You are on page 1of 61

ANESTESI UMUM DENGAN TEKNIK RESPIRASI SPONTAN

MENGGUNAKAN ENDOTRACHEAL TUBE


PADA TONSILEKTOMI ANAK
Laporan Kasus
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Menyelesaikan Pendidikan Klinik Ilmu Anestesi dan Reanimasi

Disusun oleh:
Mira Sagita Tri Cahyani (11711040)
Abrid Farahnaz (11711045)
Fitrizha Rachmadea Gonta (11711074)
Pembimbing :
dr. IG.L Sukamto, Sp.An
dr. Hanifa Agung, Sp.An

PROGRAM PENDIDIKAN KLINIK STASE ILMU ANESTESIA DAN


REANIMASI
RSUD DR. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


LEMBAR PENGESAHAN

ANESTESI UMUM DENGAN TEKNIK RESPIRASI SPONTAN


MENGGUNAKAN ENDOTRACHEAL TUBE
PADA TONSILEKTOMI ANAK

Oleh:
Mira Sagita Tri Cahyani (11711040)
Abrid Farahnaz (11711045)
Fitrizha Rachmadea Gonta (11711074)

Telah dipresentasikan pada tanggal:


dan disetujui oleh:

Pembimbing I

dr. IG.L Sukamto, Sp.An

Pembimbing II

dr Hanifa Agung, Sp.A

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahhirobbil alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita penulis
sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan referat untuk memenuhi
syarat memperoleh derajat sarjana kedokteran ini yang berjudul ANESTESI
UMUM DENGAN TEKNIK RESPIRASI SPONTAN MENGGUNAKAN
ENDOTRACHEAL TUBE PADA TONSILEKTOMI ANAK dengan sebaikbaiknya. Tidak lupa pula shalawat dan salam selalu tercurah untuk baginda kita
tercinta Nabi Besar Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan penghargaan setinggitingginya dan ucapan terimakasih kepada :
1. dr. IG.L Sukamto, Sp.An selaku dokter pembimbing I dalam penulisan ini,
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas bimbingan
dan arahan yang tulus dan penuh kesabaran dalam membimbing penulis.
Sekali lagi kepada beliau penulis mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya, semoga kebaikan beliau dibalas oleh Allah SWT dengan pahala
yang berlimpah.
2. dr. Hanifa Agung, Sp.An selaku dokter pembimbing II dalam penulisan
ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas
bimbingan dan arahan

yang tulus dan penuh kesabaran dalam

membimbing penulis.
3. Seluruh staf perawat anastesi dan bedah di Instalasi Bedah Sentral RSUD
Sragen yang telah memberikan banyak bimbingan dan masukan dalam
menjalankan program sehari-hari.
4. Seluruh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang telah
memberikan ilmunya selama masa perkuliahan selama ini.

Atas seluruh bantuannya, semoga Allah SWT memberikan pahala berlipat


ganda. Amin ya robbal alamin. Semoga karya tulis ini dapat memberikan ilmu
pengetahuan serta manfaat bagi semua pihak.
Wassalamualaikum WR. WB.
Yogyakarta, Juli 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
BAB II LAPORAN KASUS................................................................................12
BAB III DASAR TEORI.....................................................................................12
2.1.

Tonsilitis...................................................................................................12

2.1.1.

Definisi..............................................................................................12

2.1.2.

Epidemiologi.....................................................................................12

2.1.3.

Patofisiologi......................................................................................14

2.1.4.

Klasifikasi.........................................................................................14

2.1.5.

Tanda dan Gejala...............................................................................15

2.1.6.

Pemeriksaan Fisik.............................................................................15

2.1.7.

Komplikasi........................................................................................18

2.1.8.

Pemeriksaan Penunjang....................................................................20

2.1.9.

Pengobatan........................................................................................20

2.2.

Anestesi Umum........................................................................................23

2.2.1.

Definisi..............................................................................................23

2.2.2.

Keuntungan dan Kerugian................................................................23

2.2.3.

Manajemen Perianestesi....................................................................27

BAB IV PEMBAHASAN....................................................................................30
BAB IV KESIMPULAN.....................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................55

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi umum merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit


seluruh tubuh dari sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel.
Anestesi umum ini memungkinkan pasien untuk mentoleransi tindakah
pembedahan yang akan menimbulkan nyeri yang tak tertahankan, merangsang
perubahan fisilogis secara ekstrim, dan meninggalkan memori yang tidak
mengenakkan (Desai, 2011). Sehingga dapat disimpulkan bahwa anestesi umum
adalah suatu tindakan yang menyebabkan perubahan fisiologis secara reversibel
yang dikondisikan untuk memungkinkan pasien menjalani berbagai prosedur
medis (Soenarto, dkk., 2010).
Manajemen perianestesia dibagi menjadi tiga, yaitu periode preanestesi,
periode intraanestesi, dan perioda pascaanestesi. Pada periode preanestesi
tujuannya adalah untuk mencari kemungkinan penylit anestesi atau dalam
tindakan pembedahan. Harus diketahui riwayat kesehatan pasien dan riwayat
pemakaian obat-obatan. Setelah seluruh data dikumpulkan maka dapat dilakukan
penggolongan status fisik menurut ASA (American Society of Anesthesiologist).
Pada periode intraanestesi dibagi menjadi induksi, pemeliharaan, dan pemulihan.
Sementara periode pascaanestesi merupakan tindak lanjut dari periode preanestesi
dan intraanestesi (Soenarjo, dkk., 2010).
Dikenal trias anestesi, yaitu hipnosis, analgesia, dan arefleksia. Untuk
prosedur bedah, analgesia merupakan peringkat teratas komponen anestesi yang
harus dipenuhi. Untuk mencapai trias anestesi dengan kedalaman yang ringan,
yaitu pasien dibuat tidur dengan hipnotik, analgesiknya menggunakan analgetik
kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant). Teknik ini
disebut sebagai balanced anaesthesia. Karena pada balanced anaesthesia
menggunakan pelemas otot, maka otot-otot tidak dapat berkontraksi, termasuk
otot-otot respirasi, sehingga diperlukan nafas buatan melalui endotracheal tube
yang telah dipasang pada saat dilakukan induksi anestesi (Soenarto, dkk., 2010).
Intubasi endotrakea adalah tindakan memasukkan endotracheal tube (ET)
ke dalam trakea melalui mulut. ET digunakan sebagai penghantar gas anestesi ke
dalam trakea dan memudahkan kontrol ventilasi dan oksigenasi. ET untuk orang

dewasa mempunyai sistem inflation cuff, sementara untuk anak di bawah 8 tahun
tidak mempunyai sistem inflation cuff yang disebut sebagai tube non cuff. Tube
non cuff yang digunakan pada anak bertujuan untuk mengurangi risiko trauma
tekanan setelah intubasi dilakukan (Soenarjo, dkk., 2010).
Berdasar respirasinya, anestesi umum dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu (Soenarjo, dkk., 2010):
1. Respirasi spontan, yaitu pasien bernafas sendiri secara spontan.
2. Respirasi kendali / kontrol, yaitu pasien tidak bernafas dan membutuhkan
pernafasan bantuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
3. Respirasi assisted, yaitu pasien bernafas spontan, tetapi masih harus
diberikan bantuan untuk memenuhi minute volume.
Tonsilektomi merupakan pengangkatan jaringan tonsil. Tonsilektomi
biasanya dilakukan dengan adenoidektomi, yaitu pengangkatan jaringan adenoid.
Tindakan operasi tersebut harus dilakukan dengan menggunakan anestesi umum
(general anesthesia) (Udayan, 2008).
Berdasarkan perjalanan waktunya, tonsilitis dibagi menjadi tonsilitis akut,
rekuren, dan kronis. Tonsilitis akut biasanya akan mereda dalam 3-4 hari hingga 2
minggu. Tonsilitis dapat menjadi kronis dan rekuren dan dapat menyebabkan
obstruksi saluran nafas pada penderitanya. Pada kasus tonsilitis kronis, jika
diperoleh adanya sumbatan saluran nafas, yang ditunjukkan dengan gejala sleep
apnea, tidur mendengkur, dan meningkatnya izin sekolah akibat sakit merupakan
pertimbangan dilakukannya tonsilektomi (Udayan, 2008).
Tonsilitis adalah inflamasi pada tonsil faringeal. Inflamasi yang terjadi
biasanya akan mencapai adenoid dan tonsil lingualis; sehingga, dipakai juga
istilah faringitis. Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi jarang pada
anak di bawah usia 2 tahun. Tonsilitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri
maupun virus. Tonsilitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus
biasanya terjadi pada anak usia 5 15 tahun, sementara tonsilitis viral lebihs ering
pada anak yang berusia lebih muda (Udayan, 2008).
BAB IIBAB II
BAB IIILAPORAN KASUS
BAB IV

BAB V2.1. Identitas Pasien


BAB VINama : An. T
BAB VIIUsia

: 10 tahun

BAB VIIIJenis Kelamin

: Laki-laki

BAB IXAlamat: Mojomulyo RT02/11 Sragen Kulon


BAB XAgama : Islam
BAB XIDiagnosis

: Tonsilitis Kronik

BAB XIINo. RM

: 433494

BAB XIII
BAB XIV2.2. Anamnesis
BAB XV2.2.1.Keluhan Utama
BAB XVINyeri tenggorokan
BAB XVII
BAB XVIII2.2.2. Riwayat Penyakit Sekarang
BAB XIXPasien datang bersama ibunya ke poli RSUD dr.
Soehadi Prijonegoro dengan keluhan nyeri telan. Keluhan
tersebut dirasakan pasien sejak 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Nyeri telan dirasakan terutama bila pasien sedang
makan, minum ataupun menelan ludah. Saat ini pasien tidak
mengelukan demam, batuk dan pilek. Menurut ibunya, keluhan
nyeri telan dirasakan setelah beberapa hari sebelumnya
mengalami

demam

dan

pilek.

Pasien

sering

mengalami

demam, batuk, pilek yang kumat-kumatan hampir setiap bulan.


Keluhan terasa jika pasien sering mengkonsumsi minuman
dingin, makanan pedas dan mie. Pasien juga mempunyai
kebiasaan jajan sembarangan disekitar rumahnya
BAB XX
BAB XXI2.2.3. Anamnesis Sistem
BAB XXIISistem Serebrospinal
pusing (-), demam (-), kejang (-)

: Sakit kepala (-),

BAB XXIIISistem Kardiovaskular

Berdebar-debar

(-),

nyeri dada (-), sesak (-)


BAB XXIVSistem Respirasi

: Batuk (-), pilek (-),

sesak nafas (-)


BAB XXVSistem Digesti

: Mual (-), muntah (-),

BAB lancar (+), nyeri perut (-)


BAB XXVISistem Urogenital

: BAK lancar (+), warna

(N), nyeri saat BAK (-)


BAB XXVIISistem Integumentum

: Ruam (-), pucat

(-)
BAB XXVIIISistem Muskuloskeletal

: Akral hangat, turgor

kulit baik
BAB XXIX
BAB XXX2.3. Riwayat Penyakit Dahulu
BAB XXXIRiwayat dengan keluhan serupa (-)
BAB XXXIIRiwayat menjalani tindakan operasi sebelumnya (-)
BAB XXXIIIRiwayat alergi (-)
BAB XXXIV
BAB XXXV2.4. Riwayat Penyakit Keluarga
BAB XXXVIAnggota keluarga dengan keluhan serupa (-)
BAB XXXVIIRiwayat alergi (-)
BAB XXXVIII
BAB XXXIX2.5. Pemeriksaan
BAB XL2.5.1. Pemeriksaan Umum
BAB XLIKeadaan Umum : Baik
BAB XLIIKesadaran

: Composmentis

BAB XLIIITanda Vital


BAB XLIVNadi : 80 x/menit
BAB XLVNafas

: 20 x/menit

BAB XLVISuhu

: 36 oC

BAB XLVIIStatus gizi

: Baik

BAB XLVIIITinggi badan : 120 cm


BAB XLIXBerat badan

: 20 kg

BAB L
BAB LI2.5.2. Pemeriksaan Kepala
BAB LIIInspeksi : Bentuk mesosefal, sefalohematoma (-)
BAB LIIIRambut : Tipis, halus
BAB LIVMata

: Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-),

eksoftalmus (-/-)
BAB LVHidung : Simetris, cuping hidung
BAB LVIMulut
BAB LVIIBibir : Sianosis (-), lesi (-)
BAB LVIIIMukosa bukal : Hiperemis (-), massa (-)
BAB LIXLidah : Hiperemis (-), massa (-)
BAB LXPalatum

: Hiperemis (-), massa (-)

BAB LXIGusi : Hiperemis (-), edema (-)


BAB LXIIGigi : Karies (+)
BAB LXIIIUvula

: Hiperemis (+), edema (+), deviasi (-)

BAB LXIVTonsil

: T4-T4, hiperemis (+), detritus(-)

BAB LXVFaring

: Hiperemis (+)

BAB LXVI
BAB LXVII2.5.3. Leher
BAB LXVIIIInspeksi

: Tidak tampak adanya luka

BAB LXIXPalpasi

: Pembesaran kelenjar limfe (-), massa (-)

BAB LXX
BAB LXXI2.5.4. Toraks
BAB LXXIIInspeksi

: Bentuk normal, dinding dada simetris,

gerakan nafas simetris, laju pernafasan 18 kali/menit,


retraksi dinding dada (-), iktus kordis tampak.

BAB LXXIIIPalpasi

: Ketinggalan gerak (-), iktus kordis kuat

angkat.
BAB LXXIVPerkusi

: Sonor pada kedua lapang paru, batas

jantung kanan : linea midsternalis, batas jantung


kiri : dua jari ke arah lateral dari linea midclavicula
sinistra, batas atas jantung : SIC II linea sterna
sinistra, batas pinggang jantung : SIC III linea
parasternal sinistra. Auskultasi : Cor : BJ I dan II
regular,

bunyi

jantung

tambahan

(-),

pulmo

vasikuler (+/+), ronki (-).


BAB LXXV
BAB LXXVI2.5.5. Abdomen
BAB LXXVIIInspeksi

: Simetris, dinding perut lebih rendah dari

dinding toraks.
BAB LXXVIIIAuskultasi
BAB LXXIXPalpasi

: Peristaltik usus (+)


: Hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan

(-)
BAB LXXXPerkusi

: Timpani

BAB LXXXI
BAB LXXXII2.5.6. Ekstremitas
BAB LXXXIIIInspeksi

: Tidak terdapat luka, bekas operasi,

massa dan sianosis


BAB LXXXIVPalpasi

: Turgor kulit baik, akral hangat

BAB LXXXV
BAB LXXXVI2.6. Pemeriksaan penunjang
BAB LXXXVII2.6.1. Pemeriksaan Darah Rutin
BAB LXXXVIIITabel 2. Hasil pemeriksaan darah (Rekam medis,
2015)

BAB LXXXIXCBC
BAB XCIILeukosit
(uL)

BAB XCHasil
BAB XCIII6.30
0

BAB XCINilai Normal


BAB XCIV4.500
11.500

BAB XCVEritrosit

BAB XCVI4.78

BAB XCVII4.000.000

(uL)
BAB XCVIIIHemoglob

0.000
BAB XCIX12,2

4.200.000
BAB C11,5 - 15,5

in (g/dL)
BAB CIHematokrit

BAB CII35,8

BAB CIII35 - 45

(%)
BAB CIVMCV (fL)
BAB CVIIMCH (pg)
BAB CXMCHC (g/DI)
BAB CXIIIRDW (%)
BAB CXVITrombosit

BAB
BAB
BAB
BAB
BAB

BAB
BAB
BAB
BAB
BAB

(uL)
BAB CXIXMPV (fL)
BAB CXXIIMasa

BAB CXX8,3
BAB CXXIII2,0

BAB CXXI7,2 - 11,1


BAB CXXIV1 - 3

Pembekuan
BAB CXXVMasa

0
BAB CXXVI2,3

BAB CXXVII1 - 6

Perdarahan
BAB CXXVIIIGolonga

0
BAB CXXIXB

BAB CXXX

n Darah
BAB CXXXIGDS

BAB CXXXII10

BAB CXXXIII60-100

CV74,8
CVIII25,5
CXI34,1
CXIV13,7
CXVII373

CVI80 - 99
CIX27 - 31
CXII33 - 37
CXV11,5 - 14,5
CXVIII150 - 450

6
BAB CXXXIV
BAB CXXXV2.6.2. Pemeriksaan Kimia Klinik
BAB CXXXVITabel 3. Hasil pemeriksaan kimia klinik (Rekam medis,
2015)

BAB CXXXVIIFung

BAB CXXXVIIIHa

BAB CXXXIXNilai

si Hati
BAB CXLSGOT

sil
BAB CXLI21

Normal
BAB CXLII< 47

(U/I)
BAB CXLIIISGPT

BAB CXLIV10

BAB CXLV<39

(U/I)
BAB CXLVIFungsi

BAB CXLVII

BAB CXLVIII

Ginjal
BAB CXLIXUreum

BAB CL38,7

BAB CLI< 48

(mg/dL)
BAB CLIIKreatinin

BAB CLIII0,54

BAB CLIV0 - 1

(mg/dL)

BAB CLV
BAB CLVI2.7. Diagnosis operator
BAB CLVIITonsilitis Kronik
BAB CLVIII
BAB CLIX2.8. Kesan
BAB CLXAn. T, 10 tahun dengan diagnosis tonsilitis kronik
akan melakukan rencana operasi tonsilektomi. Dengan status
fisik ASA 1.
BAB CLXI2.9. Laporan Anestesi
1. Diagnosis Pra Bedah
BAB CLXII

Tonsilitis Kronik

2. Diagnosis Pasca Bedah


BAB CLXIII

Tonsilitis Kronik

3. Penatalaksanaan Preoperasi
BAB CLXIV

Infus RL 500 cc

4. Penatalaksanaan Anestesi
a. Jenis pembedahan : Tonsilektomi
b. Jenis anestesi

: General Anestesi

c. Teknik anestesi

: General Anestesi dengan Jackson

Rees
d. Mulai anestesi

: 6 Juli 2015, pukul 08.55 WIB

e. Mulai operasi

: 6 Juli 2015, pukul 09.00 WIB

f.

: SA 0,25 mg iv

Premedikasi
BAB CLXV

Sedacum 1 mg iv

BAB CLXVI

Fentanyl 25 mcg iv

g. Induksi
BAB CLXVII

: Recofol 50 mg iv
Tramus 10 mg iv

h. Medikasi tambahan : Ketorolac 15 mg iv


i.

Maintenance

: O2, N2O, Isoflurane

j.

Respirasi

: Pernapasan spontan

k. Posisi

: Supine

l.

: Terlampir

Pemantauan HR

m. Selesai operasi

: 6 Juli 2015, pukul 09.20 WIB

n. Perdarahan

: 5cc

o. Cairan masuk

: RL 500 cc

p. Lama pembedahan : 20 menit


BAB CLXVIII
BAB CLXIX2.10. Persiapan
BAB CLXXOperasi Tonsilektomi dilakukan pada hari senin, 6 Juli
2015 (laporan anestesi terlampir).
BAB CLXXIPersiapan pasien di ruangan :
Informed

consent

(penjelasan

tindakan

dan

persetujuan tertulis).
Pemasangan infuse. Pasien diberikan terapi cairan
untuk

memenuhi

kebutuhan

cairan,

cairan

yang

diberikan adalah kristaloid isotonis (Ringer Laktat)


sebanyak 192 cc/ 6jam (2 cc x 20 (BB) x jam puasa).
Pengosongan lambung. Pasien dipuasakan selama 6
jam.
Pemeriksaan fisik (keadaan umum, kesadaran, tanda
vital) ulang pada pagi hari.
BAB CLXXII08.30 : Pasien dibawa dari bangsal mawar ke ruang
IBS.
BAB CLXXIII08.45 : Pasien masuk ke ruang OK 2, dilakukan
pemasangan O2, dilakukan pemasangan monitor dengan
hasil nadi 110 x/menit, dan SpO2 99%.
BAB CLXXIV08.55

: Dilakukan premedikasi menggunakan

SA i.v. 0,25 mg, fentanyl i.v. 25 mcg, dan midazolam i.v.


1 mg. Induksi pasien menggunakan Propofol i.v. 60 mg.
Penggunaan premedikasi pada pasien ini bertujuan untuk

menimbulkan

rasa

nyaman

pada

pasien

dengan

pemberian analgesia dan mempermudah induksi dengan


menghilangkan rasa khawatir. Setelah didapatkan reflek
bulu mata pasien negatif, dilakukan intubasi pada pasien
dengan memasang endotrakeal tube dengan muscle
relaxan yaitu atraqurium, tunggu kerja dari pelemas otot
sehingga

mempermudah

dilakukannya

pemasangan

endotrakeal tube.
BAB CLXXVCek

alat

yang

diperlukan

seperti

mesin

anestesi, laringoskop, ET dan stetoskop, pastikan semua


berfungsi dengan baik dan pilih pipa endotrakeal (ET)
yang

sesuai

ukuran,

cek

fungsi

balon

dengan

mengembangkan dengan udara 10 ml. Jika fungsi baik


kempeskan balon. Beri pelumas pada ujung pipa ET
sampai daerah cuf. Letakkan bantal kecil atau RL di
oksiput dan pertahankan kepala sedikit ekstensi. Bila
perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring.
Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri
memegang

laringoskop.

Masukkan

bilah

laringoskop

dengan lembut menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan


lidah ke kiri. Masukkan bilah sedikit sampai ujung
laringoskop mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah
atau bibir tidak terjepit di antara bilah dan gigi pasien.
BAB CLXXVIBila pita suara sudah terlihat, masukkan pipa
ET dari sebelah kanan mulut ke faring sampai bagian
proksimal dari cuf ET melewati pita suara. Kemudian
dihubungkan dengan Jackson rees yang telah terpasang
pada mesin anestesi yang menghantarkan gas N 2O,
Sevoflurance dan O2 dari mesin ke jalan nafas pasien
sambil melakukan bagging selama kurang lebih 2 menit

untuk menekan pengembangan paru. Lakukan ventilasi


sambil melakukan auskultasi pada paru kanan dan kiri
sambil memperhatikan pengembangan dada. Setelah
bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon cuf
dengan spuit 10 cc. Lakukan fiksasi pipa dengan plester
agar tak terdorong atau tercabut. Lakukan ventilasi terus
dengan oksigen 100%.
BAB CLXXVII09.00

Tindakan

operasi

dimulai,

selama

tindakan berlangsung dilakukan maintenance terhadap


pasien menggunakan N2O, Sevoflurance dan O2. Lakukan
monituring denyut nadi selama operasi berlangsung.
BAB CLXXVIII09.20

Operasi

selesai

dilakukan.

Sesaat

setelah operasi selesai gas anestesi diturunkan untuk


menghilangkan efek anestesi perlahan-lahan dan untuk
membangunkan pasien. Dan diharapkan agar pasien
dapat melakukan nafas

spontan menjelang operasi

hampir selesai. Setelah bernafas spontan, gas sevofluran


dihentikan karena pasien sudah nafas spontan dan
adekuat.

Kemudian

dilakukan

ekstubasi

endotrakeal

secara cepat untuk menghindari penurunan saturasi


lebih lanjut. Total cairan yang diberikan selama operasi
sejumlah Ringer laktat 500 cc dan perdarahan pada
operasi ini sebanyak 3cc. Setelah selesai pembedahan
dilakukan pemberian analgetik, injeksi Ketorolac 15 mg
i.v. Diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek
terhadap

nyeri

akut

sedang

sampai

berat

setelah

dilakukan,

dengan

prosedur pembedahan.
BAB CLXXIX09.25 :

Pembedahan

selesai

pemantauan akhir Nadi 137x/menit, dan SpO2 99%.


Pembedahan

dilakukan

selama

20

menit

dengan

perdarahan 3 cc. Pasien kemudian dipindahkan ke


ruang pemulihan (Recovery room), selama di ruang
pemulihan, jalan nafas dalam keadaan baik, pernafasan
spontan dan adekuat serta kesadaran compos mentis.
Nadi selama 15 menit pertama pasca operasi stabil yaitu
125 x/menit. Total skor stewart = 6 maka pasien dapat
keluar dari recovery room (RR).
BAB CLXXX

Tabel 4. Monitoring nadi dan saturasi O2

BAB CLXXXIM

BAB CLXXXIIN BAB CLXXXIIIS

enit
adi
O2
BAB CLXXXIV0 BAB CLXXXV1 BAB CLXXXVI1
8.55
10
00
BAB CLXXXVII0 BAB CLXXXVIII BAB CLXXXIX9
9.00
BAB CXC09.05
BAB CXCIII09.

137
BAB CXCI139
BAB CXCIV13

9
BAB CXCII99
BAB CXCV99

10
BAB CXCVI09.

7
BAB CXCVII1

BAB CXCVIII9

15
BAB CXCIX09.

37
BAB CC137

9
BAB CCI99

20

BAB III
DASAR TEORI
BAB CCII
3.1. Tonsilitis
3.1.1. Definisi
BAB CCIIITonsilitis adalah inflamasi pada tonsil faringeal. Inflamasi yang
terjadi biasanya akan mencapai adenoid dan tonsil lingualis; sehingga, dipakai
juga istilah faringitis. Faringotonsilitis dan adenotonsilitis juga merupakan variasi
dari tonsilitis, mengingat daerah tersebut berdekatan dengan tonsil (Shah, 2014).
BAB CCIV
BAB CCV3.1.2 Anatomi dan Fisiologi Tonsil
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil
faringeal (adenoid), tonsil palatine dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya
membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil palatina atau yang
biasanya disebut tonsil adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam
fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval
dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang
meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa
tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil
terletak di lateral orofaring. Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis

gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus
terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli
terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus.
Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang
tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik.
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah
otot palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau
dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Berlawanan dengan
dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX
yaitu nervus glosofaringeal.
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna,
yaitu 1) arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri
tonsilaris dan arteri palatina asenden; 2) arteri maksilaris interna dengan
cabangnya arteri palatina desenden; 3) arteri lingualis dengan cabangnya arteri
lingualis dorsal; 4) arteri faringeal asenden. Vena-vena dari tonsil membentuk
pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus
vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal. Aliran getah bening
dari daerah tonsil akan menuju kelenjar getah bening servikal profunda (deep
jugular node) bagian superior di bawah muskulus sternokleidomastoideus,
selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus.
Tonsil faringeal atau adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan
terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Adenoid
tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring.
Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan
posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba
eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya
adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan
mengalami regresi. Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua
oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini
terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla
sirkumvalata.

3.1.3 Epidemiologi
BAB CCVITonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi jarang
pada anak di bawah usia 2 tahun. Tonsilitis yang disebabkan oleh infeksi
Streptococcus biasanya terjadi pada anak usia 5 15 tahun, sementara tonsilitis
viral lebihs ering pada anak yang berusia lebih muda. Abses peritonsilar biasanya
terjadi pada dewasa muda dan remaja.
BAB CCVIIFaringitis biasanya terlibat pada berbagai infeksi saluran nafas
atas (ISPA). Kurang lebih 2,5 % dan 10,9 % anak-anak dikatakan sebagai karier.
Pada salah satu studi dikatakan bahwa prevalensi status karier Streptococcus grup
A pada anak-anak usia sekolah adalah sebanyak 15,9 % (Pichichero, 2003; Wald,
2001).
BAB CCVIII3.1.4. Patofisiologi
BAB CCIXInfeksi bakterial atau virus dan faktor imunologis akan
menyebabkan tonsilitis dan komplikasinya. Kondisi lingkungan yang terlalu padat
penduduk dan malnutrisi akan memudahkan terjadinya tonsilitis. Sebagian besar
faringitis akut dan tonsilitis akut disebabkan oleh virus sebagai berikut
(Pichichero, 2003) :
1. Herpes simplex virus
2. Epstein-Barr virus
3. Cytomegalovirus
4. Adenovirus
5. Measles virus
BAB CCXInfeksi bakterial menjadi penyebab sebanyak 15 30 % kasus
faringotonsilitis. Bekteria anaerob juga memiliki peran sendiri pada penyakit yang
berkaitan dengan tonsil. Sebagian besar kasus tonsilitis bakterial disebabkan oleh
group A beta-hemolytic Streptococcus pyogenes (GABHS). S. pyogenes akan
berikatan dengan reseptor adhesin yang terletak di epitel tonsil. Imunoglobulin
akan melapisi patogen yang merupakan awal dari terjadinya tonsilitis bakterial
(Pichichero, 2003).
BAB CCXI3.1.5. Klasifikasi

BAB CCXIIBerdasarkan perjalanan waktunya, tonsilitis terbagi menjadi


beberapa jenis, yaitu (Baugh, dkk., 2011):
- Akut : terjadi gejala tonsilitis yang biasanya akan mereda dalam 3 4 hari
yang dapat menetap hingga 2 minggu.
- Rekuren : jika terdapat sebanyak 7 episode kultur positif dalam 1 tahun, 5
infeksi dalam 2 tahun berturut-turut, atau 3 infeksi setiap tahun pada 3
tahun yang berurutan.
- Kronis : gejalanya yang timbul biasanya berkaitan dengan infeksi kronis
pada tonsil, yaitu nyeri tenggorok kronis, halitosis, dan nyeri pada
limfonofi servikal.
BAB CCXIII3.1.6 Tanda dan Gejala
BAB CCXIVAnamnesis yang lengkap terhadap riwayat penyakit sekarang
dan dahulu pada pasien akan menentukan jenis tonsilitisnya (akut, rekuren, atau
kronis). Individu dengan tonsilitis akut biasanya menunjukkan demam, nyeri
tenggotokan, nafas bau, disfagia (susah menelan), odinofagia (nyeri telan), dan
nyeri tekan pada limfonodi servikal. Obstruksi saluran nafas dapat bermanifestasi
sebagai nafas melalui mulut, mendengkur, gangguan nafas saat tidur, atau sleep
apnea. Sering disertai dengan letargi dan malaise. Gejala yang timbul mereda
dalam 3-4 hari dan dapat mencapai 2 minggu Tonsilitis kronis biasanya
menimbulkan gejala nyeri telan kronis, halitosis, dan nyeri tekan pada limfonodi
servikal yang persisten (Baugh, dkk., 2011;Wald, 2001).
BAB CCXV
BAB CCXVI3.1.7 Pemeriksaan Fisik
BAB CCXVIIPemeriksaan fisik harus diawali dengan menentukan derajat
gangguan saluran nafas dan fungsi menelan. Pemeriksaan pada faring diawali
dengan membuka mulut tanpa lidah menjulur, diikuti dengan penekanan bagian
tengah lidah. Periksa daerah mukosa oral, gigi, dan duktus kelenjar ludah
menggunakan spatel lidah. Jika telah terjadi trismus yang berat, pemeriksaan
fisiknya dapat dibantu menggunakan alat nasofaringoskopi fiberoptik fleksibel
(Udayan, 2008).

BAB CCXVIII
BAB CCXIXGambar 1 Pemeriksaan faring , dan tonsil kiri

BAB CCXX
BAB CCXXIGambar 2 Pemeriksaan mukosa oral (kanan)

BAB CCXXIIPada pemeriksaan fisik tonsilitis akut dapat ditemukan


demam dan pembesaran tonsil yang mengalami inflamasi yang bisa terdapat
eksudat. Streptococcus pyogenes grup A beta-hemolitik dan EBV (Ebstein-Barr
virus) dapat menyebabkan tonsilitis yang berkaitan dengan terjadinya peteki pada
palatum. (Udayan, 2008).

BAB CCXXIII
BAB CCXXIVGambar 3 Tonsilitis akut bakterial: tonsil membesar dan
terjadi inflamasi disertai eksudat uvula tampak masih di garis tengah
BAB CCXXVPernafasan melalui mulut dan perubahan suara (lebih tebal
atau lebih dalam) merupakan akibat dari pembesaran tonsil yang menyebabkan
obstruksi. Perubahan suara pada tonsilitis akut biasanya tidak separah pada abses
peritonsilar. Pada abses peritonsilar akan terjadi edema faring dan trismus yang
akan menyebabkan suara menjadi berubah, yang disebut sebagai hot-potato voice.
(Brooke, 2005).
BAB CCXXVINyeri tekan pada limfonodi servikal dan kaku pada leher
biasanya terjadi pada tonsilitis akut. Periksa kulit dan mukosa untuk melihat tanda
dehidrasi. Pertimbangkan mononukleosis infeksius akibat EBV pada remaja atau
anak kecil dengan tonsilits akut, terutama jika ditemukan nyeri tekan pada
limfonodi servikal, aksila, atau inguinal; splenomegali; letargi dan malaise berat;
dan low grade fever. Membran keabu-abuan dapat menutupi tonsil yang
mengalami inflamasi akibat infeksi EBV. Membran ini dapat dihilangkan tanpa
adanya perdarahan. Erosi pada mukosa palatum dan peteki pada mukosa pada
palatum durum juga dapat terjadi (Baugh, dkk., 2011).

BAB CCXXVII
BAB CCXXVIIIGambar 4 Tonsilitis akibat EBV (moninukleosis infeksius) : tampak
tonsil yang membesar mengalami inflamasi tertutupi bercak keabu-abuan

BAB CCXXIXSedangkan pada individu dengan faringitis HSV akan


menunjukkan tonsil yang membengkak, kemerahan, yang dapat ditemukan pula
ulkus pada permukaannya. Dapat ditemukan pula stomatitis gingival, herpes
labialis, dan lesi hipofaringeal dan epiglotis (Baugh, dkk., 2011).
BAB CCXXXJika terjadi abses peritonsilar akan ditemukan pembesaran
(bulging) unilateral di atas atau di lateral salah satu tonsil. Hampir selalu
ditemukan trismus pada berbagai derajat keparahan. Dapat disertai pula otalgia
unilateral (Baugh, dkk., 2011; Brooke, 2005).
.1.8. Komplikasi
BAB CCXXXI3.1.9. Pemeriksaan Penunjang
BAB CCXXXIITonsilitis

merupakan

diagnosis

klinis.

Pemeriksaan

penunjang dibutuhkan jika mengindikasikan adanya infeksi GABHS. Kultur


tenggorok merupakan standar untuk mendeteksi GABHS. Pasien dengan tonsilitis
yang dicurigai terjadi penyebaran ke struktur leher yang lebih dalam perlu
dilakukan evaluasi radiologi menggunakan foto polos leher lateral atau CT scan
dengan kontras. Pada kasus abses peritonsilar, diperlukan CT scan dengan kontras
(Baugh, dkk., 2011).
BAB CCXXXIII3.1.10. Pengobatan
BAB CCXXXIVPengobatan

tonsilitis

akut

bersifat

suportif,

mempertahankan hidrasi yang adekuat, masukan kalori, mengendalikan demam,

dan mengendalikan nyeri. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kalori oral dan


masukan cairan dibutuhkan hidrasi intravena, antibiorik, dan pengendali nyeri.
Kortikosteroid intravena juga dapat diberikan untuk mengurangi edema faring.
Obstruksi jalan nafas membutuhkan manajemen dengan menempatkan alat
penunjang saluran nafas, kortikosteroid intravena, dan pemberian iksigen (Shah,
2014)
BAB CCXXXV

Dahulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi

tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi
saluran napas dan hipertrofi tonsil. Menurut American Academy of
Otolaryngology Head and Neck Surgery (AAO-HNS) (1995),
indikator klinis untuk prosedur tonsilektomi adalah seperti berikut:
1.

Serangan tonsillitis lebih dari tiga kali per tahun walaupun telah
mendapatkan terapi yang adekuat.

2.

Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan


gangguan pertumbuhan orofasial.

3.

Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan
nafas, sleep apnea, gangguan menelan, gangguan bicara,

dan cor

pulmonale.
4.

Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak
berhasil hilang dengan pengobatan.

5.

Nafas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.

6.

Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptococcus beta


hemoliticus.

7.

Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.

8.

Otitis media efusa/otitis media supuratif


BABCCXXXVI

Dugaan keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan

indikasi absolut untuk tonsilektomi. Tetapi hanya sedikit tonsilektomi pada


dewasa yang dilakukan atas indikasi tersebut, kebanyakan karena infeksi kronik.
Obstruksi nasofaringeal dan orofaringeal yang berat sehingga mengakibatkan
terjadinya gangguan apnea ketika tidur merupakan indikasi absolut untuk operasi.
Pada kasus yang ekstrim, obstructive sleep apnea ini dapat menyebabkan

hipoventilasi alveolar, hipertensi pulmonal dan kardiopulmoner (Schidt, dkk.,


2007)
BAB CCXXXVII
BAB CCXXXVIII

BAB CCXXXIX3.2. Anestesi Umum


BAB CCXL3.2.1 Definisi
BAB CCXLIAnestesi umum adalah suatu tindakan yang menghilangkan
rasa sakit seluruh tubuh dari sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat
reversibel (Soenarjo, 2010). Pasien yang sedang teranestesi dapat dikatakan
sedang dalam keadaan yang dapat dikendalikan dan dalam keadaan tidak sadar
yang sifatnya reversibel. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi
prosedur bedah yang akan menimbulkan nyeri yang tidak tertahankan,
merangsang perubahan fisiologis secara ekstrim, dan meninggalkan memori yang
tidak mengenakkan (Desai, 2011).
BAB CCXLIIDikenal istilah trias anestesi, yaitu hipnosis, analgesia, dan
arefleksia. Saat ini anestesi umum tidak hanya mempunyai ketiga komponen
tersebut, namun lebih luas. Soenarto, dkk. (2012) mengatakan bahwa komponen
yang ada dalam anestesi umum yaitu :
1. Hipnosis, yaitu suatu keadaan hilangnya kesadaran.
2. Analgesia, yaitu suatu keadaan hilangnya rasa nyeri yang ditimbulkan oleh
rangsang.
3. Arefleksia, yaitu suatu keadaan hilangnya refleks-refleks motorik tubuh,
sehingga memungkinkan imobilisasi pasien.
4. Relaksasi otot.
5. Amnesia, yaitu suatu keadaan hilangnya memori atau ingatan pasien
selama menjalani prosedur operasi atau anestesi.
BAB CCXLIIINamun dalam praktik klinis sehari-hari, tidak semua
komponen di atas harus terpenuhi semua. Untuk prosedur bedah, analgesia
merupakan peringkat teratas komponen anestesi yang harus dipenuhi. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa anestesi umum adalah suatu tindakan yang
menyebabkan perubahan fisiologis secara reversibel yang dikondisikan untuk
memungkinkan pasien menjalani berbagai prosedur medis (Soenarto, dkk., 2010).
BAB CCXLIV3.2.2. Klasifikasi
BAB CCXLV Tekhnik anastesi umum dibagi menjadi antara lain (Mangku,
2010):

1. Anastesi umum intravena


BAB CCXLVIMerupakan salah satu teknik anastesia umum yang dilakukan
dengan jalan menyuntikkan obat anastesi parenteral langsung ke dalam
pembuluh darah vena. Beberapa variasi anestesia intravena:
a. Anastesi intravena klasik
BAB CCXLVII
dengan

sedative

Pemakaian kombinasi obat ketamine hidroklorida


misalnya:

diazepam,

midazolam,

atau

dehidro

benzperidol. Komponen trias anastesia yang dipenuhi dengan tekhnik ini


adalah hipnotik dan sedative. Indikasi penggunaan anastesia intravena
klasik adalah pada operasi kecil dan sedang yang tidak memerlukan
relaksasi lapangan operasi yang optimal dan berlangsung singkat dengan
perkecualian operasi di daerah jalan nafas dan intraokuler. Kontraindikasi
penggunaan anastesi intravena klasik, antara lain:
1. Pada pasien yang rentan terhadap obat-obat simpatomimetik,
misalnya; penderita diabetes mellitus, hipertensi, tiroktosikosis dan
paeokromo sitoma.
2. Pasien yang menderita hipertensi intracranial.
3. Pasien yang menderita glaukoma.
4. Operasi intraokuler.
b. Anastesi intravena total
BAB CCXLVIII

Pemakaian

kombinasi

obat

anastetika

yang

berkhasiat hipnotik, analgetik dan relaksasi otot secara berimbang.


Komponen trias anastesi yang dipenuhi dengan tekhnik ini adalah
hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Indikasi penggunaan anastesia
intravena klasik adalah pada operasi-operasi yang memerlukan relaksi
operasi optimal.
c. Anastesia-analgesia neurolept
BAB CCXLIX

Pemakaian kombinasi obat neuroleptic dengan

analgetik opiate secara intravena. Komponen trias anestesia yang


dipenuhinya adalah sedasi atau hipnotik ringan dan analgesia ringan.
Indikasi penggunaan anastesia-analgesia neurolept adalah tindakan

diagnostic endoskopi seperti misalnya: laringoskopi, bronkoskopi,


esofaguskopi, rektoskopi, dll dan sebagai suplemen tindakan anastesia
lokal. Kontraindikasi penggunaan anastesia-analgesia neurolept adalah
penderita Parkinson, penderita penyakit paru obstruktif dan

bayi dan

anak-anak, kontraindikasi relative.


2. Anastesia umum inhalasi
BAB CCL

Merupakan salah satu tekhnik anastesia umum yang

dilakukan dengan jalan memberikan kombinasi obat anastesia inhalasi


yang berupa gas dan atau cairan yang mudah menguap melalui alat/mesin
anestesia langsung ke udara respirasi. Tekhnik anastesia umum inhalasi
dibagi menjadi antara lain:
a. Inhalasi sungkup muka.
BAB CCLI Pemakaian salah satu obat kombinasi obat anastesia umum
inhalasi melalui sungkup muka dengan pola nafas spontan. Indikasi
pemakaian inhalasi sungkup muka pada operasi kecil dan sedang
didaerah permukaan tubuh, berlangsung singkat dan posisinya
terlentang. Kontraindikasi penggunaan inhalasi sungkup muka adalah
operasi di daerah kepala dan jalan nafas dan operasi dengan posisi
miring atau telungkup.
b. Inhalasi sungkup laring
BAB CCLII

Pemakaian salah satu kombinasi obat anastesia

umum inhalasi melalui sungkup laring dengan pola nafas spontan.


Indikasi pemakaian inhalasi sungkup laring pada operasi kecil dan
sedang didaerah permukaan tubuh, berlangsung singkat dan posisinya
terlentang. Kontraindikasi penggunaan inhalasi sungkup laring adalah
operasi di daerah rongga mulut dan operasi dengan posisi terlungkup.
c. Inhalasi pipa endotrakea (PET) nafas spontan.
BAB CCLIII

Pemakaian salah satu kombinasi obat anastesia

umum inhalasi melalui pipa endotrakea dengan pola nafas spontan.


Indikasi pemakaian inhalasi pipa endotrakea pada operasi di daerah
kepala-leher dengan posisi terlentang, berlangsung singkat dan tidak

memerlukan relaksasi otot yang maksimal. Kontraindikasi penggunaan


inhalasi pipa endotrakea (PET) nafas spontan adalah pada operasi
intracranial, torakotomi, laparotomy, operasi dengan posisi khusus
(misalnya miring atau tengkurap) dan operasi yang berlangsung lama
lebih dari satu jam.
d. Inhalasi pipa endotrakea (PET) nafas kendali.
BAB CCLIV

Pemakaian salah satu kombinasi obat anastesia

umum inhalasi melalui pipa endotrakea dan pemakaian obat pelumpuh


otot non depolarisasi dengan pola nafas kendali. Komponen trias
anastesia yang harus dipenuhi adalah hipnotik, analgesia dan relaksasi
otot. Indikasi pemakaian inhalasi pipa endotrakea pada kraniotomi,
torakotomi, laparotomi, operasi dengan posisi khusus, operasi yang
berlangsung lama lebih dari 1 jam.
3. Anastesia imbang
BAB CCLV

Merupakan tekhnik anastesia dengan mempergunakan

kombinasi obat-obatan baik obat anastesia intravena maupun obat


anastesia inhalasi atau kombinasi tekhnik anastesia umum dengan
anastesia regional untuk mencapai trias anastesi. Indikasi pemakaian
anastesi seimbang pada operasi besar dan lama seperti kraniotomi,
torakotomi, laparotomi, operasi dengan posisi khusus dan operasi yang
berlangsung lama (>1jam).
BAB CCLVI3.2.3. Keuntungan dan Kerugian
BAB CCLVIIBerikut ini adalah keuntungan yang diperoleh dengan
menggunakan teknik anestesi umum (Soenarjo, 2010):
1. Pasien tidak sadar, mencegah kecemasan atau ansietas pasien selama
prosedur medis berlangsung.
2. Efek amnesia meniadakan memori buruk pasien yang didapat akibat
kecemasan

dan

berbagai

kejadian

intraoperatif

yang

meungkin

memberikan trauma psikologis.


3. Memungkinkan dilakukannya prosedur yang memakan waktu lama.
4. Memudahkan kontrol penuh ventilasi pasien.

BAB CCLVIIISementara

kerugian-kerugian

yang

diperoleh

dengan

menggunakan teknik anestesi umum adalah sebagai berikut :


1. Sangat mempengaruhi fisiologi. Hampir seluruh regulasi tubuh menjadi
tumpul di bawah anestesi umum.
2. Memerlukan pemantauan yang lebih holistik.
3. Tidak dapat mendeteksi gangguan susunan saraf pusat.
4. Memerlukan persiapan pasien yang lebih seksama.
BAB CCLIX3.2.4. Manajemen Perianestesi
BAB CCLXMenurut Soenarjo, 2010, Elsevier, 2010, keseluruhan prosedur
anestesi dimulai sejak 1.) preanestesi, 2.) intraanestesi, dan 3.) postanastesi.
Ketiga periode ini dikenal sebagai periode perianestesi. Tujuan dari manajemen
perianestesi ini adalah untuk mempersiapkan pasien seoptimal mungkin untuk
dilakukan anestesi. Manajemen perianestesi sulit untuk optimal jika waktu yang
tersedia sempit. Hal tersebut menyebabkan pembedahan emergensi selalu
memiliki angka morbiditas atau mortalitas yang lebih tinggi.
1. Periode Preanestesia
BAB CCLXITujuannya adalah untuk mencari kemungkinan penylit
anestesi atau dalam tindakan pembedahan. Harus diketahui riwayat kesehatan
pasien dan riwayat pemakaian obat-obatan. Salah satu penyulit anestesi adalah
kelainan anatomi, terutama anatomi jalan nafas. Kelainan fungsi tubuh dan
penyakit penyerta juga perlu diketahui karena akan berhubungan dengan pilihan
teknik dan obat anestesi. Infeksi akut harus diatasi dulu pada operasi elektif
(Soenarjo, 2010).
BAB CCLXIIEvaluasi

preanestesi

didapatkan

melalui

anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Hal lain yang
perlu diketahui adalah menanyakan waktu makan atau minum terakhir. Pada
umumnya, pasien dewasa memerlukan waktu 6-8 jam untuk mengosongkan
lambung dari makanan padat, anak besar 4-6 jam, sedangkan anak kecil danbayi 4
jam. Cairan bening boleh diminum sedikit-sedikit hingga 2 jam preanestesi
(Soenarjo, 2010).

BAB CCLXIIISetelah seluruh data dikumpulkan maka dapat dilakukan


penggolongan status fisik menurut ASA (American Society of Anesthesiologist).
Status fisik pasien menggambarkan tingkat kebugaran pasien untuk menjalani
anestesi. Klasifikasi status fisik yang dibentuk oleh ASA telah dikenal dan
dipergunakan secara luas (Soenarjo, 2010; Soenarto, 2012):
BAB CCLXIVTabel 1 Klasifikasi ASA

BAB CCLXV
Klasifikasi
BAB CCLXVIDeskripsi
ASA
BAB CCLXVIII
BAB CCLXIXPasien sehat yang akan menjalani
Kelas I
operasi.
BAB CCLXXIBAB CCLXXIIPasien dengan penyakit sistemik
Kelas II
yang ringan atau sedang, tanpa pembatasan
aktivitas.
BAB CCLXXIV
BAB CCLXXVPasien dengan penyakit sistemik
Kelas III
berat yang membatasi aktivitas biasa.
BAB CCLXXVII
BAB CCLXXVIIIPasien dengan kelainan
Kelas IV
sistemik berat yang menyebabkan
ketidakmampuan melakukan aktivitas biasa
(rutin), yang mengancam nyawanya setiap
waktu.
BAB CCLXXX
BAB CCLXXXIPasien yang tidak dapat hidup
Kelas V
atau bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa
operasi.
BAB CCLXXXIII
BAB CCLXXXIVPasien mati otak yang akan
Kelas VI
dilakukan donor organ.
BAB CCLXXXVI
BAB CCLXXXVIIOperasi dilakukan darurat atau
Kelas E
segara.
BAB CCLXXXIX

BAB CCLXVII
Mortalitas
(%)
BAB CCLXX
0,1
BAB CCLXXIII
0,2
BAB CCLXXVI
1,8
BAB CCLXXIX
7,8

BAB CCLXXXII
9,4
BAB CCLXXXV
BAB CCLXXXVIII

2. Periode Intraanestesia
BAB CCXCAnestesi umum dimulai dengan premdikasi, induksi, diikuti
oleh tahap pemeliharaan atau maintenance, dan diakhiri dengan pemulihan
anestesi. Tahap pemulihan anestesi biasanya dilakukan dengan pengawasan di
ruang pulih sadar hingga pasien memenuhi beberapa persyaratan untuk
dipindahkan ke ruang perawatan atau dipulangkan (Soenarjo, 2010).
BAB CCXCIPremedikasi

BAB CCXCIIObat-obat pada premedikasi diberikan bertujuan untuk


menimbulkan rasa nyaman, menghambat sekresi kelenjar dan menekan refleks
vagus, menurunkan dosis obat anastesia dan mengurangi rasa sakit dan
kegelisahan pasca bedah. Berdasarkan kegunaannya, obat premedikasi dibagi
menjadi beberapa jenis antara lain (Mangku, 2010):
1. Obat golongan antikolinergik
BAB CCXCIII Obat golongan antikolinergik bekerja dengan menghambat
aktivitas kolinergik atau parasimpatis dengan tujuan untuk menghambat
sekresi kelenjar saliva, GI dan saluran nafas, mencegah spasme laring dan
bronkus, mencegah bradikardia, menurunkan motilitas usus dan melawan efek
depresi narkotik pada pusat nafas. Obat golongan antikolinergik yang
digunakan dalam praktek anastesia adalah preparat alkaloid belladonna yang
turunannya adalah sulfas atropine dan skopolamin. Dosis premedikasi dari
sulfas atropine melalui pemberian injeksi intravena adalah 0,005 mg/kgBB
yang diberikan 5-10 menit sebelum induksi dan melalui injeksi intramuscular
adalah 0,01 mg/kgBB yang diberikan 30-40 menit sebelum induksi.
2. Obat golongan sedative/trankuilizer
BAB CCXCIV Obat golongan sedative/trankuilier diberikan

untuk

mengurangi rasa cemas dan menimbulkan rasa kantuk. Terdapat beberapa


golongan obat yang termasuk dalam golongan sedative/trankuilier antara lain
golongan fenothiazin, golongan benzodiazepine, golongan butirofenon dan
golongan barbiturat. Obat golongan fenotiazin memberikan efek depresi
sistem saraf pusat, menekan pusat muntah, dilatasi otot polos saluran nafas,
menghambat sekresi kelenjar, vasodilatasi sehingga memperbaiki perfusi
jaringan, menurunkan peristaltic usus, mencegah spasme dan menurunkan
sekresi kelenjar pada saluran pencernaan. Dosis premedikasi dari prometazin
melalui pemberian injeksi intravena adalah 0,5 mg/kgBB yang diberikan 5-10
menit sebelum induksi dan melalui injeksi intramuscular adalah 1 mg/kgBB
yang diberikan 30-45 menit sebelum induksi.
BAB CCXCV
Obat golongan benzodiazepine memberikan efek sedasi,
mengurangi rasa cemas, amnesia antegrad, depresi ringan, pada dosis tinggi
dapat memberikan efek hipotensi, menurunkan tonus otot rangka. Dosis

premedikasi midazolam melalui injeksi intravena adalah 0,07-0,1 mg/kgBB.


Obat golongan butirofenon memberikan efek sedasi, anti muntah, dilatasi
pembuluh

darah

hidung

dan

vasodilatasi.

Dosis

premedikasi

dehidrobensperidol melalui injeksi intramuscular adalah 0,1mg/kgBB. Obat


golongan barbiturate yang sering digunakan sebagai obat premedikasi adalah
pentobarbital dan sekobarbital. Digunakan sebagai sedasi dan penenang pra
bedah, terutaama pada anak-anak. Sebagai premedikasi diberikan secara
intramuscular dengan dosis 2 mg/kgBB atau peroral.
3. Obat golongan analgetik narkotik atau opioid
BAB CCXCVI

Golongan narkotik yang sering digunakan sebagai obat

premedikasi adalah petidin, morfin dan fentanyl. Golongan obat ini


memberikan efek analgetik, sedasi, depresi pusat nafas terutama pada bayi dan
orang tua, merangsang pusat muntah dan menimbulkan spasme spincter
kandung empedu. Sebagai premedikasi fentanyl diberikan secara intravena
dengan dosis 1-2 mcg/kgBB.
BAB CCXCVII
BAB CCXCVIIIInduksi
BAB CCXCIXDalam praktik, obat-obat anestesi dimasukkan ke dalam
tubuh melalui inhalasi, intravena, intramuskuler, atau rektal. Berdasarkan
pemasukkan obat ke dalam tubuh, obat induksi dibagi menjadi beberapa cara
antara lain:
1.

Induksi intravena
BAB CCCInduksi intravena paling banyak dikerjakan karena cepat. Pada
saat menginduksi harus dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan dan
terkendali. Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-60
detik. Selama iniduksi, pernapasan, nadi dan tekanan darah harus diawasi
dan selalu diberikan O2. Tiopental (tiopenton, peniotat) diberikan dengan
dosis antara 2-7 mg/kgBB. Pada anak dan manula digunkan dosis rendah
dan dewasa muda sehat dengan dosis tinggi. Propofol (recofol, lipuro)
diberikan dengan dosis 2-3 mg/kgBB. Ketamin (ketalar) diberikan dengan
dosis 1-2 mg/kgBB. Ketamin sering menimbulkan halusinasi, maka

dianjurkan sebelumnya diberikan sedative (midazolam). Ketamin tidak


dianjurkan pada pasien dengan tekanan darah tinggi (tekanan darah > 160
mmHg).
2.

Induksi intramuskular
BAB CCCISampai saat ini hanya ketamin yang dapat diberikan secara
intramuskular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien
tidur.

3.

Indukasi inhalasi
BAB CCCIIInduksi inhalasi menggunakan halotan atau sevofluran.
Induksi denngan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk,
walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol%.
Induksi dengan halotan memerlukan gas pendorong O2 atau campuran
N2O:O2=3:1 aliran 4 liter/menit, dimulai dengan halotan 0,5 vol% sampai
onsentrasi yang dibutuhkan. Kalau pasien batuk konsentrasi halotan
diturunkan untuk kemudian kalau sudah tenang dinaikkan lagi sampai
konsntrasi yang diperlukan. Induksi dengan enfluran, isofluran atau
desfluran jarang dilakukan, karena pasien sering sering batuk dan waktu
induksi menjadi lama.

4.

Induksi per rektal


BAB CCCIIICara ini hanya untuk anak-anak atau bayi menggunakan
tiopental atau midazolam.
BAB CCCIVSetelah dilakukan induksi, dapat dinilai kedalaman anestesi

atau stadium anestesi. Stadium anestesi dibuat berdasarkan efek dari ether, yaitu
zat anestetik volatil poten yang digunakan luas pada zamannya, sehingga banyak
dilakukan pengamatan dan penelitian terhadap efek zat anestetik tersebut. Guedel
membagi kedalaman anestesi menjadi empat stadium, dengan menilai pernafasan,
gerakan bola mata, pupil, tonus otot, dan refleks pada pasien yang mendapat
anestesi ether. Klasifikasi stadium anestesi tersebut adalah (Soenarjo, 2010;
Soenarjo, 2012):
4. Stadium I : disebut juga sebagai stadium analgesia, disorientasi, atau
induksi.

BAB CCCVStadium ini adalah periode sejak masuknya obat induksi


hingga hilangnya kesadaran, yang salah satunya ditandai dengan hilangnya
refleks bulu mata. Pada stadium ini dapat dilakukan operasi kecil.
5. Stadium II : disebut juga sebagai stadium eksitasi atau delirium.
BAB CCCVISetelah menghilangnya kesadaran, timbul eksitasi dan
delirium. Stadium ini akan menyebabkan pernafasan menjadi ireguler,
pupil melebar (midriasis), timbul gerakan-gerakan otot involunter,
seringkali spastik, tonus otot meningkat, gerakan bola mata tidak teratur,
peningkatan tonus simpatis, dan kadang-kadang pasien dapat muntah pada
stadium ini. Refleks fisiologis dan refleks cahaya masih ada.
BAB CCCVIIStadium ini diakhiri dengan hilangnya refleks menelan dan
kelopak mata dan selanjutnya nafas menjadi teratur. Stadium ini
merupakan stadium yang membahayakan pasien, sehingga harus segera
diakhiri.
6. Stadium III : disebut juga sebagai stadium operasi atau pembedahan.
BAB CCCVIIIStadium ini terbagi menjadi empat plana, yaitu :
- Plana 1 : dari nafas teratur sampai berhentinya gerakan bola mata.
Ditandai dengan nafas teratur, gerakan bola mata berhenti, pupil
mengecil (miosis), refleks cahaya positif, lakrimasi meningkat,
-

refleks faring dan muntah menghilang, tonus otot menurun.


Plana 2 : dari terhentinya gerakan bola mata sampai permulaan
paralisis otot interkostalis. Ditandai dengan nafas teratur, volume
tidal menurun, sehingga frekuensi nafas meningkat, pupil melebar
(midriasis), refleks cahaya menurun, refleks kornea menghilang,

dan tonus otot semakin menurun.


Plana 3 : dari permulaan paralisis otot interkostalis sampai paralisis
seluruh otot interkostal. Ditandai dengan pernafasan abdominal
lebih dominan, pupil semakin lebar (midriasis), refleks cahaya
menghilang, tidak ada lakrimasi, refleks laring dan peritoneal

menghilang, tonus otot makin menurun.


Plana 4 : dari paralisis semua otot interkostal sampai paralisis
diafragma. Ditandai dengan pernafasan lambat, ireguler, tidak
adekuat, tonus sangat menurun, sehingga mterjadi flaksid, pupil
melebar, refleks cahaya tidak ada, refleks spingter ani tidak ada.

7. Stadium IV : merupakan stadium overdosis obat anestetik atau stadium


paralisis. Terjadi depresi berat semua sistem tubuh, termasuk batang otak.
Ditandai dengan hilangnya semua refleks, pupil dilatasi, terjadi kegagalan
respirasi dan diikuti dengan kegagalan sirkulasi.
BAB CCCIX

BAB CCCXGambar 5 Stadium Anastesi

BAB CCCXIBerikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses


suatu anestesi (Soenarto, 2012): :
1. Faktor Respirasi (untuk obat inhalasi)
BAB CCCXIISetelah obat inhalasi sampai alveolus, akan mencapai
tekanan parsial tertentu. Makin tinggi konsentrasi zat yang diinhalasi,

semakin tinggi tekanan parsialnya. Perbedaan tekanan parsial zat anestesi


di dalam alveolus dan di dalam darah akan menyebabkan terjadinya difusi.
Bila tekanan parsial di alveolus tinggi, maka akan terjadi difusi dari
alveolus ke dalam sirkulasi, demikian sebaliknya. Semakin tinggi
perbedaan tekanan parsial, semakin cepat terjadinya difusi.
2. Faktor Sirkulasi
BAB CCCXIIIAliran darah paru menentukan pengangkutan gas anestesi
dari paru ke jaringan dan sebaliknya. Jika terjadi gangguan pembuluh
darah pada paru maka obat yang dapat diangkut juga akan semakin sedikit.
Demikian pula pada keadaan cardiac output yang menurun.
BAB CCCXIVKoefisien partisi gas darah (Blood gas partition coefisient)
adalah rasio konsentrasi zat anestesi dalam darah dan dalam gas bila
keduanya dalam keadaan keseimbangan. Bila kelarutan zat anestesi dalam
darah tinggi (koefisien BG tinggi), maka obat akan berdifusi cepat larut di
dalam darah.
3. Faktor Jaringan
BAB CCCXVFaktor jaringan dipengaruhi oleh perbedaan tekanan parsial
obat anestesi di dalam sirkulasi darah dan di dalam jaringan, kecepatan
metabolisme obat, dan aliran darah dalam jaringan.
4. Faktor Obat Anestesi
BAB CCCXVIUntuk mengukur potensi obat anestesi inhalasi dikenal
adanya MAC (minimal alveolar concentration), yaitu konsentrasi obat
anestesi inhalasi minimal pada tekanan udara 1 atmosfer yang dapat
mencegah

gerakan

otot

skelet

sebagai

respon

rangsang

sakit

supramaksimal pada 50 % pasien. Semakin rendah MAC, semakin tinggi


potensinya.
BAB CCCXVIIInduksi

inhalasi

diberi

dengan

meminta

penderita

menghirup campuran gas anestesi dengan oksigen, melalui face mask. Gas
anestesi bisa diambil dari tabung gas (N2O) atau dari obat anestesi cair yang
diuapkan melalui vaporizer. Pada zaman dahulu, obat anestesi cair diteteskan
pelan-pelan langsung ke face mask yang dibuat dari kawat dan dibalut kain kasa.
Cara demikian disebut sebagai open drop. Dahulu, obat anestesi inhalasi yang
digunakan adalah ether. Namun karena menimbulkan stadium II yang lebih lama,
maka akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi penderita. Saat ini,

induksi inhalasi sudah lebih baik, yaitu menggunakan halothane, enflurane,


isoflurane, atau sevoflurane. Dengan menggunakan obat-obat tersebut, penderita
akan masuk ke stadium III lebih cepat. Biasanya induksi inhalasi dikerjakan pada
bayi dan anak (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXVIIIInduksi intravena dilakukan dengan menyuntikkan obat
anestesi ke dalam pembuluh darah vena. Pada induksi ini tidak terjadi stadium II.
Induksi intramuskuler yaitu dengan menyuntikkan obat anestesi ke dalam otot.
Biasanya dikerjakan pada anak-anak (Desai, 2011).
BAB CCCXIXUntuk menjaga agar penderita tidak terjatuh ke dalam
hipoksia, sebelum induksi dilakukan perlu diberikan oksigenasi selama 5 menit.
Cara ini disebut sebagai preoksigenasi. Dengan memberi preoksigenasi, kapasitas
residual fungsional paru akan terisi penuh oleh oksigen. Oksigen yang larut dalam
darah juga akan meningkat, sehingga jika terjadi gangguan respirasi pada saat
dilakukan induksi anestesi maka sudah ada cadangan oksigen yang diharapkan
cukup untuk memberikan kompensasi sampai gangguan respirasi dapat ditangani
(Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXTergantung indikasi, setelah dilakukan induksi, dapat
dilakukan intubasi endotrakeal, dipasang sungkup laring atau laryngeal mask
airway (LMA), atau cukup dilakukan dengan face mask (Desai, 2011; Soenarto,
2012)
BAB CCCXXIPemeliharaan (Maintenance)
BAB CCCXXIIPada periode ini diberikan obat anestesi dalam
dosis tertentu, sehingga tercapai anestesi yang tidak terlalu
dalam dan tidak terlalu dangkal. Pada fase pemeliharaan dapat
dipakai

obat

inhalasi

dan

keduanya, sehingga

dosis

Diperlukan

umum

anestesi

obat

intravena

masing-masing
sampai

atau

gabungan

dapat diperkecil.

tingkat

kedalamannya

mencapai trias anestesi, yaitu hipnotik, analgetik, dan relaksasi


otot. Pemeliharaan intravena dengan opioid dosis tinggi, fentanil
10-50 g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur
dengan analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi
pelumpuh otot. Selain itu juga dapat menggunakan dosis biasa,

tetapi

pasien

ditidurkan

dengan

infus

propofol

4-12

mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anestesia total intravena


menggunakan opioid, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk
mengembangkan pasru digunakan inhalasi dengan udara +O2
atau N2O + O2 (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXIII
BAB CCCXXIVPemeliharaan inhalasi biasanya menggunkan
campuran N2O dan O2 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau
efluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4 vol% atau sevofluran 2-4 vol%
bergantung apakah pasien bernafas spontan, dibantu atau
dikendalikan (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXVPada pasien yang tingkat analgesinya tidak
cukup

dan

tidak

mendapat

pelemas

otot,

jika

mendapat

rangsang nyeri akan menimbulkan gerakan lengan atau kaki,


adanya lakrimasi, pernafasan ireguler, atau terdapat tanda-tanda
pelepasan
bertambah,

adrenalin
tekanan

(katekolamin),
darah

seperti

meningkat,

frekuensi

atau

nadi

berkeringat

(Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXVIJika ditemukan keadaan seperti tersebut di
atas, diatasi dengan mendalamkan anestesi, salah satunya
dengan cara menambah dosis obat. Jika hanya menggunakan
obat tunggal, maka dosis yang diberikan harus sangat tinggi
yang membahayakan pasien. Untuk mengatasinya, ada teknik
agar mencapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan, yaitu
pasien dibuat tidur dengan hipnotik, analgesiknya menggunakan
analgetik kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle
relaxant). Teknik ini disebut sebagai balanced anaesthesia
(Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXVIIKarena
menggunakan

pelemas

pada
otot,

maka

balanced
otot-otot

anaesthesia
tidak

dapat

berkontraksi, termasuk otot-otot respirasi, sehingga diperlukan

nafas

buatan.

Nafas

pasien

sepenuhnya

tergantung

dari

pengendalian, maka balanced anaesthesia juga disebut dengan


teknik respirasi kendali (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXVIIIBerdasar

respirasinya,

anestesi

umum

dibedakan

menjadi tiga macam (Desai, 2011), yaitu :


1. Respirasi spontan, yaitu pasien bernafas sendiri secara spontan.
2. Respirasi kendali / kontrol, yaitu pasien tidak bernafas dan membutuhkan
pernafasan bantuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
3. Respirasi assisted, yaitu pasien bernafas spontan, tetapi masih harus
diberikan bantuan untuk memenuhi minute volume.
teknik

BAB CCCXXIXKarena
menggunakan

pelemas

otot,

anestesi

maka

umum

diperlukan

ini

intubasi

endotrakeal untuk menjaga jalan nafas dan mempertahankan


transpor oksigen yang adekuat (Desai, 2011).
BAB CCCXXXPemulihan Anestesi
BAB CCCXXXIApabila operasi telah selesai, maka anestesi
dapat diakhiri dengan menghentikan pemberian obat anestesi.
Pada anestesi inhalasi, bersamaan dengan penghentian obat
anestesi, aliran oksigen harus dinaikkan, yang disebut sebagai
oksigenasi. Pada pasien ini, setelah dilakukan penghentian
nitrogen oksida dan isoflurane, oksigen yang diberikan langsung
ditingkatkan menjadi 6 lpm (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXXIIDengan oksigenasi, oksigen akan mengisi
tempat yang sebelumnya diisi oleh obat anestesi inhalasi di
alveolus

yang

berangsur-angsur

keluar

mengikuti

udara

ekspirasi. Tekanan parsial obat anestesi yang ada di alveolus


lama kelamaan akan menurun, sehingga lebih rendah daripada
tekanan parsial

obat anestesi

dalam darah. Hal

tersebut

mengakibatkan adanya difusi obat anestesi dalam darah menuju


alveolus, yang diikuti oleh penurunan kadar obat anestesi dalam
darah yang semakin berkurang. Selain itu, obat anestesi yang

ada dalam darah juga telah mengalami metabolisme di hepar


atau sudah mengalami ekskresi melalui ginjal atau keringat.
Penurunan kadar obat anestesi dalam darah akan diikuti oleh
pulihnya

kesadaran

penderita

secara

berangsur-angsur

(Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXXIIIPada pasien yang menggunakan endotracheal tube,
perlu dilakukan ekstubasi. Ekstubasi dapat dilakukan pada saat pasien masih
teranestesi dalam atau pada saat pasien telah sadar. Ekstubasi pada keadaan
setengah sadar dapat mengakibatkan spasme jalan nafas, batuk, muntah, gangguan
kardiovaskuler, dan meningkatnya tekanan intrakranial. Ekstubasi pada saat
penderita masih teranestesi mempunyai risiko tidak terjaganya jalan nafas dalam
kurun waktu antara pasien tidak sadar hingga pasien sadar (Soenarto, 2012; Desai,
2011)
BAB CCCXXXIVPada

pasien

yang

mendapat

balanced

anaesthesia, ekstubasi dilakukan setelah nafas pasien adekuat.


Untuk mempercepat pulihnya dari pengaruh pelemas otot, dapat
dilakukan reverse, yaitu pemberian obat antiasetilkolinesterase.
Sebagian ahli anestesi tetap memberikan reverse meskipun
nafas sudah adekuat pada pasien yang mendapat pelemas otot
(Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXXVUntuk me-reverse pasien yang mendapatkan
pelemas otot, digunakan prostigmin atau neostigmin, dengan
dosis 0,06 mg/kgBB. Setiap 1 mg neostigmin harus diberikan
juga sulfas atropin 0,6 1,2 mg/kgBB. Efek muskarinik yang
ditimbulkan

(misalnya

bradikardi)

dinetralisir

oleh

obat

antikolinergik (parasimpatolitik), yaitu sulfas atropin, dengan


ketentuan (Soenarjo, 2010):
- Bila frekuensi nadi 100 kali/menit, diberi sulfas atropin terlebih dahulu
hingga frekuensi nadi mencapai 100 kali/menit, kemudian diikuti
pemberian neostigmin.

- Jika frekuensi nadi 100 kali/menit, sulfas atropin dan neostigmin


dicampur dalam satu spuit.
3. Periode Pascaanestesia
BAB CCCXXXVIPeriode pascaanestesi merupakan tindak lanjut dari
kondisi praanestesi dan intraanestesi. Penyebab tersering morbiditas pascaanestesi
adalah analgetik yang tidak adekuat dan hipoksia. Hipoksia pascaanestesi dapat
merupakan akibat dari tingginya kebutuhan oksigen (akibat menggigil atau akibat
takikardi), dapat pula akibat turunnya suplai oksigen (akibat metabolit aktif
pelemas otot yang menyebabkan pasien hipoventilasi bahkan apneu) (Sunarto,
2012).
BAB CCCXXXVIIUntuk menentukan kapan pasien dapat
dipindahkan dari kamar operasi, dipakai modifikasi skor aldrete.
Modifikasi skor aldrete adalah penilaian yang didasarkan atas
respirasi, kesadaran, sirkulasi, aktivitas, dan saturasi oksigen.
Masing-masing mempunyai nilai terendah 0 dan tertinggi 2.
Pasien dengan aldrete skor 8 atau lebih dapat dipindahkan ke
ruang perawatan. Untuk pasien rawat jalan setelah aldrete skor
mencapai

10

tidak

boleh

langsung

pulang,

tetapi

harus

menunggu hingga 2 jam, untuk dilatih duduk, turun, jalan, dan


minum secara bertahap (Soenarjo, 2010).
BAB CCCXXXVIIITabel 2 Skor Aldrete

BAB CCCXXXIXBAB CCCXL


BAB CCCXLIKondisi
Kriteria
Skor
BABBAB
CCCXLII
CCCXLIII
BAB CCCXLIV
BAB CCCXLVMampu menggerakkan 4 ekstremitas
1 Aktivitas
2
BABBAB
CCCXLVI
CCCXLVII
BAB CCCXLVIII
BAB CCCXLIXMampu menggerakkan 2 ekstremitas
1
BABBAB
CCCL
CCCLI BAB CCCLII
BAB CCCLIIITidak mempu menggerakkan ekstremitas
0
BABBAB
CCCLIV
CCCLV BAB CCCLVI
BAB CCCLVIIMampu bernafas dalam dan batuk
2 Respirasi
2
dengan bebas
BABBAB
CCCLVIII
CCCLIXBAB CCCLX
BAB CCCLXIDispneu, nafas dangkal atau terbatas

1
BABBAB
CCCLXII
CCCLXIII
BAB CCCLXIV
BAB CCCLXVApneu
0
BABBAB
CCCLXVI
CCCLXVII
BAB CCCLXVIII
BAB CCCLXIXTekanan darah < 20 mm dari
3 Sirkulasi
2
preanestesi
BABBAB
CCCLXX
CCCLXXI
BAB CCCLXXII
BAB CCCLXXIIITekanan darah 20 50 mm dari
1
preanestesi
BABBAB
CCCLXXIV
CCCLXXV
BAB CCCLXXVI
BAB CCCLXXVIITekanan darah > 50 mm dari
0
preanestesi
BABBAB
CCCLXXVIII
CCCLXXIX
BAB CCCLXXX
BAB CCCLXXXISadar penuh
4 Kesadaran
2
BABBAB
CCCLXXXII
CCCLXXXIII
BAB CCCLXXXIV
BAB CCCLXXXVBangun jika dipanggil
1
BABBAB
CCCLXXXVI
CCCLXXXVII
BAB CCCLXXXVIII
BAB CCCLXXXIXTidak berespon
0
BABBAB
CCCXC
CCCXCIBAB CCCXCII
BAB CCCXCIIISaturasi O2 > 92 % pada udara kamar
5 Saturasi O2
2
BABBAB
CCCXCIV
CCCXCV
BAB CCCXCVI
BAB CCCXCVIIPerlu inhalasi O2 untuk saturasi O2 >
1
90 %
BABBAB
CCCXCVIII
CCCXCIX
BAB CD
BAB CDISaturasi O2 < 90 % meski dengan suplemen
0
O2
BAB CDII
3.3. Intubasi Endotrakeal
BAB CDIII Definisi
BAB CDIVIntubasi

endotrake

adalah

tindakan

yang

dilakukan untuk memasukkan endotracheal tube (ET) ke dalam


trakea melalui hidung atau mulut. ET digunakan sebagai
penghantar gas anestesi ke dalam trakea dan memudahkan
mengendalikan

ventilasi

dan

oksigenasi.

ET

adalah

alat

berbentuk pipa yang dimasukkan ke dalam trakea. Endotracheal


tube (ET) untuk orang dewasa memiliki sistem inflation cuf yang
terdiri dari katup, balon pilot, inflating tube, dan cuf. Katup
berfungsi

untuk

mencegah

kehilangan

udara

setelah

cuf

diinflasi. Balon pilot sebagai indikator inflasi cuf. Inflating tube

berfungsi

menghubungkan

katup

dengan

cuf

dan

dibuat

menempel pada dinding ET (Soenarjo, 2010).


BAB CDVCuf dekat ujung distal ET dibuat menjadi satu
dengan ET. Fungsi utama cuf adalah memberi tekanan positif
dan mengurangi risiko aspirasi dan mencegah kebocoran udara
nafas saat dilakukan ventilasi tekanan positif, yang terjadi
setelah cuf dikembangkan sampai tidak terdengar lagi suara
nafas. Cuf diinflasi sampai tidak ada udara inspirasi yang bocor
tetapi dapat mencegah dari aspirasi dan tidak menimbulkan
kerusakan dinding mukosa jalan nafas (Soenarjo, 2010).
BAB CDVI

BAB CDVIIGambar 6 Endotracheal Tube (Soenarjo, 2010)

BAB CDVIIISementara pada anak-anak ET yang digunakan adalah tube


non cuff yang berfungsi mengurangi risiko trauma tekanan dan batuk setelah
intubasi. ET non cuff digunakan untuk anak yang berusia kurang dari 8 tahun,
karena bentuk anatomi subglotis yang sempit (Davis, 2009)
BAB CDIXUkuran ET dinyatakan dalam milimeter (mm) berdasar
diameter internal yang tertera dan ada pula yang dinyatakan dalam French unit.
ET juga memiliki ukuran panjang dalam centimeter (cm). ukuran rata-rata untuk
pria adalah 7,5 8,0; untuk perempuan adalah 7,0 7,5 (Davis, 2009)
BAB CDXUntuk menentukan ukuran ET salah satunya adalah dengan
menggunakan patokan besar jari kelingking pasien, sedang kedalaman insersinya
yaitu besar diameter internal (ukuran ET) dikalikan 3. Misal ukuran ET adalah
nomor 7, maka kedalaman insersinya adalah 7x3, yaitu 21 cm (Davis, 2009)
BAB CDXIBerikut ini pedoman yang dipakai dalam menentukan ukuran
ET, yang dirangkum ke dalam tabel (Davis, 2009; Soenarjo, 2010):
BAB CDXIITabel 3 Ukuran Endothracheal Tube (Davis, 2009; Soenarjo, 2012)

BAB CDXIIIUm
ur
BAB CDXVIIPre
matur
BAB CDXXIAter
m
BAB CDXXV1-6
bulan
BAB CDXXIX612 bulan
BAB CDXXXIII2
tahun
BAB CDXXXVII4
tahun
BAB CDXLI6
tahun
BAB CDXLV8
tahun
BAB CDXLIX10
tahun
BAB CDLIII12

BAB CDXIVDia
BAB CDXVFrenc
meter
h unit
internal (mm)
BAB CDXIX10BAB CDXVIII2,5
12
BAB CDXXIII12BAB CDXXII3,0
14

BAB CDXVIKed
alaman
insersi
BAB CDXX10
BAB CDXXIV11

BAB CDXXVI3,5

BAB CDXXVII16

BAB CDXXVIII1
1

BAB CDXXX4,0

BAB CDXXXI18

BAB CDXXXII12

BAB CDXXXIV4
BAB CDXXXVI1
BAB CDXXXV20
,5
3
BAB CDXXXVIII BAB CDXXXIX2
BAB CDXL14
5,0
2
BAB CDXLIV15BAB CDXLII5,5
BAB CDXLIII24
16
BAB CDXLVIII1
BAB CDXLVI6,5 BAB CDXLVII26
6-17
BAB CDL7,0

BAB CDLI28

BAB CDLII17-18

BAB CDLIV7,5

BAB CDLV30

BAB CDLVI18-

tahun
BAB CDLVII> 14
tahun
BAB CDLXI

20
BAB CDLVIII8,09,0

BAB CDLIX3236

BAB CDLX20-24

BAB CDLXIISementara untuk menetukan ukuran ET oral


pada pasien adalah sebagai berikut (Soenarjo, 2010):
BAB CDLXIIITabel 4 Ukuran Endotracheal Tube Oral (Soenarjo, 2010)

BAB CDLXIVUmur
BAB CDLXVIIAterm
BAB CDLXXAnak

BAB CDLXVDiameter
internal (mm)
BAB CDLXVIII3,5
BAB CDLXXI

BAB CDLXVIKedalam
an insersi (cm)
BAB CDLXIX12
BAB CDLXXII

umur ( tahun )
4
BAB CDLXXIV7-8

umur ( tahun )
2
BAB CDLXXV24

4+

14+

BAB CDLXXIIIDewasa
perempuan
BAB CDLXXVIDewasa
BAB CDLXXVII7,5-8,5
BAB CDLXXVIII24
laki-laki
BAB CDLXXIXUntuk melakukan intubasi endotrakea, dibutuhkan alatalat yang harus dipersiapkan, yaitu :
1. Magil forsep
2. Lubricant
3. Suction cathether
4. Spuit
5. Plester
6. Stilet
7. Self-refilling bag-valve combination, connector, tube, dan sumber oksigen
8. Laryngoscope dengan blade lengkung (tipe Machintosh) atau lurus (tipe
Miller) disesuaikan dengan pasien
9. ET dengan ukuran yang telah disesuaikan
10. Sarung tangan

BAB CDLXXX

BAB CDLXXXIGambar 7 Laryngoscope tipe Miller dan Machintos

BAB CDLXXXIIUntuk melakukan intubasi endotrake pada pasien, harus


dipastikan tidak ada alat yang terlewatkan. Untuk memudahkan, dibuat singkatan
STATICS, yaitu scope, tube, airway, tape, introducer, connector, dan suction
(Davis, 2009; Soenarto, 2012)
BAB CDLXXXIIIScope, terdiri dari laryngoscope dan stethoscope.
Laringoskop dibagi menjadi 2 macam berdasar bilahnya, yaitu bilah melengkung
disebut tipe macintosh dan bilah lurus yang disebut tipe Miller. Laringoskop tipe
miller digunakan untuk visualisasi pita suara dengan cara mengangkat epiglotis
secara langsung, sedangkan tipe macintosh tidak mengangkat epiglotis secara
lansung, tetapi dengan cara menempatkan ujung bilah di dalam valecula dan
mengangkat epiglotis secara tidak langsung dengan menarik frenulumnya tanpa
menyentuh epiglotis. Penggunaannya tergantung kondisi klnis dan pasien.

Laringoskop tipe macintosh lebih sedikit menyebabkan trauma karena sama sekali
tidak menyentuh laring dan memberikan ruang yang lebih besar untuk visualisasi
dan menempatkan ET. Sedangkan tipe miller lebih memudahkan intubasi
endotrakeal pada bayi, karena langsung mencari epiglotis dan mengangkatnya.
BAB CDLXXXIVStetoskop

digunakan

untuk

melakukan

evaluasi

terhadap penempatan dan kedalaman ET. Jika terdengar suara bagging di kedua
paru berarti ET berada di posisi yang tepat, yaitu di trakea. Namun jika terdengar
suara bagging di lambung, berarti penempatannya salah. Selain itu, stetoskop juga
untuk mengevaluasi kedalaman ET. Jika suara paru kiri dan kanan besarnya sama,
maka kedalamannya sudah pas. Jika suara paru kanan lebih besarm, maka
kemungkinan ET terlalu dalam dan masuk ke dalam bronkus kanan.
BAB CDLXXXVTube atau pipa endotrakeal (endotracheal tube) harus
dipilih sesuai ukurannya pasien. Setelah diperoleh ukuran yang dibutuhkan, perlu
juga disiapkan ET dengan 1 ukuran di atasnya dan 1 ukuran di bawahnya.
Sehingga misalnya seorang pasien membutuhkan ET nomor 7, maka harus
disiapkan pula ET nomor 6,5 dan 7,5 mm. Hal tersebut untuk menghindari jika
perkiraan ukuran tidak tepat, sehingga langsung dapat diatasi dengan
menggunakan ET yang ukurannya telah dipersiapkan sebelumnya.
BAB CDLXXXVIAirway, yaitu jalan nafas. Semua peralatan yang
digunakan untuk membuka dan mengamankan jalan nafas harus disiapkan, seperti
oropharyngeal airway (OPA) dan nasopharyngeal airway (NPA). Ukuran OPA
atau NPA disesuaikan dengan ukuran jalan nafas, yaitu diukur jarak dari sudut
bibir sampai ke bagian depan telinga.
BAB CDLXXXVIITape atau plester berfungsi untuk melakukan fiksasi
setelah dilakukan intubasi endotrakeal. Setelah ET terpasang dengan tepat, maka
dilakukan fiksasi agar tidak terjadi perubahan posisi, baik tercabut atau terdorong,
sehingga akan membuat cidera pada mukosa jalan nafas. Plester ditempatkan pada
pipi atau di wajah pasien.
BAB CDLXXXVIIIIntroducer digunakan untuk membantu insersi ET ke
dalam trakea. Alat yang biasa digunakan adalah mandarin atau kawat yang bisa
dimasukkan ke dalam ET dan dapat diatur kelengkungannya sesuai dengan

anatomi jalan nafas, sehingga akan memudahkan mengarahkan ujung ET


melewati pita suara. Alat lainnya adalah klem Magil, berupa klem yang dapat
menjepit ET di dalam rongga mulut untuk diarahkan ke laring.
BAB CDLXXXIXConnector merupakan alat untuk menghubungkan atau
menyambungkan ET dengan alat lainnya, yaitu bagging, ventilator, dan
sebagainya. Connector ini memiliki ukuran atau diameter yang standar, sehingga
dapat dihubungkan ke semua alat.
BAB CDXCSuction atau penyedot, lengkap dengan cution cathether.
Berfungsi untuk menghisap sekret, lendir, atau darah yang berada di rongga mulut
atau jalan nafas yang menyulitkan proses intubasi endotrakea.
BAB CDXCIMelakukan intubasi endotrakea memiliki kesulitan tersendiri
di setiap pasien. Untuk itu, terdapat skor untuk mengevaluasi perkiraan kesulitan
intubasi endotrakea, yaitu dengan skor Mallampati atau skor Cormack and
Lehane (Davis, 2009, Roberts, 2010).
BAB CDXCII

BAB CDXCIIIGambar 8 Derajat Kesulitan dari Mallampati (Soenarjo, 2010)

BAB CDXCIVUntuk memperkirakaan kesulitan intubasi berdasarkan skor


Mallampati terdapat 4 derajat/kelas/grade (Davis, 2009; Roberts, 2010, Soenarjo,
2010):
- Derajat I: Semua glotis terlihat, tidak ada kesulitan

- Derajat II: Hanya glotis posterior yang tampak, derajat ini menyebabkan
kesulitan ringan
- Derajat III: Tidak ada bagian glotis yang tampak, tetapi epiglotis terlihat,
derajat ini menyebabkan kesulitan yang agak berat
- Derajat IV: Epiglotis tidak tampak, dapat menyebabkan kesulitan yang
berat
BAB CDXCV

BAB CDXCVIGambar 9 Derajat Kesulitan dari Cormack dan Lehane

BAB CDXCVII
BAB CDXCVIIIIndikasi
BAB CDXCIXIndikasi

khusus

dilakukannya

intubasi

endotrakeal pada pasien di antaranya adalah (Soenarjo, 2010):


1. Untuk menjaga patensi jalan nafas, sehingga terjamin ventilasi dan
oksigenasi yang adekuat.
2. Perlindungan terhadap paru dengan penutuhpan cuff dari ET harus
dilaksanakan pada pasien yang baru saja makan atau pada pasien yang
menderita obstruksi usus.

3. Operasi yang memerlukan VTP (ventilasi tekanan positif), misal pada


operasi torakotomi, atau pada penggunaan pelemas otot.
4. Operasi yang membutuhkan posisi selain telentang (supine).
5. Operasi daerah kepala, leher, atau jalan nafas atas.
6. Diperlukan pengendalian sekret pulmo atau disebut bronchialpulmonair
toilet.
7. Diperlukan proteksi jalan nafas pada pasien yang tidak sadar atau dengan
penurunan refleks muntah (misalnya pada anestesi umum).
8. Ada penyakit atau kelainan jalan nafas atas.
BAB DKontraindikasi
BAB DISementara

kontraindikasi

relatif

dilakukannya

intubasi endotrakea adalah sebagai berikut (Soenarjo, 2010):


1. Trauma jalan nafas berat atau obstruksi yang tidak memungkinkan
pemasangan ET yang aman. Mungkin cricothyrotomi merupakan pilihan
pada beberapa kasus.
2. Trauma servikal yang membutuhkan imobilisasi komplit.
BAB DII
3.4. Keadaan Anatomis dan Fisiologis pada Anak
Anak-anak bukan orang dewasa kecil. Pasien pediatri bervariasi dan dibagi
dalam kelompok antara lain (Macfarlance,2012):
1. Neonatus : yang berusia 44 minggu dari tanggal konsepsi hingga berusia
12 bulan
2. Anak : 1 sampai 12 tahun
3. Remaja : 13 sampai 16 tahun
Perbedaan anatomi dan fisiologi penting akan dipertimbangkan disini
diikuti dengan bagaimana ini akan mempengaruhi praktik anestesi.
1. Sistem Respirasi
a. Memiliki kepala yang besar, leher yang pendek dan oksiput yang menonjol
b. Lidah yang besar

c. Laring terletak lebih tinggi dan anterior, setinggi C3-C4. Epiglotis yang
panjang, kaku dan berbentuk U-shaped. Sniffing position tidak dapat
membantu untuk mempermudah visualisasi glottis pada pemasangan ET.
d. Dinding dada memiliki kemampuan compliance yang lebih besar
dibandingkan pada orang dewasa. Selanjutnya, kapasitas residual
fungsional (FRC) relatif rendah.
e. Bernafas menghabiskan 15% dari konsumsi oksigen.
f. Otot-otot pernafasan diafragma mudah mengalami kelelahan disebabkan
oleh jumlah serabut otot tipe I yang masih sedikit.
g. RR = 24 umur/2
2. Sistem Kardivaskuler
Denyut nadi dan tekanan darah sistolik pada anak (Macfarlance,2012):
Usia
Preterm
New-born
1-11 bulan
2 tahun
4 tahun
6 tahun
8 tahun
10 tahun
14 tahun

Rata-rata
130
120
120
110
100
100
90

90
LK
80
PR
85
16 tahun
LK
75
PR
80
Volume darah pada anak :

Rentang

Rata-rata Tekanan

120-170
100-170
80-160
80-130
80-120
75-115
70-110

Darah Sistolik
40-55
50-90
85-105
95-105
95-105
95-110
95-110

70-110
60-100
65-105
55-95
60-100

100-120
110-130
110-130
110-130
110-130

Umur
Volume Darah
Bayi baru lahir
85-90 ml/kg
6 minggu 2 tahun
85 ml/kg
2 tahun - pubertas
80 ml/kg
3. Sistem Uropoetika dan Keadaan Cairan Tubuh
Pada anak, cairan ekstraselulernya lebih banyak dibandingkan dewasa.
Pada dewasa cairan ekstraseluler mencapai 20%, 15% interstisial dan 5%
intravaskuler. Sedangkan komposisi cairan ekstravaskuler pada anak adalah

40%. Hal ini menjadi indikator penting pada resusitasi cairan jika terjadi
shock hipovolemik atau perdarahan hebat pada anak karena komposisinya
lebih besar. Urin output pada anak sekitar 1-2 ml/kg/jam (Macfarlance,2012).
4. Sistem Hepar
Sistem hepar belum berfungsi baik, dengan jumlah enzim hepar yang
sedikit. Oleh karena itu, obat-obatan seperti barbiturate dan golongan opiad
keran akan dimetabolisme lebih lama dalam hepar (slower matabolism)
(Macfarlance,2012).
5. Metabolisme Glukosa
Hipoglikemia lebih cepat terjadi pada anak karena cadangan glikogennya
lebih sedikit. Untuk mengantisipasi hal ini biasanya digunakan infus d5 atau
d10

yang

mengandung

glukosa

sebagai

pengganti

energinya

(Macfarlance,2012).
BAB DIII
3.5. Anastesia dan Reanimasi pada Pasien Pediatri
Anastesi pediatri adalah anastesia pada pasien yang berumur dibawah 12
tahun, yang dibagi menjadi 3 kelompok umur, yaitu:
1. Neonatus
2. Bayi-anak umur <3tahun
3. Anak umur >3tahun
Penatalaksanaan pra anastesi pediatri:
Evaluasi pra anastesia
1. Anamnesis (Alloanamnesis)
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratoriu yang disesuaikan dengan jenis operasi
Persiapan pra anastesia
Puasa
Puasa pada anak :
Umur

Makanan padat/

<6 bulan

Susu formula/ASI
4 jam

Cairan jernih
2 jam

6 bulan 36 bulan
>36 bulan

6 jam
8 jam

3 jam
3 jam

Premedikasi
1. Bayi : Umur <12 bulan, berikan atropine 0,01-0,02 mg/kgBB, dosis
minimum 0,1 mg secara intravena
2. Anak sehat : Umur 1-3 tahun, berikan atropine 0,01mg/kgBB, dosis
minimum 0,1 mg secara intravena
3. Anak dengan Kelainan Jantung Bawaan : dapat diberikan kombinasi obat
atropine 0,1-0,02mg/kgBB IM, diazepam perrektak 0,02-0,04 mg/kgBB,
30 menit pra induksi, morfin IM 0,2 mg/kgBB, 45 menit pra induksi
Infus
1. Tempat pemasangan infus dilakukan pada dorsum manus, pergelangan
tangan, dekat mata kaki bagian dalam dan kepala.
2. Menggunakan abocath dengan No. 20, 22, 24
3. Cairan yang diberikan:

Bayi berumur <12 bulan diberikan Dekstrosa 5% dalam NaCl 0,225% atau
NaCl 0,45%

Umur >12 bulan diberikan Dekstrosa 5% dalam NaCl 0,9% atau dalam
ringer, atau bisa juga diberikan ringer laktat/asetat

Pada kasus tertentu disesuaikan dengan masalah yang dijumpai

Induksi
1. Pada neonatus : induksi dilakukan di kamar operasi dengan cara inhalasi
dengan kombinasi obat N20 dan 02 = 4:2 (liter) dan obat inhalasi volatile,
kemudian dipasang infus.
2. Pada anak usia <3tahun : induksi dilakukan dikamar terima atau kamar
persiapan dan boleh ditemani orang tua, kemudian dipasang infus.

3. Pada anak usia >3 tahun : pasien diterima orang tuanta dan segera
dipasang infus untuk anestesi local, selanjutnya induksi dilakukan secara
intravena

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini pasien anak dengan tonsillitis kronis, anastesi yang dipilih
adalah anastesia umum inhalasi melalui pipa endotrakea dengan pola nafas
spontan. Indikasi pemakaian inhalasi pipa endotrakea pada operasi di daerah
kepala-leher dengan posisi terlentang, berlangsung singkat dan tidak memerlukan
relaksasi otot yang maksimal. Kontraindikasi penggunaan inhalasi pipa
endotrakea (PET) nafas spontan adalah pada operasi intracranial, torakotomi,
laparotomy, operasi dengan posisi khusus (misalnya miring atau tengkurap) dan
operasi yang berlangsung lama lebih dari satu jam. Tindakan anastesia yang
memadai, meliputi tiga komponen antara lain:
a. Hipnotik
b. Analgesia
c. Relaksasi
Ketiga komponen anesthesia yang populer disebut trias anastesia ini dapat
diwujudkan dengan obat anesthesia tunggal misalnya eter atau dengan kombinasi
beberapa obat untuk mencapai masing-masing komponen trias anastesia tersebut
diatas.
Awalnya dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan keadaan
umum baik, jantung paru dalam batas normal, pemeriksaan abdomen normal dan
pada pemeriksaan rongga mulut didapatkan T4-T4 dengan hiperemis (+).
Pemeriksaan penunjang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium darah lengkap
bertujuan untuk mengetahui infeksi yang sedang berlangsung dan keadaan pasien
terkait penyakit penyerta yang dimiliki oleh pasien. Berdasarkan pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan maka direncanakan


penatalaksanaan untuk pasien ini adalah tonsilektomi. Pasien dilakukan
pemasangan infus sebelumnya untuk mengganti defisit cairan selama puasa,
koreksi defisit cairan pra bedah, fasilitas vena terbuka untuk memasukan obatobatan

selama

operasi,

memberikan

cairan

pemeliharaan,

koreksi

defisit/kehilangan cairan selama operasi, koreksi cairan akibat terapi lain dan
fasilitas transfusi darah. Terapi cairan preoperatif termasuk penggantian cairan
sebelum operasi dengan tidak ada intake oral dapat mengakibatkan pasien
mengalami defisit cairan dan elektrolit karena terjadinya pembentukan urin,
sekresi gastrointestinal, sekresi kelenjar keringat, dan insensible losses yang terus
menerus dari kulit dan paru. Kebutuhan maintenance normal dapat diperkirakan
berdasarkan tabel dibawah:
Usia
Dewasa
Anak-anak
Bayi
Neonatus

Jumlah Kehilangan Air Tubuh


1,5-2 ml/kg/jam
2-4 ml/kg/jam
4-6 ml/kg/jam
3 ml/kg/jam

Kebutuhan maintenance normal dapat diperkirakan pada pasien ini (berat


badan 20 kg): 2 cc/ jam x 20 kg x 6 jam = 240 cc maka kebutuhan cairan untuk
memenuhi defisit cairan sebelum operasi adalah 240 cc.
Terapi cairan durante operasi dapat terdiri dari infus kristaloid, koloid dan
kombinasi keduanya. Cairan yang dipilih sesuai dengan jenis kehilangan cairan
yang digantikan. Cairan kristaloid adalah cairan dengan ion low molecular weight
(garam) dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid juga mengandung
zat-zat high molecular weight seperti protein atau glukosa polimer besar. Pada
terapi cairan durante operasi diberikan tambahan cairan sesuai dengan jumlah
perdarahan yang kemungkinan terjadi sesuai dengan perhitungan cairan yang
hilang berdasarkan jenis operasi yang dilakukan, dengan asumsi:
Jenis Operasi
Operasi besar
Operasi sedang
Operasi kecil

Perkiraan Cairan yang Hilang


6-8 ml/kgBB/jam
4-6 ml/kgBB/jam
2-4 ml/kgBB/jam

Koreksi perdarahan selama operasi untuk bayi dan anak adalah :


1. Perdarahan >10% dari perkiraan volume darah = transfusi darah
2. Perdarahan <10% dari perkiraan volume darah = berikan kristaloid
sebanyak 2-3 kali perdarahan atau koloid yang jumlahnya sama dengan
perkiraan jumlah perdarahan atau campuran kristaloid+koloid.
Metode yang paling umum digunakan untuk memperkirakan kehilangan
darah adalah pengukuran darah dalam wadah hisap/suction dan secara visual
memperkirakan darah pada kasa ( 1 gram = 1 ml), ditambah dengan faktor koreksi
sebesar

25%

jumlah

terukur

+ terhitung. Kebutuhan cairan durante operasi dapat diperkirakan pada pasien ini
(jenis operasi: trauma sedang): 4 cc/kgBB/jam x 20 = 80 cc/jam + cairan
pemeliharaan selama operasi : 2 cc/kgBB/jam x 20 kg = 40 cc/jam maka
kebutuhan cairan untuk memenuhi defisit cairan selama operasi adalah 80 cc
dalam jam I menggunakan cairan kristaloid sebanyak 160-240 cc atau cairan
koloid sebanyak 120 cc. Pada pemantauan perdarahan pada operasi tonsilektomi
pada anak, tidak terdapat pendarahan hebat. Infus kristaloid yang diberikan cukup
untuk menggantikan perdarahan yang terjadi.
Obat-obat yang digunakan pada anestesi dalam operasi ini meliputi obatobat untuk premedikasi, induksi dan pemeliharaan. Obat-obat yang digunakan
pada premedikasi antara lain : sulfas atropine, midazolam dan fentanyl. Sulfas
atropine merupakan golongan obat antikolinergik yang bertujuan untuk
menghambat sekresi kelenjar saliva, GI dan saluran nafas, mencegah spasme
laring dan bronkus, mencegah bradikardia, menurunkan motilitas usus dan
melawan efek depresi narkotik pada pusat nafas. Pemberian midazolam bertujuan
untuk efek sedasi, mengurangi rasa cemas, amnesia antegrad, depresi ringan, pada
dosis tinggi dapat memberikan efek hipotensi, menurunkan tonus otot rangka.
Sedangkan fentanyl diberikan bertujuan untuk analgetik, sedasi, depresi pusat
nafas terutama pada bayi dan orang tua, merangsang pusat muntah dan
menimbulkan spasme spincter kandung empedu. Obat yang digunakan pada
induksi adalah propofol (recofol, lipuro) diberikan dengan dosis 2-3 mg/kgBB
yang memberikan efek depresi respirasi, penurunan tekanan darah dan

peningkatan denyut nadi. Obat yang digunakan pada muscle relaxant adalah
atraqurium diberikan dengan dosis dengan dosis 0,5-0,6 mg/kgBB yang
memberikan efek pelumpuh otot termasuk otot pernafasan. Obat yang digunakan
pada pemeliharaan adalah N2O, O2, halotan 0,5-2 vol%, efluran 2-4 vol%,
isofluran 2-4 vol% dan sevofluran 2-4 vol%.

BAB V
KESIMPULAN
Tonsilitis merupakan peradangan yang terjadi pada tonsil. Peradangan
yang terjadi dapat menyebar ke jaringan sekitar, sehingga sering juga disebut
sebagai tonsilofaringitis. Penyebabnya bisa infeksi virus maupun bakteri. Infeksi
yang harus diperhatikan adalah infeksi Streptococcus pyogenes grup A betahemolitik (GABHS) yang dapat menyebabkan komplikasi berupa demam scarlet,
demam rematik, dan glomerulonefritis pasca streptokokus (GNAPS).
Tonsilits dapat terjadi akut, kronis, maupun rekuren. Pada tonsilitis kronis,
yang menyebabkan adanya gangguan berupa osbtruksi saluran nafas, diperlukan
tindakan pembedahan berupa tonsilektomi. Selain dapat menghilangkan obstruksi
yang ada, dapat mengurangi bacterial load GABHS, sehingga akan menurunkan
risiko komplikasi dan penularan.
Untuk melakukan tindakan tonsilektomi, harus ditunjang dengan anestesi
umum. Anestesi umum yang diberikan bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit
seluruh tubuh dari sentral. Hilangnya rasa sakit tersebut diikuti dengan hilangnya
kesadaran yang bersifat reversibel. Dikenal tiga manajemen perianestesi, yaitu
periode preanestesi, periode intraanestesi, dan periode pascaanestesi.

DAFTAR PUSTAKA
Baugh R.F., Archer S.M., Mitchell R.B., 2011. Clinical practice guideline:
tonsilectomy in children. Otolaryngol Head Neck Surg.;144(1 Suppl):S130.
Brooke I., 2005. The role of anaerobic in tonsilitis. Int J Pediatr
Otorhinplaryngol; 69(1):9-19.
Davis C., Jones J., Fix B., 2009. Critical Care Notes. City University Barts and
the London NHS Trust.
Desai,

2011. General Anaesthesia. http://emedicine.medscape.com/article/


1271543-overview diakses tanggal 7 Juli 2015.

Pichichero, M.E., Casey J.R. Defining and dealing with carriers of group A
Streptococci. Contemporary Pediatrics. 2003 ; 1 : 46.
Chmidt R.J., Herzog A., Cook S., OReilly R., Reilly J., 2007. Complications of
tonsilectomy. Arch Otolaryngol Head and Neck Surg;133:925-928.
Roberts, and Hedges, 2010. Clinical Procedures in Emergence Medicine. Saunder
Elsevier.
Shah, Udayan K., 2014. Tonsillitis and peritonsilar abscess. Tersedia :
http://emedicine.medscape.com/article/871977-treatment#showall diakses
tanggal 7 Juli 2015.
Soenarjo, Hari Dwi Jatmiko, 2010. Anestesiologi. Semarang : Ikatan Dokter
Spesialis Anestesi dan Reanimasi (IDSAI) Cabang Jawa Tengah.
Soenarto, dkk., 2012. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta : Departemen
Anestesiologi dan Intensive Care FKUI/RSCM.
Udayan K., 2008. Tonsillectomy & Adeinoidectomy : Techniques and
Technologies. Madison WI. Omnipress, Inc. ISBN 978-0-615-23355-0
Wald E.R. Commentary : Antibiotic treatment of pharingitis. Pediatric in Review.
2001 ; 22 (8) : 255-6.