You are on page 1of 3

RIVALITAS DALAM HUBUNGAN

INDUSTRIAL
Oleh IRON SARIRA (April 2016)
Ketentuan Pasal 28 UUD 1945 menyebutkan: “Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran baik dengan lisan maupun tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” Terkait dengan serikat
pekerja/serikat buruh (selanjutnya digunakan istilah “serikat pekerja”), maka
rumusan pasal inilah yang menjadi dasar konstitusional bagi pembentukkan
serikat pekerja di dalam suatu perusahaan. Pembentukan dan keberadaan
serikat pekerja adalah pengejawantahan hak-hak konstitusional warga negara.
Serikat pekerja merupakan sarana bagi para pekerja untuk menyalurkan
aspirasinya. Salah satu saluran aspirasi yang dapat digunakan oleh pekerja
melalui jalur serikat pekerja adalah hak untuk melakukan negosiasi dengan
perusahaan dalam penyusunan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) antara
pekerja dan perusahaan. Dengan adanya serikat pekerja, maka hubungan ideal
antara pekerja dan perusahaan bukanlah relasi atasan-bawahan, tetapi
merupakan mitra.
Dari sisi aturan hukum, pengaturan tentang ketenagakerjaan tidak hanya
bersandar pada Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
saja tentunya. Dalam hal serikat pekerja, undang-undang khusus yang
mengaturnya adalah Undang-undang No. 21 Tahun 2000 Serikat Pekerja. Jika
hubungan hukum antara pekerja di lihat secara utuh, maka atmosfir demokrasi
sangat terasa dalam hal mitra kerja.
Akan tetapi, tujuan demokrasi tersebut tidak dirumuskan dengan baik dalam
rumusan Undang-undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja. Dalam hal
ini, yang menjadi masalah utama adalah tentang syarat minimal sepuluh orang
dalam hal pendirian serikat pekerja. Penentuan jumlah minimal sepuluh orang
ini sepertinya tidak memiliki alasan yang jelas, karena pada praktiknya

Deadlock ini terutama disebabkan oleh perbedaan pendapat dan perbedaan kepentingan atau rivalitas sesama pemangku kepentingan. Selain itu. Tetapi. Atas situasi tersebut. Dalam menjalankan demokrasi ketenagakerjaan. apakah cerminan demokrasi seperti ini yang memang diinginkan dalam pengaturan hukum ketenagakerjaan kita? Seyogianya kekuatan posisi tawar para pekerja memang tidak perlu harus diwadahi oleh berbagai serikat pekerja di satu perusahaan. dapat dikatakan ironis bahwa sistem demokrasi ketenagakerjaan melalui serikat pekerja ternyata bisa menjadi salah satu penghambat efektivitas ekonomi pada suatu perusahaan. Jika proses sistem produksi terganggung. berpotensi membuat deadlock dalam penyusunan KKB dan penyusunan peraturan kerja atau pedoman kerja karyawan. tetapi bisa mengganggu sampai ke suasana kerja. Rivalitas antara sesama serikat pekerja atau antara perusahaan dengan serikat pekerja. Mediator Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta mengakui bahwa sering masuk permohonan mediasi yang diakibatkan rivalitas tersebut. maka pada akhirnya akan berdampak pula kepada pekerja pekerjanya. berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2014. . Lalu. kedewasaan antara pihak serikat pekerja dengan pihak perusahaan memang diperlukan.terkadang memunculkan beberapa serikat pekerja dalam satu perusahaan. Jika benturan kepentingan dan perbedaan pendapat antara perusahaan dan pekerja melalui serikat pekerja sering di suatu perusahan. aturan hukum juga menjadi penting sebagai landasan bertindak bagi masing-masing pihak dalam memperjuangkan kepentingan. tidak hanya terjadi di forum penyusunan peraturan saja. maka secara hipotetis dapat saja pelaku usaha berpandangan bahwa keberadaan serikat pekerja justru merugikan dari sisi ekonomi. maka tentu hal itu akan mengganggu proses produksi di perusahaan tersebut. Dengan adanya lebih dari satu serikat pekerja di satu perusahaan. misalnya. Banyaknya serikat pekerja pada satu perusahaan berpeluang menimbulkan kekacauan dalam sistem hubungan industrial. Dengan demikian.

1999). sebaiknya serikat pekerja pada suatu perusahaan diatur pendiriannya sehingga tidak boleh ada serikat pekerja lebih dari satu pada suatu perusahaan.Oleh sebab itu. . yaitu: keadilan dalam hubungan kerja dalam hal penempatan kerja. Untuk mewujudkan kemitraan antara serikat pekerja dengan perusahaan. Pembatasan jumlah serikat pekerja juga berguna untuk menghindari pendirian serikat pekerja underbow perusahaan untuk menyerang balik serikat pekerja lainnya. maka pancawarna pekerja dapat tercipta (Soepomo.