You are on page 1of 3

Reliability atau sifat kehandalan dari suatu konstruksi merupakan salah satu faktor

penentu dari upaya meningkatkan productivity (produktifitas), dimana umur pakai (life time)
material menjadi hal yang utama. Umur pakai material umumnya ditentukan oleh beberapa
sifat mekanik material tersebut diantaranya : nilai kekerasan, kekuatan tarik, ketahanan
terhadap beban kejut (impact), ketahanan terhadap serangan korosi dan juga kemampuan
untuk dioperasikan pada temperatur tinggi.
Konstruksi boiler pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) khususnya pada bagian
superheater merupakan salah satu contoh konstruksi yang mensyaratkan kebutuhan material
yang memiliki sifat mekanis yang relatif normal pada kondisi temperatur dan tekanan tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka diperlukan baja paduan (alloy steel) khususnya
baja Cr-Mo sesuai dengan standar American Society of Mechanical Engineering (ASME)
Section I (ASME, 2010:4). Baja jenis ini memilliki kadar karbon rendah (< 0,2%) dan
mengandung satu atau lebih logam-logam paduan seperti nikel, chromium, manganese,
molybdenum, tungsten dan vanadium, sehingga memiliki kelebihan untuk dapat dioperasikan
pada temperatur dan tekanan yang cukup tinggi.
Sifat mekanis lain yang juga harus menjadi perhatian pada baja paduan adalah sifat
mampu las, hal ini karena pada sebuah konstruksi diperlukan penyambungan dengan
menggunakan metode pengelasan. Sebagai contoh adalah pada instalasi platen superheater
boiler PLTU dimana digunakan metode pengelasan Gas Tungsten Arc welding (GTAW)
material baja paduan 12Cr1MoV. Pipa baja paduan 12Cr1MoV merupakan baja paduan yang
memiliki kekuatan tarik (tensile strength) sebesar 535 MPa dan tegangan luluh (yield
strength) sebesar 420 MPa pada kondisi temperatur normal. Pipa baja paduan 12Cr1MoV
banyak digunakan dalam pembuatan bagian struktural dan bagian mekanis, seperti pipa bor
minyak, konstruksi yang menggunakan perancah baja dan juga pada konstruksi power
plant khususnya untuk mengalirkan fluida panas pada instalasi superheater boiler.
Baja paduan 12Cr1MoV memiliki kandungan Chromium dan Molybdenum sehingga
mempunyai hardenability yang tinggi dan rentan terhadap hydrogen cracking pada proses
pengelasannya. Apabila material tersebut didinginkan terlalu cepat atau terjadi overheating
maka dapat mengakibatkan efek yang serius terhadap unjuk kerja yang diinginkan. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan pemanasan mula (preheating) pada saat
sebelum proses pengelasan dilakukan. Perlakuan preheat bertujuan untuk mengurangi laju
pendingian yang terlalu cepat untuk memperoleh struktur mikro yang diinginkan sehingga
diharapkan dapat menurunkan nilai kekerasan pada daerah terpengaruh panas atau Heat
Affected Zone (HAZ) dan menghindari cacat las pada daerah lasan.
Menurut data dari PT Truba Jaya Engineering (FWDS 001) bahwa material baja
paduan 12Cr1MoV yang digunakan pada instalasi platen superheater boiler akan
dioperasikan pada tekanan 17,90 MPa dan temperatur 490oC. Material yang dioperasikan
pada temperatur tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa ada kesalahan

pengoperasian memiliki potensi mengalami creep atau mulur (Dieter, 1996). Creep atau
mulur adalah proses terjadinya deformasi permanen bahkan dapat berakhir dengan kegagalan
yang fatal pada logam saat dioperasikan pada temperatur yang tinggi dan menahan beban
konstan pada jangka waktu yang lama (Evans dan Wilshire, 1985). Apabila batasan desain
yang berkaitan dengan mulur telah terlewati maka dapat dikatakan komponen tersebut
mengalami kegagalan berupa patah akibat mulur (creep rupture) dan seharusnya diganti.
http://achmadarifin.com/material-teknik/aplikasi-material-baja-paduan-12cr1mov-padapipa-superheater-boiler-pltu