You are on page 1of 14

1

PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN STARTER EXPERIMENT


APPROACH DAN ADVANCE ORGANIZER TERHADAP
HASIL BELAJAR BIOLOGI DAN KETERAMPILAN
BERPIKIR KRITIS SISWA SMA
Oleh
Suwama, I Nengah
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) apakah terdapat
perbedaan hasil belajar biologi dan keterampilan berpikir kritis antara kelompok
siswa yang belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer,
(2) apakah terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara kelompok siswa yang
belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer; (3) apakah
terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang
belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer.
Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan pretestposttest control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA
Negeri 8 Denpasar tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah sembilan kelas,
sedangkan sampelnya adalah siswa kelas XI IPA 5, XI IPA 6, XI IPA 7, dan XI
IPA 8. Data yang dikumpulkan dari penelitian ini adalah hasil belajar biologi dan
keterampilan berpikir kritis pada pokok bahasan sistem pencernaan dan sistem
pernapasan. Data penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif dan MANOVA.
Uji komparasi rata-rata hasil penelitian diuji dengan LSD pada taraf signifikansi
5%.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh : (1) terdapat perbedaan hasil
belajar biologi dan keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang
belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer (F hitung
sebesar 58,398 pada taraf signifikansi 5%), (2) terdapat perbedaan hasil belajar
biologi antara kelompok siswa yang belajar dengan starter experiment approach
dan advance organizer (F hitung sebesar 61, 762 pada taraf signifikansi 5%); dan
(3) terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang
belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer (F hitung
sebesar 52,142 pada taraf signifikansi 5%). Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran dengan SEA lebih baik dari pada AO dalam meningkatkan
hasil belajar biologi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Sehingga disarankan
agar para guru menerapkan model pembelajaran tersebut dalam upaya
meningkatkan hasil belajar biologi dan keterampilan berpikir kritis siswa.
Kata Kunci : Starter Experiment Approach, Advance Organizer, Hasil Belajar
Biologi, Keterampilan Berpikir Kritis

ABSTRACT
This research aimed to find out : (1) is there any difference of biology
learning outcomes and critical thinking skill among group of students which learn
with starter experiment approach and advance organizer; (2) is there any
difference of biology learning outcomes among group of students which learn
with starter experiment approach and advance organizer; (3) is there any
difference of critical thinking skill among group of students which learn with
starter experiment approach and advance organizer.
This research was kind of quasi experiment with pretest-posttest control
group design program. The population of this research were students of XI IPA
class SMA Negeri 8 Denpasar in the academic year 2011/2012 with nine classes
in total, while the sample were students of XI IPA 5, XI IPA 6, XI IPA 7, and XI
IPA 8 class. The data which collected from the research were the result of biology
learning outcomes and the result of critical thinking skill in digestion system and
respiration system. The research data was analyzed by descriptive analysis and
MANOVA. The average of comparative test was tested by LSD at 5% significant
level.
Based on the result of the analysis, obtained: (1) there was a difference
biology learning outcomes and critical thinking skill among group of students
which learn with starter experiment approach and advance organizer (F count was
58,398 at 5% significant level); (2) there was a difference biology learning
outcomes among group of students which learn with starter experiment approach
and advance organizer (F count was 61.762 at 5% significant level); (3) there was
a difference critical thinking skill among group of students which learn with
starter experiment approach and advance organizer (F count was 52.142 at 5%
significant level). Therefore, it can be concluded that learning by SEA is better
than AO in increasing biology learning outcomes and critical thinking skill of
students. Thus, it is suggested for the teachers to apply that kind of learning
model in increasing concept understanding of biology and critical thinking skill of
students.

Key Words : Starter Experiment Approach, Advance Organizer, biology learning


outcomes, critical thinking skill.

I.

Pendahuluan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia

dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan


kualitas pendidikan pada umumnya dan IPA pada khususnya. Namun hasilnya
belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Hal ini dapat dilihat
dari hasil ujian semester dan hasil ujian akhir yang dicapai siswa yang umumnya
relatif masih rendah. Berdasarkan kenyataan ini, tampaknya masih diperlukan
berbagai upaya inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita, baik yang
menyangkut sumber daya manusianya, sarana prasarana, kurikulum, maupun
proses pendidikan itu sendiri.
Salah satu yang menentukan hasil belajar adalah proses pembelajaran.
Hasil belajar siswa belum optimal, jika dalam KBM model pembelajaran yang
dianut para guru didasarkan pada asumsi tersembunyi bahwa pengetahuan dapat
dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Asumsi seperti ini
menyebabkan selama proses pembelajaran para guru memfokuskan diri pada
upaya penuangan pengetahuan ke kepala siswanya dengan tidak terlalu
memperhatikan pengetahuan awal siswa.
Dengan diberlakukannya

KTSP,

pembelajaran

yang sebelumnya

menekankan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered),


menekankan pada hasil belajar, dilakukan di dalam kelas, tetapi sekarang lebih
ditekankan pada pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered),
lebih menekankan pada proses, dan pembelajaran dilakukan di luar kelas. Salah
satu yang dapat dilakukan sebagai upaya menggeser paradigma pembelajaran

tersebut dan mengakomodasi prior knowledge siswa menuju pemahaman konsep


yang tertuang dalam kajian ilmiah, adalah model pembelajaran Pendekatan Starter
Eksperimen (PSE) dan model advance organizer.
PSE adalah terjemahan dari Starter Experiment Approach atau SEA,
merupakan pendekatan komprensif untuk pengajaran sains, yang mencakup
berbagai strategi pembelajaran yang biasanya diterapkan secara terpisah dan
berorientasi pada keterampilan proses. KBM dengan PSE ialah bila kegiatan
belajar bisa dilakukan dengan percobaan. PSE mempunyai ciri khusus yaitu
mengetengahkan alam lingkungan sebagai penyulut (starter) selanjutnya,
pembelajaran dilakukan dengan mempraktikkan prinsip-prinsip metode ilmiah
meliputi pengamatan, dugaan, desain percobaan, eksperimen dan laporan hasil
penelitian. Menurut Schoenher (1996) metode eksperimen adalah metode yang
sesuai untuk pembelajaran sains, karena metode eksperimen mampu memberikan
kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan kreatifitas
secara optimal.
Menurut Schoenher (1996) unsur-unsur PSE yaitu: 1) mulai dengan
pengamatan lingkungan, 2) memisahkan langkah-langkah penting seperti
pengamatan, dugaan awal dan perumusan konsep, 3) bekerja dalam kelompok
untuk menentukan langkah-langkah dan pelaksanaannya dalam percobaan
pembuktian, 4) menyampaikan gagasan, pendekatan, konsep, dan penerapan; 5)
mendefinisikan kembali peranan guru sebagai simulator dan organisator dalam
proses belajar, 6) melampaui batas pengetahuan (ingatan) menjadi pemahaman,
dan 7) memberikan motivasi kepada siswa dan guru.

Pembelajaran advance organizer (AO) merupakan suatu cara belajar


untuk memperoleh pengetahuan baru yang dikaitkan dengan pengetahuan yang
telah ada pada pembelajaran, artinya setiap pengetahuan mempunyai struktur
konsep tertentu yang membentuk kerangka dari sistem pemrosesan informasi yang
dikembangkan dalam pengetahuan (ilmu) itu. Metode ini dikembangkan oleh
David Ausubel dan menurut beliau model ini adalah model belajar bermakna.
Model pembelajaran advance organizer bertujuan untuk memperkuat struktur
kognitif siswa dan menambah daya ingat (retensi) siswa terhadap informasi yang
bersifat baru. Pertama-tama guru menyajikan kerangka konsep yang umum dan
menyeluruh untuk kemudian dilanjutkan dengan peryataan informasi yang lebih
spesifik. Kerangka umum (organizer) tersebut berfungsi sebagai penyusun yang
mengorganisasikan semua informasi selanjutnya yang akan diasimilasikan oleh
siswa, sehingga siswa dapat menjelaskan, mengintegrasikan dan menghubungkan
materi dengan materi yang telah dimiliki sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat perbedaan karakteristik
pembelajaran dengan

antara

PSE dengan pembelajaran dengan AO. Perbedaan

karakteristik ini akan menimbulkan konsekuensi pada cara dan hasil penguasaan
konsep yang dimiliki oleh siswa, dan hal ini diduga mempengaruhi keterampilan
berpikir kritisnya. Begitu juga memiliki karakteristik teoritik dan langkah-langkah
pembelajaran (sintaks) yang berbeda, diduga akan memberikan dampak yang
berbeda terhadap cara siswa untuk memahami topik yang disajikan dan
berpengaruh terhadap pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritisnya.

Seberapa jauh pengaruh pembelajaran dengan PSE dan AO yang


digunakan dalam pembelajaran biologi terhadap hasil belajar dan keterampilan
berpikir kritis siswa khususnya siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 8 Denpasar
pada tahun pelajaran 2011/2012, pada pokok bahasan sistem respirasi belum dapat
diungkapkan. Oleh karena itu peneliti ingin mengangkat masalah ini dalam suatu
penelitian yang berjudul Pengaruh Pembelajaran dengan Starter Experiment
Approach dan Advance Organizer

terhadap Hasil Belajar Biologi dan

Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA.


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penelitian ini memusatkan
perhatian untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian. (1) Apakah terdapat perbedaan
hasil belajar biologi dan keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang
belajar dengan starter experiment approach dan advance organizer? (2) Apakah
terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara kelompok siswa yang belajar dengan
starter experiment approach dan advance organizer? (3) Apakah terdapat perbedaan
keterampilan berpikir kritis antara kelompok siswa yang belajar dengan starter
experiment approach dan advance organizer?

II.

Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah eksperimen semu karena

tidak semua variabel dan kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara
ketat dengan rancangan penelitian pretest-posttest control group design.. Populasi
penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA semester II SMA Negeri 8 Denpasar
tahun pelajaran 2011/2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple
random sampling (Sugiyono, 2008). Kelas XI IPA6 dan XI IPA7 sebagai

kelompok eksperimen, sedangkan kelas XI IPA5 dan XI IPA8 sebagai kelompok


kontrol.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar biologi dan
keterampilan berpikir kritis. Variabel bebas terdiri dari pembelajaran dengan SEA
pada kelompok eksperimen dan pembelajaran dengan AO pada kelompok kontrol.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar biologi dan
keterampilan berpikir kritis yang diukur dengan tes hasil belajar biologi dan tes
keterampilan berpikir kritis. Data hasil belajar biologi dikumpulkan dengan tes
hasil belajar yang terdiri dari 40 butir. Aspek-aspek yang diukur dalam hasil
belajar meliputi: 1) pengetahuan, 2) pemahaman, 3) aplikasi, 4) analisis, dan 5)
sintesis, dan (6) evaluasi. Data aspek keterampilan berpikir kritis akan
dikumpulkan dengan menggunakan tes keterampilan berpikir kritis sebanyak 5
butir meliputi: merumuskan masalah, memberikan argument, melakukan deduksi,
melakukan induksi, melakukan evaluasi, mengambil keputusan dan tindakan.
Data dianalisis secara deskriptif dan MANOVA. Analisis deskriptif
digunakan untuk mendeskripsikan skor rata-rata dan simpangan baku hasil belajar
biologi dan keterampilan berpikir kritis siswa. Pengujian hipotesis penelitian
digunakan MANOV. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan uji normalitas
sebaran data dengan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWilk, uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan Levenes Test of
Equality of Error Variance, uji homogenitas matrik varian menggunakan uji
Boxs M, dan uji kolinieritas variabel terikat menggunakan uji korelasi Product
Moment (Candiasa, 2010). Uji komparasi signifikansi skor rata-rata menggunakan

Least Significant Difference (LSD). Semua pengujian hipotesis dilakukan pada


taraf signifikansi 0,05.
III. Hasil Penelitian
Deskripsi Umum Hasil penelitian
Deskripsi umum hasil penelitian berupa nilai hasil belajar biologi disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Deskripsi Nilai Hasil Belajar Biologi
Statistik
N
Rata-Rata
Nilai Tengah
Modus
Simpangan Baku
Varian
Rentangan
Skor Minimum
Skor Maksimum

Hasil Belajar dengan SEA


Pre-test
Post-test
94
94
47,87
75,34
48,75
75,00
50,0
70,0
9,91
9,15
98,38
83,81
55,0
50,0
12,5
47,5
67,5
97,5

Hasil Belajar dengan AO


Pre-test
93
39,81
37,50
37,5
7,25
52,61
32,5
22,5
55,0

Post-test
93
60,48
60,00
70,0
8,65
74,89
35,0
42,5
77,5

Pada Tabel 1, tampak bahwa setelah perlakukan kelompok SEA


menunjukkan pencapaian hasil belajar biologi lebih baik dibandingkan dengan
kelompok AO.
Deskripsi umum hasil penelitian berupa nilai keterampilan berpikir kritis
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Deskripsi Nilai Keterampilan Berpikir Kritis
Keterampilan Berpikir
Keterampilan Berpikir
Kritis dengan SEA
Kritis dengan AO
Statistik
Pre-test
Post-test
Pre-test
Post-test
N
94
94
93
93
Rata-Rata
35,69
59,68
34,58
50,69
Nilai Tengah
37,80
59,20
34,70
51,00

Modus
Simpangan Baku
Varian
Rentangan
Skor Minimum
Skor Maksimum

39,8
8,81
77,78
38,8
12,2
51,0

55,1
9,09
82,72
41,8
33,7
75,5

31,6
5,69
32,38
24,5
19,4
43,9

51,0
6,49
42,13
30,6
33,7
64,3

Pada Tabel 2, tampak bahwa setelah perlakukan kelompok SEA


menunjukkan keterampilan berpikir kritis lebih baik dibandingkan dengan
kelompok AO.
Pengujian Hipotesis
Pertama, hasil pengujian menolak hipotesis nol (H0) yang menyatakan
bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar biologi dan keterampilan berpikir
kritis antara siswa yang belajar melalui pembelajaran dengan PSE dengan
pembelajaran dengan AO. Dengan kata lain terdapat perbedaan hasil belajar
biologi dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar melalui
pembelajaran dengan PSE dengan pembelajaran dengan AO. Hal ini didasarkan
karena nilai signifikansi uji MANOVA melalui statistik Pillai Trace, Wilks
Lamda, Hotellings Trace dan Roys Largest Root adalah 0,000 dan nilai ini lebih
kecil dari 0,05 (p<0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Kedua, hasil pengujian terhadap hipotesis kedua mengimplikasikan
bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang belajar melalui
pembelajaran dengan PSE dengan pembelajaran dengan AO. Dasar dari implikasi
ini adalah diperolehnya nilai F hasil perhitungan statistik didapatkan Fhitung =
61,726 dengan taraf signifikansi 0,000. Angka signifikansi ini lebih kecil dari 0,05
(p<0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima.

10

Ketiga, hasil pengujian menolak hipotesis nol (H0) yang menyatakan


tidak terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar
melalui pembelajaran dengan PSE dengan pembelajaran dengan AO. Hal ini
didasari dari nilai F hasil perhitungan statistik didapatkan Fhitung = 52,142
dengan taraf signifikansi 0,000. Angka signifikansi ini lebih kecil dari 0,05
(p<0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima.

IV. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar biologi
dan keterampilan berpikir kritis kelompok SEA relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan skor rata-rata kelompok AO.
Dalam pembelajaran dengan PSE, siswa belajar dengan beberapa langkah
yang di dalamnya selalu memanfaatkan pengetahuan awal (prior knowledge)
untuk menciptakan suasana belajar sesuai dengan paham konstruktivis. Belajar
yang menganut paham konstruktivis menuntut siswa untuk membangun
pengetahuannya sendiri sesuai pengalaman belajarnya. PSE akan mengakomodasi
semua pengetahuan awal siswa dalam langkah pembelajaran yang meliputi
percobaan awal, pengamatan, hipotesis, verifikasi, perumusan konsep, dan
evaluasi.
Langkah-langkah

pembelajaran

dengan

PSE

di

dalamnya

akan

memberikan dampak langsung bagi komponen ranah kognitif siswa. Misalnya


ketika siswa disuruh untuk menyusun dugaan awal atau hipotesis, siswa harus
menggunakan pengetahuan awalnya. Penggunaan pengetahuan awal dalam

11

menyusun hipotesis harus didukung oleh aspek bepikir kritis misalnya


kemampuan melakukan induksi atas hasil pengamatan. Untuk menginduksi suatu
hasil pengamatan, siswa harus memiliki pemahaman materi yang bermakna,
kemampuan melakukan analisis materi pelajaran, dan kemampuan sintesis dugaan
atau jawaban sementara.

V.

Penutup
Berdasarkan hasil analisis dan rangkuman penelitian, maka dapat ditarik

beberapa simpulan yaitu (1) terdapat perbedaan hasil belajar biologi dan
keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar melalui pembelajaran
dengan PSE dengan pembelajaran dengan AO, (2) terdapat perbedaan hasil belajar
biologi antara siswa yang belajar melalui pembelajaran dengan PSE dengan
pembelajaran dengan AO, (3) terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis
antara siswa yang belajar melalui pembelajaran dengan PSE dengan pembelajaran
dengan AO.
Saran yang dapat diberikan adalah lebih menekankan pada pembelajaran
yang melatih keterampilan berpikir kritis siswa dengan jalan menciptakan suasana
pembelajaran yang menggunakan alam nyata kehidupan sehari-hari siswa sebagai
konteks maupun konten pembelajaran, mengingat mata pelajaran kelas XI IPA
SMA lebih menekankan pada anatomi fisiologi manusia yang selalu berkaitan
dengan anatomi dan fisiologi serta kelainan atau penyakit pada tubuh manusia.

12

Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT.
Bumi Aksara
-------. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi 2010).
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Arnyana, I.B.P. 2005. Pengembangan Perangkat Model Belajar Berdasarkan
Masalah Dipandu Strategi Kooperatif serta Pengaruhnya
terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa
Sekolah Menengah Atas pada Pelajaran Ekosistem. Disertasi
(tidak diterbitkan). Malang: Universitas Negeri Malang
-------. 2006. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inovatif pada Pelajaran
Biologi Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMA.
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. 3
(39). 496-515
Ashar, H. 2011. Aplikasi Model Pembelajaran Untuk Mendukung Kegiatan
Belajar Mengajar. Jurnal Lentera Pendidikan. 14 (2). 152-171
Barbosa, R.H., Marilis V.M., Beyardo B.T. 2005. An Advance Organizer for
Teaching Bacterial Metabolism. Journal Of Biochemistry and
Molecular Biology Education. 33(4). 265-268
Bawa, I K. 2003. Pengaruh Metode Pembelajaran Ekspositori Berbantuan
Advance Organizer dan Penalaran Formal Siswa terhadap Sikap
dan Prestasi Belajar Matematika pada Siswa SLTP (Eksperimen
pada SLTP Negeri di Kecamatan Kubutambahan). Tesis (tidak
diterbitkan). Singaraja: Undiksha
Candiasa, I M. 2010. Statistik Univariat dan Bivariat Disertai Aplikasi SPSS.
Singaraja: Undiksha
Dahar, R.W. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga
Ennis, R.H. 1985. A Logical Basic for Measuring Critical Thinking Skills.
Educational Leadership. 43 (2). 45-48
Hake, R.R. 1999. Analyzing Change/Gain Scores. California: Departement of
Physics Indiana University
Haryati. 2010. Identifikasi Kesulitan Membelajarkan Biologi di Sekolah
Menengah Atas Se-Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010. Tesis.
Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Hergenhahn, B.R and Matthew H.O. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar)
Edisi Ketujuh. Jakarta: Kencana Prenada Media

13

Ifamuyiwa, A.S. 2011. The Effect of Behavioural Objectives on Students


Achievement in Senior Secondary School Mathematics
Instructions When Used as Advance Organizers. American
Journal of Science and Industrial Research. 2 (2). 129-135
Joyce, B. and Weil, M. 1980. Models of Teaching. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Lin, H., Khusro K., Mine M., Jeff S., Bradley A., Francis D. 2005. The Effect of
Verbal Advance Organizers in Complementing Animated
Instruction. Journal of Visual Literacy The Pensylvania State
University. 25 (2). 237-248
Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya: Pusat Studi Matematika dan
IPA Sekolah UNESA
Nurlita, F. 2008. Penggunaan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan Masalah
untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Mengembangkan
Keterampilan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran. 885-901
Pemmielita, E. 2011. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemahaman Konsep
Biologi pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Amlapura. Tesis
(Tidak Diterbitkan). Singaraja: Undiksha
Rasyid, H. 2007. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: Wacana Prima
Redhana, I W. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Peta Argumen
Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Topik Laju
Reaksi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 43 (17). 141-148
Santyasa, I W. 2005. Model Pembelajaran Inovatif dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah (Disajikan dalam
Penataran Guru-Guru SMP, SMA, dan SMK se-Kabupaten
Jembrana Juni Juli 2005 di Jembrana). Singaraja: Undiksha
Schoenher J. 1996. Buku Panduan Pelatihan Peningkatan Kemampuan
Profesional Guru dan Tutor. Denpasar : Konsultan PEQIP
Shihusa, H. and Fred N.K. 2009. Using Advance Organizers to Enhance Students
Motivation in Learning Biology. Eurasia Journal of
Mathematics, Science and Technology Education. 5 (4). 413420
Suastra, I W. 2009. Pembelajaran Sains Terkini: Mendekatkan Siswa Dengan
Lingkungan Alamiah dan Sosial Budayanya. Singaraja:
Undiksha
Subagia, I W. 2003. Masalah-masalah Penerapan Model Pembelajaran Sains
dengan Pendekatan Starter Eksperimen (PSE) dalam

14

Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan


Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. 4 (36)
Subamia, I D.P. 2012. Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa pada
Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Starter Experiment
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 45 (1). 27-37
Sudjana, N. 1991. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D). Bandung: Penerbit Alfabeta
-------. 2010. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta
Suparlan, Dasim B., Danny M. 2008. PAKEM: Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: PT. Genesindo
Suratno. 2006. Peningkatan Academic Skill Siswa Melalui Pembelajaran Biologi
dengan SEA (Starter Experiment Approach) di SMP 2 Jember.
Jurnal Pancaran Pendidikan Universitas Jember. 19 (65). 753761
Walberg, H.J. and Susan J.P. (tanpa tahun). Effective Educational Practices.
Chicago: University Of Illinois
Yasa, I P. 2003. Implementasi Pendekatan Starter Eksperimen dalam
Pembelajaran Fisika untuk Mengembangkan Sikap Ilmiah dan
Kualitas Pembelajaran Siswa Kelas II SMU Negeri di Kota
Singaraja. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Singaraja:
IKIP Negeri Singaraja