You are on page 1of 11

Paper Tutorial Block 21

April , 2015

“ MABUK TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH “

Disusun oleh :
Nama

: Egi Novita Ningrum

Stambuk

: N 101 11 002

Kelompok

: I (Satu)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2015

Umumnya digunakan cairan Manitol 1015% per infus untuk "menarik" air dari ruang intersel ke dalam ruang intravaskular untuk kemudian dikeluarkan melalui diuresis. Penggunaan kortikosteroid telah diperdebatkan manfaatnya sejak beberapa waktu yang lalu. Bertujuan untuk menurunkan PO2darah sehingga men-cegah vasodilatasi pembuluh darah. d. piracetam dan citicholine dikatakan dapat membantu mengatasi kesulitan/gangguan metabolisme otak. dapat diberikan dengan dosis awa1250 mg intravena dalam waktu 10 menit diikuti . Selain itu suplai oksigen yang terjaga dapat membantu menekan metabolisme anaerob. Mengurangi edema otak dengan cara:  Hiperventilasi. Perawatan luka da pencegahan dekubitus harus dilakukan sejak dini e. Barbiturat digunakan untuk mem"bius" pasien sehingga metabolisme otak dapat ditekan serendah mungkin. termasuk pada keadaan koma. Pendapat akhir-akhir ini cenderung menyatakan bahwa kortikosteroid tidak / kurang bermanfaat pada kasus cedera kepala. atau pada trauma tembus kepala dan fraktur impresi.  Cara ini hanya dapat digunakan dengan pengawasan yang ketat. pemberian cairan dibatasi sampai 15002000 ml/24 jam agar tidak memperberat edema jaringan. Hemostatik tidak digunakan secara rutin. otak relatif lebih terlindung dari kemungkinan kemsakan akibat hipoksi. Untuk memperoleh efek yang dikehendaki. akibatnya kebutuhan oksigen juga akan menurun. walaupun suplai oksigen berkurang. PO2dipertahankan > 100 mmHg  dan PCO2di antara 2530 mmHg. Antikonvulsan diberikan bila pasien mengalami kejang. c.51 g/kgBB dalam 1030 menit. Pemeriksaan awal dari scenario a. Cairan hiperosmoler. Pada 24-48 jam pertama. umumnya diberikan 0. manitol harus diberikan dalam dosis yang cukup dalam waktu  singkat. sehingga dapat mengurangi kemungkinan asidosis. f. Penggunaannya berdasarkan pada asumsi bahwa obat ini menstabilkan  sawar darah otak. karena kebutuhan yang rendah. Obat-obatan neuroprotectan seperti piritinol.Learning objectives 1. Perdarahan intrakranial tidak bisa diatasi hanya dengan hemostatik. preparat parenteral yang ada ialah fenitoin. Memperbaiki / mempertahankan fungsi vital (ingat ABC) b. Kortikosteroid. pasien trauma kepala umumnya sehat dengan fungsi pembekuan normal. Bila dapat diperiksa.

pdf . K. Diakses pada 28 Arpril 2015.E. Setelah itu diberi.: Slide share: Cedera kepala._kesehatan_&_rekreasi/prodi.upi.edu/direktori/fpok/jur. Diazepam 10 mg iv diberikan bila terjadi kejang._pend.dengan 250-500 mg fenitoin per infus selama 4 jam.kan 3 dd 100 mg/hari per oral atau intravena. Phenobarbital tidak dianjurkan karena efek sampingnya berupa penurunan kesadaran dan depresi pernapasan Sumber: Wijawanti. Dari: http://file._kepera watan/198203222008012-kurnia_eka_wijayanti/cedera_kepala.

deformitas kepala (dari inspeksi dan palpasi). Diakses pada 28 Arpril 2015.html#ixzz3YdmrZvYz 2. pancreatitis. lumbal punksi Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid Analisis gas dara Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial.ac. perdarahan dan trauma. cerebrovascular accidents. CSF. . Sumber : journal. penyakit jantung koroner dan yang paling sering menyebabkan kematian adalah komplikasi akibat sirosis hepatis yang 15 – 20 % terjadi pada orang orang alkoholik kronis.RR. neuropati perifer. Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial.malabsorbsi.id/jai/article/download/1113/937 3. Kadar elektrolit Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial. seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema. Setelahmemasuki sirkulasi. Gangguan yang sering timbul pada penggunaan alkohol dalam jangka waktu lama meliputi ulserasi traktus gastrointestinal. Pemeriksaan tambahan selain CT-Scan . Sedangkan konsumsi kronis alkohol berkaitan erat dengan gangguan multiorgan yang terjadi melalui berbagai mekanisme.ugm. nyeri kepala yang menetap gangguan fokal neurologis. luka tembus. hepatitis alkoholik.com/2009/10/cedera- kepala_29. Sebagai indikasi foto polos kepala meliputi jangan mendiagnosa foto kepala normal jika foto tersebut tidak memenuhi syarat. Bagaimana alkohol mempengaruhi sistem saraf dan rangsangan nyeri Efek akut konsumsi alkohol berhubungan dengan penekanan terhadap Sistem Saraf Pusat (SSP). gangguan kesadaran. Intensitas penekanan ini bergantung pada jumlah alkohol dalamdarah4. keganasan. fatty liver. Dari: http://sanirachman.Foto polos kepala Indikasi jika jejas lebihdari 5 cm. alkohol segeraberefek pada susunan saraf. terutama menekan kerja otak. pada kecurigaan adanya fraktur depresi maka dilakukan foto polos posis AP/lateral dan - - - oblique. adanya corpus alienum. hipertensi. MRI Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif Cerebral angiography Menunjukkan anomali sirkulasi serebral.

langkah pertama adalah menentukan penyebab pupil anisokor dengan pemeriksaan mata yang lengkap.: 2012. Jakarta: Dian Rakyat Sjamsuhidayat. Sumber: Sjahrir.Sumber : Sjamsuhidayat. Hal ini bisa terjadi pada orang tua dan disebut Pupil aniskor yang sederhana (simple anisocoria). R. Jakarta: EGC 4. Edisi 3.: 2008.: 2012. Pupil anisokor lebih jelas pada cahaya redup dibandingkan cahaya terang tidak ada dilatation lag. Perlu pula diingat terdapat persentasi individu yang memiliki perbedaan ukuran pupil. Prosedur rujukan dari puskesmas dan RS? Apa yang dilampirkan? PERENCANAAN RUJUKAN  Komunikasikan rencana merujuk dengan pasien dan keluarganya. Pemeriksaan termasuk adanya ptosis atau keterbatasan gerakan bola mata. karena rujukan harus medapatkan pesetujuan dari pasien dan/atau keluarganya. dan dengan pemberian cocaine terdapat dilatasi yang normal. Jakarta: EGC 5. Tenaga kesehatan perlu memberikan kesempatan. H. Buku ajar ilmu bedah de jong. R. Biasanya perbedaan pupil tidak lebih dari 1 mm dan dapat bervariasi dari hari ke hari. Ilmu Penyakit Saraf Neurologi Khusus. apabila situasi memungkinkan. Buku ajar ilmu bedah de jong. Beberapa hal yang disampaikan sebaiknya meliputi: o Diagnosis dan tindakan medis yang diperlukan o Alasan untuk merujuk o Risiko yang dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan o Risiko yang dapat timbul selama rujukan dilakukan o Waktu yang tepat untuk merujuk dan durasi yang dibutuhkan untuk merujuk o Tujuan rujukan . Mekanisme terjadinya pupil anisokor Dalam mengevaluasi pupil anisokor. Evaluasi pasien dengan pupil anisokor dapat dilakukan dengan mudah. untuk menjawab pertimbangan dan pertanyaan pasien serta keluarganya. Edisi 3.

berdasarkan pengalaman-pengalaman rujukan sebelumnya  Hal yang perlu dicatat oleh pusat layanan kesehatan yang akan menerima pasien adalah: o Nama pasien . atau asuransi kesehatan) o Petunjuk arah dan cara menuju tujuan rujukan dengan menggunakan modalitas transportasi lain o Pilihan akomodasi untuk keluarga  Hubungi pusat layanan kesehatan yang menjadi tujuan rujukan dan sampaikan kepada tenaga kesehatan yang akan menerima pasien hal-hal berikut ini: o Indikasi rujukan o Kondisi pasien o Rencana terkait prosedur teknis rujukan (termasuk kondisi lingkungan dan cuaca menuju tujuan rujukan) o Kesiapan sarana dan prasarana di tujuan rujukan o Penatalaksanaan yang sebaiknya dilakukan selama dan sebelum transportasi.o Modalitas dan cara transportasi yang digunakan o Nama tenaga kesehatan yang akan menemani pasien o Jam operasional dan nomer telepon rumah sakit/pusat layanan kesehatan yang dituju o Perkiraan lamanya waktu perawatan o Perkiraan biaya dan sistem pembiayaan (termasuk dokumen kelengkapan untuk Jampersal. Jamkesmas.

pastikan hal-hal tersebut telah dicatat dan diketahui oleh tenaga kesehatan di pusat layanan kesehatan yang akan menerima pasien. Sumber : http://www.edukia. gambaran CT berupa campuran hiper.o Nama tenaga kesehatan yang merujuk o Indikasi rujukan o Kondisi pasien o Penatalaksanaan yang telah dilakukan sebelumnya o Nama dan profesi tenaga kesehatan yang mendampingi pasien  Saat berkomunikasi lewat telepon. Gambaran CT-Scan dan pemeriksaan lain dari kasus skenario Gambaran scenario : a. gambaran tersebut bisa isodens atau bahkan hipodens. b.Akut. Subdural hematome (SDH) . Subakut.org/web/kbibu/2-1-3-sistem-dan-cara-rujukan/ 6. iso dan hypodens . gambaran CT-Scan terdapat daerah hiperdens berbentuk bulan sabit. Epidural hematom (EDH) Pada pemeriksaan CT-Scan kepala pakan terlihat sebagai massa hiperdens berbentuk bikonveks. Jika penderita anemis atau terdapat cairan serebrospinal yang mengencerkan darah di - subdural.

d. Pemeriksaan CTScan terbagi : .c. Subarachnoid hematom (SAH) Evaluasi CT-Scan memperlihatkan bahwa gambaran perdarahan subarachnoid traumatika lebih cepat menghilang dibandingkan perdarahan subarachnoid karena ruptur aneurisma. Intraserebral hematom (ICH) Pada CT-scan akan memberikan gambaran daerah hiperdens yang homogen dan berbatas tegas. hematom berukuran kecil sampai sedang pada CT-Scan awal.Tipe 1. 2013. hematom terbentuk pada daerah yang normal pada CT-Scan awal Tipe 4. . kemudian - membesar pada CT-Scan selanjutnya Tipe 3. hematom terbentuk pada daerah abnormal sejak awal Sumber : Safrizal. Adanya darah pada ruang subarachnoid ini dapat menyebabkan hidrosefalus. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Andalas. Hubungan Nilai Oxygen Delivery dengan Outcome Rawatan Pasien Cedera Kepala Sedang.Tipe 2. Disekitar lesi akan disertai dengan edema perifokal. hematom sudah terlihat pada CT-Scan awal . Perdarahan subarachnoid traumatika umumnya darah akan menghilang dari gambaran CT-Scan kepala setelah 2 hari.

amnesia atau sakit kepala hebat. Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF yang merembes ke dalam hidung. perlu dilakukan lebih dalam mencakup pemeriksaan fungsi batang otak. Dasar fossa dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontale di lateral dan oleh lamina cribiformis os etmoidalis di medial.opticus dan a. Jakarta: EGC 8. selain pemeriksaan GCS. Apa saja aspek penting yang perlu diperiksa dari cedera kepala Pemeriksaan klinis pada pasien cedera kepala secara umum meliputi anamnesis. Sumber : Sjamsuhidayat. Idealnya penderita cedera kepala diperiksa dengan CT-Scan. sementara bagian . Fossa cranii media terdiri dari bagian medial yang dibentuk oleh corpus os sphenoidalis dan bagian lateral yang luas membentuk cekungan kanan dan kiri yang menampung lobus temporalis cerebri. fungsi sensorik. atau adanya defisit neurologis fokal. sakit kepala hebat. Pada fraktur fossa cranii anterior. GCS<15. Permukaan atas lamina cribiformis menyokong bulbus olfaktorius. dan refleks-refleks. Pemeriksaan CT-Scan idealnya harus dilakukan pada semua cedera kepala yang disertai dengan kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit. Buku ajar ilmu bedah de jong. pemeriksaan fisik umum. Di anterior dibatasi oleh ala minor os sphenoidalis dan terdapat canalis opticus yang dilalui oleh n. Pemeriksaan CT-SCAN sangat mutlak pada kasus kepala berat dengan GCS 8. Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi mukoperiostium. saraf kranial. Fraktur basis crani ada 3 anterior media posterior dan tanda dan gejala Fossa crania anterior menampung lobus frontal cerebri. pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan radiologis. lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. Pemeriksaan radiologisyang paling sering dan mudah dilakukan adalah rontgen kepala yang dilakukan dalam dua posisi yaitu anteroposterior dan lateral. Pada anamnesis informasi yang penting harus ditanyakan adalah mekanisme trauma. dan lubung lubang halus pada lamini cribrosa dilalui oleh nervus olfaktorius. Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis cranii fossa anterior. Foto servikal dilakukan bila terdapat nyeri pada palpasi leher. Pemeriksaan neurologis. Pada pemeriksaan fisik secara lengkap dapat dilakukan bersamaan dengan secondary survey. dibatasi di anterior oleh permukaan dalam os frontale. Edisi 3. Pemeriksaan meliputi tanda vital dan sistem organ.: 2012.oftalmica. amnesia. Penilaian GCS awal saat penderita datang kerumah sakit sangat penting untuk menilai derajat kegawat daruratan cedera kepala. fungsi motorik. terutama bila dijumpai adalnya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna. R.7. batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis.

Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n. Dasar fossa cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris. Bocornya CSF dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus sering terjadi (otorrhea) N. Sumber : khalilullah S. craniais VII dan VIII dapat cedera pada saat terjadi cedera pada pars perrosus os temporal. maka disebut “halo” atau “ring” sign. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 9. Abducens Fraktur pada basis cranii fossa media sering terjadi. condylaris. darah ditemukan dan muncul di otot otot trigonu posterior. maka akan menunjukkan gambaran seperti cincin yang jelas yang melingkari darah. Cavum timpani dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera. n. Membrane mukosa atap nasofaring dapat robek. X dan XI dapat cedera. n. yaitu cerebellum. Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui oleh medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya pars spinalis assendens n. dapat dipastikan dengan salah satu pemeriksaan suatu tehnik dengan mengoleskan darah tersebut pada kertas tisu. karena daerah ini merupakan tempat yang paling lemah dari basis cranii. Fossa cranii posterior menampung otak otak belakang. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh . dekat prosesus mastoideus. lacrimalis. Dilateral terdapat pars squamous pars os temporal Fissura orbitalis superior. N.trochlearis.frontale. Beberapa hari kemudian. accessories dan kedua a. cranialis III. 2011. occulomotorius dan n. Review Article Basilar Skull Fracture (BSF)/Fraktur Basis Cranii. yang merupakan celah antara ala mayor dan minor os sphenoidalis dilalui oleh n. Kebocoran dari CSF juga dapat dibuktikan dengan menganalisa kadar glukosa dan dengan mengukur transferrin Sumber : khalilullah S. dan darah mengalir keluar. n. IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral sinus cavernosus robek. Di anterior fossa di batasi oleh pinggi superior pars petrosa os temporal dab di posterior dibatasi oleh permukaan dalam pars squamosa os occipital. 2011. dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal. Pemeriksaan halo tes Perdarahan dari telinga atau hidung pada kasus dicurigai terjadinya kebocoran CSF.IX. Secara anatomi kelemahan ini disebabkan oleh banyak nya foramen dan canalis di daerah ini.posterior dibatasi oleh batas atas pars petrosa os temporal. Review Article Basilar Skull Fracture (BSF)/Fraktur Basis Cranii.vertebralis Pada fraktur fossa cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di bawah otot otot postvertebralis. pons dan medulla oblongata.

berada dalam keadaan koma dan terkait cedera tulang belakang servikalis. Sumber : khalilullah S. Sebagian besar pasien dengan fraktur condylar os oksipital. 2011. Sumber : khalilullah S. Bagian occipital Fraktur condylar os oksipital adalah cedera yang sangat langka dan serius12. terutama dengan tipe III.10. Review Article Basilar Skull Fracture (BSF)/Fraktur Basis Cranii. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 11.tiba mendapat gaya mendadak sehingga membentuk sudut terhadap gerak kepala. 2011. Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba . Rotasi adalah apabila tengkorak tiba . Proses aselerasi dan deselerasi Akselerasi apabila kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba tiba suatu gaya yang kuat searah dengan gerakan kepala. maka kepala akan mendapat percepatan (akselerasi) pada arah tersebut.tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala menabrak tembok maka kepala tiba tiba terhenti gerakannya. Pasien ini juga memperlihatkan cedera lower cranial nerve dan hemiplegia atau guadriplegia. Review Article Basilar Skull Fracture (BSF)/Fraktur Basis Cranii. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh .