You are on page 1of 13

REFLEKSI KASUS STASE KULIT

KELAMIN
“PITIRIASIS ROSEA”

Dosen Pembimbing:
dr. Gabriel Erny Widyanti, M.kes, Sp. KK
Disusun Oleh:
Franciscus Buwana

(42150052)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN
RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA
PERIODE 27 Juni – 23 Juli 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2016

1

STATUS PASIEN KULIT I. Bercak-bercak merah ini sudah ada sejak 3 hari sebelum pasien datang ke poliklinik. Pasien mengatakan badan tidak terasa nyeri ataupun sakit. E. Bercak-bercak tersebut terasa gatal di malam hari dan semakin hari semakin banyak. perut dan punggung. Riwayat Penyakit Sekarang Bercak-bercak merah di seluruh tubuh. Gaya Hidup III. H. mengganti sprei tempat tidur 2 minggu sekali. dengan warna merah di pinggir lebih tua dari warna di tengah. Riwayat Alergi : Tidak ada F. Riwayat Pengobatan : Memakai bedak dingin tetapi keluhan tidak membaik. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Kunjungan ke klinik : An VD : 13 Tahun : Perempuan : Pelajar : Yogyakarta : 02 Juli 2016 ANAMNESA A. G. dada. II. ada sebuah bercak agak besar. Akhir akhir ini pasien mengatakan kondisi badannya sedang capek setelah beberapa hari mengikuti acara study tour sekolah. bercak-bercak merah tidak berkurang sedikitpun. Riwayat Operasi : Pasien tidak pernah operasi. PEMERIKSAAN FISIK: Pemeriksaan Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Berat Badan : 35 Kg Gizi : Cukup Nadi dan RR :2 . hanya gatal saja. gatal. : Mandi teratur 2x dalam sehari. C. tersebar di lengan tangan kanan. bercak berbentuk oval. kira-kira 4 cm dada. Keluhan Utama Gatal gatal dan bercak bercak merah B. Beberapa hari sebelum timbul bercak merah di seluruh badan ini timbul. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama. Pasien sudah memakai bedak dingin tetapi tidak sembuh. Riwayat penyakit Dahulu Tidak ada D.

untuk wajah. pinggir tidak meninggi. thorax. multipel. punggung terdapat makula eritema. betamethasone dipropionate (corticosteroid) 10gr. IV. pagi dan sore setelah mandi. 2x1. abdomen. 2x1. Antihistamin R/ Cetrizine tab 10 mg no VII S1dd tab 1 pc Merupakan anti-histamin antagonis reseptor H1. 7 hari. 7 hari. DIAGNOSIS BANDING  Pitiriasis Rosea  Tinea Korporis  Psoriasis Gutata DIAGNOSA: Pitiriasis Rosea VI. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam 3 . untuk badan. ukuran milier sampai lentikuler. bentuk oval dan anular. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan V. VII. berbatas tegas. Diberikan antihistamin agar menghambat pelepasan histamin pada ujung reseptor sehingga akan mengurangi gejala gatal VIII.Kepala Leher Thorak Aksilla Abdomen Ektremitas UKK: : Sesuai status lokalis : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan Di regio antebrachii dextra. halus. pagi dan sore setelah mandi. TATALAKSANA - mometasone fuorate (corticosteroid) 5gr. EDUKASI  Istirahat yang cukup  Makanan makanan bergizi dan mengonsumsi sayur dan buah  Tidak mengaruk dengan tangan IX.

Prevalensi terjadinya pitiriasis rosea lebih banyak ditemukan pada golongan sosioekonomi masyarakat kelas menengah dan yang kurang mampu. dan musim dingin. 4 Insidens pada pria dan wanita hampir sama.2 B. PITRIASIS ROSEA A. Penyakit ini biasanya bertahan antara 6-8 minggu. pinggir tidak meninggi. walaupun sedikit lebih banyak ditemukan pada wanita.6 Namun ada juga yang mengatakan puncak insidensinya terdapat pada usia antara 15-40 tahun.7 Namun bagaimanapun penyakit ini bisa muncul dari usia 3 bulan sampai dengan 83 tahun. Gilbert memberi nama pitiriasis rosea yang berarti skuama berwarna merah muda (rosea).1. kemudian pada tahun 1860.4. bentuk oval dan anular.8.4. halus. perut dan punggung. tapi dapat juga didapatkan variasi lamanya sakit yang berbeda.4 Insidensnya meningkat terutama pada musim semi.5 Puncak insidensnya terdapat pada usia antara 20-29 tahun.6 Prevalensinya tidak dipengaruhi oleh golongan ras tertentu. dada. thorax.3. 12 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin dengan keluhan gatal dan timbul bercak kemerahan sejak 3 hari lalu. kira-kira 4 cm dada. 3. musim gugur. yang dimulai dengan sebuah lesi primer dengan karakteristik gambaran herald patch berbentuk eritema dan skuama halus.4 4 . Epidemiologi Kurang lebih 75% kasus pitiriasis rosea didapatkan pada usia antara 10-35 tahun. dengan warna merah di pinggir lebih tua dari warna di tengah.6. punggung terdapat makula eritema. Pemeriksaan fisik didapat UKK di regio antebrachii dextra. Beberapa hari sebelum timbul bercak merah di seluruh badan ini timbul. ukuran milier sampai lentikuler. Bercak kemerahan terdapat di bagian lengan tangan kanan. berbatas tegas. bercak berbentuk oval. Istilah pitiriasis rosea pertama kali dideskripsikan oleh Robert Willan pada tahun 1798 dengan nama Roseola Annulata. Quo ad cosmeticum : dubia ad bonam RESUME Anak perempuan.3.X. multipel. gatal.9 Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dan didapatkan kira-kira sebanyak 2% dari setiap kunjungan pasien yang berobat jalan pada ahli penyakit kulit. Definisi Pitiriasis rosea ialah penyakit papuloskuamous jinak yang belum diketahui penyebabnya. abdomen. ada sebuah bercak agak besar.4.

hal ini sama dengan mengidentifikasi virus-virus pada sampel serum pasien. karena adanya gejala prodromal yang biasa muncul pada infeksi virus bersamaan dengan munculnya bercak kemerahan di kulit. Namun apa yang menjadi pemicu utama reaktivasi HHV-7 masih belum jelas. Mereka mendemonstrasikan replikasi aktif dari HHV-6 dan HHV-7 dalam sel mononuklear pada lesi kulit. Terdapat hipotesis bahwa reaktivasi HHV-7 memicu terjadinya reaktivasi HHV-6. dan pada air liur.3.10 Sumber lain mengatakan beberapa penulis menduga herpes simpleks virus 10 yang menjadi penyebabnya.3. Bukti lain mengesankan reaktivasi virus mencakup kejadian timbulnya kembali penyakit dan timbulnya pitiriasis rosea pada saat status imunitas seseorang mengalami perubahan. tapi kemungkinan disebabkan karena infiltrasi kutaneus dari infeksi limfosit yang tersembunyi pada waktu replikasi virus sistemik. kulit yang sehat. Didapatkan sedikit peningkatan insidens 5 .4 Watanabe dkk telah membuktikan kepercayaan yang sudah lama ada bahwa pitiriasis rosea merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh virus. air liur. Partikel virus ini juga berada selang-seling diantara keratinosit dekat dengan perbatasan dermalepidermal.4 Erupsi kulit yang timbul dianggap sebagai reaksi sekunder akibat reaktivasi virus yang mengarah pada terjadinya viremia. Pitiriasis rosea tidak disebabkan langsung oleh infeksi virus herpes melalui kulit.5. Sudah lama dipikirkan bahwa virus sebagai penyebab timbulnya penyakit ini. Dalam suatu penelitian. partikel HHV telah terdeteksi pada 70% pasien penderita pitiriasis rosea. Human herpes virus 7 telah dikemukakan sebagai penyebabnya. sel mononuklear darah perifer.6 Penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini terfokus pada peranan HHV-6 dan HHV-7 pada pitiriasis rosea.C.8 Penelitian baru-baru ini menemukan bukti dari infeksi sistemik aktif HHV-6 dan HHV-7 pada kulit yang kelainan.3 Dimana virus-virus ini hampir kebanyakan didapatkan pada masa kanakkanak awal dan tetap ada pada fase laten dalam sel mononuklear darah perifer. namun beberapa penelitian telah gagal menunjukkan buktibukti yang meyakinkan. Partikel-partikel virus ini ditemukan dalam jumlah banyak diantara serat-serat kolagen dan pembuluh-pembuluh darah pada lapisan dermis atas dan bawah. dan serum dari pasien penderita pitiriasis rosea. walaupun sudah dikemukakan beberapa dugaan penyebab timbulnya penyakit ini. terutama CD-4 dan sel T. Etiologipatogenesis Penyebab terjadinya pitiriasis rosea masih belum diketahui.

Pada lapisan epidermis ditemukan adanya parakeratosis fokal. Gambaran Klinis Kurang lebih pada 20-50% kasus. hilangnya lapisan granular.4 Akantosis Spongiosis Infiltrat limfohistiosit Gambar histologik non spesifik tipikal dari Pitiriasis Rosea. akantosis ringan.4 Chlamydia pneumonia. eksositosis limfosit.pitiriasis rosea pada pasien yang sedang menurun imunitasnya.4.6 Erupsi kulit yang mirip dengan pitiriasis rosea dapat timbul sebagai akibat dari reaksi obat. spongiosis. Mycoplasma pneumonia dan Legionella pneumonia telah dikemukakan sebagai agen penyebab pitiriasis rosea yang berpotensi kuat. Histopatologi Gambaran histopatologik dari Pitiriasis Rosea tidak spesifik sehingga penderita dengan Pitiriasis Rosea tidak perlu dilakukan biopsi lesi untuk menengakkan diagnosis. dan infiltrat limfohistiosit pada dermis superficial 2 E. dan penerima transplantasi sumsum tulang.6 Sumber lain menyebutkan kira-kira 5% 6 . menunjukkan parakeratosis. Pemeriksaan histopatologi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis Pitiriasis Rosea dengan gejala atipikal.2. Macam-macam obat yang berhubungan dengan munculnya erupsi kulit mirip pitiriasis rosea antara lain: D. hiperplasia. bercak merah pada pitiriasis rosea didahului dengan munculnya gejala mirip infeksi virus seperti gangguan traktus respiratorius bagian atas atau gangguan gastrointestinal. namun belum ada penelitian yang menunjukkan kenaikan kadar antibodi yang signifikan terhadap mikroorganisme yang telah disebutkan di atas pada penderita pitiriasis rosea. seperti ibu hamil. spongiosis fokal. akantosis ringan dan menghilang atau menipisnya lapisan granuler. Sedangkan pada dermis ditemukan adanya ekstravasasi eritrosit serta beberapa monosit.

2.1 1. dan artralgia. tetapi pada beberapa kasus.dari kasus pitiriasis rosea didahului dengan gejala prodormal berupa sakit kepala. Pada 75% penderita biasanya timbul gatal didaerah lesi dan gatal berat pada 25% penderita. demam. lengan atas bagian proksimal dan paha atas sehingga membentuk seperti gambaran pakaian renang. rasa tidak nyaman di saluran pencernaan. malaise.1. soliter. sinar matahari melindungi kulit dari Pitiriasis Rosea. Penyakit dimulai dengan lesi pertama berupa makula eritematosa yang berbentuk oval atau anular dengan ukuran yang bervariasi antara 2-4 cm. lesi dapat terjadi pada daerah yang terkena sinar matahari.2 Sinar matahari mempengaruhi distribusi lesi sekunder.3 Herald Patch Gambar herald patch3 7 . Lesi ini dikenal dengan nama herald patch. bagian tengah ditutupi oleh skuama halus dan bagian tepi mempunyai batas tegas yang ditutupi oleh skuama tipis yang berasal dari keratin yang terlepas yang juga melekat pada kulit normal ( skuama collarette ).4 Tempat predileksi Pitiriasis Rosea adalah badan. Gejala Klasik Gejala klasik dari Pitiriasis Rosea mudah untuk dikenali.

1-2 minggu kemudian akan timbul lesi sekunder generalisata. Lesi lain berupa paul-papul kecil berwarna merah yang tidak berdistribusi sejajar dengan garis kulit dan jumlah bertambah sesuai dengan derajat inflamasi dan tersebar perifer. demam.2 8 .4 Setelah timbul lesi primer. nyeri sendi. Pada lesi sekunder akan ditemukan 2 tipe lesi.skuama Gambar plak primer tipikal ( herald patch ) menunjukkan bentuk lonjong dengan skuama halus di tepi bagian dalam plak 4 Pada lebih dari 69% penderita ditemui adanya gejala prodromal berupa malaise. Lesi terdiri dari lesi dengan bentuk yang sama dengan lesi primer dengan ukuran lebih kecil ( diameter 0. dan pembengkakan kelenjar limfe. Kedua lesi ini timbul secara bersamaan.5 – 1. hilang nafsu makan. mual.5 cm ) dengan aksis panjangnya sejajar dengan garis kulit dan sejajar dengan kosta sehingga memberikan gambaran Christmas tree.

Selain itu juga diperlukan tes untuk mengetahui adanya HIV pada pasien tersebut. variasi sel diskeratorik di epidermis dengan gambaran eosinofil homogen.penampakan ini mungkin mirip penampakan anular sentrifugum. 13. Tes Rapid Plasma Reagen (RPR) atau tes VDRL (Veneral Disease of Research Laboratorium) harus dilakukan pada individu yang sesuai.14 Karena lesi pada ptiriasis rosea sangat mirip dengan ruam sifilis sekunder. histiosit. Epidermis dapat menunjukan ekskositosis limfosit. ekstravasai se darah merah adalah temuan yang bermaknabersaman dengan infiltratperivaskular dari limfosit.12-14 Pada pemeriksaan mikroskopis dar preparat kalium hidroksida tidak menunjukan adanya elemen jamur. Tes laboratorium lainnya biasanya menunjukan hasil yang normal sehingga hasilnya tidak begitu membantu.15 9 . multinuclear giant cell. eritema multiformis. Pemeriksaan biopsi menunjukan adanya dermatitis perivaskular pada permukaaan. Adanya gejala atipikal membuat diagnosis dari Pitiriasis Rosea menjadi lebih sulit untuk F. psoriasis gutata. Berupa tidak ditemukannya herald patch atau berjumlah 2 atau multipel. Dapat pula ditemukan oedema daripada dermis dan proses homogenisasi dari kolagen. dan disfungsi fokal akantolitik telah diamati. Ditemukannya lesi yang tidak sesuai dengan lesi pada Pitiriasis Rosea pada umunya. maupun eosinofil. Dalam dermis. Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mengidentifikasi adanya sifilis. Gejala Atipikal Terjadi pada 20% penderita Pitiriasis Rosea. inguinal. terutama dalam kasus-kasus atipik . pustul dan vesikuler. ditegakkan sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan. hiperplasia dan spongiosis variabel (fokal) pada epidermis. Bentuk lesi lebih bervariasi berupa urtika. Juga terdapat parakeratosis fokal dalam gundukan yang menyebar. eritema superfisial dan small plaque parapsoriasis.akantosis ringan dan lapisan granular yang menipis sampai tidak ada. wajah. namun memiliki infiltrat yang lebih dalam dan akantosis lebih karena kronisitasnya. Seringkali tes KOH dilakukan untuk menyingkirkan kurap (tinea korporis). Pemeriksaan Penunjang Sebuah spesimen biopsi dapat membantu untuk konfirmasi diagnosis walaupun tidak memberikan gambaran spesifik. Harus disadari adanya fenomena prozone yang terlihat pada sifilis sekunder dan perlunya titrasi tes RPR. telapak tangan dan telapak kaki.Gambaran menyerupai pine tree 2. purpura. tes VDRL sering diperlukan.14 Herald patch memiliki tampilan yang sama.3 Distribusi lesi biasanya menyebar ke daerah aksila.

serta transparan.11 3. Gambaran klinisnya ialah lesinya tampak lebih besar 10 . kasusnya sudah berkurang sekarang. dan permukaan fleksor dari persendian-persendian.9. 10 Setelah diketahui macam-macam obat yang bisa menginduksi timbulnya erupsi kulit mirip pitiriasis rosea. Dermatitis Numularis Gambaran lesinya berbentuk seperti koin dengan skuama yang dapat menyerupai pitiriasis rosea.8 Tes serologis terhadap sifilis perlu dilakukan terutama jika gambarannya tidak khas dan tidak ditemukan Herald patch. Erupsi akibat obat Senyawa emas dan captopril paling sering menimbulkan kelainan ini. plak tidak berbentuk oval. Eritem sirkumskrip dan merata. Tinea Corporis Adalah lesi kulit yang disebabkan oleh dermatofit Trichophyton rubrum pada daerah muka.9 Sifilis stadium II dapat menyerupai pitiriasis rosea. telapak kaki. Sifilis stadium II (yang paling penting)4. kulit kepala dan alis mata biasanya berskuama dan ruam kulitnya ditutupi skuama yang berminyak dengan predileksi tempat di sternum. tetapi pada stadium penyembuhan sering eritem yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. trunkus atau ekstremitas.4. namun biasanya pada sifilis sekunder lesi juga terdapat di telapak tangan. eritema yang berbentuk cincin dengan pinggir berskuama dan penyembuhan di bagian tengah. serta adanya kondiloma lata atau alopesia. Diagnosis Banding Diagnosa banding dari pitiriasis rosea mencakup: 1.10 7.4 2. Dermatitis Seboroik Pada dermatitis seboroik. terutama pada anak dan dewasa muda. dari pemeriksaan penunjang didapatkan hifa panjang pada pemeriksaan KOH 10%. skuama berada di tepi.7. Namun tidak terdapat koleret dan predileksi tempatnya pada tungkai. kasar dan berwarna putih seperti mika. Lichen Planus Dapat menyerupai pitiriasis rosea papular.8. Besar kelainan bervariasi.3 6.6 5. tangan.6. Skuama berlapis-lapis. daerah yang biasanya jarang terdapat lesi pada pitiriasis rosea.3 Lesinya memiliki lebih banyak papul dan berwarna violet/lembayung.10 Tidak ada keluhan gatal (99%). Psoriasis Gutata Kelainan kulit yang terdiri atas bercak-bercak eritem yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya.8 4. mulut. ditemukan di membran mukosa mulut dan bibir. Umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas sehabis influenza atau morbili. regio intercapsular. jika seluruhnya atau sebagian besar lentikuler disebut sebagai psoriasis gutata. Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Tinea korporis. membran mukosa. Gejala klinisnya adalah gatal. Ada riwayat lesi pada alat genital.G.

025% ointment 2 kali sehari ).Lesi kedua rata-rata berlangsung selama 2 minggu. sabun. Tatalaksana 1. bukan tidak mungkin penderita merasa terganggu dengan lesi yang muncul. kalamin losion atau 0. 2. erupsi kulit mirip pitiriasis rosea karena obat yang berlangsung lama dikatakan ada hubungannya dengan AIDS. Untuk itu diperlukan penjelasan kepada pasien tentang : . Pakaian yang mengandung wol.Pitiriasis Rosea akan sembuh dalam waktu yang lama .dengan skuama yang menutupi hampir seluruh lesi. Penggunaan eritromisin masih menjadi kontroversial.Topikal Untuk mengurangi rasa gatal dapat menggunakan zink oksida. selanjutnya berangsur hilang sekitar 2 minggu. Umum Walaupun Pitiriasis Rosea bersifat self limited disease ( dapat sembuh sendiri ).9 Sistemik Pemberian antihistamin oral sangat bermanfaat untuk mengurangi rasa gatal. Dari suatu penelitian menyebutkan bahwa 73% dari 90 penderita pitiriasis rosea yang mendapat eritromisin oral mengalami kemajuan dalam 11 . Sebagai tambahan.4 Untuk gejala yang berat dengan serangan akut dapat diberikan kortikosteroid sistemik atau pemberian triamsinolon diasetat atau asetonid 20-40 mg yang diberikan secara intramuskuler. Pada beberapa - kasus dilaporkan bahwa Pitiriasis Rosea berlangsung hingga 3-4 bulan Penatalaksanaan yang penting pada Pitiriasis Rosea adalah dengan mencegah bertambah hebatnya gatal yang ditimbulkan. sedikit yang ditemukan adanya Herald patch. Khusus . kemudian menetap selama sekitar 2 minggu. Pada kasus yang lebih berat dengan lesi yang luas dan gatal yang hebat dapat diberikan glukokortikoid topikal kerja menengah ( bethametasone - dipropionate 0. air.25% mentol. dan keringat dapat menyebabkan lesi menjadi bertambah berat.2. eritromisin oral pernah dilaporkan cukup berhasil pada penderita Pitiriasis Rosea yang diberikan selama 2 minggu3. umumnya sering didapatkan adanya lesi pada mulut berupa hiperpigmentasi postinflamasi.4 H.

7 Asiklovir dapat diberikan untuk mempercepat penyembuhan. karena radiasi sinar ultraviolet B ( UVB ) dapat menimbulkan hiperpigmentasi post inflamasi. 12 . Prognosis Prognosis pada penderita Pitiriasis Rosea adalah baik karena penyakit ini bersifat self limited disease sehingga dapat sembuh spontan dalam waktu 3-8 minggu.6. Namun dari penelitian di Tehran. Dosis yang dapat diberikan 5x800mg selama 1 minggu. Eritomisin diduga mempunyai efek sebagai anti inflamasi 5.2 Pemakaian sinar radiasi ultraviolet B atau sinar matahari alami dapat mengurangi rasa gatal dan menguranngu lesi.perbaikan lesi.2 Penggunaan sinar B lebih ditujukan pada penderita dengan lesi yang luas.2 I. Iran yang dilakukan oleh Abbas Rasi et al menunjukkan tidak ada perbedaan perbaikan lesi pada pasien yang menggunakan eritromisin oral dengan pemberian plasebo.

TINJAUAN PUSTAKA 13 .