah ditentukan secara terperinci, ini membutuhkan metode dan teknik pengelolaan yang khusus, terutama aspek perencanaan dan pengendalian 3. Memakai sistem pendekatan sistem 4. Mempunyai hirarki (arus kegiatan horizontal) di samping kegiatan secara vertikal. Dengan demikian manajemen proyek tidak bermaksud meniadakan arus kegiatan vertikal atau mengadakan perubahan total terhadap manajemen klasik, tetapi ingin memasukkan pendekatan, teknik serta metode yang spesifik untuk

15 menanggapi tuntutan dan tantangan yang dihadapi, yang mana juga spesifik, yaitu kegiatan proyek. Adapun fungsi dari manajemen proyek adalah : 1. Merencanakan Merencanakan berarti memilih dan menentukan langkah-langkah kegiatan yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Ini berarti langkah pertama adalah menentukan sasaran yang hendak dicapai, kemudian menyusun urutan langkah kegiatan untuk mencapainya. Dengan demikian perencanaan dimaksudkan untuk menjembatani sasaran yang akan diraih dengan keadaan atau situasi awal. Salah satu kegiatan perencanaan adalah pengambilan keputusan, mengingat hal ini diperlukan dalam proses pemilihan alternatif. Pada tahap operasional, manajemen proyek didukung suatu metode perencanaan yang dapat menyusun secara cermat urutan pelaksanaan kegiatan maupun penggunaan sumber daya bagi kegiatan-kegiatan tersebut, agar proyek dapat diselesaikan secepatnya dengan penggunaan sumber daya sehemat mungkin. Contoh metode teknik yang dimaksud antara lain : a. Analisa jaringan kerja, metode jalur kritis (Critical Path Method / CPM), teknik pengkajian dan telaah proyek (Project Evaluation and Review Technique / PERT) atau diagram preseden (Presedence Diagram Method / PDM). b. Metode penyusunan perkiraan biaya proyek dilakukan bertahap sesuai dengan informasi yang tersedia pada waktu yang bersangkutan. Di sini termasuk biaya pendahuluan (Preliminary Cost Estimate), perkiraan biaya proyek (Project Bugdet) dan perkiraan biaya definitif (Definite Estimate). 2. Mengorganisir Mengorganisir dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan cara mengatur dan mengalokasikan kegiatan serta

16 sumber daya kepada kelompok agar dapat mencapai sasaran secara efisien. Dalam manajemen proyek dibuat susunan organisasi yang memacu terselenggaranya arus kegiatan horizontal dan vertikal, untuk itu penyusunan dilakukan dengan cara matriks. Sedangkan arus horizontal adalah pengelolaan proyek, dimana fungsinya membuka hubungan komunikasi antara yang satu dengan yang lain agar arus kegiatan dapat mengalir secara horizontal. Perbedaannya bila dilakukan secara vertikal diperlukan waktu yang lama, karena harus mengikuti prosedur birokrasi yang dirancang untuk kegiatan rutin operasional proyek. 3. Memimpin Kepemimpinan adalah mengarahkan dan mempengaruhi sumber daya manusia dalam satu organisasi agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Mengarahkan dan mempengaruhi ini erat kaitannya dengan motivasi, pelatihan, koordinasi dan konsultasi. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah gaya kepemimpinan yang hendak diterapkan, karena berpengaruh besar terhadap keberhasilan dalam proses mencapai tujuan. Pada umumnya digunakan gaya kepemimpinan yang mengarah ke partisipasi meskipun dalam beberapa situasi digunakan gaya orientasi ke tugas. Untuk melengkapi otoritas resmi pimpro (manajer proyek), maka harus dikembangkan sistem referent power (pemimpin yang mempunyai kepribadian yang baik sebagai teman yang menyebabkan kepatuhan) dan expert power (pemimpin yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu sehingga menimbulkan kepatuhan). 4. Mengendalikan Mengendalikan adalah menuntun, dalam arti memantau, mengkaji dan mengadakan koreksi agar hasil kegiatan sesuai dengan yang telah

17 ditentukan. Jadi, dalam fungsi ini hasil-hasil pelaksanaan kegiatan selalu diukur dan dibandingkan dengan rencana. Oleh karena itu, umumnya telah dibuat tolak ukur seperti anggaran, standar mutu, jadwal penyelesaian pekerjaan dan lain-lain. Bila terjadi penyimpangan maka segera dilakukan perbaikan. Dengan demikian pengendalian merupakan salah satu upaya untuk meyakini bahwa arus kegiatan bergerak ke arah sasaran yang diinginkan. Pada kegiatan proyek diperlukan adanya keterpaduan antara perencanaan dan pengendalian yang relatif lebih erat dibandingkan dalam kegiatan rutin. 3.2. Sistem Pengendalian Proyek Salah satu bagian dari manajemen proyek adalah pengendalian. Adapun definisi pengendalian menurut R.J. Mockler adalah usaha sistematis yang menentukan standar yang sesuai dengan perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya dapat digunakan secara efektif dan efisien dalam mencapai sasaran. Untuk mencapai tujuan proyek secara efektif dan efisien yaitu dengan cara menyelesaikan proyek tepat pada waktunya sesuai dengan batasan biaya dan jadwal yang sudah ditentukan. Maka diperlukan pengendalian proyek yang merupakan bagian penting dari manajemen proyek. Dari segi penggunaan sumber daya, perencana dapat diartikan sebagai memberi pegangan bagi pelaksana mengenai alokasi sumber daya untuk melaksanakan kegiatan, sedangkan pengendalian memantau apakah hasil kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan patokan yang telah digariskan dan memastikan penggunaan sumber daya efektif dan efisien. 3.2.1. Objek Pengendalian Proyek Garis besar objek pengendalian proyek adalah sebagai berikut : 1. Organisasi dan personil

18 Memantau apakah organisasi pelaksana proyek dibentuk sesuai rencana, pakah pengisian personil telah memenuhi kualifikasi dan jumlahnya telah mencukupi. 2. Waktu / jadwal Dalam aspek ini objek pengendalian proyek sangat ektensif dan berlangsung sepanjang siklus proyek. 3. Anggaran biaya dan jam orang Pengendalian ini berlangsung sepanjang siklus proyek dengan potensi paling mungkin keberhasilan yang besar berada di awal proyek sewaktu merumuskan definisi lingkup kerja. 4. Pengendalian pengadaan Pengadaan ini mempengaruhi jadwal, biaya, mutu serta masalah-masalah prosedur dan peraturan yang diberlakukan. Pengadaan yang dimaksud adalah berupa pengadaan material dan peralatan. 5. Pengendalian mutu Mencakup masalah yang luas, dengan tujuan pokok produk proyek harus dalam keadaan fitness for use (sesuai untuk digunakan). 6. Pengendalian kinerja Memantau serta mengendalikan aspek biaya dan jadwal serta terpisah tidak memberikan penjelasan perihal kinerja pada saat pelaporan. Bagian penting dari objek pengendalian proyek yang harus diperhatikan antara lain : A. Pengendalian terhadap jadwal proyek Pengendalian ini pada tahapan siklus proyek terdiri dari : 1. Pengendalian tahap konseptual Kegiatan utama pada tahap ini, yaitu : a. Mengingatkan kepada para perancang dan pihak lain yang lebih erat hubungannya dengan kegiatan ini agar selalu terus-menerus memperlihatkan aspek biaya dalam merancang suatu desain. b. Menghindari adanya rancangan yang berlebihan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

19 c. 2. Memakai pendekatan berdasarkan prinsip optimasi desain.

Pengendalian tahap perencanaan pemantapan (PP) Kegiatan utama pada tahap ini, yaitu : a. Pendalaman berbagai aspek persoalan dengan maksud menyaring ide atau usulan proyek yang kurang relevan menjadi proyek yang potensial.

b.

Perencanaan teknik dan pengembangan c. d. Pembuatan jadwal induk danm anggaran, melanjutkan kelanjutan investasi Penyusunan strategi penyelenggaraan dan rencana pemakaian sumber daya

e. 3. a. b. c.

Penyiapan perangkat dan peserta Pengendalian tahap implementasi fisik Kegiatan utama pada tahap ini yaitu : Perencanaan teknik terperici Pengadaan, termasuk pemesanan alat Konstruksi di lapangan / lokasi B. Pengendalian terhadap mutu proyek Pengertian kata mutu menurut ISO 8402 adalah sifat dan karakteristik produk atau jasa yang membuatnya memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemakai. Induk atau tahap awal dari pengendalian mutu adalah penjaminan mutu. Tujuan utama penjaminan mutu adalah mengadakan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk memberikan kepercayaan kepada semua pihak yang berkepentingan, yang dinyatakan dalam bentuk catatan dan dokumen. Pemakaian mutu ini berguna bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek, yaitu : 1. Pihak pemerintah

20 Untuk menjaga dan meyakinkan agar metode konstruksi, material dan peralatan yang digunakan dalam membangun proyek memenuhi standar dan peraturan yang telah ditentukan. 2. Pihak pemilih proyek a. Menyediakan kepercayaan dan keyakinan bahwa instalasi yang dibangun akan berfungsi sesuai dengan harapan dalam hal keselamatan, operasi dan produksi selama kurun waktu yang telah ditentukan. b. c. Menyediakan dokumen bagi pihak pemerintah maupun bagi pihak lain yang berkepentingan Menyediakan data hasil-hasil inspeksi, pengetesan dan perbaikan pada bagian yang spesifik dari instalasi. 3. Pihak perancang Menjadi umpan balik pekerjaan perencanaan teknik di masa depan. 4. Pihak kontraktor a. b. Bila mengikuti prosedur dan spesifikasi dengan tepat dan cermat akan menghasilkan pekerjaan sekali jadi Bila dilaksanakan dengan baik, mencegah mutu yang melebihi spesifikasi yang tercantum dalam kontrak

3.2.2. Metode Pengendalian Metode ini digunakan untuk menemukan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dengan cepat. Fungsinya sebagai peringatan penyimpangan yang terjadi, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi atau memperkecil kerugian yang ada. Macam metode berdasarkan atas spesifikasi penggunaannya adalah sebagai berikut : 1. Rekayasa Nilai Rekayasa nilai merupakan suatu usaha yang terorganisir secara sistematis dan mengaplikasikan suatu teknik yang telah diakui, yaitu teknik

21 mengidentifikasi fungsi produk atau jasa yang bertujuan memenuhi fungsi yang diperlukan dengan harga yang paling ekonomis. Rekayasa nilai juga digunakan saat perencanaan yang bertujuan menganalisa rencana untuk menekan biaya yang kurang berguna dari segi disain dan struktur. Teknik menganalisa nilai pada rekayasa nilai : a.Pemilihan proyek untuk penerapan rekayasa nilai b. Pemantauan harga (the costing value) c.Biaya siklus hidup (the life cycle costing) d. Pendekatan fungsional e.Rencana kerja nilai 2. Metode varians dan konsep nilai hasil Suatu sistem pemantauan dan pengendalian di samping memerlukan perencanaan yang realistis sebagai tolak ukur pencapaian sasaran, juga harus dilengkapi dengan teknik dan metode yang dapat segera mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan. Untuk itu diperlukan identifikasi varian dan konsep nilai hasil. Untuk jadwal, dianalisis kurun waktu yang telah dipakai dibandingkan dengan perencanaan. Dengan demikian akan terlihat apabila terjadi penyimpangan antara rencana dan kenyataan serta mendorong untuk mencari sebabsebabnya. Varian merupakan perbandingan antara harga standar dan harga aktual. Varian pada jadwal akan ditinjau penyimpangan waktu pelaksanaan terhadap waktu rencana. Sedangkan nilai hasil dapat menunjukkan : a. b. Prestasi kerja dan memperkirakan keadaan masa depan suatu proyek Berguna untuk mengendalikan prestasi, produktivitas maupun kemajuan pekerjaan dapat dianalisi Konsep dasar nilai hasil digunakan untuk menganalisis kinerja dan membuat prakiraan pencapaian sasaran. Untuk itu digunakan tiga indikator yaitu :

22 1. ACWP (Actual Cost of Work Performed) Yaitu merupakan biaya yang sesungguhnya terpakai untuk pekerjaan yang telah terlaksana dalam kurun waktu tertentu. 2. BCWP (Budgeted Cost of Work Performed) Yaitu merupakan indikator yang menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang nilai pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap anggaran yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. 3. BCWS (Budgeted Cost of Work Scedule) Yaitu suatu anggaran untu menyelesaikan pekerjaan yang telah direncanakan dan dikaitkan dengan jadwal pelaksanaan. Dari ketiga indikator di atas didapat : CV = BCWP – ACWP SV = BCWP – BCWS dimana : CV = varian biaya SV = varian jadwal CPI = BCWP / ACWP SPI = BCWP / BCWS Dimana : CPI = Indeks Kinerja Biaya SPI = Indeks Kinerja Jadwal Analisa varian akan memperlihatkan perbedaan antara hal – hal berikut : a) b) c) d) e) Biaya pelaksanaan dengan anggaran Waktu pelaksanaan dengan jadwal Tanggal mulai pelaksanaan dengan rencana Tanggal akhir pekerjaan dengan rencana

Angka kenyataan pemakaian dengan tenaga kerja engan anggaran

23 f) Jumlah penyelesaian pekerjaan dengan rencana Tabel 3.1 Analisis varian ( Integrasi dari aspek jadwal dan biaya ) Varian Biaya Keterangan ( BCWP - ACWP ) Positif Pekerjaan terlaksana lebih cepat dari Positif Nol Nol Negatif Negatif Nol jadwal dengan biaya kurang anggaran Pekerjaan terlaksana tepat sesuai jadwal dengan biaya lebih rendah dari anggaran Pekerjaan terlaksana sesuai dengan anggaran selesai lebih cepat dari jadwal Pekerjaan terlaksana sesuai dengan jadwal dan anggaran Pekerjaan selesai terlambat dengan

Varian Jadwal ( BCWP - BCWS ) Positif Nol Positif Nol Negatif Nol Negatif

biaya lebih tinggi dari anggaran Pekerjaan terlaksana sesuai dengan jadwal dengan biaya diatas anggaran Pekerjaan terlaksana terlambat dengan jadwal dengan biaya sesuai anggaran

3.3.

Tahapan Proyek Suatu sistem yang dinamis seperti halnya proyek memiliki tahapan perkembangan.Pada masing – masing tahap terdapat kegiatan yang dominan dengan tujuan khusus atau spesifik.Sampai saat ini belum ada keseragaman pembagian tahap dalam siklus proyek, baik jumlah maupun terminalogy yang dipakai.Hal ini antara lain karena banyaknya macam,ukuran dan kompleksitas proyek serta latar belakang tujuan pembagian itu sendiri.

3.4.

Pembuatan Kurva S Kurva S sangat berguna untuk dipakai sebagai laporan bulanan dan laporan kepada pimpinan proyek, maupun pimpinan perusahaan karena kurva ini dapat dengan jelas menunjukan kemajuan proyek dalam bentuk yang lebih mudah

24 dipahami.Kurva dengan grafik dengan sumbu x sebagai persentase penyelesaian pekerjaan.Sedangkan sumbu y menunjukan parameter waktu.Ini berarti menggambarkan kemajuan volume pekerjaan yang diselesaikan sepanjang siklus proyek. Adapun langkah – langkah pembuatan kurva S adalah : 1. Mencari Bobot Pekerjaan ( % ) Rumus mencari bobot pekerjaan : Bobot = ( Biaya Pekerjaan / Biaya Total ) x 100 % 2. Pembuatan kolom – kolom jadwal Setiap kolom mewakili satu minggu ( 7 hari ) yaitu dari minggu pertama hingga minggu terakhir. 3. Pembuatan bagan balok Panjang bagan balok disesuaikan dengan lama durasi ( minggu ) yang di terjemakan ke dalam banyaknya kolom. 4. Mencari bobot rencana mingguan Rumus mencari bobot rencana mingguan : Bobot Tiap Minggu = Bobot / Banyaknya Kolom ( Durasi ) 5. 6. Rencana kemajuan mingguan Menjumlahkan seluruh bobot rencana mingguan dalam sebuah kolom. Rencana kemajuan kumulatif Merupakan jumlah kumulatif bobot rencana kemajuan mingguan dari minggu awal proyek sampai dengan minggu terakhir proyek. 7. Pembuatan kurva S Dibuat berdasarkan besarnya bobot rencana kemajuan kumulatif pada masing – masing kolom dengan skala 0% - 100%, atau dari awal proyek sampai dengan akhir proyek. 8. Pelaksanaan kemajuan perminggu Diperoleh dengan menjumlahkan seluruh bobot yang dapat terlaksana perminggu pada masing – masing kolom. 9. Pelaksanaan kemajuan kumulatif perminggu

25 Merupakan kumulatif bobot yang dapat terlaksana dari awal minggu hingga minggu sekarang. 10. 3.5. Pembuatan kurva revisi Perencanaan Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Rencana Anggaran Biaya suatu proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan proyek tersebut.Setiap bagian pekerjaan didalam bestek disusun dalam daftar anggaran berserta penjelasannya. Perhitungan anggaran meliputi : 1) Planning / program pelaksanaan proyek 2) Kapasitas sumber daya yang dibutuhkan 3) Pemilihan sumber daya yang akan di gunakan Untuk membantu kelancaran perhitungan anggaran, maka perlu dibuat daftar – daftar seperti : 1) 2) 3) Daftar kebutuhan bahan Daftar kebutuhan alat Daftar kebutuhan tenaga kerja Setelah mendapatkan volume pekerjaan yaitu jumlah banyaknya volume pekerjaan dalam suatu kesatuan ? kubikasi pekerjaan.Dikalikan dengan harga satuan pekerjaan masing – masing pekerjaan. Kemudian diakumulasikan ke seluruh bagian pekerjaan dan di dapatlah anggaran biaya proyek. 3.5.2. Kenyataan Biaya Estimasi Pada anggaran biaya suatu proyek, dihitung banyaknya biaya yang dibutuhkan untuk bahan dan upah tenaga kerja berdasarkan analisis, serta biaya – biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan / proyek. Dalam sistem kenyataan biaya estimasi sesungguhnya, biaya – biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan sengaja tidak dimasukan. Biaya – biaya tersebut akan di bahas dalam buku Dokumen Pelelangan. Biaya – biaya

3.5.1. Prinsip Dasar Perhitungan Rencana Anggaran Biaya

26 tesebut antara lain : Keuntungan, biaya perencanaan, biaya pengawasan, dan izin mendirikan bangunan.

BAB IV TINJAUAN PELAKSANAAN

4.1.

Tahap Pendahuluan Pada tahap pendahuluan, Dinas Pekerjaan Umum kota Prabumulih melalui Dinas Teknis melakukan survey terhadap kondisi lapangan jalan yang akan dilakukan pelebaran dan perbaikan, sesuai dengan yang telah dianggarkan pada APBD kota Prabumulih tahun anggaran 2004/2005. tujuan dari survey untuk mencari dan menghitung besarnya volume tiap pekerjaan yang akan

27 direncanakan dan dilaksanakan, setelah didapatkan data yang cukup dan lengkap kemudian dilakukan perencanaan anggaran biaya awal oleh Dinas Teknis, dengan tujuan mendapatkan acuan batasan biaya pelaksanaan ketika dilakukan penawaran pekerjaan kepada pelaksana. Kemudian dibentuk panitia khusus yang akan menyelenggarakan penawaran pekerjaan, dengan acuan surat Walikota Prabumulih nomor : 620/888/Ekobang/IV.a/2004 tentang persetujuan pemilihan langsung pekerjaan, maka di buat kriteria dan persyaratan yang diperlukan calon penyedia jasa dalam penawaran pelaksanaan proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih. 4.2. Tahap Perencanaan Pada tahap ini setiap calon penyedia jasa yang di undang dalam hal ini sebanyak 3 ( tiga ) calon, membuat suatu perencanaan yang diperlukan dalam penawaran pekerjaan, sesuai dengan kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan panitia pelelangan. seperti : rencana anggaran biaya, jadwal pelaksanaan, perhitungan perencanaan struktur, umur rencana, manajemen pelaksanaan, dan lain-lain. Intinya semua perencanaan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.

4.3.

Tahap Penawaran Pada waktu yang telah ditentukan, pelelangan tertutup dengan 3 ( tiga ) calon penyedia jasa yang di undang, maswing – masing mengajukan penawaran terhadap pekerjaan Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih, dengan lebih menitik beratkan pada anggaran biaya, mutu dan hasil pekerjaan, dengan system pemilihan langsung, PT. Bintang Selatan Agung terpilih sebagai pelaksana proyek, melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pekerjaan Umum kota Prabumulih Nomor : 640/DPU/A/APBD/2004 tetang penunjukan Penyedia Jasa Pemborongan Pekerjaan Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston Jalan Jenderal Sudirman

28 Kota Prabumulih. Dengan Surat Perjanjian Pemborongan Nomor : 620/402.A/DPU/IX/2004 tanggal 01 September 2004, sekaligus sebagai masa awal pelaksanaan pekerjaan. 4.4. Tahap Pelaksanaan Sesuai denga Kontrak Kerja diatas, masa pelaksanaan pekerjaan 270 ( dua ratus tujuh puluh ) hari kalender, masa pemeliharaan 90 ( sembilan Puluh ) hari kalender, sehingga total masa kontrak proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah selama 360 ( tiga ratus enam puluh ) hari kalender terhitung sejak tanggal 01 September 2004 berdasarkan Surat Perintah Mulai Kerja Kepala Dinas Pekerjaan Umum kota Prabumulih Nomor : 620/403.B/DPU/APBD/2004. Sebelum pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan, dilakukan field Survey bersama oleh pelaksana dan pengguna jasa dalam hal ini Dinas Pekerjaan umum kota Prabumulih. Guna meninjau ulang tahapan pekerjaan yang yang akan dilaksanakan. Adapun Uraian Pekerjaan yang dilaksanakan pada proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah sebagai berikut :

1) Pekerjaan Umum Pada tahap pengerjaan ini dilakukan mobilisasi proyek yang bersifat umum seperti : a) Mempersiapkan tenaga kerja professional yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan di lapangan b) Pelaksanaan pengukuran, pemasangan rambu – ranbu lalu lintas sementara. c) Menyediakan fasilitas – fasilitas yang di perlukan, baik berupa fasilitas kontraktor, seperti base camp, kantor, barak, bengkel, gudang dan sebagai nya . Maupun fasilitas laboratorium agar proyek dapat

29 berjalan dengan lancar dan selesai sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. d) Menyediakan alat – alat berat yang di perkirakan dapat membantu untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan proyek. e) Mempersiapkan dan mengangkut bahan – bahan material yang diperlukan dalam pekerjaan perkerasan jalan dan pembuatan siring dinding penahan. Pada fase pekerjaan umum direncanakan selama 4 minggu dengan alokasi 3 minggu pada awal pelaksanaan dan 1 minggu diakhir pelaksanaa, tetapi dalam pelaksanaan terjadi percepatan pelaksanaan dengan volume tetap, menjadi 3 minggu, dengan alokasi waktu 2 minggu diawal dan 1 minggu diakhir pelaksanaan pekerjaan. 2) Pekerjaan Tanah Pekerjaan tanah merupakan pekerjaan galian dan timbunan pada ruas jalan yang akan diperbaiki maupun dilebarkan, dengan tujuan meratakan lokasi pekerjaan guna mendapatkan kondisi permukaan yang ideal dalam pelaksanaan pekerjaan perkerasan dan mengupayakan peningkatan daya dukung tanah dasar dalam menanggung beban – beban yang didistribusikan lapisan – lapisan diatasnya.

Gambar 4.1

Penggalian tanah

30

Serta dilaksanakan juga penggalian terhadap lapisan yang sudah ada guna perbaikan. Pada proses penimbunan dialksanakan secara berlapis dengan ketebalan lapisan 30 cm setiap proses pemadatan sampai tercapai ketebalan yang diinginkan. Adapun alat yang digunakan pada pekerjaan tanah adalah Excavator, Dump truck, compressor, Jack Hammer,Wheel Loader, Motor Grader, Vibro Roller, dan Water Tanker. Adapun pekerjaan tanah tersebut mengalami perubahan volume pekerjaan seperti terlihat pada table berikut. Tabel 4.1 Perubahan Volume Pekerjaan Tanah Pekerjaan Galian Biasa Galian Perkerasan tanpa CMM Timbunan Biasa Timbunan Pilihan Penyiapan Badan Jalan Perubahan ini terjadi dikarenakan tekstur tanah pada lokasi proyek termasuk dalam kategori tanah humus, sehingga kedalaman penggalian guna mendapatkan tanah dasar ideal mengalami perubahan dari perencanaan semula, hal ini dapat dilihat pada table diatas. Penambahan volume pekerjaan galian biasa mengalami kenaikan 16 kali dari perencanaan semula. Perubahan Volume ( M3 ) 9,285.720 228.290 250.000 2,729.620 6,246.360 Keterangan Penambahan Pengurangan Pengurangan Penambahan Penambahan

Gambar 4.2

Penimbunan tanah dasar

31 Timbunan pilihan dan penyiapan badan jalan juga mengalami perubahan volume dikarenakan luasnya volume area yang harus di timbunan. Tekstur tanah yang tidak mendukung apabila dilakukan penimbunan dengan tanah biasa sehingga untuk pekerjaan ini ditiadakan, begitu juga galian perkerasan mengalami pengurangan volume pekerjaan, karena lebih mengutamakan perbaikan perkerasan yang benar-benar harus dilaksanakan. Guna pengalihan anggaran untuk menutupi perubahan volume pekerjaan lainya. Untuk waktu pelaksanaan terjadi penambahan waktu pelaksanaan menjadi 8 minggu dari 4 minggu waktu rencana.( dapat dilihat pada Barchart Realisasi ) 3) Perkerasan Berbutir Pada pekerjaan perkerasan berbutir dibagi menjadi 2 ( dua ) tahap pekerjaan yaitu : a) Lapisan Pondasi Bawah ( Sub Base ) Pada lapisan pondasi ini material yang di gunakan adalah agregat kelas B, dengan perbandingan agregat kasar dan halus 70:30. Pekerjaan dilaksanakan dengan menghamparkan agregat kelas B, kemudian diratakan dengan menggunakan grader, lalu dipadatkan dengan menggunakan Vibrator loader, setelah itu dilakukan test guna mendapatkan CBR minimum 80%, jangan sampai terjadi lendutan karena akan dapat menyebabkan perkerasan mengalami penurunan ataupun retak-retak. Pada pekerjaan ini juga mengalami penambahan volume pekerjaan. Sebanyak 263,330 M3 dari volume rencana 1.403,33 M3. Begitu juga dengan masa pelaksanaan pekerjaan mengalami penambahan waktu menjadi 13 minggu dari 10 minggu yang direncanakan.

32

Gambar 4.3 Agregat kelas B b) Lapisan Pondasi Atas ( Base ) Pada lapisan pondasi ini digunakan material agregat kelas A. dengan perbandingan agregat kasar dan halus 60:40. Pekerjaan dilaksanakan dengan menghamparkan agregat kelas A, kemudian diratakan dengan menggunakan grader, lalu dipadatkan dengan menggunakan Vibrator loader, setelah itu dilakukan test guna mendapatkan CBR minimum 35%, jangan sampai terjadi lendutan karena akan dapat menyebabkan perkerasan mengalami penurunan ataupun retak-retak. Pada pekerjaan ini juga mengalami penambahan volume pekerjaan. Sebanyak 59,450 M3 dari volume rencana 3.892,37 M3. Begitu juga dengan masa pelaksanaan pekerjaan mengalami penambahan waktu menjadi 25 minggu dari 22 minggu yang direncanakan.

Gambar 4.4 Agregat Kelas A

33

4) Perkerasan Beraspal Pada pekerjaan beraspal terdiri dari 4 lapisan yaitu sebagai berikut : a) Lapisan Resap Pengikat ( Prime Coat ) Lapisan prime coat merupakan pencampuran antara aspal dan kerosene dengan perbandingan 60:40. Dengan takaran 0,6 – 0,8 liter per M2. tujuan dari penggunaan prime coat sebagai pengikat antara agregat pada lapisan pondasi dengan lapisan diatasnya. Pada pelaksanaannya lapisan agregat sebelumnya dibersihkan dengan compressor, kemudian baru dilaksanakan penyemprotan prime coat dengan menggunakan asphalt sprayer, ditunggu sampai meresap dan kering. Pada pelaksanaan proyek ini terjadi penambahan volume pekerjaan sebesar 1.170,65 M3 dari 22,569,950 M3 yang di rencanakan. Untuk masa pelaksanaan mengalami penambahan masa pelaksanaan menjadi 12 minggu dari 10 minggu yang direncanakan. b) Lapisan Sub Surface Untuk lapisan sub surface di gunakan lapisan pondasi aspal beton ( AC-BC ). Dengan tebal perkerasan 4 cm. pada pengerjaan lapisan ini, lapisan agregat sebelumnya yang telah disemprot dengan prime coat dibiarkan kering dan meresap terlebih dahulu. Kemudian AC-BC dicampurkan terlebih dahulu dengan menggunakan asphalt mixing machine lalu dihamparkan dengan menggunakan asphalt finisher, dipadatkan dengan tandem roller, dipadatkan kembali dengan menggunakan tyre roller. Kemudian dilakukan penyiraman air secara merata guna mempercepat proses pendinginan lapisan aspal. Pada pekerjaan ini mengalami pengurangan volume pekerjaan sebesar 47,59 M3 dari 1.301,27 M3. Untuk masa pelaksanaan juga mengalami penambahan waktu pelaksanaan menjadi 12 minggu dari 10 minggu yang direncanakan.

34 c) Lapisan Perekat ( Tack Coat ) Lapisan Tack coat merupakan pencampuran antara aspal dan kerosene dengan perbandingan 70:30. Dengan takaran 0,6 – 0,8 liter per M2. tujuan dari penggunaan tack coat sebagai perekat antara lapisan pondasi perkerasan dengan lapisan diatasnya. Pada pelaksanaannya lapisan sebelumnya dibersihkan dengan compressor, kemudian baru dilaksanakan penyemprotan tack coat dengan menggunakan asphalt sprayer, ditunggu sampai meresap dan kering. Pada pelaksanaan proyek ini terjadi pengurangan volume pekerjaan sebesar 2.584,13 M3 dari 15.226,13 M3 yang di rencanakan. Untuk masa pelaksanaan mengalami penambahan masa pelaksanaan menjadi 19 minggu dari 7 minggu yang direncanakan.

Gambar 4.5 Lapisan perekat d) Lapisan Surface Untuk lapisan sub surface di gunakan lapisan aus aspal beton ( AC-BC ). Dengan tebal perkerasan 3 cm. pada pengerjaan lapisan ini, lapisan agregat sebelumnya yang telah disemprot dengan tack coat dibiarkan kering dan meresap terlebih dahulu. Kemudian AC-WC dicampurkan terlebih dahulu dengan menggunakan asphalt mixing machine lalu dihamparkan dengan menggunakan asphalt finisher, dipadatkan dengan tandem roller, dipadatkan kembali dengan menggunakan tyre roller. Kemudian dilakukan penyiraman air secara merata guna mempercepat

35 proses pendinginan lapisan aspal. Pada pekerjaan ini mengalami pengurangan volume pekerjaan sebesar 6.433,7 M3 dari 33.104.00 M3. Untuk masa pelaksanaan juga mengalami penambahan waktu pelaksanaan menjadi 9 minggu dari 7 minggu yang direncanakan.

Gambar 4.6 Lapisan Aus Aspal Beton ( ACWC ) 5) Pekerjaan Drainase Pada pekerjaan ini terjadi dilakukan penggalian tanah untuk saluran drainasedengan menggunakan alat : excavator, dumptruck dan alat Bantu lainya. Yang kemudian dilakukan pemasasangan batu dengan mortar dengan bahan : pasir, semen, dan batu dengan menggunakan alat bantu manual. Dan juga di beberapa tempat di buat saluran penghubung berupa gorong-gorong. Pada pekerjaan ini juga mengalami perubahan volume pekerjaan, seperti terlihat pada table 4.2. Tabel 4.2. Perubahan Volume Pekerjaan Drainase Pekerjaan Galian drainase dan saluran air Pasangan batu dengan mortar Gorong – gorong pipa beton Perubahan Volume ( M3 ) 811,52 71,32 9,00 Keterangan Pengurangan Penambahan Pengurangan

Untuk perubahan masa pelaksanaan dapat dilihat pada barchart rencana dan realisasi.

36

Gambar 4.7 6) Pekerjaan Struktur

Saluran air

Untuk pekerjaan struktur seperti pembuatan Box Culvert pada drainase, dibutuhkan beton K-275 dan K-125 dengan penulangan baja U24 polos. dengan bahan seperti pasir, semen, agregat kasar. Terlebih dahulu dibuat cetakan dari kayu perancah dan paku. Proses pembuatannya menggunakan Concrete Mixer, Water Tanker, concrete Vibrator dan alat Bantu lainya. Perbedaan pembuatan beton K-250 dan K-125 pada perbandingan komposisi bahan sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Pada pekerjaan struktur juga mengalami pengurangan volume pekerjaan. Dikarenakan perlunya pengendalian terhadap biaya dan waktu.

Gambar 4.8

Pembuatan Box Culvert

7) Pekerjaan Pengembalian Kondisi Pada pekerjaan pengembalian kondisi dan pekerjaan minor hanya proses pengerjaan kerb pracetak dengan menggunakan agregat kasar dan agregat

37 halus dengan menggunakan wheel loader, dump truck,pedestrian roller, water tanker,dan alat Bantu lainya. Pada pekerjaan ini juga mengalami pengurangan volume pekerjaan sebesar 144,0 buah, dari 1.156 buah yang direncanakan. Untuk masa pekerjaan tetap dilaksanakan selama 2 minggu tetapi dilaksanakan pada masa addendum kontrak 01. Dari semua hasil diatas dapat dilihat bahwa penampang melintang lapisan jalan pada proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih, secara garis besar adalah sebagai berikut:

Keterangan : Sub Grade Sub Base Base Sub Surface Surface

: Tanah Dasar/Tanah pilihan : Agregat Kelas B : Agregat Kelas A : Lapisan Pondasi Aspal Beton ( AC-BC ) : Lapisan Aus Aspal Beton ( AC-WC )

Gambar 4.9 Potongan lapisan jalan Secara keseluruhan pada tahap pelaksanaan pekerjaan banyak sekali mengalami perubahan, baik dalam hal volume pekerjaan maupun waktu pelaksanaan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table berikut ini. Tabel 4.3.
No 1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 3.4

Perubahan Volume Pekerjaan.
Pekerjaan Tambah Volume Bobot 811.520 71.320 0,504 9.000 9,285.720 3,593 228.290 250.000 2,729.620 3,15 0,266 0,207 0,126 Pekerjaan Kurang Volume Bobot 0,231

Uraian Pekerjaan UMUM Mobilisasi Alat DRAINASE Galian utk drainase & sal. air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Gal perk. beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan

38
3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 Peny. badan jalan pd gal.biasa PERKERASAN BERBUTIR Lap. pondasi agregat kelas A Lap. pondasi agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lap. aus aspal beton (AC-WC) Lap. Pond.aspal beton (AC-BC) STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak 6,246.360 59.450 263.330 1,170.650 0,232 0,348 1,462 0,092 2,584.130 6,433.700 47.590 41.940 5.740 4,440.550 47.710 0,232 5,273 1,02 0,523 0,045 0,981 0,403

144.0

0,097

Dari table diatas diketahui bahwa yang tidak mengalami perubahan hanya pada pekerjaan umum. Begitu juga dengan masa pelaksanaan , dapat dilihat jelas pada barchart rencana dan realisasi. Hal ini disebabkan karena kondisi lapangan yang berbeda dengan perencanaan sebelumnya. 4.5. Tahap Addendum Kontrak Adanya tahap addendum kontrak dikarenakan adanya surat permohonan penambahan waktu pelaksanaan Nomor : 182A/BSA/V/2005 tanggal 23 Mei 2005, yang diajukan oleh pelaksana kepada Dinas Pekerjaan Umum kota Prabumulih, dikarenakan hambatan dalam penyelesaian pekerjaan sebagai berikut : a) Faktor Alam Sering terjadinya hujan deras mulai bulan maret 2005 sehingga proses pelaksanaan sedikit terhambat. Hal ini dapat dilihat pada Lampiran data hujan. b) Faktor Teknis Proses penyelesaian pekerjaan pergusuran / perpindahan jaringan Utilitas seperti jaringan pipa PAM, jaringan kabel listrik, dan jaringan kabel TELKOM.

39

Gambar 4.9 Kabel TELKOM

Gambar 4.10 Pipa PAM Mengingat isi kontrak awal pasal VI ayat 6.1.6 dan 6.1.7 maka disetujui adanya addendum kontrak 01 tanggal 28 Mei 2005. Sehingga masa pelaksanaan pekerjaan menjadi 330 hari kalender dari 270 hari kalender pada kontrak awal, sehingga penyerahan pertama adalah tanggal 26 Juli 2005. Dan masa pemeliharaan tetap 90 hari kalender, sehingga penyerahan tahap kedua adalah tanggal 24 Oktober 2005. Sehingga keseluruhan masa kontrak Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah 420 hari kalender. Sedangkan biaya pelaksanaan tidak mengalami perubahan / Tetap. 4.6. Tahap Pemeliharaan Masa tahap pemeliharan sesuai dengan isi kontrak awal dan addendum kontrak 01 adalah 90 hari kalender, pada tahap ini hasil pekerjaan masih menjadi

40 tanggung jawab pelaksana, sehingga apabila diperlukan perbaikan, semuanya di bebankan kepada pelaksana sampai batas akhir masa pemeliharan, untuk pembayaran pada tahap ini masih di tahan 5% dari total keseluruhan biaya pelaksanaan. Sampai masa pemeliharaan ini berakhir.

BAB V TINJAUAN PERHITUNGAN

Dalam pelaksanaan suatu proyek diperlukan perencanaan yang matang dengan perhitungan yang tepat dan jelas. Dalam hal ini perencanaan mengenai biaya dan waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu proyek, digunakan sebagai dasar atau kerangka acuan pelaksanaan, sehingga proses dan hasil proyek dapat terealisasi sesuai dengan yang telah di tergetkan. 5.1. Rencana Anggaran Biaya Rencana anggaran biaya suatu proyek dapat dibuat oleh pemilik proyek maupun terutama sekali oleh pelaksana proyek dengan tujuan :

41 1) 2) 3) 4) Sebagai batasan alokasi biaya suatu proyek yang akan dilimpahkan pemilik kepada pelaksana, dalam hal ini penyedia jasa. Sebagai kerangka acuan pelaksanaan, agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan biaya proyek. Guna efisiensi dan efektifitas realisasi proyek. Sebagai dasar acuan bila terjadi perubahan alokasi biaya, baik berupa penambahan maupun pengurangan volume pekerjaan pada suatu proyek. Sebagai pembanding dalam penilaian hasil akhir terhadap realisasi proyek dalam hal anggaran biaya Adapun tahapan dalam pembuatan Rencana Anggara Biaya adalah sebagai berikut : 1) Menghitung volume pekerjaan Dilakukan survey pendahuluan guna memperkirakan kuantitas atau volume pekerjaan yang di perlukan dalam pelaksanaan proyek.yang kemudian dilakukan pehitungan guna di dapatkan suatu nilai pendekatan terhadap realalisasi volume pekerjaan proyek. 2) Analisa perhitungan harga satuan yaitu dengan menghitung rincian biaya dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, secara lengkap mulai dari tenaga kerja, bahan, sampai peralatan yang dibutuhkan.setelah dijumlahkan akan di dapat harga satuan pekerjaan 3) Harga pekerjaan merupakan perkalian antara volume atau kuantitas pekerjaan yang telah diperkirakan dengan harga satuan pekerjaan. 4) Rencana anggaran biaya Merupakan keseluruhan biaya dari jumlah harga tiap pekerjaan ditambah Pajak Pertambahan Nilai 10% dari total harga keseluruhan pekerjaan, yang kemudian hasil penjumlahan ini akan disebut sebagai biaya pelaksanaan proyek. Adapun proses tahapan pembuatan Rencana Anggaran Biaya pada proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah sebagai berikut :

42 Tabel 5.1
No 1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 UMUM Mobilisasi DRAINASE Galian untuk drainase dan saluran air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Galian perkerasan beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan Penyiapan badan jalan pd galian biasa PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pondasi agregat kelas A Lapisan pondasi agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lapisan aus aspal beton ( AC-WC ) Lapisan pondasi aspal beton ( AC-BC ) STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak Buah 1,300.00
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

Volume Pekerjaan ( Rencana )
Uraian Pekerjaan Satuan Ls M3 M
3

Volume 1.00 1,920.00 197.60 14.00 616.91 465.04 250.00 3,985.00 12,104.34 3,892.37 1,140.00 22,569.95 15,226.13 33,103.70 1,301.27 60.50 7.70 6,655.00 54.00

M M3 M3 M M
3 3

M2 M3 M
3

Liter Liter M
2

M3 M3 M M
3

Kg
3

Tabel 5.2
No 1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 UMUM

Harga Satuan Pekerjaan ( Rencana )
Uraian Pekerjaan Satuan Ls M3 M3 M Harga Satuan (Rp) 83,018,000.00 16,201.52 402,359.93 797,204.09

Mobilisasi DRAINASE Galian untuk drainase dan saluran air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton

43
3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 PEKERJAAN TANAH Galian biasa Galian perkerasan beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan Penyiapan badan jalan pd galian biasa PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pondasi agregat kelas A Lapisan pondasi agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lapisan aus aspal beton ( AC-WC ) Lapisan pondasi aspal beton ( AC-BC ) STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak Buah 38,250.00
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

M3 M M M
3

23,494.43 66,376.06 47,176.06 65,772.71 2,118.51 333,633.03 316,619.75 4,511.57 5,117.24 46,708.67 1,197,149.18 710,098.15 454,960.22 12,588.40 481,015.70

M3
3 2

M3 M
3

Liter Liter M M
2 3

M3 M3 Kg M
3

Tabel 5.3
No 1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 UMUM

Rencana Anggaran Biaya
Uraian Pekerjaan Sat Ls Harga @ (Rp) 83,018,000.00 Volume 1.00 Jumlah (Rp) 83,018,000.00 83,018,000.00 31,106,918.40 79,506,322.17 11,160,857.26 121,774,097.83 14,493,948.81 30,867,522.94 11,794,015.00 262,104,249.35 25,643,165.33

Mobilisasi DRAINASE Galian utk drainase & sal. air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Gal perk. beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan Peny. badan jalan pd gal.biasa

M3 M3 M

16,201.52 402,359.93 797,204.09

1,920.00 197.60 14.00

M3 M3 M3 M3 M2

23,494.43 66,376.06 47,176.06 65,772.71 2,118.51

616.91 465.04 250.00 3,985.00 12,104.34

44
344,902,901.44 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pond. agregat kelas A Lapisan pond. agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lap. aus aspal beton (AC-WC) Lap. Pond. aspal beton (AC-BC STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak Bh 38,250.00 1,300.00 49,725,000.00 49,725,000.00 M3 M3 Kg M3 710,098.15 454,960.22 12,588.40 481,015.70 60.50 7.70 6,655.00 54.00 42,960,938.08 3,503,193.69 83,775,802.00 25,974,847.80 156,214,781.57 Liter Liter M2 M3 4,511.57 5,117.24 46,708.67 1,197,149.18 22,569.95 15,226.13 33,103.70 1,301.27 101,825,909.32 77,915,761.48 1,546,229,799.08 1,557,814,313.46 3,283,785,783.34 M3 M3 333,633.03 316,619.75 3,892.37 1,140.00 1,298,623,196.98 360,946,515.00 1,659,569,711.98

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

Rekapitulasi didapatkan dengan menjumlahkan biaya total seluruh pekerjaan pada proyek tersebut. Jumlah tersebut akan menjadi jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk menyelesaikan proyek dari awal berlangsung sampai dengan terselesaikannya proyek tersebut. Berikut adalah hasil Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya pada proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih Tabel 5.4
No Uraian

Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya
Jumlah Harga Pekerjaan ( Rupiah ) 83,018,000.00 121,774,097.83 344,902,901.44 1,659,569,711.98 3,283,785,783.34 156,214,781.57 49,725,000.00 5,698,990,276.16 569,899,027;62

1 UMUM 2 DRAINASE 3 PEKERJAAN TANAH 4 PERKERASAN BERBUTIR 5 PERKERASAN BERASPAL 6 STRUKTUR 7 PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI ( A ) Jumlah Harga Pekerjaan ( B ) Pajak Pertambahan Nilai ( PPN ) =10% x A

45
( C ) JUMLAH TOTAL HARGA PEKERJAAN = (A)+(B) ( D ) JUMLAH TOTAL HARGA PEKERJAAN (dibulatkan) 6,268,889,303.77 6,268,889,000.00

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

5.2.

Realisasi Anggaran Biaya Realisasi anggaran biaya merupakan total rincian keseluruhan biaya yang digunakan pada pelaksanaan suatu proyek, dan termasuk bagian dalam laporan akhir proyek. Dalam penyusunan sama seperti langkah pembuatan rencana anggaran biaya, tetapi berdasarkan keadaan sebenarnya dilapangan. Adapun Rekapitulasi realisasi anggaran biaya pada proyek proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah sebagai berikut.

Tabel 5.3
No 1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4

Realisasi Anggaran Biaya
Sat Ls Harga @ (Rp) 83,018,000.00 Volume 1.00 Jumlah (Rp) 83,018,000.00 83,018,000.00 17,959,099.19 108,202,714.96 3,986,020.45 130,147,843.60 219,259,922.60 15,714,695.41 441,638,599.45 38,876,136.16 715,489,353.62 1,318,456,249.77 444,321,742.85 1,762,777,992.62 107,107,380.19 64,692,148.08 1,245,720,228.90 1,500,844,244.32

Uraian Pekerjaan UMUM Mobilisasi DRAINASE Galian utk drainase & sal. air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Gal perk. beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan Peny. badan jalan pd gal.biasa PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pond. agregat kelas A Lapisan pond. agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lap. aus aspal beton (AC-WC) Lap. Pond. aspal beton (AC-BC

M3 M3 M

16,201.52 402,359.93 797,204.09

1,108.48 269 5.00

M3 M3 M3 M3 M2

23,494.43 66,376.06 47,176.06 65,772.71 2,118.51

9,902.63 237 6,714.62 18,350.70

M3 M3

333,633.03 316,619.75

3,951.82 1,403.33

Liter Liter M2 M3

4,511.57 5,117.24 46,708.67 1,197,149.18

23,740.60 12,642.00 26,670.00 1,253.68

46
2,918,364,001.49 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak Bh 38,250.00 1,156.00 44,217,000.00 5,698,990,350.56 M3 M3 Kg M3 710,098.15 454,960.22 12,588.40 481,015.70 18.56 1.96 2,214.45 6.29 13,180,841.86 891,722.03 27,876,407.19 3,027,197.15 44,976,168.23

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

Tabel 5.6
No 1 2 3 4 5 6 7

Rekapitulasi Realisasi Anggaran Biaya
Uraian Jumlah Harga Pekerjaan ( Rupiah ) 83,018,000.00 130,147,834.60 715,489,353.62 1,762,777,992.62 2,918,364,001.49 44,976,168.23 44,217,000.00 5,698,990,350.56
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

UMUM DRAINASE PEKERJAAN TANAH PERKERASAN BERBUTIR PERKERASAN BERASPAL STRUKTUR PEKERJAAN PENGEMBALIAN

JUMLAH HARGA PEKERJAAN KONDISI

Jadi berdasarkan hasil perhitungan pelaksana pekerjaan, terjadi persamaan antara hasil akhir antara perhitungan rencana dan realisasi anggaran biaya, yaitu sebesar Rp. 5.698.990.350,56 sebagai biaya pelaksanaan proyek.

47

5.3 5.3.1

Analisa Perhitungan Kurva S Analisa Perhitungan Kurva S Rencana Perhitungan pekerjaan pada kurva S Rencana adalah sebagai berikut : Bobot Pekerjaan Rencana
Uraian Pekerjaan (A) BiayaPekerjaan (B) Biaya Total Bobot Pekerjaan ((A/B)x100%)

Tabel 5.7
No

1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1

UMUM Mobilisasi DRAINASE Galian utk drainase & sal. air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Gal perk. beraspal tanpa CMM Timbunan biasa Timbunan pilihan Peny. badan jalan pd gal.biasa PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pond. agregat kelas A Lapisan pond. agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lap. aus aspal beton (AC-WC) Lap. Pond. aspal beton (AC-BC STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak 49,725,000.00 5,698,990,350.56 0.872522972 100.00 83,018,000.00 31,106,918.40 79,506,322.17 11,160,857.26 14,493,948.81 30,867,522.94 11,794,015.00 262,104,249.35 25,643,165.33 1,298,623,196.98 360,946,515.00 101,825,909.32 77,915,761.48 1,546,229,799.08 1,557,814,313.46 710,098.15 454,960.22 12,588.40 481,015.7 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 1.45671417 0.545832095 1.395094873 0.195839203 0.254324853 0.541632736 0.206949201 4.599134816 0.449959796 22.78689938 6.333516865 1.786735949 1.367185355 27.13164445 27.33491755 0.753834196 0.061470427 1.470011298 0.455779817

48 Setelah di hitung bobot untuk masing – masing pekerjaan, maka dapat dilanjutkan untuk pembuatan bagan balok ( Barchart ). Angka yang tertera pada bagan balok di namakan bobot mingguan yang merupakan hasil pembagian antara bobot untuk tiap pekerjaan dan lamanya waktu ( dinyatakan dalam minggu ) yang direncanakan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bobot mingguan untuk suatu pekerjaan dapat sama besar ataupun berbeda, bergantung pada perencanaaan awal dari pekerjaan. Tetapi, kumulatif dari bobot mingguan haruslah sama besarnya dengan bobot pekerjaan tersebut. Berikut adalah contoh perhitungan untuk menentukan besarnya bobot mingguan : -

Bobot mingguan Mobilisasi = 1.457 = 0.364
4

Bobot mingguan pekerjaan galian untuk drainase dan saluran air : = 0.564 =1.37 4 Hasil selengkapnya dari perhitungan bobot mingguan untuk masing – masing pekerjaan dapat dilihat pada barchart pada gambar 5.1.

5.3.2. Analisa Perhitungan Kurva S Realisasi Perhitungan untuk masing – masing pekerjaan pada kurva S Realisasi adalah sebagai berikut : Tabel 5.8
No

Bobot Pekerjaan Realisasi
Uraian Pekerjaan (A) BiayaPekerjaan (B) Biaya Total Bobot Pekerjaan ((A/B)x100%)

1 1.1 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3

UMUM Mobilisasi DRAINASE Galian utk drainase & sal. air Pasangan batu dengan mortar Gorong-gorong pipa beton PEKERJAAN TANAH Galian biasa Gal perk. beraspal tanpa CMM Timbunan biasa 83,018,000.00 17,959,099.19 108,202,714.96 3,986,020.40 219,259,922.60 15,714,695.41 0 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 1.45671417 0.315127735 1.898629552 0.069942572 3.847346795 0.275745254 0

49
3.4 3.5 4 4.1 4.2 5 5.1 5.2 5.3 5.4 6 6.1 6.2 6.3 6.4 7 7.1 Timbunan pilihan Peny. badan jalan pd gal.biasa PERKERASAN BERBUTIR Lapisan pond. agregat kelas A Lapisan pond. agregat kelas B PERKERASAN BERASPAL Lapisan Resap Pengikat Lapisan perekat Lap. aus aspal beton (AC-WC) Lap. Pond. aspal beton (AC-BC STRUKTUR Beton K275 Beton K125 Baja tulangan U24 polos Pasangan batu PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI Kerb Pracetak 38,250.00 5,698,990,350.56 0.775874274
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Prabumulih

441,638,599.45 38,876,136.16 1,318,456,249.77 444,321,742.85 107,107,380.19 64,692,148.08 1,245,720,228.90 1,500,844,244.32 710,098.15 454,960.22 12,588.40 481,015.70

5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56 5,698,990,350.56

7.74941827 0.682158308 23.13490932 7.796499301 1.879409748 1.135151037 21.85861271 26.33526558 0.231283807 0.015647018 0.489146418 0.053118131

Setelah di hitung bobot untuk masing – masing pekerjaan, maka dapat dilanjutkan untuk pembuatan bagan balok ( Barchart ). Angka yang tertera pada bagan balok di namakan bobot mingguan yang merupakan hasil pembagian antara bobot untuk tiap pekerjaan dan lamanya waktu ( dinyatakan dalam minggu ) yang direncanakan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bobot mingguan untuk suatu pekerjaan dapat sama besar ataupun berbeda, bergantung pada perencanaaan awal dari pekerjaan. Tetapi, kumulatif dari bobot mingguan haruslah sama besarnya dengan bobot pekerjaan tersebut. Hasil selengkapnya dari perhitungan bobot mingguan untuk masing – masing pekerjaan dapat dilihat pada barchart realisasi pada gambar 5.2.

5.4.

Pembahasan

5.4.1. Anggaran Biaya

50 5.4.1.1 Rencana Anggaran Biaya Dalam perencanaan anggaran biaya pada proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih, penyusun melakukan suatu analisa dengan melakukan perhitungan ulang dengan memanfatkan data yang ada, seperti volume rencana, daftar dasar harga satuan upah, daftar dasar harga satuan bahan, dan biaya sewa alat. Kemudian dibandingkan terhadap rencana anggaran dasar yang telah ada. Diperoleh suatu persamaan hasil akhir perhitungan dengan pembulatan sebesar Rp. 6,268,889,000.00 sebagai biaya pelaksanaan proyek. 5.4.1.2.Realisasi Anggaran Biaya Dengan acuan rencana anggaran biaya, dilakukan suatu tinjauan terhadap realisasi anggaran biaya, dan diperoleh hasil analisa sebagai berikut : 1. Adanya perbedaan antara volume rencana dengan realisasi pekerjaan, Hal ini terjadi karena kondisi lapangan agak berbeda dengan hasil survey pendahuluan. 2. Adanya perbedaan perhitungan antara laporan pelaksanaan proyek, dengan hasil analisis perhitungan realisasi anggaran biaya penyusun. Penyusun telah beberapa kali melakukan perhitungan ulang dengan memanfaatkan data valid laporan pelaksanaan dalam hal ini adalah volume pekerjaan, dengan acuan harga satuan yang sama. Terdapat selisih hasil akhir sebesar Rp. 13,393,041.51, yang merupakan penambahan biaya pekerjaan, tetapi pelaksana tidak mengajukan penambahan biaya dikarenakan pada addendum kontrak biaya pelaksanaan tetap. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada table 5.9, table 5.10, dan tabel 5.11.

5.4.2. Kurva S

51 Kurva S di harapkan dapat menjadi pengendali biaya dan jadwal proyek. Dengan adanya kurva S, kontraktor dapat mengetahui kapan suatu pekerjaan harus dilakukan dan kapan harus selesai, dan dapat segera mengambil keputusan apabila memang harus dilakukan perubahan. Kurva S rencana dibuat dengan berbagai pertimbangan dan mengacu pada beberapa hal seperti spesifikasi teknik yang telah ada pada saat pelelangan dan permintaan waktu penyelesaian proyek tersebut. Setelah membandingkan antara kurva S rencana dan realisasi, pada awal pelaksanaan proyek terdapat sedikit percepatan pelaksanaan, tetapi pada pertenganhan proyek terdapat sedikit hambatan, dalam hal ini disebabkan oleh 2 ( dua ) factor : 1. Faktor Alam Dalam hal ini hujan deras yang sering terjadi mulai awal maret samapi akhir proyek, menyebabkan pelaksanaan pekerjaan agak sedikit terhambat walau tidak mengalai penundaan. ( dapat dilihat pada Lampiran Data Curah Hujan ) 2. Faktor Teknis Proses pemindahan saluran air PDAM, dan jaringan insalasi proyek yang memakan waktu cukup lama, proses pelaksanaan pekerjaan mengalami perlambatan. ( dapat dilihat pada surat perpanjangan waktu pelaksanaan sebagai dasar utama kontrak addendum 01 ) Karena beberapa factor penghambat itulah kontraktor selaku pelaksana proyek segera mengambil keputusan untuk meminta perpanjangan waktu pelaksanaan yang tertuang dalam addendum kontrak 01, tertanggal 28 Mei 2005. dengan masa perpanjangan waktu 60 ( enam puluh ) hari kalender. Sehingga bentuk kurva S realisasi mengalami kemunduran mulai pertengahan proyek. Melihat hasil dari seluruh pekerjaan dapat dilihat, bahwa kontaktor dapat memanfaatkan kurva S sebagai pengendali jadwal dan biaya.

52

53

54

BAB VI

55 PENUTUP

6.1.

Kesimpulan Dari hasil pengamatan di lapangan selama melaksanakan kerja praktek serta membandingkan hasil analisa penyusun terhadap data – data proyek yang ada, disesuaikan dengan tinjauan yang di bahas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : A. Kesimpulan Umum Berdasarkan analisa penyusun dalam pembahasan sebelumnya secara menyeluruh pelaksanaan proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih tidak sesuai dengan perencanaan dalam beberapa faktor, hal ini dapat dilihat dari terlambatnya masa penyelesaian proyek, perubahan volume pekerjaan pada setiap pekerjaan, varian biaya negatif ( berdasarkan hasil perhitungan penyusun ), Beberapa perbedaan dari perencanaan tersebut, dapat penyusun menyimpulkan penyebabnya adalah sebagai berikut : 1. Hasil survey yang kurang menyeluruh dan mendetail sehingga data-data yang dibutuhkan kurang lengkap atau bahkan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. 2. 3. 4. 5. Perhitungan volume pekerjaan lebih mendekati perkiraan Perencanaan yang kurang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Faktor Alam seperti Hujan dan Banjir lokal menghambat proses Faktor teknis, adanya proses pemindahan dan penggusuran utilitas dikarenakan data yang kurang lengkap.

penyelesaia pekerjaan ( lampiran data hujan ). seperti saluran pipa PAM, jaringan kabel listrik, dan jaringan kabel TELKOM. Tetapi diluar beberapa hambatan yang terjadi dan sulit untuk dihindari, pekerjaan ini dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari

56 pelaksanaan mingguan yang sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor pendukung, yaitu : 1. 2. Lokasi proyek yang strategis sehingga memudahkan Pekerja yang memadai dan peralatan yang cukup dan pelaksanaan mobilisasi peralatan, bahan, dan pekerja. milik pelaksana sendiri, sehingga dapat mengatasi beberapa permasalahan yang ada, salah satunya dengan melaksanakan pekerjaan dimalam hari guna menhindari keramaian lalu lintas dan alternatif terhadap hujan. B. Kesimpulan Khusus Secara khusus disesuaikan dengan topik tinjauan penyusun, dapat diambil kesimpulan : Dengan kategori analisis varian disimpulkan sebagai berikut : 1. Hasil laporan pelaksana  Varian jadwal Negatif, karena waktu penyelesaian mengalami keterlambatan dari rencana  Varian Biaya Nol, karena realisasi anggaran sesuai dengan rencana anggaran biaya 2. Hasil analisa penyusun  Varian jadwal Negatif, karena waktu penyelesaian mengalami keterlambatan dari rencana  Varian Biaya Negatif, karena realisasi anggaran biaya lebih dari rencana.

57

6.2.

Saran Menurut penyusun hal yang paling penting dalam pelaksanaan proyek adalah perencanaan yang matang dan terorganisir dengan baik. Walaupun dalam pelaksanaan dilapangan sering kali mengalami perbedaan, tatapi dengan perencanaan yang baik semua masalah yang timbul akan dapat diatasi dengan mudah. Dalam pelaksanaan proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih, yang perlu lebih diperhatikan lagi adalah hal – hal sebagai berikut : a. b. c. Data – data lapangan yang diperlukan dalam perencanaan proyek, diupayakan lengkap dan valid. Perencanaan secara menyeluruh dengan membuat alternatif solusi terhadap semua kemungkinan terjadi dalam pelaksanaan. Membuat laporan yang jelas dan teliti serta disesuaikan dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Demikianlah hal – hal yang menjadi perhatian penyusun pada pelaksanaan proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan Jenderal Sudirman kota Prabumulih, semoga dapat memberikan manfaat. Amin.

58

DAFTAR PUSTAKA

Bush, Vincent G, Manajemen Konstruksi. PT Pustaka Binaan Pressinddo, Jakarta, 1991 Dipohusodo, Istimawan, Manajemen Proyek dan Kontruksi, Cetakan Pertama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1996 Iman, Soeharto, Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional, Cetakan Pertama, Penerbit Airlangga, Jakarta, 1995 Prijono, Ir, Tata Laksana Proyek, Bina Aksara, Jakarta, 1977

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful